Gemuruh Hati Keisha

1175152_10151683896223591_1881694092_n

Rasanya seperti suara sebelum hujan. Terdengar dari langit. Rasanya juga seperti ketika naik ayunan lalu ayunan itu didorong tinggi sekali lalu ayunan itu turun dan mata Kei melihat ke bawah.
Rasanya seperti suara seng yang diangkat lalu diturunkan.
Kei memandanng langit di luar.
“Mami mau kemana?” tanya Kei pada Mami yang sudah bersiap pergi.
Mami, perempuan manis yang sudah mengenakan pakaian serasi dengan tas dan sepatu hak tingginya itu memandang Kei. “Memangnya kamu pikir Mami mau kemana?”
Kei memandang ke luar lagi.
Langit mendung.
Sebulan belakangan ini, Kei suka sekali melihat ke langit. Apalagi ketika langit mulai gelap.
Kei suka dengan suara yang hadir ketika mendung. Meski pun terkadang suara itu tidak muncul padahal yang di hati Kei sudah berbunyi setiap kali mata Kei memandang seng berwarna biru di depan rumahnya.
“Sudah mendung, Mami…,” ujar Kei. “Sebentar lagi hujan…”
“Sudah mendung karena memang musimnya sedang mendung setiap hari. Lalu apa Mami harus berada di dekat kamu terus?” Mami mendekat, memeluk Kei. “Mami mau bertemu teman. Rumah kue kita akan bertambah besar dan kue buatan Mami bisa masuk ke mall.”
Kei memandangi Mami. Cantik. Mami pintar membuat kue.
“Kamu belajar melukis nanti di rumah Om Lilok, kan?”
Kei memandang ke luar.
Kanvasnya sudah habis. Mami lupa. Sudah berapa kali diminta untuk membelikannya tapi Mami bilang belum sempat ke toko buku.
Kei menggeleng.
Mami menepuk pipi Kei. “Mami harus pergi….”
Di luar sudah ada taksi yang Mami pesan lewat telepon tadi.
**
Gemuruh itu hadir ketika Kei suapkan nasi ke dalam mulutnya. Sampai nasi itu menempel di dagunya dan Arul tertawa hingga membuat Kei jadi tidak semangat meneruskan makannya.
Meski Mami bilang Kei boleh bawa piring ke catering Tante Mia yang sengnya berwarna biru, Kei lebih suka makan di warteg pinggir jalan. Lalu matanya akan memandang pada pohon mangga yang tinggi yang batangnya di cat warna ungu.
“Kamu gimana, sih?”
Arul selalu cerewet setiap kali diajak makan di warteg. Tapi cuma Arul yang mau mengikuti apa yang Kei inginkan.
“Kalau kamu makan catering maka aku bisa dapat…”
“Mbak…,” tangan Kei terangkat memanggil Mbak penjaga warteg. “Bisa kasih satu piring nasi lauknya terserah buat cowok cerewet ini?”
Arul tertawa.
Kei selalu tahu apa yang ia inginkan.
**
Justru gemuruh di hati Kei itu jadi pembicaraan antara Arul dan Alisha. Arul yang kepalanya lebih senang dicukur plontos dan Alisha cewek manis dengan alis mata nyaris menyatu tapi dengan jerawat bergerombol di pipi membuat ia merasa jadi cewek jelek se dunia.
“Kamu naksir, Rul?”
Arul cengengesan. Arul sudah lama naksir Keisha. Dulu sekali. Bukan cuma hitungan bulan tapi hitungan tahun.
“Kamu cinta, Rul?”
Arul mengangguk. Cintanya dengan Keisha sudah tidak bisa ditunda lagi, mirip jerawat yang sudah siap pecah.
“Memangnya Kei naksir kamu?”
Itu masalahnya.
Kei tidak pernah cerita soal cowok yang ditaksirnya. Kei cuma bilang kalau Kei naksir cowok itu. Kei juga bilang kalau ia baru merasakan hal itu. Bayangkan di usianya yang ke limabelas, Kei baru merasakan jatuh cinta.
“Kalau kamu mau kasih aku souvenir dari Australi….” Alisha tertawa.
Arul mengangguk cepat. Arul tahu apa yang Alisha inginkan.
**
Alisha mengikuti langkah kaki Kei. Hari ini, Alisha terpaksa mengikuti Kei masuk ke sebuah toko buku besar. Terpaksa soalnya Alisha punya alergi buku. Setiap kali mencium bau kertas buku setiap itu pula ia bisa bersin sampai berkali-kali.
Mungkin karena itu pula, ia selalu memakai masker setiap kali masuk sekolah. Dan mungkin itu yang membuat pipinya ditumbuhi banyak jerawat sebab maskernya jarang dicuci.
“Mami sudah kasih uang untuk beli kanvas. Lima kanvas Mami bilang boleh aku beli.”
Alisha memandangi kanvas yang Kei beli. Lalu keningnya berkerut. “Kamu suka melukis, Kei?”
Kei mengangguk.
“Suka melukis atau karena kamu naksir sama seseorang yang suka melukis?”
“Menurut kamu?” Kei tersipu. Dadanya bergemuruh lagi.
Bayangan Dani tiba-tiba melintasi kepala Alisha.
Pasti cowok itu yang membuat Kei jadi suka melukis. Arul harus tahu itu.
**
Gemuruh di hati Kei langsung kencang ketika Arul yang sudah dibisikkan oleh Alisha mengajak Kei ke aula sekolah. Ada pameran lukisan di sana.
Arul sengaja ingin melihat reaksi Kei. Dan langkah mereka tepat berhenti pada lukisan yang di bawahnya tertulis judul dan nama pelukisnya.
Lukisan gadis cantik berambut ikal.
“Yang aku dengar, cewek yang dilukisnya ini, pacarnya…”
Kei memandangi lukisan itu.
“Dari tiga lukisan karya Dani yang ada di aula ini, yang aku dengar katanya dia melukis ketika rindu sama ceweknya yang sekarang ada di Canada ikut pertukaran pelajar.”
Kei diam saja.
“Yang aku dengar…..”
Kei tidak mendengarkan. Kei langsung berlari ke luar pintu gerbang sekolah.
Kei tidak ingin mendengarkan.
**
Kei bahkan tidak ingin mendengarkan ketika Mami bercerita soal teman usaha Mami yang baru. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita soal supermarket besar dan toko kue keren di mall yang tertarik kue buatan Mami. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita bahwa karena begitu percayanya mereka memberi DP pesanan kue pada Mami dan Mami harus menyelesaikan kue pesanan itu secepatnya dengan rasa yang tetap enak tentu saja.
“Kei…,” Mami memandangi wajah Kei. “Mami ingin sebuah kue berwarna pelangi. Kue kering berwarna-warni pasti cantik kan, Nak?”
Kei mengangkat wajahnya.
Apa Mami tahu perasaannya?
“Kamu tahu cara yang paling menarik untuk membuat kue berwarna-warni? Mami sudah browsing, Mami sudah coba. Tapi Mami pikir, warna yang natural hadir dari seorang pencinta warna seperti kamu.” Kali ini Mami mencubit pipi Kei.
Kei tersipu.
“Kamu mau bantu kan, Nak?”
Kei mengangguk.
**
Kei mau membantu jelas saja. Kei mau membantu Mami sekuat tenaga. Karena itu Kei sekarang berdiri di sebuah rumah.
“Permisi…,” ujar Kei.
Pintu rumah itu terbuka.
Gemuruh di hati Kei terdengar lagi meski langit tidak mendung.
**
Arul bukan cuma marah pada Alisha. Arul kheki karena informasi yang Alisha katakan salah besar.
“Jadi kalau bukan Dani siapa lagi?” Alisha menjejeri langkah Arul.
Arul menggelengkan kepalanya.
Arul tidak tahu.
Yang Arul tahu dengan jelas, Kei tidak mau lagi mengajaknya makan di warteg atau makanan lain di pinggir jalan. Kei juga jadi tutup mulut dengan Arul tidak mau berbagi cerita lagi.
**
“Mami tahu…,” ujar Kei pada Mami. “Aku selalu berpikir kenapa aku bisa melukis padahal dulu Mami bilang tidak ada yang mengajari?”
Mami tertawa. Menjawil hidung Kei. “Memangnya kamu pikir Mami bisa membuat kue karena bakat? Mami belajar sekuat tenaga.”
“Tapi soal melukis itu, Mi…”
“Itu soal anugerah.”
“Bukan soal bakat?”
Mami menggeleng.
“Atau bisa jadi waktu aku di perut Mami, terus Mami naksir cowok yang suka melukis?”
“Hush, kalau itu yang terjadi itu namanya Mami tidak setia dong sama Papi kamu.”
“Tapi kan, Mi…”
Mami menggeleng. Adonan kue kering sudah siap. Coklat yang di tim sudah meleleh sempurna siap dicampurkan.
Dan Kei sudah siap dengan cetakan cinta di tangannya.
**
Gemuruh di hati Kei hadir ketika Kei memandang langit mulai mendung dan kue kering Mami baru ke luar dari oven. Sudah delapan loyang.
“Kamu katanya mau mewarnai kue ini?”
Kei mengangguk.
Pewarna kue. Setiap warna harus dibuat dengan hati. Hati yang berharap akan menghadirkan warna yang cerah. Hati yang sedih ketika meracik warna akan membuat warna yang cerah menjadi kelabu.
“Permisi…,” terdengar pintu pagar berbunyi.
Kei berlari.
“Hei, Kei…, warna yang mana?” Mami berteriak sambil mengeluarkan satu loyang lagi dari dalam oven.
**
Gemuruh di hati Kei selalu terasa ketika langit mendung. Lalu ketika ia menatapnya, Kei merasa bahwa sebentar lagi gemuruh itu akan membuat hujan turun. Membasahi tanah dan hatinya.
Gemuruh di hati Kei bukan dentuman seperti gendang yang ditabuh. Gemuruh di hati Kei bukan untuk cinta tapi untuk harapan yang sudah lama ia inginkan. Setiap kali Kei tersadar setiap itu pula Kei ingin menumpahkannya lewat tangisan.
Kei kangen memiliki seorang Ayah yang tidak pernah bisa disentuhnya hanya bisa dilihat fotonya saja.
“Kei….”
Kei bersembunyi.
Tamu itu Om Lilok.
Kei tahu sudah lama Mami mengenal Om Lilok. Teman lama Mami ketika Mami sekolah dulu. Pelukis terkenal yang memilih hidup sederhana dan mengajarkan melukis tanpa bayaran untuk anak-anak yatim.
Alamat rumahnya Kei dapatkan dari browsing setelah Kei temukan nama itu tertulis di buku harian Mami yang lupa Mami bawa dan terbuka tepat di bagian saat Mami menulis kenangan tentang Om Lilok.
Dan ternyata rumahnya hanya berada beberapa blok dari rumah Kei. Pantas saja Mami bersikeras meminta Kei berlatih melukis di sana.
“Kei…,” suara Mami terdengar di dapur.
Ah, Mami pasti kaget juga salah tingkah.
Kei berhasil mempertemukan Om Lilok yang masih sendiri dengan Mami yang masih mencintai Om Lilok. Kei berhasil meminta Om Lilok datang ke rumah dengan alasan Mami sakit keras.
Gemuruh di hati Kei terasa lagi.
Kali ini Kei memandang ke langit. Papi yang sudah pergi sejak Kei di dalam kandungan pasti tahu bahwa Mami sudah pantas mendapat pengganti.
Air mata Kei menitik perlahan. Air mata bahagia.
Air mata itu hadir bersama dengan teriakan Mami yang salah tingkah dan terus menerus memanggil nama Kei.
**

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.