Brey dan Kali yang Hitam

Nusantara Bertutur

Rumah Hanif ada di sana. Brey beberapa kali ke rumah Hanif. Rumah di pinggir kali Bekasi. Tidak jauh dari rumah Hanif, ada rumah teman Brey juga.
“Wak Ijah enak sekali singkong gorengnya….,” ujar Laila pada Brey.
Laila memang suka sekali makan singkong goreng. Ibu bisa menggorengnya. Tapi Laila hanya mau singkong goreng buatan Wak Ijah. Singkong goreng Wak Ijah terasa empuk dan lumer di mulut.
Brey menggandeng tangan adiknya.
Sudah beberapa bulan ini mereka pindah ke Bekasi. Udara Bekasi lebih panas dari di Bogor. Brey senang melewati pinggir kali dekat rumah Hanif, karena di sana masih banyak pohon. Hanif juga memelihara bebek dan kambing.
Mereka sampai juga di rumah Wak Ijah. Singkong goreng itu sudah matang. Wak Ijah tersenyum menerima uang pemberian dari Laila.
“Aku mau bawa ini untuk bekal sekolah, Kak…,” ujar Laila.
Ibu memasukkan singkong goreng itu ke kotak bekal yang dibawa Laila.
**
Brey langsung ke sekolah. Sekarang Brey memandangi Hanif. Jari Hanif menggaruk tubuhnya lagi. Ada beberapa luka di sana yang Brey lihat.
“Kamu mau ikut?” tanya Hanif.
Brey diam. Ia memandangi beberapa teman yang lain, yang sekarang berada di dekat Hanif. Mereka pasti berencana berenang lagi. Bukan di kolam renang. Tapi berenang di kali. “Ayo ikut. Biar badan kita segar.”
Brey menggeleng lagi. Ia belum izin dengan Ibu.
“Aku menonton di pinggir saja, ya,” ujar Brey akhirnya.
Sekarang mereka sudah ada di pinggir kali. Hanif dan tiga temannya sudah membuka baju seragam sekolahnya. Lalu mereka masuk ke dalam kali.
Air kali itu hijau kecoklatan. Brey berdiri di jembatan. Tiga temannya berenang sambil mencipratkan air ke Brey.
Mungkin mereka merasa segar bermain di sana.
Ada banyak bebek berenang. Ada…
“Aku sakit perut,” tiba-tiba Hanif ke luar dari dalam air. Lalu berlari menuju satu tempat berbentuk kotak, tidak jauh dari sana. Brey sering melihatnya tapi tidak tahu tempat itu untuk apa.
“Hanif tadi terlalu banyak makan sambal,” ujar seorang temannya.
Brey memandangi tempat itu lagi. Tidak lama kemudian, Hanif sudah ke luar dari sana sambil mengelus-elus perutnya. Tidak jauh dari tempat Hanif berdiri, Brey melihat seorang Ibu sedang mencuci beras.
“Itu apa?” tanya Brey penasaran.
“Itu WC,” ujar Hanif. Lalu masuk ke dalam kali lagi, dan berenang lagi.
Brey memutuskan untuk pulang ke rumah.
Ketika Brey sampai rumah, Brey lihat Laila sedang menangis. Ada Ibu mengoles perut Laila dengan minyak kayu putih.
“Laila sakit perut,” ujar Ibu sambil “Laila jajan apa tadi di sekolah?”
Laila masih menangis. Lalu ia berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi lagi.
“Ibu bawa adikmu ke dokter, ya. Kamu tunggu di rumah.”
Laila tadi sarapan nasi goreng buatan Ibu. Brey sehat dan tidak sakit perut. Laila tadi juga membawa singkong.
Ya ampun…, jangan-jangan. Brey jadi ketakutan membayangkan apa yang dilihatnya siang tadi. Teman-teman yang berenang, dan Hanif yang buang air besar di kali, lalu di ujung sana ada seorang Ibu sedang mencuci beras di air kali yang sama.
**
Ketika Ayah pulang Brey bercerita. Ayah menganggukkan kepalanya. “Mereka sudah terbiasa tinggal di pinggir kali. Mencuci, mandi, buang air besar dan membuang sampah juga,” ujar Ayah. Harus pelan-pelan merubah kebiasaan itu.”
Brey mendengarkan. Ayah mengajak Brey membeli beberapa buah tong ukuran sedang. Ayah juga sudah mempersiapkan cat untuk melukis.
“Kita buat tempat sampah yang manis. Semoga mereka mau membuang sampah di tempat sampah. Ayah juga sudah lapor Pak Lurah agar membantu.”
“Ayah hebat,” ujar Brey. “Tapi soal WC?”
“Pelan-pelan…,” kali ini Ayah mengelus kepala Brey. “Nanti Ayah pikirkan tentang hal itu.”
Brey tahu Ayah pasti bisa. Teman Ayah banyak dan pasti mau membantu.
Sampai sekarang kali itu masih kotor. Brey masih suka melewatinya. Melihat tong sampah lukis buatan Ayah ada di dekat kali. Tiga hari sekali ada tukang sampah yang mengangkutnya.
“Ibuku mau buat sumur buat kita mandi,” ujar Hanif pada Brey. “Mandi di kali bikin batanku gatal terus.”
Brey tersenyum.
Brey yakin, besok-besok kali itu akan menjadi bersih. Besok-besok kalau sudah bersih, mungkin Brey bisa ikut berenang di sana bersama Hanif dan teman-teman yang lain.
**