Bersahabat dengan Allah

nur-lagi-BW-.jpg

Sahabat?
Orang yang tahu susah senangnya kita. Orang yang dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari saudara.
Saya punya banyak teman baik. Teman-teman baik yang bisa dihitung dengan jari. Karena biasanya teman-teman baik itu, disortir dengan hati. Otomatis tersortir. Tidak mudah untuk saya menempatkan seseorang menjadi teman baik.
Tapi sahabat?

Adik saya punya banyak sahabat.
Dari kecil sampai jadi ibu-ibu, sahabatnya terus bertambah. Dia tipikal orang yang terbuka. Dan mudah bergaul dengan semuanya.
Saya tidak. Saya hati-hati dalam bersikap bahkan ketika ingin bicara juga mengambil sebuah tindakan.
Hati-hati.
Mungkin karena saya bisa dibilang anak tengah, dengan tiga kakak dan empat orang adik. Jadi kehati-hatian haruslah jadi modal utama, agar yang di atas tidak terluka dan yang di bawah tidak terzalimi.

Sahabat yang saya punya?
Oh tidak.
Saya terbentuk sebagai seorang yang harus bisa menyelesaikan masalah sendiri. Bapak dan Ibu sudah terlalu sibuk dengan urusan mngurus rumah dan mencari nafkah.
Kakak-kakak sudah sibuk dengan urusan mengejar prestasi, karena dengan cara itu beban Bapak sebagai kepala keluarga dengan 8 anak menjadi lebih ringan.
Saya senang berteman dengan siapa saja.
Saya suka mendengar orang curhat masalahnya ke saya.
Sejak dulu, teman-teman yang dekat adalah teman-teman yang suka curhat dengan saya. Curhat masalah apa saja. Dan saya menikmatinya sebagai bagian dari rasa beryukur, karena ada orang yang lebih rumit hidupnya ketimbang saya.

Saya punya sahabat. Sebuah buku harian.
Setiap masalah saya tulis di sana. Dulu ingin juga seperti orang lain, punya sahabat. Tapi setiap kali ada masalah dan ingin mencari orang untuk mendengar, mereka lebih dahulu datang untuk bercerita dan meminta tanggapan atas masalahnya.
Terus-menerus.
Hingga saya terbentuk untuk memendam masalah sendiri, dan menjadikannya tulisan.

Memilih Allah Sebagai Sahabat

Buku harian tempat saya curhat, hanya bisa menampung curhat saya.
Saya butuh solusi lain.
Pada suatu waktu, suatu hari, suatu saat, emosi Bapak sedang tinggi. Mungkin karena 8 anaknya butuh biaya pendidikan. Beberapa adik minta meja belajar.
Ibu yang baik hati memesan meja belajar dari sales. Sales itu anak tetangga yang suka curhat dengan Ibu. Sebuah produk yang Ibu tunjuk ternyata datang dalam bentuk dan warna berbeda.

Bapak perfeksionis dan selalu memegang kepercayaan.
Saya takut Bapak marah, dan Ibu jadi stress. Bapak memang tidak pernah memukul. Tapi saya takut kalau mendengar suara orang marah. Rasanya seperti halilintar yang merobek-robek hati.
Yang saya lakukan pada saat itu, lari ke masjid. Lalu berdoa. Minta agar Allah tidak membuat Bapak marah, dan Ibu tidak mengecewakan sales yang baru belajar kerja.
Alhamdulillah sampai rumah, saya lihat lemari itu sudah terpasang di kamar adik saya, dan Bapak Ibu sedang tertawa di ruang tamu.

Itu momen yang terus saya ingat.

Ada satu lagi.
Ketika adik saya menikah lebih dulu dari saya. sebnarnya tidak masalah, karena saya bukan penganut paham bahwa kakak harus lebih dahulu. Yang jadi masalah adalah ketika ada upacara atas nama tradisi, calon mempelai harus memberi hadiah kepada kakak yang dilangkahi. Lalu acara itu jadi bagian acara sentral di pernikahan.
Rasanya seperti semua mata melihat untuk mengasihani.
Sebenarnya Bapak tidak setuju dengan acara seperti itu, menimbang perasaan saya. Tapi para kerabat memaksa dengan alasan demi kebaikan. Maka jadilah saya tumbalnya.
Apa yang terjadi setelah itu?
Mirip dengan keadaan Superman di buku yang pernah saya baca. Pada saat itu Superman sedang sakit dan harus berhadapan dengan Lex LUxtor musuhnya yang botak. Dalam keadaan tidak berdaya itu, tiba-tiba ada kawat dari langit yang menahan lengah Superman, sehingga dia tetap bisa berdiri tegak.
Saya juga seperti itu.
Tiba-tiba di tengah acara, di mana semua mata seperti memandang saya. Sepasang kawat seperti menyangga saya diletakkan diketiak saya, dan ditarik dari atas. Saya bisa kuat dan tertawa-tawa di depan banyak orang. Semua rasa hilang.

Banyak sekali momen yang memutuskan saya hanya ingin curhat dengan Allah.
Untuk masalah yang sedang terjadi, saya lebih suka menggelar sajadah, lalu membuka Al Quran di sembarang halaman. Biasanya akan menemukan satu ayat untuk jalan keluar masalah saya.
Untuk masalah yang melibatkan perasaan orang lain, saya juga tidak mau melibatkan suami. Suami juga paham, ketika ada sesuatu yang membuat saya butuh menangis, saya lebih suka menggelar sajadah ketimbang mengeluarkan banyak kata-kata.

Bahkan untuk ke suatu tempat yang belum saya ketahui sebelumnya, yang saya lakukan adalah minta agar Allah pertemukan dengan orang baik, dan tidak kesasar jalan.

Bersahabat dengan Allah saja.
Maha Sempurna.
Dengan begitu kita terjaga. Dengan begitu, kita punya filter untuk berteman dengan orang lain, dan tidak mudah terpengaruh.
Bersahabat dengan Allah membuat cita-cita saya terwujud pelan tapi pasti, tanpa saya ngotot untuk meraihnya.

Tidak Semua Cita-Cita Harus Tercapai

Tidak semua cita-cita harus tercapai.
Saya banyak punya cita-cita. Perlahan tapi pasti, satu-persatu tercapai. Hanya masih ada yang belum tercapai. Kadang-kadang saya merasa harus mencapainya biar hidup saya terasa sempurna. Kadang-kadang saya menahannya.

Cita-cita itu bukan cita-cita yang tinggi.
Ke bulan? Tidak. Saya tipikal orang yang selalu berpegang pada kenyataan. Hal-hal yang di luar jangkauan tidak akan masuk dalam list cita-cita saya.

Ada cita-cita lain.
Sesuatu yang biasa dilakukan orang lain, dan mereka baik-baik saja setelah melakukannya. Sesuatu yang tidak pernah bisa saya lakukan, karena otak saya akan berpikir ribuan kali, takut perasaan orang lain terluka.

Apa cita-cita itu?
Ah, saya ingin sekali bisa marah. Saya ingin seperti teman saya. Ketika marah dia banting pintu atau kabur. Atau teman yang lain teriak-teriak setelah itu puas. Atau teman yang lain lagi, sampai banting-bantin piring. Atau yang lain lagi, yang teriak-teriak dan menimpuk pasangannya dengan batu bata.
Ketika saya tanya, mereka bilang mereka lega setelah melakukan itu. Karena mereka tidak mau menahan perasaan dan membuat mereka mati muda.

Ah, saya ingin seperti itu.
Saya selalu takut dengan suara keras. Dulu di rumah ketika Bapak marah, semua takut pada beliau. Bapak membuat saya takut melakukan kesalahan. Ketika Bapak marah pada yang lain, saya akan menutup telinga dengan kedua tangan saya keras-keras, agar tidak mendengar suara Bapak.
Bapak tidak pernah memukul saya. Bapak tahu perasaan saya. Maka jika yang lain kena amarah, saya tidak kena marah. Karena melihat Bapak melotot saja, saya sudah ngeri.
Efeknya, saya takut mendengar suara menggelegar. Setua ini saya masih takut dengan suara petir. Takut menyambar saya.
Saya juga takut mendengar pintu diketuk keras-keras.
Jika melihat film ada penjahatnya, saya pasti akan mematikan film itu.
Atau jika membaca buku ada tokoh jahatnya, maka saya pasti akan berhenti membacanya.

Saya ingin sekali merasakan marah. Membuat wajah orang menjadi pucat pasi. Tanpa perlu berpikir bagaimana perasaan mereka.
Sedangkan selama ini, ketika ingin marah, saya selalu menimbang-nimbang perasaan orang lain.
Itulah kenapa benteng pertahanan saya langsung terpasang ketika saya bertemu seorang yang keras. Saya takut duluan. Jangankan menegur berinteraksi pun saya malas.
Anak-anak di rumah suka bertanya. “Memangnya Ibu bisa marah seperti itu?”

Ah, cita-cita itu masih saya pegang.
Entah saya sedang berpikir, akankah saya berjuang untuk meraih cita-cita tersebut?

Konferensi Penulis Cilik 2016, Ayo Berjuang Anak Juara

Akhirnya final Apresiasi Sastra untuk Siswa SD digelar juga.
Begitu pengumuman para peserta terpilih muncul, lega rasanya para juri termasuk saya. Iya, para juri yang sudah menyaring 1700 naskah peserta dari seluruh Indonesia pada bulan September 2016.

Kami para juri, dikumpulkan di hotel Harris Ciembulit, Bandung selama empat hari.
Tugas dalam empat hari itu apa saja? Bersenang-senang, kah?
Hiks, tidak ada acara bersenang-senang.
Semua acara padat. Hari-hari kami dipenuhi dengan lembaran naskah anak-anak seluruh Indonesia, demi mendapatkan karya terbaik. Hiburan terindah para juri adalah foto-foto. Itu pun bisa terjadi ketika kami berjalan dari kamar ke ruang penjurian. Atau dari kamar ke restoran. Maka rasanya hidup terasa lebih ringan.
Terus naskah yang masuk dibaca semua?
Iya, kami baca. Bandingkan untuk mengambil yang terbaik.

kpci-1

kpci-20

kpci-26

kpci-24

Berita untuk acara final itu saya dapatkan di sela-sela revisi naskah Room to Read, dan mengurus promosi buku-buku yang terbit.
Jadwal padat merayap. Selasa sampai Jumat dalam beberapa minggu, karena urusan pekerjaan saya harus tidur di hotel. Itu artinya negoisasi dengan anak-anak dan suami. Kebetulan suami tidak ada agenda ke luar kota. Jadi saya bisa lebih leluasa untuk acara final Konferensi Penulis Cilik Indonesia.

Hari Pertama

kpci-final-14

kpci-final-16

kpci-final-13

kpci-final-12

kpci-final-15

Akan ada pembukaan di malam hari dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Saya berangkat jam setengah dua dari rumah. Janjian dengan teman sesama juri di stasiun Bogor. Dari sana kami naik grab ke lokasi di Royal Safari Garden.
Setiap juri dapat satu paviliun. Juri perempuan mendapat tempat di Panda 06 sedang juri laki-laki di Panda 07.
Di Panda 06 ada tiga kamar. Satu kamar di bawah single bed dan dua kamar di atas double bed.
Saya tiba pukul setengah enam sore. Sendiri. Belum ada yang datang.
Hujan di luar. Ada suara anak kucing mengeong-ngeong. Sampai berpikir, ini anak kucing siapa?
Tapi setiap kali dilihat, tidak ada anak kucing tersebut.
Setelah beberapa kali berada di kamar itu, tahulah saya darimana arah itu berasal. Ternyata itu suara angsa hitam yang kolamnya tepat di depan kamar kami.

Hujan turun semakin deras.
Untunglah tidak lama kemudian datanglah Rona Mentari. Siapa Rona Mentari? Ini anak muda yang keren. Dulu pernah jadi pemenang kedua lomba dai cilik dan finalis lomba dai muda.
Dia baru saja pulang dari Sabang, Aceh, untuk memenuhi undangan KPK mendongeng untuk para guru-guru di sana.
Anaknya masih muda memang. Tapi prestasinya luar biasa.
Kebetulan dia selalu satu kamar dengan saya.

kpci-29

kpci-final-10

Dua kali sekamar dengan Rona, membuat saya merasa jadi punya anak yang sudah dewasa. Sedikit demi sedikit paham karakternya, khas anak muda.
Saya dan Rona menghadiri acara pembukaan. Ikut foto-foto juga. Karena pada malam itu kami hanya pakai pakaian ketika kami datang, maka ketika berfoto dikira panitia kami bukan juri. Maklum, yang lainnya pakai batik resmi.

Malammnya satu-persatu juri datang.
Hujan turun terus semakin deras. Enggak berani mandi. Langsung tidur. Enggak bisa tidur. Biasanya kalau habis pergi jauh, saya memang harus langsung mandi dan keramas, baru bisa tidur. Tapi rasa dingin membuat saya malas. Akhirnya ya itulah, tidak bisa tidur sampai jam satu malam. Bangun setengah empat pagi, dan langsung mandi air hangat.

Hari Kedua

Saatnya lomba pun tiba.
Hayo, hayo para juri harus siap-siap. Ini saatnya menentukan tema yang akan dilombakan.
Dari semalam sudah kasak-kusuk para juri untuk menentukan sub tema lomba. Kenapa tidak dikasih jauh-jauh hari? Ohooo, ini demi menjaga keorisinalitas karya mereka. Maklumlah, banyak dari para orangtua dan guru, yang merasa wajib terus nempel ke anak, hingga anak tidak bebas imajinasinya.

kpci-final-4

kpci-final-lagi-4

kpci-final-3

Tema yang kami cari, kami berikan ke para peserta. Termasuk ketentuannya.
Ops, setelah tema disebutkan, maka mengacunglah kira-kira sepuluh anak, katanya minta ke kamar kecil.
Untung para juri sudah dibekali pengetahuan, bahwa banyak orangtua di luar yang berkeliaran, ingin memberi tahu anak-anak cerita apa yang harus dibuat dengan tema itu.
Tapi para juri karena biasa menulis cerita anak, juga mengusulkan pada panitia agar membuat tema yang ringan, yang langsung bisa diterjemahkan anak-anak. Dan panitia menerima.
Maka kami melemparkan tema, lalu jika ada yang tidak paham anak-anak bisa bertanya.

Saya juri untuk cerpen pemula bersama dengan Ali Muakhir pakarnya buku anak. Dan pak Willy dari aliansi jurnalis Indonesia yang juga dari Kompas.
Sedang satu ruangan dengan kami untuk kategori penulis, ada Dewi Inchen yang juga penulis buku anak, Annak Farida praktisi dari IIDN dan ada doktor yang merupakan pengajar kritikus sastra di Universitas Negri Jakarta Pak Syaifur.

Ali meminta semua bersenam tangan dulu.
Yang lain meminta anak-anak santai. Jangan terbebani dan percaya diri.
Anak-anak mulai menulis. Posisi boleh di mana saja, sepanjang mereka santai. Maka ada yang memilih kolong meja, ada yang di lantai.

Kami keliling untuk memantau.
Tiba-tiba ada satu anak yang ke luar ruangan sambil menangis. Dia menuju orangtuanya yang ada di luar. Dia menangis katanya tidak mau meneruskan lomba lagi.
Dia maunya ibunya ikut masuk ke dalam.
Akhirnya keputusan harus dibuat. Si anak tetap tidak mau melanjutkan, dan naskahnya baru seperempat halaman pertama, padahal kami meminta naskah 4-6 halaman dengan pertimbangan tertentu.
Saya mengambil kertas absen, dan minta anak itu tanda tangan di kertas. Selesai, si anak tidak mau masuk tidak boleh dipaksa, apalagi dia terus menangis. Ibunya bilang mentalnya belum kuat untuk ikut lomba sebesar itu.

Lomba berlangsung dari pukul 7.30 sampai jam 11 siang. Setelah zuhur anak-anak akan dibawa untuk bersenang-senang ke Taman Safari.
Jurinya?
Jurinya kerja. Saya, Ali dan Pak Willy mulai membaca satu-persatu naskah.
Naskah yang bagus dan tema yang unik itu, sebenarnya sudah bisa terbaca di beberapa kalimat pembuka.
Anak yang tenang dalam menulis, juga akan bisa kelihatan dalam karyanya.
Pak Willy malah membuat catatan di setiap naskah. Dari mulai ide sampai tekhnik menulis dan apa yang harus dibenahi.
Kami saling berdiskusi soal naskah yang terbaik, yang harus kami tentukan sebagai juara satu sampai enam.
Dan Alhamdulillah standar kami sama. Kami memilih 6 orang yang sama untuk ide yang orisinal, unik dan kekinian.
Ada satu sekolah Condong Catur yang memenangkan juara satu dan dua dalam lomba cerpen kategori pemula. Saya, Ali dan Pak Willy malah diskusi dan membayangkan metode pengajaran guru menulis mereka, plus buku bacaan yang disodorkan untuk dibaca anak-anak. Karena idenya itu sangat tidak biasa dan tulisannya sudah level sastra anak.

Jam lima kami serahkan nilai lomba ke panitia.
Cuapeeek.
Rencana makan sate Pak Kadir di depan hotel batal. Semua terasa capek, apalagi saya yang kurang tidur.
Besok pagi kami harus ke Jakarta untuk penghargaan kepada para pemenang.

Hari Ketiga

kpci-final

kpci-final-9

kpci-final-7

kpci-final-8

Pulang?
Iya pulang katanya. Tugas kami para juri sudah selesai. Saatnya siap-siap setelah acara di Kemdikbud kami akan pulang.
Maka saya masukkan semua ke tas. Saya kayaknya bawa laptop paling besar dan bikin ransel saya menyiksa sekali untuk dibawa.
Untung ada Irfan, juri syair. Ini anak muda baik hati, yang sudah saya anggap anak. Ibunya malah usianya lebih muda dari saya. Irfan yang membawa ransel saya.
Ada Burhan, yang sudah tiga kali di acara yang sama dengan saya. Burhan ini dosen Bahasa Indonesia untuk kelas Internasional di Universas Bandung.
Dia juga bantu membawakan tas saya, dan jadi teman ngobrol di bus.
Busnya bikin pusing. Kepala terasa nyut-nyut. Beberapa juri tertidur pulas. Aanak-anak peserta ada yang muntah. Saya sendiri ngobrol dengan Burhan membahas tentang dunia perdukunan.

Jadi, tas saya itu dari naik bus sampai turun bus, terus dibawa oleh Irfan. Terima kasih, semoga cepat menemukan jodoh yang tepat, ya.

Di sana kami ngapain?
Memandu anak-anak latihan untuk pementasan. Anak-anak keren lho. Format drama dibuat Ali semalam, dan pas di hari H anak-anak dilatih lagi.
Irfan yang bisa beat box alias menyanyi dan menyuarakan bermacam alat musik, diminta jadi musik pengiring pada saat itu juga.

Satu persatu pemenang diumumkan.
Dan saya menangis diam-diam. Tenggorokan tercekat. 6 pemenang pilihan adalah anak-anak dengan karya keren. Dibuat cepat dan ide yang dihasilkan unik.
Rasanya seperti saya baru mengantar mereka berdiri di satu anak tangga prestasi, untuk membuka jalan mereka.
Ada deklarasi yang dibacakan anak-anak. Ini suara mereka. Ingin anak Indonesia lebih baik lagi.

deklarasi-kpci

kpci-final-6

Hore, acara selesai.
Pulang?
Semua juri punya jadwal padat merayap. Saya harus menyelesaikan banyak hal juga. Tapi ternyata ola la, juri diminta kembali ke Bogor.
Maka jadilah saya, Budi juri dongeng, Burhan, Ali, Irfan dan Rona naik grab. Alasannya karena kami semua pusing naik bus.

Di grab dengan janji semuanya harus patungan, kami malah cekakak-cekikik.
Menggoda Irfan dan Rona yang kami jodohkan, tapi dua-duanya tidak punya rasa. Cuma kami aja yang orangtua kepingin mereka bisa jadi sepasang suami istri, karena melihat mereka bisa melengkapi satu dengan yang lain.
Supir grab anak muda yang keren. Yang sudah jatuh bangun dengan banyak bisnis. Dia mengemudi dari pagi sampai jam sepuluh malam. Penghasilan bersih 400 ribu perhari. Mobil tidak nyicil, malah ia menyarankan kalau mau beli mobil untuk narik, cari yang second tapi cash, biar tidak terbebani cicilan.
Di mobilnya disediakan tempat sampah, air minum mineral dan beberapa kotak kue di dalam wadah tupperware. Itu untuk penumpang lho.
Sepanjang jalan kami cekakak cekikik tak berhenti. Rasanya saya menemukan masa muda kembali. Tapi jadi rilekslah semua otot-otot yang ada.

Malamnya terasa sepi.
Saya dan Rona yang ada di kamar. Sebagian besar pulang malam itu juga.
Rona tidak enak badan.
Saya sendiri, langsung membuka laptop dan mengerjakan tugas revisi.
Sepi, sepi dan sepi.
Tapi bukankah putaran hidup seperti itu?

Hari Keempat

Waktunya check out.
Saya keliling foto-foto. Rona semalalaman masih di depan laptop meski dia tidak enak badan. Dia bangun agak siang maklum sedang tidak shalat. Biasanya sehabis subuh dia baca Al Quran. Semalam saya minta ke panitia tolak angin, Alhamdulillah panitia bawa.
Rona sudah agak baikan di pagi hari, moodnya juga sudah membaik.
Masalahnya setelah itu adalah, kami tidak dapat kendaraan untuk pulang.
Rona pesan grab juga gocar, tapi tidak ada yang mau mengambil. Tidak ada taksi, adanya rental dan untuk ke Bogor dipatok harga lima ratus ribu.
Akhirnya saya putuskan minta ikut mbak Irma yang bawa mobil dan kebetulan jemput anaknya.
Rona bilang terserah Ibu, maunya gimana. Kami ikut mobil Irma, Rona karena pusing dan mual minta turun di stasiun Bogor untuk lanjut ke Serpong.

Saya sendiri turun di stasiun Cikini untuk lanjut ke Bekasi.
Di tengah jalan sudah hujan. Tiba-tiba ada WA masuk. Naskah revisi saya ditunggu.
Sampai di rumah hujan deras, komputer saya nyalakan. E alah, kok tidak nyala monitornya. Berkali-kali dicabut dipasang lagi tetap seperti itu.
Ngopi dulu biar tenang.
Akhirnya bisa juga saya buka komputer, buka naskah revisi. Revisi ulang berkali=kali dan akhirnya sent.
Itu naskah revisi untuk room to read yang sudah ditunggu untuk diserahkan ke ilustrator dalam workshop ilustrator.

Apa yang saya dapatkan dengan pengalaman KPCI?
Setialah pada proses.
Terus mendekat pada Allah dengan cara yang sebenarnya. Menambah ibadah, menambah sedekah. Nanti biar pintu-pintu rezeki Allah yang bukakan dan kita tidak menyadarinya.
Rezeki saya bertemu dengan orang-orang hebat, yang membuat saya sadar, saya harus menambah ilmu.
Rezeki saya bertemu dengan teman-teman yang baik. Dengan Ali saya malah sudah 20 tahun berteman.

Setialah pada proses.
Dan saya tidak akan berhenti menulis tentu saja.

Kelas Inspirasi Bekasi dan Panggilan Cinta

ki-bekasi

Apa yang paling membuat saya gandrung alias jatuh cinta setengah mati?
Yeah.
Mengajar di kelas inspirasi. Kelas inspirasi ini salah satu hal yang paling cocok untuk saya. Kelas Inspirasi alias KI ini hanya dilakukan satu hari saja. Mengajar dari pagi sampai sore. Sulit? Tidaklah. Kalau hari-hari lain kita bisa bersenang-senang setiap hari, masa satu hari saja untuk berbagi kita tidak bisa.

Awalnya setelah KI Jakarta di bulan Mai, saya ngobrol dengan teman-teman di KI Jakarta yang tinggal di Bekasi. Kami semua akan mendaftar sebagai relawan lagi. Ketika tahu ada pembukaan relawan KI Bekasi, maka cepatlah saya meluncur untuk mendaftar. Sebagai apa? Mendaftar sebagai penulis dan akan mengenalkan profesi penulis kepada anak-anak, agar wawasan mereka terbuka lebaaar.

Akhirnya dibukalah KI Bekasi. Mendaftar. Menunggu seleksi dan diterima. Iya, tidak semua pendaftar alias relawan bisa diterima. Entah apa kriterianya. Yang jelas saya diterima dan saya bahagia.

Seperti biasa, setelah diterima akan ada proses briefing di satu titik. Di sini para relawan akan bertemu.
Tapi dua kali ikut kelas inspirasi, dua kali pula saya tidak ikut briefing.
Setelah briefing maka dikumpulkanlah kita dalam satu group WA. Untuk saling kenalan, untuk tahu profesi, untuk mencairkan suasana. Ada 27 relawan pada awalnya. Lalu terjadilah apa yang dinamakan seleksi alam. Kami tinggal 14 orang.
Anak muda semua.
Saya yang paling tua. Tidak apa-apa yang penting punya semangat muda.

Nah, setelah itu ada tahap kedua. Tahap kedua adalah survey lokasi sekolah.
Zaman KI pertama, saya tidak ikut briefing tidak ikut survey, tapi langsung terjun. KI Bekasi saya mau yang berbeda. Saya mau ikut survey.
Maka ketika semua sepakat akan survey di hari H, saya ikut. Panggil ojek online. Salah alamat. Saya diajak sampai Bekasi pelosok di daerah Cibitung kampung Cibitung. Padahal yang saya cari kampung Cibitung di daerah Bekasi kota.
Tidak apalah rezeki saya diberi suguhan pemandangan sawah dan sungai yang bikin bersyukur negeriku indah sekali. Meskipun dari jam 8 pagi sampai jam 11 saya ada di atas motor.

Hari Pelaksanaan
ki-bekasi-7

Modal saya dari kelas inspirasi pertama hanya ini.
Buku-buku yang saya buat sendiri. Gambarnya saya cari dan print lalu tempel. Nanti saya akan ajarkan berimajinasi dari gambar-gambar yang saya tempel, dan jadi rangkaian cerita.
Awalnya kami semua kebagian jatah mengajar enam kelas. Tapi akhirnya dibuatlah setiap pengajar, mengajar empat kelas saja.

Kelas pertama.
Kelas satu.
img-20161104-wa0207

img-20161104-wa0202

ki-bekasi-8

Mengajar kelas satu itu sesuatu yang wow buat saya. Saya berpikir tantangannya sangat menyenangkan. Paling hambatannya jika ada dari mereka yang belum bisa baca tulis.
Terus,
masuklah saya ke kelas satu. Ambil perangkat pemikat pertama. Buku. Saya banyak bawa buku cerita. Dan saya yakin, anak-anak tidak ada yang tidak suka didongengin. Semua anak pasti suka, apalagi bila intonasi suara kita tidak datar.
Maka saya pun mulai mnendongeng. Dari buku-buku yang saya bawa.
Lalu mereka puas. Bengong, termangu, berimajinasi. Hingga akhirnya saya keluarkan buku yang saya buat untuk mereka.
Dua buku selesai mereka buat. Kalimat sederhana, imajinasi sederhana. Yang penting cerita ada awal, tengah dan ending.
Setelah itu, mereka saya minta maju ke depan untuk menyanyi. Semua berebutan untuk bernyanyi dan melompat girang.
Saya suka, saya suka.

Kelas kedua.

ki-bekasi-9

ki-bekasi-10ki-bekasi-11

Kelas kedua saya dapat kelas 5A.
Kelas ini asyik. Mereka anak-anak yang patuh.
Di kelas ini, saya bisa memberikan lima buku pada mereka dan semua baris selesai mengerjakannya dengan cerita yang menarik dan keaktifan yang membuat saya terharu.
Semoga kalian jadi anak yang hebat.
Tapi di sini suara saya mulai menghilang pelan tapi pasti.

ki-bekasi-6

ki-bekasi-14

ki-bekasi-15

ki-bekasi-16

Kelas ketiga saya dapat kelas 6C.
Kelas ini luar biasa.
Bangku yang disusun saling berhadapan. Anak-anak yang memberi salam dengan salam yang agak lama dan seperti nyanyian. Lalu keaktifan mereka yang luar biasa. Ada 8 buku yang bisa dibuat di kelas ini. Sampai saya menghitung ulang, tinggal sisa berapa buku saya untuk kelas terakhir yang akan saya pandu menulis?
Saya suka kelas ini. Anak-anak hebat, semoga mereka akan mengubah dunia.

Kelas terakhir adalah kelas 4B. Kelas siang. Anak-anaknya manis. Suara saya semakin menghilang.
Tapi saya paksakan teriak. Karena buku yang tersisa hanya tiga buku saja. Akhirnya saya bacakan empat buku cerita yang saya bawa. Dengan suara yang dipaksa keluar sempurna dan menahan sakit di tenggorokan.
Semoga ini jadi amalan saya di akhirat kelak.

Akhirnyaaaa,
semua kelas selesai.
Saat terakhir adalah saatnya berfoto. Anak-anak menempel bintang cita-cita mereka.
Cita-cita mereka banyak yang ingin jadi guru. Ada yang ingin jadi ustadz, jadi dokter, jadi insinyur.
Pada saat ditanya siapa yang ingin jadi penulis. Seorang anak perempuan mengangkat jarinya tinggi-tinggi sambil memandang saya. Aaaah, ini momen yang membuat saya ingin menangis.
Sebenarnya sakit di tenggorokan juga gara-gara saya sering merasa tercekat. Mereka bisa menghasilkan rangkaian cerita sederhana itu membuat kerja keras saya mencari gambar menempelinya dan memberi judul cerita untuk 20 buku yang saya bawa dalam satu malam, itu yang membuat saya sering tercekat dan menahan air mata.

ki-bekasi-2

ki-bekasi-4

ki-bekasi-5

ki-bekasi-lagi

Akhirnya seiring gerimis yang datang kelas inspirasi selesai. Kami memandu adik-adik untuk bergoyang kepiting.
Semua senang, semua bahagia.
Lalu hujan pun turun dengan derasnya. Kami pulang dengan membawa rasa haru dan bahagia, yang pasti akan membuat kami ingin ikut dan ikut lagi kelas inspirasi.

Ketika Penulis Terpaksa Pindah Tidur ke Hotel Berbintang

“Ibu mau pergi lagi? Nginep di hotel lagi?”
Itu pertanyaan bungsu saya, yang katanya ngiri, ibunya tidur di hotel terus. Padahal si ibu biasa ada di rumah, justru tidak punya pikiran seperti itu.
Dulu, pada zaman dahulu kala, ketika profesi penulis di media remaja sedang booming, menginap di hotel juga pernah saya rasakan. Rasanya?
Untuk orang rumahan seperti saya, yang cinta kamar dan segala pernak-perniknya, maka tingkat kenikmatan hotel hanya berada pada lapisan luar saja.
Apalagi sekarang.
Ibu dua anak, yang mengurus pernak-pernik rumah tangga. Tinggal di hotel, lebih banyak untuk kerja. Itu pun ketika tidur suka terbangun membayangkan kondisi rumah seperti apa, ya?

Lalu kenapa penulis bisa tinggal di hotel?
Itu yang dulu ditanyakan bungsu saya.
Tapi setelah dia tahu ada banyak jalan untuk merasakan tidur di hotel, termasuk melalui prestasi menulis, maka ia sekarang sibuk membaca.

Hotel tentu saja bukan rumah.
Sebagus dan sebersih apa pun. Selengkap apa pun dan sebagus apapun jaringan wi fi di hotel tersebut.

hotel-harris-1

Ketika berada di kamar tidur yang lengkap, semua serba empuk, tapi isi kepala berputar dan berputar, itu rasanya tidak nikmat. Tidur terbangun lalu tidur lagi dengan perasaan tidak tenang.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja untuk sebuah kenikmatan.
Apalagi ketika kenikmatan itu diberikan sebagai fasilitas pekerjaan kita sebagai penulis.

hotel-harris-2

Tunggu dulu,
apa yang membuat seorang penulis bisa merasakan tidur di hotel? Penulis buku dan media cetak lho dalam artian bukan blogger. Karena kalau seorang blogger mungkin banyak undangan dari penyelenggara yang menyediakan fasilitas itu.
Tapi penulis, jalur apa yang mungkin bisa membuatnya merasakan pindah tidur ke hotel.

Setahu saya, jalur yang harus dilalui penulis untuk mendapatkan undangan, dan kepercayaan hingga akhirnya bisa merasakan menginap di hotel hanya satu.
Jalur prestasi. Kalau ingin murni menginap di hotel gratis dengan segala fasilitasnya dan ongkos transport juga.
Iya jalur prestasi.
Artinya, banyak-banyaklah menulis dan berprestasi.
Ketika menulis dan berprestasi itulah, maka orang, penerbit atau instansi akan mudah mengenal kita dan memberi kepercayaan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Pekerjaan itu akhirnya yang bisa membawa kita pindah tidur dari satu hotel ke hotel yang lain.

Jadi apa yang harus dilakukan penulis?
Kalau saya sih terus menulis saja.
Lakukan yang terbaik artinya menulis yang terbaik, dengan riset dan hasil yang baik.
Ketika ada pekerjaan pesanan, lakukan komunikasi dengan baik dengan yang memberi pekerjaan, sehingga mereka percaya bahwa kita memang orang yang bisa dipercaya.
Sering-seringlah ikut lomba menulis. Karena biasanya lomba menulis yang diadakan sebuah instansi pemerintah, pasti akan mengadakan malam penghargaan untuk para pemenang. Dan biasanya pemenang untuk itu disediakan kamar hotel di ibu kota Jakarta.

Terus apa lagi?
Teruslah menulis. Kalaupun kita bukan pemenang sebuah lomba, tapi dari menulis kita bisa punya penghasilan. Dan tentu saja dengan penghasilan itu kita bisa menyewa kamar hotel dengan pikiran lebih tenang, karena tidak disibukkan dengan pekerjaan. Kita juga bisa membawa anak dan pasangan lalu bersenang-senang.

Tapi uang dari menulis tidak cukup?
Banyak-banyaklah menulis bukan mengeluh. In syaa Allah kalau untuk sehari dua hari menginap di hotel pasti bisa dengan uang dari menulis.
Kalau saya sih lebih memilih untuk menginap di desa yang hawanya masih asri ketimbang menginap di hotel.

Soal tidur di hotel?
Beberapa hari lagi saya, masih harus pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Tidur di hotel lagi.
Pikiran terpecah lagi, antara rumah dan pekerjaan. Apalagi si anak bungsu harus ikut kegiataan OSIS dari sekolah dan kemping di daerah puncak.

“Ih asyik, Ibu tidur di hotel lagi.”
Saya garuk-garuk kepala lagi.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja. Ketika ibu tidur di hotel, itu artinya bekal makan siang anak-anak harus berganti dengan masakan katering bukan masakan ibu. Dan itu artinya kocek harus dirogoh lebih dalam lagi.

Setangguh Apa Kita Mengejar Cita-Cita?

r-to-r

Pernah melewati jembatan gantung?
Huh, seram.
Saya menaikinya dengan kaki gemetar. Berjalan dari ujung ke ujung tanpa melihat ke aliran air di bawahnya. Berharap tidak ada angin, atau sesuatu yang membuat saya terpeleset.

Berada di atas jembatan gantung membuat saya jadi paham.
Kita berada di atasnya seperti sedang meniti jalannya cita-cita kita. Bila niat tidak kuat, maka yang ada hanya ketakutan dan ketakutan.
Tapi bila niat kita kuat, maka kita hanya akan fokus pada ujung target yang ingin kita kejar.

Saya memiliki dua abege.
Dua abege yang cita-citanya berubah-ubah, tapi garis besarnya sama.
Yang Sulung tadinya ingin jadi palang kereta api, terus berubah jadi masinis, terus berubah jadi pemain bola, terus berubah lagi jadi imam masjid Medinah.
Berubah total?
Bukan.
Sampai sekarang dia jadi penikmat kereta api. Pergi kemana pun kami, dia hanya mau naik kereta api. Ibu dan Ayah tidak boleh punya mobil karena hanya bikin macet jalanan. Ibu dan Ayah harus pesan tiket kereta api jauh sebelum tanggalnya ketika masa mudik tiba.
Pemain bola? Dia masih jadi pencinta bola. Terbangun untuk menonton pertandingan bola. Weekend diisi dengan main futsal bersama teman-temannya.
Lalu jadi imam masjid? Itu mungkin karena dia ingin menunjukkan baktinya pada saya. Sebagai Ibu saya sering ngobrol dengannya tentang harapan kelak ketika saya sudah tidak ada. Dan dia ingin mewujudkannya.
Paling tidak harapan yang ia inginkan sejak kecil masih melekat dalam bentuk hobi. Itu artinya hobi bisa jadi mengerucut menjadi hal lain. Yang penting saya sebagai orangtua tidak menghancurkan mimpi-mimpi dan harapannya itu.

Cita-cita saya apa dulu?
Aaah, cita-cita saya hanya ingin jadi guru, penulis dan psikolog.
Lalu semua berujung dengan satu kata penulis yang ternyata dari profesi itu bisa membuat saya jadi psikolog, guru dan jadi apa saja karena dimudahkan untuk saya mengenal siapa saja.
Harapan saya Sulung pun mengerucut seperti itu.
Jadi imam di masjid mana saja, siapa tahu dia bisa membina para pemain bola agar meningkat keimanannya. Bisa membimbing untuk shalat tanpa terkendala waktu atau juga tempat.

Ciptakan untuk Tangguh Dulu

Saya yakin tidak ada kata mudah untuk meraih sesuatu.
Sesuatu yang mudah malah jadinya akan disepelekan. Mungkin kalau dulu saya tidak jatuh bangun, merangkak untuk menulis, saya tidak akan sampai di titik ini.
Lihat para pesohor seperti bintang sepak bola dan atlet lainnya atau para pakar di bidangnya. Mereka jatuh bangun, dan jatuh cinta dengan apa yang dikejarnya.

Anak-anak harus tahu jalan untuk itu tidak mudah.
“Ibu, aku mau jadi repoter,” itu kata yang Bungsu.
Eh dia, mau fokus nulis juga katanya. Mau punya banyak penghargaan biar ditempel di dinding dan mengalahkan penghargaan yang diterima Ibu.
Bisa menulis? Tentu saja bisa, karena saya ajarkan sejak kecil. Tapi kan dia harus berada pada posisi bukan sekedar bisa lagi. Ibunya sudah bisa menulis itu artinya dia harus punya kualitas lain seperti tulisan yang harus lebih berisi ketimbang anak seumurannya, misalnya.
Maka biasanya saya tunjukkan sebuah lomba dan saya tanya apakah dia mau ikut.
Sebuah kekalahan kemarin, membuat dia termangu. Ada sertifikat yang diterima. Saya mencoba berada pada posisinya. Dulu, senang sekali saya cuma mendapatkan nama saya sebagai peserta tercantum di media cetak, untuk lomba puisi. Maka sertifikat yang dia terima dialamatkan ke sekolah itu saya baca. “Ibu jangan lupa, sertifikatku dibingkai.”
Saya mengangguk.
Sertifikat itu belum dapat bingkai, tapi saya letakkan di tempat yang terlihat di rak buku berpintu kaca.

Cita-cita anak kita mau jadi apa?
Rentang dari anak SD sampai menuju cita-cita itu panjang. Tidak bisa dengan tongkat ajaib cita-cita itu tercapai.
Ada proses yang harus dilalui dan doa orangtua yang selalu melingkari mereka, sehingga mereka tidak melenceng dari jalur yang mereka inginkan.

“Imam masjid harus konsisten mau ke masjid,” itu yang selalu saya katakan pada anak sulung saya.
“Reporter harus terus mengasah wawasan,” itu juga saya katakan pada bungsu saya, jika dia sudah mulai terlalu lama pegang gadget.

“Ibu dulu mau jadi apa?”
“Ayah dulu cita-citanya apa?”

Sambil duduk bersama, biasanya pas makan malam di atas karpet, kami akan bicara banyak.
“Cita-cita Ibu sekarang kasih pahala mengalir buat orangtua Ibu.”
Anak-anak serentak mengangguk.
“Jadi apa saja terserah, sepanjang tetap berpegang teguh pada prinsip.”

Entah berapa tahun lagi mereka akan jadi apa.
Tapi saya yakin, proses yang saya tanamkan tentang cita-cita akan membuat mereka jadi orang yang tangguh dan berjuang untuk bermanfaat untuk orang lain.

Jangan Jadi Ibu yang Sempurna

photo

Ibu saya tidak sempurna.
Sungguh.
Ibu kandung saya hanya lulusan SD, tidak pintar seperti ibu teman saya yang lain. Zaman dulu Ibu teman saya ada yang kuliah, ada yang jadi guru. Dan ibu-ibu itu punya banyak buku di rumahnya, yang buku-buku itu sering saya pinjam.

Ibu saya tidak suka baca buku. Ibu saya sama seperti ibu-ibu zaman dahulu. Terperangkap pada mengurus anak dan melahirkan anak berturut-turut sampai delapan anak. Ruang untuk Ibu mengaktulisasikan dirinya hanya pada mesin jahit. Ibu menjahit semua baju seragam dan baju lebaran kami.

Ibu saya bukan Ibu yang sempurna apalagi hebat. Dulu saya iri pada teman lain yang punya Ibu pintar. Sedang saya cuma punya Bapak yang pintar dan cinta membaca.
Dulu saya ingin Ibu juga merasakan pergi ke kantor. Terlaksana sih impian saya, ketika kantor Bapak mengharuskan istri-istri pegawainya ikut penataran dan Ibu terpilih. Itu pertama kalinya Ibu merasakan ruangan ber AC sampai membeli jaket baru.

Ibu saya bukan Ibu yang sempurna dan kami semua anak-anaknya menyadari hal itu. Karena itu kami tidak mau mengulangi apa yang Ibu lakukan. Lima anak perempuan Ibu akhirnya berjuang untuk jadi perempuan dengan berjuang untuk menambah wawasan. Meski Ibu juga dulu sering mengeluh karena anak-anak gadisnya menikah tidak secepat anak gadis teman-temannya.
Ibu perempuan yang banyak kurangnya, tapi kami justru belajar dari kekurangan itu.

Sampai akhirnya saya merasakan juga jadi Ibu.
Ibu dari dua anak.
Berjuang belajar terus di mana saja. Berjuang untuk paling tidak anak-anak bangga punya Ibu seperti saya.
Dulu pada awalnya konsep sempurna ada di benak saya.
Bahwa saya harus bisa ini itu. Segala bentuk emosi saya pendam sendiri. Di hadapan pasangan juga saya harus ya ya yes, demi menyenangkan hati semuanya termasuk keluarga besarnya.
Bukan sesuatu yang susah, sih. Karena saya punya empat orang adik, dan Bapak selalu menganggap saya adalah anak yang penyabar dan pengalah. Maka saya terbentuk sebagai anak dengan mindset harus jadi penyabar dan harus jadi pengalah. Meskipun saya kadang-kadang ingin marah juga ingin emosi juga. Tapi seperti ada penjara yang menghambat saya melakukan hal itu. Saya terkurung dalam stygma baik, anak baik dan semua yang serba baik. Meskipun saya juga ingin melakukan banyak hal yang tidak baik misalnya dengan membanting pintu ketika marah atau membiarkan pakaian kotor bertumpuk saja tidak perlu saya cuci.

Tapi lambat laun saya merasa tidak bisa.
Saya merasa menjadi Ibu tanpa nyawa, hanya seperti boneka dari keinginan banyak orang.
Sampai akhirnya ada satu yang menghentak-hentak batin saya ketika orang lain dengan enaknya mengatur saya, mengatur rumah tangga saya sesuai konsep yang mereka inginkan. Dan karena keinginan untuk menyenangkan banyak orang itu membuat kami tertimbun dalam utang yang cukup banyak. Itu yang membuat saya sadar dan tersadarkan.
Saya harus berubah. Sebab saya menusia.
Wajar saya marah dan wajar bila marah itu bisa jadi menyakiti perasaan orang lain. Tapi paling tidak saya marah pada orang yang benar, bukan pada setiap orang dan sembarang orang.
Wajar jika ada yang sakit hati, tapi yang sakit hati adalah orang yang tepat, bukan setiap orang saya buat sakit hati.
Tentunya saya juga berjuang agar Allah membuat saya mengambil keputusan yang tepat.

Yes…, Tidak Sempurna

Dulu, duluuu sekali. Kalau saya pulang dengan nilai jelek, saya selalu merasa bersalah pada Bapak. Saya merasa gagal. Bahkan saya pernah demam ketika menyerahkan nilai ulangan matematika saya yang buruk.
Lalu beranjak besar, saya juga takut mengecewakan Bapak.
Bapak biarpun tidak langsung akan bertanya pada Ibu. “Kok tumben, ya, nilainya jelek?’ Atau “Kok bisa, ya, tidak lulus di tes itu?”

Saya stress dengan harapan orang pada saya.
Saya juga stress menjadi sempurna. Saya bukan malaikat. Mengalah wajib hukumnya bagi saya, tapi bukan berarti tidak bisa mengungkapkan pendapat. Bersabar juga wajib, tapi kalau orang salah tetap harus diberitahu.

Lega rasanya karena saya bisa seperti orang lain.
Saya bisa marah sama orang lain, meskipun kadar marahnya tidak juga teriak-teriak tapi dengan diam. Tapi paling tidak mereka tahu.
Saya bisa menolak orang lain. Dan itu melegakan saya, karena capek juga mengikuti apa maunya orang lain terus.
Saya tidak memukul anak-anak tentu saja. Saya tetap harus menarik napas panjang dulu ketika emosi pada anak-anak.
Tapi saya jauh lebih bahagia.
Bahagia karena saya jadi diri sendiri, dengan kesadaran penuh mengendalikan diri sendiri, bukan dikendalikan oleh rasa ingin menyenangkan orang lain.

Saya tetap berjuang belajar dan belajar.
Saya bukan Ibu yang sempurna, karena saya tidak terlalu mahir masak. Saya juga tidak pintar matematika. Tapi yang penting anak-anak paham saya berjuang untuk menyayangi mereka. Pasangan tahu, saya berjuang untuk jadi pasangan yang mau menerima kekurangannya.

Saya bersyukur, kelak anak lelaki saya akan melihat bahwa ibunya tidak sempurna. Itu artinya dia akan mudah menerima perempuan lain menjadi pasangannya dan membiarkan pasangannya itu berproses.

Berita Kematian

BERITA KEMATIAN

Sebab kematian seringnya datang tiba-tiba.
Ia tidak memberi tanda di pagi hari jika akan datang di sore hari.
Kita tidak bisa menebak datangnya.
Ia tidak seberisik hujan di atas atap seng.
Ia tidak mengetuk pintu pagar seperti tamu yang datang.
Bahkan ia tidak berteriak untuk menyadarkan kita sebelumnya.

Hujan bisa jadi punya pertanda.
Gunung merapi pun akan memberi pertanda sebelum ia memuntahkan isinya.
Tapi tidak dengan kematian.
Terkadang ia lebih cepat bahkan dari tarikan napas kita sendiri.
Terkadang bahkan ia lebih kuat dari kenangan yang mengikat kita.

Sebab kematian seringnya tidak menyapa dan memberi isyarat.
Kita pun tidak merasa.
Bahwa pada satu hari, kita akan masuk untuk menempuh jarak yang lain
dan meninggalkan yang lain tenggelam dalam kenangan.

Akan ada masanya.
Untuk orang lain.
Dan untuk kita.

Sebab kematian seringnya tidak memberi tanda.
Meskipun ada yang mampu merasa.
Ketika hidup tidak digenggam terlalu erat.
Ketika dunia tidak mengikat terlalu ketat.
Dan ketika kesadaran bahwa yang hidup pasti berujung kematian.

Sebab kematian seringnya tidak memberi tanda.
Karena kita bukan yang istimewa.
Jadi siapkan diri saja.

Siaran Pertama di Radio Dakta

di-dakta

Akhirnya…, saya kembali merasakan siaran lagi.
Iya akhirnya. Setelah bertahun-tahun yang lalu. Sebagai mahasiswa komunikasi, ke media cetak, televisi dan radio itu biasa.
Dari zaman SMA saya juga ikut eskulnya siaran radio, meski lebih banyak cengengesannya.
Di zaman kuliah, banyak teman yang jadi penyiar, adik kandung saya juga seorang penyiar, ada radio kampus juga, ada kunjungan ke radio dan ujian praktik di radio juga. Jadi bukan sesuatu yang aneh buat saya.

Eh tapi siaran di radio?
Dulu saya akan menolak. Maklum lebih nyaman duduk di belakang komputer. Ketik sana ketik sini. Jadi tulisan dan kita bisa nyaman tanpa ada yang mengetahui jati diri kita sebagai penulis. Apalagi mengorek tulisan kita dengan kepribadian kita.

Tapiii,
setelah zaman berubah. Setelah saya jadi ibu dua anak dan ingin berproses ke arah yang lebih baik, juga menjadi pribadi yang baik bukan sekedar menulis yang baik saja, maka saya harus mengikuti perubahan zaman itu.
Ada tuntutan agar pesan yang kita sampaikan dalam sebuah tulisan bisa tersebar manfaatnya. Jadi orang paham bahwa ada lho buku yang bagus yang bisa dibeli di toko buku.

Jadi saya promosi buku?
Iya promosi untuk buku yang saya tulis dengan hati. Buku “Aku Keren”. Yang satu tujukan untuk dua anak remaja saya, sebagai warisan ilmu untuk mereka. Juga remaja lainnya pada umumnya, agar mereka lebih menghargai dan menghormati kedua orangtua mereka.

Ceritanya saya dapat email dari editor saya dari Bhuana Ilmu Populer, Marina. Marina bilang bersediakah untuk talkshow di radio Dakta untuk buku saya?
Saya tentu senang hati.
Radio Dakta itu radio yang saya kenal sejak saya tinggal di Bekasi. Pernah juga saya coba untuk tanya soal promosi di sana. Tapi waktu itu pakai dag dig dug.
Tapi Sabtu kemarin rasa itu tidak ada.

di-dakta-lagi

Seminggu sebelumnya saya sudah kontak-kontakkan via WA dengan Ulfina penyiar radio Dakta. Termasuk minta arahan jalan menuju radio Dakta.
Maklum saya tidak tahu jalan ke sana.
Ternyata jalan ke sana tidak begitu jauh dari rumah saya.

Akhirnya pada Sabtu jam 10 saya siaran di radio Dakta.
Baca doa Nabi Musa untuk melancarkan kalimat saya. Bismillah juga agar tidak ada kalimat yang melenceng nanti.
Maunya sih saya ditemani editor dari penerbit BIP yang juga datang. Tapi Marina memilih sebagai sesi dokumentasi saja.

di-dakta-juga.

Di sana saya bicara tentang apa?
Tentang buku yang saya tulis.
Apa isi buku tersebut. He he untung saya bawa bukunya jadi bisa membantu ingatan. Maklum setelah buku itu selesai saya tulis, saya kan juga menulis buku yang lain, jadi takut kalau ada informasi yang tidak bisa saya sampaikan karena khilap.
Alhamdulillah lancar. Dan saya bisa bicara dengan lancar pula. Hilang rasa grogi.
Kekutan pikiran untuk menyebarkan pesan yang bermanfaat benar-benar membantu saya.

Ini pengalaman berharga.
Saya ketagihan tuh.
Mau promosi buku saya lagi ke radio Dakta di lain kesempatan. Kebetulan akan ada beberapa buku lagi yang akan
terbit.

Menolong Satu Orang Jangan Sampai Mengorbankan Yang Lain

Ingin menolong?
Wajar.
Menolong orang lain yang masih kerabat? Tentu saja. lebih wajar lagi. Apalagi keluarga kandung, yang ikatan batinnya kuat.
Tolonglah orang lain maka Allah akan menolongmu, itu biasanya ayat yang akan dipakai.

Tapi saya justru belajar banyak soal tolong-menolong dan menghargai hak orang lain, meski itu saudara kandung sendiri justru dari Bapak.
Konon, pada suatu masa Bapak tidak punya biaya untuk membiayai kuliah adik saya.
Uang pensiun Bapak ada. Tapi tidak mencukupi.
Saya melihat pergolakan batin Bapak untuk menelepon Kakak. Maklum Kakak juga baru berumah tangga dan baru punya bayi. Ekonomi juga baru merangkak.
“Kenapa, Pak?” tanya saya pada Bapak duduk di dekat meja telepon.
“Bapak tidak mau merepotkan anak. Anak Bapak tanggung jawab Bapak,” ujar Bapak pada saya. “Kalau mereka sudah berumah tangga, urusannya beda. Mereka punya urusan sendiri.”
Bapak menghargai betul urusan rumah tangga anaknya. Tidak mau anaknya terbebani.
Hasilnya, kami berjuang untuk membahagiakan Bapak dengan cara kami. Artinya untuk biaya kuliah kami mandiri dengan bekerja paruh waktu demi untuk membiayai kuliah sampai selesai.
Hubungan kakak adik ikatannya juga kuat. Ada bantuan, ada pinjaman uang tapi prinsipnya jelas dan tidak sampai merugikan yang lain terutama pasangan hidup mereka.

Saya pegang betul kalimat Bapak itu.
Ada skala prioritas yang harus dijaga.
Skala prioritas itu yang saya ajarkan ke dua anak saya. Kakak adik boleh saling berbagi, ketika keduanya sama-sama ikhlas melakukannya, tidak terpaksa.
Jika si Kakak meminjam barang adik wajib dikembalikan.
Begitu juga sebaliknya.
Maklum seringnya kakak adik saling meminjam dan barang hilang, dianggap lumrah. Padahal itu imbasnya akan melebar ketika berumah tangga kelak.

Ini hal kecil memang. Tapi jika dibiarkan, apalagi berhubungan dengan yang namanya uang, maka segalanya jika tidak jelas akan membuat perpecahan bahkan sakit hati berkepanjangan.
Pinjam meminjam dalam bentuk uang akan menjadi sesuatu yang sangat sensitif. Banyak yang beranggapan bahwa meminjam dari saudara kandung sendiri itu, tidak perlu seketat meminjam dari bank. Artinya mereka bebas meminjam tapi tidak memikirkan untuk dikembalikan. Bahkan memberikan pinjaman diartikan memberikan tanpa perlu dibayar.
Padahal Islam sudah mengatur hal ini secara rinci dalam Al Quran perkara pinjam meminjam.

Balik pada menolong orang lain tapi tidak menyakiti perasaan yang lain alias tidak mengorbankan yang lain.
Hiks saya sering mendengar kisah orang lain.
Si suami punya penghasilan, tapi tidak total diberikan pada istrinya. Istri diminta hidup seadanya, tapi penghasilan suami bukan untuk ditabung atau disedekahkan ke yang tidak mampu. Tapi diberikan pada kakak atau adiknya yang punya gaya hidup lebih wah dari hidup mereka.

Ada juga si suami yang berpendapat bahwa karena si istri mau hidup seadanya, maka ia memberikan seadanya saja. Uang yang di tangannya diberikan untuk kerabatnya untuk membeli kebutuhan yang justru tidak diberikan pada istrinya. Semisal, kerabat minta ganti mesin cuci, langsung diberikan. Sedang si istri dibiarkan mencuci pakai tangan.

Skala Prioritas dan Standar Hidup

Standar orang lain dan standar kita berbeda.
Kebutuhan orang lain dan kebutuhan kita berbeda, meski orang itu adalah saudara kandung kita sendiri.
Harus menolong, tapi perhatikan skala prioritas kita.
Misal,
bayaran anak-anak harus terpenuhi lebih dahulu. Uang bulanan untuk istri harus diberikan juga sehingga segala macam tagihan bisa diselesaikan si istri.
Setelah itu barulah bisa membantu dengan bantuan yang memang kita miliki, tidak memaksakan diri.
Misal.
Kerabat minta bantuan 100 juta sedang kita hanya punya 3 juta, jangan lantas kita melihat simpanan emas pasangan atau tabungan pendidikan anak-anak untuk dikorbankan.
Karena itu jatuhnya kita menolong dengan mengorbankan orang lain.
Apalagi kalau ternyata si istri tidak punya simpanan karena biasa hidup sederhana.

Ada banyak cara menolong.
Hargai pasangan yang hidup dengan kita.
Bikin skala prioritas.
Maka segalanya akan lebih mudah untuk dijalani.
Menolong dengan mengorbankan orang lain itu sama saja dengan menzalimi. Dosa besar hukumnya.