Gambar Menjelang Kematian

IMG-20150514-WA0005 - Copy

Ada ujian yang kami semua sudah persiapkan jauh-jauh hari, ketika kami sudah berkeluarga semua dan sudah memberikan cucu semua. Bapak dan Ibu juga semakin menua.
Ujian yang dipersiapkan itu bernama kematian.
Bapak sudah mempersiapkan pada lebaran sebelumnya. Ketika semua berkumpul. Lalu Bapak bicara tentang kemungkinan lebaran berikutnya, beliau bisa jadi tidak ada lagi di tengah kami.
Dan ucapan itu diulang berkali-kali. Bahkan sudah beliau persiapkan semuanya. Saya diberi banyak pesan dan banyak doa, karena seusai lebaran saya masih ke Solo beberapa kali.
Bapak berpesan pada kami semua, agar menjaga ibu dengan baik. Sama seperti dulu, kami tidak boleh berkata ‘ah’ pada Ibu.

Ketika mendengar kabar Bapak tiba-tiba menjadi buta, saya langsung ke Solo, bergantian dengan adik saya.
Bapak sudah mulai pulih penglihatannya.
“Tiba-tiba, Bapak melihat ada angin berputar kencang. Setelah itu pandangan mata Bapak kabur,” ujar Bapak pada saya
Saya ingat ayat yang saya baca. Dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya (QS Al Mursalat ayat 2).
“Bapak ikhlas, kan, semua kenikmatan Bapak diambil?” tanya saya pelan.
“Bapak ikhlas. Bapak juga tahu, Bapak tidak hidup selamanya.” Lalu pada saya, Bapak berpesan banyak hal. Bapak ingin juga melihat kedelapan anaknya berkumpul. Karena kami memang tidak pernah berkumpul 8 orang sejak bertahun-tahun yang lalu. Bapak ingin melihat kami 8 orang berkumpul bersama. Karena biasanya kami datang satu satu bergantian setiap bulan, untuk mengunjungi.
Dalam keadaan tidur yang tidak lagi tenang, Bapak masih terbangun. Kalau biasanya dengan kursi roda biasa ke kamar mandi sendiri. Sekarang minta didorong Ibu. Dan itu ke kamar mandi hanya untuk berwudhu. Saya masih menyaksikan shalat tahajjudnya yang panjang.

Saya pulang. Sebulan kemudian dapat kabar lagi.
“Bapak koma,” suatu hari pesan itu saya terima.
Langsung rontok rasanya persedian saya. Saya memang sadar bahwa kematian itu akan datang. Tapi kematian yang menimpa Bapak? Saya takut sekali untuk mengalaminya.
Pesawat yang saya tumpangi delay beberapa jam. Padahal jantung rasanya mau copot karena tidak sabar ingin melihat Bapak.
Bapak koma, semua anak berkumpul. 8 anak. Seusai kesepatakan semua anak, kami memberikan yang terbaik untuk Bapak, seperti yang dulu Bapak berikan pada kami. Jadi kami pilih rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan itu tidak bisa dicover dengan BPJS juga Jamsostek.

Bapak koma dan ternyata di ambang kematian. Di ruang ICU kami bergantian masuk.
Dokter bilang, garis hidup Bapak dan kematian tinggal satu garis lagi. Petugas datang untuk berdoa. Kami semua juga sudah ikhlas.
Saya masuk ke ruang ICU dengan membawa hafalan yang sedang saya hafal. Surah Ar Rahman. Di ayat 26 (Semua yang ada di bumi akan binasa), tiba-tiba mata Bapak terbuka. Bapak sadar dari komanya. Dan karena kondisi tubuh Bapak sudah meninggkat, maka dokter memutuskan untuk melakukan operasi.
Operasi di kepala. Awalnya semua ragu. Operasi di kepala untuk Bapak yang usianya sudah 85 tahun. Bersyukur Bapak dirawat di rumah sakit islam. Dokter berkata kepada kami. “Ini saatnya menunjukkan bukti sebagai anak berbakti.”
Operasi yang dilakukan beberapa dokter spesialis berhasil. Dokter justru bertanya pada kami semua. Di kepala Bapak ada darah menggumpal yang menggeser otaknya. Gumpalan darah itu gumpalan menahun dan harusnya sudah tahunan yang lalu Bapak stroke atau pikun.
Masya Allah, itu gumpalan yang terjadi ketika Bapak remaja dan kepalanya terkena pecahan granat pada zaman perang. Dan Allah tunjukkan keajaiban pada kami. Hafalan Al Quran’an Bapak dan tahajjud rutin Bapak sejak kami kecil sampai sebelum koma, menjadi penolongnya.

Bapak sadar. Bapak kembali memberi pesan pada saya dan anak-anak yang lain. Untuk jangan pernah meninggalkan tahajjud. Untuk hanya percaya pada Allah saja. Jangan terlalu memikirkan dunia.
Tapi kami sadar, kami tetap harus menyiapkan kematian untuk Bapak. Karena semua organ tubuh Bapak sudah menurun. Alat sudah menempel di tubuh Bapak. Meski otak Bapak masih kuat ingatannya. Kami siapkan banyak ilmu. Termasuk ilmu tentang tanda-tanda kematian.

Setiap anak yang masuk pada jam besuk, setiap itu pula yang kami lakukan adalah membaca Al Qur’an. Karena pendengaran Bapak memang sudah tidak baik sejak lama. Dan terbiasa pakai alat bantu dengar. Maka alat itu kami pasang di telinga Bapak, dan kami bergantian mengaji. Setiap anak yang masuk, fokus untuk membaca Al Qur’an.
Bapak masih minta shalat. Jadi kami tayamumkan. Bapak juga paham tentang kematian. Karena di ICU, pelajaran kematian terjadi setiap hari. Sehingga kami fokus membimbing Bapak, untuk berjalan tenang menuju pintu bernama kematian. Dan itu menjadi lebih mudah.
Saya belajar banyak bahwa akhirat itu ada, sakaratul maut itu nyata.
Sebab beberapa kali, menyaksikan sendiri. Beberapa orang dipanggilNYA pas jam bezuk. Dan qadarallah saya ada. Jadi bisa melihat dengan jelas semuanya, bahkan perubahan angka-angka di layar monitor.

Ada banyak hal yang belum sempat saya tanya pada orang-orang tertentu yang menghadapi akhir hidupnya, yang justru bisa saya dapat jawabannya dari Bapak.
Seperti pandangan mata yang menerawang. Pandangan antara ada dan tiada.
Pandangan seperti itu pernah saya dapatkan di tukang soto, sepasang suami istri.
Ketika pada sore hari, saya tiba-tiba ingin sekali membeli sotonya. Lalu mendapati mereka duduk berdua dengan pandangan mata menerawang, hingga beberapa kali dipanggil baru mereka mendengar.
Esok paginya, keduanya meninggal setelah motornya ditabrak kendaraan lain, pada saat mereka menuju pasar.
Pandangan seperti itu, juga saya dapati pada mbah putri, dua minggu sebelum meninggal.

Pelajaran tentang kematian membaut saya berani bertanya pada Bapak. Ketika pandangan Bapak menerawang ke atas.
Maka saya bertanya pada Bapak. “Bapak lihat apa?”
“Bapak lihat gambar,” jawab Bapak.
“Gambarnya bagus?”
Bapak hanya tersenyum.
Iya orang yang akan meninggal akan melihat gambar apa yang pernah ia lakukan dulu. Semua Allah bentangkan.
Saya juga belajar bahwa sakaratul maut itu memang sakit.

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas (Riwayat Aisyah).

Selama sebulan saya pelajari betul sakaratul maut. Iya, sebulan saya tidur di balkon rumah sakit, depan pintu ruang ICU. Tidak ingin pulang, karena saya merasa ini saatnya saya membayar apa yang sudah Bapak lakukan pada saya. Dulu saya jadi anak yang paling sering sakit. Dan dulu setiap kali mata saya terbuka, selalu ada Bapak duduk di samping tempat tidur, untuk berzikir. Bahkan setelah lelah pulang bekerja, Bapak melakukan hal itu. Terus-menerus sampai saya sembuh.
Seorang kakak cuti juga sebulan dari kantor. Adik juga sama. Kami menunggu bersama di rumah sakit.

Setelah dioperasi kepalanya, Bapak sadar. Bicara, ngobrol. Membicarakan pesan ke semua anaknya. Sambil sekekali bertanya, berapa biaya rumah sakit ini? Padahal kami bertekad untuk patungan untuk itu.
Bapak koma lagi, sadar lagi, koma lagi, sadar lagi.
Dan saya paham, kematian menjadi begitu dekat. Meski saya juga seperti copot jantungnya setiap kali pintu ruangan ICU terbuka di saat bukan jam besuk. Karena biasanya di saat itu, ada pasien yang drop dan sedang menuju kematian.

Saya belajar banyak tentang kematian. Bapak pernah memegang saya kuat-kuat lalu mulutnya kencang berdoa, ketika sebelahnya kritis. Saya sampai berpikir, apa yang Bapak lihat dengan orang itu. Keras, kah, malaikat maut mencabut nyawanya seperti tertulis dalam QS An Nazi’at ayat pertama? Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras.
Bapak pernah hanya menoleh saja, ketika yang lain di sebelahnya juga kritis.
Tapi Bapak pernah mengangguk dan tersenyum lalu bilang,” hati-hati..,” ketika ada orang lain di depannya juga kritis dan akhirnya tidak ada. Orang ini keluarganya juga rajin membacakan Al Qur’an dan dikenal sebagai orang baik. Saya bertanya kepada yang hadir.
Saya pernah tinggal sendiri bersama Bapak pada saat jam besuk. Yang lain belum datang. Tim kakak dan adik yang harusnya datang pada saat week end, karena mereka bekerja, ternyata ada tugas ke daerah lain.
Pada saat itu, sebelah Bapak terbatuk. Keras batuknya. Setelah itu perawat memanggil keluarga mereka berkumpul. Proses kematian sedang berjalan. Dan saya berada pada situasi di mana harus berpikir, bahwa kelak saya pun akan mengalami hal yang sama.

Sakaratul maut itu ada.
Sebulan menunggu di rumah sakit membuat setan menggoda. Mengajarkan saya mengeluh. Maka pada saat itu saya mengeluh pada Allah. Bertanya kepada Allah. Kenapa Allah jahat pada Bapak? Kenapa begitu lama?
Sampai akhirnya datang satu titik kesadaran kepada saya.
Bapak dengan 8 anak. Bekerja keras agar semua anaknya bisa sekolah. Ketika kebanyakan tetangganya memiliki kendaraan pribadi, Bapak naik sepeda. Ketika yang lain sudah punya rumah pribadi, Bapak tetap tinggal di rumah dinas, karena tidak punya uang untuk membeli rumah pribadi. Semua uang habis agar anak bisa membeli buku dan sekolah sampai selesai.
Kami anak-anaknya sudah punya penghasilan dan punya kehidupan lebih baik. Baru sebentar saja diuji dengan kesulitan mendampingi orangtua yang sakit, kenapa harus mengeluh?
Setelah disadarkan dengan hal itu, saya pun kembali fokus.
Mendampingi Bapak menuju pintu kematian.

Saya membacakan ayat-ayat yang Bapak ajarkan. Ketika saya sakit dulu, atau kena masalah, Bapak berikan QS Al Baqarah ayat terakhir. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Saya usap-usap tangannya dan hibur dengan QS Al Fajr mulai ayat 27 sampai ayat 30. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridah dan diridhaiNYA. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKU. Dan masuklah ke dalam surgaku.
“Allah sayang Bapak dengan sakit ini,” ujar saya.
Maka Bapak mengangguk.

Semua sudah siap. Kematian itu sudah dekat.
Bersyukur setiap kali sadar, yang Bapak tanyakan adalah,” aku sudah shalat apa belum? Aku mau shalat.”
Pada satu kesempatan ketika Ibu berdua dengan Bapak, Ibu ke luar sambil bicara pada saya. “Bapak tadi bisa ngomong. Pegang tangan Ibu dan bilang. Ikhlas, ya.”
Saya tersadar.
Pintu kematian semakin dekat. Dan bacaan Al Qur’an terus-menerus kami lantunkan. Entah berapa juz sudah kami baca setiap harinya. Entah sudah berapa kali kami khatam membacanya. Karena pada saat itu, memang hanya shalat dan membaca Al Qur’an yang bisa kami lakukan. Dokter-dokter di rumah sakit ahli di bidangnya. Tugas kami hanya yakin Allah memberi yang terbaik.

Satu hari sebelum Bapak meninggal, saya tidur berdua di rumah sakit bersama Ibu. Kakak yang di Palu selesai cutinya selama sebulan. Adik-adik belum datang karena dinas. Kakak ditinggal pesawat karena sedang khusyuk shalat dan harus cari tiket pesawat lain.
Angin bertiup kencang pada saat itu dan saya kedinginan. Ada yang terasa sakit di bagian jantung, seperti sebuah tarikan keras.
Pada saat itu kakak ipar datang. Dan saya memutuskan untuk pulang. Saya masuk ke kamar Bapak, dan berbisik. “Tidur yang tenang, Bapak. Terima kasih sudah jadi Bapak yang sempurna untuk saya.”
Saya pulang.
Dengan hati lapang karena melihat wajah Bapak yang bersih dan tertidur tenang. Monitor berisi angka-angka petunjuk terus menurun angkanya.
Saya harus kembali pada suami dan anak-anak, yang sudah ikhlas membiarkan saya berbakti pada orangtua selama sebulan penuh.
Saudara yang lain sudah berkumpul di rumah sakit.
Di rumah pada malam hari ketika tertidur saya bangun dengan kaget. Mencari-cari Bapak karena saya melihat tempat tidur Bapak kosong. Setelah itu ada telepon masuk, mengabarkan. Bapak sudah benar-benar tidak ada.

Sebulan dan melihat proses banyak orang sakaratul maut, membuat saya paham banyak hal. Tidak mudah untuk menghakimi akhir hidup seseorang. Karena ilmu kita tentang orang lain hanyalah seujung kotoran kuku. Kalau pun luas ilmu kita tentang orang itu, bukan juga jadi alasan untuk menghakiminya.