Pada Batang Kayu yang Rapat

Femina

“Selalu ada kenangan. Maka kenanglah…”
Trinil merasakan labirin di museum Ullen Sentalu membuat kepalanya menghadirkan dentuman yang membuat ia harus memijit keningnya berkali-kali.
“Selalu ada ingatan tentangku, maka ingatlah…”
Sebuah pintu tertutup beringin. Hawa dingin Kaliurang mulai dirasakan menggigit. Hanya ada gerimis kecil. Ia dan rombongan lain harus menunggu giliran untuk masuk ke dalam pintu museum. Pintu yang tertutup sulur beringin itu belum juga terbuka, tanda pengunjung yang ada di dalamnya belum menyelesaikan kunjungannya.
Sebuah meja kecil dan pengeras suara. Karcis-karcis yang disobek. Lalu kepala rombongan yang melongok ke pintu kayu yang masih tertutup.
Sekarang, penjaga karcis sudah berdiri. Menggunakan pengeras suaranya. Lalu mengumumkan bahwa lima menit lagi pintu masuk itu akan terbuka.
Sebuah pintu masuk dari kayu jati tanpa polesan plitur dibuka. Trinil memilih tempat paling sudut. Beberapa pengunjung saling berpasangan. Mereka bergandengan tangan, seolah akan memasuki sebuah tempat rahasia.
Ada seorang pemandu wisata yang akan memandu 20 orang wisatawan. Sekarang pemandu wisata berdiri di atas anak tangga dari batu. Pandangan matanya menerawang ketika memberi penjelasan dan meminta semua wisatawan untuk berdoa.
Nanti mereka akan melewati jalan berbentuk labirin yang akan membawa mereka pada satu tempat ke tempat lain. Ada pintu masuk lain seperti gua dan tangga menurun dengan cahaya lampu yang remang yang juga harus mereka lewati..
Trinil berdiri di dekat arca batu dan sepasang kekasih yang saling melempar senyum. Mungkin mereka sedang berbagi resah dan ketenangan. Seperti dulu resahnya selalu dapat ditenangkan oleh Yas.
“Sebut saja namaku berkali-kali sebagai bagian dari doa.”
Mereka sudah mulai berjalan. Menaiki anak tangga, lalu menuju lubang berbentuk gua. Ada beberapa anak tangga menurun dengan cahaya yang remang-remang.
Trinil seperti dibawa ke sebuah masa bernama masa lalu.
**
Mimpi Mbok dan mimpinya memang tidak pernah sama. Sejak dulu selalu begitu.
Trinil mengaduk-aduk ampas teh yang masih tersisa.
“Kamto baru pulang dari kota…”
Trinil menarik napas panjang. Kamto baru pulang dari kota. Sis baru saja panen tembakau. Lalu Kur baru panen jati. Siapa dari ketiganya yang mau Trinil pilih? Mbok akan membukakan pintu lebar-lebar untuk menerima pinangan mereka.
Trinil tersenyum kecut.
“Yang kamu suka, bisa apa?”
Trinil kali ini menunduk. Tiga lelaki yang Mbok sebutkan tidak membuatnya jatuh cinta. Mereka pamer motor baru ke rumah. Lalu janji akan memberikan Mbok baju baru, sawah dan lainnya. Trinil hanya perlu jadi istri yang patuh. Ikut dengan mereka. Tidak perlu punya mimpi lain.
“Yang kamu suka, lelaki yang tidak bisa memberimu apa-apa,” Mbok bicara seperti berbisik di dekat telinga Trinil.
Di seberang sana, di rumah yang atapnya hampir rubuh, seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Ada topi rajut yang pernah Trinil berikan untuknya. Laki-laki yang hidup sebatang kara sejak remaja. Bapak ibunya tewas terkena demam berdarah.
“Dia bisa apa?”
Trinil semakin menunduk. Yas tidak bisa apa-apa. Tidak bisa kasih oleh-oleh untuk Mbok. Tapi Yas bisa membawa banyak cerita untuk Trinil.
“Baca..,” ujar Yas memberikan sebuah buku pada Trinil. “Nasibmu mau berubah, toh?”
Jalanan desa yang becek suka mereka lewati. Mimpi Trinil tidak boleh berhenti hanya sampai jadi pembuat cobek dari batu-batu kali seperti para tetangga yang lain.
“Dia bisa apa? Kamto bisa bangun rumah besar…”
Jalan desa yang sepi. Di desa Kinahrejo di lereng Merapi, hanya sebagian jalan yang rapi. Jurang di kanan kiri membuat Trinil tidak berani bermimpi. Pergi jauh juga tidak pernah ia lakukan. Tapi Yas membuka matanya dengan puluhan buku yang Yas bawakan dari kota.
Kali ini, Trinil melirik lagi. Yas kembali melambaikan tangan padanya. Ransel besar sudah ada di tangannya.
Kerjanya tidak ada yang tahu, tapi Trinil tahu. Ia suka membantu dan pergi ke daerah bencana. Uangnya memang tidak banyak, tapi ia pintar.
Yas selalu menarik Trinil ke hutan jati di pinggir desa. Lalu ia meminta Trinil menulis mimpinya pada sebuah kertas dan ditempelkan pada setiap batang jati.
“Kalau kertasmu hilang, itu artinya mimpimu bisa jadi kenyataan.”
Maka kertas-kertas itu pun hilang ketika keesokan harinya Trinil datang kembali.
“Itu artinya kamu harus semakin banyak menulisi mimpimu.”
Batang-batang pohon kayu jati yang berdiri hampir rapat dan tidak beraturan itu menjadi saksi bisu. Bahwa Trinil menulis nama Yas pada sebuah kertas. Lau menempelnya. Tidak banyak kata-kata yang Trinil tulis. Hanya sebuah gambar berbentuk hati. Lalu nama Yas dan Trinil tertulis di dalamnya.
**
“Gusti Nurul…, perempuan tercantik di zamannya. Dikagumi oleh orang Eropa.”
Trinil sudah sampai di ruangan lain. Kantor menugasinya untuk membuat liputan lengkap tentang museum Ullen Sentalu. Museum yang menghadirkan sejarah Jogja dan Solo ini, tidak menarik teman yang lain. Trinil menunjuk dirinya agar ia yang mendapat tugas liputan itu.
“Perempuan cantik itu kalau pintar…”
Sebuah kursi Trinil sentuh. Kursi Kanjeng Gusti Nurul sama persis dengan kursi yang ada di foto.
“Perempuan tegar…,” ujar Yas sambil menunjukkan otot bisepnya pada Trinil. “Aku mencarinya.”
Pipi Trinil bersemu kemerahan. Lalu mereka tertawa bersama.
Tapi ia pernah berhenti terkikik ketika Yas menyelinap ke dapur rumahnya.
Matanya bengkak. Hidungnya berlumuran darah. Kelopak mata Trinil mengerjap beberapa kali. Tempat persembunyian itu ada di dapur rumahnya, di belakang rak berisi kayu bakar.
Di luar suara-suara terdengar memanggil-manggil namanya. Lalu hiruk pikuk bicara soal motor yang baru saja hilang di kampung.
“Aku mencuri motor seorang yang mau bawa temanmu ke kota buat dijual, jadi perempuan penghibur.”
Api di tungku masih menyala. Trinil mengambil kayu berlubang. Meniup pelan-pelan, agar kayu bakar yang masih membara bisa kembali menyala. Ia akan memasak air lalu menyediakan kopi.
Luka-luka di wajah Yas, akan ia bersihkan dengan air hangat nanti.
“Berhenti mengenang apa yang seharusnya tidak boleh dikenang.”
Trinil menarik napas panjang.
Berlembar-lembar batik dan penjelasannya masuk ke telinganya dan rekaman di telepon genggamnya. Tidak boleh ada kamera di museum itu, kecuali di tempat-tempat tertentu.
Ada bayangan manis tentang batik yang membuat Trinil meringis.
Waktu Bapak meninggal, Yas mengambil batik dari lemari. Lalu memberikan pada Trinil. Batik motif parang rusak itu membuat mata Mbok melotot pada Trinil. Tapi tidak ada lagi kain bagus yang bisa dipakai.
“Sepanjang pernikahan, aku dan bapakmu terus bertengkar. Pada saat terakhir kami juga masih saling benci,” ujar Mbok berurai air mata.
Trinil mengerti. Mbok percaya pada symbol dalam motif batik. Bahwa pernikahannya dengan Bapak yang selalu diisi pertengkaran adalah karena motif batik itu yang dipakai Bapak dulu sebagai penganten.
Bayangan Yas melambaikan tangan padanya sepuluh tahun yang lalu terus terbayang. Topi ungu, ransel besar dan kalimat tegas padanya.
“Kamu harus jadi perempuan pintar. Aku jual rumahku dan semua uangnya buat sekolah kamu. Suatu saat kamu harus jadi perempuan pintar. Dan…”
“Dan apa?”
“Dan kita menikah.”
Rumah warisan Yas terjual. Uangnya diberikan utuh pada Trinil. Bahkan Yas menolak ketika Trinil akan memberikannya separuh.
“O alah…, iki jenenge tresna, Nduk…,” ujar Mbok memeluknya sambil berurai air mata.
Lalu mereka berpisah. Dan tidak pernah ada lagi pertemuan.
**
Ada banyak masa ketika Trinil menangis pada saat melihat berita di televisi. Erupsi Merapi dan rumah Mbok yang terkena erupsi. Ratusan pengungsi. Ratusan desa di lereng Merapi dan tubuh Mbok yang terlambat untuk diselamatkan.
Trinil mengusap matanya. Memalukan jika air matanya tumpah. Keputusan untuk pergi dari desa adalah keputusannya dan Mbok mendukungnya penuh. Mbok berbisik padanya. Agar Trinil memberikan bukti nyata dan Mbok akan selalu mendoakan.
“Kita istirahat sejenak…”
Suara itu memecah lamunan Trinil. Ia seperti berjalan di ruang hampa tadi dan tidak sadar mereka sudah sampai di ruangan besar dengan kursi dan meja juga nampan berisi cangkir yang diisi dengan minuman bernama wedang uwuh.
“Mbak…,” sekarang Trinil mendekat pada pemandu wisata. “Saya butuh mendokumentasi ruangan dan gambar dalam museum ini. Bisa?” Trinil menunjuk kamera yang tergantung di lehernya.
“Nanti bisa bicara lagi dengan atasan saya,” ujar pemandu wisata itu sambil menunjuk ke sebuah ruangan.
Trinil mengangguk sambil tersenyum.
Trinil meneguk air di dalam cangkirnya. Rasa jahe dan kayu secang yang berwarna merah terasa menyegarkan mulutnya.
“Jika aku pantas dikenang, maka kenanglah…”
Maka kenangan itu yang membuat Trinil menuju sebuah tempat penyewaan jeep. Ia akan menuju lereng Merapi untuk membuktikan rasa terima kasihnya. Meski emosi di hatinya mengaduk-aduk perasaannya.
**
Gerimis masih turun ketika akhirnya Trinil menaiki jeep menuju Merapi. Jeep tanpa atap dan tiga penumpang lainnya yang tidak Trinil kenal. Mereka kesenangan ketika supir jeep mengajak mereka merasakan sensasi. Satu ban jeep menaiki batu besar sehingga jeep setengah miring.
“Tidak akan ada yang terganti.”
Yas tidak akan pernah terganti, memang. Dan Trinil selalu percaya. Tahun-tahun panjang untuk percaya adalah tahun yang berat.
Jeep itu sudah berhenti di banyak tempat. Rumah Mbok dulu yang tidak terlihat jejaknya. Kuburan massal yang membuat Trinil menolak turun ketika penumpang lainnya ikut turun.
Sekarang mereka berhenti di tempat lain untuk menuju sebuah bunker Bunker itu ada di bawah seperti gua. Trinil harus menuruni beberapa anak tangga. Melewati genangan air sebatas mata kaki. Lalu masuk ke dalam ruangan gelap tanpa cahaya. Di atas tadi ada beberapa orang yang menyewakan senter, tapi Trinil tidak membutuhkan hal itu.
“Percayalah padaku, Trinil.”
Trinil selalu percaya. Pada Yas yang pergi dan tak pernah kembali. Pada tekad bulat Yas untuk menjadi seorang sukarelawan, hingga akhirnya Yas terperangkap dalam bunker bersama pengungsi lain. Nyawanya tidak terselamatkan. Tubuh mereka hangus di dalam bunker.
Hawa dingin gunung Merapi menyergap.
“Terima kasih. Aku perempuan kuat sekarang, Yas,” bisik Trinil.
Gerimis di luar sudah berhenti. Matahari kembali muncul. Trinil yakin, Yas mendengarnya.
**