Ketika Suami Istri Bekerja di Rumah

meja kerja suami

Bekerja dari rumah?
Kalau hanya istri atau hanya suami bekerja sebagai freelancer, mungkin bisa masuk akal sehat.
Maklumlah kondisi pekerja lepas, alias bekerja dari rumah masih menjadi alasan banyak kepala berkerut kening. Dengan alasan apa bisa?

Dulu saya berpikir juga seperti itu. Apa bisa?
Suami istri lho.
Kadang dalam beberapa jam pertemuan saja suka ada konflik. Ini 24 jam bertemu setiap hari. Apa yang akan terjadi?

Ketika suami merasa sudah ingin usaha. Maka saya bolehkan. Tapi…, kantornya bukan di rumah.
Jadi ia menyewa kantor di sebuah ruko dan bekerja dari sana.
Lalu kami jatuh bangun. Sukses dan bangkrut. Kena tipu sana sini. Dapat hikmah luar biasa bagaimaan menghadapi orang lain. Dan yang jelas, semakin ikhlas, bahwa semuanya sudah diatur olehNYA, untuk membuat kami semakin tangguh di dunia ini. Dan semakin erat ikatan pernikahan.

Kenapa hubungannya dengan pernikahan?
Karena saat tertipu itu, kami berada di titik nadir di bawah nol. Banyak kisah istri yang meninggalkan suami dalam keadaan terpuruk seperti itu. Saya bertahan. Dengan alasan, saya tidak mau mengguncang Arsy-Nya Allah.
Well, suami bekerja lagi. Seorang seniman bekerja di kantor itu artinya banyak menggunakan mood. Di bawah tekanan akan membuat ide mereka tidak ke luar. Maka ketika suami memberikan proposal lagi dan lagi, bahwa ia ingin resign dari kantor, maka saya mulai berpikir lagi.

Bukan, saya bukan takut soal rezeki.
Kami sudah punya bekal tentang mengais rezeki lewat internet. Saya hanya takut ada disiplin yang saya terapkan di rumah, jadi kacau balau ketika suami bekerja di rumah.

Saya juga bukan takut soal tidak bisa asal-asalan berpakaian di rumah. Sebab dari dulu, saya biasakan untuk tidak pakai daster kecuali akan tidur.
Ada suami di rumah, saya semakin hobi berdandan untuknya. Pakai minyak wangi, bedak dan lipstik ketika ia ada di rumah. Dan itu bukan saja membuat saya merasa lebih percaya diri, tapi juga membuat suami menjadi nyaman.

Keputusan Ada di Istri

Keputusan yang paling berat menerima proposal suami untuk bekerja di rumah siap saya pikirkan. Kalau bekerja di rumah itu artinya…,kami akan langsung bertemu. Kalau bekerja di rumah, itu artinya…, anak-anak akan mendapatkan dua orang dewasa dengan pemikiran berbeda. Yang bisa membuat mereka berlari untuk mencari perlindungan di salah satu dari kami, dan itu akhirnya yang akan terjadi disiplin menjadi mentah.
Kalau bekerja di rumah, maka kami tidak mendapat gaji tetap.

Okelah itu bukan masalah besar jika dituntaskan kepada Si Maha Besar. Maka seperti biasa, saya minta pentunjukNYA. Lalu proposal saya sampaikan pada suami.

1. Dia boleh bekerja di rumah, asal paham bahwa istri juga bekerja dari rumah. Saya sampaikan jam kerja saya, seperti jam kantor. Artinya, jangan sebentar-sebentar minta dibuatkan kopi atau camilan. (Hiks.., karena suami punya kebiasaan makan camilan) Karena itu artinya mengganggu jam kerja saya. Yang jelas, ketika saya akan buka komputer, rumah sudah bersih, anak-anak sudah berangkat ke sekolah dan makanan sudah siap tersaji.

2. Dia boleh bekerja di rumah asal soal anak-anak, serahkan pada saya seperti biasanya. Artinya soal disiplin mereka belajar dan disiplin yang saya terapkan untuk anak-anak, saya minta itu jadi bagian saya. Jadi saya beritahu apa yang saya lakukan selama ini untuk anak-anak.

3. Dia boleh bekerja dari rumah, asal…, mau menambah ibadah shalatnya. Seperti shalat dhuha dan shalat sunnah lainnya. Plus mau membuka Al Quran setiap hari.

Alhamdulillah dengan perjanjian seperti di atas, suami berproses ke arah lebih baik. Dan saya juga berproses menjadi lebih tenang dalam bekerja. Hingga sekarang proses itu terus berlangsung.

Dua Meja Kerja

meja kerja saya

Kami punya kebiasaan berlama-lama di depan komputer. Suami sebagai ilustrator, design graphis, komikus dan sebutan lainnya entah apa namanya, memang punya jam kerja yang cukup panjang. Apalagi dalam menggambar ia adalah seorang perfeksionis dan tidak ingin mengcewakan klien.

Saya sendiri, senang berlama-lama juga. Saya punya target menulis setiap hari. Mengajar kelas menulis. Mempelajari sosial media untuk melebarkan langkah sebagai penulis.

Jadi intinya, kami memang harus punya ruang kerja sendiri. Tidak bisa saling meminjam komputer.
Laptop? Ah.., tipikal pekerja seperti kami, laptop dalam setahun bisa rusak. Karena kami minimal 8 jam di depan komputer. Saya sendiri berhenti bekerja setelah maghrib. Karena itu jadwal untuk anak-anak.

Meja kerja kami tentu sesuai dengan karakter kami. Saya juga tidak ingin mengubahnya, suami juga tidak ingin mengubah meja kerja saya. Artinya sama-sama enjoy.
Terhubung dengan internet itu suatu bekal penting bekerja sebagai seorang freelancer.

Darimana Job-nya?

Yang menjadi masalah untuk orang yang biasa bekerja kantoran adalah takut tidak mendapat uang setiap bulannya. Freelancer gitu lho.
Saya sendiri hanya bilang pada suami. Tambah ibadah, termasuk shalat sunnah, agar rezeki juga dimudahkan.
Pilih pekerjaan sesuai kemampuan dan juga sesuai dengan jalur agama. Artinya jika mendesign loga perusahaan, jangan mendesign gambar seksi dan menerima produk yang tidak halal.

Networking memang dibutuhkan. Bersyukur saja, kami konsisten dan fokus di bidangnya dan sama-sama mendukung.
Suami selalu mempromosikan saya ke rekan-rekan yang ia kenal. Jadi pekerjaan menulis saya bisa datang dari teman-teman suami.
Saya juga tidak ragu mempromosikan suami saya ke yang lain, termasuk ke sosial media. Atau jika suami butuh bantuan saya, untuk koreksi gambarnya atau untuk menerjemahkan maunya klien yang biasanya dalam Bahasa Inggris, saya akan siap untuk itu, meskipun harus meninggalkan meja kerja saya.

Yang paling penting adalah ikhlas menerima bagian dari takdir rezekiNYA. Saya selalu yakin, semakin banyak sedekah yang saya keluarkan dan cepat-cepat mengeluarkannya tanpa menunda, akan mengundang kepercayaan Allah untuk memberi rezeki yang lain.

Tidak takutkah kami kehabisan order?
Sampai saat ini saya yakin, rezeki selalu ada untuk kami. Lagipula kami berdua punya keahlian. Suami bisa membuat aneka macam kerajinan. Kami pernah kok membuat kotak untuk hantaran pengantin. Saya bisa mengajar dan suka mengajar. Maka membuka les di rumah, bisa membuka peluang rezeki juga.

Tidak takutkan dengan apa kata orang lain?
Yang itu tidak pernah saya takutkan. Karena saya sejak lama sudah tutup telinga dengan komentar negatif dari orang lain.

Seminggu sekali atau dua kali, suami ke luar rumah, karena ada dua kantor freelancer yang memintanya datang untuk ngantor. Atau meeting dengan klien untuk proyek yang ingin diajukan.
Saya sendiri biasa ke luar rumah, jika suami ada di rumah. Artinya jika ada acara untuk saya, maka saya pastikan, saya akan datang jika suami ada di rumah. Jadi anak-anak ada yang menjaga.

Oh ya, efek dari suami bekerja dari rumah yang menyenangkan adalah.
Pagi hari, saya tidak lagi repot sendiri.
Ketika saya sibuk di dapur, suami sudah menyapu rumah dan mengepel.
Dan sering ada ide yang bisa didiskusikan bersama. Dan itu lebih efektif untuk pekerjaan kami berdua.

Agar Manula Hapal Al Quran

IMG-20150821-WA0001

Menghapal Al Quran menjadi sesuatu yang berat bagi kita-kita yang masih berusia muda. Mindset berat itu akan terasa semakin berat ketika usia kita berada di atas 40 atau 50. Kata tidak mungkin itu tertancap di benak kita, sehingga jangankan untuk menghapalnya. Melihat huruf-hurufnya pun jadi membuat mata dan kepala ikut berkunang-kunang.

Ibu saya usia di atas 70 tahun. Baru bisa membaca Al Quran ketika anak-anak sudah beranjak besar. Dan ketika anak-anak semuanya sudah menikah, baru Ibu punya waktu untuk fokus belajar agama, termasuk menghapal Al Quran.

Bagaimana cara menghapal Al Quran yang mudah terutama untuk manula?

1. Kenali dulu Al Quran itu sendiri. Artinya kita harus tahu arti yang terkandung di dalamnya.

2. Orientasi di masa depan. Menghapal Al Quran tujuannya adalah bekal di akhirat kelak. Karena itu kita harus punya orientasi hidup sesudah mati, sehingga kita jadi bersemangat untuk melakukannya.

3. Yakin Bisa. Tanamkan dalam hati keyakinan seperti itu.

4. Yakin akan dipermudah. Tanamkan juga keyakinan yang ini. Ketika kita berjuang untuk sebuah kebaikan, Allah pasti akan memudahkan langkah kita.

5. Cari Komunitas yang Bisa Mendukung. Artinya ketika usia kita sudah di atas 40, 50 jangan bergaul dengan orang-orang yang merasa bahwa menghapal Al Quran itu sesuatu yang tidak mungkin untuk orangtua. Karena hal seperti itu hanya akan membuat kita jadi merasa sendiri dan pada akhirnya tidak semangat lagi untuk melakukan.

6. Orangtua mengharapkan anak hapal Al Quran, karena kelak si anak yang hapal Al Quran, akan memberikan hadiah jubah untuk orangtuanya kelak di akhirat. Apa salahnya kita memikirkan hal itu juga? Kita berjuang untuk memberikan hadiah berupa jubah yang membanggakan orangtua kita di akhirat kelak.

7. Di usia 40 biasanya pelan tapi pasti kita mulai merasa ingatan berkurang. Begitu juga dalam menghapal Al Quran. Karena itu jangan terlalu memaksa sehari bisa menghapal 10 ayat. Cukup satu ayat yang diulang-ulang saja.
Sehari satu ayat yang kita hapal, dalam 30 hari kita hapal 30 ayat.

8. Kurangi yang Tidak Penting. Semakin kita bertambah usia, waktu akan terasa berjalan sangat cepat. Karena itu kita harus mengurangi hal-hal yang tidak penting. Seperti mengurangi menonton acara televisi yang tidak bermanfaat dan menggantinya dengan membaca buku-buku keagamaan.

9. Minta orang terdekat kita mendukung usaha kita. Dan tularkan semangat kita. Dengan cara seperti itu, kita tidak akan merasa sendiri, dan semangat akan terus melingkari kita.

Manfaat Buku Harian untuk Ibu Rumah Tangga

DSCF3558

Buku harian alias diary biasanya dimiliki oleh anak remaja dan menjelang dewasa. Ketika sudah menikah, kebiasaan menulis buku harian itu akhirnya ditinggalkan oleh kebanyakan perempuan.
Padahal manfaat buku harian itu sangat banyak, dan bisa mengurangi beban masalah dalam rumah tangga.
Buku harian tidak selalu harus buku khusus. Kita bisa menggunakan banyak buku lain, semisal buku tulis atau yang lain.

1. Untuk Curhat
Hadirnya sosial media, membuat banyak ibu rumah tangga yang memilih curhat di sana. Banyak yang mengeluh agar curhatnya bisa cepat ditanggapi oleh orang lain.
Padahal curhat berupa keluhan seperti itu akan berdampak tidak baik. Orang yang tidak mengenal kita, akan memiliki anggapan miring tentang kita. Bisa jadi kita akan dianggap sebagai seorang pengeluh.
Curhat dengan buku harian lebih berdampak positif. Kita bisa mengeluarkan semua isi hati kita, tanpa perlu takut diberi label negative oleh orang lain.

2. Belajar Mencari Jalan Ke Luar
Curhat di sosial media, akan membuat kita tertolong dengan komentar orang yang menanggapi curhat kita. Tapi sesungguhnya itu tidak membantu kita untuk belajar dewasa.
Buku harian membuat kita belajar mengurai masalah yang sudah kita tulis di dalamnya.

3. Ajang Intropeksi
Pengguna sosial media yang menulis status dengan marah-marah, biasanya dilakukan pada saat emosinya meledak. Menulis buku harian yang bisa panjang sampai berlembar-lembar, biasanya juga seperti itu. Kalau tidak sedang marah, sedang sangat sedihnya.
Di sosial media, kondisi seperti itu tentu menjengkelkan untuk teman-teman yang terhubung dengan kita.
Tapi di buku harian, hanya kita yang melihatnya. Tidak ada yang tersinggung. Tapi dengan membaca ulang, kita bisa belajar untuk intropeksi.
Bacalah kembali buku harian itu setelah marah dan sedih kita hilang, beberapa jam setelah kita menulisnya.

4. Tidak Ada Screen Shoot
Omelan, tuduhan dan lain-lain sekarang bisa disebar dengan cara screen shoot di media. Kalau buku harian? Tidak bisa. Maka semua curhatan kita akan aman selamanya sampai kita membukanya dan memberikan pada orang lain.

5. Penguat Ingatan
Penulis buku harian biasanya setiap hari akan mengisi buku harian itu. Momen sedih, senang juga marah akan terus diisinya.
Nah hal ini bermanfaat untuk menguatkan ingatan.
Kalau sedang marah dengan pasangan, tinggal buka saja buku harian itu. Dan baca ulang lagi tulisan tentang kenangan indah bersama pasangan.

6. Buku Harian Membuat Lebih Kreatif
Buku harian bukan smart phone. Buku harian lebih murah tentu saja. Tidak ada gambar bergerak. Dengan keterbatasan itu kita sebagai penggunanya buku harian dituntun lebih kreatif.
Tulis dengan spidol warna-warni. Tempeli foto orang-orang terkasih. Beri sampul yang bagus.
Hal seperti itu akan membuat kita semangat menulis.

7. Ajang Bicara dengan Pasangan
Jika pasangan susah diajak bicara, tulis saja di buku harian. Dan tunjukkan pada pasangan biar pasangan juga ikut membacanya. Dengan begitu pasangan tahu apa yang kita rasakan.

Bua dan Kerasnya Kehidupan

Bua

Kami memanggilnya Bua. Panggilan mudah sesuai warna-nya abu-abu.
Kucing terlama yang ada di teras rumah. Biasanya induk kucing, hanya akan numpang melahirkan. Sebulan setelah itu, anak akan dibawa induknya.
Tapi kali ini berbeda.
Mereka tumbuh besar di teras rumah.
Mengeong-ngeong dengan suara bayi.
Membuat semuanya jadi jatuh hati. Termasuk si Bapak, yang tadinya tidak suka.
Bahkan si Bapak selalu meracik makanan dan membersihkan luka atau sakit mata si anak-anak kucing.

Ada tiga anak kucing.
Tiga anak kucing kadang bikin jengkel. Saat jam makan, ketika belum diberi, mereka akan mengikuti ke mana saya pergi. Bahkan pernah ikut ke rumah tetangga. Tiga-tiganya menunggu saya ngobrol.
Sayang, yang satu mati terlindas mobil, yang tidak tahu sudah melindas anak kucing.
Tersisa dua dengan karakter yang berbeda. Satu pemberani, si Bua ini. Yang satu terlalu sensitive, Coco namanya. Kalau dibilang stop, maka ia cukup duduk tenang di depan pintu, tidak masuk ke dalam.
Si Bua tidak seperti itu. Dilarang artinya harus dilanggar. Masuk untuk bersembunyi di belakang pintu, atau sekedar berguling-guling di karpet.
Pernah saya cari-cari ternyata dia melompat dari belakang pintu, seperti mau mengejutkan. Dan Bua ini akhirnya selalu membuat kangen.

Bua ini juga yang ikut ketika saya liqo. Membuat ibu-ibu sebel, karena minta dihelus-helus.
“Mama Bilqis ngangong kucing, ya?” tanya seseorang.
Beberapa hari ini Bua diare. Aneh untuk kucing yang sudah pintar masuk ke bak sampah, dan kalau jam makan selalu mengetuk-etuk pintu rumah.
Badannya kuat.
Tadi pagi saya temukan jawabannya.
Di sebuah rumah kosong, ketika ada beberapa kucing berkumpul. Melihat Bua sedang diterkam oleh premannya kucing, yang pernah memakan anak kelinci tetangga.
Kucing-kucing lain seperti ketakutan.
Bua diterkam dengan wajah memelas oleh Garong yang sedang birahi.
Saya lempar dengan kayu, si Garong tidak terpengaruh.
Saya siram dengan air , si Garong menyeret Bua yang ada dalam cengkramannya.
Saya panggil suami yang mencarinya ke rumah kosong.
Ada Bua ketakutan.
Dengan dubur yang merah, ia akhirnya berlari. Bua kucing laki-laki. Nampaknya dia disodomi kucing garong yang sedang birahi.

Ah, pemandangan melihat si Bua diperlakukan oleh garong membuat saya memikirkan hal lain.
Dunia manusia dengan segala pernak-perniknya.
Ada yang seperti Bua, dan ada yang seperti kucing garong.
Mendadak ingat nasib Hassan di Kite Runner.
‪#‎Ah‬, semoga semuanya selalu terjada dalam lingkaran kebaikan.

Kejutan Allah Bernama Award

pemenang IBW award 20120

Sepanjang karir sebagai penulis, saya tidak pernah menyangka kalau suatu saat akan mendapatkan hadiah berupa IBF AWARD. Bahkan ketika membaca berita tentang IBF AWARD pun yang ada di kepala adalah bahwa itu sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
Pesimiskah saya sebagai penulis?
Tentunya tidak.
Justru saya adalah penulis yang optimis. Untuk karya yang saya tulis yang saya kirim ke media saya selalu yakin bahwa tulisan saya akan dimuat.
Untuk tulisan yang saya kirim ke penerbit, saya juga yakin kalau itu akan di acc menjadi sebuah buku.
Untuk sebuah karya yang saya kirimkan dalam ajang lomba penulisan, saya bahkan mantap dengan target menjadi salah satu pemenang.
Tapi tidak untuk menjadi pemenang IBF. Mendapat award? Saya bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.Karena apa?
Karena saya bukan penulis yang aktif di organisasi kepenulisan. Saya penulis bebas tanpa ikatan organisasi. Saya merasa bisa bebas terbang tanpa ikatan.
Saya juga merasa belum bermanfaat total sebagai penulis. Saya cinta mati dengan dunia menulis yang sudah membuat saya menjadi sarjana. Mampu membiayai kuliah saya di dua tempat. Mampu membiayai kursus-kursus yang saya ikuti. Begitu cinta matinya dengan dunia menulis, maka saya berkeputusan untuk kerja di rumah dan menjadi ibu rumah tangga plus dengan menulis.

Lalu apa hebatnya saya ketimbang penulis lain?
Tidak. Saya tidak hebat.
Saya masih berkeinginan bermanfaat untuk orang banyak. Tapi saya baru bisa melakukannya dengan menulis. Dengan dua anak yang masih kecil, dan fokus saya untuk menjadikan rumah tangga saya rumah tangga yang berkualitas dengan meningkatkan kualitas saya, pasangan dan anak-anak, maka saya baru merasa manfaat saya hanya ada di situ. IBF AWARD hanya untuk penulis yang hebat dan banyak manfaat. Saya jauh dari kriteria itu.

Tapi rupanya Allah ingin memberi kejutan untuk saya.
Ini bukan lagi sebuah penghargaan. Ini adalah benar-benar sebuah kejutan. Kejutan yang buat saya luar biasa dan tidak terjadi begitu saja.

Ketika buku NAYLA MENCARI BUNDA sebelum berganti judul AKU SAYANG BUNDA saya kirim ke Indiva, buku itu pernah saya kirim ke sebuah penerbit lain. Mereka bilang akan menerbitkan tapi tidak tahu waktunya.
Untuk karya yang saya buat dengan hati jelas saya tidak bisa menunggu. Saya harus mengirimkan ke penerbit lain yang bisa menerbitkannya.
Buku ini saya buat dalam keadaan terpuruk setelah suami bangkrut dari usahanya. Saya mengetik dengan komputer yang layar monitornya menciut hingga separuhnya. Tidak berani menaruhnya ke tukang servis komputer karena prioritas utama kami adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu penerbit di Solo setelah hunting penerbit terasa klik di hati. Tidak pernah terpikirkan apakah itu penerbit besar atau kecil. Saya cuma ingin buku saya terbit. Buku anak karya saya yang pertama setelah saya memutuskan untuk hijrah menulis buku anak.
Ternyata buku itu laris manis dan cetak ulang. Design covernya cukup memikat dan eye catching. Dan berujung pada penghargaan IBF AWARD.

Dua minggu sebelumnya memang saya bermimpi mendapat hadiah. Begitu nyatanya mimpi itu sampai saya menuliskannya dalam buku harian. Tapi saya pikir itu hanya bunga tidur. Karena saya tidak sedang mengikuti sebuah lomba apapun.

Akhirnya…IBF AWARD 2012

Naik panggung dan mendapat hadiah dari lomba menulis? Sering. Tapi yang ini beda. Karena saya tidak merasa ikut berkompetisi di dalam sebuah lomba. Buku saya terpilih karena penerbit yang mengirimkannya untuk diseleksi.
Sebuah laptop warna biru penghargaan tambahan dari Pak Menteri membuat saya terharu. Bukan karena dari Pak Menterinya. Tapi karena laptopnya.
Sebagai penulis saya tidak memiliki laptop. Karena saya lebih suka memilih kertas untuk menulis ketika dalam perjalanan ketimbang laptop. Ada komputer di rumah dan saya pikir sudah cukup untuk saya pakai menulis.Tidak perlu lagi sebuah laptop.
Terbersit untuk membeli tapi saya singkirkan dengan alasan tidak ingin boros. Dan komputer itu yang layarnya hanya separuh. Yang ternyata pada tahun yang sama membuat saya bisa menghasilkan satu buku novel anak dan buku non fiksi panduan rumah tangga muslim. Dan keduanya cetak ulang.

Tapi Allah ternyata ingin memberikan kejutan pada saya. Sebuah laptop warna biru, warna kesukaan saya. Pak Mentri Pendidikan Mohammad Nuh merasa bahwa hadiah uang sebesar 7 juta untuk pemenang IBF masih kurang. Maka atas inisiatif beliau, semua pemenang mendapat hadiah tambahan uang sejumlah 2 juta lima ratus ribu rupiah. Plus laptop berwarna biru.
Laptop itu yang membuat saya di panggung dan suami di bawah panggung refleks saling berpandangan. Ini hadiah yang sama sekali tidak pernah kami duga.
Dan itu hadiah terindah dari Allah untuk ulang tahun saya (6 Maret), ulang tahun pernikahan (11 Maret) yang saya terima pada tanggal 9 Maret di hari ulang tahun si bungsu.

Allah punya rencana lain yang saya tidak tahu.
Tugas saya hanya terus menulis, terus mengurus rumah tangga, terus meningkatkan kualitas pasangan dan anak-anak dan terus menjadi manusia yang bersyukur.