Pintu Bernama Kematian

DSCF3286

“Katakanlah, sekiranya kamu berada di rumahmu niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar juga ke tempat mereka terbunuh (QS Ali Imran ayat 154).

Dalam kitab karya Imam Al Qurthubi, diceritakan tentang Nabi Ibrahim yang kedatangan malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Merasa bahwa malaikat maut itu datang untuk memutus segala kenikmatan dunia, maka Nabi Ibrahim menyambutnya dengan kalimat,” Wahai Malaikat Maut, sampaikan pada Allah, adakah Kekasih (yang dimaksud di sini adalah Allah), yang tega menyakiti dengan membunuh kesayangan-NYA?”
Malaikat Maut yang ditolak oleh Nabi Ibrahim alaihisssalam pun kembali kepada Allah. Dan mengatakan penolakan Ibrahim.
Maka Allah berfirman. “Katakan pada Ibrahim, adakah kekasih yang enggan berjumpa dengan Yang Dicintainya?”
Malaikat Maut itu pun kembali menemui Nabi Ibrahim dan menyampaikan hal itu. Lalu Nabi Ibrahim tersenyum dan menjawab.
“Wahai, Malaikat Maut, cabut nyawaku sekarang juga!”

Ada kalanya manusia paham bahwa kematian itu akan datang padanya. Biasanya karena proses sakit yang sudah dilalui sebelumnya. Ada kalanya bahkan manusia merasa akan hidup panjang selamanya, karena tubuhnya segar bugar bahkan ia rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter. Tapi ternyata maut itu menjemputnya ketika ia sedang makan atau bahkan ketika ia sedang tidur.

Seorang teman lama suatu hari memohon maaf kepada semua teman-temannya termasuk saya, setelah ia ke luar dari rumah sakit. Jika dia tidak bertemu dengan orang yang ia tuju, ia menitipkannya pada saudara yang lain untuk menyampaikan perminataan maaf-nya. Selang beberapa hari kemudian, ia kembali masuk rumah sakit dan kemudian di panggi-NYA.
Sepasang suami istri tukang soto, malam harinya saya temui sedang duduk melamun. Mereka saya panggil berkali-kali dan baru pada panggilan lebih dari tiga kali, mereka menyahut. Esok paginya ketika subuh, motor yang mereka gunakan untuk belanja ke pasar ditabrak truk. Keduanya tewas meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil.

Suatu hari setahun yang lalu, saya dan kelurga berkumpul di ruang tamu. Idul Fitri yang kesekian kalinya kami berkumpul bersama Bapak dan Ibu. Lalu bicaralah Bapak tentang banyak hal, termasuk kematian. Umur Bapak pada saat itu 84 tahun. Dan Bapak menyatakan dengan sadar bahwa kemungkinan besar, lebaran tahun depan Bapak tidak bisa berkumpul dengan kami lagi.
Kalimat seperti itu membuat kami 8 anaknya dan cucunya menangis. Kematian itu kami yakini pasti adanya. Tapi kesadaran akan mati itu, Bapak ajarkan dengan tegar. Sehingga kematian layaknya hanya sebuah pintu yang bisa dibuka dan bisa tertutup kembali.
Hingga beberapa bulan kemudian, saya belajar banyak hal lagi tentang kematian. Tubuh Bapak tiba-tiba tidak sadar dan semua tulangnya kaku.
“Ada angin puyuh yang Bapak lihat,” begitu yang Bapak katakan pada saya. “Angin puyuh itu membuat pohon-pohon bertiup kencang. Tapi Ibu tidak tahu,” ujar Bapak pada saya setelah tubuhnya kembali normal.
Saya paham kematian semakin mendekat pada Bapak. Dalam surat Al Mursalat ayat 2 disebutkan bahwa : Dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya.
“Malaikat sudah mengambil sebagian nikmat Bapak,” ujar saya pada Bapak.
Bapak mengangguk.
“Bapak siap, kalau suatu saat dipanggil Allah?” tanya saya hati-hati. Sesungguhnya saya juga takut mengatakan hal itu pada Bapak.
Bapak mengangguk lagi. “Bapak harus siap.”

Persiapan Bapak menuju pintu kematian itu saya saksikan betul. Bagaimana ketika Bapak resah tidak bisa tidur, Bapak habiskan malam dengan tahajud dan berzikir. Bahkan satu persatu anaknya datang, yang Bapak bicarakan adalah ayat-ayat Al Quran dan kami yang wajib menjaga Ibu.
Saya diajarkan paham tentang proses menuju pintu kematian, melewati proses sakit hingga sebulan. Sehingga proses panjang itu, bisa membuat saya dan saudara yang lain bisa fokus mengantar Bapak untuk pelan tapi pasti menuju pintu itu.
Pada awalnya berat. Pada awalnya sempat protes pada Allah, kenapa memberi sakit yang lama pada orangtua yang ibadahnya selalu terjaga?
Tapi semakin lama saya justru semakin sadar. Ujian sakit orangtua adalah ujian untuk para anak. Sekuat apakah anak untuk menjalani bakti pada orangtua. Serela apakah anak mengeluarkan tenaga, waktu dan materi untuk membalas apa yang pernah orangtua lakukan dulu? Selega apakah para menantu mengikhlaskan istri atau suami mereka, mengurus orangtua dengan khidmat tanpa membebani dengan pikiran bernama anak dan rumah tangga untuk sementara waktu?

Proses berpindah dari ruang ICU stroke ke ruang ICU lain, lalu ke ruang lain di bawahnya (IMC) dan kamar, lalu kembali lagi ke ICU, membuat pelajaran lain untuk saya.
Bapak mengajarkan pada saya bahwa sebelum kematian seperti disebutkan dalam Al Quran, manusia akan diberi gambaran apa yang pernah mereka lakukan di dunia. Pada saat itu mata pasien biasanya mengambang. Pandangan antara ada dan tiada. Seperti seseorang yang sedang melamun.
Pada saat kematian semakin mendekat, malaikat maut juga akan terasa kehadirannya. Maka saya bisa menyaksikan Bapak mengerutkan keningnya lalu berdoa sambil menggenggam tangan saya kuat-kuat, ketika pasien yang tidak jauh darinya sedang kritis dan keluarganya sudah diminta masuk ke ruangan untuk menemani.
Pada saat yang lain, saya lihat Bapak tersenyum dan melambikan tangan. Ketika ada orang yang tidak jauh darinya juga dipanggil oleh-NYA. “Hati-hati,” begitu yang Bapak pesan dengan pandangan mata menerawang.

“Percaya saja pada Allah. Sebab Allah itu mutlak,” ujar Bapak setiap kali bicara pada semua anak-anaknya.
Tiga hari sebelum benar-benar dipanggilNYA, di ruang ICU dangan peralatan menempel di tubuhnya, saya menyaksikan sebuah peristiwa manis. Tangan Bapak digenggam Ibu. Lalu mata Bapak terbuka. “Ikhlaskan,” bermaksud meminta Ibu mengikhlaskan kepergian Bapak. Dan ketika Ibu mengangguk, Bapak tersenyum bahagia. Senyum itu yang Bapak bawa hingga akhir hidupnya.

Suatu hari di akhir masa hidupnya, Khalid bin Walid mengeluh. “Sejak aku berislam, selalu kuhabiskan hari-hari dalam peperangan. Yang selalu kurindukan adalah kesyahidan. Tapi kini aku tergolek tak berdaya di atas tempat tidur menanti kematian. Mengapa aku tidak mati di medan perang?”
“Sebab kau pedang Allah,” sahut Qais ibn Sa’d menghiburnya. “Maka Allah tidak akan membiarkanmu patah di tangan musuh-musuh-NYA. Dia sendiri yang akan menyarungkan pedang-NYA yang dulu telah dihunus-NYA.”

Setiap manusia yang bernyawa pasti mati.
Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan berada di samping orang yang sedang merasakan sakit, menuju sakaratul maut. Sebab pada saat itu, mata kita akan dibukakan dengan kenyataan. Bahwa segala yang tertulis dalam Al Quran tentang kematian dan segala tandanya adalah benar adanya. Kelak kita juga akan menjalaninya.
**