Buah Jatuh (Bisa) Jauh dari Pohonnya

PT I lagi

Semalam, kami kedatangan tamu istimewa. Boy, kawan Thariq anak sulung saya, berkunjung ke rumah bersama kedua orang tuanya. Sebuah keluarga dari Indonesia. Dari kampung halaman yang sama dengan suami. Terus terang, dikunjungi oleh sesama perantau membuat kami merasa bahagia. Bagi kami dan para perantau pada umumnya, kawan ibarat saudara. Keberadaan mereka sangat berarti.
Menurut penuturan orang tuanya, Boy hendak meminjam buku pelajaran. Sudah berkeliling ke toko buku di seluruh Johor, tetap saja mereka belum menemukannya. Memang, sebagai pendatang, kami diwajibkan membeli buku sendiri. Tak ada pinjaman seperti yang diberikan kepada anak-anak Malaysia. Sayangnya, jumlah persediaan buku di pasaran seringkali tak mencukupi. Jika tak membelinya awal-awal, bisa-bisa kehabisan stock sehingga harus foto kopi.
Sementara anak-anak mengerjakan tugas, kami pun akrab bercerita. Saling mengabarkan aktivitas masing-masing. Saling menyemangati untuk melakukan yang terbaik.
Kami mengenal keluarga Boy lebih kurang tiga tahun yang lalu. Ayah Boy masuk ke Malaysia dengan visa kerja, sebagai TKI sejak tahun 1985. Artinya, sudah dua puluh delapan tahun beliau berdomisili di negeri ini.

Ketika datang untuk pertama kali, Ayah Boy hanya seorang buruh bangunan. Belasan tahun kemudian barulah ia dipercaya oleh seorang toke (pemilik usaha) berkebangsaan China untuk menjadi mandor. Dan sekarang ini, ia sudah menjadi tangan kanan sang toke untuk membawahi banyak buruh bangunan yang didatangkan dari kampung halamannya.
Ada yang membuat ia berbeda dengan para TKI lainnya.
Lelaki berusia empat puluh tahunan itu mengajak serta anak dan istrinya. Memangnya boleh? Begitu pertanyaan yang muncul dari kebanyakan orang, termasuk saya.
Kenyataannya boleh, meski urusannya tak semudah seorang pelajar atau ekspatriat tentunya.
Dalam urusan perijinan saja, baru dua tahun ini mereka diberikan visa tahunan. Awalnya, setiap enam bulan mereka harus memperbarui ijin tinggal. Bahkan, pernah beberapa kali mereka hanya menerima visa per tiga bulan. Pun tak seperti kami, visa keluarga pelajar yang diuruskan oleh pihak universitas, Ayah Boy harus melewati setiap step pengurusan visa sendirian. Lengkap dengan berbagai interview yang rumit dan menegangkan. Beruntung, pengalamannya tinggal cukup lama di sini, membuat keluarga itu selalu lolos dan mendapatkan ijin untuk masa berikutnya.
Dan yang membuat saya kagum pada kedua orang tua Boy adalah tujuan mereka tinggal di sini. Mereka ingin bisa menyekolahkan Boy di tempat yang lebih baik daripada yang pernah mereka alami. Bukan hanya itu. Ayah Boy ternyata sangat fokus terhadap pendidikan anaknya.

Semasa TK, Boy sekolah di sebuah TK internasional dengan tujuan agar cakap berbahasa Inggris. Ia juga dimasukkan ke sebuah tahfiz Al Quran agar pandai mengaji. Setelah sang anak masuk SD pun, Boy masih diikutkan kursus ini dan itu, bahkan didaftarkan pada kursus internet berlangganan dengan harga yang tak murah. Semuanya demi kemudahan dan kelancarannya dalam menuntut ilmu. Dan ketika semangat belajar sang anak menurun, kedua orang tuanya mengantarkan Boy ke rumah kami untuk belajar bersama Thariq.
Masya Allah! Saya dan suami salut terhadap kegigihan mereka.
“Hanya itu yang bisa kami berikan pada Boy supaya masa depannya lebih baik daripada kami, Mas… Mbak. Kami tak bisa mengajarinya karena kami tak cukup sekolah. Saya bahkan tak lulus SD dan tak bisa mengaji,” ujar Sang Ayah di akhir penjelasannya.
***
Hidup memang sebuah pilihan, termasuk masalah pendidikan.
Prinsip yang dipegang oleh setiap keluarga dalam urusan ini tak selalu sama. Yang jelas, tujuan orang tua Boy bisa diacungi jempol. Keinginan untuk merancang masa depan yang baik bagi si buah hati, patut diberikan penghargaan. Tak banyak orang dengan latar belakang pendidikan seperti mereka memiliki pemikiran yang sama. Tak banyak juga orang yang sedemikian detail memikirkan pendidikan anaknya, lantas mau berkorban apa saja untuk mewujudkannya.
Akan dipandang wajar jika seseorang dari kalangan berada, mampu menuntaskan pendidikannya di tempat terbaik pada level yang tinggi. Terlebih jika orang tersebut berasal dari keluarga terpelajar.

“Maklumlah, orang ayahnya juga profesor!” begini umumnya komentar orang.
Sebaliknya, semua orang akan memandang takjub ketika seorang doktor, misalnya, lahir dari orang tua yang tingkat pendidikannya tidak seberapa.
Bagi kami berdua, keluarga Boy adalah teladan. Meski mungkin kami tak akan meniru setiap keputusan yang mereka ambil, setidaknya kami akan mencontoh semangat mereka dalam memberikan pendidikan. Mengusahakan yang terbaik bagi amanah yang dititipkan Allah pada kami.
Dan dari Thariq kami mendapatkan cerita, bahwa Boy termasuk anak yang cerdas di kelasnya. Ia berada di kelas unggulan dan masuk dalam jajaran top ten. Maka tak berlebihan bukan, jika saya katakan bahwa buah jatuh (bisa) jauh dari pohonnya?
Dengan usaha yang tepat dan sungguh-sungguh, tentunya.***

Luka Hati Sabrina

Utami

BRIN
Pagi datang, mengantarkanku pada sebuah bangunan asing. Aku memasuki gerbangnya dengan langkah gamang. Sekolahku yang baru. Adakah keramahan di dalamnya, ataukah cercaan dan hinaan seperti yang pernah kudapatkan di sekolahku yang lama? Beberapa saat kemudian tatapan-tatapan mata penuh selidik menyergapku. Aku berjalan dengan kepala tertunduk, sehingga tak kulihat seseorang yang berjalan tergesa dari arah yang berlawanan. Tepat di koridor depan aula, aku bertabrakan dengannya. Kutangkap kelam dalam bola mata itu sekejap, lalu kualihkan pandanganku ke arah lantai, di mana buku-bukuku jatuh terserak.
“Aduh maaf ya,” ucapnya sembari membantu memunguti dan menata buku-bukuku yang jatuh berserakan.
Aku sibuk menata hatiku sendiri. Seperti pesan oma, aku harus berhati-hati dengan teman baru. Oma sudah berjanji kepada papa untuk menjagaku. Jika mungkin, bahkan oma ingin mengantarkan aku sampai ke sekolah. Menungguiku seperti saat aku masih duduk di taman kanak-kanak dulu. Ingatan tentang oma, membuatku berusaha menjaga jarak darinya.
“Bara…” panggil seseorang dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Oh, jadi namanya Bara. Aku tak cukup punya waktu untuk memikirkan jawaban yang pantas aku katakan untuk menanggapi permintaan maafnya. Dia menyerahkan buku-bukuku, lalu menatapku dengan bola mata yang menyiratkan kata-kata minta diri. Bibirnya tersenyum ramah. Tarikan bibirnya tak begitu sempurna, sehingga menghasilkan senyum miring yang aneh. Aku menunduk lebih cepat dari kilat cahaya yang keluar dari matanya.
“Namaku Brin,” ucapku sesaat setelah tubuhnya beranjak menjauh. Hei, dia bahkan tidak menanyakan namaku. Aku takjub sendiri dengan kata-kata yang baru saja kuucapkan. Apakah kehilangan banyak sahabat membuatku ingin segera mendapatkan teman baru? Aku menyangsikan hal itu. Selama ini aku merasa lebih nyaman saat sendiri. Kulirik sebaris nama di dada kanan baju seragamku. Sabrina H. Prayudi. Nama papa terikat erat dalam namaku. Dulu hal itu menimbulkan rasa bangga. Sekarang, lesap ke manakah rasa bangga itu?
@@
BARA
Aku melihatnya lagi di perpustakaan sekolah. Gadis yang tadi pagi bertabrakan denganku di koridor. Sepertinya aku belum pernah melihat gadis itu di sekolahku. Apakah ia anak baru? Duuh… mata itu. Kenapa seperti ada berjuta kesedihan mengendap di sana? Ia hanya dua kali menatapku sekilas untuk kemudian menunduk. Seperti seekor siput yang ingin menyembunyikan tubuh di dalam rumah cangkangnya. Sungguh aku ingin berkenalan dengannya. Sayang sekali tadi Reya memanggilku. Kalau tidak, aku pasti sudah mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku.
Upss… ia berada di rak buku-buku sastra. Selera yang berbeda. Di saat gadis-gadis lain sibuk memilih novel-novel teenlit dan memilah-milah majalah, ia justru menyentuh buku-buku sastra. Jemarinya mengelus lembut, seolah menyentuh benda-benda yang sangat berharga. Bibirnya bergerak-gerak, seperti sedang berbicara dengan deretan buku-buku itu. Tapi tunggu dulu. Jangan-jangan ia berlama-lama di balik rak buku sastra hanya karena ingin menyendiri. Tak mau diserang penasaran lebih lama, aku memutuskan untuk mendekatinya.
“Hai…” sapaku.
Mata beningnya kelihatan terkejut saat menatapku. Seperti dugaanku, ia segera mengalihkan pandangannya kepada buku-buku yang tertata rapi di rak.
“Aku ingin membaca…”
“Buku ini sudah lama aku cari…” Telapak tangan kami menyentuh buku yang sama dalam waktu yang bersamaan. Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer.
“Baiklah, buku ini untukmu. Tapi berjanjilah, setelah kamu selesai membacanya, tolong pinjamkan kepadaku ya!” ucapku mencoba mengalah.
Ia kelihatan kikuk dan canggung. Kueja secarik kain bertuliskan nama yang tertempel di baju seragamnya. Namun ia berusaha menutupi dengan rambut ikalnya yang tergerai.
“Ehmmm.. boleh kita berkenalan? Aku Bara.” Kuulurkan tanganku. Ia menyambut, namun mukanya masih menunduk.
“Brin,” bisiknya lirih.
“Okey Brin, kamu bisa langsung ke petugas perpustakaan untuk mencatatkan bukumu.” Ia meninggalkanku dengan aura kelegaan yang jelas terpancar dari bola matanya. Tuhan, kenapa ia begitu berbeda? Mungkin aku harus menanyakan hal ini kepada mama.
@@
BRIN
Aku duduk sendirian di halte depan sekolah, menunggu angkot yang akan mengantarku pulang. Kini aku harus membiasakan diri, karena tak ada lagi mobil mewah dan sopir pribadi. Pasti di rumah, oma sedang cemas memikirkan aku. Oma begitu takut saat aku melangkah keluar rumah sendirian. Beberapa kali oma meminta ijin kepada papa agar aku diikutkan program home schooling saja. Tetapi papa bilang, lebih baik aku tetap belajar di sekolah umum, agar tetap bisa bersosialisasi dan memiliki teman-teman sebaya. Oma sangat berharap, kepindahanku ke sekolah baru bisa mengembalikan aku menjadi Brin yang dulu. Brin yang ceria. Kapan senyum dan tawa itu terakhir kali menghiasi bibirku? Bahkan aku sudah lupa.
Setelah kehilangan mama, oma seolah tidak ingin kembali kehilangan untuk yang kedua kalinya. Oma seolah tak bisa melepaskanku sedetik pun dari pandangannya. Hanya alasan pergi ke sekolah yang bisa diterima oma. Selebihnya, aku harus selalu bersama oma. Juga saat aku berkonsultasi dengan Dr Shinta M. Faraz, M. Psi.
Angkot yang kutunggu sudah datang. Gegas aku naik, berbaur dengan penumpang lainnya.
“Aku pulang….” teriakku sesampai di pintu rumah.
Oma menengok. Kelegaan jelas terpancar di wajahnya saat melihatku.
“Kenapa terlambat, Brin? Sore ini kamu ada jadwal dengan Bu Shinta. Lupa?”
“Brin sudah tidak pernah nangis-nangis lagi Oma, untuk apa kita pergi konsultasi?”
“Sampai kamu bisa menyesuaikan diri dan diterima di lingkungan sekolahmu, Brin.”
“Brin mau istirahat dulu, Oma.”
Suaraku seperti sebuah keluh. Kutinggalkan Oma, setelah mencium pipinya sekilas.
“Makanlah dulu, Brin!”
“Masih kenyang Oma…”
Oma pasti kecewa karena aku tak memedulikan tawarannya untuk makan siang. Padahal aku yakin, oma pasti sudah memasak udang saus tiram dan sup brokoli tofu kegemaranku. Aku hanya ingin menyendiri. Hari pertama di sekolahku yang baru benar-benar membuatku merasa begitu letih.
@@
BARA
Baru kali ini aku dibuat penasaran oleh seorang gadis. Dan gadis itu selalu menghiasi lamunanku akhir-akhir ini. Brin. Kesedihan seperti apa yang bersembunyi di sebalik mata bening itu? Aku ingin bertanya kepada mama, tetapi mama akhir-akhir ini selalu sibuk. Aku memutuskan untuk belajar. Tetapi yang kulakukan justru hanya mencorat-coret halaman bukuku, menuliskan namanya.
“Bara belum tidur?” suara mama mengagetkanku.
“Eh, Mama. Belum Ma…”
“Ada yang kamu pikirkan?”
“Boleh Bara bertanya Ma?
“Memangnya Mama selama ini melarangmu untuk bertanya?”
Aku tersenyum malu.
“Apa yang terjadi bila seorang gadis terlihat gugup saat berkenalan? Kepalanya selalu tertunduk dan menghindari kontak mata secara langsung…”
“Oh, jadi kamu sudah mulai menyukai seorang gadis ya?”
“Bukan begitu Ma, tapi teman baruku itu agak aneh. Ia suka ke perpustakaan sendiri dan seperti bergumam sendiri saat berhadapan dengan buku-buku.”
“Dia masih malu barangkali dengan lingkungannya yang baru?”
“Setiap istirahat dia selalu berjalan cepat-cepat ke arah perpustakaan. Seolah berada di dalam kelas yang ramai merupakan siksaan tersendiri.”
“Isolasi sosial.”
Lalu mama menjelaskan penyebab terjadinya isolasi sosial. Rasa rendah diri karena sebuah trauma, penolakan dari lingkungan, frustasi berulang. Mungkin juga karena adanya tekanan dari kelompok teman sebaya.
“Ajak dia untuk terus berkomunikasi. Libatkan dia dalam suatu kegiatan berkelompok!”
Aku mengangguk. Dalam hati aku berjanji, suatu saat pasti aku akan bisa membuatnya tersenyum.
@@
BRIN
Aku sedang duduk sendirian di halte bus, ketika cowok itu menghentikan motornya tepat di depanku. Aku sedikit kikuk, namun sudah mulai berani menatap matanya agak lebih lama. Aku teringat pesan Bu Shinta. Usahakan untuk memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harianmu. Aku rasa Bara teman yang baik. Bahkan akhir-akhir ini aku selalu mengingat namanya. Mungkin karena ia adalah orang pertama di sekolah baruku yang mau menyapaku dengan ramah.
“Hei… masih ingat dengan janjimu?”
“Janji?”
“Bukankah kau berjanji akan meminjamkan buku itu? Kamu sudah selesai membacanya kan?”
Aku mengangguk. Kubuka tasku dan kuraih buku itu untuk kuserahkan kepadanya. Dia menimang-nimang buku itu, mengucapkan terima kasih lalu menatapku sambil tersenyum. Tarikan bibir tak sempurna, senyuman miring khas milik Bara. Ini kali yang kedua aku berani menentang tatapan matanya. Entah kenapa kali ini aku mulai lebih berani.
“Karena kamu sudah berbaik hati, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Kamu tidak keberatan kan?”
Pipiku memerah dadu karena tawarannya. Sepertinya aku tak punya pilihan lain. Langit digelayuti mendung dan angkot tak juga datang. Aku beranjak untuk menuruti ajakannya. Langit semakin gelap. Pasti di rumah, oma sedang menungguku dengan gelisah.
@@
BARA
Suatu hari dengan malu-malu, Brin menunjukkan buku kumpulan puisinya kepadaku. Aku takjub, Ternyata ia suka menulis puisi. Dan puisinya bagus-bagus. Itu cukup menjadi alasan bagiku untuk mengajaknya bergabung dalam kepengurusan mading sekolah.
Brin menggantikan posisi Dido yang pindah sekolah ke luar negeri. Mula-mula ia merasa canggung saat berhadapan dengan Reya. Namun aku berhasil meyakinkan Brin, bahwa ia mampu bekerja. Tapi aku justru tidak bisa meyakinkan Reya.
“Kenapa kau ajak si Culun itu bergabung bersama kita?” tanya Reya dengan sengit.
“Ia pandai menulis puisi, Re.”
“Itu saja tak cukup Bara. Sebagai anggota tim, ia juga harus jeli dalam menilai karya, mampu berkomunikasi dengan teman satu tim. Kita team work Bara, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri!”
“Aku rasa Brin bisa diajak bekerja sama, Re. Dia hanya perlu waktu.”
“Sampai kapan? Sampai ia bisa mengatasi rasa rendah dirinya? Sampai ia bisa menerima kenyataan bahwa papanya dipenjara karena kasus korupsi?”
“Maksudmu?”
“Jadi kamu belum tahu ya? Brin itu putri tunggal Hendrawan Prayudi, Bara. Pejabat yang sekarang harus menjalani hukuman karena kasus korupsi!”
“Reya!!”
Aku baru menyadari, ternyata ada sepasang mata bening yang mengawasi kami dari pintu. Mungkin sepasang telinganya juga sudah terlanjur mendengarkan pembicaraan kami. Sehingga sepasang mata itu segera menjadi berkabut dan siap menurunkan tetes hujan. Brin berlari menjauh sambil membawa sekerat luka di hatinya.
“Brin, tunggu!” teriakku sambil mencoba menyusulnya. Namun tangan Reya menahan langkahku. Dan Brin tetap berlari menembus gerimis yang semakin melebat.
@@
BRIN
Aku berlari menembus hujan. Tak kupedulikan lagi panggilan Bara. Jelas sudah. Mereka sama saja dengan teman-teman lamaku. Menghina dan menimpakan dosa papa kepundakku. Tidakkah mereka tahu bahwa aku sudah sangat menderita, bahkan hanya oleh tatapan sinis mereka? Tidakkah mereka tahu, bahwa aku harus mengobati luka hatiku, karena harus kehilangan mama untuk selamanya? Mama yang terkena serangan jantung saat mendengarkan vonis yang dijatuhkan pengadilan kepada papa.
Untunglah angkot segera menelan tubuh kuyupku, dan membawaku pergi. Aku tidak tahu apakah esok aku masih punya kekuatan untuk menjejakkan kakiku di sekolah. Dosa papa rupanya terus mengikutiku, walau aku sudah pindah ke sekolah yang baru.
“Brin, apa yang terjadi?” tanya oma dengan cemas.
Aku hanya bisa menangis dalam pelukan oma. Sore itu aku kembali harus datang berkonsultasi ke tempat praktik bu Shinta. Seperti yang sudah-sudah, bu Shinta selalu menyambutku dengan pelukan. Aku selalu memejamkan mata, setiap kali berada dalam pelukan bu Shinta. Dalam bayanganku, mamalah yang sedang memelukku. Dan ingatan tentang mama selalu membuat kedua mataku berembun.
“Jadi Brin besok pagi tidak mau berangkat ke sekolah?”
Aku mengangguk ragu.
“Coba, sekarang kamu pikirkan keuntungan dan kerugian saat kamu meninggalkan pelajaran di sekolah!”
Aku terdiam memikirkan jawaban atas pertanyaan bu Shinta. Berbagai peristiwa berseliweran dalam benakku. Teman-teman sekelas yang selalu menyapaku dengan ramah. Guru-guru yang membuatku sedikit bisa melupakan kesedihanku. Dan Bara… Menurutku, ia cowok paling tulus yang telah berhasil menanamkan kembali rasa percaya diriku.
Mungkin aku harus mulai berusaha memampukan diriku sendiri untuk menghadapi sosok teman seperti Reya.
“Brin pernah mendengar teori 1/12?” tanya bu Shinta membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng ragu.
“Setiap 1 kesalahan dalam hidup, baru bisa dilupakan orang lain dengan minimal berbuat 12 kebaikan. Kalau hal yang menimpa papamu kamu anggap sebagai satu kesalahan, maka kamu harus melakukan 12 kebaikan agar orang bisa melupakan kesalahan papamu.”
“Maksud… Ibu?”
Bu Shinta menepuk bahuku sambil berkata,”Berprestasilah, agar orang menghargai kamu karena prestasimu!”
@@
Pagi itu terasa ada yang berbeda. Semua teman menyalamiku dan mengucapkan selamat, karena puisiku dimuat di majalah SAHABAT. Bahkan Reno sang ketua kelas berteriak dengan girang, “Kita sekarang punya seorang pujangga. Namanya Sabrina H. Prayudi!” Teman-teman menyambut teriakan Reno dengan tepuk tangan riuh.
Aku terbengong-bengong keheranan. Sepertinya aku belum pernah mengirimkan sepotong puisi pun di majalah itu. Aku hanya mengirimkannya ke mading sekolah. Namun jika memang benar puisiku dimuat di majalah SAHABAT, itu adalah prestasi yang luar biasa. Aku jadi ingat teori 1/12 yang dikatakan Bu Shinta kemarin. Tetapi siapa yang telah lancang mengirimkan puisi-puisiku tanpa seijinku? Selembar kertas berwarna biru muda terjatuh, saat aku memasukkan tas sekolahku ke laci meja. Seperti tersengat lebah rasanya ketika membaca larik tulisan di atas kertas itu.
Bila kamu ingin tahu siapa yang telah mengirimkan puisi-puisimu ke majalah SAHABAT, pergilah ke perpus. Orangnya sedang menunggumu di depan rak buku sastra.
Terburu kubawa langkahku ke perpustakaan. Sampai di depan pintu, langkahku terhenti. Dari balik rak buku sastra, muncullah seraut wajah dengan senyum yang khas. Senyum miring milik Bara Mahardika. Di tangannya tergenggam majalah SAHABAT edisi terbaru yang diulurkannya untukku. @@