Tentang Za

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com.

Za berbeda. Ia manis. Kulit sawo matang sama seperti yang lainnya. Tubuh sintal. Dan sungguh ia sangat manis dan suka menggoda.
Sejak kecil Za sudah manis. Sejak kecil ia sudah merasa bahwa ia manis. Maka ia selalu percaya diri ketika menunjuk seseorang.
“Dia naksir aku..,” ujarnya percaya diri sambil mengedipkan kelopak matanya yang dinaungi bulu mata lentik.
Za selalu percaya diri dalam hal penampilan fisiknya. Apalagi bapaknya selalu sayang padanya.
Suatu hari kalung emas tergantung di lehernya. Kalung baru, dengan rantai yang lebih tebal dan bandul yang lebih berat.
“Kata Bapak, jangan bilang-bilang ke yang lain.”
Za memang berbeda. Ia manis, dengan rambut ikal dan gigi gingsul. Za semakin percaya diri ketika ia lepas SD.
“Dia pegang tanganku,” ujarnya suatu sore sambil menggigit es mambo. Di pipinya ada lesung kecil. “Ini pacar ketigaku.”
Pacarnya banyak. Semua laki-laki seperti tersedot magnetnya. Meskipun Za tidak terlalu menonjol seperti remaja lainnya. Sekolahnya? Biasa saja. Nilai rapornya biasa saja. Pacarnya? Luar biasa…, beberapa teman geleng-geleng kepala jika membicarakan Za.
Za juga pintar menyanyi. Suara Za merdu. Dan Za berani naik ke atas panggung. Tapi Za tidak punya cita-cita seperti yang lain. Cita-cita Za berbeda.
“Aku mau jadi orang kaya,” katanya.
Za ingin jadi orang kaya, mungkin karena ingin mengangkat kehidupan orangtuanya. Tapi bukan kaya ilmu. Sebab Za tidak tertarik dengan hal itu. Za ingin kaya dalam pandangan umum. Berlimpah harta, keliling dunia dan dihormati semua orang karena kekayaannya.
“Enak naik mobil..,” ujar Za sambil tersenyum.
Za punya mimpi. Mimpi yang dimiliki oleh gadis-gadis muda sepertinya.
**
“Namanya Pak Wan…,” kata Za. Ia sudah tersenyum ketika berjalan menuju rumah. “Pak Wan direktur.”
Namanya Pak Wan. Putih, tinggi besar dengan mobil baru.
“Kamu kenalan di mana?”
Za tersipu. “Tadi kebetulan ketemu di apotik.”
Maka hari-hari Za adalah bersama Pak Wan. Mobil Pak Wan akan terparkir di tanah kosong depan rumah Za. Lalu bapaknya Za akan mengambil kemoceng dan membersihkan mobil itu.
“Pak Wan suka memberi uang.”
“Ditabung uangnya?”
Za menggeleng. “Buat Bapak beli rokok, buat Emak beli baju. Yang lain juga suka minta beli baju,” ujar Za dengan bangga.
Za dan Pak Wan adalah sepasang kekasih yang jadi perbincangan.
“Anaknya sepantar aku,” kata Za. “Istri Pak Wan sudah punya suami baru.”
“Terus kamu kapan nikah?”
Za menggeleng. Ia masih duduk di bangku SMA. “Aku kan sudah punya pacar yang lain.”
“Jadi punya dua pacar?”
Za mengangguk.
Dua kekasih yang Za punya. Satu Pa Wan, dan satunya teman sekelasnya, yang suka ia traktir.
“Senang-senang aja dulu,” Za bicara dengan mantap.
Bersenang-senang ala Za artinya tidak perlu memikirkan masa depan. Tidak perlu menabung. Uang ada di tangan langsung dihabiskan dan bisa ia cari lagi. Caranya? Dengan meminta dari Pak Wan.
Lama tidak mendengar kabar tentang Za. Cukup lama.
Ia bukan lagi gadis remaja, tapi sudah gadis dewasa. Dengan rok span mini lalu tas kerja dan sepatu high heel.
“Kerja di perusahaan swasta,” ujarnya bangga.
Kerja di perusahaan swasta, tetap jadi penopang ekonomi keluarga. Semua berharap banyak darinya. Kakak-kakaknya pengangguran.
“Sekarang pacarku kerja di rumah sakit.”
Pacarnya kerja di rumah sakit. Lelaki muda. Anak orang kaya. Tapi berujung pada perpisahan. Za dikhianati.
**
Beberapa tahun yang lalu Za menikah. Dengan seorang preman.
“Aku cinta sama dia…,” katanya sambil menangis ketika menginap di rumah. “Cinta setengah mati.”
Preman sebuah diskotik. Preman itu yang lari dari jendela karena Za memergoki ia sedang selingkuh dengan perempuan lain.
“Aku tidak mau cerai…,” Za berurai air mata.
Za tidak mau cerai karena cinta. Cinta itu yang membuat Za datang lagi beberapa tahun kemudian sambil tersenyum.
“Habis dari Singapura,” ujar Za.
“Sama suami kamu?”
Za semakin tersipu. “Sama suami yang lain.”
Lalu ke luarlah cerita dari mulut Za tentang lelaki lain berkewarnageraan Singapura. Lelaki dengan dua anak. Lelaki itu memberi banyak materi juga cinta.
“Punya dua suami?”
Za mengangguk.
“Benar-benar menikah?”
Za diam. Mengerutkan keningnya seperti ingin menghimpun sebuah cerita. Lalu dari bibirnya hadirlah sebuah cerita.
Ia hanya memiliki satu suami. Suami pengangguran dengan satu anak. Suami yang membolehkan ia tidur dengan lelaki lain, bahkan menjadi simpanan lelaki lain. Suami yang membuat Za justru bahagia, karena dengan cara seperti itu ia merasa memiliki harga diri sebagai seorang wanita.
“Kamu bahagia?”
Za mengangguk.
Ia bahagia betul nampaknya. Sesekali ia menelepon bercerita bahwa ia baru saja dari Singapura. Lain waktu ia menelepon mengatakan kalau lelaki yang ia bilang suami dari Singapura, datang di hotel. Dan Za diantar salah seorang kakaknya akan bersiap ke sana.
“Sudah punya tabungan, rumah dari lelaki itu?”
“Cinta…,” ujar Za. Meyakinkan bahwa ia sudah cukup memiliki itu saja.
“Tidak takut dosa? Kenapa tidak minta cerai dan memilih salah satu dari mereka?”
Za menggeleng. “Cinta,” desisnya seolah ia tidak bisa hidup tanpa cinta.
“Anakmu butuh sekolah yang tinggi suatu saat. Jangan cuma makan cinta. Kalau lelaki itu benar-benar cinta, mintalah sebuah rumah untuk masa depan. Suami yang mencintai istri dengan sungguh-sungguh tidak akan membiarkan istrinya dengan lelaki lain.”
“Za diam.”
“Mereka berdua memanfaatkanmu.”
Za cuma diam.
Ia mungkin bahagia. Sama bahagianya setiap kali ia upload foto jalan-jalannya ke luar negeri.
Saya tidak tahu lagi bagaimana cara menasehati Za.
**
Setahun lalu sebuah foto masuk ke group WA. “Ini Za. Sedang sakit.”
Za yang sekarang berbeda. Tubuh kurus kering dan sudah tidak ingat siapa-siapa lagi.
“Za dirawat di rumah, karena tidak ada biaya.”
Za yang malang. Za yang tidak punya rencana masa depan, hanya senang dan senang saja. Para lelaki yang dekat menjauh semua. Za sendirian melawan sakitnya hanya ditemani Emak yang sudah pikun.
“Za akhirnya dipanggilNYA,” berita lain tak lama muncul.
Za akhirnya berpulang. Dalam kesengsaraan.
Za dipenuhi cinta dan percaya cinta. Tidak berani menapaki kenyataan, bahwa cinta yang benar tidak mungkin menyengsarakan.