Kenapa Tidak Mau Mendongeng?

DSCF3341

Ah…, saya sedih kalau ada ibu-ibu yang saya tawarkan sebuah buku, lalu menggeleng. Buku yang banting harga hingga lima belas ribu rupiah, dan diskon sebagai penulis juga tidak dipakai, menurutnya tidak berguna. Lalu ketika abang gerobak membawa baju, celana dan lain sebagainya, mereka berlari ke sana. Tawar menawar. Bisa mengeluarkan selembar uang berwarna biru.
Saya sedih ketika mereka menganggap bahwa selain buku pelajaran, buku lain tidak penting.
Ritual mendongeng sebelum tidur? Tidak akan ada manfaatnya sama sekali.

Anak-anak di rumah biasa saya beri cerita sebelum tidur, sejak mereka dalam kandungan. Saya helus-helus sambil saya bacakan cerita. Efeknya, mereka bisa membaca dan memahami kalimat dengan cepat.
Anak-anak di rumah suka membaca dan saya fasilitasi. Dan tentunya saya ingin teman-teman mereka suka juga membacaca. Sebab mereka akan bergaul dengan orang lain, dan bisa jadi terpengaruh orang lain. Dan tentunya yang paling efektif adalah menyebarkan kebaikan. Tidak fokus menjadi baik sendiri.
“Susah, Ibu…,” itu keluhan pertama.
“Enggak apa-apa susah.Terus-menerus dibawa aja, dan baca. Kasih tahu teman kamu dan bilang. Ih bukunya keren, lho.”
Lama kelamaan, akhirnya mereka sudah terbiasa.
Yang laki-laki lebih sulit membiasakan diri untuk menularkan pada teman. Tapi Alhamdulillah, teman-teman main dan teman sekolahnya, kalau cari buku, pasti meminjam dari rumah. Hanya harus dikasih pesan, agar dikembalikan. Maklum penghargaan terhadap buku, untuk yang bukan pencinta buku, masih dianggap sama dengan bungkus kacang goreng.

Masa kecil anak-anak indah. Paling tidak saya berjuang untuk membuat masa kecil mereka indah. Salah satunya adalah dengan membacakan buku cerita sebelum mereka tidur. Kadang-kadang sampai sekarang, mereka sesekali masih juga meminta untuk dibacakan. Mungkin kangen mendengar suara ibunya bercerita. Mungkin ingin sekali mengenang masa-masa suara ibu seperti kaset yang diputar untuk pengantar tidur mereka.

Dongeng yang Bagaimana

cover mengaji bersama bapak-1 copy

do·ngeng /dongéng/ n 1 cerita yg tidak benar-benar terjadi (terutama tt kejadian zaman dulu yg aneh-aneh): anak-anak gemar mendengarkan — Seribu Satu Malam; 2 ki perkataan (berita dsb) yg bukan-bukan atau tidak benar: uraian yg panjang itu dianggapnya hanya — belaka;

Dongeng masuk katagori non fiksi. Cerita yang dihadirkan adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Misalnya tentang Maling Kundang dan lain sebagainya.
Seiring berkembangnya zaman, seorang Ibu tentunya harus kreatif.
Membacakan cerita sebelum tidur, sering dikonotasikan dengan membacakan cerita bohong. Karena itu mungkin banyak ibu-ibu yang malas melakukannya. Padahal ada banyak buku yang bisa kita jadikan rujukan untuk bercerita pada anak-anak.

Saya biasa membacakan buku apa saja. Tidak perlu pesan dari dunia yang tidak ada. Tapi saya selalu hadirkan pesan dari apa yang ada di sekeliling. Seperti contohnya buku ini. Mengaji Bersama Bapak .

Karena saya biasa menulis hal-hal yang memang saya hadapi, dan tentunya hikmah itu ingin saya bagi ke anak-anak, maka buku-buku yang saya hasilkan juga saya jadikan buku untuk saya ceritakan pada anak-anak. Anak-anak yang biasa dibacakan buku, dan akhirnya punya kebiasaan membaca, akan lebih kritis ketimbang anak yang tidak pernah diajak untuk dekat dengan buku.
Kritis anak-anak pencinta buku adalah kritis dengan mengolah pikiran dan perasaan. Bukan asal buka suara seenak mereka.
Novel anak Mengaji Bersama Bapak ini, menjadi nominasi IKAPI IBF Award 2015.
Ceritanya tentang apa? Tentang Aisyah yang punya keinginan sederhana. Dia hanya ingin si Bapak bisa mengaji, lalu berkumpul bersama bapak-bapak yang lain di sebuah pengajian.

Anak-anak akan berkomentar seperti ini. “Itu cerita beneran apa bohongan?”
atau…”Ibu bikin cerita soal aku?”
Atau…,” Jangan bacain cerita yang bohong, ah…”
Ketika mereka sudah kritis seperti itu, artinya mereka sudah bisa menangkap pesan cerita yang saya sampaikan. Mereka sudah bisa membedakan mana dunia khayal dan mana dunia nyata. Tentunya akan lebih mudah untuk mereka memilih buku dan menangkap sebuah pesan dari buku apa saja yang mereka baca.
Mereka juga akan bisa memilih dan memilah, dengan siapa mereka bisa bergaul akrab.

Ubah Sudut Pandang

Ibu ibu

Beberapa minggu, saya mengajar ibu-ibu pengajian menulis dan mendongeng. Mereka tidak paham dunia menulis, maka saya arahkan mereka untuk paham. Kebetulan Ustadz yang mengajar juga mengakomodir keinginan saya, dan memberikan jatah waktu dia untuk saya.
Lalu apa yang saya dapatkan?

Banyak ibu-ibu muda yang ternyata tidak mengerti apa gunanya membaca untuk anak? Banyak yang merasa pendidikan sekolah lalu mengaji sudah cukup. Buku pelajaran sudah menjadi beban. Kalau bertemu dengan buku lagi, si anak menjadi semakin terbebani.
Jujur, saya kewalahan untuk memberi pemahaman. Meski satu dua dari mereka mau untuk terus belajar menulis dan diajarkan bagaimana caranya mendongeng yang baik, sehingga anak-anak menjadi berkembang imajinasinya.

Ada yang salah pastinya.
Iqra itu artinya bacalah. Turun sebagai ayat pertama. Artinya seorang muslim dan muslimah harus gemar membaca, untuk menambah wawasan keilmuannya. Dengan membaca, lalu belajar menerapkan. Dan akhirnya bisa menyaring apa-apa yang ada di sekeliling. Menyaring dengan apa? Dengan iman.

Siapa yang salah?
Tidak menyalahkan keadaan, karena segala sesuatunya terbentuk karena kebiasaan. Saya terbentuk bisa menulis dan suka membaca karena Bapak saya yang penggemar buku. Saya terbentuk dan mudah berimajinasi karena Ibu saya tidak pernah memaksa saya untuk belajar. Beliau memberi kepercayaan dan saya sebagai anak berjuang menunjukkan bahwa kepercayaan itu tidak sia-sia.
Soal mendongeng?
Untuk membiasakan orang lain, perlu proses panjang.
Tapi mulailah dari diri sendiri. Orang yang paling dekat dengan kita. Sambil doakan terus-menerus.
Saya yakin, anak-anak muda yang tawuran, lalu mereka pemakai narkoba, adalah orang-orang yang bukan saja jauh dari keimanan, tapi juga jauh dari buku. Jiwa mereka miskin.