Bapak dan Kenangan yang Mengikat

Nur aku

Saya senang memandangi wajah Bapak dan Ibu ketika bercerita tentang suatu masa, suatu hari, di mana mereka mengenang seorang bayi harus dilahirkan.
Bayi yang membuat seorang perempuan 25 tahun merasakan cobaan beruntun. Tiga orang anak sudah lebih dahulu dilahirkan. Dua perempuan dan satu lelaki. Berjarak dua sampai tiga tahun.
Seorang lagi menghentak dalam kandungan dalam keadaan ekonomi rumah tangga semakin di titik nol.
Hanya ada sebuah selendang yang menenangkan. Selendang kain putih itu yang biasa dikenakan pengantin Jawa ketika akan menikah. Menutupi kepala suami dan istri ketika menghadap penghulu. Saya suka menyentuhnya. Selendang itu satu-satunya warisan yang diberikan oleh ibunya.
“Itu selendang punya Mbah. Untuk menutupi jenazah Mbah.”
Mbah, ibunya Ibu, seorang janda, hanya memiliki Ibu seorang, meninggal ketika saya berada di dalam kandungan Ibu.

Rumah masih mengontrak karena sebagai seorang pegawai negeri di Perhubungan Udara, Bapak belum mendapatkan rumah dinas.
Ibu harus berjalan dari pasar ke pasar untuk menjual ayam dalam keadaan hamil tua.
“Tidak sakit. Tidak sama sekali…”
Ibu, perempuan yang masih cantik hingga di usianya yang ke 70 biasanya akan menggeleng keheranan.
Bapak lalu akan mengenang sebuah radio miliknya satu-satunya, dimana setiap sore Bapak senang mendengarkan sandiwara radio.
“Radio itu lalu digadaikan.”
Saya mendengar dan meresapi kata-kata Bapak dan Ibu. Satu radio itu hiburan mereka berdua di ujung penat. Mendengarkan segala macam kisah sandiwara di radio.
Pasangan muda yang akan memiliki empat orang anak itu harus berpikir cepat. Bayi di dalam kandungan yang tidak pernah rewel itu sudah minta untuk ke luar.

Tidak ada uang, tidak ada biaya untuk mengantar ke bidan seperti tiga anak sebelumnya yang terlahir di bidan.
Radio itu lalu cepat Bapak bawa ke sebuah penggadaian. Dan kembali dengan seorang dukun beranak.
“Sakit?” tanya saya setiap kali membayangkan apa yang terjadi pada saat itu.
Ibu menggeleng.
Tiga anak sebelumnya, satu keguguran di usia empat bulan, pastilah sudah bisa memahami makna sakit ketika melahirkan.
Menikah di usia 16 tahun dan hidup menderita sebelumnya, pastilah tidak akan melebih-lebihkan apa rasanya sakit. Beberapa tahun tinggal di kios pasar di Semarang untuk membantu ibunya berdagang kue sebelum akhirnya bangkrut karena diguna-guna orang, pastilah paham betul apa makna tegar.

Saya suka setiap kali melihat Ibu membayangkan. Lalu bercerita bagaimana Ibu mulai melahirkan saya ke dunia.
“Tidak sakit. Sama buang air sakitan buang air besar.”
Bapak mengangguk.
Tidak sakit, tidak merepotkan, begitu kata Ibu. Hanya dua kali mengejan. Pada pagi hari antara jam delapan dan jam sembilan. Sebuah keajaiban, begitu yang Bapak bilang lalu menyiapkan sebuah nama untuk keajaiban itu. Nurhayati Pujiastuti.
“Anak dukun,” satu kakak laki-laki saya bicara. Bercerita bahwa setelah saya lahir, embah dukun membawa saya ke atas tampah, mengikuti tradisi.

Anak ajaib, anak dukun, anak yang paling sering sakit di keluarga.Satu-satunya anak yang ari-arinya dilarang dicuci Bapak karena tidak boleh oleh si dukun. Hanya dukun itu yang mencuci ari-ari saya.
Mungkin karena pengaruh itu saya sering dianggap memiliki feeling paling kuat di keluarga.
Anak yang membuat Bapak bisa menebus radio yang digadaikan dengan cepat karena ada rezeki yang kembali cepat datang. Seorang notaris, kenalan di jalan, sempat bicara sebentar saja mendatangi di tengah malam pada saat Bapak shalat tahajud. Notaris itu datang hanya untuk menawarkan pekerjaan sampingan sebagai asistennya. Pekerjaan yang Bapak lakoni sesudah pulang kerja sebagai PNS, Pekerjaan yang membuat Bapak bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit uang tambahan. Tapi pekerjaan itu juga Bapak lepaskan, karena Bapak tidak ingin anak-anaknya hanya kenal ia sebagai sosok pemberi materi saja. Bapak ingin anak-anak dekat dengannya. Dan hidup seadanya dipenuhi syukur adalah pilihan yang mantap dipilihnya.

“Bapak bangga dengan kamu.”
Saya sering tersenyum membayangkan.
“Cahaya Kehidupan,” ujar Bapak mantap. “Doa selamat…,” ujarnya dengan yakin memberi tahu tambahan di belakang nama.
Saya mengangguk.
“Teruslah bermanfaat.”

Gambar Menjelang Kematian

IMG-20150514-WA0005 - Copy

Ada ujian yang kami semua sudah persiapkan jauh-jauh hari.
Ujian itu bernama kematian.
Bapak sudah mempersiapkan pada lebaran sebelumnya. Ketika semua berkumpul. Lalu Bapak bicara tentang kemungkinan lebaran berikutnya, beliau bisa jadi tidak ada lagi di tengah kami.
Dan ucapan itu diulang berkali-kali. Bahkan sudah beliau persiapkan semuanya. Saya diberi banyak pesan dan banyak doa, karena seusai lebaran saya masih ke Solo beberapa kali.

Maka ketika Bapak di rumah sakit, anak-anak sudah mempersiapkan semuanya.
Termasuk ilmu tentang tanda-tanda kematian.
Sehingga kami fokus membimbing Bapak, untuk berjalan tenang menuju pintu bernama kematian.
Saya belajar banyak bahwa akhirat itu ada, sakaratul maut itu nyata.
Sebab beberapa kali, menyaksikan sendiri. Beberapa orang dipanggilNYA pas jam bezuk. Dan saya kebetulan ada. Jadi bisa melihat dengan jelas semuanya, bahkan perubahan angka-angka di layar monitor.

Ada banyak hal yang belum sempat saya tanya pada orang-orang tertentu yang menghadapi akhir hidupnya, yang justru bisa saya dapat jawabannya dari Bapak.
Seperti pandangan mata yang menerawang.
Pandangan antara ada dan tiada.
Pandangan seperti itu pernah saya dapatkan di tukang soto, sepasang suami istri.
Ketika pada sore hari, saya tiba-tiba ingin sekali membeli sotonya. Lalu mendapati mereka duduk berdua dengan pandangan mata menerawang, hingga beberapa kali dipanggil baru mereka mendengar.
Esok paginya, keduanya meninggal setelah motornya ditabrak kendaraan lain, pada saat mereka menuju pasar.
Pandangan seperti itu, juga saya dapati pada mbah putri, dua minggu sebelum meninggal.

Maka saya bertanya pada Bapak. “Bapak lihat apa?”
“Bapak lihat gambar.”
“Gambarnya bagus?”
Bapak hanya tersenyum.
Gambar apa yang akan disuguhkan kepada kita, di akhir hidup kita?
Gambar waktu kita yang terbuang sia-sia?
Gambaran kita menyakiti perasaan orang lain, yang mudah kita lakukan dengan jempol kita?
Atau gambar lainnya yang membuat kita tersenyum, atau bahkan ketakutan di akhir hidup kita?

Bapak pernah memegang saya kuat-kuat lalu mulutnya kencang berdoa, ketika sebelahnya kritis.
Bapak pernah hanya menoleh saja, ketika yang lain di sebelahnya juga kritis.
Tapi Bapak pernah mengangguk dan tersenyum lalu bilang,” hati-hati..,” ketika ada orang lain di depannya juga kritis dan akhirnya tidak ada.
Gambar itu nyata.
Saya diajak paham tentang hal itu.
Dan itu pelajaran mahal, yang tidak semua orang bisa mengambil hikmahnya.
Kita tidak pernah tahu akhir hidup kita.
Menjadi baik adalah benar-benar pilihan yang harus kita ambil.

Ada pelajaran lain juga yang saya dapatkan.
Tentang bakti, kesetiaan, sampai akhir memisahkan.
Setelah suara tidak ke luar lagi, pada suatu sore Bapak bisa mengeluarkan suara.
Memandang Ibu sambil berkata,” Ikhlas (ikhlaskan).
Ibu mengangguk lalu menjawab. “Bapak juga harus ikhlas.”
Dan Bapak menganggukkan kepala.
Ikhlas itu juga yang membuat Ibu tegar dan tidak menangis.
Ikhlas itu yang membuat Ibu bicara tenang. Bahwa Ibu akan membelikan kain kafan untuk Bapak. Beberapa hari sebelum Bapak tidak ada.
Ikhlas itu yang juga sedang saya pelajari.

Masih sering terbayang pandangan mata Bapak yang dalam untuk terakhir kalinya. Ketika saya bisikkan ayat favoritnya. Lalu saya katakan,”Bapak harus kuat, Allah sayang Bapak.” Dan Bapak mengangguk.

Suatu Sore Bersama Bapak

bapak dan orang tuanya

Ini Bapakku

keluargaku lagi

q dan bapak

Suatu sore, ketika hanya saya sekeluarga yang masih tertinggal di Solo karena keluarga lain sudah kembali ke daerah masing-masing, Bapak bercerita. Bapak saya, seorang yang saya kagumi karena kegigihannya dan saya ikuti apa yang Bapak lakukan sebagai teladan untuk saya.
Bergantung total pada Allah. Itu prinsip Bapak. Karena itu 8 anak berhasil menuruti arah yang Bapak contohkan. Kami akhirnya tertular menjadikan tahajud dan dhuha menjadi pegangan.

Sore itu, sambil menunggu suster yang akan memeriksa luka di kaki Bapak datang, Bapak bercerita dalam resah. Bapak sama seperti saya. Akan resah menunggu jika memiliki janji. Itu yang membuat Bapak dan saya seringnya tidak tolelir dengan jam karet.

“Nung…” Bapak mulai bercerita.
Bapak memulai cerita pada suami yang ikut mendengarkan. Bagaimana ketika saya lahir, Bapak dan Ibu mulai bisa makan nasi. Sebelumnya di rumah hanya makan ketela. Bagaimana ketika Ibu mengandung saya, Ibu harus kehilangan ibu kandungnya. Lalu ketika saya akan dilahirkan, Bapak dan Ibu tidak memiliki biaya sehingga harus menggadaikan radio satu-satunya, untuk membayar dukun beranak.
Setelah saya lahir, segalanya menjadi lebih baik. Cahaya Kehidupan, itu nama yang Bapak berikan yang membuat kelopak mata saya selalu berkedip untuk menghalau haru juga bangga.

“Nung…. dulu Bapak takut kalau mengaku-ngaku…”
Yah, dulu Bapak takut kalau mengakui bahwa Bapak masih keturunan dari penyair Surakarta Ronggowarsito. Beliau anak dari Yosodipura penyair juga. Padahal Mbah Putri memiliki nama pemberian Mitrotiyoso. Dan Bapak sendiri menyandang nama Yosowarsena.
Bapak tidak pernah mengaku-ngaku keturunan dari biru. Meski di rumah kami, tersisa keris peninggalan leluhur dengan tulisan tahun 1800 an. Bahkan ketika ada kerabat yang datang dulu, untuk menyusun silsilah keluarga, Bapak menolak. Pesan Bapak yang saya ingat, kita miskin. Gelar tidak berguna di mata Allah. Allah cuma melihat taqwa kita.

Ada ketegasan untuk sebuah prinsip yang saya dapat dari Bapak. Jadi Mbah Putri, seperti kebanyakan orang Jawa terdahulu, selalu memandikan keris di malam Jumat dengan air kembang. Suatu kali, Bapak pulang bersama kakak. Mbah lupa memandikan keris itu. Jadilah keris itu menjelma menjadi jin yang masuk ke dalam mimpi kakak hingga kakak ketakutan. Keris itu juga suka berbunyi sendiri di dalam lemari.
Ketika saya datang bersama Bapak juga, Mbah diingatkan oleh Bapak. Bapak tidak ingin Mbah yang sudah belajar salat menjadi syirik dengan keris itu.

Akhirnya, keris itu diambil oleh Bapak ketika kami pindah ke Solo, tidak begitu jauh dari rumah Mbah. Keris itu tidak dimandikan air kembang oleh Bapak. Keris cukup dibersihkan dengan minyak dan ditaruh di dalam koper. Koper itu pernah diletakkan di dalam kamar.

Tapi suatu hari, keponakan yang masih bayi menangis tidak berhenti di tengah malam, menjerit-jerit. Kami baru sadar ketika semua sudah dikerjakan tapi tangisan keponakan tidak berhenti. Keris! Serentak kami saling berpandangan. Koper berisi keris itu akhirnya kami pindahkan ke gudang. Setelah itu tangis keponakan langsung berhenti. Sampai sekarang keris itu duduk manis di dalam koper di gudang. Tidak menganggu. Tidak diberi air kembang. Bahkan tidak tersentuh tangan Bapak lagi.

“Budayawan zaman dulu itu, Nung, istrinya banyak. Bapak sendiri tidak tahu, keturunan dari istri yang mana? Jangan-jangan istri yang tidak diaku.”
Saya paham.
Bapak mendidik kami dengan didikan agama yang kuat. Bapak menjadi imam di masjid. Sering kali saya kena tegur guru mengaji dengan memberi tahu akan melaporkan pada Bapak, kalau saya terlalu berisik di masjid. Sedikit nakal juga saya akan dibandingkan dengan kakak-kakak yang lain, yang berprestasi di sekolahnya. Maka pilihan menjadi anak Bapak adalah, berprestasi dan beriman. Keluar dari dua kategori itu, kami pasti kena bully lingkungan.

“Tapi melihat kamu sekarang dengan tulisan juga buku kamu, Bapak tahu kalau Bapak tidak mengaku-ngaku.”
Saya mengangguk.
Bapak tidak mengaku-ngaku. Saya belajar menulis sendiri, merangkak sendiri. Sering kena omel dulu karena suka melamun dimanapun berada. Hanya saya dari 8 anak Bapak yang bisa menulis. Hanya saya dari 5 anak perempuan Bapak yang memilih profesi sebagai ibu rumah tangga dan menulis, sebab yang lain memilih untuk berkarir.
Lagipula saya tidak butuh berasal dari keturunan siapa. Saya sudah terlalu cinta dengan menulis dan itu sudah menjadi urat nadi dan bagian dari napas saya.

Bapak tahu perjuangan saya menulis. Sendiri. Jatuh bangun dan tersungkur. Bapak memberikan pita mesin tik. Memodifikasi pita mesin tik itu dengan minyak, agar bisa terpakai lama. Bapak juga membawakan mesin tik listrik yang tidak bisa saya pakai karena harga pitanya mahal.
Bapak memberikan meja untuk saya yang dipesan khusus, agar saya mudah mengetik. Bapak juga membelikan lemari buku yang menurut saya super mewah, karena kami pesan di sebuah toko yang raknya didesign oleh seorang arsitek. Sampai sekarang lemari buku itu masih awet di Solo.

Bapak mengajarkan penderitaan untuk tangguh menghadapi hidup. Bukan karena Bapak miskin yang sebenarnya. Bapak anti meminta. Keluarga besar Bapak banyak tersebar di wilayah Laweyan, tempat juragan batik di Solo. Kami tinggal mengontrak di rumah kecil di Jakarta. Tapi Mbah Putri yang selalu datang ke Jakarta untuk mengunjungi, selalu diantar oleh kerabatnya dengan mobil. Seorang yang mengantar kerabat Mbah, anak pendiri sebuah partai islam.
Bapak mengayuh sepeda ke kantor sampai pensiun. Motor inventaris dari kantor tidak Bapak terima, dan memberikan kesempatan itu pada teman lain yang membutuhkan.

Bapak yang mengajarkan kami, 8 orang anak membaca dan menulis. Bapak yang mengambil rapor dan menghadap guru. Ibu bilang, 8 anak selama 40 hari setelah Ibu melahirkan, Bapak yang mengurusi pakaian kotor dan bekas pup juga pipis anak. Bahkan sampai sekarang dari awal menikah, Ibu tidak pernah menyetrika pakaian. Setrikaan Bapak rapih dan halus. Saya belum bisa menirunya.

Ketika sakit, Bapak yang akan duduk di samping kami yang sakit. Bahkan ketika mata kami terpejam lalu terbuka kembali, masih Bapak yang ada di samping kami yang sakit.
Bapak tidak mau mengeluh ketika sakit. Tapi mulutnya tak berhenti berzikir. Sepuluh tahun di kursi roda, Bapak masih masih mandiri. Bapak tidak merepotkan. Hanya Bapak tidak bisa lagi membantu di dapur seperti dulu. Itu yang paling terasa oleh Ibu.

“Nung…, hidup itu jangan minta yang aneh-aneh. Apapun yang terjadi cukup minta pada Allah. Bapak 8 anak bisa cukup. Tidak pernah punya uang milyaran, tapi cukup.”
Pernah suatu hari, ketika saya sedang dirundung sedih karena usaha suami bangkrut dan debt collector baru saja datang ke rumah, Bapak menelepon. Bicara hanya untuk mengatakan agar tetap tahajud.
Bapak mengajarkan pada saya arti berbagi yang sesungguhnya. Saya melihat sendiri bagaimana Bapak sering tergopoh-gopoh memberi barang miliknya yang terbaik, untuk diberi pada orang lain padahal orang itu baru dikenalnya. Saya juga paham ketegasan sikap Bapak.

Saya bahkan pernah merasa tidak disayang oleh Bapak, karena terlalu dilindungi. Tidak boleh kemping Pramuka di waktu SD, padahal adik saya boleh. Tidak boleh menginap di rumah teman, padahal adik saya boleh. Kemana-mana Bapak selalu minta saya dikawal adik-adik saya yang galak. Ketika kuliah saya diantar jemput oleh kakak saya. Saya baru lepas ketika ada sahabat baik yang rajin mengantar dan menjemput kuliah.

Pernah saya begitu merasa mandirinya merasakan akibatnya. Ketika KKN saya jatuh pingsan, ketika itu saya justru menjadi petugas upacara untuk mengibarkan bendera. Ketika menjadi reporter pun saya terkena penyakit tipus. Bahkan pernah dirawat di rumah sakit hanya karena maag saya kambuh.
Ternyata sekarang saya paham, Bapak melakukannya karena memang saya mudah sakit bila terlalu lelah. Dan Bapak takut saya mudah dimanfaatkan orang karena Bapak tahu karakter saya.
Saya juga paham kenapa Bapak menyarankan saya untuk membawa peniti tajam dan pensil yang sudah diserut tajam ketika naik kendaraan umum.

Satu-satunya yang masih selalu saya ingat adalah ketika pada hari pernikahan saya, pada malam sebelum akad nikah, Bapak nembang (menyanyikan lagu Jawa), sebagai upacara pelepasan anak gadisnya. Ini tidak pernah terjadi pada malam pernikahan kakak-kakak dan adik-adik saya.

“Nung…, pergi sana. Lihat-lihat. Biar apa yang kamu lihat bisa kamu tulis.” Belakangan ini kalimat itu yang sering Bapak ucapkan ketika saya sampai di Solo dan hanya menghabiskan waktu di rumah. “Lihat sekaten sana… Ke Prambanan sana…”

Ah suatu sore bersama Bapak, semoga masih berlanjut pada sore-sore yang lain, dimana saya masih bisa duduk dan mendengarkan semua cerita Bapak tentang masa lalu dan makna kehidupan yang sebaiknya saya jalankan.