Mengenalkan Rasa Kecewa Pada Anak

Saya tidak suka kecewa. Ada rasa yang sukar dijelaskan ketika merasakan kekecewaan. Entah itu kecewa karena kegagalan atau kecewa karena perlakuan orang lain, yang di luar prediksi kita.
Tapi efek dari kecewa itu luar biasa ketika diarahkan pada satu hal positif. Kecewa akan membuat kita paham, bahwa dalam dunia ini, ada hal yang menyenangkan dan ada hal yang tidak menyenangkan. Dan memahami keduanya membuat hidup kita menjadi lebih berwarna.

Kalau yang dewasa tidak suka kecewa, bagaimana dengan anak-anak? Bolehkah anak-anak yang lugu memahami kecewa?
Tentunya kecewa yang bisa kita ajarkan pada anak-anak, bukanlah kecewa yang terlalu berlebihan. Tapi paling tidak mereka jadi paham, kenapa mereka tidak boleh melakukan hal itu?
“Kenapa aku harus sarapan? Aku maunya jajan?” tanya anak bungsu saya ketika saya memintanya untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.
“Kenapa aku tidak beli baju robot yang lagi musim?” tanya sulung saya suatu waktu.

Ketika tidak semua harapan mereka dipenuhi orangtua, maka disitulah mereka mulai belajar memahami sebuah rasa bernama kecewa. Mereka akan belajar dan paham, atau malah membenci orangtuanya?

Ada beberapa tips agar mereka paham bahwa kecewa ini adalah kecewa yang baik.

1. Perkenalkan Rasa Kecewa Sejak Dini

Kecewa seperti apa yang kita ajarkan?
Rentang usia 0-5 tahun, anak-anak sedang belajar memahami makna disiplin. Dan memahami juga bagaimana karakter orangtua menghadapi mereka.
Ada anak di rentang usia itu, ketika meminta barang atau makanan dari orangtuanya, sampai berguling-guling di lantai. Karena apa? Karena orangtua tidak berani menolak permintaan mereka dengan alasan kasihan, masih kecil.

Anak-anak meminta baju yang seperti dipakai temannya itu biasa. Tapi kita berhak menolak ketika anak kita juga meminta membeli sepatu, tas seperti yang dipakai temannya pada saat itu juga.
Kekecewaan kecil itu tentunya menjadi bahan pembelajaran untuk mereka dan untuk kita sebagai orangtua tidak terlalu sulit untuk melakukannya.
Semakin besar semakin banyak yang akan anak lakukan dan semakin rumit pula permintaan mereka. Tapi ketika mereka sudah paham bahwa kita adalah orangtua yang tidak mudah dimanipulasi oleh tangis mereka, maka segalanya akan menjadi lebih mudah.

2. Biarkan Kecewa Untuk Disiplin

. Pada usia yang sering disebut tahap Golden Age, semua yang dilihat dan dirasakan anak menjadi bahan pembelajaran untuk mereka olah.
Ketika mereka sadar mereka disayang maka mereka akan menguji rasa sayang orangtua dengan merengek.
Anak-anak sedang belajar untuk disiplin. Dan uniknya cara mereka belajar disiplin itu, sebenarnya dengan menguji kita sebagai orangtua untuk bertindak tegas pada mereka.
Mereka akan merengek untuk setiap barang yang mereka ingin beli. Seringnya rengekan yang diberi anggukan kepala tanda setuju itu, akan semakin tinggi intensitasnya. Sehingga semakin lama semakin sulit untuk kita menolaknya.
Anak yang terbiasa dibiarkan membeli mainan yang ia tunjuk setiap saat pedagang mainan datang, tidak mungkin berhenti menunjuk bila orangtua tidak pernah menggeleng untuk menolak. Bahkan banyak diantara mereka pada akhirnya berguling di jalan agar permintaannya dituruti. Dan pada akhirnya karena tidak ingin malu pada banyak orang, orangtua pun menuruti.
Jadi menolak dan mengajarkan kecewa pada anak sesungguhnya bukan lagi masalah kecil. Ini akan jadi pembentukan karakter pada anak.

.3 Bukan Larangan Tapi Penjelasa

Banyak orangtua anak Balita yang mengatakan jangan begini jangan begitu. Tidak yang ini dan tidak yang itu.
Tapi anak-anak balita kembali mengulang dan mengulang lagi. Lalu apa yang salah?
Ternyata penerapan yang harusnya dilakukan akan lebih sederhana,bila dilakukan bukan dengan larangan. Tapi dengan penjelasan.
Kenapa ketika ada tukang mainan lewat anak kita tidak bisa menunjuk dan membeli setiap mainan yang ada seperti temannya?
Jelaskan pada saat kita duduk memangku anak lewat cerita. Bahwa uang yang bisa dipakai untuk membeli mainan yang tidak dipakai itu bisa untuk membeli susu atau buku cerita atau untuk jalan-jalan.
Ketika anak lupa dan meminta mainan lagi, kita bisa menggendongnya dan mengajaknya pergi. Dalam beberapa menit anak pasti sudah lupa dengan mainan itu.

4. Koordinasi Yang Baik Dengan Pasangan

Mengajarkan kecewa pada anak sebagai bagian dari satu hal yang membuat mereka maju tidak bisa sendirian.
Kita dan pasangan harus sama-sama bekerja untuk melakukan hal itu. Sebab ketimpangan kecil justru akan terlihat oleh anak dan sisi itu akan dimanfaat kan oleh si anak.
Ayah yang biasa pergi pagi pulang malam biasanya selalu berada pada posisi tidak enak menolak permintaan anak perempuannya. Maka untuk setiap permintaan yang mereka minta, Ayah akan menuruti.
Alhasil, kerap disiplin yang sudah diterapkan Ibu di rumah menjadi mentah kembali.
Agar hal seperti itu tidak terjadi, maka wajib ada komunikasi yang baik antara Ayah dan Ibu di rumah. Mana aturan yang harus ditaati dan mana yang tidak. Mana aturan yang sedikit bisa dilonggarkan dan mana yang tidak.
Ketika tahu bahwa untuk setiap jajanan yang dibeli di luar berupa snack akan membuat anak menjadi demam, maka tidak boleh ada yang melanggarnya.
Ketika anak membuang mainan yang baru dibelinya dengan alasan mainan itu jelek padahal sebelumnya ia menangis memintanya, maka Ayah dan Ibu tidak boleh ada yang membela si anak. Biarkan anak menangis. Pada saatnya ia akan letih sendiri dan pada saatnya ia akan paham bahwa tangisannya tidak bermanfaat dan tidak bisa membuat Ayah dan Ibu menuruti apa maunya.

Setiap anak adalah pribadi yang unik. Pelajaran tentang kecewa akan membuat pribadi yang unik ini menjadi pribadi yang paham bagaimana mengelola kekecewaannya menjadi suatu yang positif di masa depan.

Menabung di Langit

Ada berapa banyak tabungan kita?
Saya punya buku tabungan. Dua anak-anak punya tabungan juga.
Tabungan anak-anak saya proyeksikan untuk tabungan pendidikan. Uang dari honor hasil karya mereka saya masukkan ke tabungan. Alhamdulillah, kemarin ketika Bungsu harus membayar uang pangkal SMPIT, dana itu yang saya pakai.

Tabungan saya berapa jumlahnya?
Saya bukan tipikal orang yang berani bermimpi untuk punya tabungan bermilyar-milyar. Muslim memang harus kaya. Tapiii, kekayaan itu dipakai untuk memberdayakan umat.
Kenapa tidak bermimpi kaya? Karena orang kaya di akhirat kelak dihisab belakangan. Yang tidak memiliki harta dihisb 500 tahun lebih dahulu.

“Tabunganku sudah berapa, Bu?” tanya anak-anak yang merasa senang sudah punya ATM sendiri.
“Hore…, aku bisa pakai ATM,” kata Sulung.
Saya senang mereka senang dengan hasil kerja keras mereka.
Kotak celengan di lemari, kotak kencleng wajib dari sekolah untuk subsidi silang di sekolah mereka, saya tunjuk.
“Sudah berapa banyak menabung di langit?”
Anak-anak cemberut.

Menabung di langit, memang saya selalu bilang seperti itu.
“Ibu motornya jelek.”
“Biar jelek, yang penting tabungan di langit Ibu sudah banyak,” ujar saya. “Motor jelek itu sering kepakai untuk antar orang lain. Dari teman kamu, tetangga yang butuh dan banyak lagi. Tabungan pahala Ibu jadi banyak, kan?”

Menabung di langit harus datang dari kesadaran. Untuk menjadi sadar harus melewati proses memberi contoh alias teladan. Setelah itu proses pembiasaan. Setelah pembiasaan yang hadir adalah kebutuhan.
Menabung di langit tentu juga diarahkan untuk manfaat ke depannya.
“Kalau uang kamu dipakai untuk membantu orang yang kelaparan, maka makanan yang dibelinya dan mengalir di darahnya, kamu dapat pahalanya.”
“Kalau kamu bersedekah dan kasih buku atau majalah ke orang, kalau orang itu pintar karena baca buku yang kamu kasih, terus dibagi lagi ilmunya ke orang, maka kamu akan dapat pahalanya.”
Anak-anak mengangguk.

Beri penghargaan ketika mereka melakukan kebaikan. Jangan hanya bicara soal dosa, dosa dan dosa.
“Kenapa tadi tidak sedekah?”
“Uangnya aku pakai buat beli pensil, Bu..”
Penjelasan mereka sudah menandakan bahwa mereka jujur. Kalau mereka sudah dicontohkan, dipahami, maka kelak akan ada suatu masa mereka pulang dengan tersenyum.
“Bu…, uang jajanku tadi aku masukin kotak amal.”
“Bu…., habis gimana? Aku tadi gak mungkin jajanlah. Ada temanku yang sakit terus aku kasih sumbangan.”
Pemberitahuan itu hanya untuk memberitahu, bukan untuk meminta ganti rugi.

Menabung di langit juga bukan berarti kita berhak berharap rezeki kita bertambah berlipat ganda. Menyisihkan rezeki kita itu tujuannya agar Allah sayang. Kalau Allah sudah sayang, maka segalanya akan mudah untuk kita.

“Bu.., aku mau nyumbang untuk pembangunan pesantren..”
Jujur, kalimat seperti itu lebih membuat saya terharu, ketimbang mereka membanggakan prestasi mereka.

Mendampingi Anak Berkarya

Buku?
Menghasilkan mudah dilakukan pada zaman sekarang ini. Mau model buku seperti apa? Tulis dan kirim ke penerbit indie. Asal ada biayanya, buku karya kita bisa kita dapatkan.
Karena sudah bergelut lama di dalam dunia menulis, maka saya paham seluk beluk bagaimana menerbitkan buku. Tapiiii, tidak akan saya mudahkan jalan anak-anak untuk menghasilkan buku.
Mereka harus tahu, semua ada prosesnya. Mereka harus paham, bahwa proses itu panjang dan berliku. Dan siapa yang sabar, dia yang akan mendapatkan hasilnya.

gambar-anak-anak.jpg

Panjaaaang sekali jalan mereka untuk berkarya. Saya memang mengajak mereka berjalan berbelok dan berliku. Tujuannya agar mereka paham makna dari kerja keras. Tapi mereka harus tahu ujung dari proses itu. Misalnya, kalau aku menulis terus tulisanku bagus, Ibu akan kirim tulisanku ke majalah. Tulisanku bisa dibaca orang dan aku bisa dapat uang juga dari tulisan itu.
Karena mereka tahu pekerjaan saya penulis, maka mereka juga paham bahwa ketika karya mereka sudah muncul, itu artinya mereka tidak boleh berhenti. Sebab, itu artinya mereka baru sampai di satu titik dari sekian banyak titik pencapaian yang bisa mereka raih.

Jalan berkelok dan berliku itu adalah mengajak mereka untuk terus berkarya. Saya terus kirimkan karya mereka ke media atau ke penerbit.
“Bu, aku mau punya buku,” begitu yang Bungsu bilang.
Setelah cukup lama mengirim karya-karya mereka ke media, akhirnya satu persatu karya mereka dimuat di media seperti Kompas dan Bobo.
Bukan cuma satu dua, tapi ada beberapa. Blog Bungsu malah aktif, karena memang saya sarankan untuk terus diisi.
Blog Sulung juga, meski sebagai lelaki dia agak malas menulis di blog. Mungkin takut perasaanya terungkap semua.

“Buuu, kapan bukuku terbit?” tanyanya lagi.
Waktu itu Pak Pos mengirimkan buku antologi Sulung. Kebetulan Sulung terpilih menjadi salah satu pememang lomba cerpen bertema lingkungan. Selain honor, naskahnya dibukukan bersama pemenang lainnya.
Bungsu berkali-kali ikut lomba. Kalah. Sampai akhirnya suatu saat, setelah hampir putus asa, dan belajar terus menulis, Bungsu bisa memenangkan lomba menulis juga.
Tapi, bukunya belum juga terbit. Setahun lebih. Sampai akhirnya dia ada di titik jenuh menunggu. Justru ketika sampai di titik itu, kejutan datang. Sebuah buku antologi dia bersama para penulis lainnya.

Buku Bilqis

Terus gantungkan harapan. Terus berimpi. Terus yakin, itu yang saya katakan. Naik turun semangat itu biasa. Yang penting saya terus mendampingi. Setelah dia bergabung dan terpilih sebagai delegasi dari Bekasi di Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015, yang diadakan Kemendikbud bekerjasama dengan penerbit Mizan, maka Bungsu bertemu dengan anak-anak seusianya yang punya passion yang sama, menulis. Dan itu artinya dia melihat dunia lain. Bukan hanya melihat menulis sebagai kegiatan ibunya.
Dari situ mimpinya mengerucut.
“Buu, aku pingin punya buku karya sendiri. Cuma ada namaku di situ.”
“Berdoa terus. Pasti nanti Allah kasih jalan.”

Alhamdulillah doanya dikabulkan. Editor memesan tulisan Bungsu untuk dijadikan buku. Bungsu menyanggupi dan mulai bekerja.
Satu buku ini yang dikerjakan setiap pulang sekolah, menulis setiap hari delapan halaman, akhirnya hadir juga. Bungsu melonjak kesenangan.
Semua ide di buku ini murni idenya Bungsu. Tidak ada interupsi. Dia sudah saya biasakan menulis sejak kecil, jadi tidak membutuhkan ide dari saya.

Proses yang mereka jalani masih panjang. Yang saya tahu tugas saya fokus untuk terus mendampingi.

IMG-20160411-WA0000

Memahami ABG Lebih Dalam

Memiliki anak abege seperti naik roller coster. Sering membuat jantung copot. Sering tangan harus diletakkan di dada sambil istighfar. Yang salah siapa? Orangtua yang merasa anak masih kecil saja? Atau anak yang merasa sudah besar dan tidak mau diatur lagi?

Ada banyak konsep pendidikan untuk anak baru besar ini. Menjadi teman seperti yang Ali bin Abi Thalib katakan untuk anak usia 14-21. Ajarkan disiplin untuk usia 7-14 tahun.
Tapi dipahami dengan berbagai macam konsep pun akan semakin sulit, jika kita hanya membuka wawasan keilmuan lebar-lebar tanpa membuka wawasan hati.

“Ibu kenapa, sih, tanya-tanya? Ibu kepo, deh.”
Atau
“Terserah aku, dong, aku maunya gimana? Ibu mau tahu aja urusan aku sama temanku.”

Anak-anak abege kita sudah merasa besar. Punya teman bermain yang mengajarkan hal baru, dan mungkin hal baru itu jadi keasyikan anak-anak.
Sulung saya remaja usia 14 tahun. Peraturan di rumah adalah tidak akan diberikan motor sampai cukup umur. Kalaupun terpaksa memakai motor, maka gunakan motor milik Ibu, motor lama alias jadul yang selalu jadi bahan tertawaan teman-temannya bukan motor matic. Karena apa? Karena motor matic terlalu mudah digunakan sehingga kontrolnya jadi berkurang, Tidak perlu merubah gigi
Lama kelamaan abege protes.
Dia sudah bisa naik motor. Pernah suami lihat, dia naik motor temannya.
Maka ketika suatu saat dia minta izin pergi dengan motor yang ada di rumah, saya mengangguk. Syaratnya, harus lewat jalan kampung, bukan jalan raya. Karena jalan raya belum jadi hak dia sebelum mendapat SIM. Pertsetujuan dibuat. Tidak lewat jalan raya. Pulang dengan aman.

Lalu naik motor itu membuat abege ketagihan.
Pada suatu hari, setelah lelah paginya olahraga lari, istirahat sebentar ada lagi yang menghampiri. Diajak bertanding futsal. Pinjam motor lagi. Diijinkan dengan setengah hati, karena kelihatan wajahnya lelah.
Pulangnya aman. Sampai membuka pagar ia kehilangan kontrol dan harusnya mengerem malah memutar gas. Kelemahan motor matic memang seperti itu, jika dalam keadaan panik. Maka motor naik menerjang kolam ikan.

Setelah itu?
Setelah itu abege akhirnya bisa diajak bicara. Tentang emosi dan kontrol. Tentang kenapa saya melarang ia naik sepeda motor.
Alasannya jelas dan ia pun bisa memahami.

Memahami abege untuk saya sebenarnya mengajak kembali ke belakang. Memahami kenapa anak melakukan hal itu. Bagaimana perasaannya? Apakah dulu saya juga pernah melakukan hal seperti itu?
Menarik diri ke belakang membuat kita sebagai orangtua jadi paham, bahwa kita pernah berada pada posisi yang sama, pada zaman yang berbeda. Tapi kondisinya sama. Abege selalu merasa sudah cukup dewasa untuk tidak diikutcampuri urusannya.

Pilihkan lingkungan yang baik untuknya. Kenali bukan hanya teman-temannya, tapi juga orangtua teman-temannya. Sehingga jika ada masalah, paham bagaimana harus mencari akar permasalahan itu.

“Ibu percaya kamu pasti pilih teman-teman yang baik.”
Sulung mengangguk.
“Kalau ke rumah teman, usahakan kamu numpang shalat di rumahnya, yaa. Meskipun cuma kamu yang shalat.”
Bungsu memahami.

Saya sebagai orangtua harus mengerucutkan masalah sehingga hanya fokus pada apa yang penting. Misalnya yang penting untuk saya anak-anak terjaga shalatnya. Atau anak-anak terasah empatinya. Dan mereka mau mengajak teman ke rumah. Itu artinya mereka nyaman dengan orangtunya. Itu artinya mereka yakin, orangtua tidak menghakimi teman-temannya.
Dan yang paling penting itu artinya mereka masih percaya pada kita sebagai orangtua.

“Iiih…, banyak aturan.”
Itu salah satu masalah.
Ah, abege akan terus berproses. Tapi yang terpenting tentu saja, saya sebagai orangtua juga harus terus mau berproses. Buka mata hati lebar-lebar. Agar mereka semakin mendekat bukan malah menjauh.

Mengajarkan Anak untuk Fokus

Kemarin Bungsu saya senang. Akhirnya namanya tercantum di antara 50 anak yang lulus tes sekolah pilihan. Sekolah dengan persaingan cukup ketat, yang hanya membuka satu gelombang pendaftaran saja.
“Tuh, kan. Aku yakin aku bisa,” begitu katanya.

Kepercayaan dirinya sudah tumbuh. Sebelumnya?
Sebelumnya dia tidak percaya diri. Maklum sekolahnya hanya di sekolah negeri yang sering disebut kampung. Sekolah yang kelasnya diisi 53 murid, yang kalau hujan banjir. Bungsu berada di kelas C, kelas yang muridnya dianggap tidak pintar alias bodoh.
“Bu…, sainganku banyak, lho. Kenapa bukan di sekolah yang tesnya gampang, Bu?”

Saingannya banyak.
Memang iya.
Tapi saya ingin melatih anak percaya diri dan fokus. Artinya, tujuan dipegang, lalu mulai belajar untuk mengejar ke tujuan itu. Dan jangan dengar apa kata orang lain yang mematahkan semangat itu.

Sederhana saja pikiran saya, seperti olah raga yang diajarkan Rasulullah, yaitu ; memanah, berkuda dan berenang. Semuanya memiliki pesan dalam, bukan sekedar hanya bersenang-senang dalam olah raga.
Berenang mengajarkan kita untuk mampu mengendalikan lingkungan. Dengan berbagai cara ketika kita masuk kolam renang, kita harus berjuang untuk bisa mengendalikan air yang menjadi lingkungan kita.
Berkuda untuk mengendalikan orang lain. Kuda makhluk bernyawa, lebih susah dikendalikan ketimbang air. Karena itu kekuatan empati, kekuatan komunikasi menjadi sangat penting dilakukan. Anak-anak yang punya empati besar sehingga membuat makhluk seperti binatang menurut padanya, tentunya akan lebih mudah lagi jika berkomunikasi dengan sesama manusia.
Sedang memanah?
Memanah mengajarkan fokus. Ke satu target, satu tujuan. Biasa melatih fokus ke satu titik yang akan dituju, akan membuat anak-anak jadi terlatih untuk tidak melirik ke kanan dan ke kiri, apalagi menoleh ke belakang.

Tujuan saya jelas, sekolah yang akan dituju. Suami setuju, Bungsu juga akhirnya setuju.
Itu artinya saya perlu mengajarkan Bungsu untuk fokus pada sekolah itu. Caranya dengan mengajak Bungsu ke sana. Melihat dan mengenali aktivitas yang ada di sekolah itu. Kebetulan Sulung sudah sekolah di sana, sehingga Bungsu paham kenapa saya pilihkan sekolah itu.

“Jadi kamu Ibu buatkan soal, kerjakan, ya…”
Beberapa minggu sebelum tes memang saya buatkan soal-soal dari mata pelajaran yang akan diujikan.
“Kamu, Ibu, Ayah sama kakak kamu harus berdoa yang sama. Biar Allah menjawab doa kita semua. Kan yang berdoa banyak.”
Kalimat itu juga saya katakan pada Sulung. Maklum Sulung tadinya menolak adiknya bersekolah di tempat yang sama. Padahal kelas dan lorong antara murid laki-laki dan perempuan terpisah, jadi tidak mudah berinteraksi.
“Tambah shalat kamu. Tahajud.”
Bungsu mengangguk.

Memilih satu pilihan lalu fokus itu susah. Banyak tantangannya. Seperti pertanyaan ibu-ibu yang lain.
“Kenapa tidak ambil formulir di sekolah lain?”
Saya menggeleng.
Saya cocok dengan sistem di sekolah yang saya tuju. Visi misi saya dalam mendidik anak klik dengan sekolah itu. Guru-gurunya pun komunikasi lancar. Dan yang terpenting, terlarang di sekolah itu guru menerima hadiah dari orangtua murid. Kalau pun orangtua murid mau memberi, maka hadiah itu harus diserahkan kepada komite sekolah. Jadi komite nanti yang akan membagi hadiah itu.
“Gimana kalau tidak diterima?”
Saya tidak tahu. Yang saya tahu, setelah usaha saya dan usaha Bungsu, saya yakin jika ada sesuatu yang buruk, itu takdir namanya.
Kepada Bungsu saya juga jelaskan makna takdir baik dan takdir buruk. Saya katakan jika tidak diterima itu artinya kamu mendapatkan takdir buruk. Dan itu artinya, kita akan cari sekolah lain. Siapa tahu sekolah itu memang lebih tepat untuk kamu.

Akhirnya kemarin resah dan gelisah saya terjawab.
Nama Bungsu ada di bagian siswa yang lulus.
“Selamat, ya.”
Dia tersenyum.
Saya yakin, pelajaran untuk fokus pada tujuan, sudah dia genggam erat-erat.

Kakak Adik Bersaing itu…., Biasa

Attar Bilqis

Semakin banyak berita di televisi, kakak dan adik saling membunuh hanya karena cemburu.
Ada juga karena mereka melakukan lelucon yang kelewat batas.
Bahkan ada kakak adik saling jatuh cinta.

Hidup memang tidak boleh dibuat rumit. Jalani dengan keyakinan penuh kita ada di koridor yang benar.
Mengenai persaingan kakak adik, ada yang suka dibandingkan ada yang tidak.
Ada yang menganggap perbandingan itu sebagai tolak ukur mereka untuk maju, ada yang justru melempem dan merasa sakit hati.

Saya hanya memiliki dua anak. Itu artinya tentu kompetisi sesama saudara, tidak serumit yang saya alami dengan 8 bersaudara. Awalnya saya pikir begitu. Tapi ternyata hidup tidak berjalan seperti apa mau kita, akan tetapi apa maunya Allah.

Ketika saya bersiap untuk memberikan adik pada Sulung, saya ajak bincang-bincang dengan dia. Dari awal proses hamil dia mengikuti. Bahkan yang menemani saya ke dalam ruang pemeriksaan adalah Sulung. Dia yang bertanya pada dokter tentang adik di dalam perut Ibu.
Ketika saya di ruang bersalin, dia menunggu di luar bersama ayahnya. Mendengar suara saya mengeluarkan adiknya.
Lalu ketika adiknya lahir, setiap hadiah yang diberikan orang, saya selalu serahkan dahulu satu untuknya dan satu untuk adiknya. Dia yang akan memilih mana yang untuknya.
Ketika proses mengurus Bungsu, saya tanpa asisten rumah tangga. Maka saya ajak Sulung kerja sama, mulai dari menjaga adik sampai mengambilkan pakaian untuk adiknya.
Lancar prosesnya. Sebab mereka masih anak-anak.

Tapi ketika mulai besar maka tumbuh rasa lain. Cemburu namanya.
Si Bungsu sering melihat foto-foto Sulung berpergian ke sana-ke mari. Dia bertanya,” kok aku enggak diajak?”
Ketika ada foto bersamanya ketika bayi, ada pertanyaan lain. “Itu kan waktu aku bayi, aku jadi enggak ingat?”

Cemburu bisa melebar tanpa kendali. Tapi juga bisa dikontrol sepanjang orangtua bisa menjelaskan dengan baik.
Biasanya saya akan katakan untuk bersyukur dulu. Karena anak-anak lain seusianya belum pernah ke tempat-tempat seperti di foto. In syaa Allah jika ada rezeki lain, akan diajak juga.

Persaingan dalam pelajaran?
Dulu saya merasakan sekolah dalam satu sekolah bersama kakak-kakak dan adik-adik. Dan ternyata tidak enak. Karena orang selalu membandingkan.
Bahkan pernah kakak dan adik saya juara, sedang saya tidak memegang gelar juara satupun. Dan itu rasanya perih.

Karena itu saya tidak mau anak-anak merasakan hal yang sama.
Saya ingin mereka melejit dengan potensinya masing-masing.
Maka saya pisahkan mereka berdua sekolahnya. Sulung memang saya masukkan ke sekolah negeri favorit. Bungsu di sekolah negeri biasa. Alasan saya sederhana. Saya menyekolahkan anak agar mereka bisa banyak bersosialisasi. Waktu sekolahnya pendek karena di negeri. Dan itu artinya sumber utama pendidikan mereka adalah saya.
Saya pikir sepanjang saya adalah ibunya yang berjuang memberikan pendidikan untuk mereka, maka hasilnya pasti tidak akan berbeda jauh.

Alhamdulillah hasil mereka memang tidak berbeda jauh.
Kompetisi keahlian menggambar dan menulis saya ajarkan, saya arahkan.
Minat bakat lainnya saya pantau.
Saya cuma bilang, siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia yang akan berhasil. Maka jam belajar mereka tetap saya pantau.
Di rumah semua mengerjakan pekerjaan rumah. Cuci piring sama rata antara anak perempuan dan laki-laki. Buang sampah juga begitu.

Saya berikan tanggung jawab pada Sulung untuk menjaga adiknya. Dan saya minta Bungsu untuk menuruti apa yang kakaknya perintahkan, sepanjang itu baik.

“Kakak bertanggungjawab terhadap adiknya,” ujar saya suatu hari, ketika saya harus pergi seharian bersama suami.
“Bisa?”
Sulung mengangguk. Saya sediakan uang untuk dia membeli lauk makan malam. Dan saya minta Bungsu menuruti apa yang kakaknya katakan. Bungsu juga mengangguk.
Malam hari saya dan suami baru pulang.
Rumah sudah bersih.
Ada bungkus makanan di tempat sampah.
Ada dua anak yang tertidur di kamar dengan tenang.

Saya tahu ini baru proses awal. Dan tugas saya untuk terus belajar dan mendampingi.

Bullying Pada Anak? Intropeksi Jawabannya

Borobudur empat

Suatu hari, Sulung saya pulang dengan baju kotor. Dalam hitungan setengah jam, ia sudah pulang kembali ke rumah, dengan baju dan sarung kotor. Seperti biasa tidak ada pengakuan, siapa yang melakukannya. Sampai akhirnya saya berusaha untuk mencari tahu dengan bertanya pada teman-teman bermainnya yang lain. Dan saya dapati satu nama anak.
Solusinya apa?

Saya tidak mau mencak-mencak di orangtua anak itu. Karena ini peristiwa yang kesekian kalinya terjadi pada Sulung. Kesekian kalinya dia diperlakukan seperti itu oleh teman-temannya. Dari mulai dipukul, diambil pensilnya untuk dibuang sampai hal-hal lain, syukurlah bukan sesuatu yang berbahaya.
Ada yang salah pastinya dengan gaya pendidikan saya, sehingga Sulung saya mendapat perlakuan seperti itu. Mungkin karena ia terlalu saya lindungi? Atau karena saya selalu mengatakan, jangan balas perbuatan buruk orang lain, biar Allah yang balas?

ri·sak v, me·ri·sak v mengusik; mengganggu: mereka tidak putus-putusnya ~ ku dng berbagai-bagai olok-olokan

Jangan salahkan anak orang lain, atau orang lain. Tapi coba intropeksi diri sendiri.
Sebab banyak hal yang bisa dilakukan

Intropeksi
Intropeksi apa yang harus saya lakukan sebagai orangtua?

1. Saya kaji ulang pendidikan yang saya lakukan pada anak-anak.

Saya ajarkan tentang hak yang dimiliki anak-anak.
Misalnya. Barang yang ia miliki adalah haknya. Orang lain boleh meminjam, tapi tidak boleh memaksa. Dan dia juga harus ikhlas ketika meminjamkannya.

Jadi ketika sampai lima kali Sulung pulang dengan kehilangan pensil, saya ajarkan hak kepemilikan barang untuknya. Dia bilang, pensilnya selalu dibuang temannya. Karena itu saya minta ia menegur temannya itu. Tapi tunggu ditunggu, pensilnya setiap hari hilang juga. Sampai akhirnya saya bertanya, apa perlu Ibu yang bertanya sama teman kamu?
Ketika ia mengangguk, maka saya pun datang ke sekolah. Menegur temannya dan hanya berkata,” jangan buang pensilnya Sulung lagi, ya? Kasihan, kan?”
Temannya itu mengangguk.
Efektif, sejak saat itu pensil Sulung tidak pernah hilang lagi.

2. Tumbuhkan Keberanian Anak
Sulung pernah saya masukkan ke taekwondo. Tujuannya bukan agar ia bisa menyerang. Tapi agar ia punya kemampuan untuk mempertahankan diri, ketika ada yang ingin menyerangnya. Tapi rupanya dia tidak menyukai taekwondo dan berhenti di sabuk hijau.
Ketika akan masuk taekwondo saya katakan padanya. “Kalau ada teman yang jahatin kamu, kamu bisa bertahan atau melawan.”
Tapi dia bilang,” dia janji akan bisa melawan kalau ada teman yang jahat.”

Ternyata memang lebih efektif ketika saya memberi kepercayaan seperti itu. Ketika ada teman yang berlaku tidak baik padanya, Sulung memilih tidak melawan. Tapi memilih untuk menjauh dari teman itu dan tidak berteman lagi dengannya.
Jadi artinya apa untuk saya?
Artinya, sebenarnya setiap anak punya kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri dengan caranya sendiri. Dan kemampuan seperti itu akan tumbuh, jika kita sebagai orangtua memberi kepercayaan padanya.

3. Serahkan pada Yang Maha Kuat
Di rumah baik saya dan suami tidak bersuara keras, meskipun tidak juga terlalu lembut. Marah, ya marah, tapi tidak pakai teriak. Mengomel juga biasa kalau si anak perlu mengomel.
Pernah saya, Sulung dan Bungsu berada dalam satu kamar lalu saling bergendengan tangan, dengan wajah sama-sama ketakutan. Karena apa? Karena mendengar suara orang di luar kamar sedang bertengkar.

Saya paham kapasitas kemampuan Sulung saya tidak untuk melawan.
Maka saya jelaskan padanya tentang sebuah hadist, yang mengatakan bahwa ketika ingin merubah, maka ubahlah dengan tanganmu. Tapi kalau kamu lemah, ubahlah dengan hatimu alias lewat doa.
Sulung memilih cara yang membuat ia nyaman, lewat doa.
Tapi semenjak dia abege, saya tingkatkan pemahaman padanya. Bahwa orang yang lebih dicintai Allah adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain. Dan cara untuk bermanfaat adalah meluruskan orang yang melakukan kesalahan. Dengan cara apa? Menegurnya, menasehatinya berkali-kali bukan hanya sekali.

4. Teladan yang Paling Utama
Anak-anak butuh teladan juga untuk melihat konsep marah. Sulung dan Bungsu punya kesamaan. Sama-sama tidak berani marah dengan orang lain. Saya tahu, itu karena mungkin mereka tidak pernah melihat saya dan suami bertikai dengan orang lain. Jadi mereka pikir, semuanya akan baik-baik saja.
Semua memang baik-baik saja. Tapi saya juga harus mengajarkan bahwa marah bukan berarti jahat, jika itu mempertahankan hal yang memang harusnya dipertahankan.
“Memangnya ibu bisa marah?” itu kalimat yang selalu diucapkan kembali oleh Sulung.
Maka saya tunjukkan akhirnya.
Saya marah ketika ada anak-anak kecil memasukkan anak kucing ke dalam got, lalu mereka bersorak gembira, sedang orangtua mereka tidak peduli.
“Ibu nanti ibunya marah lho sama Ibu,” begitu kata anak-anak.
Tapi saya bilang, Ibu marah yang benar. Dan kalau sudah melakukan sesuatu yang benar, Ibu tidak boleh takut.

Sekarang Sulung sudah abege. Tetap saya beritahu untuk jangan pernah menyakiti orang lain. Tidak dengan kata-kata kasar, tidak juga dengan kekerasan fisik.
Sejauh ini dia tidak lagi dibully.
Teman-temannya banyak dan setiap minggu selalu ada teman-teman yang datang berkelompok untuk mengajaknya pergi main bola.

Konflik Orangtua dengan Anak? Boleh. Tapi……

Belakangan ini marak di televisi berita tentang konflik antara orangtua dan anak. Anak-anak yang merasa dieksploitasi oleh orangtua-nya. Orangtua yang merasa anak-anak tidak membalas budi kepada mereka yang susah payah membesarkan mereka. Anak-anak yang mencari lingkungan yang dianggapnya baik dengan caranya sendiri dan para orangtua yang merasa sudah memberikan yang terbaik dengan standar dan acuan mereka sendiri.

Saya dan anak-anak pernah berkonflik. Biasanya konflik datang karena pilihan yang berbeda. Saya sadar, konflik itu bisa menjadi besar dan memisahkan kami. Atau bahkan menjadi kecil, dan membuat kami semakin erat.

Konflik akan ada sepanjang ada interaksi antara dua atau lebih individu. Itu artinya sederhana bahwa kehidupan tidak berjalan satu arah. Hidup itu seperti sebuah pohon dengan banyak cabang dan banyak ranting.

Akan banyak perbedaan yang terjadi. Tapi perbedaan itu bukan untuk dibesarkan.
Konflik antara anak dan orangtua sebenarnya adalah satu proses. Proses untuk saling memahami lebih dalam lagi sebab bisa jadi hubungan kita dan anak-anak selama ini hanya hubungan yang datar. Saling memahami tapi dalam kadar di permukaan. Tidak paham lebih mendalam.
Kesibukan orangtua, pelukan tekhnologi sering membuat hubungan kekeluargaan utuh di luar tapi pecah di dalam.
Bila konflik itu saat ini melanda kehidupan keluarga kita, membuat anak-anak menjauh dari kita, mungkin beberapa hal di bawah ini bisa kita lakukan :

1. Jangan Tanya Siapa Yang Salah?

Dalam sebuah konflik jangan tanya siapa yang salah? Semua pihak yang berkonflik selalu merasa bahwa diri mereka lah yang paling benar sedang pihak lawan adalah yang salah.
T.S. Elliot seorang penyair mengatakan bahwa setengah dari kejahatan di dunia ini disebabkan oleh orang-orang yang ingin merasa penting. Mereka tidak bermaksud jahat. Hanya saja mereka terserap dalam pergulatan tak ada habis-nya memikirkan diri mereka sendiri.
Sikap pertahanan diri seperti itu merupakan bentuk perlindungan terhadap ego kita sebagai manusia. Kerap tidak menyadari ketika satu jari menunjuk ke arah lawan, empat jari menunjuk sempurna pada diri kita.
Coba lah untuk mengkaji ulang hubungan kita dan anak bila kita mulai merasa bahwa ketegangan mulai hadir setiap kali kita berdekatan dengan anak.
Apakah selama ini komunikasi kita dan anak-anak sudah lancar? Atau komunikasi yang kita lakukan sekedar basa-basi?
Apakah kedekatan kita dan anak-anak hanya sekedar kedekatan fisik tapi tidak menyentuh perasaan?

2. Memahami Psikologi Anak
Ketika anak-anak kecil, mereka masih sangat membutuhkan kita dan tergantung pada kita. Tapi pada proses pencarian jadi diri, mereka akan menjauh dari kita. Mereka membutuhkan banyak ruang, banyak pemahaman.
Pada rentang usia remaja seperti ini orangtua merasa anak-anak bukan saja tidak membutuhkan mereka, tapi anak-anak kerap terlihat sebagai pribadi yang menyebalkan karena menjadi tidak mudah untuk dipahami.
Menambah wawasan tentang proses pencarian jati diri anak dengan suatu komunitas atau mencari dari buku referensi akan sangat membantu kita memahami anak lebih dalam lagi. Sehingga segala perilaku dan perubahan yang sedang mereka hadapi mampu kita antisipasi dengan pemahaman pengetahuan yang lebih baik lagi.

3. Konflik Itu Biasa
Apa yang kita dapatkan dari sebuah konflik? Konflik kita dengan pasangan dalam pernikahan? Konflik kita dengan tetangga atau sahabat dekat?
Sesungguhnya konflik itu akan membuat kita semakin memahami pasangan kita, teman kita bahkan tetangga kita. Ada karakter asli yang keluar ketika konflik berlangsung yang membuat kita menjadi paham bagaimana berhadapan dengan mereka selanjutnya.
Konflik itu suatu tanda bahwa titik temu belum ditemukan. Konflik juga menandakan bahwa ego kita sebagai manusia sedang demikian tinggi-nya sehingga ingin orang lain memahami kita.
Memandang konflik sebagai hal yang biasa akan membuat kita paham dan tidak berlebihan dalam memandang konflik yang ada.

4. Intropeksi Diri
Ketika konflik berkepanjangan maka pasti ada sesuatu yang salah dengan hubungan kita dan anak-anak.
Sekali dua kali sampai tiga kali konflik adalah biasa. Tapi bila konflik itu sudah berkepanjangan dan tidak menemui jalan keluar, maka pasti ada yang salah dengan cara kita dalam memahami anak-anak.
Mungkin ada yang salah dengan cara kita menerapkan disiplin dan kasih sayang. Bisa jadi kita melakukan kesalahan di awal ketika anak-anak mulai belajar soal disiplin. Lalu kita mendapat ilmu tentang itu ketika mereka sedang tumbuh remaja. Kita melakukan perubahan dalam penerapan disiplin di rumah dan anak-anak terkejut karena hal itu.
Perubahan-perubahan ini yang sebenarnya bisa disiati dengan komunikasi yang baik kerap kali diabaikan oleh orangtua yang merasa anak sudah besar dan sudah semestinya paham dengan sendiri-nya.

5. Komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang pesan dari pembicara sampai kepada si penerima pesan.
Komunikasi bukan sekedar bahasa lisan atau verbal. Komunikasi bisa dari mimik muka dan gerakan tubuh bahkan elusan di kepala.
Lady Dorothy Nevill seorang penulis mengatakan bahwa seni percakapan (komunikasi lisan) sesungguhnya bukan soal mengatakan hal yang benar pada tempat yang tepat, namun tidak mengatakan hal yang salah pada waktu yang sangat menggoda untuk mengatakannya.
Bentuk komunikasi apa yang sudah kita terapkan pada anak-anak kita? Apakah kita kerap kali bersikap tidak peduli dengan komunikasi yang mereka lemparkan? Apakah kita sering menjawab dengan kalimat yang keluar dari mulut kita tapi tatap mata kita sibuk dengan layar telepon genggam atau televisi?
Coba kaji ulang bentuk komunikasi kita pada mereka.

6. Mereka Adalah Kita
Apapun yang terjadi, anak-anak kita adalah produk yang kita buat dan kita rencanakan. Mereka ada karena keinginan kita. Mereka sulit dimengerti bukan total kesalahan terletak pada mereka. Kita sebagai orangtua ikut ambil bagian karena kita tidak mau tumbuh berkembang bersama mereka.
Coba perhatikan tingkah laku mereka, kebiasaan mereka, kebaikan dan keburukan mereka. Apakah tidak setitik pun sifat kita menurun ke diri mereka?
Itu artinya kesalahan bukan total milik mereka. Konflik yang terjadi antara kita dan anak-anak bisa jadi kita ambil bagian di dalamnya.
Menyalahkan mereka total untuk konflik antara kita sebagai orangtua dengan mereka yang baru tumbuh kembang adalah salah satu bentuk kesalahan kita.

7. Badai Pasti Berlalu
Setiap masalah pasti akan menemui jalan keluar. Tentunya sepanjang kita mau mencari jalan ke luar.
Jalan keluar yang dicari bersama-sama akan menjadi suatu jalan yang indah dan membawa kenangan untuk setiap yang berkonflik. Jalan keluar yang dicari bersama juga akan membuat setiap individu yang melaluinya akan paham lebih dalam lagi tentang makna kebersamaan.
Sebelum terlambat. Lakukan yang terbaik untuk buah hati kita.
**

Mata Pelajaran bernama Memberi

IMG-20160406-WA0003

Pernah suatu hari sahabat Rasul merasa iri dengan sahabat yang lain. Iri karena sahabat yang memiliki harta, bisa bersedekah (memberi) dengan hartanya. Lalu Rasul meluruskan kesalahpahaman itu dengan mengatakan bahwa sedekah tidak selalu dengan harta.
Senyum yang kita lemparkan pada orang lain juga sedekah namanya. Membersihkan paku di jalan juga sedekah namanya. Menolong orang dengan menanam tumbuhan bermanfaat, itu juga sedekah namanya.

Ada banyak model sedekah. Dan anak-anak masih suka bertanya.
“Ibu mau kasih apa?”
Pertanyaan itu biasa dilontarkan anak-anak di rumah. Ibu mau apa mengumpulkan botol-botol bekas? Ibu kenapa menumpuk koran-koran dan tidak menjualnya ke tukang loak? Ibu kenapa mengeringkan nasi yang tersisa di dalam tampah?

Dulu pada saat mereka pada usia kritis bertanya, saya hanya akan menjelaskan dengan tindakan. Maka sudah biasa mereka melihat saya turun dari kendaraan untuk mengejar pemulung. Atau bahkan jongkok di samping mereka dan mendengarkan curhatan mereka.
Saya mendapatkan ide tulisan, mereka lega dari beban berat kehidupan mereka.

Ketika kita sudah ingin berbagi, maka akan tumbuh perasaan untuk menghalangi. Ada saja alasannya.
Misalnya, kita ingin memberikan koran-koran bekas milik kita kepada pemulung. Maka akan ada bisikan di hati yang buruk, “jual saja koran itu. Uangnya bisa untuk jajan anak-anak.”
Atau
Ketika akan mengeringkan nasi yang tidak termakan lagi, akan ada bisikan lain. “Capek lagi. Lebih baik dibuang tidak pakai repot.”

Salah satu cara efektif untuk menghalau perasaan itu adalah melakukannya sesegera mungkin.
Jadi ketika terbersit rasa ingin berbagi, maka lakukan segera setelah perasaan itu datang. Kalau sudah terbiasa melakukan hal itu, maka lambat laun, perasaan malas, pikiran buruk dan lain sebagainya akan hilang dengan sendirinya.

Lakukan pemberian sesopan mungkin. Memberi bukan berarti, orang yang kita beri membutuhkan hal itu. Buang pikiran soal itu. Memberi itu karena kita butuh. Karena kenyataannya ketika kita sudah terbiasa memberi, ada rasa ruang di dada terbuka lebar ketika pemberian kita diterima dengan baik.

Nah untuk diterima dengan baik, maka berikanlah dengan bertanya dulu. Apakah mereka mau diberikan barang dari kita?
Ucapkan terima kasih setelah pemberian kita diterima. Karena dengan begitu mereka akan merasa berharga. Kita juga akan terhindar dari rasa besar kepala.
Jangan juga sakit hati ketika pemberian kita ditolak.

Lalu untuk anak-anak?
Setelah mereka melihat contoh dari kita, belum berarti otomatis mereka bisa melakukan hal yang sama.
Yang harus kita lakukan adalah menambah kepercayaan diri mereka untuk melakukan hal itu.
Kalau saya, biasanya saya akan memberikan barang yang akan diberi ke anak-anak. Lalu minta mereka untuk memanggil atau mengejar orang yang akan diberi.
Selalu saya ingatkan untuk tersenyum ketika memberi.
Ajak mereka untuk terus-menerus melakukannya, sehingga menjadi sebuah kebiasaan.
Beri contoh juga untuk memberikan barang yang masih layak. Bukan yang sudah buruk. Dengan begitu barang itu terpakai. Dan anak-anak jadi semakin paham makna pemberian yang sesungguhnya.

Kalau anak-anak masih malu?
Ajarkan yang sederhana dulu. Misalnya, ajarkan menanam pohon di luar pagar kita. Pohon yang bermanfaat. Biasanya di perumahan ada sedikit halaman tersisa di luar pagar. Nah gunakan itu untuk menanam lidah buaya, pandan atau pohon cabai. Jika ada tetangga yang butuh, silakan mereka mengambilnya.
Pesankan saja pada yang butuh, tidak perlu berteriak memanggil kita ke luar. Karena tumbuhan itu sudah kita niatkan untuk diberikan pada yang membutuhkan.
Atau
ajarkan hal yang lain. Jika kita tidak memiliki barang untuk diberi, atau kita tidak menanam tumbuhan, kita bisa mengajarkan anak-anak untuk memberi dalam hal lain. Memberikan ilmu yang bermanfaat.
Di rumah saya mengajarkan anak-anak menulis. Mengajarkan mengaji untuk ibu-ibu yang belum bisa mengaji juga.

“Ibu mau kasih apa?”
Sampai sekarang anak-anak masih suka bertanya. Tapi kali ini lebih sigap.
Ketika mereka melihat saya membungkus gula, kopi dan sebagainya, mereka ikut berjongkok dan membantu saya.
“Ibu senang?”
Saya mengangguk.
Saya berharap kelak, kebahagiaan mereka bukan karena banyaknya harta. Tapi karena hidup mereka bermanfaat untuk sesama.

Dalam Perjalanan Anak-Anak pun Wajib Shalat

bil at

“Kita shalat?” tanya anak-anak ketika saya melihat ke jam tangan. Waktu shalat sudah datang. Kami ada di dalam kereta. Perjalanan dari Jakarta menuju Malang sekitar 16 jam dengan kereta eksekutif. Kalau pun cepat, maka jaraknya sekitar 14 jam.
Dalam 14 jam itu tentu saja kami akan melewati beberapa waktu shalat.

Anak-anak sudah saya ajarkan, bahwa ketika berpergian maka kita boleh melakukan shalat dengan dijama atau diqasar. Arti jama adalah menggabungkan dua waktu shalat, seperti zuhur dengan asyar. Maghrib dengan Isya. Sedangkan Qosor sendiri artinya mengurangi jumlah rakaat. Jika rakaat shalat zuhur tadinya empat, ketika dalam perjalanan maka mereka bisa meringkasnya menjadi dua rakaat.

Karena shalat sudah menjadi kewajiban untuk mereka, tentunya saya tidak ingin mereka hanya shalat di tempat yang layak untuk shalat seperti rumah atau masjid.
Saya ingin mengajarkan bahwa ketika azan berkumandang, di mana pun kita berada, maka kewajiban shalat harus dilaksanakan. Dan itu artinya mereka harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ada.

“Kita shalat?” Sulung melirik ke penumpang lain. Kelihatan penumpang di gerbong kami mulai terlihat tertidur. Maklum AC kereta cukup dingin. Selimut pun sudah menutupi badan bahkan hingga kepala.

Anak-anak sebenarnya sudah paham bagaimana shalat di dalam kereta, di dalam bus atau kendaraan lainnya. Karena mereka sering berpergian dengan saya sejak kecil. Dan saya memang mengajarkan mereka untuk tetap melaksanakan shalat dalam perjalanan.
Hambatan apa yang paling terasa?
Hambatan untuk shalat adalah hambatan dari rasa malu. Malu yang datangnya dari diri sendiri. Malu karena berbeda dari orang lain.
Apalagi jika berada di kereta ekonomi yang bangkunya bisa berhadap-hadapan dengan orang lain, yang tidak paham bagaimana menjalankan shalat dalam kendaraan.
Hambatan soal pakaian bisa disiasati. Ketika melihat pakaian mereka terkena najis, misalnya mereka ke toilet untuk buang air kecil lalu terkena najisnya air seni, maka saya tinggal meminta mereka berganti pakaian. Mudah bila semuanya dibuat mudah.

Hambatan lainnya adalah perasaan kenapa cuma aku yang melakukan? Kenapa orang lain tidak? Kok estrim sekali?
Biasanya kalau sudah ada pikiran seperti ini, saya ingatkan anak-anak. Bahwa shalat yang kita lakukan dalam perjalanan, siapa tahu yang menolong kendaraan yang kita naiki selamat sampai tujuan. Karena apa? Karena Allah melihat masih ada hambaNYA yang mengingatnya di saat yang lain tertidur.

“Bu…, wudhunya biasa?”
Saya mengangguk mengantar anak-anak ke kamar mandi. Sebenarnya sederhana. Kalau tidak ada air, maka bisa tayamum. Tapi itu alternatif terakhir. Karena setiap penumpang kereta pasti membawa air mineral yang cukup banyak.
“Shalatnya duduk, Bu?”
Saya mengangguk.
Anak-anak yang biasa shalat dengan berdiri seperti shalat di rumah atau di masjid, tentu tidak terbiasa dengan hal itu. Maka harus dijelaskan tentang Allah yang meringankan hambaNYA dalam melakukan shalat. Bisa duduk, bisa berdiri, bisa tidur sesuai kondisi.

“Bu..,” aku duduk di pojok,” ujar Sulung. Dia malu sepertinya ketika dilihat oleh orang di barisan lain.
“Jangan malu untuk sesuatu yang keren,” ujar saya pada Sulung.
Lalu saya lihat Sulung dan Bungsu sama-sama bergantian shalat. Mereka shalat sambil duduk di kursi mereka masing-masing.

Sekarang mereka sudah besar.
Sudah paham kewajibannya. Sudah tahu bahwa ketika mereka berpergian tanpa saya, ketika sampai di rumah yang saya tanya pertama kali adalah. “Shalatnya gimana?”