Peyek’e, Mas…..

DSCF3576

“Peyek’e mboten, Mas….”
Suara nyaring itu akan terdengar setiap Sabtu menjelang siang. Perempuan separuh baya, kulit kecoklatan dengan topi caping di kepalanya. Di keranjang yang biasa ia letakkan di depan pintu pagar, ada banyak peyek alias rempeyek. Dari kacang tanah atau kacang kedelai hitam. Sebungkusnya ia jual dengan harga enam ribu rupiah.
Ia akan datang tanpa peduli cuaca sedang panas-panasnya atau bahkan hujan yang mengakibatkan jalan masuk perumahan kami tergenang air.
Suaranya nyaring dan khas. Anak-anak di rumah sudah paham. Suami yang pertama kali menemukannya.
Ia akan memanggil dengan suara…,” Peyek’e, Mas.”
Biasanya saya akan berlari ke pintu pagar. Dan pertanyaan itu akan dilanjutkan dengan.
“Setunggal napa kaleh?” tanyanya. “Wonten kacang, wonten kedelai.”
Maka ia akan menyodorkan dua bungkus peyek yang dipenuhi kacang seperti pilihan kami. Satu plastik dihargai enam ribu rupiah.
Sebenarnya, peyek yang dijualnya juga bukan peyek yang istimewa. Di perumahan kami banyak yang menjualnya. Peyek asli Jogja, itu biasa yang tertulis di badan mobil atau motor penjual peyek di perumahan.
Tapi soal memutuskan untuk membeli terus dagangannya adalah bukan masalah sepele untuk kami. Saya dan suami pernah berproses, hingga akhirnya mengambil keputusan. Bahwa kami harus membeli.

Tapi masalah yang kami rasakan adalah soal rezeki yang menjadi hak orang lain. Peyek yang kami buat banyak. Diberikan ke tetangga juga masih banyak. Dimakan sendiri bosan. Porsi kami adalah peyek yang dijual oleh perempuan bercaping itu setiap Sabtu, lalu kami nikmati pelan tapi pasti. Hingga ketika Kamis persediaan peyek sudah habis, kami akan merindukan suaranya memanggil di depan pintu pagar.
Buat saya, itu hak rezeki buat Mbak pengantar peyek.

“Ke sini naik apa?” tanya saya suatu hari.
“Naik angkutan, Mbak. Dari depan jalan kaki.”
Rumahnya jauh. Demi sekeranjang peyek yang saya beli dua bungkus, rasanya tidak mungkin ia mendapat keuntungan berlipat ganda. Saya yakin ia menjualnya karena yakin kami butuh, dan ia suka menawari kami.
“Banjir tadi di tempat saya, Mbak…,” ujung celana panjangnya ia gulung.

Ada banyak jalan rezeki yang akhirnya harus dipahami dengan betul. Ada keterbatasan kita sebagai manusia yang memang juga harus disadari. Dan keterbatasan itu akan jadi jalan rezeki untuk yang lain.
Untuk perempuan yang tidak bisa memasak, tapi ingin di dapurnya lauk yang tersedia adalah lauk yang beragam. Maka rezeki itu adalah jadi haknya para perempuan yang pintar memasak, dan membuka warung makan dengan beraneka macam lauk.
Kita tinggal memilih lauk apa saja dalam porsi kecil. Tiga atau lima ribu rupiah. Dengan uang sejumlah itu, kita tidak mungkin mendapatkan masakan seperti itu. Contohnya untuk urap.
Mereka bukan sembarang perempuan.
Mereka memutar uang dan dari perputaran uang itu mereka memberikan banyak kontribusi yang tidak kecil untuk bangsa ini.

Rempeyek harus digoreng dengan minyak goreng. Minyak goreng itu tentunya tidak diproduksi sendiri tapi dibeli di kios atau toko sembako. Lalu kacang tanah. Meski tersedia di toko sembako, tapi jika tidak ada petani kacang yang menanamnya, maka mustahil akan bisa hadir dan dijual di toko. Tepung beras juga seperti itu. Plus plastik untuk membungkus rempeyek.
Dan lingkaran ekonomi tingkat mikro ini yang menguatkan ekonomi tingkat makro. Perusahaan plastik tidak akan beroperasi bila tidak jutaan pedagang seperti ini. Dan para pegawai yang bekerja di sana, adalah imbas dari larisnya pedagang kecil seperti tukang rempek langganan kami.

“Peyek….”
Di lain tempat seorang Nenek usia sekitar 70 tahun berjalan terbungkuk. Ada keranjang warna merah di tangannya.
“Peyek, Neng?” ia menawari.
Satu bungkusan rempeyek renyah diberi harga tujuh ribu rupiah. Rempeyek dagangannya selalu habis. Dan habis itu artinya ia harus membeli tepung beras lagi, kacang lagi, minyak goreng lagi dan plastik lagi.
Sesuatu itu terlihat kecil. Tapi industri menjadi kokoh karena hal-hal seperti itu. Dan saya seperti ibu-ibu lainnya yang ribet dengan urusan dapur, menjadi sangat terbantu.

“Peyek mboten Mbak’e….”
“Banjir? Tetap jualan?”
“Kalau ndak jualan sayang, Mbak. Rumah saya juga kebanjiran,” ujarnya dengan senyumnya yang khas.
“Ada peyek kedelai, peyek kacang. Setunggal napa kaleh?”
Saya mengangguk. Membeli rempeyek dagangannya.
Sejak dua tahun yang lalu saya putuskan. Kami tidak pernah menolak dagangannya lagi.
**