Selai Rasa Kopi

“Mau?”
Kinkin menggelengkan kepalanya. Aroma roti tawar sudah tercium. Mami membuat roti tawar lagi untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini.
Kin sudah hapal apa yang akan Mami berikan pada roti tawar itu setelah dipotong-potong. Untuk Kin, terserah mau dioleskan apa. Untuk Papi juga terserah. Tapi untuk Mami?
Kin menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Ada biji kopi yang tersedia di toples. Kopi robusta. Mami nanti akan memblendernya. Setelah itu Mami mencampurkan dengan sedikit susu. Dan setelah itu…
Kin sudah merasakannya. Pahitnya terasa betul di lidah Kin.
“Mau coba?”
Kin menggeleng keras.
“Kadang kala dalam hidup ini, Kin, kamu harus belajar mengakrabi rasa pahit. Jadi kamu akan terbiasa dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.”
“Kenapa Mami tidak makan ampas kopi saja?” tanya Kin tidak mengerti.
Mami tertawa. “Sebab Mami ingin membungkus rasa pahit itu sedemikian rupa agar tidak terlalu jelas. Jadi Mami menjadikannya selai untuk roti tawar.”
Kin dulu tidak mengerti. Tapi sekarang ia sudah mengerti, meski sungguh Kin juga tidak ingin melakukan hal yang seperti Mami lakukan.
Roti tawar untuk Kin masih kosong tanpa olesan.
Di luar ada yang mengetuk. Keras sekali. Mami memberi isyarat agar Kin melihatnya.
Kin berdiri dari duduknya. Jus mangga buatan Mami membuat perutnya agak mulas. Sudah Kin bilang berkali-kali kalau Kin ingin sarapan dulu, bukan minum jus dulu.
“Mami kamu mana?”
Seorang perempuan berdiri di depan pagar. Kin mencoba mengenali.
“Mami kamu mana? Bilang sama Mami kamu kalau air dari kamar mandi kamu netes sampai kamar mandi Tante. Minta cari tukang buat betulin rumah kamu!”
Kin menarik napas panjang. Mami pasti sudah mendengarnya. Mungkin tetangga lain juga. Tante Ros bicaranya selalu keras.
“Mi…”
Mami meneguk air putih lalu menggigit rotinya. Selai kopi pasti sudah dimasukkan ke dalam roti itu.
“Oke, nanti Mami pindah mandi hanya di kamar mandi bawah saja. Untuk sementara sampai Mami punya uang, kamar mandi di atas biarkan saja tidak dipakai. Gampang, kan?”
Kin garuk-garuk kepala.
Ada selai kacang, selai coklat juga selai strawberry.
Kin memilih selai kacang lalu memasukkan roti isi selai kacang ke dalam kotak bekalnya.
**
Ada roti dengan selai kacang yang sekarang Kin pegang. Ia duduk di bangku paling pojok di kantin.
“Kinkin?”
Telinga Kin langsung tegak mendengar namanya disebut. Tapi ia tidak berani menoleh.
“Kinkin yang kurus itu? Kamu tahu, aku pura-pura jadi teman dia. Soalnya kenapa? Soalnya Mami dia itu kan photographer yang fotonya oke.”
Kin hapal suara itu.
“Kalau di tempat lain di foto mahal. Kalau sama Maminya Kin bisa gratis. Nih…, hasil fotonya keren, kan? Udah aku print terus aku masukin ke agensi model. Siapa tahu aku bisa jadi model terkenal suatu saat nanti.”
Wajah Kin memerah.
“Yakin Kinkin enggak tahu modus kamu?”
“Enggaklah. Kinkin itu baik lagi dan polos.”
Kali ini Kinkin menarik napas panjang lalu mengembuskan kuat-kuat. Sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang. Ada Rena di sana.
“Hai..,” sapa Kin sambil tersenyum.
Rena dan kawannya terlihat kaget. “Kin, kamu..”
Kinkin berdiri dari duduknya.
Masih ada roti yang baru setengahnya ia makan tadi, dan sekarang sudah kembali ia masukkan ke kotak bekal.
Besok, Kin akan minta Mami buat selai kopi yang banyak. Kin mau tahu kalau menelan rasa pahit seperti apa. Jadi Kin bisa tersenyum ketika ada teman yang menyakiti perasaannya, bukan menangis seperti sekarang ini.

Blog Cinta Yasmin

animasi

Andai aku bisa
Terus menjagamu
Seperti angin setia menjaga daun-daun
Yang ia luruhkan ke bumi.

Satu puisi baru Yasmin masukkan. Sekarang mata Yasmin memandangi laptopnya. Tersenyum sendiri. Ia tadi sudah mendownload gambar hati berwarna merah. Lalu ia ubah dengan warna biru. Dan ia jadikan latar belakang blognya.
“Kamu nulis apa di sana?” Caca berusaha mengintip.
Yasmin cepat mengklik bagian atas laptopnya. Berganti dengan akun twitternya. “Semua tentang cinta,” ujarnya cepat.
Caca cemberut. Lalu mulai mengambil telepon genggamnya. Yasmin tahu apa yang akan Caca lakukan. Selfie berkali-kali, lalu akan diunggah ke akun istagramnya.
“Nulis itu capek,” ujar Caca.
Yasmin tersenyum. Blog cinta ia buka lagi mumpung Caca sedang sibuk berselfie ria. Caca membetulkan rambutnya. Caca juga mulai memonyongkan bibirnya. Cekrek cekrek. Sekarang Yasmin lihat, Caca sudah berjalan menuju topi di dinding. Yasmin ingat topi itu dia beli ketika ke Borobudur.
Topi itu sekarang mulai Caca pakai.
“Yasmin…, tolong foto aku dalam posisi nunduk, ya. Cuma kelihatan kepala aja, lho. Pakai aplikasi B612.” Caca meringis.
Yasmin mengikuti pentunjuk Caca. Cekrek sekali. Caca menggeleng, belum puas. Cekrek dua kali, Caca melihat hasilnya dan bilang belum bagus. Cekrek cekrek…, sampai enam kali akhirnya Caca puas. Satu foto Caca pilih. Masukkan kea kun istagramnya.
“Aku boleh pakai untuk menulis di blog?” tanya Yasmin.
Caca mengangguk.
Caca tersenyum. Yasmin tidak tahu, Caca sudah mencari alamat blog Yasmin di smart phonenya. Lalu Caca tekan tombol untuk menyimpan beberapa tulisan di blog Yasmin.
Rangga pasti suka, karena ada banyak tulisan curahan hati Yasmin. Ada juga beberapa puisi, yang Caca yakin pasti ditunjukkan untuk seseorang. Dan seseorang itu pastilah Rangga.
**
Banyak tempat untuk belajar. Ayah selalu bilang seperti itu. Maka Yasmin selalu suka duduk di mana pun itu. Lalu bicara dengan siapa saja.
Sebuah kamera ia keluarkan. Bukan, bukan kamera HP. Ayah minggu lalu memberikan Yasmin kamera DSLR bekas temannya yang wartawan. Ayah bilang, Yasmin boleh eksplorasi apa saja dengan kamera itu.
Yasmin mulai mengalungkan tali kameranya.
Cekrek.
Seorang gadis kecil melambai padanya. Namanya Tita. Senyumnya manis dengan lesung di pipi. Minggu lalu Tita hampir sama diculik. Untung Yasmin memiliki beberapa foto Tita yang sedang di taman. Seorang lelaki yang hampir menculik Tita itu biasa ada di taman juga.
Berteman dengan siapa saja. Itu juga yang Ayah bilang. Maka sekarang Yasmin menikmati es cendol yang disodorkan Bun padanya. Lelaki yang senang mengenakan jaket jeans itu menyentuh kamera Yasmin.
“Kamu mau coba juga?” tawar Yasmin.
Bun mengangguk.
Dua bulan belakangan ini, di taman dekat stasiun, tidak begitu jauh dari sekolahnya, Yasmin memang selalu menyempatkan diri untuk mampir. Kamera itu ia bawa setiap hari ke sekolah. Ada Bun yang dikenalnya. Penjual minuman botol. Bun suka memberi gratis pada Yasmin, asal diajari banyak hal, termasuk menggunakan kamera.
“Aku bisa juga…,” Bun kelihatan baru saja menekan tombol kamera itu, lalu menunjukkan hasilnya pada Yasmin.
“Bagus…,” ujar Yasmin. Lalu Yasmin mengambil kamera itu dari Bun dan mulai mengambil gambar Bun.
Ada banyak ide tulisan yang Yasmin dapat dari Bun. Yasmin akan menuliskannya di dalam blognya.
**
“Penggemar rahasia…,” Ayah tertawa ketika mereka duduk berdua di sore hari. Ada kue lumpur buatan Bunda. “Penggemar rahasia…, sssst…,” kali ini telunjuk Ayah menempel di depan bibirnya.
Yasmin tahu artinya. Ia harus duduk semakin mendekat dengan Ayah. Lalu….,” Es moccacino dengan cendol hitam, ya, Yah,” bisik Yasmin.
Ayah tertawa.
Ada di laptop yang Ayah buka. Yasmin melihat ke layar.
Ayah punya blog. Diisi lengkap dengan foto-foto Yasmin dari Yasmin kecil sampai Yasmin beberapa minggu yang lalu.
“Pengagum rahasia,” Ayah mengklik salah satu foto pengikutnya. “Duluuuu…”
“Dulu kenapa?” bisik Yasmin. Tapi berhenti ketika Bunda datang membawakan es dawet.
“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Bunda.
Yasmin menggeleng.
“Pasti Ayah mau cerita tentang masa lalunya….”
Kali ini Ayah tertawa. Sedang Yasmin terkikik. Pandangannya terpaku pada sosok yang tadi Ayah klik fotonya. Cantik. Alisnya tebal. Senyumnya manis.
“Itu pacar Ayah? Duluuu?” tanya Yasmin.
Ayah menggeleng. “Dulu Ayah naksir dia. Terus ditolak,” kali ini Ayah meringis.
Yasmin rasanya mau tertawa. Tapi Ayah kedengaran berdehem. Lalu Ayah mengklik gambar yang lain. Gambar Ayah waktu muda. Ayah yang kurus kering sedang telanjang dada, dengan rambut panjang. Hii, Yasmin tidak suka juga lihatnya.
“Sekarang dia hobinya baca dan kasih komentar semua tulisan di blog Ayah?”
“Ayah jadi ge er?” selidik Yasmin.
Ayah menggeleng. “Ge er nya sudah hilang,” ujar Ayah cepat. “Ayah hanya senang karena tulisan Ayah di dalamnya, membuat dia jadi bisa menghargai pasangannya.”
Yasmin mengangguk. Yasmin tahu Ayah memberi judul blognya Suara Hati Lelaki. Di dalamnya Ayah tulis pengalaman menjadi ayah dan suami.
**

Ayah selalu bilang kalau efek dari blog sering mengejutkan. Cerita kita yang ditulis di blog bisa saja diaku oleh orang lain. Atau…
Sekarang Yasmin berdiri di depan majalah dinding.
“Itu tulisan kamu. Buat siapa?”
Yasmin membaca. Itu puisi yang diambil dari blognya. Tapi di dalam blog, puisi itu tidak ditunjukkan untuk siapa-siapa. Kenapa sekarang puisi dari blognya itu di printed out dan ada foto Rangga di sebelahnya?
“Bukaaan. Bukan dia yang dimaksud,” Yasmin menggeleng pada Caca.
Tapi terlambat.
Beberapa anak berkumpul mengelilingi Yasmin dan Caca. Dan orang yang bernama Rangga, sekarang berdiri sambil tersenyum. Kelopak matanya berkedip menggoda berkali-kali pada Yasmin.
Wajah Yasmin memerah.
Tidaaak.
Bukan untuk Ranggu puisi yang ada di blognya. Lagipula Yasmin tidak pernah suka dengan cowok yang suka obral senyum, dan yakin semua cewek pasti bisa jatuh cinta dengannya.
“Duhai Cinta…, datanglah seperti kumbang datang pada bunga-bunga…,” teriakan itu terdengar mengiringi langkah kaki Yasmin.
Yasmin geregetan.
Siapa yang sudah iseng seperti itu kepadanya?
**
Ayah tertawa.
Ayah bahkan membuka tabletnya, lalu membuka blognya. Puisi cinta label itu Ayah klik. Lalu terbuka. Deretan puisi cinta ada di sana.
“Yang untuk Maryam ini, Ayah tulis untuk anak kecil yang Ayah lihat di kereta. Bagus, kan?”
Yasmin membacanya.
Mata bulat yang berkedip manja. Lelehan es krim di pipi. Dan aku tahu, aku sudah tergoda.
“Bunda kamu tahu siapa Maryam. Bunda malah lebih suka Ayah jadi puitis.”
Yasmin tersenyum. Ia mencoba membuka postingan yang lain. Judulnya Renata dan Segala Luka.
Bukan. Yasmin tahu itu bukan puisi cinta untuk siapa-siapa. Tapi itu puisi cinta untuk kucing angora mereka yang mati terlindas motor, ketika ke luar dari pagar rumah. Ayah sedih karena itu kucing hadiah ulang tahun Ayah dari Bunda.
“Buat puisi cinta yang banyak,” ujar Ayah.
Yasmin mengangguk.
“Semakin banyak yang membaca, kamu akan semakin bahagia.”
Yasmin tersenyum.
Kali ini Ayah melirik pada Yasmin. “Terus…., sebenarnya puisi itu…”
Oh tidaaak. Soal puisi itu sebenarnya….
Yasmin menggelengkan kepalanya. Telepon genggamnya berbunyi.
**
Blog cinta Yasmin sudah tersebar. Istagram jadi tidak laku, begitu laporan Caca sambil cemberut. Karena katanya foto-fotonya di istagram jadi tidak diminati lagi teman-temannya.
Caca juga mulai tertarik untuk ikutan membuat blog. Tapi isinya lebih banyak foto-fotonya dengan berbagai gaya.
Teman-teman yang lain juga minta untuk diajarkan membuat blog. Ada yang mulai menulis resep di blog. Ada yang rajin menulis kisah tentang kucingnya. Ada juga yang menulis tentang mantan-mantannya.
Benar kata Ayah, untuk bahagia itu sederhana. Menularkan kesenangan saja dan orang lain mengikuti, sudah membuat kita bisa bahagia.
Rangga? Rangga berkali-kali malah jadi kerajinan memajang puisi Yasmin di mading seperti ingin menjelaskan pada semua bahwa puisi-puisi yang ada di blog Yasmin adalah puisi untuknya.
Yasmin tersenyum. Kamera sudah ia masukkan ke dalam tas.
Ada Bunda melongok dari balik pintu. “Ada yang cari.”
Yasmin mengangguk.
Hari ini Yasmin memang sudah berjanji dengan Bun, untuk naik commuter line dan menjelajah kota tua. Bun tidak jualan hari ini. Lagipula Bun sudah mengaku, jualan Bun sebenarnya dalam rangka pendalaman karakter . Bun yang mahasiswa seni itu akan pentas teater.
“Siapa?” tanya Caca penasaran. Ia mulai bergaya lagi. Lalu berganti pose lagi. “Siapa tahu suatu saat ada perusahaan iklan yang melihat blogku, lalu mereka akan telepon aku. Horeee, aku bisa jadi bintang iklan.”
Yasmin terkikik. Caca memang punya obsesi sebagai model.
“Bunda sudah kasih es cendol,” ujar Bunda yang masih ada di dekat pintu.
Yasmin tersenyum. Melangkah ke luar kamar.
“Bun siapa?” kali ini Caca mengikuti.
Yasmin menarik napas panjang. “Bun itu cowok yang membuat puisi, diberikan padaku, lalu aku simpan di blogku.,” ujar Yasmin, pipinya memerah karena malu.

**

Sebab Kau Matahari dan Aku Awan

buku novel 6

Ini sebuah cerita tentang Ayah dan Ibu, ketika sedang mesra-mesranya.
“Dari dulu, Ibu itu selalu kagum dengan ayahmu, Mir. Ayahmu itu benar-benar hebat. Dia selalu saja bisa meredam kemarahan Ibu. Makanya kita saling memberi julukan. Ayahmu memberi julukan pada Ibu, Matahari. Dan Ibu memberi julukan pada ayahmu, Angin.”
“Memang, Mir,” Ayah menyahut sambil mengelus rambut Ibu yang uban-ubannya tertutup sempurna semir rambut berwarna kecokelatan. “Biar ibumu galak, tapi Ayah sadar kalau Ayah memang harus diatur oleh orang segalak Ibu. Kamu tahu awan, Mir. Mudah tertiup angin. Sebentar bisa berubah dari putih menjadi hitam.”
Dan Miranda, anak semata wayang dari pernikahan Matahari dan Awan itu tersenyum bangga, karena memiliki orangtua yang saling menyayangi.
“Ayahmu itu, sungguh bijaksana. Sepanjang usia pernikahan Ibu dan Ayah, sama sekali Ibu tidak pernah terkena amarahnya.”
“Buat apa Ayah marah, Mir? Buang-buang energi. Lebih baik amarah Ayah disalurkan untuk hal-hal yang positif.”
Lagi-lagi Miranda merasa sangat bangga. Ia bahagia, sungguh bahagia.

**

Yang ini kisah ketika Ayah dan Ibu sedang diamuk amarah.
“Sulit, Mir. Sulit cari orang seperti ayahmu itu. Susah diberi tahu. Ibu sudah capek cerewet terus. Bisa-bisa mulut Ibu sobek hanya untuk memberi tahu ayahmu itu. Bertahun-tahun pakaian kotor digeletakkan begitu saja. Memangnya dikira ayahmu di rumah ini ada pembantu? Ibu yang cuci semua baju ayahmu dari dulu.”
“Perempuan itu jangan suka ngomel, Mir. Ikhlas, dong. Kalau sudah punya komitmen untuk melayani suami. Suami itu kan manusia juga. Kalau di rumah kena omelan terus, ya, lama-lama bisa bosan.”
“Biar saja ayahmu bosan di rumah. Memanngya yang bisa keluar rumah hanya ayahmu?”
Dan Miranda tercenung tidak hanya sesaat. Tapi ia menghabiskan malammnya dengan menangis, meratapi pertengkaran yang terjadi di depan matanya.
“Begitu itu yang namanya Matahari, Mir…,” Ayah menarik napas panjang. “Sinarnya terang terus. Kalau awannya lagi malas datang, ya, terus bersinar. Sampai pagi juga kuat, deh. Bersinar dengan omelannya.”
“Yang namanya Awan, ya, begitu itu. Plin plan. Tidak bisa dipegang. Mudah terbawa Angin. Heran, dulu kok aku bisa tertarik dengan laki-laki yang sifatnya seperti Awan begitu!”
Sungguh, Miranda tidak tahu apa yang seharusnya dilakukannya. Ia hanyalah anak semata wayang, yang tidak memiliki tempat mengadu.
**

Suatu hari, di belantara pertengkaran yang belum juga ada habisnya, datanglah Angin.
“ini sahabat Ibu, Mir. Zaman kuliah dulu. Ayahmu juga kenal. Dulu Tante Susan ini jagonya mematahkan hati para lelaki. Ayahmu dulu juga sempat kepincut dan patah hati. Kami menyebutnya Angin. Habis, yang ke luar dari mulutnya menyejukkan seperti Angin dan bisa menghancurkan para lelaki yang menaruh harapan.”
Miranda memandangi wajah yang dipanggil Tanet Susan itu. Wah, wah…, jelas beda dengan Ibu. Galaknya Ibu kelihatan jelas sekali dari garis wajahnya. Bahkan ketika Ibu mengerutkan kening sekalipun.

Tante Susan itu lain. Wajahnya selain masih kencang, juga menyejukkan ketika dipandang. Apalagi senyumnya. Matanya juga seperti ikut tersenyum ketika bibirnya mengukir senyum.
“Angin? Nanti ibumu diberi pelajaran memikat hati para cowok, lagi,” Ayah mencibir. “Sampai umur segitu dia belum nikah, Mir. Kena doanya cowok-cowok yang patah hati terkena rayuannya barangkali.”
“Alah…, Ayah kan juga pernah patah hati sama dia? Apa Ayah juga ikut andil untuk mendoakannya?”
“Buat ap[a?” Ayah melirik ke teras dari ruang tamu tempatnya duduk. “Tapi dia termasuk awet muda, lho. Bandingkan dengan ibumu.”
“Nah…., Ayah mulai main banding-bandingan, nih.” Miranda nyaris berteriak kalau tangannya tidak kena cubit lebih dulu oleh Ayah.
Dan sepanjang pengamatan Miranda siang ini, Miranda masih melihat masih ada sinar kekaguman di mata Ayah untuk Tante Susan.
**

Ini percakapan yang Miranda dengar antara Ibu dan Tante Susan.
“Susah, San. Aku biar cerewet seperti ini tetap saja susah mengendalikan suamiku. Habis diamnya itu, lho. Masa untuk segala hal, aku yang harus melakukannya? Capek. Capek sekali. Kadang kalau aku pikir, dari dulu saja aku punya karir seperti kamu. Bisa dapat uang, bisa…”
“Aku justru ingin seperti kamu. Punya keluarga. Meski muka jadi penyot karena kebanyakan marah, aku rela.”
“Masa, sih?”
“Benar. Jadi perawan tua macam aku ini capek juga, lho. Yang mendekati kalau umurnya tidak jauh lebih muda, pasti lebih tua dengan catatan suami orang.”
“Tapi…”
“Ingat, tidak? Aku ini Angin, senang bergerak ke sana kemari dan menggoyahkan. Tidak seperti kamu, tetap tegak dan garang seperti halnya Matahari.”
“Tapi kamu cantik.”
“Cantik kalau kesepian?”
“Tapi lebih enak dibandingkan aku, setiap hari dari pagi sampai malam hanya mengomel.”
“Terus kamu maunya apa?”
“Entahlah….”

**
Yang ini curhatnya Ayah pada Miranda pada suatu malam ketika mereka duduk berdua, karena Ibu ikut Tante Susan ke luar kota. Kata Ibu untuk refreshing.
“Kamu tahu seperti apa Awan itu, Nak?”
Tumben-tumbennya Ayah menyebutnya dengan sebutan Nak. Pasti ada sesuatu yang penting yang ingin Ayah ceritakan.
“Gelap. Pertanda hujan,” jawab Miranda.
Ayah mengangguk, mengelus kepala Miranda. “Lalu apa yang membuat Awan itu berubah?”
Miranda berpikir.
“Bukan Matahari. Matahari datangnya setelah Angin membawa pergi Awan,” pandangan mata Ayah menerawang.
“Maksud Ayah, apa, sih?” Miranda tidak mengerti.
Ayah sendiri hanya menarik napas dalam-dalam.
Sejak percakapan itu, tidak pernah lagi ada percakapan. Entah Miranda yang takut mendengar curahan hati yang belum sanggup ditampungnya, atau karena Ayah tidak mempercayakan segalanya pada Miranda.
Yang jelas Ibu dan Ayah berbeda sekarang.
Ibu mulai sibuk dengan bisnis jahit yang dirintisnya dari modal pinjaman dari Tante Susan. Sedang Ayah lebih sering berada di dalam kamar. Entah apa yang dilakukannya, tapi MIranda pernah memergoki Ayah sedalam melamun sambil tangannya sibuk memetik gitar di pelukannya.
**

Yang ini cerita yang terjadi setelah berbulan-bulan akhirnya Miranda sadar ada yang yang telah berubah.
“Jadi Mahatari harusnya hidup seprti ini, Mir. Tegar. Garang. Terus bersinar. Hidup Ibu jadi berubah. Untung Tante Susan itu sahabat yang baik, ya, Mir.”
Miranda hanya tersenyum. Senang melihat perubahan Ibu. Wajah Ibu juga tidak lagi kusam seperti sebelumnya. Sekarang wajah Ibu seterang matahari. Entah obat dari dokter mana yang Ibu pakai di wajahnya.”
“Fungsinya Angin, ya, begitu, ya, Mir. Menyejukkan. Dari dulu sampai sekarang yang Ibu rasakan sejak berteman dengan Tante Susan, hanyalah kesejukan.”

Dan Ayah punya cerita lain.
“Rumah ini jadi lebih menyenangkan rasanya, Mir.”
Miranda memandangi ayahnya. Pandangan mata Ayah menerawang, bibirnya mengukir senyum.
“Ayah merasa seperti Awan yang bebas lepas, bisa bergerak sesuka hati.”
“Karena Ibu tidak lagi suka mengomel?” Miranda mencoba menebak.
“Kamu ini, Mir. Yang namanya Matahari tetap saja akan garang. Tetap saja membuat gerah dan tidak menyejukkan.”
“Maksud Ayah?” Miranda meulai tidak mengerti.
Ayah tersenyum menepuk bahu Miranda.
“Apa, sih?”
Ayah masih saja tersenyum dengan pandangan mata yang menerawang.
**

Ini cerita tentang pernikahan Matahari dan Awan, yang telah menghasilkan anak semata wayang bernama Miranda.

“Ibu sudah menebak seperti ini akhirnya, Mir,” Ibu menarik napas panjang. “MUngkin memang sudah takdirnya. Rumah tangga ini selalu membutuhkan penyejuk berupa Angin.”
Selamam Miranda mendengar Aydah dan Ibu bertengkar dengan menyebut-nyebut nama Tante Susan.
“Usaha Ibu memang ditolong oleh…..,” Ibu menangis. “Ibu harus bagaimana, Mir?”
Miranda menggelengkan kepalanya.
Sedang Ayah yang Miranda hampiri di kamar memandang dengan nanar.
“Rumah tangga kami memang membutuhkan Angin, Mir. Dan penyejuk itu sudah begitu menyejukkan hati Ayah. Salahkan bila akhirnya Ayah kembali pada kenangan lama Ayah?”
“Maksud Ayah?”
“Ayah mulai jatuh cinta lagi pada Angin. Tante Susan.”
Miranda hanya tercenung. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
**

Payung Ungu

buku novel 5

“Ayahmu ingin menginap di sini malam ini….”
Udara malam ini panas. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
“Masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempati oleh ayahmu di sini. Ayahmu sendiri, dan beliau selalu merindukanmu.”
Tata memandang bundanya. Ia menarik napas panjang.
“Ayahmu, Ta. Bukan siapa-siapa…”
Tata mendengar suara Bunda seperti memohon. Tata juga melihat ada air mata yang berusaha untuk dibendung Bunda agar tidak keluar dari tempatnya.
“Ayahmu..”
“Apa kata orang nanti?” tanya Tata pelan. “Ayah dan Bunda sudah bercerai, lalu tinggal bersama lagi.”
“Mereka tidak akan mengerti. Yang mengerti hanya kamu, Bunda dan ayahmu. Atau yang lain mengerti jika kamu memberitahu.”
Tata berdiri dari duduknya. “Mungkin saya akan menginap di tempat lain saja…”
“Tapi ayahmu ingin bertemu, setelah beberapa tahun kalian tidak pernah bertemu lagi. Tidakkah kamu punya perasaan yang sama?”
Tata diam. Bunda selalu begitu. Memaksa dengan cara kelembutan.
“Akan saya pikirkan lagi,” ujar Tata akhirnya. Lalu ia berjalan meninggalkan bundanya.

@@@

“Kamarnya di sebelah situ dan spreinya sudah Bunda ganti dengan warna ungu. Ayahmu suka sekali dengan warna ungu.”
Baru tadi sore mereka bicara dan belum ada keputusan. Sekarang, Bunda sudah menghampirinya dan menarik tangannya untuk melihat perubahan pada kamar mungil yang selalu kosong. Kamar tu biasa dipakai tamu untuk menginap.
“Ayahmu juga suka kalau kamarnya wangi. Nanti kita ke pasar kembang dan membeli beberapa tangkai bunga sedap malam.”
Tata melihat. Masih ada binar di mata Bunda. Hebat! Binar dari seorang perempuan untuk seorang lelaki yang menyakitinya dan meninggalkannya tanpa khabar.
“Handuknya juga yang ungu. Ayahmu itu apa-apa maunya serba ungu. Bunda sendiri suka yang netral saja. Hitam, putih, atau….”
“Mirip perempuan…,” Tata tahu, kalimat yang keluar dari mulutnya akan menyakiti perasaan bunda. Tetapi ia harus menyadarkan Bunda.
“Kemeja Ayah nanti…,” Bunda lalu menggeleng dengan kening berkerut. “Biar, Ayah tahu apa baju yang akan dibawanya.”
Tata cemberut.
“Maaf…, Nak.” Bunda menepuk pipi Tatga. “Ini kenyataan dan kamu harus paham itu.”
Sampai kapanpun rasanya Tata tidak akan pernah paham.

@@@

Tamu itu datang menjelang malam, ketika hujan turun lumayan deras. Ia berambut sebahu.
“Teman ayahmu,” ujar Bunda tanpa ekspresi. “Ayahmu batal datang. Sebaiknya…, ia tidur di kamar yang sudah kita persiapkan untuk ayahmu. Bukan dengan Bunda.”
“Bukan juga dengan saya!” ujar Tata ketus.
Bunda berdusta padanya. Sedang berdusta.
“Namanya tante Rien. Sahabat ayahmu dulu…”
Tata diam. Dusta Bunda semakin melebar saja. Sungguh sebenarnya Tata ingin berteriak dan mengatakan bahwa ia mengetahuinya.
“Andai dulu Bunda lebih memahaminya….”
Tata memilih melangkah pergi meninggalkan Bunda.

@@@

Tamu itu tidur di kamar yang sudah dipersiapkan Bunda untuk Ayah.
“Kamu mungkin membenci ayah kamu…”
Kalimat itu meluncur ketika Tata sedang duduk di ruang tamu, menikmati pagi yang disiram gerimis. Seragam sekolah sudah dikenakannya dan payung sudah siap ada di tangannya.
“Kamu membenci dia?”
Tata masih ingat suara yang didengarnya beberapa tahun yang lalu, meskipun kali ini terdengar lebih lembut.
“Membenci segala keputusan ayahmu itu tidak baik….”
Bunda ada di dekatnya memandangnya.
“Kenapa membenci ayahmu sendiri?”
“Kenapa?” kening Tata berkerut.
Hening.
“Kamu tahu, ayahmu sangat mencintai bundamu. Hanya tarikan itu susah sekali dilawan.”
“Tarikan dari sebuah keegoisan?” Tata berdiri dari duduknya. “Bukan begitu?”
“Nak..,” Bunda menggelengkan kepalanya.
Tata ikut menggeleng. “Saya membencinya,” desisnya pada Bunda.

@@@

“Teman ayahmu sudah pergi pagi-pagi sekali.”
Semalam hujan deras. Tidur Tata pulas sekali. Dan pagi ini ketika ia ingin mengetahui apakah kamar mungil dengan nuansa ungu itu, masih terisi seseorang, Bunda sudah memberi khabar padanya.
“Ayah titip sesuatu padamu. Payung ungu di teras sana. Berharap payung itu bisa melindungimu seperti sebenarnya Ayah sekuat tenaga untuk melindungi dan menjagamu dari jauh.”
Bunda mulai pintar berpuisi.
“Dia sebenarnya baik, Ta. Tante Rien juga….”
Tata menggeleng.
“Dalam hidup pernikahan Bunda tidak pernah ada perempuan lain, Ta. Itulah kenapa Bunda masih selalu menghargai keputusan ayahmu meninggalkan Bunda.”
“Bukan juga lelaki lain?”
“Tidak. Hanya ayahmu seorang. Orang baik seperti ayahmu tidak ingin memberikan cinta palsu pada Bunda.”
Tata menggeleng. “Mungkin saya kuno,” ujar Tata berjalan perlahan. “Tapi menyaksikan seorang Ayah yang gagah berubah menjadi perempuan, tidak pernah bisa masuk ke pikiran saya, Bunda,” Tata berbisik nyaris menangis.
Hujan turun semakin deras. Tata bersiap melangkah ke luar.
“Payungnya, Ta…”
Tata membiarkan begitu saja.
Tamu yang Bunda bilang teman ayah itu sebenarnya sudah ia ketahui. Itu ayahnya. Menjelma menjadi seorang perempuan bernama Tante Rien. Dulu ketika Bunda tidak ada di rumah, Tata sering melihat Ayah memakai baju dan make up Bunda.
Hujan turun bertambah derasnya.
Tata hanya tahu, ayahnya seorang lelaki bundanya seorang perempuan. Hanya itu.

10 Komik Satu Cinta

IMG_2582

Bagian Pertama

“Kembalikan buku-buku ini kepada pemiliknya,” ujar Bunda pada Kania di suatu sore sambil menyerahkan setumpuk buku komik. “Kembalikan dan jangan sampai Ayahmu tahu…”
Langit sore itu mendung. Tapi itu pasti bukan suatu sebab yang membuat mata Bunda kelihatan sembab.
“Ayahmu cemburu untuk suatu sebab yang tidak jelas. Kembalikan buku itu pada pemiliknya.”
Kania memandangi Bunda.
Itu buku-buku komik yang biasa Bunda simpan dalam rak bukunya. Buku-buku itu sudah lama sekali tersimpan di sana. Kania dulu suka membacanya ketika di Sekolah Dasar.
“Kembalikan buku-buku itu ya, Nak…”
Ada sepuluh buku komik. Buku komik doraemon yang dulu menemani Kania setiap kali kesepian di rumah.
“Bunda tahu di mana tempatnya. Kamu pasti bisa menemukannya. Tolong Bunda ya, Nak…”
Mata Bunda begitu sembabnya. Juga merah. Apa sih sebenarnya yang terjadi pada Bunda? Apa Ayah begitu marahnya pada Bunda.
“Bunda kasih tahu alamatnya, ya?” ujar Kania mencoba menenangkan Bundanya.
**
Sebuah rumah di tepi sungai. Dekat jalan raya. Kania hanya butuh naik bus dua kali dari rumah. Tempatnya tak jauh dari sekolah Kania.
“Pagarnya dari bambu berwarna-warni di mana Bunda dulu sering kali mengagumi keindahan warna-warninya,” begitu Bunda cerita dengan mata berbinar.
“Bunda benar ingin mengembalikannya?”
Bunda menganggukkan kepalanya.
Dan Kania tidak ingin mengecewakan Bunda. Bunda terlalu baik selama ini. Bunda tidak pernah marah. Bunda terlalu sabar padanya. Begitu sabarnya menghadapi Ayah yang lumayan kerasnya.
Sekarang Kania berdiri.
Tepat di luar pagar di sebuah rumah di tepi sungai yang pagarnya masih bambu dan dicat warna-warni.
Halamannya begitu luas. Dua pohon jeruk yang tidak terlalu tinggi sedang berbuah. Sebagian jeruk itu sudah hampir menguning semuanya. Sementara tidak jauh dari pohon jeruk, ada tempat duduk yang atapnya ditutupi pohon markisa yang juga sedang berbuah.
Kania jadi membayangkan duduk di tempat itu dan menikmati markisa yang sudah menguning itu.
Beberapa buah rak buku terlihat dari luar. Bermacam-macam buku. Kalau saja Bunda memberi tahu tempat itu sejak dulu, mungkin Kania akan senang menghabiskan waktu di perpustakaan ini ketimbang jalan-jalan ke mall.
Jam buka jam 10 pagi hingga jam 5 sore.
Pintu dari pagar itu terbuka.
Tapi tempat itu sepi.
“Permisi..,” ujar Kania masuk perlahan.
**
“Cari siapa, Nak?” tanya seseorang di luar. Seorang Ibu berbaju rapih. Memandang pada Kania. “Mau pinjam buku?”
Sepuluh buku doraemon itu masih berada di dalam tas Kania. Bunda bilang jangan berikan kecuali pada seorang lelaki dengan dua lesung di pipinya dan matanya tajam memandang dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Kania mengangguk. “Mau lihat-lihat dulu…”
“Oh boleh. Sekarang lagi sepi. Nanti kalau sudah menjelang sore banyak yang datang ke sini. Suka baca buku juga?”
Kania mengangguk. Mengamati buku dalam beberapa rak yang ada. Buku-bukunya sama seperti buku yang ada di rumah.
“Kalau mau baca boleh duduk di mana saja, Nak.”
Tidak ada komik. Apalagi komik doraemon. Semuanya buku-buku yang sedikit gambarnya. Kadang-kadang Kania agak pusing juga kalau baca buku dengan sedikit gambar meskipun Bunda selalu bilang kalau Kania harus mencoba menyukainya.
Rak dengan buku-buku yang sama.
Tapi lelaki yang berlesung pipi dan…
“Sudah ketemu bukunya, Nak?”
Kania menggeleng. “Om Reihannya ada, Bu?”
Kening Ibu yang ramah itu berkerut.
“Tanya soal Om Reihan saja. Kami dulu memanggilnya Sun. Matahari, Nak. Kalau kamu benar-benar sudah mengenalnya, kamu akan merasakan kehangatan matahari dari senyumnya.”
Ibu itu terus memandangi.
“Kata Bunda dulu ada yang bernama Om Reihan, yang…”
“Ayah….!” Ibu itu menghilang.
Memanggil seseorang.
**
Tapi yang datang seorang yang lain. Bapak dengan rambut memutih dan mata tajam memandang Kania. Tapi tidak ada senyum.
“Kamu cari Om Reihan?”
Suaranya juga tidak ramah. Kania bahkan jadi agak takut. Lebih takut ketimbang ketika Kania dimarahi Ayah.
Kania mengangguk.
“Untuk apa?”
Bunda pesan jangan cerita apa-apa kecuali Kania benar-benar bertemu dengan Om Reihan itu.
Kania menggeleng.
“Tidak apa-apa,” ujarnya. “Besok saya balik lagi ke sini,” ujarnya lalu bergegas pergi.
Tidak ada Om Reihan. Tidak ada laki-laki berlesung pipi yang selalu tersenyum itu. Mungkin Bunda salah.
**

“Kamu tidak menemukannya?”
Kania menggelengkan kepalanya.
Bunda memandanginya dengan sedih. Seperti berharap banyak padanya.
“Apa Bunda tidak salah rumah?”
Bunda menggeleng. “Rumah dengan cat bambu warna-warni di pinggir sungai. Banyak buku di sana. Dan Om Reihan…”
“Tapi bapak itu bukannya Om Reihan. Om Reihannya tidak ada…”
“Tapi kemarin…” Bunda memandangi Kania. “Kalau Bunda mencarinya, tolong jangan katakan pada Ayah. Ayahmu bisa cemburu.”
Kania memandangi Bunda. “Buku doraemon itu sudah lama, Bunda. Kenapa tidak disimpan saja?”
“Bunda meminjamnya dan Bunda wajib mengembalikannya.”
“Tapi sudah tujuh belas tahun yang lalu, kan?”
“Tapi tetap buku itu bukan milik Bunda.”
“Memangnya Om itu siapa?” tanya Kania.
Bunda menggeleng. “Katakan padanya untuk memberikan buku itu pada gadis yang lain…”
Bunda kok jadi aneh begitu, sih?
**

Bagian Dua

“Kania…”
Kania mungkin pulang terlalu sore. Atau Ayah yang pulang lebih awal ketimbang hari lainnya? Biasanya Ayah pulang setelah jam di kamar Kania menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya Ayah datang setelah Bunda masuk kamar dan tidur.
“Kania…”
Apa Ayah akan memarahinya karena pulang kelewat sore? Atau…
“Ayah belikan rak buku di kamar kamu. Dan Ayah isi dengan buku-buku baru. Buku-buku untuk remaja seumuran kamu. Kamu pasti suka.”
Ayah menarik tangan Kania ke dalam kamar.
Benar. Rak buku baru. Tidak terlalu tinggi. Tapi rak itu berwarna ungu seperti warna kesukaan Kania. Pintunya dari kaca. Seperti baru dilap jadi begitu bersihnya. Dan di dalamnya sudah berisi banyak buku.
Tidak ada satu deretpun yang kosong.
“Ayah…”
Ayah menepuk bahu Kania. “Ayah ingin anak Ayah baca buku yang baik. Bukan buku-buku komik seperti yang biasa kamu baca. Kebetulan buku-buku ini buku yang akan dijual diskon. Ayah dapat diskon juga tentunya. Pengarang kesukaan kamu banyak bukunya di sini.”
Kania melihat buku yang ada di tangan Ayah.
Dara.
Ayah selalu cerita soal buku-buku yang ditulis oleh Dara. Buku apa saja. Kata Ayah, penulisnya pasti pintar. Dan kalau Kania rajin membaca buku karangannya maka Kania akan ketularan pintar.
“Kamu baca dan….”
“Kenapa tidak boleh komik,” protes Kania.
“Ssst..,” Ayah mengibaskan tangannya di depan wajah Kania. “Komik itu untuk anak kecil. Kamu sudah besar. Otak kamu harus diasah untuk memahami kehidupan lebih dalam lagi. Bukan dengan membaca komik. Apalagi komik doraemon.”
Kening Kania berkerut. Apa Ayah tahu?
“Komik itu yang kemarin dulu suka kamu baca, kan? Lihat Bundamu itu. Karena terlalu suka baca buku jelek jadi gampang sakit. Pikirannya tidak luas.”
Kania diam saja.
Ayah tidak bisa dibantah. Ayah memang selalu begitu bila bicara tentang Bundad.
Setahu Kania Bunda sakit bukan karena banyak baca buku yang aneh. Darah tinggi Bunda yang membuat Bunda pernah stroke dan membuatnya sekarang di kursi roda itu turunan dari Eyang Kakung.
“Penulis Dara ini Ayah kenal. Nanti kapan-kapan Ayah pertemukan dengannya.”
Kania mengangguk saja.
Buku-buku itu begitu banyaknya. Apa ia sanggup membacanya?
**
Ayah punya satu pe er.
Malam ini Kania harus membaca satu novel yang ditulis Dara. Besok Ayah akan tanya isinya. Kata Ayah sampai halaman berapapun Kania baca Ayah akan tahu. Karena Ayah hapal setiap halamannya.
Kania mengambil salah satu buku itu.
Belum lagi membukanya, pintu kamarnya terbuka.
“Bunda…,” Kania menghampiri. “Ayah membelikan aku rak berisi penuh buku,” ujar Kania.
“Ayahmu begitu mencintainya…” Bunda bicara pelan.
“Maksud Bunda…”
Bunda menarik napas panjang. “Kamu jangan lupa buku-buku yang Bunda pesan, ya?” Bunda terbatuk.
Sakitnya Bunda mungkin bertambah parah. Bunda tidak mau ke dokter. Darah tinggi dan asmanya kumat bergantian.
Kadang-kadang Kania berpikir…
Ah, tidak. Kania tidak boleh berpikir macam-macam. Bunda pasti akan sehat
seperti sebelumnya.
**
“Om tahu rumahnya?” tanya Kania pada Om Dedi.
Pulang sekolah Kania menyempatkan mampir ke rumah Om Dedi. Om Dedi itu adiknya Bunda.
“Rumah siapa?”
“Rumahnya…,” bola mata Kania berputar. “Bunda punya pacar siapa waktu muda dulu?”
Kali ini ganti bola mata Om Dedi yang berputar. “Bundamu dulu banyak pengagumnya. Om sendiri lupa siapa-siapa saja yang dekat sama Bunda.”
“Yang suka baca buku…”
“Semua cowok yang dekat sama Bunda kamu suka baca buku. Bunda kamu tidak suka sama cowok yang tidak suka buku. Contohnya Ayahmu, kan? Ayahmu suka baca buku.”
“Selain Ayah…”
“Selain Ayah itu…”
“Yang suka baca buku komik…”
“Yang suka baca buku komik…,” kening Om Dedi berkerut. “Kenapa kamu tanya begitu?”
Kania menggelengkan kepalanya.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau Bunda bisa sembuh sakitnya karena…”
“Reihan!” Om Dedi nyaris saja berteriak. “Om Reihan namanya. Buku komiknya banyak. Bukan anak sekolahan. Tapi dia pintar menggambar dan bikin komik. Bundamu menyukainya diam-diam.”
“Tapi Om Reihan itu…”
“Pagi itu Om melihat Om Reihan pulang dengan kecewa. Kakek mengusirnya. Sebab Bundamu akan menikah dengan Ayahmu. Setelah itu dia tidak pernah kelihatan lagi.”
“Sepuluh buku komik yang Bunda simpan…”
“Bundamu masih menyimpannya?” tanya Om Dedi seperti terkejut.
“Memangnya…”
“Kakekmu membakar hampir semua buku komik yang ada. Jadi Bundamu masih menyimpannya?” Om Dedi menggelengkan kepalanya. “Om juga tidak mengerti kenapa Bundamu begitu dekat sama dia.”
“Om tahu rumahnya?”
“Terakhir di dekat sungai. Setelah itu katanya dia pindah. Ayahmu yang tahu.”
“Tapi…”
“Ayahmu yang tahu jelas.”
Kepala Kania jadi pusing karenanya. Kalau Ayah yang tahu, bagaimana mesti ia katakan soal sepuluh buku komik doraemon itu?

**
Bagian Tiga

“Sakitkah, Bunda?” tanya Kania waktu meminumkan teh hangat pada Bundanya.
Sore yang dingin ini Bunda menggigil. Asmanya kumat. Bunda tidak pernah mau meminum obat dari dokter. Bunda hanya ingin minum teh hangat saja.
“Kalau Bunda sembuh…”
“Buku komik itu sudah kamu berikan pada Om yang Bunda katakan?”
Kania menggeleng.
Om Dedi bilang tidak mau ikut campur. Ayah Kania galak. Karena itu Om Dedi meminta Kania untuk tidak berurusan lagi dengan Om Reihan. Lagipula, Om Dedi malah berpesan agar Kania bilang pada Bundanya kalau buku itu sudah dikembalikan. Om Dedi berjanji akan menyimpannya.
“Bunda…”
Bunda terbatuk. “Kania, buku itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.”
“Kenapa harus dikembalikan? Bukankah itu sudah lama sekali? Tidak ada yang tahu di mana Om Reihan kecuali Ayah.”
Bunda menunduk.
“Apa Kania harus bertanya pada Ayah?”
Bunda masih menunduk.
Mungkin Kania memang harus bertanya pada Ayah.
**
“Sudah selesai buku novel yang Ayah pinta untuk kamu baca?”
Baru dua halaman. Itupun Kania paksakan. Tidak ada gambarnya. Bikin Kania mengantuk.
“Sudah selesai apa belum?”
Kania menggeleng. Ia harus jujur pada Ayah.
“Bagaimana kamu ini? Padahal kalau kamu bisa menyelesaikan dengan cepat,” Ayah geleng-geleng kepala. “Kamu akan Ayah pertemukan dengannya minggu depan.”
“Dia…”
“Ayah mengundangnya. Kamu pasti akan suka bertemu dengannya.”
Kania mengangguk saja.
Ayah kerja di sebuah penerbitan. Pastinya bisa dengan mudah bertemu dengan pengarang siapa saja.
“Matanya bulat seperti matamu…,” Ayah menepuk-nepuk bahu Kania. “Kamu pasti akan terkagum-kagum padanya.”
Kania mengangguk.
“Panggil namanya Tante Dara…”
Kania mengangguk lagi.
**
Badan Bunda panas.
Ayah pergi entah ke mana. Katanya ada suatu urusan.
“Ke dokter saja, Non,” ujar Bibik seperti ketakutan. “Kalau parah, gimana? Tetangga Bibik ada yang meninggal karena gak bisa napas.”
Badan Bunda panas sekali.
“Bunda mau ke dokter…”
“Komik doraemon itu, Nak..,” mata Bunda memandang pada Kania.
“Tapi…”
“Bunda akan merasa lega setelah itu…”
Badan Bunda panas.
Panas sekali.
Apa yang harus Kania lakukan?
**
Om Dedi datang di tengah malam akhirnya bersama istrinya yang dokter.
“Kalau Bundamu sakit begini harus telpon Om dong, Kan…”
Om Dedi mungkin tidak tahu kebingungan Kania.
“Kania…,” Om Dedi memanggilnya. Bicara di ruang tamu. “Bundamu bukan hanya sakit badan. Tapi juga sakit hatinya. Kamu mengerti?”
Kania tidak mengerti.
Bagaimana mungkin Kania bisa mengerti? Bunda tidak banyak cerita. Bunda lebih banyak diam. Bahkan dalam sakit sekalipun.
“Asma Bundamu itu harus dijaga,” Om Dedi kali ini menepuk pipi Kania. “Sedikit pikiran saja bisa membuat Bundamu menjadi sakit badannya.”
Kania menunduk.
Lalu ia harus bagaimana?
Ia hanya anak tunggal. Tanpa teman bicara. Kalau saja ia punya seorang kakak atau adik yang bisa diajak berbagi.
Sahabatpun ia tidak punya. Sejak Bunda sakit, ia jadi tidak enak hati merepotkan teman terbaiknya dengan masalahnya.
“Kania…”
Mata Kania basah memandang Om Dedi.
“Ayahmu yang tahu perihal Om itu. Om tidak berhak bertanya. Om hanya orang luar.”
Kania mengerti.
Ayah itu susah untuk diajak bicara. Ayah tidak akrab dengan Om Dedi.
“Om akan bantu, Kania. Kalau Bundamu sakit, kamu harus langsung hubungi Om. Tidak seperti sekarang ini. Untung asmanya tidak membutuhkan oksigen karena belum begitu parah.”
“Iya, Om..”
Kamu bicara dengan Ayahmu, ya?”
Kania mengangguk. Ia memang wajib bicara pada Ayah.

**
“Ke rumah sakit,” ujar Ayah pada Kania begitu datang dan tahu Om Dedi dan istrinya ada di rumah. “Biar Bundamu dirawat oleh dokter yang ahli. Istri Om Dedi sudah mengurusnya. Dan Ayah akan minta Bibik untuk menjaga Bundamu selama di rumah sakit.”
Bibik yang menjaga Bunda.
Diam-diam Kania memandang pada Om Dedi. Dan Om Dedi hanya mengedikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
“Besok kita bertemu dengan Dara itu. Kamu mau, kan?”
Ayah tidak bisa dibantah. Dan Kania hanya bisa mengangguk saja.
**
Bagian Empat

“Bundamu bisa kamu besuk nanti setelah kamu pulang dari bertemu dengan penulis itu.”
Begitu yang Ayah katakan pagi-pagi sekali ketika menyuruh Kania untuk membeli nasi uduk untuk sarapan.
Pagi ini ada janji dengan Tante Dara yang datang ke kantor Ayah. Ayah akan beri waktu pada Kania untuk bicara dengan Tante itu dari hati ke hati. Ayah akan menunggu di ruangan Ayah.
Beberapa novel yang Ayah berikan pada Kania belum Kania sentuh lagi. Kania tidak berminat. Kania justru memikirkan Bunda. Pasti Bunda merasa sedih karena hanya ditunggui oleh Bibik.
Nanti, sepulangnya dari kantor Ayah, Kania akan langsung ke rumah sakit. Kania akan menunggu Bunda sampai besok pagi. Mungkin Kania akan berangkat sekolah dari rumah sakit saja.
“Pakai baju yang membuat kamu kelihatan pintar. Bukan baju yang hanya mengesankan bahwa kamu menarik saja. Pintar, Kania. Banyak laki-laki akan bertahan pada perempuan karena kepintarannya. Bukan karena menariknya.”
Kania mengangguk saja.
Seperti saran Ayah, Kania mengenakan baju atasan berwarna ungu dengan motif bunga. Ditambahi jaket jeans yang warnanya coklat. Serasi dengan celana panjang coklat.
Kalau Bunda ada di rumah, Bunda pasti lain pilihannya.
Bunda akan memilih yang menarik dan sesuai dengan jiwa Kania. Bunda itu pakaiannya selalu serasi. Meskipun sakit, Bunda tidak pernah mau memakai daster. Bunda juga selalu menyisir rambutnya dengan rapih.
Seperti itukah maksudnya Ayah? Bahwa Bunda hanya menarik tapi tidak pintar?
“Ayo..,” Ayah menarik tangan Kania. “Penulis itu tepat waktu bila janji.”
Kania mengikuti.
**
“Pasti kamu sepintar Ayahmu…,” Tante itu mencubit pipi Kania. Seperti gemas.
Tante itu manis. Pakaiannya biasa saja. Warnanya ungu. Mungkin itu alasan Ayah dulu memaksakan Kania untuk menyukai warna ungu? Seingat Kania dulu setiap kali ia ingin memilih warna lain, Ayah selalu bilang kalau warna ungu itu menarik dan cocok untuk Kania. Samai akhirnya Kania menyukai warna ungu.
“Ayahmu bilang kamu suka dengan buku-buku karangan Tante…”
Kania diam.
Ia harus jujur. Bunda selalu mengajarkan hal itu. Karena satu kebohongan pasti akan diikuti oleh kebohongan yang lain.
“Dari semua koleksi kamu, buku apa yang paling kamu suka? Kita diskusikan soal buku itu. Tante butuh masukan agar bisa menulis lebih bagus lagi nanti.”
Kania diam.
Ia hanya menyelesaikan dua halaman saja. Itupun harus berkali-kali. Mungkin karena pengaruh Bunda begitu besar untuknya. Bunda selalu bilang kalau ia tidak suka buku maka ia bisa mencintainya secara perlahan saja melalui komik-komik lebih dulu.
Kalau Ayah sejak dulu memang selalu melarang komik.
“Hei…, kenapa diam?”
Kania memaksakan menarik garis senyumnya. “Aku tidak suka buku. Aku lebih suka komik.”
Hening.
Mungkin Tante itu kaget. Atau malah marah.
“Bunda suka komik. Aku juga…”
“Komik Jepang atau…”
“Doraemon…,” ujar Kania. “Tidak apa-apa, kan?”
Tante Dara mengangguk. Menepuk pipi Kania. “Suami Tante suka komik juga. Bisa menggambar juga. Kalau kamu mau belajar menggambar dengannya, Tante bisa ajak kamu ke rumah dan perkenalkan dengannya.”
Menggambar komik?
“Banyak juga buku komiknya di lemari buku.”
“Kapan aku bisa bertemu Om?” tanya Kania kali ini bersemangat.
**
Ayah diam saja sejak tadi. Bahkan ketika menurunkan Kania di luar halaman rumah sakit.
“Kamu mengecewakan Ayah,” ujar Ayah menggelengkan kepalanya.
Kania diam saja.
Tante itu janji akan menelponnya.
Bunda mungkin akan senang mendengarnya.
**
“Mari bicara soal Om Reihan…,” Om Dedi langsung menarik tangan Kania. Mengajak bicara di taman rumah sakit ketika Kania baru saja sampai. “Ini masalah serius…”
Minggu kemarin Tara juga ngomong soal masalah serius. Masalah dia naksir Angga.
Serius yang ini…
“Bundamu ini sakit bukan cuma di badan, Kania. Lebih dari 80 persen sakitnya manusia itu karena pikiran. Dan itu yang menjadi penyakit Bundamu. Heran…, dulu Bundamu itu orang yang tidak punya pikiran buruk di kepalanya.”
“Memang Bunda kenapa?”
Om Dedi menarik napas panjang. “Sekarang tidak mau makan. Apa kamu sudah tanya sama Ayah kamu soal Om Reihan itu?”
Kania menggeleng.
”Sepuluh buku doraemon. Aku juga heran kenapa hanya sepuluh buku itu
bikin Bundamu jadi sakit dan tak bersemangat seperti ini.”
Sepuluh buku doraemon itu masih Kania simpan dalam tas sekolahnya. Kania titipkan di kantin sekolah pada Ibu kantin karena takut nanti ada guru yang merazia tasnya lalu mengambil buku komik itu.
“Bundamu tidak bahagia bersama Ayah kamu…”
“Om..,” Kania memandangi Omnya. “Tapi Bunda bisa sembuh, kan?”
Om Dedi mengusap wajahnya.
“Apa harus bertemu Om Reihan dulu baru Bunda bisa sembuh?”
Om Dedi diam.
“Kalau aku bisa bertemu dengan Om Reihan, aku akan minta Om Reihan menggantikan Ayah biar Bunda bahagia.”
Om Dedi tak menyahut tapi langsung meraih kepala Kania dan mendekapnya erat.
**
Malamnya, telpon genggam Kania berbunyi.
“Suami Tante punya waktu untuk bertemu,” ujar Tante Dara. “Kamu punya waktu besok?”
“Habis pulang sekolah ya, Tante?”
“Ya. Habis pulang sekolah.”
Kania tidak perlu minta ijin Bunda. Apalagi Ayah. Kalau ia sudah bertemu baru ia akan cerita.
**

Bagian Lima

“Kania…”
Mata itu bersinar ramah. Senyumnya mengembang waktu Kania datang. Ada lesung pipi yang jelas tercetak nyata di pipi itu.
“Sudah kelas berapa?”
Kania hampir tidak percaya.
Rumah Tante Dara tidak jauh dari sekolahnya. Tidak begitu jauh dari rumah di pinggir sungai dengan pagar bambu berwarna-warni.
“Ayo duduk…”
Halamannya besar. Ada tempat duduk di luar yang atapnya terbuat dari pohon anggur. Bahkan anggur itu sedang berbuah. Hanya saja belum matang. Kania jadi harus menelan ludah beberapa kali ketika melihat anggur-anggur itu.
“Kamu suka komik?” Om itu tertawa. “Pulang dari bertemu kamu beberapa hari yang lalu, Tante Dara cemberut. Om tanya kenapa? Katanya ada anak gadis yang katanya suka bukunya tapi ternyata hanya pura-pura demi menyenangkan hati Ayahnya. Anak gadis itu ternyata lebih suka komik ketimbang novel.”
Om itu tertawa lagi. Tawanya membuat hati Kania yang sedih jadi ikut bergembira karenanya. Lesung di pipi itu tercetak lagi. Jangan-jangan…
“Hei.., kenapa kamu pandangi Om seperti itu?”
Kania menunduk. Om Reihan. Om Sun. Matahari yang tawanya akan menghangatkan. Tapi…
“Kamu mau belajar menggambar?”
Kania mengangguk. Pertanyaan itu ditepiskan dulu untuk dikeluarkan nanti setelah hatinya pasti.
“Komik apa?”
“Doraemon..,” suara Kania pelan tapi jelas.
Hening.
”Doraemon…”
“Bunda suka sekali komik doraemon. Masih menyimpannya. Hanya Bunda
ingin aku mengembalikan sepuluh buku doraemon itu ke pemiliknya.”
Hening lagi.
“Jadi kamu ingin belajar menggambar kapan?”
“Om Reihan…,” Kania memanggil.
“Ya, kenapa?”
Deg.
Jantung Kania serasa berhenti. Jadi Om di hadapannya adalah Om yang dicarinya.
Jadi….
“Bunda sakit. Om mau melihatnya?”
Tak ada jawaban.
**
Om itu Om Reihan namanya. Kania akhirnya bisa menemukannya. Hanya saja Om itu menggeleng ketika Kania memberikan sepuluh buku doraemon untuknya sambil melihat ke dalam rumah.
Jangan-jangan Om itu takut Tante Dara cemburu. Jangan-jangan Om itu memang sudah benar melupakan sepuluh buku doraemon itu.
Kania bergegas ke rumah sakit.
Om Dedi yang menyambutnya. Langsung merangkulnya. “Bundamu sakitnya bertambah parah. Sudahkah kamu menemukannya?”
Kania mengangguk. “Sudah. Kania tahu rumahnya.”
Om Dedi menghentikan langkahnya. “Sudah?”
Kania mengangguk yakin.
“Kenapa kamu tidak ajak dia ke sini? Kenapa tidak kamu tunjukkan pada Bunda kamu bahwa kamu sudah menemukan orang yang dicari? Ini bisa jadi kejutan untuk Bunda kamu dan Om yakin Bunda kamu pasti bisa sembuh karenanya.”
Kania menunduk.
Om itu tidak mengaku bernama Reihan meskipun pertama Kania panggil Om itu mengangguk.
“Kania…”
“Kalau aku bicara dengan Ayah…”
Om Dedi merangkul bahunya. “Kamu sudah besar. Om yakin, segala keputusan yang kamu ambil berkaitan dengan Bunda kamu, adalah keputusan yang matang.”
**
Bunda terbaring lemah.
Tabung oksigen ada di samping Bunda. Napasnya sudah membutuhkan napas bantuan.
“Bunda.., “ Kania menyentuh tangan Bunda.
Bunda tersenyum kepadanya.
“Kalau Om itu sudah Kania temukan, Bunda mau sembuh, kan?”
Bunda masih saja tersenyum padanya.
“Kalau sepuluh buku doraemon itu sudah Kania kembalikan. Bunda mau sembuh, kan?”
Bunda menggenggam tangan Kania erat sekali.
Kania yakin, itu jawaban dari Bunda.
**
“Ayah.” Pulang dari rumah sakit Kania langsung bicara pada Ayah.
Ayah sedang duduk di ruang tamu. Membaca buku.
“Ayah..,” Kania menghampiri.
Ayah kelihatan tak terpengaruh.
“Kenapa Ayah tidak perduli pada Bunda?”
Mungkin Ayah terkejut dengan pertanyaan Kania. Matanya tajam memandang pada Kania. Bahkan kaca mata yang dipakainya pun sampai dilepasnya.
“Bunda sakit selama ini…”
“Kania,” Ayah menarik napas panjang. “Bundamu itu sakit karena dibuat-buat sendiri. Harusnya jadi perempuan itu yang tegar.”
Dulu seingat Kania Bunda tegar. Meskipun Ayah sering memarahinya tapi Bunda tetap tersenyum.
Apa saja bisa jadi sumber kemarahan Ayah. Bahkan ketika Bunda salah meletakkan barang.
Hingga akhirnya Bunda terkena stroke tiba-tiba. Bunda yang selama ini sehat ternyata mengidap darah tinggi. Om Dedi sampai geleng-geleng kepala.
“Apa Ayah membenci Bunda?”
Ayah diam.
“Apa Ayah tidak ingin membahagiakan Bunda?”
Mungkin Kania bicaranya keterlaluan sampai akhirnya Ayah berdiri dari duduknya.
**
Malamnya telpon genggam Kania berbunyi.
“Bundamu sakit apa?”
Meski tidak menyebutkan nama tapi Kania tahu siapa yang menelpon. Om yang siang tadi ditemuinya. Meski sudah malam, mendengar suaranya seperti merasakan hangatnya sinar matahari.
“Darah tinggi dan asma. Entah sakit apa lagi,” suara Kania terdengar putus asa.
“Katakan padanya, buku itu berhak menjadi milik Bundamu. Om tidak akan memintanya kembali.”
“Tapi Bunda minta buku itu dikembalikan pada pemiliknya. Lalu pemiliknya bisa memberikan pada gadis lain.”
Hening.
Cukup lama.
Sampai Kania merasa telpon di sebrang sana sudah ditutup. Kania sempat menekan-nekan tombol telponnya sendiri.
“Om tidak berhak dicintai begitu lama. Gadis sebaik Bundamu sudah mendapat yang terbaik. Dan Om sudah merelakanya.”
“Tapi Bunda membutuhkan Om,” ujar Kania.
Telpon itu sudah ditutup. Tapi Kania lega karena sudah mengatakan apa yang selama ini dikatakannya.
**
Bagian Enam

Pagi itu Ayah menunggu Kania di teras. Ayah belum berpakaian rapih seperti biasanya. Kania pun baru ke luar dari dalam kamarnya.
“Kamu tahu kenapa, Kania?”
Kania diam saja.
Ia tidak akan tahu banyak soal Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda tidak seperti Ayah dan Bunda temannya. Teman-temannya sering menceritakan kalau Ayah dan Bundanya suka mengajak bercanda. Bercerita soal masa lalu mereka.
Sejak kecil dulu, Kania tidak merasakan kehangatan itu. Ayah punya dunia sendiri. Bunda juga.
Yang Kania tahu mereka tetap bersama adalah karena Ayah dan Bunda masih berada dalam kamar yang sama.
“Kamu tahu kenapa, Nak?”
Kania menggeleng.
Ulangannya jelek belakangan ini. Wali kelas sampai bertanya ia ada masalah apa. Bahkan guru BP sempat memanggilnya sekali. Kalau ia bicara sesungguhnya, tentu mereka tidak akan mengerti.
“Kania…”
“Bunda dan Ayah tidak saling mencintai, kan?” ujar Kania akhirnya.
Hening.
Ayah menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat sekali. “Tahu apa kamu soal cinta?”
Kania menuduk. “Ayah membuat Bunda tidak bahagia.”
“Kamu merasa seperti itu?”
“Apa Ayah tidak merasa?”
Hening lagi.
“Apa di mata Ayah Bunda tidak pintar? Apa karena Ayah suka dengan Tante Dara? Apa karena…”
“Kania!” Ayah meninggikan volume suaranya. “Kamu tidak tahu apa-apa!”
“Kania sudah besar, Ayah.”
“Bundamu yang memulai. Kamu tidak tahu apa-apa selain membela Bunda kamu. Kalau kamu ingin Bunda kamu dengan lelaki lain, silakan,” Ayah berdiri dari duduknya. Meninggalkan Kania.
Ayah marah. Tapi Ayah harus tahu.
Kania capek.
**
“Kalau kamu sampai kehilangan Bunda kamu…,” Om Dedi merangkul bahu Kania. “Kamu bisa tinggal bersama Om.”
Pagi itu mendung. Ayah langsung berangkat kerja tanpa sarapan. Kania sendiri langsung ke rumah sakit. Telpon dari Om Dedi berbunyi terus. Selama ini Om Dedi dan Bibik yang bergantian menunggu Bunda.
“Kalau Bunda kamu…” Om Dedi menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bunda…”
“Tantemu menemukan penyakit lain, Kania. Ternyata sesak napas itu bukan hanya sekedar asma. Tapi kanker paru-paru.”
Ya Tuhan.
Kenapa Bunda selama ini tidak pernah mengeluh kesakitan? Kenapa Bunda…
“Om mencoba untuk berpikir panjang soal Bunda kamu. Bundamu diam sejak dulu, Kania. Tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika Kakekmu meminta Bunda kamu menikah dengan anak kenalannya. Ayahmu. Dan meninggalkan Om Reihan yang menurut Kakekmu tidak punya masa depan…”
“Jadi Om Reihan jawabannya?”
Om Dedi mengedikkan bahunya. “Kalau saja Bundamu mau berbagi penderitaannya.”
“Jadi Om Reihan sumber kebahagiaan Bunda?”
“Om tidak tahu, Kania. Tapi Bundamu selama ini begitu menderita kelihatannya.”
“Bunda tidak pernah bahagia bersama Ayah..”
“Kamu melihatnya begitu?”
“Bunda tidak bahagia..,” Kania merasakan air matanya jatuh membasahi pipinya.
Deras.
**
“Ke mana, Kania?”
Kania tidak tahu cara lain lagi. Ia harus pergi. Ia harus menemui Om Reihan. Ia harus bicara pada Tante Dara. Meskipun Om Reihan akan menolak, ia akan memaksa Om Reihan datang pada Bunda.
“Kania…”
Kania berlari kencang. Om Dedi nanti juga akan tahu jawabannya.
Kania naik bus.
Ke mana lagi kalau bukan ke rumah Om Reihan?
**
“Dulu kami bertemu di perpustakaan pinggir sungai yang pagar bambunya di cat warna-warni…”
Tante Dara tidak ada di rumah. Sedang ada seminar.
“Bundamu gadis yang pintar. Imaginasinya luas.”
Kania mendengarkan.
“Tapi Om bukan untuk Bunda kamu. Orang tuanya sudah mempunyai jodoh lain untuk Bunda kamu dan Om harus menyingkir.”
“Lalu buku doraemon itu?”
Om Reihan mengusap wajahnya. “Kamu suka membacanya?”
“Bunda suka membacanya. Sampai terakhir kali Bunda masuk ke rumah sakit. Tapi Bunda minta aku mengembalikan pada Om.”
Hening.
“Bunda bilang, Om harus memberikannya pada gadis lain. Mungkin istri Om sekarang ini…”
Hening lagi.
“Om…”
“Dulu, Om bilang pada Bunda kamu untuk menyimpannya sebagai tanda cinta kami. Hanya itu. Om bilang, kalau Bunda masih mencintai Om berarti buku itu masih akan tetap di simpannya.”
“Om tidak tahu kalau Bunda masih menyimpannya?”
Om Reihan menggeleng. “Om sudah memiliki istri. Dan Bundamu sudah memiliki suami. Itu hanya kenangan masa lalu. Seharusnya Bundamu tidak perlu memikirkannya lagi.”
Kania menunduk.
Om itu menyesal. Menyesal karena ternyata Bunda masih mencintainya?
“Om…”
“Ya…”
“Kalau Bunda bisa sembuh…”
“Kita ke rumah sakit sekarang,” Om itu menggenggam tangan Kania.
**
Ayah ada di sana.
Di rumah sakit.
“Bunda koma,” ujar Om Dedi merangkul Kania erat sekali.
“Om..,” Kania memandangi pada Om Reihan. “Katakan pada Bunda kalau Om datang..,” pintanya dengan sangat.
Om Reihan mengangguk.
**
Epilog

“Kamu tahu, Kania, Ayah sebenarnya begitu mencintai Bunda kamu,” ujar Ayah pada Kania setelah pemakaman Bunda.
Kanker paru-paru Bunda tidak bisa tersembuhkan.
“Tapi Bundamu begitu mencintai laki-laki itu.”
Om Reihan datang ke kamar Bunda. Bicara pada Bunda.
Terakhir kali Kania lihat Bunda tersenyum sebelum perginya. Kelihatan bahagia sekali.
“Ayah hanya ingin Bundamu cemburu. Ayah hanya ingin Bundamu mencintai Ayah. Maka Ayah mencoba tidak memperdulikan Bunda kamu. Bahkan Ayah mencoba menghadirkan Tante Dara untuk meyakinkan Bunda kamu bahwa Ayah juga bisa melakukan hal yang sama.”
Kania mendengar suara Ayah bergetar.
“Tapi ternyata Ayah salah. Ayah menyesal, Kania…”
Ayah menangis. Tertahan.
Kania juga menangis.
Sepuluh buku doraemon itu sudah Kania kembalikan pada Om Reihan. Minta Om Reihan memberikannya kepada Tante Dara sebagai tanda cinta.
“Om bangga dicintai Bundamu, Nak. Dan Om tidak mungkin akan melupakan hal itu.”
Kalau besar nanti, Kania janji. Ia tidak akan mencintai seseorang seperti Bunda mencintai Om Reihan.

Sayap untuk Fey

Pemenang lomba cerpen anak jalanan

“Aku bisa terbang, tahu,” mata Fey yang bulat itu bercahaya. Kedua tangannya mengepak seperti burung yang akan terbang.
Jay memandangi.
Bayangan bulan jatuh menyentuh pipi Fey yang kurus.
“Kamu tahu aku bisa terbang?”
Pada bayangan bulan tahun kemarin, Jay menemukan Fey. Tersungkur di bak sampah di pinggir perumahan. Bajunya kotor, pipinya kotor, semuanya tidak jelas dan berantakan.
“Aku bisa terbang…”
Jay membuka kertas di tangannya. Bungkusan koran. “Tadi ada yang buang sampah baju-baju ini. Kamu mau? Masih bagus dan cocok untuk kamu.”
Fey memerhatikan ketika baju di dalam koran itu Jay bentangkan. Tiga baju cantik dengan warna yang hampir pudar.
“Cantik..,” bola mata Fey bersinar. “Buat aku?”
Jay mengangguk. Buat kamu semua.”
**
Bayangan bulan itu jatuh, menyentuh pipi Dewani. Di teras dengan halaman rumah dipenuhi rumpun bunga mawar.
Ini tentang hidup yang seperti mawar. Kelihatan indah tapi menyimpan duri.
Dewani menarik napas panjang. Cukup panjang hingga seperti sebuah keluhan yang ingin dikeluarkan agar ditangkap oleh angin dan diterbangkan ke awan.
Rumah mereka cukup besar. Cukup untuk menampung beberapa anak jalanan. Beberapa kamar tidur yang selalu kosong. Beberapa kamar tamu yang juga kosong karena para tamu tidak ingin menginap di rumah yang mati seperti kuburan.
“Kenapa harus mereka?” Ibu menggeleng. Keras-keras. “Kamu pasang papan pengumuman dan tulis kalau rumah ini disewakan atau menerima kost. Ibu terlalu sibuk untuk mengurusi rumah ini. Kamu pun terlalu seram untuk tinggal di sini sendirian. Banyak orang jahat. Bela diri yang kamu miliki tidak akan mempan melawan orang jahat.”
Ibu selalu berpikir tentang orang-orang jahat. Orang-orang jahat di sekeliling mereka. Orang-orang jahat yang tidak punya hati. Mungkin dengan alasan itu Ibu selalu berpindah tempat bila lingkungan mulai ramai. Ibu suka rumah sunyi di lingkungan sunyi.
Cahaya bulan itu menyebar di rumpun mawar.
Bicara dengan Ibu adalah bicara dengan angin. Tidak bisa tertangkap.
Ia sudah besar. Hidupnya ada di tangannya dan segala keputusan bisa dipertanggungjawabkan.
Dewani mengambil telepon genggamnya.
Di malam yang selarut ini, ia ingin teman untuk bicara.
**
Rio menggelengkan kepalanya.
Semangkuk bakso didampingi teh botol.
Dewani tidak akan membuat malamnya semakin nyaman. Tugas kuliah yang bertumpuk, omelan Mami yang memberi ultimatum agar kuliah tepat waktu agar tepat pula untuk pindah mengikuti tugas Papi di lain benua. Segalanya sudah diatur jelas dan tegas oleh Mami.
Rio menyedot the botolnya.
Tidak saat ini untuk Dewani. Ia sedang tidak ingin tenggelam dalam masalah.
**
Fey selalu kedinginan.
Fey selalu begitu setiap malam. Dengan pipi kurus begitu meski makannya banyak tetap saja makanan itu tidak berubah menjadi daging.
Jay sudah menganggap Fey sebagai adik. Mereka berdua di pinggir tempat sampah. Mereka berdua di emperan toko. Mereka berdua mengais sampah yang berisi makanan. Makanan yang dibuang pemiliknya. Makanan sisa orang yang makan di warung pinggir jalan. Masih enak.
“Bajunya cantik…”
Baju yang ditemukan Jay cocok untuk Fey.
Fey bukan nama sebenarnya. Tapi waktu Jay temukan ada tulisan itu di tangan Fey. Mirip seperti tato.
Fey tersenyum.
“Kita ngamen lagi di stasiun?”
Fey mengangguk. Badannya panas. Tapi kalau tidur di emperan toko akan semakin panas kena lempar air dari pemiliknya.
Di stasiun lebih enak.
“Ayo..,” tangan Jay menarik Fey.
Fey mengangguk.
**
Mereka bicara tentang kemiskinan. Mereka bicara tentang peningkatan taraf hidup dalam sebuah teori. Mereka cuma bisa teori tapi tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ransel berwarna pink itu Dewani bereskan.
Berkas-berkas yang sudah ia susun menjadi draft proposal. Permohonan pada ketua RT setempat tanpa sepengetahuan Ibu.
Ibu punya rumah di banyak tempat. Tempat yang Dewani tinggali mungkin sudah terlupa oleh Ibu kalau Dewani tidak mengingatkan.
“Mau kemana?”
Dewani bergegas.
Kuliah bukan menjadi passion-nya kalau Ibu tidak memaksa dengan bicara tentang masa depan.
Ah, ia tidak merasa masa depan terletak pada bangku sekolah. Ia ingin sekolah yang lebih nyata. Dan kenyataan itu ada pada Fey. Gadis dengan pipi tirus dan mata cekung yang matanya memandang penuh kasih padanya. Yang memeluknya hangat bahkan lebih hangat dari pelukan Ibu yang ala kadarnya.
“Dewani…”
Dewani tak menyahut.
Lupakan semua.
Ia menghentikan sebuah ojek lalu berlalu begitu cepatnya ketika helm sudah terpasang di kepala.
**
“Cewekmu?”
Rio melihat itu.
“Cewekmu, kan?”
Rio menggeleng.
Sejak Dewani susah untuk dikendalikan sejak itu pula ia malas meneruskan hubungan dengan gadis itu.
Dunia mereka sudah berbeda. Dewani terlalu serius untuk hidup yang terlalu singkat.
**
Mereka ada di stasiun.
Mereka di emperen stasiun yang dipenuhi pengendara ojek.
Bibir Fey kebiruan. Badannya semakin panas.
“Sebentar ya…, aku mau menelepon Kak Dewani…”
Fey mengangguk.
**
Teleponnya tertinggal di kamarnya.
Telepon itu tidak penting. Hanya berisi SMS konyol dari Rio yang sengaja ia sisakan. Juga ada SMS dari Ibu yang menekankan tentang hal-hal yang menurut Dewani tidak penting.
Kakinya melangkah ke sebuah emperan toko.
“Pak, lihat anak…”
Seorang lelaki tua memandangnya lalu menggeleng dengan pandangan seperti mengusir.
**
Jay pernah melakukan semuanya. Jay pernah mencuri mangga dan dipukuli orang sekampung. Jay pernah mencuri burung kenari dan dikejar orang sekampung juga lalu ia berhasil bersembunyi di dalam parit. Jay juga pernah mencuri kaca spion motor orang hasilnya adalah bogem mentah di kedua matanya hingga sekarang matanya melihat agak kurang jelas.
Jay pernah menjual ganja. Sedikit saja. Uangnya untuk membeli sebungkus nasi yang dimakan berdua dengan Fey.
Jay sekarang berdiri di depan sebuah wartel. Uang di kantornya tinggal dua ribu. Menelepon Kak Dewani pasti tidak cukup.
Jay melihat orang-orang sekeliling. Mereka makan di warung bakso, mereka membeli majalah, membeli es krim. Dompet terbuka. Selembar dua puluh ribu, lima puluh ribu, seratus ribu.
Jay pernah mencuri.
Jay biasa dipukuli.
Jay tidak ingin macam-macam. Ia ingin masuk ke boks telepon umum untuk menelepon Kak Dewani dan bercerita tentang Fey.
Fey, mengingatkan pada Hanum, adik Jay dulu. Fey punya mata seperti Hanum yang sering kena pukul ibu tiri mereka. Fey sabar seperti Hanum tapi sayang Jay tidak bisa melindungi ketika Emak menjualnya pada lelaki lain setelah Bapak pergi dengan perempuan lain lagi.
Hanum masih kecil tapi tidak bisa menolak. Hanum memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal.
Sebulan setelah itu Hanum benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Ia dibuang di sekolakan oleh orang yang sampai saat ini tidak bisa ditemukan. Bisik-bisik yang Jay dengar ada perempuan lain yang cemburu.
Jay sakit hati. Jay terluka. Jay tidak ingin ada perempuan lain seperti Hanum. Gadis-gadis kecil seperti Fey.
**
Ya Tuhan…
Dewani menepuk jidatnya sendiri.
Kemana dua anak itu?
Beberapa emperan toko sudah ia cari dan tidak ia temukan dua anak itu.
Keputusannya sudah bulat. Ia akan menampung dua anak itu terlebih dahulu lalu nanti akan menambah dengan fasilitas pengajaran agar ada anak-anak lain yang bisa ia tampung.
Biar saja Ibu mengoceh tak menentu. Ibu selalu mengoceh tentang banyak hal. Tentang perjuangan hidup yang dulu Ibu lalui sebagai seorang anak jalanan tanpa penolong. Ibu selalu berpikir bahwa tidak perlu ada dewa penolong.
Mungkin stasiun.
Dewani memeprcepat langkahnya.
Mungkin di stasiun.
**
Selembar dua puluh ribuan saja.
Jay mendekat. Menghimpit. Menarik dompet seseorang dari kantungnya.
Ia tidak menginginkan yang lain. Ia hanya ingin selembar duapuluh ribuan agar bisa masuk ke boks telepon dan menelepon Kak Dewani agar bisa cepat datang ke stasiun.
Fey panas sekali. Fey sakit. Obat warung tidak bisa membuat panasnya turun.
Selembar duapuluh ribuan.
“Copet…!” seseorang berteriak.
Jay terlambat untuk berlari.
**
Ibu dulu pernah bercerita tentang sepasang sayap. Sayap untuk Fay terbang.
Ibu dulu pernah memeluk Fay hangat.
Tapi Ibu hilang di sebuah stasiun ketika kereta melaju kencang. Fay tertinggal di kerumunan penumpang.
Fay sempat melihat tubuh Ibu di pinggiran rel. Ibu tidur di sana dikerumuni orang-orang.
Fay tidak tahu. Kereta itu tidak bisa berhenti. Tadi Ibu dan Fay sedang bermain tulisan rahasia. Ibu menulis nama Fay di tangan. Lalu kereta api yang penuh sesak itu membuat tubuh Ibu terdorong ke pinggir pintu yang terbuka.
Fay tidak tahu.
Ibu pernah cerita tentang sepasang sayap. Sayap untuk Fay terbang.
Kalau Fay tidur, Fay bisa mengambil sayap itu dalam mimpi.
Fay bisa terbang.
Tubuh Fay semakin memanas.
Ia menggigil.
Gigil bersamaan dengan mata yang tertutup rapat dan pihak polisi yang berjalan menuju kerumunan orang-orang di dalam stasiun yang baru saja menggebuki seorang pencopet.
Sepasang sayap itu membuat Fey tertidur sambil tersenyum.
**
Dewani mengembuskan napasnya kuat-kuat.
Ia sempat melihat sosok Jay.
Ia melihat sosok Fay dikerumuni banyak orang.
Yang ia tahu hanya satu, bahwa ia sudah terlambat.
**

Elang untuk Bunda

DSCF2571

Bagian Pertama

Matanya tajam. Seperti elang. Begitu biasanya Bunda selalu mengatakan pada setiap bintang sinetron yang matanya menukik tajam seperti itu. Lalu biasanya Bunda akan berlama-lama memandang bintang sinetron itu dan mengikuti setiap jalan ceritanya meskipun Bunda selalu saja menggeleng setiap kali ditanya apa isi dari sinetron itu.
Matanya seperti elang. Meskipun sedang selalu menunduk tapi Naira mengingat tatapan itu.
“Om Sentot, Na,” begitu yang Bunda katakan pada Naira. Mengisyaratkan agar Naira masuk ke ruang dalam dan tidak banyak bertanya lagi.
Om Sentot namanya.
Bertamu agak lama dan bicara panjang pada Bunda. Dua gelas kopi yang dibawa Bibik tuntas dihabiskan. Ditambah satu gelas es jeruk.
“Mungkin Om Sentot akan datang lagi. Dia sedang ada masalah,” ujar Bunda pada Naira. “Jangan bilang Ayah kamu soal Om Sentot, ya?”
Naira mengerinyit.
“Please…”
Naira mengangguk. Apa susahnya tutup mulut sama Ayah? Toh Ayah tidak banyak tanya selama ini.
**
“Bunda….”
Malam ini Naira tidak memergoki Bunda menonton sinetron. Entah kenapa Bunda berlama-lama memandang album foto milik Bunda yang biasanya tersimpan di dalam lemari pakaian di bagian paling bawah.
Bunda seperti terkejut.
“Bunda lihat apa?”
Wajah Bunda kemerahan.
Foto yang Bunda lihat adalah foto Bunda ketika kuliah dulu. Satu foto Bunda sedang berdua di depan air terjun. Laki-laki berambut panjang dengan mata…
“Itu bukan foto Ayah?”
Bunda cepat menutup album foto itu. “Na…,” tangan Bunda menyentuh pundak Naira. Bunda menghembuskan napasnya dengan menggelengkan kepalanya seperti sedang ingin membuang sesuatu. “Kalau Ayahmu pulang nanti…”
Ayah tugas ke luar kota. Sudah tiga bulan. Maklum Ayah seorang militer. Naira malah dengar kalau Ayah berencana untuk menetap di kota yang kata Ayah masih berkabut ketika maghrib menjelang. Naira akan bisa melihat pelangi di puncak gunung yang dekat dengan rumah dinas Ayah.
“Memangnya…”
Bunda menepuk pipi Naira. “Om Sentot itu sedang susah, Na. Istrinya kena kanker. Om lagi dapat musibah. Dikeluarkan dari pekerjaannya. Makanya Bunda ingin menolongnya.”
“Maksud Bunda…”
“Rumah kosong dekat tempat tinggal kita kan banyak. Bunda mau cari informasi mana yang akan dikontrakkan.”
“Terus…”
“Nanti mungkin akan Bunda bayar satu atau dua bulan biar Om Sentot sedikit tenang.”
“Istrinya juga akan tinggal di situ?”
“Istrinya nanti menyusul. Istrinya masih di rumah orang tuanya. Na mau kan menyimpan rahasia ini?”
Naira mengangguk.
Wajah Bunda kelihatan cemas sekali. Tapi Naira tidak tahu apa artinya.

**
Rumah kosong yang memang sengaja tidak ditinggali pemiliknya tapi dibeli hanya untuk investasi itu ternyata tidak ada. Naira sudah mencarinya. Bunda bahkan beberapa kali mengetuk pintu rumah tetangga yang rumahnya kosong itu untuk cari informasi siapa pemiliknya.
“Kalau tidak ketemu juga mungkin…”
“Mungkin kenapa?”
Mata Bunda tertuju pada satu ruko. Tidak besar. Tertulis di papan yang ditempel di depannya kalimat dikontrakkan disertai dengan nomor telpon yang dapat dihubungi.
“Siapa tahu ini akan jadi rezeki Om Sentot,” Bunda mengambil handphonenya.
Ruko itu tingkat tiga. Kalau Om Sentot tinggal dengan istrinya berarti…
“Ruko itu terlalu besar..,” ujar Naira. “Apa Om Sentot mau buka usaha juga?”
Bunda sepertinya tidak mendengar. Bunda sedang bicara. Bicara soal angka rupiah. Kedengarannya Bunda sedang menawar.
“Bisa dibayar setengah tahun dulu. Lumayan lah. Bunda pikir tabungan Bunda cukup untuk itu. Kalau kurang kamu bisa menambahinya, kan?”
Naira tidak mengerti. Jadi Bunda itu…
“Na..,” Bunda menghelus kepala Naira. “Kalau kita menolong orang yang kesusahan pasti akan ada gantinya.”
Naira ngerti. Umur Naira sudah enam belas jelang tujuh belas. Tapi pengertian Naira tidak sampai seperti itu.
“Na…, Bunda minta tolong…”
Ayah pasti kaget kalau mendengar itu. Atau Na cerita saja sama Ayah di telpon?
“Kasihan Om Sentot itu..,” pandangan mata Bunda menerawang.
Tapi Naira melihat sesuatu yang berbeda di mata Bunda. Jangan-jangan Bunda sedang jatuh cinta!
**
Bagian Dua

Uang tabungan itu Bunda bilang dulu untuk Naira masuk kuliah. Kata Bunda, selain ikut asuransi Bunda juga menabung untuk biaya mendadak kalau-kalau ada yang sakit atau mendapat musibah.
Na bilang ingin jadi dokter. Bunda bilang Bunda akan mengusahakannya dengan mengambil sebagian dari asuransi yang jatuh tempo nanti dan tabungan yang Bunda simpan sejak Naira di sekolah dasar.
Lalu kalau tabungan itu untuk menyewa sebuah ruko…
“Ayah…,” Naira menghubungi Ayah. Sudah malam. Mungkin Ayah sudah tidur.
“Kenapa, Na?”
Ayah tidak seramah seperti Ayah-ayah teman Na yang bukan militer. Kurang tahu kenapa. Bicara dengan Ayah seperti bicara dengan orang lain. Tidak bisa akrab. Bahkan kalau butuh uang pun Na harus menimbang-nimbang kalimat yang tepat untuk disampaikan pada Ayah.
Ayah keras. Ayahnya militer dan Ayah juga militer. Tapi Ayah tidak pernah main tangan. Ayah kalau marah hanya dengan pelototan mata dan suara yang keras sudah bikin Naira tidak berani macam-macam.
“Na…”
Naira harus bicara apa, ya?
“Di dekat tempat Ayah ada kampus yang pemandangan bagus. Dan ada fakultas kedokterannya juga, Na. Kalau kamu tidak bisa masuk negri kamu bisa masuk ke dokteran di sini. Ayah sudah perhitungkan biayanya. Uang tabungan kita pasti cukup. Coba kamu tanya Bunda kamu…”
Na diam.
Justru di situ masalahnya.
“Naira.., kenapa kamu diam?”
Naira bingung. Tidak bisa bicara di telpon.
“Minggu depan Ayah akan pulang. Ada surat-surat yang Ayah harus bereskan. Sepertinya Ayah pasti ditugaskan di sini sampai beberapa tahun. Dan mau tidak mau kamu serta Bunda kamu harus ikut ke sini.”
Duh…, Na harus bilang apa ini?
“Sudah, ya? Ada tamu di luar.”
Na menghembuskan napasnya. Kalau Ayah pulang…
**
“Bagaimana ini ya, Na? Bunda sudah janji sama Om Sentot. Bunda juga sudah bilang sama pemilik ruko itu untuk membayarnya lusa.”
Ruko itu seharga dua puluh juta setahun. Untuk setengah tahun akan menghabiskan dana 10 juga.
“Kenapa Bunda tidak cari kamar kost-kostan saja?”
“Kamu ini gimana sih, Na? Om Sentot itu dulu seorang manager. Masak mau tinggal di kost-kostan kayak anak kuliah yang tidak mampu.”
“Tapi Om Sentot memang tidak mampu kan, Bunda?”
“Na!”
Lho, kok Bunda bisa melotot seperti itu? Bunda marah?
Bunda langsung masuk kamar.
Bunda kok mendadak jadi aneh seperti itu?
**
“Seperti apa sih yang namanya Om Sentot itu?”
Matanya seperti elang. Arini juga suka dengan lelaki yang matanya seperti elang.
“Na…”
“Kamu mau bantu?”
“Bantu apa?”
“Bantu menyelidiki Om Sentot?”
Arini menganggukkan kepalanya. Cita-citanya memang sejak dulu jadi detektif.
**
Ketika Naira pulang ke rumah di sore hari, Naira melihat ada 3 gelas cangkir kopi di atas meja.
Bunda jarang menerima tamu sebelumnya.
“Tamu yang waktu itu juga minum kopi banyak,” kata Bibik memandangi Naira.
“Trus Bunda?”
“Bundanya Non ada di taman belakang. Lagi melamun.”
**
Begitu Naira ke halaman belakang, Naira melihat Bunda sedang memegang ATM.
“Bunda…”
“Satu atau dua juga mungkin Bunda harus ambil, Na. Om Sentot butuh uang sekali. Kalau ruko itu menurut kamu terlalu besar tapi kalau kita kasih dp satu atau dua juta mungkin tidak akan begitu mempengaruhi uang tabungan kita.”
“Bunda…”
“Kasihan Om Sentot, Na…”
“Bunda kenapa begitu menyayangi Om Sentot?”
Bunda kelihatan kaget dengan kalimat Naira. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Na bukan anak kecil kan, Bunda?”
Bunda mengibaskan tangannya di udara. “Kamu belum cukup umur untuk tahu apa-apa, Na.”
**
Tapi Na sudah cukup umur. Na sudah besar. Na pernah merasakan jatuh cinta. Patah hati juga.
Bunda pasti sudah jatuh cinta. Bunda pasti sudah diperdaya.
Malam itu Na menelpon Ayah.
“Kenapa, Na?” tanya Ayah. Terbatuk.
“Ayah tidak pernah menelpon Bunda?”
Ayah tertawa. Entah kenapa kedengaran di telinga Na tawa itu aneh sekali.
“Ayah tidak kangen Bunda?”
“Kamu ini, Na,” ujar Ayah pada Na. “Kalau Bundamu ditelpon terus nanti bikin Ayah tidak bisa konsentrasi di sini.”
“Ayah tidak takut?”
“Takut apa? Ayah percaya sama Bunda kamu. Sangat percaya, Na.”
Na menarik napas panjang.
Kalau saja Na punya keberanian untuk bicara panjang lebar soal Om Sentot itu.
**

Bagian Tiga

Dua juta. DP untuk membayar uang muka ruko lantai tiga itu. Sisanya dua bulan lagi harus dibayar. Bunda mengambil dua juta di tabungan plus satu juta setengah yang kata Bunda untuk jaga-jaga kalau-kalau Om Sentot butuh sesuatu.
Bukan itu saja. Bunda juga memindahkan beberapa barang di rumah ke ruko itu. Termasuk kasur busa di depan televisi yang biasa Na pakai untuk tiduran kalau sedang menonton televisi.
“Nanti Bunda ganti asal kamu jangan lapor Ayah kamu.”
“Tapi kalau Ayah nanti tanya soal uang itu…”
“Bilang saja uang itu untuk investasi. Ayah kamu sudah setuju kok Bunda belajar usaha. Biar tidak kebanyakan bengong di rumah. Lagipula kamu sudah besar.”
Ini bukan Bunda yang Naira kenal. Ini bukan Bunda yang selama ini bisa menggeleng tegas dan tidak menerima kalau Na bohong sedikit saja.
“Bunda…”
“Kamu sudah besar, Na. Bunda masih cukup muda untuk berkarir lagi, kan? Bosan, Na…”
Naira memegang tangan Bunda erat sekali. Entah kenapa Na merasa akan kehilangan Bunda.
**
Arini menggelengkan kepalanya waktu Naira datangi ke rumah.
“Aku kena semprot Mama, Na. Kata Mama, aku masih terlalu kecil untuk ikut campur urusan rumah tangga orang lain.”
Sore itu gerimis. Tapi Na memaksakan diri untuk mendatangi rumah Arini di perumahan yang tak jauh dari perumahan tempat Na tinggal.
Mamanya Arini itu teman kuliah Mama dulu. Kadang-kadang Mama masih suka menelpon Mamanya Arini.
“Ya sudah…”
“Ya sudah kenapa?”
“Ya sudah aku gak bisa nolong kamu. Maaf ya, Na. Maaf sekali.”
Naira mengangguk. “Mama kamu kenal sama Om Sentot?”
Arini mengangguk. Kemudian menggeleng. “Kurang tahu, Na. Pokoknya waktu aku kasih tahu soal Om mata elang, Mama langsung geleng kepala. Kalau aku sampai nekad, liburan sekolah nanti batal acara jalan-jalan yang Mama janjikan.”
Na diam.
Om Sentot.
Apa Na harus bicara langsung dengannya.
**
Waktu Na sampai di rumah, ketika masuk ke ruang tamu, Na melihat Mama menyodorkan uang pada Om Sentot.
Bibik yang bilang di halaman kalau di ruang tamu ada tamu Om yang suka menghabiskan bergelas-gelas kopi.
“Bunda…”
Bunda seperti salah tingkah.
“Jadi ini yang namanya Naira?” Om itu bicara.
Matanya tajam. Seperti mata elang.
“Cantiknya sama seperti Bunda kamu.”
Na melihat wajah Bunda memerah.
“Kalau besar nanti…”
Na tidak mau mendengar. Na harus bicara.
**
“Om…,” ketika Bunda sudah berada di dalam kamar dan Om itu pamit pulang, Na mengikuti.
“Ada apa Naira?”
Na bukan anak kecil lagi. Mata Om itu seperti mata Om om yang suka menggoda teman-teman Naira.
“Bunda bukan untuk dipermainkan, kan?”
“Maksud kamu?” tangannya terulur mengucek rambut Naira.
Naira menepiskannya. “Bunda masih punya Ayah. Kalau Om sampai macam-macam sama Bunda, Na bisa lapor sama Ayah.”
Om itu tertawa.
“Om…”
“Bundamu bukan anak kecil seperti kamu, Na. Bunda kamu tahu siapa cinta sejatinya….Ayo, sudah mau hujan…”
Apa kata Om tadi?
**
Bagian Empat

“Anaknya empat, Na. Istrinya kasihan sekali.”
Pagi itu Arini mengejar Na ketika langkah Na baru saja memasuki pintu gerbang sekolah.
“Anaknya empat, Na,” nafas Arini kelihatan terengah-engah.
“Maksud kamu…”
“Om Sentot. Kemarin itu tanpa sengaja Mama cerita. Mama bilang dulunya sih waktu kuliah Om Sentot itu pernah dekat sama Bunda kamu. Dia itu kan play boy. Mama juga dulu sempat naksir kok. Tapi terus unda kamu nikah lebih dulu terus…”
“Kamu tahu rumahnya?”
“Kata Mama sih…”
“Atau Mama kamu kenal sama istrinya?”
“Mama bilang…”
“Please…”
“Rumahnya….”
**
Rumahnya tak begitu jauh dari rumah Na. Tidak begitu juga dekat. Ada di luar lingkungan perumahan. Di sebuah perkampungan.
“Istrinya itu pintar bikin kue. Mama suka pesan kue di sana,” bisik Arini sepanjang perjalanan mereka menuju rumah itu. “Istrinya cantik kok. Kata Mama dulu juga banyak yang naksir. Pintar. Om Sentotnya memang suka begitu.”
Naira membayangkan. Apakah secantik Bunda. Apakah…
“Anaknya empat, Na. Masih kecil. Jadi waktu itu Bunda kamu lagi main ke tempatku. Terus ada Om Sentot yang mengantarkan kue ke rumah. Sejak itu…”
Naira tidak ingin membayangkan.
“Ayah kamu kalau tahu bagaimana?”
Naira juga tidak berani membayangkan.
**
Istrinya cantik. Rapi pakaiannya. Naira tadinya berpikir kalau istrinya yang pintar bikin kue itu akan menyambutnya dengan daster kumal seperti yang suka dipakai banyak Ibu-ibu tetangga Na.
“Arini mau pesan apa lagi ke sini?” tanya tante itu pada Arini.
Arini kelihatan bingung. “Na mau kenal sama Tante,” kata Arini akhirnya.
Na bingung. Harus bilang apa? Masak sih Na harus bilang kalau ia datang ke sini hanya karena ingin menyelidiki.
“Tante bisa bikin brownies?” tanya Na akhirnya. Bunda suka sekali kue itu.
Tante itu mengangguk. “Ayo masuk. Duduk di teras dulu. Tante catat kue pesanannya dan alamat rumah kamu. Biar nanti diantar kalau sudah jadi. Untuk kapan…”
Tante itu masuk ke dalam rumah. Mungkin mengambil catatan.
Betul. Tidak lama kemudian Tante itu datang dengan membawa kertas catatan. “Brownies untuk siapa?”
“Bunda,” ujar Na.
“Bunda kamu mau ulang tahun juga?”
“Bundanya Na itu teman kuliah Mama, Tante,” Arini yang bicara.
Mata Tante itu bulat. Bulu matanya lentik. Ih, Tante itu cantik sekali. Kenapa Om Sentot masih saja menggoda Bunda?
“Siapa Bunda kamu?”
“Pelangi,” desis Na.
Tante itu mengangguk. “Tante pernah dengar nama itu. Oh ya, kamu tulis alamat dan nomor telpon kamu serta apa yang kamu pesan, ya? Anak Tante yang kecil lagi di kamar mandi. Tante sebentar lihat dia sedang apa, ya?”
Na mengangguk.
Mata Tante itu tiba-tiba memerah.
Jangan-jangan karena Na tadi menyebutkan nama Mamanya?
**
“Jangan bilang-bilang sama Mama kamu kalau tadi kamu antar aku ke sini , ya?” ujar Naira pada Arini ketika mereka sudah ke luar rumah.
Arini mengangguk. “Mama juga pasti marah kalau tahu aku antar kamu ke rumah Tante Sinta.”
“Makasih,” ujar Naira sebelum ia berpisah.
**
“Tadi ada tamu lagi, Non,” lapor Bibik waktu Naira datang. “Ibu lagi melamun di ruang tamu.”
Bunda memang sedang melamun. Begitu masuknya ke dalam dunia lamunan sampai Bunda tidak mendengar langkah kaki Na. Na sampai harus menepuk bahu Bunda.
“Na…”
“Bunda tahu..,” Naira duduk di hadapan Bunda. “Ada orang yang bisa bikin kue enak sekali. Brownies.”
“Oh ya?”
Na mengangguk. “Na tadi pesan. Coba pesan ke sana. Mau Na sih kalau nanti ulang tahun, brownies itu mau Na bawa ke sekolah. Kalau menurut Bunda brownies itu enak lho.”
“Om Sentot juga bisa bikin brownies enak sekali, Na.”
“Tapi ini, Bunda…”
“Dulu Bunda pernah…,” Bunda tiba-tiba diam. Lalu menggeleng. Memandang pada Naira. “Mungkin lain kali Bunda harus belajar membuat brownies biar kamu tidak perlu pesan.”
“Tadinya aku kira yang bikin brownies itu Ibu-ibu pakai daster. Habis, anaknya empat, Bunda. Biasanya begitu, kan? Cuma Bunda saja yang di rumah selalu rapih.” Na mencoba memuji.
“Trus…”
“Kapan-kapan Na ajak ke sana ya, Bunda,” Naira berdiri dari duduknya.
Kapan-kapan, Na akan bikin mata Bunda terbuka lebar sehingga tidak terbius oleh Om Sentot lagi.
Bagian Lima

Brownies itu sudah jadi. Naira memesan satu brownies saja. Spesial dengan tambahan cream.
Tante itu sendiri yang mengantarnya. Bibik yang mengetuk pintu kamar dan bilang ada yang menunggu di luar.
“Tante…”
Brownies itu dibungkus dengan kardus warna merah hati.
“Tante sengaja bikin yang sangat spesial untuk kamu.”
“Aku kan…”
“Sambil membuat adonan kue ini, Tante mendengarkan lagu sedih. Entah, seperti terbawa perasaan. Brownies ini brownies pertama yang Tante buat dengan perasaan sedih.”
“Aku ambil dompet dulu..”
Tante Sinta menggeleng. Menepuk pipi Naira. “Ini hadiah untuk anak manis seperti kamu. Tante yakin kamu datang dan memesan untuk suatu hal. Dan hal itu cuma kamu yang tahu. Tante hanya bisa menebaknya. Tante permisi dulu.”
Naira tidak tahu harus bicara apa?
Apa Tante mengerti apa yang dilakukan suaminya dan Bunda? Apa Tante itu merasa?
**
“Bunda…,” Naira langsung menuju kamar Bunda.
Pintu kamar Bunda terbuka. Bunda sedang berdiri di depan jendela dengan tirai yang terbuka menghadap halaman depan.
Pasti Bunda tahu kedatangan Tante Sinta. Pasti Bunda tahu.
“Bunda…”
“Na ingin tahu apa sebenarnya?” tanya Bunda tapi tidak memandang pada Naira.
“Memang ada apa sebenarnya?”
Bunda menghampiri Naira. Menepuk pipinya. “Banyak sekali yang kamu tidak tahu sebenarnya.”
“Seperti apa?”
Bunda diam.
“Bunda…”
“Perasaan Bunda….”
“Bunda jatuh cinta dengan Om Sentot. Om Sentot sudah punya anak istri. Istrinya bahkan harus menghidupi empat anaknya dengan menerima pesanan kue. Apa Bunda tega?”
“Na, bukan itu masalahnya…”
“Bunda jatuh cinta, kan?”
Bunda diam. “Kamu tidak akan bisa mengerti, Na,” ujar Bunda melangkah meninggalkan Naira. Mungkin Naira memang tidak akan bisa mengerti.
**
Tapi Na akan menuntaskan rasa penasarannya.
“Om Sentot yang mana?” Tante Jasmine yang bertanya ketika Naira mendatangi rumahnya. Adik Bunda itu sedang asyik di depan laptopnya.
“Yang punya mata seperti elang…”
Kening Tante Jasmine berkerut. “Yang mana sih, Na?”
“Katanya teman kuliah Bunda. Istrinya itu teman kuliah Bunda juga.”
“Masak sih?”
“Tante tidak tahu?”
Tante Jasmine kembali sibuk mengetik pada laptopnya. “Tante tahu lho semua teman lelaki Bunda kamu. Yang terakhir dipilih ya Ayah kamu itu. Atas persetujuan Kakek sama Nenek kamu.”
“Yang Om Sentot?”
“Om Senton yang mana sih, Na?”
“Orangnya tinggi, putih, ganteng. Matanya tajam seperti elang. Seperti mata bintang sinetron kesukaan Bunda.”
Tante Jasmine mengibaskan tangannya di udara. “Tante tidak tahu tuh, Na.”
“Masak, sih?”
“Masak juga sih kamu tidak percaya sama Tante kamu?”
Naira diam.
Masak sih Tante tidak tahu?
Atau mungkin Naira harus kembali bertanya pada Mamanya Arini?
**
“Maaf ya, Naira. Tante dulu memang berteman dekat dengan Bunda kamu. Tapi masalah pribadi yang terjadi setelah menikah, Tante tidak mau ikut campur,” ujar Mamanya Arini ketika Naira datangi di sore harinya.
“Masalahnya Tante…”
Mamanya Arini menggeleng. “Bundamu bukan anak kecil lagi, Na.”
“Kalau orang dewasa tidak boleh salah, Tante?”
“Maksud kamu?”
“Kalau Bunda salah sebagai orang dewasa apa tidak boleh diberi tahu?”
Mamanya Arini diam.
Cukup lama.
“Kalau Om Sentot sudah membuat Bunda jadi lupa sama Ayah, apa tidak boleh diberi tahu?”
Hening.
Mamanya Arini beberapa kali kedengaran menarik napas panjang.
“Tante…”
“Mereka dulu dekat. Itu saja yang Tante tahu. Lalu setelah Bunda kamu menikah dengan Ayah kamu, Om Sentot juga menikah. Dengan Tante Sinta. Setelah itu Tante tidak tahu lagi.”
“Tante tidak bohong?”
Mamanya Arini menggeleng. “Sampai Tante dengar dari Arini kalau kamu ingin tahu banyak soal Om Sentot.”
Mamanya Arini kedengaran serius.
Naira menganggukkan kepalanya.
“Kamu anak baik. Bunda kamu pasti suatu saat akan menjelaskan. Sayangnya Tante tidak mengerti. Karena Bunda kamu jarang menceritakan perasaannya pada Tante.”
Bunda memang begitu.
**

Bagian Enam

Sudah berapa lamakah?
Naira memandangi kalender di dalam kamarnya. Mencoba menghitung sudah berapa lama Bunda dekat dengan Om Sentot. Sudah berapa lama Ayah tidak menelpon ke rumah.
Ruko itu tidak jadi disewa. Kata Bunda uang muka yang Bunda berikan sudah dikembalikan dan dipotong sepuluh persen. Tapi Naira tidak mau menyelidiki semakin dalam karena takut Bunda tersinggung.
Tapi sore ini Bunda mengajak Naira bicara.
Di halaman belakang.
“Masih cantikkah Bunda, Na?”
Usia Bunda belum lagi empat puluh tahun. Bunda menikah waktu skripsi. Na sendiri belum genap tujuh belas tahun.
“Na…”
Bunda masih cantik. Masih segar. Tidak ada kantung mata di wajah Bunda. Apalagi keriput. Bunda rajin sekali merawat tubuhnya. Meski sering ditinggal tugas Ayah ke luar kota.
“Memangnya kenapa, Bunda?”
Bunda menarik napas panjang.
“Ayah pasti akan selalu bilang kalau Bunda cantik.”
Bunda tersenyum.
“Om Sentot itu tidak pernah datang lagi, kan?” tanya Naira. Bibik sudah seminggu ini tidak pernah cerita soal Om Sentot dan soal kopi yang harus Bibik buatkan.
“Kamu ini…”
Naira juga tidak pernah melihat Bunda memelototi bintang sinetron yang matanya seperti elang.
“Tapi suatu saat kamu harus tahu, Na.”
“Tahu apa?” tanya Naira penasaran.
“Mungkin bukan Bunda yang harus cerita. Mungkin Ayahmu…”
Kenapa harus Ayah?
Na melihat pada kalender lagi.
Kenapa Ayah lama tidak menelponnya?
**
“Sibukkah Ayah?” tanya Naira pada Ayah ketika Na menelpon dan Ayah yang mengangkat telponnya.
“Biasa, Na…”
“Kenapa Ayah tidak pernah datang?”
Hening.
“Kemarin Ayah coba-coba ambil formulir kuliah kamu di sini, Na. Jurusan kedokteran yang kamu mau, kan?”
“Ayah…”
“Minggu depan Ayah akan datang, Na. Ayah harus banyak bicara sama kamu.”
“Sama Bunda?”
Hening.
“Ingatkan Ayah ya, Na?”
Naira mengangguk. Ingatkan Ayah? Untuk apa? Apa Ayah sudah lupa kemana Ayah harus pulang?
**
Bunda menanggapinya diam saja.
“Ayah mau pulang. Bunda tidak suka?”
Bunda entah sedang menulis apa. Seperti buku harian. Na tidak mau menggangunya.
“Na..,” ujar Bunda begitu tahu Na akan melangkah ke luar kamar. “Kalau Ayahmu datang, Bunda akan beri tahu sesuatu.”
“Rahasia?”
Bunda mengangguk.
**
Malamnya kamar Naira diketuk. Suara Bunda di luar pintu. Mata Bunda bengkak. Mungkin habis menangis.
“Om Sentot masuk rumah sakit, Na…,” ujar Bunda pada Naira. Memeluk Naira. “Motornya tertabrak mobil di jalan raya.”
Naira tidak tahu harus bilang apa.
“Temani Bunda malam ini ke rumah sakit.”
Naira tidak mungkin menolak. Bunda kelihatannya sangat sedih sekali.
**
Di rumah sakit Naira bertemu dengan Tante Sinta. Tante Sinta sedang duduk di kursi kosong di depan ruang UGD.
Naira menghampiri. Bunda memilih duduk di bangku lain.
“Na datang bersama Bunda,” ujar Naira menyalami Tante Sinta.
Tante Sinta mengangguk. “Tante tadi menghubungi Mamanya Arini. Mungkin Mamanya Arini yang menelpon Bunda kamu. Cantik sekali Bunda kamu. Di masa kuliah dulu Tante pernah melihatnya beberapa kali.”
Naira menunduk.
Tante Sinta juga tetap kelihatan cantik meskipun rambutnya dikucir seadanya.
“Om sedang Tante suruh mengirimkan brownies pesanan. Mungkin sedang melamun. Mungkin kurang hati-hati…”
Bunda di bangku lain menunduk.
“Ayahmu tahu kalau Bunda kamu ke sini?”
Tante Sinta pasti ingin tahu.
“Ayah sedang tugas ke luar kota. Minggu depan datang. Bunda minta antar ke sini karena ingin mendengar khabarnya langsung.”
Tante Sinta mengangguk. “Biar Tante yang jaga di sini. Ajak Bunda kamu pulang. Bilang sama Bunda kamu kalau Om Sentot masih punya istri yang bisa menjaganya dengan baik.”
Meski diucapkan dengan nada yang manis sekali, tapi Na tahu artinya. Naira berdiri dari duduknya dan menghampiri Bunda.
“Kita pulang saja, Bunda,” ujar Naira pada Bunda.
**
Bagian Tujuh

Bunda sakit. Panas. Naira sendiri tidak mengerti. Sejak pulang dari rumah sakit badan Bunda menjadi panas.
Naira menghubungi Ayah dan Ayah bilang akan datang.
Bunda tidak mau dibawa ke dokter. Minum obatpun Bunda tidak mau.
Sampai akhirnya Naira memanggil Tante Jasmine ke rumah.
“Na..,” Tante Jasmine bicara setelah ke luar dari kamar Bunda. “Kamu tahu kan kalau Bunda sama Tante tidak begitu dekat. Segala rahasia Bunda yang tahu hanya almarhumah Nenek kamu.”
“Trus?”
Tante Jasmine geleng-geleng kepala. “Jadi sakitnya gara-gara apa?”
“Om Sentot di rumah sakit…”
Tante Jasmine menggelengkan kepalanya lagi. “Tante tidak ngerti, Na. Om itu siapa…”
“Matanya seperti elang.”
“Elang apa?”
“Fotonya ada…”
“Kalau Bunda kamu masih panas juga, telpon Tante. Malam ini Tante akan menginap di sini. Tante pergi sebentar, ya?”
Naira mengangguk.
**
“Yang Tante tahu, cinta Bundamu begitu besar pada Om Sentot, Naira. Tapi sudah Bunda katakan kalau Om Sentot baik-baik saja dan sudah ada istrinya yang merawatnya.”
Naira menganggukkan kepalanya pada Mamanya Arini.
“Selebihnya Tante tidak tahu apa-apa. Bundamu kalau punya rahasia disimpan sendiri.”
Bunda memang begitu.
“Istrinya Om Sentot sempat tanya soal Bunda sama Tante. Tapi Tante harus bilang apa? Tante tidak tahu apa-apa selain bahwa mereka pernah dekat. Itu saja. Lagipula kalau sudah sama-sama menikah dan punya anak, untuk apa mengurusi masa lalu, kan?”
Mamanya Arini benar.
Mungkin Naira harus menelpon Ayah dan minta kedatangannya dipercepat.
**
“Bunda sakit hanya demi Om Sentot?” tanya Naira di dalam kamar Bunda.
Bunda memandangi Naira.
“Bunda mengorbankan badan Bunda…”
Wajah Bunda pucat. Matanya memandangi Naira.
“Om yang bohong soal istrinya yang dibilangnya sakit kanker. Om yang…”
Bunda menggeleng.
“Na sudah menelpon Ayah untuk datang. Biar Na nanti cerita semuanya sama Ayah.”
Bunda diam.
Menunduk.
“Na tidak bisa berbohong terus sama Ayah…”
**
“Tidak bisa, Naira..,” malam sekali Ayah menelpon. Na pikir telpon penting ketika pada jam satu malam telpon genggamnya berbunyi. “Atasan Ayah meminta Ayah untuk tugas ke desa selama beberapa hari. Mungkin setelah itu Ayah akan bicarakan lagi soal pulangnya Ayah.”
“Ayah..,” Naira hampir menangis sebenarnya. “Apa sudah ada pengganti Bunda di sana?”
“Na! Ayah ini militer. Na tahu sejak dulu seperti apa tugas Ayah!”
Na diam.
“Kalau Ayah sudah selesai…”
Naira mematikan telpon genggamnya.
Na kecewa sekali dengan Ayah kali ini.
**
Bagian Delapan

“Bertanya seekor anak angsa pada pada induk bebek, apa aku anakmu?” Bunda menutup buku ceritanya. Memandang pada Naira.
Sore itu Bunda ke luar kamar. Tubuhnya sudah cukup sehat katanya. Bunda bahkan sudah makan bubur yang dibelikan Bibik di warung bubur kesukaan Bunda.
Na ingat, kecil dulu Bunda sering sekali membacakan buku cerita itu. Buku cerita itu sampai sekarang masih Naira simpan dan pelihara dengan baik.
“Bunda sudah melupakan Om Sentot?” tanya Naira hati-hati.
Bunda memandangi Naira.
“Tante Sinta bilang masih di rumah sakit. Na sempat sms tadi dan minta maaf kalau-kalau Bunda selama ini sudah bikin hati Tante Sinta jadi sakit.”
Bundanya Naira menunduk.
“Bunda sudah punya Ayah. Kenapa masih menginginkan Om Sentot?”
Hening.
Bundanya Naira menarik napas panjang.
“Anaknya Om Sentot ada empat, Bunda. Istrinya Om Sentot susah payah mengurus anak dan ikut mencari uang. Bunda sudah punya Ayah yang sayang sekali sama Bunda.”
Hening lagi.
Angin bertiup cukup kencang.
Naira merapatkan sweater yang Bunda kenakan.
“Na tidak ingin Bunda mengambil kebahagiaan orang lain.”
Bunda menggelengkan kepalanya. Memeluk Naira.
Bunda menangis.
Naira biarkan Bunda menangis di bahunya cukup lama.
**
“Kamu tahu, Na?” tanya Arini waktu mereka bertemu di sekolah. “Kemarin aku menjenguk Tante Sinta di rumah sakit lho.”
Sebenarnya Naira sudah tidak ingin mendengar cerita soal Tante Sinta dan Om Sentot lagi.
“Om Sentot sudah sembuh. Sudah bisa diajak bicara. Kemarin itu katanya melamun waktu naik motor. Oh ya, katanya dia mau ngomong sesuatu sama kamu. Rahasia. Tante Sinta dan Mamaku mungkin gak tahu waktu Om Sentot bicara begitu sama aku.”
Mungkin Om Sentot mau minta maaf. Na sudah memaafkan sepanjang Om Sentot tidak mengganggu Bunda lagi.
“Kamu mau datang ke rumahnya atau…”
Naira menggeleng. Tegas.
**
Ayah belum juga datang. Mungkin Ayah benar-benar sibuk. Setelah waktu itu telpon dari Ayah Naira tutup beberapa hari kemudian Ayah mengirim sms pada Naira. Kata Ayah, Ayah sudah mempersiapkan kepindahan Naira dan Bunda di tempat yang sama dengan Ayah.
Ayah bahkan sudah menelpon Bunda untuk menjual rumah yang mereka tempati untuk dibelikan rumah baru di tempat Ayah tugas. Ayah janji dalam sepuluh tahun ke depan mungkin mereka tidak akan pindah-pindah rumah lagi.
Tapi Bunda mengajak Naira bicara di suatu sore.
“Ini cerita panjang, Naira. Panjang sekali…”
Wajah Bunda kelihatan serius. Bunda memberikan sesuatu pada Naira.
Naira membukanya.
Beberapa lembar foto Naira ketika bayi. Masih bagus. Dan satu foto bayi yang lain yang sudah menguning.
“Foto Bunda?”
Bunda menggeleng.
Foto bayi yang sudah lama itu mirip sekali dengan foto Naira ketika bayi. Hanya di bagian mata saja berbeda dan jenis kelaminnya.
“Foto Ayah?”
Bunda menarik napas panjang.
“Bunda…”
“Sebelum pindah dari sini Bunda ingin menuntaskan segalanya sehingga ketika di tempat yang baru tidak ada lagi beban yang Bunda tanggung.”
“Maksud Bunda…”
Bunda menarik napas panjang lagi. “Ayahmu laki-laki yang hebat, Na.”
Ayah memang hebat. Ayah tidak pernah punya wanita lain. Tidak juga dekat dengan wanita lain seperti Bunda dekat dengan Om Sentot.
“Tapi elang itu datang lebih dulu, Na..”
Naira tidak mengerti.
Bunda kali ini menghapus air matanya yang mulai turun. “Elang itu, Na…”
Mungkin Om Sentot maksud Bunda.
“Kami sudah saling cinta. Begitu cintanya Bunda sama dia. Sampai Bunda khilap dan melakukan apa yang seharusnya belum boleh Bunda lakukan.”
Na mengerutkan keningnya.
“Nenek yang tahu semuanya. Lalu Nenek meminta anak kenalannya untuk menikah dengan Bunda karena tahu anak kenalannya itu mencintai Bunda teramat sangat.”
Na masih belum mengerti.
“Bunda tahu Bunda hamil, Na. Bunda dan Nenek kamu yang tahu. Ayahmu mungkin juga mengerti tapi sampai detik ini Ayahmu tidak banyak bicara. Mungkin menyimpannya dalam hati saja.”
“Maksud Bunda…”
“Kalaupun Bunda dekat dengan Om Sentot…”
“Om Sentot itu…”
Bunda menunduk. “Om itu Ayahmu, Nak. Ini rahasia yang Bunda simpan berdua Nenekmu. Tante Jasmine pun tak pernah tahu.”
Dunia Naira seakan runtuh saat itu.
**
Epilog

“Kalau suatu saat kamu menemukan laki-laki bermata elang jika kamu akan menikah kelak, Na…”
Naira dan Bunda berdiri di depan rumah dinas Ayah. Baru seminggu yang lalu mereka pindah.
Langit cerah.
Naira merangkul Bunda. “Apa Om Sentot tahu?”
Bunda mengangguk. “Dia tahu. Bunda yang memberitahu kemarin itu. Mungkin karena pemberitahuan Bunda itu dia kecelakaan karena memikirkannya.”
“Trus?”
Bunda merangkul bahu Naira. “Maafkan Bunda ya, Na? Tapi kemarin itu memang Bunda tidak bisa memungkiri bahwa Bunda masih punya cinta yang besar pada Om Sentot. Sampai Bunda lupa kalau Om sudah punya anak dan istri. Untung kamu mengingatkan dan membuat Bunda akhirnya mengatakan yang sebenarnya tentang kamu pada Om Sentot.”
Naira mengangguk.
Suatu saat. Entah kapan. Na ingin sekali bicara berdua dengan Om Sentot. Na ingin bicara sebagai seorang anak kepada Ayah kandungnya.
Sekarang ini Na hanya mau bersyukur karena sudah memiliki Ayah yang baik meskipun bukan Ayah kandungnya.

Separuh Mimpi

percikan Gadis

Aku punya separuh mimpi untuk Jey. Separuh mimpi yang aku terbangkan di dalam balon. Bukan, bukan balon betulan. Hanya balon khayalan yang aku gambar lalu pada setiap gambarnya aku beri tulisan harapanku pada Jey.
Semua harapan ada pada balon. Balon yang aku warnai dengan beraneka macam warna. Setiap malam sebelum tidur, satu balon bertambah satu.
Balon itu bisa pecah lalu hilang dimakan penghapus bisa juga aku robek ketika aku kesal dengan Jey. Jey yang tidak pernah tahu kalau aku begitu berharap dengannya. Jey yang selalu marah bila aku memandangi papanya.
“Jadi, Jey?”
Aku mengangguk pada Alina. Jadi Jey. Bukan Key atau Ley yang play boy itu. Cuma Jey.
“Kenapa bukan yang lain?”
Aku menggeleng.
Ibu juga punya separuh mimpi pada Ayah. Ibu bilang separuh mimpi itu Ibu terbangkan bersama burung-burung dara peliharaan tetangga yang setiap pagi dan sore ribut di atas genteng rumah kami. Setiap burung membawa pesan hati Ibu untuk Ayah.
“Ibu masih cinta?”
Ibu tertawa setiap kali aku bertanya. “Cinta itu memangnya apa?” tanya Ibu menepuk pipiku.
Aku sendiri tidak tahu betul apa itu cinta. Aku pernah suka, naksir terus dadaku berbunyi kencang. Tapi cuma sampai di situ.
“Takut kehilangan, takut dia pergi, takut dia tidak pernah datang lagi.” Mata Ibu memandang ke layar televisi.
Aku menganggukkan kepala. Rasa sedih, rasa kehilangan, rasa ingin dekat.
“Anak Ibu sudah beranjak besar,” ujar Ibu memelukku.
**
Separuh mimpiku memang ada pada Jey. Jey yang kurus, tinggi dan suka meledek itu. Jey yang diam-diam suka bicara pada pohon dan angin karena katanya mereka lebih mengerti perasaannya ketimbang yang lain.
Jey pasti tidak mengerti kalau aku punya balon mimpi untuknya.
“Jey…, salam dari Mia!” itu teriakan Alina pada Jey ketika kami lewat di depan rumahnya.
Ada pohon mangga tinggi tempat Jey menempatkan satu rumah pohon di atasnya, lalu ia akan bermain layangan di sana.
Setiap kali melewati depan rumah Jey, aku pasti akan menunduk.
“Jey….!”
Alina tidak paham. Bukan seperti itu caranya separuh mimpiku diberikan pada Jey.
**
Kami memang harus duduk berdua. Di depan rumah. Memandangi bulan dan bintang di malam hari.
Ibu belum menua. Ibu belum memiliki keriput. Ibu masih cantik di usia 40. Malam ini, Ibu ulang tahun.
“Apa separuh mimpi Ibu?” tanyaku memasang lilin di atas kue bertabur keju yang baru aku beli. Kue kecil untuk Ibu.
Ibu tersenyum.
“Bertemu Ayah?”
Ibu menggeleng.
Ah, Ibu mungkin sudah tidak ingin bertemu Ayah. Ayah sudah hilang sejak aku umur 2 tahun. Ibu bilang, Ibu tidak tahu kemana.
“Sudah lama Ibu tidak menitipkan pesan lewat burung dara..,” Ibu memandang lilin yang baru aku pasang. “Separuh mimpi Ibu sudah Ibu ganti.”
“Aku juga,” ujarku pelan.
“Kenapa?”
Aku mendekat pada Ibu. Memandangi wajah cantik Ibu. “Separuh mimpi Mia ditambah separuh mimpi Ibu, jadi satu mimpi.”
“Mimpi tentang apa?”
Aku sudah memikirkannya. Maka ketika Ibu bersiap meniup empat lilin ulang tahun di atas kue, aku bicara padanya.
“Ibu menikah dengan Papa Jey.”
Aku tahu pipi Ibu memerah. Aku tahu, Ibu suka mendengarnya.
**

Mungkin Aku Patah Hati

1175652_10151683896853591_726067151_n

Mungkin aku patah hati. Sebab Bayu bilang orang yang patah hati akan merenung terus lalu air mata akan turun terus.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu katakan, bahwa orang yang patah hati akan melihat segalanya serba muram.
Aku mulai tidak suka lagu-lagu riang. Aku mulai tidak suka warna-warna pink. Aku lebih suka warna hitam juga coklat.
Mungkin aku patah hati, sebab menurut Bayu aku tidak lagi enak diajak bicara. Aku membuatnya bete. Aku juga membuatnya tidak bisa lagi menyanyikan lagu dengan gitarnya.
“Kamu konyol kalau sedang patah hati…”
Aku bisa jadi konyol. Aku malas bercermin sebab jerawatku tumbuh semakin banyak. Aku malas melakukan apa pun juga. Itu yang membuat Mama menjadi sering marah padaku. Aku bahkan malas sekolah.
“Kamu benar patah hati, kan?” kejar Bayu sok ingin tahu.
Aku meringis.
“Kasih tahu dong. Cerita…”
Cuma pada Bayu aku sering cerita. Tepatnya cerita bukan berbagi rahasia. Rahasia apa yang aku punya bila setiap hari Bayu dan aku selalu bersama. Kami sejak kecil tumbuh bersama. Rumahnya ada di samping rumahku. Bahkan aku tahu meski Bayu tidak cerita, cewek seperti apa yang Bayu taksir.
“Kamu konyol…”
Aku diam saja.
Apa Bayu akan mengerti kalau aku cerita?
**
“Apa benar kamu patah hati?” tanya Mama menghidangkan pizza yang baru keluar dari oven. Pizza buatan Mama dengan isi sosis, jamur plus jagung manis dan keju. Kata Mama, aku butuh kekuatan penuh jika patah hati. Dan pizza buatan Mama akan membuat patah hatiku sedikit hilang.
“Mama cuma menebak sih…”
Aku nyengir.
Aku patah hati?
Bisa jadi kalau patah hati artinya kecewa, aku sedang kecewa. Tapi patah hati yang Mama maksud pasti bukan seperti yang aku maksud?
“Bayu naksir Tere dan kamu merasa patah hati karena selama ini sebenarnya kamu suka dengan Bayu, kan?”
Pizza itu merah di bagian tengah. Bukan karena saus botolan. Mama membuatnya dari saus untuk spaghetti yang Mama campur dengan bawang bombai dan tomat cincang.
“Mama dulu pernah lho patah hati. Waktu naksir Papa kamu terus Papa kamu malah naksir yang lain?”
“Terus?” sepotong pizza sudah masuk ke mulutku. Enak.
“Terus ternyata patah hati Mama salah. Papa kamu yang Mama kira tadinya jatuh cinta sama cewek lain ternyata cuma pura-pura bikin Mama patah hati. Bayu juga begitu…”
Aku mengambil pizza lagi.
Ini bukan masalah Bayu.
Ini masalah yang lebih penting dari Bayu. Lebih hebat dari Bayu. Kenapa tidak ada orang lain yang mengerti.
**
Mungkin aku patah hati.
Menurut buku yang Bayu pinjamkan padaku, patah hati itu terjadi ketika kita mulai merasakan jatuh cinta. Perasaan suka berlebih pada orang lain. Rasa suka itu bisa membuat kita senyum sendiri.
Menurut buku itu juga, rasa patah hati bisa terjadi bila orang yang kita cintai tidak memberiku balasan cinta yang kita harapkan.
Aku tersenyum sendiri.
Bisa jadi aku patah hati seperti yang Bayu bilang. Atau Mama katakan. Patah hati itu yang membuat Bayu jadi salting dan merasa bersalah lalu pura-pura menjauh dari Lulu yang ia cintai.
Patah hati itu juga yang mungkin membuat Mama rajin membuatkan makanan kesukaanku.
Jadi aku patah hati?
Mungkin.
Tapi sungguh bukan dengan Bayu seperti yang Mama pikirkan.
Tapi dengan sesuatu.
Sesuatu itu bernama baju biru yang kemarin aku lihat di toko baju dan sekarang sudah tidak ada lagi karena sudah dibeli oleh orang lain. Padahal berhari-hari aku menabung uang jajanku untuk membeli baju itu.
Jadi, menurut kalian, aku sebenarnya patah hati atau sekedar kecewa?
**

Gemuruh Hati Keisha

1175152_10151683896223591_1881694092_n

Rasanya seperti suara sebelum hujan. Terdengar dari langit. Rasanya juga seperti ketika naik ayunan lalu ayunan itu didorong tinggi sekali lalu ayunan itu turun dan mata Kei melihat ke bawah.
Rasanya seperti suara seng yang diangkat lalu diturunkan.
Kei memandanng langit di luar.
“Mami mau kemana?” tanya Kei pada Mami yang sudah bersiap pergi.
Mami, perempuan manis yang sudah mengenakan pakaian serasi dengan tas dan sepatu hak tingginya itu memandang Kei. “Memangnya kamu pikir Mami mau kemana?”
Kei memandang ke luar lagi.
Langit mendung.
Sebulan belakangan ini, Kei suka sekali melihat ke langit. Apalagi ketika langit mulai gelap.
Kei suka dengan suara yang hadir ketika mendung. Meski pun terkadang suara itu tidak muncul padahal yang di hati Kei sudah berbunyi setiap kali mata Kei memandang seng berwarna biru di depan rumahnya.
“Sudah mendung, Mami…,” ujar Kei. “Sebentar lagi hujan…”
“Sudah mendung karena memang musimnya sedang mendung setiap hari. Lalu apa Mami harus berada di dekat kamu terus?” Mami mendekat, memeluk Kei. “Mami mau bertemu teman. Rumah kue kita akan bertambah besar dan kue buatan Mami bisa masuk ke mall.”
Kei memandangi Mami. Cantik. Mami pintar membuat kue.
“Kamu belajar melukis nanti di rumah Om Lilok, kan?”
Kei memandang ke luar.
Kanvasnya sudah habis. Mami lupa. Sudah berapa kali diminta untuk membelikannya tapi Mami bilang belum sempat ke toko buku.
Kei menggeleng.
Mami menepuk pipi Kei. “Mami harus pergi….”
Di luar sudah ada taksi yang Mami pesan lewat telepon tadi.
**
Gemuruh itu hadir ketika Kei suapkan nasi ke dalam mulutnya. Sampai nasi itu menempel di dagunya dan Arul tertawa hingga membuat Kei jadi tidak semangat meneruskan makannya.
Meski Mami bilang Kei boleh bawa piring ke catering Tante Mia yang sengnya berwarna biru, Kei lebih suka makan di warteg pinggir jalan. Lalu matanya akan memandang pada pohon mangga yang tinggi yang batangnya di cat warna ungu.
“Kamu gimana, sih?”
Arul selalu cerewet setiap kali diajak makan di warteg. Tapi cuma Arul yang mau mengikuti apa yang Kei inginkan.
“Kalau kamu makan catering maka aku bisa dapat…”
“Mbak…,” tangan Kei terangkat memanggil Mbak penjaga warteg. “Bisa kasih satu piring nasi lauknya terserah buat cowok cerewet ini?”
Arul tertawa.
Kei selalu tahu apa yang ia inginkan.
**
Justru gemuruh di hati Kei itu jadi pembicaraan antara Arul dan Alisha. Arul yang kepalanya lebih senang dicukur plontos dan Alisha cewek manis dengan alis mata nyaris menyatu tapi dengan jerawat bergerombol di pipi membuat ia merasa jadi cewek jelek se dunia.
“Kamu naksir, Rul?”
Arul cengengesan. Arul sudah lama naksir Keisha. Dulu sekali. Bukan cuma hitungan bulan tapi hitungan tahun.
“Kamu cinta, Rul?”
Arul mengangguk. Cintanya dengan Keisha sudah tidak bisa ditunda lagi, mirip jerawat yang sudah siap pecah.
“Memangnya Kei naksir kamu?”
Itu masalahnya.
Kei tidak pernah cerita soal cowok yang ditaksirnya. Kei cuma bilang kalau Kei naksir cowok itu. Kei juga bilang kalau ia baru merasakan hal itu. Bayangkan di usianya yang ke limabelas, Kei baru merasakan jatuh cinta.
“Kalau kamu mau kasih aku souvenir dari Australi….” Alisha tertawa.
Arul mengangguk cepat. Arul tahu apa yang Alisha inginkan.
**
Alisha mengikuti langkah kaki Kei. Hari ini, Alisha terpaksa mengikuti Kei masuk ke sebuah toko buku besar. Terpaksa soalnya Alisha punya alergi buku. Setiap kali mencium bau kertas buku setiap itu pula ia bisa bersin sampai berkali-kali.
Mungkin karena itu pula, ia selalu memakai masker setiap kali masuk sekolah. Dan mungkin itu yang membuat pipinya ditumbuhi banyak jerawat sebab maskernya jarang dicuci.
“Mami sudah kasih uang untuk beli kanvas. Lima kanvas Mami bilang boleh aku beli.”
Alisha memandangi kanvas yang Kei beli. Lalu keningnya berkerut. “Kamu suka melukis, Kei?”
Kei mengangguk.
“Suka melukis atau karena kamu naksir sama seseorang yang suka melukis?”
“Menurut kamu?” Kei tersipu. Dadanya bergemuruh lagi.
Bayangan Dani tiba-tiba melintasi kepala Alisha.
Pasti cowok itu yang membuat Kei jadi suka melukis. Arul harus tahu itu.
**
Gemuruh di hati Kei langsung kencang ketika Arul yang sudah dibisikkan oleh Alisha mengajak Kei ke aula sekolah. Ada pameran lukisan di sana.
Arul sengaja ingin melihat reaksi Kei. Dan langkah mereka tepat berhenti pada lukisan yang di bawahnya tertulis judul dan nama pelukisnya.
Lukisan gadis cantik berambut ikal.
“Yang aku dengar, cewek yang dilukisnya ini, pacarnya…”
Kei memandangi lukisan itu.
“Dari tiga lukisan karya Dani yang ada di aula ini, yang aku dengar katanya dia melukis ketika rindu sama ceweknya yang sekarang ada di Canada ikut pertukaran pelajar.”
Kei diam saja.
“Yang aku dengar…..”
Kei tidak mendengarkan. Kei langsung berlari ke luar pintu gerbang sekolah.
Kei tidak ingin mendengarkan.
**
Kei bahkan tidak ingin mendengarkan ketika Mami bercerita soal teman usaha Mami yang baru. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita soal supermarket besar dan toko kue keren di mall yang tertarik kue buatan Mami. Kei juga tidak mau mendengarkan ketika Mami bercerita bahwa karena begitu percayanya mereka memberi DP pesanan kue pada Mami dan Mami harus menyelesaikan kue pesanan itu secepatnya dengan rasa yang tetap enak tentu saja.
“Kei…,” Mami memandangi wajah Kei. “Mami ingin sebuah kue berwarna pelangi. Kue kering berwarna-warni pasti cantik kan, Nak?”
Kei mengangkat wajahnya.
Apa Mami tahu perasaannya?
“Kamu tahu cara yang paling menarik untuk membuat kue berwarna-warni? Mami sudah browsing, Mami sudah coba. Tapi Mami pikir, warna yang natural hadir dari seorang pencinta warna seperti kamu.” Kali ini Mami mencubit pipi Kei.
Kei tersipu.
“Kamu mau bantu kan, Nak?”
Kei mengangguk.
**
Kei mau membantu jelas saja. Kei mau membantu Mami sekuat tenaga. Karena itu Kei sekarang berdiri di sebuah rumah.
“Permisi…,” ujar Kei.
Pintu rumah itu terbuka.
Gemuruh di hati Kei terdengar lagi meski langit tidak mendung.
**
Arul bukan cuma marah pada Alisha. Arul kheki karena informasi yang Alisha katakan salah besar.
“Jadi kalau bukan Dani siapa lagi?” Alisha menjejeri langkah Arul.
Arul menggelengkan kepalanya.
Arul tidak tahu.
Yang Arul tahu dengan jelas, Kei tidak mau lagi mengajaknya makan di warteg atau makanan lain di pinggir jalan. Kei juga jadi tutup mulut dengan Arul tidak mau berbagi cerita lagi.
**
“Mami tahu…,” ujar Kei pada Mami. “Aku selalu berpikir kenapa aku bisa melukis padahal dulu Mami bilang tidak ada yang mengajari?”
Mami tertawa. Menjawil hidung Kei. “Memangnya kamu pikir Mami bisa membuat kue karena bakat? Mami belajar sekuat tenaga.”
“Tapi soal melukis itu, Mi…”
“Itu soal anugerah.”
“Bukan soal bakat?”
Mami menggeleng.
“Atau bisa jadi waktu aku di perut Mami, terus Mami naksir cowok yang suka melukis?”
“Hush, kalau itu yang terjadi itu namanya Mami tidak setia dong sama Papi kamu.”
“Tapi kan, Mi…”
Mami menggeleng. Adonan kue kering sudah siap. Coklat yang di tim sudah meleleh sempurna siap dicampurkan.
Dan Kei sudah siap dengan cetakan cinta di tangannya.
**
Gemuruh di hati Kei hadir ketika Kei memandang langit mulai mendung dan kue kering Mami baru ke luar dari oven. Sudah delapan loyang.
“Kamu katanya mau mewarnai kue ini?”
Kei mengangguk.
Pewarna kue. Setiap warna harus dibuat dengan hati. Hati yang berharap akan menghadirkan warna yang cerah. Hati yang sedih ketika meracik warna akan membuat warna yang cerah menjadi kelabu.
“Permisi…,” terdengar pintu pagar berbunyi.
Kei berlari.
“Hei, Kei…, warna yang mana?” Mami berteriak sambil mengeluarkan satu loyang lagi dari dalam oven.
**
Gemuruh di hati Kei selalu terasa ketika langit mendung. Lalu ketika ia menatapnya, Kei merasa bahwa sebentar lagi gemuruh itu akan membuat hujan turun. Membasahi tanah dan hatinya.
Gemuruh di hati Kei bukan dentuman seperti gendang yang ditabuh. Gemuruh di hati Kei bukan untuk cinta tapi untuk harapan yang sudah lama ia inginkan. Setiap kali Kei tersadar setiap itu pula Kei ingin menumpahkannya lewat tangisan.
Kei kangen memiliki seorang Ayah yang tidak pernah bisa disentuhnya hanya bisa dilihat fotonya saja.
“Kei….”
Kei bersembunyi.
Tamu itu Om Lilok.
Kei tahu sudah lama Mami mengenal Om Lilok. Teman lama Mami ketika Mami sekolah dulu. Pelukis terkenal yang memilih hidup sederhana dan mengajarkan melukis tanpa bayaran untuk anak-anak yatim.
Alamat rumahnya Kei dapatkan dari browsing setelah Kei temukan nama itu tertulis di buku harian Mami yang lupa Mami bawa dan terbuka tepat di bagian saat Mami menulis kenangan tentang Om Lilok.
Dan ternyata rumahnya hanya berada beberapa blok dari rumah Kei. Pantas saja Mami bersikeras meminta Kei berlatih melukis di sana.
“Kei…,” suara Mami terdengar di dapur.
Ah, Mami pasti kaget juga salah tingkah.
Kei berhasil mempertemukan Om Lilok yang masih sendiri dengan Mami yang masih mencintai Om Lilok. Kei berhasil meminta Om Lilok datang ke rumah dengan alasan Mami sakit keras.
Gemuruh di hati Kei terasa lagi.
Kali ini Kei memandang ke langit. Papi yang sudah pergi sejak Kei di dalam kandungan pasti tahu bahwa Mami sudah pantas mendapat pengganti.
Air mata Kei menitik perlahan. Air mata bahagia.
Air mata itu hadir bersama dengan teriakan Mami yang salah tingkah dan terus menerus memanggil nama Kei.
**