Kemampuan Membaca Diri Sendiri

kemampuan membaca

Membaca selalu menjadi rujukan banyak pribadi bahwa mereka akan menjadi lebih cerdas dari individu yang lainnya. Membaca setumpuk buku tentu akan membuat jendela ilmu seseorang bertambah luas. Tapi ternyata kesuksesan seseorang tidak tergantung pada banyaknya buku yang telah mereka baca.
Kesuksesan seseorang terletak pada kemampuan mengaplikasikan ilmu membaca mereka pada kehidupan yang sesungguhnya sedang mereka jalani. Menjadi ilmu baru untuk mereka dan membentuk karakter yang lebih kuat.
Dan membaca diri sendiri dalam artian memahami diri sendiri adalah salah satu kunci sukses agar lebih mampu menjadi pribadi yang tangguh.

Pada beberapa waktu yang lalu sebuah tayangan Oprah Show dimunculkan sosok Mike Tyson sebagai sosok yang berbeda. Mike Tyson yang telah lama menghilang muncul dengan pribadi lebih bijak ketimbang sebelumnya, lebih menghargai wanita ketimbang sebelumnya ketika ia kerap berganti-ganti pasangan dan lebih menghargai hidup dengan anak-anak yang dimilikinya saat ini.
Kunci ketenangan batinnya ternyata terletak pada satu hal yaitu ia sudah memahami dirinya utuh dan segala keinginannya. Ia bisa berdamai dengan luka hatinya dan bisa berdamai dengan kenyataan masa depan yang sedang dilaluinya saat ini.

Pada tayangan yang lain, hadir Sarah Fergusson dengan pribadi yang lebih matang ketimbang sebelumnya ketika masih menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Inggris. Seperti diketahui Sarah yang lebih dikenal dengan panggilan Fergie adalah mantan istri dari pewaris takhta Kerajaan Inggris Pangeran Andrew.
Nyaris sama dengan Mike Tyson, Fergie bisa hidup tenang saat ini meski tidak berlimpah harta dikarenakan satu hal. Ia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya dan tahu betul arah masa depannya.
Banyak sosok besar lahir dan bermunculan dan mampu bertahan dengan kebesaran mereka karena mereka mampu melakukan satu hal. Mereka mengasah kemampuan untuk membaca diri mereka lebih dahulu sebelum terjun langsung untuk memahami lingkungan mereka.

Pahami Kebutuhan Dasar Diri Kita

Ada empat kebutuhan dasar pada diri manusia seperti dicetuskan Abraham Maslow dan masih relevan hingga saat ini.

kebutuhan akan rasa aman (safety needs)
kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs)
kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
kebutuhan akan pemenuhan diri (self actualization).

Masing-masing manusia berbeda tingkat kebutuhannya. Ada individu yang membutuhkan penghargaan ketimbang rasa aman atau individu lainnya justru membutuhkan keterikatan dan cinta dan merasa hidupnya tidak ada artinya ketika hal itu tidak ada padanya.
Kita sendiri yang paling paham apa yang menjadi kebutuhan dasar kita sebab, bahkan dengan pasangan hidup terdekat pun tingkat kebutuhan dasar kita akan berbeda.
Pengalaman (field of experience) dan kerangka berpikir (frame of reference) kita dengan manusia lainnya berbeda sesuai dengan jalan hidup yang sudah kita jalani. Itu yang membuat setiap individu sesungguhnya istimewa.

Pahami Kelebihan Dan Kekurangan Kita

Bila kebutuhan dasar kita sudah dapat kita kenali dengan baik tentunya akan lebih mudah untuk memahami kelebihan dan kekurangan kita.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya secara seimbang. Sisi kelebihan kita berimbang dengan sisi kekurangan kita. Hanya manusia pengeluh lebih menonjolkan sisi kekurangan mereka sedang manusia potensial lebih menonjolkan sisi kelebihan mereka.
Bila memang terlalu sulit untuk memahami hal tersebut, coba sediakan waktu untuk merenung. Lalu tulis dalam secarik kertas secara berimbang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita.
Masih tidak paham juga, kita bisa minta masukan pendapat orang yang dekat dan paham diri kita utuh. Kita bisa meminta mereka untuk memberi tanggapan secara netral tentang sisi baik dan sisi buruk kita.
Setelah itu yang harus kita lakukan adalah tentu saja mengurangi kekurangan kita serendah mungkin dan meningkatkan potensi kelebihan kita setinggi mungkin.

Pahami Kekecewaan Dan Kesedihan Kita

Mike Tyson tumbuh kembang menjadi petinju yang brutal karena ia tidak dapat mengatasi kesedihan dan kekecewaan pada tempat dimana ia tumbuh kembang. Lingkungan yang buruk membuat perilakunya semakin buruk sehingga ia menjadi pribadi yang tak terkendali dan suka sekali menjadi biang keributan.
Pada satu titik ketika ia akhirnya menemukan diri pribadinya utuh, memahami akar dari kekecewaannya, ia berubah menjadi pribadi yang lebih menyenangkan untuk orang-orang di sekelilingnya dan setelah itu hidupnya menjadi lebih seimbang.
Memahami kesedihan dan kekecewaan bukanlah sesuatu yang cengeng. Sedih dan kecewa adalah bagian dari kehidupan yang harus kita lewati sebagai manusia.
Kita paham bagaimana keluar dari kekecewaan ketika kita pernah masuk ke dalamnya. Pengalaman orang lain yang kecewa bisa menjadi alat bantu potensial untuk kita. Namun akan lebih efektif bila kita mengalaminya sendiri.

Pahami Mimpi Yang Tidak Bisa Kita Raih

Kecewa sebenarnya adalah cermin dari impian dan harapan yang tidak bisa kita terapkan menjadi kenyataan.
Memahami lebih mendalam lagi dengan mengkaji ulang mimpi dan harapan yang tidak bisa kita raih akan membuat kita lebih memahami diri kita sendiri.
Mimpi yang tidak bisa kita raih terkadang bukan karena kita gagal. Tapi bisa jadi itu adalah mimpi salah tempat sehingga kita harus membelokkan pada impian yang lain yang lebih tepat.
Right man in the right place adalah pepatah yang cukup efektif untuk hal ini.
Bila kita sudah paham diri kita utuh dengan segala potensi yang ada pada diri kita, maka kita pula yang tahu dengan pasti apakah satu mimpi memang harus kita tinggalkan begitu saja demi meraih mimpi lain atau, mengejar mimpi itu hingga dapat dan menaklukkannya.

Dan Fokus Pada Mimpi Yang Ingin Kita Raih

Tuhan menciptakan langkah kita memiliki jejak sehingga mudah untuk melihatnya sedang jalan ke depan tidak memiliki jejak alias samar.
Itu artinya bahwa untuk mundur ke belakang jauh lebih mudah dibandingkan untuk maju ke depan.
Masa depan yang samar akan semakin samar untuk individu yang hanya fokus pada masa lalu, pada jejak yang jelas terlihat. Tapi untuk individu yang fokus ke depan, kesamaran gambaran masa depan justru menjadi motivasi tersendiri untuk membuatnya menjadi lebih jelas.

Berdamai Dengan Keadaan

Cara terakhir untuk mampu membaca diri sendiri adalah dengan merangkul keadaan atau kenyataan yang kita hadapi.
Individu sukses tidak tercipta dalam keadaan yang sama satu dengan yang lain. Mereka tumbuh berkembang di lingkungan yang berbeda dan pola pendidikan yang berbeda juga lingkungan yang mengajarkan prinsip yang berbeda.
Hanya mereka yang bisa berdamai dengan keadaan sekelilingnya yang akan mampu tumbuh menjadi pribadi yang mumpuni dan kuat menahan terjangan cobaan.

Berhenti Memikirkan Apa Kata Orang

LB

Apa kata orang lain sering menjadi panduan untuk individu tertentu melangkah. Apa kata orang lain bahkan sering juga membuat seorang kita ingin menghentikan langkah yang sudah kita bangun karena kita tidak enak hati dengan orang lain.
Orang lain menjadi acuan adalah hal yang wajar karena kita makhluk sosial. Kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa orang lain. Dan kita banyak dididik untuk toleransi dan menyenangkan orang lain dengan cara yang salah yaitu menekan keinginan kita hanya karena tidak ingin orang lain menjadi tidak nyaman.
Kita dilarang bicara tegas pada orang yang kita tidak sukai, karena takut orang itu sakit hati. Kita dilarang menolak permintaan orang lain, karena itu tandanya kita bukan individu yang baik.
Mitos-mitos tentang bagaimana berhadapan dan bersikap pada orang lain dengan mengenyahkankan keinginan dan kenyaman pribadi, pada akhirnya membuat kita bukan menjadi pribadi yang toleransi. Tapi menjadikan kita pribadi yang takut bersikap.
Salah satu sikap yang banyak terjadi adalah dengan selalu memikirkan apa kata orang lain.
Mendengarkan apa kata orang lain tentu saja baik, jika yang kita dengarkan adalah kalimat yang ke luar dari orang yang baik.
Tapi mendengarkan apa kata orang lain, hanya karena ukuran mereka adalah standar lingkungan tempat mereka berada, sedang kita ingin merubah lingkungan itu, tentu menjadi tidak baik jadinya.
Novelis Jerman, Johann Wolfgan Van Goethe mengatakan bahwa hal-hal yang paling penting seharusnya tidak pernah dikalahkan oleh hal-hal yang sebenarnya adalah masalah kecil.
Jika apa yang dikatakan orang lain menurut kita adalah sesuatu yang kecil, sedang mimpi kita jauh lebih besar, harusnya kita tutup telinga dan terus melaju.
Beberapa hal di bawah ini bisa kita lakukan agar kita terhindar dari terlalu fokus pada mendengarkan apa kata orang lain :

It’s My Life
Sedikit egois kedengarannya dengan mengungkapkan kalimat ini. Ini hidup kita. Kita tahu betul mana yang baik dan mana yang benar. Langkah-langkah kita sudah kita prediksi sebelumnya dan jika kita salah kita yang akan menanggungnya.
It’s my life, meyakini bahwa kita sudah melakukan yang terbaik tentu saja membuat kita paham bahwa apa yang kita lakukan benar. Dan benar itu artinya hasil dari intropkesi panjang yang sudah kita lakukan tidak asal bersikap saja.
Ini hidup kita tentunya bukan hanya sebagai jargon tapi harus benar-benar memahami jika yang kita jalani adalah bagian dari mimpi kita. Jika kita berhak melakukan apapun dengan hidup kita, harusnya kita juga menyeimbangkan dengan pemahaman bahwa kalimat di atas akan efektif untuk diri kita dan orang banyak bila kita melakukan hal yang sifatnya positif.
Tentunya kita juga harus menyadari bahwa semakin dewasa kita itu artinya semakin dewasa juga dalam bersikap dan bertindak. Tindakan it’s my life yang orang dewasa lakukan tentunya berbeda dengan apa yang anak baru beranjak remaja lakukan.

Kita Diperhatikan
Seorang membicarakan kita entah itu di belakang kita atau justru di depan kita, itu artinya satu, mereka memperhatikan kita. Sedemikian perhatiannya mereka pada kita hingga titik terkecil dari diri kita juga mereka perhatikan.
Bukankah itu sesuatu yang menyenangkan untuk kita?
Mereka akan membicarakan keburukan kita dan kita yang tanggap bisa intropeksi dan merubah segala yang buruk menjadi baik.
Mereka membicarakan mimpi konyol kita bukankah itu juga sebuah teguran yang membuat kita bisa merenung. Merenungi apakah mimpi kita benar-benar konyol? Atau hanya karena mereka yang menganggap konyol itu yang tidak paham makna sebuah mimpi yang sedang kita jalankan.
Ingat baik-baik, kita sedang diperhatikan. Dan bersyukurlah ada seseorang yang mau mengurusi hal-hal kecil dari diri kita.

Mimpi Besar Biasa Dapat Hambatan
Setiap yang besar berawal dari yang kecil. Sesuatu yang ingin menjadi besar pasti melewati banyak hal yang menyakitkan yang justru menguatkannya untuk semakin kokoh ketika menjadi besar.
Hukum alam di dunia ini sama. Semua cita-cita luhur akan mendapat tantangan dari orang yang tidak percaya dan semua mimpi besar pasti akan dikecilkan. Tidak ada yang instant di dunia ini.
Bahkan seorang Bill Gates yang sukses tidak ingin mewariskan hartanya yang berlimpah pada anak-anaknya dengan alasan bahwa ia tidak ingin memberi sukses yang instant pada mereka.
Jika kita ingin seperti pohon besar, maka ciptakan sesuatu yang berbeda. Perkataan orang lain itu, perkataan negatif khususnya, diubah saja dalam benak kita menjadi sesuatu yang lain.
Bila kita dikatakan pemimpi, ubah kalimat itu di benak kita menjadi sebuah pujian bahwa mereka sedang memuji kita.
Dengan begitu kita terus bergairah untuk mewujudkan mimpi kita.

Mereka Menunjukkan Jalan yang Harus Kita Tuju
Seringnya kita tidak menyadari bahwa orang yang membicarakan kita sebenarnya sedang menunjukkan tempat yang bisa kita tuju. Hanya kita sering karena egois tidak memahami apa makna kalimat mereka.
Biasanya seorang yang bicara itu akan mengatakan, seharusnya begini bukan begitu.
Kita yang terburu emosi menganggap mereka tidak mendukung kita. Kita sudah antipati terlebih dahulu, padahal bisa jadi mereka mengatakan hal itu karena memang mereka sudah berpengalaman atau mereka mendengar pengalaman dari orang lain.
Saring saja baik-baik apa yang mereka katakan dan telaah dengan lebih jeli lagi.
Nanti kita akan bisa mendapatkan pemahaman baru tentang jalan mana yang harusnya kita tempuh.

Sampai Dimana Tingkat Egoisme Kita?
Apa kata orang lain tentang kita, apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri adalah kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan.
Orang dekat melihat kita sebagaimana kita adanya melalui cara kita berinteraksi dengan mereka. Jadi bila mereka membicarakan kita, di depan kita, maka bukalah telinga kita. Bisa jadi mereka ingin membuat kita lebih baik atau terlalu melindungi kita sehingga mereka takut kalau-kalau kita melakukan kesalahan.
Panglima Terakhir Adalah Hati Nurani
Jika apa yang dikatakan orang lain begitu memusingkan kepala kita, sedang kita sendiri belum paham apa yang seharusnya kita lakukan, maka jalan terbaik yang harus kita lakukan adalah dengan mendengarkan apa kata hati nurani.
Hati nurani menjadi panglima kita yang terakhir, penunjuk kebenaran. Tentunya hati nurani ini bisa berfungsi sempurna bila kita sendiri sering menggunakannya.
Sering-seringlah melakukan perenungan dan intropeksi diri sehingga hati nurani kita menjadi jernih dan bisa menuntun kita ke arah yang paling baik.