Bila Suami Kekanakkan

nuansa ummi

Apa yang terjadi dalam rumah tangga bila suami ternyata bersifat seperti layaknya anak-anak? Suami tidak bisa diandalkan. Bahkan tingkahnya jauh lebih menjengkelkan ketimbang anak-anak?
Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga sudah menjadi patokan umum kita sebagai wanita ketika memikirkan rumah tangga. Imam dalam artian bahwa sang suami kelak harus lebih ketimbang kita. Kalau bisa lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih beriman, lebih dalam materi dan lebih-lebih yang lainnya.

Akhirnya ketika kita sampai pada jodoh kita, banyak dari kita yang kecewa ketika mendapati bahwa suami masihlah seperti kanak-kanak dalam rumah tangga. Suami tidak bisa bersikap tegas apalagi bijaksana.
Ketika rumah tangga dikaruniai anak, suami semakin terlihat kekakanak-kanakkannya. Suka berebut remote televisi dengan anak-anak. Bahkan menjadi beban tambahan karena permintaannya melebihi permintaan anak-anak.
Allah sudah menetapkan jodoh kita masing-masing. Kita berkutat dengan impian kesempurnaan. Sedang Allah punya misi dan visi lain dengan kita.

Bisa jadi menurut kita, kita sudah menjadi manusia yang bijaksana dan dewasa. Tapi menurut Allah hal seperti itu belum teruji bila belum didatangkan ujian pada kita. Dan ujian itu bernama seorang suami yang bersifat kekanak-kanakkan.
Kalau seperti ini yang terjadi di dalam rumah tangga kita, bukan berarti pernikahan harus kandas di tengah jalan.
Pernikahan itu adalah kelas di mana kita harus belajar terus menerus tanpa henti. Guru kita adalah pengalaman orang lain dan pengalaman kita sendiri tentu saja.

Banyak hal tentu saja yang membuat suami kita, sifatnya seperti kanak-kanak di mata kita. Bisa jadi karena perbedaan usia kita dan pasangan. Bisa juga karena kedudukan pasangan di keluarganya. Kita yang anak sulung dengan pasangan yang anak bungsu akan berbeda sikap dan persepsi dalam menangkap sesuatu.

Kalau itu yang terjadi maka seharusnya yang kita lakukan adalah :

1. Bicara, bicara dan bicara. Bicara bukan dengan protes, kritik tanpa ujung. Tapi bicara yang efektif yang membuat pasangan sadar bahwa sifat kekanak-kanakkannya memang harus ditinggalkan.
2. Hargai pasangan dalam rumah tangga. Terkadang karena merasa pasangan kekakak-kanakkan kita tidak menghargai apa yang pasangan lakukan dalam rumah tangga
3. Tunjukkan bahwa kita berubah ke arah yang lebih baik sehingga pasangan lambat laun akan melakukannya.
4. Sering memuji untuk hal kecil yang pasangan lakukan.
5. Tunjukkan pada anak-anak bahwa kita sebagai Bunda tetap menghargai Ayah mereka meskipun sikapnya menjengkelkan sehingga akhirnya mereka pun melakukan hal yang sama.
6. Mau mendengar bila pasangan protes dengan sikap kita.
7. Menerapkan konsep rumah tangga bersama-sama hingga pasangan merasa dilibatkan dan akhirnya bertanggung jawab.
8. Berusaha menjadi yang terbaik hingga pasangan pada akhirnya mengikuti langkah kita untuk menjadi yang terbaik pula.

Jangan lupa sertakan Allah dalam setiap usaha kita.
**