Melesat Setelah Direndahkan

DSCF1996

Direndahkan, disepelekan, dianggap tidak memiliki kemampuan kerap membuat kita merasa bahwa kita memang rendah. Bahwa kita memang tidak ada artinya.
Kita tidak melihat peluang lain ketika kita direndahkan. Kita merasa bahwa situasi seperti itu tidak bisa dirubah lagi.
Padahal yang terjadi sesungguhnya, situasi seperti itu hadir karena konsep diri kita sendiri yang memang rendah, tidak yakin akan diri sendiri yang akhirnya muncul ke permukaan dan terlihat oleh orang lain.
Konsep diri kita sendiri adalah pandangan dan persepsi kita tentang diri kita sendiri (Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with other – William D Brooks-1974)

Beberapa hal ini bisa menjadi alternatif yang bisa kita pahami kita direndahkan orang lain :

Direndahkan Karena Kita Memang Rendah

Coba pandangi diri kita di cermin. Lihat seperti apa diri kita sebenarnya. Secara jujur kita membuat penilaian akan diri kita sendiri.
Benarkan bahwa ketika kita direndahkan kita memang rendah?
Benarkan ketika kita dikecilkan kita memang kecil dan tidak bisa melakukan hal-hal yang sifatnya besar?
Ketika kita melihat diri kita secara jujur dan mengakui bahwa ada hal yang salah pada diri kita tentunya kita juga akan tahu kenapa orang lain melakukan hal itu.
Misal, kita selalu melakukan pekerjaan yang salah dan kita tahu itu salah karena sejak awal kita memang tidak percaya diri untuk melakukan pekerjaan itu.
Ketika kita jujur dan mengakui paling tidak pada diri sendiri bahwa kita salah, bahwa kita memang tidak melakukan hal yang optimal, maka kita akan jujur mengakui bahwa orang lain yang memberi kepercayaan atas pekerjaan itu memaki pada kita, memang tidak salah.
Itu artinya orang lain merendahkan diri kita karena kualitas diri kita memang rendah.

Direndahkan Karena Kita Akan Menjadi Tinggi

Interopeksi terhadap kekurangan diri sendiri akan membuat kita sadar, bahwa ada yang salah dengan persepsi orang lain atau ada yang salah dengan diri kita.
Bisa jadi orang lain menganggap diri kita rendah, karena memang konsep diri kita negatif, dan memang kita tidak pernah berperilaku yang positif.
Tapi bisa jadi orang lain merendahkan kita karena kita adalah ancaman untuk mereka, karena takut kita menjadi setinggi bahkan lebih tinggi dari mereka.
Banyak peristiwa di beberapa tempat terjadi ketika seorang yang memiliki potensi besar justru terus dikecilkan, dengan tujuan mereka tidak berani menatap ke depan dan pada akhirnya mereka yakin dengan persepsi itu, lalu tenggelam tidak berani bermimpi lagi.

Pahami Orang Lain Kita Akan Paham Diri Kita

Seringnya orang memandangi diri orang lain dari penampilan luar dan dari apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita kepada mereka.
Mengambil celah dari prinsip seperti ini sesungguhnya kita mulai melaju.
Pahami orang lain di sekeliling kita dan lingkungan kita. Ubah persepsi mereka yang tidak baik tentang kita, dengan mulai merubah perilaku kita kepada mereka.
Kalau selama ini kita dikenal sebagai orang angkuh, coba pikirkan dalam-dalam, apakah kita memang ingin dikenal sebagai orang angkuh, atau sebaliknya kita justru ingin dianggap sebagai orang yang ramah?
Kalau ingin dianggap sebagai orang yang ramah, maka coba sentuhlah hati satu dua orang dengan mulai menyapanya. Sehingga kita yang tadinya tidak biasa untuk bersikap ramah, juga belajar untuk menjalani hal itu.

Direndahkan Bukan Harga Mati

Untuk orang-orang dengan konsep diri positif dan memandang segala apapun dengan kaca mata positif, maka dicaci, direndahkan orang lain akan dianggap sebagai salah satu celah untuk melangkah ke arah yang positif.
Direndahkan bukan harga mati.
Direndahkan itu artinya sebuah langkah awal untuk kita mulai intropeksi apa yang salah dengan sikap kita selama ini.
Jika selama ini kita direndahkan karena wawasan kita yang hanya seputaran batok kelapa, maka coba lah untuk menambah wawasan itu sehingga segala kalimat yang ke luar dari mulut kita, adalah kalimat yang diakui kualitasnya.
Bukan orang lain yang bisa merubah nasib kita, tapi kita yang harus merubah nasib kita sendiri.

Jangan Merendahkan Orang Lain

Jika kita sudah mampu ke luar dari zona bernama caci maki dari orang lain terhadap kita, maka buatlah orang lain merasa yakin bahwa selama ini persepsi mereka terhadap kita salah. Dan usahakan agara kita tidak mengulang pengalaman itu pada orang lain.
Jadilah pribadi yang bermartabat. Jadilah individu yang berani mengangkat harga diri orang lain. Berikan pujian yang tidak berlebihan dan dorongan kuat, agar mereka bangkit dari keterpurukan. Dan jika sudah seperti ini, itu artinya kita sudah menjadi individu yang berproses.
Dan individu yang berani mengambil hikmah dari setiap proses hidupnya adalah individu yang bijaksana.

Singkirkan Segala Keluh

DSCF1641

Salah satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh.
Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil yang hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pasti lah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat.

Phil McGraw seorang psikolog yang juga menulis mengatakan bahwa Anda mengajar orang lain bagaimana memperlakukan diri Anda. Apa yang Anda ajarkan datang dari bagaimana Anda memandang hidup. Bagaimana Anda memandang hidup datang dari siapa Anda.

Keluhan memang tidak datang dengan sendirinya. Sebagian besar karakter pengeluh bisa datang dari faktor genetika. Tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga yang mengeluh akan membuat kita menjadi pengeluh.
Sedang tumbuh kembang dalam lingkungan postif dan optimis akan membuat kita terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Cara pandang kita terhadap diri kita sendiri juga bisa menjadikan diri kita seorang pengeluh.
Teman, pengalaman hidup yang sudah kita lalui dan sikap dari pengalaman hidup itu yang bisa membuat kita mengambil satu pilihan.
Menjadi seorang yang positif dan penuh syukur atau menjadi seorang pengeluh.

Bila kita sekarang merasa berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah.

Luka Di Masa Lalu.

Keluhan yang membuat kita menjadi seorang yang kerap kali mengeluh tentu saja tidak hadir begitu saja. Keluhan hadir karena memang kita tumbuh dan besar di lingkungan pengeluh.
Keluhan juga berarti kita memiliki sebuah luka yang kita simpan hingga di masa depan sehingga kita ingin membagi luka itu pada yang lain dengan cara tak sadar. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu pada diri kita. Yaitu menyebarkan keluhan.
Ini adalah reaksi tidak sadar dari kita yang ingin melihat reaksi orang lain atas keluhan kita. Ketika orang lain itu menerimanya kita merasa menemukan keranjang sampah yang benar seperti dulu orang lain mengeluh pada kita. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.
Menyadari hal itu sebagai rangkaian masa lalu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan.
Kesadaran dari dalam diri sendiri menjadi satu hal yang paling penting untuk merubah perilaku sebagai pengeluh.

Mengeluh Tanda Tidak Bersyukur.

Stop ingatan kita tentang masa lalu. Anggap masa lalu adalah jejak yang tidak perlu ditengok lagi.
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini.
Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan.
Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.
Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung.
Perenungan yang paling efektif tentu ke luar dari zona nyaman kita selama ini lalu datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita.
Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerapkali menjadi bahan impian untuk orang lain.
Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang ke luar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.

Hukum Diri Kita Untuk Setiap Keluh

Memberikan hukuman pada diri kita sendiri untuk setiap keluhan yang kita keluarkan mungkin bisa menjadi sarana efektif untuk merubah kebiasaan buruk itu.
Atau kalau memang terlalu sulit untuk mengukur hal itu karena kita memang sudah terbiasa, kita bisa meminta bantuan orang terdekat. Orang terdekat yang paham diri kita seperti sahabat atau pasangan.
Minta mereka untuk memberikan hukuman pada kita setiap kali kita mengeluh. Bisa saja kita menyediakan diri untuk memberikan sejumlah uang setiap kali kita mengeluh pada orang terdekat kita itu.
Cara ini cukup efisien karena akan lebih terasa.

Tulis Dan Buang Ke Keranjang Sampah

Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas.
Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga.
Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga, mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya.
Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?

Ubah Dengan Yang Positif

Ini cara efektif untuk melawan keluh. Bila orang lain sudah tidak sanggup membantu kita, tentu kita yang harus menolong diri kita sendiri.
Ubah setiap bentuk keluhan menjadi sesuatu yang positif.
Semisal, ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.
Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita.

Pilihan ada di tangan kita.

Kemampuan Membaca Diri Sendiri

kemampuan membaca

Membaca selalu menjadi rujukan banyak pribadi bahwa mereka akan menjadi lebih cerdas dari individu yang lainnya. Membaca setumpuk buku tentu akan membuat jendela ilmu seseorang bertambah luas. Tapi ternyata kesuksesan seseorang tidak tergantung pada banyaknya buku yang telah mereka baca.
Kesuksesan seseorang terletak pada kemampuan mengaplikasikan ilmu membaca mereka pada kehidupan yang sesungguhnya sedang mereka jalani. Menjadi ilmu baru untuk mereka dan membentuk karakter yang lebih kuat.
Dan membaca diri sendiri dalam artian memahami diri sendiri adalah salah satu kunci sukses agar lebih mampu menjadi pribadi yang tangguh.

Pada beberapa waktu yang lalu sebuah tayangan Oprah Show dimunculkan sosok Mike Tyson sebagai sosok yang berbeda. Mike Tyson yang telah lama menghilang muncul dengan pribadi lebih bijak ketimbang sebelumnya, lebih menghargai wanita ketimbang sebelumnya ketika ia kerap berganti-ganti pasangan dan lebih menghargai hidup dengan anak-anak yang dimilikinya saat ini.
Kunci ketenangan batinnya ternyata terletak pada satu hal yaitu ia sudah memahami dirinya utuh dan segala keinginannya. Ia bisa berdamai dengan luka hatinya dan bisa berdamai dengan kenyataan masa depan yang sedang dilaluinya saat ini.

Pada tayangan yang lain, hadir Sarah Fergusson dengan pribadi yang lebih matang ketimbang sebelumnya ketika masih menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Inggris. Seperti diketahui Sarah yang lebih dikenal dengan panggilan Fergie adalah mantan istri dari pewaris takhta Kerajaan Inggris Pangeran Andrew.
Nyaris sama dengan Mike Tyson, Fergie bisa hidup tenang saat ini meski tidak berlimpah harta dikarenakan satu hal. Ia sudah bisa berdamai dengan masa lalunya dan tahu betul arah masa depannya.
Banyak sosok besar lahir dan bermunculan dan mampu bertahan dengan kebesaran mereka karena mereka mampu melakukan satu hal. Mereka mengasah kemampuan untuk membaca diri mereka lebih dahulu sebelum terjun langsung untuk memahami lingkungan mereka.

Pahami Kebutuhan Dasar Diri Kita

Ada empat kebutuhan dasar pada diri manusia seperti dicetuskan Abraham Maslow dan masih relevan hingga saat ini.

kebutuhan akan rasa aman (safety needs)
kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs)
kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)
kebutuhan akan pemenuhan diri (self actualization).

Masing-masing manusia berbeda tingkat kebutuhannya. Ada individu yang membutuhkan penghargaan ketimbang rasa aman atau individu lainnya justru membutuhkan keterikatan dan cinta dan merasa hidupnya tidak ada artinya ketika hal itu tidak ada padanya.
Kita sendiri yang paling paham apa yang menjadi kebutuhan dasar kita sebab, bahkan dengan pasangan hidup terdekat pun tingkat kebutuhan dasar kita akan berbeda.
Pengalaman (field of experience) dan kerangka berpikir (frame of reference) kita dengan manusia lainnya berbeda sesuai dengan jalan hidup yang sudah kita jalani. Itu yang membuat setiap individu sesungguhnya istimewa.

Pahami Kelebihan Dan Kekurangan Kita

Bila kebutuhan dasar kita sudah dapat kita kenali dengan baik tentunya akan lebih mudah untuk memahami kelebihan dan kekurangan kita.
Tuhan menciptakan segala sesuatunya secara seimbang. Sisi kelebihan kita berimbang dengan sisi kekurangan kita. Hanya manusia pengeluh lebih menonjolkan sisi kekurangan mereka sedang manusia potensial lebih menonjolkan sisi kelebihan mereka.
Bila memang terlalu sulit untuk memahami hal tersebut, coba sediakan waktu untuk merenung. Lalu tulis dalam secarik kertas secara berimbang apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita.
Masih tidak paham juga, kita bisa minta masukan pendapat orang yang dekat dan paham diri kita utuh. Kita bisa meminta mereka untuk memberi tanggapan secara netral tentang sisi baik dan sisi buruk kita.
Setelah itu yang harus kita lakukan adalah tentu saja mengurangi kekurangan kita serendah mungkin dan meningkatkan potensi kelebihan kita setinggi mungkin.

Pahami Kekecewaan Dan Kesedihan Kita

Mike Tyson tumbuh kembang menjadi petinju yang brutal karena ia tidak dapat mengatasi kesedihan dan kekecewaan pada tempat dimana ia tumbuh kembang. Lingkungan yang buruk membuat perilakunya semakin buruk sehingga ia menjadi pribadi yang tak terkendali dan suka sekali menjadi biang keributan.
Pada satu titik ketika ia akhirnya menemukan diri pribadinya utuh, memahami akar dari kekecewaannya, ia berubah menjadi pribadi yang lebih menyenangkan untuk orang-orang di sekelilingnya dan setelah itu hidupnya menjadi lebih seimbang.
Memahami kesedihan dan kekecewaan bukanlah sesuatu yang cengeng. Sedih dan kecewa adalah bagian dari kehidupan yang harus kita lewati sebagai manusia.
Kita paham bagaimana keluar dari kekecewaan ketika kita pernah masuk ke dalamnya. Pengalaman orang lain yang kecewa bisa menjadi alat bantu potensial untuk kita. Namun akan lebih efektif bila kita mengalaminya sendiri.

Pahami Mimpi Yang Tidak Bisa Kita Raih

Kecewa sebenarnya adalah cermin dari impian dan harapan yang tidak bisa kita terapkan menjadi kenyataan.
Memahami lebih mendalam lagi dengan mengkaji ulang mimpi dan harapan yang tidak bisa kita raih akan membuat kita lebih memahami diri kita sendiri.
Mimpi yang tidak bisa kita raih terkadang bukan karena kita gagal. Tapi bisa jadi itu adalah mimpi salah tempat sehingga kita harus membelokkan pada impian yang lain yang lebih tepat.
Right man in the right place adalah pepatah yang cukup efektif untuk hal ini.
Bila kita sudah paham diri kita utuh dengan segala potensi yang ada pada diri kita, maka kita pula yang tahu dengan pasti apakah satu mimpi memang harus kita tinggalkan begitu saja demi meraih mimpi lain atau, mengejar mimpi itu hingga dapat dan menaklukkannya.

Dan Fokus Pada Mimpi Yang Ingin Kita Raih

Tuhan menciptakan langkah kita memiliki jejak sehingga mudah untuk melihatnya sedang jalan ke depan tidak memiliki jejak alias samar.
Itu artinya bahwa untuk mundur ke belakang jauh lebih mudah dibandingkan untuk maju ke depan.
Masa depan yang samar akan semakin samar untuk individu yang hanya fokus pada masa lalu, pada jejak yang jelas terlihat. Tapi untuk individu yang fokus ke depan, kesamaran gambaran masa depan justru menjadi motivasi tersendiri untuk membuatnya menjadi lebih jelas.

Berdamai Dengan Keadaan

Cara terakhir untuk mampu membaca diri sendiri adalah dengan merangkul keadaan atau kenyataan yang kita hadapi.
Individu sukses tidak tercipta dalam keadaan yang sama satu dengan yang lain. Mereka tumbuh berkembang di lingkungan yang berbeda dan pola pendidikan yang berbeda juga lingkungan yang mengajarkan prinsip yang berbeda.
Hanya mereka yang bisa berdamai dengan keadaan sekelilingnya yang akan mampu tumbuh menjadi pribadi yang mumpuni dan kuat menahan terjangan cobaan.

Berhenti Memikirkan Apa Kata Orang

LB

Apa kata orang lain sering menjadi panduan untuk individu tertentu melangkah. Apa kata orang lain bahkan sering juga membuat seorang kita ingin menghentikan langkah yang sudah kita bangun karena kita tidak enak hati dengan orang lain.
Orang lain menjadi acuan adalah hal yang wajar karena kita makhluk sosial. Kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa orang lain. Dan kita banyak dididik untuk toleransi dan menyenangkan orang lain dengan cara yang salah yaitu menekan keinginan kita hanya karena tidak ingin orang lain menjadi tidak nyaman.
Kita dilarang bicara tegas pada orang yang kita tidak sukai, karena takut orang itu sakit hati. Kita dilarang menolak permintaan orang lain, karena itu tandanya kita bukan individu yang baik.
Mitos-mitos tentang bagaimana berhadapan dan bersikap pada orang lain dengan mengenyahkankan keinginan dan kenyaman pribadi, pada akhirnya membuat kita bukan menjadi pribadi yang toleransi. Tapi menjadikan kita pribadi yang takut bersikap.
Salah satu sikap yang banyak terjadi adalah dengan selalu memikirkan apa kata orang lain.
Mendengarkan apa kata orang lain tentu saja baik, jika yang kita dengarkan adalah kalimat yang ke luar dari orang yang baik.
Tapi mendengarkan apa kata orang lain, hanya karena ukuran mereka adalah standar lingkungan tempat mereka berada, sedang kita ingin merubah lingkungan itu, tentu menjadi tidak baik jadinya.
Novelis Jerman, Johann Wolfgan Van Goethe mengatakan bahwa hal-hal yang paling penting seharusnya tidak pernah dikalahkan oleh hal-hal yang sebenarnya adalah masalah kecil.
Jika apa yang dikatakan orang lain menurut kita adalah sesuatu yang kecil, sedang mimpi kita jauh lebih besar, harusnya kita tutup telinga dan terus melaju.
Beberapa hal di bawah ini bisa kita lakukan agar kita terhindar dari terlalu fokus pada mendengarkan apa kata orang lain :

It’s My Life
Sedikit egois kedengarannya dengan mengungkapkan kalimat ini. Ini hidup kita. Kita tahu betul mana yang baik dan mana yang benar. Langkah-langkah kita sudah kita prediksi sebelumnya dan jika kita salah kita yang akan menanggungnya.
It’s my life, meyakini bahwa kita sudah melakukan yang terbaik tentu saja membuat kita paham bahwa apa yang kita lakukan benar. Dan benar itu artinya hasil dari intropkesi panjang yang sudah kita lakukan tidak asal bersikap saja.
Ini hidup kita tentunya bukan hanya sebagai jargon tapi harus benar-benar memahami jika yang kita jalani adalah bagian dari mimpi kita. Jika kita berhak melakukan apapun dengan hidup kita, harusnya kita juga menyeimbangkan dengan pemahaman bahwa kalimat di atas akan efektif untuk diri kita dan orang banyak bila kita melakukan hal yang sifatnya positif.
Tentunya kita juga harus menyadari bahwa semakin dewasa kita itu artinya semakin dewasa juga dalam bersikap dan bertindak. Tindakan it’s my life yang orang dewasa lakukan tentunya berbeda dengan apa yang anak baru beranjak remaja lakukan.

Kita Diperhatikan
Seorang membicarakan kita entah itu di belakang kita atau justru di depan kita, itu artinya satu, mereka memperhatikan kita. Sedemikian perhatiannya mereka pada kita hingga titik terkecil dari diri kita juga mereka perhatikan.
Bukankah itu sesuatu yang menyenangkan untuk kita?
Mereka akan membicarakan keburukan kita dan kita yang tanggap bisa intropeksi dan merubah segala yang buruk menjadi baik.
Mereka membicarakan mimpi konyol kita bukankah itu juga sebuah teguran yang membuat kita bisa merenung. Merenungi apakah mimpi kita benar-benar konyol? Atau hanya karena mereka yang menganggap konyol itu yang tidak paham makna sebuah mimpi yang sedang kita jalankan.
Ingat baik-baik, kita sedang diperhatikan. Dan bersyukurlah ada seseorang yang mau mengurusi hal-hal kecil dari diri kita.

Mimpi Besar Biasa Dapat Hambatan
Setiap yang besar berawal dari yang kecil. Sesuatu yang ingin menjadi besar pasti melewati banyak hal yang menyakitkan yang justru menguatkannya untuk semakin kokoh ketika menjadi besar.
Hukum alam di dunia ini sama. Semua cita-cita luhur akan mendapat tantangan dari orang yang tidak percaya dan semua mimpi besar pasti akan dikecilkan. Tidak ada yang instant di dunia ini.
Bahkan seorang Bill Gates yang sukses tidak ingin mewariskan hartanya yang berlimpah pada anak-anaknya dengan alasan bahwa ia tidak ingin memberi sukses yang instant pada mereka.
Jika kita ingin seperti pohon besar, maka ciptakan sesuatu yang berbeda. Perkataan orang lain itu, perkataan negatif khususnya, diubah saja dalam benak kita menjadi sesuatu yang lain.
Bila kita dikatakan pemimpi, ubah kalimat itu di benak kita menjadi sebuah pujian bahwa mereka sedang memuji kita.
Dengan begitu kita terus bergairah untuk mewujudkan mimpi kita.

Mereka Menunjukkan Jalan yang Harus Kita Tuju
Seringnya kita tidak menyadari bahwa orang yang membicarakan kita sebenarnya sedang menunjukkan tempat yang bisa kita tuju. Hanya kita sering karena egois tidak memahami apa makna kalimat mereka.
Biasanya seorang yang bicara itu akan mengatakan, seharusnya begini bukan begitu.
Kita yang terburu emosi menganggap mereka tidak mendukung kita. Kita sudah antipati terlebih dahulu, padahal bisa jadi mereka mengatakan hal itu karena memang mereka sudah berpengalaman atau mereka mendengar pengalaman dari orang lain.
Saring saja baik-baik apa yang mereka katakan dan telaah dengan lebih jeli lagi.
Nanti kita akan bisa mendapatkan pemahaman baru tentang jalan mana yang harusnya kita tempuh.

Sampai Dimana Tingkat Egoisme Kita?
Apa kata orang lain tentang kita, apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri adalah kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan.
Orang dekat melihat kita sebagaimana kita adanya melalui cara kita berinteraksi dengan mereka. Jadi bila mereka membicarakan kita, di depan kita, maka bukalah telinga kita. Bisa jadi mereka ingin membuat kita lebih baik atau terlalu melindungi kita sehingga mereka takut kalau-kalau kita melakukan kesalahan.
Panglima Terakhir Adalah Hati Nurani
Jika apa yang dikatakan orang lain begitu memusingkan kepala kita, sedang kita sendiri belum paham apa yang seharusnya kita lakukan, maka jalan terbaik yang harus kita lakukan adalah dengan mendengarkan apa kata hati nurani.
Hati nurani menjadi panglima kita yang terakhir, penunjuk kebenaran. Tentunya hati nurani ini bisa berfungsi sempurna bila kita sendiri sering menggunakannya.
Sering-seringlah melakukan perenungan dan intropeksi diri sehingga hati nurani kita menjadi jernih dan bisa menuntun kita ke arah yang paling baik.