Emak dan Si Jadul

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’

di taman

“Emak jatuh lagi.”
Jil menahan tawanya. Emak jatuh lagi. Ada luka di siku Emak.
“Emak tadi jalan di pinggir, terus kaget waktu ada angkot…”
Tawa itu sebenarnya Jil tahah, tapi Jil tidak sanggup lagi. Ia akhirnya terkikik. Motor tua itu pasti bengkok stangnya.
“Nanti antar Emak ke tukang urut, ya.”
Jil mengangguk. Motor tua berwarna hitam itu Jil masukkan ke dalam pagar.
Sebulan ini, sudah tiga kali Emak jatuh dari motornya. Motor berwarna hitam yang selalu Emak panggil dengan panggilan Si Jadul. Motor itu Emak sayang-sayang. Bahkan Emak senang sekali ke sekolah Jil membawa motor itu.
“Itu motor kenangan…”
Dari dalam Jil mendengar suara Emak. Emak seperti tahu apa yang Jil pikirkan.
Motor tua itu Jil pandangi lagi. Di sebelah motor itu, ada motor matic milik Jil berwarna merah muda. Jil suka menawarkan Emak untuk memakai motor Jil, tapi Emak selalu menolak.
“Panggil tukang urutnya nanti, Jil…”
Jil mengangguk. Untung tidak ada yang bengkok.
**
“Jadi Babe juga pusing…”
Jil memandangi Babe. Tangan Babe berkali-kali menepuk dahinya.
“Babe pusing… Emak loe susah dikasih tahu.”
Jil memijat-mijat pundak Babe. Emak memang belum lama bisa naik motor. Jil ingat baru setahun yang lalu Emak belajar naik motor. Emak memilih Si Jadul, yang siap Babe jual.
“Emak loe itu curigaan, tuh motor mau Babe jual ke mantan pacar Babe dulu. Dia kan koleksi motor jadul.”
Jil menggaruk kepalanya. Mantan pacar Babe pedagang yang sukses. Tokonya banyak di mana-mana.
“Padahal tuh motor, kalau diganti sama yang baru, kan lebih enak dipakainya.”
Jil kali ini terkikik. Emak mungkin belum cerita sama Babe. Soal Jono, mantan pacar Emak yang sebenarnya suka kalau Emak bisa naik motor. Dan Emak belajar naik motor juga karena Jono.
Jil tahu, kalau setiap pagi sebenarnya Emak muter dulu lewat depan rumah Jono, sebelum beli gemblong untuk Babe.
“Kalau Emak naik motor baru, kan Emak kayak anak abegeh, Jil?” tanya Emak pada suatu waktu pada Jil. “Nah…, kalau naik motor ini, istri si Jono kan juga enggak akan tahu?”
Jil menggeleng.
“Babe harus ambil keputusan,” suara Babe memecah lamunan Jil.
**

Emak baik-baik saja. Cak Dayat yang suka mengurut itu bilang, Emak tidak apa-apa. Cuma sikut Emak luka.
Sekarang, pagi-pagi sekali Emak bahkan sudah menyalakan Si Jadul.
“Babe minta gemblong…,” ujar Emak mulai menstarter. Beberapa kali Emak menggoyangkan kakinya, tapi tetap Si Jadul tidak berbunyi.
Emak lalu mengambil kunci dari tempatnya, dan memasukkan ke lubang kunci di bawah jok Si Jadul. Emak memutarnya dan membuka jok itu. Mengambil sesuatu. Lalu…
Jill diam saja meneguk tehnya. Jill tahu apa yang Emak lakukan. Emak itu pasti akan mengambil amplas, lalu membuka busi Si Jadul dan menggosoknya. Kalau businya sudah agak hitam, Emak memilih menggosok daripada beli yang baru.
Sebentar kemudian suara Jadul berbunyi.
“Tanya Babe…, butuh gemblong berapa?” Emak mulai teriak.
Jil mengangkat seluruh jarinya. Babe lagi ada di atas mengurus burung-burung kenari peliharaannya yang sebentar lagi ikut kontes.
“Emak cuma sebentar…”
**
Dua puluh gemblong dan orang lain yang mengantar Emak.
“Emak jatuh lagi…,” kali ini Emak meringis. “Padahal Emak sudah lewat kampung…”
Tukang gemblong itu ada di jalan besar. Emak paling takut lewat jalan besar. Emak pasti memilih lewat jalan kampung.
Orang yang mengantar Emak bicara pada Babe. Lalu pulang.
“Besok-besok harus pakai helm.”
Emak cemberut. Menggeleng. “Pusing…”
Jil meringis. Emak memang paling tidak suka pakai helm. Bukan karena tidak punya, di rumah ada banyak helm. Jil punya warna pink dan ungu. Babe malah membelilkan satu helm berwarna biru untuk Emak. Tapi Emak selalu menolak dengan alasan helm membuat kepala Emak jadi pusing.
Motor Emak bengkok di bagian stang. Jil lihat Babe geleng-geleng kepala.
**
Sore itu Jil lihat Babe berdiri dan bicara dengan seseorang. Babe mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu pintu pagar dibuka sedikit. Teman Babe itu melongok ke arah Si Jadul yang ada di teras.
Jil melihat teman Babe itu juga masuk sebentar. Mengelus Honda Astrea tahun 1996 sambil mengangguk-angguk. Lalu Jil lihat jarinya terangkat. Dua jari. “Pas,” katanya sambil memandang Babe.
Babe garuk-garuk kepala. Lalu akhirnya mereka berdua tertawa.
**
Emak marah.
Emak mengomel.
Babe menyodorkan surat pada Emak. Surat perjanjian yang harus Emak tanda tangan.
“Semua ibu-ibu enggak ada yang pakai helm kalau cuma beli gemblong,” ujar Emak sambil cemberut.
Surat itu Babe yang menulis. Jil melihatnya.
“Emak harus tanda tangan…”
Emak cemberut.
“Atau…,” Jil mengambil helm dan membawakan untuk Emak. “Emak pakai helm ini kalau mau ke jalanan.”
“Tapi Emak cuma lewat jalan kampung…”
“Tapi Emak kadang-kadang suka lewat jalanan raya juga. Emak ingat, kan, motor Emak pernah keserempet truk?”
Emak meringis.
Surat itu Babe kibas-kibaskan. “Gimana?” tanya Babe. “Dua juta. Cash!”
Emak langsung ambil pulpen dan menandatangani surat itu.
**
Pagi-pagi sekali Emak mengajak Jil pergi. Emak mengeluarkan motornya. Memakai helm warna biru di kepalanya.
Bukan cuma itu, Emak juga pakai kaca mata hitam, sarung tangan. Padahal helm yang Emak pakai juga sudah pakai kaca yang diturunkan.
“Kita mau cari gemblong?” tanya Jil.
Emak diam. Jil duduk di belakang. Biasanya Emak keliling tidak jauh-jauh. Paling jauh ke warung gemblong, nyebrang sedikit dari jalan kampung.
“Emak mau ke mana?” tanya Jil.
Emak terus melajukan motornya. Selip kanan kiri. Belok ke gang, ke luar lagi.
“Emak mau ke mana?”
Emak terus melaju. Jil lihat Emak memencet lampu sen ke kiri tapi Emak malah belok kanan.
Lalu…
Prit….
Sebuah motor mendahului Emak. Emak kaget. Mendadak menginjak rem. Dan akhirnya Jil dan Emak sukses jatuh dari motor.
Polisi itu menggelengkan kepala. Lalu meminta Emak mengeluarkan surat-surat resmi. Emak menggeleng. Jil lihat Emak sudah hampir menangis.
**
Emak tidak mungkin jatuh lagi. Emak sepertinya sudah kapok. Babe akhirnya menjual motor Jadul yang biasa dipakai Emak.
Kepada Jil Emak bilang tidak apa-apa. Karena si Jono mantan pacar Emak ternyata sudah pindah ke kampung halamannya. Jadi Emak tidak butuh motor lagi. Emak ngebut kemarin karena Emak sakit hati, Jono si mantan pacar pindah rumah tidak bilang-bilang pada Emak.
“Emak naik sepeda aja, Jil. Lebih aman. Kepala Emak juga bebas dari pusing.”
Jil tertawa. Mengacungkan jempolnya pada Emak.
**