Lost in Dubai Mall

Irra

Farrel menatap takjub gedung di depannya. Burj Khalifa, nama gedung itu. Gedung tertinggi di dunia, 828 meter tingginya. Itu yang Farrel baca di brosur yang tadi diambilnya di depan Dubai Mall. Ya, Farrel sekarang sedang berada di Dubai, kota metropolitan yang ada di negara Uni Emirat Arab.
Ayah Farrel ditugaskan kantornya untuk training selama seminggu. Kebetulan sekali ayah ada rejeki membawa sekalian Ibu, Farrel, dan Fania liburan. Wuaaa … Tentu saja Farrel senang sekali. Liburan pertamanya ke luar negeri.
“Ayo kita naik ke Burj Khalifa. Sudah waktunya, nih,” ajak Ayah mengemasi kamera dslr-nya. Mereka sudah puas berfoto-foto dengan latar belakang Burj Khalifa. Farrel sudah tak sabar untuk memamerkan foto-foto itu di facebook.

Ayah memandu mereka menuju lantai dasar Dubai Mall, pintu masuk ke tower Burj Khalifa. Untung saja Ayah sudah memesan tiketnya jauh-jauh hari, karena ketika masuk tadi Farrel melihat antrian di loket tiket sangat panjang. Waktu sedang memesan tiket di internet, Farrel mendengar Ayah berseru betapa mahalnya tiket naik ke Burj Khalifa. Untuk dewasa 125 dirham, sementara anak-anak 95 dirham. Kalau mau cepat gak usah antri, bisa beli tiket fast track, harganya 300 dirham per orang.
“Emang berapa rupiah itu, Ayah?” tanya Farrel penasaran.
“Farrel kalikan saja ke 3300 rupiah, karena 1 dirham nilainya sama dengan 3300 rupiah,” jelas Ayah. Farrel pun sibuk memijit kalkulator. Begitu tahu hasilnya, Farrel berteriak kaget. Ayo, kalian hitung sendiri ya biar tahu kenapa Farrel kaget seperti itu, hehehe….
“Nggak apa-apa mahal, yang penting kalian punya pengalaman naik gedung tertinggi di dunia. Alhamdulillah Ayah ada rejekinya,” hibur Ayah sambil tertawa begitu melihat Farrel yang terkejut.
Dan, betul kata Ayah. Sekarang Farrel sudah berada di puncak tertinggi dunia. Memandang jauh ke kota Dubai yang menakjubkan. Langit jingga karena senja datang. Lampu-lampu mulai menyala dari gedung-gedung pencakar langit. Berkelap-kelip sungguh indah. Serasa bukan di negeri gurun pasir yang gersang. Pemandangan paling keren yang pernah Farrel lihat.
“Wow … wow, beautiful,” seru Fania berisik. Farrel tertawa melihat adiknya yang sok ngomong bahasa Inggris. Di sampingnya Ibu tak henti bergumam melapalkan pujian pada Tuhan.
Setelah puas memandangi Dubai dari puncak Burj Khalifa, Ayah mengajak mereka keliling Dubai Mall yang sangat luas. Mal itu terbagi beberapa bagian. Ada yang namanya souk, artinya pasar tradisional. Di souk ini, Farrel melihat pameran rumah tradisional Dubai, lengkap dengan barang-barang tradisional dan orang-orang asli Dubai dengan pakaian tradisionalnya. Ada yang sedang menenun, ada yang melukis tatto henna, ada juga yang sedang beraksi dengan burung falcon.
Ibu dan Fania paling heboh berfoto dan minta dilukis henna di tangan. Farrel sangat puas berfoto dengan falcon bertengger gagah di lengannya. Farrel terlihat tegang sekali karena takut falcon itu mencakar atau mengggigitnya. Padahal mulut si falcon sudah ditutup masker biar tidak berteriak atau menggigit.
Di tengah Dubai Mall, ada akuarium raksasa berisi hiu dan ikan-ikan laut lainnya. Farrel paling senang ketika hiu berukuran besar menubruk kaca akuarium di depannya. Tegang! Membayangkan kaca itu pecah, airnya membludak dan hiu itu melompat menerkamnya. Hiiii seram! Ayah lalu mengajak mereka masuk ke dalam akuarium itu.
“Tunggu di sini ya, Ayah mau beli tiketnya dulu,” kata Ayah beranjak ke loket tiket. Ibu sibuk memotret ikan-ikan yang berenang.
“Kak, lihat! Lucu sekali, ke sana yuk!” Fania menunjuk ke arah toko permen di seberang akuarium. Toko yang warna-warni. Sangat menarik perhatian.
“Fania jangan pergi ke sana,” kata Farrel cemas ketika melihat Fania mendekati toko permen itu. Fania tak mendengar larangan kakaknya. Farrel pun segera menyusul Fania dengan kesal.

Setelah berada di dalam toko, mereka berdua lupa diri, asyik melihat-lihat permen dan pop corn aneka bentuk dan rasa. Fania mencoba aneka pop corn dengan riang.
“Ini gratis, Kak. Tuh baca “try”, orang-orang juga pada nyobain tuh,” bisik Fania ketika dilarang Farrel mengambil pop corn.
Setelah puas melihat-lihat. Farrel mengajak Fania kembali ke depan akuarium. Farrel terkejut ketika melihat kerumunan orang bertambah banyak di depan akuarium. Rupanya ada atraksi memberi makan hiu yang menarik banyak pengunjung buat menonton. Farrel makin panik ketika lupa di mana tadi dia berdiri menunggu Ayah yang sedang membeli tiket. Farrel tidak melihat ayah dan ibunya.
“Ayah sama Ibu mana, Kak?” Tanya Fania cemas. Pertanyaan Fania membuat Farrel makin ketakutan.
“Ini semua gara-gara kamu, Dek. Kan, udah dibilang jangan pergi ke mana-mana,” gerutu Farrel sambil menatap tajam adiknya. Fania ketakutan dan mulai menangis.
“Udah dong jangan nangis, Kakak jadi gak bisa berpikir nih.” Tangisan Fania semakin membuat Farrel panic. “Harus tenang … tenang, Tarik napas,” gumam Farrel dalam hati. Mengingat-ingat pesan ayah dan ibunya kalau hilang di dalam mal, apa yang harus dilakukan.
“Ayo, kita cari satpam,” ajak Farrel menyeret adiknya. Setelah lama berkeliling, Farrel melihat lelaki tinggi besar berseragam security.
“Sori Sir, susmi, we lost … we lost,” kata Farrel gemetar sambil memegang tangan lelaki arab itu.
“Excuse me,” bisik Fania membenarkan yang diabaikan Farrel.
“Take it easy, kids. What can I help you?” Tanya petugas keamanan ramah.
“Hello Sir, I’m Fania, this is my brother Farrel. We lost our parents,” kata Fania penuh percaya diri mengulurkan tangannya yang disambut hangat si petugas. Farrel melongo melihat keberanian adiknya yang berusia 8.5 tahun.

Lalu petugas baik hati itu membawa Farrel dan Fania ke meja informasi. Dan ternyata di sana sudah ada ayah dan ibu mereka. Ayah dan Ibu tampak tegang sekali, dan berubah lega ketika melihat Farrel dan Fania datang. Ibu memeluk Farrel dan Fania erat. Menangis haru. Ayah menyalami para petugas di sana mengucapkan terima kasih.
“Gimana masih mau masuk ke akuarium?” senyum ayah sambil melambai-lambaikan tiket di tangannya.
“Ibu lapar, Yah. Kita makan dulu, yuk?” ajak Ibu sambil meringis mengusap perutnya. Semua tertawa melihatnya. Rupanya suasana tegang membuat mereka kelelahan dan kelaparan. Ayah lalu mengajak mereka ke restoran Noddle Factory. Farrel berseru girang ketika menemukan menu nasi goreng Indonesia, makanan favoritnya.
“Hebat ya, Yah, nasi goreng Indonesia ada dalam menu, terkenal berarti,” Puji Farrel bangga yang disambut acungan jempol Ayah. Ibu dan Fania memesan Phad Thai, mie goreng dari Thailand. Sambil makan Farrel dan Fania gantian bercerita kejadian hilang tadi. Ibu meminta maaf karena keasyikan motret jadi lalai memperhatikan Farrel dan Fania.
“Lain kali kalau Ayah atau Ibu bilang tunggu, kalian harus menunggu, kalau mau pergi ke tempat lain ijin dulu, jadi Ayah dan Ibu tahu harus mencari kalian di mana,” tegur Ayah lembut. Farrel melotot pada Fania yang tertunduk menyadari kesalahannya. “Tapi tadi kalian hebat, tahu harus mencari bantuan ke mana kalau hilang seperti tadi,” puji Ayah menatap bangga Farrel dan Fania.

Selesai makan, Ibu mengajak untuk pulang. Sepertinya Ibu sangat lelah karena terlalu tegang dan ketakutan kehilangan kedua buah hatinya. Ayah setuju lalu membujuk Farrel dan Fania kalau besok mereka bisa datang lagi ke Dubai Mall.
“Besok saja kita masuk ke akuariumnya ya. Sebenarnya kayak sea world Jakarta sih, cuma ini di dalam mal aja.” Farrel dan Fania mengangguk setuju. Mereka kasihan melihat Ibu yang kelelahan.
“Di Dubai Mall ini ada kebun binatangnya juga, loh. Besok kita ke sana juga ya, melihat penguin,” lanjut Ayah yang disambut teriakan senang Fania.
“Kalian bisa ke Kinokuya juga, toko buku yang koleksinya sangat banyak, bisa beli buku-buku yang kalian sukai,” kata Ibu sambil tersenyum. “Tapi buku-bukunya dalam bahasa Inggris sih,” lanjut Ibu melirik Farrel yang meringis malu.
Sebelum pulang, Ayah mengajak mereka ke halaman Dubai Mall, melihat dancing fountain, air mancur yang menari. Jadi, selama beberapa menit, air mancur itu bergerak-gerak mengikuti irama lagu, seperti menari. Ketika musiknya pelan, air mancur menari lembut. Ketika musik riang dan menghentak, air mancur pun menari cepat, bahkan sesekali ada api yang memancar dari tiap air mancur. Sungguh luar biasa.
“Wow … Amazing, I’d love it,” teriak Fania penuh kekaguman. Farrel mencibir ke arah adiknya yang pamer kebolehannya berbahasa Inggris. Fania balas meleletkan lidah. Sebenarnya Farrel kagum dan bangga dengan adiknya yang lancar berbahasa Inggris dibanding dirinya. Farrel pun berjanji pulang liburan, dia akan kursus Bahasa Inggris lagi seperti Fania dan tidak banyak bolos. Hari ini Farrel sadar betapa pentingnya bisa berbahasa internasional. Tak terbayangkan gimana kalau tadi Fania tak bisa bahasa Inggris. Mungkin mereka masih hilang di Dubai Mall, hiii….
“Esusmi, Sir, esusmi …,” ledek Fania dan Farrel pun mengejar adikknya gemas.

Toko Sepatu Ibu

Kalya

Ibuku bekerja di toko sepatu. Sesekali sepulang sekolah, aku akan datang ke toko, menemani Ibu. Aku senang memerhatikan berjenis-jenis sepatu yang dijual di sana. Favoritku, tentu saja, jajaran sepatu anak-anak. Aku hanya bisa memandangi dan membayangkan aku mengenakan sepatu-sepatu itu. Sebab, Ibu selalu melarangku mencoba sepatu di tokonya. Kata Ibu, nanti sepatunya kotor, atau rusak.
Hari ini, aku ke toko dengan bersemangat. Semalam Ibu cerita stok sepatu model baru sudah tiba. Aku sudah tak sabar melihat sepatu-sepatu itu.
Aku datang siang hari. Menurut pengamatanku, saat siang adalah saat yang tepat untuk datang ke toko. Saat itu, pengunjung sepi, jadi aku bisa puas berlama-lama di rak sepatu anak.
“Ingat, jangan dicoba sepatunya, ya,” ucap Ibu mengingatkanku.
Aku hanya mengangguk. Dan, di sanalah aku menemukannya. Di bagian rak sepatu anak paling atas. Si merah cantik bertengger manis. Bagai magnet, menyedot seluruh perhatianku hanya kepadanya.
*
Sepatu merah itu berhak rendah. Ada motif bunga di seluruh bagiannya. Di bagian tumit, ada semacam tali berbahan pita. Tali itu nanti harus diikat mengelilingi pergelangan kaki. Aku bisa membayangkan kedua kakiku memakai sepatu cantik itu. Perlahan kuraba permukaan sepatu dengan gemetar. Aku sangat ingin mencobanya!
Aku mengintip dari sisi rak. Ibu sedang melayani pembeli. Seorang ibu bertubuh tinggi dan anaknya yang sebayaku. Aku melihat sekali lagi si merah. Menelan ludahku. Kuintip harganya. Hmm, sepertinya tidak terlalu mahal. Aku hanya punya dua sepatu untuk sekolah. Kurasa satu pasang lagi untuk dipakai saat jalan-jalan ke luar rumah, tak mengapa. Ibu mungkin memperbolehkanku membelinya. Dengan hati-hati, aku membawa si merah, mendekati Ibu.
Ibu bertubuh tinggi rupanya sedang membujuk anaknya untuk mau membeli sepatu yang dipilihkannya. Si anak tampak cemberut dan berulang kali menggelengkan kepala. Wajahnya kusut, sangat berlawanan dengan baju cerah bermotif kupu-kupu yang dikenakannya.
“Bu…,” kupanggil Ibu dengan suara pelan.
Ibu menoleh, melihatku, lalu mengerutkan kening saat sadar aku membawa si merah. Belum sempat aku mengutarakan keinginanku, belum sempat juga Ibu menegurku, kami keduluan si baju kupu-kupu.
“Aih! Sepatu ini bagus sekali! Ibu, aku mau sepatu yang ini!” seru si kupu-kupu sembari dengan serta merta mengambil alih si merah dari tanganku. Aku melongo.
“Kamu beneran mau sepatu yang ini?” tanya ibunya.
“Ya!” angguk si kupu-kupu mantap.
“Tapi, sepatu ini sudah dipilih gadis kecil itu, Airin,” tegur sang ibu memandang ke arahku.
Aku tertunduk, lalu mengangkat mukaku, melirik Ibu. Hanya sekejap Ibu menatapku, lalu beralih ke ibunya Airin, ramah.
“Dia anak saya, Bu. Saya rasa, dia belum terlalu butuh sepatu baru,” ucap Ibu. Ibu Airin tampak senang, lalu membuka dompetnya. Airin menunduk, mencoba si merah di kakinya. Ia melompat-lompat, berlari di lorong toko dengan memakai si merah. Aku bisa membayangkan apa yang ia bayangkan. Pasti ia membayangkan sedang berlarian di sebuah taman bunga yang indah.
Setelah kedua ibu dan anak itu pergi, Ibu mendekatiku. Aku masih menunduk, tak bisa menyembunyikan kekecewaanku.
“Vika benar-benar ingin sepatu seperti itu?” tanya Ibu lembut.
Belum sempat aku menjawab, datang seorang ibu dan anaknya memasuki toko. Ibu itu berpakaian kumal, membawa buntalan. Anaknya, seorang bocah laki-laki kecil bertampang kotor. Pipinya dipenuhi bekas ingus kering. Satu tangannya erat memegangi ujung kemeja ibunya, tangan yang lain memegang pedang mainan yang lusuh. Ibu memberi kode agar aku menunggu sebentar. Ia menyapa tamunya dengan ramah.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini…uang saya,” ibu berpakaian kumal mengeluarkan sekantung recehan dari dalam buntalannya. “Adakah sepatu untuk anak saya, yang bisa terbeli dengan uang ini?”
Aku terkesiap, melirik kaki dekil si anak yang tanpa alas. Ibu tersenyum, lalu dengan sabar menghitung recehan yang diterimanya. Aku yakin tak ada sepatu di toko ini yang dapat terbeli oleh ibu itu. Tapi Ibu tak rela pembelinya pulang dengan tangan kosong. Bocah berpedang itu menyeringai lebar saat sepasang sepatu baru menghiasi kakinya. Mereka berdua keluar dengan senyum puas.
“Bu,” aku memanggil Ibu.
“Oh, ya. Vika, tentang sepatu itu…”
“Tidak, Bu. Vika memang ingin sepatu merah itu. Tapi Vika baru sadar kalau Vika memang belum terlalu butuh sepatu. Dua sepatu Vika masih bagus.”
Aku mendekat memeluk Ibu. Ibu tersenyum dan mencium keningku. Aku harus tahu diri. Ibuku hanya pegawai biasa di toko sepatu itu. Kalau Ibu rela berkorban membantu orang miskin mendapatkan sepatu, maka akupun bisa menunda keinginanku memiliki sepasang sepatu baru. Toh, jika ada sepatu yang diobral murah, Ibu tentu tak ragu membelikanku.
Aku kembali ke rak sepatu anak-anak. Mengamati satu-satu dan membayangkan memakainya di kakiku. Kulihat Ibu mengusap pipinya, lalu kembali sibuk mengatur sepatu di rak yang lain. Siang ini sungguh sepi. Tapi aku senang, karena dapat memuaskan hobiku, melihat-lihat sepatu.*

Nyonya Kepo

Novia

“Tas baru ya? Harganya?”
“Huaa….! Manis banget blazernya. Beli dimana?“
“Eh, istri si Budi resign? Pindah ke mana jadinya?”
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan temanku. Akhirnya, aku dan teman-teman memanggilnya Nyonya Kepo. Orangnya selalu heboh dengan setiap kejadian. Hobinya mewawancarai orang dengan pertanyaan yang detail. Kadang bikin keki. Kadang bikin geli.
Teman-teman berusaha tidak terpancing menghadapinya. Akan berentetan kekepoan lain yang ujung-ujungnya bisa bikin kepala berasap. Demi menjaga sopan santun, teman-teman berusaha menahan diri.
Masalahnya, si Nyonya suka bertindak spontan. Saat melihat sepatu baru, dia langsung jongkok dan pegang sepatu teman sambil bilang, “Buka dong.” Hanya untuk melihat merknya. Bikin keki kan?
Atau, saat melihat teman punya tas baru. Dielus-elus, dibolak-balik sambil tanya ini itu. Yang punya tas sampai risi. Tapi Nyonya enggak, tuh. Dia cuek saja bertanya soal harga sampai asal-usul uang untuk beli tas itu. Glek…!
Si Nyonya suka barang-barang baru dan bagus. Tiap punya sesuatu, dia akan menarik perhatian teman-teman, minta dikomentari, seperti dia mengomentari kepunyaan teman-teman. Mungkin dia pikir, tingkat kepo kami sama dengan dia.
Pernah dia memakai kalung baru yang menjuntai, dengan liontin besar mirip bandul jam. Dengan kompak, teman-teman pura-pura tak melihat. Nyonya mulai menggaruk-garuk lehernya.
Teman-teman diam. Nyonya mulai membungkuk-bungkuk. Teman-teman masih diam. Akhirnya Nyonya bikin pengumuman. “Kalungku bagus, nggak?” Huff… Nanya, kok nodong!
Pribadi seperti Nyonya Kepo sangat banyak ditemui di sekitar kita, hanya kadarnya beda-beda. Hal kecil bisa menjadi sangat penting baginya. Aku gerah, teman-teman gerah, tapi tak satupun yang berani memberi sebuah cermin untuknya. Lebih baik diam daripada dijutekin.
Lama-lama bosan juga. Merasa tak tahan lagi, lalu aku curhat pada orang terdekat si Nyonya. “Ulah si Nyonya jangan di ambil hati, anggap angin lalu aja. Sesekali, kunci dia.” Katanya, sambil mengedipkan mata.
Aku manggut-manggut. Iya ya, betul juga, harusnya aku tak usah terlalu menanggapi. Pakai melibatkan hati segala, kesal yang dibawa-bawa. Kita sendiri yang rugi. Padahal solusinya simpel, saat dia kepo, tinggal jawab jujur, urusan beres deh.
Siang itu sedang hangat-hangatnya membicarakan bonus kantor.
“Kamu sih enak, suamimu terima bonus. Eh, omong-omong, berapa sih bonusnya?” si Nyonya mulai ingin tahu.
“Oh, lumayan, Mbak. Duit gede bisa dibelikan emas, duit kecilnya bisa buat liburan.” Jawabku kalem.
Sontak si Nyonya diam. Aku ngikik dalam hati.
Hari berikutnya dia kepo lagi.
“Mamamu nggak kerja lagi?”
“Syukurlah, Mbak. Mama sudah punya segalanya. Jadi sekarang main-main saja sama cucu.” Jawabku lempeng, sok polos.
Dia cemberut. Lalu pergi meninggalkanku. Sejak hari itu, Nyonya tak pernah lagi tanya-tanya yang detail padaku.
Hampir semua teman mulai berani menyodorkan cermin yang membuat Nyonya perih. Mulutnya mulai bungkam. Bicara seperlunya. Kami senang, kuping dan hati mulai adem.
Beberapa hari berlalu. Sepi juga tanpa si Nyonya. Dia tampak menarik diri. Sering termenung sendiri. Kasihan juga. Kudekati dia.
Senyumnya terkembang melihat aku menghampirinya. Meluncurlah curhatnya. Dia sedang kesepian. Sepertinya dia dimusuhi tanpa sebab yang jelas. Padahal dia yakin tak punya salah apapun kepada siapapun. Duh!
Merasa mulai akrab, kumatlah penyakit lamanya. Matanya melirik gadget baruku. Mulai bertanya-tanya. “Hadiah suamiku.” Jawabku jujur. Tak ada sinis. Tak ada benci. Aku berusaha membersihkan hati.
“Harganya? Kenapa pilih merah? Eh kamu main instagram? Wah, kalau aku…..” Kudengarkan dia sambil tersenyum. Ah, Nyonya. Kamu memang belum berubah. Tapi tanpamu dunia terasa sepi.

Corvus si Gagak Penyanyi

Dian

Hutan Kajaro dihuni beraneka macam binatang. Mulai dari binatang yang tinggal di bawah tanah hingga binatang yang tinggal di pucuk pepohonan. Mereka semua hidup berdampingan.
Yang istimewa, binatang-binatang di Hutan Kajaro bisa saling berkomunikasi layaknya manusia. Meskipun dengan suara khas masing-masing, mereka bisa memahami satu sama lain.
Musim semi adalah musim yang ditunggu-tunggu oleh para penghuni Hutan Kajaro. Mereka yang beristirahat saat musim dingin, bergegas bangun menyambut datangnya musim semi dengan sukacita. Tak terkecuali bangsa burung.
Bangsa burung selalu membuka musim semi dengan mengadakan kompetisi menyanyi. Semua burung boleh ikut berkompetisi. Tak peduli jenis dan usianya. Bahkan musim semi sebelumnya, Ayam Hutan ikut jadi peserta. Sayangnya kokokannya belum bisa mengalahkan merdunya suara Cicadaun.
Corvus, seekor burung gagak, sangat suka menyanyi. Sambil terbang ia bersenandung. Ketika bertengger ia berlagu. Pernah suatu kali Corvus bernyanyi riang dengan suara lantang. Nyanyiannya terdengar oleh seekor burung Merbah yang bertengger tak jauh darinya. Merbah menertawakan Corvus.
“Suaramu itu tak cocok untuk menyanyikan lagu ceria Corvus. Lebih pas kau menjadi penyanyi pengiring pemakaman,” ejek Merbah.
Corvus menjadi malu dan sedih. Sejak itu ia hanya bernyanyi saat sedang sendiri saja. Ia pun tak pernah ikut kompetisi menyanyi meskipun sangat ingin mengikutinya.
Semua burung, terutama burung-burung pengicau, sibuk berlatih. Siulan indah mereka bersahut-sahutan. Diam-diam Corvus juga berlatih. Ia terbang jauh ke dalam hutan yang sepi agar tak ada yang mendengarnya bernyanyi.
“Kaok … kaoooook … kaaaaaoooook,” Corvus melatih nada suaranya lantas bernyanyi lagu kegemarannya.
“Hai Corvus! Nyanyianmu enak sekali, aku jadi ingin bergoyang.” Corvus terkejut ada binatang lain yang menyapanya. Ia melongok ke arah suara itu.
“Ayam Hutan? Kau sedang apa?” tanya Corvus.
“Aku mau pergi ke Hutan Sodito, mengunjungi saudara jauh. Kau berlatih untuk kompetisi menyanyi?” Corvus terbang rendah menghampiri Ayam Hutan.
“Tidak. Aku malu. Suaraku jelek sekali.”
“Hei! Apa suaraku lebih bagus dari kau? Untuk apa malu? Lagipula caramu bernyanyi asyik sekali.”
“Sungguh?” baru kali ini Corvus mendapat pujian. Ia senang sekali.
“Kalau tak percaya, ikut kompetisi saja.”
“Bagaimana kalau tak ada yang suka?”
“Paling-paling kau tidak menang. Seperti aku tahun lalu. Tapi sejak itu mereka tahu aku bisa bernyanyi, kan? Walaupun nyanyianku tak bagus-bagus amat,” ucap Ayam Hutan menghibur.
“Ucapan Ayam Hutan ada benarnya. Kalaupun mereka tak suka, aku bisa tetap bernyanyi diam-diam seperti sekarang. Tapi kalau mereka suka, aku bisa bernyanyi dimana saja,” pikir Corvus.
“Kau tentu tak bisa memaksa mereka semua suka padamu. Tapi paling tidak kau sudah mencoba. Sudah ya. Aku pergi dulu. Sayang sekali aku harus melewatkan kompetisi kali ini,” ujar Ayam Hutan sambil melenggang pergi.
***
Hari kompetisi pun tiba. Kompetisi menyanyi diadakan di sebuah pohon flamboyan tua yang memiliki banyak dahan dan ranting. Pas sekali untuk bertengger ratusan burung yang ikut kompetisi maupun yang hanya menonton saja. Binatang lain seperti tupai, kelinci, kumbang, tikus hutan, bahkan rusa juga ikut datang meramaikan.
Di saat-saat terakhir pendaftaran akan ditutup, Corvus terbang mendekati Jalak. Dia akan menjadi juri kompetisi kali ini bersama Manyar dan Perkutut. Bisik-bisik pun ramai terdengar.
“Corvus, kau akan ikut lomba menyanyi? Sebaiknya batalkan saja daripada nanti kau pulang sambil menangis karena kalah,” ejek Merbah. Burung-burung lain ikut tertawa.
Semua tahu burung gagak seperti Corvus memiliki suara yang parau dan serak. Mereka tak yakin Corvus bisa bernyanyi seperti burung pengicau lainnya.
Kontes menyanyi dimulai. Pendaftar pertama mendapat giliran pertama. Kenari memberi penampilan pembuka yang menawan. Selanjutnya disusul oleh Murai Batu, Kacer, Cendet, Cicadaun, hingga giliran terakhir.
Corvus naik ke dahan panggung. Bulu hitamnya tampak berkilau terkena sinar matahari. Ia mengawali penampilannya dengan kaok-an keras dan membuat suasana hening seketika.
Corvus lalu menyanyikan lagu andalannya. Corvus membawakan lagunya dengan irama yang ceria. Tak hanya satu dua burung yang ikut bergoyang ekor bersamanya. Rupanya mereka menyukai cara Corvus menyanyi. Corvus yang semula agak gugup jadi semakin percaya diri.
Saat Corvus menyelesaikan lagunya, suasana kembali hening sejenak lalu disambung dengan tepukan sayap yang meriah sekali. Corvus tak menyangka mendapat sambutan sebaik itu. Selama ini ia mengira tak akan ada yang menyukai suaranya hanya karena satu dua ejekan dari burung lain. Corvus bersyukur saat mendapat ejekan, ia tidak lantas berhenti menyanyi.
Ternyata pemenang kompetisi kali ini adalah Murai Batu. Corvus tidak kecewa tak menjadi pemenang. Ia tidak peduli lagi dengan menang atau kalah. Baginya ada yang lebih penting, yaitu tak perlu malu, bersembunyi, dan menyendiri lagi saat ingin bernyanyi. Corvus lega. Ia tersenyum bahagia.

Tangis

Husna

“Nangis lagi ya semalam?” Naila meghujam mataku.
Aku menunduk. Menghindar. Padahal, sebelum berangkat ke sekolah sudah aku kompres mataku dengan air hangat, agar sembabnya bisa tersamar.
“Sejak pacaran sama Fay, kamu sering menangis.”
Naila duduk di sebelahku.
“Belum sebulan pacaran, kamu sudah sering dibikin seperti ini.” Jelas sekali Naila menggeram dalam kalimatnya. “Memang apa sih yang Fay lakuin ke kamu?”
Aku makin menuduk.
“Apa kamu dijadiin pacar yang ke sekian, ya?” Naila mulai menebak-nebak. “Tidak boleh telepon Fay, kecuali cowok itu yang menelepon? Juga tidak boleh manja minta ditemani dan diantar kemana-mana, begitu?!” suara Naila jengkel sekali.
Dan Naila terlihat bertambah jengkel melihat aku menggeleng. “Fay tidak seperti itu….”
“Ya, ya…,” Naila memotong. “Fay baik. Fay perhatian…. Aku sudah sering mendengar bagian itu. Yang belum kudengar adalah, penyebab matamu merah.”
Bel tanda masuk terdengar. Aku merasa diselamatkan.
@@@

“Apa sudah ada tanda-tandanya?” Aku menentang mata Fay yang tajam. Tentu saja dengan kelembutan dan pancaran cinta yang kupunya.
Fay balas memandangku. Berusaha melembutkan tatapannya.
“Dapat merasakan debarannya?” kejarku.
Fay menyeruput teh hijau miliknya.
“Desiran di dada…,” seperti yang aku rasakan…, tambahku dalam hati.
Fay mengangkat dagunya. “Maaf….”
Mataku mulai menggenang. Sekali kedip, aliran air pasti akan terlihat jelas di wajahku. Biasanya ini selalu berhasil di depan Fay. Fay tidak pernah kuat melihat ada cewek yang menangis di hadapannya. Itu kelemahannya. Dan aku memanfaatkannya agar ia bisa mencintaiku seperti aku mencintainya. Memintanya menjadi pacarku dan ada di dekatku.
Mama bilang, kebersamaan akan menumbuhkan cinta suatu hari nanti. Itu yang aku yakinkan pada Fay waktu ia bilang hanya menganggapku sebagai teman. Aku meminta Fay untuk berusaha. Mulanya Fay menolak, tapi dengan tangisanku, akhirnya Fay mau mencobanya.
“Sepertinya percuma…,” Fay mulai bicara.
Dan aku pun sudah terisak. Dadaku turun naik. Melihatku seperti itu, sambungan kalimat Fay biasanya menyerah menuruti keinginanku. Ia akan berkata dengan berat; “Baiklah…, kita coba seminggu lagi.” Dan biasanya, aku akan berhenti menangis setelah Fay memintaku untuk tenang.
“Cinta tidak bisa dipaksakan.” suara Fay mantap.
Aku terhenyak. Airmata tak mau berhenti. Fay bertahan dengan kalimat terakhirnya.
Brak!
Sebuah tangan mungil tiba-tiba saja menggebrak meja. Aku dan Fay sama-sama kaget. Naila!
“Bisa tidak, nggak membuat Tania menangis?” Matanya menentang Fay. Galak. “Pacaran model apa ini? Setiap ketemu kamu, paginya di sekolah, mata Tania pasti bengkak.”
“Nai…, jangan…,” pintaku diantara tangis.
Fay berdiri. Menghujam Naila. Mata mereka saling bertemu. Dekat. Hatiku teriris.
“Tania tidak akan pernah menangis, kalau kamu tidak menolak cintaku. Yang seharusnya jadi pacarku, kamu. Bukan Tania.” Tenang sekali Fay mengatakan itu.
Aku kembali terhenyak. Terpental ribuan meter.
Naila tergugu. Duduk di depanku dengan serba salah.
”Yang Fay bilang tadi,”katanya kikuk. “Apa maksudnya?” tanyanya bingung.
Aku kehilangan Fay. Dan sebentar lagi juga akan kehilangan sahabat, getirku. Ragu, kukeluarkan surat cinta milik Fay untuk Naila. Aku pernah merebut Fay dari Naila dengan mengarang sendiri balasannya kalau Naila menolak cinta Fay. Lalu aku pun menyusup dengan alasan cuma aku yang bisa mencintainya dengan sempurna.
Naila membaca surat cinta itu dengan wajah yang memerah. Aku bangkit dengan airmata yang tidak mau mengering sambil memandangnya sebentar.
“Tangisku itu, untuk setiap kata yang Fay tulis indah di sana. Untukmu, bukan untukku.”
*** —– ***

Bulan Madu Kedua

cerpen Happy Rose

Ada berapa banyak kemungkinan yang akan terjadi di masa depan?
Tidak akan pernah ada yang tahu. Termasuk aku, ataupun dia. Beberapa minggu yang lalu kami bertengkar hebat, tapi di malam harinya sepulang kerja kami bergelung bersama di tempat tidur sambil terisak.
“Kau adalah raja naga laut, tidak seharusnya menangis,” kataku yang juga tengah menangis. Mataku pasti sudah terlihat sangat jelek. Eyeshadow warna tangerine sudah luntur berbaur dengan mascara yang meleleh.
Dia mengusap airmataku yang jatuh. Pelahan dan hati-hati. “Kau seharusnya membeli kosmetik anti air, agar kau tetap cantik meski sedang menangis.”
Aku tidak menyahutinya. Aku tidak membutuhkan apapun, kecuali sebuah kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Sembilan tahun pernikahan tanpa anak. Sebenarnya aku sudah bahagia bersamanya. Begitu pula dengan dia terhadapku. Aku tahu ini bukan masalah sempurna atau tidak sempurna untuk menjadi seorang wanita. Tapi lebih pada keinginan untuk berada di titik itu. Menjadi ibu, dan dibanjiri oleh keriuhannya. Itu saja.
Sekarang, setelah penerbangan ditunda selama satu jam, aku duduk bersisian dengannya di dalam pesawat yang akan membawa kami ribuan kilometer jauhnya dari Jakarta. Kami berbagi senja dari ketinggian, meski dengan cara berbeda. Aku terus menerus menatap ke luar jendela, sementara dia memilih untuk tidur.
Aku mengulum senyum, sedikit geli, merasa julukan raja naga laut benar-benar cocok untuknya. Seorang raja naga laut akan selalu merasa tidak nyaman berada di ketinggian.
Ketika pertama kali aku dan dia datang ke Vietnam, dia menjuluki dirinya sendiri sebagai raja naga laut. Lac Long Quan. Sementara aku adalah putri gunung, Au Co. Menurutnya, kami akan memiliki 100 orang anak. Seperti legenda Lac Long Quan dan Au Co. Aku ingat telah tertawa pada gurauannya itu. Ternyata Kurawa tidak hanya ada di India, celotehku kala itu. Dan dia membalasku dengan banyak sekali ciuman di wajahku.
Suara-suara dari masa lalu itu terdengar lagi di kepalaku seperti sebuah lagu lama. Terngiang bagai gema. Sebenarnya aku tidak yakin kenapa dia ingin melakukan perjalanan ini. Honeymoon kedua. Melakukan kembali perjalanan ke Vietnam sebagai dua orang yang sedang jatuh cinta. Seperti sepasang pengantin baru.
Sesuatu pun bergolak di benakku.
Kulirik dia di sampingku. Masih tertidur dan terlihat tenang. Tangannya tetap mengenggam tanganku. Lonely Planet terbuka di pangkuannya. Sementara di dalam kepalaku mulai terdengar kebisingan yang asing. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya menggangguku. Tidak mungkin bila karena ketinggian. Seorang putri gunung tidak akan takut pada ketinggian.
“Kau tidak harus melakukannya bila kau tidak ingin.”
Dia mengatakan itu suatu kali ketika melontarkan idenya tentang perjalanan ke Vietnam. Matanya menatapku. Bertingkah seolah-olah tidak peduli. Tapi kadang, dia tidak terlalu pandai berbohong. Aku tahu dia menginginkan perjalanan itu.
“Kenapa harus Vietnam?” tanyaku.
“Entahlah. Kupikir karena di sana ada Pho. Kau suka sekali makan mi kuah, bukan?”
Aku tersenyum. Saat di Vietnam kami berburu Pho setiap hari. Mi khas Vietnam itu tersaji dengan kuah, bumbu-bumbu rempah dan potongan daging ayam atau daging sapi di atasnya. Dia tahu aku suka makan mi kuah. Lucunya, aku akan makan lebih banyak lagi ketika sedang merasa sedih.
“Kalau begitu kita akan pergi. Honeymoon kedua. Lalu pulang dengan oleh-oleh yang kita harapkan selama ini,” kataku sembari menggodanya.
Dia tahu maksudku. Karena itu dia tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum. Aku tahu senyumannya tidak menjalar hingga ke matanya. Dan hal itu mengusikku.
Belakangan dia tidak banyak melontarkan gurauan-gurauannya. Dia juga semakin jarang bersiul saat setelah mandi. Seperti ada beban menggelayut di pundaknya yang menuntut untuk diperhatikan dan dirasakan. Aku memang tak pernah menanyakan apapun. Bukan karena tidak berani. Aku tahu setiap orang butuh waktu yang tidak sama untuk berdamai dengan kegelisahannya. Dia akan bercerita saat merasa siap. Kurasa, seperti biasanya, aku bisa memahami dan menunggunya.
Pada akhirnya seorang teman yang baik tidak akan menuntut terlalu banyak. Dia sering mengatakan hal itu padaku. Terutama ketika aku sedang kacau. Dia tidak akan banyak bertanya, tapi melakukan hal-hal kecil yang menenangkan. Memasak mi kuah untukku. Menggenggam tanganku berjam-jam. Atau justru hanya duduk diam di sampingku, tapi kehadirannya mengatakan bahwa dia akan selalu ada untukku.
*****
“Kau akan menyukai tempat ini.”
Hanya itu petunjuknya. Dan aku mempercayainya. Dia membawaku ke sebuah restoran menawan, yang berada di lantai dua sebuah bangunan tua di Tü Trong. Masih di area district 1, Saigon. Lampion-lampion kuning menggantung di langit-langitnya. Nuansa kecoklatan berpendar dimana-mana. Membawa kesan hangat dan nyaman.
“Kenapa dulu kau tidak mengajakku ke sini?” tanyaku.
“Itu karena aku sedang tergila-gila padamu. Jadi hal selain dirimu tidak akan menarik perhatianku.”
Aku mengerucutkan bibir. Gombal, batinku. Tapi sekarang, saat dia tertarik pada hal lain, apa artinya dia tidak sedang tergila-gila padaku?
Entahlah. Aku tidak ingin memikirkan hal-hal buruk. Aku menyelipkan tanganku ke lengkungan sikunya dan membiarkannya membawaku ke sebuah meja di dekat jendela. Aku tersenyum. Dia tahu apa yang kuinginkan. Melalui tempatku duduk, aku bisa melongok ke bawah dan melihat lampu-lampu jalan yang berkelip. Aku membiarkan dia memilihkan menu untukku. Spring roll isi udang, tofu lembut isi cincangan daging sapi, jus jeruk untuknya, dan es krim longan berwarna putih untukku.
“Kau suka tempat ini?” Dia bertanya dan meraih tanganku. Aku mengangguk. “Pegawai di sini adalah anak-anak jalanan, atau anak-anak yatim piatu. Mereka bekerja di sini sama seperti mencari ilmu. Ketika sudah benar-benar ahli mereka akan dilepas untuk bekerja di hotel-hotel besar.”
“Menyenangkan mengetahui masih ada orang-orang yang peduli pada mereka,” jawabku.
“Dan aku sengaja mengajakmu kemari karena aku tahu kau adalah orang yang peduli pada hal-hal seperti itu.”
Pipiku bersemu merah. Sembilan tahun hidup bersamanya tidak mengubah kebiasaan pipiku melakukan hal yang sama setiap kali dia memujiku. Kurasa itu hal bagus. Sama seperti bagaimana dia selalu memelukku dari belakang setiap kali menemukanku sibuk di dapur.
“Sebenarnya, ada yang ingin kutunjukkan padamu.”
Alisku bertaut. Dia mengeluarkan sebuah album foto dari tas kecilnya. Aku membuka album itu dan dadaku terasa hangat. Dia mengisinya dengan foto-foto kami. Bukan foto-foto pada saat peristiwa-peristiwa besar seperti pernikahan atau ulangtahun.
Album foto itu berisi foto-foto sederhana yang selalu menjadi bagian dari hidup kami. Aku yang sedang tertidur di dekat jendela dan sinar matahari membanjiri wajahku. Dia yang sedang sakit gigi hingga pipinya bengkak sebelah. Sop buntut buatanku yang di bawah foto itu ditulisnya dengan kalimat ‘sup keasinan rasa cinta’. Sikat gigi kami yang bersanding di kamar mandi. Dan barang-barang yang selalu ada di dalam tasku seperti telepon seluler, charger, lipstik, tisu, dan agenda.
“Kau…kapan kau memfoto semuanya?”
“Kau suka?”
“Sangat.”
Dia tersenyum. Tapi lagi-lagi senyumnya tidak sampai ke matanya. “Kalau begitu sepertinya kau juga perlu untuk melihat yang ini,” lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah album foto lagi dari dalam tasnya. Kali ini ukurannya lebih kecil.
Ketika membuka lembar pertama hatiku langsung menciut. Foto pertama yang muncul adalah foto seorang bayi. Lembar-lembar berikutnya berisi foto-foto dari bayi yang sama. Terlihat perubahan bayi itu mulai dari lahir hingga berusia beberapa bulan. Foto paling akhir membuatku tersentak. Dia menggendong bayi itu. Di bawahnya tertulis, ‘Adam dan ayah.’
Aku mendongak menatapnya. Sesuatu terjadi di wajahnya. Seolah-olah dia telah melepaskan topeng yang dipakainya selamanya ini. Dan yang tersisa sekarang adalah dia yang terlihat begitu lelah, sedih dan tidak menentu.
“Namanya Adam. Bulan ini genap 5 bulan. Putra kandungku.” Dia memandangiku. Seperti menungguku untuk bersuara dan meledak. Tapi aku hanya menatapnya, dan melihat bayanganku sendiri di matanya. Dadaku sudah terbakar. Mungkin itu yang membuat dia akhirnya menyerah dan kembali bersuara.
“Ibunya bernama Kiara. Teman kuliahku dulu. Dia meninggal saat melahirkan. Aku tahu tidak pantas meminta hal ini. Tapi Adam membutuhkan seorang ibu. Kau.”
Aku ingin menjadi seorang ibu. Aku rasa aku sedang berdoa setiap kali mengatakan hal itu. Kini kesempatan itu terbentang di depanku, tapi aku tidak merasakan apapun. Tidak ada euforia. Tidak pula phobia. Sepertinya benar kalau seseorang perlu berhati-hati ketika meminta dan menginginkan sesuatu.
“Kau tidak harus melakukannya bila kau tidak ingin.” Suaranya terdengar datar dan lirih. Dia tahu aku terluka.
Kepalaku terasa berat, persis seperti ketika aku sedang flu. Aku tertawa dalam hati. Tentu saja bukan tawa yang bahagia. Aku ingat bagaimana akhir kisah Lac Long Quan dan Au Co. Mereka berpisah. Perbedaan di antara keduanya terlalu banyak. Lac Long Quan membawa 50 anak untuk ikut dengannya. Sementara Au Co membawa 50 yang lainnya. Bila pada akhirnya aku memutuskan untuk berpisah dengan dia, siapa yang akan aku bawa?
Di atas meja masih ada dua gulung spring roll dan es krim longan milikku yang masih utuh dan meleleh. Aku sudah tidak ingin menyentuhnya. Sebelum airmataku jatuh, aku menatap matanya. “Kurasa, aku ingin sekali makan bermangkuk-mangkuk Pho.”
Air mukanya sudah penuh kesedihan. Dia tahu apa maksudku.

Sepatu Beda Warna

Ruri dua

“Huaaa… pokoknya Koko nggak mau sekolah!” teriak Koko sambil menangis.
Duh… tiap hari Senin, ada saja tingkah Koko yang bikin aku terlambat, gerutuku di dalam hati.
“Ayo, dong Ko, mbak Denis bisa terlambat, nih! Lagian, kamu ini aneh-aneh saja. Masak ke sekolah maunya pakai sepatu yang itu, sama sepatu yang itu? Kan, gak cocok! Nanti kamu ditertawakan teman-teman sekelas, lo!”bentakku.
Tangis Koko kian menghebat…
“Stttt… “ telunjuk ibu memberikan isyarat agar aku diam. Huh, aku terpaksa menurut.
“Koko, kamu betul-betul mau ke sekolah pakai sepatu beda warna? Sepatu hitam dan sepatu putih yang itu?” tanya ibu di sela-sela tangis Koko. Koko mengangguk masih menangis sesenggukan.
“Nanti kalau teman-teman Koko tanya, ‘Kok sepatunya gak sama warnanya?’ Koko mau bilang apa?” tanya ibu. Koko kelihatan bingung. Namun bagusnya, pertanyaan ibu itu bisa menghentikan tangisnya.
“Pokoknya, Koko mau sekolah pakai sepatu ini, sama sepatu ini,” kata Koko bersikeras. Duh, aku menepuk dahiku.
“Ya sudah. Kalau gitu, nanti sepatu yang sebelah warna putih, Koko bawa, ya, ke sekolah. Ibu bungkus plastik, dan dimasukkan ke tas Koko. Nanti kalau di sekolah Koko mau ganti, Koko bilang, ya, ke Bu Guru.”
Koko mengangguk setuju. Aku jengkel, karena aku yang bertugas untuk mengatar Koko setiap hari ke TK.
“Yaaaah Ibu… Aku, kan, malu harus jalan sama Koko. Kalau ketemu teman-teman, pasti habis aku diledek.”
“Hmmm… bilang saja, adikmu sedang misterius. O ya, Denis… Coba kamu sekalian cari tahu. Kenapa adikmu minta pakai sepatu beda warna,” bisik ibu ke telingaku. Aku mengangguk, ikut penasaran.
***
Setiba di depan halaman TK, Koko melepaskan tanganku. Ia langsung berlari menghampiri temannya, seorang anak perempuan. Aku belum pernah melihat anak itu sebelumnya.
Ah, rupanya ia anak baru di TK Koko. Ia memakai baju bebas, bukan seragam TK. Bajunya terlihat agak lusuh, dan sepatunya… Sepatunya tidak sama antara kiri dan kanan. Agak berlubang di ujung sepatu kanannya. Aku memperthatikan dengan teliti.
“Mbak Denis, ini teman baru Koko. Namanya Kiki,” kata Koko.
Aku mengulurkan tangan, bersalaman dengan Kiki. “Koko dan Kiki… Pantas langsung akrab…”gumamku geli sendiri.
“Kiki… sepatu kamu belum ganti, ya?” tanya Koko pada Kiki. Kiki tampak tersenyum agak malu.
“Iya, ibu belum bisa beli sepatu baru,” jawab Kiki sambil berusaha menutupi sepatu kirinya dengan kaki kanannya. “Eh, tapi… sepatu kamu juga, kok, tidak sama? Hi hi hi… lucu!” lanjut Kiki sambil tertawa.
“Iya, kita sama, ya. Sepatu kamu dan sepatuku jadi lucu, ya… Hi hi hi… Nanti di kelas, teman-teman kita pasti tertawa lihat sepatu kita…” sambung Koko. Mereka berdua masuk ke kelas sambil tertawa riang.
Ah, jadi itu rupanya alasan Koko ingin memakai sepatu beda warna. Lucu sekali si Koko dan si Kiki. Pagi yang mengesalkan tadi, seketika berubah menjadi indah, Aku melangkah ke sekolahku dengan senyum ceria.
***
“Denis, kamu sudah berhasil menyelidiki? Kenapa hari ini Koko ingin pakai sepatu belang?” tanya ibu ketika aku pulang sekolah.
Belum sempat aku menjawab, Koko muncul dari kamaenya. Ibu langsung menyapa dan menggodanya.
“Ada yang nangis nggak, ya, di kelas tadi?”
“Nggak dong Bu, Koko kan udah besar. Masak nangis di kelas, malu dong… “ jawab Koko ceria.
“Memang teman-teman kamu nggak ketawa melihat sepatu belangmu?” tanya Denis penasaran.
“Ya mereka ketawa, Mbak”
“Kamu nggak nangis?”
“Ngga dong. Kiki juga nggak malu lagi, dia malah ikut ketawa. Bu guru juga bilang bagus. Terus, teman-teman bilang… ‘Koko sama Kiki sepatunya lucu ya, besok aku juga mau ah pakai sepatu belang.’ Jadi, besok banyak yang janjian mau pakai sepatu belang. Seperti sepatu Koko dan Kiki,” ceritanya Koko riang. Denis melirik senang ke ibu.
“Wah hebat, adik Mbak Denis sekarang jadi trendsetter!” seruku sambil mengacungkan dua jempol.
Ibu tertawa melihat Koko yang menggaruk-garuk kepalanya. Ia tak mengerti arti kata trendsetter.
Di dalam hati, aku berjanji, akan menyisihkan uang tabunganku untuk membelikan Kiki sepatu baru.