Ning dan Kue Kering Tanpa Telur

Kelopak matanya terbuka lebar. Sebuah gambar yang Ning tunjukkan membuat senyumnya mengembang.
“Mau mencoba?”
Ning memandangi kue itu. Kue kering berwarna putih. Dengan tulisan resep di bawahnya. Dari sebuah akun instagram.
Sebuah kue tanpa telur tanpa terigu.
“Hanya 125 gram butter/margarine, 80 ml susu kental manis dan 200 gram maizena.”

“Hanya itu?”
Ning mengangguk.
Hanya itu saja bahannya. Mungkin hanya akan menghasilkan sedikit kue. Mungkin Ning harus membuat takaran dua kali lipat agar bisa menghasilkan lebih banyak lagi.

Maka pada pagi menjelang siang, setelah dua kali putaran sepeda, Ning memutuskan.
Kue kering sederhana harus mengisi toples-toples kosongnya hari ini.
Dua kali dari bahan yang disebutkan.
Dicetak dengan alat pencetak kue.

Ning mencampur mentega bukan butter, dengan susu kental manis. Setelah tercampur rata dan diaduk dengan garpu, Ning memasukkan tepung maizena.
Adonan masih terasa lembek, tapi Ning tidak paham ukurannya.

Oven sederhana itu sudah di atas kompor. Adonan sudah berada di loyang dan dibentuk. Loyang tidak perlu disemir mentega lagi.
Kue dimasukkan dan meleleh sempurna.
“Meleleh,” ujar Ning seperti putus asa.
Kelopak mata lelaki itu mengecil. Menunjuk tepung terigu yang ada. “Mungkin perlu ditambah terigu.”

Dan lelaki yang ada di samping Ning membantu sepenuh hati. Mencetak setiap adonan dengan alat pencetak yang tinggal ditekan.
Ning ditinggal sendirian ketika semua cetakan sudah berada di dalam loyang.

Kue-kue itu dimasukkan ke dalam oven.
Menunggu beberapa saat.
Mengering dan matang.

“Seperti rasa kue kering sagu keju,” ujar lelaki itu dengan kelopak terbuka dan senyum mengembang lebar.
Ning tersenyum.
Toples-toplesnya berisi kue kering lagi.
Dan ia pun tersenyum lega.

Satu Gelas Kurma Saja

“Satu gelas kurma saja,” suara itu terdengar olehmu. “Satu gelas saja.”
Satu gelas kurma.
Kurma yang sebenarnya dulu tidak pernah ingin kau sentuh, karena kau tidak suka warna hitamnya. Kurma yang terasa di lidahmu terlalu manis.

“Dibelah kurmanya. Buang bijinya. Lima sampai tujuh butir kurma. Masukkan ke dalam gelas, Siram dengan air panas. Biarkan dingin. Buatlah di malam hari dan minum di pagi hari.”

Kau mengangguk.
Kurma, kurma dan kurma.
Kau tahu, tidak ada sesuatu yang tercipta sia-sia. Buah yang disunnahkah dan dijadikan contoh untuk berbuka puasa. Yang salah bukan buah itu. Yang salah lidahmu.

“Atau rebus saja sampai airnya mendidih.”

Kau mulai belajar mencoba.
Usia merangkak naik. Udara sepertinya tidak lagi ramah padamu. Angin cepat masuk ke dalam tubuh, menerjang semua tulang rusukmu.
Obat-obatan tidak kau sukai, karena sejak kecil sudah kenyang obat kimia masuk ke tubuh kurusmu.

“Kurma untuk kesehatan. Sambil berdoa.”
Maka ketika seorang lelaki yang sudah 16 tahun hidup bersamamu mulai mudah jatuh sakit juga, kau mulai mencoba.
Bukan permen lagi yang ada di toples-toples milikmu. Tapi buah-buah kurma.

Setelah Subuh, kau mulai berada di dapur.
Air kau masak. Lalu kau masukkan beberapa butir kurma yang sudah kau belah. Bijinya ikut di dalamnya. Kau tidak membuangnya. Kau berharap mengumpulkan bijinya, untuk kau oleh jadi kopi. Kopi yang bisa menemanimu ketika sedang berada di depan komputer. Meski niat itu belum juga terlaksana.

Segelas kurma di pagi hari disertai doa.
Manisnya terasa.
Segarnya menghangatkan tubuhmu.
Seorang lelaki yang hidup bersamamu, mulai terlihat semakin membaik karena minuman yang kau buat setiap pagi. Mungkin kekuatan doa-doamu juga jadi pewarna di dalamnya.

“Satu gelas kurma, saja,” ujar suara perempuan tua di seberang sana. “Jangan lupa olah raga.”‘
Kau tahu, memang harus melakukannya.

Satu gelas kurma.
Setelah segelas air putih.
Kau tahu, sekarang ia jadi minuman wajib untukmu.

Bola-Bola Biskuit Coklat

Kau mengerjapkan kelopak mata. Lagi dan lagi.
Satu plastik besar bertuliskan nama mini market tak jauh dari rumah, berhamburan isinya.
“Bukan yang ini.”
“Bukan pula yang itu.”

Kau mengerjap. Matamu hampir basah. Hujan di luar mungkin harus turun sempurna, agar kau bisa mewakili perasaan hatimu pada derasnya tetesan hujan.
“Kau selalu salah.”
Kepalamu menunduk.

Ada banyak roti.
Ada banyak biskuit.
Tapi tidak ada yang bisa membuat wajah itu tersenyum.

Kau memilih berlari ke belakang. Merasa putus asa. Lalu kau perhatikan satu persatu.
Kau harus menerobos hujan untuk mendapatkannya. Bahkan kau mengurai letih dan menggantinya dengan senyum.
Dua bungkus biskuit bulat yang kau dapatkan dengan harga diskon.
Satu kaleng susu masih tersimpan di lemari, pemberian seseorang yang baru kau kenal.
Ada coklat warna-warni yang warnanya sering mengingatkan kau pada suatu masa, di mana hidupmu penuh warna. Ketika seorang lelaki diam-diam selalu memujimu.

“Kau tahu apa yang ingin kumau?”
Kau tahu, apa yang ia inginkan. Tapi kau perlu yang lain.
Kau butuh lima menit saja untuk kembali ditarik ke masa lalu. Teman-teman yang baik, pesta kecil untuk gadis kecil. Makanan yang tersaji lalu pelukan-pelukan hangat.

Kau merasa berharga ketika mereka memberikan sesuatu yang berbeda.
Arisan yang membuat namamu muncul lebih dahulu. Ternyata kau tahu teman-teman membuat namamu lebih banyak, sehingga sebanyak apapun dikocok,kemungkinan besar namamu yang akan ke luar.
Kau merasa berharga ketika seorang teman menghadiahkan kue tart, hanya karena membaca coretan di buku pelajaran yang ia pinjam.
Kau merasa berharga ketika teman-teman baru di perusahaan baru, menahan langkah untuk pulang. Sebuah meja, sebuah tart, seorang boss dari negeri lain berkumpul. Memberikan doa-doa terbaik.

“Sudah, kah?”
Kau ingin kembali ke masa lalu sejenak saja.
Maka biskuit bundar itu kau buka bungkusnya. Kau ambil lima keping saja. Kau tekan dan hancurkan ,seperti ingin kau hancurkan segala sedih yang hadir di hati.
Biskuit itu berkeping.
Lalu kau beri sedikit air panas untuk membuatnya lembek dan hancur.
Kau ambil susu dalam kaleng yang sudah kau buka. Kau tuang sedikit saja. Kau campur dan aduk hingga rata.

Pada satu wadah kau tuangkan coklat mesis warna-warni.
Biskuit yang sudah kau hancurkan, kau bulatkan menggunakan dua buah sendok. Lalu bulatan kecil itu kau gulirkan ke dalam wadah berisi coklat warna-warni.
Kau ambil kertas mungkin dari dalam lemari. Lalu kau taruh di dalamnya bulatan itu.

“Kau buat apa?”
seseorang bertanya di belakangmu.
Kau menunjuk pada bulatan penuh warna itu.
Mata itu melihatnya, lalu tangannya bergerak. Memasukkan satu bulatan ke mulutnya.

“Enak,” ujarnya.
Kau merasa lega.
Kau seperti merasa seperti dipeluk sebuah ombak yang menenangkan.

Pada Senja yang Rapuh

2017-2

Pada sebuah senja di depan jendela, Ren mengerjapkan kedua kelopak matanya. Jalan setapak berujung pada kelokan yang tidak lagi tertangkap mata, membuat ia harus menarik napas berkali-kali.
“Kapan ia akan datang?”
Ren tersenyum. Menangkap suara yang datang bersamaan dengan suara lain. Kursi tua yang terlihat baru saja digeser.
“Kapan?”
Ia akan datang pada setiap senja pada awalnya. Lalu pelan tapi pasti, ia tak lagi tampak.
“Sudah ada satu plastik terigu.”
Ren menoleh. Ada si Mbok tampak terpekur memandangi lantai tanah. Lantai tanah yang Mbok bilang tidak perlu diganti, sebab Mbok tidak ingin terpeleset di lantai keramik.
Ia akan datang. Seharusnya lelaki itu datang. Lalu menyerahkan sebungkus kopi. Mbok biasanya akan bersemangat menyeduhkan untuknya. Dan Ren akan sibuk mengolah adonan terigu di dapur.

2017-3

“Roti yang berbeda,” katanya pada Ren pada suatu senja, setelah sebuah mobil bak terbuka menurunkan kulkas ukuran kecil untuk Ren. Mbok tertawa menyambutnya. Lalu bicara tentang banyak kue yang akan Mbok simpan di dalamnya. Dan pada hari pertama kulkas itu diisi, Mbok mengisinya dengan banyak macam barang yang seharusnya ada di lemari makan. Dari mulai gula sampai teh.

Roti yang berbeda.
Yang Ren tahu adonan roti yang ia dapatkan di tempatnya dulu. Terigu, gula, mentega dan ragi, juga susu. Hanya itu.
Tapi lelaki dengan bibir mengembang penuh senyum itu menyodorkan yang lain pada Ren. Katanya Ren harus tahu rasanya. Katanya kalau Ren bisa, maka akan ia buatkan sebuah toko kue di kota.
Ren merasakannya. Roti renyah dengan berbentu seperti keong. Mbok berteriak asin, ketika gigi tuanya menggigit irisan keju.
“Croissant namanya.”
Ren tahu, ini berbeda. Lidahnya seperti menari-nari ketika merasakan renyahnya roti memasuki rongga mulutnya.
“Zee tahu cara membuatnya.”
Zee tahu cara membuatnya. Kening Ren berkerut. Zee. Nama itu kembali dihadirkan. Zee tahu resepnya. Zee, seorang gadis yang punya toko roti di kota.
Kadang-kadang Ren menyesali panggilan keluarganya untuk kembali di rumah. Menjaga si Mbok yang sudah mulai pikun. Lalu sebagai bungsu yang patuh, ia harus pulang. Harus pulang sampai Ken melamar untuk jadi istrinya.

Ada adonan pasta mentega.
Maka Ken berikan setumpuk resep. Satu resep tulisan tangan. Itu tulisan tangan Zee. Croissant Zee paling laris. Ren bisa melihat wajah Ken penuh dengan senyum.
Pasta mentega buat dengan butter bukan margarine. Di desa tidak ada butter, Ken membawakannya. Sebuah kaleng kecil berharga lebih dari limapuluh ribu.
Ren harus mencampurnya dengan sedikit terigu. Sebelumnya harus memasukkan ke dalam kulkas, karena ketika kaleng dibuka, butter akan mudah mencair di tangan Ren.

Butter namanya. Ren mencium aroma susu. Menggoda selera.
“Kamu pasti bisa.”
Ren pasti bisa. Ren ingin bisa. Lalu melihat wajah Ken tersenyum sambil berkata, kamu hebat.
Butter dicampur dengan terigu, tambahkan sedikit margarine agar tidak terlalu cair.
Satu kaleng kecil butter gunakan separuh saja, tambahkan separuh lagi dari margarine. Campur dengan sesendok atau dua sendok makan terigu. Aduk rata dan bentuk menjadi persegi panjang. Bungkus plastik simpan di kulkas.

“Aku sudah ndak sabar,” begitu kata si Mbok.
Ada adonan lain.
Ren harus mencampur dua kuning telur dengan seperempat terigu. sedikit garam, sedikit gula, juga 180 ml air. Ken membelikan gelas ukuran itu, katanya seperti yang Zee pakai.
Aduk adonan kedua dengan tangan. Hingga tercampur. Lalu masukkan ke dalam plastik, tutup rapat, dan diamkan di kulkas semalaman. Iya semalaman lebih enak. Tapi Mbok tidak sabar. Ken bilang 30 menit tidak apa-apa.

Ren hanya perlu menyiapkan wadah lebar untuk menggilas adonan kedua. Ren tahu Mbok punya tempat minum dari plastik. Maka Ren menggunakan untuk menggilasnya. Wadah rata ditaburi terigu, lalu letakkan adonan kedua di atasnya. Giling hingga rata. Lalu ambil adonan pasta mentega di tengahnya. Lipat hingga adonan pasta tertutup rapat. Gilas lagi menjadi rata.
“Kapan?”
Ren memasukkan kembali adonan itu ke dalam kulkas setelah melipatnya.
“Sabar,” ujarnya menenangkan si Mbok, lalu menyodorkan pisang goreng pada si Mbok.
“Aku mau yang asin.”
Ren tahu asin yang Mbok maui sekarang bukan garam. Tapi keju.

Ada banyak senja.
Dan senja ini Ren mengeluarkan adonan dari dalam kulkas untuk menggilasnya kembali menjadi rata. Adonan pasta mentega ke luar dari lipatan, Ren harus berjuang membuat lipatan agar adonan pasta itu benar tertutup dan tidak bocor ke luar.
Tangannya licin.

Ada oven di atas kompor yang sudah menyala.
Adonan yang sudah digiling menjadi rata itu, Ren bagi menjadi beberapa bagian.
Gilas bagian kecil itu hingga rata. Lalu masukkan isi pisang, keju juga coklat. Ren membentuk sesuai dengan apa yang ia inginkan dengan bermacam angan berkelebat di benaknya.

“Yang asin.”
Ren terus menggilas.
Adonan yang digilas rata dipotong berbentuk segitiga. Diisi dengan irisan keju. Lalu digulung pelan tapi pasti.
Adonan lain berbentuk wajah dengan air mata.
Lainnya ia gulung sesuka hati.

Oven sudah memanas.
Adonan sudah semua dibentuk. Ren memasukkan ke dalam oven.

kue-nur

Pada senja yang menurunkan tetes hujan, adonan roti sudah Ren siapkan. Juga secangkir kopi. Tidak terlalu pahit. Campurkan sedikit susu. Itu selera Ken.
Mbok menikmatinya.
Ren juga.

“Kapan dia datang?”
Ren memandangi jalan setapak berkelok di kebun bambu. Kemarin tukang pos datang ke tempatnya. Sebuah undangan merah jambu diserahkan padanya.
Ada nama Ken dan Zee di sana dengan foto bersama. Mereka akan menikah.
Alangkah pintarnya Ken menyimpan rahasia. Atau Ren terlalu bodoh untuk memahami?
Tidak ada kalimat lain.
Tapi undangan itu langsung Ren masukkan ke dalam kompor yang menyala.

“Enak. Kapan Ken datang?”
Pada senja yang rapuh, Ren berjanji ini roti terakhir yang ia buat. Setelah itu ia tidak mau lagi tenggelam di dalam kenangan.

Dalam Semangkuk Seblak

kue-aku-3

“Duh, Ibu beli seblak, dong,” Sulung mulai meminta.
Semangkul seblak artinya sepuluh ribu rupiah.
Ada empat orang di keluarga kecil ini. Artinya akan ada empat mangkuk seblak.

“Bu. Jangan pelit-pelit kenapa,” Sulung mulai merayu.
Hiks, ini bukan masalah pelit. Ini masalah efisiensi biaya.
Ibu mencoba mengingat. Dalam semangkuk seblak ada sosis, kerupuk, mie dan yang lainnya.
“Mending buat sendiri, Mbak. Murah,” begitu kata adik ipar mengompori.
“Kencur ini untuk seblak,” begitu kata seorang Ibu di tukang sayur, ketika saya bertanya kenapa ia membeli banyak kencur.
“Seblak dari Bandung pakai kerupuk yang disiram air panas,” ujar seorang tetangga dari Bandung.

Seblak namanya.
Kata ipar bumbunya hanya cabe, bawang merah, bawang putih dakn kencur.
Kata resep di internet bumbunya cabe, bawang merah, bawang putih, tomat dan air asam. Ibu coba yang ini. Hasilnya seblak terasa asam.
“Jangan pakai asam,” ujar suami.

Kerupuk beli seperapat saja. Gunakan separuh. Siram dengan air mendidih sampai empuk.
Bakso potong kecil-kecil. Sosis juga.
Ulek cabai, bawang merah dan bawang putih dan tomat juga beberapa ruas kencur.
Semuanya sesuai selera.
Saya gunakan dua buah cabai, tiga bawang merah dan dua bawang putih, satu tomat kecil dan 4 ruas kencur. Lalu tumis.
Masukkan bakso, sosis yang sudah dipotong kecil.
Beri air segelas. Masukkan kerupuk yang sudah diseduh air panas, mie, dan garam.
Boleh masukkan sayuran lain. Seperti sawi putih dan yang lain.

Setelah itu hidangkan dengan taburan daun bawang.

Mekarnya Bolu Kukus Semekar Hatiku

kue-aku-2

“Saya lupa cara buatnya,” ujar saya pada seorang tetangga.
“Gampang, kok.”
Iya lupa. Saya lupa. Setelah satu kali berhasil lalu setelah itu gagal berkali-kali. Lupakan kegagalan, mulai sesuatu yang baru.

Seperti biasa, ketika mendung mulai rajin menggelayuti langit senja, anak-anak mulai sering mengeluh soal perut yang minta diisi camilan.
Ibu bukan Ibu yang sempurna. Tapi menjalankan amanah untuk mereka, agar kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarganya bukanlah hal yang berat.
Ada telur dan terigu juga soda kue dan ovalet bahan utamanya.

Telur.
Iya. Sekarang tahu banyak soal telur.
Jangan biarkan telur untuk membuat kue masuk kulkas. Biarkan di luar saja.
Kalaupun sudah terlanjur masuk ke dalam kulkas, maka rendamlah dulu dengan air hangat.
Dengan begitu adonan kue bisa mengembang.

“Ibu…, aku mau bikin kue. Kalau Ibu enggak mau biar aku.”
Bungsu merengek dan saya minta ia siapkan bahannya.
Telur dua, gula seperapat dan ovalet satu sendok teh campur jadi satu. Aduk dengan mikser kecepatan tinggi, sampai ia mengembang sempurna, putih dan kaku.
Beri vanili.
Masukkan air soda segelas dan terigu seperapat bergantian. Aduk sampai tercampur rata.

Lalu bagi adonan beberapa bagian.
Beri warna yang ingin diwarnai.
Lalu masukkan ke dalam cetakan bolu kukus.

Siapkan panci untuk mengukus. Tutupi tutupnya dengan kain, agar tetesan airnya nanti tidak masuk ke dalam kue.
Beri air separuhnya saja tidak boleh penuh.
Tutup pancinya, nyalakan kompor biarkan mendidih. Setelah itu masukkan kue di dalam cetakan. Tunggu sepuluh menit dan ia akan mengembang sempurna.

“Ibu ada undangan sunatan,” ujar saya melihat adonan yang masih penuh.
“Aku bisa, Bu,” Si Bungsu meyakinkan saya.
“Oke. Ibu percaya sama kamu. Tanggung jawab kamu, ya.”
“Beres. Percaya aja deh sama aku…”

Mereka bolu kukus beraneka warna menyambut saya ketika pulang.
“Aku keren, kan?” tanya si Bungsu.
“Hebat,” angguk saya.

Ada banyak warna-warni hidup.
Bolu kukus mengajarkan banyak hal. Termasuk menaruh kepercayaan penuh pada buah hati.
Ada coklat dan pewarna.

Kepingan Coklat dari Hati

kue-4

Bukankah muslim yang baik harus selalu belajar?
Seiris coklat.
Segelas coklat.
Semangat yang selalu tak boleh padam.

Ibu-ibu pengajian dan makanan yang tersaji dari olahan dapur dihabiskan adalah sesuatu yang mengharukan.
“Ibu mau buat yang ini,” Ibu menunjuk satu gambar.
“Goodtime. Ibu bisa?” Anak Bungsu memandang tak percaya.
Ibu mengangguk yakin.

Sederhana saja bahannya, begitu yang dikatakan tetangga.
Campur semua bahan dari terigu, mentega, gula, coklat, maizena, susu bubuk, baking powder juga kuning telur.
Tapi takarannya.

Kembali memandangi angka pada timbangan.
240 gram tepung terigu. Beli saja yang setengah kilo lalu bagi dua.
200 gram margarin. Mentega merk apa saja. Yang murah yang mahal fungsinya sama. Gunakan semua.
120 gram gula halus. Ah gula biasa pun bisa. Lima, enam sendok saja.
Pisahkan putih telur dan kuningnya. Gunakan dua kuning telur.
Susu buku sachetan putih merk D.
2 sendok makan maizena.
2 sendok makan coklat bubuk, jika kurang coklat tambahkan saja lagi,
Baking powder seujung gagang sendok.
Vanili satu sachet.

Kocok, kocok mentega dan gula hingga tercampur rata. Masukkan terigu, kuning telur, vanili, susu buku, maizena terakhir coklat.
Pastikan semuanya tercampur.
Rasakan. Sedikit saja apakah sudah pas rasanya dengan keinginan lidah kita?

Siapkan oven. Nyalakan api kecil saja.
Siapkan loyang olesi dengan mentega.
Bentuk bulatan kecil saja. Gepengkan bulatan itu. Tidak terlalu tipis, jangan terlalu tebal. Gepengkan dengan pangkal garpu hingga terlihat garis melintang.
Beri taburan chococip jika ada, jika tidak ada seadanya saja.
Ada tiga tingkat dalam oven.
Tingkat paling atas, tengah dan bawah. Harus hati-hati jika memanggang di bagian bawah, jangan sampai menjadi gosong, karena dekat dengan api.
Lima menit saja lalu pindahkan ke bagian tengah atau atas.

Akan ada aroma kue.
Hangat masih terasa empuk. Biarkan panasnya pergi. Lalu biskuit itu berubah menjadi mengeras.
Nikmati dengan secangkir kopi atau teh hangat.

Seiris Roti Manis Coklat Keju

kue-5

Pagi itu seperti biasanya dua remaja mengeluh. Ada bayangan kecewa di wajah keduanya, ketika pulang dari tukang sayur, di tas belanja Ibu tidak ada kue pesanan mereka.
Kue-kue di pagi hari akan menambah belanjaan Ibu bisa sampai 15 ribu.
Kue dan kue pengganjal perut. Nasi uduk atau yang lainnya.

“Harus selalu bersyukur,” ujar saya pada kedunya.
“Ibu mau buat apa?” tanya mereka.
Terigu, mentega, ragi, coklat, keju. Ibu bongkar semuanya.
Timbangan berwarna merah, yang Ibu beli hari itu juga, setelah mempelajari resep roti di sebuah web.

“Mudah, mudah dan mudah,” begitu yang dibilang teman pengajian. Anaknya empat. Katanya di rumah selalu ada persediaan terigu dan mentega. Katanya mengolah bahan sendiri adalah salah satu cara pengiritan yang paling efektif.

Bahan sederhana dengan banyak angka.
Duh, bersentuhan dengan angka membuat kepala pusing. Suami paham saya tidak teliti dengan angka. Berapa pun uang yang ia berikan, saya tidak akan bertanya banyak. Jika kurang saya berjuang untuk mencari tambahan. Jika lebih, saya berjuang untuk memasukkan ke tabungan anak-anak.

Taizhong itu kunci utama pembuat roti.
Bahannya hanya terigu yang dicampur air pelan tapi pasti, diaduk di atas kompor.
Untuk terigu 50- gram dibutuhkan air 250 ml.
Bahan itu akan dicampur ke dalam terigu ukuran 540 gram dicampur garam, gula, fermipan, susu bubuk yang dicairkan juga mentega cair.

Ada banyak jalan menuju Roma.
Ada banyak jalan menuju apa yang saya inginkan. Bukan sebuah toko roti. Tapi dua perut remaja dan satu perut suami yang akan terisi makanan yang saya asupkan doa di setiap racikannya, dengan bahan yang saya ketahui betul tingkat kehalalannya.

Semua bahan sudah dipersiapkan. Ditimbang. Ikuti aturan resep. Belajar mengakrabi angka.
Taizhong alias biang roti.
Awalnya Ibu mencoba memahami 50 gram terigu dengan 250 ml air.
Akhirnya Ibu pahami bahwa 50 gram terigu bisa ditakar dengan seggenggam terigu dan segelas air.
Kedua bahan dicampur di atas kompor.
Terigu dan sedikit air, diaduk di api kecil. Kecil saja. Tambahi air sedikit demi sedikit. Karena langsung segelas air, hanya akan membuat terigu menggumpal.
Terus aduk hingga menjadi seperti lem.
Encerkan 50 gram mentega.
Tapi suami suka dengan kue banyak mentega. Maka 50 gram akhirnya berubah menjadi separuh mentega isi 200 gram.

Sebuah wadah lain.
Terigu 540 gram ditambahi gula 86 gram. Angka-angka itu mengusik konsentrasi.
Terigu 500 gram terlalu banyak. Gunakan sepatuh lebih sedikit.
Tambahi gula tiga sendok atau sesuai selera. Tambahi sedikit garam. Aduk dengan sendok.
Campurkan taizong. Putar mikser menggunakan putaran berbentuk spiral. Bercampurlah semua bahan.
Gunakan ragi pengembang satu sendok teh saja.
Satu sachet vanila.
Satu sachet susu putih merek D.
Lupakan telur, lupakan. Tidak perlu menggunakannya.
Aduk terus.
Tambahi mentega cair.
Terus putar.
Hentikan dan perhatikan bahan di dalamnya. Sudahkan tercampur sempurna. Lalu gunakan tangan untuk membuatnya tercampur sempurna.
Ambil wadah yang sudah diolesi minyak sayur. Sedikit saja. Adonan itu sekali lagi diuleni dengan tangan.
Letakkan di wadah dengan minyak sayur. Diamkan minimal 30 menit.
Dia akan mengembang, membesar dan empuk.

Ah api harus dinyalakan.
Tidak perlu api besar. Siapkan oven. Panaskan.

Adonan yang sudah membesar itu, ambil beberapa bagian, lalu tipiskan.
Isi parutan keju dan taburan coklat.
Lalu gulung. Tempatkan dalam wadah yang kecil saja berbentuk bujur sangkar.
Biarkan pas dengan wadahnya.
Lalu olesi atasnya dengan kocokan telur. Jangan katakan tidak ada kuas. Sebab akal sehat bisa mengantar kita menggunakan sendok dioleskan sedikit demi sedikit.
Atas nama oven yang sudah menyala, biarkan adonan itu masuk ke dalamnya.
Jangan pergi. Karena lalai sering hinggap jika berjauhan.
Tunggu 15 menit.
Lihatlah perubahan bagian atasnya.
Pindahkan ke bagian tengah atau atas.
Setelah cukup bagian atasnya berwarna coklat, ambil.

Resapi harumnya, harum mentega dan terigu yang tercampur. Meski tidak seharum roti dengan aroma menyengat yang tidak pernah diketahui kehalalannya.
Iris pelan penuh perasaan.

Ah, pagi itu tidak seperti biasanya.
Sudah ada tiga pagi.
Bola mata mereka melebar sempurna.
“Ibuu, rotinya enak.”

Bolu Batik Istimewa

IMG-20160320-WA0004

Masih ada rasa trauma ketika memasak.
Entahlah. Trauma yang satu ke trauma yang lain.
Dulu lelah saja setiap kali diminta Ibu membantu memasak. Hanya mengulek bahan sampai halus. Hanya mengulek saja. Setiap hari melakuannya. Dengan terpaksa hanya menghadirkan rasa tidak suka.

Lalu putaran nasib membuat saya menikah dengan seorang lelaki dari seorang Ibu yang mahir dalam memasak. Pindah dari satu pulau ke pulau yang lain untuk memasak. Warung makan sampai pesanan kue biasa datang ke rumahnya.
Terkejut ketika tersudut dengan kenyataan. Bahwa ilmu memasak saya tidak ada apa-apanya. Masih teringat kalimat yang membuat saya sering meringis dan menangis. Ketika hasil masakan tidak diapresiasi sama sekali.

Ada banyak kenangan buruk tentang masakan.
Tapi hidup harus berjalan. Anak-anak harus melihat kenyataan indah, bahwa ibunya berjuang untuk bisa. Berproses untuk itu.
Awalnya hanya brownies dari sebuah majalah lama. Tanpa mikser karena belum memiliki. Hanya dikukus, karena tidak ada oven.
Brownies itu brownies pertama yang membuat serpihan kenangan pahit menghilang begitu saja.
Kemenangan yang membuat beberapa kilo minyak goreng, mentega dua kotak dan penggorengan teplon menjadi milik saya.
“Ibu menang?” tanya anak-anak.
Saya mengangguk. Terharu.

Lalu perjalanan memasak mencapai proses lain.
Keinginan untuk menjamu lidah suami dengan apa yang ia suka. Yang ia suka ternyata roti seperti buatan Ibu di Solo. Roti batik, begitu Ibu menyebutnya.
Ada takaran yang harus dipatuhi dan saya patuh.

Bahan :

1. Gula 300 gram
2. Tepung terigu (saya pilih segitiga biru) 350 gram
3. Telur 6 butir ukuran sedang
4. Baking powder seujung sendok saja
5. Ovalet seujung sendok saja
6. Blue Band 250 gram (tidak perlu dicairkan)
7. Susu kental manis 2 atau tiga sachet saja, tuang dalam gelas dan beri sedikit air dan aduk
8. vanili 2 bungkus
9. Coklat merk Cocoa (Van Houten) 1 sdm atau lebihkan sesuai selera.

Cara Membuatnya :

1. Masukkan gula, vanili, blueband sampai tercampur dan mengental.
2. Masukkan ovalet
3. Masukkan telur satu persatu. Satu butir kocok hingga merata, setelah itu masukkan satu lagi. Begitu terus hingga enam telur tercampur sempurna.
4. Masukkan susu
5. Campur baking powder bersama terigu yang sudah diayak. Masukkan sedikit demi sedikit ke dalam adonan lain.
6. Setelah adonan tercampur semua. Ambil sepertiga adonan. Masukkan ke dalam wadah lain. Campur dengan coklat bubuk. Aduk sampai merata.
7. Siapkan loyang. Olesi mentega dan taburan terigu, biar tidak lengket kuenya nanti. Masukkan adonan yang berwarna putih sampai merata di loyang. Tidak perlu dituang semuanya. Lalu masukkan sedikit demi sedikit adonan berwarna coklat. Ukir dengan garpu. Buat gerakan melingkar, berputar. Bereskpresi saja.
8. Setelah itu masukkan adonan putih lagi di atas coklat tadi. Tuangi lagi coklat di atasnya dan buat gerakan melingkar lagi.
9. Masukkan ke dalam oven yang sebelumnya sudah dipanaskan.
10. Panggang selama setengah jam atau lebih. Sampai kue benar-benar matang.

“Ibu berhasil…,” teriak anak-anak.
Saya tersipu.
Berhasil atau gagal yang saya tahu, saya sudah mulai berjalan meninggalkan luka.

Pie Susu Murah Meriah

11870686_10153268224828591_8387312613569539961_n

“Ibu belajar memasak?”
Saya mengangguk.
Ibu belajar memasak. Hasil olahannya akan masuk ke perut anak-anak dan pasangan. Akan bisa mereka nikmati, hingga tidak melirik makanan lain termasuk olahan dari pedagang makanan.
“Ibu belajar apa?”

Ibu mau belajar apa saja.
Perut mereka akan kenyang dengan olahan makanan yang diracik bukan saja dengan cinta, tapi dipenuhi doa.
Lalu aroma masakan, hasilnya bisa dijadikan tulisan.

“Ini pie. Ibu bisa?”
Itu resep pie. Ibu tidak bisa. Tapi bukankah semuanya berawal dari kata tidak bisa? Lalu berjuang untuk menjadi bisa.
Dari satu toko ke toko lain, Ibu mencari cetakan pie.
Hingga pada suatu hari, sampailah Ibu di sebuah tempat yang memiliki cetakan untuk pie.
Bahan langsung dicari.

Untuk kulit.

Campurkan mentega (saya beli mentega sachetan ukuran 250 gram), saya pakai separuhnya saja.
Terigu 500 gram di resep (saya pakai separuhnya saja).
Telur satu butir.
Maizena setengah sendok makan saja. Untuk membuat kulit menjadi lebih renyah.
Aduk semua bahan hingga tercampur rata.

Untuk isi :

Saya beli maizena ukuran kecil (400 gram).
Gunakan separuhnya beri sedikit air, karena maizena mudah menggumpal, maka aduk-aduk biar merata.
Susu kental manis satu kaleng.
Vanila satu bungkus saja (ukuran sachet kecil, ya).
Kuning telur dua. (Di resep ada yang bilang enam, ada yang bilang satu). Saya pakai dua saja karena hati saya sregnya pakai dua 🙂
Nah…, campur semua bahan sampai merata, lalu masak di atas kompor. Api kecil saja agar tidak gosong. Dan jangan pakai lama takutnya jadi hitam. Untuk syarat saja biar cepat matang ketika di oven.

Cara Membuatnya :

Siapkan cetakan pie.
Ambil sedikit bahan kulit. Lalu ratakan ke cetakan. Lakuan ke semua cetakan.
Lalu masukkan bahan untuk isi ke dalam kulit yang ada di dalam cetakan. Jangan sampai penuh. Dikira-kira saja.
Setelah itu masukkan ke dalam oven.
Sampai kuning kecoklatan bagian kulitnya. Terasa kok ketika kita buka oven, harum kue tercium, itu artinya sudah tanda-tanda matang.
Kira-kira 15 sampai 20 menit di atas oven dengan api kecil (oven tangkring, ya), maka kue bisa diambil.
Cara mengukur kue matang atau tidak gampang kok. Ketika cetakannya dibalik dan kue langsung ke luar dari cetakan, itu artinya kue sudah matang sempurna.

Tunggu dingin.
Bisa dibungkus untuk dijual.
Kemarin dengan bahan seperti di atas, saya dapat 40 kue pie.
Tapi Ibu memutuskan untuk menikmati proses membuat dan memberi, tanpa keinginan untuk diperjualbelikan.
Tidak semuanya harus jadi uang.
Biarlah uang datang dari banyak tulisan yang masih bisa dihasilkan.

“Enak, Ibu…”
Ah, Ibu masih harus berjuang untuk terus belajar.