Menelusuri Peta Potensi Diri

peta indonesia

Kita dilahirkan sama. Sebagai manusia. Semua sudah memiliki takaran sendiri. Setiap individu, saya yakin pasti diberi kelebihan, juga diberi kekurangan. Allah itu adil. Tidak mungkin individu lahir sempurna tanpa cacat. Tidak mungkin juga individu diberi ketidaksempurnaan fisik tanpa memiliki kelebihan di dalamnya.
Terlalu banyak contoh yang bisa disebutkan. Contoh terakhir adalah Masyita dalam program hafidz Quran di salah satu stasiun televisi. Dengan kondisi mata buta, ia bisa menghapal Al Quran hanya dengan mendengar murotal yang diputarkan ibunya setiap hari.

“Aku harus apa?”
“Aku harus bagaimana?”
Hal-hal seperti itu rutin sering saya dengar dari beberapa mulut orang yang curhat pada saya.
Aku harus apa, aku harus bagaimana, masa depanku gelap dan lain sebagainya, seolah-olah membuat tidak ada pintu yang terbuka untuk mereka.
Padahal, bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena pintu pemahaman masih tertutup rapat untuk mereka.

Didalam Kemampuan Membaca Diri Sendiri saya sudah menulis banyak.
Kali ini mengerucut lebih jauh lagi.

Kita tidak paham, bukan salah kita. Mungkin orangtua kita tidak paham mengarahkan kita, dan menyerahkan pada lingkungan. Mungkin takdir kita juga harus berteman dengan teman-teman yang merasa hidup terus mengalir saja seperti air, tanpa berpikir harus melakukan perubahan.
Kita tidak paham, maka harus berjuang untuk paham. Paling tidak memahami diri kita sendiri dulu.

Memahami Hobi
Hobi jangan dianggap sepele. Dari hobi kita bisa mendapat rezeki. Hobi saya menulis dan membaca. Dan dari hobi itu saya punya ribuan tulisan dan puluhan buku, yang hasilnya bisa mengantarkan saya kuliah tanpa meminta dari orangtua.
Tetangga dekat rumah punya hobi membuat kue. Belum lama dia resign dari pekerjaaanya di sebuah kantor. Jabatannya lumayan. Kemarin saya dan ibu-ibu yang lain belajar membuat kue kering darinya. Kue-kuenya enak dan kualiasnya oke.
Hobi pada akhirnya jangan hanya dianggap sekedar hobi. Hobi itu membahagiakan ketika dikerjakan. Ketika diseriusi bisa menghasilkan.
Maka coba cari tahu hobi kita itu ada di mana? Sehingga dari situ kita bisa melebarkan peta potensi kita.

Menggali Kemampuan

Belajar dari kehidupan bersama para tetangga yang mayoritas ibu rumah tangga, ternyata banyak dari mereka yang mereka yakin mereka tidak mampu untuk melakukan satu hal. Dan yang lebih buruk lagi, mereka meyakini bahwa kapasitas otak mereka terbatas.
Merasa tidak mampu bukan berarti tidak mampu. Perasaan tidak mampu para ibu rumah tangga itu biasanya hadir karena mereka sudah merasa cukup di satu titik. Titik sebagai ibu rumah tangga saja. Mengurus anak dan mengurus suami. Setelah itu nikmati hidup. Menikmati hidup bukan dengan belajar.
Jika kita ingin tahu peta potensi diri kita, jika merasa tidak memiliki hobi yang bisa dijadikan sesuatu untuk melejitkan potensi kita, maka coba cari kemampuan kita.
Misal, kemampuan kita mengurus rumah dengan rapi bahkan lebih rapi bila dibandingkan dengan orang lain. Nah kemampuan seperti ini bisa ditingkatkan. Siapa tahu kita bisa membuat usaha bersih-bersih rumah secara online. Dan tentunya kita mendapatkan penghasilan dari sana.

Kejar Orang yang Bisa Melihat Potensi

Merasa tidak punya hobi dan tidak punya kemampuan? Mudah kok. Orang lain biasanya mudah melihat potensi diri kita, ketimbang kita sendiri. Karena itu carilah orang yang bisa melihat potensi kita. Biasanya orang itu ada di lingkungan kita. Mungkin ia teman ngobrol kita. Atau mungkin guru mengaji kita.
Dari orang tersebut kita bisa jadi paham bahwa kita memiliki kemampuan yang tidak kita sadari. Dan itulah pontesi kita yang harus kita asah lagi.

Kejar Orang yang Bisa Mengarahkan dan Mengingatkan
Jika sudah menemukan orang yang bisa melihat kemampuan kita, yang perlu kita tingkatkan lagi adalah mencari teman yang bisa mengarahkan bukan yang menjerumuskan.
Semakin dewasa, kita akan semakin paham seperti apa teman yang bisa mengarahkan.
Ketika setelah bertemu dan bicara dengannya, kita merasa semua pintu kesempatan terbuka lebar untuk kita, itu artinya kita sudah menemukan orang yang kita cari.
Kunjungi orang seperti itu, tapi jangan terlalu sering, sehingga membuat ia justru bosan dengan kita. Masukkan semua nasehatnya dan mulailah berjalan mengikuti pentunjuk dari orang tersebut.

Minimalisir yang Tidak Bisa

Ada yang kita bisa karena kita memang berjuang untuk melakukannya. Ada yang tidak bisa kita lakukan karena memang kita tidak berjuang untuk itu.
Maka coba buatlah coretan untuk kita sendiri. Tulis apa kelebihan juga kekurangan kita. Lalu pahami apakah kekurangan itu bisa benar-benar kita hilangkan?
Apakah kekurangan itu bisa kita jadikan kelebihan dan kita berjuang itu itu?
Misalnya, saya tidak bisa memasak. Tidak betah berlama-lama di dapur. Tapi saya berjuang untuk itu. Akhirnya suatu kesempatan saya menang lomba memasak kue yang diadakan media cetak ternama.

Lampaui Dirimu

Lampaui dirimu. Banyak hal yang bisa kita lakukan asal kita berani berjuang untuk itu.
Jika peta potensi kita sudah kita lampuai, maka yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah berjuang untuk melakukan banyak hal, termasuk melampaui batas rasa tidak mampu yang ada di benak kita.
Banyak keajaiban yang akan terjadi setelah kita menemukan peta potensi kita.
Tapi yang paling penting jangan pernah berhenti berjuang untuk itu.

Bersahabat Karena Facebook? Bisa!

Aku dan PT copy

Teman baik biasanya kita dapatkan dari dunia nyata. Teman baik, teman yang biasa berinteraksi dengan kita, yang tahu jeleknya kita, yang tahu kapan tingkat emosi kita stabil atau labil, biasanya datangnya dari dunia nyata, bukan dunia maya.

Yang dekat bisa jauh dan yang jauh bisa dekat, itu slogan yang umum kita dengar. Imbas buruk dari sosial media. Iya, buruk. Jika kita hanya bisa mengambil sisi buruknya saja. Misalnya di kereta commuter. Baru saja terjadi. Seorang anak muda duduk santai di kursi untuk para manula tanpa rasa bersalah. Padahal di depannya berdiri seorang kakek dan saya (bolehlah kadang-kadang merasa tua). Ketika ada suara pemberitahuan dari loudspeaker tentang fungsi kursi itu, ia hanya terdiam lalu kembali main HP.

Yang jauh bisa dekat dan mendekatkan. Itu fungsinya untuk saya. Tentu saja harus saya tambahi dengan pernyataan bahwa yang jauh bisa dekat setelah yang dekat memang benar-benar menjadi dekat.

Jujur, saya tidak mau kalau punya ribuan teman di dunia maya, tapi tetangga kiri kanan tidak saya kenal. Atau cuma lempar senyum. Itu namanya hidup saya hampa. Padahal tetangga kiri kanan itu yang harus dihargai. Ia adalah sebenarnya saudara. Ketika kita kesusahan mereka yang menolong kita lebih dahulu.

Jujur, ketika orang mengenal saya sebagai penulis, saya tidak mau tetangga saya tidak kenal profesi saya. Justru saya harus berjuang untuk memperkenalkan pada mereka, lewat buku-buku bacaan yang saya pinjamkan pada mereka, sehingga mereka lebih paham profesi itu.

Terus gimana ceritanya bisa bersahabat karena sosial media?
Di FB saya membuat group penulisan. Anggotanya terbatas. Nah dari ajang itu dengan anggota terbatas, kita terus berkarya dan berdiskusi. Akhirnya jadi ajang curhat-curhatan. Akhirnya kita terikat sebagai keluarga. Dan ikatan itu membuat kita jadi ingin melakukan tatap muka alias kopi darat.
Satu terluka, yang lain juga ikutan terluka. Karena itu saya sering takjub sendiri dengan kuatnya ikatan yang terjalin.

Sama seperti di dunia nyata. Kalau saya sih fokus untuk mengedepankan memberi. Karena saya yakin setiap orang pasti senang diberi.
Maka untuk berilah apa yang kita punya. Pengalaman kita, ilmu kita dan lain sebagainya. Juga waktu kita tentu saja. Asaaal, untuk waktu, kita tetap harus bisa disiplin agar tidak ada yang terbuang sia-sia.

Lalu kalau bertemunya dengan orang jahat di sosial media?
Percayalah.
Jika niat kita baik, maka Allah akan membuat lingkaran baik untuk kita. Dan kita hanya terhubung dengan orang-orang baik saja.

Mau mencoba?

Guru, Waktu dan Jarak yang Terlipat

DSC_5299

Pada suatu malam di Senin malam, saya menyaksikan acara Indonesia Emas dengan narasumber pendiri ESQ Ary Ginanjar. Sedang membahas pentingnya membaca buku. Pentingnya kebiasaan membaca agar para generasi muda bertambah pemikirannya. Sebab proses membaca adalah proses ringkas untuk melipat waktu dan jarak.
Kok bisa?
Iya. Bisa karena sebuah buku berisi penelitian, pengalaman dan wawasan penulisnya. Jadi pembaca tidak perlu susah-susah melakukan riset untuk bisa mengetahui sesuatu. Misal, pembaca yang belum pernah keliling dunia dan ingin tahu sudut pandang dunia yang berbeda, tinggal baca buku trilogi novelnya Agustinus Wibowo. Atau mau kisah G30S PKI di pulau Buru yang dibalut dengan kisah perwayangan? Baca saja Amba karya Laskmi Pamuntjak.

Guru.
Itu cita-cita saya sejak dulu. Sejak kecil. Tapi saya tidak lulus masuk FKIP malah lulus tes BMKG jurusan geofisika, pindah ke UT Bahasa inggris lalu FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Solo.
Tapi guru tetap jadi impian saya. Karena itu disetiap kegiatan kuliah, saya mengajukan diri jadi guru. Termasuk ketika KKN, saya mengajar anak-anak kampung plus mengajar TPA.

Setiap Orang adalah Guru

DSC06000

“Jangan jadi katak dalam tempurung.”
Pesan Bapak itu saya ingat betul. Iya, mungkin dulu Bapak benar. Pada saat itu, saya adalah seekor katak dalam tempurung. Selalu merasa benar sendiri.
Maklum ketika pertama kali mengirim tulisan di media anak, langsung tulisan dimuat. Ketika mengirim ke koran, langsung dimuat. Nilai Bahasa Indonesia di sekolah juga selalu the best nomor satu. Jadi? Jadi tidak salah ketika Bapak mengingatkan saya untuk jangan jadi katak dalam tempurung. Saya harus mau meluaskan wawasan saya.

Okelah, orang sombong, besar kepala pada saatnya akan jatuh juga. Jatuh untuk dapat pengalaman.
Dari puisi saya mau pindah jalur. Saya geregetan pingin bisa nulis cerpen. Kalau artikel saya sudah bisa. Hasilnya adalah naskah yang saya anggap keren ditolak sana-sini.
Bayangkan, setiap bulan saya kirim minimal 5 naskah. Naskah cerpen. Lima naskah ke majalah Anita Cemerlang, lima naskah ke majalah Aneka Yess, lima naskah ke majalah Kawanku, lima naskah ke majalah Hai, lima naskah ke majalah Gadis, lima naskah ke majalah Ceria Remaja. Semuanya saya ketik sendiri di kertas HVS yang kadang-kadang saya beli sendiri, kadang-kadang dibelikan Bapak karena kasihan dengan saya.
Semuanya saya kirim via pos kilat khusus agar sampai dengan cepat ke redaksi. Satu dua ada yang dimuat, tapi itu puisi. Dapat honor buat traktir adik-adik, tapi saya maunya yang dimuat cerpen buat puisi. Saya butuh tantangan baru.

Hingga akhirnya saya membaca di majalah Anita Cemerlang kesempatan untuk kursus menulis via pos, dan ada biayanya alias berbayar. Pemandunya sastrawan Adek Alwi. yang waktu itu jadi redaksi fiksi majalah Anita. Apa yang diajarkan? Hal-hal yang awalnya saya yakin betul saya sudah bisa, tapi nyatanya saya salah.
Diajarkan beberapa ketukan spasi ketika masuk ke paragraf baru dan lain sebagainya. Saya sudah koleksi buku panduan menulis juga. Jadi teori tidaklah berat untuk saya. Justru saya suka karena kelas menulis lewat pos itu, mengajarkan praktik.
Jadi saya kirim tulisan ke beliau kirim via pos kilat khusus. Dikembalikan lagi via pos dengan catatan.
Ada catatan yang saya dapat, yaitu poin tertentu. Bahwa karya saya lebih cocok untuk koran ketimbang majalah remaja.
Umur saya baru 18-19 tahun pada masa itu. Saya anak remaja, yang memang tidak kenal pacaran. Buku-buku yang saya baca buku koleksi Bapak dan koran langganan Bapak ternyata yang membuat saya punya gaya tulisan seperti itu.
Selesai kursus, ada satu naskah yang dimuat di koran. Tapi itu bukan naskah pertama. Karena sebelumnya sebelum kursus saya pernah menulis naskah cerpen dan dimuat di koran. Boleh deh ge er kalau saya bilang, naskah itu bukan hasil kursus tapi karena saya menulisnya sudah bagus. Yah begitulah namanya manusia yang sedang dihinggapi kesombongan.

Sesudah kursus menulis selesai saya semakin menggila menulis. Saya mau buktikan pada diri saya sendiri, bahwa saya seorang remaja normal dan bisa menulis kisah remaja juga. Tapi kisahnya bukan cinta-cintaan. Kalaupun ada yang jatuh cinta, saya mau dikemas dalam kemasan psikolog. Maklum saya penikmat kolom psikologi di koran sejak dulu.
Hasilnya. Yeeeah, dua cerpen saya dimuat pada saat yang sama di dua majalah yang berbeda. Di majalah Anita Cemerlang dan di majalah Aneka. Lebih girangnya lagi, waktu saya ambil honor ke redaksi, mereka tanya. Saya ingat bu Astuti Wulandari dan bu Yeni W, kakak beradik bertanya. “Ini yang suka kirim naskah ke majalah Aneka, ya?”
Ditanya begitu saja saya sudah girang.
Horeee, pintu dari keyakinan itu sudah terbuka. Setelah itu berturut-turun naskah saya dimuat dan menang lomba. Habis menang lomba cerpen Anita, saya menang lomba cerber majalah Gadis.
Iya, itu tulisan saya buat sendiri tidak ada yang memeriksa. Tapiiii, tanpa bekal rujukan ilmu dari buku, kelas yang saya ikuti, saya pikir langkah saya hanya akan terhenti di satu titik. Titik sombong dan terlalu percaya diri hingga mengecilkan orang lain.

Ada Banyak Pintu Ada Banyak Guru

Cimori ri

Setelah tidak mau jadi katak, saya jadi paham teori pintu. Satu pintu yang terbuka akan diikuti pintu lain lagi yang terbuka. Tentunya itu pasti dilandasi karena kita sudah paham bagaimana membuka pintu, hingga mudah untuk membuka pintu yang lainnya lagi.
Ada kesempatan lain yang terbuka. Belajar menulis skenario. Pas kebetulan saya memasukkan adik untuk ikut teater, pas disitulah Aditya Gumay membuka kelas menulis skenario. Kelas skenarionya banyak yang baru belajar menulis. Saya sudah punya tulisan di media, jadi saya tunjukkan padanya. Dan hasilnya saya diminta menjadikan cerpen saya di majalah Anita untuk dijadikan skenario. Skenario saya pelajari dari banyak buku juga pelajaran dari beliau. Beliau juga membantu merevisi. Beliau juga mendampingi mengajukan naskah ke kepala bidang naskah di TVRI. Beliau ajarkan tips dan trik termasuk menggunakan map yang berlabel nama kita. Skenario saya di acc. Saya belajar setiap minggu lho. Naik bus tiga kali dari Kemayoran menuju Senayan. Kadang seminggu dua kali juga jadwalnya.
Kalau sudah begini, bukankah guru membuat jarak tempuh kita menjadi lebih pendek?

Setelah itu banyak guru-guru lainnya lagi. Ada Erry Sofid juga Nunik Kurnia. Mereka dulu sama-sama menulis untuk media. Erry malah pernah satu kantor jadi jurnalis di sebuah majalah remaja. Kami biasa kumpul-kumpul untuk membahas naskah atau sekedar traktir makanan setelah tulisan di acc. Hanya keduanya mengerucut memilih skenario, sedang saya memilih tetap menulis untuk media cetak dan buku. Banyak alasan. Salah satunya adalah saya selalu meriang kalau begadang. Iya, dunia skenario banyak mengharuskan kita untuk begadang karena order bisa saja datang malam dan harus selesai pagi untuk sinetron striping.
Di skenario saya juga pernah belajar pada Dyah Kalsitorini yang sekarang baru meluncurkan film tentang anak penghapal Al Quran. Saya menyerah. Jam tidur saya tidak bisa diganggu. Setelah Isya saya tidur, itu artinya saya tidak cocok untuk dunia skenario.
Mereka itu guru untuk saya.
Sama seperti para redaksi majalah, yang membuat saya berproses panjang dalam menulis.

Networking itu Penting

karya ibu dan bilqis

Akhirnya.
Akhirnya demi mimpi saya pindah ke Solo. Beruntungnya saya pindah ke Solo setelah tulisan muncul di mana-mana. Maklum prinsip lima tulisan ke setiap majalah setiap bulannya saya terapkan. Bapak pensiun. Saya mau merasakan kuliah reguler agar bisa menulis lebih bernyawa lagi. Saya baru menang lomba cerber dan masuk nominasi cerber majalah Gadis. Uangnya bisa saya jadikan uang pangkal untuk biaya kuliah.

Beberapa media memuat profil saya karena produktivitas saya menghasilkan karya. Ketika saya pindah ke Solo kesempatan itu datang. Pihak majalah Anita Cemerlang mengadakan road show bekerja sama dengan salah satu radio terkenal di Solo. Saya dan Donatus A Nugroho yang dipilih mewakili Solo dan menjadi juri lomba menulis puisi.
Maklum acaranya majalah remaja. Ada artis dari ibukota yang ngetop pada masanya. Acaranya tiga hari. Kita dalam satu rombongan di wawancara dan dikerubuti fans layaknya artis. Ada jumpa fans di radio juga. Di situ saya sempat berkenalan dengan almarhum Adra P Daniel.

Di Solo, saya mudah berinteraksi dengan Om Donat, begitu saya selalu bilang. Saya kenal baik istri dan dua anaknya. Kakak iparnya dosen kuliah saya dan kerabatnya teman sekampus saya. Jadi hasrat berguru saya, tersalurkan. Iya berguru sebenar-benarnya berguru. Saya sepulang kuliah nongkrong di rumahnya. Ganggu jadwal nulisnya. Zaman saya SMP sampai SMA tulisan Om Donat yang tersebar di mana-mana bikin saya ngiler. Saya punya mimpi suatu saat tulisan saya bersanding dengan tulisan Om Donat dalam satu edisi. Alhamdulillah tulisan saya dan Om Donat berkali-kali (lebih sepuluh kali) bersanding di beberapa media. Dan dijadikan iklan pemancing untuk media yang terbit berikutnya.
Saya belajar soal menulis cepat, tips dan trik bahkan sampai harus belajar untuk menerima perubahan. Perubahan itu bernama komputer yang menggantikan mesin tik.

Pindah dari Solo ke Jakarta kembali dan kembali menulis, membuat saya belajar untuk tidak sembunyi di balik karya. Ali Muakhir orang yang berjasa memunculkan saya ke permukaan. Saya diundang acara launching buku, lalu dikenalkan pada editor dan penulis. Hasilnya saya dapat order nulis dua buku. Satu buku best seller dan dialihbahasakan ke Malaysia juga dijadikan sinetron di bulan Ramadhan.

Sebelum membuat buku, saya galau. Galau kepingin punya buku. Tapi galau itu saya bawa menulis terus, hingga saya terus berkarya dan memenangkan beberapa lomba menulis. Saking galaunya soal job menulis karena pingin datangnya terus-menerus, saya pernah menelepon Benny Rhamdani., hi hi mungkin orangnya juga sudah lupa dengan peristiwa ini. Dapat nomor dari Ali juga. Disarankan saya untuk ikut milis FLP untuk info lomba-lomba menulis.
Ali Muakhir ini juga yang memberikan nomor kontak Asma Nadia pada saya. Nah, si Asma ini, saya biasa panggil Rani, adalah teman dekat adik saya sejak SD. Kebetulan adik saya kehilangan jejaknya. Makanya saya tanya ke Ali. Lalu Ali memberikan nomor kontaknya dan adik saya yang menghubungi. Dari adik saya, saya jadi tahu, kalau penerbit Lingkar Pena membutuhkan banyak naskah. Alhamdulillah dari sana, lahir banyak karya Solo saya.

Sekarang, zaman sudah berubah.
Profesi menulis tidak selangka seperti dulu. Kehadiran komunitas membantu banyak orang untuk melipat jarak dan waktu dalam menulis.
Iya, proses yang berdarah-darah seperti saya dulu, bisa dilipat waktunya hingga tidak selama seperti yang saya jalani. Proses untuk mengenali penerbit juga tidak usah selama yang saya jalani.
Karena itulah saya membuat komunitas dan menjadikan menulis itu menjadi sesuatu yang mudah.

Tapi komunitas itu bukannya membuat karya jadi tidak asli lagi?
Mungkin suara sumbang yang bicara itu tidak pernah merasakan kecemplung dalam suatu komunitas penulis yang sesungguhnya. Yang benar-benar mengajarkan menulis hingga ke luar karakter asli penulis itu sendiri.

Oh iya belum lama saya jadikan anak bungsu saya guru untuk saya, ketika menerima lamaran editor Sinta Handini untuk menulis beberapa buku anak. Saya belajar dari buku-buku koleksi Bungsu. Saya juga belajar dari gaya menulis Bungsu, hingga saya bisa menulis lepas seperti anak abege menulis. Tentunya itu setelah saya tanggalkan egoisme dan merasa paling bisa.

Siapa guru menulismu?
Siapa saja boleh. Yang terpenting kalaupun proses menulis kamu lalui sendiri, jangan sampai besar kepala. Buku yang kamu pegang, itu juga guru untukmu.

Ah, pokoknya saya bersyukur punya banyak guru. Bersyukur saya berproses sepanjang ini.

Menyeret Orang untuk Lebih Maju

Teman yang baik adalah teman yang mau mengajak temannya itu menjadi lebih baik. Terus meningkat kebaikannya dan akhirnya ia bisa jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Maju artinya meningkat. Naik tangga lebih tinggi lagi. Banyak orang yang bermimpi untuk itu, tapi hanya sekedar mimpi.
Orang yang sekedar mimpi ini sudah punya niat baik. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai teman?
Mendorongnya?
Mendorong kalau dia tidak maju-maju, juga susah untuk kita. Sebab jika ia jatuh, kita yang akan kena bebannya.
Kalau didampingi?
Kalau pendampingan, maka kamu dan aku sejajar. Dalam artian terus kita berada di sampingnya.
Kadang kala, kalau kita lemah, maka kita yang akan mudah terpengaruh langkahnya. Hasilnya, segala strategi yang kita buat akan berantakan.

Lalu harus apa?
Kalau saya memilih menyeret orang untuk maju. Menyeret artinya kita yang pegang kendali. Pegang kendali tentunya disesuaikan dengan keadaan teman yang sudah kita pahami kondisinya.

Jika ada yang ingin melangkah maju, cobalah interaksi dengan orang itu selama beberapa waktu. Dari sana kita bisa melihat, apakah orang itu bisa benar-benar kita bantu untuk menjadi maju?
Atau sebenarnya ingin majunya itu hanya usapan bibir belaka, karena dia tidak enak dengan kita?

Ada banyak hal yang membuat mereka akhirnya mau mengikuti kita alias mau kita seret kok.
1. Mereka yakin bahwa kita orang yang mampu.
2. Yakin itu karena mereka melihat bukti nyata bukan cuma omdo alias omong doang.
3. Mereka akan melihat sendi kehidupan kita seluruhnya. Seperti apa keluarga, anak, pasangannya. Kalau menurut mereka oke semua, mereka akan sukarela minta diseret.
4. Kadang-kadang mereka akan menuntut kita menguasai semua hal. Maka itu artinya bukan tuntutan. Tapi kita diminta belajar banyak. Maka pelajarilah sebatas kemampuan kita.

Jika mereka yakin kita akan mampu membantunya, maka tinggal kita siapkan mental, untuk menunjukkan target yang harus mereka pilih. Lalu minta mereka fokus pada target.
Jika mereka sudah paham targetnya, maka kita akan lebih enak untuk menyeretnya.

Berhasil atau tidak tolak ukurnya bukan hasil akhir.
Tapi perjuangan teman kita untuk melangkah lebih maju lagi, yang harus kita beri penghargaan.

Memimpin itu Luar Biasa Berat

Buku Jhon

Apa yang dipahami orang tentang seorang pemimpin?
Seorang pemimpin harus sempurna. Tidak boleh melakukan kesalahan. Membiarkan semuanya berjalan lurus saja. Dia yang memimpin, yang lain menjadi bawahan. Dan yang lain itu boleh protes dengan alih untuk perbaikan.

Pemimpin yang baik tidak sekedar memimpin, itu yang ditulis John C Maxwell dalam bukunya How Successful People Lead.
Ada banyak tipe kepemimpinan. Ada beberapa level kepemimpinan. Dan setiap level memberikan warna tersendiri, juga hubungan dengan orang-orang yang dipimpin.
1. Pemimpin level pertama. Pada level ini orang mengikuti karena keharusan. Ketika kita menjabat, bawahan harus mengikuti.

2. Pemimpin Level kedua.Orang lain mengikuti karena ingin. Ingin maju, ingin berkembang. Dan agenda pemimpin di level ini adalah mengenal orang-orang agak lebih tahu cara bekerjasama dengan mereka.

3. Pemimpin Level tiga. Orang lain mengikuti karena sumbangsih kita bagi produktivitas mereka. Begitu mereka melihat hasilnya, maka akan memberikan kepercayaan. Dan tahap ini adalah tahap yang menyenangkan dalam memimpin.

4. Pemimpin Level empat. Adalah pemimpin yang mau meninggalkan kenyamanan demi untuk mengembangkan orang lain. Pemimpin level ini merubah hidup orang yang mereka pimpin untuk menjadi pemimpin juga.

5. Pemimpin Level lima. Orang mengikuti karena jati diri dan nilai-nilai Anda. Pemimpin Level lima ini akan berjuang menjadikan orang lain bukan sekedar pemimpin. Tapi memimpin hinggal level empat.

Apa yang saya pelajari dari ini bukan sekedar teori.
Pemimpin ada banyak ragamnya. Memimpin organisasi atau komunitas sama saja. Semuanya harus berlandaskan pada pengorbanan di awal kali.
Pemimpin harus pakai perasaan tentu saja. Tapi jangan sampai terbawa perasaan. Karena apa? Karena dengan banyak membawa perasaan, sulit untuk maju melangkah. Perasaan akan menempatkan kita selalu merasa bersalah, akan keputusan yang kita buat. Padahal tujuan dari keputusan itu untuk perbaikan yang lebih banyak lagi..

Setelah membaca buku ini berulangkali, saya lebih jeli dalam memahami pemimpin dan kepemimpinan orang lain. Bisa tahu bagaimana menyisihkan perasaan, tanpa harus berhenti total karena perasaan juga.

Sesungguhnya setiap dari kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Saat yang Tempat untuk Meninggalkan Sosial Media

Berapa banyak punya akun sosial media?
Saya punya beberapa. Dulu senang pindah dari satu akun ke akun lain. Dulu rasanya tidak enak kalau tidak menyapa teman-teman, atau kita tidak membuat status.
Lalu zaman terus berubah.
Sosial media bertumbuh demikian cepat. Tumbuh demikian cepat mungkin sebagai bentuk memahami anak-anak muda yang bergejolak dan mudah bosan berada di satu tempat alias satu akun sosial media.

Saya?
Ketika zaman berubah cepat, saya semakin menua, bertambah usia. Manusia yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, adalah manusia yang melakukan kesia-siaan. Tentu saja saya juga wajib berpikir seperti itu. Sejak Bapak meninggal, fokus saya semakin berubah. Mengerucut ke arah yang lebih pasti, yaitu akhirat.

Ada saatnya sesuatu harus kita tinggalkan ketika sudah tidak bermanfaat. Atau manfaatnya lebih kecil dari tidak bermanfaatnya.
Saat yang tepat untuk itu adalah :

1. Ketika waktu kita sudah habis hanya untuk membaca status.
2. Ketika tangan kita gatal untuk membagikan berita, yang kita sendiri belum mengecek kebenarannya.
3. Ketika status seseorang membuat kita jadi baper alias bawa perasaan. Padahal kita tidak kenal dengan orang tersebut dan orang tersebut tidak mengenal kita.
4. Ketika kita sudah merasa nyaman di dunia maya, dan tidak butuh dunia nyata.
5. Ketika kita sudah merasa bahwa tanpa dunia maya, rezeki tidak akan didapat. Karena itu artinya kita sudah menduakan Allah untuk urusan dunia, dan tidak percaya kalau jatah rezeki kita sudah diatur olehNYA.
6. Ketika kita merasa tidak hebat kalau tidak membuat status tentang gosip ter update dari status seseorang.
Kalau untuk orang biasa sah-sah saja. Tapi kalau untuk penulis, hal yang seperti itu tentunya menjadi aneh. Karena seorang penulis harusnya bisa mencerna segala sesuatu dengan baik.

Semuanya memang tergantung pada kita.
Tapi kelak di hari akhir salah satu pertanyaan untuk kita adalah,”waktumu kamu habiskan untuk apa?”

Bersandar atau Memberi Beban?

IMG-20160617-WA0020

Setiap individu memiliki masalah. Dan setiap kali masalah itu datang, maka banyak dari kita yang berusaha mencari tempat untuk bersandar. Tempat bersandar yang kita cari tentu saja yang akan membuat kita nyaman bersandar.
Untuk mencari tempat bersandar itu biasanya kita mulai memilih dan memilah. Kita akan memilih individu dengan tipe yang menurut kita sabar dan lembut. Itu artinya ia tidak mungkin marah dengan kita. Lalu kita juga akan memilih orang yang tidak enak hati, sebab itu artinya ketika cerita kita mulai membosankan, ia tidak mungkin pergi meninggalkan kita begitu saja.
Bersandar, mencari tempat keluh kesah memang akan mengurangi beban hidup kita. Teman yang kita pilih bisa jadi orang terpilih dan benar-benar baik dan mau menerima keluh kesah kita. Tapi bukan berarti kita harus melupakan etika yang sebenarnya bagaimana berinteraksi dengan orang lain.
Beberapa hal ini yang harus diingat :

1. Yang Bermasalah Banyak
Individu di sekitar kita banyak dan rata-rata menyimpan masalah pribadi. Ada yang bisa menyelesaikan masalah itu sendiri, ada yang butuh bantuan. Menyadari hal seperti harus membuat ktia paham, bahwa bukan hanya kita yang memiliki masalah. Itu artinya kita harus tahu diri untuk tidak membebani orang lain dengan masalah kita. Apalagi sampai membuat orang itu tidak bisa tenang hidupnya.

2. Jangan Egois
Seorang yang merasa hidupnya bermasalah biasanya justru menjadi sangat egois. Ia merasa bahwa hanya dirinya sajalah yang memiliki masalah dan butuh sandaran. Dan rasa seperti ini yang akhirnya membuat ia jadi lupa diri. Ia melupakan bahwa orang yang ada di hadapannya dan mau menerima keluh kesahnya tanpa bayaran, memiliki kehidupan lain, teman-teman yang lain, juga dunia lain.

3. Individu itu Hadiah
Individu yang menjadi kenalan atau teman kita mungkin saja banyak. Tapi tidak semua orang mau menjadi tempat untuk kita sadarkan. Meskipun banyak yang bisa melakukan hal itu.
Kita cukup menyadari bahwa individu yang mau dijadikan sandaran untuk mendengarkan curhatan kita, adalah sebuah hadiah untuk kita. Ia individu yang tidak biasa. Karena itu bukan ia yang harus menjaga perasaan kita, tapi kitalah yang harusnya menjaga perasannya.

4. Beri Target
Karena individu itu adalah individu istimewa, maka harusnya kita menghargainya dengan cepat-cepat berubah. Bukan justru merasa nyaman dengan bersandar di bahunya. Bukan sekedar mendengar nasehatnya tapi tidak menjalani.
Kita harus punya target kapan harus berubah. Dengan begitu individu itu tidak terbebani dengan masalah kita.
Atau kita boleh memberi tantangan pada individu itu, untuk memarahi kita jika kita terus-menerus mengganggunya.

5. Jangan Mencari Kepuasan
Konyol rasanya ketika kita ingin mencari kepuasan dengan menyandarkan masalah kita pada seseorang, kita berharap hidup kita bisa berubah setelah itu. Bahkan kita berharap tidak punya masalah lagi.
Padahal tempat untuk bersandar itu bukan penyelesai masalah. Kita sendiri yang wajib berubah, bukan orang lain.

6. Cari Orang yang Ahli
Jika beban itu terlalu berat harusnya kita mulai mencari orang yang ahli. Dengan begitu kita tidak membebani hidup orang lain.
Ini penting sebelum masalah justru membuat kita menjadi depresi.

Jangan Mau Jadi Tong Sampah

IMG-20160617-WA0059

Kita mungkin pernah menemui teman yang selalu mengeluh. Teman yang setiap bertemu atau interaksi dengan kita, mengeluarkan segala keluhannya. Keluhan bukan berbagi cerita tentang masalahnya tentu saja.
Karena berbagi masalah (curhat) biasanya hanya terjadi beberapa kali. Dan ketika ia mendapat solusi, ia mau dan berusaha keras menjalankan solusi itu.
Mengeluh itu mirip dengan sampah yang dikeluarkan. Dan kita, yang dianggap selalu mau mendengarkan keluhannya ternyata dianggap seperti tong sampah untuk menampung segala sampah keluhannya.
Keluhan berupa energi negatif itu jelas harus dibantu. Tapi jika energi negatif itu datang terus menerus dan kita menjadi muak karenanya, mungkin itu karena energi negatif berupa sampah keluhan itu, sudah begitu menganggu kita.

Lalu apa yang harus Anda lakukan?

1. Ia Individu Bermasalah
Seorang yang terus mengeluh memang ada masalah dengan dirinya. Masalah yang paling jelas adalah ia tidak mau bangkit dari segala masalah itu.
Ketika kita merasa bukan orang yang ahli, dan justru muak dengan keluhannya, maka yang harus kita lakukan adalah meminta dia untuk mencari bantuan dengan orang yang lebih ahli.

2. Intropeksi Diri
Sebelum melakukan tindakan yang lain, yang harus kita lakukan tentu saja intropeksi diri. Kenapa seorang itu selalu mengeluh kepada kita? Apakah karena Anda dianggap orang yang cukup sabar untuk dibagi semua masalahnya?
Atau kita dianggap cukup ahli dan cocok untuknya?
Kalau itu yang terjadi maka kita harus mengatakan terus terang padanya, tentang apa yang kita rasakan. Sehingga ia sadar bahwa kita adalah manusia biasa dan bukan orang yang ahli untuk itu.

3. Bukan Bermanfaat tapi Dimanfaatkan
Menjadi manusia yang bermanfaat tentu saja impian banyak orang. Tapi jika seorang terus-mengeluh dengan kita hingga berbulan-bulan sampai bilangan tahun, itu artinya kita bukan bermanfaat untuknya tapi dimanfaatkan olehnya.

4. Cek Nilai Positif atau Negatifnya
Terbiasa mendengar keluahan terkadang membuat energi positif yang Anda miliki jadi terpengaruh dengan energi negatif dari orang yang terus mengeluh pada Anda. Untuk melihatnya Anda bisa memulai dengan membuat daftar kebiasaan Anda. Apakah kebiasaan Anda ada yang berubah karena terpengaruh energi negatif dari yang mengeluh? Semisal, Anda jadi lebih sering merenung untuk memikirkan solusi dari setiap keluhan yang disampaikan. Padahal Anda tahu solusi itu tidak akan pernah dipakai oleh si pengeluh.
Jika Anda merasa sudah terlalu banyak hal positif dari Anda hilang karena pengaruh keluhan itu, maka itu suatu tanda bahwa Anda harus berhenti menjadi tong sampah.

5. Beri Peringatan
Seorang yang terus mengeluh, apalagi orang itu adalah individu dewasa yang sudah matang usia dan pengalaman, maka pasti memiliki pemahaman yang juga dewasa. Kecuali ia terserang gangguan kejiwaan.
Jika ia terus menerus menghubungi, maka kita bisa dengan mudah untuk tidak menjawab telepon atau pesannya.
Atau bila ia mendatangi, tidak perlu diterima kedatangannya.

6. Tegas
Banyak pesan yang tidak sampai kepada penerimanya, karena pesan itu tidak dibarengi dengan sikap pemberi pesannya. Beri pesan yang tegas pada teman kita dan kukuhkan dengan sikap tegas. Misal, kita menghindar darinya atau menutup semua akses dirinya.

7. Terbebas Darinya
Sekarang rasakan bagaimana ketika diri kita terbebas dari teman yang suka mengeluh? Apakah hidup jauh lebih bahagia atau justru lebih sedih?
Jika lebih bahagia berarti benar keluhan teman adalah sampah untuk kita. Sedang jika justru menjadi sedih, jangan-jangan kita merasa memang cukup layak selama ini menjadi sebuah tong sampah.

Melesat Setelah Direndahkan

DSCF1996

Direndahkan, disepelekan, dianggap tidak memiliki kemampuan kerap membuat kita merasa bahwa kita memang rendah. Bahwa kita memang tidak ada artinya.
Kita tidak melihat peluang lain ketika kita direndahkan. Kita merasa bahwa situasi seperti itu tidak bisa dirubah lagi.
Padahal yang terjadi sesungguhnya, situasi seperti itu hadir karena konsep diri kita sendiri yang memang rendah, tidak yakin akan diri sendiri yang akhirnya muncul ke permukaan dan terlihat oleh orang lain.
Konsep diri kita sendiri adalah pandangan dan persepsi kita tentang diri kita sendiri (Those physical, social and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with other – William D Brooks-1974)

Beberapa hal ini bisa menjadi alternatif yang bisa kita pahami kita direndahkan orang lain :

Direndahkan Karena Kita Memang Rendah

Coba pandangi diri kita di cermin. Lihat seperti apa diri kita sebenarnya. Secara jujur kita membuat penilaian akan diri kita sendiri.
Benarkan bahwa ketika kita direndahkan kita memang rendah?
Benarkan ketika kita dikecilkan kita memang kecil dan tidak bisa melakukan hal-hal yang sifatnya besar?
Ketika kita melihat diri kita secara jujur dan mengakui bahwa ada hal yang salah pada diri kita tentunya kita juga akan tahu kenapa orang lain melakukan hal itu.
Misal, kita selalu melakukan pekerjaan yang salah dan kita tahu itu salah karena sejak awal kita memang tidak percaya diri untuk melakukan pekerjaan itu.
Ketika kita jujur dan mengakui paling tidak pada diri sendiri bahwa kita salah, bahwa kita memang tidak melakukan hal yang optimal, maka kita akan jujur mengakui bahwa orang lain yang memberi kepercayaan atas pekerjaan itu memaki pada kita, memang tidak salah.
Itu artinya orang lain merendahkan diri kita karena kualitas diri kita memang rendah.

Direndahkan Karena Kita Akan Menjadi Tinggi

Interopeksi terhadap kekurangan diri sendiri akan membuat kita sadar, bahwa ada yang salah dengan persepsi orang lain atau ada yang salah dengan diri kita.
Bisa jadi orang lain menganggap diri kita rendah, karena memang konsep diri kita negatif, dan memang kita tidak pernah berperilaku yang positif.
Tapi bisa jadi orang lain merendahkan kita karena kita adalah ancaman untuk mereka, karena takut kita menjadi setinggi bahkan lebih tinggi dari mereka.
Banyak peristiwa di beberapa tempat terjadi ketika seorang yang memiliki potensi besar justru terus dikecilkan, dengan tujuan mereka tidak berani menatap ke depan dan pada akhirnya mereka yakin dengan persepsi itu, lalu tenggelam tidak berani bermimpi lagi.

Pahami Orang Lain Kita Akan Paham Diri Kita

Seringnya orang memandangi diri orang lain dari penampilan luar dan dari apa yang dikatakan orang lain tentang diri kita kepada mereka.
Mengambil celah dari prinsip seperti ini sesungguhnya kita mulai melaju.
Pahami orang lain di sekeliling kita dan lingkungan kita. Ubah persepsi mereka yang tidak baik tentang kita, dengan mulai merubah perilaku kita kepada mereka.
Kalau selama ini kita dikenal sebagai orang angkuh, coba pikirkan dalam-dalam, apakah kita memang ingin dikenal sebagai orang angkuh, atau sebaliknya kita justru ingin dianggap sebagai orang yang ramah?
Kalau ingin dianggap sebagai orang yang ramah, maka coba sentuhlah hati satu dua orang dengan mulai menyapanya. Sehingga kita yang tadinya tidak biasa untuk bersikap ramah, juga belajar untuk menjalani hal itu.

Direndahkan Bukan Harga Mati

Untuk orang-orang dengan konsep diri positif dan memandang segala apapun dengan kaca mata positif, maka dicaci, direndahkan orang lain akan dianggap sebagai salah satu celah untuk melangkah ke arah yang positif.
Direndahkan bukan harga mati.
Direndahkan itu artinya sebuah langkah awal untuk kita mulai intropeksi apa yang salah dengan sikap kita selama ini.
Jika selama ini kita direndahkan karena wawasan kita yang hanya seputaran batok kelapa, maka coba lah untuk menambah wawasan itu sehingga segala kalimat yang ke luar dari mulut kita, adalah kalimat yang diakui kualitasnya.
Bukan orang lain yang bisa merubah nasib kita, tapi kita yang harus merubah nasib kita sendiri.

Jangan Merendahkan Orang Lain

Jika kita sudah mampu ke luar dari zona bernama caci maki dari orang lain terhadap kita, maka buatlah orang lain merasa yakin bahwa selama ini persepsi mereka terhadap kita salah. Dan usahakan agara kita tidak mengulang pengalaman itu pada orang lain.
Jadilah pribadi yang bermartabat. Jadilah individu yang berani mengangkat harga diri orang lain. Berikan pujian yang tidak berlebihan dan dorongan kuat, agar mereka bangkit dari keterpurukan. Dan jika sudah seperti ini, itu artinya kita sudah menjadi individu yang berproses.
Dan individu yang berani mengambil hikmah dari setiap proses hidupnya adalah individu yang bijaksana.

Singkirkan Segala Keluh

DSCF1641

Salah satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh.
Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil yang hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pasti lah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat.

Phil McGraw seorang psikolog yang juga menulis mengatakan bahwa Anda mengajar orang lain bagaimana memperlakukan diri Anda. Apa yang Anda ajarkan datang dari bagaimana Anda memandang hidup. Bagaimana Anda memandang hidup datang dari siapa Anda.

Keluhan memang tidak datang dengan sendirinya. Sebagian besar karakter pengeluh bisa datang dari faktor genetika. Tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga yang mengeluh akan membuat kita menjadi pengeluh.
Sedang tumbuh kembang dalam lingkungan postif dan optimis akan membuat kita terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Cara pandang kita terhadap diri kita sendiri juga bisa menjadikan diri kita seorang pengeluh.
Teman, pengalaman hidup yang sudah kita lalui dan sikap dari pengalaman hidup itu yang bisa membuat kita mengambil satu pilihan.
Menjadi seorang yang positif dan penuh syukur atau menjadi seorang pengeluh.

Bila kita sekarang merasa berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah.

Luka Di Masa Lalu.

Keluhan yang membuat kita menjadi seorang yang kerap kali mengeluh tentu saja tidak hadir begitu saja. Keluhan hadir karena memang kita tumbuh dan besar di lingkungan pengeluh.
Keluhan juga berarti kita memiliki sebuah luka yang kita simpan hingga di masa depan sehingga kita ingin membagi luka itu pada yang lain dengan cara tak sadar. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu pada diri kita. Yaitu menyebarkan keluhan.
Ini adalah reaksi tidak sadar dari kita yang ingin melihat reaksi orang lain atas keluhan kita. Ketika orang lain itu menerimanya kita merasa menemukan keranjang sampah yang benar seperti dulu orang lain mengeluh pada kita. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.
Menyadari hal itu sebagai rangkaian masa lalu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan.
Kesadaran dari dalam diri sendiri menjadi satu hal yang paling penting untuk merubah perilaku sebagai pengeluh.

Mengeluh Tanda Tidak Bersyukur.

Stop ingatan kita tentang masa lalu. Anggap masa lalu adalah jejak yang tidak perlu ditengok lagi.
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini.
Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan.
Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.
Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung.
Perenungan yang paling efektif tentu ke luar dari zona nyaman kita selama ini lalu datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita.
Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerapkali menjadi bahan impian untuk orang lain.
Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang ke luar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.

Hukum Diri Kita Untuk Setiap Keluh

Memberikan hukuman pada diri kita sendiri untuk setiap keluhan yang kita keluarkan mungkin bisa menjadi sarana efektif untuk merubah kebiasaan buruk itu.
Atau kalau memang terlalu sulit untuk mengukur hal itu karena kita memang sudah terbiasa, kita bisa meminta bantuan orang terdekat. Orang terdekat yang paham diri kita seperti sahabat atau pasangan.
Minta mereka untuk memberikan hukuman pada kita setiap kali kita mengeluh. Bisa saja kita menyediakan diri untuk memberikan sejumlah uang setiap kali kita mengeluh pada orang terdekat kita itu.
Cara ini cukup efisien karena akan lebih terasa.

Tulis Dan Buang Ke Keranjang Sampah

Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas.
Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga.
Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga, mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya.
Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?

Ubah Dengan Yang Positif

Ini cara efektif untuk melawan keluh. Bila orang lain sudah tidak sanggup membantu kita, tentu kita yang harus menolong diri kita sendiri.
Ubah setiap bentuk keluhan menjadi sesuatu yang positif.
Semisal, ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.
Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita.

Pilihan ada di tangan kita.