Kejutan Allah Bernama Award

pemenang IBW award 20120

Sepanjang karir sebagai penulis, saya tidak pernah menyangka kalau suatu saat akan mendapatkan hadiah berupa IBF AWARD. Bahkan ketika membaca berita tentang IBF AWARD pun yang ada di kepala adalah bahwa itu sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
Pesimiskah saya sebagai penulis?
Tentunya tidak.
Justru saya adalah penulis yang optimis. Untuk karya yang saya tulis yang saya kirim ke media saya selalu yakin bahwa tulisan saya akan dimuat.
Untuk tulisan yang saya kirim ke penerbit, saya juga yakin kalau itu akan di acc menjadi sebuah buku.
Untuk sebuah karya yang saya kirimkan dalam ajang lomba penulisan, saya bahkan mantap dengan target menjadi salah satu pemenang.
Tapi tidak untuk menjadi pemenang IBF. Mendapat award? Saya bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.Karena apa?
Karena saya bukan penulis yang aktif di organisasi kepenulisan. Saya penulis bebas tanpa ikatan organisasi. Saya merasa bisa bebas terbang tanpa ikatan.
Saya juga merasa belum bermanfaat total sebagai penulis. Saya cinta mati dengan dunia menulis yang sudah membuat saya menjadi sarjana. Mampu membiayai kuliah saya di dua tempat. Mampu membiayai kursus-kursus yang saya ikuti. Begitu cinta matinya dengan dunia menulis, maka saya berkeputusan untuk kerja di rumah dan menjadi ibu rumah tangga plus dengan menulis.

Lalu apa hebatnya saya ketimbang penulis lain?
Tidak. Saya tidak hebat.
Saya masih berkeinginan bermanfaat untuk orang banyak. Tapi saya baru bisa melakukannya dengan menulis. Dengan dua anak yang masih kecil, dan fokus saya untuk menjadikan rumah tangga saya rumah tangga yang berkualitas dengan meningkatkan kualitas saya, pasangan dan anak-anak, maka saya baru merasa manfaat saya hanya ada di situ. IBF AWARD hanya untuk penulis yang hebat dan banyak manfaat. Saya jauh dari kriteria itu.

Tapi rupanya Allah ingin memberi kejutan untuk saya.
Ini bukan lagi sebuah penghargaan. Ini adalah benar-benar sebuah kejutan. Kejutan yang buat saya luar biasa dan tidak terjadi begitu saja.

Ketika buku NAYLA MENCARI BUNDA sebelum berganti judul AKU SAYANG BUNDA saya kirim ke Indiva, buku itu pernah saya kirim ke sebuah penerbit lain. Mereka bilang akan menerbitkan tapi tidak tahu waktunya.
Untuk karya yang saya buat dengan hati jelas saya tidak bisa menunggu. Saya harus mengirimkan ke penerbit lain yang bisa menerbitkannya.
Buku ini saya buat dalam keadaan terpuruk setelah suami bangkrut dari usahanya. Saya mengetik dengan komputer yang layar monitornya menciut hingga separuhnya. Tidak berani menaruhnya ke tukang servis komputer karena prioritas utama kami adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu penerbit di Solo setelah hunting penerbit terasa klik di hati. Tidak pernah terpikirkan apakah itu penerbit besar atau kecil. Saya cuma ingin buku saya terbit. Buku anak karya saya yang pertama setelah saya memutuskan untuk hijrah menulis buku anak.
Ternyata buku itu laris manis dan cetak ulang. Design covernya cukup memikat dan eye catching. Dan berujung pada penghargaan IBF AWARD.

Dua minggu sebelumnya memang saya bermimpi mendapat hadiah. Begitu nyatanya mimpi itu sampai saya menuliskannya dalam buku harian. Tapi saya pikir itu hanya bunga tidur. Karena saya tidak sedang mengikuti sebuah lomba apapun.

Akhirnya…IBF AWARD 2012

Naik panggung dan mendapat hadiah dari lomba menulis? Sering. Tapi yang ini beda. Karena saya tidak merasa ikut berkompetisi di dalam sebuah lomba. Buku saya terpilih karena penerbit yang mengirimkannya untuk diseleksi.
Sebuah laptop warna biru penghargaan tambahan dari Pak Menteri membuat saya terharu. Bukan karena dari Pak Menterinya. Tapi karena laptopnya.
Sebagai penulis saya tidak memiliki laptop. Karena saya lebih suka memilih kertas untuk menulis ketika dalam perjalanan ketimbang laptop. Ada komputer di rumah dan saya pikir sudah cukup untuk saya pakai menulis.Tidak perlu lagi sebuah laptop.
Terbersit untuk membeli tapi saya singkirkan dengan alasan tidak ingin boros. Dan komputer itu yang layarnya hanya separuh. Yang ternyata pada tahun yang sama membuat saya bisa menghasilkan satu buku novel anak dan buku non fiksi panduan rumah tangga muslim. Dan keduanya cetak ulang.

Tapi Allah ternyata ingin memberikan kejutan pada saya. Sebuah laptop warna biru, warna kesukaan saya. Pak Mentri Pendidikan Mohammad Nuh merasa bahwa hadiah uang sebesar 7 juta untuk pemenang IBF masih kurang. Maka atas inisiatif beliau, semua pemenang mendapat hadiah tambahan uang sejumlah 2 juta lima ratus ribu rupiah. Plus laptop berwarna biru.
Laptop itu yang membuat saya di panggung dan suami di bawah panggung refleks saling berpandangan. Ini hadiah yang sama sekali tidak pernah kami duga.
Dan itu hadiah terindah dari Allah untuk ulang tahun saya (6 Maret), ulang tahun pernikahan (11 Maret) yang saya terima pada tanggal 9 Maret di hari ulang tahun si bungsu.

Allah punya rencana lain yang saya tidak tahu.
Tugas saya hanya terus menulis, terus mengurus rumah tangga, terus meningkatkan kualitas pasangan dan anak-anak dan terus menjadi manusia yang bersyukur.

Published by nurhaya3

Nurhayati Pujiastuti, owner Sanggar Mama Bilqis, Founder Penulis Tangguh, Kelas Merah Jambu dan Kelas Biru. Trainer Menulis.