Agar Remaja Memahami Orangtua

Aku Keren

Punya anak abege?
Punya.
Dua anak abege saya, masing-masing di kelas satu dan kelas tiga SMP. Seperti apa perjuangan saya memahami mereka, mungkin sama dengan perjuangan ibu-ibu lain memahami sikap abege-nya.
Karena itu banyak sekolah mengadakan seminar parenting secara berkala seperti di sekolah anak saya, pertiga bulan sekali, dengan pembicara yang berganti-ganti.
Semuanya berfokus pada satu hal. Abege adalah masa bergejolak dan orangtua harus paham hal itu.

Saya sejak kecil mengurus kedua anak.
Resign dari pekerjaan agar bisa total mengurus rumah tangga. Setumpuk buku parenting saya punya. Setumpuk waktu dengan kualitas saya juga punya. Seperti mengajak mereka bicara sebelum tidur, pada saat otak mereka rileks sehingga pesan saya sampai.
Setumpuk doa juga selalu rutin saya mintakan.

Anak abege alias remaja bergejolak adalah hal yang wajar. Orangtua wajib memahami mereka juga wajar. Tapi saya pikir, tidak adil juga kalau anak remaja selalu ingin dipahami dan dimengerti. Sedangkan mereka tidak diberi empati untuk mengerti orangtuanya.
Bahwa orangtua itu bukan makhluk sempurna.
Bahwa orangtua itu bisa saja salah.
Bahwa banyak hal yang membuat orangtua jadi menyebalkan di mata mereka.

Buka Mata Buka Hati

Kita berada di zaman yang berbeda dengan anak remaja kita.
Saya punya anak remaja di usia yang sudah lebih dari 40 tahun. Dan bersyukur berada pada tahapan usia itu, karena pola pikir dan egois sebagai orangtua sudah jauh menurun.
Tapi ada orangtua lain yang mungkin menikah muda dan memiliki anak usia remaja ketika mereka sendiri baru masuk usia 30 tahun.

Mungkin orangtua melakukan kesalahan. Mungkin orangtua juga sudah berjuang. Tapi perjuangan di masa beban hidup semakin berat dan perkembangan serta godaan informasi semakin besar, maka perjuangan itu sungguh sangat berat.
“Ibu, sih enggak ngerti aku,” begitu yang anak-anak saya bilang.
Maka biasa saya akan bilang,” ayo bantu Ibu untuk ngerti.”
Ketika dua belah pihak sama-sama mengambil tindakan aktif untuk mengerti, pasti akan ada gaya tarik menarik yang menguatkan untuk mendekat bukan menjauhkan.

“Bu, aku mau dijemput Ibu nanti, ya,” kata Sulung saya setelah pendalaman materi di sekolah untuk masuk pesantren.
Maka setelah menjemput adiknya jam empat sore, saya balik lagi ke sekolah jam lima sore untuk menjemput Sulung.
Sepanjang jalan kami bicara dan bicara tentang banyak hal.
Hingga tadi pagi ketika saya letih dan tidur lagi tapi belum masak, saya melihat Sulung masuk kamar, memegang tangan saya.
“Ibu bekal aku hari ini belum ada. Ibu bawa bekal nanti ke sekolah?”
Saya mengangguk.
Dua anak tidak ribut dengan sarapan pagi. Ada roti yang mereka buat dengan selai kacang.
Pemahaman, komunikasi akan mendatangkan efek timbal balik yang lebih kuat dari caci maki.
Dan yang jauh lebih penting mereka paham apa yang saya rasakan, bahkan yang tidak saya ungkapkan.

Belajar Terus Menerus

Remaja yang penuh empati tidak hadir begitu saja. Semua ada proses. Seperti hujan yang ada prosesnya. Meski terkadang orang melihat hujan turun langsung padahal tidak ada mendung.
Padahal tanda-tanda akan turun hujan bisa terasa. Seperti udara yang panasnya setingkat lebih tinggi dari panas yang biasanya. Meskipun di malam hari.
Bau tanah yang tercium berbeda. Nah si Sulung saya ini sudah pintar membaui yang seperti itu. “Kayaknya sudah mau hujan, Bu. Bau udaranya udah beda.”

Empati hadir karena kita ajarkan.
Kita sebagai orangtua bukan hanya harus merangkul tapi harus mengajarkan.
Ada barang jatuh, jangan biarkan anak membiarkan saja. Langsung minta mereka untuk bertanggungjawab membetulkan barang itu. Kalau saya sih bilangnya, itu salah satu bentuk agar peduli dan langsung bertindak ketika ada yang salah di lingkungan kita.
Jangan cuma baik pada teman dan guru tapi melupakan cara bersopan santun pada orangtua. Karena itu cium tangan sebelum pergi sekolah saya haruskan. Toh di situ saya punya kesempatan untuk memberi pesan dan mendoakan mereka.

Semua yang saya katakan sebenarnya ada di buku terbaru saya Aku Keren.
Tidak banyak teori tapi In syaa Allah mencerahkan anak remaja kita agar lebih memahami kita sebagai orangtuanya.

Memelihara Semangat Pada Anak

Atong_Balqos

Semangat bukan jamur yang bisa tumbuh subur di musim hujan. Kadar semangat pada orang dewasa bisa naik turun. Kadar semangat pada anak-anak juga seperti itu. Bisa naik dan bisa turun.
Jika orang dewasa sudah memiliki sensor sendiri agar semangat terus tumbuh, anak-anak tentu tidak seperti itu.
Anak-anak belajar banyak dari segala hal di lingkungannya. Semangat mereka bisa tumbuh karena banyak hal, sama seperti semangat mereka turun.
Beberapa hal ini yang bisa membuat semangat pada anak bisa turun :

1. Orangtua
Anak-anak naik semangatnya karena orangtua. Tapi anak-anak bisa turun juga semangatnya karena orangtua. Karena itulah maka pakar pendidikan di mana pun, selalu meminta orangtua untuk menjadi teladan pertama pada anak-anak mereka.
Teladan dalam bentuk sikap yang bisa diteladani oleh anak-anak.
Orangtua harus memberi contoh itu dalam perbuatan nyata. Untuk hal yang paling mudah adalah ketika cuaca tidak bersahabat.
Ketika musim hujan, orangtua tetap melakukan aktivitas penuh semangat seperti biasanya dan tidak memilih tidur, maka anak-anak akan melihat hal itu sebagai contoh yang bisa mereka teladani.

2. Lingkaran teman-teman
Teman selalu membawa pengaruh besar pada anak-anak, terutama anak yang semakin besar. Ketika kontrol orangtua mulai mengendur maka di sinilah peran teman mulai berperan.
Teman yang suka mengeluh akan membuat anak tertular mengeluh. Teman yang tidak bersemangat akan membuat anak-anak juga ikut tidak bersemangat.
Dalam kondisi seperti ini orangtua tetap harus memegang kontrol utama. Orangtua yang paham kondisi anak akan menjaga agar semangat anak hanya kendur, bukan menghilang.

3. Manfaat
Anak akan tumbuh semangatnya jika mereka paham manfaatnya. Jika mereka tidak paham, maka mereka tidak bisa mengambil keputusan memilih untuk semangat atau justru kendur semangatnya.
Orangtua yang bisa menyadarkan hal ini dengan bukan hanya rajin memantau tapi juga rajin mencatat.
Misalnya membuat foto-foto ketika anak-anak belajar, berlatih karate atau sepak bola. Tunjukkan foto-foto itu ketika mereka akhirnya berhasil meraih kemenangan. Dengan begitu anak-anak sadar bahwa sikap terus bersemangat sangat bermanfaat untuk mereka.

4. Belum Bisa Fokus
Kita bisa terus bersemangat ketika sudah bisa fokus dengan tujuan. Anak-anak perlu diajarkan tentang hal itu. Mengajarkan fokus pada apa yang ingin mereka capai. Ajarkan mereka membuat catatan target yang ingin mereka raih. Misalnya menabung untuk pergi ke suatu tempat. Bantu mereka untuk mencapai targetnya. Ketika mereka sudah melihat hasil dari fokus itu, pasti mereka akan bisa belajar untuk semangat melakukan hal yang lain lagi.

5. Mereka Tetap Anak-anak
Jika semangat kita suka naik turun, kenapa anak-anak tidak boleh? Biarkan mereka berproses dan menjalani semuanya dengan riang gembira. Biarkan mereka bermain dan dalam bermain itu mereka bisa memutuskan, apakah akan bermain terus menerus atau mengisi bermain itu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Kita harus tetap di samping mereka untuk mengingatkan dan menjadi teladan untuk mereka.

Biarkan Anak Belajar dari Nilai Ulangan yang Buruk

ulangan

Saya tidak menyimpan berkas ulangan saya yang nilainya jelek. Karena dulu tidak pernah terpikir manfaatnya.
Tapi setelah memiliki anak, saya baru merasakan manfaatnya menyimpan berkas ulangan bernilai buruk itu.
Untuk apa?
Untuk mengingatkan saya bahwa saya kalau agak tegang melihat nilai anak-anak.
Dengan begitu saya menjadi lebih kendor dan menyadari bahwa proses masihlah panjang jalannya.
Tapi untuk dua anak di rumah. Saya menyimpan nilai-nilai ulangan mereka. Dari yang jelek sampai yang bagus.Dari yang nilainya satu sampai yang nilainya sepuluh.

“Buat apa?” tanya anak-anak.
“Buat mengingatkan, kalau suatu hari kamu marah sama anak kamu karena nilainya jelek, kamu jadi cepat sadar.”
Semalam Bungsu resah. Nilai ulangan hariannya di bawah UKK.
Terlebih untuk Bahasa Indonesia.
Si Sulung langsung bicara,” Masa udah menghasilkan buku, ulangan Bahasa Indonesia-nya jelek.”
Nampaknya Bungsu tertekan.
Maka saya dan suami mengajaknya berkeliling cari susu segar kesukaannya. Biarkan dia memilih.

Setelah tenang di rumah saya bicara.
“Ulangan jelek akan ada remedial. Tidak masalah. Di kelas kamu 25 anak berjuang mencari nilai tertinggi. Kamu fokus cari celah yang lain dengan terus menulis.”
Dia diam.
“Nilai jelek bukan hasil akhir. Ini proses biar kamu merasa gagal.”
Sulung ikut mendengarkan.
Lalu bicara. “Lagian, yang bikin google aja gak lulus sekolah bisa punya google,” ujar Sulung.
Maklum Sulung agak santai. Memang saya sudah bilang sama gurunya kalau anak saya tidak bisa menguasai semuanya. Yang penting hapalan Al Qurannya harus jadi nomor satu.
Dan Sulung memang memenuhi itu.
Dan ternyata ketika saya tekankan untuk lebih menguasai hapalan, maka nilai-nilai beranjak naik dengan sendirinya.
“Ibu tahu, apakah kamu malas berusaha atau memang tidak bisa,” itu yang selalu saya bilang sama dia.

“Trus menurut Ibu kelebihan aku apa?” tanya Bungsu setelah menyeruput susu segar.
“Kamu baik. Itu kelebihan yang tidak dipunyai setiap anak.”
“Menurut Ibu begitu?”
Saya mengangguk.
Tanggal 17 kemarin, teman-teman SD datang ke rumah. Begitu dia buka pintu pagar, teman-temannya langsung berteriak dan memeluknya. “Aku kangen,” ujar teman-temannya bergantian memeluk.
“Tetap jadi baik dan terus berjuang.”
“Terus, Ibu pernah dapat nilai jelek?.”
Maka saya ceritakan panjang lebar perjalanan saya dengan nilai jelek juga nilai bagus. Dari yang takut pulang karena nilai jelek, bukan karena takut dimarahi tapi karena takut mengecewakan Bapak. Sampai yang biasa-biasa saja dapat nilai tertinggi.
“Ada Allah yang bisa merubah semuanya.”

Lalu sebelum tidur Bungsu bicara. “Ibu, bangunin aku tahajud nanti, ya.”
Saya mengangguk.
Dia terbangun untuk tahajud.
Lalu tidak seperti biasanya, sebelum berangkat sekolah, dia mengambil wudlu.
Kalau sudah begini, bukankah kegagalan akan jadi indah?
Mungkin perlu saya punya sudut untuk membingkai nilai-nilai ulangan yang jelek dan yang bagus, biar mereka paham. Hidup ini bisa naik bisa turun. Bisa di atas bisa di bawah.
Nikmati saja sambil bersyukur. Itu kata kuncinya.

Alhamdulillah. Anak Kita Bukan Anak yang Sempurna dan Hebat

kami

Sempurna adalah hasil akhir.
Tidak ada yang sempurna. Semuanya berjalan menuju proses.
Kalimat itu selalu saya tanamkan di kepala setiap kali pulang dari sekolah anak-anak. Dulu ketika SD di sekolah negeri kabupaten yang sering dibilang sekolah kampung, saya menguatkan tekad untuk mendidik anak sesuai kemampuan saya. Agar mereka jadi berbeda. Berprestasi dan tidak terpengaruh lingkungannya.
Maklum, banyak ibu-ibu di sekolah itu punya prinsip. Bahwa hidup itu mengalir saja seperti air. Kalau takdirnya jadi orang hebat, akan pasti jadi orang hebat. Jadi tidak usah macam-macam.

Sedang saya ada pada prinsip bahwa takdir Allah itu mencakup kapan kita lahir, kapan kita mati, dan jenis kelamin kita. Soal rezeki, jodoh, kesuksesan kita, itu adalah bentuk takdir ikhtiar yang harus diperjuangkan dan tidak datang begitu saja dari langit seperti curahan hujan.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)

Sekarang, anak-anak ada di sebuah SMP pilihan. Iya pilihan. Berisi anak-anak yang lulus tes. SMP yang jadi incaran para orangtua, karena hanya buka satu gelombang saja. Dan sekolah itu sudah dikenal menghasilkan anak-anak yang akhlaknya terjaga, pergaulan lelaki dan perempuan terjaga, karena guru ikut memantau dan terhubung terus dengan orangtua.
Di sana juga saya menyadari bahwa format saya dalam mendidik anak harus diluruskan. Iya diluruskan sesuai jalur yang saya pikirkan matang-matang sejak dulu untuk mereka.

Karena apa?
Karena di sekolah itu, semua orangtua berlomba-lomba menjadikan anaknya hebat. Pelajaran bertumpuk dengan target hapalan dan juga penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pulang sekolah anak sudah letih. Dan setiap kali pulang dari seminar di sekolah, atau rapat sekolah, saya harus berputar berkeliling untuk sekedar melihat sapi-sapi di peternakan sapi. Atau sekedar sekedar menikmati jalan berbelok dan tanah yang ditanami kangkung berhimpitan dengan ilalang yang cukup tinggi.

Apa yang terjadi?
Saya pusing dan takut menjadikan anak-anak robot. Sebab saya menyekolahkan anak di sana, karena ingin anak terjaga hapalan Al Qurannya dan mereka bertemu dengan anak lain yang melakukan hal yang sama. Itu artinya mereka akan berlomba untuk mengisi waktu dengan hal yang penting dan terjaga dari pergaulan yang tidak baik.
Saya tidak mau jadi ikut dalam lingkaran menjadikan anak harus sempurna.
Mereka tidak menguasai matematika tidak apa-apa. Asal mereka kreatif.
Mereka tidak menguasai IPA juga tidak masalah, asal mereka terjaga shalatnya.
Mereka tidak menjadi anak yang aktif dan dikenal guru juga tidak masalah, sepanjang Allah mengenal mereka dan menyayangi mereka. Sebab kalau Allah sudah sayang, semuanya akan jadi mudah untuk mereka.

Tidak Perlu Sempurna

Sempurna itu proses. Prosesnya panjang. Sepanjang perjalanan hidup kita, kita harus berproses. Sampai akhirnya Allah bilang, berakhir hidupmu. Di sanalah kita akan mempertanggungjawabkan hasil akhir itu.

Saya berproses dalam hidup juga.
Ketika SD dan SMP memang berprestasi selalu jadi juara. Tapi ketika SMA dan masuk lingkungan yang semua teman adalah orang-orang hebat, saya seperti tidak menemukan format diri saya. Saya merasa terbentur sana sini dan berujung pada kenyataan nilai tidak setinggi dulu.
Tempat yang tidak nyaman, lingkungan yang menekan membuat saya tidak bisa bebas dengan gaya belajar saya. Sehingga saya merasa tidak punya potensi seperti yang lain.
Syukurlah saya berproses ketika kuliah. Saya tahu tempat mana yang harus saya tuju.
Saya nyaman berada di tengah orang-orang yang justru tidak punya cita-cita, sehingga saya berjuang untuk meraih cita-cita lebih tinggi lagi dan punya motivasi untuk maju. Sedang berada di tempat yang semuanya hebat, membuat saya justru jadi ingin mengekor saja.

“Tidak ada yang sempurna. Tapi semua harus berjuang,” itu yang saya bisikkan pada anak-anak setiap hari mereka pulang sekolah.
Ada makanan untuk mereka. Memang saya biarkan mereka makan sepuasnya, karena mereka harus nyaman di rumah, setelah di sekolah dibebani dengan banyak pelajaran.
“Ibu juga berjuang. Lihat, Ibu belajar lagi,” ujar saya menunjuk tumpukan buku di meja kerja saya. Saya ingin mereka tahu, bahwa di luar sekolah formal pun, semuanya bernama sekolah. Tempat untuk belajar itu sekolah namanya. Mau di bawah pohon atau di mana saja.
“Santai saja. Kalau kamu tidak bisa, banyak teman lain yang tidak bisa. Justru kalau kamu tidak bisa, gurunya harus tahu. Jadi dia tahu ada muridnya yang belum bisa.”

Saya ingin mereka berproses.
Saya tidak mau seperti tukang sulap. Simsalabim jadi orang hebat. Tidak. Karena itu artinya saya tidak diberi kenikmatan berdoa sebagai orangtua, dan kenikmatan untuk menjalankan fungsi mengajari anak-anak melangkah setahap demi setahap.

“Juara berapa?” tanya seseorang.
“Bisa apa?”
“Kok pendiam, ya?”
“Kok matematikanya tidak sempurna ya nilainya?”
“Kooook.”

Ops tarik napas panjang.
Mereka selalu masuk sepuluh besar. Nilai hapalan Qurannya bahkan 99. Akhlak tercatat baik. Lalu saya mau apa lagi?
Lalu apa yang saya harapkan lagi? Mereka fokus pada nilai dan tidak punya waktu bermain dan bersenang-senang sebagai remaja? Jelas saya tidak inginkan seperti itu.

Saya pulang.
Setelah rapat orangtua.
Setelah beberapa orangtua berlomba untuk menonjolkan diri.
Setelah rapat belum benar-benar tuntas, karena saya takut malah berlomba untuk merasa paling hebat.
Saya pulang.
Melewati jalan berliku. Melewati peternakan sapi. Tarik napas panjang-panjang lagi.
Alhamdulillah anak-anak saya tidak sempurna. Mereka sering bikin kesal, sering bikin senang juga. Mereka kerap membantah, kerap juga menuruti nasehat saya. Mereka pernah bicara keras, tapi justru saya berjuang untuk memberi teladan bicara lembut.
Mereka tidak berani tampil di permukaan meski banyak prestasi di luar sekolah, justru itu yang membuat saya sadar untuk tidak pamer prestasi pada orang yang tidak paham dunia saya.
Alhamdulillah semua kebaikan dan keburukan mereka justru itu membuat saya punya ruang untuk bicara panjang pada mereka. Membuat saya harus tarik napas dan tarik bibir untuk tersenyum, mengajak mereka pelan tapi pasti untuk mengukir masa depannya.

Mereka tidak sempurna sekarang.
Tapi Insya Allah apa yang mereka lakukan, Allah mencatatnya.
Alhamdulillah justru karena mereka tidak sempurna, saya jadi khusyuk berdoa untuk kebaikan mereka ke depannya.

BodyGuard Bernama Allah

Kawinan 13

Beberapa hari yang lalu, Sulung pulang terlambat lagi. Jam dua belas malam. Tanpa izin setelah tarawih. Saya marah. Mengomel, tidak terima dengan penjelasannya bahwa ia kerja bakti mengecat lapangan.
Saya marah, itu biasa. Sama seperti ibu-ibu yang lain. Sama resahnya seperti ibu yang lain juga. Anak pulang terlambat, yang terpikir adalah berita di koran. Tentang anak remaja yang melakukan kejahatan seksual. Bungsu terlambat. Yang ada di benak adalah tingkah laku anak sekarang yang tidak sesuai dengan umurnya.

Saya, dan ibu-ibu yang lainnya akan selalu resah. Resah untuk apa saja. Kita takut anak melakukan kesalahan fatal. Kita takut anak melakukan kejahatan. Kita takut anak menjadi sosok yang menjadi pembicaraan buruk di lingkukngan. Bahkan kita takut anak kita akan menjadi seburuk-buruknya umat.

Tarik Napas Panjang

Saya marah tapi tidak pernah main tangan. Anak-anak di rumah juga paham itu. Saya marah, tapi saya akan menjelaskan kenapa itu terjadi. Saya marah dan akhirnya intropeksi lalu menggelar sajadah untuk curhat semua keresahan saya.

Tarik napas panjang mungkin itu yang dulu dilakukan oleh orangtua saya. Memiiki delapan anak dengan delapan karakter berbeda dan masalah yang berbeda. Resah? Pasti. Tapi kesibukan mengurus delapan anak, mencari rezeki yang halal untuk biaya hidup dan biaya sekolah semuanya, waktu untuk resah jadi berkurang. Bahkan mungkin hilang. Pagi sudah sibuk dan malamnya butuh istirahat. Televisi dan radio jadi penghibur. Dan televisi dan radio di masa lalu menghadirkan sandiwara radio dan film-film yang tidak membuat mereka jadi takut akan kejahatan.

Sekarang, anak saya hanya dua. Waktu saya panjang. Panjang untuk melakukan apa saja, termasuk membaca berita dan menelitinya. Sayangnya isi berita berputar dari itu ke itu saja. Kalau bukan berita kriminal pasti berita tentang kenakalan remaja.

Serahkan Pada Allah

Zaman dulu pasti ada kejahatan, sama seperti zaman sekarang. Saya pernah hampir diculik oleh seseorang. Saya juga pernah mendapatkan pelecehan seksual di bus kota. Saya juga pernah melihat teman terkena pelecehan seksual kondektur bus. Saya bahkan pernah pulang jam dua malam dari suatu kota, hanya bersama tukang becak, melewati areal kuburan ratusan meter. Kalau mau melakukan kejahatan sebenarnya bisa saja tukang becak itu. Tapi tenyata saya terjaga.

Saya merenung panjang. Tarik napas dalam-dalam. Ada yang salah dengan pikiran saya sebagai orangtua. Ada yang harus dibenahi.
Maka saya memandangi Sulung saya. Lelaki usia 14 tahun.
Dia sudah remaja, punya dunia sendiri. Mulai belajar terbang. Saya tidak mungkin memintanya untuk terus-menerus di rumah. Menahannya untuk tidak main dan lain sebagainya. Dia butuh tahu dunia luar. Dan saya butuh sadar bahwa selama kami menjaga Allah maka Allah akan menjaganya.

Hadist Arbain no 19 saya pikirkan.
“Jagalah Allah, niscaya DIA akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya DIA akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya, jika suatu umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun, kecuali apa yang Allah tetapkan bagimu. Dan jika meeka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelaakan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”

Dulu orangtua saya pasti khawatir. Delapan anak harus dipikirkan nasibnya. Tapi semuanya baik-baik saja, tidak ada yang macam-macam.
Apa yang dilakukan orangtua saya?
Bapak sebagai imam setiap malam sejak saya kecil hingga akhir hidupnya setahun kemarin, selalu melaksanakan tahajud. Bahkan sebulan sebelum meninggal dalam keadaan berbaring, Bapak melakukan tahajud. Ketika waktunya dhuha juga seperti itu.
Ibu lurus sebagai ibu rumah tangga. Melakukan aktivitas ibu rumah tangga total. Tanpa punya keinginan macam-macam. Fokus dan rela berputar dalam urusan rumah tangga itu yang jarang dijumpai pada zaman sekarang ini.
Keduanya berkolaborasi sehingga Allah menjaga saya dan saudara yang lain, dari kejahatan yang ada.

Kami boleh bergaul dengan siapa saja. Teman saya beragam. Saya punya teman yang jahat juga yang baik. Teman yang terjerumus narkoba juga yang bersih dari narkoba. Teman yang punya hamil dan punya anak di luar nikah, tapi orangtuanya tidak tahu padahal mereka tinggal di satu kota. Sampai teman yang tidak pernah kenal lawan jenis sampai akhirnya ia menikah.
Dan semuanya membuat wawasan saya terbuka, prinsip saya semakin kuat. Itu semua saya yakin karena kolaborasi kedua orangtua saya melakukan tugas terbaiknya sebagai orangtua.

Allah sebaik-baiknya penjaga. Bodyguard untuk anak saya.
Saya pandangi dua anak yang sudah remaja.
Hidup mereka masih panjang. Dunia mereka masih luas. Mereka bisa bertemu dengan orang baik juga orang jahat. Tapi inti masalahnya adalah saya harus yakin dan percaya, bahwa shalat saya dan pasangan juga anak-anak akan membuat mereka terjaga. Sedekah, dhuha dan tahajud kami akan membuat mereka terjaga.

“Ibu…, besok aku mau main.”
“Tetap ada aturannya. Pulangnya jangan pakai malam. Ingat waktu shalat.”
Iya, tetap ada aturannya.
Mereka harus tetap shalat, harus tetap membaca Al Quran. Dan saya yakin dengan cara itu penjagaan Allah akan optimal kepada mereka.

Saya tidak mau resah lagi.
Ada orang baik dan ada orang jahat. Yang penting kita menularkan kebaikan kita sehingga orang-orang akan mengikuti kebaikan itu. Yang penting kita menjaga lingkungan kita sehingga mereka juga terjaga menjaga anak-anaknya sama seperti kita.
Hidup ini sederhana dan tidak rumit seperti berita kriminal di televisi. Ada Allah. Ada penjagaan untuk setiap hamba yang mau dekat denganNYA.

Mendampingi Remaja Berpuasa

Borobudur duabelas

Mendidik anak puasa sejak awal? Sudah.
Sejak anak-anak kecil, saya mengajarkan berpuasa dengan cara berproses. Setahap demi setahap sesuai dengan kebutuhan mereka. Hingga mereka merasa nyaman untuk melakukannya. Bukan karena terpaksa. Mendidik anak puasa.

Setelah mereka terbiasa berpuasa karena proses, masalah yang harus dihadapi orangtua tentu ada lagi. Puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus dari subuh sampai maghrib. Tapi buat saya puasa adalah mampu menahan lapar dan haus yang sesungguhnya. Jadi bukan sekedar mengganti jam makan.

Mengganti Jam Makan

“Puasa itu bukan mengganti jam makan.” Itu saya terangkan berkali-kali pada anak-anak.
Buka puasa itu artinya makanlah lauk yang Ibu buat untuk berbuka. Ada kolak, silakan makan kolak. Ada tahu isi, silakan dihabiskan. Ada sayur bayam ayo dimakan.
Makanlah jangan sampai kekenyangan.

Anak-anak remaja adalah anak-anak pada masa pertumbuhan. Porsi makan mereka jelas meningkat lebih banyak ketimbang ketika anak-anak-anak. Tapi masalah makan adalah masalah nafsu. Islam sendiri mengajarkan ketika makan harus membagi tiga, untuk nafas, untuk minum dan untuk makan. Makan berlebihan berdosa. Apalagi berlebihan ketika orang lain justru dilanda kesusahan.
Puasa adalah sarana mengajarkan anak remaja bahwa kalian sudah harus berproses ke jenjang berikutnya. Jenjang menjadi muslim yang baik. Yaitu, setelah beberapa jam mampu menahan lapar dan haus, nafsu termasuk emosi, apakah setelah buka semuanya jadi lepas kontrol.

“Silakan makan apa yang Ibu masak,” begitu yang saya selalu saya katakan.
Maka tahu isi yang saya masak habis. Sayur juga habis.
Kadang-kadang mereka ingin variasi lain. Dan solusi tetap di tangan orangtua.
“Bu…, aku pingin deh sahur pakai sate. Boleh, kan?”
Jika mereka benar-benar menjaga puasa mereka, maka apa salahnya diberikan hadiah itu? Asal sesekali bukan setiap hari.

Mengisi Puasa

IMG-20160609-WA0011

Yang sulung pada hari pertama puasa bilang. “Bu…, aku mau puasaku diisi dengan hal positif.”
Positifnya itu saya syukuri meskipun pulangnya dia kelelalah. Sehabis shalat Subuh di masjid, ia langsung main bola bersama teman-temannya. Pulang kehausan.
“Aku janji, Bu. Puasa harus positif.”
Maka dia berlomba-lomba dengan saya untuk mengkhatamkan Al Quran.
“Ibu dapat berapa juz hari ini? Waaah, aku kebalap, nih.”

Ramadhan bulan yang berkah. Saya ulang itu berkali-kali. Pesan sebagai orangtua memang harus diulang berkali-kali. Sebab pesan yang hanya sekali hanya akan kalah dengan pesan dari teman, media atau lainnya yang datang berkali-kali.
Ramadhan adalah bulan di mana pada saat itu, semua hal yang kita kerjakan akan diberi pahala berlipat ganda.
“Ibu…, tidur itu ibadah lho,” ujar anak-anak suatu hari.
“Itu hadist lemah. Jangan dipakai untuk bermalas-malasan.”
“Tapiii, aku mau tidur lagi, ah.”
Iman itu naik turun. Yang penting dijaga ketika iman itu turun, jangan sampai turunnya terlalu jauh. Ketika puasa ia ingin tidur pada suatu hari, tetap dibangunkan pada saat azan berbunyi. Itu artinya konsisten untuk menyadarkan bahwa tidur pun ada waktunya.
Ketika dalam satu hari ia terlihat tidur, berarti harus dicarikan kegiatan lain, agar bisa dimanfaatkan untuk anak.
Bungsu mengisi dengan kegiatan kreatif membuat kerajinan tangan. Atau membantu ayahnya mewarnai komik yang sedang dibuat.
Sedang sulung yang sudah 14 tahun merasa sudah besar. Maka saya minta ia untuk menghabiskan buku yang saya berikan untuknya. Atau ijinkan ia untuk berbuka puasa bersama teman-teman. Sepanjang teman-teman itu memang saya kenal dan jelas orangtuanya.

Pada akhirnya remaja atau anak, anak-anak yang kita lahirkan tetaplah anak kita. Mereka tetap butuh panduan contoh dari orangtua. Tidak bisa kita mengharap mereka membaca Al Quran jika kita sendiri tidak melakukannya. Tidak bisa mereka akan salat tepat waktu, jika mereka tidak melihat contoh kita melakukannya.
Semakin mereka besar, contoh kita sebagai orangtua semakin terlihat jelas dan nyata. Jadi tidak tergantikan oleh sosok idola yang lain.

Agar Salat Jadi Kebutuhan untuk Anak

sholat

Menulis mengajarkan saya satu hal. Bahwa sesuatu yang otomatis itu datang dari kebiasaan. Untuk menjadi terbiasa kita harus berjuang melatih diri setiap hari setiap saat. Setelah terbiasa, ketika kita rutin melakukannya setiap hari, maka datanglah sesuatu yang bernama otomatis.
Ada tombol di pikiran saya yang tinggal di click on atau click off. Kalau melihat gambar sesuatu, orang lain masih mencari-cari, saya bisa menjadikannya aneka macam tulisan.

Salat perkara yang tidak mudah tidak juga sulit. Mudah jika orangtua mencontohkan pada anak. Bukan menyuruh tanpa contoh. Sebab role model anak-anak pertama adalah orangtua dan orang-orang dalam putaran rumah.
“Didiklah anakmu salat pada usia tujuh tahun. Pukulah mereka pada usia sepuluh tahun.” Bunyi hadistnya redaksional seperti itu.
Kita mendidik anak untuk salat dimulai dari tujuh tahun dan dibolehkan memukul dengan pukulan ringan, bukan tamparan atau tendangan tentu saja. Tapi pukulan peringatan pada usia 10 tahun. Itu artinya rentang usia untuk mengajari anak salat adalah tiga tahun.
Jika sehari minimal lima kali saja kita salat lima waktu, lalu anak-anak kita didik untuk salat bersama, bukan sekedar melihat. Maka dalam tiga tahun anak-anak akan terbiasa melaksanakan salat.

Mulainya Dari Diri Kita
Iqra bacalah.
Itu bukan masalah sekedar ayat pertama yang turun. Tapi bisa melebar lebih panjang lagi. Intinya setiap muslim harus pintar, harus mau mengembangkan wawasannya.
Ditambah lagi dengan hadist bahwa Ibu adalah madrasah utama. Itu artinya menjadi orangtua harus menempatkan diri seperti sebuah sekolah untuk anak. Sekolah, tempat menimba ilmu. Di sana ada guru tempat bertanya dan mengarahkan pada hal yang baik.

Mulai dari diri kita sebagai orangtua. Kalau belum baik, berubahlah menjadi baik. Kalau belum menemukan teman yang baik, berjuanglah untuk mencari teman yang baik. Kalau belum menemukan lingkungan yang baik, berjuanglah untuk bergaul sehingga usaha kita untuk mencari akan diberi ganjaran oleh Allah dengan memberikan kita teman yang baik yang akan membawa kita pada lingkungan yang baik.

Mulai dari diri kita sebagai orangtua. Ketika azan terdengar, anak-anak bisa melihat. Orangtuanya bergegas salat atau malah berlama-lama menunda salat karena fokus ke sinetron yang sedang tayang.
Jika anak-anak melihat orangtuanya sudah berjuang, maka itu yang akan menempel di benak mereka. Orangtuaku berjuang untuk salat.
Mereka punya tabungan di benak mereka. Tabungan bernama kenangan itu akan melekat dan terpatri di benak mereka.

Awalnya Takut Pada Orangtua
Ketika anak-anak kecil, anak-anak jadi milik kita. Semakin besar, lingkungan mengambil mereka pelan tapi pasti. Tapi kekuatan kita sebagai orangtua tetap mereka pegang.
Jika di rumah kita biasakan salat, di sekolah teman-temannya tidak salat, maka anak akan menjadi bimbang dan ragu. Fungsinya salat untuk apa?
Di situ justru kita harus memahami. Tetap meminta mereka salat. Boleh main bersama teman, asaaaal, asal salat jangan sampai lewat.

Awal-awalnya mereka pasti malu karena berbeda. Apalagi jika anak kita sekolahkan di sekolah umum. Tapi justru tantangannya ada di situ. Mengajarkan anak untuk teguh pada prinsip meski berbeda.
Sekali dua kali rasa malu itu akan jadi sebuah kebiasaan kalau orangtua tidak peka. Maka untuk saya penting sekali sebagai orangtua mengenali teman bermain anak-anak. Dan biasanya saya berpesan pada anak di depan teman-temannya untuk salat kalau sudah masuk waktu salat. Anak-anak paham.
Sekali dua kali melanggar, misal pulang terlambat tapi belum salat, untuk salat saya akan berikan teguran keras. Berupa menjewer telinganya atau melarang main sampai beberapa waktu. Itu juga melihat usianya jika sudah di atas sepuluh tahun.

Harus Butuh Bukan Dipaksa

Ketika menulis menjadi kebutuhan, saya akan selalu merasa bahagia melakukannya. Karena saya butuh menulis. Begitu juga dengan salat.
Untuk membuat anak butuh salat, maka orangtua harus mengajarkan banyak macam hal pada anak. Misalnya ketika anak meminta sesuatu pada kita, tolak saja. Dan ajarkan untuk memintanya pada Allah melalui salat. Hal-hal seperti itu kecil kelihatannya, tapi bila kerap kita ajarkan pada anak, mereka akan merasa bahwa segala kebutuhan mereka bisa dikabulkan jika dengan salat.
Ajarkan lewat komunikasi kita dengan anak.
“Ibu salat minta apa?” biasanya anak-anak bertanya.
“Ibu mau minta buku Ibu ada yang terbit,” ujar saya.
“Kok mintanya lewat salat?”
“Iya, karena Allah yang punya rezeki. Ibu sudah bekerja, sekarang tinggal minta sama Allah. Kalau kita salat benar, pasti sama Allah dikabulkan.”

Komunikasi sederhana, akan membuat anak paham. Salat bukan sekedar gerakan jungkir balik. Tapi salat adalah waktu khusus untuk bicara dari hati ke hati dengan Pemilik Hidup kita.
Yang paling harus disadari orangtua adalah, pelajaran salat ini bukan seperti ulangan. Selesai ketika nilai diberikan. Ini pelajaran yang harus terus menerus dilakukan. Bahkan sampai ujung usia kita.
Paling tidak target kita adalah, ketika mereka dipanggil mengahdapNYA kelak. Mereka akan bisa menjawab pertanyaan yang pertama ditanyakan. Yaitu pertanyaan tentang salat.

Menolong Bukan Dengan Menzalimi Orang Lain

Kita sering merasa bahwa kita sudah benar menolong orang lain. Tapi ternyata kita bukan menolong. Kita menjerumuskannya pada kebiasaan yang salah. Lalu kita menganggap kita sudah melakukan yang terbaik untuk orang itu.

Tadi pagi, saya kena semprot seorang Ibu, yang menyodorkan uang kepada orang di depan saya. Kami berdua sama-sama antre dari awal untuk membeli tiket communter. Begitu jarak antara loket dan kami semakin dekat, seorang Ibu mendekat. Di luar barisan tentu saja Ibu itu. Lalu menyodorkan uangnya. Katanya titip.
“Antre, Bu,” kata Ibu di depan saya.
“Iya, Bu, antre. Kita antre dari panjang tadi,” tambah saya.
Ibu itu marah. Lalu bilang. “Pelit. Enggak mau nolong orang.”
Mendengar kalimatnya, saya langsung bicara. “Ibu, itu bukan menolong orang namanya. Tapi menzalimi orang di belakang yang antre sudah lama.”
Ibu itu cemberut langsung ke belakang. Entah mengantri atau mencari orang lain lagi yang mau dititipi untuk membeli tiketnya.

Zalim dalam Bahasa Arab sendiri artinya meletakkan suatu perkara bukan pada tempatnya.

Ketika kita menolak peminta-minta yang badannya gagah, kita bukannya tidak ingin menolong. Tapi kita justru membuat dia terbiasa menadahkan tangan tanpa bekerja keras. Padahal peminta-minta di hari akhirat nanti akan disiksa dengan tidak ada sekerat dagingpun tersisa di wajahnya.
Kalau saya, sih, ketimbang saya memberi pada peminta-minta yang badannya segar dan pakai ancaman agar kita memberi, lebih baik saya alihkan pemberian itu untuk nenek atau kakek pemulung. Mereka ketahuan sudah tua tapi mau bekerja keras.
Tapi tentu saja, menolak peminta-minta juga harus tahu triknya. Jangan sampai memaki apalagi mencela.

Pada anak-anak juga saya ajarkan, agar jangan zalim pada teman. Mereka sering kasihan pada teman baiknya, lalu memberikan contekan. “Habiiis, temanku itu baik, Bu. Suka beliin jajan aku,” begitu kata anak saya.

Zalim sering tidak kita sadari. Kadang-kadang kita merasa bahwa itu adalah hak kita, tapi sebenarnya bukan. Justru itu adalah bentuk kezaliman kita pada orang lain.
Ketika di rumah kita punya banyak koleksi buku dan selalu membanggakan kepintaran keluarga kita karena buku-buku yang kita baca itu, zalim namanya jika masyarakt di sekeliling kita buta baca tulis. Allah menempatkan kita di tengah masyarakat seperti itu, agar kita terbuka mata hatinya dan mau menyumbangkan ilmu pada mereka.

Jika kita memiliki banyak uang, lalu merasa berhak meninggikan rumah kita tanpa melihat tetangga kiri kanan kita, zalim namanya. Karena Rasul melarang seseorang meninggikan rumah dan membuat tetangga tidak mendapatkan cahaya matahari karena terhalang tembok tinggi rumah kita.

Jika istri membantu suami menambah penghasilan, itu istri berbakti namanya. Karena rumah tangga itu artinya berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Tapi kalau dengan kemampuan si istri, suami merasa tidak perlu lagi memberi nafkah pada istri, zalim namanya suami yang seperti itu.

Saya pun sedang belajar banyak.
Sedang menata hari lebih banyak lagi.
Takut saya, jika ternyata apa yang saya anggap baik dan benar, zalim di mata Allah dan RasulNYA.

Ajarkan Anak Puasa, Yuuk

bil at

Bulan puasa datang lagi. Ramdhan-nya hadir lagi. Dan itu artinya…
Artinya, anak-anak sudah besar. Mereka sudah paham makna puasa yang sesungguhnya. Tunjuk ini itu untuk buka puasa? No! Sejak dulu Ibu sudah mengajarkan bahwa puasa itu artinya bukan sekedar menahan lapar dan haus. Tapi artinya lebih jauh lagi, ikut merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan.
Menahan lapar dan haus. Bukan mengganti jam makan. Karena kalau berlebihan dalam berbuka artinya cuma memindahkan jam makan.
Anak-anak paham. Ibunya super duper ketat. Ibu yang memberi contoh juga harus belajar menahan diri. Bahwa ketika mencari lauk berbuka, lebih baik saya bawa uang secukupnya tidak berlebihan. Jadi apa yang saya beli itulah yang akan saya makan.

Lalu, ketika membeli makanan jatuhnya lebih murah ketimbang membuat yang akibatnya mubazir, maka saya akan memilih membeli.
Contohnya kolak. Karena yang suka kolak hanya suami, maka saya akan beli satu kolak saja. Anak-anak bisa beli tahu isi dan lainnya.
Kalau buat sendiri, bisa kalkulasi harga pisang berapa, harga santan berapa dan harga ubi berapa. Dibuat langsung semuanya, mubazir karena pasti tidak habis. Dimasak lagi buat besok, sudah tidak enak rasanya.
Jadi puasa sama dengan irit? Betul. Di rumah saya ajarkan hal itu. Dan itu artinya irit pengeluaran untuk melebihkan shodaqoh. Jadi bukan untuk menimbun-nimbun harta. Kita akan dapat pahala tidak boros dan pahala sedekah.

Sekarang ketika anak-anak sudah beranjak besar, saya sudah merasakan masa termanis dari perjuangan saya dulu mengajarkan mereka puasa dan mengaji rutin setiap hari.

Puasa?
Saya jadi lupa kapan mengajarkannya.

Seingat saya, dulu saya dapat pelajaran dari Bapak ketika bulan puasa. Kami bangun semuanya ketika sahur. Delapan anak, ibu dan bapak. Ribut kan suaranya. Yang tidur pasti bangun. Nah pada saat bangun itu ketika kita sudah di usia SD kelas satu, Bapak tidak memaksa. Tidak memaksa kamu harus puasa.

Lihat semua pada makan, ikutan lapar dong. Apalagi ramai. Nah ketika siang, untuk anak yang sudah SD tidak disediakan makanan. Makanan hanya untuk anak-anak balita alias adik-adik saya. Jadi jika saya tidak berpuasa, gigit jarilah saya sepanjang siang. Paling yang saya lihat hanya nasi tanpa lauk.
Ketika maghrib lebih naas lagi. Bapak akan membelikan roti yang enak. Dan yang tidak puasa dapat jatah belakangan. Artinya saya akan dapat jatah sisa. Kadang bahkan tidak dapat jatah sama sekali.
Jadi keputusannya, ya saya harus belajar puasa.

Saya juga menerapkan hal itu di rumah. Saya akan membangunkan anak ketika sahur. Tidak memaksa tapi hanya memberitahu bahwa ini lho yang namanya sahur.
Kalau mereka tidur?
Kalau mereka masih usia dua sampai tiga tahun tidak mengapa. Tapi biasanya pada usia itu, mendengar suara orang berisik pasti akan ikut terbangun. Ketika mereka terbangun itu diberi penjelasan bahwa kita sedang sahur. Boleh kita tawarkan, mau ikut makan apa tidak? Ibu masak enak lho.
Nanti mereka pasti tergerak mau ikut makan juga.

Ketika mereka tidak bangun.
Nah, ketika mereka tidak bangun itu, setiap kali mereka bangun entah itu jam berapa saja. Jam enam, jam tujuh, lalu mereka minta makan. Saya selalu bilang. “Nah…, sekarang kamu sahur, ya. Nanti bukanya jam sepuluh. Sekarang kan bulan puasa, semua orang Islam puasa. Adek latihan, ya. Sebentar saja.”

Maka biasanya ketika kita menciptakan suasanya nyaman seperti itu, mereka akan suka dan mau melakukannya.
Anak-anak saya kebetulan tidak dibiasakan jajan di luar rumah. Karena itu aman. Artinya mereka tidak akan mengganggu ibadah orang lain dengan permintaan jajan mereka di bulan puasa. Untuk anak yang terbiasa jajan terutama makanan, mungkin harus diajari untuk tidak makan jajanan itu di luar rumah. Alasannya biar orang lain tidak terganggu ibadahnya.

Ketika anak usia lima tahun, saya pun masih tidak memaksa untuk ikut sahur. Tapi mulai membangunkannya dan mulai memberi jam buka. Misalnya jam buka jam sepuluh, ya. Kurang lima menit lagi juga tidak boleh dilanggar. Dengan begitu anak belajar disiplin.
Fokus untuk membuat anak nyaman beribadah. Bukan fokus membuat anak bisa puasa tapi tidak mengerti esensi puasa itu sendiri.
Ketika mereka sudah nyaman dalam sehari dua hari. Tanyakan lagi, jam bukanya mau ditambah tidak? Kalau mau nanti Ibu beliin makanan kesukaan kamu. Tapi nanti sore.

Tambah usia semakin ketat lagi.
Usia tujuh tahun mulai saya bangunkan untuk sahur. Dan menghentikan makan sebelum azan subuh. Puasanya masih puasa bedug. Artinya jam 12 siang boleh buka dan makan. Tapi setelah selesai, silakan lanjut puasanya sampai maghrib.

Dengan teori nyaman seperti ini akhirnya anak-anak punya batas kekuatan sendiri. Dua tiga hari setelah itu biasanya mereka akan bilang. “Bu, aku mau belajar sampai maghrib. Hari ini aku gak puasa bedug lagi.”

Atau,
bisa juga dibuat selang-seling. Sehari ia puasa bedug, sehari puasa penuh.
Ciptakan terus diskusi. Sehingga ketika anak-anak merasa lapar, kita juga katakan bahwa sebenarnya kita juga lapar. Tapi karena mengikuti aturan Allah, maka lapar itu bisa ditahan.
Diskusi terus menerus akan membuat mereka paham.

Umur bertambah hingga akhirnya kesadaran juga bertambah.
Sebelum puasa, saya juga belum bisa untuk membiasakan anak-anak puasa Senin Kamis. Tapi seminggu sebelum bulan puasa, anak-anak sudah saya beritahu. Sebentar lagi puasa, ya. Kalau siang, Ibu adanya makanan seadanya. Kalian harus belajar dari sekarang.
Dengan begitu ketika masuk bulan puasa mereka tidak mengeluh kelaparan.

Intinya adalah.
Bantu anak-anak nyaman dalam ibadahnya. Bukan dipaksa.
Beri teladan yang baik.
Sehingga mereka menyikapinya dengan semangat.
Biarkan anak berproses. Berproses itu seperti naik anak tangga satu persatu menuju keberhasilan. Untuk turun lagi tidak akan jatuh. Paling hanya tergelincir satu anak tangga.
Sedang yang tanpa proses itu seperti terbang. Bisa jatuh dengan tiba-tiba.

Yang paling penting kita pahami, jangan bandingkan pencapaian anak kita dengan anak tetangga, dengan alasan keberhasilan kita mendidik keimanannya.
Ini puasa, akan mereka jalani seumur hidup mereka, bukan cuma angin-anginan.
Dan iman bisa naik turun.
In syaa Allah proses akan membuat mereka kuat dalam keimanannya.

Jangan Mendongeng Lewat Gadget

KI 7 copy

“Kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit?”
Itu kalimat yang biasa terlontar di zaman sekarang ini.
Ini zaman serba praktis. Zaman instan. Semua ilmu instan bisa didapat dengan mudah, dengan perangkat bernama smart phone alias gadget.
“Biar aja dia main di ipad. Dia sih udah pintar main ipad.”
Usia anaknya masih belum genap dua tahun. Ipad di tangan bahkan sudah retak di bagian kacanya. Ipad dari merk terkenal.

“Aaah, capek mulutnya. Kan bisa setel dari HP.”
Itu jawaban yang lain lagi, ketika saya tanyakan apakah pernah membacakan buku untuk anaknya.
Di satu sekolah, setelah seminar, penjual boneka yang jika ditekan bisa mendongeng sejarah nabi dan juga tilawah Al Quran diminati beberapa ibu-ibu. Harganya di atas ratusan ribu. Jika dikalkulasikan jadi buku yang beli bekas, bisa dapat setumpuk buku, yang akan menghasilkan ilmu dan keakraban untuk orangtua dan anak.

Mendongeng Pakai Mulut dan Hati

Anak-anak saya puas saya dongengi. Karena saya baru berhenti membacakan buku untuk mereka ketika si sulung sudah 11 tahun. Pada saat itu dua anak saya sudah memilih buku sendiri, dan lebih suka membaca sendiri. Meskipun ada saat-saat tertentu mereka minta dibacakan juga. Dan saya memang sengaja menceritakan kembali dengan bahasa yang heboh pada anak-anak isi buku yang saya baca.
Saya juga puas mendengar dongeng. Karena pada masa saya kecil, radio sedang marak. Dan Bapak juga Ibu penggemar sandiwara radio. Jadi imajinasi saya mengembara dengan luas, karena dongeng dari sandiwara radio yang disetel Bapak juga Ibu.

Tapi sekarang zaman yang serba praktis, masih perlukan mendongeng?
Gary Chapman dan Ross Campbell mengenalkan lima bahasa kasih untuk anak.
1. Sentuhan Fisik
2. Kata-kata Penegas
3. Waktu Berkualitas
4. Hadiah
5. Layanan

Masing-masing anak kebutuhannya berbeda. Ada yang hanya butuh orangtuanya bersikap tegas dan ia sudah merasa disayang. Tapi ada yang kebutuhannya lain. Dia ingin orangtua dekat dengannya dan juga memberikan hadiah.
Pada dasarnya semua anak butuh disayang. Dan mendongeng adalah cara menunjukkan kasih sayang yang paling efektif, menurut saya.
Karena apa?
Dalam mendongeng, anak-anak dan orangtuanya berdekatan, tidak mungkin berjauhan. Ketika orangtua marah, anak-anak bisa merasakannya lewat ekspresi suara yang dikeluarkan dari mulut orangtua ketika mendongeng. Bahkan ketika orangtua malas pun, anak-anak bisa merasakan getarannya.
Waktu berkualitas bisa didapat dengan mendongeng. Ketika anak-anak masuk ke kamar tidur, orangtua bisa menciptakan waktu berkualitas dengan memulai aktifitas mendongeng. Anak-anak bisa memilih minta diceritakan apa. Dan orangtua tentu saja harus memiliki asupan wawasan yang luas tentang banyak cerita, yang akan dikeluarkan dalam bentuk dongeng ke anak-anaknya.
Dongeng-dongeng sederhana yang diceritakan dari hati, pasti akan sampai ke hati. Muatan ilmu, budi pekerti dan yang lainnya akan terekam di benak anak, dan tersimpan sampai bertahun-tahun kemudian kelak.

Kreatif, Doooong

IMG-20160430-WA0006

Melihat orangtua yang tidak kreatif, saya sedih. Melihat orangtua yang bangga anaknya menghabiskan waktu di gadget, saya sedih.
Karena itu saya gembira sekali ketika anak-anak di seputaran rumah dipercayakan untuk belajar menulis pada saya. Saya juga bahagia, ketika para Ibu membiarkan anaknya meminjam buku, tanpa diintimidasi buku cerita tidak baik, lebih baik buku pelajaran dan lain sebagainya.

Ada banyak cara mudah dan murah jika ingin maju sebagai orangtua.
Cari saja karton, kertas HVS. Gambar dari majalah bekas atau save dan print dari internet. Buatlah bentuk buku seperti contoh di atas. Lalu tempelkan gambar-gambar di dalamnya.
Mulailah mendongeng dengan panduan gambar tersebut. Percayalah, yang tidak bisa bercerita, pasti akan mudah menulis sebuah cerita sederhana dari gambar tersebut.

Saya membuktikan di kelas inspirasi hari pendidikan belum lama ini. Lima kelas yang saya ajari menulis dari kelas satu sampai kelas enam, semua bisa menulis dengan cara mudah seperti ini. Asal awalnya mereka dipancing dengan membacakan buku cerita dulu. Dan semuanya suka membaca cerita yang mereka buat kembali.

“Kenapa mesti keluar uang mahal-mahal buat boneka yang bisa bercerita? Mending buka mulut, luangkan waktu dan mendongenglah. Boneka itu kalau dibanting rusak lagi.”
Itu hasutan saya untuk ibu-ibu yang mau membeli boneka bisa bercerita untuk anaknya yang dua tahun.
Mendongenglah.
Mulai dari bawah lagi untuk merekatkan orangtua dan anak. Dan untuk itu memang harus ada harga yang dibayar. Waktu kita untuk main gadget harus rela kita buang dan ganti dengan waktu untuk mulai membuka mulut, mendekap anak dan bercerita dari hati.