Pada Bayangan Stupa di Borobudur

Riama menghentikan langkahnya. Kaki kecilnya berhenti pada sebuah anak tangga. Lalu menoleh ke belakang sambil tersenyum.
“Siapa yang bisa naik ke atas lebih dahulu…”
Riama tersenyum. Puluhan anak tangga. Dari satu relief ke relief lainnya. Alvin sengaja memberikannya setumpuk majalah lama. Lalu bercerita tentang beberapa relief di candi.
“Porno…,” ujar Riama berapa kali menunjuk gambar di majalah.
“Iya. Porno. Pelajaran kehidupan. Kita toh tidak melakukan seperti itu.”

Riama berdiri.
Menarik napas panjang. Solo Magelang ditempuh dalam waktu enam jam. Bermacet ria dalam sebuah mobil, masih harus antri di pom bensin demi untuk mengantri di toilet kecil.
“Kenapa ke Borobudur?”
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa bangunan gagah bernama candi Borobudur itu begitu kuat menariknya. Ia seperti ditarik ke masa lalu keras. Ia seperti ditantang untuk menyelesaikan apa yang sebelumnya tidak pernah selesai.
“Kalau macetnya seperti ini, nanti kita pulangnya lewat jalur alternatif.”
Riama mengangguk saja. Enam jam perjalanan dari Solo menuju candi Borobudur, belum lagi harus kesulitan mencari tempat parkir.
“Apa bagusnya di sini, Ibu?”
Riama hanya tersenyum. Sebuah kenangan yang kadang-kadang masih menelusup masuk ke dalam ingatannya, memang harus dienyahkan dengan sempurna. Dan ini salah satu jalan yang harus ditempuhnya.
Sekarang Riama berada di bagian bawah candi. Memandangi relief-relief yang terpahat pada dinding candi.
Pada satu relief candi yang ia sentuh dengan jemarinya, ia seperti tersengat. Lalu matanya terpejam. Sebuah layar seperti terbuka di benaknya.

Mereka berjalan berdua. Bersisian. Lalu Alvin berhenti. Menunjukkan satu relief.
“Porno!” Riama melotot.
Alvin memang sengaja mengajaknya ke Candi Borobudur untuk meneliti relief candi seperti yang ia baca di buku. Ada banyak hal yang harus diteliti. Alvin juga menjelaskan tingkatan candi. Relief yang berkesan porno semakin ke atas semakin bersih dari hal itu.
“Hidup ini, semakin menuju kepadaNYA, harusnya semakin membersihkan hati.”
Riama mengangguk. Tangannya terus bergerak.

Solo Magelang dengan sepeda motor. Dua jam perjalanan. Dari satu candi ke candi lain. Membiarkan Romo berbisik pada Ibu tentang kecurigaan akan hubungan mereka berdua. Ransel besar Riama berisi catatan. Alvin akan menunjukkan tempat-tempat yang membuat Riama melotot lalu bersyukur. Cuma dengan Alvin segalanya jadi menyenangkan. Alvin memberinya banyak ilmu selain ilmu ilmu yang ia dapat dari bangku kuliah.
“Kamu tahu, kalau bisa menginap di desa sini dan menyaksikan matahari terbit. Ujung candi seperti sebuah teratai di lautan awan.”

Riama tertawa.
Romo membekalinya dengan ketegasan untuk boleh berteman dengan siapa saja, tapi bisa menjaga harga diri sebagai wanita.
“Pernah Santi menginap….,” kalimat itu terhenti.
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa setelah itu relief yang menurut Alvin mengandung banyak daya magis jadi terasa biasa saja oleh Riama.

“Bagaimana aku bisa naik sampai atas?”
Riama membuka matanya seperti tersadar. Film di benaknya berhenti seketika dan membuat ia memandang ke atas.
Borobudur pada musim lebaran dipenuhi lautan manusia. Lalu para menusia itu berebut naik ke puncak, hingga anak tangga dibagi menjadi dua jalur untuk naik dan untuk turun. Beberapa orang membuang sampah seenaknya. Yang lain membuat satpam bekerja lebih keras lagi, karena duduk-duduk di stupa.

“Kamu bisa naik tangga putar dari arah sana…,” sebuah suara menyambut dari tempat lain.
Riama mengangguk.
Lalu terdengar suara langkah kaki berlari. Tidak lama kemudian terdengar teriakan dari atas. “Aku sudah sampai di atas, Ibuuuuu.”
Riama melambaikan tangannya.

Ia pernah sampai di atas. Terengah-engah. Lalu berteriak keras. “Alviiin, aku sudah sampai di atas. Capeeek.”
Seorang Alvin pada saat itu hanya melambaikan tangannya. Tidak lama kemudian menyusulnya ke atas dan bicara. “Nira ingin sekali ke sini. Mau tahu apa benar majalah-majalah dan buku yang aku pinjamkan tentang candi ini. Seperti kamu ia ingin melihat langsung relief candi dari bawah sampai ke atas.”
Riama terbakar.
Ia seperti merasakan mata Romo yang melotot setiap kali ia ijin untuk pergi meneliti candi bersama Alvin. “Kenapa kamu ndak meneliti resep masakan ibumu di dapur biar bisa jadi perempuan yang komplit?”

Matahari sebentar lagi tenggelam. Jemari Riama menyentuh relief candi.
“Kamu di sini terus? Mengenang apa?”
Riama tertawa memeluk pinggang suaminya. Handoko selalu paham perasaannya. Minggu lalu, ketika reuni digelar, Riama tersadar.
Sebuah cerita mengalir dari bibir para temannya tentang Alvin. Play Boy cap kerupuk itu sekarang sengsara hidupnya. Ia menjadi duda yang ditinggalkan istrinya. Pekerjaannya menjadi juru parkir di depan sebuah rumah makan.
“Kadang-kadang kekonyolan masa lalu harus dikenang, untuk membuat kita sadar, betapa beruntungnya kita sekarang,” ujar Riama mengerling pada suaminya.

“Ibuuu…!” sebuah teriakan terdengar.
Tangan Riama terbuka. Dua anak berlarian menuju pelukannya.
Pada bayangan stupa di Borobudur, ia beryukur. Hidupnya tidak sekelam malam tanpa bintang.

Ternyata Bunga Edelweis Punya 10 Fakta Unik yang Jarang Diketahui


sumber:mtrinjanitrekking.com

Pernah berkunjung ke Gunung Gede atau Gunung Bromo dan melihat ada pedagang menjual bunga ungu, pink, atau bahkan warna-warna lainnya, dan ada pula yang berbentuk boneka lucu? Jangan khawatir. Kalau belum pernah, segera pesan tiket Citilink untuk terbang ke Jawa Barat menuju Cianjur, untuk bisa sampai ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kalau ingin tempat yang lebih jauh lagi, kamu bisa terbang ke Malang, dan berangkat ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Semua pasti tahu, bunga yang dijajakan para pedangang itu namanya Edelweis. Edelweis itu yang juga dikenal sebagai bunga abadi. Sebenarnya sudah ada himbauan untuk tidak memetik bunga ini. Di Gunung Gede Pangrango bahkan ada himbauan agar pengunjung tidak memetik bunga yang masih tersisa di sana. Tapi bunga itu memang membuat banyak yang penasaran sehingga masih saja ada yang nekat dan tak mau tahu, tetap memetiknya. Di sekitaran Gunung Bromo sendiri, bunga ini dikabarkan sudah punah. Tapi pada kenyataannya, masih banyak pedagang yang menjajakannya.


sumber:phinemo.com

Bunga Edelweis dalam bahasa latinnya disebut Anaphais javanica Ternyata ada banyak fakta-fakta tentang bunga yang satu ini. Kalau belum tahu, yuk simak fakta berikut ini ;

1. Edelweis dapat mencapai ketinggian 8 meter dan bisa memiliki batang hingga sebesar kaki manusia. Tapi pada umumnya, bungan ini lebih sering tumbuh tidak lebih dari 1 meter.

2. Bunga ini bisa bertahan hidup di atas tanah tandus, karena dia mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang bakal memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya. Hal ini tentu saja bisa meningkatkan efisiensi bunga ini dalam mencari zat hara.

3. Jika ingin melihatnya, kamu bisa datang ke tempat-tempat di mana bunga ini tumbuh, antara bulan April dan Agustus.

4. Bunga ini sangat disukai oleh serangga, termasuk kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, hingga lebah. Hingga 300 spesies serangga diteliti suka berkunjung ke dekat Edelweis.


sumber:jejakalam.net

5. Penelitian menghasilkan pengetahuan bahwa Edelweis bisa tumbuh banyak dengan mudah jika cabang-cabangnya dipotong. Mungkin potongan-potongan itu, ya, yang dijual pada pengunjung?

6. Kamu bisa melihat Edelweis tumbuh indah di kawasan wisata Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).

7. Kenapa dijuluki sebagai bunga abadi? Rupanya Edelweis ini punya hormon tertentu yang bisa mencegah kerontokan bunganya.

8. Bunga ini lebih banyak tumbuh di tempat dengan ketinggian sekitar 2000 mpdl atau lebih, dan tergantung suhu udara dan kelembapan pada ketinggian tersebut.

9. Jika kamu melihat ada bunga edelweis yang diperjualbelikan, biasanya itu merupakan hasil budidaya petani Edelweis, yang biasanya telihat lebih gemuk dan subur ketimbang yang tumbuh di alam bebas.

10. Bunga ini dilindungi, jadi jangan dipetik sembarangan ya. Kamu bisa dihukum dengan Sanksi pidana sesuai yang disebutkan dalam pasal 40 UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.


sumber:kumparan.com

Nah, itu tadi 10 fakta unik bunga edelweis yang mungkin kamu belum tahu. Jika ternyata kamu sudah tahu, jangan lupa berbagi informasinya pada teman-teman yang lain. Atau kamu berniat untuk mengajak mereka melihat langsung bunga ini? Well, langsung saja cek tiket Citilink, dan pilih perjalanan ke Jawa Barat atau Jawa Timur. Kamu bisa berangkat saat long weekend, supaya lebih puas jalan-jalannya.

Then, have a nice trip!

Suatu Hari di Bromo yang Dilumuri Kenangan

Suatu hari, libur mereka menjadi panjang. Hanya bincang-bincang kecil pada awalnya. Tentang anak-anak yang tumbuh besar. Yang besar akan berpisah dan masuk pondok. Ia harus mendapatkan kenangan yang mengikat tentang orangtuanya.

Suatu hari, sebelum liburan mereka saling bicara.
Seorang kepala keluarga yang setiap bulan sakit, pasti ada sesuatu. Berganti-ganti dokter bukan solusi. Mata dan bibirnya setiap bicara selalu bicara tentang kenangan. Masa kecilnya, masa lalunya. Dan itu artinya satu, Si Istri harus memahami kerinduannya pada masa lalunya, yang tidak mungkin bisa diberikan Istri padanya.

“Pulanglah,” ujar Si Istri setiap saat, setiap waktu.
Tapi lelaki itu kelihatan gamang. Pekerjaan dari klien menumpuk. Ketika ada waktu libur, anak-anak butuh biaya yang tidak sedikit pula.
“Pulanglah,” ujar Si Istri.
Hanya ada beberapa orang kakak. Tidak ada lagi orangtua. Bukankah pulang pada saat itu akan terasa sekali berbeda?

Pulang, gagal dan akhirnya berujung pada sebuah keputusan.
“Kita pulang,” ujarnya sambil menunjukkan tiket kereta menuju Malang.
Si Istri mengangguk setuju. Kebahagiaan pasangan adalah kebahagiaannya. Lagipula ada tali kekerabatan yang harus dirajut. Soal dana tidak perlu terlalu dipusingkan. Ada beberapa pekerjaan yang sudah selesai di muka, dan pembayaran akan dicicil beberapa bulan ke depan. Jadi tidak perlu khawatir.

And Bromo…

Suatu hari mereka mengenang. Perjalanan panjang 21 tahun yang lalu. Hanya saling kenal tidak berkelanjutan. Seorang penulis dan ilustrator. Seorang anak muda berambut panjang yang tidak dianggap oleh sang wanita. Tapi jodoh adalah mutlak kuasaNYA.

“Ke Bromo?” tanya Si Suami.
Si Istri mengangguk. Bromo. Ingin anak-anak bisa lebih mencintai alam. Ingin anak-anak merasakan ada kesulitan yang bisa ditaklukkan bersama. Ingin mereka paham bahwa cinta orangtua itu, artinya membuat wawasan mereka bertambah.

Maka semua direncanakan. Bahagia Si Suami adalah membahagiakan keluarganya. Maka Si Istri harus ikut bahagia. Anak-anak juga belajar. Membahagiakan orang lain itu, akan sangat menyehatkan.
Mereka bersama dengan tiga keluarga lainnya dengan mobil Espass tua dan motor naik menuju Bromo.
Anak-anak belajar tentang hidup di ujung maut, ketika mobil Espass tahun 1996, di mana mereka berempat ada di belakang, hampir saja tidak bisa menanjak karena kebanyakan beban. Dzikir mereka mengalun. Takjub disertai syukur ketika menyaksikan pemandangan kabut. Kabut yang menyelimuti cemara,jingga kemerahan. Mobil seperti berada di atas awan.
“Ini namanya negeri di atas awan,” ujar Si Istri sambil melilitkan syal yang dipakainya, karena hawa dingin mulai masuk dari sela jendala mobil tua yang tidak memakai pendingin udara.

Sebuah Home Stay

Jalan masih terus berbelok di tikungan tajam, menanjak dan menurun. Kiri kanan jurang dan kabut tebal mulai datang.
“Kita kesasar?” terdengar sebuah suara.
Mereka melewati jalan alternatif dari Purwodadi. Resikonya jalan akan naik turun, tidak seperti melewati jalan umum dari Lumajang. Jarak memang akan lebih dekat.
“Kita kesasar?”
Beberapa kali mobil berhenti untuk bertanya. Sudah mulai gelap, jalan tidak terlihat. Hawa dingin pun semakin menggigit.
Lampu-lampu mulai terlihat menyala. Vila-vila yang disewakan. Rumah-rumah penduduk yang mulai tertutup pintunya.

Mereka kesasar di satu tempat. Lalu bertanya pada seseorang yang berjaga di pintu gerbang vila yang disewakan. Mereka masih harus naik lagi dan turun lagi.
Sampai di sebuah lapangan dekat SMA, mobil pun berhenti. Tidak ada signal sama sekali. Sampai pada satu titik akhirnya signal didapatkan, dan pemilik rumah yang mereka sewa datang menghampiri.

Sebuah home stay dengan lima kamar. Savana Indah Home Stay.
Ada termos berisi air panas, gelas-gelas bersih, kopi, teh juga gula. Dua buah wadah kue di atas meja untuk mereka.
Tempat yang bersih. Setiap kamar memiliki kamar mandi. Ingin air hangat bisa ditekan tombol agar mesin penghangat air menyala.
Ada ruang tamu berisi televisi. Ada ruang makan. Dan satu tempat untuk shalat dengan Al Quran, sajadah, mukena juga sarung bersih tersedia.

Harga sewa permalam 250 ribu rupiah untuk setiap kamar.
Ada sebuah musholla persis di samping home stay. Di lantai bawah pemilik tinggal. Penyewa di lantai atas. Pemiliknya seorang kepala sekolah yang juga membuka warung sembako di lantai bawah.

Dan Bromo

Dan Bromo adalah kenangan. Ketika pada jam tiga malam, Mobil jip mengantar mereka pergi. 450 ribu harga sewa untuk dua tempat yang akan dikunjungi.
Si Suami khusyuk shalat sebelum berangkat. Si Istri berdoa, agar tidak sampai melalaikan kewajiban shalat hanya demi mengejar terbitnya matahari. Dalam doanya terselip permohonan, agar Allah gagalkan saja rencana untuk mendaki, jika itu hanya melalaikan shalat.
Sebab 21 tahun yang lalu, di jalur pendakian tidak ditemukan tempat untuk shalat.

Jip-jip yang melaju. Jip-jip yang berhenti di loket pembelian tiket. Harga tiket masuk pada musim liburan dipatok 32. 500 perkepala.
Mereka mengenakan pakaian berangkap-rangkap. Entah kenapa Si Istri bahagia melihat wajah dua remajanya yang takjub dengan pengalaman baru mereka.

“Tidak bisa naik jipnya,” ujar pengemudi. “Antrian panjang.”
Jip- jip yang parkir di pinggir jalan. Musim liburan membuat pengunjung memenuhi Bromo.
“Di sana ada Bukit Cinta.”
Iya di sana Bukit Cinta namanya. Anak-anak harus tahu bagaimana mendaki. Bukan gunung yang tinggi. Tapi pada jam empat dini hari, mereka harus naik di jalan gelap mendaki dengan sebuah senter yang kadang hidup kadang mati, adalah sebuah sensasi tersendiri.
“Di sebelah sana ada mushala,” ujar Si Suami menunjukkan satu bedeng tepat di atas sebuah toilet.

Semua pengunjung naik. Dalam gelap sambil terus-menerus berdzikir.
“Itu fajar Kadzib namanya,” ujar Si Istri pada anak lelaki yang duduk di sebelahnya.
Lalu cahaya datang dan menghilang. Kembali gelap. Lambat laun dari arah lain ada cahaya putih. “Yang itu fajar Shadiq namanya. Langit akan menjadi terang tidak gelap lagi. Tanda waktu Subuh sudah datang.”
Lalu semua tersingkap. Lautan kabut menipis pelan tapi pasti. Menghadirkan sosok gunung tinggi. Indah sekali.

“Masya Allah indah sekali,” Bungsu tergugu dalam kagum.
“Indah, kan?” tanya si Istri pada anak sulungnya yang lebih suka memendam rasa kagum dalam hati.

Waktu pun bergeser. Sebuah mushala mungil, air mineral yang masih penuh bisa dijadikan air untuk wudhu di saat toilet panjang antriannya.
Mereka harus terus berjalan menuju lautan pasir Bromo. Supir jip sudah menunggu. Iring-iringan jip mulai naik menuju tempat lain.

Debu-Debu yang Berterbangan

Suatu hari mereka mengulang kenangan. Sepasang anak manusia. Melangkah bersama. Ketika anak-anak sudah melesat ke arah anak tangga yang tinggi bersama dengan yang lain.
Mereka tertinggal berdua.
Si Istri menikmati antrian panjang toilet di kawah Bromo, sedang Si Suami setia menunggu sambil memandangi penjual bakso di sekitar lautan pasir Bromo.

“Kamu di sana, aku foto.” Si Suami menenteng kamera.
Mereka berjalan berdua di tengah debu-debu pasir yang terus berterbangan. Dingin masih menggigit. Kuda-kuda tunggangan melesat meninggalkan debu. Motor-motor sewaan juga sama.
Warung-warung makan berdiri berjejer. Lautan pasir penuh dengan para pengunjung. Anak-anak muda bercengkrama.

“Di sini saja,” ujar Si Istri. Semalam ia tidak bisa tidur. Sebab kewajiban ibu tetaplah harus dijalani meskipun sedang liburan. Menyuruh anak-anak tidur lalu membangunkan. Resah sendiri takut alarm terlambat berbunyi dan mereka kesiangan sesuai janji.
“Di sini saja, menunggu di warung,” ujar si Istri.
Si Suami melangkah pergi. Anak-anak harus didampingi. Kenangan manis mendaki bersama anak-anak mungkin yang sedang dikejarnya.

Jalan itu terlalu mendaki. 250 anak tangga rasanya sudah tidak mungkin lagi bisa didaki. Memaksakan diri takut berujung akan menyusahkan orang lain.
Lagipula kawah di atas sana sudah pernah didakinya ketika masih muda.
Si Istri ikhlas dengan kepala yang mulai pening, dan butuh tempat istirahat. Telepon genggam selalu berbunyi meskipun kadang signal tidak didapatkan.
“Anak-anak sudah naik,” ujar Si Suami dari arah pendakian.

Dan …

Dan suatu hari, ketika libur panjang untuk saling membahagiakan telah selesai, mereka duduk berdua. Di antara hutan jati dan sawah-sawah yang terbentang. Pada pagi yang kabutnya masih belum hilang, dan membuat tubuh mereka menggigil.
“21 tahun yang lalu kita pernah ada di sana,” ujar Si Istri.
“21 tahun? Sudah lama sekali,” ujar Si Suami sambil menikmati gorengan bakwan yang biasa disebut Weci, yang dibeli di pasar seharga lima ratus rupiah.

Ada banyak bahagia.
Dan membahagiakan orang lain terlebih dahulu, akan dibayar oleh Allah Maha Pemberi Bahagia. Awan-awan seperti berlomba dimasukkan ke dalam hati keduanya.

Coban Rondo dan Seorang Bidadari

Perempuan itu selalu bermimpi menjadi bidadari. Terbang tanpa sayap. Sejak dulu hingga saat ini. Sebab memandangi pepohonan, awan dan air adalah suatu bentuk ketenangan untuknya. Ketika ketegangan melanda, pada malam harinya ia selalu bermimpi. Terbang dan bahagia di antara gumpalan awan-awan.
Perempuan itu bermimpi menjadi seorang bidadari yang mandi di bawah air terjun, melepas selendangnya. Lalu seorang lelaki jatuh cinta dan menyembunyikannya. Menahannya untuk menjadi istri.

Sudah lama sekali mimpi yang terkubur dalam itu ingin diwujudkannya. Ia tidak butuh tempat yang mewah. Ia hanya ingin berada di pelukan alam. Berada di bawah air yang memercik. Air yang membasahi tubuh yang turun dari tempat tinggi. Setelah itu bisa luruh semua beban.

“Museum Angkut?” tanya Jaka Tarub yang sudah menjadi suaminya, pada malam hari ketika mereka tiba di Malang dari Blitar.
Bayangan air terjun itu menggoda. Sudah delapan hari lamanya dan setiap hari diisi dengan pergi dan pergi. Untuk anak-anak. Untuk ikatan keluarga. Untuk kenangan yang bisa mereka kais di masa depan nanti.
Hari hari mereka sudah terlalu padat. Emosi sudah tidak stabil. Mereka berdua sudah butuh liburan. Anak-anak juga punya beban berat. Sekolah mereka full day school.
Sebuah ketenangan. Air yang memercik, hawa dingin yang memeluk dan kabut yang terhampar yang akan membawanya ke negeri damai tanpa beban.
Sungguh ia ingin menjadi bidadari tanpa beban, melayang bebas, lalu setelah itu tidak ada masalah lagi ketika kenyataan memeluknya erat. Sebab besok dan besoknya, ia masih bisa mengenang pengulangan menjadi bidadari.

“Coban Rondo,” ujar Perempuan itu. Tersenyum sendiri. Membayangkan suatu masa ketika ia hadir sendiri tanpa teman. Lalu gamang. Dan air terjun yang memercik membuatnya seperti menemukan sesuatu kekuatan baru. Ketenanganan bercampur ketegaran.
Jaka Tarub-nya pada waktu itu adalah seorang ilustrator. Ia tidak pernah tahu akan ada sebuah pertemuan. Jaka Tarubnya biasa mengilustrasi naskah-naskahnya di buletin khusus yang terbit setiap bulan, dan di kartu-kartu ucapan. Selendangnya tidak diambil. Tapi perhatiannya diraih sedikit demi sedikit.

“Coban Rondo?” anak-anak bertanya.
“Air terjun. Biar kalian tahu lebih banyak tentang alam,” ujar Perempuan itu dengan mata dipenuhi kenangan. Ia membayangkan air terjun yang akan menenggelamkannya dalam kenangan, lalu membuatnya kembali memiliki selendang yang akan membawanya terbang kembali ke langit.

Coban Rondo itu masih di tempat semula. Di daerah wisata Batu Jl. Coban Rondo, Pandesari, Pujon, Malang, Jawa Timur 65391.
Perempuan itu harus bersabar. Membiarkan Jaka Tarub berkumpul bersama teman-teman masa lalunya pada satu malam. Untuk mengenang suatu masa. Malamnya matanya tidak bisa terpejam. Membayangkan air yang menghempas-hempas, tawa yang hadir dan kenangan yang memeluk.
“Kita mau ke mana?” tanya dua anak-anak padanya untuk memastikan.
Mereka sudah berangkat. Menuju jalan berbelok, mendaki dan menurun.
“Ikuti saja Ayah kalian maunya ke mana,” ujarnya sambil memejamkan mata. Terbuka sedikit matanya untuk melihat pohon-pohon, kabut juga jurang. Matanya kembali terpejam. Membayangkan juga mengenang.

Mereka tiba akhirnya.
Hawa dingin semakin menyergap. Jalan menanjak, berbelok dan menurun. Hutan-hutan jati. Bayangan tentang sekumpulan bidadari memenuhi benak.
Perempuan itu berusaha mengahalau bayangannya. Dua puluh satu tahun yang lalu, membayangkan diri sebagai bidadari. Dan bidadari itu sekang sudah menjelma menjadi ibu dari dua remaja. Waktu yang sangat panjang.
Pohon-pohon yang dulu liar sekarang berubah menjadi lebih bersahabat. Setiap sudut ditata dengan baik.

Ada harga yang harus dibayar untuk keindahan tersebut. Tiket masuk seharga 21 ribu rupiah.
Yang pertama Perempuan itu cari adalah mushala dan toilet. Lalu mencobanya. Di dekat air terjun, bukan mushala namanya. Tapi lebih pantas disebut masjid. Perempuan itu tidak masuk ke dalam karena belum waktunya shalat.
Tapi toilet, bahkan berkali-kali. Air dan air. Perempuan itu mencintainya dan sering ingin berlama-lama bersama air yang mengalir deras.

.

Ia memang bukan bidadari. Tapi selalu membayangkan seperti seorang bidadari. Bidadari yang tanpa beban. Turun untuk melihat dunia. Bersenang-senang bersama teman yang lain. Sampai akhirnya seorang Jaka Tarub mencuri selendangnya.
Air terjunnya masih sama seperti yang dulu. Percikannya turun jatuh ke batu, membuat siapa yang di dekatnya bisa basah bajunya. Tapi sensasi basah itulah yang dicari.
Perempuan itu melihat seorang gadis kecil dan ayahnya berbasah-basahan di bawah air terjun. Ada sungai juga dengan batu-batu besar yang dijadikan tempat berfoto untuk pengunjung.
“Ayo ke sini,” ajaknya pada anak gadisnya.
“Batunya licin, Bu,” Si Anak menolak.
“Ayo sama Ibu…,” Perempuan itu menggandeng tangan anak gadis. Naik ke atas batu.
“Di situ airnya muncrat, Bu. Nanti bajuku basah.”
“Justru itulah kenangannya,” ujar Perempuan itu meyakinkan.
Mereka bergandengan. Berada dekat sekali dengan air terjun yang tumpah. Daaan.
“Bajuku basah, Bu.”
Bajunya juga basah. Tapi ia bahagia. Sepertinya kenangan masa lalu telah melingkarinya seperti bulatan balon tranparan. Ia ada di dalamnya, tenggelam dalam bahagia.
Kerudung panjangnya berkibar dihempas angin dan air yang tercurah. Ia merasa sedang terbang dengan sayapnya. Dan ia bahagia, lepaslah semua beban.

Tidak jauh darinya ada seekor monyet sedang kedinginan di dekat sungai.
Ada papan peringatan yang dipasang dekat sungai. Pengunjung yang lain masuk dan berfoto di sana.
Tulisan itu terbaca. Si Perempuan memutuskan, tidak mau ikutan masuk ke sungai.

Labirin dan Spot Foto

Ia bukan bidadari. Hanya senang membayangkan. Juga bukan dicuri selendangnya. Ia berikan untuk sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Dan ia menyadari segala yang harus dijalaninya. Menjadi istri, ibu, bergulat dengan semua pekerjaan. Hanya kadang-kadang ia butuh selendang untuk terbang. Hingga ia bisa lepas dari beban, tidak sekedar hanya dalam mimpi saja.
Coban Rondo tidak seperti dulu lagi. Ada banyak yang berubah. Jalan yang bagus, sudut-sudut tertata rapi. Perempuan itu kagum dengan pembangunan yang ada. Toilet dan mushala ada di mana-mana. Bersih dan besar.

“Masih ada tempat yang lain,” ujar Jaka Tarub padanya.
Masih ada tempat yang lain dan ia hanya kenal satu tempat saja. Air terjun itu. Dulu tidak ada tempat yang lain.
Ia butuh waktu untuk menyendiri. Maka berjalanlah ia sendiri duduk di atas bebatuan.
Bukankah bersenang-senang tidak perlu sepanjang masa?
Bukankah seorang bidadari di bumi akan selalu membuat cemburu bidadari di langit?
“Ayo, Buuu.”
Ia mengangguk. Siap berjalan lagi.

Mereka mencoba tempat lain. Seorang bidadari yang sudah kembali menemukan jati diri. Kebahagiaan penuh melingkari.
Ada Labirin. Perempuan itu dan Bungsu yang mencoba, mau merasakan sensasi tersesat dengan harga sepuluh ribu.
Ada pohon yang diberi banyak pita warna-warni yang berjuntai. Ada sewa motor seharga tiga puluh ribu. Ada tempat lain untuk spot foto yang menarik. Semacam ayunan warna-warni yang digantung di antara dua pohon, dan pemandangannya jurang dan pohon-pohon pinus. Tapi mereka tidak mencobanya, karena badan sudah lelah, lagipula perempuan itu sudah janji dengan salah satu murid menulis yang sudah lama berteman, untuk singgah ke rumahnya.
Ada area pananah, yang bisa disewa dengan harga lima ribu rupiah, naik kuda juga bisa.

Perempuan itu dalam keadaan penat sering bermimpi. Melayang-layang terbang di udara.
Sekarang mimpi itu sudah terpenuhi.
Perempuan itu tersenyum, ia memutuskan untuk melipat kenangan 21 tahun silam di tempat yang sama. Ia sudah sangat bahagia.

Kampung Coklat, Wisata Edukasi Murah Meriah

“Ayo ke kampung coklat.”
Ajakan itu diucapkan oleh satu orang keponakan yang tinggal di Blitar. “Kampung coklat bagus.”
Wisata, wisata, wisata. Memang itu yang ada di kepala kami , ketika memutuskan untuk liburan panjang sekeluarga. Karena itu setiap lemparan ide tempat wisata, langsung kami tanggapi dengan pertanyaan. Di sana ada apa? Jauh tidaknya?
Karena bayangan saya tentang kampung coklat adalah sama seperti toko-toko coklat di Bekasi dan Jakarta. Menyediakan semua produk makanan dan minuman coklat dan berkreasi dengan coklat. Itu saja.

Here We Are

Rencananya kami berangkat pagi. Rencananya lho. Tapi rencana tinggal rencana. Bagaimana mungkin berangkat pagi, sedang tubuh orang kota seperti kami seperti sedang dipeluk dingin erat sekali. Beranjak dari tempat tidur malas rasanya.
Agak siangan ketika matahari sudah muncul kami baru mulai berangkat. Siap-siap. Piknik pertama kami untuk musim lebaran kali ini.

Kami harus melewati jalan melalui bendungan Karangkates, dan juga jajaran hutan jati. Pemandangan yang asyik untuk saya yang mata dan pikiran harus dibuat fresh.
Sampailah kami di Kampung Coklat. Musim liburan, maka ramai kendaraan di luar. Kami cari parkiran terdekat dengan pintu masuk, bersebelahan dengan masjid. Bersebalahn persis dengan pintu masuk Kampung Coklat.
Aalamatnya ada di Jl. Banteng – Blorok No. 18, Desa Plosorejo, RT. 01 / 06, Kademangan, Plosorejo, Kademangan, Blitar, Jawa Timur 66161
Sebuah gedung yang besar dan bagus. Paling tidak mindset tentang coklat di kepala saya tersingkirkan sudah.
Masuk di aula besar, menuju tempat penjualan tiket. Tiket masuknya hanya lima ribu rupiah. LIma ribu? Untuk penghuni kota seperti saya, itu cukup murah meriah.

Ada pohon-pohon coklat yang tinggi dan ada buahnya. Buah-buah coklat yang sudah matang menempel di batangnya.
Ada tempat seperti kolam. Di situ ada banyak ikan-ikan kecil. Kita bisa menyewa tempat di situ, duduk dapat bantalan untuk duduk, dan bisa merendam kaki untuk digigiti ikan sepuas hati kita. Harganya lima ribu rupiah juga.
Ada juga kebun coklat kecil, ditanami pohon-pohon coklat di dalam pot.

Kursus Menghias Coklat dan Spot untuk Foto

Tidak jauh dari kolam, ada restoran. Bukan hanya menjual produk coklat, sih. Tapi makanan lain seperti rujak juga dijual. Saya sendiri lebih suka membeli minuman coklat hangat untuk meningkatkan rasa bahagia. Salah satu manfaat coklat kan untuk meningkatkan rasa bahagia.

Tidak jauh dari sana ada ruangan tempat para pekerja membungkus produk coklat olahan mereka. Satu ruangan berdinding kaca menarik perhatian saya. Kursus menghias coklat.
Maka saya ajak Bungsu saya ke sana untuk belajar menghias coklat. Belajar mandiri, sih, karena tidak ada pembimbingnya. Bayar lima ribu untuk coklat kecil dan dua puluh ribu untuk coklat ukuran besar. Setelah membayar kita diberi nota untuk diberikan ke mbak yang akan memberikan kita coklat sesuai harga yang kita pilih. Lalu diberi beberapa pewarna untuk menghiasnya.
Ambil tempat di salah satu kursi maka hiaslah sesuka hati. Hasil hiasan itu buat kita sendiri untuk kita nikmati.

Tidak ada lagi yang dilihat, lagipula pengunjung cukup ramai, maka kami memutuskan untuk ke luar. Seperti jalan ke luar tempat wisata lain. Akan dihadang dengan rak-rak menjual produk yang mereka hasilkan. Ada coklat mulai dari permen sampai pop corn. Ada coklat bubuk bahkan ada t-shirt juga. Bungsu saya sarankan membeli coklat bubuk untuk teman-temannya.

Di jalan menuju pintu ke luar itulah ada beberapa spot foto. Harus sabar-sabar menunggu kosonglah, karena banyak yang ingin berfoto di situ.
Dan sepertinya ini spot yang paling menarik dibandingkan yang lain.

Kami harus pulang.
Anak-anak juga sudah puas.
Ini pengalaman yang pastinya akan mereka ingat dengan senang hati.

Ullen Sentalu, Wisata tanpa Kamera

Ullen Sentalu

Museum batik?
Itu pertanyaan yang harus ditanyakan kepada orang ketika kami akan mengunjungi museum Ullen Sentalu. Sebuah museum sama seperti museum lainnya tersimpan di benak. Tapi ternyata, begitu supir naik ke jalan menanjak dan berbelok dengan hawa dingin Kaliurang, kami harus turun berkali-kali untuk bertanya. “Di mana letak museum batik bernama Ullen Sentalu?”

Kami akhirnya sampai di tempat itu. Tempat yang tersembunyi letaknya. Pintu masuk dari kayu jati yang bernuansa mistis karena dinaungi beringin besar dengan sulur-sulurnya. Museum Ullen Sentalu memang museum batik, tapi bukan seutuhnya museum batik. Museum ini lebih tepat jika disebut sebagai museum khusus Jogja Solo. Karena memang semua tentang budaya Solo dan Jogja berikut pada Sultan dan para raja-raja Solo dan Jogja dibahas lengkap di sana.

Pintu masuk yang kecil dan seorang pemandu wisata untuk kurang lebih 15 pengunjung akan membawa pengunjung mengelilingi museum.
Begitu pintu masuk terbuka, kita seperti dibawa ke masa lalu. Arca arca yang banyak. Lalu pemandu mengajak para wisatawan untuk berdoa sebelum melanjutkan perjalanan.
Wisatawan akan diminta untuk berpegangan tangan karena jalan yang tidak terlalu terang. Dan akan ada tangga menurun

Ada banyak ruangan di sana. Ruangan berisi batik. Batik Solo dan Jogja dibahas komplit di sana. Pengunjung bisa paham perbedaan yang jelas antara batik Solo dan batik Jogja. Ada banyak lukisan yang tergantung. Lukisan raja, ratu putra dan putri Keraton dijelaskan dengan serinci-rincinya oleh pemandu wisata.
Dan dari penjelasan itu saya baru paham perbedaan antara Kanjeng Ratu Kidul dan Nyai Loro Kidul.
Menurut pemandu wisata, kalau Ratu Kidul itu yang menikah dengan para raja-raja Solo dan Jogja (dibahas juga yang ini di buku Hamengkubono 9). Sedang Nyai Loro Kidul adalah abdi dalem Kanjeng Ratu Kidul.

Ada satu ruangan yang berisi tentang Kanjeng Gusti Nurul. Kanjeng Gusti Nurul ini perempuan Solo yang kecantikannya jadi perbincangan di Belanda. Beliau pintar dan pandai menari juga. Bahkan salah satu kursi milik Kanjeng Gusti Nurul ada di museum itu.
Satu cerpen saya tentang Ullen Sentalu sudah hadir di majalah Femina. Baca di sini

Tidak Boleh Ambil Gambar

Ullen lagi

Peraturan pertama yang dijelaskan oleh pemandu wisata memang seperti itu. Tidak boleh mengambil gambar. Karena nanti ada bagian lain yang bisa dijadikan spot untuk berfoto ria.
Sungguh, buat saya yang senang menulis dan melekatkan kenangan dengan foto jadi sedikit kecewa. Kecewa karena takut kalau-kalau apa yang di ingatan bisa hilang.
Tapi memang peraturan itu dipatuhi oleh para pengunjung. Lagipula suasana mistis dari satu ruangan ke ruangan lain, yang jalannya seperti labirin itu membuat pengunjung taat pada aturan. Apalagi pemandunya pintar mengingatkan agar para pengunjung yang ke luar dari ruangan paling belakang, harus menutup pintu. Karena antara ruangan satu dan ruangan yang lain memang seperti kamar, dan ada pintu masuknya. Maka pengunjung saling bergegas untuk ke luar lebih dahulu, agar tidak dapat jatah menutup pintu.

Pada akhirnya kami sampai di bagian untuk berfoto ria. Sebuah aula besar tanpa atap. Ada tembok ukuran seperti trapesium dengan relief.
Cekrek, para pengunjung pun berpuas diri berfoto di sana.

Wedang Uwuh

Ullen lagi lagi

Karena pemandunya pintar menjelaskan, maka tidak terasa kaki kami lelah juga. Anak-anak mengeluh capek. Lalu kami tiba di ruangan besar. Ada beberapa kursi dan meja. Pemandu minta kami istirahat santai. Lalu ia ke dalam dan ke luar lagi membawa nampang berisi gelas sejumlah pengunjung.
Wedang uwuh. Perpaduan antara kayu secang (berwarna merah warna airnya) dan jahe. Kami minum dan langsung semangat untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Rupanya acara minum itu membawa kami ke bagian arca. Ada banyak arca termasuk arca Ganesha. Kolam ikan berisi ikan-ikan hias membuat mata kami jadi terhibur juga.
Lalu sampailah di bagian terakhir. Pintu ke luar.
Bagian ini cukup unik sebenarnya untuk jadi tempat berfoto. Tapi sayangnya hari mulai gerimis dan kaki sudah terasa lelah.
Maka foto-foto di sini ala kadarnya saja.

Tapi pengalaman begitu ke luar dari dalam museum adalah rasa bangga. Bangga karena dari dua daerah saja Solo dan Jogja banyak ilmu yang bisa dipelajari dan membuat wawasan kami bertambah.