Penulis, Perlukah Bisa Bicara di Depan Umum?

“Aku penulis.” Saya ingat dulu itu yang saya katakan dengan kaki gemetar.
Iya, saya penulis. Saya jadi penulis karena merasa nyaman tidak perlu tampil di atas panggung, untuk menyuarakan suara hati saya. Dulu zaman SD, saya memang terbiasa untuk tampil. Dari baca puisi sampai menyanyi, dan menari. Itu juga tanpa dorongan orangtua. Tapi kepercayaan itu datang dari guru, ustadz, juga teman.

Lama kelamaan setelah saya kenal menulis, saya lebih nyaman untuk tidak di panggung. Saya lebih suka menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Semuanya. Karena semuanya itu sudah saya luapkan dalam bentuk tulisan, maka dampak baiknya adalah saya tidak butuh bersuara. Saya merasa nyaman dengan dunia sendiri. Merasa orang menuduh ini dan itu tidak apa=apa. Sudah saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan.

Semakin lama lagi ternyata saya seperti punya dunia sendiri. Membangun angan-angan sendiri, komunitas dalam angan-angan. Orang lain tidak mengerti tidak masalah. Saya sudah bahagia.

Akhirnya….

Akhirnya si katak dalam tempurung, Bapak selalu mengingatkan agar saya jangan jadi katak dalam tempurung. Saya jangan merasa sudah oke. Uh, jadi ingat si anak SMA yang sedang booming di sosial media. Seusianya berteman dengan berbagai macam buku, pastilah akan menemui kondisi seperti saya. Susah menemukan lingkungan yang pas untuk diajak ngobrol. Untung zaman dulu tidak ada sosial media. Jadi semua pikiran dan keanehan hanya berkecamuk untuk diri sendiri saja.

Begitu saya memutuskan untuk berubah, maka perubahan itu terbentang di depan mata. Ketika itu saya putuskan, saya harus kuliah di tempat yang umum, bukan lagi di Universitas Terbuka. Tujuannya biar saya punya lingkungan dan teman sepergaulan. Dari sana mungkin saya bisa belajar untuk berjalan mundur.

Terlambat lima tahun saya ketika masuk kuliah. Teman-teman saya lima tahun lebih mudah. Ada memang yang lebih tua dari saya, tapi kebanyakan pegawai yang butuh gelar untuk kenaikan jabatannya.
Bersyukur karena biasa menulis, dan semua beban masalah tersalurkan, sehingga wajah saya tidak menua. Artinya ketika kumpul dengan yang lebih tua, saya malah sering dianggap lebih muda.

Itu titik awal perubahan. Persis seperti satu ayat dalam Al Quran. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11.
Saya yang bisa merubah nasib. Bukan orang lain. Ketika saya berjuang untuk itu, membuka semua pintu kemungkinan, maka akan terbukalah semuanya.

Saya kuliah dan terus menulis. Uang pangkal kuliah saya bayar dari menang lomba cerita bersambung majalah Gadis dan nominasi majalah Gadis. 4 juta dulu uangnya. Uang kuliah saya bayar dengan honor-honor menulis saya.
Tentu saya memperkenalkan diri sebagai seorang penulis kepada dosen dan teman-teman. Pada masa itu, kebetulan saya produktif. Produktif yang menjadi keharusan, karena saya harus bayar kuliah.
Karena produktivitas itu, saya diminta beberapa media untuk tampil dalam acara media tersebut. Acara di beberapa kota.

Tampil? Iya, tampil yang sebenarnya tampil. Jadi pembicara pula. Dan lawannya orang-orang yang sudah punya nama besar. Alhamdulillah, saya tambah grogi. Tapi bahagia.
Lalu pihak universitas juga minta saya jadi pembicara di kampus beberapa kali. Audience dosen dan teman kampus. Grogi juga. Karena si audience anak-anak FISIP yang waktu itu lagi senang demo menentang orde baru. Tapi saya tidak dibantai kok. Tahulah mereka, saya bukan teman yang suka ribut dan suka menjatuhkan orang. Jadinya mereka pun hati-hati bersikap kepada saya ketika saya di panggung.

Lanjut Terus

Saya pikir pengalaman bicara di depan umum itu, akan berhenti sampai di situ. Jadi ibu rumah tangga, tetap nulis. Kembali ke zona nyaman. Bukan jadi pembicara setelah itu. Karena saya ngantor dan malah sering dipercaya jadi pengajar karyawan baru.
Keahlian mengajar melebar, akhirnya jadi mengajar anak-anak tetangga.
Saya nyaman menulis dalam keheningan. Baru sadar kalau saya harus tampil ketika saya menerbitkan buku dan diminta launching.
Saya tidak suka berpenampilan yang aneh-aneh. Maka saya selalu tampil seadanya. Adik-adik saya yang suka protes, kadang mereka memilihkan baju yang pas untuk saya. Biar enak dilihat, begitu kata mereka.

Saya harus mau berkembang. Saya harus berani tampil.
Satu jam atau setengah jam sebelum tampil, biasanya saya sudah ada di tempat. Saya harus membayangkan diri saya ada di sana. Saya bisa memahami lokasinya, audiencenya.
Biasanya saya juga hanya akan bicara tentang menulis sesuai keahlian saya.
Tapi pernah ketika jadi pembicara di UNS yang dihadiri dosen dan seratus orang mahasiswa, saya berdoa sambil memasukkan kekuatan ke otak saya. “Hei, Nur, mereka itu gak tahu apa-apa tentang menulis. Meski mereka ada di fakultas sastra, tapi pengetahuan mereka masih minim. Kamu punya banyak ilmu yang bisa dibagi untuk mereka.” Itu kalimat yang terus saya dengungkan di kepala saya.
Biasanya setelah itu lancar.
Di tempat lain juga seperti itu. Mereka yang datang, ingin mencari ilmu. Kenapa saya harus takut berbagi ilmu?

Saya terus berproses. Menyadari bahwa penulis zaman sekarang tidak bisa lagi bersembunyi di balik tulisannya. Orang ingin tahu lebih banyak, siapa penulisnya. Apakah kebaikan yang ditulis penulis, benar tercermin dari sikapnya? Apakah ilmunya benar diresapi atau sekedar copy paste.

Saya masih terus belajar untuk itu. Memperbaiki diri, memperbaiki kualitas tulisan, dan memperbaiki kualitas ketika harus tampil. Tujuannya biar yang menerima ilmu saya merasa nyaman dan ilmunya bisa merasuk lebih dalam lagi.

Ketika Proses Mengeja Juz Amma, Membuat Generasi yang Tidak Instant

Pernah mengaji?
Mengenal juz amma versi tahun 1970 an?

Saya produk mengaji tahun 1970 an, dan menghasilkan anak-anak dengan produk tahun 2000 an. Saya dulu mengaji di madrasah dan mengaji ke seorang guru ngaji. Dua kali mengaji sepulang skeolah.
Pulang sekolah, istirahat sebentar, makan ganti baju dengan seragam madrasah, lalu pergi ke masjid yang berfungsi sebagai madrasah.
Apa yang diajarkan di sana?
Banyak termasuk ilmu fiqih, hadist, tajwid, Bahasa Arab, sampai hafalan Al Qur’an.
Pulang lagi, malam sehabis maghrib saya kembali lagi mengaji ke guru ngaji untuk khusus belajar tajwid dan membaca Al Quran. Otomatis tidak ada waktu untuk belajar di sekolah, ya.
Tapi entah kenapa pada masa-masa itu, masa SD dan SMP, nilai saya selalu tinggi. Hingga saya bisa mengambil kesimpulan bahwa yang melancarkan otak saya adalah karena mengaji.
Soalnya ketika besok ada ulangan, kok bisa tiba-tiba terbersit di otak pelajaran yang harus saya pelajari dan menurut feeling saya akan ke luar. Dan besoknya itu terjadi.
Pernah, ada soal yang saya tidak pernah belajar sama sekali.
Guru di sekolah hanya mengajari tentang kaum Muhajirin. Lalu di tes ada soal tentang kaum Anshor. Maka logika saya hanya mengajak untuk menjawab dengan logika berdasarkan ilmu tentang kaum Muhajirin.

Mengaji Zaman Dulu

Apa, sih, yang dipelajari dalam pengajian zaman dahulu?
Kami mengaji untuk lancar membaca Al Qur’an dengan juz amma model seperti di atas. Waktu itu belum hadir buku Iqra yang langsung membaca a i u.
Untuk menghasilkan kata a i u, kami harus mengenali huruf satu persatu lebih dahulu. Dari alif sampai ya.
Setelah semua huruf kami kuasai, maka mulai mengeja.
Alif fathah a, a.
Alif kasrah i, i.
Alif dhomah u, u.
A i u.

Kami tentunya tidak bisa langsung membaca dalam satu pertemuan. Setiap pertemuan lanjut tidaknya ditentukan dengan kemampuan kami.
Setelah itu ada proses menyambung huruf. Huruf di depan, huruf di tengah dan huruf di akhir.
Setelah lancar semua, horeee kami naik tingkat.
Bisa membaca juz amma alias surah pendek di juz 30. Dimulai dari Al Fatihah. Tapi selancar apapun kita sudah bisa mengeja, tetap surah itu harus diejak juga.
Misalnya
Bismillahirrahmanirrohiim
Dieja dulu dengan ba sin mati kasrah bi. mim lam lam tasjid kassrah mil, lam fathah la, ha ra tasjid kasrah hir, ra fathah ra, mim fathah ma, nun ro tasjid kasrah nir, ra fathah ra, ha kasrah hi, mim kasrah mim.
Baru bisa baca langsung kalimat bismillah.
Dan sepanjang membaca surah Al Fatihan harus dieja seperti itu. Jadi sekali setor ke ustadzah tidak ada yang bisa langsung selesai dari ayat pertama sampai ayat terakhir.Paling mentok hanya dapat tiga ayat.

Tapi apa yang saya dapat dari hasil mengeja seperti itu?
Saya ternyata menjadi generasi yang setia pada proses, tidak patah semangat.
Dan mudah membuat target yang dipatuhi untuk mencapai target tersebut.

Anak-Anak Hebat di Sekolah Alam Bogor

Seminggu yang lalu ada pesan masuk di inbox FB saya. Pesan dari Ruri Irawati yang bertanya. Maukah saya mengisi sharing kepenulisan di Sekolah Alam Bogor, tempat anaknya menimba ilmu?
Ruri Irawati ini enam belas tahun yang lalu pernah jadi teman sekantor saya, lalu kami bertemu di FB dan dia jadi murid menulis saya.

Sharing kepenulisan saja sudah membuat saya melonjak girang. Audiencenya anak-anak, membuat saya bahagia. Dan sekolah alam, membuat rasa ingin tahu saya yang besar semakin membesar saja.
Ketika saya bilang oke, Ruri lalu menghubungkan saya dengan Pak Erfano. Pak Erfano ini yang membina klub menulis di Sekolah Alam Bogor.
Saya terhubung dengan Pak Erfano. Lalu beliau bicara tentang tekhisnya. Fee saya sebagai pembicara dan hal detil lainnya. Termasuk di mana acara itu berlangsung.
Oke. Setuju. Saya ditanya mau pakai apa? Jika ingin slide nanti akan dipersiapkan. Tapi sungguh berkali-kali mengajar, saya tidak suka menggunakan slide. Alasannya sederhana. Saya tidak ingin orang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan saya. Dan saya tidak mau gambar-gambar di dalam slide jadi lebih menarik dari paparan saya.

Wayang-Wayangan Gambar

Persiapan yang saya lakukan sebenarnya sama dengan persiapan mengajar di Kelas Inspirasi. Hanya setelah saya browsing tentang sekolah alam tersebut, saya mulai bisa lebih mengukur audiencenya. Penyelenggara bilang audience mereka anak kelas empat, lima, enam juga anak SMP.
Pelajari fanpage dan web sekolah alam, saya mulai bisa mengukur audiencenya. Mereka yang sudah mulai terbiasa dengan klub menulis, pastilah punya sesuatu tentang ilmu menulis, yang sudah disampaikan oleh guru-gurunya.
Mereka yang setiap tahu ada program literacy, pastilah punya ilmu lebih ketimbang yang lainnya.
Dan mereka dididik dekat dengan alam dan bebas berekspresi, pastilah akan menjadi responden yang aktif.

Saya persiapkan semuanya.
Termasuk buku-buku yang sesuai. Saya punya buku dari Room to Read, dan tentunya bisa dipakai untuk kalangan mana saja.
Saya buatkan gambar saya print dan ambil dari internet, lalu tempelkan di tusuk sate yang saya punya di rumah.
Setiap gambar itu nanti bisa jadi panduan ide untuk mereka.

Pada Hari H

Persiapan untuk semuanya sudah beres. Sudah saya masukkan semua ke dalam tas. Jadi pagi tinggal beres.
Beres-beres cucian, setrikaan juga sudah. Maklum saya tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Takut nanti pulang capai, saya jadi kesal dengan kondisi yang ada.

Pak Suami mengantar ke stasiun. Anak-anak sekolah. Bersyukur Pak Suami ada deadline majalah dan komik, jadi pastilah deadline itu diselesaikan di rumah. Artinya tidak ada klien yang meminta datang ke kantornya.
Aman. Saya bisa berbagi ilmu sekaligus bekerja dengan leluasa, tanpa memikirkan lauk untuk makan siang. Karena kalau Pak suami ada di rumah, urusan lauk masalah gampang.

Berangkat jam setengah enam dari rumah menuju stasiun Bekasi. Bersyukur dapat kursi di commuter. Meskipun penuhnya minta ampun.
Turun di Manggarai, lanjut commuter menuju Bogor. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya bisa leluasa duduk, karena commuter menuju Bogor kosong.
Sampai di Bogor jam setengah sembilan kurang. Masih bisa ke musholla untuk minta yang terbaik.

Setelah itu tanya via WA ke Ruri, setelah itu saya harus naik apa? Ruri bilang sebaiknya naik ojek saja, takutnya jam segitu Bogor macet.
Okelah, di pintu ke luar stasiun banyak abang ojek menawarkan jasa. Kenapa bukan ojek online? Itulah yang dinamakan rezeki. Entah kenapa saya malas naik yang online kalau tidak terpaksa. Mungkin juga karena saya paling malas terima telepon atau menelepon. Saya lebih suka via chating saja.

Ojek sudah dapat. Sekolah Alam Bogor konon katanya dari stasiun hanya butuh waktu 19 menit. Saya beri alamatnya jalan Pangeran Asogiri. Kata tukang ojeknya tahu sekolah itu.
Naik ojek seperti itu membuat saya bisa melihat bermacam pemandangan. Merasakan berkeliling kota Bogor. Sekolah Alam itu ternyata jauh juga dari stasiun. Dan saya suka jalan ke arah sana, seperti masuk ke area Puncak. Berkelok mendaki dan menurun.
Asyiklah untuk berpetualang.

“Bu, di sini, kan?” tanya si Tukang Ojek.
“Pangeran Asogiri, Pak. Ini Sogiri,” ujar saya.
Si tukang ojek berhenti di depan pesantren. Sambil bilang kalau yang dikenal di jalan itu adalah pesantren. Sambil bilang, ibu sih gak bilang kalau pangeran Sogiri. Kalau bilang kan dicari jalan yang lebih cepat.
Helloooo…
Ah biasalah begitu. Itu juga karena omongan negatif saya di awal, sih. Saya bilang, “Bang, saya jangan diajar muter-muter, lho. Nanti diajak muter jauh, tahunya dekat.”
Akhirnya kenalah omongan negatif itu ke saya.
Si Abang tukang ojek berbaik hati mencarikan, turun dan bertanya. Ongkosnya ditambah.
Akhirnya setelah lima kali bertanya, sampailah saya di Sekolah Alam Bogor.

Semangaaaat

Ketika diundang jadi pembicara atau pengisi acara, saya memang membiasakan datang lebih dahulu dari jamnya. Alasannya karena agar saya bisa merasakan atmosfirnya. Bisa melihat audicenya. Dan ini tentu saja sarana ampuh untuk menghilangkan grogi.
Tapi terbiasa bergaul dengan anak-anak, sedikit banyak yang menguasai hanyalah semangat. Apalagi guru-gurunya welcome dan baik hati.

Saya didampingi oleh Bu Monik, ibu guru favorit para murid, karena memang luwes pada anak-anak.
Sesuai kesepakatan di belakang panggung, Ibu Monik menjelaskan tentang siapa saya.
Lalu saya naik panggung.
Mau apa?
Berdiri di atas panggung, di hadapan anak-anak, yang pertama dilakukan adalah berbagi semangat. Semangat menulis. Maka saya ajarkan mereka tepuk menulis.
Anak-anak mulai sedikit tersengat.

Saya mau bicara apa, ya?
Saya mau meluaskan imajinasi anak-anak dengan menyingkirkan segala ketakutan. Menulis itu jangan takut. Apa yang ada diimajinasi tulislah.
Dan jangan sekedar menulis saja, tapi pikirkan ide yang unik. Ide dengan sudut pandang berbeda. Tujuannya agar cerita yang mereka buat menjadi menarik di mata pembacanya dan mereka juga suka membaca ulang kisah mereka karena seru.

Kalau teori saja akan membuat anak mengantuk. Percayalah.
Maka Ibu Guru harus berani turun panggung.
Turun panggung berulang kali. Memberikan gambar dan contoh ide yang unik, sampai anak-anak paham. Tandanya paham apa? Tandanya paham tentu saja mereka bisa menjawab lemparan gambar saya, jadi ide yang berbeda. Huah… saya terkejut-kejut. Mereka bukan cuma menuliskan ide, tapi berani maju ke depan untuk bertanya dan memaparkan ide mereka.

Saya berkeliling. Naik turun panggung itu adalah salah satu cara agar audience mereka diperhatikan. Dari depan sampai belakang beberapa kali. Mereka berlomba menunjukkan kertas tulisan mereka.

Oh ya, selama acara Ruri jadi juru foto saya. HP saya serahkan padanya, biar bisa mengambil semua angle. Meski pakai kamera HP saja, tapi apa yang tertangkap bisa buat dokumentasi berharga untuk saya. Thanks, Ruri.

Satu jam sesi tentang ide unik selesai. Sedikit latihan juga mereka kuasai. Saatnya berlomba membuat tulisan dengan ide yang unik. Saya menggambar di papan tulis, dan saya minta mereka menerjemahkan gambar itu.
Dan hu hu saya terharu. Ketika mereka berlari menuju kelas mereka untuk mengambil kertas, dan setelah itu mengumpulkan kertas berisi tulisannya.

Duh melihat mereka berjuang menulis, saya senang sekali.

Ada seratus kertas yang harus saya cek idenya. Kalau sudah biasa menilai, maka mudah untuk melihat sudut pandang penilaiannya.
Ada tujuh yang terpilih dan idenya unik.
Dan hebatnya dari tujuh orang itu, lima orang adalah anak laki-laki, sisanya perempuan.
Ada satu yang membuat saya terharu. Seorang anak berkebutuhan khusus, yang dari awal selalu berani mengungkapkan idenya, juga ikut menyerahkan hasil tulisannya. Meski idenya belum bagus, dan tulisannya kurang jelas, tapi saya berbisik ke Bu Monik. Saya ingin memberikan reward pada anak itu. Setelah tujuh anak turun panggung, anak itu naik ke atas panggung.

Saya juga mendapat kenang-kenangan, berupa merchandise hasil kerajinan tangan dari anyaman kertas murid sekolah alam, plus buku karya mereka juga piagam penghargaan.

Ruri mengajak saya kuliner di Bogor merasakan tauge goreng. Enak rasanya tauge goreng, Apalagi cuaca di Bogor mendukung, mendung gelap.
Setelah kenyang tauge goreng, kami pulang ke rumah Ruri. Saya main ke rumahnya numpang shalat juga.
Satu jam di sana akhirnya pamit pulang menuju stasiun kembali.

Pengalaman apa yang bisa didapatkan hari itu?
Dari sekolah alam saya belajar, bebaskan anak-anak, puaskan masa bermain mereka, tapi tetaplah ikat dengan akidah agama. Maka mereka akan jadi generasi hebat yang sesungguhnya.

Hadiah Produktif dari Suami

Istri mana yang tidak suka diberi hadiah?
Tentu setiap individu akan berbeda keinginannya akan hadiah.
Suami tahu, saya tidak suka hadiah perhiasan emas. Alih-alih memakai untuk menyenangkan pasangan, ujung-ujungnya pasti akan copot dan tercecer entah ke mana.
Maka untuk hadiah perhiasan, saya memilih membeli sendiri gelang manik-manik seribuan di abang-abang penjual mainan.

Hadiah yang produktif lebih saya sukai. Karena dengan begitu saya jadi berjuang memanfaatkan hadiah itu, agar jadi sesuatu yang bermanfaat.
Ingat ketika saya butuh sekali kamera. Kamera digital yang kecil pecah ketika saya jatuh dari motor. Pada saat itu suami juga butuh kamera, karena beliau akan bertugas ke Papua dan diminta untuk memotret.
Akhirnya kami sepakat. Patungan kamera. Separuh uang suami, separuh uang saya.
Lalu suami yang hunting ke teman-temannya yang fotographer. Jadilah kamera ini menjadi milik kami. Sekarang malah dipakai untuk anak abege kami, yang sedang belajar fotograpi.

Hadiah produktif membuat saya justru menghargainya.
Karena hadiah itu akan membuat saya menjadi manusia yang terus meningkatkan ilmu.
Meja kerja saya juga seperti. Meja kecil sebenarnya saya butuhkan. Tapi suami menawarkan meja besar. Dan saya setuju saja, karena tidak mungkin menolak. Ujungnya di atas meja itu saya bisa letakkan printer dan juga buku-buku yang tidak muat lagi di dalam lemari.
Meja itu bisa dipakai untuk anak-anak belajar. Tidak takut rusak juga ketika murid-murid datang. Karena meja itu cukup kuat.
Meja kerja ini juga membuat ruangan kerja saya seperti sebuah kantor yang sebenarnya. Dan kantor yang ditata sesuka hati saya, tentu membuat saya rindu untuk terus berada di dalamnya.

Hadiah produktif membuat saya semakin giat bekerja tentu saja.
Ujung-ujungnya hasil kerja itu bermanfaat untuk saya kok. Bermanfaat untuk pasangan dan anak-anak saya juga. Karena saya bisa membuat banyak kreasi.
Oven tangkring dari suami, bisa saya gunakan untuk membuat roti juga kue kering. Irit di pengeluaran tentu saja.
Mesin jahit tua yang membuat saya kesal pada awalnya, akhirnya toh bisa membuat saya berkreasi untuk membuat baju baru. Jadi sekarang kalau lihat baju ini ini, tidak tertarik lagi saya. Karena saya bisa membuatnya sendiri.

Hadiah produktif apa lagi, ya, yang saya inginkan?
Saya belum tahu juga.
Karena hadiah produktif yang ada di rumah, masih harus saya optimalkan.

Menjadi Tetangga yang Bahagia

Mencari bahagia di mana?
Ada banyak dunia maya. Ada banyak penggunanya yang tidak berinteraksi dengan dunia nyata. Dan mereka benar-benar mencari bahagia di sana. Berinteraksi dengan teman-teman yang tidak pernah dijumpai. Ber ha ha hi hi. Dan tidak mau ambil pusing dengan yang ada di sekelilingnya.

Saya pernah sedih ketika bermanfaat di dunia maya, tapi tidak produktif di dunia nyata. Karena itu saya berjuang untuk menyamakan manfaat baik di dunia nyata juga dunia maya. Saling bersinergi antara dunia maya dan dunia nyata.
Adanya dunia nyata membuat para tetangga yang menyibukkan diri dengan gadget dan punya akun sosial media, jadi paham siapa saya. Dan mereka jadi semangat untuk mendorong anak-anak mereka belajar di rumah.

Seimbang dan Bahagia

Harus seimbang. Itu yang saya pikirkan masak-masak.
Saya tidak mau kelak ketika saya meninggal, yang mendoakan adalah orang-orang dari jauh. Teman-teman di dunia maya saja. Sedang tetangga kiri kanan tidak merasa apa-apa. Karena saya tidak memiliki kontribusi apa-apa untuk mereka.
Saya ingin seimbang.
Saling mendukung.
Hingga kelak Allah ridla dan merestui apa yang saya lakukan.

Para pembaca buku saya, bukan tetangga saya. Mereka banyak yang saya kenal dari dunia maya.
Tapi pada akhirnya, buku saya juga dibaca oleh tetangga saya. Karena apa? Karena mereka ingin tahu, seperti apakah buku seorang yang mengajarkan anak-anaknya menulis di rumah?

Bahagia itu sederhana.
Bahagia itu pilihan.
Dan saya bahagia karena menjalani hidup dengan seimbang. Anak-anak dan pasangan juga belajar banyak, dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh ibu mereka.

Kisah Mesin Jahit Tua

Brown, si mesin jahit tua, teronggok di sudut halaman sebuah rumah. Tubuhnya sudah ditumbuhi karat. Penyangga kayu untuk menyangga tubuhnya pun, sudah banyak yang hancur. Jika ada hentakan keras, pasti tubuh besinya akan jatuh tergeletak di tanah.
Mereka akan pindah. Dua anak kecil berlarian memandangi barang-barang yang dimasukkan ke dalam truk. Sejak pagi Brown pandangi. Satu-persatu barang dimasukkan, tapi Brown tidak.

“Kirim saja ke tempat yang lain…”
Brown mendengar suara itu. Maka setelah itu munculah mobil kecil, yang mengangkut Brown. Sudah malam ketika Brown dibawa menuju suatu tempat, bersama barang rongsokan lain. Ada sepeda bekas yang berkarat, ada akuarium yang sudah rusak. Ada batu-batu kolam juga.

Di sebuah rumah, mereka diturunkan. Halaman kecil rumah itu menjadi penuh sesak. Brown teronggok sampai pagi buta, ketika melihat seorang Nyonya keluar rumah. Wajah Nyonya itu muram, dengan kepala menggeleng berkali-kali.
“Kenapa semua barang rongsokan ditaruh di sini semua?”
Brown melihat si Tuan diam.
Nyonya masih mencoba membersihkan halaman kecilnya, agar mudah dua anak ke luar rumah untuk sekolah. Beberapa kali Brown melihat tarikan napas si Nyonya. Dan gumaman dengan mata sedih, tentang barang-barang rongsokan yang berpindah tempat.

**

Si Tuan membawanya.
Brown merasakan besi tuanya dicopot dari tempatnya. Brown merasakan Tuan menaikannya ke atas motor. Nyonya sudah membersihkan teras. Beberapa barang, sudah berpindah ke gerobak tukang loak yang dipanggilnya.
“Kamu harus jadi bagus, biar Nyonya tidak mengomel…,” ujar Tuan.
Maka Brown dibawa ke sebuah tempat. Brown kaget. Ia bertemu dengan teman-teman sesama mesin jahit. Mereka sama tua seperti dirinya. Mereka bernasib malang, dibuang dan tidak diambil lagi.
“Tambah dinamo dan servis, ya…”
Brown mendengar suara Tuan bicara.
Lalu Brown ditinggalkan.

**

“Sudah betul? Bisa?” tanya Nyonya pada Tuan yang membawa Brown. Brown sudah ditambahi dinamo, dan beberapa kayu yang rusak sudah diganti oleh Tuan, sehingga Brown tidak akan jatuh lagi.
Brown melihat Nyonya itu belajar mencintainya. Meski kadang-kadang wajahnya terlihat kesal. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedih. Karena barang rongsokan yang datang ke rumah. Padahal Nyonya itu mampu untuk membeli mesin jahit lain yang lebih bagus.

Brown melihat Nyonya itu mengerjapkan mata beberapa kali. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedang mengingat apa yang dikatakan orangtuanya. Untuk menerima pemberian orang lain, meski itu buruk. Agar orang yang memberi itu tidak sakit hati.
Brown tahu, Nyonya itu bukan tidak suka dengan Brown, tapi tidak suka dengan cara orang yang memindahkan barang rongsokan ke rumah. Nyonya itu merasa direndahkan.

“Bu…., celanaku sobek. Ibu bisa jahit?”
“Ayahmu yang bisa.”
Percakapan itu Brown dengar. Nyonya itu masih belajar mencintai Brown dan belum ingin menggunakan Brown.

Sampai suatu hari, datanglah sebuah hadiah untuk Nyonya. Sebuah hadiah manis yang teronggok di lemari. Kemudian hadiah itu digunting oleh kerabat si Nyonya. “Jahit saja.”
Maka Nyonya itu mulai mendekati Brown. Megelus Brown. Mencoba memutar benang.
Terus-menerus sepanjang hari.

Sebuah baju berhasil Nyonya buat. Baju lain menanti.
“Ibuuuu, aku suka bajunya. Buatkan aku baju yang lain, ya.”
Si Nyonya mengangguk.
Brown tahu, mulai tumbuh cinta Nyonya padanya.
Brown berjanji tidak akan mengecewakan si Nyonya.

Ketika Senyum Tulus Menjadi Bayaranmu

Apa yang paling membuat bahagia?
Yang paling membuat bahagia belakangan ini untuk saya, adalah ketika melihat wajah-wajah polos tersenyum. Ketika senyum itu membuat saya melihat gambaran panjang tentang masa depan mereka. Sepuluh tahun ke depan, duapuluh ke depan dan tahun-tahun panjang lainnya.

Anak-anak yang bersemangat dengan ilmu baru, dan akhirnya menularkan semangat pada saya. Sehingga saya berjuang untuk melakukan banyak hal juga meminimalisir keluh.

Anak-anak menjadi prioritas utama pada saya belakangan ini.
Dulu pernah berjanji, kalau Allah hanya memberi saya dua anak sebagai rezeki, maka saya harus fokus memperbanyak anak-anak orang lain yang akan sama-sama saya kasihi juga akan saya beri limapahan ilmu.
Dan ternyata Allah memang hanya memberi saya dua anak yang sudah beranjak remaja. Maka saya harus memenuhi janji, untuk merengkuh anak-anak lain untuk saya beri limpahan ilmu juga kasih sayang.

Anak-anak membuat saya bahagia.
Mereka yang memiliki orangtua hanya fokus pada pelajaran justru membuat saya miris. Mereka yang punya orangtua hanya fokus pada rangking, justru membuat saya tertantang untuk memberikan banyak.
Ada banyak hal yang harus mereka ketahu dan membuat wawasan mereka luas. Jalannya tentu saja dengan menularkan apa yang saya miliki.

Mengajarkan kreativitas tidak mudah.
Meyakini bahwa kreativitas membuat bahagia juga tidak mudah. Apalagi untuk orang-orang yang yakin bahwa uang dan bekerja di kantorlah yang akan membuat bahagia.
Meyakini bahwa dengan banyak membaca membuat pintar, dan jika sudah pintar, maka akan mudalah meraih semuanya.

Langkah saya tertatih-tatih.
Mengetuk satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk minta jadi guru. Tapi saya ingin diberi ruang untuk mengajari anak-anak di sana tanpa bayaran.
Mereka suka dan bahagia sudah jadi bayaran untuk saya.
Ketukan tidak dijawab.
Satu-persatu pengurus masjid saya datangi, hanya ingin menggerakkan perpustakaan yang ada di masjid. Satu masjid menjawab, diberi ruang, tapi tidak berkelanjutan karena pengurus yang antusias kebetulan sedang hamil.
Masjid lainnya menguap tak memberi jawaban.
Masuk ke TK menawarkan diri juga tidak ditanggapi.
Saya pikir ada yang salah. Mungkin mereka berpikir saya meminta bayaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai dari rumah. Percaya pada potensi diri di rumah dan berjalan sendiri saja.
Satu persatu anak pemulung menerima sambutan.
Satu-persatu anak tetangga datang.
Satu-persatu anak dari lingkungan lain datang.
Alhamdulillah sampai juga di titik ini.

Ada saatnya uang tidak bisa bicara.
Ada yang pada saatnya lebih bernilai dari hanya lembaran rupiah. Yaitu ketika kerja keras kita dibayar dengan senyum dari orang yang butuh. Iya butuh.

Masih banyak pintu PAUD di perkampungan yang akan saya ketuk.
Mungkin akan mengetuk instansi atau lembaga yang berwenang juga.
Saya hanya ingin membuat perubahan kecil saja. Hanya kecil saja.
Sebab senyum mereka sudah membuat saya bahagia.

Resep Cantik Ibu dan Marcks

review-1

Ada banyak resep cantik, tapi saya selalu percaya resep cantik yang selalu Ibu ajarkan. Ikhlas itu yang paling utama tentunya. Rutin olah raga. Jaga makanan termasuk konsumsi sayur dan buah.
Ada banyak resep cantik, bukan dari salon atau iklan-iklan yang berseliweran di sosial media. Tapi resep cantik dari Ibu, itu yang selalu saya percaya.
Sebab saya melihat prosesnya. Sebab saya diajarkan bagaimana caranya. Dan melihat seperti apa hasilnya.

“Pakai bedak ini…”
Itu dulu Ibu tawarkan pada saya. Ketika saat remaja, saya bingung dengan satu-persatu jerawat yang muncul.
Ingat, Ibu biarkan saya berproses untuk memilih. Sebagai abege dulu saya ikut-ikutan teman yang lain, untuk berganti-ganti merk bedak. Apa yang baru muncul di iklan, itu yang diberi.
“Buat jerawat, buat keringat.”

Saya mulai rutin akhirnya memakai marcks.
Berganti-ganti warna. Kadang saya membeli yang berwarna rose. Kadang memilih yang putih. Kadang juga mengganti dengan yang cream.
Ketika sedang berjerawat, saya memakainya sebelum tidur. Untuk deodoran sebelum berangkat beraktivitas.
Saya orang yang tidak mudah percaya. Tapi Marcks
memberikan bukti bukan sekedar janji. Itu yang membuat saya percaya, dan akhirnya menurunkan rasa percaya itu pada anak saya, seperti Ibu menurunkan pada saya.

img_3113

“Ibu ada bedak?”
Ketika pulang kampung dan lupa membawa bedak, Ibu biasanya akan menunjuk ke satu tempat di wadah rotan miliknya.
Ada banyak tumpukan bedak marcks. Hanya satu, dua yang masih ada isinya. Lainnya sisa wadah bedak. Ibu jadikan sebagai tempat peniti, jarum atau pernak-pernik lainnya.
Bersyukur warung dan di apotik dekat rumah Ibu, bedak ini mudah didapatkan dengan harga terjangkau.

“Bu…, lihat. Masa aku ada jerawat.”
Suatu hari anak gadis saya menunjuk jerawatnya.
“Gampang. Pakai bedak marcks Ibu aja.”
“Bu…., Mas bau badan…,” anak gadis mengeluh soal keringat kakaknya.
“Pakai bedak marcks…,” ujar saya pada yang sulung.

Apa yang Ibu lakukan, saya lakukan.
Untuk menjadi terawat tidak perlu biaya mahal.

Alternatif Liburan Ibu Rumah Tangga

“Horee libur…,” begitu biasanya teriakan anak-anak ketika libur telah tiba. Maka anak bersenag-senang dengan bermain. Kadang saking senangnya, mereka main suka lupa waktu. Harus dicari berputar-putar baru akhirnya kembali. Itu pun masih disambut dengan cemberut. Padahal pulang hanya untuk diminta makan, mandi atau shalat.

Masa-masa heboh seperti itu sudah mulai berlalu.
Dulu setiap Desember, saya sudah siap dengan peralatan tempur untuk pulang kampung. Lalu cek cek daerah tujuan wisata. Pokoknya fokus menambah wawasan untuk anak.

Mereka puas bermain, mereka sudah puas jalan-jalan.
Sekarang mereka sudah remaja. Arah hidup sudah harus ditentukan. Jalan-jalan yang saya tawarkan untuk mereka adalah menuntut ilmu. Jika letih dari berpergian seringnya mendatangkan keluhan, maka letihnya menuntut ilmu pasti akan membawa keletihan yang membuat bahagia.

Anak-anak pun pergi untuk liburan sambil menuntut ilmu.
Ibu?
Ibu rumah tangga yang di rumah saja, ketika anak sudah besar dan punya acara sendiri, bisa punya banyak alternatif liburan. Liburan alternatif ini juga bisa dipakai ibu-ibu dengan anak yang ada di rumah. Bisa dilakukan bersama anak-anak.
Mengisinya dengan apa?

1. Mewarnai gambar.
Iya gambar-gambar seperti ini saya print. Lalu saya mulai mewarnai. Dan ini efektif juga untuk membuat tangan lebih lentur.
Anak saya juga suka kok melakukannya. Bahkan kami berlomba untuk itu.
warna4

2. Bercocok tanam.
Ketika anak-anak masih kecil, Ibu tidak punya waktu untuk diri sendiri. Bahkan untuk menyiram tanaman pun suka lupa. Ketika anak-anak sekolah, sebagai ibu kita sudah kehabisan banyak energi untuk menyiapkan sarapan, pakaian dan lain sebagainya.
Ketika anak sudah libur, kita lebih bisa menata waktu. Dan tentunya waktu yang berharga itu harus dimanfaatkan.
Cobalah mulai mencari-cari tanaman untuk ditanam di pot kecil saja. Cari tanaman yang mudah perawatannya.
Atau sebarkan bibit cabai juga tomat. Mereka bisa tumbuh tanpa perlu repot mengurusnya.
Jika anak ada di rumah kita bisa ajak mereka melakukannya. Jika anak masih kecil, bebaskan mereka untuk mengenali tanah, cacing juga sekop.

3. Masak.
Masak yang macam-macam kalau bukan ahlinya menyulitkan. Karena waktunya sempit, Di saat anak-anak libur, maka kita jadi punya waktu lebih untuk mempelajari sebuah resep dan mengeksekusinya.

4. Buat kerajinan tangan.
Pakai apa saja. Pakai tutup botol bekas bisa. Pakai pakaian bekas lalu kita modifikasi jadi macam-macam, entah itu keset atau boneka.

5. Cek alat yang ada di rumah.
Kalau punya mikser dan selama ini hanya menganggur di gudang, coba deh mulai belajar digunakan. Sayang kalau alatnya hanya jadi pajangan.
Kalau punya kamera? Biasa tuh untuk mulai belajar memotret. Tidak harus jadi fotographer profesional. Yang penting ilmu kita bertambah, dan alat kita jadi berguna.

kerjaan-ibu

6. Tambah ilmu agama
Iya liburan efektif tambah ilmu agama. Kita bisa full mengikuti kajian di majlis ilmu dari awal sampai akhir, tanpa perlu dibingungkan dengan mengantar jemput anak.
Dan majlis ilmu ini kelebihannya adalah, ada malaikat yang ikut bersama kita dan mengaminkan doa-doa kita.
Majlis ilmunya di masjid, ya. Bukan dari sosial media.

7. Saatnya beres-beres
Debu-debu di lemari mungkin sudah terlalu tebal, karena kita lupa untuk membersihakannya. Dan libur adalah saat yang menyenangkan untuk bersih-bersih rumah. Beres-beres ini itu.

8. Baca buku.
Punya koleksi buku yang tidak tersentuh? Belum punya waktu untuk membacanya dengan alasan diganggu urusan PR anak-anak?
Saatnya liburan ini kita bisa membaca buku sampai selesai.
Tidak ada alasan anak lagi. Bahkan kita bisa juga membacakan buku itu untuk anak-anak.

Masih banyak kegiatan lain.
Yang penting kita senang melakukannya.
Jangan buang waktu dengan hanya tidur makan dan tidur makan, ketika anak-anak sedang libur.
Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Alhamdulillah, Saya Bukan Ibu yang Pintar

lukisan-kami

Suatu pagi saya tercenung. Setelah membaca postingan politik yang ditulis oleh seorang perempuan. Seorang Ibu juga. Kebetulan setelah itu saya berada di dapur. Menikmati membanting adonan roti untuk suami dan Sulung yang harus berangkat pagi.
Penulisnya pasti perempuan pintar. Isi otaknya seperti apa yang ditulisnya. Saya terkagum-kagum dengan kepintarannya. Tapi sayangnya saya tidak boleh berlama-lama kagum. Tidak boleh berlama-lama kepingin menjadi seperti dirinya. Tidak boleh berlama-lama membayangkan andai saya sepintar seperti dirinya.
Ada kompor, panci, wajan dan sejenisnya di dalam dapur saya. Kompor sedang menyala, adonan roti mulai tercium wanginya. Dua orang tercinta sedang bersiap. Bayangan saya harus dihentikan sampai satu titik, perempuan itu pintar dan hebat. Saya apalah artinya dibandingkan para perempuan hebat itu.

Banyak perempuan hebat dan pintar. Banyak yang ingin dianggap hebat dan pintar juga. Dianggap menguasai sesuatu lebih dibanding yang lain.
Masalah politik membuat banyak yang merasa jadi ahli politik.
Masalah agama, langsung membuat mereka menjadi ahli agama.
Mereka hebat. Mereka pintar, itu saja yang ada di pikiran saya. Untuk selanjutnya kembali saya menyadari, bahwa ruang pintar seperti itu tidak saya miliki.
Mungkin dulu rasa itu pernah saya kejar. Ingin dianggap pintar.

Saya ingat dulu kuliah di fakultas ilmu sosial ilmu politik. Pada zaman politik sedang membara, maka teman-teman menjadi pendemo dan jadi pakar politik. Saya terseret membuat media politik bersama teman-teman satu fakultas, jadi reporter politik, mewawancarai nara sumber seputaran Jawa Tengah, terutama Solo, Jogja dan Semarang adalah makanan rutin ketika majalah akan terbit.
Ada banyak bahasa politik yang harus saya pelajari, harus saya sering-sering ucapkan jika ingin bergaul di kalangan teman-teman yang ahli politik. Biar sejajar.
Terpengaruh keadaan juga setiap hari bergaul dengan teman-teman yang ada di pergerakan. Sampai-sampai pernah dibohongin diminta memakai t-shirt dan dipanggil dekan, karena ternyata tulisan di t- shirt itu dianggap menyerang sesuatu terutama pemerintah. Dan saya tidak tahu akan hal itu. Dipanggil untuk diinterogasi. Sambil memarahi teman-teman yang tidak memberitahu, kenapa pada hari itu saya diminta memakai t-shirt tersebut sedang mereka menyembunyikannya?

Ada banyak ahli politik yang saya wawancarai. Bahkan pelaku politik pernah juga saya wawancarai. Ingat satu tokoh tinggi di Solo saya wawancarai bersama seorang teman. Saya perempuan satu-satunya, sedang tokoh itu dikelilingi oleh ajudan beberapa laki-laki di sekelilingnya.
Pada saat itu saya merasa keren, saya merasa pintar juga.
Sedikit ikut demo sana-sini. Tidak ikut teriak yel yel, karena saya lebih suka mendengar dan menyimak untuk kemudian mengambil kesimpulan.
Ohooo, banyak orang pintar. Suara saya tidak akan ada apa-apanya dibanding orang-orang itu. Tapi saya masih merasa hebat juga.

Banyak orang pintar dengan bahasa tinggi. Banyak yang kagum dan ingin belajar seperti itu. Tapi sayangnya bahasa tinggi itu justru membuat saya mundur dari hal-hal seperti itu. Ketika di suatu tempat di desa kecil pada saat Kuliah Kerja Nyata selama tiga bulan, yang berbahasa tinggi justru tidak bisa membaur dengan penduduk desa. Yang punya bahasa tinggi fokus memikirkan hal tinggi, tapi lupa di desa itu sedang kekeringan dan mahasiswa harus turun naik gunung mengajar ini itu dari satu sekolah ke sekolah lain plus menimba sumur untuk mandi.
Yang menemani bidan keliling desa turun naik gunung hanya yang itu itu saja.

Kapasitas dan Potensi Kita

Mungkin memang saya ditakdirkan tidak pintar. Justru karena tidak pintar itu saya jadi berjuang untuk terus belajar.
Mungkin memang saya ditakdirkan pusing mendengar kalimat yang terlalu tinggi. Justru karena itu saya jadi mencintai pola pikir saya yang tidak macam-macam.
Saya memiliki kapasitas dan kemampuan saya sendiri yang berbeda dengan orang lain. Kapasitas dan potensi yang ternyata membuat saya nyaman. Dan dalam proses nyaman itu justru potensi semakin berkembang.
Kapasitas saya tidak untuk berkerut kening memikirkan bahasa tinggi dan pemikiran yang tinggi. Kapasitas saya ada pada hal yang disepelekan oleh banyak orang pintar. Memahami orang lain, belajar banyak empati lalu menyebarkannya.

“Itu orang pintar, Bu…,” anak saya menunjuk seseorang perempuan di televisi. “Yah, Ibu kalah,” ujarnya.
Saya mengangguk.
“Alhamdulillah, Ibu tidak seperti itu. Kalau seperti itu, pasti sampai sekarang kalian tidak pernah merasakan roti buatan Ibu,” jawab saya membela diri.

Banyak orang pintar.
Dan saya menikmati proses menjadi seorang ibu dan perempuan yang biasa-biasa saja. Untuk tidak berhenti belajar tentu saja.