Aku Masih Bermimpi

Kishi - mbak Liza Permasih

“Ibu masih nulis?”
Bola mata sepasang balita itu memandangku dengan sendu.
“Aku lapar,” ujar si Kakak.
Si adik yang pipinya bertambah tembam itu ikut mengangguk, tangannya menyentuh perutnya.
Barisan kalimat di laptop aku pandangi. Lalu tersenyum.
“Ibu sudah selesai?” tanya si kakak mengulang pertanyaannya.
Aku tersenyum, mengangguk.
Untuk anak-anak, tulisan yang belum selesai harus dianggap selesai. Malam nanti, bila aku tidak bisa terlelap, mungkin masih akan aku buka laptopku dan meneruskan apa yang belum selesai di pikiranku.

**

Namaku Liza Permasih. Nama yang diberikan nenekku yang lulusan sekolah HIS. Nama yang terinspirasi dari Ratu Inggris, Queen Elizabeth yang terkenal dengan kecantikannya. Aku lahir di Tembilahan, sebuah kota kabupaten di pelosok Riau Kepulauan, 12 September 1973. Ujar Mamih,nenekku, semula beliau ingin menamaiku Elizabeth, namun beliau merasa itu akan dianggap aneh di lingkungan kami yang jauh dari kota besar. Akhirnya aku cukup diberi nama Liza, bukan Elizabeth.

Mamih pula yang menularkan hobi membaca pada Mamahku. Dan Mamah yang tak tamat SD itu,menularkan hobi membaca ini pada anak-anaknya. Meski, untuk mendapatkan bahan bacaan bukanlah hal yang mudah ketika itu. Namun membaca buku menjadi salah satu hobiku sejak kecil.
Hobi ini pula yang membuatku sanggup berlama-lama membaca di Gramedia, saat kami pindah ke Bandung di usiaku yang ke 11 tahun.
*

File karya mbak Liza

Satu persatu amanah bernama anak diberikan padaku. Setiap anak adalah pembawa rezeki, bukan penutup mimpi.
Mimpiku ingin menjadi penulis. Menjadi penulis itu cita-cita yang sempat muncul ketika SMP, saat keinginan membaca tak terbendung. Lalu mimpi itu semakin membumbung tinggi ketika kuliah, karena banyak teman dekat yang juga jadi penulis. Memang pernah cita-cita itu sempat padam setelah menikah. Kesibukan menjadi ibu rumah tangga dan anak-anak yang lahir berurutan membuat cita-cita hilang entah ke mana.

Tahun 2010, suami membuka kesempatan untuk mengenal dunia luar melalui FB. Mulailah aku terhubung kembali dengan teman-teman semasa kuliah. Status dan catatan FB teman-teman yang menarik membangkitkan kenangan tentang cita-cita itu (oya, dulu, aku sempat menjadi penulis mading kampus). Aku mulai menulis di note FB. Teman-teman dengan baik hati itu selalu mengapresiasi.

Hobiku menulis di FB semakin menjadi setelah aku — dengan takdir Allah Swt, — melangkah ke luar dari rumah. Menjadi seorang penjual es teh di sekolah swasta. Banyaknya waktu luang saat menanti pembeli membuat aku semakin aktif menulis. Hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung di komunitas penulis IIDN.
Lalu aku mulai mengikuti lomba-lomba yang diadakan para penulis senior dan penerbit. Alhamdulillah, naskahku sering lolos dan tak jarang meraih juara 1 untuk tema parenting dan kisah inspiratif. Meski hadiahnya hanya berupa buku-buku, uang tak seberapa atau hanya sekadar bukti terbit, namun hal itu membangkitkan semangat untuk terus menulis.

**
“Saya ibu enam anak yang mau serius belajar menulis.”
Itu kalimat yang aku tujukan pada Bunda Nurhayati ketika mendengar ada kelas menulis asuhanya dibuka. Ibu enam anak dengan dua yang masih balita memang jadi senjata pamungkasku. Aku ingin semua tahu, bahwa aku mau berjuang untuk bisa. Dan anak-anak bukanlah penghalang.

Takdir Allah membuat aku kembali ke rumah, meninggalkan aktivitas jualan dengan kehadiran dua balita. Anak ke-5 dan ke-6. Walaupun sempat merasa gamang, karena itu artinya pendapatan rumah tangga akan sangat terkoreksi. Akan tetapi keputusan kembali ke rumah juga artinya bisa lebih total mengasah kemampuan menulis.
Kesempatan bergabung di Penulis Tangguh merupakan anugerah yang luar biasa. Selain belajar untuk menulis fiksi, genre yang sama sekali asing bagiku, di kelas ini juga membuat semangatku semakin menjadi-jadi. Aku tertantang untuk bisa berkarya seperti teman-teman lainnya. Aku mulai bermimpi untuk menembus media massa. Dan aku tahu, ini sulit bagiku yang memiliki waktu amat terbatas untuk menulis.

Di komunitas Penulis Tangguh, aku berada di antara para penulis yang sudah jadi. Dan ini membuat aku terkadang patah hati. Aku merasa tidak memiliki secuil bakat pun dan harapan untuk menjadi seorang penulis. Apalagi untuk bisa menembus media yang luar biasa sulitnya. Sementara teman-teman seperti berlomba mengukir prestasi. Satu persatu menang lomba, satu persatu tembus media. Kondisi ini, terus terang, sangat menekan perasaan.
Untuk menghindari rasa frustasi yang berlebihan, aku menepi sejenak. Membuat coklat dan es krim menjadi pelipur lara ketika itu.

Lalu kesempatan itu pun datang. Seorang teman baik mengajak untuk menjadi penulis di sebuah web parenting. Dengan honor yang lumayan besar dan bersifat rutin setiap bulannya. Kesempatan menulis di web parenting di The AsianParent ini membuat semangat menulis tetap menyala.
Di samping itu, aku mulai bisa adaptasi di kelas Penulis Tangguh. Suasana kelas yang kondusif, saling suport untuk terus menghasilkan karya terbaik membuat aku bisa belajar lebih fokus dan menulis lebih baik lagi.

Dan Bingo!
Kesempatan itu pun datang. Seperti sebuah keajaiban. Satu demi satu naskah cerpen yang aku buat dalam kelas asuhan Bunda Nurhayati itu dimuat di media nasional seperti : Majalah Femina, Majalah Gadis, Tabloid Nova, Harian Kompas dan Harian Suara Merdeka. Namaku yang semula tak pernah dianggap, tiba-tiba berada dalam jajaran para penulis.
Kenyataan ini membuka mataku, bahwa, meski terlahir tanpa bakat menulis, namun meraih mimpi menjadi penulis bisa terwujud dengan kemauan keras dan pantang menyerah.
Bahwa memiliki anak yang banyak bukanlah halangan untuk berhenti berkarya., apalagi mati gaya. Melainkan salah satu sumber inspirasi yang tak pernah kering.
**
“Ibu…, Ibu punya uang?”
Aku memandang sepasang balita yang ada di dekatku.
“Aku mau mandi bola,” ujar si Kakak.
Adiknya, ikut mengangguk.
“Ibu punya,” ujarku sambil tersenyum. Honor tulisan baru saja turun, dan itu artinya, aku bisa menyisihkan untuk anak-anak ke area bermain.
Dua anak balita itu melompat kegirangan.
Aku tahu, aku tidak boleh berhenti sampai di sini.

**

2 thoughts on “Aku Masih Bermimpi

Comments are closed.