Tamparan Allah untuk Buruk Sangka

Saya tidak pernah ditampar.
Tidak oleh Bapak, tidak juga oleh suami. Tapi ditampar Allah untuk segala prasangka buruk saya, sering sekali.
Dan tamparan itu menyadarkan saya untuk meluruskan apa yang ada di pikiran.
Hati-hati dengan apa yang terbersit di hati, tersimpan di benak lalu terlontar lewat ucapan.
Saya belajar untuk tidak berutang dari Bapak. Satu-satunya utang yang Bapak lakukan sepanjang hidupnya, adalah membeli televisi berwarna secara kredit. Setelah itu tidak ada. Hidup seadanya yang penting tidak memiliki utang.
Lalu tentu saja saya menjadi aneh dengan orang-orang yang berutang. Dan berujung pada ucapan terlontar dan bisa jadi itu menyakitkan seseorang yang mendengarnya, yang memang sedang terlibat masalah itu.

Lalu sampailah ujian Allah datang pada saya.
Saya terlilit utang. Bukan karena kebutuhan kredit ini dan itu. Tapi utang karena menolong orang lain dan berujung pada sebuah kesalahan.
Utang bertumpuk, debt collector datang silih berganti. Bersyukur Allah masih menutup aib dengan didatangkan para debt collector bermuka seram, tapi mereka bicara dengan sopan. Minta masuk ke teras untuk bicara pada saya. Seorang debt collector malah menalangi dulu membayari utang saya, untuk kemudian datang lagi jika saya siap membayar.
Apa yang bisa saya dapat dari ujian itu?
Allah cuma ingin mengingatkan saya, hati-hati dengan mulut saya. Dan merubah pikiran buruk saya. Karena ternyata tidak semua yang terlilit utang demi untuk membeli barang-barang penunjang gengsi kehidupan.

Tamparan lain datang ketika saya membaca sebuah artikel tentang musafir. Musafir yang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, tidak dengan kendaraan modern. Tapi yang berjalan kaki.
Yang muncul di benak pada saat itu adalah pertanyaan. Apa mungkin ada musafir di zaman seperti sekarang ini?
Lalu tiba-tiba ada yang mengucap salam di depan pagar rumah. Seorang perempuan penampilan tidak seperti peminta sumbangan lainnya. Dan dia juga tidak meminta sumbangan, ia hanya meminta nasi untuk dimakan.
Pada saat itu nasi yang ada hanya untuk anak-anak, karena saya masih diuji dengan kekurangan ekonomi.
Perempuan itu bilang kalau ia seorang musafir. Dan sampai perempuan itu pergi, saya masih berpikir bahwa saya tidak percaya.
Dan ketidakpercayaan itu akhirnya runtuh digantikan dengan rasa percaya.
Ketika si bungsu merengek tidak seperti biasanya. Ia merengek minta diajak keliling naik sepeda ke rumah sepupunya. Padahal jam itu biasanya adalah jam tidur.
Rengekan yang tidak biasanya itu saya sikapi dengan mengambil sepeda, melewati jalan biasanya.

Apa yang saya lihat setelah itu?
Seorang perempuan sedang menangis di halaman masjid. Perempuan yang tadi meminta nasi. Saya turun dari sepeda dan minta maaf karena sudah salah sangka.
Lalu ia bercerita tentang hidupnya. Terpaksa jadi musafir, berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta.
Pertanyaan saya adalah kenapa ia tidak bekerja? Dan kenapa mesti berjalan kaki?
Konon katanya, ia mantan istri seorang yang berpengaruh. Anak-anaknya dibawa suami. Dan suaminya selalu memiliki mata-mata untuk memantaunya. Lalu setiap kali ia mendapat pekerjaan, suaminya selalu mengancam para majikan. Hingga akhirnya ia harus menjalani hidup seperti ini.
Di tengah tangisnya dia bilang, kalau ia yakin ini ujian. Dan ia yakin pasti ada akhirnya.
Saya kembali lagi menemuinya setelah pulang ke rumah. Ingin menitipkan sesuatu padanya. Perempuan itu ada di dalam masjid, setelah para lelaki pulang dari shalat Jumat. Sujudnya panjang dan air matanya masih terlihat ketika saya jumpai kembali.
Setelah itu yang saya tahu, saya wajib bersyukur. Ujian yang saya alami memang belum kelihatan akhirnya. Tapi mengetahui ada orang lain yang nasibnya lebih mengenaskan ketimbang saya, saya wajib bersyukur dan semakin membersihkan isi kepala.

Tamparan yang lainnya datang belum lama. Ketika Bapak di rumah sakit. Tempat Bapak pertama adalah ruang ICU stroke. Tempatnya di sudut. Kamar mandi luas. Tempat menunggu juga sepi. Jadi kami anak-anaknya bebas menggelar tikar untuk menginap menunggu. Aktivitas ke kamar mandi juga tidak terganggu.
Setiap kali saya menuju ruang ICU stroke, setiap itu pula saya selalu melewati aula besar yang dipenuhi dengan banyak orang menggelar tikar. Beberapa hari Bapak di ICU stroke, itu artinya beberapa hari saya mesti melewati ruang itu.
Yang terbersit dalam pikiran adalah pertanyaan, ruang apa itu? Dan kenapa mereka mau menunggu seperti pepes ikan seperti itu?
Saya bahkan sempat mencoba mencari jalan lain agar bisa benar-benar tahu orang sebanyak itu menunggu apa. Jawaban didapat, tapi tetap belum bisa saya pahami.
Sampai akhirnya keputusan operasi kepala Bapak kami setujui. Bapak dioperasi. Malam-malam kami pindah tempat menunggu. Dan tahukan tempat apa yang akhirnya saya tempati?
Aula besar dengan banyak tikar digelar dan orang tiduran seperti pepes ikan. Ruang itu adalah ruang tunggu untuk keluarga pasien ICU.
Ruangan dipenuhi tikar dan orang. Yang untuk mandi hanya tersedia satu kamar mandi. Yang ketika tikar digelar dan ditinggal bahkan bisa ditempati orang lain. Bahkan sajadah yang saya gelar dijadikan alas tidur. Saya harus mandi sebelum subuh bila tidak ingin ditunggu antrian. Atau saya harus cari kamar mandi lain di tempat lain. Di masjid misalnya.

Maka mengeluhlah saya kembali.
Mengeluhkan keadaan yang tidak nyaman itu.
Hingga akhirnya Allah buat seperti yang saya inginkan.
Satu-persatu pasien di ruang ICU pindah kamar, atau dibawa keluarganya pulang karena dipanggilNYA. Satu persatu mereka pergi dan akhirnya menyisakan hanya Bapak di ruang ICU.
Bayangkan, ruang ICU di rumah sakit besar itu, hanya berisi Bapak. Tiga hari Bapak sendiri di ruang ICU. Bahkan pihak rumah sakit bisa merenovasi ruang itu, dan mengecat ulang.
Saya memang tidak perlu mengantri seragam lagi.
Keluarga yang biasanya dibatasi sampai tiga orang, sekarang bisa masuk sampai enam orang.
Tapi menunggu sendiri ternyata menyakitkan. Tidak ada teman berbagi ketika hampir putus asa. Tidak bisa melihat keluhan orang lain sebagai perbandingan hidup. Dan malam-malam jadi terasa lebih mencekam. Terlebih ketika pintu ruang ICU terbuka. Sebab kabar duka selalu diawali dengan pintu ruang ICU terbuka, lalu perawat mendatangi anggota keluarga yang menunggu.

Pada akhirnya,
ujian memang bukan sekedar ujian.
Ujian datang untuk yang kuat. Dan ujian datang juga untuk menguatkan.
Ujian juga datang untuk menyadarkan. Jangan-jangan ada yang salah dengan isi hati dan isi kepala kita.
Ujian bisa datang dari sesuatu yang sangat kita cintai dan juga kita benci.
Atau jangan-jangan, ada yang pernah merintih pada Allah atas apa yang terlontar dari bibir kita, hingga kita mendapatkan ujian itu.

Riya yang Tidak Sederhana

RIYA alias pamer.
Kalimat itu sering sekali mudah diucapkan orang lain, lalu menunjukkan jarinya pada orang lain.
Riya alias pamer. Dalam surat Al Maa’uun surah ke 107 ayat 6.
Celaka bagi orang yang sholat. Ketika mereka lalai dalam sholatnya. Dan ketika mereka riya.
Riya kenapa?
Ketika shalat dilakukan dengan niat agar orang lain tahu.

Saya memahami riya sebagai masalah hati. Standar hati orang yang satu berbeda dengan orang yang lainnya. Ketika dua orang yang berbeda ini saling menilai, akan hadir perbedaan yang ujungnya saling menyalahkan orang lain.

Ketika menulis status tentang hapalan kita yang bertambah, untuk orang lain akan dianggap riya. Maka tidak ada pahala lagi untuk kita karena keriyaan itu. Tapi ketika si pembuat status bertujuan untuk memotivasi orang lain, maka tentu tuduhan seperti itu tidak berdasar.

Saya tidak mau main-main dengan riya dan standar saya. Sebab pengalaman sedih dan membuat saya trauma pernah terjadi. Alih-alih takut dianggap riya, saya justru membuat orang lain jadi celaka.

Beberapa tahun yang lalu, saya biasa sedekah sembunyi-sembunyi ke seorang tetangga sepasang suami istri, yang tuna netra. Biasanya saya akan datang ke rumahnya di saat jalan di perumahan sepi. Sehingga apa yang saya berikan tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Lagipula, seorang tetangga lain memang selalu bilang pada yang lain, bahwa ia yang selalu memberi pasangan suami istri itu. Saya takut dianggap melangkahi dirinya, yang memang secara materi terlihat lebih ketimbang yang lainnya.

Setahun, dua tahun saya terus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Ingin pahala diterima Allah total dan saya tidak dianggap bangkrut karena pahala saya habis karena riya. Hingga suatu hari, ketika agak lama saya tidak datang ke rumah pasangan itu, saya dapati si istri sakit.
Kebetulan di Solo saya jatuh dari motor. Dan pulang dari ke rumah, saya cari tukang pijat tuna netra itu. Si istri sedang sakit. Hiks…, di rumah tidak ada makanan. Maka dengan sembunyi-sembunyi saya lari ke swalayan. Sorenya juga saya belikan bubur.
Besok paginya seperti itu lagi. Sampai saya dapati si suami dan istri bilang, kalau mereka sudah baik-baik saja.
Lalu saya merasa tenang dan fokus dengan kegiatan saya.

Selang sehari kemudian di sore hari, saya lihat orang berkerumun di satu rumah. Rumah pasangan itu. Saya tanya ke tetangga, lalu mereka bilang kalau perempuan yang tuna netra itu sekarat. Kaget lah. Lebih kaget lagi ketika seorang yang biasa memberikan sesuatu kepada pasangan itu, bicara menyalahkan tetangga yang lain. Katanya semuanya tidak ada yang peduli. Dan selama ini ia yang menanggung semua biayanya.

Ketika seseorang bicara seperti itu, saya justru merasa tersudut dengan rasa bersalah. Bersalahnya, kenapa selama ini saya diam-diam ketika akan memberi? Kenapa ketika tetangga saya itu sakit, saya tidak mengetuk pintu tetangga yang lain dan minta mereka bergantian memberi?

Saya embuskan kuat-kuat ,lalu menghampiri tetangga yang masih keras bersuara menyalahkan tetangga yang lain. Saya bicara pelan-pelan. Saya bilang, semua tetangga peduli. Lalu saya terpaksa membuka apa yang sudah saya lakukan selama ini. Sedekah diam-diam. Dalam pikiran saya, biar saja pahala saya hilang, yang penting satu orang itu sadar. Alhasil ia kaget dan langsung terdiam.

Riya itu masalah hati.
Kita kok yang paham apa yang kita lakukan itu, apakah ingin memotivasi atau memang riya agar dikagumi orang lain?
Kita kok yang paham, lebih besar mana tingkat riya kita atau tingkat ingin memotivasi kita. Dan semakin tebal keimanan, kita juga kok yang bisa memutuskan untuk terus lanjut atau berhenti.

Sejak peristiwa itu saya sadar. Apa yang saya lakukan ketika itu tujuannya untuk memberi contoh pada orang lain untuk berjalan ke arah kebaikan, maka itu saatnya saya tutup telinga dari apa yang dikatakan orang lain.
Biarlah orang lain menganggap riya, sepanjang niat awal saya tidak seperti itu.

Kucing pun Bisa Cemburu

kucing 6 copy

Brave kami selamatkan. Iya. Penyelamatan anak kucing yang sedang dikejar anak-anak kecil. Anak-anak kecil yang seringnya tidak paham dan bermain-main dengan cara kasar. Mereka suka bersorak ketika bisa menangkap kucing itu lalu memasukkannya ke dalam got.

Brave itu hadiah yang lucu.
Dua hari sebelumnya saya melihat kucing cantik di tukang sayur langganan. Kucing cantik itu akhirnya dipindahkan ke tempat lain karena dirasa mengganggu. Saya terigat sosok cantik kucing itu. Cerita pada anak dan suami. Dan mereka kompak bilang,” Kenapa Ibu tidak bawa kucing itu?”

Mungkin karena memikirkan kucing di tukang sayur itu, membuat saya memimpikannya di malam hari. Nah, mimpilah saya didatangi anak kucing cantik. Dan keesokan paginya ternyata benar-benar seekor anak kucing kecil cantik, yang saya beri nama Brave datang ke rumah.

Kucing Lain Cemburu

kucing 1

Kucing lain yang ada di rumah, Bua namanya.
Seekor kucing kampung remaja. Kucing-kucing lainnya yang sama-sama kecil dengan Bua sudah tamat riwayatnya, alias mati.
Seekor kucing garong bernama Mayor, kelihatannya punya birahi yang luar biasa, dan mengawini anak-anak kucing yang ada. Virus dari Mayor itu membuat kucing-kucing itu pelan tapi pasti menjadi kurus dan akhirnya mati.
Bua kuat. Pada akhirnya membuat saya paham, di dunia kucing siapa yang kuat dia yang bertahan hidup.

Apa yang Bua lakukan dengan adanya Brave? Bua cemburu.
Cemburunya yang benar-benar terlihat dari pandangan matanya. Bukan sekedar cemburu, sejak kedatangan Brave, Bua juga menjadi tidak agresif lagi seperti sebelumnya. Dan jadi mudah sakit.
Ia mudah marah dan langsung menampar Brave ketika mendekat dengannya. Dan di siang hari, ketika biasanya Bua selalu kabur ke luar rumah, entah itu lewat lubang yang kami sediakan, atau lewat pargar, maka semenjak ada Brave, Bua hanya tinggal di rumah. Terkadang dia masuk hanya untuk minta dihelus.

kucing 3 copy

Apa yang bisa saya pelajari dari dunia kucing?
Buanyak sekali.
Pelajaran untuk anak-anak adalah pelajaran empati. Pelajaran empati itu tidak didapatkan di sekolah. Pelajaran lainnya adalah pelajaran melatih berbagi. Berbagi makanan dengan para kucing. Jadi ketika berpergian, yang diingat adalah makanan untuk kucing. Tentunya kalau sudah begitu, mudah untuk memoles mendatangkan kepeekaan dalam jangkauan lebih luas lagi.

Titipan Allah Bernama Tetangga yang Buruk

tetangga 3 lagi copy

Dulu, pemahaman saya hanya sederhana.
Ketika kita baik, Allah akan menitipkan segala yang baik-baik saja, bukan yang buruk. Ketika kita sudah baik, itu artinya kita harus membentengi diri agar tidak terkena segala sesuatu yang buruk. Teman yang buruk atau hal-hal lain yang bisa menganggu kenyamanan kehidupan kita. Karena itu saya menutup diri dari tetangga yang buruk.

Bersyukur saya tidak bertahan dengan pemahaman itu.
Mengikuti banyak pengajian adalah salah satu hal yang membuat segalanya menjadi berubah.
Ada hadist yang sudah saya pelajari sejak mengaji di madrasah dulu. Bunyinya. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.”

Dari Aisyah berkata, Rasulullah bersabda,” Jibril selalu mewasiatiku untuk berbuat baik kepada tetanggaku, hingga aku menyangka bahwa dia (Jibril) akan menetapkan warisan bagi tetangga.”

Orang terdekat kita adalah tetangga.
Orang yang tahu karakter kita adalah tetangga, karena kita berinteraksi setiap hari. Mereka memahami kita sama seperti kita memahami mereka.
Ketika Allah menginginkan kita menjadi magnet kebaikan, maka kita akan ditempatkan di sebuah lingkungan, yang kebaikannya harus kita perjuangkan.

Kita Orang Pilihan

Biasanya sesuatu yang kita anggap buruk itu, yang ada di luar kebiasaan kita.
Misalnya, kita yang sempat merasakan berpendidikan tinggi, ternyata memiliki tetangga yang sekolah juga tidak terlalu tinggi.
Kita yang membiasakan diri mengajarkan anak dengan bahasa yang santun, ternyata tetangga sebelah rumah adalah anak-anak yang terbiasa bicara kasar dan kotor.
Kita yang terbiasa menyukai kebersihan, ternyata tetangga kita adalah orang yang biasa membuang sampah sembarangan.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

1. Sadari bahwa tetangga yang buruk adalah amanah kita untuk merubah mereka. Dan kita orang terpilih untuk mengajak mereka menjadi lebih baik lagi.

2. Lihat kekurangan tetangga bukan untuk dicaci. Tapi untuk dicari celah, darimana kita bisa membenahi mereka.

3. Berkomunikasi. Komunikasi bukan hanya saling lempar senyum setelah itu tutup pintu rapat-rapat. Komunikasi yang baik adalah saling lempar pesan. Meluangkan waktu untuk saling mengenal satu dengan yang lain.

4. Jadikan diri kita air bukan bensin. Artinya, ketika mereka emosi atau membuang muka pada kita, tetaplah kita tidak merubah dan terus tersenyum.

5. Bagikan ilmu yang kita miliki. Meski sedikit ilmu kita bisa sangat bermanfaat. Untuk ibu-ibu yang belum bisa mengaji, ajarkan mengaji. Untuk yang belum bisa membuat kue, sedang kita bisa membuat kue, ajarkan hal itu pada mreka.

6. Tanam tumbuhan yang bermanfaat di luar pagar rumah kita. Seperti daun pandan, pepaya, cabai dan sebagainya. Biarkan tetangga mengambilnya. Karena tumbuhan semacam itu tidak akan habis kita makan sendiri. Bahkan semakin bermanfaat tumbuhan, semakin subur tumbuhnya.

7. Jadikan diri kita teladan untuk mereka tiru. Artinya kita harus juga berjuang untuk terus berjuang di jalan kebaikan. Sehingga mereka bisa merasakan bahwa kebaikan kita bermanfaat untuk mereka. Dengan begitu mereka akan berjuang juga melakukan hal yang sama.

8. Kalau bukan kita siapa lagi? Jika kita dibukakan hati untuk melihat keburukan tetangga, sebenarnya Allah juga sedang membukakan pintu hati kita, untuk menggiring mereka ke arah kebaikan. Jadi yakinkan diri kita dan jangan tunggu orang lain untuk merubahnya.
Tujuannya agar lingkungan terjaga. Dan kelak anak-anak kita tumbuh kembang dalam lingkaran kebaikan. Bukan hanya di lingkungan rumah tapi lingkungan lebih luas lagi.

Ketika Suami Istri Bekerja di Rumah

meja kerja suami

Bekerja dari rumah?
Kalau hanya istri atau hanya suami bekerja sebagai freelancer, mungkin bisa masuk akal sehat.
Maklumlah kondisi pekerja lepas, alias bekerja dari rumah masih menjadi alasan banyak kepala berkerut kening. Dengan alasan apa bisa?

Dulu saya berpikir juga seperti itu. Apa bisa?
Suami istri lho.
Kadang dalam beberapa jam pertemuan saja suka ada konflik. Ini 24 jam bertemu setiap hari. Apa yang akan terjadi?

Ketika suami merasa sudah ingin usaha. Maka saya bolehkan. Tapi…, kantornya bukan di rumah.
Jadi ia menyewa kantor di sebuah ruko dan bekerja dari sana.
Lalu kami jatuh bangun. Sukses dan bangkrut. Kena tipu sana sini. Dapat hikmah luar biasa bagaimaan menghadapi orang lain. Dan yang jelas, semakin ikhlas, bahwa semuanya sudah diatur olehNYA, untuk membuat kami semakin tangguh di dunia ini. Dan semakin erat ikatan pernikahan.

Kenapa hubungannya dengan pernikahan?
Karena saat tertipu itu, kami berada di titik nadir di bawah nol. Banyak kisah istri yang meninggalkan suami dalam keadaan terpuruk seperti itu. Saya bertahan. Dengan alasan, saya tidak mau mengguncang Arsy-Nya Allah.
Well, suami bekerja lagi. Seorang seniman bekerja di kantor itu artinya banyak menggunakan mood. Di bawah tekanan akan membuat ide mereka tidak ke luar. Maka ketika suami memberikan proposal lagi dan lagi, bahwa ia ingin resign dari kantor, maka saya mulai berpikir lagi.

Bukan, saya bukan takut soal rezeki.
Kami sudah punya bekal tentang mengais rezeki lewat internet. Saya hanya takut ada disiplin yang saya terapkan di rumah, jadi kacau balau ketika suami bekerja di rumah.

Saya juga bukan takut soal tidak bisa asal-asalan berpakaian di rumah. Sebab dari dulu, saya biasakan untuk tidak pakai daster kecuali akan tidur.
Ada suami di rumah, saya semakin hobi berdandan untuknya. Pakai minyak wangi, bedak dan lipstik ketika ia ada di rumah. Dan itu bukan saja membuat saya merasa lebih percaya diri, tapi juga membuat suami menjadi nyaman.

Keputusan Ada di Istri

Keputusan yang paling berat menerima proposal suami untuk bekerja di rumah siap saya pikirkan. Kalau bekerja di rumah itu artinya…,kami akan langsung bertemu. Kalau bekerja di rumah, itu artinya…, anak-anak akan mendapatkan dua orang dewasa dengan pemikiran berbeda. Yang bisa membuat mereka berlari untuk mencari perlindungan di salah satu dari kami, dan itu akhirnya yang akan terjadi disiplin menjadi mentah.
Kalau bekerja di rumah, maka kami tidak mendapat gaji tetap.

Okelah itu bukan masalah besar jika dituntaskan kepada Si Maha Besar. Maka seperti biasa, saya minta pentunjukNYA. Lalu proposal saya sampaikan pada suami.

1. Dia boleh bekerja di rumah, asal paham bahwa istri juga bekerja dari rumah. Saya sampaikan jam kerja saya, seperti jam kantor. Artinya, jangan sebentar-sebentar minta dibuatkan kopi atau camilan. (Hiks.., karena suami punya kebiasaan makan camilan) Karena itu artinya mengganggu jam kerja saya. Yang jelas, ketika saya akan buka komputer, rumah sudah bersih, anak-anak sudah berangkat ke sekolah dan makanan sudah siap tersaji.

2. Dia boleh bekerja di rumah asal soal anak-anak, serahkan pada saya seperti biasanya. Artinya soal disiplin mereka belajar dan disiplin yang saya terapkan untuk anak-anak, saya minta itu jadi bagian saya. Jadi saya beritahu apa yang saya lakukan selama ini untuk anak-anak.

3. Dia boleh bekerja dari rumah, asal…, mau menambah ibadah shalatnya. Seperti shalat dhuha dan shalat sunnah lainnya. Plus mau membuka Al Quran setiap hari.

Alhamdulillah dengan perjanjian seperti di atas, suami berproses ke arah lebih baik. Dan saya juga berproses menjadi lebih tenang dalam bekerja. Hingga sekarang proses itu terus berlangsung.

Dua Meja Kerja

meja kerja saya

Kami punya kebiasaan berlama-lama di depan komputer. Suami sebagai ilustrator, design graphis, komikus dan sebutan lainnya entah apa namanya, memang punya jam kerja yang cukup panjang. Apalagi dalam menggambar ia adalah seorang perfeksionis dan tidak ingin mengcewakan klien.

Saya sendiri, senang berlama-lama juga. Saya punya target menulis setiap hari. Mengajar kelas menulis. Mempelajari sosial media untuk melebarkan langkah sebagai penulis.

Jadi intinya, kami memang harus punya ruang kerja sendiri. Tidak bisa saling meminjam komputer.
Laptop? Ah.., tipikal pekerja seperti kami, laptop dalam setahun bisa rusak. Karena kami minimal 8 jam di depan komputer. Saya sendiri berhenti bekerja setelah maghrib. Karena itu jadwal untuk anak-anak.

Meja kerja kami tentu sesuai dengan karakter kami. Saya juga tidak ingin mengubahnya, suami juga tidak ingin mengubah meja kerja saya. Artinya sama-sama enjoy.
Terhubung dengan internet itu suatu bekal penting bekerja sebagai seorang freelancer.

Darimana Job-nya?

Yang menjadi masalah untuk orang yang biasa bekerja kantoran adalah takut tidak mendapat uang setiap bulannya. Freelancer gitu lho.
Saya sendiri hanya bilang pada suami. Tambah ibadah, termasuk shalat sunnah, agar rezeki juga dimudahkan.
Pilih pekerjaan sesuai kemampuan dan juga sesuai dengan jalur agama. Artinya jika mendesign loga perusahaan, jangan mendesign gambar seksi dan menerima produk yang tidak halal.

Networking memang dibutuhkan. Bersyukur saja, kami konsisten dan fokus di bidangnya dan sama-sama mendukung.
Suami selalu mempromosikan saya ke rekan-rekan yang ia kenal. Jadi pekerjaan menulis saya bisa datang dari teman-teman suami.
Saya juga tidak ragu mempromosikan suami saya ke yang lain, termasuk ke sosial media. Atau jika suami butuh bantuan saya, untuk koreksi gambarnya atau untuk menerjemahkan maunya klien yang biasanya dalam Bahasa Inggris, saya akan siap untuk itu, meskipun harus meninggalkan meja kerja saya.

Yang paling penting adalah ikhlas menerima bagian dari takdir rezekiNYA. Saya selalu yakin, semakin banyak sedekah yang saya keluarkan dan cepat-cepat mengeluarkannya tanpa menunda, akan mengundang kepercayaan Allah untuk memberi rezeki yang lain.

Tidak takutkah kami kehabisan order?
Sampai saat ini saya yakin, rezeki selalu ada untuk kami. Lagipula kami berdua punya keahlian. Suami bisa membuat aneka macam kerajinan. Kami pernah kok membuat kotak untuk hantaran pengantin. Saya bisa mengajar dan suka mengajar. Maka membuka les di rumah, bisa membuka peluang rezeki juga.

Tidak takutkan dengan apa kata orang lain?
Yang itu tidak pernah saya takutkan. Karena saya sejak lama sudah tutup telinga dengan komentar negatif dari orang lain.

Seminggu sekali atau dua kali, suami ke luar rumah, karena ada dua kantor freelancer yang memintanya datang untuk ngantor. Atau meeting dengan klien untuk proyek yang ingin diajukan.
Saya sendiri biasa ke luar rumah, jika suami ada di rumah. Artinya jika ada acara untuk saya, maka saya pastikan, saya akan datang jika suami ada di rumah. Jadi anak-anak ada yang menjaga.

Oh ya, efek dari suami bekerja dari rumah yang menyenangkan adalah.
Pagi hari, saya tidak lagi repot sendiri.
Ketika saya sibuk di dapur, suami sudah menyapu rumah dan mengepel.
Dan sering ada ide yang bisa didiskusikan bersama. Dan itu lebih efektif untuk pekerjaan kami berdua.

Agar Manula Hapal Al Quran

IMG-20150821-WA0001

Menghapal Al Quran menjadi sesuatu yang berat bagi kita-kita yang masih berusia muda. Mindset berat itu akan terasa semakin berat ketika usia kita berada di atas 40 atau 50. Kata tidak mungkin itu tertancap di benak kita, sehingga jangankan untuk menghapalnya. Melihat huruf-hurufnya pun jadi membuat mata dan kepala ikut berkunang-kunang.

Ibu saya usia di atas 70 tahun. Baru bisa membaca Al Quran ketika anak-anak sudah beranjak besar. Dan ketika anak-anak semuanya sudah menikah, baru Ibu punya waktu untuk fokus belajar agama, termasuk menghapal Al Quran.

Bagaimana cara menghapal Al Quran yang mudah terutama untuk manula?

1. Kenali dulu Al Quran itu sendiri. Artinya kita harus tahu arti yang terkandung di dalamnya.

2. Orientasi di masa depan. Menghapal Al Quran tujuannya adalah bekal di akhirat kelak. Karena itu kita harus punya orientasi hidup sesudah mati, sehingga kita jadi bersemangat untuk melakukannya.

3. Yakin Bisa. Tanamkan dalam hati keyakinan seperti itu.

4. Yakin akan dipermudah. Tanamkan juga keyakinan yang ini. Ketika kita berjuang untuk sebuah kebaikan, Allah pasti akan memudahkan langkah kita.

5. Cari Komunitas yang Bisa Mendukung. Artinya ketika usia kita sudah di atas 40, 50 jangan bergaul dengan orang-orang yang merasa bahwa menghapal Al Quran itu sesuatu yang tidak mungkin untuk orangtua. Karena hal seperti itu hanya akan membuat kita jadi merasa sendiri dan pada akhirnya tidak semangat lagi untuk melakukan.

6. Orangtua mengharapkan anak hapal Al Quran, karena kelak si anak yang hapal Al Quran, akan memberikan hadiah jubah untuk orangtuanya kelak di akhirat. Apa salahnya kita memikirkan hal itu juga? Kita berjuang untuk memberikan hadiah berupa jubah yang membanggakan orangtua kita di akhirat kelak.

7. Di usia 40 biasanya pelan tapi pasti kita mulai merasa ingatan berkurang. Begitu juga dalam menghapal Al Quran. Karena itu jangan terlalu memaksa sehari bisa menghapal 10 ayat. Cukup satu ayat yang diulang-ulang saja.
Sehari satu ayat yang kita hapal, dalam 30 hari kita hapal 30 ayat.

8. Kurangi yang Tidak Penting. Semakin kita bertambah usia, waktu akan terasa berjalan sangat cepat. Karena itu kita harus mengurangi hal-hal yang tidak penting. Seperti mengurangi menonton acara televisi yang tidak bermanfaat dan menggantinya dengan membaca buku-buku keagamaan.

9. Minta orang terdekat kita mendukung usaha kita. Dan tularkan semangat kita. Dengan cara seperti itu, kita tidak akan merasa sendiri, dan semangat akan terus melingkari kita.

Manfaat Buku Harian untuk Ibu Rumah Tangga

DSCF3558

Buku harian alias diary biasanya dimiliki oleh anak remaja dan menjelang dewasa. Ketika sudah menikah, kebiasaan menulis buku harian itu akhirnya ditinggalkan oleh kebanyakan perempuan.
Padahal manfaat buku harian itu sangat banyak, dan bisa mengurangi beban masalah dalam rumah tangga.
Buku harian tidak selalu harus buku khusus. Kita bisa menggunakan banyak buku lain, semisal buku tulis atau yang lain.

1. Untuk Curhat
Hadirnya sosial media, membuat banyak ibu rumah tangga yang memilih curhat di sana. Banyak yang mengeluh agar curhatnya bisa cepat ditanggapi oleh orang lain.
Padahal curhat berupa keluhan seperti itu akan berdampak tidak baik. Orang yang tidak mengenal kita, akan memiliki anggapan miring tentang kita. Bisa jadi kita akan dianggap sebagai seorang pengeluh.
Curhat dengan buku harian lebih berdampak positif. Kita bisa mengeluarkan semua isi hati kita, tanpa perlu takut diberi label negative oleh orang lain.

2. Belajar Mencari Jalan Ke Luar
Curhat di sosial media, akan membuat kita tertolong dengan komentar orang yang menanggapi curhat kita. Tapi sesungguhnya itu tidak membantu kita untuk belajar dewasa.
Buku harian membuat kita belajar mengurai masalah yang sudah kita tulis di dalamnya.

3. Ajang Intropeksi
Pengguna sosial media yang menulis status dengan marah-marah, biasanya dilakukan pada saat emosinya meledak. Menulis buku harian yang bisa panjang sampai berlembar-lembar, biasanya juga seperti itu. Kalau tidak sedang marah, sedang sangat sedihnya.
Di sosial media, kondisi seperti itu tentu menjengkelkan untuk teman-teman yang terhubung dengan kita.
Tapi di buku harian, hanya kita yang melihatnya. Tidak ada yang tersinggung. Tapi dengan membaca ulang, kita bisa belajar untuk intropeksi.
Bacalah kembali buku harian itu setelah marah dan sedih kita hilang, beberapa jam setelah kita menulisnya.

4. Tidak Ada Screen Shoot
Omelan, tuduhan dan lain-lain sekarang bisa disebar dengan cara screen shoot di media. Kalau buku harian? Tidak bisa. Maka semua curhatan kita akan aman selamanya sampai kita membukanya dan memberikan pada orang lain.

5. Penguat Ingatan
Penulis buku harian biasanya setiap hari akan mengisi buku harian itu. Momen sedih, senang juga marah akan terus diisinya.
Nah hal ini bermanfaat untuk menguatkan ingatan.
Kalau sedang marah dengan pasangan, tinggal buka saja buku harian itu. Dan baca ulang lagi tulisan tentang kenangan indah bersama pasangan.

6. Buku Harian Membuat Lebih Kreatif
Buku harian bukan smart phone. Buku harian lebih murah tentu saja. Tidak ada gambar bergerak. Dengan keterbatasan itu kita sebagai penggunanya buku harian dituntun lebih kreatif.
Tulis dengan spidol warna-warni. Tempeli foto orang-orang terkasih. Beri sampul yang bagus.
Hal seperti itu akan membuat kita semangat menulis.

7. Ajang Bicara dengan Pasangan
Jika pasangan susah diajak bicara, tulis saja di buku harian. Dan tunjukkan pada pasangan biar pasangan juga ikut membacanya. Dengan begitu pasangan tahu apa yang kita rasakan.

Bua dan Kerasnya Kehidupan

Bua

Kami memanggilnya Bua. Panggilan mudah sesuai warna-nya abu-abu.
Kucing terlama yang ada di teras rumah. Biasanya induk kucing, hanya akan numpang melahirkan. Sebulan setelah itu, anak akan dibawa induknya.
Tapi kali ini berbeda.
Mereka tumbuh besar di teras rumah.
Mengeong-ngeong dengan suara bayi.
Membuat semuanya jadi jatuh hati. Termasuk si Bapak, yang tadinya tidak suka.
Bahkan si Bapak selalu meracik makanan dan membersihkan luka atau sakit mata si anak-anak kucing.

Ada tiga anak kucing.
Tiga anak kucing kadang bikin jengkel. Saat jam makan, ketika belum diberi, mereka akan mengikuti ke mana saya pergi. Bahkan pernah ikut ke rumah tetangga. Tiga-tiganya menunggu saya ngobrol.
Sayang, yang satu mati terlindas mobil, yang tidak tahu sudah melindas anak kucing.
Tersisa dua dengan karakter yang berbeda. Satu pemberani, si Bua ini. Yang satu terlalu sensitive, Coco namanya. Kalau dibilang stop, maka ia cukup duduk tenang di depan pintu, tidak masuk ke dalam.
Si Bua tidak seperti itu. Dilarang artinya harus dilanggar. Masuk untuk bersembunyi di belakang pintu, atau sekedar berguling-guling di karpet.
Pernah saya cari-cari ternyata dia melompat dari belakang pintu, seperti mau mengejutkan. Dan Bua ini akhirnya selalu membuat kangen.

Bua ini juga yang ikut ketika saya liqo. Membuat ibu-ibu sebel, karena minta dihelus-helus.
“Mama Bilqis ngangong kucing, ya?” tanya seseorang.
Beberapa hari ini Bua diare. Aneh untuk kucing yang sudah pintar masuk ke bak sampah, dan kalau jam makan selalu mengetuk-etuk pintu rumah.
Badannya kuat.
Tadi pagi saya temukan jawabannya.
Di sebuah rumah kosong, ketika ada beberapa kucing berkumpul. Melihat Bua sedang diterkam oleh premannya kucing, yang pernah memakan anak kelinci tetangga.
Kucing-kucing lain seperti ketakutan.
Bua diterkam dengan wajah memelas oleh Garong yang sedang birahi.
Saya lempar dengan kayu, si Garong tidak terpengaruh.
Saya siram dengan air , si Garong menyeret Bua yang ada dalam cengkramannya.
Saya panggil suami yang mencarinya ke rumah kosong.
Ada Bua ketakutan.
Dengan dubur yang merah, ia akhirnya berlari. Bua kucing laki-laki. Nampaknya dia disodomi kucing garong yang sedang birahi.

Ah, pemandangan melihat si Bua diperlakukan oleh garong membuat saya memikirkan hal lain.
Dunia manusia dengan segala pernak-perniknya.
Ada yang seperti Bua, dan ada yang seperti kucing garong.
Mendadak ingat nasib Hassan di Kite Runner.
‪#‎Ah‬, semoga semuanya selalu terjada dalam lingkaran kebaikan.

Kejutan Allah Bernama Award

pemenang IBW award 20120

Sepanjang karir sebagai penulis, saya tidak pernah menyangka kalau suatu saat akan mendapatkan hadiah berupa IBF AWARD. Bahkan ketika membaca berita tentang IBF AWARD pun yang ada di kepala adalah bahwa itu sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
Pesimiskah saya sebagai penulis?
Tentunya tidak.
Justru saya adalah penulis yang optimis. Untuk karya yang saya tulis yang saya kirim ke media saya selalu yakin bahwa tulisan saya akan dimuat.
Untuk tulisan yang saya kirim ke penerbit, saya juga yakin kalau itu akan di acc menjadi sebuah buku.
Untuk sebuah karya yang saya kirimkan dalam ajang lomba penulisan, saya bahkan mantap dengan target menjadi salah satu pemenang.
Tapi tidak untuk menjadi pemenang IBF. Mendapat award? Saya bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.Karena apa?
Karena saya bukan penulis yang aktif di organisasi kepenulisan. Saya penulis bebas tanpa ikatan organisasi. Saya merasa bisa bebas terbang tanpa ikatan.
Saya juga merasa belum bermanfaat total sebagai penulis. Saya cinta mati dengan dunia menulis yang sudah membuat saya menjadi sarjana. Mampu membiayai kuliah saya di dua tempat. Mampu membiayai kursus-kursus yang saya ikuti. Begitu cinta matinya dengan dunia menulis, maka saya berkeputusan untuk kerja di rumah dan menjadi ibu rumah tangga plus dengan menulis.

Lalu apa hebatnya saya ketimbang penulis lain?
Tidak. Saya tidak hebat.
Saya masih berkeinginan bermanfaat untuk orang banyak. Tapi saya baru bisa melakukannya dengan menulis. Dengan dua anak yang masih kecil, dan fokus saya untuk menjadikan rumah tangga saya rumah tangga yang berkualitas dengan meningkatkan kualitas saya, pasangan dan anak-anak, maka saya baru merasa manfaat saya hanya ada di situ. IBF AWARD hanya untuk penulis yang hebat dan banyak manfaat. Saya jauh dari kriteria itu.

Tapi rupanya Allah ingin memberi kejutan untuk saya.
Ini bukan lagi sebuah penghargaan. Ini adalah benar-benar sebuah kejutan. Kejutan yang buat saya luar biasa dan tidak terjadi begitu saja.

Ketika buku NAYLA MENCARI BUNDA sebelum berganti judul AKU SAYANG BUNDA saya kirim ke Indiva, buku itu pernah saya kirim ke sebuah penerbit lain. Mereka bilang akan menerbitkan tapi tidak tahu waktunya.
Untuk karya yang saya buat dengan hati jelas saya tidak bisa menunggu. Saya harus mengirimkan ke penerbit lain yang bisa menerbitkannya.
Buku ini saya buat dalam keadaan terpuruk setelah suami bangkrut dari usahanya. Saya mengetik dengan komputer yang layar monitornya menciut hingga separuhnya. Tidak berani menaruhnya ke tukang servis komputer karena prioritas utama kami adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu penerbit di Solo setelah hunting penerbit terasa klik di hati. Tidak pernah terpikirkan apakah itu penerbit besar atau kecil. Saya cuma ingin buku saya terbit. Buku anak karya saya yang pertama setelah saya memutuskan untuk hijrah menulis buku anak.
Ternyata buku itu laris manis dan cetak ulang. Design covernya cukup memikat dan eye catching. Dan berujung pada penghargaan IBF AWARD.

Dua minggu sebelumnya memang saya bermimpi mendapat hadiah. Begitu nyatanya mimpi itu sampai saya menuliskannya dalam buku harian. Tapi saya pikir itu hanya bunga tidur. Karena saya tidak sedang mengikuti sebuah lomba apapun.

Akhirnya…IBF AWARD 2012

Naik panggung dan mendapat hadiah dari lomba menulis? Sering. Tapi yang ini beda. Karena saya tidak merasa ikut berkompetisi di dalam sebuah lomba. Buku saya terpilih karena penerbit yang mengirimkannya untuk diseleksi.
Sebuah laptop warna biru penghargaan tambahan dari Pak Menteri membuat saya terharu. Bukan karena dari Pak Menterinya. Tapi karena laptopnya.
Sebagai penulis saya tidak memiliki laptop. Karena saya lebih suka memilih kertas untuk menulis ketika dalam perjalanan ketimbang laptop. Ada komputer di rumah dan saya pikir sudah cukup untuk saya pakai menulis.Tidak perlu lagi sebuah laptop.
Terbersit untuk membeli tapi saya singkirkan dengan alasan tidak ingin boros. Dan komputer itu yang layarnya hanya separuh. Yang ternyata pada tahun yang sama membuat saya bisa menghasilkan satu buku novel anak dan buku non fiksi panduan rumah tangga muslim. Dan keduanya cetak ulang.

Tapi Allah ternyata ingin memberikan kejutan pada saya. Sebuah laptop warna biru, warna kesukaan saya. Pak Mentri Pendidikan Mohammad Nuh merasa bahwa hadiah uang sebesar 7 juta untuk pemenang IBF masih kurang. Maka atas inisiatif beliau, semua pemenang mendapat hadiah tambahan uang sejumlah 2 juta lima ratus ribu rupiah. Plus laptop berwarna biru.
Laptop itu yang membuat saya di panggung dan suami di bawah panggung refleks saling berpandangan. Ini hadiah yang sama sekali tidak pernah kami duga.
Dan itu hadiah terindah dari Allah untuk ulang tahun saya (6 Maret), ulang tahun pernikahan (11 Maret) yang saya terima pada tanggal 9 Maret di hari ulang tahun si bungsu.

Allah punya rencana lain yang saya tidak tahu.
Tugas saya hanya terus menulis, terus mengurus rumah tangga, terus meningkatkan kualitas pasangan dan anak-anak dan terus menjadi manusia yang bersyukur.