Dakta Radio, Radionya Orang Bekasi

Bekasi?
Pertanyaan itu yang sering hinggap di kepala orang ketika menyebut satu kata itu. Bekasi punya apa? Bekasi punya banyak cerita tentu saja. Bekasi sama seperti kota besar lainnya, punya banyak fasilitas. Hanya karena tertutup oleh kota besar bernama Jakarta, maka Bekasi hanya menjadi bayang-bayang saja.

Bekasi punya banyak hal. Bekasi punya sekolah bagus. Bekasi punya mall juga. Bekasi juga punya radio yang membuat saya bersyukur karene menjadi pendengar radio tersebut. Radio yang menjadi kiblatnya orang Bekasi adalah Radio Dakta.

Menjadi pendengar radio Dakta adalah suatu pengalaman berharga untuk saya. Info-infonya akurat. Ceramah-ceramah agamanya benar-benar menambah ilmu. Sampai pada suatu kesempatan, saya ingin sekali bisa bertandang ke radio ini untuk bincang buku.

Akhirnya kesempatan itu datang juga pada saya. Kebetulan ada buku terbaru saya yang terbit. Kebetulan penerbit bekerja sama dengan pihak radio. Saya hanya tinggal datang, duduk dan menjelaskan tentang isi buku. Ketika ada penanya juga sudah disiapkan hadiah oleh pihak penerbit.

Kecil tapi syarat makna itu kesan yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Dakta.
Kebetulan ketika bincang buku, di halaman radio yang cukup luas, sedang dilangsung pengajian muslimah. Karpet dan tikar terhampar. Sayangnya saya tidak bisa ikut menikmati karena sudah ada agenda lain setelah itu.

Bekasi Dicinta, Bekasi Disayang

Bekasi namanya. Kabupaten Bekasi masuk wilayah Babelan, tempat saya tinggal. Tidak terasa sudah sepuluh tahun saya tinggal di sini. Berawal dari merasa Bekasi begitu jauuuuhnya, sampai merasa Bekasi begitu terpencilnya dan akhirnay merasa betapa beruntungnya saya bisa tinggal di Bekasi.

Bekasi yang saya tinggali masuk daerah Kabupaten Bekasi, artinya masuk ke dalam provinsi Jawa Barat. Meskipun Bekasi kota hanya selemparan batu dari tempat tinggal saya. Dan itu artinya kalau urusan ini itu saya harus lari ke Cikarang karena tidak diterima di Bekasi kota. Perjalanan ke Cikarang dari tempat saya tinggal, jauuuuhnya dan membuat malas.

Bekasi namanya.
Dulu saya hanya kenal kata itu dari sajak Chairil Anwar yang judulnya Karawang Bekasi. Pertama membeli rumah di daerah Bekasi juga karena tidak terpikir untuk membeli di daerah Jakarta. Saya anak yang lahir dan besar di Jakarta. Jakarta tempo dulu yang masih hangat dan penuh pepohonan tidak akan saya dapatkan jika anak-anak saya tumbuh berkembang. Maka alternatif kami adalah Bekasi disesuaikan dengan budget pasangan muda yang baru menikah.

Dulu sekeliling saya pepohonan yang tinggi besar. Udara masih sejuk. Tapi semakin lama ternyata peminat perumahan semakin besar. Maka lahan-lahan itu pun berganti menjadi perumahan cluster. Sejuknya sudah berganti. Meski masih ada bagian lain yang bisa saya syukuri.

Saya masih bisa menemukan jajaran pohon jati dekat pesantren At Taqwa. Saya juga masih bisa menemukan hamparan sawah yang luaaaas membentang di daerah Pebayuran yang hanya lima menit dari Karawang, tapi dua jam dari tempat saya tinggal. Itu pun harus melewati jalan pintas.

Saya juga masih bisa merasakan atmosfir desa, karena dekat rumah saya masih ada hamparan kebun, di mana para petani menanam kangkung dan bayam dan beberapa gembala kambing juga kerbau.

Banyak yang harus diperhatikan dari Bekasi. Pendatang yang semakin banyak datang menggeser para penghuni lama, para penduduk asli. Pendatang yang sebagian besar bekerja di Jakarta, memberikan pemandangan baru. Perumahan yang tampil saling bersaing keindahannya plus kendaraan pribadi harusnya memberikan imbas positif pada Bekasi. Misalnya mereka membuat Bekasi lebih bersih, lebih berwawasan dan lain sebagainya.

Meski saya pendatang, saya mencintai Bekasi sepenuh hati.
Seperti kata pepatah Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung.