Bonus dari Pencipta

Utami

Akan aku beri nama dia Keenan Akhtar Kayon Setra. Tendangannya di dalam perut sekeras keyakinanku akan kemampuan menulisku. Ia hadir tanpa aku sadari. Berada di dalam perut ketika usiaku menginjak 42 tahun.
Aku menghelus perutku.
Kayon dan Akhtar sumbangan nama dari dua teman baikku Ruwi Meita dan Happy Rose. Empat bulan usianya. Harapanku sederhana. Aku masih bisa terus menulis.

**

Aku memang terlahir dari keluarga penulis. Bapakku selain bekerja sebagai pegawai di kelurahan, beliau juga seorang dalang dan seorang penulis. Bapak menulis sebuah buku yang berisi tembang-tembang mocopat, seperti pocung, maskumambang, dhandhanggulo, pangkur, megatruh dll. Beliau menggunakan pakem podo (jumlah baris) dalam setiap lagu, dan hanya mengganti syairnya. Kebanyakan isinya adalah tentang wejangan (nasihat) dalam menghadapi kehidupan ini. Sedangkan pamanku yang anggota POLRI, sering menulis cerita cekak (cerita pendek) di majalah berbahasa Jawa Joko Lodhang dan Mekar Sari. Tak mengherankan jika telingaku sudah kebal dengan suara ‘ceklok-ceklok’ mesin ketik tua yang dipakai oleh Bapak maupun pamanku.

Namun aku sendiri lebih memilih mengembangkan hobby di bidang menari dan menyanyi. Saat SMA, aku mulai mengenal jenis kesenian yang lain. Teater. Aku jatuh cinta dengan teater, karena di dalamnya juga ada unsur tarian dan nyanyian. Ketika sudah hijrah ke Semarang dan kuliah di IKIP Semarang, aku semakin larut dalam dunia teater. Di situlah aku mulai mengenal cara-cara menulis naskah drama dan mulai mempraktekkannya. Selain itu, aku juga mulai ikut-ikutan menulis puisi untuk dikirimkan ke tabloid Nuansa (tabloid kampus). Saat itulah, untuk pertama kalinya tulisanku dimuat di media.

Setelah lulus kuliah, menjadi guru dan menikah, aku mulai melupakan dunia teater dan dunia tulis menulis. Sampai akhirnya, tahun 2009 aku mulai mengenal socmed bernama facebook dan aktif mengisi note fb dengan cerita-cerita lucu di masa sekolah. Banyak yang menyukai tulisanku dan banyak komentar positif yang masuk. Salah satunya adalah dari seorang sahabat waktu kuliah yang berdomisili di Banten. Menurutnya aku berbakat menjadi penulis. Dia mendorongku untuk mengikuti event lomba di Rumah Dunia. Alhamdulillah, tahun 2011 aku berhasil lolos menjadi pemenang dalam 3 event. Dari ajang lomba itulah aku mulai kenal dan dekat dengan Mbak Nurhayati Pujiastuti.

**

karya mbak ut

Pertama kali mendapat bimbingan menulis dari Mbak Nur adalah saat aku dimasukkan dalam sebuah group menulis di Fb yang memiliki ribuan member. Gemetar, malu dan nyaris putus asa saat cerpen pertamaku yang berjudul “Payung-payung Bu Surti” mendapat tanggapan dan kritikan pedas dari teman-teman dalam group. Dengan bijak, Mbak Nur menasihatiku agar tidak gampang putus asa. Akhirnya setelah melalui beberapa kali revisi, cerpenku itu justru bisa dimuat di Majalah Ummi. Karena mengajar di group terbuka dirasa kurang nyaman, Mbak Nur berinisiatif untuk membuka sebuah group Fb tertutup. Tepatnya pada tanggal 16 April 2012 dibentuklah group “Belajar Menulis Bersama Bunda Nurhayati Pujiastuti” yang hanya beranggotakan 7 orang. Saat belajar di group inilah cerpenku pertama kali dimuat di majalah Kartini, artikelku dimuat di Majalah Sekar dan cerpenku berhasil meraih juara hiburan di event lomba cerpen teenlit.
Hanya beberapa anggota saja di group itu yang semangat menulisnya tak pernah padam, sehingga Mbak Nur memutuskan untuk menutup group itu dan membuka group baru bernama ‘Penulis Tangguh’ atau disingkat PT. Aku yang haus belajar tentang ilmu kepenulisan ini, tentu saja menyambut dengan suka cita tawaran Mbak Nur untuk dimasukkan ke dalam group PT. Setelah belajar di group inilah cerpen-cerpenku bisa kembali dimuat di majalah Kartini, lolos di majalah Kawanku, dan tiga cernakku bisa menembus majalah Bobo. Selain itu, tulisan yang aku ikutkan dalam event hari ibu di Kompasiana juga berhasil meraih juara ketiga. Cerpenku yang lain, berhasil masuk 50 besar dalam event lomba Tulis Nusantara. Semangat belajarku semakin berkobar.

Ternyata Mbak Nur membuat group PT lagi dan disebut dengan group PT 2. Prestasi dari anak-anak anggota group PT 2 ini tak kalah dari group PT 1. Atas usulan dari beberapa anggota, akhirnya PT 1 dan PT 2 digabungkan. Betapa senangnya saat aku berkenalan dengan penulis-penulis dari group PT 2 yang prestasinya sangat membanggakan. Tentu saja aku yang ingin terus belajar ini merasa sangat gembira dan terharu karena bisa belajar dari mereka. Dalam group yang baru ini, tulisanku mulai bisa menembus media yang lain seperti majalah Gadis, Femina, Esquire Indonesia, Harian Singgalang, Tabloid Nova, Majalah Online Taman Fiksi dan juga SKH Pikiran Rakyat.

**

Keenan menangis lagi.
Aku tahu dia menangis bukan karena aku terlalu lama duduk di depan laptop. Dia menangis biasanya karena cuaca yang mulai panas.
Aku pandangi matanya. Seorang bayi yang tidak pernah aku sadari kehadirannya di rahimku adalah bonus. Sama seperti tulisanku yang menembus banyak media juga bonus. Kehadiran Keenan membuat banyak tulisanku dimuat di media juga masuk nominasi dan menang beberapa lomba menulis. Dan untukku itu adalah bonus bernama anugrah dari kerja keras dan tidak berhenti belajar.
Bintang di langit berkelip.
Aku tahu, masih banyak harapan di sana.

***

5 thoughts on “Bonus dari Pencipta

  1. Kalau saya banyak membuat alasan utk tidak menulis, saya akan terus inget “kejudesan” mbak yu Ut, sindiran penyemangatnya terus terngiang-ngiang 😀

    • Eit…, kalau aku malah pertama kali nerima kamu bayanginnya. Kalau aku enggak bisa bikin kamu yang galak jadi sedikit melunak, maka aku gagal. Dan itu membuatku semangat.

Comments are closed.