Jangan Mendongeng Lewat Gadget

KI 7 copy

“Kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit?”
Itu kalimat yang biasa terlontar di zaman sekarang ini.
Ini zaman serba praktis. Zaman instan. Semua ilmu instan bisa didapat dengan mudah, dengan perangkat bernama smart phone alias gadget.
“Biar aja dia main di ipad. Dia sih udah pintar main ipad.”
Usia anaknya masih belum genap dua tahun. Ipad di tangan bahkan sudah retak di bagian kacanya. Ipad dari merk terkenal.

“Aaah, capek mulutnya. Kan bisa setel dari HP.”
Itu jawaban yang lain lagi, ketika saya tanyakan apakah pernah membacakan buku untuk anaknya.
Di satu sekolah, setelah seminar, penjual boneka yang jika ditekan bisa mendongeng sejarah nabi dan juga tilawah Al Quran diminati beberapa ibu-ibu. Harganya di atas ratusan ribu. Jika dikalkulasikan jadi buku yang beli bekas, bisa dapat setumpuk buku, yang akan menghasilkan ilmu dan keakraban untuk orangtua dan anak.

Mendongeng Pakai Mulut dan Hati

Anak-anak saya puas saya dongengi. Karena saya baru berhenti membacakan buku untuk mereka ketika si sulung sudah 11 tahun. Pada saat itu dua anak saya sudah memilih buku sendiri, dan lebih suka membaca sendiri. Meskipun ada saat-saat tertentu mereka minta dibacakan juga. Dan saya memang sengaja menceritakan kembali dengan bahasa yang heboh pada anak-anak isi buku yang saya baca.
Saya juga puas mendengar dongeng. Karena pada masa saya kecil, radio sedang marak. Dan Bapak juga Ibu penggemar sandiwara radio. Jadi imajinasi saya mengembara dengan luas, karena dongeng dari sandiwara radio yang disetel Bapak juga Ibu.

Tapi sekarang zaman yang serba praktis, masih perlukan mendongeng?
Gary Chapman dan Ross Campbell mengenalkan lima bahasa kasih untuk anak.
1. Sentuhan Fisik
2. Kata-kata Penegas
3. Waktu Berkualitas
4. Hadiah
5. Layanan

Masing-masing anak kebutuhannya berbeda. Ada yang hanya butuh orangtuanya bersikap tegas dan ia sudah merasa disayang. Tapi ada yang kebutuhannya lain. Dia ingin orangtua dekat dengannya dan juga memberikan hadiah.
Pada dasarnya semua anak butuh disayang. Dan mendongeng adalah cara menunjukkan kasih sayang yang paling efektif, menurut saya.
Karena apa?
Dalam mendongeng, anak-anak dan orangtuanya berdekatan, tidak mungkin berjauhan. Ketika orangtua marah, anak-anak bisa merasakannya lewat ekspresi suara yang dikeluarkan dari mulut orangtua ketika mendongeng. Bahkan ketika orangtua malas pun, anak-anak bisa merasakan getarannya.
Waktu berkualitas bisa didapat dengan mendongeng. Ketika anak-anak masuk ke kamar tidur, orangtua bisa menciptakan waktu berkualitas dengan memulai aktifitas mendongeng. Anak-anak bisa memilih minta diceritakan apa. Dan orangtua tentu saja harus memiliki asupan wawasan yang luas tentang banyak cerita, yang akan dikeluarkan dalam bentuk dongeng ke anak-anaknya.
Dongeng-dongeng sederhana yang diceritakan dari hati, pasti akan sampai ke hati. Muatan ilmu, budi pekerti dan yang lainnya akan terekam di benak anak, dan tersimpan sampai bertahun-tahun kemudian kelak.

Kreatif, Doooong

IMG-20160430-WA0006

Melihat orangtua yang tidak kreatif, saya sedih. Melihat orangtua yang bangga anaknya menghabiskan waktu di gadget, saya sedih.
Karena itu saya gembira sekali ketika anak-anak di seputaran rumah dipercayakan untuk belajar menulis pada saya. Saya juga bahagia, ketika para Ibu membiarkan anaknya meminjam buku, tanpa diintimidasi buku cerita tidak baik, lebih baik buku pelajaran dan lain sebagainya.

Ada banyak cara mudah dan murah jika ingin maju sebagai orangtua.
Cari saja karton, kertas HVS. Gambar dari majalah bekas atau save dan print dari internet. Buatlah bentuk buku seperti contoh di atas. Lalu tempelkan gambar-gambar di dalamnya.
Mulailah mendongeng dengan panduan gambar tersebut. Percayalah, yang tidak bisa bercerita, pasti akan mudah menulis sebuah cerita sederhana dari gambar tersebut.

Saya membuktikan di kelas inspirasi hari pendidikan belum lama ini. Lima kelas yang saya ajari menulis dari kelas satu sampai kelas enam, semua bisa menulis dengan cara mudah seperti ini. Asal awalnya mereka dipancing dengan membacakan buku cerita dulu. Dan semuanya suka membaca cerita yang mereka buat kembali.

“Kenapa mesti keluar uang mahal-mahal buat boneka yang bisa bercerita? Mending buka mulut, luangkan waktu dan mendongenglah. Boneka itu kalau dibanting rusak lagi.”
Itu hasutan saya untuk ibu-ibu yang mau membeli boneka bisa bercerita untuk anaknya yang dua tahun.
Mendongenglah.
Mulai dari bawah lagi untuk merekatkan orangtua dan anak. Dan untuk itu memang harus ada harga yang dibayar. Waktu kita untuk main gadget harus rela kita buang dan ganti dengan waktu untuk mulai membuka mulut, mendekap anak dan bercerita dari hati.

Kenapa Tidak Mau Mendongeng?

DSCF3341

Ah…, saya sedih kalau ada ibu-ibu yang saya tawarkan sebuah buku, lalu menggeleng. Buku yang banting harga hingga lima belas ribu rupiah, dan diskon sebagai penulis juga tidak dipakai, menurutnya tidak berguna. Lalu ketika abang gerobak membawa baju, celana dan lain sebagainya, mereka berlari ke sana. Tawar menawar. Bisa mengeluarkan selembar uang berwarna biru.
Saya sedih ketika mereka menganggap bahwa selain buku pelajaran, buku lain tidak penting.
Ritual mendongeng sebelum tidur? Tidak akan ada manfaatnya sama sekali.

Anak-anak di rumah biasa saya beri cerita sebelum tidur, sejak mereka dalam kandungan. Saya helus-helus sambil saya bacakan cerita. Efeknya, mereka bisa membaca dan memahami kalimat dengan cepat.
Anak-anak di rumah suka membaca dan saya fasilitasi. Dan tentunya saya ingin teman-teman mereka suka juga membacaca. Sebab mereka akan bergaul dengan orang lain, dan bisa jadi terpengaruh orang lain. Dan tentunya yang paling efektif adalah menyebarkan kebaikan. Tidak fokus menjadi baik sendiri.
“Susah, Ibu…,” itu keluhan pertama.
“Enggak apa-apa susah.Terus-menerus dibawa aja, dan baca. Kasih tahu teman kamu dan bilang. Ih bukunya keren, lho.”
Lama kelamaan, akhirnya mereka sudah terbiasa.
Yang laki-laki lebih sulit membiasakan diri untuk menularkan pada teman. Tapi Alhamdulillah, teman-teman main dan teman sekolahnya, kalau cari buku, pasti meminjam dari rumah. Hanya harus dikasih pesan, agar dikembalikan. Maklum penghargaan terhadap buku, untuk yang bukan pencinta buku, masih dianggap sama dengan bungkus kacang goreng.

Masa kecil anak-anak indah. Paling tidak saya berjuang untuk membuat masa kecil mereka indah. Salah satunya adalah dengan membacakan buku cerita sebelum mereka tidur. Kadang-kadang sampai sekarang, mereka sesekali masih juga meminta untuk dibacakan. Mungkin kangen mendengar suara ibunya bercerita. Mungkin ingin sekali mengenang masa-masa suara ibu seperti kaset yang diputar untuk pengantar tidur mereka.

Dongeng yang Bagaimana

cover mengaji bersama bapak-1 copy

do·ngeng /dongéng/ n 1 cerita yg tidak benar-benar terjadi (terutama tt kejadian zaman dulu yg aneh-aneh): anak-anak gemar mendengarkan — Seribu Satu Malam; 2 ki perkataan (berita dsb) yg bukan-bukan atau tidak benar: uraian yg panjang itu dianggapnya hanya — belaka;

Dongeng masuk katagori non fiksi. Cerita yang dihadirkan adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Misalnya tentang Maling Kundang dan lain sebagainya.
Seiring berkembangnya zaman, seorang Ibu tentunya harus kreatif.
Membacakan cerita sebelum tidur, sering dikonotasikan dengan membacakan cerita bohong. Karena itu mungkin banyak ibu-ibu yang malas melakukannya. Padahal ada banyak buku yang bisa kita jadikan rujukan untuk bercerita pada anak-anak.

Saya biasa membacakan buku apa saja. Tidak perlu pesan dari dunia yang tidak ada. Tapi saya selalu hadirkan pesan dari apa yang ada di sekeliling. Seperti contohnya buku ini. Mengaji Bersama Bapak .

Karena saya biasa menulis hal-hal yang memang saya hadapi, dan tentunya hikmah itu ingin saya bagi ke anak-anak, maka buku-buku yang saya hasilkan juga saya jadikan buku untuk saya ceritakan pada anak-anak. Anak-anak yang biasa dibacakan buku, dan akhirnya punya kebiasaan membaca, akan lebih kritis ketimbang anak yang tidak pernah diajak untuk dekat dengan buku.
Kritis anak-anak pencinta buku adalah kritis dengan mengolah pikiran dan perasaan. Bukan asal buka suara seenak mereka.
Novel anak Mengaji Bersama Bapak ini, menjadi nominasi IKAPI IBF Award 2015.
Ceritanya tentang apa? Tentang Aisyah yang punya keinginan sederhana. Dia hanya ingin si Bapak bisa mengaji, lalu berkumpul bersama bapak-bapak yang lain di sebuah pengajian.

Anak-anak akan berkomentar seperti ini. “Itu cerita beneran apa bohongan?”
atau…”Ibu bikin cerita soal aku?”
Atau…,” Jangan bacain cerita yang bohong, ah…”
Ketika mereka sudah kritis seperti itu, artinya mereka sudah bisa menangkap pesan cerita yang saya sampaikan. Mereka sudah bisa membedakan mana dunia khayal dan mana dunia nyata. Tentunya akan lebih mudah untuk mereka memilih buku dan menangkap sebuah pesan dari buku apa saja yang mereka baca.
Mereka juga akan bisa memilih dan memilah, dengan siapa mereka bisa bergaul akrab.

Ubah Sudut Pandang

Ibu ibu

Beberapa minggu, saya mengajar ibu-ibu pengajian menulis dan mendongeng. Mereka tidak paham dunia menulis, maka saya arahkan mereka untuk paham. Kebetulan Ustadz yang mengajar juga mengakomodir keinginan saya, dan memberikan jatah waktu dia untuk saya.
Lalu apa yang saya dapatkan?

Banyak ibu-ibu muda yang ternyata tidak mengerti apa gunanya membaca untuk anak? Banyak yang merasa pendidikan sekolah lalu mengaji sudah cukup. Buku pelajaran sudah menjadi beban. Kalau bertemu dengan buku lagi, si anak menjadi semakin terbebani.
Jujur, saya kewalahan untuk memberi pemahaman. Meski satu dua dari mereka mau untuk terus belajar menulis dan diajarkan bagaimana caranya mendongeng yang baik, sehingga anak-anak menjadi berkembang imajinasinya.

Ada yang salah pastinya.
Iqra itu artinya bacalah. Turun sebagai ayat pertama. Artinya seorang muslim dan muslimah harus gemar membaca, untuk menambah wawasan keilmuannya. Dengan membaca, lalu belajar menerapkan. Dan akhirnya bisa menyaring apa-apa yang ada di sekeliling. Menyaring dengan apa? Dengan iman.

Siapa yang salah?
Tidak menyalahkan keadaan, karena segala sesuatunya terbentuk karena kebiasaan. Saya terbentuk bisa menulis dan suka membaca karena Bapak saya yang penggemar buku. Saya terbentuk dan mudah berimajinasi karena Ibu saya tidak pernah memaksa saya untuk belajar. Beliau memberi kepercayaan dan saya sebagai anak berjuang menunjukkan bahwa kepercayaan itu tidak sia-sia.
Soal mendongeng?
Untuk membiasakan orang lain, perlu proses panjang.
Tapi mulailah dari diri sendiri. Orang yang paling dekat dengan kita. Sambil doakan terus-menerus.
Saya yakin, anak-anak muda yang tawuran, lalu mereka pemakai narkoba, adalah orang-orang yang bukan saja jauh dari keimanan, tapi juga jauh dari buku. Jiwa mereka miskin.

Intonasi Suara Ketika Mendongeng

logo-IISF-20151

Suwidak Loro. Buku itu ketika kecil saya baca. Pinjam dari teman, yang anaknya guru. Meski di rumah banyak buku, tapi kalau beberapa buku habis saya baca dan saya ulang-ulang, tentunya saya butuh buku yang lain. Maka biasanya saya pergi ke rumah teman-teman yang sering beli buku.
Cerita tentang apa Suwidak Loro?
Suwidak Loro bercerita tentang gadis buruk rupa yang hanya memiliki 62 rambut. Ada beberapa versi cerita itu.
Versi yang pertama, bercerita bahwa si ibu setiap hari berdoa agar si anak gadis yang buruk rupa itu menjadi cantik. Hingga suatu hari ada perlombaan mencari permaisuri. Dengan percaya diri, si Ibu mengikutkan anaknya pada lomba itu, dan mengatakan bahwa anaknya cantik seperti bidadari. Tapi agar kecantikan itu tidak diketahui umum, maka si Ibu ini, ingin anaknya itu dijemput pakai tandu kerajaan dan tandu itu tertutup tidak boleh ada yang melihat.
Sepanjang perjalanan Ibu itu terus berdoa, sehingga bidadari khayangan turun dan merubah wajah Suwidak Loro menjadi cantik.

Versi yang kedua.
Si Ibu selalu menyanyi setiap malam dengan keras, mengatakan bahwa anaknya cantik dan kelak menjadi permaisuri. Tetangga yang tahu si anak itu buruk rupa, mengadukan hal ini pada raja. Raja merasa bahwa seorang Ibu pastilah selalu bicara yang benar tentang anaknya. Maka diutuslah pengawal untuk membawa Suwidak Loro. Ibu membawakan bekal botok semangi untuk makanan di jalan. Wangi botok itu rupanya membuat seorang bidadari menangis menginginkannya. Karena itu ia akhirnya turun ke tandu, dan melakukan pertukaran. Pertukaran apa? Wajah cantik bidadari rela ditukar dengan wajar Suwidak Loro demi untuk sebungkus botok semangi.

Baik versi pertama dan kedua sama-sama mendatangkan motivasi untuk saya sebagai Ibu. Bahwa saya akan terus berharap positif dan berjuang positif untuk anak-anak saya.
Buku ini juga membuat saya punya cita-cita tinggi, dan yakin akan kekuatan doa dan harapan orangtua.

Intonasi Suara

Jadi, zaman dulu. Zaman saya SD, saya sering sekali diminta maju ke depan kelas. Dari mulai diminta baca puisi, nyanyi sampai membacakan dialog dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Kenapa saya diminta? Mungkin karena saya lebay. Lebay dalam artian positif.
Ketika anak-anak maju ke kelas untuk menyanyi dan yang dinyanyikan lagu itu itu saja. Saya malah nyanyi lagu Ade Irma Suryani atau Sudirman-nya Leo Kristi. Waktu baca puisi, puisi yang saya baca, puisi karangan saya. Dan ketika yang lain diminta untuk membaca dialog dalam pelajaran Bahasa Indonesia, maka semuanya dialognya rata saja. Saya? Tanpa ditunjuk, saya suka ke ge er an dan menunjuk diri sendiri. Karena saya suka membacanya. Membayangkan teman-teman yang mendengarkan saya membaca, sama seperti ketika saya, Bapak, Ibu dan saudara lain berkumpul di dekat radio untuk mendengarkan sandiwara radio.

Intonasi suara yang berbeda, akan membuat dongeng tampak hidup. Itu yang saya pelajari betul. Maka saya pahami hal itu.
Dan cobalah kembangkan imajinasi dan melibatkan yang mendengarkan dongeng, agar mereka merasa menjadi satu dan menjadi bagian dalam cerita yang sedang kita ceritakan.
Di tempat KKN dulu, saya kebagian tugas mengajar TPA. Mereka minta didongengkan Nabi dan yang lainnya. Dan mereka suka, ketika nama mereka disebut dalam cerita itu. Bahkan ketika mereka didongengkan cerita lain, mereka antusias dan mau diminta ikut bersuara menjadi tokoh dalam cerita.

Jadilah anak-anak, ketika sedang menulis cerita anak. Itu yang selalu saya katakan. Bersuara anak-anaklah ketika mendongeng tentang seorang anak, itu yang saya lakukan. Mengecilkan suara ketika saya menjadi anak kecil, cerewet ketika jadi Ibu, dan bersuara besar ketika menjadi raksasa. Sehingga anak-anak yang mendengarkan, bisa menciptakan bayangan dari suara-suara itu seperti ketika mereka menonton sebuah film.
Sungguh jika seperti itu yang kita lakukan, maka kebutuhan anak-anak akan sebuah buku, akan lebih meningkat ketimbang kebutuhan seorang anak dengan menonton film.
Banyak yang bisa terjadi karena imajinasi.
Saya tidak muluk-muluk.
Menjadikan anak-anak lebih kreatif, sadar diri, dan berdaya juang tinggi, bisa saya ajarkan lewat dongeng. Mereka tidak merasa digurui dan saya merasa nyaman juga menyampaikannya.
Jadi,
ayo mendongeng.

Ayo Berimajinasi

Suwidak Loro

Suatu hari Spongebob dan Patrick membeli televisi. Bukan, mereka bukan ingin melihat gambar di televisi itu. Televisi mereka buang dan……, kardusnya mereka pakai. Mereka berdua masuk ke dalamnya dan melakukan banyak kegiatan. Kadang terdengar suara seperti di dalam mobil. Kadang terdengar suara lain. Suara berisik itu membuat Squidwarld, ingin tahu. Lalu ia melakukan hal yang sama. Masuk ke dalam kardus itu, dan ia tidak melihat apa-apa. Berkali-kali ia melakukannya tidak melihat apa-apa selain kotak kosong. Ketika Patrick dan Spongebob masuk, mereka melakukan sesuatu yang heboh yang membuat Squidwarld semakin penasaran. Hingga akhirnya ia bertanya kenapa mereka bisa melakukan hal itu?
Jawaban Spongebob sederhana. “Gunakan imajinasi.”

Yeah…, jawaban imajinasi itu menyenangkan buat saya. Meski saya melihat Spongebob setelah usia tidak muda lagi, tapi mengingat perjalanan imajinasi itu sesuatu yang menyenangkan untuk saya. Saya dulu tipe anak yang suka bengong dan kena omelan karena dipanggil tidak menyahut. Karena apa? Karena saya memang sedang fokus melihat benda dan berimajinasi, dengan apa yang saya lihat.
Saya pernah jatuh ke dalam empang di siang hari di usia 5-6 tahun. Seorang kakek tua sampai harus berenang masuk ke dalam empang yang cukup dalam untuk menyelamatkan saya.

Darimana imajinasi didapatkan?
Ada orang yang memang mendapatkannya sebagai suatu berkah. Saya mungkin mendapatkan berkah itu, hingga bisa jadi penulis. Tapi rangsangan lain membuat saya mampu mengembangkan imajinasi itu. Bapak Ibu ketika saya kecil, rajin mendengarkan sandiwara radio. Televisi masih jarang dimiliki. Dan mendengar sandiwara radio itu, lalu Bapak dan Ibu berdiskusi soal isi cerita itu, membuat pikiran saya melanglang buana ke banyak hal.

Imajinasi berharga untuk saya. Dan saya paham tidak semua orang mudah mendapatkannya.
Imajinasi membuat saya kreatif melakukan hal-hal yang tidak ada dalam pikiran orang lain. Imajinasi itu tentu saja ingin saya tularkan pada anak-anak saya. Lalu apa yang saya lakukan?

Sejak anak-anak dalam kandungan, saya rajin membacakan buku, termasuk Al Quran. Setelah mereka lahir, saya juga rajin membacakan buku. Bahkan ketika usia anak seminggu, saya bukakan buku di hadapan mereka. Posisinya terserah seperti apa posisi mereka. Lalu saya bercerita dengan membaca keras-keras, intonasi juga saya buat sesuai tokoh yang ada dalam cerita yang saya ceritakan.
Terus-menerus melakukan hal itu?
Lalu apa yang terjadi? Jadi Superman?
Hi hi…, tentu saja tidak. Kebiasaan membaca dengan intonasi yang jelas, akhirnya membuat anak-anak saya bisa baca di usia kurang dari 4 tahun, tanpa paksaan harus mengeja huruf ini itu.
Caranya bagaimana?

Caranya adalah. Ketika saya membaca, hurufnya saya tunjuk. Misalnya ada bacaan, kuda. Saya ulang berkali-kali kata itu. Ku da. Ku da…, sambil tunjuk hurufnya. Hingga terekam di otak mereka. Kelebihannya juga, mereka bukan sekedar bisa membaca, tapi paham artinya. Karena banyak ibu-ibu mengeluh yang anaknya bisa baca, tapi tidak paham apa yang mereka baca.

Balik ke masalah imajinasi lagi.
Fokus ke imajinasi. Saya membacakan buku ke anak-anak setiap malam sebelum mereka tidur. Merubah-rubah intonasi suara. Dan ketika mereka memandang ke langit-langit kamar, seolah-olah sedang melihat sebuah film yang diputar karena mendengar bacaan saya, itu artinya buku yang saya bacakan berhasil membuat mereka berimajinasi.
Saya berhenti membacakan cerita (semenjak bayi lho ritual ini saya lakukan), setelah keduanya mulai mengambil buku yang saya baca dan memilih untuk menyelesaikan buku itu.

Lalu efek sebuah dongeng untuk anak-anak apa?
Suwidak Loro, buku dongeng yang saya baca ketika kecil dan akhirnya saya cari lagi agar anak-anak baca, adalah buku yang mengajarkan saya untuk percaya pada kekuatan berpikir positif.
Putri buruk rupa Suwidak Loro yang hanya punya rambut 62, dan ibunya perempuan tua selalu bilang kalau suatu saat anaknya akan menjadi istri raja, ternyata membuat pikiran positif itu menjadi kenyataan.

Next, akan saya bahas lebih panjang lagi, ya.