Bapak dan Hidup Seadanya

Aq dan Bapak

“Cuma sepeda bekas. Bukan sepeda baru…,” ujar Bapak mengelus-elus sepeda itu.
Hari ini kami, saya dan adik-adik punya dua sepeda baru di mata kami. Dua sepeda yang Bapak beli di pasar rumput. Sepeda bekas dengan cat mengelupas. Tapi saya dan adik-adik gembira menerimanya.
Kami selalu punya sepeda bekas. Sepatu juga bukan beli di toko sepatu. Tapi di pedagang kaki lima. Penah dua pasang sepatu dari plastik Bapak belikan untuk saya.
“Harganya murah. Cuma seribu sepasang.”
Sepatu itu saya pakai. Jika kaki keringatan, akan tercium bau tidak sedap, karena plastik itu tidak menyerap keringat.
“Yah…, itu kan sepatu beli di pinggir jalan,” ejek beberapa teman.
Sepeda bekas, sepatu bukan dari toko adalah hal-hal yang biasa untuk saya. Seragam yang Bapak beli bahannya sendiri lalu Ibu yang akan menjahitnya.

Pada saat kelas enam SD, saya menghadap kepala sekolah. Pada waktu itu ketentuan para murid untuk menggunakan seragam putih merah mulai diberlakukan. Bapak sudah membeli bahan di toko tekstil.
“Pak…., saya tidak beli seragam dari sekolah. Bapak saya sudah beli bahannya,” ujar saya di hadapan guru dan kepala sekolah. Entah kenapa di mata terbayang banyaknya uang yang harus ke luar nanti jika saya membeli seragam dari sekolah.
Pindah dari satu rumah kontrakkan ke rumah kontrakkan lain sudah biasa.
Sampai kami pernah tinggal di rumah petak berlantai semen seadanya, hanya satu ruangan saja. Di atasnya anak pemilik kontrakkan memelihara banyak sekali burung merpati.
Bapak harusnya mendapatkan jatah rumah dinas seperti pegawai lainnya. Apalagi Bapak dipercaya di kantornya. Tapi Bapak selalu bilang,” Bapak bukan peminta-minta.”

Maka kami hidup seadanya. Justru keadaan seadanya itu membuat kami malu jika tidak berprestasi di sekolah.
Keadaan seadanya itu semakin mendesak ketika pemilik kontrakkan konon katanya kesurupan. Di saat kesurupan itu, ia berteriak mengusir kami dari rumah kontrakkannya.
Pada saat itu kami juga sakit berjamaah. Saya yang kerap sakit semakin sering sakit. Dan Bapak yang sehat juga akhirnya sakit.
Lalu dalam keadaan terpuruk itu, atasan Bapak datang menjenguk. Lalu mencarikan rumah dinas yang kosong untuk Bapak.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah kontrakkan, saya terkejut. Rumahnya besar, ada ruang tamu, dua kamar tidur dan dapur juga. Dan kami punya kamar mandi sendiri.
“Ini kursi siapa? Ini lemari siapa?” tanya saya melompat ke atas kursi yang empuk. Maklum sebelumnya kami tidak punya kursi yang bagus.
“Punya kita,” ujar Bapak.

Setelah itu kami tetap hidup sederhana. Tetangga kiri kanan naik kendaraan bermotor. Milik sendiri atau inventaris dari kantor. Tapi Bapak tetap naik sepeda. Bahkan Ibu cerita, Bapak menolak kendaraan dari kantor, dan memberikan pada teman yang rumahnya lebih jauh.
“Bapak kamu Omar Bakrie…,” begitu ledekan anak-anak tetangga setiap kali melihat Bapak pulang dan berangkat kerja naik sepeda. Topi yang Bapak kenakan juga topi caping ala petani. Dengan alasan topi itu lebar dan bisa menghalau panasnya matahari.

Bapak saya tidak pernah memiliki harta berlimpah. Rumah pribadi tidak Bapak miliki. Kami tinggal di rumah dinas sampai Bapak pensiun. Lalu karena ada penggusuran, maka ada kebijakan baru. Semua yang tinggal di rumah dinas, mendapatkan ganti rugi. Pada saat itu, saya bertanya ke banyak tetangga. Dan semuanya memiliki rumah yang lain selain rumah dinas. Cuma Bapak yang tidak punya.

Kami punya rumah sendiri akhirnya di Solo. Rumah yang berdiri di atas tanah warisan milik Ibu. Rumah warisan milik Bapak sampai Bapak meninggal tidak Bapak tempati. Bahkan di akhir hidupnya, Bapak bicara pada saya.
“Tolong rumah warisan Bapak dijual. Lalu dibagi ke semuanya. Bapak takut harta itu membuat anak-anak Bapak jadi tidak akur.”
Saya mengangguk. Saya punya Bapak yang hebat. Yang tidak punya uang, tapi punya prinsip yang hebat. Yang membuat kami berjuang dalam hidup kami hingga tidak jadi peminta-minta, bahkan mengambil yang bukan hak kami.

“Bapak tidak punya uang. Maaf, ya, kamu tidak bisa kursus di tempat itu. Mahal.”
Bapak tidak punya kami sudah biasa.
Pegawai negeri dengan delapan anak, hidup tidak mungkin berlebih. Cukup saja sudah lumayan.
Seumur hidup bersama Bapak dan Ibu, saya tidak pernah merasakan lebaran pulang kampung ke kampung halaman Bapak dan Ibu di Solo. Biaya tidak ada. Yang datang biasanya embah Putri setiap beberapa bulan sekali diantar kerabatnya yang berpunya.
“Bapak bukan peminta-minta,” ujar Bapak suatu hari pada saya. Memberi tahu bahwa meski kerabatnya banyak yang berpunya, tapi Bapak punya hidup sendiri dan mencari rezeki dengan kerja keras sendiri.

Adik-adik saya belajar berjualan sejak SD. Dari berjual buku sampai berjualan es. Sekarang ia marketing handal di kantornya.
Saya sendiri menulis sejak SD, dan sekolah hingga sarjana dari uang hasil honor menulis.
“Jadi orang yang hebat dan pintar,” pesan Bapak kepada anak-anaknya. “Dan rukun sesama saudara.”
Kami berjuang keras untuk itu.
Beberapa bulan yang lalu Bapak masuk rumah sakit. Sebulan penuh. Kami 8 anak yang tinggal berjauhan datang silih berganti, untuk bergantian menjaga Bapak.
Dan lelaki hebat yang mengajarkan kami untuk hidup seadanya itu bertanya pelan setelah komanya. “Biayaku di rumah sakit ini mahal pastinya. Siapa yang membiayai?”
Sampai sekarang setelah enam bulan kepergiannya, saya selalu meneteskan air mata untuk perjuangannya menjadikan kami manusia dengan prinsip yang teguh.
#parentingantikorupsi #GakPakeKorupsi