Ullen Sentalu, Wisata tanpa Kamera

Ullen Sentalu

Museum batik?
Itu pertanyaan yang harus ditanyakan kepada orang ketika kami akan mengunjungi museum Ullen Sentalu. Sebuah museum sama seperti museum lainnya tersimpan di benak. Tapi ternyata, begitu supir naik ke jalan menanjak dan berbelok dengan hawa dingin Kaliurang, kami harus turun berkali-kali untuk bertanya. “Di mana letak museum batik bernama Ullen Sentalu?”

Kami akhirnya sampai di tempat itu. Tempat yang tersembunyi letaknya. Pintu masuk dari kayu jati yang bernuansa mistis karena dinaungi beringin besar dengan sulur-sulurnya. Museum Ullen Sentalu memang museum batik, tapi bukan seutuhnya museum batik. Museum ini lebih tepat jika disebut sebagai museum khusus Jogja Solo. Karena memang semua tentang budaya Solo dan Jogja berikut pada Sultan dan para raja-raja Solo dan Jogja dibahas lengkap di sana.

Pintu masuk yang kecil dan seorang pemandu wisata untuk kurang lebih 15 pengunjung akan membawa pengunjung mengelilingi museum.
Begitu pintu masuk terbuka, kita seperti dibawa ke masa lalu. Arca arca yang banyak. Lalu pemandu mengajak para wisatawan untuk berdoa sebelum melanjutkan perjalanan.
Wisatawan akan diminta untuk berpegangan tangan karena jalan yang tidak terlalu terang. Dan akan ada tangga menurun

Ada banyak ruangan di sana. Ruangan berisi batik. Batik Solo dan Jogja dibahas komplit di sana. Pengunjung bisa paham perbedaan yang jelas antara batik Solo dan batik Jogja. Ada banyak lukisan yang tergantung. Lukisan raja, ratu putra dan putri Keraton dijelaskan dengan serinci-rincinya oleh pemandu wisata.
Dan dari penjelasan itu saya baru paham perbedaan antara Kanjeng Ratu Kidul dan Nyai Loro Kidul.
Menurut pemandu wisata, kalau Ratu Kidul itu yang menikah dengan para raja-raja Solo dan Jogja (dibahas juga yang ini di buku Hamengkubono 9). Sedang Nyai Loro Kidul adalah abdi dalem Kanjeng Ratu Kidul.

Ada satu ruangan yang berisi tentang Kanjeng Gusti Nurul. Kanjeng Gusti Nurul ini perempuan Solo yang kecantikannya jadi perbincangan di Belanda. Beliau pintar dan pandai menari juga. Bahkan salah satu kursi milik Kanjeng Gusti Nurul ada di museum itu.
Satu cerpen saya tentang Ullen Sentalu sudah hadir di majalah Femina. Baca di sini

Tidak Boleh Ambil Gambar

Ullen lagi

Peraturan pertama yang dijelaskan oleh pemandu wisata memang seperti itu. Tidak boleh mengambil gambar. Karena nanti ada bagian lain yang bisa dijadikan spot untuk berfoto ria.
Sungguh, buat saya yang senang menulis dan melekatkan kenangan dengan foto jadi sedikit kecewa. Kecewa karena takut kalau-kalau apa yang di ingatan bisa hilang.
Tapi memang peraturan itu dipatuhi oleh para pengunjung. Lagipula suasana mistis dari satu ruangan ke ruangan lain, yang jalannya seperti labirin itu membuat pengunjung taat pada aturan. Apalagi pemandunya pintar mengingatkan agar para pengunjung yang ke luar dari ruangan paling belakang, harus menutup pintu. Karena antara ruangan satu dan ruangan yang lain memang seperti kamar, dan ada pintu masuknya. Maka pengunjung saling bergegas untuk ke luar lebih dahulu, agar tidak dapat jatah menutup pintu.

Pada akhirnya kami sampai di bagian untuk berfoto ria. Sebuah aula besar tanpa atap. Ada tembok ukuran seperti trapesium dengan relief.
Cekrek, para pengunjung pun berpuas diri berfoto di sana.

Wedang Uwuh

Ullen lagi lagi

Karena pemandunya pintar menjelaskan, maka tidak terasa kaki kami lelah juga. Anak-anak mengeluh capek. Lalu kami tiba di ruangan besar. Ada beberapa kursi dan meja. Pemandu minta kami istirahat santai. Lalu ia ke dalam dan ke luar lagi membawa nampang berisi gelas sejumlah pengunjung.
Wedang uwuh. Perpaduan antara kayu secang (berwarna merah warna airnya) dan jahe. Kami minum dan langsung semangat untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Rupanya acara minum itu membawa kami ke bagian arca. Ada banyak arca termasuk arca Ganesha. Kolam ikan berisi ikan-ikan hias membuat mata kami jadi terhibur juga.
Lalu sampailah di bagian terakhir. Pintu ke luar.
Bagian ini cukup unik sebenarnya untuk jadi tempat berfoto. Tapi sayangnya hari mulai gerimis dan kaki sudah terasa lelah.
Maka foto-foto di sini ala kadarnya saja.

Tapi pengalaman begitu ke luar dari dalam museum adalah rasa bangga. Bangga karena dari dua daerah saja Solo dan Jogja banyak ilmu yang bisa dipelajari dan membuat wawasan kami bertambah.