Sepasang Sepatu Tua

Tiba-tiba ruangan kecil yang biasanya gelap, menjadi terang. Suara langkah terdengar. Suara kursi yang berderit ketika diseret. Barang-barang yang disingkirkan. Benda-benda yang berjatuhan berbunyi ting atau bruk.
Tiba-tiba sesuatu terasa menggoyangkan. Menarik. Lalu sesuatu itu terasa membuka tutup kotak kardus pelan tapi pasti.
Ada dua senyum terlihat jelas ketika tutup kotak terbuka, tangan dengan dua cincin mungil di jari itu masuk ke dalam kotak dan menarik aku dari dalam kardus. Lalu memasangkan di kakinya.

“Sepatunya kekecilan, Mama. Kekecilaan.”
Kau hanya tersenyum. Suara-suara kecil itu membuatmu tak jadi bangkit. Rok panjang bunga-bunga yang disatukan dengan atasan putih berenda, yang kau kenakan membuat dirimu seperti seorang putri.
“Mama?”
Kau mengangguk. Mengusap sepatu berwarna biru yang sudah memudar warnanya. Sepatu kets dengan tali berwarna putih. Warnanya sudah lusuh ketika kau temukan dalam tumpukan sepatu lama di dalam gudang. Kemarin beberapa sepatu lainnya kau putuskan untuk berpindah tangan bagi yang membutuhkan, atau sekedar kau sodorkan pada penjual barang bekas untuk menambah uang belanja bulananmu.

Kau mengambil cat poster. Kau cari warna senada dengan sepatu lusuh di tanganmu. Lalu kau tersenyum ketika menemukan satu warna yang lebih cerah. Sebuah kuas kecil, bekas kau pakai untuk mengoles adonan kue terpaksa kau pakai. Lalu dalam sekejap kau sudah membuat warna biru lusuh itu kembali terang menyala.
“Jangan sampai kena hujan, Mama?” tanya bocah kecil itu memandangimu dengan wajah serius.
Kau mengangguk. “Tidak boleh kena hujan,” ulangmu pelan tapi pasti. Lalu mendekatkan sepatu yang sudah kau saput dengan cat poster berwarna biru muda menyala mendekat pada kipas angin yang menyala.

Sambil menunggu kau ambil satu buku dongeng tebal. Dan bocah lelaki itu tahu yang akan kau bacakan untuknya. Kisah putri raja dan kau pasti berpesan selalu padanya agar kelak menjadi seorang pangeran yang baik hati dan tulus menyayangi pilihannya.
Bocah itu biasanya akan mengangguk, memainkan ujung rambut ikalmu sebelum akhirnya tertidur dengan tersenyum.
Masih sempat kau pandangi sepatu itu. Sudah lama kakimu tak memiliki sepatu yang pantas untuk pergi. Kau harus berhemat. Karena kau yakin semua kepala akan mengatakan hal yang sama. Seorang istri yang baiklah haruslah bisa berhemat.
Katanya kau tidak bisa berhemat. Katanya kau suka menghabiskan uang belaja di online shop untuk membeli apa saja. Katanya itu membuat kau menghitung berapa banyak barang dari online shop yang kau beli. Sebuah cetakan kue yang terpakai untuk mencetak pesanan kue kering di hari raya. Dua buah wallpaper untuk menghiasi kamar agar tidurmu bisa lebih indah. Sebuah blender tangan yang kau pikir akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah.
Hanya itu dan kau belum menginginkan yang lain. Kau setia memandangi pergerakan tanggal dengan mengelus dada dan melebarkan senyum.

“Mama mau memakainya?” tiba-tiba bocah itu terbangun. “Ke arisan? Undangan sunatan?”
Kau menjawil hidung bocah kecil itu. Lalu mengangguk yakin. “Nanti Mama pasang renda yang bisa dicopot dan dipasang untuk pengganti tali sepatu. Atau bros berwarna ungu.
Kedua bola mata bocah itu membesar. Bulatan matanya berputar-putar. Lalu bibirnya membentuk bulatan. Mungkin ia sedang membayangkan suatu masa bila ia jadi seorang pangeran dan melihat seorang putri memakai sepatu kets berenda.
Kau memeluk bocah itu erat. Kau menyayanginya sepenuh hati. Kau tidak ingin ia ikut terluka dengan luka yang baru bersarang di hatimu. Karena itu kau mengajaknya masuk ke gudang mencari masa lalu. Sebuah masa bertahun-tahun yang lalu ketika air mata Ibu mengalir deras di pipi dan kau memergokinya. Lalu Ibu hanya berkata kalau setiap pernikahan pasti akan mengalami titik seperti ini.

Sekarang kau berada di titik yang sama tapi berbeda tempat.
Kau tahu ada banyak bentuk pernikahan. Dan ada banyak akhir. Bertahan adalah sebuah kemenangan begitu ujar Ibu.
Kau tahu kau harus bertahan. Sebuah pernikahan bukan pesta yang begitu selesai kau bisa keluar. Kau harus menerima permen manis dan obat pahit di saat bersamaan.
Dan kenangan membawa pada sebuah gudang.

Sepatu itu memang tidak sepanjang jari kakimu. Tapi kau bisa menekuk jari-jemari yang memanjang tidak terlalu jauh dari ukuran nomor sepatu itu. Kau bisa mengakalinya. Kau bisa melakukan banyak hal termasuk membasahi dalam sepatu itu lalu kau mengeringkannya dengan meletakkan sepatu itu di pinggir kompor yang menyala. Setelah itu sepatu akan melebar terkena panas lalu jari jemarimu yang lebih besar itu bisa pas di sepatu itu.
Dulu kau ingat, seorang juga pernah melakukannya. Dengan hair dryer hitam yang sekarang kau miliki tapi tak bisa lagi kau benahi karena seorang yang bisa kau mintai tolong tidak berkenan dan malah menyodorkan brosur barang seperti itu, dengan catatan jika kau mau, kau akan diantar ke tempat itu. Tentunya dengan uang yang harus kau sisihkan setiap bulannya.
“Mama senang?”
Kau senang. Sepatu itu mengering sempurna. Artinya kau bisa memakainya.
**

Pagi ini kau cantik sekali dengan rok panjang berbunga pink yang senada dengan atasan berwarna dasar sama.
Kau cantik dengan rambut tergerai. Lalu kau berjalan mendorong pagar rumah dari kayu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga kau harus mengangkatnya dengan tenagamu. Tapi bibirmu tersenyum.
Kau mungkin akan berjalan lurus ke arah matahari terbit. Biasanya kau menggandeng tangan bocah kecil yang biasa kau bawa. Tapi sepertinya bocah itu semalam tidak tidur bersamamu. Kau memarahinya semalam karena merengek minta mainan. Lalu kau minta ia meminta pada seorang lelaki yang biasa dipanggilnya Papa.

Kau akan bertemu seseorang pada pertemuan matahari dan batang-batang daun jati. Lalu kau akan tersipu. Menundukkan kepalamu. Setelah itu kau berjalan seperti ingin terbang. Kau terlihat begitu bahagia.
Kau tidak pernah berdusta. Kau selalu bicara apa adanya. Tapi kau tahu, setelah pertemuan itu kau akan dihadang dengan banyak pertanyaan dengan kepala menggeleng berkali-kali.
Kau akan berkata soal kerajinan tangan yang kau buat untuk dijual kembali dan uang hasilnya bisa dipakai untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangga yang harus kau tanggung sendiri.
Kau tunjukkan bukti segala macam kerajinan yang kau buat. Kau tunjukkan keranjang dari kertas koran yang kau gulung kecil-kecil lalu kau jalin sempurna. Kau habiskan sepanjang waktu tidurmu untuk melakukannya, agar bocah kecil yang selalu tidur memelukmu bisa bahagia membeli mainan.
Kau tunjukan tisu tisu bergambar untuk kotak pensil.
Kau juga tunjukkan stik es krim yang kau kumpulkan dari sebuah tempat, lalu kau cuci bersih untuk kau rekatkan dengan lem dan jadikan kerajinan tangan yang bisa kau jual dengan harga berkali-kali lipat.
“Kau selingkuh.”

Dan kau hanya menangis diam-diam. Biasanya pada saat itu kau akan berlari ke kamarmu dan kau masukkan kakimu ke dalam sepatu itu. Sepatu yang dulu dipakai wanita yang kau panggil Ibu. Sepatu yang selalu Ibu pakai ketika Bapak mengeluarkan kata-kata yang membuat Ibu dipenuhi air mata.
“Pilihan ada di tanganmu. Bahagia atau bersedih. Masukkan saja kakimu ke dalam sepatu ini. Hanya bayangkan kebahagiaan. Maka kau akan bahagia.”
Dulu Ibu membayangkan menjadi putri raja, lalu mengambil kain dan membelitkan di pinggangnya. “Aku ratu tercantik di dunia,” ujar Ibu sambil tertawa.
Sekarang kau membayangkan menjadi Alice di Negeri Ajaib atau Dua Belas Putri yang Menari yang mencari dua belas pangeran yang bisa diajak menari. Atau mungkin Gadis Angsa yang akhirnya bertemu dengan seorang pangeran yang jatuh cinta padanya.
“Hidup ini sekedar mimpi. Kamu putar tombolnya. Sesuka hatimu.”
Maka sejak itu kau melakukannya. Kau memutar tombol bahagia ketika hatimu sedang duka. Kau memutar tombol senyum ketika sepasang mata di depanmu memberimu banyak sekali keluhan. Bahkan kau sering terlupa dan terus bernyanyi sehingga seorang pencemburu yang selalu ada di tempat yang sama dan hidup bersamamu berpikir kau jatuh cinta untuk keseribu kalinya dengan seribu orang yang berbeda.
**

Hari ini kau bermain dengan ranting kecil yang kau patahkan. Kau memandangi sepatu yang kau sayang-sayang.
“Kau hidup di masa kini untuk masa depan. Kau hidup untuk dunia nyata bukan dunia mimpi.”
Kau terkejut. Seorang kawan lama memeluk tubuhmu kuat-kuat.
“Kau terlalu banyak berkorban dan itu bukan masanya lagi.”
Sekarang kau memandangi buku harianmu. Ada catatan luka yang kau tulis. Ada juga catatan bahagia. Kau ingin membandingkan untuk mencari tahu. Apakah kau bahagia dengan pengorbanan itu atau tidak?
“Kau tidak cantik lagi,” tiba-tiba sebuah suara ada di belakangmu. Dan sebuah senyum di bibir merah ada di belakangnya.
Kau tahu, hitunganmu sudah selesai. Kau harus berani mengambil keputusan.
**

Jika saatnya tiba, begitu katamu pelan.
Rambutmu panjang ikal sebatas pinggang. Kau membuka pintu. Pada saat itu matahari seperti ingin memelukmu sempurna lewat sinarnya. Bajumu biru panjang dengan sepatu kets yang kau cat ulang.
“Sebuah pernikahan yang bahagia..,” ujarmu merentangkan tanganmu tepat ketika kau berada di sebuah batang pohon yang besar. “Aku mencintainya apa adanya.”
Lalu kau mencoba menghitung lagi. Apa yang salah selama ini. Kau atau seorang lelaki yang sudah kau pilih sebagai pasangan hidupmu.
Kau berkerut, kau berpikir, kau meneteskan air mata.
“Aku bahagia seperti ini…,” ujarmu sambil tersenyum.

Kau tentu layak mendapatkan yang baru. Tapi kau juga layak untuk bertahan.
Kau perempuan hebat. Hari ini kau berdiri di samping seorang lelaki dan menggandeng tangannya ke luar dari rumah yang bertuliskan kata dijual.
Kau kembali menjadi seorang pengantin dengan baju panjang berenda berwarna putih dan seorang lelaki berkemeja batik yang memeluk pinggangmu.
Kopor sudah kau siapkan. Ada beberapa. Sebuah truk berisi banyak barang baru saja pergi meninggalkan jejak debu-debu yang berterbangan.

Kau cantik pagi ini.
Daun-daun mangga menguning dan jatuh tepat mengenai rambut ikalmu.
“Mama…, sepatunya ditinggal di sini?”
Kau mengangguk pada seorang bocah yang memandangiku tanpa berkedip. Kau menjadi malu, karena pakaian pengantinmu membuat banyak mata tetangga memandang ke arahmu.
“Aku akan tetap jadi pangeran buat Mama,” ujar bocah kecil itu padamu.
Kau tersenyum. Hari ini kau menikahi pria yang sama dalam hati, mengulang janji yang sama tapi mencoba memulai sesuatu yang berbeda.

Sebuah kota yang akan merengkuhmu dengan kabut setiap pagi dan senjanya akan kau tinggali. Dan lelakimu setuju setelah mengucapkan selamat tinggal pada seorang perempuan yang pernah datang menggoda.
Semua hasil kesepakatan berdua. Kau yakin merevisi apa yang harus direvisi dalam sebuah pernikahan, akan membuat kau bahagia.
“Terima kasih untuk membuatku bahagia,” ujarmu melepaskan aku, lalu mengelusnya dan menaruhnya di dalam sebuah kotak. “Semoga pembeli rumah ini akan melakukan hal yang sama.”
Ketika kotak sepatu tertutup, lampu di gudang dimatikan dan pintu gudang dikunci, aku tahu sebagai sepasang sepatu tua aku sudah bahagia.

Dalam Bulatan Kenangan

donatku

Jika burung-burung bisa bercerita.
Han memandangi piring di depannya. Ada sepuluh donat di sana. Ranti yang membelinya. Sepuluh donat seharga dua ribuan.
“Yang ini lebih empuk dari yang kemarin.”

Yang ini lebih empuk dari yang kemarin, yang itu lebih gurih dari yang kemarin dulu, dan buatan tukang kue sana lebih enak dari tukang kue sini.
Burung-burung kenari jantan berkicau. Tapi si betina nampaknya tidak tertarik pada kicauan si jantan. Mungkin sama dengan tidak tertariknya Han melihat tumpukan donat itu.

“Aku suka, kok.”
Tangan Ranti memasukkan donat itu ke dalam mulutnya. Donat ditaburi coklat dan kacang.
Han menggeleng. Kopi di meja sudah menjadi dingin.
Pagi ini mendadak dingin sekali. Ia jadi ingin mengambil jaket tebal, lalu tenggelam dalam pelukan hangat seorang bermata jernih.

“Haaan…,” Ranti merajuk.
Han menepuk perutnya. Mendadak ia merasa perutnya menjadi penuh.
Mungkin nasib donat di piring itu akan sama seperti donat yang lain. Ranti akan berteriak memanggil anak tetangga. Atau Ranti memberikannya pada kambing, juga ayam di tanah kosong sebelah rumah.

Pagi ini dingin sekali.
Han memandangi ke luar jendela. Masih banyak kabut. Mulai mendung.
Ia tersenyum sendiri.
Pada pagi yang diselimuti kabut tebal, ia akan mendengar suara dari dapur. Entah itu suara cobek yang saling beradu. Atau suara sesuatu yang dimasukkan ke dalam minyak goreng.

“Ibu bisa buat seperti ini?” tanyanya pelan. Menunjukkan sebuah gambar yang ia dapat di sekolah.
Ibu memandangi.
“Di warung sekolah dijual. Tapi yang ini lebih enak.”
Poster itu Han dapat dari temannya, yang katanya baru membeli donat itu di kota. Donat empuk. Di atasnya ada banyak coklat, bukan cuma coklat tabur.
Ada coklat dan juga kacang. Ada donat tanpa lubang yang ketika Han gigit, terasa buah yang belum pernah Han rasa. Teman Han bilang, itu rasa blueberry.
“Ibu bisa?”
Ibu mengangguk.

Han percaya Ibu pasti bisa. Ibu selalu bisa.
Maka pada suatu pagi yang riuh, Han terbangun.
“Ibu sudah dapat bahannya. Semalam titip sama tetangga sebelah. Semuanya beli di kota. Tapi Ibu utang dulu.”
Han melihat bahan-bahan itu. Bibir Ibu tersenyum.
Ibu sering bercerita ketika muda dulu, suka sekali membuat kue. Tapi setelah menikah, Ibu tidak boleh banyak-banyak membuat kue. Ibu bilang karena Bapak akan sakit kalau banyak makan kue. Tapi Han tahu, bukan itu. Bapak akan marah kalau uang yang Bapak beri cepat habis.

“Ibu bikin cara yang gampang, ya. Kamu juga bisa.”
Han mengangguk. Mengambil satu wadah.
Ada terigu, mentega, garam, gula, susu, ragi instant diaduk perlahan.
Lalu Ibu memasukkan dua butir telur dan diaduk lagi. Setelah itu Ibu masukkan mentega dan diaduk lagi.
“Ibu tidak punya timbangan.”
Han mengangguk. Ibu tidak perlu timbangan. Ibu selalu bisa mengukur semuanya dengan tepat.
“Ambilkan sedikit air.”
Han mengambil sedikit air untuk membuat adonan yang ada di wadah, yang telah bercampur rata, menjadi lebih lembut.
Han melihat Ibu membanting adonan itu beberapa kali. Ada urat-urat di punggung tangan Ibu yang semakin jelas terlihat.
“Donat ini untuk teman-teman kamu nanti.”
Han mengangguk.
Ibu bilang, adonan itu akan mengembang beberapa kali lipat. Menjadi besar dan besar.

“Haaan…”
Suara Ranti.
“Donatnya masih kurang enak, kah?”
Kali ini Han menarik napas panjang.
Ketika adonan itu sudah mengembang, Ibu membaginya. Mengajak Han membuat bulatan. Menekan bulatan itu di sebuah tempat. Lalu menyerahkan tutup botol pada Han.
“Letakkan di tengah, biar jadi lubang.”
Han mengikuti.
Iya. Seperti itu bentuknya. Seperti yang dibeli temannya.

Ketika semua sudah terbentuk, Ibu memanaskan minyak di wajan. Lalu memasukkan donat satu persatu. Ketika warnanya sudah berubah kecoklatan baru diangkat.
Belum.
Han belum boleh mengambilnya. Belum bagus bentuknya. Begitu yang Ibu bilang.
Lalu Ibu menunjuk selai coklat di dalam wadah plastik. Ibu memanaskan wajan lebih kecil. Mencampur selai coklat dengan mentega.
Setelah tercampur dan masih hangat, Han boleh mencelupkan permukaan donat ke dalam coklat itu.
Ibu memarut keju. Ibu bilang parutan itu baru Ibu pinjam juga. Lalu donat yang sudah dilumuri coklat itu, ditaburi keju. Han memilih taburan coklat mesis. Han harus menahan ludahnya agar tidak ke luar. Rasanya Han ingin cepat-cepat memakannya.

“Ada empat puluh donat. Bagi untuk teman-teman kamu, ya. Cuma ini hadiah ulang tahun yang bisa Ibu beri.”
Han menunduk.
Memeluk Ibu.
“Hush. Sudah. Tidak boleh cengeng. Ibu bau keringat.”
Han tertawa.
Donat itu akan ia bawa, lalu akan ia katakan pada yang lain, bahwa Ibu hebat. Ibunya bisa masak makanan kota.
“Hmm, kamu tidak usah jajan, sampai utang bahan donat itu lunas, ya?” ujar Ibu.
Han mengangguk.

Kabut di luar masih tebal. Kabut itu seperti menariknya pada masa puluhan tahun yang lalu. Sampai seseorang mengejutkannya.
“Kamu….”
Ranti menepuk bahu Han.
“Donatnya mau cari tukang yang lain lagi?”
Han menggeleng.
“Aku sebenarnya tidak suka donat. Belikan aku getuk lindri saja,” ujarnya berjalan meninggalkan Ranti.

Tidak akan ada donat seperti donat buatan Ibu.
Mungkin ia hanya sedang merindu dan menikmati kenangan.
Kabut di luar semakin tebal. Kali ini gerimis mulai turun.

Pada Senja yang Rapuh

2017-2

Pada sebuah senja di depan jendela, Ren mengerjapkan kedua kelopak matanya. Jalan setapak berujung pada kelokan yang tidak lagi tertangkap mata, membuat ia harus menarik napas berkali-kali.
“Kapan ia akan datang?”
Ren tersenyum. Menangkap suara yang datang bersamaan dengan suara lain. Kursi tua yang terlihat baru saja digeser.
“Kapan?”
Ia akan datang pada setiap senja pada awalnya. Lalu pelan tapi pasti, ia tak lagi tampak.
“Sudah ada satu plastik terigu.”
Ren menoleh. Ada si Mbok tampak terpekur memandangi lantai tanah. Lantai tanah yang Mbok bilang tidak perlu diganti, sebab Mbok tidak ingin terpeleset di lantai keramik.
Ia akan datang. Seharusnya lelaki itu datang. Lalu menyerahkan sebungkus kopi. Mbok biasanya akan bersemangat menyeduhkan untuknya. Dan Ren akan sibuk mengolah adonan terigu di dapur.

2017-3

“Roti yang berbeda,” katanya pada Ren pada suatu senja, setelah sebuah mobil bak terbuka menurunkan kulkas ukuran kecil untuk Ren. Mbok tertawa menyambutnya. Lalu bicara tentang banyak kue yang akan Mbok simpan di dalamnya. Dan pada hari pertama kulkas itu diisi, Mbok mengisinya dengan banyak macam barang yang seharusnya ada di lemari makan. Dari mulai gula sampai teh.

Roti yang berbeda.
Yang Ren tahu adonan roti yang ia dapatkan di tempatnya dulu. Terigu, gula, mentega dan ragi, juga susu. Hanya itu.
Tapi lelaki dengan bibir mengembang penuh senyum itu menyodorkan yang lain pada Ren. Katanya Ren harus tahu rasanya. Katanya kalau Ren bisa, maka akan ia buatkan sebuah toko kue di kota.
Ren merasakannya. Roti renyah dengan berbentu seperti keong. Mbok berteriak asin, ketika gigi tuanya menggigit irisan keju.
“Croissant namanya.”
Ren tahu, ini berbeda. Lidahnya seperti menari-nari ketika merasakan renyahnya roti memasuki rongga mulutnya.
“Zee tahu cara membuatnya.”
Zee tahu cara membuatnya. Kening Ren berkerut. Zee. Nama itu kembali dihadirkan. Zee tahu resepnya. Zee, seorang gadis yang punya toko roti di kota.
Kadang-kadang Ren menyesali panggilan keluarganya untuk kembali di rumah. Menjaga si Mbok yang sudah mulai pikun. Lalu sebagai bungsu yang patuh, ia harus pulang. Harus pulang sampai Ken melamar untuk jadi istrinya.

Ada adonan pasta mentega.
Maka Ken berikan setumpuk resep. Satu resep tulisan tangan. Itu tulisan tangan Zee. Croissant Zee paling laris. Ren bisa melihat wajah Ken penuh dengan senyum.
Pasta mentega buat dengan butter bukan margarine. Di desa tidak ada butter, Ken membawakannya. Sebuah kaleng kecil berharga lebih dari limapuluh ribu.
Ren harus mencampurnya dengan sedikit terigu. Sebelumnya harus memasukkan ke dalam kulkas, karena ketika kaleng dibuka, butter akan mudah mencair di tangan Ren.

Butter namanya. Ren mencium aroma susu. Menggoda selera.
“Kamu pasti bisa.”
Ren pasti bisa. Ren ingin bisa. Lalu melihat wajah Ken tersenyum sambil berkata, kamu hebat.
Butter dicampur dengan terigu, tambahkan sedikit margarine agar tidak terlalu cair.
Satu kaleng kecil butter gunakan separuh saja, tambahkan separuh lagi dari margarine. Campur dengan sesendok atau dua sendok makan terigu. Aduk rata dan bentuk menjadi persegi panjang. Bungkus plastik simpan di kulkas.

“Aku sudah ndak sabar,” begitu kata si Mbok.
Ada adonan lain.
Ren harus mencampur dua kuning telur dengan seperempat terigu. sedikit garam, sedikit gula, juga 180 ml air. Ken membelikan gelas ukuran itu, katanya seperti yang Zee pakai.
Aduk adonan kedua dengan tangan. Hingga tercampur. Lalu masukkan ke dalam plastik, tutup rapat, dan diamkan di kulkas semalaman. Iya semalaman lebih enak. Tapi Mbok tidak sabar. Ken bilang 30 menit tidak apa-apa.

Ren hanya perlu menyiapkan wadah lebar untuk menggilas adonan kedua. Ren tahu Mbok punya tempat minum dari plastik. Maka Ren menggunakan untuk menggilasnya. Wadah rata ditaburi terigu, lalu letakkan adonan kedua di atasnya. Giling hingga rata. Lalu ambil adonan pasta mentega di tengahnya. Lipat hingga adonan pasta tertutup rapat. Gilas lagi menjadi rata.
“Kapan?”
Ren memasukkan kembali adonan itu ke dalam kulkas setelah melipatnya.
“Sabar,” ujarnya menenangkan si Mbok, lalu menyodorkan pisang goreng pada si Mbok.
“Aku mau yang asin.”
Ren tahu asin yang Mbok maui sekarang bukan garam. Tapi keju.

Ada banyak senja.
Dan senja ini Ren mengeluarkan adonan dari dalam kulkas untuk menggilasnya kembali menjadi rata. Adonan pasta mentega ke luar dari lipatan, Ren harus berjuang membuat lipatan agar adonan pasta itu benar tertutup dan tidak bocor ke luar.
Tangannya licin.

Ada oven di atas kompor yang sudah menyala.
Adonan yang sudah digiling menjadi rata itu, Ren bagi menjadi beberapa bagian.
Gilas bagian kecil itu hingga rata. Lalu masukkan isi pisang, keju juga coklat. Ren membentuk sesuai dengan apa yang ia inginkan dengan bermacam angan berkelebat di benaknya.

“Yang asin.”
Ren terus menggilas.
Adonan yang digilas rata dipotong berbentuk segitiga. Diisi dengan irisan keju. Lalu digulung pelan tapi pasti.
Adonan lain berbentuk wajah dengan air mata.
Lainnya ia gulung sesuka hati.

Oven sudah memanas.
Adonan sudah semua dibentuk. Ren memasukkan ke dalam oven.

kue-nur

Pada senja yang menurunkan tetes hujan, adonan roti sudah Ren siapkan. Juga secangkir kopi. Tidak terlalu pahit. Campurkan sedikit susu. Itu selera Ken.
Mbok menikmatinya.
Ren juga.

“Kapan dia datang?”
Ren memandangi jalan setapak berkelok di kebun bambu. Kemarin tukang pos datang ke tempatnya. Sebuah undangan merah jambu diserahkan padanya.
Ada nama Ken dan Zee di sana dengan foto bersama. Mereka akan menikah.
Alangkah pintarnya Ken menyimpan rahasia. Atau Ren terlalu bodoh untuk memahami?
Tidak ada kalimat lain.
Tapi undangan itu langsung Ren masukkan ke dalam kompor yang menyala.

“Enak. Kapan Ken datang?”
Pada senja yang rapuh, Ren berjanji ini roti terakhir yang ia buat. Setelah itu ia tidak mau lagi tenggelam di dalam kenangan.

Aroma Tebu

aroma-tebu

Mereka akan pulang. Seperti setahun atau dua tahun yang lalu. Setelah itu suara mereka akan memenuhi ruang tamu luas dengan banyak kursi, yang sering kosong tanpa penghuni.
Lies mengusap wajahnya.
“Sudah pulang, Nduk?”
Mereka akan datang pada setiap tanggal yang dilingkari spidol merah. Lalu pada tangal dimana mereka tinggal, hanya warna merah yang menghiasi. Hingga akhirnya mereka kembali ke kota, menyisakan sepi untuk Lies.

Lies menekuri jajaran pohon tebu di hadapannya. Lampu di depan sudah menyala. Seluruh lantai sudah bersih. Beberapa pigura yang tergantung di dinding juga sudah bersih dari debu.
Sebuah pigura berisi foto pernikahan, ia pandangi lama. Mungkin jika bukan karena angin yang bertiup kencang membanting pintu, foto itu masih akan terus Lies pandangi.
Baju pengantin warna merah bata itu membuat kelopak mata Lies berkedip berkali-kali. Sepasang pengantin bahagia, itu yang selalu saja tertangkap di mata Lies ketika memandang foto itu.
Kalau bukan karena terdegar bunyi tongkat yang menyatu dengan lantai, mungkin Lies masih berdiri di depan pigura itu.
“Gantara besok datang…”
Lies mengangguk.
“Kamu masih bisa membuat getuk, kan?”
Lies mengangguk lagi. Berusaha keras melebarkan senyumnya. Ia masih bisa membuat getuk dari singkong yang sudah direbus.
Ia dan Gantara dulu pernah mencabut singkong bersama, lalu harus menunduk dalam-dalam karena empunya kebun singkong mengomeli. Singkong yang mereka cabut masih terlalu muda umurnya.
Gantara selalu suka getuk buatan tangan Lies. Ditumbuk dengan cinta, begitu cara Gantara merayunya.
“Lies…, kamu ndak apa-apa, toh?”
Lies menggeleng.
Tidak apa-apa. Setiap musim pasti berganti, dan seperti layaknya sebuah debu, ia tahu di mana dirinya harus ditempatkan.
**

Panggung berwarna ungu itu berdiri kokoh. Panggung yang cukup mewah. Pak Abdi juragan kerupuk akan mengadakan pesta pernikahan putri semata wayangnya. Akan ada panggung musik dangdut di sana.
Lies menghentikan sepedanya. Memandangi panggung itu.
Aroma melati bercampur dengan suara gending tiba-tiba membuat keningnya berkerut. Lalu tanpa sadar ia menggigit bibirnya.

Seorang artis penyanyi yang cantik dari ibu kota pernah diundang.
Kali ini kelopak mata Lies berkedip. Kedipannya hampir melelehkan air matanya ketika seseorang berhenti tepat di depannya.
“Buku-buku yang kamu pesan sudah datang.”
Lies memandang pada keranjang di depan sepeda motor Purwo.
“Nanti aku bawa langsung ke taman bacaaan apa ke rumahmu?”
“Ke taman bacaan..,” ujar Lies.
“Yo wis…, aku langsung ke sana, ya…”

Panggung itu akan hadir dua hari lagi. Nanti akan ada musik bergema, pedagang yang berlomba dan para orangtua juga anak-anak berkumpul untuk mencari hiburan bersama.
Sudah sore.
Mbok pasti sudah menunggunya di rumah.
**
“Mereka sudah datang?”
Tidak bisa ada rahasia dengan Mbok. Mbok selalu tahu apa yang Lies rasakan. Mbok tahu dan tidak banyak bertanya ketika Lies menangis. Lalu Mbok menyodorkan teh hangat sambil memijit-mijit punggungnya.
“Apa masih penting memikirkan yang sudah lalu, Nduk?”
Lies tersenyum kecut.
Memang tidak penting memikirkan sesuatu yang sudah berlalu. Tapi sesuatu itu hadir setiap saat untuknya, dan ia tidak bisa terlepas darinya.
“Mereka besok datang, nanti juga secepatnya pergi. Kamu akan tetap sendiri.”
Lies mengangguk. Ia ingat suatu masa di mana mimpinya melambung tinggi sampai ke awan. Mbok tidak pernah melarangnya bermimpi tinggi. Mbok cuma bilang kalau hati-hati dengan mimpinya dan tetap harus ingat tanah yang dipijaknya.

Namanya Gantara. Teman bermain sejak kecil. Bapak dan ibunya pemilik tambak ikan bandeng terbesar di desa tempat mereka tinggal.
Mereka punya kebiasaan yang sama. Duduk di depan tambak sambil membaca buku. Gantara punya banyak buku dan selalu mengajak Lies membaca bersama sebuah buku baru.
“Cita-citamu harus tinggi,Lies.”
“Kalau sudah tinggi?”
“Jadi istriku.”
Lies tersipu. Dan ia terkejut ketika Mbok memanggil namanya.
“Lies…., mereka sudah datang?”
Lies menggeleng.
“Pur… sebentar lagi pergi…”
Lies diam, memandangi tumpukan buku yang ada di hadapannya.

Pur baik. Baik sekali. Lelaki dari desa lain yang pendiam. Ia menjadi penyuluh pertanian di desa. Lalu pada suatu hari, ketika mendatangi kebun Mbok, Pur melihat tumpukan buku di teras rumah Lies. Sejak saat itu, Pur rajin menawarkan buku-buku bacaaan untuk Lies.
Langit di luar mulai gelap. Lies menyalakan lampu. Nanti malam ia akan mulai mengisi harinya dengan membaca buku.
**
Mereka akhirnya datang.
Duduk di kursi tamu. Lalu bicara tentang sebuah perjalanan panjang, yang akan membuat Lies menahan isak lebih dalam lagi.
Tiga anak kecil berlarian menggelendot manja pada Lies.
“Carikan kami tebu yang paling manis, Bu De.”
Lies menundukkan wajahnya. Carikan tebu yang manis itu seperti pengulangan tahun-tahun lalu. Ia selalu bisa membedakan mana tebu yang manis yang akan ia potong batangnya, lalu mereka saling menggigit hingga batang-batang itu menjadi pahit rasanya.

Dari sudut matanya Lies melihat seseorang memandangi sambil tersenyum.
“Bu De lagi repot…” ujarnya.
Lies lalu akan membuatkan teh dan ditempatkan dalam sebuah poci. Teh yang pas adalah dengan merek seorang ibu berkebaya sedang menyapu lantai. Tidak ada teh yang lain.
Lalu ketika serpihan daun-daun teh yang hitam bercampur beberapa kuncup melati itu, Lies tuangkan dalam wadah, Lies seperti melihat gelapnya perjalanan yang sudah ia lalui.
Ada masa dimana ia ingin berhenti saja di sebuah titik ketika sebuah undangan terulur padanya. Dan sepasang mata elang menatapnya jernih tanpa rasa bersalah.
“Maafkan…”
Maaf adalah sebuah kata yang seringkali hadir di telinga Lies, hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana maaf yang benar-benar hadir di hati.
“Maafkan…”

Hanya itu. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada juga kata menyesal untuk harapan yang sudah mereka bangun bersama sebelumnya. Untuk harapan dan mimpi tinggi itu, Lies berjuang keras membiayai kuliahnya dari hasil berjualan juga membantu di rumah Gantara, mewarisi pekerjaan Mbok.
Lalu setelah itu, ia berkutat di dapur bersama para perempuan lain.
Perayaan besar itu membuatnya harus memasang senyum, lalu menghadirkan tegar yang dipaksakan.
Candaan di dapur adalah candaan yang membuatnya yakin kuah sayuran di hadapannya sudah bercampur air mata. Mereka bercanda saling mencubit dengan mata yang melirik tajam padanya.
Ia adalah gadis pemimpi seperti punuk merindukan bulan.
“Bu De…., aku minta tebu…”
Tarikan di lengan bajunya membuat Lies harus bangun dari mimpinya. Ia tersenyum lalu mengangguk.

Setumpuk baju-baju masih layak pakai tersimpan di sudut. Ia boleh memilih bagian mana yang cocok untuknya. Setelah itu berikan pada yang lain.
Tapi ia yakin tidak akan ada yang cocok untuknya. Baju-baju itu dipenuhi dengan pernak-pernik yang menyala. Atau terlalu seksi untuknya.
Itu baju seorang gadis cantik yang akhirnya dipilih Gantara. Gantara berbisik dan mengatakan bahwa Arumi harus dibantu agar tidak lagi menjadi penyanyi dangdut.
Mereka saling jatuh cinta.
Itu bukan bantuan, tapi memang sesuatu bernama cinta.
Sejak saat itu, Lies tahu. Ia punya mimpi yang terlalu tinggi.

**
Sepotong roti itu ada di atas buku. Roti aroma keju bercampur taburan coklat.
“Aku akan pergi, Dik…”
Suara anak-anak ramai bermain di ruang kecil. Mereka sedang berlomba membaca cepat.
“Ada tugas ke luar daerah. Mungkin bisa menetap di sana.”
Suaranya tidak merdu. Ia juga tidak pintar bicara seperti Gantara. Tapi matanya memandang Lies penuh harap.
“Lies….”
Kemarin Mbok bertanya tentang mimpinya. Sungguh mimpi Lies hanya satu. Menikah dengan Gantara itu saja. Tidak ada yang lain.

“Kamu belum bisa melupakannya, Dik?”
Lies menunduk. Ia tidak bisa melupakan Gantara bukan karena jeratan cinta monyet. Bukan.
Tapi karena mereka sudah hampir menikah. Benar-benar hampir menikah dengan undangan yang sudah mereka pikirkan bersama. Mbok memeluknya kuat-kuat dan berdoa sama kuatnya.
Lalu perempuan itu datang begitu saja. Menginap di rumah Gantara atas undangan ibunya. Dan Gantara jatuh cinta.
Setelah itu semuanya seperti kilatan petir yang menyambar ranting kering. Terbakar tidak ada yang tersisa.
Mbok mengatakan itu kekuatan sihir. Tapi Lies paham apa yang orang lain katakan berbeda. Gadis itu memang cocok untuk Gantara. Lies mungkin yang harus tahu diri. Meski kuliahnya sudah selesai, tapi ia tetap anak si Mbok dan Gantara tetap anak pemilik tambak terbesar di desa.
Gadis yang dinikahinya, Lies tidak mengerti asal usulnya. Yang jelas, ia cantik dan terawat. Dan cantik terawat itu akan membutakan banyak mata lelaki, termasuk mata Gantara.

“Dik…, kalau kita menikah…”
Lies menunduk. Membayangkan sebuah masa di mana ia akan sendiri. Taman bacaan kerjasama dengan Pur mungkin tidak ramai lagi dengan dongeng dari Pur.
Lies menggleng. “Maaf..,” ujarnya pelan. Ia tahu Pur pasti mendengarnya.
**
Mereka akan pulang. Pulang secepatnya dan menyisakan Gantara di rumah. Lies tidak tahu kenapa mereka pulang secepat itu. Biasanya mereka akan tinggal sampai dua minggu lebih.
“Bawa getuk kesukaan Gantara ini. Jangan banyak bermimpi, Lies. Yang Mbok tahu mereka sudah bercerai. Usaha Gantara bangkrut, istrinya tidak kuat.”
Lies mengangguk saja. Ia sampai di depan rumah, masuk ke dalam dapur dengan serantang penuh getuk.
“Bu De……”
Tiga anak yang kesemuanya mewarisi kegagahan Gantara menghambur ke pelukan Lies. Lalu menarik tangan Lies ke kebun tebu di belakang rumah Gantara.
Dua pasang mata memandanginya. Seorang perempuan cantik dengan lesung di kedua pipinya. Rambut ikal kecoklatan. Perempuan itu menggeleng. Menyeret tas besarnya. Memandang Lies sambil tersenyum.
“Titip..,” ujar perempuan itu di sisi Lies. Kepalanya mengisyaratkan pada Gantara yang duduk di teras.
Lalu Lies melihat Arumi berjalan menjauh menggandeng kedua anaknya. Satu yang lain berteriak dan menangis tidak ingin ikut pergi. Gantara tidak bereaksi.Ia diam dan menekuri lantai rumahnya.
Lies menarik napas panjang.
“Kami tidak cocok…”
Itu kalimat yang akhirnya Lies dengar keluar dari mulut Gantara, ketika mengantar Lies sampai pintu gerbang.

**
Batang-batang tebu itu mulai ditebas menyisakan satu dua batang yang diminta dan ditunggui anak-anak untuk dijadikan rebutan.
Lies berdiri.
Rumah baca yang ia miliki dan Pur selalu bersedia menjadi penyumbang, sore ini sudah ramai dengan anak-anak.
Sebuah motor dan keranjang dipenuhi buku berada di luar pintu taman bacaan..
Pur sudah siap dengan kemejanya yang rapi. Matanya memandang pada Lies.

“Lies…”
Lies mengangguk. Mencoba tersenyum ketika anak-anak di taman bacaan memanggilnya.
“Aku sudah meminta pada si Mbok….”
“Kembali ke sini, Mas. Aku ada untuk menunggu.” Kalimat itu cepat Lies ucapkan. Sesuatu yang mengganjal di hati sebelumnya, terasa sudah terbebas.
Ia sudah berpikir, berbagi juga dengan Mbok dan hasilnya sekarang adalah kalimat yang telah keluar dari tenggorokannya.
Pur mengangguk sambil tersenyum.
Lies merasakan aroma tebu merasuk ke lubang hidungnya, menawarkan kehidupan baru untuknya.

Selembar Surat

selembar-surat

Batang-batang jati sudah membesar, sepertinya lebih besar dari selimut yang Win bawa, yang sekarang berada di bagian depan sepeda, yang dikayuh oleh Ken. Hawa gunung Kawi menyergap sempurna. Aroma dingin membuat Win ingin bergegas pergi.
“Dulu itu…”
Win tersenyum pada Ken.

Dulu itu sepenggal kisah pernah terukir. Ketika ia senang sekali menghentikan sepedanya. Berhenti pada satu belokan sebelum jembatan, lalu ia geletakkan sepedanya begitu saja. Biasanya setelah itu, tangannya akan meraih sesuatu dari tas yang dicangklongnya. Tas dari kain berwarna abu-abu, yang ia hias dengan pita hasil rajutan dari benang wol berbeda warna.
Kala itu kakinya masih bersepatu abu-abu tanpa hak. Dihiasi dengan kaos kaki berwarna abu-abu juga yang melindungi betis kecilnya dan kemudian ditutup dengan rok abu-abu sebatas betis.
Lalu Win akan berjongkok, karena harus melompati selokan kecil berair jernih, yang airnya mengalir cukup deras. Nanti ia akan berhenti pada satu pohon jati, dengan batang yang ditempeli nomor. Batang jati paling kecil. Seperti tubuhnya. Bernomor delapan nomor kesukaannya.
Win akan mengambil sekop kecil yang memang ia bawa di dalam tasnya. Terselip diantara buku-bukunya terbungkus kain cukup tebal, agar bagian sisinya yang tajam tidak melukainya, ketika ia tanpa sadar mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Selembar surat berwarna merah jambu. Selembar surat yang ditulis pada kertas surat warna merah jambu, dengan amplop manis berwarna biru bergambar sepasang pengantin kartun yang saling bergandengan tangan, dan mata saling menatap.
Win ingat, ia sangat semangat mengorek tanah di ujung kakinya dengan sekop itu, lalu menyimpan surat yang dipegang di tangan kirinya ke dalam lubang yang ia buat. Lubang itu ia alasi dengan daun jati yang cukup lebar, yang ia lipat sesuai ukuran lubang. Lalu menimbunnya dengan cepat, dan menutupi kembali dengan daun jati kering sebelum akhirnya menimbunnya dengan tanah.
Wajah Win berseri-seri. Selembar surat yang ke sepuluh untuk Pak Guru Warno.
Win ingat bahkan setelah itu ia akan terus menoleh ke arah pohon jati, hingga pernah sebuah motor membunyikan klakson berkali-kali ke arahnya.

“Bernama kenangan…,” ujar Ken merengkuh bahu istrinya. Mengajaknya kembali mengayuh sepeda.
Bernama kenangan yang cukup dalam, yang membuat Win berat meninggalkan desa. Bernama kenangan pula yang membuatnya patah hati lalu pergi ke kota untuk menunjukkan bukti bahwa Pak Warno telah salah karena tidak memilihnya.
“Kenangan itu membawa kamu kembali…”
Win mengangguk.
Bernama kenangan pula, yang membuatnya ingin kembali lalu menularkan kesukaanya pada puisi dan seni lainnya. Ken mendukungnya utuh. Tanpa protes. Dengan keyakinan Win dulu dibutakan cinta oleh lelaki tua yang tidak lebih gagah darinya, begitu yang Ken pikirkan.
Rumah untuk itu sudah ada. Bertahun-tahun Win menabung dari hasil kerja kerasnya di sebuah perusahaan swasta, juga dari uang puisi-puisinya di banyak media, dan kemenangan di beberapa lomba. Ken menambahi dari uang hasil penjualan lukisannya.

Tahun kemarin sepetak tanah di samping rumah ibunya dulu berhasil ia beli. Ia “sulap” menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk anak-anak desa meski belum utuh sempurna.
Seorang guru Win datangkan. Rencana ke depan, Ken juga akan ikut pindah ke desa bersama Win. Ken bisa melukis di desa dan Win bisa menulis puisi juga di sana.
“Bernama kenangan…,” Ken bersiul. Kepalanya menoleh pada seorang gadis SMA bersepeda berkepang dua. “Mungkin seperti itu, Win?”
Win cemberut. “Dia lebih cantik,” ujarnya seperti menggerutu.
Ada selimut tebal oleh-oleh untuk Bu Linda darinya. Selimut itu memenuhi sepeda yang dinaiki Ken.
Untuk mencapai rumah Pak Warno mereka harus melewati sekolah tempat Win dulu bertemu Pak Warno. Sebuah berita disampaikan temannya, yang masih tinggal di desa. Pak Warno sakit keras.
“Namanya siapa?” Ken menggoda. “Warno. Lebih keren aku, kan?”

Lelaki itu bernama Pak Warno dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya. Lelaki itu yang suka mengajari Win dan teman-teman sekelas lainnya berpuisi. Puisi-puisinya pada awalnya tidak Win mengerti.
“Apa itu namanya cinta?”
Win ingat, ketika kalimat itu terucap olehnya, wajah Pak Warno menjadi tegang. Pak Warno pasti mendengar suaranya. Tapi Pak Warno pasti juga tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Win suka sekali melihat rambut Pak Warno yang berbeda warna. Apalagi ketika sinar matahari menerobos masuk lewat jendela kaca yang besar.

Pak Warno, lelaki yang gagah di mata Win. Pasti di mata yang lain juga seperti itu.
Win tahu di meja kerja Pak Warno selalu ada getuk berwarna-warni kiriman dari Trinil biduan dangdut. Getuk itu sewarna dengan kostum penyanyi dangdut yang norak di mata Win. Getuk itu juga ada yang berwarna hitam mirip dengan bulu mata palsu Trinil yang diberi mascara tebal, hingga membuat matanya menjadi menakutkan, dan sering Win leletkan lidah di belakangnya. Suaranya nyaring bahkan ketika sudah jauh dari sekolah.

Di meja kerja Pak Warno juga akan ada kue bolu kukus dari tepung singkong, yang akan Lia beri padanya. Lia, janda pemilik toko kue di pasar yang laris manis. Yang bolunya selalu saja diminati banyak orang. Hanya saja, Pak Warno kelihatan tidak suka dengan Mbak Lia.
Juga ada singkong rebus dari Bu Janti sambil berdoa agar Pak Warno diberikan jodoh. Win tahu jodoh yang dimaksud itu adalah anak Bu Warno yang belum menikah juga meski sudah berumur.
“Siapa nama istrinya?” Ken memecah lamunan Win.
Kabut mulai turun. Ia merapatkan jaketnya. Kakinya mengayuh sepeda lebih kuat lagi. Mungkin ia harus balapan dengan Ken.
“Bu Linda…,” teriak Win menggeleng seperti malu mengenang masa lalunya.
“Jadi kita langsung ke rumahnya?”
Win mengangguk. Mereka harus cepat sampai ke rumah Bu Linda.
**
Mata tua perempuan itu memandangi jalan kecil yang membelah desa. Kabut sudah mulai turun. Seluruh jendela di ruangan tempat suaminya dirawat sudah ditutup rapat. Hanya angin sore menelusup lewat celah lubang angin yang cukup lebar.
“Mas sudah dengar?”
Warno menganggukkan kepalanya. Terbatuk. Selimut sudah menutupi tubuhnya. Jaket tebal sudah dipakai.
“Win datang dengan suaminya. Mas ingat dengannya?”
Warno mendengarkan. Ingatannya semakin menua. Tapi gadis kecil itu tidak pernah hilang dari ingatannya.
**
Mereka gagal bertemu. Rumah itu kosong sedang senja sudah ingin beranjak pergi.
Ken mengajaknya kuat-kuat mengayuh sepeda. Mereka harus pulang setelah berhenti di warung bakso, dan Ken menghabiskan dua mangkuk bakso plus separuh yang diminta dari Win.
Win merapatkan jaketnya. Hawa gunung Kawi di desa Jugo tempat ia dulu dibesarkan, mulai tidak bisa lagi diakrabinya. Delapan tahun yang lalu ia tinggalkan. Semenjak Ibu pergi untuk selamanya nyaris ia hanya datang hanya melongok, tidak ingin singgah lebih lama.

Malam sudah dipenuhi cahaya. Tiba-tiba Win rindu menulis pada kertas surat yang berada dalam sebuah buku. Seperti dulu.
Ken sudah tidur dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Sudah Win katakan berkali-kali bahwa Ken harus membawa selimut lebih tebal lagi Tapi Ken selalu menolak lalu berpikiran bahwa ia yakin akan kuat dengan hawa dingin.
Win tersenyum sendiri.
Delapan tahun sudah berlalu tapi bayangan Pak Warno masih lekat di ingatannya. Pak Warno lelaki yang membuat Win ingin menulis. Menulis segala rasa cinta, menulis segala rasa sakit hati.
Di depan jendela kamarnya, di bawah temaran lampu Win mulai menulis.
Win ingat pada setiap bulan purnama yang cahayanya terlihat dari jendela kayu yang ia buka lebar-lebar ia berharap cahaya. Cahaya cinta yang bisa ia ambil lalu energinya ia sebarkan pada selembar kertas yang terhampar di hadapannya.

Sebuah puisi Win tulis di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikumpulkan. Tugas dari Pak Warno. Lalu Pak Warno membacanya dan anak-anak di kelas yang mendengar bersuit-suit sehingga pipi Win memerah karenanya.
Sebatang pohon jati menanti.
Sepucuk hati aku titipkan pada akar-akar jati.
Purnama di langit Win pandangi.
Pada surat kedua puluh yang ia tulis pada Pak Guru Warno, Ibu datang padanya dan memintanya berhenti.
Terdengar suara Ken mengorok.
Win tahu, sudah saatnya Win tutup buku dan menemani Ken.
**
Jika itu Win, maka kenangan lama akan terseret kembali.
Bu Linda memandangi suaminya.
Gadis kecil bernama Win itu luar biasa hebatnya. Mampu mengungkapkan apa yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Gadis kecil itu suka sekali menulis puisi lalu puisi yang belum jadi itu diberikan pada dirinya untuk dikoreksi.

“Kamu jatuh cinta?” begitu dulu ia biasa bertanya.
Lalu Win menunduk. Tulisannya belum sempurna. Puisinya belum indah.
Gadis kecil itu dulu selalu memberikan terlebih dulu surat-surat itu pada dirinya lalu ia akan menyempurnakannya. Setelah sempurna, baru Win akan meletakkannya pada lubang dekat pohon jati di dekat jembatan setiap kali ia akan berangkat sekolah.
Win pasti terinspirasi dari cerita cinta yang Mas Warno sering ceritakan di kelas tentang surat-surat cinta di bawah pohon jati.
“Matamu bundar seperti bola….,” Ia tersenyum kala itu ketika membacanya. “Matamu indah dan teduh…,” ia bicara pada Win untuk membetulkan kalimat yang Win tulis.
“Mungkin samudra hatimu penuh kotoran…”
Kala itu ia terkikik. “Mungkin ada jentik di hatimu yang membuat sinyal di hatiku tak sampai kepadamu…”
Bu Linda menarik napas panjang.
Ia juga sudah mendengar banyak cerita tentang Win. Win yang menghilang seusai pernikahan dirinya dengan Mas Warno.

Dua tahun yang lalu, ia mendapat kabar tentang Win. Puisi-puisi indahnya hadir di banyak surat kabar. Nama Win juga ia lihat dalam sebuah majalah. Seorang penyair yang membuka sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Dan kemarin, ia sempat melihat papan nama besar di tempat dulu Win tinggal bertuliskan “Sekolah Win”.
**
Ken memaksa. Tapi Win suka dipaksa karena itu selalu cara Ken untuk membuatnya merasa jatuh cinta dan meninggalkan masa lalu. Pagi tadi seusai nasi pecel di warung pojok tempat langganan Win dulu, Ken mengajaknya bersepeda lagi. Menuju hutan jati. Hutan jati yang batang-batangnya sudah membesar.
Win menantang Ken untuk memboncengnya dan Ken setuju.
Win tidak lupa dimana ia pernah berhenti. Lalu mengambil sekop dari dalam tasnya dan melubangi satu tanah di dekat satu batang jati untuk meletakkan surat yang ia tulis sepenuh hati bagi Pak Warno. Pohon jati nomor delapan.

“Kapan aku menerima surat cinta darimu yang harus aku ambil dari dalam tanah?” Ken menggoda ketika mereka sudah sampai di depan hutan jati.
Banyak hutan jati tumbuh di desa. Ada hutan jati seluas satu hektar lalu dipisahkan oleh beberapa rumah, akan bertemu dengan hutan jati lagi yang lebih luas lagi.
“Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Ken yang berjongkok di antara batang-batang jati. Tangannya mencongkel-congkel tanah di dekat kakinya. “Siapa tahu ada surat yang tertinggal,” ujarnya seperti menggoda.
Win memandangi Ken. Tidak akan mungkin ada surat yang tertinggal sebab semuanya sudah diambil oleh Pak Warno, lalu dijadikan seserahan pernikahan pada Bu Linda.
Win ingat, setelah tahu surat itu diambil, ia jadi sering mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya ia buat digulung seperti gulungan kepunyaan Bu Linda. Wajahnya ia baluri dengan bedak dari bengkoang yang ia parut, lalu ia jemur agar hanya tersisa patinya saja. Agar kulit wajahnya seputih kulit wajah Bu Linda.
“Kenapa mesti Pak Warno?”
Win menggeleng lalu menahan tawanya ketika Ken mendapati sesuatu dari dalam tas. Bukan, bukan selembar surat tapi sebuah plastik berwarna hitam.
Bayangan Ken seolah berganti dengan bayangan lelaki yang sudah berumur. Duduk berjongkok mengambil surat-surat yang Win pendam. Surat berisi puisi yang sebagian besar dibetulkan oleh Bu Linda. Surat dipenuhi rindu dan rindu itu tidak tertangkap sempurna oleh Pak Warno, yang sudah menduda tiga kali karena ditinggal mati istrinya.
“Aku tahu itu namanya pelampiasan cinta…,” Ken membersihkan tangannya lalu menepuk pipi Win.
Win mengangguk. Bisa jadi itu pelampiasan cinta karena tidak pernah ia kenal sosok ayahnya semenjak bayi dan Ibu menutup mulut setiap kali ditanya.
“Ke gunung aku ikut….” Ken mulai bernyanyi.
Dan tangan Win langsung melayang mencubit pinggang Ken.
**
“Apa Win masih ingat?”
Bu Linda memandangi suaminya. Belakangan ini asma suaminya kambuh terlalu cepat. Berbagai macam terapi sudah dilakukan.
“Surat-surat itu…”
Bu Linda tersenyum sendiri. Mungkin Win tidak akan pernah lupa. Setumpuk surat yang dibungkus kain berwarna biru, yang ikut dijadikan seserahan mas kawin untuknya. Puisi-puisi milik Win yang dipoles olehnya. Puisi untuk Mas Warno yang tidak begitu dipahami bahasanya oleh Mas Warno karena terlalu kekanakan begitu katanya.
Belum lama Bu Linda akhirnya bicara jujur.
Tentang surat tanpa nama yang dipendam di salah satu pohon jati. Itu surat Win. Tanda cinta tapi tak berani diungkapkan.
“Kita berikan Win saja. Itu miliknya. Mungkin berguna untuk Win berikan pada suaminya.”
Warno memandangi Linda istrinya. Ia menganggukkan kepalanya.
**
Win tahu Ken memandangnya.
Mungkin memandang tumpukan surat itu. Mungkin juga memandangi pada saat Win tadi bicara dengan Pak Warno tanpa Bu Linda.
Setumpuk surat puisi dari Win yang tadi diserahkan Pak Warno padanya, sambil meminta maaf karena tidak pernah paham surat itu Win buat khusus untuknya.
Win menarik napas panjang.
“Seringlah main ke sini…,” ujar Bu Linda tadi ketika melepasnya pergi.
“Bapak juga mau mengajar menulis puisi di sekolahmu. Boleh?” tanya Pak Warno.
Sekarang, ia biarkan Ken mengayuh sepedanya mengikuti alur jalan desa yang berkelok dan sedikit curam. Di hutan jati Ken berhenti.
“Mau apa?” tanya Win.
Ken memandangi Win. “Sudah selesai cintanya dan tidak perlu ada kenangan, kan? Apalagi kenangan pahit?”
Win mengangguk. Membiarkan Ken turun dari sepeda menuju satu batang pohon jati. Ken mencongkel-congkel tanah di bawah pohon itu dengan sekop kecil yang Win juga tidak menyangka dibawa oleh Ken. Lalu mengubur surat-surat itu.
Selesai sudah. Tidak ada yang tersisa. Tidak rasa rindu juga sakit hati.
“Aku semakin cinta…,” ujar Ken merangkul bahu Win. “Kamu…
Win tidak perlu menjawab. Ken sudah paham isi hatinya. Sepanjang perjalanan pulang tangan Win memeluk pinggang Ken erat-erat.

Sri dan Raksasa

Photo-motivasi.jpg

Sri merangkul erat. Rangkulan erat yang disertai dengan air mata yang dipaksakan untuk tidak turun, tapi justru membuat kerongkongannya tercekat.
“Sebutkan siapa namanya?” tanyanya pada Kiki. Tubuh anak itu bergetar ketika ia masuk rumah tadi. Bajunya terlepas dari badan, dan Kiki menangis di sudut kamar dengan celana dalam yang sudah mencapai kaki.
Sri menangis perlahan.
Kiki memandang pada Sri. Mencari-cari apa yang Sri sembunyikan. “Nama teman-temanku, Ibu?” tanya gadis kecil yang rambutnya dikucir dua. “Ada Raisha, Kikan terus.., kenapa namaku sendiri yang tidak bagus Ibu?”
Sri menarik napas panjang, embusan setelah tarikan itu berat dan dipenuhi beban.
Baju dan celana Kiki sudah Sri betulkan. Gadisnya yang baru menginjak kelas empat SD itu terus mendekat padanya.
“Ibu akan bercerita soal raksasa jahat. Kamu pernah melihatnya?” tanya Sri hati-hati. Ia harus tahu siapa orangnya. Ia yakin ada seseorang yang baru melakukan perbuatan senonoh pada Kiki ketika rumah sepi dan Sri sedang mengantarkan kue pesanan.
Kiki menggeleng.
“Raksasa itu suka memakan anak gadis kecil yang ada di rumah sendirian seperti kamu…”
Kiki menggeleng lagi.
“Raksasa itu juga…”
Kali ini Kiki mendekatkan tubuhnya ke samping ibunya. Merapat. “Tapi temanku tidak ada yang raksasa, Ibu. Temanku kecil-kecil. Temanku baik-baik. Temanku…”
Sore itu angin bertiup cukup kencang.
Teras rumah mereka kecil. Tapi pohon jambu air yang berada di halaman cukup besar. Eembusan angin mampu meruntuhkan daun-daun yang menguning dan setengah menguning.
Beberapa daun kecoklatan bertumpuk mongering, menunggu luruh ranting yang sudah patah dari dahan.
“Ibu pernah punya teman jahat?”
Sri menggeleng. “Teman Ibu baik-baik. Bahkan kalau mereka main ke rumah, mereka juga sama baiknya dengan Ibu. Kemarin waktu Ibu tinggal di rumah, ada temanmu yang main ke rumah?”
Kiki memandangi Ibunya.
“Ada yang jahat terus..”
“Ibu..,” Kiki merapatkan tubuhnya. Lalu menangis.
Tak tega Sri meneruskan pertanyaan.
**
Ini pasti akan menjadi sebuah pengakuan yang menyakitkan. Lalu yang menyakitkan itu akan menjadi sesuatu yang memancing api. Api pertengkaran. Setelah pertengkaran itu akan ada luka lagi di hati Kiki. Lalu anak itu akan merasakan dunianya tidak nyaman.
Teh yang Sri buat mungkin tidak dari hati. Ia bahkan harus mengingat sudah berapa kali ia masukkan gula ke dalam cangkir teh itu.
Malam itu, Kiki sudah masuk kamar. Tertidur setelah Sri mendongeng tentang malaikat kebaikan yang akan terus menjaganya. Lampu kamar tidak ia matikan. Seusai keinginan Kiki. Anak kelas empat SD itu takut kalau-kalau ada raksasa hitam yang akan datang nanti.
“Wajahmu muram. Ada masalah?”
Sri mencoba menyunggingkan senyumnya. Sore ini mungkin wajahnya seperti mendung yang mulai datang.
“Kue-kue basahmu ada yang memesan…”
Kue kuenya banyak yang memesan belakangan ini. Dari risol hingga onde-onde. Dari satu warung ke warung yang lain. Satu gerobak ke gerobak lainnya. Setiap hari ia berkutat mulai jam dua malam. Matanya mengantuk di pagi hari, ketika mengantar Kun suaminya berangkat kerja.
“Ada pesanan seribu kue basah..”
“Seribu kue basah..,” Sri mendesah. Seribu kue basah itu artinya ia makin lama berkutat di dapur. Semakin tidak memperhatikan Kiki. Semakin…
“Sudah kuterima DP-nya. Bulan ini cicilan motor kita yang terakhir, kan? Nanti uangnya aku pakai untuk membayar cicilan motor,” Kun berdiri dari duduknya.
Sri memandangi punggung suaminya.
Dari satu ke basah ke kue basah yang lain. Mengantar sebelum subuh. Lalu tertidur di siang hari. Bahkan tak sempat disapanya Kiki. Juga tak sempat dijaganya.
Sri tak ingin bekerja ke luar rumah. Ia ingin menjaga Kiki. Dulu Ibu sibuk di luar rumah. Anak-anaknya terlantar. Ibu letih ketika pulang. Bertengkar ketika bertemu dengan Bapak. Dan anak-anak berada dalam rumah tangga seperti neraka.
Begitu menikah, ia kembangkan keahliannya memasak. Membuat kue. Sejak dulu kue buatannya selalu mendapat pujian. Pesanan semakin bertambah banyak.
“Kalau butuh orang lagi…” Dari arah dapur Kun bicara. “Nanti aku minta Emak mencarikan di kampung.”
Sri memilih tak menyahut.
Kun tak akan mengerti.
Ini bukan lagi masalah kue.
**
“Ibu…”
Pagi itu gerimis ketika Sri mengantar Kiki sampai di depan pintu gerbang sekolahnya.
“Ibu akan tunggu aku di sini?”
Sri memandangi. Mata gadis kecilnya berair. “Raksasa itu tidak ada di sini, kan?”
Kiki menggeleng.
“Semalam raksasa itu tidak datang dalam tidur kamu. Pasti dia tidak akan berani datang kalau ada Ibu.”
“Kemarin dulu Ibu tidur lalu…”
Gerimis semakin keras.
Sri menyesali peristiwa beberapa hari yang lalu. Kemarin dulu itu. Ketika matanya begitu mengantuknya. Lalu meninggalkan Kiki di teras. Sampai tak mendengar ada tamu yang datang. Sampai ia menyaksikan Kiki di sudut kamar menangis dengan baju yang berantakan.
Siapa yang telah tega menodai buah hatinya? Anak semata wayangnya.
Kemarin itu ia mencari tahu. Mulut Kiki terkunci. Tak berani ia bertanya pada tetangga. Cerita itu hanya akan membuat cerita Kiki akan menyebar dan teringat di kepala orang-orang yang mendengarnya dan menjadi luka dalam untuk Kiki hingga dewasa kelak.
“Ibu mengantuk?”
Sri menggeleng.
“Ibu mau menunggu aku? Di musholla itu…” Kiki menunjuk musholla di sudut sekolahnya.
Sri mengangguk.
**
Sejak semalam tidur Kiki resah. Sejak semalam badannya panas. Sejak semalam…. Sri menyusut air matanya yang mulai turun.
Kun pergi dua hari. Tugas ke luar kota. Urusan rumah tangga harus menjadi urusan Sri. Kun hanya bertugas mencari nafkah. Harusnya dengan begitu tak perlu Kun bersusah payah menyuruhnya memiliki target ke depan, untuk meningkatkan penghasilan dari kue-kue basahnya.
“Ibu tahu tidak?” Pagi tadi seorang penjual nasi uduk bercerita. Ketika Sri menaruh pesanannya. “Ada anak yang gantung diri.”
Sri melihat ke arah di mana rumah itu ditunjuk.
“Anak kecil. Masih SD. Kemarin itu waktu ibunya pergi ke warung diperkosa sama tukang air.”
Hening.
“Anak sekarang badannya besar-besar. Bajunya suka sembarangan…”
“Sudah lapor ke polisi?”
“Sudah. Katanya udah lima kali dia begitu. Nanti katanya polisi mau cari siapa saja anak yang sudah diperkosa sama dia.”
Pagi itu udara cerah. Tapi rasanya dingin sekali untuk Sri.
**
“Badannya begini panas, dia makan apa?”
Kun memarahinya. Sri tidak mengirimkan kabar. Takut mengganggu. Tapi tubuh Kiki bertambah panas ketika Kun datang. Lalu Kun mulai berceloteh panjang menganggapnya tidak bisa menjadi Ibu yang baik. Kenapa Kiki tak cepat dibawa ke dokter? Kenapa begini dan kenapa begitu?
Sri memutuskan untuk tak banyak bicara.
Sekarang ia ada di ruangan dokter. Dokter itu memandangnya tajam.
“Parahkah, Dok?”
Dokter itu menggeleng. “Ibu..,” mata tuanya memandangi Sri.
Beliau dokter tua yang senang Sri datangi karena akan menasehati lebih dulu sebelum memutuskan memberi obat. Obat dengan harga yang terjangkau untuk kantung orang biasa seperti Sri.
“Kiki ketakutan ketika diperiksa. Ketika diminta untuk membuka baju..”
Bayangan Kiki yang menangis di sudut kamar. Berteriak ketika Sri mendekat. Lalu baju yang sobek dan celana dalam yang sudah terlempar entah ke mana.
“Sesuatu terjadi pada Kiki, kah?”
Sri menangis. “Tolong anak saya, Dok,” desis Sri tak sanggup untuk membayangkan.
Di luar, Kun sudah menunggu. Matanya tajam menatap Sri.
“Tidak apa-apa,” ujar Sri menenangkan ketika ke luar dari ruangan dokter. “Hanya sakit panas biasa..,” lanjutnya dengan wajah yang menunduk dalam.
**
Ia menggambar. Menggambar seorang laki-laki seperti gambaran para Ibu tentang laki-laki yang ditangkap polisi.
Menunjukkan pada Kiki.
Anak itu menggeleng.
“Raksasa ada yang berbadan kecil,” ujar Sri. Memeluk Kiki. “Raksasa kecil ini bisa berbahaya. Tapi Ibu akan menangkapnya. Terus Ibu gantung ke pohon yang paling tinggi. Terbangkan bersama angin. Dan tidak akan pernah membuatnya kembali lagi.”
Kiki memandanginya. “Ibu bisa?”
“Pasti bisa. Kiki mau Ibu lakukan apa untuk raksasa kecil ini?”
Mata bulat Kiki berkedip.
Tubuhnya masih saja panas. Ada luka di alat kelaminnya, begitu kata dokter setelah ia menceritakan semuanya.
Tangisnya tumpah di bahu dokter. Lalu dokter itu membisikkan tentang banyak hal. Termasuk akan membantunya menjaga rahasia ini dari Kun, bila memang Sri menginginkannya.
“Ibu, raksasa itu bukan raksasa kecil. Raksasa itu rumahnya dekat rumah kita.”
Kening Sri berkerut.
“Waktu Ibu tidur, Om Tio mau pinjam gunting terus Kiki lagi ganti baju…”
Sri memeluk tubuh Kiki erat.
Raksasa itu ada di dekatnya.
Tangisnya tumpah tak tertahan.
**
Ini mungkin akan jadi cerita yang menyedihkan yang akan Kiki ingat sepanjang masa.
Mata Kun memandang Sri. Nyaris tak berkedip.
Pisau itu ada di tangan Sri.
“Mau ke mana?”
“Membersihkan daun-daun,” dusta Sri.
Kun tak pernah tahu cerita yang sesungguhnya. Bahwa dua bulan yang lalu lelaki itu pun datang ke rumah dan menidurinya ketika Sri sedang tertidur lelap, hingga Sri menangisi kebodohannya sebagai perempuan.
Kalau bukan karena Kiki yang mengalami kejadian selanjutnya itu, mungkin ia tak akan kalap membawa pisau. Laki-laki itu sedang asyik membersihkan got.
Dan kehebohan setelah itu terjadi. Pisau yang berlumuran darah.
“Ibu..,” Kiki ke luar kamar. Memeluknya kuat-kuat. Para tetangga mengelilinginya.
“Raksasanya sudah Ibu buang ke awan,” ujar Sri pada Kiki sambil tersenyum.

Satu Loyang Bolu Karamel

bolu karamel

Setiap kali gula itu meleleh menjadi karamel. Brus akan bertepuk tangan. Lalu bergegas membantu Aime untuk menuangkan air hangat, agar gula yang dibuat menjadi karamel itu tidak menggumpal.
Setelah itu kehidupan akan berlanjut. Ada telur yang harus dipecahkan. Satu sachet vanili yang harus dituang, juga mentega yang harus dicairkan.
Brus akan menikmati kopinya, memandangi angsa-angsa yang berlarian di luar rumah, lewat jendela dapur yang selalu terbuka lebar.

Lima ekor angsa yang akan mengeluarkan suara berisik ketika ada orang asing yang lewat. Mereka sama seperti seekor anjing penjaga, itu yang selalu Brus katakan dengan tangan kiri yang mengelus kepala Putti, kelinci kecil yang sering masuk ke dapur, menunggu diberi jatah makanan sisa. Putti suka makan apa saja, termasuk nasi dengan kecap plus telur dadar sisa Brus.
Suara mikser setelah itu akan terdengar. Aime akan menekan angka yang akan membuat miksernya berputar di puataran paling kencang.

“Angin berembus…”
Aime akan mendengarkan Brus bernyanyi atau bahkan membaca puisi. Brus akan bercerita juga soal lukisan-lukisanya. Lukisan yang tidak pernah lagi menyita perhatian Aime seperti dulu ketika ia mengenal Brus. Sebab Brus melukis setiap hari. Bukan hanya pada kanvas tapi pada kain polos penutup meja, tirai jendela atau bahkan penutup tipi.
“Mereka menyemarakkan pagi…”
Aime menuang terigu pelan-pelan setelah menyaringnya tadi. Setelah itu ia akan berdiri untuk mengambil karamel yang masih ada di atas kompor. Brus akan berdiri untuk menggantikan tugas Aime. Tanpa Aime meminta, Brus akan mengambil mentega cair setelah itu.
“Angsa-angsa itu….”
Aime melihat, tangan Brus sekarang bergerak. Tangannya menggerakan pensil dan membuat sketsa.
Lima ekor angsa. Persis seperti angsa yang terlihat dari jendela dapur.
Oven itu sudah diletakkan di atas kompor. Aime sudah menyalakan kompor dengan api kecil dan meletakkan oven itu.
Brus masih tidak bergerak. Biasanya ia akan membantu mengoleskan loyang dengan mentega dan sedikit taburan terigu, agar loyang itu tidak lengket.

Aime membuka pintu lemari, lalu mengambil sebuah loyang berbentuk hati.
Ini hari jadi mereka. Pada hari jadi beberapa tahun yang lalu, satu loyang karamel berbentuk hati Brus pesan pada Aime. Bolu karamel beserta taburan keju di atasnya. Brus bilang, ia ingin pahitnya karamel dipadukan dengan asinnya keju. Perpaduan yang menarik.

Tapi hari ini sejak dua tahun yang lalu, bolu karamel sudah menjadi kegiatan rutin Aime. Toko kue onlinenya mendapat respon positif setelah Aime mengunggahnya di akun social media miliknya.
“Hush….”
Aime sudah memasukkan semua adonan ke dalam loyang, lalu memasukkannnya ke dalam oven.
Suara itu nyaring. Menggiring lima ekor angsa. Perempuan berambut pirang sebatas pinggang yang senang mengenakan rok berenda.
Angsa dan gadis itu, membuat Aime merasa ia tinggal di belahan bumi yang lain. Hanya ada dua rumah saling berdampingan. Rumahnya dan rumah gadis itu. Setelah itu hanya hamparan sawah dan kebun tebu.

“Aku menemukan berlian,” itu yang Brus katakan dulu. Lima tahun yang lalu.
Sebuah berlian yang membuat Aime setuju ketika ia jual rumah mungil mereka di kota. Rumah pertama milik mereka.
Berlian itu adalah tanah di desa kecil, yang membuat Aime menangis karena ia seperti tercabut dari akarnya. Ia tidak bisa bertemu teman-temannya setiap minggu.
Brus mengenalkannya pada pompa air manual katanya akan membuat lengan Aime menjadi lebih kekar tanpa perlu fitness. Brus mengenalkan Aime pada kabut yang membuat Aime kedinginan dan sering bersin, tapi ketika jauh Aime justru merindukannya.

“Bolunya sudah jadi?” tanya Aime.
Brus memang yang lebih pintar melihat. Brus akan berdiri lalu mengambil garpu, membuka pintu oven dan akhirnya menusukkan ujung garpu itu untuk melihat apakah kue di dalam oven itu sudah sempurna matangnya atau belum.
Aime melirik. Brus tidak mendengar. Lima ekor angsa itu sempurna ada di dalam kertas di pangkuannya. Di sudut gambar, ada rok berenda yang terlihat sedikit.
“Aw…” Aime berteriak. Tangannya menyentuh bagian oven yang masih panas. Brus biasanya akan bangkit lalu mengambil jemarinya dan mengecupnya. Tapi tidak kali ini.
Brus hanya menoleh sesaat, lalu sibuk kembali dengan pensil dan kertasnya.
Aime menarik napas panjang. Ia membalik kue itu. Kue berbentuk hati. Bolu yang kesepuluh di hari ini.
**

“Hidupmu berwarna?”
Mereka memaksanya berkumpul hari ini. Lima sahabat dekat di masa kuliah dulu.
“Aime penggemar kota besar.”
Aime tersipu. Ia memang penggemar kota besar dan dulu selalu bilang, tidak akan bisa hidup di sebuah desa kecil. Sebuah desa yang jauh dari akses kota besar, bahkan ia harus memaksakan diri masuk ke dalam rumah begitu matahari tenggelam. Ia mulai menyukai kabut. Tapi tetap tidak pernah tahan dengan dinginnya.

“Aime yang tidak suka masak…”
Aime terkikik. Menikmati pertemuan dengan sahabatnya. Secangkir besar jus buah naga dan siomay yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Semoga baik-baik saja. Brus masih setia, kan?”
Semoga baik-baik saja. Dan ia memang harus baik-baik saja. “Semoga,” ujar Aime dengan berat hati, ketika ia harus berpisah dengan teman-temannya.

Usaha onlinenya sudah harus diseriusi. Dan Aime sadar diri, ia mulai kewalahan dengan pesanan yang setiap harinya semakin banyak. Brus yang akan mengantar semua pesanan itu. Lalu Brus pulang dengan bahan untuk kue keesokan harinya, dan setumpuk kertas gambar.
Kertas gambar itu yang akan membuat Brus bertahan lama di dapur, dengan mata yang memandang ke luar. Ada banyak gambar, dari mulai daun yang gugur, sebuah gerobak, bahkan gunung di kejauhan. Dan semua gambar itu menyisakan satu gambar lain di setiap sudutnya. Ujung rok berenda.
Awalnya Aime tidak memperhatikan. Sampai ketika ia sendiri di dapur dan membuka tumpukan kertas gambar Brus.
“Kamu tidak pernah ada,” itu kalimat yang sering Aime katakan.
Dan Brus akan memandangnya dengan pandangan tidak mengerti.

**
Mereka tidak akan pindah rumah tentu saja. Aime mulai jatuh cinta. Pada pemandangan gunung Arjuna yang bisa terlihat dari tempat duduknya di ruang tamu. Lalu kabut yang turun perlahan, yang membuatnya rindu berpura-pura saling mencari dengan Brus, hingga berujung pada sebuah pelukan hangat.
“Aku mulai kesepian…”
Mereka memang tinggal berdua. Rumah di samping mereka kosong. Tidak terdengar lagi suara angsa. Aime tidak pernah tahu kapan tetangga sebelah rumahnya pindah. Mungkin pada suatu malam berhujan ketika ia terlelap karena kelelahan mengurusi pesanan bolu karamel yang semakin hari semakin banyak jumlahnya.
Brus tidak banyak bicara setelah itu. Makin jarang menggambar. Hanya masih bisa Aime temukan gambar-gambar ujung rok itu di beberapa kertas gambar yang Brus tinggalkan sebelum selesai.

Brus mengatakan ia punya rencana lain. Memindahkan toko online Aime ke kota besar. Rumah yang mereka tempati mungkin harus dijual juga.
Aime membayangkan sebuah toko kue sebenarnya, bukan lagi toko maya. Bukan sekedar bolu karamel tapi bolu-bolu lainnya. Kesepian membuat ia rajin memeloti resep kue dari smart phonenya, untuk kemudian ia coba.
Rumah itu akan dijual. Brus bilang pembelinya sudah siap dengan harga yang ia tawarkan. Aime bisa bertemu lima sahabatnya lagi. Ngobrol setiap hari. Harinya pasti akan jadi semakin berwarna.
Sebuah klakson mobil terdengar di luar pagar. Aime bergegas mematikan kompor. Kareml yang ia buat sudah ia campur dengan air hangat dan sudah ia aduk, hingga tidak ada gumpalan lagi.

“Hai…”
Aime menatapnya.
“Mbak…”
Gadis itu datang dengan celana panjang dan kaos kedomborongan. Rambutnya dikucir apa adanya. Ia bukan lagi gadis pengembala angsa seperti sebelumnya.
Aime mengajaknya masuk.
“Rumahku akan kujual…”
Brus sudah mengatakan hal itu padanya. Brus bilang, gadis itu punya pekerjaan lain di kota.
“Baik-baik saja, Mbak?” tanya itu dilanjutkan dengan tangan yang bergerak masuk ke dalam tas berwarna biru. Lalu sebuah buku dikeluarkan dari dalam tasnya. Diberikan pada Aime. Sebatang Janji. Itu tulisan yang tertera di judul.

“Aku membeli rumah ini, karena aku ingin menghayati kehidupan gadis desa pengembala angsa.”
Baru Aime lihat lebih jelas, senyumnya menghadirkan dua dekik sempurna.
“Dan itu menyenangkan… Buku ini karyaku, Mbak. Sebentar lagi, Mbak bisa lihat filmnya di bioskop. Mbak mau datang, kan, kalau aku kasih undangan pemutaran perdana film-nya?”
Aime membuka sampul buku itu. Sampai pada halaman pertama.
Sebuah pesan sembunyi untuk lelakiku, tetanggaku.
Tangan Aime bergegas membuka halaman yang lainnya lagi.
Ada aroma gula yang melelah jadi karamel. Angsa-angsa yang berteriak. Dan seorang lelaki tersenyum membawa secangkir kopi.
Aime membuka lembaran berikutnya.
Ia akan datang membawakan satu loyang bolu karamel. Lalu kami menyantapnya berdua. Saling tatap.
Sampai di situ, Aime menatap bukunya.
“Aku titip kunci rumah, ya, Mbak. Semua isinya sudah dibeli. Mungkin seminggu lagi pembelinya akan tinggal di sana.”
Aime tahu, ia kehilangan gairah ketika perempuan di depannya memeluknya.
“Salam untuk Brus…”
Salam itu mungkin hilang seperti asap yang ke luar dari knalpot mobilnya.
**

Apakah ia masih perlu bicara lagi pada Brus? Tentang semua isi dalam buku itu, yang membuat Aime menangis diam-diam.
“Aku akan selalu baik-baik saja,” ujarnya sambil mengaduk gula pasir di dalam penggorengan.
Brus di dekatnya. Menundukkan kepalanya.
“Kau sudah membacanya?”
Tidak ada reaksi dari Brus. Tapi setiap gerakan urat wajahnya, Aime hapal. Ada mata yang selalu berharap pemandangan yang sama lewat jendela dapur.
Sebuah pengakuan memang tidak pernah Brus ucapkan. Tapi penghapus yang mencoba menghapus gambar rok berenda itu, sudah jadi tanda untuk Aime. Brus menyesal.
Dan kehidupan mereka harus berjalan kembali seperti biasanya.
Brus kembali sibuk membantunya di dapur. Sebuah toko kue nyata, tidak pernah lagi jadi perbincangan mereka.
Sampai suatu hari.
Aime mendengar suara yam-ayam berkokok di pagi hari. Ia membuka jendela dapurnya. “Sapto namanya…,” Brus berteriak dari dalam kamar mandi. “Ia sudah meminta kunci rumahnya.”
Sapto namanya. Dengan ayam-ayam yang berkokok memekakkan pagi. Dan aroma dedak yang membuat Aime ingin tahu lebih dekat.
“Maaf, pagi Mbak terganggu. Ayam-ayamku selalu bertelur di pagi hari dan…”
Dan Aime tahu. Episode baru dalam hidupnya baru akan dimulai.
Aime tersenyum sendiri, kembali masuk ke dapurnya.
**

Ranting Kesepuluh

Taman fiksi


Please, release me let me go,
Cause I don’t love you anymore….

Lalu sekian menit lagi, Jun akan sampai. Pada sebuah ranting, di mana akan ia letakkan semua bahan yang diperlukan.
Pada ranting kesepuluh, akan ia letakkan beberapa biji keluak bersama dengan bumbu dapur yang lain.
Jun memandang berkeliling.
Hamparan tanah kosong dekat sebuah rumah. Tanpa tumbuhan besar lain. Tapi rumpun serai tumbuh sempurna di pinggiran lahan itu.
“Rawon. Aku mau masak rawon…”
Ibu akan meminta Jun membawakan apa saja. Bumbu rawon, bumbu pecel dan bahan masakan lainnya. Lalu seperti dulu, beliau akan mengajak Jun duduk di depan cobek besar, yang katanya berasal dari batu-batu gunung. Jun ingat cobek itu pernah ia jadikan tempat duduk dan sebuah sabetan berkali-kali mengenai paha kecilnya.
“Kue sus atau apa yang kamu mau makan, Le?”
Jun menarik napas panjang.
Pada ranting kesepuluh, Jun pernah hampir jatuh ketika mengambil sesuatu di sana. “Jangan ambil yang bukan hakmu,” begitu yang Ibu katakan. Maka ranting-ranting lain, tempat di mana sesuatu yang Ibu berikan untuk semua saudaranya, tidak pernah Jun sentuh, apa lagi berniat melongoknya. Atau mengambilnya.
Ranting kesepuluh, pada sebuah pohon mangga yang hampir mati. Pohon mangga di depan rumah yang daun-daunnya sudah luruh sempurna. Ranting kesepuluh itu ada di bagian tengah.
Ada bale-bale bambu di bawah pohon itu yang membuat Jun harus naik ke atasnya, dan meletakkan satu tas plastik pada ranting kesepuluh.
“Setiap ranting untuk satu cinta…”
Setiap ranting untuk satu anak, satu cinta. Biar utuh setiap cinta dibagi, begitu yang Ibu selalu katakan. Tapi cinta itu tidak terbalas sempurna.
Jun mendapati ranting kesepuluh. Ranting yang cukup tinggi ketika Jun meraihnya. Tapi Jun bersyukur, karena tempatnya tinggi itu, selalu ada ikatan yang membuat ia berusaha untuk mencapainya.
Sekarang, kaki Jun yang bersepatu kets, sudah membawanya ke depan rumah itu. Tidak ada aroma bumbu masakan yang sudah diolah.
“Bu….”
**
Margie mengusap matanya. Ia berkedip berkali-kali.
Lagu-lagu lawas berkumandang dari dalam ruang tamu. Bahkan lagu itu tidak boleh diganti. Lagu masa kejayaan dahulu, ketika beliau sering menyanyi di panggung.
Margie selalu berdesis pelan, ingin menggantikan suara kaset yang mengalun dengan lagu yang sama semenjak pagi tadi.
“Aku mau rawon….,” suara tua itu memecah keheningan.
Tidak ada biji keluak di sini. Tukang sayur sudah ia pesani, tapi menggeleng. Dan itu artinya ia harus menuju tempat yang lebih jauh lagi.
“Cuma mau itu…”
Sepiring nasi, dengan sayur bayam tidak tersentuh. Bahkan mata itu tidak menatapnya.
“Kamu siapa?” tanyanya pada Margie.
Sekarang mata Margie berkedip lagi.
Menunggu Jun mungkin tidak akan pernah usai.
**

Lalu pada ranting kesepuluh Jun akan menyiapkan banyak hal selain bumbu masakan yang dipesan.
“Rawon itu pakai daging sandung lamur…”
Jun memandangi ranting kesepuluh. Matanya berkedip-kedip. Ibu akan naik ke atas bale bambu lalu mengambil tas itu. Kadang Ibu menggeleng, ketika bahan yang Jun bawa tidak komplit.
Pada ranting kesepuluh semua kenangan sempurna Jun dapatkan. Terlebih ketika ranting-ranting yang lain perlahan kering dan lepas dari tangkainya. Sembilan kakak pergi setelah menikah.
Tidak ada perpisahan. Tidak ada pertemuan kembali. Mereka hilang, meninggalkan Jun dan Ibu dalam kesunyian.
“Bu…”
Jun harus menarik napas berkali-kali. Membayangkan aroma sambal terasi yang biasa Ibu buat, untuk menemani rawon buatan Ibu, sungguh membuat perut Jun merasa lapar.
**
Margie tidak akan hadir sebagai siapa-siapa. Ia hanya hadir sebagai sebuah pelengkap. Tidak lebih dari itu.
Daun jeruk, serai dan lengkuas sudah Margie cuci.
Beberapa butir bawang merah dan bawang putih sudah bersih dari kulitnya. Teronggok di dalam wadah bercampur dengan kemiri juga daun salam.
Please release me let me go…
Kepala Margie menggeleng beberapa kali.
Beberapa butir biji keluak, akan membuat air kuah itu menjadi hitam. Kepala Margie menggeleng lagi beberapa kali.
Sebuah air kuah yang hitam. Seperti aliran selokan di depan rumahnya. Setiap hujan air itu meluap masuk ke dalam rumah. Menyisakan bermacam-macam omelan yang tidak berhenti.
Margie pernah masuk ke dalam selokan yang hitam itu, ketika meminta uang jajan, dan Ibu baru saja kena tempeleng Bapak yang baru kena pecat pabrik tempatnya kerja.
Perih itu selalu terasa.
Let it go…
Let it go….

Margie bergumam beberapa kali. Mengikuti kalimat yang sering ke luar dari mulut Mbak Yos, penjaga toko CD di pasar. Matanya memandang ke luar. Ada cobek besar di hadapannya. Ia sudah memasukkan cabai merah dan garam di sana.
“Aku mau yang lain….”
Ia selalu mau yang lain. Yang lain itu bukan masakan darinya.
Kelopak mata Margie mulai berair. Biji keluak akhirnya ia dapatkan tadi, setelah membongkar isi lemari di dapur. Ada tiga simpanan biji keluak di sana. Margie mengguncang-guncang biji keluak itu untuk mengetahui apakah isinya masih padat atau tidak. Lalu ia mengambil palu dan memukul agar kulit biji itu terbuka. Sebuah air mendidih sudah ia siapkan untuk merendam biji itu. Margie sudah bersiap menggunakan sarung tangan, agar warna hitam ketika biji itu dikupas, tidak menodai kulit tangannya.
**
Jun berhenti.
Seorang kedengaran memanggil namanya. Ia urungkan niatnya melangkah masuk ke dalam ruangan yang pintunya terbuka lebar.
Kepalanya menoleh.
Ranting kesepuluh itu masih tersisa. Sebuah tas plastik hitam ada di sana. Jun tersenyum sendiri.
“Bu..,” kali ini suaranya mulai ke luar. “Aku pulang….”
**
Jun memang selalu pulang. Margie mengedipkan kelopak matanya. Lalu nanti mereka berkumpul bersama.
Jun sebelumnya akan naik ke atas bale-bale lalu mengambil plastik hitam yang tergantung di sana. Margie yang sengaja menaruhnya di sana. Ia mengisi dengan apa saja. Dan Jun selalu membayangkan bahwa yang di dalam tas itu adalah semua bahan untuk diolah, yang bisa membuat senyum perempuan tua itu merekah sempurna.
Aroma kuah rawon membuat Margie harus berlari cepat ke belakang. Ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa kuah rawon itu berwarna kuning bukan hitam. Ia harus memaksa dirinya sendiri, membuat ia seolah menjadi buta warna, agar ingatan akan hitamnya masa lalunya tidak membuat ia mual dan ingin muntah.
Lalu ia akan mendorong pintu. Masuk ke sebuah ruangan. Sendiri meratapi nasibnya.
Jun dan ibunya akan saling tersenyum. Bicara entah apa yang mereka bicarakan. Tidak. Mereka berkumpul tapi tidak pernah terlontar pertanyaan untuknya, apakah ia baik-baik saja selama ditinggal?
Please…, release me let me go…
Cause I don’t love you anymore
To waste a life will be sin

Kali ini kaset itu mengulang lagu dari awal.
Margie terbatuk.
Sebuah kenangan menari-nari di benaknya. Tentang ranting kesepuluh. Pada ranting di depan sebuah rumah ia menemukan cinta. Ketika itu layangan yang ia mainkan tersangkut di sana.
“Hai…”
Anak lelaki kecil itu tersenyum pada Margie. Lalu naik ke atas pohon, mengambil layang-layangnya.
“Aku, Jun…”
Margie mengerti. “Aku Margie.”
Namanya Jun. Tinggal berdua dengan ibunya.
“Kamu mau ikut makan?”
Margie melongok. Di rumah ia kekurangan makan. Bapak sering pergi dan tidak meninggalkan uang untuk Ibu. Ibu sering berteriak, mengamuk setiap kali ia bilang lapar, lalu akan mendorong tubuhnya ke dalam selokan hitam.
Ia harus menolong dirinya sendiri, sebab semua tidak ada yang bisa membantu.
“Ayo masuk…”
Margie masuk ke dalam.
“Makan di sini…”
Seorang perempuan separuh baya tersenyum padanya. Menyuguhkan banyak makanan.
“Ibuku pintar menyanyi dan suka terima pesanan makanan…”
Ibu Jun suka terima pesanan makanan. Dari kue basah hingga kue kering. Dari sayur yang bahannya mudah didapat hingga sayur yang bahannya sulit didapat.
Jun selalu makan apa yang tidak pernah Margie makan. Dan rawon adalah menu yang selalu ada hampir setiap hari di meja makan itu.
Margie bahagia setiap kali berada di sana. Ia tumbuh, berkembang lalu memiliki mimpi di sana. Meskipun mimpi itu kadang membuatnya teriris karena ia tak punya jari jemari yang bagus untuk membuat racikan yang pas di mulut tua itu.
Lalu ia dan Jun akrab dan jatuh cinta. Lalu Margie merasa ia mulai bisa melihat masa depan bersama Jun. Lalu Ibu dan Bapak memang dengan sukarela melepasnya pergi agar hilang tanggung jawab mereka sebagai orangtua.
“Menikahlah denganku…”
Apakah ada lelaki lain sebaik Jun? Lelaki yang tidak pernah menempeleng kepalanya seperti Bapak menempelengnya.
Margie mengangguk. Mereka menikah. Ia bisa melanjutkan sekolah. Ia punya dunia yang bahagia. Meski hanya sejenak ia rasakan.
**
Please release me let me go….
Margie menyaksikan Jun mendorong pintu rumah.
“Bu…”
“Yo, Le….”
Margie menarik napas panjang di sudut sana.
Dua orang yang sudah sempurna hidup tanpanya. Yang satu memasuki usia senja, pikun, dan tidak pernah paham kalau ia adalah seorang menantunya. Seorang lagi lelaki muda. Dokter bilang ingatannya memudar bersama bertambahnya waktu. Sebuah benturan membuat bagian otak Jun, mengalami trauma.
“Bu…
“Yo, Le…”
Rawon buatan Margie nanti, menjadi pengingat yang merekatkan mereka berdua. Margie sadar, sesungguhnya ia tidak pernah ada.
And please release me let me go

Margie tahu ia harus segera memutuskan. Bertahan atau memutuskan pergi dari pengorbanan ini.
**

Pada Batang Kayu yang Rapat

Femina

“Selalu ada kenangan. Maka kenanglah…”
Trinil merasakan labirin di museum Ullen Sentalu membuat kepalanya menghadirkan dentuman yang membuat ia harus memijit keningnya berkali-kali.
“Selalu ada ingatan tentangku, maka ingatlah…”
Sebuah pintu tertutup beringin. Hawa dingin Kaliurang mulai dirasakan menggigit. Hanya ada gerimis kecil. Ia dan rombongan lain harus menunggu giliran untuk masuk ke dalam pintu museum. Pintu yang tertutup sulur beringin itu belum juga terbuka, tanda pengunjung yang ada di dalamnya belum menyelesaikan kunjungannya.
Sebuah meja kecil dan pengeras suara. Karcis-karcis yang disobek. Lalu kepala rombongan yang melongok ke pintu kayu yang masih tertutup.
Sekarang, penjaga karcis sudah berdiri. Menggunakan pengeras suaranya. Lalu mengumumkan bahwa lima menit lagi pintu masuk itu akan terbuka.
Sebuah pintu masuk dari kayu jati tanpa polesan plitur dibuka. Trinil memilih tempat paling sudut. Beberapa pengunjung saling berpasangan. Mereka bergandengan tangan, seolah akan memasuki sebuah tempat rahasia.
Ada seorang pemandu wisata yang akan memandu 20 orang wisatawan. Sekarang pemandu wisata berdiri di atas anak tangga dari batu. Pandangan matanya menerawang ketika memberi penjelasan dan meminta semua wisatawan untuk berdoa.
Nanti mereka akan melewati jalan berbentuk labirin yang akan membawa mereka pada satu tempat ke tempat lain. Ada pintu masuk lain seperti gua dan tangga menurun dengan cahaya lampu yang remang yang juga harus mereka lewati..
Trinil berdiri di dekat arca batu dan sepasang kekasih yang saling melempar senyum. Mungkin mereka sedang berbagi resah dan ketenangan. Seperti dulu resahnya selalu dapat ditenangkan oleh Yas.
“Sebut saja namaku berkali-kali sebagai bagian dari doa.”
Mereka sudah mulai berjalan. Menaiki anak tangga, lalu menuju lubang berbentuk gua. Ada beberapa anak tangga menurun dengan cahaya yang remang-remang.
Trinil seperti dibawa ke sebuah masa bernama masa lalu.
**
Mimpi Mbok dan mimpinya memang tidak pernah sama. Sejak dulu selalu begitu.
Trinil mengaduk-aduk ampas teh yang masih tersisa.
“Kamto baru pulang dari kota…”
Trinil menarik napas panjang. Kamto baru pulang dari kota. Sis baru saja panen tembakau. Lalu Kur baru panen jati. Siapa dari ketiganya yang mau Trinil pilih? Mbok akan membukakan pintu lebar-lebar untuk menerima pinangan mereka.
Trinil tersenyum kecut.
“Yang kamu suka, bisa apa?”
Trinil kali ini menunduk. Tiga lelaki yang Mbok sebutkan tidak membuatnya jatuh cinta. Mereka pamer motor baru ke rumah. Lalu janji akan memberikan Mbok baju baru, sawah dan lainnya. Trinil hanya perlu jadi istri yang patuh. Ikut dengan mereka. Tidak perlu punya mimpi lain.
“Yang kamu suka, lelaki yang tidak bisa memberimu apa-apa,” Mbok bicara seperti berbisik di dekat telinga Trinil.
Di seberang sana, di rumah yang atapnya hampir rubuh, seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Ada topi rajut yang pernah Trinil berikan untuknya. Laki-laki yang hidup sebatang kara sejak remaja. Bapak ibunya tewas terkena demam berdarah.
“Dia bisa apa?”
Trinil semakin menunduk. Yas tidak bisa apa-apa. Tidak bisa kasih oleh-oleh untuk Mbok. Tapi Yas bisa membawa banyak cerita untuk Trinil.
“Baca..,” ujar Yas memberikan sebuah buku pada Trinil. “Nasibmu mau berubah, toh?”
Jalanan desa yang becek suka mereka lewati. Mimpi Trinil tidak boleh berhenti hanya sampai jadi pembuat cobek dari batu-batu kali seperti para tetangga yang lain.
“Dia bisa apa? Kamto bisa bangun rumah besar…”
Jalan desa yang sepi. Di desa Kinahrejo di lereng Merapi, hanya sebagian jalan yang rapi. Jurang di kanan kiri membuat Trinil tidak berani bermimpi. Pergi jauh juga tidak pernah ia lakukan. Tapi Yas membuka matanya dengan puluhan buku yang Yas bawakan dari kota.
Kali ini, Trinil melirik lagi. Yas kembali melambaikan tangan padanya. Ransel besar sudah ada di tangannya.
Kerjanya tidak ada yang tahu, tapi Trinil tahu. Ia suka membantu dan pergi ke daerah bencana. Uangnya memang tidak banyak, tapi ia pintar.
Yas selalu menarik Trinil ke hutan jati di pinggir desa. Lalu ia meminta Trinil menulis mimpinya pada sebuah kertas dan ditempelkan pada setiap batang jati.
“Kalau kertasmu hilang, itu artinya mimpimu bisa jadi kenyataan.”
Maka kertas-kertas itu pun hilang ketika keesokan harinya Trinil datang kembali.
“Itu artinya kamu harus semakin banyak menulisi mimpimu.”
Batang-batang pohon kayu jati yang berdiri hampir rapat dan tidak beraturan itu menjadi saksi bisu. Bahwa Trinil menulis nama Yas pada sebuah kertas. Lau menempelnya. Tidak banyak kata-kata yang Trinil tulis. Hanya sebuah gambar berbentuk hati. Lalu nama Yas dan Trinil tertulis di dalamnya.
**
“Gusti Nurul…, perempuan tercantik di zamannya. Dikagumi oleh orang Eropa.”
Trinil sudah sampai di ruangan lain. Kantor menugasinya untuk membuat liputan lengkap tentang museum Ullen Sentalu. Museum yang menghadirkan sejarah Jogja dan Solo ini, tidak menarik teman yang lain. Trinil menunjuk dirinya agar ia yang mendapat tugas liputan itu.
“Perempuan cantik itu kalau pintar…”
Sebuah kursi Trinil sentuh. Kursi Kanjeng Gusti Nurul sama persis dengan kursi yang ada di foto.
“Perempuan tegar…,” ujar Yas sambil menunjukkan otot bisepnya pada Trinil. “Aku mencarinya.”
Pipi Trinil bersemu kemerahan. Lalu mereka tertawa bersama.
Tapi ia pernah berhenti terkikik ketika Yas menyelinap ke dapur rumahnya.
Matanya bengkak. Hidungnya berlumuran darah. Kelopak mata Trinil mengerjap beberapa kali. Tempat persembunyian itu ada di dapur rumahnya, di belakang rak berisi kayu bakar.
Di luar suara-suara terdengar memanggil-manggil namanya. Lalu hiruk pikuk bicara soal motor yang baru saja hilang di kampung.
“Aku mencuri motor seorang yang mau bawa temanmu ke kota buat dijual, jadi perempuan penghibur.”
Api di tungku masih menyala. Trinil mengambil kayu berlubang. Meniup pelan-pelan, agar kayu bakar yang masih membara bisa kembali menyala. Ia akan memasak air lalu menyediakan kopi.
Luka-luka di wajah Yas, akan ia bersihkan dengan air hangat nanti.
“Berhenti mengenang apa yang seharusnya tidak boleh dikenang.”
Trinil menarik napas panjang.
Berlembar-lembar batik dan penjelasannya masuk ke telinganya dan rekaman di telepon genggamnya. Tidak boleh ada kamera di museum itu, kecuali di tempat-tempat tertentu.
Ada bayangan manis tentang batik yang membuat Trinil meringis.
Waktu Bapak meninggal, Yas mengambil batik dari lemari. Lalu memberikan pada Trinil. Batik motif parang rusak itu membuat mata Mbok melotot pada Trinil. Tapi tidak ada lagi kain bagus yang bisa dipakai.
“Sepanjang pernikahan, aku dan bapakmu terus bertengkar. Pada saat terakhir kami juga masih saling benci,” ujar Mbok berurai air mata.
Trinil mengerti. Mbok percaya pada symbol dalam motif batik. Bahwa pernikahannya dengan Bapak yang selalu diisi pertengkaran adalah karena motif batik itu yang dipakai Bapak dulu sebagai penganten.
Bayangan Yas melambaikan tangan padanya sepuluh tahun yang lalu terus terbayang. Topi ungu, ransel besar dan kalimat tegas padanya.
“Kamu harus jadi perempuan pintar. Aku jual rumahku dan semua uangnya buat sekolah kamu. Suatu saat kamu harus jadi perempuan pintar. Dan…”
“Dan apa?”
“Dan kita menikah.”
Rumah warisan Yas terjual. Uangnya diberikan utuh pada Trinil. Bahkan Yas menolak ketika Trinil akan memberikannya separuh.
“O alah…, iki jenenge tresna, Nduk…,” ujar Mbok memeluknya sambil berurai air mata.
Lalu mereka berpisah. Dan tidak pernah ada lagi pertemuan.
**
Ada banyak masa ketika Trinil menangis pada saat melihat berita di televisi. Erupsi Merapi dan rumah Mbok yang terkena erupsi. Ratusan pengungsi. Ratusan desa di lereng Merapi dan tubuh Mbok yang terlambat untuk diselamatkan.
Trinil mengusap matanya. Memalukan jika air matanya tumpah. Keputusan untuk pergi dari desa adalah keputusannya dan Mbok mendukungnya penuh. Mbok berbisik padanya. Agar Trinil memberikan bukti nyata dan Mbok akan selalu mendoakan.
“Kita istirahat sejenak…”
Suara itu memecah lamunan Trinil. Ia seperti berjalan di ruang hampa tadi dan tidak sadar mereka sudah sampai di ruangan besar dengan kursi dan meja juga nampan berisi cangkir yang diisi dengan minuman bernama wedang uwuh.
“Mbak…,” sekarang Trinil mendekat pada pemandu wisata. “Saya butuh mendokumentasi ruangan dan gambar dalam museum ini. Bisa?” Trinil menunjuk kamera yang tergantung di lehernya.
“Nanti bisa bicara lagi dengan atasan saya,” ujar pemandu wisata itu sambil menunjuk ke sebuah ruangan.
Trinil mengangguk sambil tersenyum.
Trinil meneguk air di dalam cangkirnya. Rasa jahe dan kayu secang yang berwarna merah terasa menyegarkan mulutnya.
“Jika aku pantas dikenang, maka kenanglah…”
Maka kenangan itu yang membuat Trinil menuju sebuah tempat penyewaan jeep. Ia akan menuju lereng Merapi untuk membuktikan rasa terima kasihnya. Meski emosi di hatinya mengaduk-aduk perasaannya.
**
Gerimis masih turun ketika akhirnya Trinil menaiki jeep menuju Merapi. Jeep tanpa atap dan tiga penumpang lainnya yang tidak Trinil kenal. Mereka kesenangan ketika supir jeep mengajak mereka merasakan sensasi. Satu ban jeep menaiki batu besar sehingga jeep setengah miring.
“Tidak akan ada yang terganti.”
Yas tidak akan pernah terganti, memang. Dan Trinil selalu percaya. Tahun-tahun panjang untuk percaya adalah tahun yang berat.
Jeep itu sudah berhenti di banyak tempat. Rumah Mbok dulu yang tidak terlihat jejaknya. Kuburan massal yang membuat Trinil menolak turun ketika penumpang lainnya ikut turun.
Sekarang mereka berhenti di tempat lain untuk menuju sebuah bunker Bunker itu ada di bawah seperti gua. Trinil harus menuruni beberapa anak tangga. Melewati genangan air sebatas mata kaki. Lalu masuk ke dalam ruangan gelap tanpa cahaya. Di atas tadi ada beberapa orang yang menyewakan senter, tapi Trinil tidak membutuhkan hal itu.
“Percayalah padaku, Trinil.”
Trinil selalu percaya. Pada Yas yang pergi dan tak pernah kembali. Pada tekad bulat Yas untuk menjadi seorang sukarelawan, hingga akhirnya Yas terperangkap dalam bunker bersama pengungsi lain. Nyawanya tidak terselamatkan. Tubuh mereka hangus di dalam bunker.
Hawa dingin gunung Merapi menyergap.
“Terima kasih. Aku perempuan kuat sekarang, Yas,” bisik Trinil.
Gerimis di luar sudah berhenti. Matahari kembali muncul. Trinil yakin, Yas mendengarnya.
**

Serpih

10492548_10152949405708591_6728867720945752305_n

“Jauhkan dia sejauh-jauhnya.”
Kalimat itu masih saja terucap dari mulut Luli ketika mukenanya ia lipat. Dan ia berada di depan cermin.
“Jauhkan…,” kali ini mulutnya bicara sendiri. Lipsgloss warna pink. Bedak padat setelah alas bedak ia kenakan.
“Jauhkan..,” ia terbatuk sekarang. Lalu berjalan ke arah anak tangga. Naik hingga hitungan anak tangga kesepuluh.
“Benci itu sesuatu,” ujarnya. Melepaskan sebuah karet yang ia jepretkan dari tangannya, menuju sebuah foto yang tertempel di dinding kamar atas.
Lalu ia tersenyum puas.
**
Karirnya tidak pernah melesat sempurna. Sebagai reporter yang sudah berpindah kerja di tiga media berbeda, Luli tetap menjadi reporter saja. Media kecil bukan media besar.
Sekarang kakinya melangkah. Ada banyak hal yang harus ia lakukan sejak pagi. Dan dari sekian banyak hal itu adalah harus berhadapan dengan Bara. Tidak ada yang salah dengan Bara. Dia bukan siapa-siapa. Bukan pesaingnya di dunia kerja.
Luli mengenakan jilbab berwarna biru bermotif bunga. Berjalan dengan cemberut.
Turun dari angkutan umum, ia harus berjalan masuk ke gang. Lurus lalu berbelok lagi dan berhenti di gang yang lebih sempit lagi.
Luli menggelengkan kepalanya sendiri. Sebenarnya konyol apa yang sudah ia lakukan. Tapi ia harus melakukannya.
**
Tidak banyak yang tahu tentang Bara. Bahkan teman sekolah mereka juga pasti sudah lupa lelaki itu. Tapi lelaki itu lekat dengan Luli.
Ada banyak hal yang membuat mereka dekat. Sejak sekolah dasar, berlanjut hingga sekolah menengah pertama. Berpisah lalu bertemu lagi di tempat kuliah.
Segalanya biasa. Banyak yang bilang itu pertanda jodoh. Tapi tidak untuk Luli. Mereka tidak berjodoh.
Mereka pernah dekat, tapi Luli sadar Bara hanya memanfaatkan dirinya saja. Tapi konyolnya sampai sekarang ia tidak pernah bisa melepaskannya.
Bara pintar, Luli seadanya saja. Banyak tugas-tugas kuliah terutama mata kuliah khusus penulisan, bahkan sampai tugas akhir membuat sebuah koran, dikerjakan oleh Bara untuknya. Imbalannya ada. Bukan uang. Tapi puisi-puisi ciptaan Luli yang Bara minta sebagai bayaran.
Bara bilang, dengan wajah pas pas an yang dimilikinya, sebuah puisi akan mampu membuat banyak gadis bertekuk lutut.
Dan bodohnya Luli, sebagai gadis yang pernah jatuh cinta, menyetujui hal itu. Mereka bertukar pekerjaan. Luli harus membayar setiap pekerjaan yang Bara kerjakan untuknya dengan sebuah sampai dua puluh puisi. Puisi-puisi itu Bara bukukan atas nama Bara.
Langkah Luli akhirnya sampai di gang sempit yang membuat Luli harus berjalan pelan dan minggir ke tepi , karena gang itu hanya cukup dilalui dua orang saja, hingga akhirnya Luli berhenti. Sebuah rumah kecil, dengan beberapa ember di luar.
“Cari siapa?”
Luli mencoba untuk tersenyum. Aroma perkampungan padat membuat ia harus pintar menjaga sikap.
Seorang lelaki muncul dari dalam. Menyodorkan sesuatu. Sebuah amplop. Untuk kemudian Luli juga menyodorkan amplop untuknya. Kemudian ia pergi.
Ke luar dari gang sempit itu Luli harus mampir ke sebuah warung. Teh hangat bukan untuk menyegarkan tenggorokannya.
Ada wawancara penting kemarin. Dan sekarang semuanya tinggal diolah ulang.
Luli tersenyum sendiri. Berjalan menuju kantornya.
**
“Tulisanmu semakin keren…”
Luli melirik pada Ambar. Mereka masuk hampir bersamaan. Ambar yang baru lulus kursus jurnalistik, dan Luli yang membawa rekomendasi beberapa tulisannya yang sudah dipublikasikan. Sebenarnya itu juga tulisan Bara. Kerja di tempat sekarang juga karena Bara punya informasi tentang lowongan reporter di sana.
“Sudah naik sekarang, ya?”
Luli tidak mengerti.
“Wawancara tokoh politik, bukan lagi wawancara artis dangdut.”
Luli mengangguk.
Pertama kali bekerja ia dimintai memawancarai penyanyi dangdut. Bara menertawainya. Dan Luli mencoba menikmatinya.
Luli bahkan sampai hapal pertanyaan yang harus dilotantarkannya. Jam berapa bangun, siapa pacarnya, selingkuhan pejabat siapa, dan berujung pada ajakan melihat lemari pakaian artis itu.
“Belajar dari buku apa?”
Luli menggelengkan kepalanya. Ambar semakin cerewet sekarang. Wawancara kemarin sudah siap semuanya ia kemas. Tinggal kasih pimpinan redaksi. Tidak ada buku di meja kerjanya seperti setumpuk buku tebal di meja Ambar. Luli memang lebih memilih memahami Kahlil Gibran atau kembali membaca Hujan Bulan Juni Sapardi sambil meresapi maknanya dalam-dalam.
“Nanti malam ada liputan lagi..”
Luli mengangguk.
“Mau naik apa?” tanya Ambar ketika Luli sampai di pintu depan.
Untuk reporter yang akan liputan di luar, media tempatnya bekerja menyediakan kendaraan. Luli bisa memilih. Kendaraan dari kantor atau kendaraan umum yang nanti bisa diminta uang gantinya. Itu juga biasanya Luli malas untuk menghitung dan minta ganti.
“Ada pertemuan penting di gedung KPK.”
Luli mengangguk. “Aku ke tempat yang lain.”
“Tapi hari ini jatahnya liputanmu ke sana.”
“Sedikit siang saja. Setelah pulang dari liputan fashion show…,” ujar Luli sambil berlari.
Bicara dengan Ambar terlalu lama, akan membongkar segala rahasianya.
“Fashion show apa?” Ambar masih bertanya.
“Hijab…,” kali ini Luli sudah berlari menyeberang jalan dan menghentikan sebuah taksi.
**
“Kamu tidak bisa apa-apa.”
Luli mengusap wajahnya.
Ia memang tidak bisa apa-apa. Dan tidak pernah bisa. Satu hal yang paling ia bisa hanya menjadi pendengar yang baik, bukan penulis yang baik.
“Apa yang kamu bisa?”
Di dalam taksi matanya memandang ke luar. Supir taksi yang ditumpanginya tidak cerewet. Mungkin tahu, wajah cemberut Luli bisa menjadi jawaban, bahwa ia tidak ingin diganggu.
Dia memang dianggap tidak pernah bisa apa-apa. Bapak selalu mengatakan hal itu padanya. Luli dulu suka sekali menulis puisi, tapi Bapak bilang, itu puisi jelek yang tidak bisa membuat Luli hidup dengan baik.
Bapak ingin Luli bisa menulis, jadi wartawan hebat seperti Bapak. Tapi nyatanya Luli tidak pernah bisa jadi itu semua.
Luli mengedipkan kelopak matanya.
Bara dan Bara. Ia dekat dengan Bara tapi sesungguhnya jauh. Ia butuh Bara, tapi Luli tahu kebutuhan itu harus segera dihentikan.
Ia tidak bisa apa-apa yang membuat ia tergantung pada Bara. Setiap kali habis mewawancarai nara sumber, ia akan mendatangi Bara lalu memberikan hasil wawancara itu. Bara akan mengolahnya menjadi sebuah tulisan untuknya. Bayarannya adalah sepuluh sampai dua puluh puisi karya Luli yang akan Bara jadikan buku, atau kirimkan ke media atas nama Bara. Penyair Bara. Luli tahu Bara bangga dikenal sebagai seorang penyair.
Itu kerjasama dengan cara saling menguntungkan. Tidak ada yang dirugikan seharusnya. Bapak bangga ketika Luli kerja sebagai reporter, meskipun Bapak tidak pernah tahu, untuk lulus pun Luli membayar Bara bukan hanya dengan puisi tapi ratusan ribu demi agar skripsinya tuntas dikerjakan.
Sampai beberapa minggu yang lalu, ketika kantuk begitu menyerangnya dan Luli harus mendengarkan kembali hasil wawancaranya, radio di kamarnya yang tidak ia matikan, mengumandangkan sesuatu.
Ceramah agama tentang harta yang tidak berkah. Buku puisi Bara yang berisi seluruh puisi Luli, meski laris manis, tapi tetap tidak bisa membuat hidup Bara berubah. Lelaki itu tetap hidup mengontrak di gang sempit, bukan di tempat yang lebih layak.
Dan ia sendiri?
Karirnya terseok-seok tidak seperti Ambar. Ambar sudah ditugaskan keliling daerah bahkan sampai wilayah yang terpencil, sedang ia tetap di tempat yang sama. Tugas paling jauh di luar kota. Bukan untuk meliput kegiataan pejabat penting setara menteri, tapi untuk meliput panggung dangdut yang ambruk di sebuah kampong dan satu orang penyanyinya tewas seketika.
“Mbak…, tadi turun di mana?”
Taksi itu sudah menepi. Luli menarik napas panjang. “Di depan sana, Pak. Halte depan mall.”
Taksi itu berjalan lagi.
Luli ingin mendinginkan pikirannya dulu sambil belajar menulis. Iya, ia ingin konsentrasi belajar menulis.
**
Luli terlambat sampai di kantor. Lalu terlambat juga sampai di tempat liputan. Tidak ada acara fashion show yang ia datangi. Tapi sampai di kantor ia mendapati Ambar memeluknya kuat-kuat.
“Aku diangkat jadi atasan para reporter.”
Bola mata Ambar kelihatan bercahaya. Gadis bertubuh kurus itu kuat ambisinya dan ia mau belajar keras untuk itu.
“Mau aku traktir kopi atau…”
“Sebuah pengakuan,” ujar Luli pada akhirnya. “Boleh, kan?”
Ambar mengangguk. “Di warung kopi atau…”
“Di mana saja,” ujar Luli mantap.
Apa yang harus ia katakana? Memulai suatu hal yang menyakitkan atau…
“Aku tidak berbakat,” ujar Luli pada Ambar ketika mereka sudah sampai di tempat yang dituju. “Aku mungkin berbakat mendengarkan cerita orang lain, merekamnya, tapi aku tidak berbakat untuk menuliskan dalam bahasa panjang, seperti tulisanmu.”
Ada getuk berwarna hitam dengan taburan kelapa. Ambar memilih rumah makan getuk yang berada tidak jauh dari kantor.
“Aku tidak berbakat…”
Ambar mengelus punggung Luli. “Aku tahu.”
Kaget Luli mendengarnya. “Kamu tahu?”
Ambar mengangguk. “Aku ada di sebelah mejamu. Aku sering melihat puisimu, tercecer di bawah lantai. Beberapa aku kumpulkan,” Ambar membuka tasnya. Memberikan pada Luli. “Ini baru sebagian.”
Luli membacanya.
Sebuah puisi mungkin tidak bisa membuka semua rahasianya. Tapi kalau terkumpul lebih dari sepuluh lembar kertas berisi puisi, yang membacanya pasti akan tahu jeritan hatinya.
“Ajari aku untuk menulis puisi sebagus ini.”
Luli kaget.
“Aku akan ajari kamu menuliskan hasil wawancara dengan baik. Kamu punya potensi, kok.”
“Tapi…”
“Dan seorang yang selalu menerbitkan buku-buku puisi atas namanya padahal itu puisimu, mari tinggalkan.”
“Kamu tahu?” kalimat itu meluncur cepat dari mulut Luli.
Ambar mengangguk. “Sudah kubilang aku pengagum puisimu. Lelaki itu, namanya Bara. Aku pernah mewawancarainya juga untuk rubrik tentang seorang penyair. Dan kamu tahu.., penyair yang baik akan bisa menciptakan puisi dengan cepat. Tapi ia tidak.”
“Tapi…”
“Namanya Bara. Kalau kamu mau, Papa bisa membantumu mengurus hak puisi-puisimu… Kamu dimanfaatkan.
Luli menggeleng tegas. “Aku juga berutang padanya. Aku juga memanfaatkannya.”
“Siapa bilang? Beberapa teman pernah cerita tentang wawancara yang kamu berikan pada Bara, lalu mereka diminta Bara untuk mengerjakannya. Hasil tulisan mereka jelek, aku yang merevisinya sebelum sampai ke tangan pemimpin redaksi, sambil berharapan suatu saat kamu akan sadar.”
“Kamu baik,” Luli mulai menangis.
Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Secangkir kopi di depan Luli sudah hampir habis. Ampasnya kelihatan dari luar.
“Habis ini, aku ajari kamu menulis lebih baik lagi,” Ambar tersenyum.
Luli tersenyum. Ada beban yang tiba-tiba terangkat dan membuatnya begitu ringan.
Mungkin lebih baik ia anggap Bara itu masa lalu dan serpihan kaca yang terkena kakinya. Harus dilupakan dan dibuang ke tempat paling jauh.
**