Mendidik Anak Lelaki Shalat di Masjid

pak haji

Anak-anak memenuhi masjid tapi mereka merusak konsentrasi dan konsentrasi jemaah lain, salah, kah?
Banyak orangtua yang tidak ingin disalahkan dalam hal ini.
Yang ada di benak mereka adalah pemahaman bahwa mengajarkan mereka shalat di masjid adalah salah satu bentuk ketakwaan. Salah satu bentuk cinta agar mereka paham agama.

Mungkin cara saya mengajarkan anak sulung saya, bisa membantu para Ibu yang lain.
In syaa Allah semoga ia istiqomah untuk berjalan ke masjid dalam situasi apa pun.

Sebelum mengajak anak untuk salat di masjid, saya mengenalkan mereka dulu pada masjid. Caranya adalah dengan mengajaknya bermain di pelataran masjid lalu berbincang seputar masjid dan kegunaanya. Mereka boleh bereksplorasi lari-lari keliling masjid dengan sebelumnya minta izin dulu pada marbot masjid.

Ada lima waktu shalat. Dari ke lima waktu itu, pilih salah satu untuk mengajak anak shalat di masjid. Bisa Maghrib dan Isya yang biasanya masjid lumayan penuh. Bisa Zuhur. Senyamannya kita dan anak.

Pada usia 2,5 Sulung merengek minta shalat Jumat di masjid. Waktu itu saya sedang hamil Bungsu. Hanya ada saya di rumah itu artinya hanya saya yang bisa mendampinginya untuk salat di masjid.
Maka pengalaman salat Jumat Sulung pertama di masjid adalah pengalaman yang mengharukan untuk saya. Sebab saya berdiri agak jauh di sudut untuk terus memperhatikannya diantara para jamaah lainnya. Sulung ada di tengah-tengah jemaah dan sengaja saya pilihkan tempat di pekarangan masjid bukan di dalam masjid.

Setelah itu pengalaman shalat terus berlanjut. Prosesnya panjang. Sepanjang perjalanan usia Bungsu. Dari mulai Bungsu di dalam perut, di gendongan, di dorongan bayi, di sepeda hingga akhirnya Sulung bisa shalat Jumat sendiri.

Capek, kah, saya?
Saya fokus pada 10 tahun ke depan, dan berpikir bahwa bibit anak yang sholeh harus saya mulai sejak dini. Maka rasa capek itu hilang.
Merasa bahwa ini tugas suami bukan tugas istri?
Tidak. Saya tidak mau berpikir seperti itu. Yang ada dalam pikiran hanyalah bahwa anak adalah amanah yang diberikan pada saya. Maka saya harus berjuang untuk menjaga amanah itu.

Maka sejak usia 2,5 tahun itu rutin saya ajak ke masjid untuk shalat Maghrib dan Isya.
Pernah kena omel orang lain?
Pernah.
Malah jadi bahan intropeksi, bisakah saya mendidik anak dengan baik?
Tapi Alhamdulillah, mereka tidak rewel ketika shalat di masjid.
Malah bersyukur ada yang mengingatkan untuk memakaikan anak pampers, takutnya mereka kencing di masjid. Meskipun anak-anak tidak terbiasa memakai popok sekali pakai itu.
Sepuluh tahun ke depan.
Karena itu beberapa kepala menggeleng dan berkata, saya terlalu memaksa. Padahal mereka tidak tahu, anak-anak yang meminta dan mulai terbiasa.

Ketika kami pindah ke Bekasi dari rumah kontrakkan di Jakarta, maka proses itu semakin asyik untuk saya.
Masjid tempat salat Jumat agak jauh dari rumah kami. Masjid itu memiliki halaman yang luas dan teduh dengan banyak pohon besar. Saya ciptakan ritual salat Jumat sebagai piknik bersama. Sebelumnya kami siapkan bekal. Kami datang sebelum azan. Naik sepeda bertiga. Bungsu ada di depan dengan bantal yang saya pasang digagang sepeda. Sepeda saya jenis sepeda laki-laki bukan sepeda perempuan.

Di halaman masjid yang luas itu, kami berlarian dan bermain petak umpet. Ketika azan sudah dimulai, Sulung saya carikan tempat yang bisa terjangkau oleh mata saya. Bungsu dan saya menunggu selama proses itu. Titip dengan orang di samping Sulung. “Jangan dipindah tempatnya, ya, Pak,” itu permintaan saya.

Setiap Jumat terus menerus saya kenalkan hal itu. Bukan hanya untuk salat Jumat. Shalat lainnya juga begitu. Orientasi kepada keimanannya di masa depan membuat kami pernah kehujanan dan justru anak-anak senang karena mereka bisa mandi hujan. Kepanasan lebih sering lagi.
Saya melepaskannya salat Jumat bersama teman setelah ia minta sendiri untuk tidak lagi didampingi.

“Naik sepeda panas-panasan?” tanya seorang Ibu. “Nanti saatnya shalat juga dia shalat.”
Iya naik sepeda panas-panasan. Sepeda bagian depan, sepeda lelaki yang memiliki batangan, saya beri bantal biar Bungsu nyaman. Di bagian belakang boncengan sepedanya juga saya kasih bantal.
Ini demi pembiasaan, ikhtiar setelah doa saya ingin memberikan generasi terbaik yang tidak memalukan di hadapanNYA kelak.

Proses panjang itu bukan berarti membuat Sulung menjadi hebat dalam ibadah. Anak-anak tetap anak-anak. Dimarahi orang tua lain pernah. Bahkan sampai hilang sajadahnya, mungkin karena terlalu senang bermain bersama teman sampai lupa membawa kembali sajadah pulang.

Beberapa bulan yang lalu di Jumat sore, ia pulang sekolah dalam keadaan demam. Setelah dipancing cerita akhirnya ia bercerita kalau tadi tidak shalat Jumat karena masjidnya penuh sekali jadi tidak kebagian tempat. Ada panggung di sebelah masjid yang mengundang artis terkenal. Mungkin terlalu gembira hingga terlambat ke masjid.
Demamnya itu saya maknai sebagai rasa bersalahnya yang tidak bisa diungkapkan. Saya sendiri bilang pada Attar bahwa itu cara Allah marah dengannya karena tidak shalat Jumat. Setelah tidur sebentar toh akhirnya demamnya turun.

Sekarang otomatis, kah, dia ke masjid?
Namanya anak-anak, tidak ada yang terjadi otomatis. Saya harus terus mengingatkan. Mengiming-iming pahala.
Kadang dia terbangun jam empat pagi, lalu menunggu azan dan akhirnya berjalan ke masjid.
Kadang tidak.
Dan saya tahu pembiasaan masih wajib untuk saya lakukan.
“Kamu akan jadi imam. Beri contoh keluarga kamu nanti. Jadi anak yang bisa menolong orangtuanya kelak.”

Well,
untuk saya, mengurus anak sama seperti mengurus pohon. Benihnya kita tanam, kuatkan akarnya dengan teladan dan kerja keras. Agar kelak akarnya kuat menopang batangnya yang semakin besar.
Kelak bila akar itu sudah kuat, angin pergaulan tidak akan berpengaruh padanya. Kalau pun angin pergaulan begitu kerasnya, batang pohon dengan akar yang kuat hanya bergoyang. Tidak sampai terjungkal apalagi sampai tercabut akarnya.

Menjadi Positif Dimulai dari Rumah

Bertiga

Saya model ibu dan istri yang sering sekali meluruskan kalimat suami dan anak-anak, ketika itu arahnya menuduh bukan bertanya. Menuduh dan bertanya jelas berbeda.
Dalam suatu kasus ketika suami yang mencari lem tidak ketemu juga, suami berkata,”Siapa yang mengambil les di atas lemari?” Kalimat itu untuk saya bukan kalimat bertanya yang baik, itu lebih mirip kalimat tuduhan.

Maka saya akan bilang kalimat yang seharusnya adalah ,”Ada gak ya yang lihat lem yang ditaruh di atas lemari?”. Dengan model pertanyaan seperti itu, maka setiap mulut akan menjawab dengan enak karena merasa tidak dituduh. Sedang pertanyaan pertama akan berlanjut pada jawaban seperti,” Bukan aku,” dengan wajah masam.

Anak-anak memang diarahkan untuk menjadi positif dari rumah. Itu artinya saya harus bekerja keras mengganti kalimat negatif dengan positif. Mengajarkan pada anak-anak bahwa seberapa negatif pun teman kalian, kalian harus berada di garda terdepan untuk menjadi positif.

Menjadi positif itu jelas susah. Di zaman sosial media dimana setiap orang berlomba mengeluarkan argumennya sesuai dengan standar hidupnya, maka hal-hal yang mereka lihat diluar jangkauan standar pemikiran dan pengalamannya akan dijadikan ajang, untuk diberi komentar sinis bagi orang yang terbiasa sinis. Untuk yang mau belajar tentu mereka akan menahan diri dan menjadikan itu sebagai ajang belajar.

Di social media kebaikan sebesar apapun yang kita lakukan akan dipahami sebagai ada udang di balik batu. Tanpa pernah memahami apa yang pernah kita lakukan dalam dunia nyata. Dan tentu saja, saya tidak mau anak-anak menjadi pribadi yang negatif. Di Al Quran panduannya jelas. Bahwa sebagian dari prasangka adalah berdosa!

Menjadi positif di rumah tantangannya adalah ketika anak akhirnya berbaur ke luar. Karena itu saya bilang pada keponakan yang tinggal di pesantren, kalau tantangan untuk ia hidup adalah ketika keluar dari pesantren. Bisa tidak dia tetap berpegang pada prinsip di pesantren dan jadi arah yang baik untuk komunitasnya.

Kembali ke rumah, Attar punya teman baik. Teman baik yang sebenarnya karakternya bertolak belakang karena orangtuanya berasal dari Sumatera. Tapi entah kenapa orangtuanya selalu ingin anaknya dekat dengan Attar. Di SD mereka selalu sekelas dan selalu berlomba mendapatkan tempat yang terbaik paling tidak dalam jajaran 10 atau 5 besar.
Yang menjadi masalah untuk saya bukan prestasi itu, tapi lebih penting dari itu.

Teman baik Attar ini memiliki orangtua yang sikapnya bertolak belakang dengan saya. Ia juga sering curhat tentang anaknya. Dan meski jalannya pelan, tapi sedikit banyak masukan saya diterima olehnya. Ketika akan masuk SMP, saya pilihkan Attar SMP yang menurut saya baik untuk akhlak Attar. Teman baiknya memilih sekolah lain. Tapi ketika proses pendaftaran dimulai, ternyata orangtua anak itu pindah arah. Mereka bilang ikut pilihan saya, karena yakin yang terbaik.

Seorang anak akan mengikuti teladan orangtuanya. Jujur saya takut itu. Karena itu sering-sering saya katakan pada Attar untuk mempengaruhi teman baiknya itu, jangan ia yang terpengaruh temannya.
Apa yang Ibu ajarkan maka tiru dan sebarkan pada teman yang lain. Itu artinya, dia tidak boleh bicara yang kasar karena ibu tidak kasar. Attar harus berpikir positif dan harus menjadi contoh untuk teman yang lain, karena Attar anak Ibu bukan anak orang lain. Suatu saat Ibu yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Prosesnya panjang, saya sadari itu. Bukan setahun dua tahun tapi lebih. Tapi, saya sudah berjanji dan bertekad bahwa sepanjang apapun proses itu bahkan bila itu memakan puluhan tahun, demi generasi yang lebih baik dan melihat dunia dengan kaca mata positif, maka itu tidak masalah untuk saya.

Menjadi positif untuk saya panduannya jelas. Rasul tercinta Muhammad saw selalu berprasangka positif bahkan kepada orang yang menzaliminya sekalipun. Maka tentu saja saya wajib mengikuti panutan saya.

Jadi sekarang di rumah ketika ada kalimat negatif yang keluar, maka saya mulai mendengar suara teriakan saling bersahutan…”Negatif…., itu negatif!”
Anak-anak mulai paham dan itu artinya apa yang saya contohkan tidak sia-sia.

Agar Anak Cinta Menulis

kunyil belajar

Menulis, dan mengajarkannya bukan sesuatu yang mudah. Semakin tidak mudah, jika yang kita ajari tidak paham dunia itu. Seperti anak-anak tetangga yang orangtuanya pegawai di sebuah instansi, jarang sekali yang paham pekerjaan penulis. Bahkan banyak juga yang tidak paham manfaat menulis itu untuk apa?

Untuk mengajarkan menulis pada anak, yang harus diingat adalah bahwa anak-anak tidak bisa langsung cinta menulis. Sama seperti mereka cinta membaca.
Untuk proses membaca, saya biasakan membacakan buku sejak mereka di dalam kandungan. Ketika mereka lahir, saya membiasakan membacakan buku juga. Mendongeng bahkan membacakan buku hingga mereka mulai protes tidak ingin lagi dibacakan kecuali sesekali saja.
Prosesnya panjang. Ada aturan yang harus ditaati.
Ingin melihat televisi, harus membaca Al Quran terlebih dahulu. Ingin bermain game di komputer, mereka harus membaca beberapa halaman buku bacaan mereka dan setelah itu mereka menulis di blog mereka.
Untuk proses menulis agak lebih sulit ketimbang kebiasaan membaca.
Awalnya mereka menulis di buku harian yang masing-masing saya belikan satu buku harian. Si Sulung banyak mengisinya dengan gambar, si Bungsu banyak mengisinya dengan pengalaman sehari-hari. Meningkat menulis untuk blog, karena saya ingin mereka memiliki sensasi lain. Melihat tulisan mereka dengan warna dan gambar pasti seru dan serasa tulisan itu sudah hadir di media.

kunyil udah gede

Menulis di blog ini juga menjadi ajang bagaimana mereka terbiasa menulis. Anak-anak tidak langsung bisa. Saya memandu bagaimana memasukkan gambar dan bagaimana mempublish tulisan yang baru mereka buat. Tapi, anak-anak menulis di blog ini seperti menulis di buku harian. Jadi mereka masih malu bila blog itu dibaca orang lain.
Menulis di blog, mengirim tulisan mereka ke media atau lomba, semata-mata bukan untuk membuat mereka menjadi penulis. Selain ingin tahu bisa tidak saya mengajar untuk mereka, seberapa efektif metode pengajaran saya untuk mereka dan berapa persen sih bakat saya menurun pada mereka?
Bapak saya bilang, kalau saya menulis karena bakat leluhur. Tapi kalau anak-anak karena pengajaran dari saya.

Namanya anak-anak, mereka juga harus nyaman dalam melakukan sesuatu, termasuk menulis.
Saya berusaha membuat anak-anak nyaman dalam menulis. Jadi jika saya sedang bekerja di depan komputer, lalu mereka bilang ingin menulis, maka itu artinya saya harus berhenti dan gantian dengan mereka. Ketika mereka ingin belajar mengetik 10 jari, saya harus siap memandunya.

Untuk si sulung yang lebih mahir menggambar, saya sering lemparkan ide. Alasannya karena dia suka bingung tentang ide yang akan ditulisnya, jadi harus diberi pancingan dulu. Misalnya musim bola ini dan melihat antusiasnya dia terhadap bola, akhirnya tadi saya bilang padanya. “Kamu coba menulis tentang kemenangan Jerman.”
Untuk si Bungsu yang mungkin karena perempuan, lebih mandiri juga lebih cepat matang ketimbang laki-laki malah lebih mudah. Kalau sudah di depan komputer dia akan bilang begini, “Ibu jangan ajarin aku dong. Aku udah bisa nulis sendiri.” Jadi tidak perlu ada lemparan ide dari saya, dia bisa cari ide sendiri.

Saya percaya satu titik bisa membuat garis dan satu garis bisa membuat gambar, demikian juga dalam pelajaran menulis.
Memulai mengajari hari ini, di tahun-tahun ke depan akan lebih mudah mereka melakukannya.
Dan jika diajarkan terus-menerus, maka semua akan masuk ke otak dan menjadi sesuatu yang otomatis untuk mereka. Mungkin sama seperti saya duduk di depan komputer, bisa langsung menjadi satu atau dua tulisan yang siap kirim ke media.
Alangkah indahnya jika apapun profesi mereka nanti, mereka bisa mencurahkan pengalamannya lewat bentuk tulisan. Dan orang lain saat membacanya mendapatkan pelajaran berharga juga ilmu.

Anak-anak Menang Lomba Menulis

Attar menang

Bilqis Menang

Salah satu hal yang selalu tekankan pada anak-anak adalah untuk berlatih menulis dan berjuang dengan cara tidak instant.
Tidak instant dalam versi saya adalah anak-anak tidak langsung menghasilkan sebuah buku. Tapi berproses membuat karya dan menembus media.
Berjuang untuk menembus media tentu saja tidak mudah. 32 tahun saya mengalaminya. Perlu kegigihan dan semangat ekstra untuk itu. Apalagi honor dari tulisan yang dimuat di media bisa digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan.

Anak-anak di rumah berjuang menulis dan menggambar lalu semua hasil karya mereka saya kirimkan lewat pos.
Attar sudah 15 kali karyanya tembus di media.
Bilqis adiknya 4 kali.
Masalah hitungan angka dimuat itu juga masalah keberuntungan. Atau bisa jadi masalah Attar sudah paham betul karya seperti apa yang dimuat di media. Ia sudah tahu tema yang diinginkan media. Jadi ketika ada moment seperti Ramadhan ia akan menggambar atau membuat tulisan dengan ide moment tersebut.
Bilqis berjuang terus menerus. Kalah bersaing dengan kakaknya. Hampir putus asa. Tapi saya ingatkan untuk terus berjuang.
Alhamdulillah Ramadhan hari kedua, Bilqis menjadi salah satu pemenang lomba “Aku dan Musikku” di penerbit Mizan.
Sebelumnya Attar menang lomba “Aku dan Lingkungan” di penerbit yang sama.

Untuk saya prestasi bukan artinya berhenti. Anak-anak saya buatkan blog. Dan belakangan ini Bilqis senang sekalli mengisi blognya. Dia merasa blog itu seperti buku harian untuknya.
Untuk Attar yang sudah beranjak remaja dan rasa sok tahunya mulai meningkat, saya tetap juga meminta ia menulis di blog. Kesukaannya bermain bola dan melihat pertandingan bola bahkan hapal bagaimana sebuah permainan itu berlangsung, saya mulai memintanya untuk menulis artikel tentang bola.
Semuanya itu bukan berarti membuat mereka harus menjadi penulis.
Paling tidak mereka suka menulis lalu membagikan semua ilmu mereka dalam bentuk tulisan sehingga ilmu mereka akan bertambah.

Prestasi bukan berarti berhenti. Ini hanya anak tangga yang harus mereka lalui dalam hidup supaya mereka sadar, mereka punya potensi yang bisa dibanggakan dan berguna untuk diri mereka sendiri juga orang lain.

Memecah Kepribadian

lagi lagi

Memiliki dua kepribadian seperti halnya Mr Jekyl dan Mr Hyde tentunya menjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Apalagi bila kepribadian itu terpecah hingga lebih dari dua hingga 16 seperti halnya kisah Sybil yang cukup fenomenal.
Cerita tentang pecah kepribadian itu tentunya menjadi sesuatu yang unik. Dan sesuatu yang unik itu tentu saja menarik untuk dicoba.
Lalu untuk apa percobaan memecah kepribadian seperti itu?
Suatu hari, ketika saya merasa anak-anak mulai monoton dengan pelajaran Bahasa Inggris yang saya ajarkan, tiba-tiba ingin melakukan hal yang aneh dengan mencoba menjadi pribadi lain itu muncul begitu saja.
“I am Norah…,” kata saya. Tanpa buku pelajaran. Tanpa mereka sadar saya sedang menyiapkan mereka belajar.
“Norah likes ice cream. My Ma and Pa from England.”
Awal mulanya anak-anak tertawa. Lalu berkata “Ibu aneh.”
Saya terus bicara dengan intonasi suara yang berbeda. Juga gerak tubuh yang berbeda akhirnya mereka saling pandang dan mulai bertanya. Dalam bahasa sehari-hari.
“Sorry. Norah from England. Norah only speak English.”
Anak-anak melotot. Mereka rupanya mulai sadar sedang dijebak dalam sebuah metode belajar yang baru.
“Speak English with Norah,” saya memperjelas.
Tentu saja ini adalah permainan kreatif. Menjadi pribadi yang lain itu artinya saya bertingkah laku berbeda. Saya melakukan sesuatu yang mungkin saja terlihat konyol. Saya menari, saya berjoged. Dan di tengah-tengah yang saya lakukan saya tetap berbicara dalam Bahasa Inggris.
Lalu pelototan anak-anak berubah menjadi senyum.
“Ibu not Norah,” kata Bilqis yang bungsu.
“You are a liar,” kata Attar. “You Ibu.”
“No. I am Norah. Norah from England. My Pa and my Ma from England too.”

Menjadi Norah yang berbahasa Inggris bukan berarti anak-anak lantas harus bicara dengan Bahasa Inggris yang benar. Justru niat saya adalah mereka berani mengungkapkan apa yang mereka tahu yang selama ini mereka simpan saja dalam otak menjadi sebuah percakapan aktif.
“What is itch?” tanya Bilqis. Ketika saya mengingatkan tentang kata itu,
“Itch means when the mosquito bite you, you want to scratch,” saya memeragakan ketika menggaruk tangan dengan semangat. Juga membuka mulut saya lebar-lebar untuk mengenalkan kata menggigit (bite) Ketika menyebut mosquito tangan saya bergerak seperti sayap.
“Garuk-garuk?”
“No. Itch means…”
Attar dan Bilqis saling berpandangan.
“Gatal…,” akhirnya mereka berdua menjawab berbarengan.
Saya bertepuk tangan.
Lalu kami mulai bermain tebakan dalam Bahasa Inggris. Dari mulai tebak kata hingga tebak arti kalimat yang saya ucapkan hingga waktu pun tidak terasa sudah dua jam.
“Norah, I am tired,” ujar Bilqis.
“Norah, I want to watch television.” Attar mulai bicara.
Saya tersenyum.
Ada banyak jalan yang harus ditempuh untuk membuat anak merasa nyaman belajar. Meskipun semenjak permainan memecah kepribadian itu, anak-anak suka bertanya. “Ini lagi jadi Ibu apa jadi Norah?”

**