Sedekah yang Tak Biasa

kue-aku-4

Sedekah dalam bentuk apa?
Ada pintu surga yang Allah janjikan untuk orang yang rajin bersedekah.
Sedekah itu artinya mau mengeluarkan apa yang dimilikinya untuk orang lain.
Banyak yang mengartikan sedekah harus dengan harta. Banyak yang berhitung bahwa sedekah yang dikeluarkannya, nanti akan hadir kembali dalam tempo cepat dalam harta yang berlipat ganda.

Sedekah banyak macamnya. Allah akan lipatgandakan pahalanya untuk pemberi sedekah. Jika tidak diberi langsung di dunia, maka akan ditunda untuk diberi pada hari akhir kelak sebagai pemberat timbangan amal kebajikan.
Memberi dengan mengharap langsung imbalan, itu artinya pamrih dengan Allah. Ruang ikhlas kita jadi terganti dengan yang lain.

Ada senyum yang bisa kita berikan yang berarti sedekah. Bibir yang ditarik untuk tersenyum dan menyapa orang lain, selain membuat jiwa kita merasa lebih bahagia, orang lain pun akan terkena imbasnya juga.
Pohon-pohon yang bermanfaat bisa kita taruh di luar pagar halaman kita. Di pot atau di tanah yang kecil. Misalnya pohon pandan. Pada bulan Ramadhan kita akan panen pahala, karena banyak ibu-ibu yang membutuhkannya.
Ilmu yang kita punya seperti ilmu memasak, bisa kita bagi juga.
Semua yang kita beri akan kembali kepada kita. Berkah kebaikan akan melimpah untuk kita.

Sedekah Roti juga Bisa

kue-aku-5

Iya, sedekah bisa apa saja.
Kalau banyak yang menyedekahkan nasi bungkus pada setiap Jumat, saya merasa tidak mampu melakukannya. Maka saya memilih melakukan hal lain.
Hal lain itu dilakukan sambil mengukur kemampuan. Kemampuan tenaga sendiri tentunya.

Saya mulai bisa membuat roti.
Anak-anak dan suami suka. Tetangga yang diberi suka. Tukang warung yang saya beri bilang enak. Jauh lebih enak dari roti yang dijual dua ribuan di warungnya.
Itu yang mulai saya bisa.
Menjualnya? Menitipkan ke warung? Mungkin saya juga bisa.
Tapi saya mau yang lain. Saya ingin bersedekah juga. Saya ingin seperti yang lain juga.

Iya, sedekah roti.
Teman-teman di pengajian setuju dengan usul itu. Dan mulai menambah iuran bulanan, agar bisa menambah sedekah roti seperti rencana.
Saya yang akan berkeliling, dan mereka fokus bantu tenaga membuatnya.

Lalu apa yang ingin saya dapatkan dari sedekah roti ini?
Saya ingin pahala mengalir untuk yang mengajari saya. Saya juga ingin jari jemari saya ketika dimintai pertanggungjawaban kelak, bisa memberi jawaban yang akan memperberat amal kebajikan saya.

Sedekah roti, sedekah pecel, sedekah pohon, sedekah mukena bersih.
Ah sesungguhnya ada banyak ruang untuk itu.
Kalau kita mau berjuang, maka semua pintu kebajikan akan terbuka luas untuk kita. Sungguh.

Menjadi Keren di Usia 40

kpci-42

Life begin at forty.
Agak takut bahkan anti saya dengan orang yang bilang bahwa usia 40 adalah usia keren. Bagaimana bisa keren, kalau dalam kacamata saya dulu, usia itu adalah usia orang yang sudah lanjut usia.

“Berapa umur Ibu?” anak-anak suka bertanya.
Ketika saya bilang usia saya 25 mereka akan tertawa. Tapi ketika mereka mendengar usia ibunya yang sebenarnya, mereka langsung terbelalak dan bilang. “Ya ampun, Ibu sudah tua ternyata.”

Well,
usia 40 beberapa tahun yang lalu saya tapaki.
Terkena stigma tua juga. Merasa mudah masuk angin dan sebentar-sebentar terkena kerokan juga. Terkena ketakutan juga, bahwa akan banyak penyakit datang.
Tapi untung semua itu bisa saya alihkan dengan banyak hal, termasuk terus belajar dan menambah ilmu.

Kalau dalam sirah Nabawiah, Rasul Muhammad s.a.w menerima wahyu Allah di gua Hira pada usia 40.
Ada doa yang dianjurkan untuk muslim di usia 40. Saya menyebutkan doa syukur nikmat QS Al Ahqof ayat 15.
Saya tempel doa itu di tempat shalat.

Usia 40 adalah kenyataan. Setiap tahun masih diberi tambahan umur, itu artinya adalah kesempatan emas untuk tidak menyia-nyiakannya. Apalagi menyia-nyiakan dengan hanya fokus pada penampilan lahir saja, tidak menambah kualitas keimanan yang kita.
Pada usia 40, saya merubah apa yang harus saya ubah.
Saya selalu berpikir bahwa di mata orang yang usia 70, saya masihlah muda. Karena itu saya harus manfaatkan waktu sebanyak-banyaknya. Hingga kelak ketika Allah takdirkan usia saya mencapai 70 tahun, saya tidak menyesal melewati rangkaian usia itu. Waktu saya bermanfaat.

“Ibu kenapa masih terus belajar?” begitu anak-anak saya tanya.
“Mau sekolah lagi?” itu pertanyaan ibu-ibu lain yang selalu keheranan ketika saya sebutkan salah satu mimpi saya.
Masih ingin sekolah, masih ingin mengajar di berbagai tempat terpencil, masih ingin bermanfaat, masih ingin menghafal Al Quran sampai 30 juz.

Pikirkan bahwa usia 40 adalah usia keren. Anak-anak sudah bertambah besar. Jiwa kita semakin matang. Kita punya banyak waktu untuk diri sendiri dan melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk orang lain.
Tentu saja rangkaian hidup bahagia itu, tidak bisa kita dapatkan langsung ketika kita masuk usia 40. Kita harus mulainya jauh-jauh hari. Mengurangi sifat negatif kita sedikit demi sedikit. Menambah sesuatu yang positif sedikit demi sedikit dan terus-menerus.

Pikirkan bahwa ketika anak-anak sudah besar, banyak hobi-hobi yang tadinya kita pendam, bisa kita mulai munculkan lagi.
Saya dan tetangga yang lain justru lagi belajar menambah ilmu memasak.
Lagi cari tempat kursus jahit juga.
Menambah kegiatan dengan rencana-rencana positif lainnya.
Di usia sebelumnya tidak terpikir hal itu, karena sudah habis waktu untuk mengurus anak-anak.

Di usia ini, saya juga tidak terpikat dengan namanya iklan kecantikan. Dari dulu juga saya tidak terpikat, sih. Karena saya juga tidak suka masuk salon.
Tapi iklan yang berseliweran di televisi tentang produk kecantikan, yang menyebutkan bahwa putih itu cantik, tidak mempan untuk saya. Bahkan selalu saya bilang pada anak bungsu saya yang perempuan. “Ibu baru percaya saya produk seperti itu, kalau berhasil membuat orang dari Papua menjadi putih wajahnya seperti orang dari Korea.”
Saya tidak tergiur lihat wajah kemerahan karena kulitnya diamplas produk terus. Saya lebih suka melihat wajah-wajah yang tenang karena basuhan wudlu yang tiada putus.

Kulit di usia 40 bisa jadi berkurang kekeringannya. Dan itu bisa disiasati dengan rajin mengonsumsi buah dan sayuran di usia muda, juga banyak minum air putih.
Ingin bisa tetap gesit di usia 40? Lakukan olah raga rutin jauh sebelum masuk usia 40. Saya masih jalan kaki ke mana-mana atau bersepeda, di saat yang lain yang jauh lebih muda memilih motor.
Saya masih olahraga di rumah setengah sampai satu jam setiap hari. Masih berenang juga.
Dan itu tabungan yang memang harus dilakukan jauh sebelum masuk usia 40.

Yang paling penting adalah ikhlas.
Menjadi tua adalah takdir yang harus dijalani. Karena kita tidak mungkin muda terus.
Artinya akan berkurang dan diambil nikmat usia sedikit demi sedikit. Bersyukur. Nikmat kulit lembab dikurangi, itu artinya kita pikirkan isi kepala, isi hati.
Menjadi baiklah pada semua orang, paling tidak isi pikiran dengan pikiran positif. Dan itu akan terpancar jadi aura wajah kita.
Karena itu seringkan kita melihat seseorang, rasanya pancaran wajahnya membuat kita tenang. Sedang di saat yang lain, kita bisa melihat orang yang meskipun cantik, memandang wajahnya pun terasa tidak meneduhkan.

“Ibu, ayo jujur. Umur Ibu berapa, sih?” tanya si Bungsu.
“Kasih tahu, gak, ya?”
“Iiih, Ibu…”

Ajarilah Anak Tetanggamu Membaca dan Menulis

tonggo-6

Mengajarkan anak membaca dan menulis?
Itu kebiasaan yang sudah saya rencanakan, bahkan sejak saya belum menikah. Kelak jika saya punya anak, saya akan ajarkan kebiasaan membaca dan menulis.
Karena apa? Karena kegiatan membaca akan membuat mereka memiliki wawasan yang luas. Sedang kegiatan menulis akan membuat mereka menjadi manusia yang bisa mengolah beban yang ada di hati mereka. Mereka bisa menuntaskan semuanya jadi sebuah tulisan.

Anak-anak saya, kalau senang ke toko buku, itu wajar namanya. Kalau mereka bisa menulis itu biasa namanya. Karena dua kemampuan itu yang selalu ajarkan setiap harinya. Bahkan di saat mereka sibuk pun, saya minta mereka luangkan waktu seminggu sekali untuk membaca dan menulis.

Tapi kalau anak tetangga?
Jujur, saya kok merasa tidak respek ketika ada membanggakan anak-anaknya berhasil, tetapi keberhasilan itu tidak memberi dampak yang signifikan untuk tetangga.
Saya kok juga tidak terlalu respek pada orang yang merasa sukses, tapi tetangganya justru berada jauh dari kata sukses.

Tetangga itu saudara paling dekat.
Susah kita, senang kita, akan terlihat oleh tetangga kiri kanan kita. Musibah kita misalnya diuji sakit atau bencana, mungkin akan membuat kerabat kita membantu. Tapi orang yang pertama kali tahu dan mengulurkan tangan adalah tetangga. Jika kita biasa berbuat baik dengan tetangga, maka timbal balik pun akan datang pada kita. Jika kita biasa menutup aib mereka, maka ketika kita memiliki aib pun, mereka akan melakukan hal yang sama.

Ajarkan Apa yang Mampu Diajarkan

“Kejarlah cita-citamu setinggi langit, tapi jangan lupa pasir di tanah.”

Itu kata mutiara yang dulu ditulis oleh teman saya dalam sebuah buku. Kalimat entah dari mana, tapi membuat saya berpikir panjang.
Pasir di tanah, tempat berpijak, sesuatu yang ada di dekat kita. Tidak boleh dilupakan.
Semua mengejar banyak cita-cita. Keliling dunia. Menjadi sukses. Lalu berbuat untuk orang banyak. Ukuran mereka tinggi sekali, sampai-sampai lingkungan sekitar tidak dianggap alias tidak ada.
Saya kenal beberapa orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain. mencari lingkungan yang dianggapnya pas sesuai selera.
Sempat berpikir, kenapa ia tidak berjuang merubah lingkungan tempat tinggalnya.

Iya. Anggap saja lingkungan kita adalah amanah untuk kita. Sama seperti amanah anak.
Jika buruk bantu memperbaiki. Jangan lepaskan begitu saja.
Saya pernah merasakan tinggal di rumah susun yang tidak kenal penghuni di depan rumahnya, padahal hanya beda dua langkah saja. Yang segan untuk menegur karena masing-masing seolah memasang tanda di kening mereka, jangan tanya macam-macam. Saya pernah tinggal mengontrak di Jakarta yang sebelahnya orang Nigeria beristri perempuan Bandung. Ketika si istri mengobrol lama dengan saya, malamnya terjadi pertengkaran sengit. Suami seolah tidak suka si istri bicara banyak pada tetangga. Entah apa alasannya.

Saya pernah tinggal di kontrakkan yang lain dalam satu rumah dengan dua lantai. Saya menempati lantai pertama, sedang lantai kedua dihuni oleh beberapa penghuni yang tinggal di kamar-kamar kecil. Profesi mereka dari pedagang nasi goreng, sampai supir. Bahkan akhirnya saya tahu kalau ada yang berdagang tubuh alias PSK dan copet, lelaki tampan yang selalu siap bekerja di saat ada tabligh akbar atau keramaian lainnya.
Dulu sebagai pengontrak tidak kuat rasanya tangan mengubah.

Setelah memiliki anak, yang saya tahu anak saya tidak boleh pintar sendiri.
Yang saya tahu, buku saya tidak boleh saya lahap sendiri.
Yang saya tahu, jika anak-anak saya tahu ada teman lain yang suka membaca dan bisa menulis, maka mereka tidak merasa asing.
Sejak itu saya mulai bergerilya dari satu sekolah negeri ke sekolah negeri lainnya, untuk mengajarkan menulis.

Lingkungan yang baik tidak tercipta dengan sendirinya.
Kita yang sadar harusnya bergerak untuk menjalankan amanah itu.
Saya suka membaca, banyak buku di rumah, maka saya bertanggung jawab untuk itu pada lingkungan saya.
Yang bisa memasak, bertanggung jawab untuk hal itu.
Yang bisa membuat kerajinan juga sama.
Langkah kecil itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan tentu saja, akan membuat kita tersenyum karenanya.

Mengajari Anak Berdoa tanpa Perantara

bersama-ibu

“Ibu tidak bisa apa-apa. Kalian yang harus berjuang dengan berdoa.” Kalimat itu biasa saya katakan pada anak-anak, jika mereka berharap total pada saya.
Tidak.
Orangtua bukanlah makhluk sempurna. Bisa diandalkan tapi tidak bisa memenuhi semuanya. Pada saat itu anak harus paham, bahwa orangtua tetaplah manusia biasa. Yang harus mereka andalkan adalah yang menciptakan mereka.

“Berdoa minta apa, Bu?”
Berdoa minta apa saja, itu yang selalu saya katakan pada anak-anak. Iya, minta apa saja dengan penuh keyakinan, bahwa permintaan akan dikabulkan. Karena Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Karena ada waktu di mana doa mudah diijabah. Karena doa yang diucapkan pada hati yang dipenuhi harap dan cinta, akan mudah terkabul.
Itulah kenapa doa Nabi Muhammad untuk Umar selama enam tahun, dikabulkan. Umar yang dianggap tidak mungkin berpindah keyakinan, berubah menjadi panglima yang setia mendampingi.
Itulah kenapa doa orangtua pada anaknya mudah untuk dikabulkan, karena orangtua punya banyak cinta untuk anaknya. Begitupun sebaliknya.

Ada waktu doa mudah untuk dikabulkan.
Pada saat sujud terakhir, antara hujan dan iqomah, juga pada saat hujan turun.
Ada cara agar doa dikabulkan. Seperti nasehat Rasul pada pamannya Sa’ad yang doanya selalu Allah kabulkan. Jaga apa yang kita makan. Haruslah makanan kita adalah makanan yang dihasilkan dengan cara yang baik, dan tidak menzalimi orang lain.

Jadi ingat zaman dulu, ketika masa abege. Saya pernah berdoa. Berdoa minta apa saja.
Minta agar Bapak tidak marah jika saya pulang dengan ulangan yang buruk. Doa agar guru ngaji saya terlambat, biar saya bisa main dulu, dan doa agar seseorang yang saya taksir juga punya perasaan yang sama.

Ada banyak doa yang dikabulkan dan ada banyak yang juga tidak.
Doa yang selalu saya ucapkan berulang-ulang dengan perasaan terzalimi terasa sampai sekarang.
Dulu tubuh saya gemuk, dan entah kenapa kok selalu ada mulut iseng yang mengatai macam-macam, padahal saya tidak melakukan hal yang saja. Maka saya berdoa. “Ya Allah, tolong buat saya kurus dan tidak pernah gendut lagi.”
Alhasil sampai sekarang, tubuh saya sulit untuk menjadi gemuk. Banyak makan sedikit, pasti perut saya akan protes dan saya akan mudah bab berkali-kali.

Tidak Perlu Perantara

Ada orang yang disucikan yang selalu dimintai doa. Ada ziarah kubur, yang harusnya membuat kita sadar bahwa hidup di dunia tidak selamanya, tapi malah dipakai untuk meminta doa dan keberkahan pada yang sudah meninggal. Ada dukun-dukun yang dimintai doa yang datang padanya.

Saya hanya belajar dari yang Bapak ajarkan.
Berdoa hanya pada Allah, tidak perlu pakai perantara. Bersihkan dulu sebersih-bersihnya.
Maka saya berdoa apa saja hingga kini.
Saya berdoa agar utang-utang kami lunas tidak menyisakan jejak, ketika suami ditipu dan usaha bangkrut menyisakan utang dan sulit makan sehari-hari.
Saya berdoa minta uang pada Allah. Tentunya saya terus bekerja. Ternyata rezeki mengalir dari mana saja. Tawaran jadi editor bahkan kemenangan di berbagai lomba menulis, membuat hutang itu lunas tak tersisa.

“Ibu…, aku mau bangun tahajud dan berdoa.”
Saya mengangguk. “Memang harus kamu yang berdoa. Sebab doa anak yang sholeh akan tembus ke langit.”
Maka di rumah, anak-anak sudah terbiasa.
Ketika ingin nilai ulangan bagus, selain belajar mereka juga bangun tengah malam untuk tahajud. Bahkan ditambah dengan puasa sunnah.
Ketika mendapat masalah, saya lihat mereka berlama-lama di atas sajadahnya.
“Jangan pernah mendoakan orang lain dengan doa yang buruk. Doakan yang terbaik untuk mereka.”
Anak-anak paham.

Saya sendiri bahagia.
Doa mereka tembus ke langit, diterima atau tidak, dikabulkan sekarang atau nanti, adalah proses untuk mereka belajar berharap dan bergantung hanya pada Allah.
Kelak mereka akan berada pada satu zaman yang sulit, yang harus melangkah sendiri karena sebuah keyakinan, tapi mereka tetap tangguh. Karena mereka yakin, ada Allah yang selalu bersama mereka.

Agar Semua Terasa Cukup

“Ya Allah, kenapa baru tengah bulan begini uang belanja sudah habis? Padahal tidak beli macam-macam. Tidak kredit ini itu,” keluh Bunda Tito pada ibu lainnya ketika mereka sedang menghabiskan sore menjelang maghrib di luar pagar rumah mereka.
“Sama, saya juga begitu. Makanya besok mau cari hutangan deh biar bisa makan.”

Percakapan itu percakapan biasakan? Percakapan yang biasa kita dengar bila berada pada suatu lingkungan yang memang seragam. Biasa terjadi di perumahan sederhana di mana para Bunda banyak yang menjadi ibu rumah tangga sejati dan sang suami berangkat pagi baru pulang malam hari.

Ya Allah cukupkan aku dengan yang halal, jauhkan dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan Rahmatmu sehingga tidak meminta-minta kepada selain Engkau.

Percayakan kalau berapapun uang yang ada di tangan tidak akan cukup bila kita tidak belajar untuk mencukupkan? Tidak mau berusaha menekan apa yang harusnya ditekan?
Harga-harga kebutuhan pokok melonjak itu terjadi dari tahun ke tahun. Yang mengeluh soal hal ini bukan datang dari kalangan tidak berpunya saja, tapi dari kalangan yang berpunya sekalipun.

Di sekolah mahal dan sekolah negri sekalipun sama ributnya mengenai biaya ini dan itu . Di tukang sayur tradisional dan supermarket para Bunda sama telitinya untuk memilih mana barang yang efiien untuk kantong mereka.
Lalu apa yang membedakan?
Rasa syukur tentu saja. Itu hal paling penting yang akan membuat perbedaan besar. Dari rasa syukur itu akan ada keahlian lain yang mengimbanginya. Keahlian untuk mengedepankan kebutuhan utama dan menekan kebutuhan yang tidak cukup penting.

Kita memiliki uang seratus ribu tentu tidak akan cukup bila berpikir akan makan mie di warung mie ayam. Setelah itu membelikan anak-anak jajan di mini market. Kita juga akan merasa sangat tidak beruntung karena uang itu tidak cukup untuk membeli hal-hal lain yang masih diangankan. Sprei baru, lipstick baru atau kerudung baru.
Coba kalau dari uang yang seratus ribu itu kita berpikir untuk menyisihkan beberapa bagian untuk bersedekah. Setelah itu periksa beras di rumah. Beli satu atau dua liter. Telur, minyak, susu anak, deterjen, sabun. Insya Allah akan masih ada sisa yang bisa kita berikan pada anak-anak untuk jajan di warung terdekat. Masing-masing anak seribu saja. Mereka pasti akan senang karena masih diberi uang jajan sama seperti teman yang lain. Bila perut mereka kenyang di rumah tentu mereka tidak akan merengek ini dan itu lagi.

Kebanyakan dari kita merasa tidak cukup bukan karena tidak cukup yang sebenarnya. Tapi karena memaksakan kebutuhan yang seharusnya tidak perlu. Dan kurangnya rasa bersyukur.

Kita sering merasa kurang harga dirinya bila tidak memasukkan anak ke less ini dan itu karena takut dianggap sebagai Ibu yang tidak tahu persaingan ketat di masa depan. Padahal dengan meningkatkan kualitas kita sebagai ibundanya di ruma,h anak-anak pasti akan lebih nyaman dan mudah mengerti ketimbang belajar pada orang lain.
Allah akan memberi dari arah yang tidak disangka-sangka pada orang yang pandai bersyukur dan bersabar.

Bila merasa pemberian pasangan tidak mencukupi coba hitung dengan lebih jelas lagi. Kurangi standar kita. Tagihan listrik bisa dikurangi dengan lebih efisein menggunakan peralatan rumah tangga. Bila siang jangan nyalakan lampu. Matahari mampu menerangi ruangan dengan sempurna bila jendela kaca tidak tertutup kain hordeng. Televisi jangan dijadikan seperti radio. Ketika tidak ditonton ya matikan. Jangan sambil tidurpun televisi masih menyala dengan alasan tidak mendengar bunyi-bunyi. Berzikir pasti akan lebih menyamankan ketimbang mendengar acara televisi.
Anak-anak beri makanan yang cukup. Sarapan sebelum berangkat sekolah. Jangan ke luar rumah dalam keadaan lapar sehingga ia tergiur makanan temannya atau tergiur tukang jajanan yang justru akan membuat mereka sakit perut nantinya.

Kita sebagai Ibu, harus banyak membaca dan menambah wawasan sehingga anak-anak menjadikan kita sebagai perpustakaan pertama.
Sedekah.
Apa yang kita miliki coba sedekahnya. Jadikan sebagai rutinitas harian. Kalau takut membuat tetangga yang kelihatan susah tersinggung dengan sedekah uang, ganti saja dengan sayur dan lauk pauk yang tentu akan mengenyangkan mereka dan membuat mereka bisa tertidur pulas tanpa menahan perih kelaparan.
Kalau punya tanah kosong di depan rumah, tanam pohon cabe atau tomat dan biarkan siapa yang membutuhkan mengambilnya tanpa perlu minta ijin dulu pada kita.

Setelah itu serahkan pada yang Kuasa. Beliau akan memberikan keajaiban yang tak terduga-duga. Apa yang kita rasakan dan apa yang anak-anak inginkan akan datang dengan sendirinya ke rumah, tanpa kita perlu memintanya pada orang lain.
“Bu ayam ini dari mana? Tadi kan aku minta makan ayam tapi uang Ibu tidak cukup. Kok sekarang bisa beli ayam?”
Kalau sudah bersyukur, yakinlah tidak ada yang tidak cukup. Semuanya jadi begitu berlebihan.
Apa yang kita inginkan akan menembus langit dan Allah bisikkan ke telinga orang-orang tertentu yang akan datang ke rumah dan memberikan sesuatu yang kita dan anak-anak inginkan itu.

Percayalah.

Bersahabat dengan Allah

nur-lagi-BW-.jpg

Sahabat?
Orang yang tahu susah senangnya kita. Orang yang dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari saudara.
Saya punya banyak teman baik. Teman-teman baik yang bisa dihitung dengan jari. Karena biasanya teman-teman baik itu, disortir dengan hati. Otomatis tersortir. Tidak mudah untuk saya menempatkan seseorang menjadi teman baik.
Tapi sahabat?

Adik saya punya banyak sahabat.
Dari kecil sampai jadi ibu-ibu, sahabatnya terus bertambah. Dia tipikal orang yang terbuka. Dan mudah bergaul dengan semuanya.
Saya tidak. Saya hati-hati dalam bersikap bahkan ketika ingin bicara juga mengambil sebuah tindakan.
Hati-hati.
Mungkin karena saya bisa dibilang anak tengah, dengan tiga kakak dan empat orang adik. Jadi kehati-hatian haruslah jadi modal utama, agar yang di atas tidak terluka dan yang di bawah tidak terzalimi.

Sahabat yang saya punya?
Oh tidak.
Saya terbentuk sebagai seorang yang harus bisa menyelesaikan masalah sendiri. Bapak dan Ibu sudah terlalu sibuk dengan urusan mngurus rumah dan mencari nafkah.
Kakak-kakak sudah sibuk dengan urusan mengejar prestasi, karena dengan cara itu beban Bapak sebagai kepala keluarga dengan 8 anak menjadi lebih ringan.
Saya senang berteman dengan siapa saja.
Saya suka mendengar orang curhat masalahnya ke saya.
Sejak dulu, teman-teman yang dekat adalah teman-teman yang suka curhat dengan saya. Curhat masalah apa saja. Dan saya menikmatinya sebagai bagian dari rasa beryukur, karena ada orang yang lebih rumit hidupnya ketimbang saya.

Saya punya sahabat. Sebuah buku harian.
Setiap masalah saya tulis di sana. Dulu ingin juga seperti orang lain, punya sahabat. Tapi setiap kali ada masalah dan ingin mencari orang untuk mendengar, mereka lebih dahulu datang untuk bercerita dan meminta tanggapan atas masalahnya.
Terus-menerus.
Hingga saya terbentuk untuk memendam masalah sendiri, dan menjadikannya tulisan.

Memilih Allah Sebagai Sahabat

Buku harian tempat saya curhat, hanya bisa menampung curhat saya.
Saya butuh solusi lain.
Pada suatu waktu, suatu hari, suatu saat, emosi Bapak sedang tinggi. Mungkin karena 8 anaknya butuh biaya pendidikan. Beberapa adik minta meja belajar.
Ibu yang baik hati memesan meja belajar dari sales. Sales itu anak tetangga yang suka curhat dengan Ibu. Sebuah produk yang Ibu tunjuk ternyata datang dalam bentuk dan warna berbeda.

Bapak perfeksionis dan selalu memegang kepercayaan.
Saya takut Bapak marah, dan Ibu jadi stress. Bapak memang tidak pernah memukul. Tapi saya takut kalau mendengar suara orang marah. Rasanya seperti halilintar yang merobek-robek hati.
Yang saya lakukan pada saat itu, lari ke masjid. Lalu berdoa. Minta agar Allah tidak membuat Bapak marah, dan Ibu tidak mengecewakan sales yang baru belajar kerja.
Alhamdulillah sampai rumah, saya lihat lemari itu sudah terpasang di kamar adik saya, dan Bapak Ibu sedang tertawa di ruang tamu.

Itu momen yang terus saya ingat.

Ada satu lagi.
Ketika adik saya menikah lebih dulu dari saya. sebnarnya tidak masalah, karena saya bukan penganut paham bahwa kakak harus lebih dahulu. Yang jadi masalah adalah ketika ada upacara atas nama tradisi, calon mempelai harus memberi hadiah kepada kakak yang dilangkahi. Lalu acara itu jadi bagian acara sentral di pernikahan.
Rasanya seperti semua mata melihat untuk mengasihani.
Sebenarnya Bapak tidak setuju dengan acara seperti itu, menimbang perasaan saya. Tapi para kerabat memaksa dengan alasan demi kebaikan. Maka jadilah saya tumbalnya.
Apa yang terjadi setelah itu?
Mirip dengan keadaan Superman di buku yang pernah saya baca. Pada saat itu Superman sedang sakit dan harus berhadapan dengan Lex LUxtor musuhnya yang botak. Dalam keadaan tidak berdaya itu, tiba-tiba ada kawat dari langit yang menahan lengah Superman, sehingga dia tetap bisa berdiri tegak.
Saya juga seperti itu.
Tiba-tiba di tengah acara, di mana semua mata seperti memandang saya. Sepasang kawat seperti menyangga saya diletakkan diketiak saya, dan ditarik dari atas. Saya bisa kuat dan tertawa-tawa di depan banyak orang. Semua rasa hilang.

Banyak sekali momen yang memutuskan saya hanya ingin curhat dengan Allah.
Untuk masalah yang sedang terjadi, saya lebih suka menggelar sajadah, lalu membuka Al Quran di sembarang halaman. Biasanya akan menemukan satu ayat untuk jalan keluar masalah saya.
Untuk masalah yang melibatkan perasaan orang lain, saya juga tidak mau melibatkan suami. Suami juga paham, ketika ada sesuatu yang membuat saya butuh menangis, saya lebih suka menggelar sajadah ketimbang mengeluarkan banyak kata-kata.

Bahkan untuk ke suatu tempat yang belum saya ketahui sebelumnya, yang saya lakukan adalah minta agar Allah pertemukan dengan orang baik, dan tidak kesasar jalan.

Bersahabat dengan Allah saja.
Maha Sempurna.
Dengan begitu kita terjaga. Dengan begitu, kita punya filter untuk berteman dengan orang lain, dan tidak mudah terpengaruh.
Bersahabat dengan Allah membuat cita-cita saya terwujud pelan tapi pasti, tanpa saya ngotot untuk meraihnya.

Tidak Semua Cita-Cita Harus Tercapai

Tidak semua cita-cita harus tercapai.
Saya banyak punya cita-cita. Perlahan tapi pasti, satu-persatu tercapai. Hanya masih ada yang belum tercapai. Kadang-kadang saya merasa harus mencapainya biar hidup saya terasa sempurna. Kadang-kadang saya menahannya.

Cita-cita itu bukan cita-cita yang tinggi.
Ke bulan? Tidak. Saya tipikal orang yang selalu berpegang pada kenyataan. Hal-hal yang di luar jangkauan tidak akan masuk dalam list cita-cita saya.

Ada cita-cita lain.
Sesuatu yang biasa dilakukan orang lain, dan mereka baik-baik saja setelah melakukannya. Sesuatu yang tidak pernah bisa saya lakukan, karena otak saya akan berpikir ribuan kali, takut perasaan orang lain terluka.

Apa cita-cita itu?
Ah, saya ingin sekali bisa marah. Saya ingin seperti teman saya. Ketika marah dia banting pintu atau kabur. Atau teman yang lain teriak-teriak setelah itu puas. Atau teman yang lain lagi, sampai banting-bantin piring. Atau yang lain lagi, yang teriak-teriak dan menimpuk pasangannya dengan batu bata.
Ketika saya tanya, mereka bilang mereka lega setelah melakukan itu. Karena mereka tidak mau menahan perasaan dan membuat mereka mati muda.

Ah, saya ingin seperti itu.
Saya selalu takut dengan suara keras. Dulu di rumah ketika Bapak marah, semua takut pada beliau. Bapak membuat saya takut melakukan kesalahan. Ketika Bapak marah pada yang lain, saya akan menutup telinga dengan kedua tangan saya keras-keras, agar tidak mendengar suara Bapak.
Bapak tidak pernah memukul saya. Bapak tahu perasaan saya. Maka jika yang lain kena amarah, saya tidak kena marah. Karena melihat Bapak melotot saja, saya sudah ngeri.
Efeknya, saya takut mendengar suara menggelegar. Setua ini saya masih takut dengan suara petir. Takut menyambar saya.
Saya juga takut mendengar pintu diketuk keras-keras.
Jika melihat film ada penjahatnya, saya pasti akan mematikan film itu.
Atau jika membaca buku ada tokoh jahatnya, maka saya pasti akan berhenti membacanya.

Saya ingin sekali merasakan marah. Membuat wajah orang menjadi pucat pasi. Tanpa perlu berpikir bagaimana perasaan mereka.
Sedangkan selama ini, ketika ingin marah, saya selalu menimbang-nimbang perasaan orang lain.
Itulah kenapa benteng pertahanan saya langsung terpasang ketika saya bertemu seorang yang keras. Saya takut duluan. Jangankan menegur berinteraksi pun saya malas.
Anak-anak di rumah suka bertanya. “Memangnya Ibu bisa marah seperti itu?”

Ah, cita-cita itu masih saya pegang.
Entah saya sedang berpikir, akankah saya berjuang untuk meraih cita-cita tersebut?

Konferensi Penulis Cilik 2016, Ayo Berjuang Anak Juara

Akhirnya final Apresiasi Sastra untuk Siswa SD digelar juga.
Begitu pengumuman para peserta terpilih muncul, lega rasanya para juri termasuk saya. Iya, para juri yang sudah menyaring 1700 naskah peserta dari seluruh Indonesia pada bulan September 2016.

Kami para juri, dikumpulkan di hotel Harris Ciembulit, Bandung selama empat hari.
Tugas dalam empat hari itu apa saja? Bersenang-senang, kah?
Hiks, tidak ada acara bersenang-senang.
Semua acara padat. Hari-hari kami dipenuhi dengan lembaran naskah anak-anak seluruh Indonesia, demi mendapatkan karya terbaik. Hiburan terindah para juri adalah foto-foto. Itu pun bisa terjadi ketika kami berjalan dari kamar ke ruang penjurian. Atau dari kamar ke restoran. Maka rasanya hidup terasa lebih ringan.
Terus naskah yang masuk dibaca semua?
Iya, kami baca. Bandingkan untuk mengambil yang terbaik.

kpci-1

kpci-20

kpci-26

kpci-24

Berita untuk acara final itu saya dapatkan di sela-sela revisi naskah Room to Read, dan mengurus promosi buku-buku yang terbit.
Jadwal padat merayap. Selasa sampai Jumat dalam beberapa minggu, karena urusan pekerjaan saya harus tidur di hotel. Itu artinya negoisasi dengan anak-anak dan suami. Kebetulan suami tidak ada agenda ke luar kota. Jadi saya bisa lebih leluasa untuk acara final Konferensi Penulis Cilik Indonesia.

Hari Pertama

kpci-final-14

kpci-final-16

kpci-final-13

kpci-final-12

kpci-final-15

Akan ada pembukaan di malam hari dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Saya berangkat jam setengah dua dari rumah. Janjian dengan teman sesama juri di stasiun Bogor. Dari sana kami naik grab ke lokasi di Royal Safari Garden.
Setiap juri dapat satu paviliun. Juri perempuan mendapat tempat di Panda 06 sedang juri laki-laki di Panda 07.
Di Panda 06 ada tiga kamar. Satu kamar di bawah single bed dan dua kamar di atas double bed.
Saya tiba pukul setengah enam sore. Sendiri. Belum ada yang datang.
Hujan di luar. Ada suara anak kucing mengeong-ngeong. Sampai berpikir, ini anak kucing siapa?
Tapi setiap kali dilihat, tidak ada anak kucing tersebut.
Setelah beberapa kali berada di kamar itu, tahulah saya darimana arah itu berasal. Ternyata itu suara angsa hitam yang kolamnya tepat di depan kamar kami.

Hujan turun semakin deras.
Untunglah tidak lama kemudian datanglah Rona Mentari. Siapa Rona Mentari? Ini anak muda yang keren. Dulu pernah jadi pemenang kedua lomba dai cilik dan finalis lomba dai muda.
Dia baru saja pulang dari Sabang, Aceh, untuk memenuhi undangan KPK mendongeng untuk para guru-guru di sana.
Anaknya masih muda memang. Tapi prestasinya luar biasa.
Kebetulan dia selalu satu kamar dengan saya.

kpci-29

kpci-final-10

Dua kali sekamar dengan Rona, membuat saya merasa jadi punya anak yang sudah dewasa. Sedikit demi sedikit paham karakternya, khas anak muda.
Saya dan Rona menghadiri acara pembukaan. Ikut foto-foto juga. Karena pada malam itu kami hanya pakai pakaian ketika kami datang, maka ketika berfoto dikira panitia kami bukan juri. Maklum, yang lainnya pakai batik resmi.

Malammnya satu-persatu juri datang.
Hujan turun terus semakin deras. Enggak berani mandi. Langsung tidur. Enggak bisa tidur. Biasanya kalau habis pergi jauh, saya memang harus langsung mandi dan keramas, baru bisa tidur. Tapi rasa dingin membuat saya malas. Akhirnya ya itulah, tidak bisa tidur sampai jam satu malam. Bangun setengah empat pagi, dan langsung mandi air hangat.

Hari Kedua

Saatnya lomba pun tiba.
Hayo, hayo para juri harus siap-siap. Ini saatnya menentukan tema yang akan dilombakan.
Dari semalam sudah kasak-kusuk para juri untuk menentukan sub tema lomba. Kenapa tidak dikasih jauh-jauh hari? Ohooo, ini demi menjaga keorisinalitas karya mereka. Maklumlah, banyak dari para orangtua dan guru, yang merasa wajib terus nempel ke anak, hingga anak tidak bebas imajinasinya.

kpci-final-4

kpci-final-lagi-4

kpci-final-3

Tema yang kami cari, kami berikan ke para peserta. Termasuk ketentuannya.
Ops, setelah tema disebutkan, maka mengacunglah kira-kira sepuluh anak, katanya minta ke kamar kecil.
Untung para juri sudah dibekali pengetahuan, bahwa banyak orangtua di luar yang berkeliaran, ingin memberi tahu anak-anak cerita apa yang harus dibuat dengan tema itu.
Tapi para juri karena biasa menulis cerita anak, juga mengusulkan pada panitia agar membuat tema yang ringan, yang langsung bisa diterjemahkan anak-anak. Dan panitia menerima.
Maka kami melemparkan tema, lalu jika ada yang tidak paham anak-anak bisa bertanya.

Saya juri untuk cerpen pemula bersama dengan Ali Muakhir pakarnya buku anak. Dan pak Willy dari aliansi jurnalis Indonesia yang juga dari Kompas.
Sedang satu ruangan dengan kami untuk kategori penulis, ada Dewi Inchen yang juga penulis buku anak, Annak Farida praktisi dari IIDN dan ada doktor yang merupakan pengajar kritikus sastra di Universitas Negri Jakarta Pak Syaifur.

Ali meminta semua bersenam tangan dulu.
Yang lain meminta anak-anak santai. Jangan terbebani dan percaya diri.
Anak-anak mulai menulis. Posisi boleh di mana saja, sepanjang mereka santai. Maka ada yang memilih kolong meja, ada yang di lantai.

Kami keliling untuk memantau.
Tiba-tiba ada satu anak yang ke luar ruangan sambil menangis. Dia menuju orangtuanya yang ada di luar. Dia menangis katanya tidak mau meneruskan lomba lagi.
Dia maunya ibunya ikut masuk ke dalam.
Akhirnya keputusan harus dibuat. Si anak tetap tidak mau melanjutkan, dan naskahnya baru seperempat halaman pertama, padahal kami meminta naskah 4-6 halaman dengan pertimbangan tertentu.
Saya mengambil kertas absen, dan minta anak itu tanda tangan di kertas. Selesai, si anak tidak mau masuk tidak boleh dipaksa, apalagi dia terus menangis. Ibunya bilang mentalnya belum kuat untuk ikut lomba sebesar itu.

Lomba berlangsung dari pukul 7.30 sampai jam 11 siang. Setelah zuhur anak-anak akan dibawa untuk bersenang-senang ke Taman Safari.
Jurinya?
Jurinya kerja. Saya, Ali dan Pak Willy mulai membaca satu-persatu naskah.
Naskah yang bagus dan tema yang unik itu, sebenarnya sudah bisa terbaca di beberapa kalimat pembuka.
Anak yang tenang dalam menulis, juga akan bisa kelihatan dalam karyanya.
Pak Willy malah membuat catatan di setiap naskah. Dari mulai ide sampai tekhnik menulis dan apa yang harus dibenahi.
Kami saling berdiskusi soal naskah yang terbaik, yang harus kami tentukan sebagai juara satu sampai enam.
Dan Alhamdulillah standar kami sama. Kami memilih 6 orang yang sama untuk ide yang orisinal, unik dan kekinian.
Ada satu sekolah Condong Catur yang memenangkan juara satu dan dua dalam lomba cerpen kategori pemula. Saya, Ali dan Pak Willy malah diskusi dan membayangkan metode pengajaran guru menulis mereka, plus buku bacaan yang disodorkan untuk dibaca anak-anak. Karena idenya itu sangat tidak biasa dan tulisannya sudah level sastra anak.

Jam lima kami serahkan nilai lomba ke panitia.
Cuapeeek.
Rencana makan sate Pak Kadir di depan hotel batal. Semua terasa capek, apalagi saya yang kurang tidur.
Besok pagi kami harus ke Jakarta untuk penghargaan kepada para pemenang.

Hari Ketiga

kpci-final

kpci-final-9

kpci-final-7

kpci-final-8

Pulang?
Iya pulang katanya. Tugas kami para juri sudah selesai. Saatnya siap-siap setelah acara di Kemdikbud kami akan pulang.
Maka saya masukkan semua ke tas. Saya kayaknya bawa laptop paling besar dan bikin ransel saya menyiksa sekali untuk dibawa.
Untung ada Irfan, juri syair. Ini anak muda baik hati, yang sudah saya anggap anak. Ibunya malah usianya lebih muda dari saya. Irfan yang membawa ransel saya.
Ada Burhan, yang sudah tiga kali di acara yang sama dengan saya. Burhan ini dosen Bahasa Indonesia untuk kelas Internasional di Universas Bandung.
Dia juga bantu membawakan tas saya, dan jadi teman ngobrol di bus.
Busnya bikin pusing. Kepala terasa nyut-nyut. Beberapa juri tertidur pulas. Aanak-anak peserta ada yang muntah. Saya sendiri ngobrol dengan Burhan membahas tentang dunia perdukunan.

Jadi, tas saya itu dari naik bus sampai turun bus, terus dibawa oleh Irfan. Terima kasih, semoga cepat menemukan jodoh yang tepat, ya.

Di sana kami ngapain?
Memandu anak-anak latihan untuk pementasan. Anak-anak keren lho. Format drama dibuat Ali semalam, dan pas di hari H anak-anak dilatih lagi.
Irfan yang bisa beat box alias menyanyi dan menyuarakan bermacam alat musik, diminta jadi musik pengiring pada saat itu juga.

Satu persatu pemenang diumumkan.
Dan saya menangis diam-diam. Tenggorokan tercekat. 6 pemenang pilihan adalah anak-anak dengan karya keren. Dibuat cepat dan ide yang dihasilkan unik.
Rasanya seperti saya baru mengantar mereka berdiri di satu anak tangga prestasi, untuk membuka jalan mereka.
Ada deklarasi yang dibacakan anak-anak. Ini suara mereka. Ingin anak Indonesia lebih baik lagi.

deklarasi-kpci

kpci-final-6

Hore, acara selesai.
Pulang?
Semua juri punya jadwal padat merayap. Saya harus menyelesaikan banyak hal juga. Tapi ternyata ola la, juri diminta kembali ke Bogor.
Maka jadilah saya, Budi juri dongeng, Burhan, Ali, Irfan dan Rona naik grab. Alasannya karena kami semua pusing naik bus.

Di grab dengan janji semuanya harus patungan, kami malah cekakak-cekikik.
Menggoda Irfan dan Rona yang kami jodohkan, tapi dua-duanya tidak punya rasa. Cuma kami aja yang orangtua kepingin mereka bisa jadi sepasang suami istri, karena melihat mereka bisa melengkapi satu dengan yang lain.
Supir grab anak muda yang keren. Yang sudah jatuh bangun dengan banyak bisnis. Dia mengemudi dari pagi sampai jam sepuluh malam. Penghasilan bersih 400 ribu perhari. Mobil tidak nyicil, malah ia menyarankan kalau mau beli mobil untuk narik, cari yang second tapi cash, biar tidak terbebani cicilan.
Di mobilnya disediakan tempat sampah, air minum mineral dan beberapa kotak kue di dalam wadah tupperware. Itu untuk penumpang lho.
Sepanjang jalan kami cekakak cekikik tak berhenti. Rasanya saya menemukan masa muda kembali. Tapi jadi rilekslah semua otot-otot yang ada.

Malamnya terasa sepi.
Saya dan Rona yang ada di kamar. Sebagian besar pulang malam itu juga.
Rona tidak enak badan.
Saya sendiri, langsung membuka laptop dan mengerjakan tugas revisi.
Sepi, sepi dan sepi.
Tapi bukankah putaran hidup seperti itu?

Hari Keempat

Waktunya check out.
Saya keliling foto-foto. Rona semalalaman masih di depan laptop meski dia tidak enak badan. Dia bangun agak siang maklum sedang tidak shalat. Biasanya sehabis subuh dia baca Al Quran. Semalam saya minta ke panitia tolak angin, Alhamdulillah panitia bawa.
Rona sudah agak baikan di pagi hari, moodnya juga sudah membaik.
Masalahnya setelah itu adalah, kami tidak dapat kendaraan untuk pulang.
Rona pesan grab juga gocar, tapi tidak ada yang mau mengambil. Tidak ada taksi, adanya rental dan untuk ke Bogor dipatok harga lima ratus ribu.
Akhirnya saya putuskan minta ikut mbak Irma yang bawa mobil dan kebetulan jemput anaknya.
Rona bilang terserah Ibu, maunya gimana. Kami ikut mobil Irma, Rona karena pusing dan mual minta turun di stasiun Bogor untuk lanjut ke Serpong.

Saya sendiri turun di stasiun Cikini untuk lanjut ke Bekasi.
Di tengah jalan sudah hujan. Tiba-tiba ada WA masuk. Naskah revisi saya ditunggu.
Sampai di rumah hujan deras, komputer saya nyalakan. E alah, kok tidak nyala monitornya. Berkali-kali dicabut dipasang lagi tetap seperti itu.
Ngopi dulu biar tenang.
Akhirnya bisa juga saya buka komputer, buka naskah revisi. Revisi ulang berkali=kali dan akhirnya sent.
Itu naskah revisi untuk room to read yang sudah ditunggu untuk diserahkan ke ilustrator dalam workshop ilustrator.

Apa yang saya dapatkan dengan pengalaman KPCI?
Setialah pada proses.
Terus mendekat pada Allah dengan cara yang sebenarnya. Menambah ibadah, menambah sedekah. Nanti biar pintu-pintu rezeki Allah yang bukakan dan kita tidak menyadarinya.
Rezeki saya bertemu dengan orang-orang hebat, yang membuat saya sadar, saya harus menambah ilmu.
Rezeki saya bertemu dengan teman-teman yang baik. Dengan Ali saya malah sudah 20 tahun berteman.

Setialah pada proses.
Dan saya tidak akan berhenti menulis tentu saja.

Kelas Inspirasi Bekasi dan Panggilan Cinta

ki-bekasi

Apa yang paling membuat saya gandrung alias jatuh cinta setengah mati?
Yeah.
Mengajar di kelas inspirasi. Kelas inspirasi ini salah satu hal yang paling cocok untuk saya. Kelas Inspirasi alias KI ini hanya dilakukan satu hari saja. Mengajar dari pagi sampai sore. Sulit? Tidaklah. Kalau hari-hari lain kita bisa bersenang-senang setiap hari, masa satu hari saja untuk berbagi kita tidak bisa.

Awalnya setelah KI Jakarta di bulan Mai, saya ngobrol dengan teman-teman di KI Jakarta yang tinggal di Bekasi. Kami semua akan mendaftar sebagai relawan lagi. Ketika tahu ada pembukaan relawan KI Bekasi, maka cepatlah saya meluncur untuk mendaftar. Sebagai apa? Mendaftar sebagai penulis dan akan mengenalkan profesi penulis kepada anak-anak, agar wawasan mereka terbuka lebaaar.

Akhirnya dibukalah KI Bekasi. Mendaftar. Menunggu seleksi dan diterima. Iya, tidak semua pendaftar alias relawan bisa diterima. Entah apa kriterianya. Yang jelas saya diterima dan saya bahagia.

Seperti biasa, setelah diterima akan ada proses briefing di satu titik. Di sini para relawan akan bertemu.
Tapi dua kali ikut kelas inspirasi, dua kali pula saya tidak ikut briefing.
Setelah briefing maka dikumpulkanlah kita dalam satu group WA. Untuk saling kenalan, untuk tahu profesi, untuk mencairkan suasana. Ada 27 relawan pada awalnya. Lalu terjadilah apa yang dinamakan seleksi alam. Kami tinggal 14 orang.
Anak muda semua.
Saya yang paling tua. Tidak apa-apa yang penting punya semangat muda.

Nah, setelah itu ada tahap kedua. Tahap kedua adalah survey lokasi sekolah.
Zaman KI pertama, saya tidak ikut briefing tidak ikut survey, tapi langsung terjun. KI Bekasi saya mau yang berbeda. Saya mau ikut survey.
Maka ketika semua sepakat akan survey di hari H, saya ikut. Panggil ojek online. Salah alamat. Saya diajak sampai Bekasi pelosok di daerah Cibitung kampung Cibitung. Padahal yang saya cari kampung Cibitung di daerah Bekasi kota.
Tidak apalah rezeki saya diberi suguhan pemandangan sawah dan sungai yang bikin bersyukur negeriku indah sekali. Meskipun dari jam 8 pagi sampai jam 11 saya ada di atas motor.

Hari Pelaksanaan
ki-bekasi-7

Modal saya dari kelas inspirasi pertama hanya ini.
Buku-buku yang saya buat sendiri. Gambarnya saya cari dan print lalu tempel. Nanti saya akan ajarkan berimajinasi dari gambar-gambar yang saya tempel, dan jadi rangkaian cerita.
Awalnya kami semua kebagian jatah mengajar enam kelas. Tapi akhirnya dibuatlah setiap pengajar, mengajar empat kelas saja.

Kelas pertama.
Kelas satu.
img-20161104-wa0207

img-20161104-wa0202

ki-bekasi-8

Mengajar kelas satu itu sesuatu yang wow buat saya. Saya berpikir tantangannya sangat menyenangkan. Paling hambatannya jika ada dari mereka yang belum bisa baca tulis.
Terus,
masuklah saya ke kelas satu. Ambil perangkat pemikat pertama. Buku. Saya banyak bawa buku cerita. Dan saya yakin, anak-anak tidak ada yang tidak suka didongengin. Semua anak pasti suka, apalagi bila intonasi suara kita tidak datar.
Maka saya pun mulai mnendongeng. Dari buku-buku yang saya bawa.
Lalu mereka puas. Bengong, termangu, berimajinasi. Hingga akhirnya saya keluarkan buku yang saya buat untuk mereka.
Dua buku selesai mereka buat. Kalimat sederhana, imajinasi sederhana. Yang penting cerita ada awal, tengah dan ending.
Setelah itu, mereka saya minta maju ke depan untuk menyanyi. Semua berebutan untuk bernyanyi dan melompat girang.
Saya suka, saya suka.

Kelas kedua.

ki-bekasi-9

ki-bekasi-10ki-bekasi-11

Kelas kedua saya dapat kelas 5A.
Kelas ini asyik. Mereka anak-anak yang patuh.
Di kelas ini, saya bisa memberikan lima buku pada mereka dan semua baris selesai mengerjakannya dengan cerita yang menarik dan keaktifan yang membuat saya terharu.
Semoga kalian jadi anak yang hebat.
Tapi di sini suara saya mulai menghilang pelan tapi pasti.

ki-bekasi-6

ki-bekasi-14

ki-bekasi-15

ki-bekasi-16

Kelas ketiga saya dapat kelas 6C.
Kelas ini luar biasa.
Bangku yang disusun saling berhadapan. Anak-anak yang memberi salam dengan salam yang agak lama dan seperti nyanyian. Lalu keaktifan mereka yang luar biasa. Ada 8 buku yang bisa dibuat di kelas ini. Sampai saya menghitung ulang, tinggal sisa berapa buku saya untuk kelas terakhir yang akan saya pandu menulis?
Saya suka kelas ini. Anak-anak hebat, semoga mereka akan mengubah dunia.

Kelas terakhir adalah kelas 4B. Kelas siang. Anak-anaknya manis. Suara saya semakin menghilang.
Tapi saya paksakan teriak. Karena buku yang tersisa hanya tiga buku saja. Akhirnya saya bacakan empat buku cerita yang saya bawa. Dengan suara yang dipaksa keluar sempurna dan menahan sakit di tenggorokan.
Semoga ini jadi amalan saya di akhirat kelak.

Akhirnyaaaa,
semua kelas selesai.
Saat terakhir adalah saatnya berfoto. Anak-anak menempel bintang cita-cita mereka.
Cita-cita mereka banyak yang ingin jadi guru. Ada yang ingin jadi ustadz, jadi dokter, jadi insinyur.
Pada saat ditanya siapa yang ingin jadi penulis. Seorang anak perempuan mengangkat jarinya tinggi-tinggi sambil memandang saya. Aaaah, ini momen yang membuat saya ingin menangis.
Sebenarnya sakit di tenggorokan juga gara-gara saya sering merasa tercekat. Mereka bisa menghasilkan rangkaian cerita sederhana itu membuat kerja keras saya mencari gambar menempelinya dan memberi judul cerita untuk 20 buku yang saya bawa dalam satu malam, itu yang membuat saya sering tercekat dan menahan air mata.

ki-bekasi-2

ki-bekasi-4

ki-bekasi-5

ki-bekasi-lagi

Akhirnya seiring gerimis yang datang kelas inspirasi selesai. Kami memandu adik-adik untuk bergoyang kepiting.
Semua senang, semua bahagia.
Lalu hujan pun turun dengan derasnya. Kami pulang dengan membawa rasa haru dan bahagia, yang pasti akan membuat kami ingin ikut dan ikut lagi kelas inspirasi.

Ketika Penulis Terpaksa Pindah Tidur ke Hotel Berbintang

“Ibu mau pergi lagi? Nginep di hotel lagi?”
Itu pertanyaan bungsu saya, yang katanya ngiri, ibunya tidur di hotel terus. Padahal si ibu biasa ada di rumah, justru tidak punya pikiran seperti itu.
Dulu, pada zaman dahulu kala, ketika profesi penulis di media remaja sedang booming, menginap di hotel juga pernah saya rasakan. Rasanya?
Untuk orang rumahan seperti saya, yang cinta kamar dan segala pernak-perniknya, maka tingkat kenikmatan hotel hanya berada pada lapisan luar saja.
Apalagi sekarang.
Ibu dua anak, yang mengurus pernak-pernik rumah tangga. Tinggal di hotel, lebih banyak untuk kerja. Itu pun ketika tidur suka terbangun membayangkan kondisi rumah seperti apa, ya?

Lalu kenapa penulis bisa tinggal di hotel?
Itu yang dulu ditanyakan bungsu saya.
Tapi setelah dia tahu ada banyak jalan untuk merasakan tidur di hotel, termasuk melalui prestasi menulis, maka ia sekarang sibuk membaca.

Hotel tentu saja bukan rumah.
Sebagus dan sebersih apa pun. Selengkap apa pun dan sebagus apapun jaringan wi fi di hotel tersebut.

hotel-harris-1

Ketika berada di kamar tidur yang lengkap, semua serba empuk, tapi isi kepala berputar dan berputar, itu rasanya tidak nikmat. Tidur terbangun lalu tidur lagi dengan perasaan tidak tenang.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja untuk sebuah kenikmatan.
Apalagi ketika kenikmatan itu diberikan sebagai fasilitas pekerjaan kita sebagai penulis.

hotel-harris-2

Tunggu dulu,
apa yang membuat seorang penulis bisa merasakan tidur di hotel? Penulis buku dan media cetak lho dalam artian bukan blogger. Karena kalau seorang blogger mungkin banyak undangan dari penyelenggara yang menyediakan fasilitas itu.
Tapi penulis, jalur apa yang mungkin bisa membuatnya merasakan pindah tidur ke hotel.

Setahu saya, jalur yang harus dilalui penulis untuk mendapatkan undangan, dan kepercayaan hingga akhirnya bisa merasakan menginap di hotel hanya satu.
Jalur prestasi. Kalau ingin murni menginap di hotel gratis dengan segala fasilitasnya dan ongkos transport juga.
Iya jalur prestasi.
Artinya, banyak-banyaklah menulis dan berprestasi.
Ketika menulis dan berprestasi itulah, maka orang, penerbit atau instansi akan mudah mengenal kita dan memberi kepercayaan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Pekerjaan itu akhirnya yang bisa membawa kita pindah tidur dari satu hotel ke hotel yang lain.

Jadi apa yang harus dilakukan penulis?
Kalau saya sih terus menulis saja.
Lakukan yang terbaik artinya menulis yang terbaik, dengan riset dan hasil yang baik.
Ketika ada pekerjaan pesanan, lakukan komunikasi dengan baik dengan yang memberi pekerjaan, sehingga mereka percaya bahwa kita memang orang yang bisa dipercaya.
Sering-seringlah ikut lomba menulis. Karena biasanya lomba menulis yang diadakan sebuah instansi pemerintah, pasti akan mengadakan malam penghargaan untuk para pemenang. Dan biasanya pemenang untuk itu disediakan kamar hotel di ibu kota Jakarta.

Terus apa lagi?
Teruslah menulis. Kalaupun kita bukan pemenang sebuah lomba, tapi dari menulis kita bisa punya penghasilan. Dan tentu saja dengan penghasilan itu kita bisa menyewa kamar hotel dengan pikiran lebih tenang, karena tidak disibukkan dengan pekerjaan. Kita juga bisa membawa anak dan pasangan lalu bersenang-senang.

Tapi uang dari menulis tidak cukup?
Banyak-banyaklah menulis bukan mengeluh. In syaa Allah kalau untuk sehari dua hari menginap di hotel pasti bisa dengan uang dari menulis.
Kalau saya sih lebih memilih untuk menginap di desa yang hawanya masih asri ketimbang menginap di hotel.

Soal tidur di hotel?
Beberapa hari lagi saya, masih harus pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Tidur di hotel lagi.
Pikiran terpecah lagi, antara rumah dan pekerjaan. Apalagi si anak bungsu harus ikut kegiataan OSIS dari sekolah dan kemping di daerah puncak.

“Ih asyik, Ibu tidur di hotel lagi.”
Saya garuk-garuk kepala lagi.
Ada harga yang harus dibayar tentu saja. Ketika ibu tidur di hotel, itu artinya bekal makan siang anak-anak harus berganti dengan masakan katering bukan masakan ibu. Dan itu artinya kocek harus dirogoh lebih dalam lagi.