Tamparan Allah untuk Buruk Sangka

Saya tidak pernah ditampar.
Tidak oleh Bapak, tidak juga oleh suami. Tapi ditampar Allah untuk segala prasangka buruk saya, sering sekali.
Dan tamparan itu menyadarkan saya untuk meluruskan apa yang ada di pikiran.
Hati-hati dengan apa yang terbersit di hati, tersimpan di benak lalu terlontar lewat ucapan.
Saya belajar untuk tidak berutang dari Bapak. Satu-satunya utang yang Bapak lakukan sepanjang hidupnya, adalah membeli televisi berwarna secara kredit. Setelah itu tidak ada. Hidup seadanya yang penting tidak memiliki utang.
Lalu tentu saja saya menjadi aneh dengan orang-orang yang berutang. Dan berujung pada ucapan terlontar dan bisa jadi itu menyakitkan seseorang yang mendengarnya, yang memang sedang terlibat masalah itu.

Lalu sampailah ujian Allah datang pada saya.
Saya terlilit utang. Bukan karena kebutuhan kredit ini dan itu. Tapi utang karena menolong orang lain dan berujung pada sebuah kesalahan.
Utang bertumpuk, debt collector datang silih berganti. Bersyukur Allah masih menutup aib dengan didatangkan para debt collector bermuka seram, tapi mereka bicara dengan sopan. Minta masuk ke teras untuk bicara pada saya. Seorang debt collector malah menalangi dulu membayari utang saya, untuk kemudian datang lagi jika saya siap membayar.
Apa yang bisa saya dapat dari ujian itu?
Allah cuma ingin mengingatkan saya, hati-hati dengan mulut saya. Dan merubah pikiran buruk saya. Karena ternyata tidak semua yang terlilit utang demi untuk membeli barang-barang penunjang gengsi kehidupan.

Tamparan lain datang ketika saya membaca sebuah artikel tentang musafir. Musafir yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, tidak dengan kendaraan modern. Tapi yang berjalan kaki.
Yang muncul di benak pada saat itu adalah pertanyaan. Apa mungkin ada musafir di zaman seperti sekarang ini?
Lalu tiba-tiba ada yang mengucap salam di depan pagar rumah. Seorang perempuan penampilan tidak seperti peminta sumbangan lainnya. Dan dia juga tidak meminta sumbangan, ia hanya meminta nasi untuk dimakan.
Pada saat itu nasi yang ada hanya untuk anak-anak, karena saya masih diuji dengan kekurangan ekonomi.
Perempuan itu bilang kalau ia seorang musafir. Dan sampai perempuan itu pergi, saya masih berpikir bahwa saya tidak percaya.
Dan ketidakpercayaan itu akhirnya runtuh digantikan dengan rasa percaya.
Ketika si bungsu merengek tidak seperti biasanya. Ia merengek minta diajak keliling naik sepeda ke rumah sepupunya. Padahal jam itu biasanya adalah jam tidur.
Rengekan yang tidak biasanya itu saya sikapi dengan mengambil sepeda, melewati jalan biasanya.

Apa yang saya lihat setelah itu?
Seorang perempuan sedang menangis di halaman masjid. Perempuan yang tadi meminta nasi. Saya turun dari sepeda dan minta maaf karena sudah salah sangka.
Lalu ia bercerita tentang hidupnya. Terpaksa jadi musafir, berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta.
Pertanyaan saya adalah kenapa ia tidak bekerja? Dan kenapa mesti berjalan kaki?
Konon katanya, ia mantan istri seorang yang berpengaruh. Anak-anaknya dibawa suami. Dan suaminya selalu memiliki mata-mata untuk memantaunya. Lalu setiap kali ia mendapat pekerjaan, suaminya selalu mengancam para majikan. Hingga akhirnya ia harus menjalani hidup seperti ini.
Di tengah tangisnya dia bilang, kalau ia yakin ini ujian. Dan ia yakin pasti ada akhirnya.
Saya kembali lagi menemuinya setelah pulang ke rumah. Ingin menitipkan sesuatu padanya. Perempuan itu ada di dalam masjid, setelah para lelaki pulang dari shalat Jumat. Sujudnya panjang dan air matanya masih terlihat ketika saya jumpai kembali.
Setelah itu yang saya tahu, saya wajib bersyukur. Ujian yang saya alami memang belum kelihatan akhirnya. Tapi mengetahui ada orang lain yang nasibnya lebih mengenaskan ketimbang saya, saya wajib bersyukur dan semakin membersihkan isi kepala.

Tamparan yang lainnya datang belum lama. Ketika Bapak di rumah sakit. Tempat Bapak pertama adalah ruang ICU stroke. Tempatnya di sudut. Kamar mandi luas. Tempat menunggu juga sepi. Jadi kami anak-anaknya bebas menggelar tikar untuk menginap menunggu. Aktivitas ke kamar mandi juga tidak terganggu.
Setiap kali saya menuju ruang ICU stroke, setiap itu pula saya selalu melewati aula besar yang dipenuhi dengan banyak orang menggelar tikar. Beberapa hari Bapak di ICU stroke, itu artinya beberapa hari saya mesti melewati ruang itu.
Yang terbersit dalam pikiran adalah pertanyaan, ruang apa itu? Dan kenapa mereka mau menunggu seperti pepes ikan seperti itu?
Saya bahkan sempat mencoba mencari jalan lain agar bisa benar-benar tahu orang sebanyak itu menunggu apa. Jawaban didapat, tapi tetap belum bisa saya pahami.
Sampai akhirnya keputusan operasi kepala Bapak kami setujui. Bapak dioperasi. Malam-malam kami pindah tempat menunggu. Dan tahukan tempat apa yang akhirnya saya tempati?
Aula besar dengan banyak tikar digelar dan orang tiduran seperti pepes ikan. Ruang itu adalah ruang tunggu untuk keluarga pasien ICU.
Ruangan dipenuhi tikar dan orang. Yang untuk mandi hanya tersedia satu kamar mandi. Yang ketika tikar digelar dan ditinggal bahkan bisa ditempati orang lain. Bahkan sajadah yang saya gelar dijadikan alas tidur. Saya harus mandi sebelum subuh bila tidak ingin ditunggu antrian. Atau saya harus cari kamar mandi lain di tempat lain. Di masjid misalnya.

Maka mengeluhlah saya kembali.
Mengeluhkan keadaan yang tidak nyaman itu.
Hingga akhirnya Allah buat seperti yang saya inginkan.
Satu-persatu pasien di ruang ICU pindah kamar, atau dibawa keluarganya pulang karena dipanggilNYA. Satu persatu mereka pergi dan akhirnya menyisakan hanya Bapak di ruang ICU.
Bayangkan, ruang ICU di rumah sakit besar itu, hanya berisi Bapak. Tiga hari Bapak sendiri di ruang ICU. Bahkan pihak rumah sakit bisa merenovasi ruang itu, dan mengecat ulang.
Saya memang tidak perlu mengantri seragam lagi.
Keluarga yang biasanya dibatasi sampai tiga orang, sekarang bisa masuk sampai enam orang.
Tapi menunggu sendiri ternyata menyakitkan. Tidak ada teman berbagi ketika hampir putus asa. Tidak bisa melihat keluhan orang lain sebagai perbandingan hidup. Dan malam-malam jadi terasa lebih mencekam. Terlebih ketika pintu ruang ICU terbuka. Sebab kabar duka selalu diawali dengan pintu ruang ICU terbuka, lalu perawat mendatangi anggota keluarga yang menunggu.

Pada akhirnya,
ujian memang bukan sekedar ujian.
Ujian datang untuk yang kuat. Dan ujian datang juga untuk menguatkan.
Ujian juga datang untuk menyadarkan. Jangan-jangan ada yang salah dengan isi hati dan isi kepala kita.
Ujian bisa datang dari sesuatu yang sangat kita cintai dan juga kita benci.
Atau jangan-jangan, ada yang pernah merintih pada Allah atas apa yang terlontar dari bibir kita, hingga kita mendapatkan ujian itu.

Riya yang Tidak Sederhana

RIYA alias pamer.
Kalimat itu sering sekali mudah diucapkan orang lain, lalu menunjukkan jarinya pada orang lain.
Riya alias pamer. Dalam surat Al Maa’uun surah ke 107 ayat 6.
Celaka bagi orang yang sholat. Ketika mereka lalai dalam sholatnya. Dan ketika mereka riya.
Riya kenapa?
Ketika shalat dilakukan dengan niat agar orang lain tahu.

Saya memahami riya sebagai masalah hati. Standar hati orang yang satu berbeda dengan orang yang lainnya. Ketika dua orang yang berbeda ini saling menilai, akan hadir perbedaan yang ujungnya saling menyalahkan orang lain.

Ketika menulis status tentang hapalan kita yang bertambah, untuk orang lain akan dianggap riya. Maka tidak ada pahala lagi untuk kita karena keriyaan itu. Tapi ketika si pembuat status bertujuan untuk memotivasi orang lain, maka tentu tuduhan seperti itu tidak berdasar.

Saya tidak mau main-main dengan riya dan standar saya. Sebab pengalaman sedih dan membuat saya trauma pernah terjadi. Alih-alih takut dianggap riya, saya justru membuat orang lain jadi celaka.

Beberapa tahun yang lalu, saya biasa sedekah sembunyi-sembunyi ke seorang tetangga sepasang suami istri, yang tuna netra. Biasanya saya akan datang ke rumahnya di saat jalan di perumahan sepi. Sehingga apa yang saya berikan tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Lagipula, seorang tetangga lain memang selalu bilang pada yang lain, bahwa ia yang selalu memberi pasangan suami istri itu. Saya takut dianggap melangkahi dirinya, yang memang secara materi terlihat lebih ketimbang yang lainnya.

Setahun, dua tahun saya terus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Ingin pahala diterima Allah total dan saya tidak dianggap bangkrut karena pahala saya habis karena riya. Hingga suatu hari, ketika agak lama saya tidak datang ke rumah pasangan itu, saya dapati si istri sakit.
Kebetulan di Solo saya jatuh dari motor. Dan pulang dari ke rumah, saya cari tukang pijat tuna netra itu. Si istri sedang sakit. Hiks…, di rumah tidak ada makanan. Maka dengan sembunyi-sembunyi saya lari ke swalayan. Sorenya juga saya belikan bubur.
Besok paginya seperti itu lagi. Sampai saya dapati si suami dan istri bilang, kalau mereka sudah baik-baik saja.
Lalu saya merasa tenang dan fokus dengan kegiatan saya.

Selang sehari kemudian di sore hari, saya lihat orang berkerumun di satu rumah. Rumah pasangan itu. Saya tanya ke tetangga, lalu mereka bilang kalau perempuan yang tuna netra itu sekarat. Kaget lah. Lebih kaget lagi ketika seorang yang biasa memberikan sesuatu kepada pasangan itu, bicara menyalahkan tetangga yang lain. Katanya semuanya tidak ada yang peduli. Dan selama ini ia yang menanggung semua biayanya.

Ketika seseorang bicara seperti itu, saya justru merasa tersudut dengan rasa bersalah. Bersalahnya, kenapa selama ini saya diam-diam ketika akan memberi? Kenapa ketika tetangga saya itu sakit, saya tidak mengetuk pintu tetangga yang lain dan minta mereka bergantian memberi?

Saya embuskan kuat-kuat ,lalu menghampiri tetangga yang masih keras bersuara menyalahkan tetangga yang lain. Saya bicara pelan-pelan. Saya bilang, semua tetangga peduli. Lalu saya terpaksa membuka apa yang sudah saya lakukan selama ini. Sedekah diam-diam. Dalam pikiran saya, biar saja pahala saya hilang, yang penting satu orang itu sadar. Alhasil ia kaget dan langsung terdiam.

Riya itu masalah hati.
Kita kok yang paham apa yang kita lakukan itu, apakah ingin memotivasi atau memang riya agar dikagumi orang lain?
Kita kok yang paham, lebih besar mana tingkat riya kita atau tingkat ingin memotivasi kita. Dan semakin tebal keimanan, kita juga kok yang bisa memutuskan untuk terus lanjut atau berhenti.

Sejak peristiwa itu saya sadar. Apa yang saya lakukan ketika itu tujuannya untuk memberi contoh pada orang lain untuk berjalan ke arah kebaikan, maka itu saatnya saya tutup telinga dari apa yang dikatakan orang lain.
Biarlah orang lain menganggap riya, sepanjang niat awal saya tidak seperti itu.

Kucing pun Bisa Cemburu

kucing 6 copy

Brave kami selamatkan. Iya. Penyelamatan anak kucing yang sedang dikejar anak-anak kecil. Anak-anak kecil yang seringnya tidak paham dan bermain-main dengan cara kasar. Mereka suka bersorak ketika bisa menangkap kucing itu lalu memasukkannya ke dalam got.

Brave itu hadiah yang lucu.
Dua hari sebelumnya saya melihat kucing cantik di tukang sayur langganan. Kucing cantik itu akhirnya dipindahkan ke tempat lain karena dirasa mengganggu. Saya terigat sosok cantik kucing itu. Cerita pada anak dan suami. Dan mereka kompak bilang,” Kenapa Ibu tidak bawa kucing itu?”

Mungkin karena memikirkan kucing di tukang sayur itu, membuat saya memimpikannya di malam hari. Nah, mimpilah saya didatangi anak kucing cantik. Dan keesokan paginya ternyata benar-benar seekor anak kucing kecil cantik, yang saya beri nama Brave datang ke rumah.

Kucing Lain Cemburu

kucing 1

Kucing lain yang ada di rumah, Bua namanya.
Seekor kucing kampung remaja. Kucing-kucing lainnya yang sama-sama kecil dengan Bua sudah tamat riwayatnya, alias mati.
Seekor kucing garong bernama Mayor, kelihatannya punya birahi yang luar biasa, dan mengawini anak-anak kucing yang ada. Virus dari Mayor itu membuat kucing-kucing itu pelan tapi pasti menjadi kurus dan akhirnya mati.
Bua kuat. Pada akhirnya membuat saya paham, di dunia kucing siapa yang kuat dia yang bertahan hidup.

Apa yang Bua lakukan dengan adanya Brave? Bua cemburu.
Cemburunya yang benar-benar terlihat dari pandangan matanya. Bukan sekedar cemburu, sejak kedatangan Brave, Bua juga menjadi tidak agresif lagi seperti sebelumnya. Dan jadi mudah sakit.
Ia mudah marah dan langsung menampar Brave ketika mendekat dengannya. Dan di siang hari, ketika biasanya Bua selalu kabur ke luar rumah, entah itu lewat lubang yang kami sediakan, atau lewat pargar, maka semenjak ada Brave, Bua hanya tinggal di rumah. Terkadang dia masuk hanya untuk minta dihelus.

kucing 3 copy

Apa yang bisa saya pelajari dari dunia kucing?
Buanyak sekali.
Pelajaran untuk anak-anak adalah pelajaran empati. Pelajaran empati itu tidak didapatkan di sekolah. Pelajaran lainnya adalah pelajaran melatih berbagi. Berbagi makanan dengan para kucing. Jadi ketika berpergian, yang diingat adalah makanan untuk kucing. Tentunya kalau sudah begitu, mudah untuk memoles mendatangkan kepeekaan dalam jangkauan lebih luas lagi.

Titipan Allah Bernama Tetangga yang Buruk

tetangga 3 lagi copy

Dulu, pemahaman saya hanya sederhana.
Ketika kita baik, Allah akan menitipkan segala yang baik-baik saja, bukan yang buruk. Ketika kita sudah baik, itu artinya kita harus membentengi diri agar tidak terkena segala sesuatu yang buruk. Teman yang buruk atau hal-hal lain yang bisa menganggu kenyamanan kehidupan kita. Karena itu saya menutup diri dari tetangga yang buruk.

Bersyukur saya tidak bertahan dengan pemahaman itu.
Mengikuti banyak pengajian adalah salah satu hal yang membuat segalanya menjadi berubah.
Ada hadist yang sudah saya pelajari sejak mengaji di madrasah dulu. Bunyinya. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.”

Dari Aisyah berkata, Rasulullah bersabda,” Jibril selalu mewasiatiku untuk berbuat baik kepada tetanggaku, hingga aku menyangka bahwa dia (Jibril) akan menetapkan warisan bagi tetangga.”

Orang terdekat kita adalah tetangga.
Orang yang tahu karakter kita adalah tetangga, karena kita berinteraksi setiap hari. Mereka memahami kita sama seperti kita memahami mereka.
Ketika Allah menginginkan kita menjadi magnet kebaikan, maka kita akan ditempatkan di sebuah lingkungan, yang kebaikannya harus kita perjuangkan.

Kita Orang Pilihan

Biasanya sesuatu yang kita anggap buruk itu, yang ada di luar kebiasaan kita.
Misalnya, kita yang sempat merasakan berpendidikan tinggi, ternyata memiliki tetangga yang sekolah juga tidak terlalu tinggi.
Kita yang membiasakan diri mengajarkan anak dengan bahasa yang santun, ternyata tetangga sebelah rumah adalah anak-anak yang terbiasa bicara kasar dan kotor.
Kita yang terbiasa menyukai kebersihan, ternyata tetangga kita adalah orang yang biasa membuang sampah sembarangan.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

1. Sadari bahwa tetangga yang buruk adalah amanah kita untuk merubah mereka. Dan kita orang terpilih untuk mengajak mereka menjadi lebih baik lagi.

2. Lihat kekurangan tetangga bukan untuk dicaci. Tapi untuk dicari celah, darimana kita bisa membenahi mereka.

3. Berkomunikasi. Komunikasi bukan hanya saling lempar senyum setelah itu tutup pintu rapat-rapat. Komunikasi yang baik adalah saling lempar pesan. Meluangkan waktu untuk saling mengenal satu dengan yang lain.

4. Jadikan diri kita air bukan bensin. Artinya, ketika mereka emosi atau membuang muka pada kita, tetaplah kita tidak merubah dan terus tersenyum.

5. Bagikan ilmu yang kita miliki. Meski sedikit ilmu kita bisa sangat bermanfaat. Untuk ibu-ibu yang belum bisa mengaji, ajarkan mengaji. Untuk yang belum bisa membuat kue, sedang kita bisa membuat kue, ajarkan hal itu pada mreka.

6. Tanam tumbuhan yang bermanfaat di luar pagar rumah kita. Seperti daun pandan, pepaya, cabai dan sebagainya. Biarkan tetangga mengambilnya. Karena tumbuhan semacam itu tidak akan habis kita makan sendiri. Bahkan semakin bermanfaat tumbuhan, semakin subur tumbuhnya.

7. Jadikan diri kita teladan untuk mereka tiru. Artinya kita harus juga berjuang untuk terus berjuang di jalan kebaikan. Sehingga mereka bisa merasakan bahwa kebaikan kita bermanfaat untuk mereka. Dengan begitu mereka akan berjuang juga melakukan hal yang sama.

8. Kalau bukan kita siapa lagi? Jika kita dibukakan hati untuk melihat keburukan tetangga, sebenarnya Allah juga sedang membukakan pintu hati kita, untuk menggiring mereka ke arah kebaikan. Jadi yakinkan diri kita dan jangan tunggu orang lain untuk merubahnya.
Tujuannya agar lingkungan terjaga. Dan kelak anak-anak kita tumbuh kembang dalam lingkaran kebaikan. Bukan hanya di lingkungan rumah tapi lingkungan lebih luas lagi.

Ketika Suami Istri Bekerja di Rumah

meja kerja suami

Bekerja dari rumah?
Kalau hanya istri atau hanya suami bekerja sebagai freelancer, mungkin bisa masuk akal sehat.
Maklumlah kondisi pekerja lepas, alias bekerja dari rumah masih menjadi alasan banyak kepala berkerut kening. Dengan alasan apa bisa?

Dulu saya berpikir juga seperti itu. Apa bisa?
Suami istri lho.
Kadang dalam beberapa jam pertemuan saja suka ada konflik. Ini 24 jam bertemu setiap hari. Apa yang akan terjadi?

Ketika suami merasa sudah ingin usaha. Maka saya bolehkan. Tapi…, kantornya bukan di rumah.
Jadi ia menyewa kantor di sebuah ruko dan bekerja dari sana.
Lalu kami jatuh bangun. Sukses dan bangkrut. Kena tipu sana sini. Dapat hikmah luar biasa bagaimaan menghadapi orang lain. Dan yang jelas, semakin ikhlas, bahwa semuanya sudah diatur olehNYA, untuk membuat kami semakin tangguh di dunia ini. Dan semakin erat ikatan pernikahan.

Kenapa hubungannya dengan pernikahan?
Karena saat tertipu itu, kami berada di titik nadir di bawah nol. Banyak kisah istri yang meninggalkan suami dalam keadaan terpuruk seperti itu. Saya bertahan. Dengan alasan, saya tidak mau mengguncang Arsy-Nya Allah.
Well, suami bekerja lagi. Seorang seniman bekerja di kantor itu artinya banyak menggunakan mood. Di bawah tekanan akan membuat ide mereka tidak ke luar. Maka ketika suami memberikan proposal lagi dan lagi, bahwa ia ingin resign dari kantor, maka saya mulai berpikir lagi.

Bukan, saya bukan takut soal rezeki.
Kami sudah punya bekal tentang mengais rezeki lewat internet. Saya hanya takut ada disiplin yang saya terapkan di rumah, jadi kacau balau ketika suami bekerja di rumah.

Saya juga bukan takut soal tidak bisa asal-asalan berpakaian di rumah. Sebab dari dulu, saya biasakan untuk tidak pakai daster kecuali akan tidur.
Ada suami di rumah, saya semakin hobi berdandan untuknya. Pakai minyak wangi, bedak dan lipstik ketika ia ada di rumah. Dan itu bukan saja membuat saya merasa lebih percaya diri, tapi juga membuat suami menjadi nyaman.

Keputusan Ada di Istri

Keputusan yang paling berat menerima proposal suami untuk bekerja di rumah siap saya pikirkan. Kalau bekerja di rumah itu artinya…,kami akan langsung bertemu. Kalau bekerja di rumah, itu artinya…, anak-anak akan mendapatkan dua orang dewasa dengan pemikiran berbeda. Yang bisa membuat mereka berlari untuk mencari perlindungan di salah satu dari kami, dan itu akhirnya yang akan terjadi disiplin menjadi mentah.
Kalau bekerja di rumah, maka kami tidak mendapat gaji tetap.

Okelah itu bukan masalah besar jika dituntaskan kepada Si Maha Besar. Maka seperti biasa, saya minta pentunjukNYA. Lalu proposal saya sampaikan pada suami.

1. Dia boleh bekerja di rumah, asal paham bahwa istri juga bekerja dari rumah. Saya sampaikan jam kerja saya, seperti jam kantor. Artinya, jangan sebentar-sebentar minta dibuatkan kopi atau camilan. (Hiks.., karena suami punya kebiasaan makan camilan) Karena itu artinya mengganggu jam kerja saya. Yang jelas, ketika saya akan buka komputer, rumah sudah bersih, anak-anak sudah berangkat ke sekolah dan makanan sudah siap tersaji.

2. Dia boleh bekerja di rumah asal soal anak-anak, serahkan pada saya seperti biasanya. Artinya soal disiplin mereka belajar dan disiplin yang saya terapkan untuk anak-anak, saya minta itu jadi bagian saya. Jadi saya beritahu apa yang saya lakukan selama ini untuk anak-anak.

3. Dia boleh bekerja dari rumah, asal…, mau menambah ibadah shalatnya. Seperti shalat dhuha dan shalat sunnah lainnya. Plus mau membuka Al Quran setiap hari.

Alhamdulillah dengan perjanjian seperti di atas, suami berproses ke arah lebih baik. Dan saya juga berproses menjadi lebih tenang dalam bekerja. Hingga sekarang proses itu terus berlangsung.

Dua Meja Kerja

meja kerja saya

Kami punya kebiasaan berlama-lama di depan komputer. Suami sebagai ilustrator, design graphis, komikus dan sebutan lainnya entah apa namanya, memang punya jam kerja yang cukup panjang. Apalagi dalam menggambar ia adalah seorang perfeksionis dan tidak ingin mengcewakan klien.

Saya sendiri, senang berlama-lama juga. Saya punya target menulis setiap hari. Mengajar kelas menulis. Mempelajari sosial media untuk melebarkan langkah sebagai penulis.

Jadi intinya, kami memang harus punya ruang kerja sendiri. Tidak bisa saling meminjam komputer.
Laptop? Ah.., tipikal pekerja seperti kami, laptop dalam setahun bisa rusak. Karena kami minimal 8 jam di depan komputer. Saya sendiri berhenti bekerja setelah maghrib. Karena itu jadwal untuk anak-anak.

Meja kerja kami tentu sesuai dengan karakter kami. Saya juga tidak ingin mengubahnya, suami juga tidak ingin mengubah meja kerja saya. Artinya sama-sama enjoy.
Terhubung dengan internet itu suatu bekal penting bekerja sebagai seorang freelancer.

Darimana Job-nya?

Yang menjadi masalah untuk orang yang biasa bekerja kantoran adalah takut tidak mendapat uang setiap bulannya. Freelancer gitu lho.
Saya sendiri hanya bilang pada suami. Tambah ibadah, termasuk shalat sunnah, agar rezeki juga dimudahkan.
Pilih pekerjaan sesuai kemampuan dan juga sesuai dengan jalur agama. Artinya jika mendesign loga perusahaan, jangan mendesign gambar seksi dan menerima produk yang tidak halal.

Networking memang dibutuhkan. Bersyukur saja, kami konsisten dan fokus di bidangnya dan sama-sama mendukung.
Suami selalu mempromosikan saya ke rekan-rekan yang ia kenal. Jadi pekerjaan menulis saya bisa datang dari teman-teman suami.
Saya juga tidak ragu mempromosikan suami saya ke yang lain, termasuk ke sosial media. Atau jika suami butuh bantuan saya, untuk koreksi gambarnya atau untuk menerjemahkan maunya klien yang biasanya dalam Bahasa Inggris, saya akan siap untuk itu, meskipun harus meninggalkan meja kerja saya.

Yang paling penting adalah ikhlas menerima bagian dari takdir rezekiNYA. Saya selalu yakin, semakin banyak sedekah yang saya keluarkan dan cepat-cepat mengeluarkannya tanpa menunda, akan mengundang kepercayaan Allah untuk memberi rezeki yang lain.

Tidak takutkah kami kehabisan order?
Sampai saat ini saya yakin, rezeki selalu ada untuk kami. Lagipula kami berdua punya keahlian. Suami bisa membuat aneka macam kerajinan. Kami pernah kok membuat kotak untuk hantaran pengantin. Saya bisa mengajar dan suka mengajar. Maka membuka les di rumah, bisa membuka peluang rezeki juga.

Tidak takutkan dengan apa kata orang lain?
Yang itu tidak pernah saya takutkan. Karena saya sejak lama sudah tutup telinga dengan komentar negatif dari orang lain.

Seminggu sekali atau dua kali, suami ke luar rumah, karena ada dua kantor freelancer yang memintanya datang untuk ngantor. Atau meeting dengan klien untuk proyek yang ingin diajukan.
Saya sendiri biasa ke luar rumah, jika suami ada di rumah. Artinya jika ada acara untuk saya, maka saya pastikan, saya akan datang jika suami ada di rumah. Jadi anak-anak ada yang menjaga.

Oh ya, efek dari suami bekerja dari rumah yang menyenangkan adalah.
Pagi hari, saya tidak lagi repot sendiri.
Ketika saya sibuk di dapur, suami sudah menyapu rumah dan mengepel.
Dan sering ada ide yang bisa didiskusikan bersama. Dan itu lebih efektif untuk pekerjaan kami berdua.

Agar Manula Hapal Al Quran

IMG-20150821-WA0001

Menghapal Al Quran menjadi sesuatu yang berat bagi kita-kita yang masih berusia muda. Mindset berat itu akan terasa semakin berat ketika usia kita berada di atas 40 atau 50. Kata tidak mungkin itu tertancap di benak kita, sehingga jangankan untuk menghapalnya. Melihat huruf-hurufnya pun jadi membuat mata dan kepala ikut berkunang-kunang.

Ibu saya usia di atas 70 tahun. Baru bisa membaca Al Quran ketika anak-anak sudah beranjak besar. Dan ketika anak-anak semuanya sudah menikah, baru Ibu punya waktu untuk fokus belajar agama, termasuk menghapal Al Quran.

Bagaimana cara menghapal Al Quran yang mudah terutama untuk manula?

1. Kenali dulu Al Quran itu sendiri. Artinya kita harus tahu arti yang terkandung di dalamnya.

2. Orientasi di masa depan. Menghapal Al Quran tujuannya adalah bekal di akhirat kelak. Karena itu kita harus punya orientasi hidup sesudah mati, sehingga kita jadi bersemangat untuk melakukannya.

3. Yakin Bisa. Tanamkan dalam hati keyakinan seperti itu.

4. Yakin akan dipermudah. Tanamkan juga keyakinan yang ini. Ketika kita berjuang untuk sebuah kebaikan, Allah pasti akan memudahkan langkah kita.

5. Cari Komunitas yang Bisa Mendukung. Artinya ketika usia kita sudah di atas 40, 50 jangan bergaul dengan orang-orang yang merasa bahwa menghapal Al Quran itu sesuatu yang tidak mungkin untuk orangtua. Karena hal seperti itu hanya akan membuat kita jadi merasa sendiri dan pada akhirnya tidak semangat lagi untuk melakukan.

6. Orangtua mengharapkan anak hapal Al Quran, karena kelak si anak yang hapal Al Quran, akan memberikan hadiah jubah untuk orangtuanya kelak di akhirat. Apa salahnya kita memikirkan hal itu juga? Kita berjuang untuk memberikan hadiah berupa jubah yang membanggakan orangtua kita di akhirat kelak.

7. Di usia 40 biasanya pelan tapi pasti kita mulai merasa ingatan berkurang. Begitu juga dalam menghapal Al Quran. Karena itu jangan terlalu memaksa sehari bisa menghapal 10 ayat. Cukup satu ayat yang diulang-ulang saja.
Sehari satu ayat yang kita hapal, dalam 30 hari kita hapal 30 ayat.

8. Kurangi yang Tidak Penting. Semakin kita bertambah usia, waktu akan terasa berjalan sangat cepat. Karena itu kita harus mengurangi hal-hal yang tidak penting. Seperti mengurangi menonton acara televisi yang tidak bermanfaat dan menggantinya dengan membaca buku-buku keagamaan.

9. Minta orang terdekat kita mendukung usaha kita. Dan tularkan semangat kita. Dengan cara seperti itu, kita tidak akan merasa sendiri, dan semangat akan terus melingkari kita.

Manfaat Buku Harian untuk Ibu Rumah Tangga

DSCF3558

Buku harian alias diary biasanya dimiliki oleh anak remaja dan menjelang dewasa. Ketika sudah menikah, kebiasaan menulis buku harian itu akhirnya ditinggalkan oleh kebanyakan perempuan.
Padahal manfaat buku harian itu sangat banyak, dan bisa mengurangi beban masalah dalam rumah tangga.
Buku harian tidak selalu harus buku khusus. Kita bisa menggunakan banyak buku lain, semisal buku tulis atau yang lain.

1. Untuk Curhat
Hadirnya sosial media, membuat banyak ibu rumah tangga yang memilih curhat di sana. Banyak yang mengeluh agar curhatnya bisa cepat ditanggapi oleh orang lain.
Padahal curhat berupa keluhan seperti itu akan berdampak tidak baik. Orang yang tidak mengenal kita, akan memiliki anggapan miring tentang kita. Bisa jadi kita akan dianggap sebagai seorang pengeluh.
Curhat dengan buku harian lebih berdampak positif. Kita bisa mengeluarkan semua isi hati kita, tanpa perlu takut diberi label negative oleh orang lain.

2. Belajar Mencari Jalan Ke Luar
Curhat di sosial media, akan membuat kita tertolong dengan komentar orang yang menanggapi curhat kita. Tapi sesungguhnya itu tidak membantu kita untuk belajar dewasa.
Buku harian membuat kita belajar mengurai masalah yang sudah kita tulis di dalamnya.

3. Ajang Intropeksi
Pengguna sosial media yang menulis status dengan marah-marah, biasanya dilakukan pada saat emosinya meledak. Menulis buku harian yang bisa panjang sampai berlembar-lembar, biasanya juga seperti itu. Kalau tidak sedang marah, sedang sangat sedihnya.
Di sosial media, kondisi seperti itu tentu menjengkelkan untuk teman-teman yang terhubung dengan kita.
Tapi di buku harian, hanya kita yang melihatnya. Tidak ada yang tersinggung. Tapi dengan membaca ulang, kita bisa belajar untuk intropeksi.
Bacalah kembali buku harian itu setelah marah dan sedih kita hilang, beberapa jam setelah kita menulisnya.

4. Tidak Ada Screen Shoot
Omelan, tuduhan dan lain-lain sekarang bisa disebar dengan cara screen shoot di media. Kalau buku harian? Tidak bisa. Maka semua curhatan kita akan aman selamanya sampai kita membukanya dan memberikan pada orang lain.

5. Penguat Ingatan
Penulis buku harian biasanya setiap hari akan mengisi buku harian itu. Momen sedih, senang juga marah akan terus diisinya.
Nah hal ini bermanfaat untuk menguatkan ingatan.
Kalau sedang marah dengan pasangan, tinggal buka saja buku harian itu. Dan baca ulang lagi tulisan tentang kenangan indah bersama pasangan.

6. Buku Harian Membuat Lebih Kreatif
Buku harian bukan smart phone. Buku harian lebih murah tentu saja. Tidak ada gambar bergerak. Dengan keterbatasan itu kita sebagai penggunanya buku harian dituntun lebih kreatif.
Tulis dengan spidol warna-warni. Tempeli foto orang-orang terkasih. Beri sampul yang bagus.
Hal seperti itu akan membuat kita semangat menulis.

7. Ajang Bicara dengan Pasangan
Jika pasangan susah diajak bicara, tulis saja di buku harian. Dan tunjukkan pada pasangan biar pasangan juga ikut membacanya. Dengan begitu pasangan tahu apa yang kita rasakan.

Bua dan Kerasnya Kehidupan

Bua

Kami memanggilnya Bua. Panggilan mudah sesuai warna-nya abu-abu.
Kucing terlama yang ada di teras rumah. Biasanya induk kucing, hanya akan numpang melahirkan. Sebulan setelah itu, anak akan dibawa induknya.
Tapi kali ini berbeda.
Mereka tumbuh besar di teras rumah.
Mengeong-ngeong dengan suara bayi.
Membuat semuanya jadi jatuh hati. Termasuk si Bapak, yang tadinya tidak suka.
Bahkan si Bapak selalu meracik makanan dan membersihkan luka atau sakit mata si anak-anak kucing.

Ada tiga anak kucing.
Tiga anak kucing kadang bikin jengkel. Saat jam makan, ketika belum diberi, mereka akan mengikuti ke mana saya pergi. Bahkan pernah ikut ke rumah tetangga. Tiga-tiganya menunggu saya ngobrol.
Sayang, yang satu mati terlindas mobil, yang tidak tahu sudah melindas anak kucing.
Tersisa dua dengan karakter yang berbeda. Satu pemberani, si Bua ini. Yang satu terlalu sensitive, Coco namanya. Kalau dibilang stop, maka ia cukup duduk tenang di depan pintu, tidak masuk ke dalam.
Si Bua tidak seperti itu. Dilarang artinya harus dilanggar. Masuk untuk bersembunyi di belakang pintu, atau sekedar berguling-guling di karpet.
Pernah saya cari-cari ternyata dia melompat dari belakang pintu, seperti mau mengejutkan. Dan Bua ini akhirnya selalu membuat kangen.

Bua ini juga yang ikut ketika saya liqo. Membuat ibu-ibu sebel, karena minta dihelus-helus.
“Mama Bilqis ngangong kucing, ya?” tanya seseorang.
Beberapa hari ini Bua diare. Aneh untuk kucing yang sudah pintar masuk ke bak sampah, dan kalau jam makan selalu mengetuk-etuk pintu rumah.
Badannya kuat.
Tadi pagi saya temukan jawabannya.
Di sebuah rumah kosong, ketika ada beberapa kucing berkumpul. Melihat Bua sedang diterkam oleh premannya kucing, yang pernah memakan anak kelinci tetangga.
Kucing-kucing lain seperti ketakutan.
Bua diterkam dengan wajah memelas oleh Garong yang sedang birahi.
Saya lempar dengan kayu, si Garong tidak terpengaruh.
Saya siram dengan air , si Garong menyeret Bua yang ada dalam cengkramannya.
Saya panggil suami yang mencarinya ke rumah kosong.
Ada Bua ketakutan.
Dengan dubur yang merah, ia akhirnya berlari. Bua kucing laki-laki. Nampaknya dia disodomi kucing garong yang sedang birahi.

Ah, pemandangan melihat si Bua diperlakukan oleh garong membuat saya memikirkan hal lain.
Dunia manusia dengan segala pernak-perniknya.
Ada yang seperti Bua, dan ada yang seperti kucing garong.
Mendadak ingat nasib Hassan di Kite Runner.
‪#‎Ah‬, semoga semuanya selalu terjada dalam lingkaran kebaikan.

Bapak dan Kenangan yang Mengikat

Nur aku

Saya senang memandangi wajah Bapak dan Ibu ketika bercerita tentang suatu masa, suatu hari, di mana mereka mengenang seorang bayi harus dilahirkan.
Bayi yang membuat seorang perempuan 25 tahun merasakan cobaan beruntun. Tiga orang anak sudah lebih dahulu dilahirkan. Dua perempuan dan satu lelaki. Berjarak dua sampai tiga tahun.
Seorang lagi menghentak dalam kandungan dalam keadaan ekonomi rumah tangga semakin di titik nol.
Hanya ada sebuah selendang yang menenangkan. Selendang kain putih itu yang biasa dikenakan pengantin Jawa ketika akan menikah. Menutupi kepala suami dan istri ketika menghadap penghulu. Saya suka menyentuhnya. Selendang itu satu-satunya warisan yang diberikan oleh ibunya.
“Itu selendang punya Mbah. Untuk menutupi jenazah Mbah.”
Mbah, ibunya Ibu, seorang janda, hanya memiliki Ibu seorang, meninggal ketika saya berada di dalam kandungan Ibu.

Rumah masih mengontrak karena sebagai seorang pegawai negeri di Perhubungan Udara, Bapak belum mendapatkan rumah dinas.
Ibu harus berjalan dari pasar ke pasar untuk menjual ayam dalam keadaan hamil tua.
“Tidak sakit. Tidak sama sekali…”
Ibu, perempuan yang masih cantik hingga di usianya yang ke 70 biasanya akan menggeleng keheranan.
Bapak lalu akan mengenang sebuah radio miliknya satu-satunya, dimana setiap sore Bapak senang mendengarkan sandiwara radio.
“Radio itu lalu digadaikan.”
Saya mendengar dan meresapi kata-kata Bapak dan Ibu. Satu radio itu hiburan mereka berdua di ujung penat. Mendengarkan segala macam kisah sandiwara di radio.
Pasangan muda yang akan memiliki empat orang anak itu harus berpikir cepat. Bayi di dalam kandungan yang tidak pernah rewel itu sudah minta untuk ke luar.

Tidak ada uang, tidak ada biaya untuk mengantar ke bidan seperti tiga anak sebelumnya yang terlahir di bidan.
Radio itu lalu cepat Bapak bawa ke sebuah penggadaian. Dan kembali dengan seorang dukun beranak.
“Sakit?” tanya saya setiap kali membayangkan apa yang terjadi pada saat itu.
Ibu menggeleng.
Tiga anak sebelumnya, satu keguguran di usia empat bulan, pastilah sudah bisa memahami makna sakit ketika melahirkan.
Menikah di usia 16 tahun dan hidup menderita sebelumnya, pastilah tidak akan melebih-lebihkan apa rasanya sakit. Beberapa tahun tinggal di kios pasar di Semarang untuk membantu ibunya berdagang kue sebelum akhirnya bangkrut karena diguna-guna orang, pastilah paham betul apa makna tegar.

Saya suka setiap kali melihat Ibu membayangkan. Lalu bercerita bagaimana Ibu mulai melahirkan saya ke dunia.
“Tidak sakit. Sama buang air sakitan buang air besar.”
Bapak mengangguk.
Tidak sakit, tidak merepotkan, begitu kata Ibu. Hanya dua kali mengejan. Pada pagi hari antara jam delapan dan jam sembilan. Sebuah keajaiban, begitu yang Bapak bilang lalu menyiapkan sebuah nama untuk keajaiban itu. Nurhayati Pujiastuti.
“Anak dukun,” satu kakak laki-laki saya bicara. Bercerita bahwa setelah saya lahir, embah dukun membawa saya ke atas tampah, mengikuti tradisi.

Anak ajaib, anak dukun, anak yang paling sering sakit di keluarga.Satu-satunya anak yang ari-arinya dilarang dicuci Bapak karena tidak boleh oleh si dukun. Hanya dukun itu yang mencuci ari-ari saya.
Mungkin karena pengaruh itu saya sering dianggap memiliki feeling paling kuat di keluarga.
Anak yang membuat Bapak bisa menebus radio yang digadaikan dengan cepat karena ada rezeki yang kembali cepat datang. Seorang notaris, kenalan di jalan, sempat bicara sebentar saja mendatangi di tengah malam pada saat Bapak shalat tahajud. Notaris itu datang hanya untuk menawarkan pekerjaan sampingan sebagai asistennya. Pekerjaan yang Bapak lakoni sesudah pulang kerja sebagai PNS, Pekerjaan yang membuat Bapak bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit uang tambahan. Tapi pekerjaan itu juga Bapak lepaskan, karena Bapak tidak ingin anak-anaknya hanya kenal ia sebagai sosok pemberi materi saja. Bapak ingin anak-anak dekat dengannya. Dan hidup seadanya dipenuhi syukur adalah pilihan yang mantap dipilihnya.

“Bapak bangga dengan kamu.”
Saya sering tersenyum membayangkan.
“Cahaya Kehidupan,” ujar Bapak mantap. “Doa selamat…,” ujarnya dengan yakin memberi tahu tambahan di belakang nama.
Saya mengangguk.
“Teruslah bermanfaat.”

Gambar Menjelang Kematian

IMG-20150514-WA0005 - Copy

Ada ujian yang kami semua sudah persiapkan jauh-jauh hari, ketika kami sudah berkeluarga semua dan sudah memberikan cucu semua. Bapak dan Ibu juga semakin menua.
Ujian yang dipersiapkan itu bernama kematian.
Bapak sudah mempersiapkan pada lebaran sebelumnya. Ketika semua berkumpul. Lalu Bapak bicara tentang kemungkinan lebaran berikutnya, beliau bisa jadi tidak ada lagi di tengah kami.
Dan ucapan itu diulang berkali-kali. Bahkan sudah beliau persiapkan semuanya. Saya diberi banyak pesan dan banyak doa, karena seusai lebaran saya masih ke Solo beberapa kali.
Bapak berpesan pada kami semua, agar menjaga ibu dengan baik. Sama seperti dulu, kami tidak boleh berkata ‘ah’ pada Ibu.

Ketika mendengar kabar Bapak tiba-tiba menjadi buta, saya langsung ke Solo, bergantian dengan adik saya.
Bapak sudah mulai pulih penglihatannya.
“Tiba-tiba, Bapak melihat ada angin berputar kencang. Setelah itu pandangan mata Bapak kabur,” ujar Bapak pada saya
Saya ingat ayat yang saya baca. Dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya (QS Al Mursalat ayat 2).
“Bapak ikhlas, kan, semua kenikmatan Bapak diambil?” tanya saya pelan.
“Bapak ikhlas. Bapak juga tahu, Bapak tidak hidup selamanya.” Lalu pada saya, Bapak berpesan banyak hal. Bapak ingin juga melihat kedelapan anaknya berkumpul. Karena kami memang tidak pernah berkumpul 8 orang sejak bertahun-tahun yang lalu. Bapak ingin melihat kami 8 orang berkumpul bersama. Karena biasanya kami datang satu satu bergantian setiap bulan, untuk mengunjungi.
Dalam keadaan tidur yang tidak lagi tenang, Bapak masih terbangun. Kalau biasanya dengan kursi roda biasa ke kamar mandi sendiri. Sekarang minta didorong Ibu. Dan itu ke kamar mandi hanya untuk berwudhu. Saya masih menyaksikan shalat tahajjudnya yang panjang.

Saya pulang. Sebulan kemudian dapat kabar lagi.
“Bapak koma,” suatu hari pesan itu saya terima.
Langsung rontok rasanya persedian saya. Saya memang sadar bahwa kematian itu akan datang. Tapi kematian yang menimpa Bapak? Saya takut sekali untuk mengalaminya.
Pesawat yang saya tumpangi delay beberapa jam. Padahal jantung rasanya mau copot karena tidak sabar ingin melihat Bapak.
Bapak koma, semua anak berkumpul. 8 anak. Seusai kesepatakan semua anak, kami memberikan yang terbaik untuk Bapak, seperti yang dulu Bapak berikan pada kami. Jadi kami pilih rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan itu tidak bisa dicover dengan BPJS juga Jamsostek.

Bapak koma dan ternyata di ambang kematian. Di ruang ICU kami bergantian masuk.
Dokter bilang, garis hidup Bapak dan kematian tinggal satu garis lagi. Petugas datang untuk berdoa. Kami semua juga sudah ikhlas.
Saya masuk ke ruang ICU dengan membawa hafalan yang sedang saya hafal. Surah Ar Rahman. Di ayat 26 (Semua yang ada di bumi akan binasa), tiba-tiba mata Bapak terbuka. Bapak sadar dari komanya. Dan karena kondisi tubuh Bapak sudah meninggkat, maka dokter memutuskan untuk melakukan operasi.
Operasi di kepala. Awalnya semua ragu. Operasi di kepala untuk Bapak yang usianya sudah 85 tahun. Bersyukur Bapak dirawat di rumah sakit islam. Dokter berkata kepada kami. “Ini saatnya menunjukkan bukti sebagai anak berbakti.”
Operasi yang dilakukan beberapa dokter spesialis berhasil. Dokter justru bertanya pada kami semua. Di kepala Bapak ada darah menggumpal yang menggeser otaknya. Gumpalan darah itu gumpalan menahun dan harusnya sudah tahunan yang lalu Bapak stroke atau pikun.
Masya Allah, itu gumpalan yang terjadi ketika Bapak remaja dan kepalanya terkena pecahan granat pada zaman perang. Dan Allah tunjukkan keajaiban pada kami. Hafalan Al Quran’an Bapak dan tahajjud rutin Bapak sejak kami kecil sampai sebelum koma, menjadi penolongnya.

Bapak sadar. Bapak kembali memberi pesan pada saya dan anak-anak yang lain. Untuk jangan pernah meninggalkan tahajjud. Untuk hanya percaya pada Allah saja. Jangan terlalu memikirkan dunia.
Tapi kami sadar, kami tetap harus menyiapkan kematian untuk Bapak. Karena semua organ tubuh Bapak sudah menurun. Alat sudah menempel di tubuh Bapak. Meski otak Bapak masih kuat ingatannya. Kami siapkan banyak ilmu. Termasuk ilmu tentang tanda-tanda kematian.

Setiap anak yang masuk pada jam besuk, setiap itu pula yang kami lakukan adalah membaca Al Qur’an. Karena pendengaran Bapak memang sudah tidak baik sejak lama. Dan terbiasa pakai alat bantu dengar. Maka alat itu kami pasang di telinga Bapak, dan kami bergantian mengaji. Setiap anak yang masuk, fokus untuk membaca Al Qur’an.
Bapak masih minta shalat. Jadi kami tayamumkan. Bapak juga paham tentang kematian. Karena di ICU, pelajaran kematian terjadi setiap hari. Sehingga kami fokus membimbing Bapak, untuk berjalan tenang menuju pintu bernama kematian. Dan itu menjadi lebih mudah.
Saya belajar banyak bahwa akhirat itu ada, sakaratul maut itu nyata.
Sebab beberapa kali, menyaksikan sendiri. Beberapa orang dipanggilNYA pas jam bezuk. Dan qadarallah saya ada. Jadi bisa melihat dengan jelas semuanya, bahkan perubahan angka-angka di layar monitor.

Ada banyak hal yang belum sempat saya tanya pada orang-orang tertentu yang menghadapi akhir hidupnya, yang justru bisa saya dapat jawabannya dari Bapak.
Seperti pandangan mata yang menerawang. Pandangan antara ada dan tiada.
Pandangan seperti itu pernah saya dapatkan di tukang soto, sepasang suami istri.
Ketika pada sore hari, saya tiba-tiba ingin sekali membeli sotonya. Lalu mendapati mereka duduk berdua dengan pandangan mata menerawang, hingga beberapa kali dipanggil baru mereka mendengar.
Esok paginya, keduanya meninggal setelah motornya ditabrak kendaraan lain, pada saat mereka menuju pasar.
Pandangan seperti itu, juga saya dapati pada mbah putri, dua minggu sebelum meninggal.

Pelajaran tentang kematian membaut saya berani bertanya pada Bapak. Ketika pandangan Bapak menerawang ke atas.
Maka saya bertanya pada Bapak. “Bapak lihat apa?”
“Bapak lihat gambar,” jawab Bapak.
“Gambarnya bagus?”
Bapak hanya tersenyum.
Iya orang yang akan meninggal akan melihat gambar apa yang pernah ia lakukan dulu. Semua Allah bentangkan.
Saya juga belajar bahwa sakaratul maut itu memang sakit.

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas (Riwayat Aisyah).

Selama sebulan saya pelajari betul sakaratul maut. Iya, sebulan saya tidur di balkon rumah sakit, depan pintu ruang ICU. Tidak ingin pulang, karena saya merasa ini saatnya saya membayar apa yang sudah Bapak lakukan pada saya. Dulu saya jadi anak yang paling sering sakit. Dan dulu setiap kali mata saya terbuka, selalu ada Bapak duduk di samping tempat tidur, untuk berzikir. Bahkan setelah lelah pulang bekerja, Bapak melakukan hal itu. Terus-menerus sampai saya sembuh.
Seorang kakak cuti juga sebulan dari kantor. Adik juga sama. Kami menunggu bersama di rumah sakit.

Setelah dioperasi kepalanya, Bapak sadar. Bicara, ngobrol. Membicarakan pesan ke semua anaknya. Sambil sekekali bertanya, berapa biaya rumah sakit ini? Padahal kami bertekad untuk patungan untuk itu.
Bapak koma lagi, sadar lagi, koma lagi, sadar lagi.
Dan saya paham, kematian menjadi begitu dekat. Meski saya juga seperti copot jantungnya setiap kali pintu ruangan ICU terbuka di saat bukan jam besuk. Karena biasanya di saat itu, ada pasien yang drop dan sedang menuju kematian.

Saya belajar banyak tentang kematian. Bapak pernah memegang saya kuat-kuat lalu mulutnya kencang berdoa, ketika sebelahnya kritis. Saya sampai berpikir, apa yang Bapak lihat dengan orang itu. Keras, kah, malaikat maut mencabut nyawanya seperti tertulis dalam QS An Nazi’at ayat pertama? Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras.
Bapak pernah hanya menoleh saja, ketika yang lain di sebelahnya juga kritis.
Tapi Bapak pernah mengangguk dan tersenyum lalu bilang,” hati-hati..,” ketika ada orang lain di depannya juga kritis dan akhirnya tidak ada. Orang ini keluarganya juga rajin membacakan Al Qur’an dan dikenal sebagai orang baik. Saya bertanya kepada yang hadir.
Saya pernah tinggal sendiri bersama Bapak pada saat jam besuk. Yang lain belum datang. Tim kakak dan adik yang harusnya datang pada saat week end, karena mereka bekerja, ternyata ada tugas ke daerah lain.
Pada saat itu, sebelah Bapak terbatuk. Keras batuknya. Setelah itu perawat memanggil keluarga mereka berkumpul. Proses kematian sedang berjalan. Dan saya berada pada situasi di mana harus berpikir, bahwa kelak saya pun akan mengalami hal yang sama.

Sakaratul maut itu ada.
Sebulan menunggu di rumah sakit membuat setan menggoda. Mengajarkan saya mengeluh. Maka pada saat itu saya mengeluh pada Allah. Bertanya kepada Allah. Kenapa Allah jahat pada Bapak? Kenapa begitu lama?
Sampai akhirnya datang satu titik kesadaran kepada saya.
Bapak dengan 8 anak. Bekerja keras agar semua anaknya bisa sekolah. Ketika kebanyakan tetangganya memiliki kendaraan pribadi, Bapak naik sepeda. Ketika yang lain sudah punya rumah pribadi, Bapak tetap tinggal di rumah dinas, karena tidak punya uang untuk membeli rumah pribadi. Semua uang habis agar anak bisa membeli buku dan sekolah sampai selesai.
Kami anak-anaknya sudah punya penghasilan dan punya kehidupan lebih baik. Baru sebentar saja diuji dengan kesulitan mendampingi orangtua yang sakit, kenapa harus mengeluh?
Setelah disadarkan dengan hal itu, saya pun kembali fokus.
Mendampingi Bapak menuju pintu kematian.

Saya membacakan ayat-ayat yang Bapak ajarkan. Ketika saya sakit dulu, atau kena masalah, Bapak berikan QS Al Baqarah ayat terakhir. Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Saya usap-usap tangannya dan hibur dengan QS Al Fajr mulai ayat 27 sampai ayat 30. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridah dan diridhaiNYA. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKU. Dan masuklah ke dalam surgaku.
“Allah sayang Bapak dengan sakit ini,” ujar saya.
Maka Bapak mengangguk.

Semua sudah siap. Kematian itu sudah dekat.
Bersyukur setiap kali sadar, yang Bapak tanyakan adalah,” aku sudah shalat apa belum? Aku mau shalat.”
Pada satu kesempatan ketika Ibu berdua dengan Bapak, Ibu ke luar sambil bicara pada saya. “Bapak tadi bisa ngomong. Pegang tangan Ibu dan bilang. Ikhlas, ya.”
Saya tersadar.
Pintu kematian semakin dekat. Dan bacaan Al Qur’an terus-menerus kami lantunkan. Entah berapa juz sudah kami baca setiap harinya. Entah sudah berapa kali kami khatam membacanya. Karena pada saat itu, memang hanya shalat dan membaca Al Qur’an yang bisa kami lakukan. Dokter-dokter di rumah sakit ahli di bidangnya. Tugas kami hanya yakin Allah memberi yang terbaik.

Satu hari sebelum Bapak meninggal, saya tidur berdua di rumah sakit bersama Ibu. Kakak yang di Palu selesai cutinya selama sebulan. Adik-adik belum datang karena dinas. Kakak ditinggal pesawat karena sedang khusyuk shalat dan harus cari tiket pesawat lain.
Angin bertiup kencang pada saat itu dan saya kedinginan. Ada yang terasa sakit di bagian jantung, seperti sebuah tarikan keras.
Pada saat itu kakak ipar datang. Dan saya memutuskan untuk pulang. Saya masuk ke kamar Bapak, dan berbisik. “Tidur yang tenang, Bapak. Terima kasih sudah jadi Bapak yang sempurna untuk saya.”
Saya pulang.
Dengan hati lapang karena melihat wajah Bapak yang bersih dan tertidur tenang. Monitor berisi angka-angka petunjuk terus menurun angkanya.
Saya harus kembali pada suami dan anak-anak, yang sudah ikhlas membiarkan saya berbakti pada orangtua selama sebulan penuh.
Saudara yang lain sudah berkumpul di rumah sakit.
Di rumah pada malam hari ketika tertidur saya bangun dengan kaget. Mencari-cari Bapak karena saya melihat tempat tidur Bapak kosong. Setelah itu ada telepon masuk, mengabarkan. Bapak sudah benar-benar tidak ada.

Sebulan dan melihat proses banyak orang sakaratul maut, membuat saya paham banyak hal. Tidak mudah untuk menghakimi akhir hidup seseorang. Karena ilmu kita tentang orang lain hanyalah seujung kotoran kuku. Kalau pun luas ilmu kita tentang orang itu, bukan juga jadi alasan untuk menghakiminya.