Ayah, Aku dan Sekolah Kampung

IMG-20160226-WA0006

Tempatnya indah, jika aku berpikiran bahwa semua yang ada di depanku indah. Ruangannya besar, jika aku berpikir bahwa aku adalah seekor semut. Semua teman-temanku adalah orang hebat, jika aku tidak pernah menyombongan diri.
“Semuanya pasti akan menyenangkan,” ujar Ayah padaku.
Tiga minggu yang lalu kami pindah rumah. Ayah pindah tugas.
Rumah kami kecil berhalaman luas. Ayah memelihara kelinci juga ikan. Ibu memelihara banyak pohon bunga.
Aku sudah bersiap-siap. Sudah ada tas jahitan Ibu dan sepatu yang kemarin aku cuci. Ayah bilang, aku akan bertemu teman-teman baru.
Aku tidak suka ketika Ayah bilang akan pindah rumah. Teman-teman baikku memeluk dan menangis. Mereka memberiku banyak kado untuk kenangan. Semalam, aku menulis di buku harian tentang mereka.
“Sudah siap?”
Aku mengangguk.
Sekolah itu nanti pasti akan seperti sekolahku dulu. Banyak jendela besar dan setiap aku mulai bosan belajar, aku bisa menatap ke luar jendela. Lalu melihat kebun bunga milik sekolah, juga rumput-rumput yang tumbuh menghijau.
Biasanya aku juga bisa melihat tukang kebun yang rajin menyapu. Lalu sampah daun-daun kering itu dipisahkan untuk dijadikan pupuk.
Bila musim buah mangga dan pohon mangga di sekolahku berbuah banyak, setiap anak bisa membawa pulang satu mangga.
“Berdoa dan bahagia…,” ujar Ayah memintaku naik ke boncengan sepedanya.
Aku sudah mempersiapkan semuanya.
Aku nanti akan naik sepeda ke sekolah. Ayah sudah mempersiapkan sepeda untukku dengan boncengan yang empuk. Ayah bilang, biar aku bisa membonceng teman-teman yang membutuhkan. Tapi selama seminggu, Ayah akan mengantar dan menjemputku, sampai aku punya banyak teman.
Ayah berjalan lurus. Mengayuh sepedanya pelan-pelan.
Aku bisa melihat banyak rumah dengan pagar yang tinggi. Aku juga melihat jalan becek berbelok. Beberapa anak bermain di sana sampai bajunya kotor.
Aku bisa melihat sebuah rumah dengan buah mangga yang jatuh di halaman rumahnya. Tidak ada yang mengambil dan mangga itu sepertinya menjadi busuk.
Ayah berhenti. “Turunlah,” kata Ayah.
Aku turun. Mengikuti apa kata Ayah.
Sebuah gedung tua, plang nama sekolah yang tidak jelas. Halaman yang penuh tanah dan beberapa pohon di sudut halaman.
“Ini sekolahmu. Jadilah hebat…”
Aku memandangi Ayah. Sekolah itu tidak bagus.
“Kalau kamu bersyukur, maka segala yang tidak bagus akan menjadi bagus.”
Aku tidak tahu maksud Ayah. Ayah menggandeng tanganku dan masuk ke halaman sekolah.
Rasanya aku ingin kembali ke sekolahku dulu.
**
Mereka berlarian. Kelasnya kotor. Jendela tirainya tertutup debu. Jam di dinding mati.
Ayah sudah pulang. Aku masuk di kelas dengan 47 murid lainnya.
Aku melihat ada ember diletakkan di salah satu sudut kelas. Aku melihat ada air menetes dari atap. Mungkin untuk menampung air sisa hujan.
“Keluarkan buku kalian…”
Ibu Guru itu berdiri di depan kelas. Meminta kami membuka buku. Lalu menulis di papan tulis. Di belakangku ada anak yang sedang main tarik-tarikan buku. Lalu saling tertawa.
Di sebelahku ada anak yang sedang menghitung pakai jari. Aku melirik ke bukunya. Dia salah mengerjakan perkalian lima kali lima.
Di depanku ada anak yang sedang makan kuenya yang diletakkan di laci.
Ibu Guru itu bicara menerangkan. Tapi sepertinya hanya aku dan beberapa anak saja yang mendengarkan.
**
“Kalau melihat yang kotor, harus disapu biar bersih. Kalau melihat teman yang berbuat salah, tegurlah. Kalau…”
Huh, aku cemberut. Ayah tidak tahu seperti apa perasaanku. Aku sedih. Aku akan minta Ayah cari sekolah yang lain saja. Ibu hanya tersenyum seperti biasa, lalu memberi teh hangat di cangkir berwarna biru. Itu cangkir kesukaanku.
Tapi pagi ini Ayah mengantarku kembali. Pekerjaan Ayah bisa dikerjakan di rumah. Ada yang Ayah bawa di keranjang sepedanya. Koran bekas dan ember kecil. Ayah juga membawa baterai untuk mengganti jam yang mati di kelas.
Begitu sampai di sekolah, Ayah masuk ke kamar mandi untuk mengambil air. Lalu Ayah memasukkan koran itu ke dalam air. Dibuat bulatan agak besar.
Aku ikuti apa yang Ayah kerjakan.
Sekarang Ayah berdiri di dekat jendela kaca yang kotor. Koran basah itu Ayah gunakan untuk membersihkan debu di jendela. Tangan Ayah terus bergerak.
Sementara tukang kebun yang baru datang melihat apa yang Ayah lakukan, lalu ia akhirnya mengambil ember yang lain dan melakuan hal yang sama.
Aku juga. Tapi aku tidak membersihkan jendela. Aku ambil sapu di sudut kelas, Lalu menyapu.
Teman yang lain mulai membersihkan meja mereka. Ada yang mencari lap, ada yang memakai tisu yang ada di tas mereka.
Ayah tersenyum melihatku. Aku juga tersenyum.
Hari ini aku bisa melihat ke luar jendela. Ada burung yang bersarang di pohon. Mungkin besok perlu aku minta Ibu membawakan pohon, agar sekolahku menjadi lebih indah.
**

Tidak ada tempat yang buruk, tidak ada teman yang bodoh, kalau…., kalau aku mau berusaha untuk itu.
Siang ini, aku membonceng Rara. Tubuhnya gemuk. Ia suka jajan banyak. Dia juga tidak bisa naik sepeda. Aku mengajak Rara main ke rumah.
“Setiap Kamis, Ayah libur kerja,” kata Ayah. “Undang dua atau tiga teman kamu yang belum bisa baca dan berhitung, ya.”
Di sekolah kampung tempatku, ada tujuh orang teman yang ternyata tidak bisa membaca. Ada juga yang belum bisa perkalian padahal sudah duduk kelas lima.
Kemarin giliran Ibu mengajari Lila perkalian. Sekarang giliran Ayah mengajari Rara membaca.
“Ayah…”
Ayah ke luar rumah.
Aku menggandeng tangan Rara.
Dari arah dapur sudah tercium bau bakso buatan Ibu. Setelah belajar, pasti kami nanti akan makan dengan senangnya.
Tidak ada sekolah yang jelek, kalau kamu menjadikan sekolah itu bagus.
Aku tersenyum memandang Ayah, yang mulai mengajari Rara membaca.
Sekolah kampung tempatku menuntut ilmu, jendelanya sekarang sudah bersih. Dua hari sekali ada piket untuk membersihkan. Bukan hanya tugas anak-anak atau pak kebun. Bapak dan ibu guru juga bergantian melakukannya.
“Ayah kamu hebat,” begitu kata guru juga teman-temanku.
Yang aku tahu, aku bahagia punya Ayah yang hebat seperti ayahku.

**