Anak itu Hak Allah

Mbak Liza 2

Tak pernah terpikir olehku, bahwa doa yang kerap kulantunkan begitu gencar akhir-akhir ini akan dijawab Allah Swt dengan cepat. Dalam doaku, aku memohon agar Allah Yang Maha Kaya memberikan keluasan rezeki pada kami sekeluarga dengan rezeki yang halal, berkah dan banyak.

Akan tetapi Allah Swt sungguh tak terduga. Tak lama berselang, aku mulai merasakan datangnya rezeki yang tak terduga itu. Rezeki yang membuatku merasa panik, sekaligus cemas. Karena rezeki kali ini datang dalam wujud tanda-tanda kehamilan. Sebuah rezeki tak terduga dan, sungguh, tak kuharapkan, pada mulanya.
Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini, bahwa diusiaku yang tak lagi muda, aku harus menjalani kehamilan lagi. Ya, aku hamil lagi. Di saat putri sulungku sedang mencecap bangku kuliah, dan adik-adiknya butuh biaya besar untuk melanjutkan sekolah. Sementara satu-satunya sumber penghasilan rutin hanya mengandalkan suamiku yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta.

Seperti kehamilan yang sebelumnya, kali ini pun aku mengalami morning sickness yang melelahkan. Nyaris tak ada aktivitas yang bisa kulakukan selain tidur dan tidur. Aku tidak bisa memasak dan membersihkan rumah seperti biasa. Aku tidak bisa membaca, menulis dan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan lainnya.
Aku bahkan tidak bisa memeluk anak-anakku yang masih memerlukan pelukan. Kondisi fisik yang lemah karena kurangnya asupan makanan, juga sensitivitas hidung yang berlebihan membuatku menjadi sosok paling tak berguna dan menyebalkan sepanjang trisemester pertama kehamilanku.

Kehamilan ini juga membuatku menarik diri dari pergaulan. Baik interaksi di dunia nyata maupun di dunia maya. Aku enggan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kerap terkesan menuduh dan memojokkan. Alih-alih memberi suport yang lebih kubutuhkan, kebanyakan orang terpicu hanya untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan nyinyir yang membuatku tertekan.

Sungguh tak mudah menjalani kehamilan kali ini. Dengan kondisi seperti ini, suport dari teman-teman dekat terasa bagaikan oase bagiku. Mereka tidak hanya menguatkan, namun juga menumbuhkan keyakinan bagiku.
“Anak itu hak Allah,” ujar seorang teman.
Aku terdiam sejenak. Di tengah pergulatan batin antara penolakan dan penerimaan serta rasa cemas akan masa depan anak-anakku, aku seolah ingatkan kembali. Bahwa aku hanyalah seorang hamba yang harus menerima takdir yang ditetapkan atas hidupku. Teringat juga, betapa banyak calon ibu lain yang mendamba anak dan mengusahakan hingga menghabiskan dana yang tak sedikit.
Anak adalah hak Allah. Dzat yang memberikan kehidupan dan rezeki. Atas dasar apa aku merasa berhak menolak kehadiran anak yang tengah kukandung? Bukankah rezekinya sudah ditanggung oleh Dzat Yang Maha Kaya?

*

“Wah, sudah besar ya, Bu?” Dokter kandungan yang cantik itu pun tersenyum lembut seraya menggerakkan jemarinya mengatur posisi tampilan terbaik di layar monitor. Nanar mataku menatap gambaran janin yang tampak sudah terbentuk dengan baik.
“Sehatkah ia, Dok? Dibanding kakak-kakaknya, sepertinya kali ini agak lemah.”
“Sehat, baik. Agak lemah karena faktor usia ibu dan sudah kehamilan ke-7. Kita dengar detak jantungnya ya…”
Dokter memutar sebuah tombol. Seketika itu pula aku mendengar detak jantung yang terasa begitu merdu di telingaku. Keharuan sontak melingkupi hatiku. Maafkan, ibumu, Nak, bisikku pelan. Ibu akan belajar mencintaimu, sebagai anugerah ke tujuh. Karena kau pun berhak dicintai seperti yang lainnya.

Air Peri yang Hilang

Saptorini

Akhir-akhir ini Peri Tirita kebingungan. Peri Tirita adalah peri air. Setiap hari dia bertugas membagikan air ke seluruh penghuni Negeri Maero. Tetapi sudah beberapa hari ini persediaan air Peri Tirita tiba-tiba habis. Akibatnya bunga-bunga layu, sayur mayur berteriak karena kehausan, buah-buah menjadi keriput karena Peri Tirita tak memberinya minum. Siapa yang telah menghabiskan persediaan air mereka? Sudah lama hujan tak turun sehingga peri air harus berhemat. Tapi sepertinya ada yang jail mengganggu persediaan air Peri Tirita.
“Peri Tirita … aku kepanasan, haus!” teriak Bunga Melati, Mawar, Krisan, juga Bougenvile.
“Aku sudah tak tahan. Daunku mulai menguning!” Teriak Bayam.
“Uh, gatal … gatal! Peri Tirita, aku ingin mandi biar segar dan cantik!” Kupu-Kupu tampak kuyu dan berdebu karena tak mandi.

Peri Tirita kebingungan. Dia terbang ke sana ke mari, kebiasaannya jika sedang berpikir keras. Akhirnya dia mengadu kepada Ratu Peri. “Ratu Peri, kita kehabisan air. Persediaan air kita tiba-tiba lenyap.”
“Kau yakin tidak menumpahkannya atau jangan-jangan tempat airmu bocor?” Bunda Peri mengerutkan kening.
“Tidak … tidak …! Aku tidak menumpahkannya dan tempat air itu juga tidak bocor,” bantah Peri Tirita.
Ratu Peri mendongak, diketuk-ketuknya tongkat kecil ke telapak tangan kirinya. Tiba-tiba Ratu Peri menatap Peri Tirita, jari telunjuknya bergerak-gerak. “Coba kau datangi Negara Zams dan meminta Raja Bahirim. Mereka memiliki air yang tak pernah surut.”
“Aduh … duh … duh … duh, masak aku harus mengangkut air dari Negeri Zamz?” Peri Tirita bersungut-sungut. “Sayapku bisa patah kalau harus mengangkut air sejauh itu, Ratu,” protesnya. Dikembangkan lengan bersayapnya dengan pelan.
“Jangan khawatir, aku akan menyuruh kuda terbang untuk membantumu,” Ratu Peri tersenyum.

Maka bersama kuda terbang, Peri Tirita menuju Negeri Zams. Raja Bahirim yang pemurah mengizinkan Peri Tirita mengambil air sebanyak yang dia butuhkan. Kini Negeri Maero kembali segar karena bunga, sayur, dan pepohonan telah mendapatkan air cukup. Peri Tirita merasa lega. Kini saatnya dia berisitirahat di selembar daun sawi hijau, seperti kesukaannya. Besok, Peri Tirita harus bangun pagi kembali dan membagikan air kepada seluruh penghuni Negeri Maero.
Pagi hari, daun sawi menggoyang-goyangkan batangnya agar Peri Tirita segera bangun. Seketika peri mungil lincah itu meloncat. Tugas pagi hari sudah menanti. Tapi, saat menuju tempat air, Peri Tirita dibuat kalang kabut. Ke mana airnya? Peri Tirita ternganga lebar melihat tempat penyimpanan air hampir kosong. Semua peri dia tanya. Namun, tak ada yang tahu ke mana hilangnya persediaan air Peri Tirita. Semua tahu, belum ada peri satu pun yang memakainya pagi itu.

“Peri Tirita … peri Tirita! Aku melihat sesuatu.” Peri Smarta berteriak-teriak, dan segera menarik Peri Tirita menuju suatu tempat.
Dari balik rumpun bunga, mereka melihat seorang gadis kecil yang sedang bermain sendirian. Ada dua ember besar berisi air. Sebuah selang melingkar-lingkar dengan air yang deras menguscur tampak tergeletak di samping gadis kecil itu. Peri Tirita dan Peri Smarta mengikuti jejak selang. Duh … duh … duh … ternyata selang itu tersambung ke lubang di bawah penampungan air milik Peri Tirita. Itu adalah lubang pembuangan saat Peri Tirita membersihkan dan menguras tempat penampungan agar terjaga kebersihannya.
Gadis kecil itu sangat menikmati permainan airnya dengan selang yang mengucurkan air ke ember, ke tembok, kayu tua, kucing yang melewatinya, juga rombongan semut yang berbaris membawa makanan. Dia juga mengisi semua botol mainannya. Setelah puas, kini dia melumuri seluruh badannya dengan busa sabun. Gelembung busa melayang-layang di sekitarnya. Setelah puas bermain busa, dia mulai mengguyur badannya dengan air. Satu ember mulai kosong. Tapi gadis cilik itu mengguyur badannya lagi … lagi … lagi … hingga air di ember kedua pun hampir tandas.

Peri Tirita terbelalak. Seharusnya untuk mandi gadis sekecil itu, satu ember berukuran sedang sudah cukup. Tapi gadis itu menghabiskan hampir dua ember besar air.
Dan … Peri Tirita bersama Peri Smarta berteriak tertahan ketika gadis cilik itu menuangkan air terakhir ke seluruh tubuhnya.
Peri Tirita terduduk di atas tanah sambil menatap dua ember kosong yang kini terguling. Pantas persediaan air di Negeri Maero cepat sekali menyusut, apalagi ketika peri hujan belum juga diperintahkan untuk membagi airnya.
Berarti Peri Tirita harus segera ke Negeri Zams lagi. Peri Tirita berpikir sejenak. Dia memang sangat kesal karena harus pergi jauh, gara-gara gadis cilik itu. Tapi … sepertinya ada yang lebih penting yang harus dia lakukan. Harus ada yang mengingatkan gadis cilik itu agar tak membuang air dengan percuma. Tapi siapa yang bersedia? Peri Smarta langsung menggelengkan kepala ketika diminta. Peri Tirita terbang ke sana ke mari. Tiba-tiba senyum Peri Tirita mengembang menatap kalian, yang sedang membaca cerpen ini. “Aha, kalian pasti mau melakukan, bukan?”

Foto Profil

Nikmas

Akhirnya aku punya pacar! Rasanya aku pengen teriak ke semua penjuru arah, biar semua tahu kalau aku sudah laku. Aku bukan lagi jomblo permanen seperti kata teman-teman sekelasku.
Sebagai seorang cewek, aku nggak termasuk buruk rupa kok, malah tergolong cantik—kata Mama. Makanya aku sedikit pemilih soal cowok, aku mengidamkan yang tampan dan mulus kayak cowok-cowk Korea. Tapi standar-ku yang terlalu tinggi itu malah bikin awet ngejomblo.
Rani adalah salah satu yang paling shock pas denger kabar kalau aku punya pacar, dia menghampiriku ketika aku baru masuk kelas.
“Beneran kamu punya pacar?” tanya Rani. Air mukanya nggak percaya. Rasnya aku menahan diri untuk tidak tertawa.
“Tentu saja, cowokku ganteng banget malah.” Aku berlagak membenahi poniku.
“Aku nggak percaya,” sahut Rani. Selama ini, Rani memang yang paling gencar memberiku penghargaan sebagai ratu kejombloan sejagat, kalau aku punya pacar dia nggak punya bahan olokan lagi. Tapi sepertinya cukup sampai di sini, karena nyatanya sekarang aku sudah pacar.

Aku meraih ponsel pintar dari dalam tas, lalu membuka akun facebookku dari sana. Kuperlihatkan status hubunganku sudah berpacaran. Kulihat Rani sudah megap-megap kayak ikan Lohan.
Nama akun facebook-nya Fredy Harsongko. Aku nge-add facebooknya sekitar tiga bulan lalu. Aku tertarik dengan ketampanan foto profil yang dipajang di akunnya. Dia juga rajin upload foto selfie dengan berbagai pose, dan semua sungguh membuatku terpesona. Sejak saat itu, aku bertekat untuk mendekatinya.
Dan siapa sangka pendekatan itu berhasil? Dalam watku singkat, hubungan kami makin dekat. Berawal dari chatting facebook, lalu merambat ke berbagai macam jejaring sosial yang lain. Lewat whatsapp, Line, bahkan instagram. Kedekatan kami mencapai klimaks saat pada akhirnya Fredy nembak aku seminggu lalu, dia menyatakan cintanya dengan mengirimkan gambar bunga mawar merah ke kronologiku. Meskipun tidak pernah bertemu, aku tidak ragu untuk menerima cintanya. Jadian sekarang, ketemu bisa belakangan.
“Aku pengen ketemu,” kataku saat dia menelpon. Aku sedikit ngambek karena dia selalu menghindar saat aku memintanya datang ke rumahku. Padahal kami tinggal di kota yang sama.
“Aku belum siap, nih. Pasti nanti aku bakal gugup banget.” Itu alasan yang basi. Fredy selalu memberikan alasan yang sama tiap aku mendesaknya.
“Kalau tetep nggak mau ketemu, kita putus saja.”
“Jangan dong! Oke, oke… besok di café Van Java.”
Ancamanku ternyata berhasil. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan pacar pertamaku ini.

Besoknya, aku sudah memakai baju terbaikku saat menunggunya di café Van Java. Aku duduk di bangku paling depan, dekat dengan pintu masuk agar Fredy mudah mencariku. Tapi Fredy tidak kunjung datang hingga aku menghabiskan dua cangkir kapucino. Aku mulai risih karena duduk sendiri di café, terlebih dengan tatapan intens dari seorang cowok asing di seberang mejaku. Aku membuang muka, enggan ditatap oleh cowok berkaos merah yang wajahnya ditumbuhi banyak jerawat sebesar biji jagung.
Kuketuk-ketukkan kaki ke lantai ketika mencoba menghubungi nomer Fredy. Diangkat.
“Kamu di mana?” tanyaku mulai nggak sabar.
“Aku ada di seberang mejamu sejak tadi. Sori aku gugup, jadi nggak berani nyamperin.”
Ha? Jadi Fredy sudah datang dari tadi? Aku menatap sekeliling, “Kamu di mana, sih?”
“Persis di seberang mejamu. Aku pakai kaos merah.”
Mendadak cowok pemilik jerawat sebesar biji jagung itu melambai ke arahku, sebelah tangannya masih menahan ponsel di telinga.
Aku menelan ludah. Rasanya aku sudah jadi korban, yang tertipu oleh ketampanan foto profil yang entah itu hasil edit, atau camera 360.

Bambang

Didi menggeleng. Wajahnya mulai ditekuk. “Ndak mau, Om! Ini ada,” jawab Didi. Tidak lama tangisnya pecah. Orang-orang mulai melihat kepada kami. Ehm, sepertinya Didi mulai mengeluarkan jurus andalannya.

Waktu itu, saya menyempatkan diri pulang ke Gombong, kampung halaman Bapak saya. Selain menjenguk Ibu dan keluarga lain, juga ziarah ke makam Bapak. Gombong itu sebuah kota kecamatan di Kabupaten kebumen Jawa Tengah.
“Ambang, dalan-dalan,” sambut Didi, keponakan saya. Umurnya 4 tahun dan anak pertama Mbak Dewi, Kakak perempuan saya.
Untuk beberapa kata, ucapan Didi belum begitu jelas. Bahkan untuk mengucapkan Om Bambang, Didi menyebutnya Ambang.
“kemana?” saya balik bertanya.
“Itu, Om. Besok, ada acara lomba mewarnai di Manunggal,” jawab Mbak Dewi. Manunggal itu lapangan di Gombong. Di sana sering diadakan pesta rakyat.
Demi menyenangkan hati ponakan dan sebagai om yang baik, maka saya langsung setuju. Didi langsung melompat kegirangan.
Besoknya, Didi bangun dengan semangat. Pukul tujuh pagi, Didi sudah minta mandi. Setelah itu, Ibunya membuatkan sebotol susu. Nyotnyotnyot… dalam waktu kurang lima menit, susu dalam botol itu tandas.
Setelah menghabiskan segelas teh hangat dan sebungkus getuk warung, maka pergilah saya bersama Didi ke lapangan Manunggal.
“ATM-nya ndak lupa kan, Mbang?” canda Mbak Dewi
“Tenang, Mbak! Sudah siap,” jawab saya mantap. Saya memang sengaja sudah menukar uang receh sebelum berangkat ke Gombong.
Mbak Dewi malah ngakak. “Siap-siap saja ATM-mu jebol.”
15 menit kemudian, kami sudah sampai di lapangan manunggal. Benar saja, lapangan itu sudah penuh oleh anak-anak TK yang ikut lomba mewarnai. Ada panggung besar karena akan lanjut musik dangdut malam harinya. Tidak ketinggalan stan-stan pendukung, para pedagang makanan dan mainan.
Turun dari motor, Didi langsung berlari menghampiri penjual balon yang tidak jauh dari parkir motor. Ia langsung memilih balon bentuk mobil. 10 ribu pertama keluar dari dompet saya.
Baru melangkah masuk ke arena lomba, Didi menarik tangan saya menghampiri seorang Bapak yang mengelar dagangan mainannya. Tanpa pikir panjang, Didi memilih pistol-pistolan. 10 ribu kedua dan 5 ribu pertama keluar dari saya.
“Sudah, ya! Kita lihat lomba mewarnai dulu!” kata saya lalu mengendong Didi mendekati Arena lomba mewarnai.
Baru lima menit, Didi sudah mencolek saya.
“Om, Aistim,” kata Didi sambil menunjuk gerobak es krim.
Cuaca memang panas sekali. padahal waktu masih menunjukkan pukul delapan lebih. Sejak tadi baju saya sudah basah.
Saya pun mengajak Didi membeli es krim. Senang sekali saat melihat Didi asyik menjilati es krimnya. Tidak masalah jaket merah yang dipakainya, kena tetesan es krim. Itu urusan Ibunya untuk mencuci jaket Didi nanti. Yang penting dia belajar makan sendiri.
Belum habis es krimnya, Didi lalu menunjuk buku mewarnai yang digelar di samping penjual es krim.
“Berapa, Mas?” tanya saya.
“Sepuluh ribu dua, Mas.”
Wih, mahal benar. Di kawasan industri dekat saya tinggal, cuma 5 ribu 3 buku, gumam saya
“Nanti saja ya, Di!” bujuk saya.
Didi menggeleng. Wajahnya mulai ditekuk. “Ndak mau, Om! Ini ada,” jawab Didi. Tidak lama tangisnya pecah. Orang-orang mulai melihat kepada kami. Ehm, sepertinya Didi mulai mengeluarkan jurus andalannya.
Tidak apalah. Akhirnya 4 buku mewarnai seharga 20 ribu, jadi milik Didi. Kalau dipikir-pikir murah, sih. Daripada bikin sendiri? Coba kalau Didi beli di Jakarta? Lebih mahal ongkos keretanya hehehehe….
Kelar membeli buku mewarnai, saya berniat mengajak Didi kembali melihat lomba mewarnai. Tapi Didi menolak.
“Puyang ada, Ambang!” ajak Didi.
“Sebentar lagi, ya! Kan, belum putar-putar,” bujuk saya.
Didi menggeleng, lalu kembali keluar jurus andalannya. Mungkin karena cuaca sangat panas, jadi Didi tidak betah. Tapi bisa juga, karena keinginannya beli ini itu sudah tercapai. Saya pun mengendong Didi menuju tempat parkiran.
Citcitcit… Seorang bapak bersepeda melintas di depan kami. Di boncengannya ada keranjang bambu berisi sangkar-sangkar kecil burung pipit.
“Ambang… itu!” tunjuk Didi.
Eh, belum sempat saya menjawab, penjual burung itu menghampiri kami. Lalu dengan pedenya, dia mengulurkan satu sangkar burung pada Didi.
“Berapa, Mas?” tanya saya deg-degkan. Takut mahal lagi.
“Lima ngewu, Mas,” jawab bapak itu.
Saya menarik napas lega, sambil mengeluarkan selembar lima ribuan. Didi bersorak senang. Sepanjang perjalanan pulang, Didi bernyanyi dengan ucapan tidak jelas, hanya dia yang tahu.
Mbak Dewi ngakak saat melihat kedatangan kami. Didi lalu memamerkan oleh-oleh yang ia bawa pada Ibunya dan Eyangnya. Berkali-kali Mbak Dewi melirik penuh arti kepada saya.
“Nggak apa-apa, Mbak! Namanya menyenangkan ponakan,” jawab saya.
“Bilang apa ke Om Bambang, Di?” tanya Eyangnya.
“Asih, Ambang!”
Setelah minum susu, Didi asyik mewarnai. Kemudian ia minta Ibunya menumbuk beras agar halus untuk makanan burung pipit.
“Ma, ndak mo maam,” kata Didi sambil menunjuk burung pipit.
Burung Pipit itu memang hanya diam saja. Sesekali dia menutup kedua matanya.
“Mungkin dia sedih, karena berpisah dengan Ibunya,” jawab kakak saya.
Tidak disangka, Didi malah ngomong begini, “Lepad ada! Didi Katihan.”
“Kalau dilepas, Didi nggak punya burung pipit lagi,” pacing saya.
“Ndak apa. Nanti Ambang deli ladi,” jawab Didi.
Wow… gajian kan sebulan sekali. Tapi tidak apa, hari itu ada pelajaran berharga dan meyenangkan. Hari itu, keponakan saya sudah banyak belajar, termasuk mengerti tentang kasih sayang kepada binatang.

Rahasia untuk Sisi

photo.php

Mata Sisi membulat. Ditatapnya wajah Rio yang tersenyum penuh rahasia. Ah, abangnya ini memang selalu menimbulkan rasa penasaran Sisi.
“Jadi, Kak Rio… kita mau kemana nih?” tanya Sisi tak sabar.
“Sisi sudah bawa barang-barang yang kakak minta?” Rio balik bertanya.
Sisi mengangguk seraya mengacungkan keranjang kecil yang sejak tadi dibawanya.
“Sisi sudah minta izin sama Bunda?” tanya Rio lagi.
Sisi kembali menganggukkan kepalanya. Tadi sebelum menyuruhnya mengambil keranjang, abangnya itu mengatakan, bahwa kali ini mereka akan berpetualang. Melakukan sesuatu yang istimewa untuk orang yang istimewa, begitu ujar abangnya.
Bagi Sisi apapun yang dilakukan Rio selalu istimewa di matanya. Melakukan petualangan bersama abangnya selalu menjadi bagian yang paling menyenangkan bagi Sisi.

Sisi ingat baru seminggu lalu, mereka berpetualang. Menyusuri petak-petak sawah di belakang komplek perumahan. Sawah itu baru saja dipanen. Meninggalkan lapangan-lapangan tanah yang luas dan merekah. Di sana-sini sisa-sisa rumpun padi yang kuning tampak rebah dan layu. Tampak juga beberapa gunungan sisa pembakaran jerami yang menghitam.

Tapi ini bukan jalan menuju sawah, pikir Sisi bingung. Kaki mungilnya berusaha mengikuti langkah-langkah besar abangnya.
“Sabarlah, Sisi. Sebentar lagi kita sampai kok,” ujar Kak Rio sambil menoleh ke arah Sisi.

Jalan setapak itu terasa panjang dan menurun. Sisi menggenggam erat tangan abangnya. Tiba-tiba di hadapan mereka terbentang tanah lapang yang luas.
“Lihaaaat…” Kak Rio menunjuk ke atas. Sisi menatap takjub ke arah yang ditunjuk Rio. Belum pernah seumur hidup ia menyaksikan pemandangan luar biasa seperti itu.

” Itu parasut udara, Sisi, ” ujar Kak Rio sambil menunjuk ke arah payung raksasa berwarna-warni yang bergerak turun menuju sebuah titik di tengah lapang.
“Itu ada orangnya, Kak!” seru Sisi takjub. Kak Rio mengangguk dan berkata,”orang itu disebut juga penerjun payung, Sisi.”
Sisi melihat penerjun payung itu mendarat di tepat di tengah lapang yang diberi karpet berwarna kuning. Agak jauh dari pusat pendaratan, banyak sekali orang-orang yang berkumpul dan menyaksikan peristiwa itu.

“Yuk, ke sana,” ajak Kak Rio.
Sisi mengangguk dan mengikuti langkah abangnya. Namun tiba-tiba saja langkahnya berhenti.
” Sssst, Kak Rio, lihaaaat…” Sisi berbisik pelan.
Matanya menyorotkan rasa heran dan senang yang muncul begitu saja. Seperti kemunculan kelinci mungil berbulu lebat yang berlari kecil mengikuti langkah-langkah mereka, tanpa rasa takut sedikit pun.
Sisi berjongkok ke arah kelinci itu. Dan bertanya penuh harap, “boleh kubawa pulang, Kak?”
Kelinci itu sungguh menggemaskan. Sisi mengusap-usap bulu lembut kelinci itu dengan perasaan sayang.

“Awasss…! Di situ banyak semut api …!” seru Kak Rio mengagetkan Sisi dan membuat kelinci itu ketakutan, lalu melesat kabur. Sisi menjadi amat sedih.
“Sudahlah, Sisi, jangan sedih, ” hibur Kak Rio. ” Bukankah kita akan melihat penerjun payung itu? Ada kejutan untukmu.”
“Untuk Sisi?” Sisi merasa bingung.
“Ya. Tapi sebelum kita sampai ke sana, petiklah beberapa bunga yang indah itu. Dan letakkan di keranjangmu itu.” Kak Rio tersenyum penuh rahasia.

*
“Kak Rio, lihaaat… Itu kan Bunda?” seru Sisi terkejut. Sisi menunjuk ke arah bundanya yang tampak melambaikan tangan ke arahnya. Mengapa Bunda berada di antara para penonton di lapangan itu? Sisi menghampiri bundanya dan bertanya heran.” Kok Bunda ada di sini?”
Bunda tersenyum, lalu berbisik di telinganya, ” Karena ini hari yang istimewa untukmu. Cobalah lihat ke atas. Itu hadiah dari Ayah.”
Sisi mendongak ke atas. Pada salah satu tangan penerjun itu, ada kain panjang bertuliskan : “Selamat Ulang Tahun, Sisi.”
Sisi merasa amat senang. Ia melonjak girang dan melambai-lambaikan tangannya penuh rasa bangga dan bahagia.

10720893_955888544428441_1504209488_n

Secangkir teh dengan dua blok gula. Sepertinya Ruwi takkan bisa menikmatinya lagi.
“Kapan sidang terakhirnya?”
Ruwi diam. Meletakkan teh pahit beraroma mint itu kembali ke tempatnya.
Belum lama ini dia menghabiskan hari-hari sepinya di butik, jarang pulang dan lebih memilih sendiri. Dia akan membuat desain pakaian hanya bertemankan lilin kecil dengan lampu yang dimatikan. Sejak hari itu dia lebih suka demikian.
“Satu pekan lagi,” jawab Ruwi pendek.
Satu pekan lagi.
Ruwi akan mengenangnya. Tentu, dia lebih suka mengenang dari pada mengingat suatu hal. Casual Dress berwarna abu-abu yang dikenakannya lebih menampakkan kondisi hatinya saat ini. Ya, sesederhana itu untuk ukuran desainer seperti dia.
“Baiklah. Aku tunggu hasilnya,” kata Bams yang segera merapikan sejenak letak dasinya. Dia berdiri. “Aku akan ke sini lagi.”
Ruwi memaksakan sedikit senyum. Dia pun ikut berdiri. “Aku antar ke depan.”
Bams menyetujuinya.
Ruwi pun membukakan pintu kaca butiknya pada Bams. Dia melihat Bams mengukir senyum kepadanya sebelum benar-benar masuk ke mobil Camry berwarna hitam dan melaju pergi.
Ruwi masih berdiri di depan butiknya dengan gamang. Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Dan dia lebih suka memedamnya seorang diri.
***
Satu minggu lagi persidangan itu dimulai kembali.
Ruwi tak tahu kenapa semua harus seperti ini. Dia tak mengerti apakah keputusannya ini tepat untuk berpisah dengan Jun. Jun lelaki yang baik baginya. Sederhana dan memiliki kharismanya sendiri. Dua tahun pernikahan mereka berjalan dengan baik-baik saja. Bahkan sangat baik tanpa hambatan sedikit pun, termasuk tak pernah adanya pertengkaran. Tapi celah itu memaksa Ruwi untuk memutuskan berpisah dengannya. Celah yang baru dia sadari berasal dari dirinya sendiri. Adanya pagar pemisah antara seorang desainer mapan dan pengajar honorer.
“Apa tak salah memutuskan menikah dengannya?”
Pertanyaan itu bersumber dari kedua orang tuanya. Dulu sebelum mereka berdua benar-benar memutuskan untuk menikah.
Jun lelaki yang baik untukku. Itu yang selalu Ruwi yakini dalam hati.
“Apa kamu rela melihat Mama sakit parah karena memikirkan masa depan kalian?! Bercerailah dan Mama akan mencarikan pengganti!”
Dan perkataan Mama dua bulan terakhir itu yang membuat hati Ruwi goyah. Entah mamanya mengada-ada tentang penyakit kanker yang diderita. Namun yang jelas, Ruwi mencintai kedua orang tuanya.
Sebuah pesan masuk ke handphone-nya.
From: Jun_Fallin
Secangkir teh dengan dua blok gula.
Mau?
Minggu, butik milik Ruwi libur.
Seulas senyum kini terbit di bibir tipis yang terpoles lipstik berwarna merah tersebut.
***
Secangkir teh dengan satu gula saja tak akan cukup.
Ruwi mengenangnya. Dua blok gula akan menambah sedikit rasa manis saat teh sedang panas dan ketika menghangat teh itu akan berubah rasa menjadi lebih manis, hingga berakhir dingin dan rasa teh itu jauh lebih manis dan pekat. Itu sebabnya Jun memasukkan dua blok gula, karena dia lebih menikmati teh saat masih panas. Jun suka aroma melati, sedangkan Ruwi memilih teh dengan aroma mint yang memberi efek tenang dalam dirinya.
“Sudah lama sekali …”
Jun menggeleng. “Jangan memikirkannya.”
Ruwi menyadari itu. Jun jauh lebih tenang darinya.
“Perpisahan,” kata Ruwi. Kata-kata yang baginya menyakitkan untuk dikenang.
“Bukankah secangkir teh dengan dua blok gula telah mewakilinya?” Jun berkata kembali setelah ada jeda ketika mereka memutuskan untuk meminum lagi teh masing-masing. “Satu blok gula tak akan pernah cukup. Saat kamu meminum teh dalam keadaan panas, kamu akan menyadari jika satu gula saja tak akan cukup membuat teh jadi lebih manis. Dan kita sama. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak bisa mementingkan ego sendiri. Aku yakin, semua adalah yang terbaik untuk kita. Ini keputusan kita bersama.”
Benar. Satu blok gula tak akan pernah cukup.
Angin sore di Semarang cukup dingin. Jun meletakkan jaket kulit miliknya di pundak Ruwi yang sepertinya tengah kedinginan karena memakai baju tanpa lengan.
“Ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu,” kata Ruwi.
“Katakanlah.”

***

Sebuket mawar berwarna putih. Bams memberikan bunga itu untuk kesekian kalinya pada Ruwi.
“Jangan berlebihan,” kata Ruwi sambil meletakkan bunga mawar itu di meja.
Dia hanya merasa sedikit tidak nyaman saat Bams selalu datang dengan membawa beberapa kejutan. Dia hanya tak ingin karyawannya mengira yang bukan-bukan tentang hubungan mereka.
Ruwi mengakui jika Bams lelaki yang tampan dan mapan, serta selalu royal untuk siapa pun.
“Masih lama perceraian kalian?”
Ruwi risih disodorkan tentang pertanyaan itu. “Lain kali bawalah sekeranjang kue, agar bisa kubagikan juga untuk karyawanku.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan.”
Ruwi menghela napas kasar. “Percayalah, aku akan berusaha sekuat mungkin.”
Bams menginginkan gaun pernikahan itu untuk kekasihnya. Nanti setelah Ruwi bercerai dengan Jun.

***

“Bawalah kado untuk orang tuamu,” kata Bams tempo hari.
Tentu, Ruwi telah menyiapkan kado spesial untuk orang tuanya. Selain Jun, dia memilih mengajak Bams untuk ikut ke rumahnya. Yang pastinya Ruwi memperhitungkan banyak hal sampai harus mengajaknya. Mama selalu suka dengan Bams. Itu salah satu alasannya.
“Sudah lama Tante ndak bertemu denganmu, Bams.” Kata Mama seolah ingin memojokkan Jun yang bergeming di samping Ruwi. Bams tak memberi bunga atau apa pun kali ini. “Pasti sudah sukses dengan tender-tendernya. Ayo masuk!”
Ruwi tahu apa yang diinginkan Mama sejak dulu adalah Bams. Ruwi menikah dengan Bams, dan bukan dengan Jun. Apa mungkin, Ruwi harus menambah satu blok gula lagi untuk menambah rasa manis itu? Rasa manis yang berlebih dan membuat perutnya mual.
“Tiga hari lagi, kan?” tanya Mama gamblang.
Ruwi menarik napas. Kado yang disimpannya terasa begitu rapuh mendengar hal itu.
“Bukan, tapi tiga minggu lagi, Tan.”
“Hah?” Mama terlihat bingung, karena yang menjawab adalah Bams. “Kenapa mendadak diulur?”
“Karena ….” Jun ikut berkata, meski kata-katanya seolah tertelan kembali.
“Saya akan menikah,” potong Bams.
Mama berdecak. “Tentu saja, kalian akan menikah setelah perceraian itu benar-benar sah secara hukum. Bukankah itu seimbang. Lagian Tante ingin segera menimang cucu.”
Mama melirik ke arah Jun. “Dua tahun ndak menghasilkan!”
Bams ingin tertawa, namun dia tahan. “Bukan Tante, tapi saya akan menikah dengan wanita pilihan saya. Dan kata Ruwi gaun pernikahannya akan selesai setelah persidangan. Tapi …”
“Ruwi hamil,” kata Jun yang seketika menggigit bibir. Pertemuannya dengan Ruwi beberapa hari lalu berakhir dengan kabar bahagia tersebut.
“Benarkah?”
“Ya, tiga bulan jalan.” Mata Ruwi berkaca-kaca mengatakannya. “Mungkin, kata rujuk adalah yang terbaik.”
Mama bungkam seketika.
Kado itu meluncur dengan begitu baik memecah keheningan di antara mereka. Sampai kapan pun Bams tetap menjadi teman yang baik bagi Ruwi. Mungkin setelah ini keadaan akan berubah.
Dua blok gula saja sudah cukup. []

Mengunjungi “Rumah” Beruang Madu

Hairi Yanti - ariktel PR

“Ini saudaranya Winny the Pooh.” Cetus seorang pengunjung KWLPH siang itu. Saya dan pengunjung lain yang mendengarnya sontak tertawa bersama. Winny the Pooh adalah karakter fiksi beruang madu yang akrab dengan anak-anak. Tapi, yang saya temui di KWLPH (Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup) adalah beruang madu sungguhan. Bukan fiksi. Dan beruang madu itu ada di Indonesia tepatnya di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Balikpapan, kota penting di Kalimantan Timur itu memang terkenal dengan sebutan kota minyak. Tapi bukan minyak yang menjadi maskot kota Balikpapan, melainkan beruang madu. Klub sepakbola asal kota Balikpapan alias PERSIBA juga disebut tim beruang madu.

Sebagai maskot kota Balikpapan, pemerintah daerah kota Balikpapan juga menaruh perhatian yang sangat besar akan kelangsungan hidup hewan langka itu. Karena itulah KWLPH dibangung, di mana di sana terdapat enklosur alias pulau hutan dengan luas 1,3 ha.
Di pintu gerbang, KWLPH kita akan disambut dengan papan nama dan replika dari beruang madu yang terbuat dari ijuk. Tapi replika itu jauh lebih besar dari beruang madu sebenarnya. Karena beruang madu merupakan spesies terkecil dari 8 jenis beruang yang ada di dunia. Dia hanya mempunyai berat antara 30-65 kg.
Ada enam ekor beruang madu yang terdapat di KWLPH. Dulunya beruang madu itu adalah hewan peliharaan penduduk sekitar yang mereka ambil secara ilegal dari hutan. Beruang-beruang madu itu pun kemudian diselamatkan dan ditempatkan di sebuah pulau hutan (enklosur).

Beruang madu di sana memang tidak dilepas ke hutan bebas karena mereka tidak tahu cara hidup di hutan bebas setelah mengalami beragam kejahatan dan siksaan ketika menjadi peliharaan. Karena itulah beruang madu yang ada di sana tidak lagi sempurna secara fisik. Ada yang satu matanya buta, ada yang punya bekas luka yang besar yang melingkari dadanya akibat dulu pemiliknya mangikat beruang madu itu dengan sleng di sekeliling dadanya.
Dari enam beruang madu yang ada di kawasan KWLPH, saya hanya berhasil bertemu dua di antaranya karena waktu kedatangan yang tidak tepat. Waktu yang tepat untuk menyaksikan semua beruang madu adalah pada jam sembilan pagi dan tiga sore. Karena pada jam itulah beruang madu melakukan aktivitas makan.
Diberi makannya pun caranya cukup unik. Makanan bukan diberikan secara langsung kepada beruang madu tapi makanan diletakkan di tempat-tempat tertentu yang tersembunyi. Jadi ada proses mencari makanan dahulu, bukan langsung menyantap makanan. Karena itulah pada jam makan tersebut, beruang madu akan keluar dari tempat persembunyiannya di dalam enklosur. Sehingga pengunjung bisa melihat mereka mencari makan. Cara pemberian makanan yang unik ini dimaksudkan agar beruang madu seperti berada dalam habitat yang asli.
Beruang madu memang tidak diletakkan dalam krengkeng karena akan membuat dia sangat stress dan seperti hidup di penjara. Karena itulah beruang madu diletakkan di pulau hutan supaya mereka bisa melakukan perilaku alami seperti di hutan bebas. Jadinya beruang madu itu bebas memanjat pohon, membongkar kayu mati, menggali tanah, santai di sungai dan makan serangga. Kalau beruang ditaruh dalam kandang kecil tentu dong kita tidak bisa menyaksikan hal itu.
Alasan lain kenapa beruang madu juga ditempatkan di enklosur adalah karena menipisnya hutan alami sebagai tempat hidup beruang tersebut. Dengan adanya enklosur supaya mereka bisa mendapatkan kehidupan yang mirip dengan di hutan bebas.

KWPLH merupakan tempat wisata yang asyik. Dengan hutan buatan yang seperti hutan alami, sehingga suasana rindang dan teduh bisa kita dapatkan di sana. Udara di sana juga terasa sejuk sekali, karena banyak tanaman hijau. KWPLH juga terlihat terawat, kondisinya bersih dan tertata apik. Petugas-petugas yang berjaga juga dengan ramah dan sigap memberikan informasi dan menjawab pertanyaan para pengunjung.
Tempat yang asyik untuk wisata keluarga. Dan untuk masuk ke sana tidak dipungut biaya sedikit pun alias Gratis. Selain enklosur beruang madu, di KWLPH kita juga bisa mengunjungi rumah kucing dan menyaksikan bentuk rumah lamin, rumah adat Kalimantan.

Being Me

PT II

“Pasukan kuning berceceran di jalan Baru. Pak Satpol PP tolong digaruk aja lalu dibuang di kali, tempatnya memang di situ. Bau Pak! Najis abis!”
Perang komentar di facebook berawal dari status ini. Sudah lebih dari tigapuluh komentar super pedas dan saling menjatuhkan berdesakkan di kotak-kotak kecil sejak status itu di-upload 30 menit yang lalu. Saking banyaknya komentar mereka mulai kehabisan ide dan menggantinya dengan sumpah serapah yang mulai tak terkontrol.
Perang komentar itu terjadi karena salah seorang dari geng borju meng-upload foto anak-anak dari geng modis saat mereka nongkrong di jalan Baru lalu menulis status kontroversial itu. Di dalam foto itu duapuluh anak geng modis yang memakai baju bernuansa kuning terang berpose norak plus dengan gaya dandan bintang film Korea di jalan Baru yang selalu ramai di Minggu pagi. Kedua puluh anak itu tidak peduli kalau warna kuning terang pada baju mereka sangat kontras dengan warna kulit mereka yang gelap. Apalagi mereka bergerombol di antara lalu lalang orang-orang yang kebanyakan hanya menggunakan pakaian olahraga sederhana. Terlalu mencolok. Mungkin ini yang disebut tabrak lari dalam dunia fashion. Sangat ndeso kata Thukul Arwana.
“Ini semua tentang mereka. Tak ada satupun tentangku,” bisik Lolita sembari melemparkan hpnya ke atas kasur. Dia masih memakai seragam putih abu bahkan tas ranselnya masih meringkuk di punggung. Lolita takkan menjadi sebuah kisah sebab dia bukan bagian dari mereka. Kisah yang paling laku di SMAnya hanyalah tentang kedua geng itu. Jika kamu bukan bagian dari mereka maka bersiaplah untuk berubah menjadi hantu alias masuk dalam golongan kasat mata, tak terlihat, tersingkir, dan terlupakan.
Lolita harus punya modal materi untuk masuk geng borju. Modalnya bahkan lebih besar daripada uang bayar gedung sekolahnya. Paling tidak dia harus punya blackberry atau ipad atau sepeda fixi untuk nongkrong tiap minggu pagi di jalan Baru. Mengingat orangtuanya hanya guru SD Lolita tak pernah berimajinasi masuk geng itu. Dia bersyukur masih dibelikan hp yang meski ketinggalan jaman tapi masih bisa untuk facebook-an.
Lalu bagaimana dengan geng modis? Memang tak butuh ipad untuk masuk geng itu. Lolita hanya butuh nyali besar untuk memakai gaya pakaian masa kini yang bahkan tak sesuai dengan kepribadiannya. Tak peduli mereka terlihat bodoh dengan pernak-pernik norak tapi bagi mereka terlihat gaya dan identik adalah suatu keharusan. Lolita takkan pernah mematikan kepribadiannya untuk sesuatu yang konyol. Lebih baik keberadaannya tak diakui daripada menjadi oportunis.
Dulu Lolita tidak keberatan menjadi golongan tak terlihat sebab dia punya sahabat senasib sepenanggungan, namanya Endita. Dulu mereka karib tak terpisahkan apalagi nama mereka berima sama. Namun sudah dua semester ini mereka tak berbicara semenjak Endita menjadi bagian dari geng Borju. Endita telah naik level sebab dia berpacaran dengan Alex, cowok paling keren di sekolah ini.
Bagaimana tidak? Alek tajir, dia langganan juara olimpiade matematika, kapten tim futsal, pengurus OSIS, dan yang terpenting dari itu dia luar biasa cakep. Alex jelas sempurna dan menjadi pasangannya berarti membuat Endita turut sempurna. Ini modal bagus untuk menjadi bagian dari kedua geng itu.
Lolita masih ingat terakhir kali Endita masih bersamanya. Dia bilang dia muak menjadi invisible dan dia akan berusaha keluar dari golongan terlupakan ini bagaimanapun caranya. Setelah itu mereka tak bersama lagi sebab Endita terlalu sibuk mewujudkan mimpinya. Jujur Lolita iri dengan Endita sebab dia bisa leluasa nongkrong dengan geng Borju meski dia tak punya sepeda fixi. Siapa butuh sepeda langsing warna-warni, blackberry, atau ipad jika kamu pacarnya Alex?
“Loli makan!” seru ibunya dari luar kamarnya.
Lolita terbangun dari lamunan. Dengan lesu dia meletakkan tas dan membuka kaos kakinya. Setiap hari selalu sama. Pulang sekolah, makan, belajar, makan lagi, nonton tv, tidur, lalu terbangun hanya untuk menyadari bahwa keberadaannya tak diakui di sekolah. Apa yang lebih menyedihkan dari itu semua? Tapi sebentar lagi dia akan lulus lalu kuliah. Orang-orang bilang kuliah lebih menyenangkan dari bangku SMA.
Semoga saja begitu. Lolita menghela napas, dia bangkit dan berjalan gontai menuju pintu kamar. Dia baru menyadari jeritan perutnya saat ini ternyata lebih lantang dari jeritan hatinya.

###

Pelajaran Biologi kosong. Beberapa teman cowoknya kecewa karena mereka tak jadi berceloteh tentang alat reproduksi manusia. Ah tiba-tiba saja mereka jadi kekanak-kanakan kalau menghadapi tema satu ini. Cewek lebih siap dari para cowok buktinya mereka lebih tenang, tidak belingsatan macam anak cowok. Mungkin karena masa puber mereka lebih menyakitkan dari cowok. Penuh dengan darah dan kejang perut yang sedikit menjengkelkan.
Lolita memainkan ujung pensilnya. Kelas sepi, hanya beberapa gelintir orang berada di situ, asyik dengan diri mereka sendiri. Sebenarnya Lolita butuh teh panas untuk sedikit meringankan tubuhnya yang meriang tapi dia juga tahu kantin pasti telah dikuasai anak-anak kedua geng itu. Kantin timur yang lebih mewah adalah daerah kekuasaan geng borju sementara kantin barat yang lebih sederhana adalah jajahan geng modis. Sebenarnya perbedaan utamanya adalah soal boleh tidaknya ngebon. Hutang adalah tabu di kantin timur sementara di kantin barat hutang bukan sesuatu yang memalukan.
Lolita memaksakan dirinya untuk pergi ke kantin barat sebab di sana dia takkan bertemu dengan Endita. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Dia berpikir akan membawa teh itu ke belakang perpustakaan. Di sana ada pohon mangga rindang tempat biasa Lolita ngadem dengan Endita dulu. Lolita kembali tertusuk jika mengingatnya.
Lolita menundukkan kepala dan bergegas menuju tempat Yu Par yang sedang menata sayur soto di mangkok-mangkok. Seperti dugaannya kantin begitu ramai penuh celoteh bahasa planet luar galaksi dan gemuruh tawa yang nyaring. Cepat-cepat Lolita memesan,” Teh panas,” katanya pendek. “Bentar ya, airnya belum mateng,” sahut Yu Par sambil menunjuk ke arah kompor. Lolita manggut-manggut. Kakinya bergerak tak tenang, obrolan seru dan komentar garang soal status di facebook membuat Lolita tak nyaman. Ingin rasanya membatalkan pesanannya.
“Kita harus balas!” seru Neli, cewek centil yang keranjingan Kim Hyun Joong, bintang film Korea. Saking tergila-gilanya dia selalu memaksa pacarnya yang berkulit gelap berpakaian persis bintang pujaannya..
“Minggu besok kita bikin gebrakan,” reaksi yang lain.
“Kita bikin anak-anak borju itu tutup mulut.”
Lolita makin tak nyaman saat mereka mulai menggebrak meja saking geramnya. Untunglah segelas teh panas segera disodorkan di depannya. Lolita membayarnya dan memberi isyarat untuk membawa gelas teh itu keluar.
Dia bergegas menuju belakang perpustakaan. Namun saat dia akan membelok Lolita menghentikan langkahnya. Dia melihat dua orang sedang bertengkar hebat. Sebenarnya dia bisa saja segera pergi dari tempat itu jika kedua orang itu bukan Endita dan Alex.
“Lalu kenapa jika aku gabung dengan mereka?”
“Mereka banyak cowoknya,” seru Alex.
“Picik kamu! Aku nggak serendah yang kamu pikir.”
“Bukan begitu maksudku.”
“Sudahlah. Aku bosan dengan sikap posesifmu. Kamu tidak berhak mengatur hidupku. Aku muak dengan semua ini.”
“Aku tidak mengatur hidupmu. Aku peduli padamu.”
Endita tersenyum sinis,”Lebih tepatnya peduli dengan dirimu sendiri. Selama ini aku hanya melakukan apa yang kamu suruh, bergabung dengan teman-teman yang kamu tunjuk. Aku bahkan tak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku butuh udara.”
“Udara tidak bisa kamu dapatkan pada sekumpulan cowok-cowok yang suka mendaki gunung.”
“Cukup! Asal kamu tahu saja aku tidak bisa bernapas selama bersamamu. Kita sudahi saja sebelum aku mati kehabisan napas,” jerit Endita meradang. Alex terpana. Dia terpukul sebab baru sekarang seorang cewek memutuskannya. Namun cepat-cepat dia membangun kejantanannya yang porak-poranda. Dia tersenyum sinis.
“Hmm…jadi cuma begini. Kamu akan menyesal karena kamu takkan lagi sama seperti dulu, tidak sepopuler dulu. Selama ini aku yang membuat mereka hormat padamu.”
Endita semakin berang. “Makan tuh popularitas. Aku nggak butuh pembohong dan penjilat macam mereka. Kita putus!” jerit Endita. Alex menatap Endita penuh dendam lalu meninggalkan tempat itu. Endita menangis perlahan namun lama-kelamaan dadanya terguncang keras. Tak pernah dia merasa sebebas ini meski rasanya perih.
Lolita yang sedari tadi mendengarkan pertengkaran itu menelan ludah. Teh yang dibawanya telah dingin, dia menenggaknya habis. Rasa tegang bikin dia haus. Dia bingung harus bagaimana. Dia telah menyaksikan putusnya Alex dan Endita dan dia tak tahu harus gembira atau sedih. Endita memang telah melukai dirinya tapi melihat Endita terluka seperti itu ternyata membuat luka-lukanya tak terasa sakit lagi.
Lolita merapatkan punggungnya di tembok. Mungkin sebaiknya dia segera pergi dari sini dan melupakan bahwa dia pernah melihat pertengkaran itu. Baru saja Lolita hendak beranjak seseorang menubruk dari samping. Gelas teh yang dipegangnya terlempar dan jatuh. Lolita terkejut bukan karena gelas itu tapi karena orang yang menubruknya itu ternyata Endita. Wajah bekas sohibnya itu basah karena airmata.
“Loli, ngapain kamu disini?”
“Aku…cuma…” jawab Loli gugup.
“Sejak kapan kamu berdiri di sini? Kamu mendengar semuanya ya?”
“Kalaupun aku mendengarnya apa pedulimu? Toh urusanmu bukan urusanku.” Lolita buru-buru memunguti pecahan gelas di lantai dan membuangnya di bak sampah. Endita memegang bahunya.
“Loli maafkan aku.”
“Tak apa biar aku yang ganti gelasnya.”
“Maksudku maafkan aku yang telah mengacaukan persahabatan kita dengan obsesi butaku.”
Lolita terdiam.
“Lol, kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk minta maaf. Kamu selalu menghindariku.”
“Seingatku aku tak pernah menghindarimu. Kenyataannya teman-temanmu sudah menyita waktumu. Kamu tidak cukup berusaha untuk minta maaf padahal kamu tahu dimana rumahku.”
“Please Lol, jangan sinis.”
“Aku tidak sinis, aku cuma marah. Bayangkan Dit dua semester! Hampir setahun aku harus melihatmu menjadi orang asing, sekedar boneka, tanpa kehendak dan buta. Sekarang kamu baru menyadarinya itupun karena kamu putus dengan Alex dan otomatis kamu telah terlepas dari mereka. Kamu baru mengingatku saat kamu sendiri. Kamu anggap aku ini apa? Rongsokan yang kamu pungut kembali?”
“Ya ampun Lol. Sebegitu parahkah aku menyakitimu?”
“Sudahlah. Kita lupakan semua ini.” Lolita hendak beranjak namun Endita mencegahnya.
“Lol aku hanya ingin kamu tahu kalau aku datang padamu bukan karena aku putus dengan Alex. Sudah lama aku ingin bebas. Apa yang aku bayangkan dulu semua salah. Kupikir aku bisa mendapat pengakuan diri jika bergabung dengan mereka tapi kenyataannya aku malah kehilangan diri. Popularitas itu hanyalah ilusi. Mereka bahkan tidak jujur dengan diri mereka sendiri. Aku iri padamu karena kamu tetap memilih untuk menjadi dirimu sendiri. Aku ingin kembali seperti dulu. Dan yang terpenting kamu bukan rongsokan. Jangan pernah bilang seperti itu. Maafkan aku Lol. Sungguh.”
Lolita menghela napas panjang. Dia menatap mata Endita yang bersinar tulus. Mungkin Endita memang telah menyakiti dirinya tapi dia sudah minta maaf dan itu butuh nyali yang besar.
“Meskipun kamu tidak memaafkanku ketahuilah aku tidak takut sendiri. Aku masih ingat kata-katamu Lol. Jadilah seperti rajawali, meski dia soliter tapi dia lebih bijaksana daripada seribu burung gereja. Dia berani terbang tinggi karena dia tahu cara terbang dengan menjadi sahabat angin. Rajawali bisa memperpanjang umurnya dua kali umurnya saat dia sekarat dengan berdiam diri dan menunggu dengan sabar matahari menyembuhkannya. Aku masih ingat semuanya Lol.”
“Tapi kamu lupa Dit. Meski seekor rajawali dengan sabar berdiam diri saat dia sekarat tapi dia tetap butuh seorang sahabat untuk memberinya makan.” Imbuh Lolita dengan menyelipkan senyum yang tipis. Endita tersenyum lebar.
“Kamu memaafkanku?”
“Yah kenapa tidak? Lagipula aku sudah bosan kesana-sini sendiri.”
“Terimakasih Lol.”
Mereka terdiam. Sedikit canggung.
“Kamu ada acara minggu pagi?” Tanya Endita berusaha mencairkan suasana. Lolita menggeleng.
“Ayo kita ke jalan Baru.”
“Ngapain?”
“Jalan-jalan, makan, dan menertawakan perseteruan besar kedua geng yang tak punya otak itu. Isyunya akan ada adu pamer lagi. Kita lihat seberapa bodohnya mereka.” Lolita mengangguk.
“Kenapa tidak? Toh menertawakan kebodohan orang lain lebih mudah daripada menyadari kebodohan sendiri.” Mereka berdua tertawa. Senang rasanya ada sahabat di sisi untuk tertawa bersama.

Puber Kedua

PT !

Aku tidak pernah percaya ada puber kedua. Bagiku itu hanya mitos. Khayalan. Sesuatu yang dipaksa ada.
Di usia kami yang sudah melewati angka 40, Irman sama sekali tidak terlihat berubah. Dia tetap gagah dan hangat di mataku. Sosok suami sekaligus ayah yang baik dan istimewa.
Karenanya, aku sedikit heran ketika Vania mengeluhkan hubungannya yang hambar dengan Frans.
“Frans itu tidak pernah menunda-nunda berangkat ke kantor. Selalu tepat waktu. Tapi, tidak untuk pulang ke rumah.”
“Bagus, dong. Bos teladan itu namanya,” aku mencoba memancing senyum Vania. Tapi, wajah sahabatku itu tetap kusut.
“Aku pernah bertahan untuk tidak tertidur di sofa menunggunya pulang. Tapi, aku enggak bisa. Dan ketika dia sampai, dia hanya menggoyang-goyangkan bahuku, menyuruhku pindah ke kamar.”
“Memang maumu apa?”
“Caranya itu, loh! Dia bisa, kan, menciumku untuk membangunkanku? Atau sekalian saja mengangkat tubuhku dan memindahkanku ke kasur.”
Aku tergelak sambil melirik tubuh Vania. “Dan membuatnya tidak masuk kerja besoknya karena sakit pinggang? Aku pikir, Frans punya alasan yang kuat untuk tidak melakukannya,” kataku sedikit kejam.
Vania balas melirik tubuhku. Sepertinya dia sedikit iri. Tapi, dia tidak membalasku dan hanya terlihat termenung.
“Aku pernah memergokinya senyum-senyum sendiri membaca BBM dari salah seorang teman wanitanya. Teman kuliahnya dulu, kalau tidak salah. Dan andai kamu tahu rasanya, berbicara dengannya sekarang aneh. Kaku. Dia berubah menjadi alien yang terdampar di rumah. Mungkin dia mengalami puber kedua.”
Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menyahuti ucapan Vania, kilatan air bening yang memantul dari matanya menahanku.
“Yudith, bagaimana kalau dia tidak—mencintaiku lagi?” bisik Vania nyaris tidak terdengar.
“Omong kosong! Jangan berpikir yang buruk-buruk. Frans mencintaimu sejak dulu, sekarang, dan sampai kalian mati. Dengar aku, Vania,” aku menggenggam tangan sahabatku sejak SMP itu, “kamu adalah istri dan ibu yang baik. Mungkin Frans sedang banyak pikiran atau ada masalah di kantor. Mengapa tidak kamu buat saja suasana baru supaya kalian tidak bosan?”
Mata Vania mengerjap. Dia kembali mengeluarkan senyum manisnya yang menawan dan sangat kukenal. Entah bagaimana, musim demi musim yang berganti, mampu mengubahnya menjadi senyum hambar yang seolah tanpa rasa.
“Apa saranmu, Yudith?” tanyanya dengan semangat baru.
Aku memicingkan mata menatap Vania. “Pertama, potong rambutmu! Rambut panjang model itu hanya cocok untuk anak sekolahan! Terus, pergi ke mall. Ganti sabun, shampoo, parfum, bedak, pelembab kulit, sampai pakaian dalam. Beli baju-baju rumah yang cantik!”
Vania mengerutkan keningnya. “Memangnya aku sekuno itu?”
Aku tertawa. “Enggak juga. Hanya perlu sedikit perawatan dan pelestarian.”

*

Rumah Bolu Yudith sedang ramai-ramainya siang ini. Aku duduk di kasir. Tersenyum. Menikmati betul berinteraksi dengan pelanggan-pelangganku. Aroma bolu tape dan bolu pisang tidak henti-hentinya menguar dari dalam dapur. Dua jenis bolu itu adalah favorit semua orang. Tumpukan kardus-kardus berisi bolu yang baru matang tidak pernah lama menghiasi rak kaca besar di sampingku. Diambil pelanggan yang baru datang, ataupun yang sudah memesan dari pagi.
Seorang pria kurus tinggi masuk. Aku baru sekali ini melihatnya. Ia berjalan menghampiri rak kaca. Matanya memperhatikan kardus-kardus berisi bolu sambil mengerutkan kening. Aku memberi isyarat pada Sandra untuk menggantikanku di kasir.
“Bisa saya bantu?” sapaku pada pria itu. Ia mengangkat kepalanya, memandangku sambil tersenyum ragu.
“Hmm, maaf, Mbak, biasanya wanita lebih suka bolu yang bertabur keju atau choco chips?” Ia tertawa kecil sedikit malu. “Semuanya terlihat enak, saya jadi bingung.”
Aku tersenyum. “Tergantung, Mas. Saya sendiri lebih suka keju. Tapi wanita kecil lebih suka choco chips, biasanya.”
Ia memandangku dengan alis terangkat dan tatapan bertanya.
“Anak-anak, maksud saya.” Aku menjelaskan.
Pria itu tertawa. “Kalau begitu saya ambil bolu tape dan bolu pisang yang bertabur keju. Masing-masing satu. Karena ini bukan untuk wanita kecil.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Mengambil dua kardus bolu tape dan bolu pisang yang masih terbuka, menutupnya, lalu mengemasnya dengan pita yang cantik. Tiba-tiba saja aku berpikir, kapan terakhir kali Irman memberiku hadiah? Rasanya aku sudah tidak bisa mengingatnya.
Aku bisa merasakan tatapan pria itu terarah padaku. Sungguh beruntung wanita yang akan mendapat bingkisan dari pria manis ini.
“Mbak yang punya toko?”
“Ya. Saya Yudith.” Kataku sambil menuliskan nota. “Semuanya 80 ribu rupiah. Silakan bayar di kasir.” Ketika kuserahkan kertas itu padanya, baru kusadari mata pria itu berwarna cokelat dan hangat.
“Terima kasih, Mbak Yudith. Saya dapat referensi toko ini dari rekan-rekan kerja saya. Mereka bilang bolu di toko ini enak sekali.”
“Terima kasih juga, Mas. Semoga istrinya suka.”
Ia terlihat menahan tawa. “Saya belum menikah, Mbak Yudith. Tapi, saya pasti akan ke sini lagi untuk mencoba bolu yang lain.”
Aku terpana. Oleh kesadaran bahwa aku gelisah melihat senyumnya, dan berharap bisa bertemu lagi dengannya.
*
Aku terkejut menyadari betapa berhasilnya saran asalku merubah Vania menjadi wanita baru yang terlihat berbeda. Dua bulan yang lalu, ia terlihat seperti wanita usia 50 tahun yang putus asa, depresi, dan banyak pikiran. Usia psikologisnya jauh melampaui usia biologisnya yang baru saja melewati angka 41.
Tapi, lihat dia sekarang. Dengan potongan rambut pendek yang manis, membuatnya terlihat segar seperti melati yang baru disiram di pagi hari. Aku sampai tidak bisa menahan diri untuk mengendus ketika berada di dekatnya. Wanginya enak sekali, seperti campuran kopi dan parfum lembut.
“Kamu harum seperti kopi panas yang siap direguk,” pujiku, setengah bertanya, setengah penasaran.
Vania tertawa. “Oh, itu. Aku habis creambath dan mereka menggunakan aroma kopi.” Ia tersenyum lembut. “Thanks for your advice. It works. Really!”
Aku menatapnya takjub. “Ceritakan padaku!”
“Yah, seperti yang kamu lihat, aku ke salon. Aku ganti semua sabun, parfum, dan apapun yang memiliki aroma. Hasilnya, Frans menatapku tidak berkedip. Dan besoknya—pertama kalinya dalam sejarah, dia terlambat 15 menit untuk berangkat ke kantor. Mengajakku ngobrol di kamar, melanjutkan pujiannya yang tidak berhenti sejak malam,” jelas Vania dengan mata yang berbinar-binar bahagia.
“Lalu?”
“Lalu, semuanya terasa seperti ketika kami pertama kali bertemu. Hahaha, lebay, ya?”
Aku menatap Vania iri. Andai ia tahu, hatiku pun saat ini sedang bergejolak. Sayangnya bukan karena Irman. Aku seperti termakan oleh ucapanku sendiri.
Apanya yang mitos, kalau aku merasakan dunia tempat aku berpijak bersama Irman beku? Menjadikan kami sepasang orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Membuat Irman menjadi gila kerja dan aku semakin betah berada di Rumah Bolu Yudith. Hanya sekadar menantikan pemilik sepasang mata cokelat hangat yang menanyakan kabarku di hari yang dingin karena hujan deras di luar sana.
*
“Aku mau jujur padamu,” suaraku bergetar saat menatap mata Irman. “Tapi, tolong jangan marah.”
Irman menatapku lembut penuh pengertian. “Bicara saja, Yudith. Aku enggak akan marah,” janjinya.
Aku menelan ludah, mengumpulkan semua keberanianku untuk memulai.
“Aku—tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Kamu tidak merasakan sesuatu yang berbeda di antara—kita?”
Irman terdiam beberapa saat. “Kita jarang ngobrol, ya, sekarang?” aku pria itu.
Aku memalingkan wajahku ke arah jendela. “Aku pikir—aku jatuh cinta pada orang lain,” bisikku lirih. Dari cermin di samping jendela, bisa kulihat rahang Irman mengeras. Tapi, ia berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.
“Sejak kapan?”
“Aku tidak tahu.” Kupaksakan mataku menatapnya. “Tolong aku, Irman ….”
Irman merengkuhku dalam pelukannya. “Salahku. Belakangan ini aku terlalu sibuk di kantor.”
Aku diam. Menikmati detak jantung Irman di telingaku. Sejujurnya, aku merasa masalahnya ada pada diriku. Aku jenuh dengan kehidupanku yang terasa lurus dan monoton. Sementara, Irman memang sejak dulu bukan tipe pria yang banyak bicara dan menganggap penting perayaan dan hadiah.
Lalu, ketika ada seorang pria muda yang begitu manis menanyakan kabarku, menatapku dengan mata yang hangat, dan tersenyum lembut padaku, salahkah bila kemudian aku merasa tersanjung?
“Mungkin kita jenuh dengan keriuhan Jakarta. Ayo kita ke Ciwidey akhir pekan ini. Berdua saja. Anak-anak kita titip di rumah Ratih. Mereka pasti senang berkumpul dengan Nenek dan sepupunya.”
Aku mengangguk pasrah. Mungkin aku memang perlu suasana baru.
Lalu, tiba-tiba Irman melepaskan pelukannya dan mengangkat daguku. “Siapa pria itu?”
Aku bersemu malu. “Aku tidak tahu. Aku tidak mengenalnya. Dia pembeli di toko.”
Irman menatapku lekat. ”Kamu masih mencintaiku, kan?”
Aku mengangguk, lalu memeluknya erat. Tentu saja aku mencintainya. Dengan semua usaha kami memperjuangkan cinta kami. Berdiri tegak di atas perbedaan kultur, status sosial, hingga menyatukan perbedaan keyakinan. Rasanya konyol bila aku menyerah karena hal sepele, setelah 15 tahun kami bersama.
“Sepertinya kamu mengalami puber kedua,” kata Irman menggodaku. Aku mencubit pinggangnya.
“Lalu, apa kamu tidak pernah menyukai wanita lain selama kita bersama?”
“Hmm, tidak! Aku setia padamu.” Irman terdiam sebentar. “Mungkin kamu perlu mencoba hal-hal baru. Mengapa tidak kamu tanyakan saja pada Vania?”
Aku tercekat. “Vania?”
“Hu um. Kemarin aku bertemu dengannya di toko buku. Dia terlihat—berbeda. Sangat cantik dan segar. Aku pikir, ia akan dengan senang hati berbagi tipsnya denganmu.”
Astaga. Aku menelan ludah. Getir. Entah apa aku harus merasa marah, kecewa, cemas, atau tersanjung? Mengetahui saranku tidak hanya membuat Vania sukses mendapatkan perhatian Frans, tapi juga suamiku.

Roti Cinta

PT I Linda

Seorang pemuda berahang kuat yang bajunya jarang kelihatan rapi baru saja ke luar dari kantinnya Mbak Juli. Ia harus cepat menuju kantin lainnya untuk mengantar roti. Langkah yang tergesa-gesa membuatnya tidak sengaja menyenggol pundak Kara, lalu jatuh. Keranjang roti yang dibawa pemuda itu akhirnya menghujani Kara. Seketika Kara langsung menutup hidung karena mencium bau roti yang entah apa nama merk rotinya.
Pemuda itu berniat membantu Kara berdiri. Tapi Kara malah menolak dan menepis tangannya.
“Jangan pegang aku!” kata Kara. Ketus. Ia lantas menyingkirkan keranjang roti dari dekatnya.
Wajah pemuda itu tampak kecewa dengan sikap Kara. Ia segera mengambil keranjang roti miliknya dan berjalan meninggalkan Kara yang warna hidungnya mulai merah.
Kara mengejarnya. “Hey! Apa kamu tidak merasa bersalah?” Tapi pemuda itu terus berjalan tanpa menimpali pertanyaan Kara.
Sekarang Kara sudah ada di depannya.
“Dengar! Aku begini gara-gara kamu,” kata Kara sambil menunjuk hidungnya.
Pemuda itu tersenyum kecut.
“Kamu!” telunjuk Kara mengarah tepat di depan wajah pemuda itu.
“Kuberitahu, namaku Romi. Sekarang turunkan tanganmu!” nada suara Romi terdengar lebih ketus dari Kara tadi. Lalu pergi meninggalkan Kara.
Kara ingin mengejarnya lagi. Tapi sudah terdengar bunyi bel tanda masuk. Hari ini selama mengikuti pelajaran Kara terus-terusan bersin. Seolah-olah bau roti menempel terus di hidungnya.
“Habis lihat roti, ya, Ra?” tanya Laura, teman sebangku Kara.
Kara mengangguk. Lalu mengambil beberapa helai tisu dari dalam tasnya. Mempunyai alergi terhadap bau roti ternyata sangat menganggu.
“Pantesan kamu bersin terus.” Kelihatannya Laura mulai tidak nyaman dengan suara bersin Kara.

***

Pagi ini hanya ada roti dan selai kacang di meja makan. Seminggu terakhir ini Mami kelihatan lemas dan pucat. Mami bilang perutnya mual kalau diisi makanan. Sebenarnya Kara sedang ingin sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. Tapi tidak mungkin minta tolong Mami membuatkannya. Sedangkan ia sendiri tidak bisa memasak.
Akhirnya Kara memutuskan untuk sarapan di sekolah saja. Setidaknya ia bisa memilih makanan yang dijual berderet di tenda-tenda depan sekolahnya.
Pilihan Kara adalah bubur ayam Pak Bambang.
“Tumben makan di sini, Ra.” Ririn yang kebetulan juga sedang sarapan bubur langsung pindah duduk di dekat Kara sambil membawa mangkuk buburnya.
“Lagi pengen aja. Soalnya Mami lagi males bikin sarapan.”
“Dulu Ibuku juga begitu waktu hamil Fahri. Kalau pagi males bikin sarapan. Soalnya suka mual terus muntah. Disebutnya morning sickness, Ra.”
Kara hampir tersedak mendengar perkataan Ririn. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Ia tiba-tiba ingat beberapa hari yang lalu pernah melihat Mami menutup mulutnya sambil menahan mual. Apa itu artinya Mami hamil? Tapi Kara tidak yakin.
“Mami memang kadang-kadang suka malas masak, Rin. Kalau Papi datang dari luar kota baru Mami mau masak. Hari-hari biasa beli masakan yang sudah mateng.”
Obrolan ini membuat nafsu makan Kara mendadak hilang. Ia jadi kepikiran Mami. Tapi tidak begitu lama Kara melihat pemuda berahang kuat itu lagi. Ia sedang memesan bubur. Tangan kanannya membawa keranjang roti.
“Ayo, Rin!” Kara menarik tangan Ririn sambil menahan hidungnya yang mendadak gatal.
Hatchi…hatchi…Kara gagal menahan bersin saat lewat di dekat Romi.

***

Roti dengan aneka rasa tertata rapi pada salah satu meja di kantin Mbak Juli. Kara langsung menutup hidung melihat tumpukan roti sebanyak itu. Mbak Juli bilang untuk snack rapat guru nanti siang.
Roti cinta, tulisan pada kemasannya membuat Kara penasaran. Lalu tertawa geli karena ada gambar kartunnya sedang memeluk bantal berbentuk hati. Kara beli satu. Untuk Mami yang sedang tidak doyan makan. Tapi minta Mbak Juli memasukannya ke dalam kantong keresek hitam dan diikat rapat. Agar baunya tidak tercium.
Begitu sampai di rumah, ia melihat wajah Mami lebih pucat dari pagi tadi. Mami bilang hari ini belum makan apa-apa.
“Kenapa Mami tidak makan?” tanya Kara.
“Mulut Mami rasanya asem, Ra…”
Kara jadi ingat ucapan Ririn di tenda Pak Bambang tadi pagi.
“Apa mungkin Mami hamil?”
Mami menepuk pipi Kara. “Menurutmu bagaimana?”
Menurut Kara sudah bukan waktunya lagi ia mempunyai adik bayi. Bukan hanya malu pada teman-teman. Tapi juga khawatir karena usia Mami sudah lewat dari empat puluh tahun.
Sambil menutup hidung Kara mengambil roti dari dalam tasnya dan cepat-cepat diberikan kepada Mami.
“Kara punya roti, Mi.”
Mama tertawa melihat keresek hitam yang ternyata isinya roti.
“Kalau Mami hamil rumah kita jadi ramai, ya, Ra,” sepotong roti masuk ke mulut Mami.
Kara tidak berkata apa-apa. Hanya bergantian memandangi wajah dan perut Mami. Sesekali ia menutup hidungnya samil menahan bersin.

***

Pagi ini Kara dikejutkan dengan model rambut Romi yang disisir rapi dan tampak mengilat karena diberi minyak rambut. Kemeja putih pendek dan celana hitam panjang membuatnya tampak lebih bersih. Seperti biasa ia membawa keranjang roti dan berjalan ke kantin Mbak Juli.
Tiba-tiba, brukkkk! Kali ini giliran Kara yang menabrak Romi. Roti yang dibawa Romi jatuh berserakan di lantai.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kara sambil cepat-cepat membantu Romi membereskan rotinya.
Roti cinta. Kara membaca tulisan pada kemasan roti itu. Banyak tukang roti yang datang ke kantin Mbak Juli membuat Kara baru mengetahui kalau ternyata roti cinta itu dari Romi.
“Terima kasih,” kata Romi sambil tersenyum. Ternyata Romi kalau senyum manis juga. Wajah juteknya berganti menjadi ramah.
Hatchi…, sulit sekali untuk tidak bersin kalau sudah mencium bau roti. Padahal Kara sudah berusaha menahannya. Romi kemudian memberikan sebuah sapu tangan kepada Kara. “Maaf…” Romi berujar sambil melangkah tergesa-gesa.
Setelah dikejutkan dengan penampilan dan sikap ramahnya Romi pagi ini, sekarang Kara dikejutkan dengan telepon dari Papi.
“Mami masuk rumah sakit, Ra.”
Kara segera pergi ke ruang guru. Ia tidak akan konsentrasi mengikuti pelajaran setelah mendengar kabar soal Mami. Setelah mendapat izin Kara langsung melesat pulang.

***

Asam lambung Mami kambuh lagi. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Terpaksa dirawat karena Mami tidak bisa menelan makanan karena mual yang berlebihan. Meski sudah boleh pulang tetapi kondisi Mami masih lemah. Belum mau makan nasi. Makan bubur juga mulai bosan. Karena sejak di rumah sakit Mami setiap hari diberi makan bubur putih yang rasanya tawar. Mami minta Kara membelikan roti cinta.
Sayangnya di kantin Mbak Juli roti itu sudah tidak ada. Romi sudah tidak lagi mengirim roti sejak Kara izin sekolah karena menunggui Mami di rumah sakit.
“Mbak Juli tahu rumahnya?”
“Tepatnya tidak tahu. Tapi Romi pernah bilang katanya di belakang gedung sekolah ini.”

***

Roti isi cokelat tapi namanya bukan roti cinta, sudah berpindah dari tangan Kara ke tangan Mami.
“Mami makan, ya.”
“Memangnya roti cintanya nggak ada, Ra?”
Sambil meluruskan kaki, Kara bercerita soal roti cinta yang sudah tidak dijual lagi di kantin sekolahnya. Kara tadi mendatangi pemukiman di belakang sekolahnya untuk mencari rumah romi. Tapi tidak ketemu. Kara malah istirahat di sebuah warung kecil yang kebetulan menjual beberapa jenis roti.
Mami mendadak mual setelah Kara mengakhiri ceritanya. Mami berlari ke kamar mandi. Sedangkan Kara mengambil kertas di saku bajunya. Pemilik warung tadi memberikan nomer telepon Romi. Dulu Romi pernah menitipkan roti cinta di warungnya.

***

Akhirnya Kara menemukan rumah Romi. Jalan ke rumah Romi melewati gang-gang kecil yang di kiri kanannya banyak jemuran yang terbuat dari kawat. Ada anak-anak kecil yang sedang berlarian mengejar tukang odong-odong. Sangat berbeda dengan ketika ia kecil dulu. Mami dan Papi menyediakan banyak mainan untuknya. Mami melarangnya bermain di luar. Berlatih sepeda seperti yang sedang dilakukan seorang anak di ujung gang ini juga tidak pernah dilakukan Kara. Makanya sampai sebesar ini Kara belum bisa naik sepeda.
Rumah itu kecil. Tidak ada pembatas antara tempat untuk tidur dengan tempat untuk menerima tamu. Kemudian seorang Ibu yang menerima kedatangan Kara dengan ramah menyuguhi Kara dengan segelas air putih.
“Sebentar lagi juga pulang, Neng…” dari logat bicaranya keluarga ini seperti berasal dari tanah sunda.
“Memangnya Romi kerja di mana, Bu?” tanya Kara.
Ibu itu terbatuk. Suara batuknya menyayat hati Kara.
“Di toko buku, Neng. Romi ingin melanjutkan kuliahnya yang sempat putus karena kekurangan biaya. Selain itu Romi tidak pernah punya waktu luang kalau terus bekerja di pabrik roti cinta. Makanya pindah.”
Tiba-tiba pembicaraan itu terhenti ketika seseorang muncul dari balik pintu.
“Eh, kamu, Ra,” sapanya ramah.
Kara tidak bicara apa-apa. Ia terkejut melihat Romi yang baru pulang kerja. Wajahnya tampak lelah, keringat membuat baju yang dipakainya basah.
“Kara?” Romi melambaikan tangannya di depan wajah Kara.
Sejak masuk ke pemukiman ini, Kara banyak melihat kehidupan yang berbeda sekali dengan hidup yang dirasakannya selama ini. Hidup yang jauh dari fasilitas. Kalau Mami tahu Kara ada di tempat seperti ini, Mami pasti marah. Teman-teman Kara juga pasti akan menertawakannya kalau tahu ia berkeliaran di sini, pemukiman kecil yang warganya banyak. Beruntung tidak ada yang melihat Kara ke sini.

***

Siang ini matahari malu memperlihatkan sinarnya. Udara sedikit lebih dingin dari sore biasanya. Sebentar lagi sepertinya musin hujan akan datang. Papi barusaja datang dari luar kota. Ada pekerjaan yang harus dikerjakan beberapa hari ke depan di Jakarta. Baru sepuluh menit sejak Papi datang sudah lebih dari lima kali ada panggilan masuk di hpnya. Selalu ada senyum setelah Papi menutup telepon.
“Soal proyek itu, ya, Pi? Tanya Mami.
“Iya, Mi. Mereka sudah menerima bayaran atas tanah yang kami beli.”
Kara tidak tahu apa yang sedang Mami dan Papi bicarakan.

***

Kara hanya melihat dua buah alat berat barusaja meratakan bangunan-bangunan yang beberapa hari lalu ia datangi. Tidak ada lagi jemuran kawat dan anak-anak yang berlari mengejar tukang odong-odong. Semua sepi dan yang tersisa hanya debu dan udara yang panas.
Setelah lima belas menit Kara berdiri di sana, ada pesan masuk di hpnya.
Aku sudah di Bandung, Ra. Tempat tinggal kami digusur. Katanya mau dibangun pusat perbelanjaan. Mungkin aku akan melanjutkan kuliahku di Bandung saja.
Kehilangan tempat tinggal itu pasti tidak enak rasanya. Kehilangan seorang teman seperti Romi rasanya juga tidak enak. Kara menunduk. Wajah Papi dan rekan-rekan bisnisnya berkelabat di kepala Kara.

***