Ibu Membeli Kenangan

BOBO

Buah kecil-kecil berwarna ungu, merah dan hijau itu, Ninis pandangi. Buah itu Ibu beli di pasar malam. Ibu minta Ayah menghentikan motornya, lalu Ibu turun menuju tukang dagang yang menggelar dagangannya dekat peminta-minta.
“Ibu beli apa?” tanya Ninis penasaran. Tangannya memegang es krim coklat yang Ninis beli tadi.
“Ibu beli kenangan,” ujar Ibu sambil tersenyum. Lalu meminta Ayah kembali menjalankan motornya.
Ibu membeli kenangan. Ninis cemberut. Begitu yang selalu Ibu bilang setiap kali Ibu menemukan buah yang tidak Ninis ketahui lagi.
Ibu pernah membeli kecapiu. Lalu Ibu menunjukkan pada Ninis buah seperti bola kasti, warnanya kuning. Ibu menunjukkan cara membuka kulit keras buah itu. Ninis harus membantingnya hingga pecah atau harus menjepitnya di pintu. Di dalamnya ada biji ukuran sejempol Ninis, berwarna putih yang asam rasanya.
“Itu namanya apa?” tanya Ninis lagi sampai di rumah, ketika plastik warna merah itu, Ibu buka.
“Buni. Ibu dulu bikin rujak dengan buah ini,” ujar Ibu sambil tersenyum. “Kamu coba. Yang ungu mulai manis rasanya.”
Ninis mencoba memasukkan ke mulut. Lalu membuangnya. “Asem, Ibu…”
Ibu tersenyum. “Bijinya jangan dibuang, ya, Nis.”
**
Biji buah yang Ibu beli, tidak boleh dibuang. Tapi kalau dikumpulkan untuk apa? Ninis memandangi biji yang ada di tangannya.
“Aku tidak suka rasanya,” ujar Mela pada Ninis, ketika Ninis memberikan buah buni pada Mela.
Ninis melihat Mela membuang biji itu.
Teman yang lain yang Ninis beri juga menggelengkan kepalanya. Mereka mencoba, lalu bilang tidak suka.
“Ibu kamu aneh, ya,” ujar Mela sambil tersenyum. “Harusnya beli buah yang enak.”
Ninis mengangguk. Ibu aneh. Ibu memang suka membeli buah yang lain, yang Ninis makan. Tapi Ibu juga membeli buah yang Ibu bilang sudah langka.
Ayah tersenyum pada Ninis. “Ibu kamu memang aneh. Tapi hebatnya justru di situ.”
Ninis tidak mengerti. Hebatnya Ibu karena membeli buah yang sudah langka dan mengumpulkan bijinya?
**
Mereka akan pergi ke pasar malam lagi. Ninis pasti sudah yakin, Ibu akan minta Ayah menghentikan motornya. Sudah agak lama Ibu tidak mengajak ke pasar malam. Ibu seringnya mengajak Ayah ke tukang pot lalu membeli pot yang cukup banyak.
“Ibu tidak beli apa-apa?” tanya Ninis.
Ibu menggeleng. “Semua kenangannya sudah Ibu tanam.”
Kening Ninis berkerut.
Ayah terus melajukan motornya sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah.
“Maksud Ibu?” tanya Ninis.
Ibu kali ini menarik tangan Ninis, lalu menunjuk deretan pot dekat kolam ikan.
“Itu benih pohon buni, kecapi, gandaria, jamblang…”
“Jadi…”
“Nanti kalau sudah agak besar, Ibu akan tanam di pinggir lapangan. Ibu sudah minta ijin Pak RT. Biar teman-teman kamu jadi tahu buah yang sudah langka.”
Ninis dan Ayah kali ini saling berpandangan. Mereka masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Ibu yang sedang memandangi tanamannya.
“Ibu hebat, kan?” tanya Ayah.
Ninis diam. Ibu memang hebat. Ibu melestarikan tumbuhan langka.