Kisah Mesin Jahit Tua

Brown, si mesin jahit tua, teronggok di sudut halaman sebuah rumah. Tubuhnya sudah ditumbuhi karat. Penyangga kayu untuk menyangga tubuhnya pun, sudah banyak yang hancur. Jika ada hentakan keras, pasti tubuh besinya akan jatuh tergeletak di tanah.
Mereka akan pindah. Dua anak kecil berlarian memandangi barang-barang yang dimasukkan ke dalam truk. Sejak pagi Brown pandangi. Satu-persatu barang dimasukkan, tapi Brown tidak.

“Kirim saja ke tempat yang lain…”
Brown mendengar suara itu. Maka setelah itu munculah mobil kecil, yang mengangkut Brown. Sudah malam ketika Brown dibawa menuju suatu tempat, bersama barang rongsokan lain. Ada sepeda bekas yang berkarat, ada akuarium yang sudah rusak. Ada batu-batu kolam juga.

Di sebuah rumah, mereka diturunkan. Halaman kecil rumah itu menjadi penuh sesak. Brown teronggok sampai pagi buta, ketika melihat seorang Nyonya keluar rumah. Wajah Nyonya itu muram, dengan kepala menggeleng berkali-kali.
“Kenapa semua barang rongsokan ditaruh di sini semua?”
Brown melihat si Tuan diam.
Nyonya masih mencoba membersihkan halaman kecilnya, agar mudah dua anak ke luar rumah untuk sekolah. Beberapa kali Brown melihat tarikan napas si Nyonya. Dan gumaman dengan mata sedih, tentang barang-barang rongsokan yang berpindah tempat.

**

Si Tuan membawanya.
Brown merasakan besi tuanya dicopot dari tempatnya. Brown merasakan Tuan menaikannya ke atas motor. Nyonya sudah membersihkan teras. Beberapa barang, sudah berpindah ke gerobak tukang loak yang dipanggilnya.
“Kamu harus jadi bagus, biar Nyonya tidak mengomel…,” ujar Tuan.
Maka Brown dibawa ke sebuah tempat. Brown kaget. Ia bertemu dengan teman-teman sesama mesin jahit. Mereka sama tua seperti dirinya. Mereka bernasib malang, dibuang dan tidak diambil lagi.
“Tambah dinamo dan servis, ya…”
Brown mendengar suara Tuan bicara.
Lalu Brown ditinggalkan.

**

“Sudah betul? Bisa?” tanya Nyonya pada Tuan yang membawa Brown. Brown sudah ditambahi dinamo, dan beberapa kayu yang rusak sudah diganti oleh Tuan, sehingga Brown tidak akan jatuh lagi.
Brown melihat Nyonya itu belajar mencintainya. Meski kadang-kadang wajahnya terlihat kesal. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedih. Karena barang rongsokan yang datang ke rumah. Padahal Nyonya itu mampu untuk membeli mesin jahit lain yang lebih bagus.

Brown melihat Nyonya itu mengerjapkan mata beberapa kali. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedang mengingat apa yang dikatakan orangtuanya. Untuk menerima pemberian orang lain, meski itu buruk. Agar orang yang memberi itu tidak sakit hati.
Brown tahu, Nyonya itu bukan tidak suka dengan Brown, tapi tidak suka dengan cara orang yang memindahkan barang rongsokan ke rumah. Nyonya itu merasa direndahkan.

“Bu…., celanaku sobek. Ibu bisa jahit?”
“Ayahmu yang bisa.”
Percakapan itu Brown dengar. Nyonya itu masih belajar mencintai Brown dan belum ingin menggunakan Brown.

Sampai suatu hari, datanglah sebuah hadiah untuk Nyonya. Sebuah hadiah manis yang teronggok di lemari. Kemudian hadiah itu digunting oleh kerabat si Nyonya. “Jahit saja.”
Maka Nyonya itu mulai mendekati Brown. Megelus Brown. Mencoba memutar benang.
Terus-menerus sepanjang hari.

Sebuah baju berhasil Nyonya buat. Baju lain menanti.
“Ibuuuu, aku suka bajunya. Buatkan aku baju yang lain, ya.”
Si Nyonya mengangguk.
Brown tahu, mulai tumbuh cinta Nyonya padanya.
Brown berjanji tidak akan mengecewakan si Nyonya.

Ketika Senyum Tulus Menjadi Bayaranmu

Apa yang paling membuat bahagia?
Yang paling membuat bahagia belakangan ini untuk saya, adalah ketika melihat wajah-wajah polos tersenyum. Ketika senyum itu membuat saya melihat gambaran panjang tentang masa depan mereka. Sepuluh tahun ke depan, duapuluh ke depan dan tahun-tahun panjang lainnya.

Anak-anak yang bersemangat dengan ilmu baru, dan akhirnya menularkan semangat pada saya. Sehingga saya berjuang untuk melakukan banyak hal juga meminimalisir keluh.

Anak-anak menjadi prioritas utama pada saya belakangan ini.
Dulu pernah berjanji, kalau Allah hanya memberi saya dua anak sebagai rezeki, maka saya harus fokus memperbanyak anak-anak orang lain yang akan sama-sama saya kasihi juga akan saya beri limapahan ilmu.
Dan ternyata Allah memang hanya memberi saya dua anak yang sudah beranjak remaja. Maka saya harus memenuhi janji, untuk merengkuh anak-anak lain untuk saya beri limpahan ilmu juga kasih sayang.

Anak-anak membuat saya bahagia.
Mereka yang memiliki orangtua hanya fokus pada pelajaran justru membuat saya miris. Mereka yang punya orangtua hanya fokus pada rangking, justru membuat saya tertantang untuk memberikan banyak.
Ada banyak hal yang harus mereka ketahu dan membuat wawasan mereka luas. Jalannya tentu saja dengan menularkan apa yang saya miliki.

Mengajarkan kreativitas tidak mudah.
Meyakini bahwa kreativitas membuat bahagia juga tidak mudah. Apalagi untuk orang-orang yang yakin bahwa uang dan bekerja di kantorlah yang akan membuat bahagia.
Meyakini bahwa dengan banyak membaca membuat pintar, dan jika sudah pintar, maka akan mudalah meraih semuanya.

Langkah saya tertatih-tatih.
Mengetuk satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk minta jadi guru. Tapi saya ingin diberi ruang untuk mengajari anak-anak di sana tanpa bayaran.
Mereka suka dan bahagia sudah jadi bayaran untuk saya.
Ketukan tidak dijawab.
Satu-persatu pengurus masjid saya datangi, hanya ingin menggerakkan perpustakaan yang ada di masjid. Satu masjid menjawab, diberi ruang, tapi tidak berkelanjutan karena pengurus yang antusias kebetulan sedang hamil.
Masjid lainnya menguap tak memberi jawaban.
Masuk ke TK menawarkan diri juga tidak ditanggapi.
Saya pikir ada yang salah. Mungkin mereka berpikir saya meminta bayaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai dari rumah. Percaya pada potensi diri di rumah dan berjalan sendiri saja.
Satu persatu anak pemulung menerima sambutan.
Satu-persatu anak tetangga datang.
Satu-persatu anak dari lingkungan lain datang.
Alhamdulillah sampai juga di titik ini.

Ada saatnya uang tidak bisa bicara.
Ada yang pada saatnya lebih bernilai dari hanya lembaran rupiah. Yaitu ketika kerja keras kita dibayar dengan senyum dari orang yang butuh. Iya butuh.

Masih banyak pintu PAUD di perkampungan yang akan saya ketuk.
Mungkin akan mengetuk instansi atau lembaga yang berwenang juga.
Saya hanya ingin membuat perubahan kecil saja. Hanya kecil saja.
Sebab senyum mereka sudah membuat saya bahagia.

Resep Cantik Ibu dan Marcks

review-1

Ada banyak resep cantik, tapi saya selalu percaya resep cantik yang selalu Ibu ajarkan. Ikhlas itu yang paling utama tentunya. Rutin olah raga. Jaga makanan termasuk konsumsi sayur dan buah.
Ada banyak resep cantik, bukan dari salon atau iklan-iklan yang berseliweran di sosial media. Tapi resep cantik dari Ibu, itu yang selalu saya percaya.
Sebab saya melihat prosesnya. Sebab saya diajarkan bagaimana caranya. Dan melihat seperti apa hasilnya.

“Pakai bedak ini…”
Itu dulu Ibu tawarkan pada saya. Ketika saat remaja, saya bingung dengan satu-persatu jerawat yang muncul.
Ingat, Ibu biarkan saya berproses untuk memilih. Sebagai abege dulu saya ikut-ikutan teman yang lain, untuk berganti-ganti merk bedak. Apa yang baru muncul di iklan, itu yang diberi.
“Buat jerawat, buat keringat.”

Saya mulai rutin akhirnya memakai marcks.
Berganti-ganti warna. Kadang saya membeli yang berwarna rose. Kadang memilih yang putih. Kadang juga mengganti dengan yang cream.
Ketika sedang berjerawat, saya memakainya sebelum tidur. Untuk deodoran sebelum berangkat beraktivitas.
Saya orang yang tidak mudah percaya. Tapi Marcks
memberikan bukti bukan sekedar janji. Itu yang membuat saya percaya, dan akhirnya menurunkan rasa percaya itu pada anak saya, seperti Ibu menurunkan pada saya.

img_3113

“Ibu ada bedak?”
Ketika pulang kampung dan lupa membawa bedak, Ibu biasanya akan menunjuk ke satu tempat di wadah rotan miliknya.
Ada banyak tumpukan bedak marcks. Hanya satu, dua yang masih ada isinya. Lainnya sisa wadah bedak. Ibu jadikan sebagai tempat peniti, jarum atau pernak-pernik lainnya.
Bersyukur warung dan di apotik dekat rumah Ibu, bedak ini mudah didapatkan dengan harga terjangkau.

“Bu…, lihat. Masa aku ada jerawat.”
Suatu hari anak gadis saya menunjuk jerawatnya.
“Gampang. Pakai bedak marcks Ibu aja.”
“Bu…., Mas bau badan…,” anak gadis mengeluh soal keringat kakaknya.
“Pakai bedak marcks…,” ujar saya pada yang sulung.

Apa yang Ibu lakukan, saya lakukan.
Untuk menjadi terawat tidak perlu biaya mahal.

Alternatif Liburan Ibu Rumah Tangga

“Horee libur…,” begitu biasanya teriakan anak-anak ketika libur telah tiba. Maka anak bersenag-senang dengan bermain. Kadang saking senangnya, mereka main suka lupa waktu. Harus dicari berputar-putar baru akhirnya kembali. Itu pun masih disambut dengan cemberut. Padahal pulang hanya untuk diminta makan, mandi atau shalat.

Masa-masa heboh seperti itu sudah mulai berlalu.
Dulu setiap Desember, saya sudah siap dengan peralatan tempur untuk pulang kampung. Lalu cek cek daerah tujuan wisata. Pokoknya fokus menambah wawasan untuk anak.

Mereka puas bermain, mereka sudah puas jalan-jalan.
Sekarang mereka sudah remaja. Arah hidup sudah harus ditentukan. Jalan-jalan yang saya tawarkan untuk mereka adalah menuntut ilmu. Jika letih dari berpergian seringnya mendatangkan keluhan, maka letihnya menuntut ilmu pasti akan membawa keletihan yang membuat bahagia.

Anak-anak pun pergi untuk liburan sambil menuntut ilmu.
Ibu?
Ibu rumah tangga yang di rumah saja, ketika anak sudah besar dan punya acara sendiri, bisa punya banyak alternatif liburan. Liburan alternatif ini juga bisa dipakai ibu-ibu dengan anak yang ada di rumah. Bisa dilakukan bersama anak-anak.
Mengisinya dengan apa?

1. Mewarnai gambar.
Iya gambar-gambar seperti ini saya print. Lalu saya mulai mewarnai. Dan ini efektif juga untuk membuat tangan lebih lentur.
Anak saya juga suka kok melakukannya. Bahkan kami berlomba untuk itu.
warna4

2. Bercocok tanam.
Ketika anak-anak masih kecil, Ibu tidak punya waktu untuk diri sendiri. Bahkan untuk menyiram tanaman pun suka lupa. Ketika anak-anak sekolah, sebagai ibu kita sudah kehabisan banyak energi untuk menyiapkan sarapan, pakaian dan lain sebagainya.
Ketika anak sudah libur, kita lebih bisa menata waktu. Dan tentunya waktu yang berharga itu harus dimanfaatkan.
Cobalah mulai mencari-cari tanaman untuk ditanam di pot kecil saja. Cari tanaman yang mudah perawatannya.
Atau sebarkan bibit cabai juga tomat. Mereka bisa tumbuh tanpa perlu repot mengurusnya.
Jika anak ada di rumah kita bisa ajak mereka melakukannya. Jika anak masih kecil, bebaskan mereka untuk mengenali tanah, cacing juga sekop.

3. Masak.
Masak yang macam-macam kalau bukan ahlinya menyulitkan. Karena waktunya sempit, Di saat anak-anak libur, maka kita jadi punya waktu lebih untuk mempelajari sebuah resep dan mengeksekusinya.

4. Buat kerajinan tangan.
Pakai apa saja. Pakai tutup botol bekas bisa. Pakai pakaian bekas lalu kita modifikasi jadi macam-macam, entah itu keset atau boneka.

5. Cek alat yang ada di rumah.
Kalau punya mikser dan selama ini hanya menganggur di gudang, coba deh mulai belajar digunakan. Sayang kalau alatnya hanya jadi pajangan.
Kalau punya kamera? Biasa tuh untuk mulai belajar memotret. Tidak harus jadi fotographer profesional. Yang penting ilmu kita bertambah, dan alat kita jadi berguna.

kerjaan-ibu

6. Tambah ilmu agama
Iya liburan efektif tambah ilmu agama. Kita bisa full mengikuti kajian di majlis ilmu dari awal sampai akhir, tanpa perlu dibingungkan dengan mengantar jemput anak.
Dan majlis ilmu ini kelebihannya adalah, ada malaikat yang ikut bersama kita dan mengaminkan doa-doa kita.
Majlis ilmunya di masjid, ya. Bukan dari sosial media.

7. Saatnya beres-beres
Debu-debu di lemari mungkin sudah terlalu tebal, karena kita lupa untuk membersihakannya. Dan libur adalah saat yang menyenangkan untuk bersih-bersih rumah. Beres-beres ini itu.

8. Baca buku.
Punya koleksi buku yang tidak tersentuh? Belum punya waktu untuk membacanya dengan alasan diganggu urusan PR anak-anak?
Saatnya liburan ini kita bisa membaca buku sampai selesai.
Tidak ada alasan anak lagi. Bahkan kita bisa juga membacakan buku itu untuk anak-anak.

Masih banyak kegiatan lain.
Yang penting kita senang melakukannya.
Jangan buang waktu dengan hanya tidur makan dan tidur makan, ketika anak-anak sedang libur.
Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Alhamdulillah, Saya Bukan Ibu yang Pintar

lukisan-kami

Suatu pagi saya tercenung. Setelah membaca postingan politik yang ditulis oleh seorang perempuan. Seorang Ibu juga. Kebetulan setelah itu saya berada di dapur. Menikmati membanting adonan roti untuk suami dan Sulung yang harus berangkat pagi.
Penulisnya pasti perempuan pintar. Isi otaknya seperti apa yang ditulisnya. Saya terkagum-kagum dengan kepintarannya. Tapi sayangnya saya tidak boleh berlama-lama kagum. Tidak boleh berlama-lama kepingin menjadi seperti dirinya. Tidak boleh berlama-lama membayangkan andai saya sepintar seperti dirinya.
Ada kompor, panci, wajan dan sejenisnya di dalam dapur saya. Kompor sedang menyala, adonan roti mulai tercium wanginya. Dua orang tercinta sedang bersiap. Bayangan saya harus dihentikan sampai satu titik, perempuan itu pintar dan hebat. Saya apalah artinya dibandingkan para perempuan hebat itu.

Banyak perempuan hebat dan pintar. Banyak yang ingin dianggap hebat dan pintar juga. Dianggap menguasai sesuatu lebih dibanding yang lain.
Masalah politik membuat banyak yang merasa jadi ahli politik.
Masalah agama, langsung membuat mereka menjadi ahli agama.
Mereka hebat. Mereka pintar, itu saja yang ada di pikiran saya. Untuk selanjutnya kembali saya menyadari, bahwa ruang pintar seperti itu tidak saya miliki.
Mungkin dulu rasa itu pernah saya kejar. Ingin dianggap pintar.

Saya ingat dulu kuliah di fakultas ilmu sosial ilmu politik. Pada zaman politik sedang membara, maka teman-teman menjadi pendemo dan jadi pakar politik. Saya terseret membuat media politik bersama teman-teman satu fakultas, jadi reporter politik, mewawancarai nara sumber seputaran Jawa Tengah, terutama Solo, Jogja dan Semarang adalah makanan rutin ketika majalah akan terbit.
Ada banyak bahasa politik yang harus saya pelajari, harus saya sering-sering ucapkan jika ingin bergaul di kalangan teman-teman yang ahli politik. Biar sejajar.
Terpengaruh keadaan juga setiap hari bergaul dengan teman-teman yang ada di pergerakan. Sampai-sampai pernah dibohongin diminta memakai t-shirt dan dipanggil dekan, karena ternyata tulisan di t- shirt itu dianggap menyerang sesuatu terutama pemerintah. Dan saya tidak tahu akan hal itu. Dipanggil untuk diinterogasi. Sambil memarahi teman-teman yang tidak memberitahu, kenapa pada hari itu saya diminta memakai t-shirt tersebut sedang mereka menyembunyikannya?

Ada banyak ahli politik yang saya wawancarai. Bahkan pelaku politik pernah juga saya wawancarai. Ingat satu tokoh tinggi di Solo saya wawancarai bersama seorang teman. Saya perempuan satu-satunya, sedang tokoh itu dikelilingi oleh ajudan beberapa laki-laki di sekelilingnya.
Pada saat itu saya merasa keren, saya merasa pintar juga.
Sedikit ikut demo sana-sini. Tidak ikut teriak yel yel, karena saya lebih suka mendengar dan menyimak untuk kemudian mengambil kesimpulan.
Ohooo, banyak orang pintar. Suara saya tidak akan ada apa-apanya dibanding orang-orang itu. Tapi saya masih merasa hebat juga.

Banyak orang pintar dengan bahasa tinggi. Banyak yang kagum dan ingin belajar seperti itu. Tapi sayangnya bahasa tinggi itu justru membuat saya mundur dari hal-hal seperti itu. Ketika di suatu tempat di desa kecil pada saat Kuliah Kerja Nyata selama tiga bulan, yang berbahasa tinggi justru tidak bisa membaur dengan penduduk desa. Yang punya bahasa tinggi fokus memikirkan hal tinggi, tapi lupa di desa itu sedang kekeringan dan mahasiswa harus turun naik gunung mengajar ini itu dari satu sekolah ke sekolah lain plus menimba sumur untuk mandi.
Yang menemani bidan keliling desa turun naik gunung hanya yang itu itu saja.

Kapasitas dan Potensi Kita

Mungkin memang saya ditakdirkan tidak pintar. Justru karena tidak pintar itu saya jadi berjuang untuk terus belajar.
Mungkin memang saya ditakdirkan pusing mendengar kalimat yang terlalu tinggi. Justru karena itu saya jadi mencintai pola pikir saya yang tidak macam-macam.
Saya memiliki kapasitas dan kemampuan saya sendiri yang berbeda dengan orang lain. Kapasitas dan potensi yang ternyata membuat saya nyaman. Dan dalam proses nyaman itu justru potensi semakin berkembang.
Kapasitas saya tidak untuk berkerut kening memikirkan bahasa tinggi dan pemikiran yang tinggi. Kapasitas saya ada pada hal yang disepelekan oleh banyak orang pintar. Memahami orang lain, belajar banyak empati lalu menyebarkannya.

“Itu orang pintar, Bu…,” anak saya menunjuk seseorang perempuan di televisi. “Yah, Ibu kalah,” ujarnya.
Saya mengangguk.
“Alhamdulillah, Ibu tidak seperti itu. Kalau seperti itu, pasti sampai sekarang kalian tidak pernah merasakan roti buatan Ibu,” jawab saya membela diri.

Banyak orang pintar.
Dan saya menikmati proses menjadi seorang ibu dan perempuan yang biasa-biasa saja. Untuk tidak berhenti belajar tentu saja.

Sedekah yang Tak Biasa

kue-aku-4

Sedekah dalam bentuk apa?
Ada pintu surga yang Allah janjikan untuk orang yang rajin bersedekah.
Sedekah itu artinya mau mengeluarkan apa yang dimilikinya untuk orang lain.
Banyak yang mengartikan sedekah harus dengan harta. Banyak yang berhitung bahwa sedekah yang dikeluarkannya, nanti akan hadir kembali dalam tempo cepat dalam harta yang berlipat ganda.

Sedekah banyak macamnya. Allah akan lipatgandakan pahalanya untuk pemberi sedekah. Jika tidak diberi langsung di dunia, maka akan ditunda untuk diberi pada hari akhir kelak sebagai pemberat timbangan amal kebajikan.
Memberi dengan mengharap langsung imbalan, itu artinya pamrih dengan Allah. Ruang ikhlas kita jadi terganti dengan yang lain.

Ada senyum yang bisa kita berikan yang berarti sedekah. Bibir yang ditarik untuk tersenyum dan menyapa orang lain, selain membuat jiwa kita merasa lebih bahagia, orang lain pun akan terkena imbasnya juga.
Pohon-pohon yang bermanfaat bisa kita taruh di luar pagar halaman kita. Di pot atau di tanah yang kecil. Misalnya pohon pandan. Pada bulan Ramadhan kita akan panen pahala, karena banyak ibu-ibu yang membutuhkannya.
Ilmu yang kita punya seperti ilmu memasak, bisa kita bagi juga.
Semua yang kita beri akan kembali kepada kita. Berkah kebaikan akan melimpah untuk kita.

Sedekah Roti juga Bisa

kue-aku-5

Iya, sedekah bisa apa saja.
Kalau banyak yang menyedekahkan nasi bungkus pada setiap Jumat, saya merasa tidak mampu melakukannya. Maka saya memilih melakukan hal lain.
Hal lain itu dilakukan sambil mengukur kemampuan. Kemampuan tenaga sendiri tentunya.

Saya mulai bisa membuat roti.
Anak-anak dan suami suka. Tetangga yang diberi suka. Tukang warung yang saya beri bilang enak. Jauh lebih enak dari roti yang dijual dua ribuan di warungnya.
Itu yang mulai saya bisa.
Menjualnya? Menitipkan ke warung? Mungkin saya juga bisa.
Tapi saya mau yang lain. Saya ingin bersedekah juga. Saya ingin seperti yang lain juga.

Iya, sedekah roti.
Teman-teman di pengajian setuju dengan usul itu. Dan mulai menambah iuran bulanan, agar bisa menambah sedekah roti seperti rencana.
Saya yang akan berkeliling, dan mereka fokus bantu tenaga membuatnya.

Lalu apa yang ingin saya dapatkan dari sedekah roti ini?
Saya ingin pahala mengalir untuk yang mengajari saya. Saya juga ingin jari jemari saya ketika dimintai pertanggungjawaban kelak, bisa memberi jawaban yang akan memperberat amal kebajikan saya.

Sedekah roti, sedekah pecel, sedekah pohon, sedekah mukena bersih.
Ah sesungguhnya ada banyak ruang untuk itu.
Kalau kita mau berjuang, maka semua pintu kebajikan akan terbuka luas untuk kita. Sungguh.

Menjadi Keren di Usia 40

kpci-42

Life begin at forty.
Agak takut bahkan anti saya dengan orang yang bilang bahwa usia 40 adalah usia keren. Bagaimana bisa keren, kalau dalam kacamata saya dulu, usia itu adalah usia orang yang sudah lanjut usia.

“Berapa umur Ibu?” anak-anak suka bertanya.
Ketika saya bilang usia saya 25 mereka akan tertawa. Tapi ketika mereka mendengar usia ibunya yang sebenarnya, mereka langsung terbelalak dan bilang. “Ya ampun, Ibu sudah tua ternyata.”

Well,
usia 40 beberapa tahun yang lalu saya tapaki.
Terkena stigma tua juga. Merasa mudah masuk angin dan sebentar-sebentar terkena kerokan juga. Terkena ketakutan juga, bahwa akan banyak penyakit datang.
Tapi untung semua itu bisa saya alihkan dengan banyak hal, termasuk terus belajar dan menambah ilmu.

Kalau dalam sirah Nabawiah, Rasul Muhammad s.a.w menerima wahyu Allah di gua Hira pada usia 40.
Ada doa yang dianjurkan untuk muslim di usia 40. Saya menyebutkan doa syukur nikmat QS Al Ahqof ayat 15.
Saya tempel doa itu di tempat shalat.

Usia 40 adalah kenyataan. Setiap tahun masih diberi tambahan umur, itu artinya adalah kesempatan emas untuk tidak menyia-nyiakannya. Apalagi menyia-nyiakan dengan hanya fokus pada penampilan lahir saja, tidak menambah kualitas keimanan yang kita.
Pada usia 40, saya merubah apa yang harus saya ubah.
Saya selalu berpikir bahwa di mata orang yang usia 70, saya masihlah muda. Karena itu saya harus manfaatkan waktu sebanyak-banyaknya. Hingga kelak ketika Allah takdirkan usia saya mencapai 70 tahun, saya tidak menyesal melewati rangkaian usia itu. Waktu saya bermanfaat.

“Ibu kenapa masih terus belajar?” begitu anak-anak saya tanya.
“Mau sekolah lagi?” itu pertanyaan ibu-ibu lain yang selalu keheranan ketika saya sebutkan salah satu mimpi saya.
Masih ingin sekolah, masih ingin mengajar di berbagai tempat terpencil, masih ingin bermanfaat, masih ingin menghafal Al Quran sampai 30 juz.

Pikirkan bahwa usia 40 adalah usia keren. Anak-anak sudah bertambah besar. Jiwa kita semakin matang. Kita punya banyak waktu untuk diri sendiri dan melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk orang lain.
Tentu saja rangkaian hidup bahagia itu, tidak bisa kita dapatkan langsung ketika kita masuk usia 40. Kita harus mulainya jauh-jauh hari. Mengurangi sifat negatif kita sedikit demi sedikit. Menambah sesuatu yang positif sedikit demi sedikit dan terus-menerus.

Pikirkan bahwa ketika anak-anak sudah besar, banyak hobi-hobi yang tadinya kita pendam, bisa kita mulai munculkan lagi.
Saya dan tetangga yang lain justru lagi belajar menambah ilmu memasak.
Lagi cari tempat kursus jahit juga.
Menambah kegiatan dengan rencana-rencana positif lainnya.
Di usia sebelumnya tidak terpikir hal itu, karena sudah habis waktu untuk mengurus anak-anak.

Di usia ini, saya juga tidak terpikat dengan namanya iklan kecantikan. Dari dulu juga saya tidak terpikat, sih. Karena saya juga tidak suka masuk salon.
Tapi iklan yang berseliweran di televisi tentang produk kecantikan, yang menyebutkan bahwa putih itu cantik, tidak mempan untuk saya. Bahkan selalu saya bilang pada anak bungsu saya yang perempuan. “Ibu baru percaya saya produk seperti itu, kalau berhasil membuat orang dari Papua menjadi putih wajahnya seperti orang dari Korea.”
Saya tidak tergiur lihat wajah kemerahan karena kulitnya diamplas produk terus. Saya lebih suka melihat wajah-wajah yang tenang karena basuhan wudlu yang tiada putus.

Kulit di usia 40 bisa jadi berkurang kekeringannya. Dan itu bisa disiasati dengan rajin mengonsumsi buah dan sayuran di usia muda, juga banyak minum air putih.
Ingin bisa tetap gesit di usia 40? Lakukan olah raga rutin jauh sebelum masuk usia 40. Saya masih jalan kaki ke mana-mana atau bersepeda, di saat yang lain yang jauh lebih muda memilih motor.
Saya masih olahraga di rumah setengah sampai satu jam setiap hari. Masih berenang juga.
Dan itu tabungan yang memang harus dilakukan jauh sebelum masuk usia 40.

Yang paling penting adalah ikhlas.
Menjadi tua adalah takdir yang harus dijalani. Karena kita tidak mungkin muda terus.
Artinya akan berkurang dan diambil nikmat usia sedikit demi sedikit. Bersyukur. Nikmat kulit lembab dikurangi, itu artinya kita pikirkan isi kepala, isi hati.
Menjadi baiklah pada semua orang, paling tidak isi pikiran dengan pikiran positif. Dan itu akan terpancar jadi aura wajah kita.
Karena itu seringkan kita melihat seseorang, rasanya pancaran wajahnya membuat kita tenang. Sedang di saat yang lain, kita bisa melihat orang yang meskipun cantik, memandang wajahnya pun terasa tidak meneduhkan.

“Ibu, ayo jujur. Umur Ibu berapa, sih?” tanya si Bungsu.
“Kasih tahu, gak, ya?”
“Iiih, Ibu…”

Ajarilah Anak Tetanggamu Membaca dan Menulis

tonggo-6

Mengajarkan anak membaca dan menulis?
Itu kebiasaan yang sudah saya rencanakan, bahkan sejak saya belum menikah. Kelak jika saya punya anak, saya akan ajarkan kebiasaan membaca dan menulis.
Karena apa? Karena kegiatan membaca akan membuat mereka memiliki wawasan yang luas. Sedang kegiatan menulis akan membuat mereka menjadi manusia yang bisa mengolah beban yang ada di hati mereka. Mereka bisa menuntaskan semuanya jadi sebuah tulisan.

Anak-anak saya, kalau senang ke toko buku, itu wajar namanya. Kalau mereka bisa menulis itu biasa namanya. Karena dua kemampuan itu yang selalu ajarkan setiap harinya. Bahkan di saat mereka sibuk pun, saya minta mereka luangkan waktu seminggu sekali untuk membaca dan menulis.

Tapi kalau anak tetangga?
Jujur, saya kok merasa tidak respek ketika ada membanggakan anak-anaknya berhasil, tetapi keberhasilan itu tidak memberi dampak yang signifikan untuk tetangga.
Saya kok juga tidak terlalu respek pada orang yang merasa sukses, tapi tetangganya justru berada jauh dari kata sukses.

Tetangga itu saudara paling dekat.
Susah kita, senang kita, akan terlihat oleh tetangga kiri kanan kita. Musibah kita misalnya diuji sakit atau bencana, mungkin akan membuat kerabat kita membantu. Tapi orang yang pertama kali tahu dan mengulurkan tangan adalah tetangga. Jika kita biasa berbuat baik dengan tetangga, maka timbal balik pun akan datang pada kita. Jika kita biasa menutup aib mereka, maka ketika kita memiliki aib pun, mereka akan melakukan hal yang sama.

Ajarkan Apa yang Mampu Diajarkan

“Kejarlah cita-citamu setinggi langit, tapi jangan lupa pasir di tanah.”

Itu kata mutiara yang dulu ditulis oleh teman saya dalam sebuah buku. Kalimat entah dari mana, tapi membuat saya berpikir panjang.
Pasir di tanah, tempat berpijak, sesuatu yang ada di dekat kita. Tidak boleh dilupakan.
Semua mengejar banyak cita-cita. Keliling dunia. Menjadi sukses. Lalu berbuat untuk orang banyak. Ukuran mereka tinggi sekali, sampai-sampai lingkungan sekitar tidak dianggap alias tidak ada.
Saya kenal beberapa orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain. mencari lingkungan yang dianggapnya pas sesuai selera.
Sempat berpikir, kenapa ia tidak berjuang merubah lingkungan tempat tinggalnya.

Iya. Anggap saja lingkungan kita adalah amanah untuk kita. Sama seperti amanah anak.
Jika buruk bantu memperbaiki. Jangan lepaskan begitu saja.
Saya pernah merasakan tinggal di rumah susun yang tidak kenal penghuni di depan rumahnya, padahal hanya beda dua langkah saja. Yang segan untuk menegur karena masing-masing seolah memasang tanda di kening mereka, jangan tanya macam-macam. Saya pernah tinggal mengontrak di Jakarta yang sebelahnya orang Nigeria beristri perempuan Bandung. Ketika si istri mengobrol lama dengan saya, malamnya terjadi pertengkaran sengit. Suami seolah tidak suka si istri bicara banyak pada tetangga. Entah apa alasannya.

Saya pernah tinggal di kontrakkan yang lain dalam satu rumah dengan dua lantai. Saya menempati lantai pertama, sedang lantai kedua dihuni oleh beberapa penghuni yang tinggal di kamar-kamar kecil. Profesi mereka dari pedagang nasi goreng, sampai supir. Bahkan akhirnya saya tahu kalau ada yang berdagang tubuh alias PSK dan copet, lelaki tampan yang selalu siap bekerja di saat ada tabligh akbar atau keramaian lainnya.
Dulu sebagai pengontrak tidak kuat rasanya tangan mengubah.

Setelah memiliki anak, yang saya tahu anak saya tidak boleh pintar sendiri.
Yang saya tahu, buku saya tidak boleh saya lahap sendiri.
Yang saya tahu, jika anak-anak saya tahu ada teman lain yang suka membaca dan bisa menulis, maka mereka tidak merasa asing.
Sejak itu saya mulai bergerilya dari satu sekolah negeri ke sekolah negeri lainnya, untuk mengajarkan menulis.

Lingkungan yang baik tidak tercipta dengan sendirinya.
Kita yang sadar harusnya bergerak untuk menjalankan amanah itu.
Saya suka membaca, banyak buku di rumah, maka saya bertanggung jawab untuk itu pada lingkungan saya.
Yang bisa memasak, bertanggung jawab untuk hal itu.
Yang bisa membuat kerajinan juga sama.
Langkah kecil itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan tentu saja, akan membuat kita tersenyum karenanya.

Mengajari Anak Berdoa tanpa Perantara

bersama-ibu

“Ibu tidak bisa apa-apa. Kalian yang harus berjuang dengan berdoa.” Kalimat itu biasa saya katakan pada anak-anak, jika mereka berharap total pada saya.
Tidak.
Orangtua bukanlah makhluk sempurna. Bisa diandalkan tapi tidak bisa memenuhi semuanya. Pada saat itu anak harus paham, bahwa orangtua tetaplah manusia biasa. Yang harus mereka andalkan adalah yang menciptakan mereka.

“Berdoa minta apa, Bu?”
Berdoa minta apa saja, itu yang selalu saya katakan pada anak-anak. Iya, minta apa saja dengan penuh keyakinan, bahwa permintaan akan dikabulkan. Karena Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Karena ada waktu di mana doa mudah diijabah. Karena doa yang diucapkan pada hati yang dipenuhi harap dan cinta, akan mudah terkabul.
Itulah kenapa doa Nabi Muhammad untuk Umar selama enam tahun, dikabulkan. Umar yang dianggap tidak mungkin berpindah keyakinan, berubah menjadi panglima yang setia mendampingi.
Itulah kenapa doa orangtua pada anaknya mudah untuk dikabulkan, karena orangtua punya banyak cinta untuk anaknya. Begitupun sebaliknya.

Ada waktu doa mudah untuk dikabulkan.
Pada saat sujud terakhir, antara hujan dan iqomah, juga pada saat hujan turun.
Ada cara agar doa dikabulkan. Seperti nasehat Rasul pada pamannya Sa’ad yang doanya selalu Allah kabulkan. Jaga apa yang kita makan. Haruslah makanan kita adalah makanan yang dihasilkan dengan cara yang baik, dan tidak menzalimi orang lain.

Jadi ingat zaman dulu, ketika masa abege. Saya pernah berdoa. Berdoa minta apa saja.
Minta agar Bapak tidak marah jika saya pulang dengan ulangan yang buruk. Doa agar guru ngaji saya terlambat, biar saya bisa main dulu, dan doa agar seseorang yang saya taksir juga punya perasaan yang sama.

Ada banyak doa yang dikabulkan dan ada banyak yang juga tidak.
Doa yang selalu saya ucapkan berulang-ulang dengan perasaan terzalimi terasa sampai sekarang.
Dulu tubuh saya gemuk, dan entah kenapa kok selalu ada mulut iseng yang mengatai macam-macam, padahal saya tidak melakukan hal yang saja. Maka saya berdoa. “Ya Allah, tolong buat saya kurus dan tidak pernah gendut lagi.”
Alhasil sampai sekarang, tubuh saya sulit untuk menjadi gemuk. Banyak makan sedikit, pasti perut saya akan protes dan saya akan mudah bab berkali-kali.

Tidak Perlu Perantara

Ada orang yang disucikan yang selalu dimintai doa. Ada ziarah kubur, yang harusnya membuat kita sadar bahwa hidup di dunia tidak selamanya, tapi malah dipakai untuk meminta doa dan keberkahan pada yang sudah meninggal. Ada dukun-dukun yang dimintai doa yang datang padanya.

Saya hanya belajar dari yang Bapak ajarkan.
Berdoa hanya pada Allah, tidak perlu pakai perantara. Bersihkan dulu sebersih-bersihnya.
Maka saya berdoa apa saja hingga kini.
Saya berdoa agar utang-utang kami lunas tidak menyisakan jejak, ketika suami ditipu dan usaha bangkrut menyisakan utang dan sulit makan sehari-hari.
Saya berdoa minta uang pada Allah. Tentunya saya terus bekerja. Ternyata rezeki mengalir dari mana saja. Tawaran jadi editor bahkan kemenangan di berbagai lomba menulis, membuat hutang itu lunas tak tersisa.

“Ibu…, aku mau bangun tahajud dan berdoa.”
Saya mengangguk. “Memang harus kamu yang berdoa. Sebab doa anak yang sholeh akan tembus ke langit.”
Maka di rumah, anak-anak sudah terbiasa.
Ketika ingin nilai ulangan bagus, selain belajar mereka juga bangun tengah malam untuk tahajud. Bahkan ditambah dengan puasa sunnah.
Ketika mendapat masalah, saya lihat mereka berlama-lama di atas sajadahnya.
“Jangan pernah mendoakan orang lain dengan doa yang buruk. Doakan yang terbaik untuk mereka.”
Anak-anak paham.

Saya sendiri bahagia.
Doa mereka tembus ke langit, diterima atau tidak, dikabulkan sekarang atau nanti, adalah proses untuk mereka belajar berharap dan bergantung hanya pada Allah.
Kelak mereka akan berada pada satu zaman yang sulit, yang harus melangkah sendiri karena sebuah keyakinan, tapi mereka tetap tangguh. Karena mereka yakin, ada Allah yang selalu bersama mereka.

Agar Semua Terasa Cukup

“Ya Allah, kenapa baru tengah bulan begini uang belanja sudah habis? Padahal tidak beli macam-macam. Tidak kredit ini itu,” keluh Bunda Tito pada ibu lainnya ketika mereka sedang menghabiskan sore menjelang maghrib di luar pagar rumah mereka.
“Sama, saya juga begitu. Makanya besok mau cari hutangan deh biar bisa makan.”

Percakapan itu percakapan biasakan? Percakapan yang biasa kita dengar bila berada pada suatu lingkungan yang memang seragam. Biasa terjadi di perumahan sederhana di mana para Bunda banyak yang menjadi ibu rumah tangga sejati dan sang suami berangkat pagi baru pulang malam hari.

Ya Allah cukupkan aku dengan yang halal, jauhkan dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan Rahmatmu sehingga tidak meminta-minta kepada selain Engkau.

Percayakan kalau berapapun uang yang ada di tangan tidak akan cukup bila kita tidak belajar untuk mencukupkan? Tidak mau berusaha menekan apa yang harusnya ditekan?
Harga-harga kebutuhan pokok melonjak itu terjadi dari tahun ke tahun. Yang mengeluh soal hal ini bukan datang dari kalangan tidak berpunya saja, tapi dari kalangan yang berpunya sekalipun.

Di sekolah mahal dan sekolah negri sekalipun sama ributnya mengenai biaya ini dan itu . Di tukang sayur tradisional dan supermarket para Bunda sama telitinya untuk memilih mana barang yang efiien untuk kantong mereka.
Lalu apa yang membedakan?
Rasa syukur tentu saja. Itu hal paling penting yang akan membuat perbedaan besar. Dari rasa syukur itu akan ada keahlian lain yang mengimbanginya. Keahlian untuk mengedepankan kebutuhan utama dan menekan kebutuhan yang tidak cukup penting.

Kita memiliki uang seratus ribu tentu tidak akan cukup bila berpikir akan makan mie di warung mie ayam. Setelah itu membelikan anak-anak jajan di mini market. Kita juga akan merasa sangat tidak beruntung karena uang itu tidak cukup untuk membeli hal-hal lain yang masih diangankan. Sprei baru, lipstick baru atau kerudung baru.
Coba kalau dari uang yang seratus ribu itu kita berpikir untuk menyisihkan beberapa bagian untuk bersedekah. Setelah itu periksa beras di rumah. Beli satu atau dua liter. Telur, minyak, susu anak, deterjen, sabun. Insya Allah akan masih ada sisa yang bisa kita berikan pada anak-anak untuk jajan di warung terdekat. Masing-masing anak seribu saja. Mereka pasti akan senang karena masih diberi uang jajan sama seperti teman yang lain. Bila perut mereka kenyang di rumah tentu mereka tidak akan merengek ini dan itu lagi.

Kebanyakan dari kita merasa tidak cukup bukan karena tidak cukup yang sebenarnya. Tapi karena memaksakan kebutuhan yang seharusnya tidak perlu. Dan kurangnya rasa bersyukur.

Kita sering merasa kurang harga dirinya bila tidak memasukkan anak ke less ini dan itu karena takut dianggap sebagai Ibu yang tidak tahu persaingan ketat di masa depan. Padahal dengan meningkatkan kualitas kita sebagai ibundanya di ruma,h anak-anak pasti akan lebih nyaman dan mudah mengerti ketimbang belajar pada orang lain.
Allah akan memberi dari arah yang tidak disangka-sangka pada orang yang pandai bersyukur dan bersabar.

Bila merasa pemberian pasangan tidak mencukupi coba hitung dengan lebih jelas lagi. Kurangi standar kita. Tagihan listrik bisa dikurangi dengan lebih efisein menggunakan peralatan rumah tangga. Bila siang jangan nyalakan lampu. Matahari mampu menerangi ruangan dengan sempurna bila jendela kaca tidak tertutup kain hordeng. Televisi jangan dijadikan seperti radio. Ketika tidak ditonton ya matikan. Jangan sambil tidurpun televisi masih menyala dengan alasan tidak mendengar bunyi-bunyi. Berzikir pasti akan lebih menyamankan ketimbang mendengar acara televisi.
Anak-anak beri makanan yang cukup. Sarapan sebelum berangkat sekolah. Jangan ke luar rumah dalam keadaan lapar sehingga ia tergiur makanan temannya atau tergiur tukang jajanan yang justru akan membuat mereka sakit perut nantinya.

Kita sebagai Ibu, harus banyak membaca dan menambah wawasan sehingga anak-anak menjadikan kita sebagai perpustakaan pertama.
Sedekah.
Apa yang kita miliki coba sedekahnya. Jadikan sebagai rutinitas harian. Kalau takut membuat tetangga yang kelihatan susah tersinggung dengan sedekah uang, ganti saja dengan sayur dan lauk pauk yang tentu akan mengenyangkan mereka dan membuat mereka bisa tertidur pulas tanpa menahan perih kelaparan.
Kalau punya tanah kosong di depan rumah, tanam pohon cabe atau tomat dan biarkan siapa yang membutuhkan mengambilnya tanpa perlu minta ijin dulu pada kita.

Setelah itu serahkan pada yang Kuasa. Beliau akan memberikan keajaiban yang tak terduga-duga. Apa yang kita rasakan dan apa yang anak-anak inginkan akan datang dengan sendirinya ke rumah, tanpa kita perlu memintanya pada orang lain.
“Bu ayam ini dari mana? Tadi kan aku minta makan ayam tapi uang Ibu tidak cukup. Kok sekarang bisa beli ayam?”
Kalau sudah bersyukur, yakinlah tidak ada yang tidak cukup. Semuanya jadi begitu berlebihan.
Apa yang kita inginkan akan menembus langit dan Allah bisikkan ke telinga orang-orang tertentu yang akan datang ke rumah dan memberikan sesuatu yang kita dan anak-anak inginkan itu.

Percayalah.