Sekolah Masa Depan Bernama Pesantren

Pesantren? Kenapa pesantren? Saya tahu pertanyaan itu berkelebat di kepala beberapa orang yang belum paham tentang pendidikan di pesantren. Sama seperti orangtua saya dulu. Tidak kenal apa itu pesantren, sehingga ketika saya request ingin masuk pesantren pada zaman saya sekolah dulu, Bapak melarang. Alasan Bapak, saya mudah sakit.
Lalu ketika anak menjelang SMP saya berniat memasukkan ke pesantren, Bapak selalu bilang pada saya, bahwa saya loh, bisa mendidik anak sendiri. Kenapa mesti diserahkan ke pesantren? Bapak takut saya yang penyakitan akan sengsara dengan iklim pesantren, yang menurut Bapak tidak cocok untuk saya yang mudah sakit. Dan takut anak saya juga tidak kuat kondisi fisiknya sama seperti saya.

Banyak pertanyaan berkelebat di kepala saya tentang pesantren. Saya pikir dulu, sama saja pendidikan pesantren dengan sekolah berbasis kurikulum islam terpadu. Sama saja.
Tapi ternyata saya salah. Iya, saya masukkan kedua anak saya ke SMPIT dengan program paling ketat. Alias ruang kelas perempuan dan lelaki terpisah. Komunikasi di sosial media dikawal para guru.

Perubahan Orientasi Hidup

Bersyukur hidup saya berjalan selangkah demi selangkah. Tidak langsung berlari, tapi saya belajar menjalani setiap proses langkah saya.
Iya saya terlahir dari Bapak yang paham agama. Iya Bapak bukan cuma jadi imam di masjid, tapi Bapak juga paham Al Quran dan mendidik anaknya dengan cukup keras. Shalat adalah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda. Ketika melihat saya terburu-buru shalat hanya karena ingin cepat kembali main bersama teman-teman, Bapak tidak segan-segan dengan tegas meminta saya mengulang shalat saya.

Iya, saya dulu ikut kegiatan rohani islam di sekolah. Segelintir anak yang ada di mushola dan tetap berjuang melaksakan shalat zhuhur dan ashar ketika anak lain sibuk ke kantin atau bergurau di kelas. Saya menjadi bagian dari mereka.
Dari satu pengajian ke pengajian lain. Bukan sekedar duduk mendengarkan,tapi memang berproses mengaji. Mulai dari tajwid sampai cara melagukan Al Quran.
Lalu keseluruhan proses itu membuat saya merasa. It’s enough. Saya sudah cukup bisa mendidik saya sendiri.

Maka dua anak saya masukkan ke sekolah dasar negeri. Dasar utamanya prinsip. Bahwa mereka mnerasakan masa bermain yang puas, sepuas-puasnya. Jam belajar yang pendek di sana, membuat saya berjuang agar jam panjang di rumah diisi dengan kegiatan kreatif.
Seimbang antara menghafal Al Quran dan meyakini banyak teori Barat. Meski porsi seimbang itu tentunya ada pada mindset saya sendiri. Seimbang karena saya merasa cukup dan menurut saya bekal itu yang bisa membuat anak saya bahagia dunia dan akhirat.
Di sekolah negeri sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Anak-anak bersentuhan dengan anak-anak pemulung dan empati mereka bisa terasah. Termasuk, saya meminta mereka membawa teman-teman mereka yang anak pemulung untuk belajar di rumah gratis.
Jujur ketika anak masuk usia kelas lima sampai kelas enam SD, ini adalah masa tersulit. Mereka sulit diatur dan terpengaruh teman-temannya. Sekali dua kali ketahuan oleh saya ketika mereka melalaikan shalat, karena untuk teman-temannya hal itu adalah hal yang wajar.

Berangkat dari situ, saya memasukkan anak ke sekolah islam terpadu.
Usia mereka sudah cukup untuk diberi disiplin lebih tinggi lagi, selain disiplin saya. Mereka akan bersentuhan dengan guru-guru yang visi misinya dalam mendidik anak sama seperti saya. Paling tidak sejalan lah dengan apa yang menjadi visi misi saya.
Memasukkan anak ke sekolah itu, artinya jalan untuk saya menambah wawasan harus diluaskan. Mereka belajar, saya pun belajar. Mereka mendapat kucuran ilmu, saya pun harus paham kucuran ilmu itu agar ada diskusi panjang lebar dengan mereka.
Alhamdulillah proses anak-anak di sekolah ini membuka wawasan saya tentang sekolah lain bernama pesantren.

Alhamdulillah, Pesantren

“Alah, sama aja. Anak sekolah di mana saja sama.”
“Kok, dia masukin anak ke pesantren?”
Dua komentar itu saya dapat dari dua orang yang berbeda dengan dua latar pendidikan yang berbeda. Komentar pertama dari seorang ibu di lingkungan anak sekolah pertama. Sekolah negeri. Pendapat seperti itu biasa untuk saya. Karena di sekolah negeri, mungkin karena saya menyekolahkan anak di sekolah negeri kampung, maka banyak pemahaman yang menurut mereka wajar, tapi sungguh itu tidak wajar dari segi agama.
Memberi hadiah guru itu wajar. Padahal hadiah itu diberikan bukan pada saat penerimaan rapor kenaikan kelas. Di penerimaan rapor tengah semester hadiah untuk guru terlihat jor jor an. Saling berebut perhatian pada guru. Seorang tetangga malah harus mengisi amplopnya dengan beberapa lembar ratusan ribu. Katanya kalau tidak diberi sejumlah itu, nanti anaknya tidak diperhatikan oleh guru.

Komentar kedua malah saya dapat dari seseorang yang berpendidikan tinggi. Mungkin dia heran, kenapa saya menyekolahkan ke pesantren yang cuma belajar agama?
Marah? Enggak lah. Wogn saya dulu pernah punya pola pikir yang sama, dan berpikiran bahwa apa yang saya jalani sehari-hari sudah cukup. Baca Al Quran, sedekah, berbuat baik, sudah cukup. Tidak penting yang lain.

Alhamdulillah, Allah berikan hidayah pada saya sehingga saya bisa melebarkan wawasan.
Pesantren juga menjadi pilihan anak-anak. Hidayah itu harus dikejar. Maka ketika sesuatu tentang pesantren terselilp di benak, saya langsung survey satu pesantren ke pesantren lain. Saya harus tahu seperti apa yang namanya pesantren. Lalu saya ceritakan pada pasangan dan anak-anak. Saya ceritakan yang indah-indah untuk mereka. Dan proses lainnya.
Alhamdulillah Sulung punya cita-cita mendapat beasiswa sekolah agama, justru sebelum saya punya mimpi memasukkan anak ke pesantren.

Pesantren? Tempat apa sih itu?
Kalau Bapak masih hidup, ingin sekali saya membawa Bapak untuk melihat ke dalam isi pesantren.
Pesantren sekarang bukan lagi pesantren seperti di masa lalu. Pesantren sekarang lebih dikenal sebagai Islamic Boarding School.
Di sini anak belajar agama, belajar kehidupan, belajar memahami teman, belajar displlin, belajar antri, belajar prihatin juga.

Saya dan Sulung diskusi soal pesantren pilihan. Di pesantren pertama pilihannya, dia tidak lulus. Maka akhirnya keputusan ada di pesantren pilihan saya. Ketika akan tes saya hanya bilang. “Ibu tidak punya pilihan lain. Kalau kamu tidak berjuang untuk lulus di pesantren kedua ini, maaf tidak ada pilihan ketiga.”
Sulung saya tipikal anak yang memaang harus di push untuk itu. Tidak diberi target dia akan terlena. Jika diberi target ia akan mengejarnya sekuat tenaga.
Alhamdulillah dia lulus di pesantren itu. Tesnya dari pagi sampai sore, meliputi tes akademik, tes hafalan Al Quran, tes tanya jawab Bahasa Arab dan tes menerjemahkan hadist.

Pesantren tempat Sulung, berada di kawasan pinggiran. Luas lahan 8 hektar lebih. Pesantren itu berdampingan dengan pesantren lain.
Pesantren lain itu yang selalu dibilang oleh seorang tetangga saya, pesantren bagus, karena anaknya di sana. Tapi akhirnya saya paham standar bagus atau tidak bagus dari kacamata yang berbeda.
Bagus menurutnya karena di pesantren itu satu kamar dihuni oleh delapan anak. Ruang kelas dan ruang tidur berpendingin udara. Di pesantren Sulung, satu kelas dihuni oleh 20 anak dan hanya kipas angin.
Pelajaran sama.
Pemiliknya juga masih kerabat. Kolam renang dipakai bersama oleh dua pesantren itu. Bahkan lapangan futsal dan lapangan basket di pesantren Sulung kerap dipakai oleh pesantren di sebelahnya, karena fasilitas lapangan di tempat Sulung lebih lengkap.
Jadi?
Ini tentang standar yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Alhamdulillah, saya tipikal orang yang selalu menyelidiki dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Pesantren?
Sudah satu bulan lebih Sulung di pesantren. Apa yang saya dapati ketika dia pulang kemarin?
Wawasannya bertambah. Si Bapak kaget waktu meminta izin pulang ke wali kelas Sulung. Melihat Sulung dan wali kelasnya berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
Hafalan hadistnya tambah. Hadist dengan runutan sanadnya.
Hafalan Al Quran bertambah.
Dan saya jadi bisa merasakan bulan madu dalam tanda kutip seperti yang dikatakan ustadz pemilik pesantren di Cirebon yang juga tempat saya mengaji.
Katanya, ketika anak pesantren, bertemu dengan mereka seperti masa bulan madu. Indah rasanya.

Pesantren?
Jika masih under estimated terhadap pesantren. Mungkin itu artinya hidayah baru datang setengah hati ke dalam lubuk hati kita, sehingga kita sendiri ragu untuk menitipkan agama di bahu anak-anak kita.

Mengajarkan Perbedaan Pada Remaja

Buku harian bergambar Doraemon itu terbuka. Ada kalimat pendek yang membuat saya tersentak ketika membacanya. “Aku seneeeng banget. Hari ini bisa pergi belanja di Naga bareng temen. Tapi Ya Allah…, aku gak shalat.”

Saya menarik napas panjang ketika membaca buku harian itu. Napas sangat panjang. Mungkin hal seperti itu tidak akan dimengerti oleh orangtua lain, yang beranggapan bahwa anak bebas melakukan apa saja. Tapi tidak untuk saya.
Sama perihnya seperti ketika menyekolahkan Sulung di sekolah umum. Kebetulan jadwalnya masuk siang mulai dari jam dua belas lebih lima belas menit.
Teman-temannya pergi ke sekolah pada jam setengah dua belas. Mungkin dia juga ingin merasakan hal yang sama.
Maka saya biarkan ia pergi bersama teman-temannya. Pulang sekolah, ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Seperti ingin bicara tapi takut.
“Tadi kamu enggak shalat di sekolah?”
Dia mengangguk. Azan dzuhur pada waktu itu jam setengah satu. Dia tidak berani untuk minta izin ke luar kelas. Teman lainnya tidak ada yang izin untuk shalat.
Perih yang saya rasakan pada saat itu, mungkin ada dirasakan lebay oleh orangtua lain, yang beranggapan bahwa hal itu biasa saja.

Saya Bukan Kamu

Ada perbedaan. Banyak perbedaan di sekeliling kita. Menjadi sadar bahwa kita adalah unik, dan keunikan itu harus terus digali, membuat saya tidak pernah takut berbeda.
Dulu ketika SD, cuma saya dan dua teman saya yang suka ke perpustakaan dan meminjam buku-buku perpustakaan. Hasilnya juara satu, dua dan tiga nilai tertinggi pada masanya kami yang meraih.
Perbedaan dalam agama, solusinya hanya satu. Harus terus menuntut ilmu dan berjuang menggali ilmu yang benar, dari para ahli agama. Bukan belajar dari orang yang hanya menafsirkan ayat sesuai versi mereka.
Tidak perlu berdebat di sosial media soal agama. Kalau rasa ingin berdebat meninggi, lebih baik berjuang membaca buku-buku dan menambah ilmu.

Perbedaan itu normal. Jika saya suka merah, tetangga suka kuning, itu perbedaan juga namanya. Jadi kalau tetangga mengecat rumahnya dengan warna kuning, saya tidak boleh ngamuk dan bilang tetangga tidak toleran. Semua ada batasannya. Semua tergantung cara kita menyikapinya.

Lanjut ke dua anak remaja yang memang saya perhatikan betul perkembangannya. Mereka yang membuat saya keukeuh menolak tawaran untuk ngantor lagi secara full. Baru setelah mereka remaja, dan saya sudah yakin kemandiriannya, saya siap lagi menerima tawaran untuk ke sana dan ke sini, belajar sehari dua hari meninggalkan mereka, seizin ayahnya anak-anak.

Semua perbedaan sah. Kalau dalam rumahtangga adanya konflik karena perbedaan. Mau langgeng, mari bergandengan tangan. Mau berantakan, silakan dengan ego masing-masing. Cari titik temu, dan mau berubah ke arah yang lebih baik. Berubah karena memang yakin perubahan itu mendatangkan kebaikan, bukan karena tekanan dari pasangan.

“Ibu, aku takut berbeda,” ujar Sulung suatu hari.
Anak yang diajarkan dengan perbedaan sejak dulu, ternyata masih takut juga bila berhadapan dengan perbedaan.
“Kalau aku berbeda dari teman-teman soal agama…”
Saya hanya menjentikkan jari telunjuk dan jempol saya. “Perbedaan itu kecil. Terus belajar saja. Ibu yang akan ngajarin kamu,” ujar saya.
Semakin diulang-ulang ketakutan itu, semakin belajar saya, untuk terus berdiskusi.

“Ibu…., temanku tuh gak ada yang nulis,” ujar Bungsu suatu hari. Ia tidak mau menulis, juga membaca. Teman-temannya tidak suka melakukan hal itu.
Maka saya hanya bilang, bahwa berbeda itu tidak enak. Tapi hasilnya baru akan terasa kelak, puluhan tahun ke depan. Ketika teman kamu masih berpijak di tempat yang sama, kamu sudah ada di mana-mana. Ketika teman kamu masih ada di atas lautan, kamu sudah masuk dan melihat banyak macam keindahanya.

Perbedaan itu fitrah.
Itu yang saya ulang-ulang pada anak-anak. Harus terus cari ilmunya agar hidup terus berjalan maju tidak mundur.
Sebagai ibu yang bekerja di rumah, dan suka sekali membaca buku, saya jelas merasa berbeda dengan para tetangga. Tapi mengucilkan diri dan membuat perbedaan itu semakin besar juga aneh rasanya. Maka cara yang saya tempuh adalah dengan meminjamkan buku-buku saya pada mereka, dan mengenalkan pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Jadi ketika saya tidak kumpul di sore hari, mereka paham saya sedang bekerja dari rumah.

Dan hasil perbedaan yang dua remaja dapatkan adalah, menjadi diri sendiri. Prestasi yang mereka dapatkan adalah buah dari pelajaran fokus meniti jalan yang berbeda.

Mendidik Anak Menjadi Pribadi Androgynous

Ada banyak cara mendidik anak. Yang sering saya lakukan adalah mengikuti apa yang orangtua saya lakukan, dengan membuang apa yang tidak sesuai untuk saya.
Ada banyak pelajaran masa lalu yang saya dapatkan.
Dan pengalaman itu yang saya bawa untuk mendidik anak-anak.
Meskipun ada juga yang tidak bisa totally 100 persen saya bawa. Yaitu didikan agar kakak mengalah pada adik. Adik saya empat orang, dengan karakter yang jauh berbeda dari saya. Proses mengalah dengan empat adik itu, membuat saya sulit untuk berkata tidak. Untuk berani menolak pun, itu saya pelajari bertahun-tahun. Dan merasa seperti terbebas dari belenggu, ketika saya bisa berkata tidak, pada orang yang sebelumnya tidak pernah saya tolak.

Anak laki-laki dan perempuan sama didikannya. Itu yang terjadi di rumah saya. Bapak bersikap tegas untuk 8 anaknya. Kalau di rumah yang ada anak perempuan, dan saat itu Bapak butuh semen, maka disuruhlah si anak perempuan untuk pergi ke toko bangunan.
Eh kok pasnya saya terus yang ada di rumah, karena saya paling betah di rumah. Maka jadilah saya sering beli semen, paku dan lain sebagainya. Pernah ada teman yang bertanya, kenapa saya mau aja disuruh ke toko bangunan?
Pernah juga waktu Bapak butuh bambu untuk bikin pagar, saya dan adik saya yang masih SD beli bambu di tukang bambu. Lalu mengantar si tukang yang membawa gerobak sampai rumah.

Anak harus patuh pada orangtua. Itu juga pelajaran dari Bapak.
Karena itu ketika pada malam hari Bapak butuh soto kambing atau yang lainnya, anak-anak akan diminta ke warung. Padahal untuk ke warung kami harus melewati rumah kosong yang luas dan lebar. Jadi bukan jalan tapi lari untuk sampai ke tukang soto.
Kalau apa yang dibeli salah, Bapak juga tidak membolehkan pasrah. Pernah saya kebagian membeli sesuatu dan si tukang salah. Saya bilang kasihan tukangnya, sembari gak enak hati untuk membalikkan barang itu. Tapi Bapak menyuruh mengembalikan barang itu, dan saya terpaksa ke toko.

Pelajaran-pelajaran itu ternyata mengena betul di hati saya. Padahal orangtua dulu tidak paham teori psikologi.

Pribadi Androgynous

Pribadi ini justru saya kenal setelah saya membaca buku parenting. Oh ternyata apa yang diajarkan Bapak dulu betul, ya.
Di rumah saya biasa melihat Bapak masuk ke dapur, sampai menyetrika pakaian. Dan di rumah juga biasa, kalau perempuan pegang gergaji atau palu. Yang anak laki-laki berada di depan ulekan juga biasa.

Pribadi androgynous sendiri pribadi yang memilik sifat seimbang.
Laki-laki akan tumbuh sebagaimana laki-laki, tapi ia memahami sisi feminim dengan kadar secukupnya.
Individu androgyny memiliki panduan karakteristik laki-laki dan perempuan. Dan panduan ini membuat mereka menjadi fleksible dengan situasi di mana mereka berada.
Lelaki bisa bersikap semestinya laki-laki, tapi ia bisa memiliki kelembutan yang tentunya akan bermanfaat ketika berumah tangga.
Perempuan memiliki sisi kelembutan, tapi ia juga bisa tegas dan cekatan ketika berada pada satu situasi tertentu.
Menurut para ahli sebenarnya perempuan memiliki sikap animus (maskulin) dalam dirinya. Dan laki-laki memiliki sikap anima (feminim) dalam dirinya.

Apa yang Bapak saya lakukan dulu ternyata sangat efektif untuk saya. Saya terbiasa memanjat pohon tinggi. Masuk ke dalam rumah tangga, biasa bersentuhan dengan paku, palu juga semen. Sedikit dengan listrik karena kadang-kadang salah sambung juga dan konslet.
Dan untuk hal-hal yang sifatnya kecil, didikan itu ternyata membuat saya sigap bersikap.
Kalau ada kucing mati, jangan nunggu suami untuk menguburnya. Ambil pacul, pacul tanah, kuburkan. Sesederhana itu.

Dan kebetulan juga saya berjodoh dengan suami yang mendapat didikan yang sama. Jadi ketika saya sedang capek, yang masuk dapur adalah suami. Yang mengepel lantai adalah suami. Tidak ada yang merasa, kenapa ini jadi tugas aku? Sebab semua ada porsinya juga.

Mendidik Anak

Mendidik anak menjadi pribadi seperti ini, bagaimana caranya?
Kalau saya, hanya meneruskan apa yang orangtua saya lakukan.
Tugas mencuci piring setelah digunakan, adalah tugas setiap anak. Laki-laki perempuan sama saja. Selesai makan, cuci piring mereka.
Tugas membeli sesuatu di warung sembako atau warung makan, adalah tugas bersama. Semua bisa melakukannya.
Tugas membantu orangtua adalah tugas bersama. Siapa yang sedang ada di rumah, dan pada saat itu orangtua butuh bantuan, maka ia yang harus mau ringan tangan membantu.
“Kenapa, sih, harus bantu? Kan Ayah bisa sendiri?” itu biasa anak-anak katakan.
Saya cuma bilang.
“Kalau orangtua tidak minta bantuan, itu artinya kalian yang rugi. Karena pahala kalian tidak tambah. Sayang, kan? Lagipula nanti kalian akan jadi orangtua, dan akan merasakan hal yang sama.”

Jadi kalau ada yang melihat suatu hari anak perempuan saya naik genteng, dan anak laki-laki saya menenteng telur dari warung, sungguh itu bukan karena saya mengajarkan agar mereka menjadi kelaki-lakian atau keperempuan-perempuanan.
Tapi ini dalam rangka agar mereka menjadi manusia yang paham sisi lain karakter manusia.

Lima Tahun ke Depan yang Abstrak

Pernahkah kita takut dengan masa depan anak-anak kita? Masa depan mereka yang masih jauh. Saya sebagai orangtua sungguh takut, jika lingkungan menyeret anak-anak begitu jauh. Tidak sedikit cerita dari orangtua lain yang merasa kecolongan ketika lingkungan mendekap anak mereka terlalu erat. Anak-anak mereka menjadi anak yang jauh dari orangtuanya dan susah diberi tahu.
Ada beberapa cerita yang justru datang dari para ibu terpelajar. Ketika setan menggoda dengan rasa was-was akan masa depan. Lalu membuat ibu itu mengambil keputusan membunuh anak kandung mereka sendiri.

Ketika anak-anak kecil, saya tidak terlalu khawatir. Mereka saya sekolahkan di sekolah dasar dekat rumah, yang jam belajarnya pendek. Yang ketika pulang bau keringat. Iyalah, sekolah kampung, di pinggir kali dengan teman-teman banyak dari anak-anak kampung. Ketika jam pelajaran sekolah, guru tidak ada di kelas, mereka bebas berlarian ke sana ke mari sesuka hatinya.
Masa kecil mereka puas dengan bermain. Dan saya bahagia tentu saja sebagai orangtua, tidak mau tahu apakah menurut orangtua lain, pendidikan model itu salah atau tidak. Sebab, saya yang paling tahu tentang anak-anak saya, bukan orang lain.

Arahkan Mimpi Mereka

Saya pernah menjadi remaja. Saya pernah jadi orang bimbang. Saya pernah jadi orang yang tidak dipahami mimpi-mimpi yang sama punya. Iyalah, wajar jika mimpi saya tidak dipahami. Karena Bapak yang pegawai negeri, ibu yang ibu rumah tangga dan kami tinggal di perumahan pegawai, tentunya wajar jika putaran mimpi bapak dan ibu tentang kesuksesan hanyalah seputaran sukses sebagai pegawai.
Mimpi saya jadi penulis dan punya sekolah gratis, adalah mimpi yang aneh untuk mereka. Aneh untuk tetangga kanan kiri. Dan tidak dimengerti pada saat itu sangat tidak mengenakkan. Sampai-sampai saya punya sosok khayalan seorang kakek tua, yang selalu memahami saya.
Setiap orang lain tidak mengerti, saya ciptakan sosok itu. Sehingga saya merasa seperti ada teman yang terus membimbing saya.
Tidak mau sakit hati lagi ketika orang lain tidak peduli dengan mimpi saya.

Lalu tiba saatnya saya jadi orangtua.
Anak-anak tumbuh semakin besar dan jadi remaja. Mereka memang ditempatkan di sekolah yang lebih terarah. Saya berpikir mereka sudah puas dengan masa bermain dari kecil hingga kelas enam SD. Sudah saatnya sekarang mereka belajar memahami ada aturan lain dalam belajar.
Sekolah dengan julukan plus itu tentu tidak mudah. Saya yakin karena sekolah itu membuat anak-anak semakin bertambah pemahaman agamanya. Di sekolah umum tentu saja sulit.
Tapi materi pelajaran terlalu penuh. Meski mereka mampu, tapi saya tahu mereka lelah dengan banyaknya beban pelajaran. Kalau sudah lelah seperti itu, maka mereka otomatis hanya akan seperti robot. Masuk sekolah, belajar, pulang dalam keadaan capai, Sabtu Minggu membebaskan diri dengan main telepon genggam atau nonton tipi, Membaca buku menjadi sulit karena mereka tidak merasa asyik lagi dengan membaca.

Oh tidak, saya tidak menginginkan anak-anak saya tumbuh menjadi sewarna. Saya ingin mereka menjadi berwarna-warni. Saya ingin mereka tetap memiliki perbedaan, dan keunikan masing=masing.

Okelah mereka sudah remaja. Diajak main ke sana ke sini, ayo saja. Teman-teman mereka tidak punya pikiran macamn-macam. Tidak memikirkan masa depan. Jalani saja apa adanya.
Yang perempuan merasa jomblo, karena teman-teman seumurannya lagi sibuk dengan masa jatuh cinta. Sedang ia sedang saya arahkan untuk fokus saja pada pelajaran. Perasaan suka itu seperti apa.
Saya ajak duduk bersama, lalu bicara tentang banyak hal. Lelaki ganteng, lelaki berprestasi dan lain sebagainya.

Yang laki-laki sibuk dipanggil teman-temannya. Teman-teman yang sudah jauh lebih besar. Teman-temannya akan lulus SMA, dan semuanya bingung dengan cita-citanya. Ujung-ujungnya Sulung juga ikut bingung.

Ops, ada banyak masa depan. Mereka harus tahu, bahwa seorang yang dipersiapkan akan masa depan, akan memiiki cahaya lebih terang. Cahaya itu bukan hanya untuk mereka, tapi bisa untuk penerang jalan orang lain.
Kita tidak pernah tahu mau jadi apa. Tapi mempersiapkan bekal, seperti kita membuka areal baru dengan arit yang tajam. Kita mungkin tidak melewati jalan itu, tapi ketika wawasan kita sudah terbuka akan jalan itu, kita akan bisa mengambil keputusan. Lanjut atau berhenti.

Mereka tidak tahu jalan masa depan. Wajar, namanya saja remaja. Saya yang harus mengajak mereka untuk paham.
Pertama jelas, mereka harus tahu mereka memiliki potensi, yaitu sesuatu yang berbeda dengan teman yang lain. Dan potensi itu seperti lampu untuk mereka berjalan di jalan gelap.
Mereka juga harus tahu, bahwa dengan potensi itu mereka bisa melakukan apa?
Jika teman-temannya memilih A mereka tidak takut untuk memilih yang lain.

Saya ajak mereka terus-menerus bicara. Membayangkan masa depan. Boleh menjadikan saya sebagai bahan perbandingan, apa yang saya lakukan dulu.
Boleh santai-santai. Letih terus ingin main game bola, tidak masalah. Asal ada batas waktunya. Mau ujian dan memilih main futsal, tidak masalah. Saya dulu mau ujian malah melahap setumpuk buku novel. Dan nilai ujiannya malah bagus, karena saya tidak stress menjalani ujian.

“Ada waktu yang sayang kalau dibuang percuma. Ada masa depan yang tidak datang dengan sendirinya, tapi lewat perjuangan.”
Anak-anak mengangguk. Mereka mengisi angket dari saya sambil tertawa.
Membayangkan kekhawatiran di masa depan. Mengingat hal-hal lucu di masa lalu ketika mereka kecil.
Dan empat jam kami diskusi tidak terasa, bahkan berlanjut ke tempat tidur. Sampai akhirnya saya sangat mengantuk dan mereka pindah ke kamar masing-masing.

Setahun ke depan mereka mau apa? Lima tahun ke depan mereka akan meraih apa?
Yang jelas, saya bahagia masih bisa memberikan wawasan pada mereka.
Dan mereka bebas melepaskan kekhawatirannya pada saya.
Bersyukur, karena tidak semua orangtua punya kesempatan seperti itu.

Kalian Hebat, Teruslah Hebat

“Jadi anak-anak mau cuci piring setiap hari?”
Saya mengangguk.
Dua anak memang saya biasakan untuk mau mengerjakan pekerjaan rumah. Laki-laki dan perempuan sama saja. Masing-masing punya tugas yang harus diselesaikan. Dan tugas itu menjadi tanggung jawab mereka, selama mereka ada di rumah.

“Jadi mereka mau tidak diberi uang jajan?”
Saya mengangguk.
Saya dan pasangan juga bukan orang yang dilimpahi banyak materi. Jadi setiap uang jajan yang keluar, harus tahu untuk apa. Makan minum cemilan di rumah disiapkan. Makan siang sebagai bekal sudah disiapkan juga. Jadi uang jajan sebenarnya tidak juga penting, karena di sekolah mereka tidak ada kantin. Kecuali pada hari Rabu di mana ada market day dan teman-temannya berjualan.

Untuk kegiatan futsal atau main bersama teman, mereka harus pakai uang jajan mereka sendiri.
Itu artinya?
Ibu pelit.
Saya meringis waktu anak-anak membandingkan dengan ibu-ibu temannya, yang memberikan banyak uang jajan.

Banyak hal yang akhirnya mereka bandingkan, tapi bisa jadi masukan untuk saya.
Ibu teman-temannya membebani anak-anaknya dengan les ini itu.
Ibu tidak, begitu yang selalu saya katakan. Cukup kalian suka baca buku dan mau menghafal Qur’an, maka tidak ada les ini itu, kecuali mereka yang minta. Seperti Bungsu yang minta les Bahasa Arab dan saya setujui.
Artinya mereka bertanggung jawab pada ilmu yang ingin mereka cari.
Otak mereka tidak ada beban dari saya.
Sebab saya juga tidak ingin anak-anak terpenjara dalam sebuah ruang bernama kurikulum dan tumbuh menjadi anak yang seragam.
Mereka harus punya warna sendiri dan keunikan sendiri.

Setiap pengambilan rapor saya termasuk yang tenang-tenang saja. Tidak pernah minta urutan rangking juga dari guru, tapi guru yang menunjukkan.
Foksu melihat apakah hafalan Qur’an mereka meningkat? Bahasa Arabnya gimana? Bahasa Inggris juga Bahasa Indonesia?
“Matematikanya masih kurang, nih, Bu.”
Matematika, PKN menjadi PR karena anak-anak tidak suka. Saya juga tidak suka. Materi matematika untuk SMP sekarang adalah yang saya pelajari dulu di SMA, ALangkah kasihannya jika otak anak-anak saya dipenuhi dengan teori.
PKN materi pelajarannya terlalu padat. Tidak dibuat bahasa yang lebih sederhana. Saya sebagai orangtua yang suka membaca pun, malas membacanya.
“Enggak usah dipikirkan,” begitu kata saya pada mereka. “Bebaskan otak kalian. Ibu tidak seperti orang lain.”

Bebaskan.
Saya dahulu tidak dikejar nilai oleh orangtua, malah justru santai dan melenggang dengan prestasi. Pada saat akan ujian juga, saya malah baca novel. Dan otak saya tanpa beban ketika mengerjakan tugas.
“Tapi anak sekarang beda.”
Tidak ada bedanya. Tingkat kesantaian kita sebagai orangtua yang jauh berkurang. Sehingga menekan mereka sedemikan rupa. Berpikir hanya nilailah yang menjadi sumber utama keberhasilan mereka.

“Anaknya kalem…”
Iya dua anak remaja memang dikenal kalem. Mungkin jiwa mereka lebih tenang, karena tidak dibebani banyak hal.
Mau ujian, saya biarkan main futsal.
Kalau dulu mau ujian saya harus baca buku cerita, kenapa anak saya tidak boleh? Jika itu pelampiasan stressnya, maka biarkan saja. Masing-masing punya tingkat kenyamanan sendiri.

Mereka kalem, menurut orangtua. Di saat saya mendengar ada ibu yang mengeluh karena anaknya melawan, anak-anak tidak melakukannya.
Hanya sekarang saya ingin membuat mind map untuk mereka memahami step by step umur yang akan mereka lalui.
Soal cita-cita?
Masih abstrak cita-citanya.
Biarlah doa saya yang mengarahkan mereka menuju satu titik yang membuat mereka nyaman dan orangtua bahagia.
Mereka anak hebat di mata saya, meski belum tentu di mata orang lain.

Mendidik Anak Jangan Pakai Standar Tetangga

Aku dan anak-anak

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (QS Luqman ayat 14)

Ketika membangun rumah tangga, dan akhirnya punya anak, harusnya kita punya skala prioritas. Menyadari standar yang kita miliki. Bahkan harusnya standar itu kita tulis besar-besar dan tempel di dinding, yang bisa terlihat oleh kita dan pasangan.
Standar yang kita miliki berbeda. Dengan pasangan pasti juga berbeda, karena latar belakang berbeda. Tapi tahap-demi tahap yang kita lalui, tentunya perbedaan standar itu bisa kita minimalisir, sehingga tidak membuat kita saling menyalahkan dalam mendidik anak.
Yang tersulit adalah ketika kita menggunakan standar orang lain, dan standar itu adalah standar tetangga.

Ketika melihat tetangga membanggakan nilai ulangan anaknya yang seratus, kita langsung menyalahkan anak yang pulang membawa nilai lima. Kita tidak pernah memahami bahwa mereka belum mengerti pelajarannya. Kita juga tidak mau tahu, bahwa nilai lima itu adalah nilai hasil kerja mereka sendiri. Mereka tidak bertanya pada teman yang lain. Parahnya, kita justru merasa malu dan akhirnya keluarlah kalimat dari mulut kita, yang mengatakan bahwa anak kita bodoh dan lain sebagainya.

Standar tetangga membuat kita akhirnya menjauhkan diri kita dari anak-anak kita.
Ada tetangga baik ada tetangga buruk. Jangan meniru yang buruk tentu saja. Tapi jangan terlalu mengagungkan yang baik. Apalagi menerapkannya total untuk rumah tangga kita. Sebab masing-masing kita punya kelebihan dan kekurangan. Makanan yang enak di satu rumah, belum tentu akan sama-sama dibilang enak di rumah yang lain.

Anak kita naik pohon tinggi, kita bilang itu kreatif. Tetangga bilang itu anak.
Anak kita tidak masuk sekolah hari ini karena kita ajak menjelajah museum. Kita bilang itu pendidikan untuknya, karena sekolah tidak memberikannya. Tetangga bilang itu mengajarkan anaknya malas.
Anak lelaki kita, kita ajarkan masuk dapur dan beres-beres rumah, standar kita adalah ketrampilan. Tetangga bilang itu mengajarkan anak jadi banci.

Standar kita dan standar tetangga berbeda. Itulah kenapa kita sebagai orangtua harus mau berjuang untuk belajar mengenali diri kita sendiri dulu. Jika kita masih gamang, belajarlah untuk tidak mudah gamang. Setelah kita mengenali diri kita sendiir, mudah untuk membuat standar sendiri. Sehingga lebih nikmat ketika mendidik anak.
“Sekolah pilih di kota jangan di kabupaten. Nanti gampang ke depannya,” itu kata tetangga.
Kalau saya?
Kabupaten atau kota sama saja. Sepanjang orangtua punya pikiran global, maka tidak akan ada sekat lagi.

Yang pasti, seperti yang saya alami sendiri dengan orangtua saya, ketika orangtua memiliki standar sendiri dalam mendidik, maka ketika anak besar mereka akan menghargai kita dengan baik. Karena apa? Karena mereka dibiarkan menjadi diri sendiri dan selalu dihargai.

Mendidik Anak Bermental Tangguh

“Bu, Ibu tahu baju yang warna biru di mana?”
“Buuu, itu kenapa rotinya habis?”
“Bu…, kok sabunnya habis?”

Ketika anak memanggil saya seperti itu, tentu saja saya senang. Tapi sesungguhnya saya juga sedih. Komunikasi baik dan selalu ada diskusi. Bahkan untuk perbuatan atau kemarahan saya yang tidak mereka suka, selalu ada ruang terbuka untuk berdiskusi.

Anak-anak tumbuh dari balita hingga besar di bawah pengawasan saya.
Mereka dekat dengan saya, itu bagus. Tapi ada yang salah, dan imbasnya adalah kemandirian mereka.
Saya merasa mereka tidak semandiri saya dalam banyak hal. Karena itu pelan tapi pasti, saya berjuang untuk mundur. Demi membiarkan mereka melangkah maju.

Ada banyak hal yang membuat mereka tidak mandiri. Dominasi saya sebagai Ibu, mungkin yang membuat mereka seperti itu. Kadang-kadang saya kasihan meminta mereka ke warung. Akhirnya saya yang pergi ke warung. Kadang-kadang saya kasihan bila harus bersikap keras terhadap mereka. Padahal justru mereka ambil celah dari sana.

Ada banyak hal yang harus diubah. Dan saya mulai mengubahnya pelan tapi pasti.
Dulu ibu punya delapan anak dan setiap anak punya tugas masing-masing.
Sekarang saya punya dua anak, pekerjaan tentu tidak sebanyak saya dulu, maka itu artinya saya juga harus berjuang untuk membuat mereka mandiri dari hal paling kecil.
Anak-anak yang mandiri tahu bagaimana caranya hidup. Hidup tanpa bantuan orangtuanya. Hidup bertanggung jawab dengan kehidupan mereka masing-masing kelak ketika mereka dewasa.
Mandiri dan ketangguhan adalah satu rangkaian.
Anak yang dilatih mandiri akan tangguh menghadapi zaman.

“Gas Ibu habis,” ujar saya.
Anak-anak diam. Ibu antara kasihan dan tidak. Untung si Bapak bergerak memanggil sulung dan meminta sulung mengeluarkan motor untuk membantu saya mencarikan gas.
Galon air mineral belum diangkut? Saya kadang-kadang geregetan untuk menanti sulung saya melakukan hal itu. Tapi memikirkan bahwa kelak ia akan jadi lelaki lembek, membuat saya menahan diri. Maka sejak itu tugas mengangkat galon mineral adalah tugasnya.
Ada cucian piring bertumpuk. Saya kok suka geregetan tangan gatal, jika rumah tidak cepat bersih. Tapi keinginan melihat bungsu mandiri kelak, membuat saya memilih untuk memanggil bungsu, dan meminta ia mencuci piring.

Akhirnya pelan tapi pasti saya terbiasa.
Ada sampah bertumpuk, tidak boleh dibuang, kalau bukan sulung yang membuang. Karena itu tugasnya.
Ada jemuran yang sudah kering, saya harus memaksakan diri untuk tetap diam di tempat. Karena itu sudah menjadi kesepakatan jadi tugasnya bungsu.
Gembok pintu pagar dan mengurusi lampu di lantai atas adalah tugasnya sulung.
Bangun tidur harus bereskan tempat tidur mereka masing-masing. Kalau mereka tidur di tempat tidur saya, itu artinya mereka harus kembali membereskannya setelah mereka bangun.

Tas, pakaian harus diletakkan di tempatnya. Kalau tidak, akan saya taruh di dalam kamar mereka. Dan itu membuat mereka tidak suka, karena kamar mereka kecil dan tidak mau dipenuhi dengan tas mereka yang cukup besar.
Bungsu butuh cari sesuatu untuk kegiatan sekolahnya, saya persilakan dia jalan sendiri menuju toko yang menjual peralatan itu, yang tidak jauh dari rumah.
Keduanya butuh surat dari sekolah untuk ikut lomba-lomba yang saya tawarkan, saya persilakan mereka minta sendiri ke guru. Saya hanya menghubungi guru untuk memberitahu surat yang mereka butuhkan. Selebihnya biarkan anak yang mengurus sampai surat itu di tangan.

Semuanya harus dimulai dari hal kecil.
Dan hal kecil itu dimulai dari ketegaan saya sebagai ibu, dan dukungan dari suami agar seiring sejalan dalam hal mendidik anak-anak.

“Ibu aku mau buat kue. Bahannya apa aja. Aku bisa.”
“Bu… ini bajuku kancingnya copot, akhirnya aku pakai peniti.”

PR saya masih banyak.
Tapi paling tidak saya bersyukur, saya tidak terlambat menyadari pola asuh yang salah. Tentu saja perkembangan mereka selanjutnya akan saya selalu lingkari dengan doa, agar langkah mereka tidak melenceng dari jalur yang benar.

Liburan Produktif untuk Anak

anak-2

“Liburan kita ke mana?” anak-anak bertanya.
Liburan kita ke mana? Ke beberapa tempat seperti biasanya? Ke luar uang untuk mengistirahatkan mata dan pikiran? Lalu pulang menguap begitu saja?

Saya berpikir ulang.
Liburan kali ini harus jadi liburan berbeda. Liburan bukan yang sekedar menghasilkan sesuatu dan menguap tanpa terasa. Saya ingin mereka merasakan liburan yang berbeda.

“Ikut program ke Kampung Inggris. Mau?” tanya saya.
Anak-anak yang sekolah dari pagi sampai sore, dikasih liburan dengan bentuk lain, pastinya akan menolak. Apalgi mereka tahu target ibunya. Yang terbayang adalah mereka harus belajar di sana. Bukan bersenang-senang. Iya bersenang-senang dalam artian otak dibuat bebas tanpa berpikir.
“Bu…, liburan, ya, liburan. Bersenang-senang,” itu yang diucapkan Sulung. Program itu memang semula saya tawarkan padanya.
Setelah negoisasi maka ia berkata lagi. “Aku sendiri, loh,” protes dia ketika saya menawarkan program itu untuk adiknya juga.

Okelah program ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, untuk Sulung dan Bungsu pada kesempatan berikutnya.
Pembayaran sudah dilakukan. Tapi di tengah bulan, setelah pembayaran pertama disetor, Sulung bilang.
“Bu, tes pesantren aku tanggal yang 18, loh. Kampung Inggris berangkat tanggal 17.”
Sulung memang sudah mendaftar di pesantren. Pesantren dia yang pilih. Sebulan ia juga ikut pendalaman materi masuk pesantren dari sekolahnya.
Saya biarkan ia berproses. Belajar konsisten dengan pilihannya. Tapi yang pasti harus ditangani. Yang pasti pasti itu, program ke Kampung Inggris harus ada penggantinya. Maka saya tawarkan pada Bungsu.
“Apa aku bisa, Ibu?”
Saya mengangguk. Memberi rayuan dengan terus-menerus berkomunikasi. Bahwa dunianya akan berkembang, jika dia tidak menghabiskan liburkan di rumah saja. Bahwa ia nanti akan belajar bagaimana mengolah rasa, ketika jauh dari orangtua. Bahwa dia juga nanti akan merasakan, betapa nikmatnya tempe goreng bikinan ibunya ketika jauh dari Ibu.
Bungsu berangkat. Was-was campur senang.
Ke mana? Kampung Inggris di Pare, Kediri. Perjalanan 12 jam dari Bekasi dengan kereta api. Rombongan dari sekolahnya.
Hari pertama ketika ditelepon masih menjawab tidak enak. Tapi selalu saya bilang, bersyukur. Karena tidak semua anak bisa mendapatkan kesempatan ini. Tidak semua orang tua bisa membiarkan anak pergi jauh dari mereka. Bersyukur dan nikmati.
Maka hari selanjutnya, dia sudah terdengar ceria. Dan foto-foto dari guru pembimbingnya juga memperlihatkan hal itu.
Menjauh dari orangtua membuat ia menemukan satu titik hikmah. Bagaimana menjadi tegar dan bahagia.
Saya juga belajar menyadari, bahwa kelak mereka punya hidup sendiri. Tentu ini juga pelajaran agar kelak saya tidak merecoki hidup mereka, ketika mereka sudah dewasa dan berumahtangga.

anak-3

14 hari Bungsu akan menikmati liburan sambil belajar. Satu kamar kosong. Si Sulung bingung tidak ada sparing partner di rumah. Biasanya mereka berdua sering bantah-bantahan lalu akur lagi.
“Asyik, aku bebaaaas,” begitu kata Sulung.
Bebas dalam artinya tidak terikat pelajaran. Ia ingin bebas sepenuhnya. Nonton tipi sepuasnya, main bola sepuasnya, nongkrong sepuasnya. Seperti teman-teman bermainnya yang tidak direcoki oleh aturan ibunya untuk ini dan itu.
Bersyukur, begitu Bungsu berangkat saya dapat brosur pesantren kilat dari adik saya. Kebetulan anaknya yang di pesantren ingin ditingkatkan kecintaannya pada Al Quran.

Menolak, iya menolak pada awalnya. Tapi saya intens berkomunikasi dengannya. Tentang waktu muda yang bisa habis tersia-sia. Tentang proyeksi hidup setelah kematian, Tentang wawasannya sebagai anak muda yang harus diluaskan, agar tidak seperti katak dalam tempurung.
Ia harus kenal banyak orang, menghadapi banyak orang, beradaptasi dengan orang banyak, melihat bahwa dunia luar itu luas, dan ia harus berada di keluasan dunia itu tanpa kehilangan jati diri.

“Ibu tahu, ini liburan?”
Saya mengangguk.
Hari biasa telepon genggam ada di tangan saya. Cuma Sabtu Minggu mereka boleh pegang. Peraturan dari sekolah juga seperti itu. Tapi aduhai, menyerahkan telepon genggam di tangan dua remaja, itu sama artinya dengan membiarkan mereka melakukan kegiatan yang tidak manfaat. Tapi membuat mereka jadi kurang update juga saya tidak mau. Mau saya mereka kenal internet juga dunia maya dan sela seluk beluknya, untuk mereka jadikan celah belajar. Mereka bisa membuat sesuatu yang kreatif, bukan hanya tenggelam membaca status menikmati video-video saja.

“Kalian harus tahu indahnya dunia tanpa internet,” ujar saya.
Mereka tahu Ibu sulit dibantah.
Mereka tahu meski tanpa emosi, Ibu akan mengajak diskusi yang hasil akhirnya mereka akan tunduk.
Lalu giliran Sulung berangkat. Cemberut, malas-malasan, memperlambat waktu, itu biasa. Toh dia paham ibunya pantang tergerak hatinya untuk hal-hal seperti itu.
“Ibu, teman lain senang-senang,” keluhnya tentang teman-teman bermainnya.
Kami naik kereta yang penuh sesak. Dari angkutan umum menuju kereta, transit untuk pindah kereta yang penuh sesak lagi, lalu berlanjut naik ojek.
Sepanjang jalan, saya ada kesempatan untuk memasukkan pesan padanya.
“Ini yang Ibu lakukan untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu tidak datang dengan mudah. Ilmu itu harus dikejar.”
Maka saya antarkan dia ke suatu tempat, di mana berkumpul teman-teman sebanyanya yang menghafal Al Quran.

anak-1

Melihat dia bergegas ke masjid. Melihat dia memegang Al Quran memang biasa. Tapi melihat dia yang baru datang, lalu saya tinggalkan di masjid dengan Al Quran di tangannya yang sedang dihafal, rasanya ada yang terasa nyes di hati.
Apalagi ketika mulai hafalan jam lima dan jam sembilan malam ia setoran ayat baru. Satu halaman ia dapat menghafal di hari pertama. Ustadz pembimbing selalu meng up date informasi perkembangan peserta dan foto-foto untuk penawar rindu orangtua.
Akan ada sepuluh hari waktu untuknya. Akan ada banyak yang bisa ia raih, termasuk bagaimana menambah wawasan dan mengelola emosi juga mentalnya.

Tapi paling tidak saya bahagia.
Liburan yang saya berikan kali ini pada anak-anak, adalah liburan yang berbeda.
Mereka akan datang setelah liburan, dengan cerita yang berbeda dengan teman yang lainnya.
Dan sebagai Ibu, saya akan jadi tempayan untuk menerima ilmu baru dari mereka.

Proses itu Mahal Harganya

kue-aku

Tidak ada yang murah, begitu yang selalu saya katakan pada anak-anak.
Tidak ada yang bisa langsung jadi, tapi semua harus patuh menjalani proses. Itu saya katakan pada Sulung saya, yang agak kaget ketika liburan ini saya alokasikan dana untuk ia ikut pesantren kilat.

Ada banyak proses.
Saya berproses panjang sebagai Ibu. Dari mulai Ibu yang tidak bisa masak, jadi bisa sedikit masak belakangan ini. Alhamdulillah.
Dari mulai orientasi pada karir, sekarang fokus pada karir dalam rumah tangga.
Dari mulai jadi istri yang merasa harus sejajar, artinya kalau istri bisa menghasilkan uang sama seperti suami, artinya lakukan apa yang dibisa tidak perlu dilayani, sampai akhirnya jadi istri yang punya kesadaran penuh untuk melayani suami dan tetap memiliki penghasilan.
Dari mulai tidak ada minuman untuk suami di pagi hari, sampai ada dan siap membuatkan apa yang suami inginkan.

Ada banyak proses.
Orangtua berproses anak harus mengerti, pasangan harus rajin mengingatkan.
Anak berproses, orangtua harus sabar mengikutinya. Jangan langsung memberi cap negatif.

Sulung saya sudah mulai agak susah diperintah orangtua.
Ada tugas-tugas rutin yang jadi tanggung jawabnya memang. Seperti gembok pintu pagar, itu jadi tugasnya dia. Otomatis dia akan mengerjakannya. Tapi tugas yang lain, saya harus buka suara untuk selalu mengingatkan.
Harus selalu mengingatkan?
Iya, saya anggap proses mengingatkan terus-menerus itu adalah rangkaian doa yang diulang. Kelak pada satu titik, ia akan otomatis bisa melakukannya.

“Kalau temanku manggil terus kamu langsung cepat menemui dia, lakukan pada orangtua juga. Sama seperti orangtua juga langsung berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak termasuk bayaran sekolah.”
“Kalau orangtua melakukan hal yang baik, turuti. Karena orientasi orangtua kamu dan orangtua lain bisa jadi berbeda. Bersyukur.”

Diskusi, diskusi dan diskusi.
Lakukan komunikasi pada saat di mana perut mereka kenyang dan pikiran mereka santai.
Jangan ketika mereka sedang kelaparan karena Ibu malas masak dan ketika sedang sibuk mengerjakan PR.

Sulung memang berencana masuk ke pesantren. Dia yang minta, dia yang memilih pesantrennya. Tugas saya hanya mendaftar sambil terus bicara dengannya. “Tolong Ibu sebagai orangtua. Jadilah anak yang paham agama, jadi Ibu tidak malu kalau ditanya Allah kelak.”
Tapi seringnya lingkungan menarik begitu keras.
Libur artinya libur.
Tahun baru artinya rencana begadang bersama teman yang lain.

Maka bicara dan bicara lagi saya lakukan.
Akan zaman yang semakin bergejolak dan waktu yang terbuang sia-sia.
“Ibu akan berdoa dalam tahajud,” ujar saya padanya. “Agar Allah lembutkan hatimu.”

Proses itu mahal harganya.
Sadar diri bahwa ketika ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, kita harus mau berproses lebih banyak lagi.
Saya juga terus berproses.
Jadi Ibu yang baik dan semakin baik lagi.
Termasuk rajin masuk dapur untuk mememnuhi perut anak-anak dan pasangan.

Berubah Mulai dari Hal Terkecil

ajeng

Mulai dari yang kecil dulu. Intropeksi diri sendiri dulu. Itu sih yang selalu saya katakan pada orang rumah.
Makanya ada banyak tempelan, termasuk tempelan di kamar mandi. Salah satunya cara mandi wajib dengan urutannya.
Maklum sudah punya dua abege, jadi biar mereka paham tata caranya.

Suatu hari kami diskusi soal mimpi basah. Sulung bertanya. “Jadi mandi yang Ibu tempel di kamar mandi benar gak, sih? Kok aku beda?”
“Kan ada dua cara. Satu dari Maimunah satu dari Aisyah. Bisa pakai salah satu cara dari keduanya. Yang afdol dengan menggabungkannya. Yang Ibu tempel yang dari Maimunah.”
Sulung mengangguk.
“Yang penting setiap Jumat niatkan untuk mandi wajib, ya.”
“Iya, aku udah tahu.”
Bola mata adiknya membesar. “Mimpi basah itu apa?”
Lalu Sulung bercerita dan si adik tertawa.
Hal-hal sederhana dan kecil itu sering luput dari justru kita sepelekan.
Seperti hal sederhana lain, yang akhirnya membuat anak jadi cerewet juga.
“Ibu, minum harus duduk. Ibu tahu kalau minum duduk, air jadi akan tersaring.”
“Ibu, jangan pakai baju warna itu lagi. Masa ibu-ibu udah tua masih mau terus muda?”
“Ibu, itu kerudung Ibu kurang panjang. Tarik ke bawah kuncirannya biar enggak seperti punuk unta.”
Mulai dari hal paling kecil.
Masuk kamar mandi pakai kaki kiri ke luar dengan kaki kanan.
Masuk rumah ucapkan salam.
Ke luar WC ucapkan Ghufroonaka (Ya Allah ampuni saya). Kenapa minta ampun? Karena untuk hal yang kita anggap sepele, buang kotoran, tanpa campur tangan Allah kita tidak bisa apa-apa.

Jadi teringat yang dikatakan seorang ustadzah beberapa waktu yang lalu.
Mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil dahulu. Bisa jadi seorang hamba sudah hampir masuk ke neraka, tapi tiba-tiba dikejutkan oleh pahala dari amalannya. Ternyata pahala dari amalan yang dianggap kecil itu yang bertumpuk menjadi besar, dan bisa membawanya ke surga.
Pada saat mendengar itu saya malah berpikir sebaliknya.
Jangan-jangan, bisa jadi kita sudah siap masuk ke surga kelak, lalu tiba-tiba ada dosa yang menyeret kita akhirnya batal masuk surga.

Sesuatu yang mungkin kita anggap kecil seperti menyepelekan orang lain atau mungkin mencela. Kecil, tidak terasa, tapi imbasnya luar biasa. Apalagi jika dilakukan terus-menerus.
“Mulai dari diri sendiri dari hal kecil,” itu yang selalu saya ingatkan pada anak-anak.
Tularkan pada orang lain.
Biarkan orang menjadi senang dalam beragama. Merasa tentram. Setelah itu jadi haus untuk menambah ilmu.

Alhamdulillah sudah diterapkan di Liqo setiap Selasa.
Setelah qiraah Quran, kami setor hafalan Quran yang kami dapat selama satu minggu, lalu disambung tausiah.
Sebulan sekali jadwal seorang untuk maju, membacakan hafalannya di depan anggota lain. Hari ini giliran saya.
Setelah itu bisa sharing apa saja.
Kali ini kami belajar bikin adonan roti.
Saya diajar oleh tetangga saya ini. Mantan pegawai yang sekarang fokus membuat kue dan menerima pesanan. Saya lagi menghasut si ibu ini, agar mau bikin blog dan juga mengoptimalkan IG-nya.
Sudah siap-siap belajar nulis juga katanya.
“Pokoknya nanti saya ajarin nulis, ya, Mama Bilqis,” begitu katanya.
Kalau sudah begini, indah rasanya menjadi muslim.