Diari yang Mengawali Mimpi

Kishi - mbak Yulina Trihaningsih

Dear Diary, hari ini aku dapat surat dari pengagum rahasia! Tulisan tangan di atas sobekan kertas itu aku temukan di laci mejaku. Hm, kira-kira, siapa yang mengirimkan, ya?

Aku tersenyum-senyum sendiri membaca tulisan tanganku 25 tahun yang lalu. Tulisan yang tidak terlalu rapi, dengan tinta biru yang tampak luber di kertas buku yang usianya pasti lebih tua dari kenangan yang tercatat di sana. Buku diary pertama yang kupunya saat aku kelas 1 SMP. Aku ingat membelinya di sebuah toko buku di Blok M. Sampulnya bergambar gadis yang sedang duduk bermain gitar di padang rumput yang luas. Dan yang membuatku senang, diary tebal itu berkunci. Ketika kubuka, lembar demi lembar halaman berwarna ungu dan biru teduh menguarkan aroma wangi yang lembut. Aku langsung jatuh cinta pada diary itu.

Oh iya, namaku Yulina Trihaningsih. Semua orang biasa memanggilku Yulin. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, dan terlahir di Jakarta, pada tanggal 22 Juli 1978. Selain membaca, aku senang sekali menulis. Dulu, aku selalu suka tugas mengarang dari pelajaran Bahasa Indonesia. Tak jarang, cerita pendekku dibacakan di depan kelas. Walau malu, tapi aku senang.

Kemudian, hobi menulisku tumpah ruah dalam catatan-catatan harian semasa SMP. Semua kisah tawa, tangis, jatuh cinta, dan patah hati, tak ada yang terlewat, terekam dalam lembar-lembar masa lalu. Bahkan, ada halaman khusus tempat aku menceritakan kembali kisah Candy-Candy yang mengharu biru hatiku. Bagaimana noda air mata yang jatuh kutandai dengan pulpen sebagai bukti kedukaan yang mendalam saat Anthony tiada. Konyol? Aku juga sempat berpikir begitu. Tapi, tentu saja, saat itu aku tak pernah tahu masa depan. Bahwa, catatan-catatan di buku diary itulah yang mengawali mimpi-mimpi yang tak terbayangkan olehku sebelumnya.
Saat SMA adalah titik perubahan hidupku. Aku mulai belajar dan merenungi kembali tujuan hidup di dunia ini. Hingga kegiatan menulis, perlahan-lahan, tidak lagi menjadi prioritasku. Aku mulai berhenti membuat cerpen, dan bahkan tidak lagi menulis diary. Aku masih suka membaca. Annida adalah majalah yang selalu kutunggu-tunggu tanggal terbitnya. Meskipun demikian, kecintaan terhadap dunia menulis tidak sepenuhnya tercerabut. Bila hatiku terasa sesak, maka aku mengalirkannya dengan menulis puisi. Puisi-puisi sederhana, namun mampu meredakan rasa. Sayangnya, buku khusus tempat aku menuliskan puisi sejak SMA, hilang saat aku kuliah di UI, Depok.

Hingga, kemudian, aku menikah, dan hari-hariku dipenuhi kegiatan khas seorang ibu rumah tangga. Sibuk, hingga tak memiliki waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Era media sosial kemudian mempertemukanku dengan teman-teman lama. Aku takjub, dan tak jarang minder luar biasa, saat menyaksikan aktivitas dan kesuksesan mereka yang tampak di depan mata. Ada yang sudah menjadi dokter, hingga kuliah di luar negeri. Ya ampun, itu semua cita-citaku dulu!

Beberapa kali, saat mengawali percakapan, sahabat-sahabatku akan bertanya: kerja di mana, Lin? Dan di depan layar monitor, jauh dari mereka, aku meringis. Dulu, sebelum menikah, aku akan dengan tegas menjawab bekerja kantoran bukanlah pilihanku. Kini, ada sedikit malu saat harus menyebut profesi yang kugeluti. Ibu rumah Tangga.
“Sayang banget lo gak kerja, Lin. Lo itu, kan, pintar sejak dulu,” ucapan seorang sahabat menyentuh sudut terdalam hatiku. Dan, jadilah aku merenung lama. Apa saja yang sudah aku lakukan dalam hidupku? Apa, sih, sebenarnya impianku? Sudahkah aku berjuang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan?

Semakin dipikirkan, aku menjadi semakin tenggelam. Aku merasa tidak mampu memikirkan satu saja hal yang bisa membangkitkan semangat dan keyakinan bahwa aku mampu melakukannya. Ada saat di mana aku merasa begitu kecil, tak berdaya, dan tak bisa menghasilkan apa-apa.
“Ibu mampu di sini,” suamiku menyerahkan dua buku tebal ke hadapanku. Aku tertegun menatap diary-diary masa SMPku, lalu balik menatap suamiku.
“Menulislah. Ada sesuatu yang ajaib dalam kata-kata Ibu. Ayah yakin Ibu mampu membuat tulisan yang baik.”
Tanganku gemetar saat aku membuka kembali buku catatan harianku. Membaca halaman demi halamannya, tak terasa mataku berembun. Oh, kemana saja aku selama ini? Bukankah dunia tulisan adalah dunia yang tak asing dan aku cintai sejak dulu? Mengapa aku seakan melupakan dan meninggalkannya?

mbak Yulina

Saat sebuah tekad sudah muncul dan mengeras, semesta pun menyambut. Aku bertemu status Mbak Nurhayati Pujiastuti yang menawarkan belajar menulis untuk media dalam kelas Penulis Tangguh pada akhir tahun 2012. Aku, yang baru mulai belajar mencintai kembali dunia kata-kata, memberanikan diri melamar menjadi murid di sana. Hingga, atas izin Allah, dimulailah perjalanan baru hidupku. Perjalanan yang menuntut kesabaran, usaha tak henti, dan optimisme yang selalu hidup, karena panjangnya jalan, dan lebatnya rimba dunia yang baru kumasuki ini.

Dear diary, terima kasih, ya, sudah menjadi teman yang menyenangkan selama ini. Kamu sahabatku yang terbaik! Halamanmu sudah habis untuk menampung semua kisah-kisahku. Aku janji tak akan melupakanmu!

Aku kembali tersenyum membaca tulisan tanganku di halaman terakhir diaryku. Mengingat lagu-lagu kesayanganku yang tertulis di dalam diary, sudah menginspirasi kisah-kisah yang termuat di media. Melodi Aubrey di majalah Gadis (2013), Lupa di majalah Femina (2013), hingga Langit dan Bumi di majalah Good Housekeeping Indonesia (2014). Bahkan, pengalaman dengan pengagum rahasia saat SMP dulu, terabadikan dalam kisah Pengagum Rahasia yang dimuat di majalah Gadis (2014).
Ya, akhirnya aku menemukan mimpiku. Aku ingin bermanfaat dan menginspirasi lewat tulisan. Aku sadar, aku hari ini adalah akumulasi dari pilihan-pilihan hidup yang kujalani sejak dulu. Dua diary tebal semasa SMP masih kusimpan hingga kini. Kenangan yang tersimpan di sana, juga kehidupan yang kujalani sesudahnya, adalah sumber inspirasi yang memantik api semangatku tetap menyala. [*]