Gambar Menjelang Kematian

IMG-20150514-WA0005 - Copy

Ada ujian yang kami semua sudah persiapkan jauh-jauh hari.
Ujian itu bernama kematian.
Bapak sudah mempersiapkan pada lebaran sebelumnya. Ketika semua berkumpul. Lalu Bapak bicara tentang kemungkinan lebaran berikutnya, beliau bisa jadi tidak ada lagi di tengah kami.
Dan ucapan itu diulang berkali-kali. Bahkan sudah beliau persiapkan semuanya. Saya diberi banyak pesan dan banyak doa, karena seusai lebaran saya masih ke Solo beberapa kali.

Maka ketika Bapak di rumah sakit, anak-anak sudah mempersiapkan semuanya.
Termasuk ilmu tentang tanda-tanda kematian.
Sehingga kami fokus membimbing Bapak, untuk berjalan tenang menuju pintu bernama kematian.
Saya belajar banyak bahwa akhirat itu ada, sakaratul maut itu nyata.
Sebab beberapa kali, menyaksikan sendiri. Beberapa orang dipanggilNYA pas jam bezuk. Dan saya kebetulan ada. Jadi bisa melihat dengan jelas semuanya, bahkan perubahan angka-angka di layar monitor.

Ada banyak hal yang belum sempat saya tanya pada orang-orang tertentu yang menghadapi akhir hidupnya, yang justru bisa saya dapat jawabannya dari Bapak.
Seperti pandangan mata yang menerawang.
Pandangan antara ada dan tiada.
Pandangan seperti itu pernah saya dapatkan di tukang soto, sepasang suami istri.
Ketika pada sore hari, saya tiba-tiba ingin sekali membeli sotonya. Lalu mendapati mereka duduk berdua dengan pandangan mata menerawang, hingga beberapa kali dipanggil baru mereka mendengar.
Esok paginya, keduanya meninggal setelah motornya ditabrak kendaraan lain, pada saat mereka menuju pasar.
Pandangan seperti itu, juga saya dapati pada mbah putri, dua minggu sebelum meninggal.

Maka saya bertanya pada Bapak. “Bapak lihat apa?”
“Bapak lihat gambar.”
“Gambarnya bagus?”
Bapak hanya tersenyum.
Gambar apa yang akan disuguhkan kepada kita, di akhir hidup kita?
Gambar waktu kita yang terbuang sia-sia?
Gambaran kita menyakiti perasaan orang lain, yang mudah kita lakukan dengan jempol kita?
Atau gambar lainnya yang membuat kita tersenyum, atau bahkan ketakutan di akhir hidup kita?

Bapak pernah memegang saya kuat-kuat lalu mulutnya kencang berdoa, ketika sebelahnya kritis.
Bapak pernah hanya menoleh saja, ketika yang lain di sebelahnya juga kritis.
Tapi Bapak pernah mengangguk dan tersenyum lalu bilang,” hati-hati..,” ketika ada orang lain di depannya juga kritis dan akhirnya tidak ada.
Gambar itu nyata.
Saya diajak paham tentang hal itu.
Dan itu pelajaran mahal, yang tidak semua orang bisa mengambil hikmahnya.
Kita tidak pernah tahu akhir hidup kita.
Menjadi baik adalah benar-benar pilihan yang harus kita ambil.

Ada pelajaran lain juga yang saya dapatkan.
Tentang bakti, kesetiaan, sampai akhir memisahkan.
Setelah suara tidak ke luar lagi, pada suatu sore Bapak bisa mengeluarkan suara.
Memandang Ibu sambil berkata,” Ikhlas (ikhlaskan).
Ibu mengangguk lalu menjawab. “Bapak juga harus ikhlas.”
Dan Bapak menganggukkan kepala.
Ikhlas itu juga yang membuat Ibu tegar dan tidak menangis.
Ikhlas itu yang membuat Ibu bicara tenang. Bahwa Ibu akan membelikan kain kafan untuk Bapak. Beberapa hari sebelum Bapak tidak ada.
Ikhlas itu yang juga sedang saya pelajari.

Masih sering terbayang pandangan mata Bapak yang dalam untuk terakhir kalinya. Ketika saya bisikkan ayat favoritnya. Lalu saya katakan,”Bapak harus kuat, Allah sayang Bapak.” Dan Bapak mengangguk.