Akhiran “Pun” dan “Lah”

Saya sering salah dalam menuliskan hal ini. Karena itu, saya juga ingin kesalahan saya tidak dilakukan penulis lain.

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Kecuali untuk kata-kata yang dianggap sudah jadi kesatuan utuh seperti :
adapaun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.

Untuk partiel lah, dan kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya seperti :
apalah, sudahkah, bukankah, tulislah dan lain sebagainya

Ini juga beberapa kata yang sering membuat saya menulis.
Kata-kata di bawah ini, harus ditulis disambung bukan dipisah :
kacamata, beasiswa, halalbilahal, sukacita, sukarela, marabahaya, olahraga, lokakarya, darmawisata, dukacita, belasungkawa, saputangan, saripati, segitiga, silaturahmi.

Untuk penempatan koma, saya juga sering salah.
Penempatan koma yang benar adalah :

1. Sebelum kata-kata berikut tidak boleh ada tanda koma.

bahwa, karena, agar, sehingga, walaupun, meskipun, kendatipun, apabila, jika, supaya, ketika, sebelum, sesudah, andaikata, sungguhpun, sekalipun, setelah, dan sebagainya.

2. Ungkapan penghubung antara dua kalimat, barulah diikuti oleh koma.

oleh karena itu, padahal, malah, oleh sebab itu, meskipun begitu, lagi pula, kalau begitu, selain itu, bahkan, jadi, namun, meskipun demikian,

Bermacam-macam Majas

Majas?
Bingung artinya, kan?
Majas dalam kamus Bahasa Indonesia artinya cara melukiskan sesuatu dng jalan menyamakannya dng sesuatu yg lain; kiasan.

Terus apa gunanya majas untuk menulis.
Secara teori memang pusing jika memikirkan hal itu. Apalagi buat saya yang lebih suka mengajarkan menulis secara praktik ketimbang teori. Tapi tentunya sebagai penulis, kita wajib menambah ilmu dan menambah pemahaman. Sehingga yang hadir nanti bukan sekedar ilmu menulis, tapi ilmu mengenal lebih dalam lagi bahasa dan pernak-perniknya.

Paling tidak, ilmu tentang majas ini akan berguna ketika kamu membaca ulang tulisan kamu. Kalimat-kalimat yang biasa kamu dengar, dan biasa kamu tulis, ternyata adalah salah satu bentuk dari majas yang ada.
Saya hanya berikan majas yang umum saja dipakai.

Ada bermacam-macam bentuk majas, yaitu :

1. Majas Personifikasi yaitu majas yang memberikan sifat-sifat manusia pada benda mati.
Contoh :
– Ombak berkejar-kejaran di laut.
– Pohon kelapa melambai tertiup angin.

2. Majas Hiperbola yaitu majas yang melukiskan sesuatu secara berlebihan.
Contoh :
– Petir menggelegar memecahkan gendang telinga.
– Ceramah itu membius warga desa.

3. Majas Metafora yaitu majas yang membandingkan benda secara langsung. Dan perbandingan ini bukan dalam arti sebenarnya, tapi hanya sebagai lukisan.
– Si Jago merah artinya api
– Kutu buku artinya orang yang suka membaca
– Raja Siang artinya matahari
– Kembang desa artinya seorang gadis yang paling cantik di desa
– Lintah darat artinya rentenir

4. Majas Eufisme yaitu majas yang mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata lebih sopan.
Contoh :
– Tuna rungu (tuli)
– Tuna netra (buta)
– Tuna wicara (bisu)
– Tuna karya (pengangguran)

5. Majas Metonimia yaitu majas yang menggunakan sepatah dua patah kata yang merupakan merk sebuah benda.
Contoh :
– Kakakku pulang membawa Yamaha
– Saya ingin membeli Daihatsu
– Saya ke warung membeli Indomie

6. Majas Asosiasi adalah majas perbandingan dua hal yang berbeda tapi dianggap sama.
Contoh :
– Tingkah lakunya bagai bulan kesiangan
– Tekad Anton sekeras baja
– Mukanya pucat seperti mayat

Judul Huruf Kecil

Ada banyak kesalahan yang sering saya lakukan. Dan berangkat dari hal itu, maka saya berusaha untuk belajar lebih baik dan lebih baik lagi.
Penulisan judul, sering juga saya mengalami kesalahan.
Dulu, yang ada di benak adalah pemikiran bahwa judul, selalu semuanya diawali dengan huruf besar. Tapi ternyata tidak seperti itu. Tidak semua judul harus diawali dengan huruf besar. Ada judul yang memang menggunakan huruf kecil.
Seperti :

Atau misalnya : Roti atau Nasi?
Dan misalnya : Ani dan Kucing.
Lalu :
Dengan, ke, per, oleh, ala, buat, tetapi, setelah, tapi, untuk, bagi, dari, di, kepada, sebelum, pun, sebelum, tentang, yang, daripada, karena, pada, sampai, tanpa.

Jadi jika ada kata seperti di atas dijadikan judul, tulislah dengan huruf kecil, bukan huruf besar.
Misal :
Hidup tanpa Ayah.
Rusdi yang Pandai.
Mati karena Rindu.

Dan ada yang harus diingat, jika penempatan judul itu ada di awal kalimat yang menjadi rangkaian judul, tetaplah harus menggunakan huruf besar.
Seperti :

Dan Malam pun Tiba.
Sebelum Kamu Pergi.

Oh, ya.
Ada juga yang membingungkan mengenai judul. Yaitu ketika ada kata berulang pada judul tersebut. Seperti sayur-mayur, ramah-tamah, undang-undang lain sebagainya. Lalu bagaimana ketika kaa tersebut dibuat dalam judul?

Panduannya adalah :

1. Untuk kata ulang sempurna seperti : murid-murid, bukit-bukit, buku-buku, makan-makan dan masih banyak lagi yang lain, dibuat dengan huruf besar semuanya.
Misalnya : Bukit-Bukit di Sekolah Amar.
: Perpustakaan dan Buku-Buku.

2. Untuk kata ulang berubah bunyi seperti : sayur-mayur, kocar-kacir, pernak-pernik, gerak-gerik dan lain sebagainya, maka judul dibuat tidak semuanya huruf besar.
Misalnya : Harga Sayur-mayur di Pasar Stabil.

3. Untuk kata ulang berimbuhan, judul juga tidak ditulis huruf besar semua.
Kata ulang berimbuhan artinya, kata ulang itu bukan lagi kata dasar. Tapi sudah diberi imbuhan. Seperti : Berjam-jam, tergopoh-gopoh, pukul-memukul, berkali-kali.
Misalnya : Warung itu Berkali-kali Terbakar.

Awalan dan Kata Depan

Ada awalan, ada kata depan. Masing-masing memiliki fungsi tersendiri. Masing-masing memiliki cara penulisan sendiri. Saya sendiri awalnya juga bingung. Tapi harus mau untuk terus-menerus belajar, karena sebagai penulis, apalagi yang sudah menulis lama, kesalahan sedikit saja akan dipandang luar biasa oleh orang lain.

Ini panduan ringkas dan singkat saja.
Anak-anak di rumah jika saya ajarkan, bisa dengan mudah memahaminya.

AWALAN itu ditulis serangkai.
KATA DEPAN, menunjukkan tempat itu, harus ditulis terpisah.
Dua poin penting itu yang harus diingat.

Jadi kalau saya mengajarkan anak-anak, bisa dengan contoh.
Di sekolah, di rumah, di apotik, di hutan adalah kata depan. Jadi harus dipisah.
Di mana, di sana, di sini, di kursi adalah kata depan.

Dimakan, dicubit, diambil, ditendang, adalah awalan. Jadi harus ditulis tidak perlu dipisah.

Jika kamu merasa susah sekali membedakan di untuk kata depan atau awalan, mudah kok cara membedakannya.
Kamu ubah saja di itu menjadi me, maka dari situ kamu bisa mengambil kesimpulan di itu sebagai kata depan atau sebagai awalan.
Jika terasa janggal, dan aneh, maka sudah dipastikan kalau itu adalah kata depan, bukan awalan.

Misalnya.

Di sana kamu ubah di menjadi me. Maka kata itu berubah menjadi me mana.
Di hutan kamu ubah di menjadi me. Maka kata itu berubah menjadi me mana.
Janggal, kan?
Maka sudah bisa dipastikan kalau di yang itu adalah kata depan.

Jika di sebagai awalan, diubah dengan me, tidak terasa janggal.
Dimakan. Tetap terasa enak jika diubah menjadi memakan.
Dirampas. Tetap terasa enak jika diubah menjadi merampas.