Ayo Berimajinasi

Suwidak Loro

Suatu hari Spongebob dan Patrick membeli televisi. Bukan, mereka bukan ingin melihat gambar di televisi itu. Televisi mereka buang dan……, kardusnya mereka pakai. Mereka berdua masuk ke dalamnya dan melakukan banyak kegiatan. Kadang terdengar suara seperti di dalam mobil. Kadang terdengar suara lain. Suara berisik itu membuat Squidwarld, ingin tahu. Lalu ia melakukan hal yang sama. Masuk ke dalam kardus itu, dan ia tidak melihat apa-apa. Berkali-kali ia melakukannya tidak melihat apa-apa selain kotak kosong. Ketika Patrick dan Spongebob masuk, mereka melakukan sesuatu yang heboh yang membuat Squidwarld semakin penasaran. Hingga akhirnya ia bertanya kenapa mereka bisa melakukan hal itu?
Jawaban Spongebob sederhana. “Gunakan imajinasi.”

Yeah…, jawaban imajinasi itu menyenangkan buat saya. Meski saya melihat Spongebob setelah usia tidak muda lagi, tapi mengingat perjalanan imajinasi itu sesuatu yang menyenangkan untuk saya. Saya dulu tipe anak yang suka bengong dan kena omelan karena dipanggil tidak menyahut. Karena apa? Karena saya memang sedang fokus melihat benda dan berimajinasi, dengan apa yang saya lihat.
Saya pernah jatuh ke dalam empang di siang hari di usia 5-6 tahun. Seorang kakek tua sampai harus berenang masuk ke dalam empang yang cukup dalam untuk menyelamatkan saya.

Darimana imajinasi didapatkan?
Ada orang yang memang mendapatkannya sebagai suatu berkah. Saya mungkin mendapatkan berkah itu, hingga bisa jadi penulis. Tapi rangsangan lain membuat saya mampu mengembangkan imajinasi itu. Bapak Ibu ketika saya kecil, rajin mendengarkan sandiwara radio. Televisi masih jarang dimiliki. Dan mendengar sandiwara radio itu, lalu Bapak dan Ibu berdiskusi soal isi cerita itu, membuat pikiran saya melanglang buana ke banyak hal.

Imajinasi berharga untuk saya. Dan saya paham tidak semua orang mudah mendapatkannya.
Imajinasi membuat saya kreatif melakukan hal-hal yang tidak ada dalam pikiran orang lain. Imajinasi itu tentu saja ingin saya tularkan pada anak-anak saya. Lalu apa yang saya lakukan?

Sejak anak-anak dalam kandungan, saya rajin membacakan buku, termasuk Al Quran. Setelah mereka lahir, saya juga rajin membacakan buku. Bahkan ketika usia anak seminggu, saya bukakan buku di hadapan mereka. Posisinya terserah seperti apa posisi mereka. Lalu saya bercerita dengan membaca keras-keras, intonasi juga saya buat sesuai tokoh yang ada dalam cerita yang saya ceritakan.
Terus-menerus melakukan hal itu?
Lalu apa yang terjadi? Jadi Superman?
Hi hi…, tentu saja tidak. Kebiasaan membaca dengan intonasi yang jelas, akhirnya membuat anak-anak saya bisa baca di usia kurang dari 4 tahun, tanpa paksaan harus mengeja huruf ini itu.
Caranya bagaimana?

Caranya adalah. Ketika saya membaca, hurufnya saya tunjuk. Misalnya ada bacaan, kuda. Saya ulang berkali-kali kata itu. Ku da. Ku da…, sambil tunjuk hurufnya. Hingga terekam di otak mereka. Kelebihannya juga, mereka bukan sekedar bisa membaca, tapi paham artinya. Karena banyak ibu-ibu mengeluh yang anaknya bisa baca, tapi tidak paham apa yang mereka baca.

Balik ke masalah imajinasi lagi.
Fokus ke imajinasi. Saya membacakan buku ke anak-anak setiap malam sebelum mereka tidur. Merubah-rubah intonasi suara. Dan ketika mereka memandang ke langit-langit kamar, seolah-olah sedang melihat sebuah film yang diputar karena mendengar bacaan saya, itu artinya buku yang saya bacakan berhasil membuat mereka berimajinasi.
Saya berhenti membacakan cerita (semenjak bayi lho ritual ini saya lakukan), setelah keduanya mulai mengambil buku yang saya baca dan memilih untuk menyelesaikan buku itu.

Lalu efek sebuah dongeng untuk anak-anak apa?
Suwidak Loro, buku dongeng yang saya baca ketika kecil dan akhirnya saya cari lagi agar anak-anak baca, adalah buku yang mengajarkan saya untuk percaya pada kekuatan berpikir positif.
Putri buruk rupa Suwidak Loro yang hanya punya rambut 62, dan ibunya perempuan tua selalu bilang kalau suatu saat anaknya akan menjadi istri raja, ternyata membuat pikiran positif itu menjadi kenyataan.

Next, akan saya bahas lebih panjang lagi, ya.