Menghidupkan Literasi di Sekolah Alam Bekasi

Sekolah Alam. Mendengar nama itu saya selalu jatuh cinta. Yang terbayang-bayang adalah masa kecil saya, yang bisa bermain di bawah kincir air, empang yang luas, jalanan sunyi lewat taman bunga. Segala hal bernama kebebasan dan keriangan masa kecil. Itu yang tertanam di benak tentang sekolah alam.

Saya selalu antusias begitu mendengar tentang sekolah alam. Maka setiap tawaran untuk berbagi ilmu di sekolah alam, akan selalu saya sambut dengan riang gembira. Jauh tidak masalah. Yang penting saya bisa merasakan keceriaan masa kecil saya kembali.

Dua minggu sebelumnya ada telepon masuk. Karena nomornya tidak saya kenal, maka tidak saya jawab. Sampai akhirnya nomor ada WA masuk memberitahu siapa yang menelepon. Dari pihak penerbit menawarkan untuk launching buku di sekolah alam.
Langsung saya sambut ajakan tersebut.

Kami bersiap. Iya kami. Sebab pihak sekolah yang tahu kalau anak-anak saya juga penulis, ingin salah satu anak saya ikut tampil. Maka saya mengajak anak saya yang ada di rumah. Yang Sulung ada di pondok.
Saya juga mengajak suami ikut serta, karena saya ingin mengenalkan sekolah alam pada suami, yang memang sebelumnya hanya tahu cerita tentang sekolah alam dari saya.
Saya sudah persiapkan semuanya dari malam. Barang-barang yagn akan saya bawa sudah saya masukkan ke dalam mobil. Malam sebelum tidur saya minta si anak gadis untuk cepat dibangunkan, karena kami akan berangkat pagi.
Berangkat pagi?
Iya berangkat pagi. Karena masalahnya kami belum tahu rutenya. Dan saya memang selalu mengkondisikan untuk hadir di sebuah acara setengah jam sebelum waktu yang ditentukan. Tujuannya agar saya bisa merasa nyaman dan mengenal situasi.

Kami berangkat jam enam pagi. Lewat tol. Dan gak nyasar hanya tanya orang satu kali. Jam tujuh lebih sedikit sudah sampai. Horee, acara berlangsung jam 8. Saya bisa ajak anak gadis saya berkeliling. Sambil menunggu pembicara lainnya datang.
Seorang panitia menghampiri mengajak untuk masuk ke perpustakaan dan ngobrol banyak hal di perpustakaan yang nyaman juga dingin. Muti namanya. Guru Bahasa Inggris. Anak muda yang saya suka, karena jalan pikirannya sama seperti saya. Melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Lalu saatnya tiba.
Saya, anak gadis dan mbak Sofie mewakili Kemdikbud naik ke atas panggung, berbagi tips untuk membudayakan membaca di kalangan anak. Sedikit sharing saya tentang anak-anak saya yang bisa menulis. Si anak gadis masih pemalu dan hanya menunduk saja.
Acara tidak berlangsung lama, karena jadwal acara padat merayap dan pembukaannya bergeser waktunya.
Hanya 30 menit, lalu saya istirahat dan harus naik panggung lagi untuk memandu anak-anak belajar menulis.

Ini saat yang saya tunggu. Biasanya waktu yang saya gunakan untuk itu minimal satu jam. Saya bisa eksplore kemampuan anak untuk mengolah cerita dan mereka paham banyak hal. Tapi sayang waktu untuk saya hanya 30 menit. Satu buku hanya sedikit saya bacakan, lalu saya ajarkan cara membuat tulisan dengan gambar, setelah itu saya mencari siapa yang bisa menulis dan menangkap gambar yang saya berikan jadi ide yang unik. Untuk para pemenang ada hadiahnya.

Seperti biasa, mereka takjub dengan gambar-gambar yang saya bawa. Mereka langsung merespon gambar yang saya berikan. Dan ujugnya mereka berlomba-lomba mengangkat tangan, minta agar kertas yang ada di tangan mereka, bisa saya baca.
Iya mereka memang semuanya menulis ide cerita dari gambar-gambar yang saya tunjukkan. Aduuuh, terharu saya dibuatnya.
“Bu guru, bagaimana menulis monyet?” tanya seorang anak spesial (berkebutuhan khusus).
“Bu guru, ini saya tulis…,” seorang anak lain, kelas satu SD menunjukkan gambar titik-titik pada saya.
“Bu guruuu, saya ini sudah nulis. Bagus gak, ya?” tanya anak lain, sambil maju meminjam mik di tangan saya.
Semuanya antusias. Saya semangat, tapi waktu membatasi.
“Sepuluh menit lagi, Bu,” ujar panitia.
Maka saya pun harus cepat-cepat menuntaskan pelajaran saya.

Oh ya karena ke sekolah alam dalam rangka promo dan launcing buku, maka sekalian saya promosikan buku saya yang ada di stand di sis panggung. Bahwa saya baru menerbitkan buku. Kalian bisa beli, ya, untuk belajar akhlak Rasulullah.
Well,
acara berjalan lancar.
Kami pulang. Sudah disambut dengan jalanan tol yang macet. Tapi saya bahagia. Hari ini sungguh luar biasa.
Si Bungsu dapat pelajaran berharga. Meski hari ini ia grogi setengah mati, tapi saya yakin pelajaran ini akan menjadi sesuatu yang tersimpan di benak dan hatinya.

Pilih Buku Digital atau Buku Cetak?

Pilih buku cetak atau digital?
Pertanyaan ini buat orang lain mudah menjawabnya, tapi sebagai pencinta buku, yang suka aroma harumnya kertas. Yang suka melihat perubahan kertas putih menjadi kuning. Yang sering menjaga hati-hati agar yang meminjam buku, lembarannya tidak sampai sobek.

Ebook alias buku digital atau buku versi cetak?
Sya la la la, saya harus berpikir keras sekali. Ini bukan sekedar masalah memilih. Ini adalah pilihan panjang karena ikatan masa lalu.
Saya hidup dan terpuaskan dengan buku cetak.
Saya bahagia dengan hadirnya buku cetak.Bisa dibawa ke kamar dan dibaca walaupun akhirnya ketiduran dengan buku menutupi wajah. Teman malah pernah meminjam buku novel tebal punya saya dan ujungnya dia memberi laporan. Bukunya kecemplung bak kamar mandi, karena dia bacanya sambil buang air besar.

Banyak suka dukanya memiliki kecintaan pada buku. Yang jelas buat saya sukanya lebih banyak dari dukanya. Orang mau suka atau tidak suka dengan kesukaan saya, yang penting karena buku saya sudah menjelma menjadi manusia seperti sekarang ini.

Tapi zaman memang berubah cepat. Wusss.
Tentunya saya tidak bisa bilang dengan seenaknya bahwa buku digital tidak berguna untuk saya. Buku cetak saya suka. Tapi kapasitas penyimpanan buku di rumah sudah penuh di sana di sini di situ di ujung sana. Semua ruangan penuh buku. Gak ada yang protes di rumah, tapi saya tetap harus tahu diri. Tahu diri kalau rumah sempit dan harus ada ruang untuk yang lain.

Maka saya mulai melirik buku versi digital.
Banyak loh buku-buku digital yang recommended. Itu juga saya download di komputer bukan di HP. Alasannya karena saya menyayangi mata tua saya. Terlalu banyak buka HP, maata akan mudah memerah dan sakit.

Tidak ada wangi kertas, tapi efisien tidak memakan tempat. Karena saya masukkan di komputer paling kalau komputer error dan file hilang, saya bisa mendownloadnya lagi.
Tidak bisa dipinjamkan. Uhum ini aman dari tangan peminjam yang seringnya lupa mengembalikan. Meskipun jadi berkurang pahala saya karena itu.

Untuk saya sekarang buku versi digital dan cetak sama saja.
Yang penting manfaatnya masih bisa saya dapatkan.

Pernikahan itu Harus Melejitkan Potensi Bukan Mematahkan Potensi

Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan mereka. Sungguh Dia Maha Perkasa Maha Bijaksana (QS Al Anfal ayat 63)

Sebuah ayat dalam surah yang berkisah tentang rampasan perang. Tapi ayat itu ada di kartu undangan yang Bapak buat untuk pernikahan saya. Terkejut saya membacanya ketika menyadari bahwa ayat ini berbeda dengan ayat-ayat umum dalam yang sering hadir di kartu undangan pernikahan. Bapak ingin memberikan sesuatu pesan pada saya, dan itu yang harus saya pertahankan.

Pernikahan.
Penyatuan lelaki dan perempuan dalam satu tempat bernama rumah tangga. Pernikahan itu bukan kurungan atau penjara. Pernikahan itu sebuah ruang besar yang dikelola bersama dan masing-masing memegang kunci satu pintu yang tersedia. Pernikahan buat saya adalah sebuah ruang kreatif, di mana salah satu pasangan memiliki waktu untuk memperhatikan pasangannya. Dan menemukan potensi si pasangan, lalu akhirnya potensi itu bisa membuat pasangan bahagia, karena ia punya sesuatu yang bisa membuatnya berharga.

Bagaimana cara agar kita dan pasangan bisa saling melejitkan potensi? :

1. Rumah tangga adalah tempat dua manusia saling bekerja sama, maka buat komitmen itu di awal menikah, untuk melakukan hal itu.
2. Buat komitmen juga untuk terbuka satu dengan yang lain. Setelah pada Sang Pencipta, maka rahasia teraman adalah dibagi pada pasangan, bukan orang lain. Dengan begitu tumbuh saling kepercayaandan, dan akan tertutup celah untuk masuknya orang lain.
3. Tunjukkan daftar mimpi kita pada pasangan dan pasangan juga begitu sebaliknya. Lalu berjanjilah untuk bersama-sama membantu impian-impian itu terwujud.
4. Andai hanya salah seorang yang memiliki mimpi dan pasangan sudah merasa nyaman dalam hidupnya, gandeng pasangan untuk melangkah bersama menuju mimpi kita. Tulari semangat kita, sehingga pada akhirnya pasangan memiliki mimpi juga.
5. Meskipun bersama, bukan berarti ke mana-mana harus berdua. Karena itu tetap sediakan ruang untuk teman dan yang lainnya. Kuncinya adalah saling menjaga kebersamaan.
6. Siap sedia untuk menjadi kasur yang empuk untuk yang terpuruk. Jika kita yang terpuruk, pasanganlah kasur yang empuk untuk itu. Sedang jika pasangan yang terpuruk, kitalah yang harus siap menjadi kasur itu.

Kegiatan Langka Bernama Mendengarkan Dongeng

Mendongeng?
Anak zaman dulu, yang belum digempur tekhnologi seperti anak zaman sekarang ini, mungkin paham bagaimana rasanya mendengarkan dongeng. Siaran radio zaman dahulu banyak diisi dengan sandiwara radio. Saya sendiri bersyukur, karena Bapak dan Ibu adalah pendengar sandiwara radio. Pada jam-jam tertentu di malam hari, mereka berdua duduk untuk mendengarkan sandiwara radio. Dan saya ikut menikmatinya.

Lalu zaman berlalu cepat. Wusss. Zaman berubah. Saya bukan anak kecil lagi. Tapi saya punya Kenangan manis dengan dongeng, cerita radio dan tumpukan buku-buku. Saya ingin hal yang sama yang saya dapatkan juga bisa didapatkan anak-anak di rumah.
Buku dan dongeng buat anak-anak saya sudah biasa. Sayangnya teman-teman mereka tidak biasa. Perjuangan akhirnya harus dimulai.

Satu Pintu Tertutup Seribu Pintu Terbuka Lebar

Kegiatan mendongeng, mendengarkan dongeng sama seperti kegiatan menulis. Pendongeng, penulis, idem dito adalah profesi yang akan dianggap sebelah mata oleh orang lain. Manfaatnya apa? Dapat duitnya dari mana? Dan pertanyaan lain yang berujung dengan ukuran materi.

Melihat begitu banyaknya anak-anak di lingkungan yang keranjingan gadget. Melihat minimnya ilmu pengasuhan dari orangtua tentang parenting pada anaknya. Memahami bahwa yang harus dilakukan bukan mengutuki keadaan, tapi berjuang untuk memperbaiki keadaan.

Kerelaan harus jadi kunci utamanya. Tidak dipahami jalan terus. Tidak dianggap, tidak masalah. Yang penting fokus berbuat baik. Anak-anak di zaman sekarang harus ditarik kembali ke masa lalu. Masa di mana imajinasi mereka bisa merajalela. Masa di mana dengan membayangkan sesuatu, mereka merasa bahagia. Dan salah satu yang saya ketahui, hal itu bisa didapatkan dengan buku dan dari mendongeng.

Mendongeng. Iya kegiatan itu yang ingin saya berikan pada anak-anak di sekitar tempat tinggal saya. Kalau imajinasi dari buku, mereka sudah dapat dari buku-buku yang mereka pinjam dari perpustakaan kecil milik saya.
Hingga akhirnya pada satu kesempatan rezeki datang ke saya. Seorang teman pendongeng menghubungi. Kak Cahyono Budi namanya. Kebetulan saya dan beliau pernah menjadi juri di Konferensi Penulis Cilik Indonesia tahun 2016. Saya juri penulis pemula, beliau juri dongeng. Ia tertarik menghibur anak-anak tetangga yang sering belajar di rumah saya pada hari Sabtu dan Minggu.

Semua persiapan saya lakukan. Koordinasi dengan tetangga kanan kiri, yang kebetulan sudah biasa saya ajak melakukan kegiatan, seperti tebar nasi bungkus atau membacakan buku di PAUD perkampungan.
Anak-anak yang datang ke rumah saya beri pesan berulang bahwa akan ada pendongeng yang datang. Pendongeng itu akan membawa boneka tangan dan bercerita banyak hal pada mereka. Alhasil mereka menunggu datangnya hari H, bertanya setiap hari pada saya.

Hari H Datang Juga

Kalau acara saya adakan di rumah, maka yang datang paling 10 anak yang biasa datang ke rumah. Atau jika acara mendongeng itu saya adakan di rumah juga, paling anak-anak di blok lain yang datang akan ada sekitaran 30 orang. Itu pun tidak pasti. Karena apa? Karena kendala tinggal di perumahan alias kompleks yang orangtuanya bekerja kantoran dengan penghasilan lumayan, dongeng mungkin masuk dalam katagori nomor akhir daftar kebutuhan mereka. Dongeng? Anak kita dapat apa? Kalau saya bilang akan dapat bahagia, maka mungkin saya akan jadi bahan tertawaan mereka, karena standar bahagia yang berbeda.

Bersyukur saya punya lingkungan mengaji, yang selalu percaya kalau saya memberikan program yang tidak sekedar hura-hura saja. Maka program itu memang harus jalan agar anak-anak bahagia. Saya sendiri ikut memikirkan dananya dari mana. Konfirmasi ke pendongeng. Termasuk memikirkan makanan yang akan diberikan pada anak-anak yang datang. Plus berbagi tugas, siapa yang beli dan bungkus makanan, dan siapa yang membuat kue untuk buah tangan ke pendongeng.

Acara saya pindahkan ke PAUD. Kebetulan perumahan tempat saya tinggal diapit oleh perkampungan, yang banyak pekerjanya adalah pemulung. Ada juga beberapa rumah mewah, tapi konotasi mereka adalah orang perumahan selalu lebih kaya ketimbang mereka.
Anak-anak pemulung, pekerja kasar dengan telepon genggam mahal di tangannya harus diisi pikirannya dengan sesuatu yang baru. Kebetulan teman memiliki PAUD di perkampungan dan dia punya akses lebih luas lagi. Sehingga dia mengusahakan program mendongeng itu bisa didengarkan oleh 50 anak lebih.

Semua siap. 100 snack dengan tujuan kalau yang datang lebih dari perkiraan, tidak ada anak yang nangis karena tidak kebagian.
Anak-anak sudah rapi jam sembilan pagi. Saya resah menunggu pendongeng yang belum datang. Pas jam sudah menunjukkan pukul 9.15 saya WA, dan ternyata beliau sudah ada di dekat rumah.
Karena takut tidak tahu belokan ke rumah, saya hampiri sampai depan. Tidak tanya pakai mobil apa. Ketika ada mobil dengan sen berbelok ke kiri, saya pikir itu dia sudah datang. Langsung saya lambaikan tangan dan arahkan mobil ke tempat saya.
Mobil berbelok, sebuah kepala tersembul memanggil. O alah.., ternyata orang lain, tetangga saya. Bukan orang yang saya tunggu.

Saya kembali lagi ke depan, dan menunggu. Kali ini tidak salah, mobilnya benar dan saya melambaikan tangan memberi tahu di mana saya.

Kami ngobrol sebentar di rumah saya. Anak-anak tetangga sudah diantar ke masjid tempat diadakan acara. Saya juga sudah siap dengan motor saya. Snack sudah dibawa.
Taraaa.
Jam sepuluh tepat acara dimulai. MC saya sendiri. Dengan alasan ini acara anak-anak bukan acara resmi. Saya tidak mau kalau acaranya jatuhnya resmi. Akan kehilangan aura anak-anaknya.
Ada bacaan Al Quran tapi saya ganti saya memanggil lima anak untuk maju ke depan membaca Al Fatihah. Yang berani maju saya hadiahkan buku. Itu juga atas usul suami agar saya memberikan hadiah buku.

Setelah itu dongeng dimulai.
Waah, ada empat cerita yang dibawakan selama satu jam penuh. Tenggorokan pasti tidak enak rasanya. Alhamdulillah lancar semuanya.

Anak gadis saya sudah saya pesankan untuk nanti bergerak aktif merekam semua adegan. Dia saya bawakan kamera juga telepon genggam. Duh, tapi si anak bukan ibunya. Si anak malu untuk bergerak aktif ke sana ke mari. Alhasil dia merekam dari kejauhan. Itu juga hanya separuh karena telepon genggam habis baterainya.
Malangnya hasil rekaman separuh itu ketika diperlihatkan ke suami, ternyata suami salah tekan dan terhapuslah rekaman tersebut.

Tapi saya bahagia. Acara berjalan lancar. Meski sebelumnya saya sudah memberitahu di group RT dan responnya minim, tapi saya bersyukur itu tidak membuat saya jadi kecil hati.
Anak-anak yang datang dan ibunya yang juga datang saya tanyakan bagaimana perasaan mereka? Mereka menjawab serentak senang dan ingin saya mendatangkan pendongeng lagi.
Snack masih tersisa. Kami membawanya ke panti asuhan terdekat dan anak-anak senang menerimanya.

Ups.
Ini langkah awal. Dan saya tidak akan berhenti melangkah untuk kebaikan. Apapun kendalanya.

Dalam Sebuah Pernikahan, Perempuan Harus Bahagia

Ia menunduk. Ia bicara. Lalu menarik napas panjang ketika lawan bicaranya mengusap air mata yang ke luar dari kedua matanya.
Bicara mereka lirih, karena tak jauh dari mereka, mungkin saja ada beberapa telinga yang bisa menangkap keluh kesah yang sedang dibagi.

“Dalam pernikahan, perempuan harus bahagia,” ujarnya meyakinkan. “Dan untuk bahagia, perempuan harus tahu apa yang ia inginkan.”
Masih ada air mata.
Ia mencoba menarik benang merah dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Rumah tangga pasangan lain yang baru melangkah, rumah tangga orangtuanya hingga masuk usia 53 tahun dan maut memisahkan, rumah tangga lain yang jauh di atas rumah tangganya.

Ia sendiri sudah menemukan bahagianya. Sederhana saja ia menemukannya. Bukan dengan limpahan harta, bukan dengan pujian yang melambungkannya. Ia hanya membuat lingkaran di kepalanya. Berisi dirinya sendiri. Fokus pada dirinya sendiri. Ketika ia sudah menemukan inginnnya, mimpinya, maunya, maka lingkaran itu ia lebarkan.

Kecewa yang Sewajarnya

Ia menarik napas panjang. Mencoba memahami. Dalam satu minggu ada beberapa wanita yang mengadu. Wanita-wanita tangguh tetap saja seorang wanita.
Ia mencoba memahami konsep ujian. Ketika ia diuji, ia selalu berpikir bahwa ini memang jalan yang harus ditempuhnya. Jalan karena pilihannya, bisa jadi untuk pelebur dosanya. Ketika itu ia pikirkan, ia menjadi lebih fokus untuk memperbaiki diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.

Seorang lelaki tangguh, akan dipertemukan dengan perempuan lemah. Begitu sebaliknya.
Seorang lelaki pintar, akan dipertemukan dengan perempuan yang tidak nyambung ketika diajak bicara tentang satu hal yang ia inginkan. Satu hal saja dan itu akan melebar. Setan akan menelusup ke dalam hati dan mengusiknya dengan pikiran bahwa pasangannya tidak bisa apa-apa.
Ketika seorang perempuan bekerja berlimpah harta, maka ia akan disandingkan dengan seorang lelaki yang diuji materinya. Sehingga setan akan membisikkan bahwa si lelaki tidak punya kemampuan sebagai lelaki.
Ketika seorang perempuan mulai berjalan di jalurNYA, maka ia akan mulai fokus pada perubahan besar yang diharapkan terjadi juga pada pasangan. Setan membisikkan itu, sehingga ia tidak menikmati lagi perubahan kecil yang dijalani pelan tapi pasti oleh pasangannya.

“Aku kecewa…”
Ia mengangguk. Membuka buku dan ingatan. Sebuah buku selalu dijadikan rujukan. Kitab-kitab perjalanan pada utusan Allah dan orang beriman lainnya.
Diuji dengan pasangan adalah biasa. Luth dan Nuh bahkan Asiyah istri Firaun pun seperti itu. Bukan setahun, dua tahun dan puluhan tahun. Tapi ratusan tahun.
Bukankah itu tanda bahwa Sang Khalik sebenarnya mencintai? Ujian diberikan, agar kita menangis dan berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Fokus Pada Orang Lain yang Tidak Berdaya

Dalam pernikahan seorang perempuan harus bahagia. Karena ketika perempuan bahagia, maka aura positifnya akan menular pada anak-anak. Tapi ciptakan dulu lingkaran itu, pahami betul apa yang diinginkan. Lalu setelah itu, ia akan menemukan jati dirinya. Apa yang membuatnya bahagia, apa yang tidak. Apa yang tidak perlu ditahannya apa yang tidak.

Ia melihat seorang di depannya mengangguk. Pernikahannya sudah dua puluh tahun, beberapa tahun lebih lama ketimbang pernikahannya.

“Tidak pernah ada hadiah untukku. Tidak pernah ada cincin emas.”
Ia menarik napas panjang.
Ketika perempuan sudah kecewa dengan pasangan, maka terlupalah kebaikan yang banyak dari pasangan. Itu yang selalu ia pegang dengan erat, ketika mendengar kalimat itu di sebuah kajian. Seorang sahabat Rasulullah yang mengucapkan hal itu.

“Bicara pada pasanganmu. Karena laki-laki bukan perempuan. Jadi bicaralah. Sampaikan keluhanmu, sampaikan inginmu.”
Perempuan di depannya diam.
Lalu ia mengurai apa yang pernah ia lakukan. Ketika jembatan komunikasi tidak dibangun. Ketika ia merasa tidak perlu bicara dan hanya memendamnya dalam diam, mengharap pasangannya mengerti. Ketika ia kecewa lalu menghabiskan waktu dengan tangisan dan energinya terkuras habis.

“Dia menyebutku boros. Selalu seperti itu.”
“Tulis apa saja pengeluaranmu untuk rumah tangga. Terkadang lelaki tidak paham perempuan bergelut dengan harga-harga. Dan mereka merasa masih saja pasangannya boros. Ajak dia belanja, atau serahkan uang padanya untuk belanja. Sehingga ia paham makna boros yang sesungguhnya.”

Matanya berbinar.
“Sungguhkah?”
Ia mengangguk.

Serahkan Tuntas Pada Pemilik Masalah

Perempuan dalam pernikahan harus bahagia. Dan untuk bahagia itu, perempuan harus menemukan dulu jati dirinya. Sehingga ketika masalah datang, ia paham harus menempatkannya di mana?

Ia menarik napas panjang.
Menemukan bahagianya, fokus membahagiakan orang lain, menjadi salah satu cara agar bahagia dan tidak lebur dalam duka. Bisa jadi ia hanya kurang bersyukur.

“Ini bayi-bayi yang kena HIV Positif. Mereka lebih malang, kan?”
Wajah permepuan di hadapannya terlihat takjub.
“Fokus pada orang lain, jangan terlalu fokus pada pasangan. Karena itu sama seperti terus-menerus melihat tanaman peliharaan. Semakin dipandangi terasa semakin tidak tumbuh berkembang. Tapi ketika ditinggal satu, dua minggu, akan terasa perubahannya.”

Perempuan di hadapannya mulai bisa tersenyum.
Lalu ia mengambil telepon genggam. “Serahkan semuanya pada Pemberi Masalah. Maka hidupmu akan jauh lebih tenang. Kalau dia yang salah, maka biar Allah yang mengurusnya. Jika dia tidak salah, kita juga sudah lega. Mungkin kita diberi petunjuk dengan banyak cara.” Ia mengirimkan doa yang selalu diucapkan setiap saat lewat telepon genggamnya.

Perempuan di hadapannya mengangguk.
Adzan sudah terdengar. Ia harus segera pulang.

Perempuan harus bahagia.
Dan sungguh, ia pernah juga pernah melewati fase tidak bahagia. Tapi intropeksi terus-menerus, membuat ia paham jalan bahagia datangnya dari mana.
Dan ia bersyukur bisa menapaki tangga bahagia.
Bukankah sejatinya hidup itu pilihan. Berkorban atau dikorbankan, bermanfaat atau dimanfaatkan adalah jalan pilihan.
Dan pernikahan yang dihuni oleh sepasang anak manusia sebagai sekolah yang terus-menerus dihujani pelajaran, harus diterima dengan pikiran terbuka. Bahu-membahu harus dilakukan. Jika seorang berada di depan harus ada yang mau berada di belakang. Karena sejajar dalam pernikahan hanya bisa tercipta ketika sudah melewati tahap gejolak. Siapa yang bersedia maju dan siapa yang bersedia mendorong kemajuan itu.

Perempuan harus bahagia dalam pernikahan.
Sudah malam.
Ia melangkah ke luar sambil terus berharap, ujian seberat apapun, ia akan selalu menerimanya sebagai proses tumbuh kembang sebagai makhluk ciptaanNYA.

Penulis, Perlukah Bisa Bicara di Depan Umum?

“Aku penulis.” Saya ingat dulu itu yang saya katakan dengan kaki gemetar.
Iya, saya penulis. Saya jadi penulis karena merasa nyaman tidak perlu tampil di atas panggung, untuk menyuarakan suara hati saya. Dulu zaman SD, saya memang terbiasa untuk tampil. Dari baca puisi sampai menyanyi, dan menari. Itu juga tanpa dorongan orangtua. Tapi kepercayaan itu datang dari guru, ustadz, juga teman.

Lama kelamaan setelah saya kenal menulis, saya lebih nyaman untuk tidak di panggung. Saya lebih suka menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Semuanya. Karena semuanya itu sudah saya luapkan dalam bentuk tulisan, maka dampak baiknya adalah saya tidak butuh bersuara. Saya merasa nyaman dengan dunia sendiri. Merasa orang menuduh ini dan itu tidak apa=apa. Sudah saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan.

Semakin lama lagi ternyata saya seperti punya dunia sendiri. Membangun angan-angan sendiri, komunitas dalam angan-angan. Orang lain tidak mengerti tidak masalah. Saya sudah bahagia.

Akhirnya….

Akhirnya si katak dalam tempurung, Bapak selalu mengingatkan agar saya jangan jadi katak dalam tempurung. Saya jangan merasa sudah oke. Uh, jadi ingat si anak SMA yang sedang booming di sosial media. Seusianya berteman dengan berbagai macam buku, pastilah akan menemui kondisi seperti saya. Susah menemukan lingkungan yang pas untuk diajak ngobrol. Untung zaman dulu tidak ada sosial media. Jadi semua pikiran dan keanehan hanya berkecamuk untuk diri sendiri saja.

Begitu saya memutuskan untuk berubah, maka perubahan itu terbentang di depan mata. Ketika itu saya putuskan, saya harus kuliah di tempat yang umum, bukan lagi di Universitas Terbuka. Tujuannya biar saya punya lingkungan dan teman sepergaulan. Dari sana mungkin saya bisa belajar untuk berjalan mundur.

Terlambat lima tahun saya ketika masuk kuliah. Teman-teman saya lima tahun lebih mudah. Ada memang yang lebih tua dari saya, tapi kebanyakan pegawai yang butuh gelar untuk kenaikan jabatannya.
Bersyukur karena biasa menulis, dan semua beban masalah tersalurkan, sehingga wajah saya tidak menua. Artinya ketika kumpul dengan yang lebih tua, saya malah sering dianggap lebih muda.

Itu titik awal perubahan. Persis seperti satu ayat dalam Al Quran. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11.
Saya yang bisa merubah nasib. Bukan orang lain. Ketika saya berjuang untuk itu, membuka semua pintu kemungkinan, maka akan terbukalah semuanya.

Saya kuliah dan terus menulis. Uang pangkal kuliah saya bayar dari menang lomba cerita bersambung majalah Gadis dan nominasi majalah Gadis. 4 juta dulu uangnya. Uang kuliah saya bayar dengan honor-honor menulis saya.
Tentu saya memperkenalkan diri sebagai seorang penulis kepada dosen dan teman-teman. Pada masa itu, kebetulan saya produktif. Produktif yang menjadi keharusan, karena saya harus bayar kuliah.
Karena produktivitas itu, saya diminta beberapa media untuk tampil dalam acara media tersebut. Acara di beberapa kota.

Tampil? Iya, tampil yang sebenarnya tampil. Jadi pembicara pula. Dan lawannya orang-orang yang sudah punya nama besar. Alhamdulillah, saya tambah grogi. Tapi bahagia.
Lalu pihak universitas juga minta saya jadi pembicara di kampus beberapa kali. Audience dosen dan teman kampus. Grogi juga. Karena si audience anak-anak FISIP yang waktu itu lagi senang demo menentang orde baru. Tapi saya tidak dibantai kok. Tahulah mereka, saya bukan teman yang suka ribut dan suka menjatuhkan orang. Jadinya mereka pun hati-hati bersikap kepada saya ketika saya di panggung.

Lanjut Terus

Saya pikir pengalaman bicara di depan umum itu, akan berhenti sampai di situ. Jadi ibu rumah tangga, tetap nulis. Kembali ke zona nyaman. Bukan jadi pembicara setelah itu. Karena saya ngantor dan malah sering dipercaya jadi pengajar karyawan baru.
Keahlian mengajar melebar, akhirnya jadi mengajar anak-anak tetangga.
Saya nyaman menulis dalam keheningan. Baru sadar kalau saya harus tampil ketika saya menerbitkan buku dan diminta launching.
Saya tidak suka berpenampilan yang aneh-aneh. Maka saya selalu tampil seadanya. Adik-adik saya yang suka protes, kadang mereka memilihkan baju yang pas untuk saya. Biar enak dilihat, begitu kata mereka.

Saya harus mau berkembang. Saya harus berani tampil.
Satu jam atau setengah jam sebelum tampil, biasanya saya sudah ada di tempat. Saya harus membayangkan diri saya ada di sana. Saya bisa memahami lokasinya, audiencenya.
Biasanya saya juga hanya akan bicara tentang menulis sesuai keahlian saya.
Tapi pernah ketika jadi pembicara di UNS yang dihadiri dosen dan seratus orang mahasiswa, saya berdoa sambil memasukkan kekuatan ke otak saya. “Hei, Nur, mereka itu gak tahu apa-apa tentang menulis. Meski mereka ada di fakultas sastra, tapi pengetahuan mereka masih minim. Kamu punya banyak ilmu yang bisa dibagi untuk mereka.” Itu kalimat yang terus saya dengungkan di kepala saya.
Biasanya setelah itu lancar.
Di tempat lain juga seperti itu. Mereka yang datang, ingin mencari ilmu. Kenapa saya harus takut berbagi ilmu?

Saya terus berproses. Menyadari bahwa penulis zaman sekarang tidak bisa lagi bersembunyi di balik tulisannya. Orang ingin tahu lebih banyak, siapa penulisnya. Apakah kebaikan yang ditulis penulis, benar tercermin dari sikapnya? Apakah ilmunya benar diresapi atau sekedar copy paste.

Saya masih terus belajar untuk itu. Memperbaiki diri, memperbaiki kualitas tulisan, dan memperbaiki kualitas ketika harus tampil. Tujuannya biar yang menerima ilmu saya merasa nyaman dan ilmunya bisa merasuk lebih dalam lagi.

Ketika Proses Mengeja Juz Amma, Membuat Generasi yang Tidak Instant

Pernah mengaji?
Mengenal juz amma versi tahun 1970 an?

Saya produk mengaji tahun 1970 an, dan menghasilkan anak-anak dengan produk tahun 2000 an. Saya dulu mengaji di madrasah dan mengaji ke seorang guru ngaji. Dua kali mengaji sepulang skeolah.
Pulang sekolah, istirahat sebentar, makan ganti baju dengan seragam madrasah, lalu pergi ke masjid yang berfungsi sebagai madrasah.
Apa yang diajarkan di sana?
Banyak termasuk ilmu fiqih, hadist, tajwid, Bahasa Arab, sampai hafalan Al Qur’an.
Pulang lagi, malam sehabis maghrib saya kembali lagi mengaji ke guru ngaji untuk khusus belajar tajwid dan membaca Al Quran. Otomatis tidak ada waktu untuk belajar di sekolah, ya.
Tapi entah kenapa pada masa-masa itu, masa SD dan SMP, nilai saya selalu tinggi. Hingga saya bisa mengambil kesimpulan bahwa yang melancarkan otak saya adalah karena mengaji.
Soalnya ketika besok ada ulangan, kok bisa tiba-tiba terbersit di otak pelajaran yang harus saya pelajari dan menurut feeling saya akan ke luar. Dan besoknya itu terjadi.
Pernah, ada soal yang saya tidak pernah belajar sama sekali.
Guru di sekolah hanya mengajari tentang kaum Muhajirin. Lalu di tes ada soal tentang kaum Anshor. Maka logika saya hanya mengajak untuk menjawab dengan logika berdasarkan ilmu tentang kaum Muhajirin.

Mengaji Zaman Dulu

Apa, sih, yang dipelajari dalam pengajian zaman dahulu?
Kami mengaji untuk lancar membaca Al Qur’an dengan juz amma model seperti di atas. Waktu itu belum hadir buku Iqra yang langsung membaca a i u.
Untuk menghasilkan kata a i u, kami harus mengenali huruf satu persatu lebih dahulu. Dari alif sampai ya.
Setelah semua huruf kami kuasai, maka mulai mengeja.
Alif fathah a, a.
Alif kasrah i, i.
Alif dhomah u, u.
A i u.

Kami tentunya tidak bisa langsung membaca dalam satu pertemuan. Setiap pertemuan lanjut tidaknya ditentukan dengan kemampuan kami.
Setelah itu ada proses menyambung huruf. Huruf di depan, huruf di tengah dan huruf di akhir.
Setelah lancar semua, horeee kami naik tingkat.
Bisa membaca juz amma alias surah pendek di juz 30. Dimulai dari Al Fatihah. Tapi selancar apapun kita sudah bisa mengeja, tetap surah itu harus diejak juga.
Misalnya
Bismillahirrahmanirrohiim
Dieja dulu dengan ba sin mati kasrah bi. mim lam lam tasjid kassrah mil, lam fathah la, ha ra tasjid kasrah hir, ra fathah ra, mim fathah ma, nun ro tasjid kasrah nir, ra fathah ra, ha kasrah hi, mim kasrah mim.
Baru bisa baca langsung kalimat bismillah.
Dan sepanjang membaca surah Al Fatihan harus dieja seperti itu. Jadi sekali setor ke ustadzah tidak ada yang bisa langsung selesai dari ayat pertama sampai ayat terakhir.Paling mentok hanya dapat tiga ayat.

Tapi apa yang saya dapat dari hasil mengeja seperti itu?
Saya ternyata menjadi generasi yang setia pada proses, tidak patah semangat.
Dan mudah membuat target yang dipatuhi untuk mencapai target tersebut.

Anak-Anak Hebat di Sekolah Alam Bogor

Seminggu yang lalu ada pesan masuk di inbox FB saya. Pesan dari Ruri Irawati yang bertanya. Maukah saya mengisi sharing kepenulisan di Sekolah Alam Bogor, tempat anaknya menimba ilmu?
Ruri Irawati ini enam belas tahun yang lalu pernah jadi teman sekantor saya, lalu kami bertemu di FB dan dia jadi murid menulis saya.

Sharing kepenulisan saja sudah membuat saya melonjak girang. Audiencenya anak-anak, membuat saya bahagia. Dan sekolah alam, membuat rasa ingin tahu saya yang besar semakin membesar saja.
Ketika saya bilang oke, Ruri lalu menghubungkan saya dengan Pak Erfano. Pak Erfano ini yang membina klub menulis di Sekolah Alam Bogor.
Saya terhubung dengan Pak Erfano. Lalu beliau bicara tentang tekhisnya. Fee saya sebagai pembicara dan hal detil lainnya. Termasuk di mana acara itu berlangsung.
Oke. Setuju. Saya ditanya mau pakai apa? Jika ingin slide nanti akan dipersiapkan. Tapi sungguh berkali-kali mengajar, saya tidak suka menggunakan slide. Alasannya sederhana. Saya tidak ingin orang terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan saya. Dan saya tidak mau gambar-gambar di dalam slide jadi lebih menarik dari paparan saya.

Wayang-Wayangan Gambar

Persiapan yang saya lakukan sebenarnya sama dengan persiapan mengajar di Kelas Inspirasi. Hanya setelah saya browsing tentang sekolah alam tersebut, saya mulai bisa lebih mengukur audiencenya. Penyelenggara bilang audience mereka anak kelas empat, lima, enam juga anak SMP.
Pelajari fanpage dan web sekolah alam, saya mulai bisa mengukur audiencenya. Mereka yang sudah mulai terbiasa dengan klub menulis, pastilah punya sesuatu tentang ilmu menulis, yang sudah disampaikan oleh guru-gurunya.
Mereka yang setiap tahu ada program literacy, pastilah punya ilmu lebih ketimbang yang lainnya.
Dan mereka dididik dekat dengan alam dan bebas berekspresi, pastilah akan menjadi responden yang aktif.

Saya persiapkan semuanya.
Termasuk buku-buku yang sesuai. Saya punya buku dari Room to Read, dan tentunya bisa dipakai untuk kalangan mana saja.
Saya buatkan gambar saya print dan ambil dari internet, lalu tempelkan di tusuk sate yang saya punya di rumah.
Setiap gambar itu nanti bisa jadi panduan ide untuk mereka.

Pada Hari H

Persiapan untuk semuanya sudah beres. Sudah saya masukkan semua ke dalam tas. Jadi pagi tinggal beres.
Beres-beres cucian, setrikaan juga sudah. Maklum saya tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan. Takut nanti pulang capai, saya jadi kesal dengan kondisi yang ada.

Pak Suami mengantar ke stasiun. Anak-anak sekolah. Bersyukur Pak Suami ada deadline majalah dan komik, jadi pastilah deadline itu diselesaikan di rumah. Artinya tidak ada klien yang meminta datang ke kantornya.
Aman. Saya bisa berbagi ilmu sekaligus bekerja dengan leluasa, tanpa memikirkan lauk untuk makan siang. Karena kalau Pak suami ada di rumah, urusan lauk masalah gampang.

Berangkat jam setengah enam dari rumah menuju stasiun Bekasi. Bersyukur dapat kursi di commuter. Meskipun penuhnya minta ampun.
Turun di Manggarai, lanjut commuter menuju Bogor. Alhamdulillah sepanjang perjalanan saya bisa leluasa duduk, karena commuter menuju Bogor kosong.
Sampai di Bogor jam setengah sembilan kurang. Masih bisa ke musholla untuk minta yang terbaik.

Setelah itu tanya via WA ke Ruri, setelah itu saya harus naik apa? Ruri bilang sebaiknya naik ojek saja, takutnya jam segitu Bogor macet.
Okelah, di pintu ke luar stasiun banyak abang ojek menawarkan jasa. Kenapa bukan ojek online? Itulah yang dinamakan rezeki. Entah kenapa saya malas naik yang online kalau tidak terpaksa. Mungkin juga karena saya paling malas terima telepon atau menelepon. Saya lebih suka via chating saja.

Ojek sudah dapat. Sekolah Alam Bogor konon katanya dari stasiun hanya butuh waktu 19 menit. Saya beri alamatnya jalan Pangeran Asogiri. Kata tukang ojeknya tahu sekolah itu.
Naik ojek seperti itu membuat saya bisa melihat bermacam pemandangan. Merasakan berkeliling kota Bogor. Sekolah Alam itu ternyata jauh juga dari stasiun. Dan saya suka jalan ke arah sana, seperti masuk ke area Puncak. Berkelok mendaki dan menurun.
Asyiklah untuk berpetualang.

“Bu, di sini, kan?” tanya si Tukang Ojek.
“Pangeran Asogiri, Pak. Ini Sogiri,” ujar saya.
Si tukang ojek berhenti di depan pesantren. Sambil bilang kalau yang dikenal di jalan itu adalah pesantren. Sambil bilang, ibu sih gak bilang kalau pangeran Sogiri. Kalau bilang kan dicari jalan yang lebih cepat.
Helloooo…
Ah biasalah begitu. Itu juga karena omongan negatif saya di awal, sih. Saya bilang, “Bang, saya jangan diajar muter-muter, lho. Nanti diajak muter jauh, tahunya dekat.”
Akhirnya kenalah omongan negatif itu ke saya.
Si Abang tukang ojek berbaik hati mencarikan, turun dan bertanya. Ongkosnya ditambah.
Akhirnya setelah lima kali bertanya, sampailah saya di Sekolah Alam Bogor.

Semangaaaat

Ketika diundang jadi pembicara atau pengisi acara, saya memang membiasakan datang lebih dahulu dari jamnya. Alasannya karena agar saya bisa merasakan atmosfirnya. Bisa melihat audicenya. Dan ini tentu saja sarana ampuh untuk menghilangkan grogi.
Tapi terbiasa bergaul dengan anak-anak, sedikit banyak yang menguasai hanyalah semangat. Apalagi guru-gurunya welcome dan baik hati.

Saya didampingi oleh Bu Monik, ibu guru favorit para murid, karena memang luwes pada anak-anak.
Sesuai kesepakatan di belakang panggung, Ibu Monik menjelaskan tentang siapa saya.
Lalu saya naik panggung.
Mau apa?
Berdiri di atas panggung, di hadapan anak-anak, yang pertama dilakukan adalah berbagi semangat. Semangat menulis. Maka saya ajarkan mereka tepuk menulis.
Anak-anak mulai sedikit tersengat.

Saya mau bicara apa, ya?
Saya mau meluaskan imajinasi anak-anak dengan menyingkirkan segala ketakutan. Menulis itu jangan takut. Apa yang ada diimajinasi tulislah.
Dan jangan sekedar menulis saja, tapi pikirkan ide yang unik. Ide dengan sudut pandang berbeda. Tujuannya agar cerita yang mereka buat menjadi menarik di mata pembacanya dan mereka juga suka membaca ulang kisah mereka karena seru.

Kalau teori saja akan membuat anak mengantuk. Percayalah.
Maka Ibu Guru harus berani turun panggung.
Turun panggung berulang kali. Memberikan gambar dan contoh ide yang unik, sampai anak-anak paham. Tandanya paham apa? Tandanya paham tentu saja mereka bisa menjawab lemparan gambar saya, jadi ide yang berbeda. Huah… saya terkejut-kejut. Mereka bukan cuma menuliskan ide, tapi berani maju ke depan untuk bertanya dan memaparkan ide mereka.

Saya berkeliling. Naik turun panggung itu adalah salah satu cara agar audience mereka diperhatikan. Dari depan sampai belakang beberapa kali. Mereka berlomba menunjukkan kertas tulisan mereka.

Oh ya, selama acara Ruri jadi juru foto saya. HP saya serahkan padanya, biar bisa mengambil semua angle. Meski pakai kamera HP saja, tapi apa yang tertangkap bisa buat dokumentasi berharga untuk saya. Thanks, Ruri.

Satu jam sesi tentang ide unik selesai. Sedikit latihan juga mereka kuasai. Saatnya berlomba membuat tulisan dengan ide yang unik. Saya menggambar di papan tulis, dan saya minta mereka menerjemahkan gambar itu.
Dan hu hu saya terharu. Ketika mereka berlari menuju kelas mereka untuk mengambil kertas, dan setelah itu mengumpulkan kertas berisi tulisannya.

Duh melihat mereka berjuang menulis, saya senang sekali.

Ada seratus kertas yang harus saya cek idenya. Kalau sudah biasa menilai, maka mudah untuk melihat sudut pandang penilaiannya.
Ada tujuh yang terpilih dan idenya unik.
Dan hebatnya dari tujuh orang itu, lima orang adalah anak laki-laki, sisanya perempuan.
Ada satu yang membuat saya terharu. Seorang anak berkebutuhan khusus, yang dari awal selalu berani mengungkapkan idenya, juga ikut menyerahkan hasil tulisannya. Meski idenya belum bagus, dan tulisannya kurang jelas, tapi saya berbisik ke Bu Monik. Saya ingin memberikan reward pada anak itu. Setelah tujuh anak turun panggung, anak itu naik ke atas panggung.

Saya juga mendapat kenang-kenangan, berupa merchandise hasil kerajinan tangan dari anyaman kertas murid sekolah alam, plus buku karya mereka juga piagam penghargaan.

Ruri mengajak saya kuliner di Bogor merasakan tauge goreng. Enak rasanya tauge goreng, Apalagi cuaca di Bogor mendukung, mendung gelap.
Setelah kenyang tauge goreng, kami pulang ke rumah Ruri. Saya main ke rumahnya numpang shalat juga.
Satu jam di sana akhirnya pamit pulang menuju stasiun kembali.

Pengalaman apa yang bisa didapatkan hari itu?
Dari sekolah alam saya belajar, bebaskan anak-anak, puaskan masa bermain mereka, tapi tetaplah ikat dengan akidah agama. Maka mereka akan jadi generasi hebat yang sesungguhnya.

Hadiah Produktif dari Suami

Istri mana yang tidak suka diberi hadiah?
Tentu setiap individu akan berbeda keinginannya akan hadiah.
Suami tahu, saya tidak suka hadiah perhiasan emas. Alih-alih memakai untuk menyenangkan pasangan, ujung-ujungnya pasti akan copot dan tercecer entah ke mana.
Maka untuk hadiah perhiasan, saya memilih membeli sendiri gelang manik-manik seribuan di abang-abang penjual mainan.

Hadiah yang produktif lebih saya sukai. Karena dengan begitu saya jadi berjuang memanfaatkan hadiah itu, agar jadi sesuatu yang bermanfaat.
Ingat ketika saya butuh sekali kamera. Kamera digital yang kecil pecah ketika saya jatuh dari motor. Pada saat itu suami juga butuh kamera, karena beliau akan bertugas ke Papua dan diminta untuk memotret.
Akhirnya kami sepakat. Patungan kamera. Separuh uang suami, separuh uang saya.
Lalu suami yang hunting ke teman-temannya yang fotographer. Jadilah kamera ini menjadi milik kami. Sekarang malah dipakai untuk anak abege kami, yang sedang belajar fotograpi.

Hadiah produktif membuat saya justru menghargainya.
Karena hadiah itu akan membuat saya menjadi manusia yang terus meningkatkan ilmu.
Meja kerja saya juga seperti. Meja kecil sebenarnya saya butuhkan. Tapi suami menawarkan meja besar. Dan saya setuju saja, karena tidak mungkin menolak. Ujungnya di atas meja itu saya bisa letakkan printer dan juga buku-buku yang tidak muat lagi di dalam lemari.
Meja itu bisa dipakai untuk anak-anak belajar. Tidak takut rusak juga ketika murid-murid datang. Karena meja itu cukup kuat.
Meja kerja ini juga membuat ruangan kerja saya seperti sebuah kantor yang sebenarnya. Dan kantor yang ditata sesuka hati saya, tentu membuat saya rindu untuk terus berada di dalamnya.

Hadiah produktif membuat saya semakin giat bekerja tentu saja.
Ujung-ujungnya hasil kerja itu bermanfaat untuk saya kok. Bermanfaat untuk pasangan dan anak-anak saya juga. Karena saya bisa membuat banyak kreasi.
Oven tangkring dari suami, bisa saya gunakan untuk membuat roti juga kue kering. Irit di pengeluaran tentu saja.
Mesin jahit tua yang membuat saya kesal pada awalnya, akhirnya toh bisa membuat saya berkreasi untuk membuat baju baru. Jadi sekarang kalau lihat baju ini ini, tidak tertarik lagi saya. Karena saya bisa membuatnya sendiri.

Hadiah produktif apa lagi, ya, yang saya inginkan?
Saya belum tahu juga.
Karena hadiah produktif yang ada di rumah, masih harus saya optimalkan.

Menjadi Tetangga yang Bahagia

Mencari bahagia di mana?
Ada banyak dunia maya. Ada banyak penggunanya yang tidak berinteraksi dengan dunia nyata. Dan mereka benar-benar mencari bahagia di sana. Berinteraksi dengan teman-teman yang tidak pernah dijumpai. Ber ha ha hi hi. Dan tidak mau ambil pusing dengan yang ada di sekelilingnya.

Saya pernah sedih ketika bermanfaat di dunia maya, tapi tidak produktif di dunia nyata. Karena itu saya berjuang untuk menyamakan manfaat baik di dunia nyata juga dunia maya. Saling bersinergi antara dunia maya dan dunia nyata.
Adanya dunia nyata membuat para tetangga yang menyibukkan diri dengan gadget dan punya akun sosial media, jadi paham siapa saya. Dan mereka jadi semangat untuk mendorong anak-anak mereka belajar di rumah.

Seimbang dan Bahagia

Harus seimbang. Itu yang saya pikirkan masak-masak.
Saya tidak mau kelak ketika saya meninggal, yang mendoakan adalah orang-orang dari jauh. Teman-teman di dunia maya saja. Sedang tetangga kiri kanan tidak merasa apa-apa. Karena saya tidak memiliki kontribusi apa-apa untuk mereka.
Saya ingin seimbang.
Saling mendukung.
Hingga kelak Allah ridla dan merestui apa yang saya lakukan.

Para pembaca buku saya, bukan tetangga saya. Mereka banyak yang saya kenal dari dunia maya.
Tapi pada akhirnya, buku saya juga dibaca oleh tetangga saya. Karena apa? Karena mereka ingin tahu, seperti apakah buku seorang yang mengajarkan anak-anaknya menulis di rumah?

Bahagia itu sederhana.
Bahagia itu pilihan.
Dan saya bahagia karena menjalani hidup dengan seimbang. Anak-anak dan pasangan juga belajar banyak, dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh ibu mereka.