Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?

Membaca Membantu Menekan Emosi

“Saya penulis dan saya cinta membaca, bahkan bisa terbilang gila membaca.”
“Saya penulis dan geregetan kalau ada orang yang tidak ada sumber ilmunya, main share berita ini dan itu. Karena ketahuan ilmunya minim dan tidak suka membaca.”
“Saya ibu dua anak, yang punya hari wajib untuk anak-anak membaca. Setiap Sabtu sebelum mereka main komputer, maka saya akan meminta mereka membaca buku terlebih dahulu.”
“Saya pernah menawarkan untuk menyumbangkan buku bacaan ke tempat ini dan itu, tapi ditolak, hingga memutuskan untuk memiliki taman bacaan sendiri di rumah.”

Apa yang saya dapat dari membaca?
“Ibu kok tahu semuanya?” tanya anak-anak, yang sering merasa ibunya adalah perpustakaan berjalan, sehingga mereka malas untuk mencari dan tinggal tanya. “Ibu, yang ini jawabannya apa?”
“Ibu ngomomngnya kayak pakar politik aja. Jangan sombong, Ibu.” Itu kata anak lelaki saya, yang sedang asyik kasih laporan tentang berita-berita politik.

“Membaca membuat pintar dan membuat kita tidak mudah dibohongi,” itu penekanan yang selalu saya katakan pada anak-anak.
“Membaca juga membuat kita bersabar.”
Iya, ada poin lain yang memang selalu saya dapat dari membaca.
Proses saya membaca buku dari halaman awal sampai halaman akhir, ternyata

Model Membaca

Ada banyak model membaca.
Saya model pembaca yang suka membaca di bagian awal dua sampai tiga halaman. Setelah itu saya mulai dari belakang beberapa halaman. Setelah itu di bagian tengah. Setelah melihat semua bagian itu berkesinambungan jalan ceritanya, maka saya mulai lagi dari bagian awal sampai selesai buku itu saya baca.

Ternyata kebiasaan membaca seperti itu cukup membantu saya untuk menerapkan sebuah target.
Ketika satu target saya canangkan dan lakukan, maka selangkah dua langkah ketika melakukannya, saya mulai membayangkan berada di titik akhir target saya. Aapakah nanti titik akhir itu sesuai dengan langkah yang saya lakukan.
Lalu saya coba membayangkan berada di tengah perjalanan. Apakah saya kuat dan bisa bertahan.
Ketika semuanya sudah pas dengan kata hati, pembenahan di sana-sini, saya mulai akan melangkah dengan pasti dari awal sampai akhir.

Dan model membaca seperti ini ternyata tidak seirama dengan model menulis saya. Sebab saya tipikal penulis yang tidak bisa membuat tulisan berdasarkan outline.
Semua tulisan yang saya buat, hanya saya pikirkan ide utamanya saja. Setelah itu menulis pembuka, maka saya biarkan jari-jemari saya yang bekerja dan ending seperti apa bisa didapat tanpa saya pikirkan sebelumnya.

Membaca Menekan Emosi

Orang yang suka membaca, belajar menekan emosi.
Sebuah buku yang mereka baca, jika ingin tahu intisarinya harus dibaca semua. Bukan hanya membaca satu dua halaman saja.
Itu artinya para pembaca belajar berproses. Belajar sabar dan belajar memahami bahwa apa yang mereka pikirkan, seringnya berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulisnya.
Dalam kehidupan nyata bahkan maya, tulisan status orang yang suka membaca akan berbeda jauh dengan yang tidak suka membaca.
Akan proses pengendapan untuk mengetahui lebih dalam tentang satu hal.
Akan ada penelusuran, apakah tulisan itu betul atau tidak.
Akan ada proses
Orang yang gemar membaca, tidak akan mudah terpancing emosinya. Karena membaca akan meluaskan wawasan mereka pada banyak pemahaman. Dan pembaca yang baik, pasti akan belajar bagaimana menyaring berbagai sumber ilmu itu, dan mengendapkan apa yang mereka sudah pilih.

Peningkatan Level yang Dibaca

Hidup ini berwarna. Bacaan memberi pengaruh untuk kita. Karena itulah saya membaca banyak tulisan, banyak buku tujuannya agar level saya meningkat.
Membaca buku anak-anak dan menulis cerita anak terlalu banyak, berakibat pada pikiran dan hati. Saya sering merasa terlalu polos terhadap banyak hal. Emosi saya terkikis habis, bahkan untuk hal yang memang seharusnya saya perjuangkan.

Membaca dan menulis banyak fiksi, ternyata membuat saya sering susah memisahkan mana yang nyata dan mana yang fiksi. Semua terasa indah. Sering kaget saya ketika bertemu orang yang kasar, yang membuat saya harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya hidup di dunia nyata.

Membaca dan menulis banyak nonfiksi, membantu saya berpikir logik. Padahal seringnya juga hal-hal yang sifatnya masuk akal, jadi lebih manis kalau diberi bumbu imajinasi.

Ada banyak buku ada banyak bacaan.
Bacalah yang kita suka lebih dahulu.
Lalu tingkatkan level membaca kita.
Jangan hanya satu buku yang sama jenisnya saja. Sebab banyak buku akan memberi banyak warna pada hidup kita. Sehingga kita paham ketika ada yang berbeda dengan kita.

Mengejar untuk Terkenal

beruang

Punya akun sosial media.
Punya.
Beberapa dibuat karena ingin tahu dan penasaran. Tapi bersyukur karena bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.
Saya bisa tahu kebutuhan penerbit akan sebuah buku. Saya juga tahu dengan cepat ketika ada kompetisi menulis di media cetak.
Beberapa akun media sosial, saya buat untuk memantau dua abege saya, yang juga punya akun media sosial. Sebagai Ibu saya harus kepo dengan apa yang mereka lakukan. Dan tentunya mereka juga lebih terjaga karena mereka merasa ada yang memantau mereka.

Followers alias pengikut?
Saya tidak pernah memusingkan hal itu.
Justru anak-anak yang suka menghitung, teman Ibu ada berapa? Tapi saya pernah bilang, bahwa semakin banyak teman, Ibu juga bingung. Karena semakin tua Ibu semakin mudah lupa. Semakin takut menyia-nyiakan waktu. Semakin banyak teman itu artinya, akan ada semakin banyak group, semakin banyak perbincangan basa-basi, dan semakin banyak waktu kita habis hanya untuk menyenangkan orang lain.

“Wiiiih, Ibu terkenal.” begitu kata anak-anak yang suka mengintip akun sosial media saya.
Saya hanya tersenyum saja.
Ibunya tetap ada di rumah. Memasak, menyetrika, mengajari pelajaran sekolah, suka cerewet untuk membangunkan shalat dan meminta mereka shalat tepat waktu.
Terkenal artinya ada orang yang lebih banyak kenal dengan saya ketimbang orang di lingkungan sekitar.
Terkenal artinya, pesan yang saya sampaikan akan diterima orang lain lebih mudah, dan berharap semoga pesan itu adalah pesan yang membuat orang lain berubah ke arah yang lebih baik lagi.

Menjadi terkenal.
Itu yang diharapkan banyak orang.
Banyak uang, banyak pengikut, lalu ketika menghasilkan sesuatu banyak yang berduyun-duyun membeli.
Banyak uang itu artinya bisa membeli semuanya.

Tapi itu nalarnya manusia.
Matematika Allah beda.
Terkenal di mata manusia membuat kita akhirnya melakukan apa saja untuk membuat dikenal di mata manusia. Maka menjelekkan orang lain, saling sikut pada akhirnya jadi sesuatu yang biasa.
Buku-buku yang saya promosikan kalau Allah ingin membuatnya tidak laku, maka tidak lakulah buku saya. Itu artinya rezeki bukan karena keterkenalan. Tapi karena Allah ridla atau tidak.

Belum lama saya disentil dengan kejadian.
Kejadian karena saya begitu stress-nya dengan revisi berulang untuk sebuah naskah yang pendek. Revisi berulang karena naskah harus standar Internasional. Padahal di naskah-naskah internasional yang saya baca, sepertinya tidak sesulit seperti itu.
Saya stress. Berenang. Di tengah berenang, saya kaget karena melihat seekor beruang sedang duduk di kursi. Iya beruang.
Saya kedipkan mata berkali-kali. Taraaa, akhirnya beruang itu berubah wujud. Ternyata beruang itu adalah sebuah jaket coklat yang ada di kursi. Dan jaket itu adalah jaket milik suami.

Apa yang saya bisa pelajari dari sana?
Sebuah revisi membuat saya stress, hingga terobsesi dengan beruang.
Lalu saya coba merenung. Ubah mindset saya.
Kenapa saya tidak mencoba membuat bacaan Al Quran, lalu target kebaikan menguasai saya seperti saya dikuasai oleh beruang itu sehingga dalam keadaan santai pun terbawa?
Alangkah indahnya jika saya sedang melakukan aktivitas lain, yang terbayang adalah anak-anak yatim, orang-orang yang harus saya tolong dan hal baik lainnya?

Kita seringnya mengejar sesuatu untuk mengejar like atau pujian dari orang lain.
Kasus beruang itu menyadarkan saya sesadar-sadarnya.

Terkenal di mata manusia, dan memaksa diri untuk terkenal, dikenal, menjadi bintang adalah sesuatu yang tidak penting.
Yang paling penting adalah menjadi manusia yang fokus terkenal di mata Sang Pencipta dulu. Kebaikan kita, keikhlasan kita, kedermawanan kita, haruslah membuat DIA menjadi mengenal kita.
Kalau sudah mengenal kita maka segalanya akan menjadi mudah.
Tidak perlu menjilat.
Tidak perlu memusuhi dan tidak perlu punya musuh tentu saja.
Hidup pun damai dan bahagia.

Punya medsos?
Masih.
Saya masih punya media sosial beberapa untuk sharing tulisan.
Tapi fokus terkenal?
Mungkin untuk berdiri di garda terdepan bukan tipikal saya. Saya lebih nyaman berada dalam kesunyian dan memilih berjuang terkenal di hadapanNYA dahulu.

Buku Diobral, Penulis Harus Apa?

Di depan pusat perbelanjaan yang biasa kami datang beberapa bulan sekali, ada obralan buku.
Buku-buku bagus. Terbitan tahun 2014.
Diobral mulai harga 10 ribu dan paling mahal 30 ribu.
Sebagai pembeli saya bersyukur ada buku obralan itu.
Sebagai orang yang suka meminjamkan buku untuk yang lain, saya juga bersyukur. Saya bisa membeli banyak buku bagus, dan banyak yang akan bisa menikmatinya.
“Ibuuu, itu aib. Jangan diceritain.”
Itu kata Sulung saya kalau ada sesuatu yang ia rasa memalukan.
Iya, buku diobral itu pertama kali penulisnya merasa malu.
Dulu, saya suka melewati obralan buku. Karena takut buku saya ada di kotak obralan itu.
Jantung rasanya berdegub lebih kencang.
Tapi itu dulu.
Sekarang?
Sekarang tentu saja lain ceritanya.

Bukan berarti saya senang buku saya masuk ke obralan. Yang itu artinya penulis sudah tidak mendapat royalti sama sekali, dari hasil penjualan buku obralan itu.
Sekarang,
saya lebih paham dunia industri buku. Industri itu artinya sebuah buku adalah barang komoditas yang harus mendatangkan keuntungan.
Penulis tidak bisa lagi memikirkan, saya mau menulis saja. Saya mau bersembunyi saja dibalik tulisan saya. Atau saya mau menunggu keajaiban buku saya laris manis bak kacang goreng.
Penulis harus mau berjuang untuk buku-buku yang ditulisnya.
Penulis harus mau turun tangan menjualkan buku itu dan promosi buku itu.
Malu?
Penyakit malu itu saya singkirkan.
Buku yang dibuat dengan hati, risetnya keras bukan sekedar bengong menunggu ilham, lalu ketika menulis diawali dengan Basmallah sambil terus berdoa agar tulisan itu bermanfaat, tentunya saya tidak boleh malu untuk menunjukkan pada orang lain.
Di dalam sebuah buku yang ditulis, penulis menjual idealisme juga manfaat agar tersebar.
Lalu setelah perjuangan menjual, promo dan ujungnya buku itu masuk diobralan, gimana?
Itulah takdir selanjutnya dari buku yang kita tulis.
Ada taman-taman bacaan, rumah-rumah yang meminjamkan buku, yang pesan buku itu akhirnya menyentuh lebih banyak lagi, karena harganya terjangkau.
Itu takdir yang tidak boleh ditangisi.
Penulis sudah berjuang. Pesan dalam buku itu pada akhirnya terus berkelana hingga bahkan setelah usia penulis berakhir.

Yang selanjutnya dilakukan adalah terus menulis.
Cuma cinta yang membuat seorang penulis bertahan.
Kalau saya sudah kadung cinta. Melihat anak-anak seputaran rumah saling membicarakan satu buku yang mereka pinjam dari saya, itu suatu kebahagiaan.
Kemarin Totto Chan jadi perbincangan.
Lalu buku yang lain pula.
“Yang ini bagus, aku suka.”
Itu perbincangan anak-anak usia SD yang belajar di rumah.
“Ini warisan ilmu dari Ibu untuk kalian.”
Biasanya di buku non fiksi saya tulis pesan untuk dua abege saya.
Agar mereka paham, bahwa perjuangan Ibu dalam menulis, adalah perjuangan memberikan warisan ilmu pada mereka, yang sifatnya lebih kekal ketimbang harta.

Jangan Fokus Pada Kekurangan Orang Lain

Suatu hari di depan televisi Bapak mengomentari seorang penyanyi. Penyanyi itu suaranya bagus, tapi penampilannya tidak menarik. Bapak lalu bilang. “Sayang, ya, tidak cantik.”
Tapi setelah itu Bapak beristighfar berkali-kali. “Tidak boleh seperti itu. Mencela ciptaan Allah berdosa.”

Saya belajar banyak dari Bapak.
Mencoba menerapkan apa yang Bapak terapkan pada saya.

Dulu saya pernah membeli sepatu di toko sepatu. Sampai di sekolah terasa bahwa sepatu itu ternyata sempit sebelah. Rasanya tidak enak. Memang tidak ada yang melihat perbedaa itu. Tapi saya merasa. Apalagi habis jam olah raga di siang hari, pada saat kaki memang jadi mengembang lebih besar.
Satu sepatu di satu kaki terasa masih longgar dan nyaman. Sedang di kaki lainnya sesak. Saya membeli sepatu itu di malam hari. Beli sendiri ke toko sepatu.
Saya lalu melihat di bagian bawah sepatu. Membandingkan nomornya. Baru sadarlah saya kalau ternyata sepatu saya besar sebelah, berbeda nomornya.
Saya masih berusaha untuk menukarnya. Tapi ternyata karena bawah sepatunya sudah kotor, oleh toko sepatu tidak diperbolehkan.
Tapi sejak itu, saya merasa trauma setiap kali membeli sepatu. Berkali-kali saya akan melihat nomornya. Lalu sebelum dimasukkan ke dalam kardusnya pun masih akan saya cek ulang.

Pelajaran dari Sepatu Sulung

Bertahun-tahun pengalaman itu membuat saya takut membeli sepatu. Biasanya kalau ada sepatu yang saya suka, adik-adik saya akan saya beri uang, lalu mereka yang akan membelikan sepatu dengan nomor dan warna yang saya pilih.
Sampai punya anak pun saya masih agak ngeri beli sepatu. Biasanya anak-anak membeli sepatu bersama ayahnya, dan ayahnya yang memilih untuk mereka.
Tapi suatu hari, tibalah Sulung butuh sepatu hitam. Waktunya mendesak. Kami akhirnya lari ke hypermall, yang ada satu toko sepatu.
Sulung memilih sepatu warna hitam untuk upacara. Dia jadi petugas upacara bendera.
Seperti mengurai kejadian di masa lalu, saya mengecek. Lalu setelah itu saya biarkan sepatu itu dimasukkan ke dalam kotak.
Sulung keesokan harinya memakai.

Tapi esok harinya, terjadilah peristiwa dengan apa yang saya alami.
“Ibu, Ibu tahu ada yang aneh dengan sepatuku?” tanyanya.
Ibu tidak mengerti.
“Menurut Ibu aneh tidak?” ia menjejerkan dua sepatu yang dipakainya.
Saya perhatikan sepasang sepatu itu. Tidak kelihatan bedanya. Sama-sama hitam warnanya, sama-sama masih bagus.
Lalu Sulung membalikkan sepatu itu dan menunjukkan nomornya. “Nomor sepatuku berbeda, Bu.”

Rasanya lemas saya melihatnya. Tidak bisa ditukar sepatu yang sudah dibeli dan sudah dipakai. Seperti pengalaman saya.
Saya mendekati Sulung. “Kamu merasa sepatu itu besar sebelah?”
Sulung menggeleng. “Tapi ada temanku yang ngomong begitu, terus teman yang lain lihat,” dia cemberut lalu menyebut satu nama temannya.
Satu teman itu saya kenal betul ibunya dan paham karakternya.
“Terus teman yang lain ngelihatin terus, atau gimana?”
“Enggak, sih. Terus pada lupa, main lagi.”

Saya menarik napas panjang.
Membayangkan dulu, ketika saya memakai sepatu berbeda nomor, hanya saya sendiri yang paham. Teman lain sibuk ngobrol dan tidak memikirkan sepatu saya. Hanya ketika saya fokus ke sepatu, lalu ada yang bertanya. Itu pun hanya pertanyaan kenapa?
Artinya. Saya yang melihat kekurangan saya. Yang lain tidak.

Sekarang Sulung bahkan tidak mengetahui kekurangan sepatu yang dipakainya. Tapi temannya, satu teman yang selama ini suka memberi kritik, yang melihatnya. Itu artinya.
“Kamu tahu. Orang yang sering melihat kekurangan orang lain, biasanya hanya fokus pada kekurangan teman-temannya. Dia tidak akan melihat kekurangannya sendiri. Dia tidak juga melihat kelebihan temannya.”
Sulung belum mengerti.
“Teman kamu melihat seorang pakai baju merah di siang hari juga diberi komentar. Melihat orang pakai topi yang kelihatan aneh, juga langsung diberi komentar.”
Sulung mengangguk. Lalu menjawab.
“Betul, Ibu. Teman yang lain diam aja. Cuma lihat terus main lagi sama aku. Lagipula, sepatu ini masih bagus kok. Aku juga enggak kesempitan.”

Alhamdulillah.
“Kalau kamu butuh sepatu baru, Ibu ajak kamu ke toko sepatu lagi.”
Sulung menggeleng. “Sayang uangnya Ibu. Ini masih bagus, kok.”
Saya tersenyum.
Sepatu itu masih dipakai sampai dia masuk SMP. Ketika saya tanya, apa tidak ada temannya yang melihat nomor sepatunya yang berbeda? Dia bilang, tidak. Apalagi masuk ke kelas sepatu harus dibuka dan ditaruh di rak.
Dua tahun sepatu berbeda nomor itu dipakainya, sampai ayahnya akhirnya pulang dari Malaysia dan membawakan oleh-oleh sepatu baru untuknya, yang nomornya tidak berbeda.

Hanya sepatu berbeda nomor, tapi untuk saya mengajarkan banyak hal. Jangan fokus pada kekurangan orang lain. Karena setiap orang pasti memiliki kekurangan. Fokus pada kelebihan mereka, maka kita akan bisa melihat potensi orang tersebut dan kita bisa mengarahkan ke arah yang lebih baik lagi.

Jangan Mau Orang Mengganggu Mood Kita

Ada banyak orang di sekeliling kita. Orang dekat yang sehari-hari bersama kita. Dan orang yang jauh di luar lingkungan hidup kita.
Mereka berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan kita. Mereka hidup berdampingan dan bersentuhan kulit dengan kita. Atau mereka hanya terjangkau pandangan kita saja.

Kita adalah makhluk sosial. Kita tidak mungkin bisa hidup sendiri. Kita akan menolong orang lain dan ditolong orang lain. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ada pertolongan orang yang tidak kita sadari. Misalnya baju yang melekat di tubuh kita. Meski kita merasa membelinya dengan uang kerja kita, tapi ada rantai untuk sebuah baju pada akhirnya melekat di tubuh kita. Dari mulai uang kerja kita, kita tidak mungkin bekerja atau menghasilkan sesuatu tanpa orang lain. Dari orang yang menjual baju, dari penjahitnya, dari benangnya. Semua adalah jalinan alias mata rantai yang membuat kita adalah makhluk sosial.

Orang lain bisa membuat kita menjadi baik juga buruk. Semakin dewasa hal itu, kita akan semakin paham.
Kalau mereka kasar, mungkin kita bisa membalas kekasaran mereka. Tidak masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan untuk kita, bisa membuat mood kita pada satu hari berubah.
Hanya karena orang tidak sengaja menginjak sepatu kita, kita langsung tidak enak hati sepanjang hari. Karena merasa sepatu itu baru kita cuci atau memang baru beli.
Atau ketika kita sedang gembiranya, lalu ada seorang yang marah pada kita tanpa sebab. Kita lalu merasa jadi orang yang paling menderita sedunia.

Mood kita milik kita.
Perasaan turun naik itu hak kita.
Kita bisa memilih mengisi hari dengan tersenyum atau dengan berduka.

Jika ada seorang yang kita rasa bisa mengubah mood kita, apa yang harus kita lakukan?
1. Tarik napas panjang. Pikirkan, bahwa hari ini kita harus mengisi hari dengan kebahagiaan. Bqahagia itu pilihan kita. Orang lain tidak berhak mengambil kebahagiaan itu dari kita.
2. Ketika ada orang marah dengan kita, bukan kita yang sedang bermasalah. Tapi dia. Maka kasihanilah dia.
3. Ketika datangnya perubahan mood itu dari rumah, coba ke luar rumah. Temui orang yang tidak seberuntung kita. Maka kita akan bersyukur dengan keadaan kita.
4. Kamu siapa? Hal seperti itu sering saya ulang-ulang dari hati saya, ketika ada orang yang tiba-tiba menyinggung perasaan saya. Iya. Dia itu siapa? Orang itu bukan siapa-siapa kita, maka tidak perlu dipikirkan apalagi dimasukkan ke hati.
5. Ketika sedang marah, jangan bergaul dengan yang mudah emosi. Tambah akan semakin tinggilah emosi kita.

Hak tubuh adalah dijaga kesehatannya. Hak hati juga begitu. Maka jagalah hati kita dengan selalu menjaga perasaan kita.

Doa Kebalikan Demi Kebaikan

Pernah berdoa?
Atau sering?
Atau bahkan doa adalah bagian dari napas kita, sehingga setiap tarikan napas kita, kita isi dengan doa?
Ada banyak waktu terkabulnya doa. Dari mulai antara azan dan iqomah, saat hujan turun, sampai saat kita sujud. Dan di sepertiga malam terakhir, Allah justru akan turun dari Arsy-NYA untuk menjawab doa-doa hambaNYA yang meminta padaNYA.

Banyak macam doa. Banyak macam pinta.
Kita merasa bahwa yang paling utama adalah ketika kebutuhan kita tercapai. Bahkan banyak yang merasa bahwa orang lain yang buruk hidupnya, memang itu sudah bagian dari jatah takdirnya.

Saya senang berdoa, karena saya tahu saya manusia lemah. Tidak mungkin keinginan saya terwujud begitu saja tanpa campur tangan Allah.
Tapi semakin lama saya menjadi paham, bahwa ada doa-doa yang menggembirakan untuk kita dan hanya untuk lingkaran kita. Tapi ada doa-doa yang bisa menggembirakan orang lain. Nasib orang itu berubah karena doa kita yang sungguh-sungguh kepadanya.

Doa macam apa itu?
Mendoakan kebalikan.
Kebalikan semacam apa?
Kalau ada baik maka kebalikannya adalah buruk. Kalau ada senang kebalikannya susah.
Kalau ada nyinyir kebalikannya bijak.
Kebalikan sesuatu yang bertolak belakang.

Jadi ketika saya melihat anak dari orangtua yang rumah tangganya tidak utuh, ketika mereka melintas di depan saya, saya berdoa agar Allah menjaga mereka. Sehingga kelak mereka jadi anak-anak yang membanggakan orangtuanya.
Ketika melihat seorang tukang jualan yang kelihatan lelah berjualan, saya berdoa semoga dagangannya laris dan ia diberi rezeki yang berkah hingga rezeki itu mencukupkan anak istrinya.
Ketika saya melihat status nyinyir seseorang di sosial media, saya berdoa semoga Allah ganti kenyinyiran itu dengan kebijaksanaan.

Banyak orang bisa berubah karena doa.
Umar bin Khattab enam tahun didoakan Rasul agar jadi orang baik.
Abu Thalib paman Rasul juga didoakan. Tapi tetap dengan kepercayaannya dan tidak mau mengikuti jejak Rasul meninggalkan agama leluhurnya.
Pada akhirnya hak mengabulkan doa ada di tangan Allah. Tugas kita sebagai manusia hanya terus berusaha. Lagipula untuk saya, mendoakan orang lain ke arah kebaikan jauh lebih bermanfaat daripadada hanya mengeluh tentang orang tersebut.

Standar Kita Bukan Standar Orang Lain

“Aaah, sekolah di mana saja sama.”
“Uuuh, buat apa sekolah tinggi kalau cuma jadi ibu rumah tangga.”
“Iiih, mau-maunya ngajar ini itu enggak dibayar. Udah kebanyakan uang.”
“Ooh, kenapa pesan saya enggak dibalas-balas, sih?”

Ada banyak percakapan setiap hari yang terjadi. Ditujukan pada saya, atau dicurhatkan orang lain pada saya. Biasanya ingin curhat karena ingin berbagi resah, sedikit meminta kekuatan.
Setiap kali ada yang bicara negatif, saya memang tutup telinga. Fokus saja membuka mata lebar pada jalan yang sedang saya susuri. Tidak perlu semua orang tahu apa yang ingin saya tuju. Tapi saya selalu percaya, Yang Maha Tahu akan membuat saya pelan tapi pasti menuju satu titik itu.

“Mau kamu apa?” itu pertanyaan yang dulu sering saya dengar.

Ada banyak orang ada banyak pikiran. Pikiran orang yang satu dengan yang lain, jelas tidak sama. Sebab Allah bukan pabrik yang hanya mencetak sebuah produk tanpa hati tanpa akal.
Kita terlahir berbeda. Dari orangtua yang berbeda pengalaman, berbeda sudut pandang, berbeda pengajaran bahkan berbeda pemahaman dalam menerapkan suatu hal. Justru dari perbedaan itu, hadir kita untuk menyerap dan menerapkan segala perbedaan itu.
Apa yang saya mau, pasti berbeda dengan orang lain. Apa yang orang lain mau, pasti berbeda dengan saya. Bahkan untuk tujuan yang sebenarnya sama, tidak semua orang juga sama memiliki standar hidupnya.

Jangan Letakkan Standar Kita

Saya dulu pernah kesal ketika dipanggil oleh ketua RT, untuk disidang bersama remaja lainnya. Maklum lingkungan tempat tinggal saya waktu itu cukup ketat. Jadi ketika ada anak remajanya yang kelihatan bermain dengan anak dari lingkungan lain, dan merasa anak-anak di lingkungan itu tidak baik, maka Pak RT akan memanggil untuk disidang. Iya disidang bukan komunikasi apalagi komunikasi efektif. Sidang itu artinya kamu terdakwa, aku hakim. Tak tok keputusan dibuat. Keputusannya adalah saya tidak seperti dua kakak saya yang terkenal berprestasi dan terjaga perilakunya. “Kenapa kamu tidak meniru kakak-kakak kamu?” itu yang ke luar dari mulut si Bapak RT.
Kesalahan saya sebenarnya kecil.
Saya bergabung dengan kelompok voli dari lingkungan sebelah dan jadi tim inti untuk bertanding lawan tim-tim lainnya.
Apa yang saya pelajari setelah itu adalah. Orang lain tidak tahu apa yang ada di pikiran saya. Orang lain tidak tahu detail apa yang saya lakukan. Wong kenyataannya di rumah prestasi kedua kakak saya kalah sama saya. Tapi itulah, orang hanya melihat permukaan tanpa ingin memahami dasarnya.

Jangan letakkan standar kita untuk orang yang tidak ingin berada dalam satu jalur dengan kita. Misalnya untuk teman-teman yang belajar nulis dan ingin punya penghasilan menulis, maka saya ajarkan standar saya. Minta agar mereka mengikutinya.
Alasanya karena mereka ingin belajar pada saya agar bisa menulis seperti saya. Dan pada akhirnya saya harus menerapkan kondisi yang saya jalani pada mereka.

Standar Kita Sendiri

Saya punya standar. Standar sendiri bukan standar orang lain. Standar saya, saya tahu berbeda dengan orang lain. Tapi karena saya yakin, nyaman dan terus belajar, jadi saya tidak mau terlalu fokus pada orang lain.

Ketika saya yakin Sulung bisa menggambar, karena saya tahu prosesnya di rumah dan saya yakin bakat ayahnya menurun padanya, guru TK sulung bilang dia tidak bisa menggambar. Karena setiap gambar yang dibuat oleh Sulung selalu diwarnai hitam olehnya. Katanya ada perang, bom dan lain sebagainya. Jadi gambar bagusnya tertutup. Si Guru kebetulan tidak melihat gambar bagus itu, yang gurunya lihat saat Sulung memenuhi kertas gambar dengan warna hitam.
Guru tetap yakin Sulung tidak bisa menggambar apalagi berbakat. Saya bersemangat dan yakin bakat ayahnya menurun dan saya tahu potensi terpendam itu harus diasah. Saya beri kertas gambar yang banyak. Setiap habis saya sediakan lagi terus-menerus. Hingga akhirnya lebih dari sepuluh gambarnya dimuat terus-menerus di media Nasional.
Saya tahu standar saya berbeda dengan orang lain.

Ketika memasukkan anak-anak ke sekolah negeri, tanpa diikutkan les dari gurunya pula, orang-orang berbisik. Bertanya dan juga menggosip. Mereka merasa saya sok tahu dan beranggapan bahwa tanpa les pada guru, si anak tidak akan dapat nilai bagus.
Saya yakin dan kedua anak tersebut malah bisa masuk sepuluh besar, enam besar bahkan tiga besar. Hanya belajar dari saya tanpa bimbingan belajar ini dan itu.
Ketika anak-anak saya tarik dari TPA karena saya ingin fokus mereka belajar pada saya, gurunya merasa aneh. Mungkin dikira saya tidak mungkin bisa mengajar.
Bahkan ketika Bungsu diterima di SD pada usia 5 tahun tiga bulan, banyak yang bertanya. Berapa besar saya menyogok agar Bungsu bisa diterima? Padahal tidak sepersen pun uang saya ke luar untuk itu. Bungsu mengikuti tes seperti anak yang lain. Kepala sekolah TK nya yang mendaftarkan. Karena dari TK A, Bungsu sudah menguasai pelajaran di TK B. Hingga lompatlah ia dari TK A ke SD.

Ketika suami resign dari kantor, dan jadi freelancer di rumah, standar orang yang punya suami pegawai merasa heran. Kok bisa ada orang punya penghasilan dari rumah.
Dan ujungnya baru saja terjadi. Ketika sehari setelah lebaran kami merenovasi rumah, beberapa orang bertanya pada saya. Kok uang saya masih ada sehabis lebaran? Bahkan pemulung yang saya panggil, juga bertanya hal yang sama.

Standar saya dan orang lain berbeda. Itu yang saya sadari dari awal. Saya cukup fokus dengan standar saya dan tersenyum saja pada orang yang tidak mengerti.
Toh bulan dan bintang sama-sama muncul di malam hari tapi punya sinarnya masing-masing. Tetap indah, tetap berdampingan tanpa perlu memaksa yang satu untuk jadi yang lain.

Pilih Apa yang Ingin Kita Dengar dan Kita Baca

“Jadi saya tadi diomongin,” begitu satu tetangga mengadu. “Kenapa meski pilih sekolah swasta buat anak? Paling-paling anaknya ya jadinya sama. Tergantung takdir. Mama Bilqis sih tadi enggak ada.”

Obrolan ibu-ibu rumah tangga yang berkutat dengan dapur, sumur, kasur seringnya memang mematahkan semangat ibu yang lain. Meski kemarin mereka nongkrong dan hati-hati bicara soal sekolah. Hi hi maklum mereka tahu saya tipikal Ibu yang seperti apa dan standar saya.
Okelah.
Banyak orang banyak pikiran. Seperti jalan yang banyak cabangnya. Kalau biasa naik kendaraan pasti tahu fokus saja pada jalan yang dituju. Kebayakan lihat spion bisa stress. Kebanyakan lihat kendaraan di kiri kanan kita bisa stress. Fokus pada kendaraan kita. Mau ke kanan tinggal kasih lampu ke kanan, ke kiri juga begitu. Dan itu lebih nyaman buat pikiran kita juga membuat kita lebih cepat sampai ke tujuan.

Okelah jalan yang kita pilih sebenarnya tidak mulus. Kita akan terus bertemu dengan orang yang tidak paham. Karena kalau hanya bertemu dengan orang yang paham, maka mudahlah sebuah cita-cita diraih, dan kita tidak bisa menikmati benturan.

Untuk yang biasa hidup di dunia maya, sortir apa yang ingin kita baca. Sebab mengamati setiap status selain cuma buang waktu, juga akan membuat kita lupa.
Fokus pada standar diri sendiri saja.
Orang lain tidak paham tidak masalah. Kalau untuk saya, sepanjang Allah paham, suami dan anak-anak mengerti, maka itu artinya the show must go on.

Saat yang Tepat Untuk Berubah

IMG-20160617-WA0068

Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang.
Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan,
melainkan suatu kebiasaan
(Aristoteles)

Rasanya baru kemarin tahun berganti. Rasanya baru kemarin kita masuk sekolah. Rasanya baru kemarin kita berangan-angan dan akhirnya angan-angan itu tidak sampai juga jadi kenyataan.
Berharap saja tidak cukup. Karena setiap target dan tujuan bukan sekedar angan-angan. Untuk mencapainya diperlukan kerja keras disertai dengan keyakinan bahwa kita bisa.

Banyak perubahan yang harus kita lakukan bila kita ingin menjadi manusia yang berbeda. Perubahan yang datangnya dari kesadaran diri kita sendiri bahwa kita memang harus berubah. Perubahan ke arah positif yang bisa menjadikan hal itu kebiasaan untuk kita, dan akhirnya menjadi karakter positif bagi diri kita.
Horace Mann seorang pendidik mengatakan bahwa kebiasaan itu seperti kabel. Kita menenun seuntai demi seuntai setiap hari dan segera kebiasaan itu tidak dapat diputuskan.
Beberapa perubahan ini mungkin yang harus kita lakukan dan melanjutkannya dengan action menuju target yang kita inginkan.

1. Ubah Persepsi Diri Kita tentang Kita
Jika kita masih merasa selalu tidak mampu menjadi besar dan berhasil dengan apa yang kita lakukan, mulailah dengan membuang pikiran buruk itu segera mungkin dari otak kita.
Setiap manusia diberi kelebihan juga kekurangan. Yang membedakan seorang yang berhasil dan tidak berhasil adalah mereka yang berhasil mampu mengoptimalkan seluruh kemampuan dan potensi mereka.
Seorang pembuat kue yang merasa kemampuannya di bidang itu bisa berkembang dengan baik, akan jauh lebih berhasil daripada seorang pembuat kue yang tidak yakin lalu mencoba beralih menjadi tukang jahit hanya karena mengikuti apa kata orang.
Jika kita saat ini belum mengenali diri kita sendiri, coba lakukan perubahan besar. Perubahan besar berupa waktu untuk merenung. Bukan merenungi angan-angan kosong. Tapi sebuah perenungan panjang untuk memahami seperti apa diri kita sebenarnya.

2. Ubah Pemikiran tentang Mimpi
Semua keberhasilan adalah hasil dari mimpi atau keinginan yang terpendam. Yang membedakan antara orang sukses dan tidak adalah bahwa orang sukses mampu membuat mimpi itu bukan sekedar mimpi. Mereka menjadikan mimpi itu sesuatu yang jelas, bisa dilakukan. Bukan lagi abstrak.
Mereka juga yakin bahwa mimpi-mimpi itu harus dijadikan nyata dengan keyakinan, doa dan kerja keras.
Jika kita merasa mimpi kita masih abstrak, coba ubah mimpi kita menjadi nyata. Membuat visualisasi mimpi itu sehingga terlihat jelas dan bisa kita gapai.
Boleh kita menggambar mobil, atau sebuah hotel bintang lima yang belum pernah kita datang, atau tempat wisata ke luar negeri yang ingin kita kunjungi. Atau bisa jadi tumpukan uang yang ingin kita miliki. Letakkan gambar-gambar itu di dekat meja kerja kita. Sehingga kita termotivasi untuk melakukan yang terbaik agar mimpi itu bisa menjadi kenyataan.

3. Ubah Pemahaman tentang Hambatan dan Peluang
Setelah kita memahami seperti apa diri kita, kekurangan kelebihan dan mimpi-mimpi kita maka yang harus kita pahami selanjutnya adalah membuat perubahan tentang hambatan dan peluang yang ada di depan kita, yang mungkin saja akan kita lalui.
Jika hambatan yang belum kita jalani sudah memberatkan kita, karena berdasarkan pengalaman teman-teman itu adalah hambatan terbesar, coba ubah persepsi tentang hambatan.
Hambatan bukan penghalang. Hambatan adalah peluang yang belum berhasil kita lalui. Jadi tentu saja untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi, kita harus melalui hambatan tersebut.
Dengan mengubah persepsi seperti itu, maka kita akan bersemangat dan membuat setiap hambatan hanyalah titik kecil di perjalanan kita.
Perubahan hambatan menjadi peluang itu juga bisa kita dapatkan dengan dukungan dari teman-teman yang satu persepsi dengan kita. Untuk itu masuk dalam satu komunitas yang saling mendukung akan menjadi energi positif untuk kita. Atau bila belum menemukan komunitas, kita bisa melakukan dengan membaca buku-buku berdasarkan pengalaman sukses orang lain, sehingga kita tahu dimana perubahan yang harus kita lakukan.

4. Ubah Persepsi Negatif tentang Orang yang Tidak Mendukung
Ketika kita fokus untuk meraih kesuksesan di jalan yang kita anggap benar dan pasti bisa kita lakukan, hambatan yang terberat yang akan kita dapatkan adalah bahwa orang-orang di samping kita, orang-orang yang dekat dengan kita, tidak akan mendukung apa yang sedang kita lakukan.
Akan ada saatnya di suatu titik, kita merasa sendiri. Dan hal yang seperti itu wajar terjadi di ranah manapun.
Tenggelam dalam kesedihan karena tidak dimengerti oleh orang-orang terdekat bukanlah langkah yang tepat. Yang terbaik adalah mengubah persepsi kita sendiri. Orang terdekat itu bukan tidak mendukung langkah kita tapi mereka tidak paham dengan apa yang sedang kita lakukan. Cara membuat mereka paham adalah dengan menunjukkan lewat bukti, bahwa semua mimpi yang tengah kita jalani bukan sekedar mimpi tapi itu adalah kenyataan.

5. Ubah Persepsi Tentang Putus Asa
Perjalanan menuju suatu titik tujuan pasti melelahkan. Karena perjalanan itu bukan perjalanan yang sebentar tapi perjalanan yang panjang.
Perjalanan panjang ini juga harus kita tempuh dalam tempo berbulan-bulan bahkan bisa dalam hitungan tahun, bukan sekedar hitungan hari.
Jika kita lelah, itu biasa. Jika kita putus asa, juga lumrah terjadi. Bahkan bila terbersit sebuah rasa bahwa kita tidak sanggup meneruskan perjalanan, juga bukan hal yang bisa dielakkan.
Ubah pandangan kita bahwa perjalanan kita yang panjang adalah sia-sia karena kita tidak berhasil juga. Perjalanan kita bukan sia-sia. Perjalanan kita yang sudah kita lakukan adalah sesuatu yang hebat yang sudah kita lakukan. Karena kita sudah berani melangkah.
Kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu, sama seperti seorang yang sedang menggali tanah untuk mencari mata air. Mata air itu tidak akan ditemukan dalam waktu semalam. Butuh waktu yang lama.
Jika ia berhenti, maka mata air itu tetap tidak akan ditemukan. Tapi jika ia lanjutkan mungkin satu cangkulan lagi mata air akan ditemukan dan akan mengucurkan air yang sangat deras seperti yang selama ini diharapkannya.

Jadi mari intropeksi diri dan berubah ke arah yang lebih baik.

Ribet Dengan Isi Kepala Orang Lain

Ribet, saya sering mengatakan itu pada anak-anak.
Ketika mereka ingin melakukan sesuatu, mereka takut dengan anggapan orang lain.
Ketika mereka saya ajarkan berdiri di depan panggung, mereka takut kalau-kalau orang lain meremehkan mereka.

Ribet dengan pikiran orang lain bukan hanya menimpa anak-anak. Orang dewasa juga banyak yang pusing dengan isi kepala orang lain. Orang dewasa itu merasa kalau ia melakukan sesuatu, maka orang lain jadi punya anggapan yang aneh untuk diri mereka. Dan akhirnya gagal melangkahlah orang yang seperti ini.

Ada orang dewasa yang tidak berani mengambil keputusan, karena sejak kecil tidak dibiasakan untuk melakukan hal itu.
Ada juga orang dewasa yang ketika kecil malah terlalu dilindungi ditakut-takuti, sehingga ketika melangkah banyak ketakutan di benaknya. Takut salah, takut menyakiti orang lain, takut orang lain jadi marah dan sebagainya.

Ribet dengan isi kepala orang bukan hal yang menyenangkan.
Kita pusing dengan apa yang orang lain pikirkan. Di zaman media sosial seperti sekarang ini, kadar keribetan bisa bertambah.
Ketika membuat status yang kita rasa benar, kita takut orang lain merasa sakit hati.
Ketika melihat orang lain salah, kita jadi takut membenarkan karena kita takut dianggap sok tahu dan lain sebagainya.

Lalu apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa terus melangkah, tanpa ribet dengan isi kepala orang lain?

1. Intropeksi
Hal pertama yang harus kita lakukan memang intropeksi. Jika kita selalu pusing dan takut melangkah karena takut dengan omongan orang lain, maka coba tarik ke belakang, ke masa lalu. Apa yang membuat kita menjadi seperti sekarang ini?

2. Minta dukungan
Untuk sesuatu yang sudah lama mengendap dan jadi karakter, akan sulit diubah, kecuali kita memang berjuang untuk itu. Atau ada peristiwa tertentu yang akhirnya membuat kita sadar dan kita berubah.
Kalau kita tidak memiliki dua hal tersebut, maka carilah yang lain. Yaitu, carilah orang yang bisa membantu kita untuk berubah. Mencari orang yang mendukung dan menyadarkan kita, sehingga lambat laun, tidak cepat tentu saja, kita bisa berubah.

3. Orang Berhak dengan pikirannya. Itu artinya sama seperti kita. Ketika melihat seseorang yang melakukan tindakan yang kita sendiri tidak biasa melakukannya, maka kita akan punya pikiran yang berbeda dengannya.
Maka jika kita ada di posisi yang sama, tentu saja hal seperti itu sah terjadi. Kita melakukan sesuatu, dan orang lain punya pikiran yang berbeda dengan kita.
Biarkan saja dan terus melangkah.
Jangan-jangan kita terlalu paranoid saja dengan isi kepala orang lain, seolah-olah orang itu sedang memerhatikan kita. Padahal tidak sama sekali.

4. Fokus pada tujuan
Akan membuat langkah kita seberat apapun akan menjadi mudah. Karena kita tahu akhir yang akan kita tuju, yang orang lain tidak paham.