Intonasi Suara Ketika Mendongeng

logo-IISF-20151

Suwidak Loro. Buku itu ketika kecil saya baca. Pinjam dari teman, yang anaknya guru. Meski di rumah banyak buku, tapi kalau beberapa buku habis saya baca dan saya ulang-ulang, tentunya saya butuh buku yang lain. Maka biasanya saya pergi ke rumah teman-teman yang sering beli buku.
Cerita tentang apa Suwidak Loro?
Suwidak Loro bercerita tentang gadis buruk rupa yang hanya memiliki 62 rambut. Ada beberapa versi cerita itu.
Versi yang pertama, bercerita bahwa si ibu setiap hari berdoa agar si anak gadis yang buruk rupa itu menjadi cantik. Hingga suatu hari ada perlombaan mencari permaisuri. Dengan percaya diri, si Ibu mengikutkan anaknya pada lomba itu, dan mengatakan bahwa anaknya cantik seperti bidadari. Tapi agar kecantikan itu tidak diketahui umum, maka si Ibu ini, ingin anaknya itu dijemput pakai tandu kerajaan dan tandu itu tertutup tidak boleh ada yang melihat.
Sepanjang perjalanan Ibu itu terus berdoa, sehingga bidadari khayangan turun dan merubah wajah Suwidak Loro menjadi cantik.

Versi yang kedua.
Si Ibu selalu menyanyi setiap malam dengan keras, mengatakan bahwa anaknya cantik dan kelak menjadi permaisuri. Tetangga yang tahu si anak itu buruk rupa, mengadukan hal ini pada raja. Raja merasa bahwa seorang Ibu pastilah selalu bicara yang benar tentang anaknya. Maka diutuslah pengawal untuk membawa Suwidak Loro. Ibu membawakan bekal botok semangi untuk makanan di jalan. Wangi botok itu rupanya membuat seorang bidadari menangis menginginkannya. Karena itu ia akhirnya turun ke tandu, dan melakukan pertukaran. Pertukaran apa? Wajah cantik bidadari rela ditukar dengan wajar Suwidak Loro demi untuk sebungkus botok semangi.

Baik versi pertama dan kedua sama-sama mendatangkan motivasi untuk saya sebagai Ibu. Bahwa saya akan terus berharap positif dan berjuang positif untuk anak-anak saya.
Buku ini juga membuat saya punya cita-cita tinggi, dan yakin akan kekuatan doa dan harapan orangtua.

Intonasi Suara

Jadi, zaman dulu. Zaman saya SD, saya sering sekali diminta maju ke depan kelas. Dari mulai diminta baca puisi, nyanyi sampai membacakan dialog dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Kenapa saya diminta? Mungkin karena saya lebay. Lebay dalam artian positif.
Ketika anak-anak maju ke kelas untuk menyanyi dan yang dinyanyikan lagu itu itu saja. Saya malah nyanyi lagu Ade Irma Suryani atau Sudirman-nya Leo Kristi. Waktu baca puisi, puisi yang saya baca, puisi karangan saya. Dan ketika yang lain diminta untuk membaca dialog dalam pelajaran Bahasa Indonesia, maka semuanya dialognya rata saja. Saya? Tanpa ditunjuk, saya suka ke ge er an dan menunjuk diri sendiri. Karena saya suka membacanya. Membayangkan teman-teman yang mendengarkan saya membaca, sama seperti ketika saya, Bapak, Ibu dan saudara lain berkumpul di dekat radio untuk mendengarkan sandiwara radio.

Intonasi suara yang berbeda, akan membuat dongeng tampak hidup. Itu yang saya pelajari betul. Maka saya pahami hal itu.
Dan cobalah kembangkan imajinasi dan melibatkan yang mendengarkan dongeng, agar mereka merasa menjadi satu dan menjadi bagian dalam cerita yang sedang kita ceritakan.
Di tempat KKN dulu, saya kebagian tugas mengajar TPA. Mereka minta didongengkan Nabi dan yang lainnya. Dan mereka suka, ketika nama mereka disebut dalam cerita itu. Bahkan ketika mereka didongengkan cerita lain, mereka antusias dan mau diminta ikut bersuara menjadi tokoh dalam cerita.

Jadilah anak-anak, ketika sedang menulis cerita anak. Itu yang selalu saya katakan. Bersuara anak-anaklah ketika mendongeng tentang seorang anak, itu yang saya lakukan. Mengecilkan suara ketika saya menjadi anak kecil, cerewet ketika jadi Ibu, dan bersuara besar ketika menjadi raksasa. Sehingga anak-anak yang mendengarkan, bisa menciptakan bayangan dari suara-suara itu seperti ketika mereka menonton sebuah film.
Sungguh jika seperti itu yang kita lakukan, maka kebutuhan anak-anak akan sebuah buku, akan lebih meningkat ketimbang kebutuhan seorang anak dengan menonton film.
Banyak yang bisa terjadi karena imajinasi.
Saya tidak muluk-muluk.
Menjadikan anak-anak lebih kreatif, sadar diri, dan berdaya juang tinggi, bisa saya ajarkan lewat dongeng. Mereka tidak merasa digurui dan saya merasa nyaman juga menyampaikannya.
Jadi,
ayo mendongeng.