Bolu Batik Istimewa

IMG-20160320-WA0004

Masih ada rasa trauma ketika memasak.
Entahlah. Trauma yang satu ke trauma yang lain.
Dulu lelah saja setiap kali diminta Ibu membantu memasak. Hanya mengulek bahan sampai halus. Hanya mengulek saja. Setiap hari melakuannya. Dengan terpaksa hanya menghadirkan rasa tidak suka.

Lalu putaran nasib membuat saya menikah dengan seorang lelaki dari seorang Ibu yang mahir dalam memasak. Pindah dari satu pulau ke pulau yang lain untuk memasak. Warung makan sampai pesanan kue biasa datang ke rumahnya.
Terkejut ketika tersudut dengan kenyataan. Bahwa ilmu memasak saya tidak ada apa-apanya. Masih teringat kalimat yang membuat saya sering meringis dan menangis. Ketika hasil masakan tidak diapresiasi sama sekali.

Ada banyak kenangan buruk tentang masakan.
Tapi hidup harus berjalan. Anak-anak harus melihat kenyataan indah, bahwa ibunya berjuang untuk bisa. Berproses untuk itu.
Awalnya hanya brownies dari sebuah majalah lama. Tanpa mikser karena belum memiliki. Hanya dikukus, karena tidak ada oven.
Brownies itu brownies pertama yang membuat serpihan kenangan pahit menghilang begitu saja.
Kemenangan yang membuat beberapa kilo minyak goreng, mentega dua kotak dan penggorengan teplon menjadi milik saya.
“Ibu menang?” tanya anak-anak.
Saya mengangguk. Terharu.

Lalu perjalanan memasak mencapai proses lain.
Keinginan untuk menjamu lidah suami dengan apa yang ia suka. Yang ia suka ternyata roti seperti buatan Ibu di Solo. Roti batik, begitu Ibu menyebutnya.
Ada takaran yang harus dipatuhi dan saya patuh.

Bahan :

1. Gula 300 gram
2. Tepung terigu (saya pilih segitiga biru) 350 gram
3. Telur 6 butir ukuran sedang
4. Baking powder seujung sendok saja
5. Ovalet seujung sendok saja
6. Blue Band 250 gram (tidak perlu dicairkan)
7. Susu kental manis 2 atau tiga sachet saja, tuang dalam gelas dan beri sedikit air dan aduk
8. vanili 2 bungkus
9. Coklat merk Cocoa (Van Houten) 1 sdm atau lebihkan sesuai selera.

Cara Membuatnya :

1. Masukkan gula, vanili, blueband sampai tercampur dan mengental.
2. Masukkan ovalet
3. Masukkan telur satu persatu. Satu butir kocok hingga merata, setelah itu masukkan satu lagi. Begitu terus hingga enam telur tercampur sempurna.
4. Masukkan susu
5. Campur baking powder bersama terigu yang sudah diayak. Masukkan sedikit demi sedikit ke dalam adonan lain.
6. Setelah adonan tercampur semua. Ambil sepertiga adonan. Masukkan ke dalam wadah lain. Campur dengan coklat bubuk. Aduk sampai merata.
7. Siapkan loyang. Olesi mentega dan taburan terigu, biar tidak lengket kuenya nanti. Masukkan adonan yang berwarna putih sampai merata di loyang. Tidak perlu dituang semuanya. Lalu masukkan sedikit demi sedikit adonan berwarna coklat. Ukir dengan garpu. Buat gerakan melingkar, berputar. Bereskpresi saja.
8. Setelah itu masukkan adonan putih lagi di atas coklat tadi. Tuangi lagi coklat di atasnya dan buat gerakan melingkar lagi.
9. Masukkan ke dalam oven yang sebelumnya sudah dipanaskan.
10. Panggang selama setengah jam atau lebih. Sampai kue benar-benar matang.

“Ibu berhasil…,” teriak anak-anak.
Saya tersipu.
Berhasil atau gagal yang saya tahu, saya sudah mulai berjalan meninggalkan luka.