Teman Sejati

Teman Sejati

Masha sudah menemukan teman sejatinya. Bagi yang biasa menyaksikan film kartun Masha and the Bear pasti paham, seperti apakah kebaikan hati seekor beruang, menghadapi anak kecil yang bisa dibilang nakal. Masha tinggal di pinggiran hutan dan ditinggal ibunya bekerja. Suatu hari, Masha masuk ke hutan lalu menemukan rumah beruang, dan berkenalan dengan seekor beruang sirkus yang besar.
Masha mendapatkan teman sejati yang baik hati. Seekor beruang sirkus yang tinggal sendiri di hutan, yang rela terganggu kehidupannya dengan ulah gadis kecil itu. Beruang yang baik itu menyediakan makan untuk Masha. Bahkan rela semua bahan makanannya habis, dijadikan bubur oleh Masha. Beruang juga menjadi guru baca tulis Masha, juga guru musik. Beruang punya kesabaran berlipat ganda.

Dengan kesabaran itu akhirnya Masha yang usil tumbuh empatinya. Ketika beruang letih menghadapi sikapnya dan pura-pura sakit, Masha menjadi dokter lalu mencarikan obatnya. Ketika beruang mendekati beruang lainnya, dan beruang betina itu tidak mau terganggu dengan anak kecil, hingga akhirnya berpaling pada beruang lainnya, Masha hanya bilang kalau beruang betina itu tidak cocok untuk beruang dan juga untuknya.
Masha and the Bear sebuah cerita sederhana. Mengajarkan kita banyak hal.
Kita punya ulah yang mungkin tidak senakal Masha, karena kita sudah dewasa. Tapi pernahkah terpikir, punyakah kita teman sebaik beruang? Yang mau menerima kita apa adanya, bahkan dalam keadaan kita yang paling buruk sekalipun?

Seorang yang rela melakukan banyak hal, sulit dicarinya. Sosok seperti beruang yang bisa marah tapi cepat memaafkan adalah sosok yang luar biasa.
Sosok itu menjadi langka, ketika kita sendiri hanya mau menjadi seorang Masha. Kita hanya maunya menerima, tanpa pernah berpikiran untuk memberi.

Marah yang Benar

Bear beruang juga bisa marah ketika Masha terlalu nakal. Tapi ia tahu batasannya kapan marah itu harus diluapkan.
Ia meminta Masha untuk membersihkan rumahnya, ketika bubur buatan Masha mengotori seluruh rumah. Tapi ujung dari marah itu adalah, Bear tetap mau menyediakan makan untuk Masha.
Bear berhati jernih. Tidak membiarkan ada rasa yang bisa mengotori perasannya.

Saya masih memiliki seorang teman yang sejak dua puluh tahun lalu masih suka marah. Marah itu membuat orang lain takut. Marah itu juga membuat orang sakit hati. Dan sayangnya meski diprotes oleh banyak teman, ia tetap juga tidak sadar. Hingga akhirnya satu persatu teman lebih memilih untuk meninggalkannya.
Marah adalah salah satu bentuk emosi. Seperti halnya api. Ketika dipelihara ia bisa semakin membesar dan membakar. Bahkan kenangan termanis pun bisa hilang, karena emosi bernama amarah itu.

Biasanya marah yang seperti ini hadir, karena tidak pernah mendapat siraman kasih sayang. Rasa cemburu pada kehidupan orang lain begitu besar, sehingg salah satu cara yang menurutnya efektif adalah dengan meluapkannya pada orang lain.
Marah seperti ini juga bisa hadir, karena ia mendapatkan teman sejati yang salah. Yang tidak bisa meluruskan tapi tetap membiarkannya bengkok.

Lihatlah si Ratu pada kisah Putih Salju. Teman sejatinya hanyalah sebuah cermin yang selalu bicara kalau ia tidak cantik. Kalah cantik dengan anak tirinya. Dan Ratu yang pencemburu, karena pernah menjadi orang paling cantik sesuai versi cermin, melakukan banyak cara, agar anak tirinya itu tidak ada lagi di dunia.
Marah model Ratu ini marah yang menjatuhkan. Teman yang dimiliki Ratu ini, bukan teman yang baik tentu saja. Apalagi teman sejati.

Sulit memang menemukan sejati. Tapi mengukurnya mudah. Dalam keadaan kita terpuruk, akan semakin mudah menemukan. Orang-orang yang ada selalu di dekat kita, untuk terus memberi semangat itulah teman sejati kita.
Jika hingga saat ini masih belum bisa menemukannya, cobalah jangan lagi mencari. Tapi jadikan diri kita sendiri teman sejati. Selalu setia berada di samping seorang teman ketika ia jatuh, bukan pada saat ia bangkit dan berjaya.
Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadi teman sejati.