Ketika Penulis Terpaksa Pindah Tidur ke Hotel Berbintang

“Ibu mau pergi lagi? Nginep di hotel lagi?”
Itu pertanyaan bungsu saya, yang katanya ngiri, ibunya tidur di hotel terus. Padahal si ibu biasa ada di rumah, justru tidak punya pikiran seperti itu.
Dulu, pada zaman dahulu kala, ketika profesi penulis di media remaja sedang booming, menginap di hotel juga pernah saya rasakan. Rasanya?
Untuk orang rumahan seperti saya, yang cinta kamar dan segala pernak-perniknya, maka tingkat kenikmatan hotel hanya berada pada lapisan luar saja.
Apalagi sekarang.
Ibu dua anak, yang mengurus pernak-pernik rumah tangga. Tinggal di hotel, lebih banyak untuk kerja. Itu pun ketika tidur suka terbangun membayangkan kondisi rumah seperti apa, ya?

Lalu kenapa penulis bisa tinggal di hotel?
Itu yang dulu ditanyakan bungsu saya.
Tapi setelah dia tahu ada banyak jalan untuk merasakan tidur di hotel, termasuk melalui prestasi menulis, maka ia sekarang sibuk membaca.

Hotel tentu saja bukan rumah.
Sebagus dan sebersih apa pun. Selengkap apa pun dan sebagus apapun jaringan wi fi di hotel tersebut.

hotel-harris-1

Ketika berada di kamar tidur yang lengkap, semua serba empuk, tapi isi kepala berputar dan berputar, itu rasanya tidak nikmat. Tidur terbangun lalu tidur lagi dengan perasaan tidak tenang.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja untuk sebuah kenikmatan.
Apalagi ketika kenikmatan itu diberikan sebagai fasilitas pekerjaan kita sebagai penulis.

hotel-harris-2

Tunggu dulu,
apa yang membuat seorang penulis bisa merasakan tidur di hotel? Penulis buku dan media cetak lho dalam artian bukan blogger. Karena kalau seorang blogger mungkin banyak undangan dari penyelenggara yang menyediakan fasilitas itu.
Tapi penulis, jalur apa yang mungkin bisa membuatnya merasakan pindah tidur ke hotel.

Setahu saya, jalur yang harus dilalui penulis untuk mendapatkan undangan, dan kepercayaan hingga akhirnya bisa merasakan menginap di hotel hanya satu.
Jalur prestasi. Kalau ingin murni menginap di hotel gratis dengan segala fasilitasnya dan ongkos transport juga.
Iya jalur prestasi.
Artinya, banyak-banyaklah menulis dan berprestasi.
Ketika menulis dan berprestasi itulah, maka orang, penerbit atau instansi akan mudah mengenal kita dan memberi kepercayaan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Pekerjaan itu akhirnya yang bisa membawa kita pindah tidur dari satu hotel ke hotel yang lain.

Jadi apa yang harus dilakukan penulis?
Kalau saya sih terus menulis saja.
Lakukan yang terbaik artinya menulis yang terbaik, dengan riset dan hasil yang baik.
Ketika ada pekerjaan pesanan, lakukan komunikasi dengan baik dengan yang memberi pekerjaan, sehingga mereka percaya bahwa kita memang orang yang bisa dipercaya.
Sering-seringlah ikut lomba menulis. Karena biasanya lomba menulis yang diadakan sebuah instansi pemerintah, pasti akan mengadakan malam penghargaan untuk para pemenang. Dan biasanya pemenang untuk itu disediakan kamar hotel di ibu kota Jakarta.

Terus apa lagi?
Teruslah menulis. Kalaupun kita bukan pemenang sebuah lomba, tapi dari menulis kita bisa punya penghasilan. Dan tentu saja dengan penghasilan itu kita bisa menyewa kamar hotel dengan pikiran lebih tenang, karena tidak disibukkan dengan pekerjaan. Kita juga bisa membawa anak dan pasangan lalu bersenang-senang.

Tapi uang dari menulis tidak cukup?
Banyak-banyaklah menulis bukan mengeluh. In syaa Allah kalau untuk sehari dua hari menginap di hotel pasti bisa dengan uang dari menulis.
Kalau saya sih lebih memilih untuk menginap di desa yang hawanya masih asri ketimbang menginap di hotel.

Soal tidur di hotel?
Beberapa hari lagi saya, masih harus pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Tidur di hotel lagi.
Pikiran terpecah lagi, antara rumah dan pekerjaan. Apalagi si anak bungsu harus ikut kegiataan OSIS dari sekolah dan kemping di daerah puncak.

“Ih asyik, Ibu tidur di hotel lagi.”
Saya garuk-garuk kepala lagi.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja. Ketika ibu tidur di hotel, itu artinya bekal makan siang anak-anak harus berganti dengan masakan katering bukan masakan ibu. Dan itu artinya kocek harus dirogoh lebih dalam lagi.

Setangguh Apa Kita Mengejar Cita-Cita?

r-to-r

Pernah melewati jembatan gantung?
Huh, seram.
Saya menaikinya dengan kaki gemetar. Berjalan dari ujung ke ujung tanpa melihat ke aliran air di bawahnya. Berharap tidak ada angin, atau sesuatu yang membuat saya terpeleset.

Berada di atas jembatan gantung membuat saya jadi paham.
Kita berada di atasnya seperti sedang meniti jalannya cita-cita kita. Bila niat tidak kuat, maka yang ada hanya ketakutan dan ketakutan.
Tapi bila niat kita kuat, maka kita hanya akan fokus pada ujung target yang ingin kita kejar.

Saya memiliki dua abege.
Dua abege yang cita-citanya berubah-ubah, tapi garis besarnya sama.
Yang Sulung tadinya ingin jadi palang kereta api, terus berubah jadi masinis, terus berubah jadi pemain bola, terus berubah lagi jadi imam masjid Medinah.
Berubah total?
Bukan.
Sampai sekarang dia jadi penikmat kereta api. Pergi kemana pun kami, dia hanya mau naik kereta api. Ibu dan Ayah tidak boleh punya mobil karena hanya bikin macet jalanan. Ibu dan Ayah harus pesan tiket kereta api jauh sebelum tanggalnya ketika masa mudik tiba.
Pemain bola? Dia masih jadi pencinta bola. Terbangun untuk menonton pertandingan bola. Weekend diisi dengan main futsal bersama teman-temannya.
Lalu jadi imam masjid? Itu mungkin karena dia ingin menunjukkan baktinya pada saya. Sebagai Ibu saya sering ngobrol dengannya tentang harapan kelak ketika saya sudah tidak ada. Dan dia ingin mewujudkannya.
Paling tidak harapan yang ia inginkan sejak kecil masih melekat dalam bentuk hobi. Itu artinya hobi bisa jadi mengerucut menjadi hal lain. Yang penting saya sebagai orangtua tidak menghancurkan mimpi-mimpi dan harapannya itu.

Cita-cita saya apa dulu?
Aaah, cita-cita saya hanya ingin jadi guru, penulis dan psikolog.
Lalu semua berujung dengan satu kata penulis yang ternyata dari profesi itu bisa membuat saya jadi psikolog, guru dan jadi apa saja karena dimudahkan untuk saya mengenal siapa saja.
Harapan saya Sulung pun mengerucut seperti itu.
Jadi imam di masjid mana saja, siapa tahu dia bisa membina para pemain bola agar meningkat keimanannya. Bisa membimbing untuk shalat tanpa terkendala waktu atau juga tempat.

Ciptakan untuk Tangguh Dulu

Saya yakin tidak ada kata mudah untuk meraih sesuatu.
Sesuatu yang mudah malah jadinya akan disepelekan. Mungkin kalau dulu saya tidak jatuh bangun, merangkak untuk menulis, saya tidak akan sampai di titik ini.
Lihat para pesohor seperti bintang sepak bola dan atlet lainnya atau para pakar di bidangnya. Mereka jatuh bangun, dan jatuh cinta dengan apa yang dikejarnya.

Anak-anak harus tahu jalan untuk itu tidak mudah.
“Ibu, aku mau jadi repoter,” itu kata yang Bungsu.
Eh dia, mau fokus nulis juga katanya. Mau punya banyak penghargaan biar ditempel di dinding dan mengalahkan penghargaan yang diterima Ibu.
Bisa menulis? Tentu saja bisa, karena saya ajarkan sejak kecil. Tapi kan dia harus berada pada posisi bukan sekedar bisa lagi. Ibunya sudah bisa menulis itu artinya dia harus punya kualitas lain seperti tulisan yang harus lebih berisi ketimbang anak seumurannya, misalnya.
Maka biasanya saya tunjukkan sebuah lomba dan saya tanya apakah dia mau ikut.
Sebuah kekalahan kemarin, membuat dia termangu. Ada sertifikat yang diterima. Saya mencoba berada pada posisinya. Dulu, senang sekali saya cuma mendapatkan nama saya sebagai peserta tercantum di media cetak, untuk lomba puisi. Maka sertifikat yang dia terima dialamatkan ke sekolah itu saya baca. “Ibu jangan lupa, sertifikatku dibingkai.”
Saya mengangguk.
Sertifikat itu belum dapat bingkai, tapi saya letakkan di tempat yang terlihat di rak buku berpintu kaca.

Cita-cita anak kita mau jadi apa?
Rentang dari anak SD sampai menuju cita-cita itu panjang. Tidak bisa dengan tongkat ajaib cita-cita itu tercapai.
Ada proses yang harus dilalui dan doa orangtua yang selalu melingkari mereka, sehingga mereka tidak melenceng dari jalur yang mereka inginkan.

“Imam masjid harus konsisten mau ke masjid,” itu yang selalu saya katakan pada anak sulung saya.
“Reporter harus terus mengasah wawasan,” itu juga saya katakan pada bungsu saya, jika dia sudah mulai terlalu lama pegang gadget.

“Ibu dulu mau jadi apa?”
“Ayah dulu cita-citanya apa?”

Sambil duduk bersama, biasanya pas makan malam di atas karpet, kami akan bicara banyak.
“Cita-cita Ibu sekarang kasih pahala mengalir buat orangtua Ibu.”
Anak-anak serentak mengangguk.
“Jadi apa saja terserah, sepanjang tetap berpegang teguh pada prinsip.”

Entah berapa tahun lagi mereka akan jadi apa.
Tapi saya yakin, proses yang saya tanamkan tentang cita-cita akan membuat mereka jadi orang yang tangguh dan berjuang untuk bermanfaat untuk orang lain.

Jangan Jadi Ibu yang Sempurna

photo

Ibu saya tidak sempurna.
Sungguh.
Ibu kandung saya hanya lulusan SD, tidak pintar seperti ibu teman saya yang lain. Zaman dulu Ibu teman saya ada yang kuliah, ada yang jadi guru. Dan ibu-ibu itu punya banyak buku di rumahnya, yang buku-buku itu sering saya pinjam.

Ibu saya tidak suka baca buku. Ibu saya sama seperti ibu-ibu zaman dahulu. Terperangkap pada mengurus anak dan melahirkan anak berturut-turut sampai delapan anak. Ruang untuk Ibu mengaktulisasikan dirinya hanya pada mesin jahit. Ibu menjahit semua baju seragam dan baju lebaran kami.

Ibu saya bukan Ibu yang sempurna apalagi hebat. Dulu saya iri pada teman lain yang punya Ibu pintar. Sedang saya cuma punya Bapak yang pintar dan cinta membaca.
Dulu saya ingin Ibu juga merasakan pergi ke kantor. Terlaksana sih impian saya, ketika kantor Bapak mengharuskan istri-istri pegawainya ikut penataran dan Ibu terpilih. Itu pertama kalinya Ibu merasakan ruangan ber AC sampai membeli jaket baru.

Ibu saya bukan Ibu yang sempurna dan kami semua anak-anaknya menyadari hal itu. Karena itu kami tidak mau mengulangi apa yang Ibu lakukan. Lima anak perempuan Ibu akhirnya berjuang untuk jadi perempuan dengan berjuang untuk menambah wawasan. Meski Ibu juga dulu sering mengeluh karena anak-anak gadisnya menikah tidak secepat anak gadis teman-temannya.
Ibu perempuan yang banyak kurangnya, tapi kami justru belajar dari kekurangan itu.

Sampai akhirnya saya merasakan juga jadi Ibu.
Ibu dari dua anak.
Berjuang belajar terus di mana saja. Berjuang untuk paling tidak anak-anak bangga punya Ibu seperti saya.
Dulu pada awalnya konsep sempurna ada di benak saya.
Bahwa saya harus bisa ini itu. Segala bentuk emosi saya pendam sendiri. Di hadapan pasangan juga saya harus ya ya yes, demi menyenangkan hati semuanya termasuk keluarga besarnya.
Bukan sesuatu yang susah, sih. Karena saya punya empat orang adik, dan Bapak selalu menganggap saya adalah anak yang penyabar dan pengalah. Maka saya terbentuk sebagai anak dengan mindset harus jadi penyabar dan harus jadi pengalah. Meskipun saya kadang-kadang ingin marah juga ingin emosi juga. Tapi seperti ada penjara yang menghambat saya melakukan hal itu. Saya terkurung dalam stygma baik, anak baik dan semua yang serba baik. Meskipun saya juga ingin melakukan banyak hal yang tidak baik misalnya dengan membanting pintu ketika marah atau membiarkan pakaian kotor bertumpuk saja tidak perlu saya cuci.

Tapi lambat laun saya merasa tidak bisa.
Saya merasa menjadi Ibu tanpa nyawa, hanya seperti boneka dari keinginan banyak orang.
Sampai akhirnya ada satu yang menghentak-hentak batin saya ketika orang lain dengan enaknya mengatur saya, mengatur rumah tangga saya sesuai konsep yang mereka inginkan. Dan karena keinginan untuk menyenangkan banyak orang itu membuat kami tertimbun dalam utang yang cukup banyak. Itu yang membuat saya sadar dan tersadarkan.
Saya harus berubah. Sebab saya menusia.
Wajar saya marah dan wajar bila marah itu bisa jadi menyakiti perasaan orang lain. Tapi paling tidak saya marah pada orang yang benar, bukan pada setiap orang dan sembarang orang.
Wajar jika ada yang sakit hati, tapi yang sakit hati adalah orang yang tepat, bukan setiap orang saya buat sakit hati.
Tentunya saya juga berjuang agar Allah membuat saya mengambil keputusan yang tepat.

Yes…, Tidak Sempurna

Dulu, duluuu sekali. Kalau saya pulang dengan nilai jelek, saya selalu merasa bersalah pada Bapak. Saya merasa gagal. Bahkan saya pernah demam ketika menyerahkan nilai ulangan matematika saya yang buruk.
Lalu beranjak besar, saya juga takut mengecewakan Bapak.
Bapak biarpun tidak langsung akan bertanya pada Ibu. “Kok tumben, ya, nilainya jelek?’ Atau “Kok bisa, ya, tidak lulus di tes itu?”

Saya stress dengan harapan orang pada saya.
Saya juga stress menjadi sempurna. Saya bukan malaikat. Mengalah wajib hukumnya bagi saya, tapi bukan berarti tidak bisa mengungkapkan pendapat. Bersabar juga wajib, tapi kalau orang salah tetap harus diberitahu.

Lega rasanya karena saya bisa seperti orang lain.
Saya bisa marah sama orang lain, meskipun kadar marahnya tidak juga teriak-teriak tapi dengan diam. Tapi paling tidak mereka tahu.
Saya bisa menolak orang lain. Dan itu melegakan saya, karena capek juga mengikuti apa maunya orang lain terus.
Saya tidak memukul anak-anak tentu saja. Saya tetap harus menarik napas panjang dulu ketika emosi pada anak-anak.
Tapi saya jauh lebih bahagia.
Bahagia karena saya jadi diri sendiri, dengan kesadaran penuh mengendalikan diri sendiri, bukan dikendalikan oleh rasa ingin menyenangkan orang lain.

Saya tetap berjuang belajar dan belajar.
Saya bukan Ibu yang sempurna, karena saya tidak terlalu mahir masak. Saya juga tidak pintar matematika. Tapi yang penting anak-anak paham saya berjuang untuk menyayangi mereka. Pasangan tahu, saya berjuang untuk jadi pasangan yang mau menerima kekurangannya.

Saya bersyukur, kelak anak lelaki saya akan melihat bahwa ibunya tidak sempurna. Itu artinya dia akan mudah menerima perempuan lain menjadi pasangannya dan membiarkan pasangannya itu berproses.

Berita Kematian

BERITA KEMATIAN

Sebab kematian seringnya datang tiba-tiba.
Ia tidak memberi tanda di pagi hari jika akan datang di sore hari.
Kita tidak bisa menebak datangnya.
Ia tidak seberisik hujan di atas atap seng.
Ia tidak mengetuk pintu pagar seperti tamu yang datang.
Bahkan ia tidak berteriak untuk menyadarkan kita sebelumnya.

Hujan bisa jadi punya pertanda.
Gunung merapi pun akan memberi pertanda sebelum ia memuntahkan isinya.
Tapi tidak dengan kematian.
Terkadang ia lebih cepat bahkan dari tarikan napas kita sendiri.
Terkadang bahkan ia lebih kuat dari kenangan yang mengikat kita.

Sebab kematian seringnya tidak menyapa dan memberi isyarat.
Kita pun tidak merasa.
Bahwa pada satu hari, kita akan masuk untuk menempuh jarak yang lain
dan meninggalkan yang lain tenggelam dalam kenangan.

Akan ada masanya.
Untuk orang lain.
Dan untuk kita.

Sebab kematian seringnya tidak memberi tanda.
Meskipun ada yang mampu merasa.
Ketika hidup tidak digenggam terlalu erat.
Ketika dunia tidak mengikat terlalu ketat.
Dan ketika kesadaran bahwa yang hidup pasti berujung kematian.

Sebab kematian seringnya tidak memberi tanda.
Karena kita bukan yang istimewa.
Jadi siapkan diri saja.

Siaran Pertama di Radio Dakta

di-dakta

Akhirnya…, saya kembali merasakan siaran lagi.
Iya akhirnya. Setelah bertahun-tahun yang lalu. Sebagai mahasiswa komunikasi, ke media cetak, televisi dan radio itu biasa.
Dari zaman SMA saya juga ikut eskulnya siaran radio, meski lebih banyak cengengesannya.
Di zaman kuliah, banyak teman yang jadi penyiar, adik kandung saya juga seorang penyiar, ada radio kampus juga, ada kunjungan ke radio dan ujian praktik di radio juga. Jadi bukan sesuatu yang aneh buat saya.

Eh tapi siaran di radio?
Dulu saya akan menolak. Maklum lebih nyaman duduk di belakang komputer. Ketik sana ketik sini. Jadi tulisan dan kita bisa nyaman tanpa ada yang mengetahui jati diri kita sebagai penulis. Apalagi mengorek tulisan kita dengan kepribadian kita.

Tapiii,
setelah zaman berubah. Setelah saya jadi ibu dua anak dan ingin berproses ke arah yang lebih baik, juga menjadi pribadi yang baik bukan sekedar menulis yang baik saja, maka saya harus mengikuti perubahan zaman itu.
Ada tuntutan agar pesan yang kita sampaikan dalam sebuah tulisan bisa tersebar manfaatnya. Jadi orang paham bahwa ada lho buku yang bagus yang bisa dibeli di toko buku.

Jadi saya promosi buku?
Iya promosi untuk buku yang saya tulis dengan hati. Buku “Aku Keren”. Yang satu tujukan untuk dua anak remaja saya, sebagai warisan ilmu untuk mereka. Juga remaja lainnya pada umumnya, agar mereka lebih menghargai dan menghormati kedua orangtua mereka.

Ceritanya saya dapat email dari editor saya dari Bhuana Ilmu Populer, Marina. Marina bilang bersediakah untuk talkshow di radio Dakta untuk buku saya?
Saya tentu senang hati.
Radio Dakta itu radio yang saya kenal sejak saya tinggal di Bekasi. Pernah juga saya coba untuk tanya soal promosi di sana. Tapi waktu itu pakai dag dig dug.
Tapi Sabtu kemarin rasa itu tidak ada.

di-dakta-lagi

Seminggu sebelumnya saya sudah kontak-kontakkan via WA dengan Ulfina penyiar radio Dakta. Termasuk minta arahan jalan menuju radio Dakta.
Maklum saya tidak tahu jalan ke sana.
Ternyata jalan ke sana tidak begitu jauh dari rumah saya.

Akhirnya pada Sabtu jam 10 saya siaran di radio Dakta.
Baca doa Nabi Musa untuk melancarkan kalimat saya. Bismillah juga agar tidak ada kalimat yang melenceng nanti.
Maunya sih saya ditemani editor dari penerbit BIP yang juga datang. Tapi Marina memilih sebagai sesi dokumentasi saja.

di-dakta-juga.

Di sana saya bicara tentang apa?
Tentang buku yang saya tulis.
Apa isi buku tersebut. He he untung saya bawa bukunya jadi bisa membantu ingatan. Maklum setelah buku itu selesai saya tulis, saya kan juga menulis buku yang lain, jadi takut kalau ada informasi yang tidak bisa saya sampaikan karena khilap.
Alhamdulillah lancar. Dan saya bisa bicara dengan lancar pula. Hilang rasa grogi.
Kekutan pikiran untuk menyebarkan pesan yang bermanfaat benar-benar membantu saya.

Ini pengalaman berharga.
Saya ketagihan tuh.
Mau promosi buku saya lagi ke radio Dakta di lain kesempatan. Kebetulan akan ada beberapa buku lagi yang akan
terbit.

Menolong Satu Orang Jangan Sampai Mengorbankan Yang Lain

Ingin menolong?
Wajar.
Menolong orang lain yang masih kerabat? Tentu saja. lebih wajar lagi. Apalagi keluarga kandung, yang ikatan batinnya kuat.
Tolonglah orang lain maka Allah akan menolongmu, itu biasanya ayat yang akan dipakai.

Tapi saya justru belajar banyak soal tolong-menolong dan menghargai hak orang lain, meski itu saudara kandung sendiri justru dari Bapak.
Konon, pada suatu masa Bapak tidak punya biaya untuk membiayai kuliah adik saya.
Uang pensiun Bapak ada. Tapi tidak mencukupi.
Saya melihat pergolakan batin Bapak untuk menelepon Kakak. Maklum Kakak juga baru berumah tangga dan baru punya bayi. Ekonomi juga baru merangkak.
“Kenapa, Pak?” tanya saya pada Bapak duduk di dekat meja telepon.
“Bapak tidak mau merepotkan anak. Anak Bapak tanggung jawab Bapak,” ujar Bapak pada saya. “Kalau mereka sudah berumah tangga, urusannya beda. Mereka punya urusan sendiri.”
Bapak menghargai betul urusan rumah tangga anaknya. Tidak mau anaknya terbebani.
Hasilnya, kami berjuang untuk membahagiakan Bapak dengan cara kami. Artinya untuk biaya kuliah kami mandiri dengan bekerja paruh waktu demi untuk membiayai kuliah sampai selesai.
Hubungan kakak adik ikatannya juga kuat. Ada bantuan, ada pinjaman uang tapi prinsipnya jelas dan tidak sampai merugikan yang lain terutama pasangan hidup mereka.

Saya pegang betul kalimat Bapak itu.
Ada skala prioritas yang harus dijaga.
Skala prioritas itu yang saya ajarkan ke dua anak saya. Kakak adik boleh saling berbagi, ketika keduanya sama-sama ikhlas melakukannya, tidak terpaksa.
Jika si Kakak meminjam barang adik wajib dikembalikan.
Begitu juga sebaliknya.
Maklum seringnya kakak adik saling meminjam dan barang hilang, dianggap lumrah. Padahal itu imbasnya akan melebar ketika berumah tangga kelak.

Ini hal kecil memang. Tapi jika dibiarkan, apalagi berhubungan dengan yang namanya uang, maka segalanya jika tidak jelas akan membuat perpecahan bahkan sakit hati berkepanjangan.
Pinjam meminjam dalam bentuk uang akan menjadi sesuatu yang sangat sensitif. Banyak yang beranggapan bahwa meminjam dari saudara kandung sendiri itu, tidak perlu seketat meminjam dari bank. Artinya mereka bebas meminjam tapi tidak memikirkan untuk dikembalikan. Bahkan memberikan pinjaman diartikan memberikan tanpa perlu dibayar.
Padahal Islam sudah mengatur hal ini secara rinci dalam Al Quran perkara pinjam meminjam.

Balik pada menolong orang lain tapi tidak menyakiti perasaan yang lain alias tidak mengorbankan yang lain.
Hiks saya sering mendengar kisah orang lain.
Si suami punya penghasilan, tapi tidak total diberikan pada istrinya. Istri diminta hidup seadanya, tapi penghasilan suami bukan untuk ditabung atau disedekahkan ke yang tidak mampu. Tapi diberikan pada kakak atau adiknya yang punya gaya hidup lebih wah dari hidup mereka.

Ada juga si suami yang berpendapat bahwa karena si istri mau hidup seadanya, maka ia memberikan seadanya saja. Uang yang di tangannya diberikan untuk kerabatnya untuk membeli kebutuhan yang justru tidak diberikan pada istrinya. Semisal, kerabat minta ganti mesin cuci, langsung diberikan. Sedang si istri dibiarkan mencuci pakai tangan.

Skala Prioritas dan Standar Hidup

Standar orang lain dan standar kita berbeda.
Kebutuhan orang lain dan kebutuhan kita berbeda, meski orang itu adalah saudara kandung kita sendiri.
Harus menolong, tapi perhatikan skala prioritas kita.
Misal,
bayaran anak-anak harus terpenuhi lebih dahulu. Uang bulanan untuk istri harus diberikan juga sehingga segala macam tagihan bisa diselesaikan si istri.
Setelah itu barulah bisa membantu dengan bantuan yang memang kita miliki, tidak memaksakan diri.
Misal.
Kerabat minta bantuan 100 juta sedang kita hanya punya 3 juta, jangan lantas kita melihat simpanan emas pasangan atau tabungan pendidikan anak-anak untuk dikorbankan.
Karena itu jatuhnya kita menolong dengan mengorbankan orang lain.
Apalagi kalau ternyata si istri tidak punya simpanan karena biasa hidup sederhana.

Ada banyak cara menolong.
Hargai pasangan yang hidup dengan kita.
Bikin skala prioritas.
Maka segalanya akan lebih mudah untuk dijalani.
Menolong dengan mengorbankan orang lain itu sama saja dengan menzalimi. Dosa besar hukumnya.

Pisau Runcing Dalam Pernikahan

AQUA, aku dan suami

Sakit hati yang paling sering terjadi adalah karena sesuatu yang keluar dari mulut kita atau pasangan. Dan yang ke luar dari mulut itu sering tidak disadari oleh yang bersangkutan dikarenakan mereka memang terbiasa melakukan hal seperti itu.
Yang ke luar dari mulut kita bisa jadi kita rasakan biasa saja dikarenakan kita terbiasa mengeluarkan kalimat seperti itu.
Kalimat bodoh tidak berpendidikan, bisa jadi hal yang biasa di beberapa keluarga yang mengutamakan pendidikan formal. Biasanya mereka mengambil pola asuh kalimat seperti sebagai acuan motivasi tapi tidak melihat bahwa terkadang kalimat seperti itu justru menjadi bahan pelajaran untuk anggota lainnya.
Melihat tidak bisa melakukan hal kecil, kata-kata itu bisa jadi terlontar. Dan dalam pernikahan, banyak interaksi, banyak kesalahan terjadi, maka dari situ kalimat yang seperti itu akan menjadi biang keladi masalah antar pasangan.
Kalimat buruk yang biasa dikeluarkan seorang Ibu, akan dipahami anak-anaknya sebagai kalimat yang biasa saja, berlaku di rumah itu artinya kalimat itu normal dan boleh juga ia ucapkan.
Karena itu biasanya anak-anak dengan orangtua yang biasa bicara kasar, akan juga tertular kekasarannya sampai pada batas usia tertentu ia paham dan mengambil keputusan untuk meneruskan atau menghentikan kalimat kasar itu. Menghentikan bisa jadi karena ia sudah tidak nyaman karena ia bergaul dengan orang-orang yang bersikap lembut. Meneruskan karena ia sudah terbiasa dengan kalimat seperti itu. Sudah mendarah daging.

Sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara (HR Bukhari Muslim.

Ada kalimat keras ada kalimat kasar. Dan tentu saja ada perbedaan antara kalimat yang diucapkan keras dan kalimat yang diucapkan kasar.
Kalimat keras bisa jadi volumenya diucapkan tinggi dengan nada tinggi, memekakkan telinga bagi yang tidak terbiasa mendengarnya.
Kalimat kasar sendiri adalah kalimat yang melukai hati. Sering bukan karena tingginya volume ketika mengucapkan tapi karena apa yang terucap itu yang menyakitkan hati.
Misal, kalimat bodoh yang diucapkan lembut untuk kesalahan yang kita perbuat dari orang lain yang selama ini ada di samping kita, pasti menyakitkan.
Kalimat bukan istri yang baik yang diucapkan oleh tetangga yang tidak pernah tahu diri kita sebenarnya seperti apa, pasti juga menyakitkan meski diucapkan sambil tersenyum.

Perhatikan apa yang ke luar dari mulut kita. Jika kita mudah terluka untuk kalimat yang ke luar dari mulut orang lain kepada kita, coba intropeksi apakah kalimat kita mudah melukai orang lain?
Biasanya bila kita minta Allah membukakan segalanya untuk bahan intropeksi akan mudah Allah membuat apa yang selama ini tidak terasa akan menjadi terasa.
Sebab banyak sekali para wanita yang kasar menangis dan merasa orang lain bersikap kasar padanya. Padahal ia sendiri kasar setiap kali bersikap pada orang lain.
Atau wanita yang suka menjelekkan orang lain, akan kaget sendiri ketika ada gossip dari orang lain tentang dirinya.
Yang paling efektif adalah meneliti kalimat yang ke luar dari mulut anak-anak kita. Jika mereka kasar, coba intropeksi diri. Tanya juga pada pasangan. Jika kalimat kasar itu datangnya bukan dari kita atau pasangan, itu artinya ada yang harus dibenahi yang ke luar dari mulut kita.
Untuk kalimat kasar seperti ini, kita dan pasangan harus sama-sama memiliki persepsi yang sama tentang kalimat kasar itu sendiri. Sebab satu kalimat yang kita anggap kasar adakalanya dianggap tidak kasar oleh pasangan. Misal, kalimat bodoh. Untuk kita kasar untuk pasangan tidak kasar.
Maka sebelum mematenkan bahwa kalimat itu kasar dan kalimat itu tidak di dalam rumah tangga kita sebaiknya kita juga harus memiliki persepsi yang sama tentang kalimat itu sendiri.
Acuan yang lebih baik adalah sebuah pertanyaan, apakah kalimat itu melukai perasaan orang lain atau tidak?
Selebihnya kita dan pasangan bisa saling mengkaji ulang lebih baik. Semakin dalam pemahaman agama semakin kita tahu kalimat apa yang pantas diucapkan dalam rumah tangga kita dan dengan intonasi yang seperti apa.

Kalimatmu Kasar. Kalimatku?
Kita dan pasangan berbeda. Jelas. Pernikahan memang Allah jadikan untuk menyatukan dua orang memiliki beberapa kesamaan dan juga beberapa perbedaan. Bukan menyatukan orang yang benar-benar sama atau benar-benar berbeda.
Ketika menyadari hal mendasar seperti ini, kita akan lebih menyadari bahwa jika kita dan pasangan memiliki perbedaan, itu artinya kita dan pasangan masih juga memiliki kesamaan.
Coba perhatikan orangtua kita. Apakah ayah dan ibu kita sama? Tentu tidak. Bisa jadi ayah kita punya cita-cita tinggi sedang ibu kita tidak atau sebaliknya. Tapi mereka memiliki persamaan pada hobi bercocok taman.

Bisa jadi ibu kita suka berpergian tapi ayah suka di rumah. Tapi persamaannya mereka akan optimal ketika mengurus kita sebagai anak-anaknya di rumah.
Atau bisa jadi ayah kita adalah orang yang sabar dan ibu kita tegas. Tapi mereka pasti memiliki benang merah sendiri kapan sabar dan tegas itu menjadi satu kesatuan yang membuat kita tumbuh kembang secara optimal.
Tentang kalimat kasar yang bisa jadi keluar dari mulut pasangan kita dan kita sakit hati? Cari yang paling tepat tentu saja mengucapkan langsung pada pasangan.

Pernikahan adalah proses itu yang wajib diingat. Proses itu diisi dengan saling mengingatkan satu dengan yang lain sehingga tercipta kenikmatan berproses untuk akhirnya sama-sama menuju ujung yang baik.
Sepanjang kita sadar, punya rambu yang jelas mana kalimat kasar dan mana tidak dan rambu-rambu itu adalah rambu yang diperintah oleh agama, maka akan lebih mudah untuk meluruskan pasangan kita.
Yang banyak terjadi, kalimat kasar pada pasangan (suami) membuat para istri menjadi merasa tidak bisa bergerak, runtuh harga dirinya. Lalu menyimpan bara lebih dalam lagi. KDRT karena kekerasan verbal ini juga banyak dilaporkan oleh para wanita yang merasa tidak kuat lagi dengan kata-kata kasar pasangannya.
Jika memang pasangan memiliki kalimat yang menurut kita senantiasa kasar, benahi pasangan pelan tapi pasti.
Ingat, ada indikator kalimat itu kasar :
1. Orang yang mendengarnya bukan hanya kita bisa sakit hati
2. Banyak dari kata kasar tidak ada manfaatnya sama sekali
3. Yang mengucapkan seringkali meluapkannya dalam keadaan emosi
4. Ketika tidak dalam keadaan emosi mengucapkannya itu artinya kata-kata kasar sudah menjadi kebiasaan.
5. Kata-kata kasar yang diucapkan berulangkali dan didengar oleh orang di dekatnya berkali-kali sering malah menjadi intimidasi dan membuat yang mendengarnya jadi merasa seperti itulah dirinya.

Tulis, Jangan Bicara
Jika kita adalah tipe yang memang mudah tersakiti mendengar kata-kata kasar ke luar dari mulut pasangan, kenapa kita tidak melakukan tindakan yang membuat pasangan sadar?
Atau jika kita sendiri yang memang suka bicara kasar sehingga anak-anak ikut terbawa dan bicara kasar, mungkin memang kita harus melakukan sesuatu.
Cara yang paling ampuh adalah lewat gambar atau tulisan.
Jika kita tidak terbiasa menggambar atau menulis, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya.
Pernahkan kita melihat anak kecil yang sedang menggambar dan dalam keadaan emosi? Apa yang dihasilkannya? Gambar yang coret moret tidak menentu. Ia menggabungkan semua warna dalam satu tumpukan dan tidak ada maknanya. Ia kadang tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Tapi setelah itu? Ia akan merasa lebih mudah terkontrol ketimbang sebelumnya.

Jika kalimat kasar yang ke luar dari mulut kita adalah kalimat yang selalu saja hadir tidak terkontrol dalam keadaan kita marah, coba carilah pengalihan sehingga kalimat itu tidak menyakiti seorang yang terkena.
Ambil kertas. Coret apa saja dalam keadaan kita marah. Atau kita tulis apa saja yang ingin kita ungkapkan dalam bentuk tulisan. Kita memerlukan sarana untuk mengeluarkan emosi kita.
Waldron dan Kelly 2008 mengatakan bahwa salah satu alasan dari tiga alasan kenapa pasangan bercerai adalah karena kalimat yang tidak membangun (destructive communicaton). Kalimat seperti ini kadang-kadang tidak bisa ditoleransi.
Ketidakmampuan mengendalikan konflik, kurangnya kedekatan dan tidak bisa menciptakan komunikasi yang sportif juga menjadi alasan lain dalam sebuah perceraian.

Ketika apa yang ada di hati sudah kita tumpahkan semua dalam bentuk coretan, endapkan dalam beberapa jam. Selang waktu beberapa jam itu, kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa membuka Al Quran, kita bisa membaca buku, kita bisa shalat, kita bisa juga tidur.
Setelah keadaan kita tenang, buka apa yang kita tulis dalam keadaan marah itu. Dan lihatlah. Betapa kadang-kadang apa yang seharusnya tidak tertulis jadi kita tulis ketika kita emosi. Bahkan hal-hal yang harusnya sudah selesai kembali kita buka kembali ketika kita dalam keadaan marah.
Ini artinya, ketika kita tidak menulis tapi memilih untuk bicara, maka akan ada kalimat yang menyakitkan orang lain terutama pasangan kita, akan ada juga kalimat yang mungkin disimpan sebagai luka baru oleh pasangan.
Cerdaslah mengelola kalimat yang keluar dari mulut kita.

Seberapa Dalam Sakit Hati Itu?
Jika memang pasangan kita, orang terdekat kita gemar sekali mengeluarkan kata-kata kasar, meski tidak diucapkan dengan nada tinggi, dan kita menjadi sakit hati karenanya, coba tanya dalam hati kita sendiri. Seberapa dalamkah sakit hati itu ada di dalam hati kita? Apakah sakit hati itu mengganggu hubungan kita dengan pasangan dan rumah tangga menjadi sesuatu yang menyebalkan untuk kita?
Kita harus jujur dengan diri sendiri, karena yang menjalani adalah kita. Sama sebenarnya dengan kita berada di dalam sebuah rumah. Rumah yang nyaman adalah rumah yang kokoh tiang penyangganya, atapnya, dindingnya. Kebocoran sedikit tidak masalah karena bisa ditambal.
Rumah yang nyaman itu tentu menyamankan kita. Tapi jika rumah itu bukan hanya keropos atap atau dindingnya tapi justru mau roboh menimpa kita yang ada di dalamnya, apa yang kita lakukan? Apakah kita tidak berbuat apa-apa dalam kondisi rumah yang seperti itu?
Tentunya ada dua alternative yang harus kita lakukan. Jika kita tidak mampu membenahi, maka minta tolonglah pada orang yang ahli melakukan pembenahan. Jika kita memang siap berada di dalam rumah itu, maka itu artinya kita harus memiliki kekuatan kalau suatu saat tubuh kita menjadi hancur karena tertimpa bangunan.

Pernikahan ditujukan untuk sakinah mawadah warohmah, yaitu rumah tangga yang tenang dan penuh kasih sayang.
Jika kalimat kasar dari pasangan membuat kita memendam bara sakit hati, itu artinya kasih sayang dalam rumah tangga kita sudah diracuni oleh perasaan seperti itu.
Tentu saja perlu ada komunikasi yang intensif dengan pasangan untuk membahas hal ini. Selain itu, tentu juga harus ada kemauan keras melanjutkan rumah tangga dengan meminimalisir sakit hati.
Kita benahi pasangan yang rajin mengucapkan kalimat kasar dan sikapi dengan selalu mengucapkan kalimat positif dan lemah lembut. Sekali dua kali mungkin tidak akan terpengaruh. Tapi setahun, dua tahun bahkan tiga tahun jika pesan itu diungkapkan berulang dengan contoh kelembutan dan santun pasti pasangan akan mengerti dan mengurangi hal itu.
Sedang sakit hati juga harus kita tekan dan bahkan hilangkan demi kelanggengan rumah tangga kita.

kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak barang sedikitpun. (Ibrahim: 24-26)

Memindahkan Gosip ke Jempol

Ada banyak ilmu yang saya dapat dari sosial media. Tapi sedihnya ternyata ada juga banyak gosip yang saya dapat dari sosial media. Gosip dari orang yang saya kenal, sampai orang yang bahkan tidak saya kenal. Gosip orang terkenal dari kalangan artis, sampai gosip orang yang tidak saya kenal sama sekali.

Gosip, menceritakan keburukan orang lain. Tersirat maupun tersurat sering sekali dilakukan para pembuat status di sosial media. Saya tipikal orang yang penasaran. Saya tipikal penulis yang sering membaca status untuk membuat penat setelah menulis berlembar-lembar.
Ada banyak status yang membuat saya merenung, berpikir dan juga akhirnya browsing untuk mencari tahu. Tahu tentang sosok yang ditulis di sana. Dan akhirnya berujung pada satu rasa bukan sekedar ingin tahu, tapi tumbuh rasa ingin menghujat juga.

Ada banyak status yang baik, status yang buruk atau status abu-abu.
Ada status yang memang jelas-jelas memberitakan sesuatu. Tapi ada juga stasus yang memang menggiring pembacanya untuk tahu sesuatu yang memang semestinya tidak perlu untuk diberitahu.
Seperti halnya kasus video porno. Maunya memberitahu ada seseorang yang membuat video porno. Tapi ujungnya link-link itu malah menggiring oleh untuk mencari tahu lebih dalam lagi. Dan kalau video porno seperti itu, apa yang bisa didapatkan seseorang selain hanya kesia-siaan waktu.

“Ssst…, si itu, tuuuuh.” Biasanya begitu kalau ada tetangga yang mau mengajak bicara tentang orang lain.
Saya kadang terhanyut juga. Meski tidak ikut bicara tapi akhirnya ikut mendengarkan. Menyesal setelah sadar, kalau saya sudah buang waktu saya untuk sebuah kesia-siaan.

Di sosial media seperti apa?
Dibuat status berputar-putar dulu. “Cantik, sih. Tapi kelakukannya seperti itu. Namanya…,” lalu disebutlah inisial yang mau ditulis itu. Ditambahi dengan,” Coba deh browsing.”
Ujungnya orang-orang berkomentar siapa nama lengkapnya paling tidak ciri-cirinya.
Lalu setelah itu kelihatan mereka mencarinya dan ujungnya bergunjinglah di sosial media. Membicarakan orang yang tidak mereka kenal sama sekali.

Sosial media kita memang milik kita. Tapi mengutip dari seseorang, yang saya amini karena saya setuju. Timeline kita bukan milik kita. Karena status yang kita tulis di timeline itu sama seperti kita sedang bicara menggunakan echo alias pengeras suara. Jadi kita berlomba-lomba dengan penulis status lainnya untuk siapa yang paling keras bersuara. Miriplah seperti di pasar yang riuh dan masing-masing berlomba menggunakan echo.
Status yang ingin kita tulis di timeline, kita tujukan untuk menyebarkan sesuatu. Kebahagiaan, kesedihan bahkan kesebalan. Tapi status beda dengan buku harian. Satu dua orang pasti akan ikut membacanya. Satu dua orang akan ada yang suka atau tidak suka. Satu dua akan ada yang ikut menyebarkannya.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Jempol kita sudah mulai berfungsi sebagai pengganti mulut.
Sungguh alangkah sia-sia jika kita menjaga mulut, tapi ternyata tidak bisa menjaga jempol.
Kenapa kita tidak menulis yang baik-baik saja, agar orang lain juga ikut menjadi baik?

Yang Lebih Kuat dari Sinyal HP

Zaman yang semakin canggih sebenarnya membuat kita tak lagi canggih mengolah rasa. Banyak persoalan datang justru karena kecanggihan yang menutupi rasa.
Kalau zaman sekolah dulu, saya hanya perlu memikirkan satu orang teman yang ingin saya temui. Saya pikirkan. Dan ternyata gayung bersambut. Teman itu kebetulan memikirkan saya. Dan kami dipertemukan di satu tempat, dalam keadaan sama-sama tidak punya rencana khusus ke tempat itu.
Perasaan yang kuat membuat kami saling terikat dan mengikat.
Proses seperti itu sekarang sudah berganti dengan kemudahan dari telepon genggam. Perasaan masih ada. Tapi mengikis karena kita tidak menggunakannya. Sama seperti pisau yang akan tumpul jika tidak dipakai. Sama seperti pikiran yang justru tidak bisa berpikir ketika tidak pernah digunakan.

Anak-anak di rumah punya telepon genggam. Saya dan suami juga punya telepon genggam. Tapi buat saya telepon genggam bukan selamanya alat untuk membuat segalanya menjadi beres. Ada satu hal yang paling penting, sinyal bernama feeling yang harus diasah lebih tajam lagi.
Suami istri yang saling mencinta, akan punya feeling kuat. Sehingga tanpa telepon genggam pun jika ada satu kejadian di tempat berbeda, mereka bisa saling merasakan. Karena keterikatan rasa itu.
Misalnya, ketika saya ingin makan martabak, tapi tukang martabak yang saya ingin beli jauh jadi tidak mungkin saya ke sana.
Pulang dari suatu tempat pada malam harinya, suami membawa tentengan. “Enggak tahu kenapa, kok tadi pingin lewat sana dan beli martabak,” begitu katanya.
Martabak yang saya ingin, saya dapat tanpa perlu buang pulsa.

Pernah Bungsu ingin sekali es krim. HP saya tidak ada pulsanya. Jadi saya cuma bilang padanya. “Kamu merem aja. Lalu bilang berkali-kali, Ayah, aku mau es krim.”
Bungsu melakukannya. Hasilnya si Ayah pulang dengan membawa es krim. Bukan sekedar es krim tapi es krim itu adalah es krim dengan rasa yang diinginkan Bungsu.

Ada yang lebih kuat dari sinyal HP.
Kita semua memiliki sinyal itu. Hanya kurang mengasahnya. Kesibukan yang terbawa sampai ke rumah, membuat yang dekat menjadi menjauh. Masing-masing berkumpul tapi dengan hati yang terpisah. Itu yang membuat sinyal yang merupakan anugerah dari Yang Kuasa melemah dan akhirnya mati.
Istri tidak percaya lagi pada suami. Anak tidak percaya lagi pada orangtua. Masing-masing percaya pada teori yang mereka temukan dalam genggaman tangan mereka dengan kekuatan sinyal berdasarkan banyaknya pulsa yang terisi.
Kalau di rumah, saya memberi batasan kapan HP harus dimatikan. Dan pada saat anak-anak akan tidur, biasanya saya akan berpindah dari satu kamar anak ke kamar yang lain. Untuk sekedar berbagi cerita plus memasukkan motivasi ke mereka.

Zaman memang semakin canggih. Telepon genggam ada di mana-mana mudah didapatkan. Buat saya, kehilangan sinyal HP tidak masalah, asal jangan sampai kehilangan sinyal rasa. Sinyal rasa itu yang membuat saya paham apa yang pasangan dan anak-anak inginkan. Begitu juga sebaliknya.
Teman di sosial media bisa jadi sahabat bukan karena sinyal HP kita kuat atau modem pulsa kita penuh. Tapi karena sinyal perasaan kita bisa membedakan mana yang benar-benar bisa dijadikan sahabat dan klik untuk kita.

Semua punya sinyal di hati. Bisa diasah dan bisa dikurangi. Bisa dinaikkan tingkatnya, bisa juga dihabisi sama sekali. Caranya seperti apa?

1. Sesekali jangan bawa telepon genggam ketika berkumpul bersama keluarga. Nikmati waktu seutuhnya, seolah esok tidak ada lagi waktu untuk kita.
2. Jangan sering-sering buka HP juga di tempat umum. Tempat umum kenalan baru merupakan sarana efektif untuk mengasah perasaan kita. Kita jadi mudah tergerak untuk membantu orang lain. Dan mudah membantu itu yang akan membuat sinyal di hati kita mudah terasah dengan baik.
3. Bicara, bicara dan bicara. Suami harus bicara dengan istrinya langsung. Bukan lewat pesan dalam telepon genggam atau lewat emoticon. Tapi langsung. Sehingga pasangan mengerti gerak bibir, gerak tubuh, juga mimik muka ketika pasangannya bicara.
Dengan tetangga juga seperti itu. Dengan orang baru yang kita kenal juga seperti itu.
4. Pakai hati ketika bicara bukan emosi. Ketika menggunakan hati maka telinga kita akan terbuka lebar untuk mendengarkan.
5. Cintai orang di sekeliling kita sepenuh hati sehingga mereka melakukan hal yang sama pada kita. Dan cinta ini yang akan membuat sinyal di hati kita menjadi menyala.

Jika sinyal perasaan kita sudah kuat, percayalah. Akan ada masanya kita terkejut mendapati hal-hal yang hanya kita pikirkan saja menjadi kenyataan.

Mudik Bukan Sekedar Pulang Kampung

DSCF3625

“Sudah dapat tiketnya, Bu?” tanya anak-anak pada saya.
Antri tiket memang jadi kebiasaan saya dari tahun ke tahun. Untuk pulang mudik, itu prioritas yang paling utama setiap tahun. Maklum saya keluarga besar, dan momen lebaran adalah momen untuk menyatukan semuanya.
Tiket yang kami cari adalah tiket kereta api, bukan yang lain. Sebab saya, pasangan dan anak-anak adalah penikmat kereta api. Kami bisa menikmati perjalanan sambil menikmati pemandangan sawah atau sungai di sepanjang perjalanan.
“Sudah dapat, Bu? Nanti kalau kita kehabisan gimana?”
Memang ada budget yang harus dipersiapkan untuk pulang kampung. Setelah biaya daftar ulang Sulung, biaya masuk SMPIT Bungsu beres, maka itu artinya kami siap mengucurkan dana untuk membeli tiket kereta pulang pergi.
Tiket kereta pulang pergi sudah di tangan sebelum Ramadan dimulai. Itu artinya kami siap menjalani Ramadan tanpa ribet urusan tiket.

Tiket sudah di tangan.
Separuh Ramadan sudah kami lewati. Lalu saatnya pulang pun tiba.
Tas sudah dipersiapkan. Masing-masing harus membawa barang bawaannya sendiri. Masing-masing harus bertanggung jawab dengan barang bawannya. Anak-anak sudah abege, sudah harus bisa mengatur diri sendiri plus bertanggung jawab dengan barang bawaan mereka.

Di stasiun Gambir padat penumpang.
Musala penuh. Suami dan Sulung malah bisa ke masjid untuk ikut taraweh. Saya dan Bungsu salat di musala dan nongkrong di warung bakso yang harganya lumayan, satu porsi bakso di mangkuk kecil seharga RP33.000. Kami berempat, dengan dua anak abege yang minta tambah makanan dan minuman.
Belum lagi makanan yang harus dibawa untuk bekal di kereta, takut-takut makanan di restoran kereta habis dan kami jadi tidak punya makanan untuk sahur.
Begitulah memang irama mudik. Buat saya pribadi rezeki itu artinya sesuatu yang bisa kita nikmati. Jadi rezeki kami ada pada kebahagiaan anak-anak, masih ada tabungan hingga bisa membeli tiket mudik, masih bisa menikmati perjalanan dan prosesnya.

Iya prosesnya. Dari mulai proses PT KAI yang sekarang menerapkan sistem check in dan boarding pass. Peraturan baru yang membuat penumpang kereta tidak bisa datang terlambat seperti sebelumnya. Sepuluh menit sebelum kereta berangkat tidak boarding pass maka tiket dianggap hangus.
Kereta yang seharusnya berangkat jam 21.15 mundur jadi jam 23.00.

Ini Lebaran Kami

DSCF3639

Ada Ibu yang kami tuju setiap pulang kampung. Iya cuma Ibu semenjak Bapak meninggal tahun kemarin. Ada tarikan untuk terus mendatangi makam Bapak. Seolah ingin mengatakan kami sudah ada di Solo, untuk menemani Ibu, menjaga Ibu, sesuai janji kami pada Bapak.
Ada atmosfir yang berbeda. Iya, kami kembali menjadi anak. Anak dari seorang Ibu, yang butuh kena omelan juga butuh diberi hadiah berupa makanan yang dimasak Ibu. Meski kami juga harus sadar untuk membuat Ibu merasa bahagia dengan mengajaknya jalan-jalan ke berbagai tempat yang selama ini tidak bisa Ibu nikmati.
Ibu bahagia.
Paling tidak melihat perjuangannya sebagai istri seorang PNS membuat anak-anak tumbuh kembang, punya profesi berbeda dan mampu hidup tidak kekurangan alias tidak berada di dalam lingkaran kemiskinan.

Ada rendang yang Ibu buat yang membuat anak cucu menantu ketagihan.
Rendangnya biasa, daging sapi biasa. Dimasak dengan bumbu biasa plus cinta kasih Ibu tentu saja.
Tapi ada bumbu tambahan yang Ibu buat. Ibu akan menyangrai kelapa sampai kecoklatan. Lalu kelapa yang sudah disangrai itu harus diulek sampai ke luar minyaknya dan berubah warna menjadi hitam. Setelah itu dicampur dengan daging dan bumbu rendang yang sudah dimasak.

Inilah kami.
Tujuh anak dengan tujuh pasangan dan masing-masing membawa dua anak. Pulang untuk Ibu. Kami pulang membawa kesadaran bahwa kami punya tempat pulang lain lagi nanti, yang harus kami persiapkan sejak sekarang.
Kami harus sama-sama menguatkan keyakinan bahwa hal terindah untuk kami semua adalah, ketika kami bisa sama-sama bertemu kembali di tempat yang sudah Allah janjikan kelak setelah kematian.

Lebaran