Motivasi dan Pelatihan Menulis untuk Guru An Nahl Islamic School

“Bu Nur bersedia mengisi pelatihan menulis untuk guru-guru An Nahl?” begitu pesan dari Pak Agus, kepala sekolah SMPIT An Nahl.
Letak sekolahnya ada di Bogor. Masih kabupaten Bogor, tidak jauh dari Taman Buah Mekarsari. Tidak jauh juga dari tempat tinggal kakak saya, ternyata.

Rezeki itu ajaib. Saya sendiri tidak pernah tahu, pada akhirnya langkah saya bisa sampai titik kemarin.
Awalnya sederhana. Saya bincang-bincang dengan editor sebuah penerbitan, setelah saya mengisi talkshow di Sekolah Alam Bekasi plus promo buku. Editor itu bertanya, “Apa mbak Nur, mau mengajar di sekolah? Karena ada sekolah rekanan penerbit yang akan membuka eskul menulis di sekolahnya.”
Tanpa pikir panjang saya bilang, yes. Alasannya? Saya suka mengajar.

Cerita singkatnya akhirnya sampai juga saya di sekolah itu untuk bicara ini itu dan diantar berkeliling. Sekolah empat hektar itu langsung klik di hati saya. Saya suka visi misi dan metode pengajarannya. Sekolah Islam Terpadu dengan basic sekolah alam.
Menunggu timing yang tepat, akan ada kelas menulis di sana. Saya diminta mengajar guru-guru dan murid-murid di sana. Guru-gurunya masih awam dengan dunia menulis.
Wait.
Guru?
Tiba-tiba up and down muncul. Entah kenapa semakin banyak interaksi dengan anak-anak, saya jadi tidak semangat ketika berhadapan denan orang dewasa. Tapi akhirnya saya berpikir, bahwa ini adalah sebuah kepercayaan. Dan saya harus membuktikan.

Power Point Pertama

Pindah-pindah mengajar untuk mengisi talk show menulis, bekal saya memang bukan power point. Mengambil pelajaran dari banyak seminar yang saya ikuti dengan berbagai nara sumber. Rasanya kurang sreg jika hanya fokus ke power point. Apalagi beberapa kali saya menemukan, power point dari satu orang dengan orang lain sama. Ah, it’s not me. Saya suka yang berbeda.

Tapi ini Bapak Ibu guru di sekolah yang dikenal bagus. Biasa mengadakan seminar dan pastinya sudah terbiasa dengan para ahli di bidangnya. Saya? Apalah saya. Tanpa power point pula? Okelah akhirnya saya mendengar banyak masukan dan saya pun belajar membuat power point. Ada banyak yang saya buat. Dan malah saya menemukan banyak hal baru. Termasuk membuat video dari gambar-gambar di power point.

Saya membaca lagi surat permohonan untuk menjadi nara sumber. Pihak sekolah meminta saya memotivasi guru-guru dalam hal menulis. Oke, In syaa Allah saya siap.
Sebelum hari H semua power point sudah saya pindah dari komputer saya ke laptop. Sudah mengajari anak bungsu agar nanti dia yang mengoperasikan laptopnya. Sulung saya minta menjadi bagian dokumentasi dan suami menjadi supir he he.
Beberapa hari sebelumnya power point malah sudah saya kirim ke pihak panitia, untuk pegangan para peserta.

Pada hari H

Anak-anak kalau sudah libur itu artinyaaaa, habis Subuh mereka akan tidur lagi. Sudah saya ingatkan, siap-siap pada jam setengah enam pagi. Kami akan berangkat jam enam. Saya biasa datang setengah jam sebelum acara dimulai, untuk mengakrabkan diri dengan suasana.
Kenapa mereka harus ikut?
Saya ingin mereka paham seperti itulah kerja ibunya. Saya juga ingin kelak mereka bisa membagi ilmu.
Pagi yang ribet. Nasi goreng sudah dibuat hasilnya ternyata keras. Rupanya semalam Sulung saya minta memasak nasi, dan ternyata airnya sedikit. Jadi nasinya keras. Nasi goreng pun gagal.
Berebut kamar mandi dimulai. Padahal kamar mandi ada dua, entah kenapa tidak ada yang mau untuk memakai kamar mandi atas.
Hanya minum segelas air lalu kami meluncur. Takut jalanan macet. Karena kalau sudah macet bisa sampai empat jam ke suatu tempat yang dekat.

Jam enam kurang kami berangkat.
Masih lumayan gelap, jalan masih sepi. Dan taraaa, ternyata jalanan sangat lancar. Belum kena macet. Jam tujuh kurang lima belas kami sudah sampai di dekat sekolah. Perasaan tenang dan perut lapar. Kami ke tukang bubur dulu untuk sarapan. Dan meluncur ke sekolah.

Sekolah masih sepi.
Saya menghubungi beberapa panitia. Tidak lama kemudian saya lihat banyak kendaraan. Tidak lama setelah itu, saya lihat banyak yang datang menuju aula. Acara sudah siap. Panitia menemui saya dan kami naik ke tempat acara.

Allah yang Maha Hebat

Sampai saat ini saya bersyukur, Allah selalu menjaga dari hal-hal buruk.
Menjadi penulis, berbagi ilmu itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang tidak paham ketika saya berbagi ilmu. Orang yang tidak paham jika itu datang dari orang awam, mungkin bisa dimengerti. Tapi jika itu datang dari kalangan yang paham, lalu menyudutkan dengan sesuatu yang membuat saya ngeri, sungguh itu cobaan yang berat.
Tapi setiap coban ternyata adalah tangga untuk naik ke atas, untuk naik derajat. Dan diuji bukan berarti berhenti. Harus jalan terus. Sebab saya terlalu mencintai dunia menulis dan mengajar.

Okelah para peserta sudah berdatangan.
Saya masuk ke aula. Bungsu saya ajak. Tarik napas panjang. Bismillah. Alhamdulillah shalat sunnah mutlak dua rakaat sebelum pergi mengajar, plus membaca Al Qur’an membuat saya menjadi lebih oke.

Bismillah.
Entah kenapa semuanya menjadi mudah. Kalimat saya mengalir. Murid-murid antusias untuk langsung praktik menulis. Sesusai dengan pesan saya pada Pak Agus, kepala sekolah, agar semua yang datang membawa alat tulis, karena kita akan langsung praktik menulis.
Syukurlah para bapak dan ibu guru antusias praktik. Karena mereka adalah pemula, maka praktiknya tidak dibatasi. Mereka boleh praktik menulis artikel, novel, cerita anak, remaja juga dewasa. Bebas sebebasnya.
Motto saya setiap mengisi pelatihan sama. Saya ingin semua peserta tidak ada yang zonk ketika ke luar dari pelatihan. Paling tidak 99 persen, apa yang saya ajarkan masuk dan mengendap, lalu akhirnya diaplikasikan.

Untuk itu saya harus siapkan tenaga ekstra. Saya harus berkeliling dari ujung yang satu ke ujung lain, untuk memastikan mereka paham. Agar mereka bisa tersentuh satu persatu.
Alhamdulillah semuanya dimudahkan Allah.
Bungsu juga senang melihat para bapak guru yang saya minta untuk maju ke depan, menyambungkan gambar dengan kalimat lucu. Dia belum pernah senyaman itu di depan orang banyak.

Dua jam waktu yang sebentar.
Masih banyak yang bertanya tapi panitia sudah memberi kertas pada saya, karena waktu terbatas,
Saya hanya berharap mereka pulang dengan kepala terang benderang dengan banyak ilmu.
Dan saya juga terang-benderang dengan banyaknya rasa syukur dan tentu saja harus terus menulis.

Pengalaman Seru di SDIT Nur Hidayah Surakarta

“Bu, kalau akhir bulan ini, Ibu diundang di sekolah untuk acara kepenulisan, gimana?”
Itu pesan yang saya terima persis ketika saya siap berangkat ke Bandung untuk acara dissabilitas.
Sebagai ibu rumah tangga, tentu izin dari suami harus saya kantongi. Apalagi jadwal yang disodorkan satu minggu setelah kepergian saya ke Bandung. Dan dua hari setelah itu saya masih harus memenuhi jadwal perpisahan pengajian dengan ibu-ibu tetangga.
Saya bilang, saya izin dulu pada suami. Jawaban baru bisa saya berikan beberapa hari setelahnya.

Sepulangnya dari Bandung saya tanyakan hal itu pada suami. Suami mengizinkan.
Kalau sudah mengizinkan itu artinya amanah harus dijaga. Meski pulang ke Solo adalah artinya ke rumah Ibu saya, taoi sebagai istri saya harus tahu aturannya. Acara akan diadakan pada hari Ahad. Saya pergi hari Jumat siang. Sabtu istirahat untuk menemani Ibu. Ahad saya bisa mengajar. Dan Seninnya saya pulang. Itu rencana yang saya sodorkan pada suami. Plus memenuhi isi kulkas dengan bahan makanan yang bisa diolah suami dan Bungsu. Alhamdulillah Bungsu sedang libur sekolahnya.

Sebelumnya saya hanya memberi tahu pada penyelenggara untuk tidak perlu meminta anak-anak membawa laptop. Mereka cukup bawa alat tulis saja. Kalau perlu membawa pensil warna.
Ketika ditanya soal file yang mungkin bisa diprint panitia, saya bilang tidak perlu. Karena seperti biasa ketika mengajar, saya akan mengajak anak-anak untuk meluaskan imajinasi mereka. Dengan cara apa? Dengan cara praktik langsung.

SDIT Nur Hidayah

Apa itu SDIT Nur Hidayah?
Saya kenal nama itu ketika saya memang lomba yang diadakan majalah terbitan sekolah tersebut, sebagai pemenang pertama lomba cerita pendek untuk anak.
Namanya semakin familiar ketika saya menjadi juri Konperensi Penulis Cilik Anak, dan murid-murid dari SDIT ini masuk sebagai finalis dan juga pemenang.
Karena itu ketika undangan datang, saya penasaran dan ingin menerimanya. Alhamdulillah suami mengizinkan.

Kereta dari Jakarta menuju Solo terlambat dua jam. Saya tiba di rumah pukul 12 malam lebih. Bersyukur keponakan mau menunggu dua jam di stasiun. Sampai rumah sudah mengantuk berat. Ibu terbangun dan kita ngobrol sedikit.
Paginya sehabis Subuh masih mengantuk dan lanjut tidur.
Kurang tidur bisa membuat saya tidak enak badan sepanjang hari. Karena itu cukup tidur menjadi penting untuk saya, agar aktivitas bisa lancar.
Masih bisa bolak-balik cari bahan untuk bikin kue. Saya janji bikinin ibu kue kering sagu keju dan roti untuk Ibu.

Alhamdulillah kue buatan sendiri, membuat Ibu dan para ponakan suka.

Pas Hari H

Hari H nya datang juga. Panitia menjemput saya. Dan saya sudah siap.
Datang ke sana jam sembilan lebih. Langsung mengajar. Anak-anak lesehan dan saya pun lesehan juga.
Langsung bergerak.

Iya, mengajar anak-anak selalu saya suka. Karena apa? Karena ketika mereka dilemparkan imajinasi, mereka tidak akan bertanya. Kok bisa? Bagaimana caranya? Dan lain sebagainya.
Mereka langsung menyambut dengan antusias.

Yeeeah saatnya beraksi.
Mulai berjalan dari ujung ke ujung. Mulai mengecek satu persatu naskah. Melihat mana yang sudah bisa menulis dan mana yang belum bisa menulis. Kedua kelompok itu dipisah agar saya lebih mudah membimbing mereka.
Seperti biasa mereka belajar mencari ide yang unik, ide yang bisa didapat dari mana saja. Plus saya beri tahu bahwa menulis itu bekalnya jangan hanya sekedar berkahayal. Harus mau berani riset.

Ada kisah lucu juga. Beberapa anak kelas satu ikut. Jadi saya mengajari mereka membaca juga. Mereka memanggil karena belum bisa menulis. Dan minta saya mengejakan apa yang ada di benak mereka untuk ditulis. Sesi seperti ini selalu ada setiap saya mengisi talk show untuk SD.

Setiap sesi ada bagi-bagi hadiah.
Sampai akhirnya dua jam selesai.
Panitia sudah mengingatkan untuk selesai. Saya suka lupa diri untuk terus bicara dan bicara. Karena energi anak-anak membuat energi saya seperti bertambah.
Acara bagi-bagi hadiah pun dimulai.
Plus sesi foto terakhir bersama murid dan guru.

Alhamdulillah semua lancar.

Menghidupkan Literasi di Sekolah Alam Bekasi

Sekolah Alam. Mendengar nama itu saya selalu jatuh cinta. Yang terbayang-bayang adalah masa kecil saya, yang bisa bermain di bawah kincir air, empang yang luas, jalanan sunyi lewat taman bunga. Segala hal bernama kebebasan dan keriangan masa kecil. Itu yang tertanam di benak tentang sekolah alam.

Saya selalu antusias begitu mendengar tentang sekolah alam. Maka setiap tawaran untuk berbagi ilmu di sekolah alam, akan selalu saya sambut dengan riang gembira. Jauh tidak masalah. Yang penting saya bisa merasakan keceriaan masa kecil saya kembali.

Dua minggu sebelumnya ada telepon masuk. Karena nomornya tidak saya kenal, maka tidak saya jawab. Sampai akhirnya nomor ada WA masuk memberitahu siapa yang menelepon. Dari pihak penerbit menawarkan untuk launching buku di sekolah alam.
Langsung saya sambut ajakan tersebut.

Kami bersiap. Iya kami. Sebab pihak sekolah yang tahu kalau anak-anak saya juga penulis, ingin salah satu anak saya ikut tampil. Maka saya mengajak anak saya yang ada di rumah. Yang Sulung ada di pondok.
Saya juga mengajak suami ikut serta, karena saya ingin mengenalkan sekolah alam pada suami, yang memang sebelumnya hanya tahu cerita tentang sekolah alam dari saya.
Saya sudah persiapkan semuanya dari malam. Barang-barang yagn akan saya bawa sudah saya masukkan ke dalam mobil. Malam sebelum tidur saya minta si anak gadis untuk cepat dibangunkan, karena kami akan berangkat pagi.
Berangkat pagi?
Iya berangkat pagi. Karena masalahnya kami belum tahu rutenya. Dan saya memang selalu mengkondisikan untuk hadir di sebuah acara setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Tujuannya agar saya bisa merasa nyaman dan mengenal situasi.

Kami berangkat jam enam pagi. Lewat tol. Dan gak nyasar hanya tanya orang satu kali. Jam tujuh lebih sedikit sudah sampai. Horee, acara berlangsung jam 8. Saya bisa ajak anak gadis saya berkeliling. Sambil menunggu pembicara lainnya datang.
Seorang panitia menghampiri mengajak untuk masuk ke perpustakaan dan ngobrol banyak hal di perpustakaan yang nyaman juga dingin. Muti namanya. Guru Bahasa Inggris. Anak muda yang saya suka, karena jalan pikirannya sama seperti saya. Melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Lalu saatnya tiba.
Saya, anak gadis dan mbak Sofie mewakili Kemdikbud naik ke atas panggung, berbagi tips untuk membudayakan membaca di kalangan anak. Sedikit sharing saya tentang anak-anak saya yang bisa menulis. Si anak gadis masih pemalu dan hanya menunduk saja.
Acara tidak berlangsung lama, karena jadwal acara padat merayap dan pembukaannya bergeser waktunya.
Hanya 30 menit, lalu saya istirahat dan harus naik panggung lagi untuk memandu anak-anak belajar menulis.

Ini saat yang saya tunggu. Biasanya waktu yang saya gunakan untuk itu minimal satu jam. Saya bisa eksplore kemampuan anak untuk mengolah cerita dan mereka paham banyak hal. Tapi sayang waktu untuk saya hanya 30 menit. Satu buku hanya sedikit saya bacakan, lalu saya ajarkan cara membuat tulisan dengan gambar, setelah itu saya mencari siapa yang bisa menulis dan menangkap gambar yang saya berikan jadi ide yang unik. Untuk para pemenang ada hadiahnya.

Seperti biasa, mereka takjub dengan gambar-gambar yang saya bawa. Mereka langsung merespon gambar yang saya berikan. Dan ujugnya mereka berlomba-lomba mengangkat tangan, minta agar kertas yang ada di tangan mereka, bisa saya baca.
Iya mereka memang semuanya menulis ide cerita dari gambar-gambar yang saya tunjukkan. Aduuuh, terharu saya dibuatnya.
“Bu guru, bagaimana menulis monyet?” tanya seorang anak spesial (berkebutuhan khusus).
“Bu guru, ini saya tulis…,” seorang anak lain, kelas satu SD menunjukkan gambar titik-titik pada saya.
“Bu guruuu, saya ini sudah nulis. Bagus gak, ya?” tanya anak lain, sambil maju meminjam mik di tangan saya.
Semuanya antusias. Saya semangat, tapi waktu membatasi.
“Sepuluh menit lagi, Bu,” ujar panitia.
Maka saya pun harus cepat-cepat menuntaskan pelajaran saya.

Oh ya karena ke sekolah alam dalam rangka promo dan launcing buku, maka sekalian saya promosikan buku saya yang ada di stand di sis panggung. Bahwa saya baru menerbitkan buku. Kalian bisa beli, ya, untuk belajar akhlak Rasulullah.
Well,
acara berjalan lancar.
Kami pulang. Sudah disambut dengan jalanan tol yang macet. Tapi saya bahagia. Hari ini sungguh luar biasa.
Si Bungsu dapat pelajaran berharga. Meski hari ini ia grogi setengah mati, tapi saya yakin pelajaran ini akan menjadi sesuatu yang tersimpan di benak dan hatinya.

Anak-Anak Hebat di Sekolah Alam Bogor

Seminggu yang lalu ada pesan masuk di inbox FB saya. Pesan dari Ruri Irawati yang bertanya. Maukah saya mengisi sharing kepenulisan di Sekolah Alam Bogor, tempat anaknya menimba ilmu?
Ruri Irawati ini enam belas tahun yang lalu pernah jadi teman sekantor saya, lalu kami bertemu di FB dan dia jadi murid menulis saya.

Sharing kepenulisan saja sudah membuat saya melonjak girang. Audiencenya anak-anak, membuat saya bahagia. Dan sekolah alam, membuat rasa ingin tahu saya yang besar semakin membesar saja.
Ketika saya bilang oke, Ruri lalu menghubungkan saya dengan Pak Erfano. Pak Erfano ini yang membina klub menulis di Sekolah Alam Bogor.
Saya terhubung dengan Pak Erfano. Lalu beliau bicara tentang tekhisnya. Fee saya sebagai pembicara dan hal detil lainnya. Termasuk di mana acara itu berlangsung.
Oke. Setuju. Saya ditanya mau pakai apa? Jika ingin slide nanti akan dipersiapkan. Tapi sungguh berkali-kali mengajar, saya tidak suka menggunakan slide. Alasannya sederhana. Saya tidak ingin orang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan saya. Dan saya tidak mau gambar-gambar di dalam slide jadi lebih menarik dari paparan saya.

Wayang-Wayangan Gambar

Persiapan yang saya lakukan sebenarnya sama dengan persiapan mengajar di Kelas Inspirasi. Hanya setelah saya browsing tentang sekolah alam tersebut, saya mulai bisa lebih mengukur audiencenya. Penyelenggara bilang audience mereka anak kelas empat, lima, enam juga anak SMP.
Pelajari fanpage dan web sekolah alam, saya mulai bisa mengukur audiencenya. Mereka yang sudah mulai terbiasa dengan klub menulis, pastilah punya sesuatu tentang ilmu menulis, yang sudah disampaikan oleh guru-gurunya.
Mereka yang setiap tahu ada program literacy, pastilah punya ilmu lebih ketimbang yang lainnya.
Dan mereka dididik dekat dengan alam dan bebas berekspresi, pastilah akan menjadi responden yang aktif.

Saya persiapkan semuanya.
Termasuk buku-buku yang sesuai. Saya punya buku dari Room to Read, dan tentunya bisa dipakai untuk kalangan mana saja.
Saya buatkan gambar saya print dan ambil dari internet, lalu tempelkan di tusuk sate yang saya punya di rumah.
Setiap gambar itu nanti bisa jadi panduan ide untuk mereka.

Pada Hari H

Persiapan untuk semuanya sudah beres. Sudah saya masukkan semua ke dalam tas. Jadi pagi tinggal beres.
Beres-beres cucian, setrikaan juga sudah. Maklum saya tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Takut nanti pulang capai, saya jadi kesal dengan kondisi yang ada.

Pak Suami mengantar ke stasiun. Anak-anak sekolah. Bersyukur Pak Suami ada deadline majalah dan komik, jadi pastilah deadline itu diselesaikan di rumah. Artinya tidak ada klien yang meminta datang ke kantornya.
Aman. Saya bisa berbagi ilmu sekaligus bekerja dengan leluasa, tanpa memikirkan lauk untuk makan siang. Karena kalau Pak suami ada di rumah, urusan lauk masalah gampang.

Berangkat jam setengah enam dari rumah menuju stasiun Bekasi. Bersyukur dapat kursi di commuter. Meskipun penuhnya minta ampun.
Turun di Manggarai, lanjut commuter menuju Bogor. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya bisa leluasa duduk, karena commuter menuju Bogor kosong.
Sampai di Bogor jam setengah sembilan kurang. Masih bisa ke musholla untuk minta yang terbaik.

Setelah itu tanya via WA ke Ruri, setelah itu saya harus naik apa? Ruri bilang sebaiknya naik ojek saja, takutnya jam segitu Bogor macet.
Okelah, di pintu ke luar stasiun banyak abang ojek menawarkan jasa. Kenapa bukan ojek online? Itulah yang dinamakan rezeki. Entah kenapa saya malas naik yang online kalau tidak terpaksa. Mungkin juga karena saya paling malas terima telepon atau menelepon. Saya lebih suka via chating saja.

Ojek sudah dapat. Sekolah Alam Bogor konon katanya dari stasiun hanya butuh waktu 19 menit. Saya beri alamatnya jalan Pangeran Asogiri. Kata tukang ojeknya tahu sekolah itu.
Naik ojek seperti itu membuat saya bisa melihat bermacam pemandangan. Merasakan berkeliling kota Bogor. Sekolah Alam itu ternyata jauh juga dari stasiun. Dan saya suka jalan ke arah sana, seperti masuk ke area Puncak. Berkelok mendaki dan menurun.
Asyiklah untuk berpetualang.

“Bu, di sini, kan?” tanya si Tukang Ojek.
“Pangeran Asogiri, Pak. Ini Sogiri,” ujar saya.
Si tukang ojek berhenti di depan pesantren. Sambil bilang kalau yang dikenal di jalan itu adalah pesantren. Sambil bilang, ibu sih gak bilang kalau pangeran Sogiri. Kalau bilang kan dicari jalan yang lebih cepat.
Helloooo…
Ah biasalah begitu. Itu juga karena omongan negatif saya di awal, sih. Saya bilang, “Bang, saya jangan diajar muter-muter, lho. Nanti diajak muter jauh, tahunya dekat.”
Akhirnya kenalah omongan negatif itu ke saya.
Si Abang tukang ojek berbaik hati mencarikan, turun dan bertanya. Ongkosnya ditambah.
Akhirnya setelah lima kali bertanya, sampailah saya di Sekolah Alam Bogor.

Semangaaaat

Ketika diundang jadi pembicara atau pengisi acara, saya memang membiasakan datang lebih dahulu dari jamnya. Alasannya karena agar saya bisa merasakan atmosfirnya. Bisa melihat audicenya. Dan ini tentu saja sarana ampuh untuk menghilangkan grogi.
Tapi terbiasa bergaul dengan anak-anak, sedikit banyak yang menguasai hanyalah semangat. Apalagi guru-gurunya welcome dan baik hati.

Saya didampingi oleh Bu Monik, ibu guru favorit para murid, karena memang luwes pada anak-anak.
Sesuai kesepakatan di belakang panggung, Ibu Monik menjelaskan tentang siapa saya.
Lalu saya naik panggung.
Mau apa?
Berdiri di atas panggung, di hadapan anak-anak, yang pertama dilakukan adalah berbagi semangat. Semangat menulis. Maka saya ajarkan mereka tepuk menulis.
Anak-anak mulai sedikit tersengat.

Saya mau bicara apa, ya?
Saya mau meluaskan imajinasi anak-anak dengan menyingkirkan segala ketakutan. Menulis itu jangan takut. Apa yang ada diimajinasi tulislah.
Dan jangan sekedar menulis saja, tapi pikirkan ide yang unik. Ide dengan sudut pandang berbeda. Tujuannya agar cerita yang mereka buat menjadi menarik di mata pembacanya dan mereka juga suka membaca ulang kisah mereka karena seru.

Kalau teori saja akan membuat anak mengantuk. Percayalah.
Maka Ibu Guru harus berani turun panggung.
Turun panggung berulang kali. Memberikan gambar dan contoh ide yang unik, sampai anak-anak paham. Tandanya paham apa? Tandanya paham tentu saja mereka bisa menjawab lemparan gambar saya, jadi ide yang berbeda. Huah… saya terkejut-kejut. Mereka bukan cuma menuliskan ide, tapi berani maju ke depan untuk bertanya dan memaparkan ide mereka.

Saya berkeliling. Naik turun panggung itu adalah salah satu cara agar audience mereka diperhatikan. Dari depan sampai belakang beberapa kali. Mereka berlomba menunjukkan kertas tulisan mereka.

Oh ya, selama acara Ruri jadi juru foto saya. HP saya serahkan padanya, biar bisa mengambil semua angle. Meski pakai kamera HP saja, tapi apa yang tertangkap bisa buat dokumentasi berharga untuk saya. Thanks, Ruri.

Satu jam sesi tentang ide unik selesai. Sedikit latihan juga mereka kuasai. Saatnya berlomba membuat tulisan dengan ide yang unik. Saya menggambar di papan tulis, dan saya minta mereka menerjemahkan gambar itu.
Dan hu hu saya terharu. Ketika mereka berlari menuju kelas mereka untuk mengambil kertas, dan setelah itu mengumpulkan kertas berisi tulisannya.

Duh melihat mereka berjuang menulis, saya senang sekali.

Ada seratus kertas yang harus saya cek idenya. Kalau sudah biasa menilai, maka mudah untuk melihat sudut pandang penilaiannya.
Ada tujuh yang terpilih dan idenya unik.
Dan hebatnya dari tujuh orang itu, lima orang adalah anak laki-laki, sisanya perempuan.
Ada satu yang membuat saya terharu. Seorang anak berkebutuhan khusus, yang dari awal selalu berani mengungkapkan idenya, juga ikut menyerahkan hasil tulisannya. Meski idenya belum bagus, dan tulisannya kurang jelas, tapi saya berbisik ke Bu Monik. Saya ingin memberikan reward pada anak itu. Setelah tujuh anak turun panggung, anak itu naik ke atas panggung.

Saya juga mendapat kenang-kenangan, berupa merchandise hasil kerajinan tangan dari anyaman kertas murid sekolah alam, plus buku karya mereka juga piagam penghargaan.

Ruri mengajak saya kuliner di Bogor merasakan tauge goreng. Enak rasanya tauge goreng, Apalagi cuaca di Bogor mendukung, mendung gelap.
Setelah kenyang tauge goreng, kami pulang ke rumah Ruri. Saya main ke rumahnya numpang shalat juga.
Satu jam di sana akhirnya pamit pulang menuju stasiun kembali.

Pengalaman apa yang bisa didapatkan hari itu?
Dari sekolah alam saya belajar, bebaskan anak-anak, puaskan masa bermain mereka, tapi tetaplah ikat dengan akidah agama. Maka mereka akan jadi generasi hebat yang sesungguhnya.