Selembar Kertas dari Buku Harian Anak

Dia lagi…dia lagi…kenapa harus dia terus yang diperhatiin. Awas ya, kalau sampai pas lulus nanti nggak bangga sama aku. Pagi itu, mendadak hati saya menjadi suram hanya gara-gara secarik kertas. Dengan tulisan yang tidak terlalu jelas, tapi cukup mudah dipahami. Saya termenung cukup lama, bergumam dalam hati, “iyakah?” Seperti...

Kisah Selembar Uang Kumal

“Pak, uang nya bolong. Ada yang lain?” Pria paruh baya di depanku menggeleng. Dahinya berkerut menandakan kegusaran. Aku menghembuskan napas pelan lalu menyodorkan barang belanjaan beserta uang kembalian. Tidak lupa aku ucapkan terima kasih. Walaupun aku tahu, pria itu tidak akan membalas ucapan terima kasih dariku. Alih-alih membalas, pria...

Jeruk Nipis dan Mimpi Masa Tua Kami

“Kamu tau dari mana Allah akan memberikan pintu rizki?” Aku menggeleng dengan malas. Suamiku sudah duduk didepanku. Mempermainkan novel yang sudah direbut dari tanganku. ““Barangsiapa ingin dibentangkan PINTU RIZKI untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung SILATURAHMI.” Aku tetap terdiam. Selama ini aku memang paling malas untuk...

Segenggam Dunia untuk Nenek

“Senajan aku ki ora tau sekolah tapi kowe kudu sekolah sing dhuwur yo, Ngger, ben pinter dadi Presiden.” *** Aku tahu arti sebuah kenangan. Kenangan yang melekat menjadi pelecut untuk prestasi lebih tinggi lagi. Kalimat Nenek itu terus melekat di benakku. Jepang di musim dingin membuat aku harus sering-sering...

Nyanyian Lirih

Ini sebuah kisah nyata yang membuat saya memahami hidup lebih sempurna ketika bukan saja merasakan naik, tapi juga merasakan turun. “Barang yang mana lagi?” tanyaku perih. Tak tersisa air mata. Sebab sudah terlalu banyak air mata yang tertumpah selama ini. Badai datang begitu beruntun sebelum kami siap untuk hantamannya....