Efektif Menggunakan Media Sosial

IMG-20160617-WA0052

Social media atau media sosial bukan barang baru lagi. Hampir setiap orang dewasa memiliki akun di sosial media. Dan banyak dari mereka yang bukan hanya memiliki akun di satu sosial media, tapi mereka juga memiliki akun di setiap sosial media, baik yang sudah lama hadir maupun yang baru saja diluncurkan.
Keberadaan sosial media membuat perusahaan smart phone berlomba-lomba untuk membuat fitur komplit untuk menarik minat pembelinya.
Sayangnya masih banyak pengguna sosial media yang menggunakan sosial media untuk hal-hal yang sifatnya negatif. Masih banyak dari mereka hanya memindahkan kegundahan hatinya untuk ditulis di sosial media. Atau mengunggah sesuatu yang tidak penting dan tidak ada manfaatnya.
Tentunya sayang bila menggunakan sosial media hanya untuk hal sepele seperti itu. Padahal banyak hal lain yang bisa dilakukan dengan sosial media. Diantaranya adalah :

1. Menemukan Komunitas
Jika di dunia nyata kita sulit menemukan orang yang memiliki kesamaan hobi dengan kita, di sosial media cukup mudah. Tinggal menggerakkan tangan dan tulis kata komunitas. Maka di situ tersedia banyak sekali komunitas yang bisa kita pilih. Apakah komunitas berkebun, atau komunitas merajut, atau komunitas lainnya seperti berbisnis atau memancing.
Kita tinggal meminta persetujuan untuk masuk ke dalam group itu. Setelah masuk, kita bisa bertemu dengan orang lain yang memiliki hobi yang sama dengan kita. Hasil sharing dengan teman di satu komunitas akan menambah ilmu kita.

2. Menemukan Bisnis Baru
Sesuatu yang awalnya tidak kita sukai, pada akhirnya bisa jadi kita sukai, karena kita sering melihat foto-foto yang mengundang keinginan kita untuk belajar. Yang tidak berani berdagang, bisa jadi mulai berani berdagang karena dampak interaksi dengan sosial media tersebut.
Niatkan untuk fokus belajar di sosial media. Maka dengan begitu, kita akan fokus pada status-status yang berisi info ilmu untuk kita. Misal ilmu tentang resep masakan atau ilmu berdagang. Dan ilmu itu kita niatkan juga untuk kita pakai di dunia nyata, untuk menambah penghasilan.

3. Menemukan Teman Lama
Teman lama yang kita temukan di sosial media bukan hanya digunakan untuk ajang curhat atau mengenang masa lalu, yang sudah sepuluh atau dua puluh terlewat. Tapi gunakan untuk menimba ilmu. Jika teman kita adalah seseorang yang pakar di bidangnya, kita bisa mulai dari situ. Dengan kedekatan di masa lalu, pasti akan lebih mudah teman kita itu memberikan informasi dan berbagi ilmu dengan kita.

4. Menambah Penghasilan
Ini yang sering tidak disadari oleh pengguna sosial media. Sosial media bisa digunakan untuk menambah penghasilan. Teman yang banyak di sosial media, bisa digunakan untuk menyebarkan pengaruh dan promosi apa yang kita jual.
Syaratnya tentu saja kita harus serius lebih sering upload produk andalan kita. Dan syarat yang lain kita fokus mengerjakannya.

5. Mendapat Barang Gratis
Sekarang banyak produsen yang lebih memilih memasarkan produk di sosial media terutama twitter. Mereka selalu mengadakan ajang lomba, baik itu berhadiah uang atau berhadiah barang.
Kita hanya perlu mengikuti kuis yang mereka adakan dengan mengikuti syarat yang mereka buat.Biasanya mereka menyediakan hadiah barang atau voucher untuk beberapa orang pemenang.

6. Mengukuhkan Nama
Untuk yang baru mulai merintis usaha dan ingin orang lain kenal dengan produknya, maka sosial media adalah cara yang tepat untuk itu. Seorang penjual yang susah berjualan di dunia nyata, bisa menemukan banyak pembeli di dunia maya.
Semakin kita fokus dengan status barang apa yang kita jual, semakin banyak orang yang akan meliriknya dan mengenal nama kita.

Mari belajar bijak menggunakan sosial media.

Pintu Bernama Kematian

DSCF3286

“Katakanlah, sekiranya kamu berada di rumahmu niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar juga ke tempat mereka terbunuh (QS Ali Imran ayat 154).

Dalam kitab karya Imam Al Qurthubi, diceritakan tentang Nabi Ibrahim yang kedatangan malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Merasa bahwa malaikat maut itu datang untuk memutus segala kenikmatan dunia, maka Nabi Ibrahim menyambutnya dengan kalimat,” Wahai Malaikat Maut, sampaikan pada Allah, adakah Kekasih (yang dimaksud di sini adalah Allah), yang tega menyakiti dengan membunuh kesayangan-NYA?”
Malaikat Maut yang ditolak oleh Nabi Ibrahim alaihisssalam pun kembali kepada Allah. Dan mengatakan penolakan Ibrahim.
Maka Allah berfirman. “Katakan pada Ibrahim, adakah kekasih yang enggan berjumpa dengan Yang Dicintainya?”
Malaikat Maut itu pun kembali menemui Nabi Ibrahim dan menyampaikan hal itu. Lalu Nabi Ibrahim tersenyum dan menjawab.
“Wahai, Malaikat Maut, cabut nyawaku sekarang juga!”

Ada kalanya manusia paham bahwa kematian itu akan datang padanya. Biasanya karena proses sakit yang sudah dilalui sebelumnya. Ada kalanya bahkan manusia merasa akan hidup panjang selamanya, karena tubuhnya segar bugar bahkan ia rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter. Tapi ternyata maut itu menjemputnya ketika ia sedang makan atau bahkan ketika ia sedang tidur.

Seorang teman lama suatu hari memohon maaf kepada semua teman-temannya termasuk saya, setelah ia ke luar dari rumah sakit. Jika dia tidak bertemu dengan orang yang ia tuju, ia menitipkannya pada saudara yang lain untuk menyampaikan perminataan maaf-nya. Selang beberapa hari kemudian, ia kembali masuk rumah sakit dan kemudian di panggi-NYA.
Sepasang suami istri tukang soto, malam harinya saya temui sedang duduk melamun. Mereka saya panggil berkali-kali dan baru pada panggilan lebih dari tiga kali, mereka menyahut. Esok paginya ketika subuh, motor yang mereka gunakan untuk belanja ke pasar ditabrak truk. Keduanya tewas meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil.

Suatu hari setahun yang lalu, saya dan kelurga berkumpul di ruang tamu. Idul Fitri yang kesekian kalinya kami berkumpul bersama Bapak dan Ibu. Lalu bicaralah Bapak tentang banyak hal, termasuk kematian. Umur Bapak pada saat itu 84 tahun. Dan Bapak menyatakan dengan sadar bahwa kemungkinan besar, lebaran tahun depan Bapak tidak bisa berkumpul dengan kami lagi.
Kalimat seperti itu membuat kami 8 anaknya dan cucunya menangis. Kematian itu kami yakini pasti adanya. Tapi kesadaran akan mati itu, Bapak ajarkan dengan tegar. Sehingga kematian layaknya hanya sebuah pintu yang bisa dibuka dan bisa tertutup kembali.
Hingga beberapa bulan kemudian, saya belajar banyak hal lagi tentang kematian. Tubuh Bapak tiba-tiba tidak sadar dan semua tulangnya kaku.
“Ada angin puyuh yang Bapak lihat,” begitu yang Bapak katakan pada saya. “Angin puyuh itu membuat pohon-pohon bertiup kencang. Tapi Ibu tidak tahu,” ujar Bapak pada saya setelah tubuhnya kembali normal.
Saya paham kematian semakin mendekat pada Bapak. Dalam surat Al Mursalat ayat 2 disebutkan bahwa : Dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya.
“Malaikat sudah mengambil sebagian nikmat Bapak,” ujar saya pada Bapak.
Bapak mengangguk.
“Bapak siap, kalau suatu saat dipanggil Allah?” tanya saya hati-hati. Sesungguhnya saya juga takut mengatakan hal itu pada Bapak.
Bapak mengangguk lagi. “Bapak harus siap.”

Persiapan Bapak menuju pintu kematian itu saya saksikan betul. Bagaimana ketika Bapak resah tidak bisa tidur, Bapak habiskan malam dengan tahajud dan berzikir. Bahkan satu persatu anaknya datang, yang Bapak bicarakan adalah ayat-ayat Al Quran dan kami yang wajib menjaga Ibu.
Saya diajarkan paham tentang proses menuju pintu kematian, melewati proses sakit hingga sebulan. Sehingga proses panjang itu, bisa membuat saya dan saudara yang lain bisa fokus mengantar Bapak untuk pelan tapi pasti menuju pintu itu.
Pada awalnya berat. Pada awalnya sempat protes pada Allah, kenapa memberi sakit yang lama pada orangtua yang ibadahnya selalu terjaga?
Tapi semakin lama saya justru semakin sadar. Ujian sakit orangtua adalah ujian untuk para anak. Sekuat apakah anak untuk menjalani bakti pada orangtua. Serela apakah anak mengeluarkan tenaga, waktu dan materi untuk membalas apa yang pernah orangtua lakukan dulu? Selega apakah para menantu mengikhlaskan istri atau suami mereka, mengurus orangtua dengan khidmat tanpa membebani dengan pikiran bernama anak dan rumah tangga untuk sementara waktu?

Proses berpindah dari ruang ICU stroke ke ruang ICU lain, lalu ke ruang lain di bawahnya (IMC) dan kamar, lalu kembali lagi ke ICU, membuat pelajaran lain untuk saya.
Bapak mengajarkan pada saya bahwa sebelum kematian seperti disebutkan dalam Al Quran, manusia akan diberi gambaran apa yang pernah mereka lakukan di dunia. Pada saat itu mata pasien biasanya mengambang. Pandangan antara ada dan tiada. Seperti seseorang yang sedang melamun.
Pada saat kematian semakin mendekat, malaikat maut juga akan terasa kehadirannya. Maka saya bisa menyaksikan Bapak mengerutkan keningnya lalu berdoa sambil menggenggam tangan saya kuat-kuat, ketika pasien yang tidak jauh darinya sedang kritis dan keluarganya sudah diminta masuk ke ruangan untuk menemani.
Pada saat yang lain, saya lihat Bapak tersenyum dan melambikan tangan. Ketika ada orang yang tidak jauh darinya juga dipanggil oleh-NYA. “Hati-hati,” begitu yang Bapak pesan dengan pandangan mata menerawang.

“Percaya saja pada Allah. Sebab Allah itu mutlak,” ujar Bapak setiap kali bicara pada semua anak-anaknya.
Tiga hari sebelum benar-benar dipanggilNYA, di ruang ICU dangan peralatan menempel di tubuhnya, saya menyaksikan sebuah peristiwa manis. Tangan Bapak digenggam Ibu. Lalu mata Bapak terbuka. “Ikhlaskan,” bermaksud meminta Ibu mengikhlaskan kepergian Bapak. Dan ketika Ibu mengangguk, Bapak tersenyum bahagia. Senyum itu yang Bapak bawa hingga akhir hidupnya.

Suatu hari di akhir masa hidupnya, Khalid bin Walid mengeluh. “Sejak aku berislam, selalu kuhabiskan hari-hari dalam peperangan. Yang selalu kurindukan adalah kesyahidan. Tapi kini aku tergolek tak berdaya di atas tempat tidur menanti kematian. Mengapa aku tidak mati di medan perang?”
“Sebab kau pedang Allah,” sahut Qais ibn Sa’d menghiburnya. “Maka Allah tidak akan membiarkanmu patah di tangan musuh-musuh-NYA. Dia sendiri yang akan menyarungkan pedang-NYA yang dulu telah dihunus-NYA.”

Setiap manusia yang bernyawa pasti mati.
Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan berada di samping orang yang sedang merasakan sakit, menuju sakaratul maut. Sebab pada saat itu, mata kita akan dibukakan dengan kenyataan. Bahwa segala yang tertulis dalam Al Quran tentang kematian dan segala tandanya adalah benar adanya. Kelak kita juga akan menjalaninya.
**

Pemberian yang Buruk

Paras

Pernah memberi? Memberikan sesuatu kepada orang lain? Atau memberikan sesuatu dan ternyata pemberian itu ditolak?
Memberi itu sebuah kebiasaan baik yang diajarkan Islam. Namun yang saya pelajari seringnya kaum muslim sendiri, lupa satu ayat penting tentang sebuah pemberian.
Al Baqoroh ayat 267 meminta kita untuk memberikan pemberian terbaik. Jangan memberi sesuatu yang buruk, yang kita sendiri memicingkan mata karenanya.
Tidak semua orang paham ayat memberi ini. Maka beberapa kali, saya mendapati kue di piring yang baru diberi, ternyata sudah berjamur. Makanan lain yang diberi ternyata makanan gosong. Atau saya melihat seseorang memberikan baju yang sudah kusam dan buruk, untuk disumbangkan.

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Tapi ketika ada orang yang ingin memberi sesuatu pada kita, tentunya kita harus menerimanya.
Ajaran untuk harus menerima itu diberikan Bapak saya. Beliau bilang, saya harus menghormati orang yang memberi itu.
“Ssst…, jangan ditolak. Diterima dulu, biar yang memberi tidak sakit hati.”
Kalimat Bapak itu akhirnya saya jadikan patokan untuk selalu menerima pemberian orang lain. Apa lagi orang itu sudah susah payah mengetuk pintu rumah saya. Setelah menerima, saya tentunya juga wajib mengucapkan terima kasih.

Ada banyak pemberian yang bagus, tetapi ada juga yang lalai dan memberi sesuatu yang tidak diharapkan oleh penerimanya.
“Kok kuenya ada jamurnya, Bu?”
Itu yang sulung saya katakan, ketika melihat kue pemberian di piring.
“Bu…, kok rasanya mpek-mpeknya begini. Basi,” lain kali si bungsu yang kecewa.
Saya hanya menggeleng dan tidak mau memberi penjelasan. Makanan itu saya bungkus dengan tas plastik hitam, saya ikat agar jangan sampai isinya ke luar, lalu buang ke tempat sampah diam-diam.

Ada banyak hal yang saya pelajari ketika memasukkan kalimat Bapak ke hati.
Bahwa ketika kita menghargai jerih payah orang lain, yang mungkin tidak tahu, bahwa yang ia berikan adalah barang yang sudah tidak layak konsumsi, maka akan dibukakan pintu-pintu lain olehNYA. Pintu-pintu itu bernama pintu kebijaksanaan.
Allah ingin kita yang menerima pemberian itu. Dan kita dipercaya menjaga aib yang seperti itu. Bayangkan jika orang lain yang menerima. Mungkin akan ada obrolan panjang dari mulut ke mulut soal hal itu.

Saya juga jadi belajar banyak untuk merubah perilaku saya ketika memberi.
Barang-barang (baju atau sepatu) yang tidak saya pakai lagi, benar-benar saya sortir yang masih bagus dan layak pakai untuk orang yang saya beri. Makanan yang saya beri pun, harus makanan yang baru saya buat sendiri. Atau jika makanan beli, maka saya harus meyakinkan diri dahulu, bahwa itu bukan makanan kadaluarsa.
Jangan pernah merasa yakin, semua orang akan menerima pemberian kita. Karena itu bertanya lebih dahulu, dan ucapkan maaf. Tanya apakah mereka mau menerima pemberian dari kita. Sebutkan barang yang akan kita beri. Jika mereka tidak mau, jangan pernah sakit hati. Siapa tahu mereka memang tidak membutuhkan, dan Allah ingin kita menyimpannya untuk lain kali, untuk orang yang lebih tepat.
Proses memberi seperti ini akhirnya membuat saya paham makna memberi yang sesungguhnya, makna menutup aib sesama saudara muslim, dan membuka hati untuk menerima ucapan terima kasih atau bahkan penolakan.
“Terima dulu barangnya…”
Jika ada yang memberi, saya akan terima dahulu pemberiannya. Suka atau tidak suka, biarkan yang memberi merasa lega dan merasa dibutuhkan.
**

Oh Mimpi

1897700_623539411088913_978895359151246690_n

Mimpi itu buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi itu seringnya malah jadi kenyataan, ketika kejadian di alam mimpi persis seperti di dunia nyata. Maklum mimpi saya masih seperti mimpi anak-anak. Kadang saya jadi burung, atau jadi peri.
Teori yang saya tahu tentang mimpi datangnya dari Sigmund Freud bahwa makna utama dari mimpi adalah pemenuhan keinginan (wish-fulfillment) dari alam bawah sadar. Mungkin saja ketika tidur saya membawa banyak keinginan hingga semuanya keluar dalam bentuk mimpi.

Tapi mimpi saya lucu. Pernah saya bangun dengan tangan tergenggam dan marah dengan orang yang saya lihat pertama kali. Jelas saya mengomel karena di dalam mimpi itu, seorang memberikan uang dan saya menyimpannya dalam genggaman. Tapi ketika saya terbangun dan genggaman saya buka, isinya kosong.
Pernah juga kaki saya sakit dan saya dibangunkan. Rupanya saya mimpi sedang melakukan salto dan jatuh. Jadi dalam tidur saya angkat kaki tinggi-tinggi.
Sering juga saya mimpi terbang dan ketika terbangun tangan saya seperti sayap yang sedang terkepak.
Saya juga sering menemukan mimpi yang menjadi kenyataan beberapa hari sesudahnya.

Pernah saya bermimpi memenangkan suatu lomba berhadiah uang yang nilainya cukup besar. Di dalam mimpi itu saya menerima dua amplop yang ketika saya buka, ada tulisan bahwa saya memenangkan lomba dengan hadiah berupa uang.
Tiga hari kemudian, pak pos datang membawa surat yang sama dengan mimpi saya dan membawa isi yang sama. Saya memenangkan dua kriteria pada lomba tersebut.
Pernah juga saya bermimpi nilai buku di tabungan saya bertambah cukup besar. Sampai-sampai saya kaget dan ingat betul ketika bangun. Dua minggu kemudian ternyata ada pemberitahuan saya memenangkan sebuah lomba dengan nilai nominal yang sama seperti tertera di dalam mimpi.
Dengan alasan mimpi itu maka saya seringnya suka sekali tidur. Tapi tidur yang bisa memberikan mimpi dengan efek seperti kenyataan itu sayangnya hanya berlangsung di malam hari. Bukan di siang hari. Karena itu kalau bukan karena letih, saya amat jarang tidur siang.

Ada mimpi yang membuat suami tidak bisa bersembunyi. Sering dalam sebuah mimpi, saya bermimpi suami mendapatkan uang atau barang baru. Dan ketika saya tanya, rupanya ia baru dapat tambahan rezeki dari pekerjaan lain.
Mimpi-mimpi seperti itu saya sendiri tidak tahu kapan dimulainya. Seingat saya, sejak kecil dulu saya suka bermimpi. Kadang lucunya, dulu ketika SD mimpi itu juga berisi soal ulangan yang akan muncul keesokan harinya.
Ada lagi mimpi yang sering juga membuat saya jengkel. Biasanya di dalam mimpi saya ditaksir cowok ganteng sesuai selera, tapi selalu saja berulang kali terjadi, di dalam mimpi itu saya selalu bilang kalau saya sudah punya suami.

Dulu juga ada mimpi yang membuat saya berani mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dengan mantan. Karena tiga kali saya bermimpi lari dari acara akad nikah dengannya.
Ada satu lagi mimpi yang unik. Itu karena Ibu saya bilang, jika mimpi memegang atau melihat kotoran (manusia) itu artinya saya akan mendapat rezeki. Dan mimpi seperti itu konyolnya yang paling melekat di benak saya. Jadi ketika saya bermimpi melihat kotoran, maka itu artinya akan ada rezeki untuk saya, berupa uang tentu saja.

Jadi suatu malam, saya terbangun dari tidur dan hampir muntah. Bagaimana tidak, saya mimpi sedang berenang di kolam renang berisi kotoran?
Awal-awalnya suami kaget. Tapi sekarang tidak lagi.
Jadi kalau pada tengah malam saya terbangun dan mendadak ingin muntah, itu artinya tidur suami akan semakin pulas ditambahi senyum.

**

Lapar Mata Saat Berbuka

SP_A0367

Lapar di saat bulan Ramadhan adalah hal biasa. Menahan lapar dan haus dirasakan setiap muslim pada bulan ini.
Yang banyak menjadi masalah ternyata bukan menahan lapar perut, tapi menahan lapar mata. Banyak penjual makanan bertaburan menjelang berbuka dan membuat mata yang lapar akhirnya tergerak untuk membeli. Meskipun belum tentu semua yang dibeli itu akhirnya bisa dimakan semuanya sesampainya di rumah.

Lapar mata tentu hanya akan membuat budget bulanan bertambah. Menghilangkan lapar mata bisa dilakukan dengan mudah.

1. Caranya tentu menetapkan budget berbelanja separuh dari belanja di bulan lainnya. Jangan sampai budget belanja di bulan Ramadhan dua kali budget belanja bulan lainnya. Syukur-syukur yang kita tambah adalah budget sedekah.

2. Lakukan hal kreatif dengan cara mengolah makanan yang berbeda. Dan libatkan seisi rumah untuk membuat makanan yang akan mereka makan saat berbuka nanti. Cara seperti ini mengikat kita sebagai keluarga, dan membuat anak memiliki ingatan manis tentang kebersamaan.

3. Buat sajian yang menarik dengan wadah yang menarik sehingga anak-anak lebih memilih makanan rumah ketimbang makanan di luar. Coba cek wadah makanan kita. Keluarkan dari tempat penyimpanan untuk bisa dipakai pada saat bulan puasa.

4. Jika ingin tetap jajan di luar, maka lakukanlah sesekali saja jangan setiap kali. Misalnya seminggu sekali. Toh kadang-kadang dalam hidup kita butuh selingan.

5. Ajak anak-anak untuk sesekali berkeliling menjelang berbuka puasa dan lakukan buka puasa di masjid. Mereka akan paham bahwa buka puasa sekedarnya saja sudah cukup.

Dengan cara seperti itu lapar mata akan bisa dialihkan untuk sedekah dan uang kita juga bisa disisihkan. Kalau sudah begini maka makna puasa menahan lapar dan haus, bukan memindahkan jam makan bisa kita dapatkan.

Perpustakaan Berjalan

aku di republika

Di rumah banyak sekali buku dan majalah. Karena saya biasa mengajak anak-anak ke toko buku sebulan sekali . Ketika koleksi itu semakin banyak, rasanya hati jadi miris karena hanya anak-anak yang mendapatkan manfaatnya.
Saya pernah beberapa kali menawarkan ke pengurus masjid untuk membuka perpustakaan, dan saya penyumbang bukunya. Tapi hanya mendapat respon kalimat nanti akan dibicarakan sesama pengurus.
Menawari tetangga untuk bebas meminjam buku di rumah juga tidak mendapat respon yang baik. Mereka lebih suka menonton sinetron ketimbang membaca buku.
Akhirnya saya memakai alternative lain, yaitu dengan menelusuri beranda jejaring sosial seperti Facebook. Dari situ saya bisa tahu, siapa saja yang membutuhkan buku untuk dijadikan koleksi taman bacaan mereka. Saya tinggal menghubungi teman tersebut dan menawarkan majalah atau buku yang ada di rumah.
Tapi cara itu ternyata masih tidak memuaskan hati saya. Saya merasa masih ada yang kurang jika hanya anak-anak di rumah yang suka buku dan paham banyak hal dari buku, tapi teman dan lingkungannya tidak.
Saya pikir tidak bisa menunggu lagi. Lingkungan yang seirama, suka buku tentunya akan lebih baik untuk tumbuh kembang anak-anak. Melihat minat si bungsu dengan buku yang lebih besar ketimbang kakaknya, akhirnya saya mengajak ia bekerja sama.
“Dik, sayang loh kalau teman kamu tidak tahu buku bagus ini,” ujar saya suatu hari ketika ia membuka lemari buku.
“Terus aku harus apa, Bu?”
“Kamu bawa ke sekolah, terus kamu buka pas istirahat.”
Maka saya mulai membawakan Bilqis setiap ke sekolah dan TPA , buku dengan gambar yang banyak. Tujuannya untuk memancing minat baca teman-temannya. Teman-teman sekolahnya suka. Malah ada yang meminjam majalah juga dari Bilqis.
Meski kadang-kadang ia jenuh juga ketika beberapa kali membawa buku, temannya tidak ada yang mau membaca buku bersmaanya.
Agak lama vakum, akhirnya Ramadhan ini saya mengajak Bilqis melakuannya bersama-sama. Agar ia bersemangat lagi.
Jadi setiap salat tarawih, saya masukkan beberapa buku ke dalam tas. Lalu di masjid saya memilih tempat dekat anak-anak seusia Bilqis. Begitu mereka mulai ribut, saya mengeluarkan buku cerita yang saya bawa, sehingga mereka langsung antusias untuk membacanya. Dan berkali-kali saya lakukan, peminat bukunya semakin banyak.
Ini hanya langkah kecil versi saya. Tapi menjadi manusia yang bermanfaat memang dimulai dari sesuatu yang kecil.

Mengompol

PIC_14-04-25_10-55-25

Jadi ceritanya ada kesepakatan antara saya dan anak bungsu saya yang biasa saya panggil Adek, untuk kebiasaan mengompolnya yang membuat pusing kepala. Kalau dia tidak mengompol lagi, maka uang jajan tidak akan dipotong lagi. Dia juga akan saya ajak jalan-jalan ke Solo.
Si Adek ini usianya sudah delapan tahun. Sudah kelas empat SD. Seingat saya di usia saya yang seperti itu, saya berhenti mengompol. Suami bilang, di usia itu ia juga sudah tidak mengompol lagi.
Kalau bukan dari faktor gen, pastinya ada faktor lain yang membuat Adek ini selalu mengompol setiap malam dan membuat saya bertambah pekerjaan dengan mencuci sprei setiap hari.
Si bungsu ini memang agak aneh kebiasaannya bila dibandingkan dengan Kakak. Kakak berhenti mengompol pada usia lebih dini. Saya terbiasa tidak menggunakan popok sekali pakai untuk mereka sejak bayi. Saya biasa membangunkan setiap beberapa jam sekali untuk mereka saya antar ke kamar mandi.
Tapi yang menjadi masalah mungkin karena semakin lama umur semakin bertambah, maka seringnya ketika saya terbangun tengah malam untuk membangunkan, si Adek sudah basah dengan ompol. Kebetulan memang jadwal mengompolnya hanya pada tidur di malam hari bukan di siang hari.
Pakai perlak? Ho ho Adek ini punya karakter seperti saya. Tidak suka diberi perlak. Ibu saya sering bercerita betapa plastik tatakan ompol meski sudah ditutup berlembar-lembar kain pun akan tetap saya singkirkan. Maka Ibu relakan satu kasur untuk hancur lebur termakan ompol.
“Pakai pampers saja, Bu…,” begitu kata si Kakak memberi usul.
Popok sekali pakai itu tentu menjadi bahan pertimbangan saya juga. Terlebih ketika ke warung tetangga, saya dapati ternyata tetangga memiliki masalah yang sama. Anaknya masih memakai popok itu padahal sudah di kelas enam SD, bertubuh gemuk pula.
Saya tidak mau seperti itu. Inginnya si Adek merasakan sensasi basah dan lari ke kamar mandi.
Biasanya kan ketika kita akan mengompol, tubuh sebenarnya memberi alarm. Misal, kita akan diberi mimpi ingin buang air kecil hingga mencari-cari toilet. Kalau alarm berjalan oke, biasanya ketika toilet belum juga ditemukan, kita akan terbangun dari tidur. Tapi ketika alarm tidak berjalan oke, maka kita akan pipis di sembarang tempat. Dan itu artinya kita akan mengompol.
Sensasi basah itu yang harus si Adek dapatkan. Tentunya dengan menyadari kondisi Adek yang perempuan yang kantung kemihnya lebih cepat penuh ketimbang Kakak yang laki-laki.
Maka saya ciptakan situasi setelah ia masuk ke kamar tidur dengan sebelumnya buang air kecil terlebih dahulu, saya pinta untuk memasang alarm di otaknya. Klik, begitu bunyinya. Alarm itu akan membuat ia tidak akan mengompol. Semacam sugesti atau hypnoterapi.
Bermain imajinasi seperti itu awalnya membuat bingung. Tapi saya lihat beberapa kali ke kamar tidurnya, sebelum tidur Adek mulai menggerakan tangan di depan kepalanya dan bunyi klik.
Akhirnya seminggu sampai dua minggu saya menyaksikan kamarnya tidak lagi berbau ompol dan si Adek berteriak kesenangan karena ia tidak mengompol. Itu artinya ia akan dapat uang jajan utuh.
Dan kesepakatan kami harus dijalankan. Saya ajak ke Solo ketika liburan menggunakan kereta api bisnis malam. Adik duduk bersama Kakak sedang saya di tempat terpisah.
Kebetulan kursi kami di bagian belakang dan masih ada sisa ruang di bagian belakang kursi itu. Seorang lelaki menggelar koran dan menjadikannya tempat tidur, kursinya sendiri ada di tempat lain.
Mungkin karena terlalu letih begitu saya menggelar alas di bagian bawah, si Adek sudah langsung terlelap.
Tengah malam, saya dibangunkan oleh lelaki di belakang tempat duduk anak-anak. Ia bertanya sopan. “Bu, air Ibu ada yang tumpah?”
Feeling saya mengatakan itu bukan air. Betul ketika saya cek, air di botol masih tertutup sempurna tapi celana si Adek basah. Alas tidurnya juga basah. Dan air itu mengalir menuju koran tempat si Mas di belakang anak-anak berada.
Di antara rasa kesal pada Adek dan rasa ingin tertawa akhirnya jujur saya bilang, “Maaf, Mas. Anak saya mengompol.”
Adeeeeek.

Memecah Kepribadian

lagi lagi

Memiliki dua kepribadian seperti halnya Mr Jekyl dan Mr Hyde tentunya menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Apalagi bila kepribadian itu terpecah hingga lebih dari dua hingga 16 seperti halnya kisah Sybil yang cukup fenomenal.
Cerita tentang pecah kepribadian itu tentunya menjadi sesuatu yang unik. Dan sesuatu yang unik itu tentu saja menarik untuk dicoba.
Lalu untuk apa percobaan memecah kepribadian seperti itu?
Suatu hari, ketika saya merasa anak-anak mulai monoton dengan pelajaran Bahasa Inggris yang saya ajarkan, tiba-tiba ingin melakukan hal yang aneh dengan mencoba menjadi pribadi lain itu muncul begitu saja.
“I am Norah…,” kata saya. Tanpa buku pelajaran. Tanpa mereka sadar saya sedang menyiapkan mereka belajar.
“Norah likes ice cream. My Ma and Pa from England.”
Awal mulanya anak-anak tertawa. Lalu berkata “Ibu aneh.”
Saya terus bicara dengan intonasi suara yang berbeda. Juga gerak tubuh yang berbeda akhirnya mereka saling pandang dan mulai bertanya. Dalam bahasa sehari-hari.
“Sorry. Norah from England. Norah only speak English.”
Anak-anak melotot. Mereka rupanya mulai sadar sedang dijebak dalam sebuah metode belajar yang baru.
“Speak English with Norah,” saya memperjelas.
Tentu saja ini adalah permainan kreatif. Menjadi pribadi yang lain itu artinya saya bertingkah laku berbeda. Saya melakukan sesuatu yang mungkin saja terlihat konyol. Saya menari, saya berjoged. Dan di tengah-tengah yang saya lakukan saya tetap berbicara dalam Bahasa Inggris.
Lalu pelototan anak-anak berubah menjadi senyum.
“Ibu not Norah,” kata Bilqis yang bungsu.
“You are a liar,” kata Attar. “You Ibu.”
“No. I am Norah. Norah from England. My Pa and my Ma from England too.”

Menjadi Norah yang berbahasa Inggris bukan berarti anak-anak lantas harus bicara dengan Bahasa Inggris yang benar. Justru niat saya adalah mereka berani mengungkapkan apa yang mereka tahu yang selama ini mereka simpan saja dalam otak menjadi sebuah percakapan aktif.
“What is itch?” tanya Bilqis. Ketika saya mengingatkan tentang kata itu,
“Itch means when the mosquito bite you, you want to scratch,” saya memeragakan ketika menggaruk tangan dengan semangat. Juga membuka mulut saya lebar-lebar untuk mengenalkan kata menggigit (bite) Ketika menyebut mosquito tangan saya bergerak seperti sayap.
“Garuk-garuk?”
“No. Itch means…”
Attar dan Bilqis saling berpandangan.
“Gatal…,” akhirnya mereka berdua menjawab berbarengan.
Saya bertepuk tangan.
Lalu kami mulai bermain tebakan dalam Bahasa Inggris. Dari mulai tebak kata hingga tebak arti kalimat yang saya ucapkan hingga waktu pun tidak terasa sudah dua jam.
“Norah, I am tired,” ujar Bilqis.
“Norah, I want to watch television.” Attar mulai bicara.
Saya tersenyum.
Ada banyak jalan yang harus ditempuh untuk membuat anak merasa nyaman belajar. Meskipun semenjak permainan memecah kepribadian itu, anak-anak suka bertanya. “Ini lagi jadi Ibu apa jadi Norah?”

**

Bila Suami Kekanakkan

nuansa ummi

Apa yang terjadi dalam rumah tangga bila suami ternyata bersifat seperti layaknya anak-anak? Suami tidak bisa diandalkan. Bahkan tingkahnya jauh lebih menjengkelkan ketimbang anak-anak?
Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga sudah menjadi patokan umum kita sebagai wanita ketika memikirkan rumah tangga. Imam dalam artian bahwa sang suami kelak harus lebih ketimbang kita. Kalau bisa lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih beriman, lebih dalam materi dan lebih-lebih yang lainnya.

Akhirnya ketika kita sampai pada jodoh kita, banyak dari kita yang kecewa ketika mendapati bahwa suami masihlah seperti kanak-kanak dalam rumah tangga. Suami tidak bisa bersikap tegas apalagi bijaksana.
Ketika rumah tangga dikaruniai anak, suami semakin terlihat kekakanak-kanakkannya. Suka berebut remote televisi dengan anak-anak. Bahkan menjadi beban tambahan karena permintaannya melebihi permintaan anak-anak.
Allah sudah menetapkan jodoh kita masing-masing. Kita berkutat dengan impian kesempurnaan. Sedang Allah punya misi dan visi lain dengan kita.

Bisa jadi menurut kita, kita sudah menjadi manusia yang bijaksana dan dewasa. Tapi menurut Allah hal seperti itu belum teruji bila belum didatangkan ujian pada kita. Dan ujian itu bernama seorang suami yang bersifat kekanak-kanakkan.
Kalau seperti ini yang terjadi di dalam rumah tangga kita, bukan berarti pernikahan harus kandas di tengah jalan.
Pernikahan itu adalah kelas di mana kita harus belajar terus menerus tanpa henti. Guru kita adalah pengalaman orang lain dan pengalaman kita sendiri tentu saja.

Banyak hal tentu saja yang membuat suami kita, sifatnya seperti kanak-kanak di mata kita. Bisa jadi karena perbedaan usia kita dan pasangan. Bisa juga karena kedudukan pasangan di keluarganya. Kita yang anak sulung dengan pasangan yang anak bungsu akan berbeda sikap dan persepsi dalam menangkap sesuatu.

Kalau itu yang terjadi maka seharusnya yang kita lakukan adalah :

1. Bicara, bicara dan bicara. Bicara bukan dengan protes, kritik tanpa ujung. Tapi bicara yang efektif yang membuat pasangan sadar bahwa sifat kekanak-kanakkannya memang harus ditinggalkan.
2. Hargai pasangan dalam rumah tangga. Terkadang karena merasa pasangan kekakak-kanakkan kita tidak menghargai apa yang pasangan lakukan dalam rumah tangga
3. Tunjukkan bahwa kita berubah ke arah yang lebih baik sehingga pasangan lambat laun akan melakukannya.
4. Sering memuji untuk hal kecil yang pasangan lakukan.
5. Tunjukkan pada anak-anak bahwa kita sebagai Bunda tetap menghargai Ayah mereka meskipun sikapnya menjengkelkan sehingga akhirnya mereka pun melakukan hal yang sama.
6. Mau mendengar bila pasangan protes dengan sikap kita.
7. Menerapkan konsep rumah tangga bersama-sama hingga pasangan merasa dilibatkan dan akhirnya bertanggung jawab.
8. Berusaha menjadi yang terbaik hingga pasangan pada akhirnya mengikuti langkah kita untuk menjadi yang terbaik pula.

Jangan lupa sertakan Allah dalam setiap usaha kita.
**