Topi Pink Berbulu

11050180_10152870082253591_6330566410804989700_n

Tiba-tiba Ibu menginginkan topi pink dengan hiasan bulu di pinggirnya. Topi pink seperti itu pernah Aindra lihat di toko khusus mainan. Harganya mahal. Dan tidak banyak persediaannya.
“Itu lucu….,” kata Ibu pada Aindra.
Aindra tahu topi itu lucu. Tapi kalau dipakai Ibu pasti jadi aneh. Tapi Ibu bilang, Ibu ingin sekali topi itu. Ibu bahkan sudah mengajak Aindra tiga kali ke toko itu untuk melihat, apakah topi pink dengan hiasan bulu itu masih ada atau tidak.
“Ibu harus mengumpulkan uang untuk membeli topi itu.”
Aindra menganggukkan kepalanya. Ibu harus mengumpulkan uang, karena harga topi itu cukup mahal. Ayah pasti juga akan geleng kepala kalau Ibu membelinya.
Tapi Aindra lihat, Ibu tersenyum terus ketika bercermin. Mungkin Ibu membayangkan kalau Ibu sudah memakai topi pink itu.
Aindra tahu Ibu benar-benar menginginkan topi pink itu.
**
“Mama aku tidak suka topi, Mama kamu aneh deh…”
Aindra menganggukkan kepalanya. Semalam ia terus berpikir kenapa Ibu ingin sekali topi pink itu.
Hari ini ia cerita pada teman-temannya soal keinginan Ibu membeli topi pink dengan hiasan bulu, di sebuah toko khusus kado.
“Iya, Bunda aku juga tidak suka topi. Topi itu kan topi untuk anak kecil…”
Aindra menganggukkan kepalanya lagi.
Teman-temannya betul. Topi itu topi anak-anak. Kalau Aindra yang membeli untuk dipakai sendiri tidak apa-apa. Tapi kalau Ibu yang ingin memakainya pasti aneh jadinya.
“Mungkin untuk hadiah ulang tahun kamu…”
Aindra menggeleng. Ulang tahunnya masih lama. Sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Lagipula, ia lebih suka diberi hadiah buku harian daripada diberikan hadiah topi berbulu seperti itu.
**

Topi berbulu itu masih saja Ibu pikirkan meski Ayah sudah menggelengkan kepalanya dan berkata Ibu seperti anak-anak.
Aindra setuju dengan yang Ayah katakan. Ibu lebih cocok beli jepit rambut untuk rambut Ibu yang sudah mulai panjang, bukan topi. Apalagi topi berwarna pink dengan hiasan bulu seperti anak kecil.
“Tabungan Ibu sudah cukup,” ujar Ibu pada Aindra.
Aindra memandang wajah Ibu. Aindra kasihan dengan Ibu, karena itu Aindra mengikut saja ketika Ibu mengajaknya kembali ke toko itu.
Sepanjang perjalanan Aindra membayangkan Ibu yang mengenakan topi itu. Aindra jadi tersenyum sendiri.
Mereka sekarang sudah sampai di dalam toko. Ibu mencari-cari dan mengerutkan keningnya.’
“Sudah tidak ada…,” ujar Ibu pada Aindra.
Aindra melihat ke tempat dimana kemarin topi itu diletakkan. Aindra juga lihat Ibu bertanya pada penjaga toko. Lalu Ibu berjalan menuju Aindra.
“Sudah dibeli orang,” ujar Ibu dengan wajah sedih.
Sepanjang perjalanan Aindra menggenggam tangan Ibu erat sekali, seperti yang sering Ibu lakukan ketika Aindra sedih.
Tiba-tiba Ayah membawakan topi pink dengan hiasan bulu untuk Ibu sambil tersenyum. Ayah baru pulang kerja. Aindra lihat mata Ibu berkaca-kaca ketika menerima hadiah itu.
“Terima kasih,” ujar Ibu pada Ayah.
Aindra memandangi Ayah.
Ayah merangkul Aindra mengajaknya duduk di teras.
“Ibu sedang kangen dengan almarhum Nenek. Nenek dulu pernah membuat topi pink dengan hiasan bulu untuk Ibu. Tapi topi itu hilang ketika kita pindah rumah.”
“Dan Ayah tahu itu?”
Ayah mengangguk. Tersenyum pada Aindra.
Sekarang Aindra lihat Ibu tersenyum memandangi topi pink berhias bulu itu. Aindra tahu Ibu sedang bahagia.
**

Tanda Lahir Cika

DSCF2836

Tanda lahir itu ada di kening Cika, berbentuk seperti sebuah titik aja. Bukan, bukan tahi lalat. Tanda lahir itu seperti titik seukuran bulatan kelereng tapi lebih kecil lagi, dan berwarna kecoklatan.
“Aku malu..,” ujar Cika di depan cermin. Ia selalu menghabiskan banyak waktu di depan cermin untuk membuat tanda lahir itu tidak kelihatan.
Rambutnya dibuat poni agak panjang. Kadang juga ia tempel plester luka bergambar hello kitty.
“Masih kelihatan?” tanya Cika pada Kak Adnan kakaknya.
Kak Adnan menganggukkan kepalanya. Cermin itu ada di hadapan Kak Adnan, di depan meja makan tempat Kak Adnan sekarang duduk menikmati rujak kangkung buatan Bunda.
“Masak sih?” tanya Cika tidak percaya.
Tapi Kak Adnan menganggukkan kepalanya keras-keras hingga membuat Cika menjadi keheranan.
Tanda lahir itu menyebalkan. Ada di dahinya. Kenapa harus ada di situ? Ibu bilang tidak semua orang punya tanda lahir. Terus kenapa di rumah ini cuma Cika yang punya tanda lahir?
“Hi..,” ujar Kak Adnan pada Cika.
Cika masih cemberut. Tanda lahir itu sebenarnya tidak pernah ia lihat sebelumya. Tapi sejak Kak Adnan yang sudah SMP itu selalu bilang kalau Cika punya tanda lahir, Cika jadi memperhatikan tanda lahir itu.
Cika juga jadi sering melihat tanda lahir itu, bertanya pada teman sekolahnya, membandingkan dan akhirnya jadi malu.
“Aku malu..,” ujar Cika pada Ndari teman baiknya.
Ndari memandangi tanda lahir Cika itu.
“Kata Kak Adnan, tanda lahir ini bisa membesar dan menutupi wajahku. Makanya harus aku hilangkan dari sekarang.”
Ndari terus memandangi Cika. Sungguh, Ndari tidak mengerti kenapa tanda lahir kecil itu membuat Cika jadi takut seperti itu?
**
“Bunda tahu…,” sorenya ketika di teras bersama Bunda, Cika memandangi bundanya dengan tangan yang menempel di atas tanda lahirnya. “Aku sebenarnya selalu berdoa agar tidak punya tanda lahir.”
Bunda tersenyum.
“Kak Adnan bilang, tanda lahirku bisa besar dan menutupi wajahku.”
Kali ini Bunda berdiri lalu berjalan menuju pohon cabainya.
“Bunda tahu cara menghilangkannya?”
Bunda mengangguk.
“Bunda tahu?” tanya Cika penasaran.
Bunda mengangguk lagi. “Setiap kali kamu mulai memikirkan tanda lahir itu, kamu mulai mengurus pohon cabai kamu yang ada di tiga pot itu..,” Bunda menunjuk tiga pot berisi pohon cabai yang terlihat tidak terurus.
“Cuma seperti itu, Bunda?”
“Iya, cuma seperti itu. Setiap kali mulai berpikir soal tanda lahir, pikirkan pohon cabai kamu dan urus pohon cabai kamu sampai berbuah.”
Bola mata Cika kali ini membesar. “Gampang caranya ya, Bunda,” Cika langsung bersemangat menghampiri pohon cabainya.
**
Tanda lahir di kening Cika sebenarnya masih ada. Kecil hanya sedikit lebih besar dari tahi lalat.
Tapi pohon-pohon cabai Cika yang mulai berbunga membuat Cika terlalu sibuk untuk memikirkannya.
“Tanda lahir kamu kelihatan tuh..,” goda Kak Adnan.
Cika tersenyum saja. Bunda benar, Kak Adnan suka menggoda. Tanda lahir itu sampai Cika besar pun tidak akan menjadi besar, karena Bunda sudah ajak Cika ke dokter.

**

Mimpi Besar Eyang Kakung

DSCF2741

Mimpi besar Eyang Kakung membuat Attar tertawa. Tapi Attar berusaha menyembunyikan tawa itu. Eyang ingin tinggal di desa lalu jadi petani. Bertanam bayam dan kangkung dan menjualnya ke pasar.
“Mimpiku jadi pemain bola, Eyang. Hebat, bisa keliling dunia.”
Eyang menganggukkan kepalanya. Eyang Kakung dulu juga suka bermain bola.
“Mimpiku jadi reporter. Bisa keliling dunia juga,” jawab Bilqis yang sedang minum es teler buatan Ibu.
Eyang Kakung menganggukkan kepalanya. Di tangan Eyang Kakung ada bibit bayam dan kangkung yang baru dibeli dari penjual pohon di pinggir jalan.
Attar sudah mengerti, sebentar lagi Eyang pasti akan sibuk menyebarkan bibit bayam dan kangkung itu. Lalu setelah itu Eyang akan rajin memandanginya, dan bersorak kesenangan ketika bibit itu terbelah dan menghasilkan tunas.
Eyang juga menanam pepaya. Buah pepaya itu ketika masih muda, Eyang ambil dan minta Ibu untuk membuatkan sayur tumis pepaya muda. Attar juga suka rasanya.
Tapi halaman rumah Ibu terlalu kecil sedangkan pohon-pohon yang ingin Eyang tanam banyak sekali.
“Eyang ingin jadi petani dan tinggal di desa…”
Attar memandangi Eyang. Seluruh rambut di kepala Eyang sudah berwarna putih. Sejak Eyang Putri meninggal, Eyang Kakung tinggal bersama di rumah Attar.
“Kamu tahu…,” mata Eyang memandang Attar. “Itu mimpi besar Eyang. Eyang ingin jadi petani di desa. Eyang bisa makan sayuran yang Eyang tanam.”
Attar diam saja.
Attar kasihan dengan Eyang Kakung. Apa mungkin Attar harus menyampaikannya pada Ibu dan Ayah?
**
“Berapa umur Eyang kamu?” tanya Beni pada Attar ketika mereka pulang sekolah.
Attar memang bercerita tentang mimpi besar eyangnya.
“Tujuh puluh lima tahun,” ujar Attar.
Beni menganggukkan kepalanya.
“Dulu embahku juga begitu. Mimpi besarnya katanya jadi guru.”
“Berapa umurnya?”
“Umurnya sekarang delapan puluh tahun. Dan embahku masih punya mimpi besar jadi guru. Kemarin Ibu bawa ke rumah untuk anak pemulung. Dan embah mulai mengajar.”
Bola mata Attar membulat.
“Ibu bilang, mimpi itu bisa terwujud kapan saja. Ibu suka sekali kalau embah senang. Kata Ibu, senang itu membuat kita tetap sehat.”
Attar mendengarkan.
Senang itu membuat sehat. Apa mungkin Eyang Kakung sering sakit belakangan ini karena tidak senang?
Attar cepat berlari pulang ke rumah.
**
“Eyang masih punya cita-cita, Bu..,” ujar Attar pada Ibu ketika mereka sedang makan pisang goreng di teras.
Pisang goreng itu masih hangat.
“Ibu tahu?”
Ibu menganggukkan kepalanya.
“Beni bilang, embahnya dulu suka sakit karena tidak bahagia. Eyang Kakung juga begitu, Bu?”
Ibu mengangguk.
“Jadi, Eyang Kakung boleh jadi petani, Bu? Tinggal di desa?”
Ibu memandangi Attar kali ini. Menarik napas panjang.
“Kemarin Ibu sudah bicara dengan Ayah.”
“Terus…?”
Ibu tersenyum mencubit hidung Attar. “Nanti kita lihat saja, ya.”
**
Mimpi besar Eyang Kakung jadi petani dan tinggal di desa. Tapi rumah Eyang di desa sudah tidak ada lagi.
Sekarang Attar dan Ibu berada di pinggir tanah yang luas. Tanah itu tidak jauh dari tempat mereka tinggal.
“Ibu pinjam tanah ini pada pemiliknya untuk Eyang tanami. Eyang senang, pemiliknya juga senang. Eyang akan tetap tinggal bersama kita.”
Eyang senang. Attar tahu itu. Attar bisa melihatnya dari cara Eyang tersenyum dan jempol Eyang yang diangkat tinggi-tinggi.
Mimpi besar seperti itu, tidak boleh berhenti, begitu kata Ibu. Attar setuju.

**

Catatan Luka

DSCF2740

Wajah Ibu tidak merah. Mata Ibu tidak melotot seperti ketika Pak Mul yang di depan rumah melotot pada Binta ketika Binta tidak sengaja melempar buah mangganya dengan batu dan kena kaca jendelanya.
“Ibu marah?” tanya Binta dengan perasaan bersalah. Ia melihat Ibu memang hanya mengangguk-anggukkan kepala tadi waktu Pak Mul minta ganti rugi.
Ibu juga hanya menggelengkan kepala pada Binta hingga Binta merasa bersalah dan meminta maaf pada Ibu.
“Ibu marah?”
Ibu menyodorkan buku pada Binta. Buku itu berwarna bersampul biru. Ketika dipegang sampul itu terasa lembut sekali. Binta menyentuhnya berkali-kali, lalu menempelkannya di pipi.
“Ini buku apa?”
“Itu buku catatan luka,” ujar Ibu. “Ibu tulis ketika hati Ibu sedang terluka. Ibu baca lagi untuk mengetahui mungkin saja Ibu yang salah.”
“Ibu tadi menulis di buku ini?” tanya Binta karena memang ia tadi melihat Ibu menulis di buku itu.
Ibu mengangguk. “Kamu mau coba menuliskan perasaan kamu kalau sedang marah?”
Binta menggaruk kepalanya. Binta masih berpikir dulu.

**
“Ayah tahu kenapa Ibu tidak marah,” ujar Ayah. “Soalnya marah Ibu sudah ditulis semua di dalam buku yang dikunci itu. Sekali-sekali coba kamu minta Ibu buka kuncinya dan lihat apa saja yang Ibu tulis di sana.”
“Ayah tahu apa yang Ibu tulis?”
Ayah mengangguk. “Ibu menulis begini, hari ini anakku bikin aku sedih. Aku jadi mengeluarkan air mata,” Ayah tertawa.
“Betul begitu, Bu…?” Binta penasaran.
Ibu di dapur menganggukkan kepalanya. “Marah itu bikin Ibu capek.”
“Kalau Ayah punya?” tanya Binta pada Ayah.
Ayah menggeleng. “Nanti Ayah mau belajar punya,” ujar Ayah menganggukkan kepalanya.
**
Buku catatan luka. Binta memikirkan hal itu. Ia bahkan terus memikirkan ketika sedang bermain boneka dengan Anisha di pinggir lapangan.
“Awas….”
Tiba-tiba sebuah bola melambung tinggi dan jatuh tepat di atas boneka milik Binta. Bola itu bau air selokan dan baju boneka Binta jadi ikut bau.
“Kalian sih main di pinggir lapangan,” terdengar suara Bima.
Binta melotot. Boneka itu sekarang ia lempar ke arah Bima. Lalu ia berlari pulang.
Binta marah. Nanti kalau ia sudah berhenti sebalnya, ia akan ke rumah Bima dan lapor sama mamanya yang galak.
**
Binta marah. Binta mengomel. Ayah tertawa dan bilang kalau Binita anak hebat harusnya Binta mengejar Bima dan minta saat itu juga bajunya dicuci atau digantikan dengan baju yang baru.
Ibu menggeleng. Ibu menyerahkan selembar kertas pada Binta.
“Tulis saja perasaan kamu di sini.”
“Apa marahku bisa hilang kalau ditulis?” tanya Binta.
Ibu mengangguk. “Sesudah ditulis kamu tidak perlu mengingatnya lagi. Kamu hanya perlu memaafkan.” Ibu menyerahkan pulpen pada Binta. “Tulis saja,” ujar Ibu. “Ibu buatkan teh hangat ya?”
Binta akhirnya menulis. Besar-besar. Ia menulis benci dengan Bima sampai berkali-kali. Sampai tangannya pegal. Sampai akhirnya ia mengantuk sendiri.
**
Wajah Binta harusnya tidak merah. Matanya juga tidak perlu melotot lagi, ketika Bima datang bersama mamanya.
“Tadi Tante minta Bima mencuci baju boneka kamu. Nih…, sekarang sudah bersih. Bima juga minta maaf.”
Tangan Bima terulur. Binta melihat pada Ibu yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sehingga Binta tidak perlu melotot lagi.
“Maaf ya.”
Binta mengangguk. Boneka barbienya sudah bersih sekarang. Tidak bau air selokan lagi.
“Minum teh dulu?” Ibu menawari.
Binta memandangi Ibu. Tapi Ibu memandang sebuah buku bersampul biru yang ada di dekat Ibu.
Binta tahu artinya. Binta tidak boleh marah lagi karena Bima sudah minta maaf dan semua kekesalan Binta sudah Binta tulis pada selembar kertas.
Sekarang, mereka minum teh berdua. Ibu dan mamanya Bima ada di dapur.
Besok Binta akan minta dibelikan buku berwarna pink. Di buku itu nanti Binta akan menulis semua marah juga kesalnya.
Sekarang Binta memandangi Bima. Mungkin Bima juga harus menulis di buku seperti itu, supaya nakalnya hilang.

Pekerjaan untuk Ayah

Pekerjaan untuk ayah foto

Buku tebal itu bertumpuk-tumpuk di ruang tamu yang sudah sempit. Tiga buku itu dari semalam Arya pandangi dibaca oleh Ayah.
Bukan. Itu bukan buku pelajaran. Ayah tidak suka buku pelajaran sebab Ayah sendiri yang bilang kalau Ayah tidak suka belajar.
Arya mencoba untuk mendekat. Tapi begitu mendekat, Ayah menolehkan kepalanya lalu menutup buku itu. Arya sempat melihat sampulnya sedikit tapi cepat ditutupi oleh Ayah.
“Les Bahasa Inggris kamu sudah bayar?”
Arya menggeleng. Ayah lupa, begitu yang Ayah bilang terus setiap kali Arya meminta bayaran. Kadang Ayah bilang, tadi kantong celananya bolong sehingga uang Ayah untuk bayaran les Bahasa Inggris terjatuh.
“Taekwondo kamu juga belum bayar?”
Arya mengangguk. Ayah mungkin lupa sudah tiga minggu Arya tidak masuk taekwondo karena sudah tiga bulan tidak membayar uang iuran taekwondo. Padahal sebentar lagi ada ujian kenaikan sabuk. Arya bosan tetap di sabuk yang sama hampir setahun lamanya.
“Sepertinya kemarin itu Ayah sudah simpan uangnya…”
Arya tidak mendengarkan kalimat Ayah karena di luar teman-temannya sudah memanggil.
“Bang Jali minta dibantu…” Adon ada di depan rumah Arya. Pakai topi dan baju bola seperti biasanya. “Bang Jali mau bikin gerobak. Kita bisa bantu…”
Arya langsung mengambil topinya. “Ayah…, aku pergi…,” ujar Arya pada Ayah.
Ayah sepertinya tidak mendengar karena Ayah sibuk dengan buku tebal di tangannya itu.
**
Benar apa yang dikatakan Adon, Bang Jali sedang membuat gerobak.
Tangan Bang Jali hanya ada satu. Satunya lagi tinggal separuh karena tertimpa batang pohon besar waktu Bang Jali sedang duduk di bawahnya.
“Sini, sini….,” Bang Jali memanggil Arya dan Adon.
“Abang buat apa?” tanya Arya.
“Gerobak buat siapa saja yang mau kerja,” kata Bang Jali. “Kalau pagi Abang jualan. Kalau siang Abang bisa ambil sampah botol plastik. Siapa yang mau pakai gerobak Abang kalau Abang lagi jualan?”
Adon menggeleng. “Adon sudah bantu Emak jualan.”
Bang Jali melirik pada Arya.
Arya menunduk. Ibu Arya sudah meninggal setahun yang lalu. Sekarang Arya berdua dengan Ayah. Ayah yang tidak punya pekerjaan karena dua bulan yang lalu tempat kerja Ayah bangkrut.
“Kamu mau, Arya?” tanya Bang Jali.
Arya mengangguk. Tapi apa Ayah mau ya?
**
Sepanjang perjalanan pulang, Arya terus berpikir.
Sekarang Ayah tidak bekerja lagi. Sekarang Ayah sibuk dengan buku-buku tebal itu. Arya sendiri kurang tahu untuk apa buku-buku tebal itu?
Sampai di rumah, Arya tidak mendapati Ayah. Satu buku tebal itu terbuka. Arya mendekati. Buku tebal itu berisi nama-nama orang dan nomor teleponnya. Ada satu nama yang Ayah beri garis merah.
Tiba-tiba Arya mendengar suara Ayah bicara. Dari arah dapur.
“Hallo…., ini kepala sekolah.” Itu suara Ayah.
Arya mendengarkan.
“Anak Ibu masuk rumah sakit. Sudah saya bawa ke dokter. Ini dokternya.”
Arya masih mendengarkan. Arya ingin tahu.
“Iya, Bu. Saya dokternya. Anak Ibu patah kakinya dan harus dioperasi. Tolong Ibu kirim uang secepatnya…”
Itu suara Ayah juga.
Tiba-tiba mata Arya berair. Arya ingat teman sekolahnya Titi. Kemarin ibunya datang ke sekolah sambil menangis. Ada yang menelepon katanya Titi tertabrak mobil dan ada di rumah sakit. Ternyata Titi masih ada di sekolah.
“Iya, Bu. Kirim uang secepatnya….” Suara Ayah terdengar galak.
Arya mendekati tempat Ayah bicara. Memandangi Ayah.
“Ayah jahat…,” itu yang Arya katakan pada Ayah dengan suara keras sambil berlari ke luar rumah. Arya tidak ingin Ayah menjadi penipu.
**
Gerobak buatan Bang Jali kecil saja. Arya kuat mendorongnya. Kalau sendiri tidak terlalu cepat. Tapi kalau berdua dengan Ayah menjadi lebih cepat lagi.
“Kamu tidak malu?” tanya Ayah.
Arya menggeleng. Mengambil botol plastik di tempat sampah lalu memasukkannya ke gerobak.
Kemarin Ayah sudah bicara. Ayah bilang Ayah menyesal. Ayah bingung harus bekerja apa untuk membayar uang sekolah dan uang les Arya. Buku-buku tebal itu akhirnya Ayah bakar. Tidak Ayah jual karena takut ada orang punya niat jahat juga seperti Ayah.
“Ini pekerjaan Ayah sekarang . Jadi pemulung…,” ujar Ayah pada Arya.
Arya mengangguk. “Arya suka karena Ayah hebat..,” Arya berlari lagi. Mengambil botol plastik di jalan lagi. Bibirnya tersenyum lebar sekali.
**

Selembar Surat dari Hati

DSCF2639

Titis menganggukkan kepalanya keras-keras di hadapan Ibu. Tadi ia berbohong lagi pada Ibu. Ini bohong yang kesekian kali yang ia lakukan pada Ibu.
“Itu baju temanku, aku pinjam,” ujar Titis kali ini tangannya mengambil kue lumpur buatan Ibu yang ada di atas piring. Titis menggigitnya separuh saja lalu meletakkan kembali.
Ibu selalu begitu. Ibu marah dan marah lagi.
“Jajan kamu yang kemarin?”
Titis cemberut.
Ia tahu sebentar lagi Ibu akan menggeleng. Ibu memang selalu saja menggeleng setiap kali Titis meminta tambahan uang jajan. Padahal Titis selalu bilang bahwa uang jajan itu akan dipakainya untuk membeli barang seperti kepunyaan teman.
“Tapi baju itu sudah seminggu ada di lemari kamu.”
Baju itu berwarna biru. Kaos bergambar bunga mawar yang dilukis. Titis suka. Begitu sukanya Titis sampai ia sering memimpikan baju itu.
“Kamu benar meminjamnya?”
Titis mengangguk lagi. Kali ini, ia membawa piring berisi kue lumpur bersamanya lalu masuk ke dalam kamar.
Ibu selalu begitu.Ibu banyak bertanya. Ibu seperti menuduh. Karena itu ia suka berbohong pada Ibu.
**
Mereka selalu berbeda dengan yang lain. Mereka, Titis dan Ibu. Ibu mungkin tidak pernah tahu rasanya jadi anak seusia Titis.
Ibu selalu bilang mereka harus irit karena Ayah kerja di luar kota dan baru pulang sebulan sekali. Ibu juga bilang agar Titis belajar menjahit atau membuat kue, agar kata Ibu kalau sedikit besar Titis bisa mencari uang sendiri.
Titis cemberut.
Sekarang Titis duduk di samping Risma. Mereka memang sering duduk berdua setelah pulang sekolah. Risma menunggu jemputan datang sedang Titis memang sengaja berlama-lama karena malas untuk pulang.
“Kamu pernah bohong?” tanya Titis kali ini pada Risma.
Risma memandang Titis.
“Bohong sama Mama kamu?”
Risma diam. Kakinya malah bergoyang-goyang tapi ia tetap tidak menjawab pertanyaan Titis.
“Aku suka bohong,” kata Titis akhirnya lalu berdiri dari duduknya. Ada semut yang menggigit dan masuk ke dalam sepatunya terpaksa ia melepaskan sepatunya.
Risma menggeleng. Mobil jemputannya sudah datang. Tangan Titis bahkan ditariknya dan diajak untuk pulang bersama.
**
“Aku tidak mungkin bohong,” ujar Risma ketika mereka sampai di rumah.
Rumah Risma besar tapi kosong. Rumah itu bersih dan rapi. Seorang Bibik membukakan pintu untuk Titis dan Risma tadi.
“Mama kamu kerja?” tanya Titis pelan.
Risma tersenyum. Mengajak Titis duduk di teras. Lalu Risma berdiri dari duduknya dan meminta Titis menunggu.
Tidak lama kemudian Risma datang dengan sebuah bingkai besar.
“Apa itu?” Titis ingin tahu.
Risma menyodorkan pada Titis. Sebuah surat yang ditulis dengan pulpen warna biru. Di bawahnya ada foto Risma dan mamanya.
“Mama buat ini untuk aku ingat terus. Mama bilang ini surat dari hati Mama. Kalau aku bohong Mama sedih sekali.”
Titis membaca surat itu. Surat itu bagus sekali. Ibu mungkin tidak pernah bisa membuat surat seperti itu.
“Kalau aku kangen Mama, aku lihat surat ini. Aku harus jadi anak hebat seperti yang Mama bilang dulu.”
Kali ini kening Titis berkerut. “Mama kamu memangnya kemana?”
Risma mengambil air minum di depannya lalu meminumnya. “Kamu belum tahu?”
Titis menggeleng. Titis baru berteman akrab dengan Risma sebulan yang lalu. Itu juga karena sebulan yang lalu tempat duduk Titis dipindah ke depan dekat Risma.
“Mama aku hilang waktu mau kerja ke luar kota. Pesawatnya jatuh belum juga ketemu.”
Titis langsung menunduk.
Mama Risma hilang dan belum ditemukan. Kali ini mata Titis memandangi tulisan di dalam surat yang dibingkai itu.
Anak hebat itu tidak suka berbohong pada orangtuanya. Begitu yang tertulis di situ yang membuat Titis rasanya ingin cepat pulang ke rumah.
**
Kalau Ibu tidak bisa membuat surat seperti mamannya Risma, maka Titis yang akan membuatnya.
Sekarang, di dalam kamar, Titis mencoba menulis surat untuk Ibu dengan membayangkan surat yang tadi dibacanya di rumah Risma.
Titis akan bilang kalau selama ini ia berbohong. Baju yang ada di dalam lemarinya dan ditemukan oleh Ibu itu, baju miliknya yang ia beli sembunyi-sembunyi. Harganya mahal karena itu ia memakai uang jajannya.
Titis tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Ibu. Ibu pasti akan marah dan mengatakan kalau Titis sudah boros menghabiskan uangnya.
Surat itu Titis tulis pada selembar kertas warna merah jambu. Titis tulis pelan-pelan agar menjadi bagus. Mungkin nanti Titis bingkai agar Ibu bisa dengan mudah melihatnya.
“Tis…”
Di luar terdengar suara Ibu memanggilnya.
Belum sempat Titis keluar dari dalam kamarnya, pintu kamarnya sudah dibuka. Ada wajah Ibu tersembul dari balik pintu.
“Ibu sudah beli, Nak..,” ujar Ibu pada Titis.
Titis mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Baju yang kamu simpan di lemari yang punya teman kamu itu, besok dikembalikan ya. Ibu sudah dapat di toko tadi. Warnanya sama dengan baju itu.”
Tangan Ibu lalu terangkat. Satu baju yang memang sama persis dengan baju yang Titis simpan di lemari sekarang ada di hadapan Titis.
“Harganya memang mahal tapi Ibu beli untuk kamu. Sudah lama Ibu tidak kasih hadiah untuk kamu.”
Titis diam. Kelopak matanya menjadi panas.
Selembar surat itu belum selesai ditulisnya. Sekarang yang dilakukannya adalah mendekat pada ibu dan memeluknya.
**

 

Pensil Terakhir

DSCF2579

Pensil itu tinggal satu. Warna pink itu dengan gambar Princess itu juga tinggal satu. Tidak ada yang lain lagi. Dijual di toko dekat sekolah Mareta dan Dinda.
Mareta dan Dinda saling berpandangan.
“Kamu mau?” tanya Mareta pada Dinda.
Mereka sudah menabung selama seminggu dari Senin yang lalu. Harga pensil itu mahal sepuluh ribu. Tapi bagus. Hampir semua anak perempuan di kelas Mareta memakai pensil itu. Hanya Dinda dan Mareta yang belum punya.
“Tinggal satu, Mbak?” tanya Dinda.
Mbak yang menjaga toko itu menganggukkan kepalanya.
Pensil itu masih ada di dalam etalase kaca toko. Di dalam kotak. Tidak ada yang lain. Semua mungkin sudah diborong oleh teman-teman dari kelas lain. Teman-teman perempuan suka sekali dengan pensil itu. Pensil itu kalau ditekan bisa berubah menjadi pulpen. Di atasnya juga ada penghapus.
Mareta menginginkan pensil itu. Ibu tidak memberikan uang lebih karena Ibu bilang semua pensil sama. Ibu tidak tahu kalau pensil itu beda. Karena itu Mareta memilih megumpulkan uang jajan dari Ibu.
“Gimana? Jadi beli?” tanya Mbak penjaga memandang Mareta dan Dinda sebelum akhirnya menuju pembeli lain.
Mareta dan Dinda saling berpandangan.
“Kalau kamu mau beli aku tidak apa-apa,” kata Dinda. “Nanti aku titip kakak aku siapa tahu di toko lain ada.”
Mareta memandangi pensil itu.
Bagus. Lucu. Gambarnya Princess Jasmine kesukaannya.
“Kamu mau, kan?” tanya Dinda lagi.
Mareta menggeleng. “Buat kamu saja. Nanti aku bisa titip Ayah di toko dekat tempat kerja Ayah.”
“Bagaimana?” tanya Mbak itu lagi datang pada mereka.
Mareta dan Dinda menggeleng. Mereka ke luar dari toko itu sambil bergandengan tangan.
**
“Yaah…, cuma pensil aja harganya mahal,” begitu kata Kak Irfan sambil menjilat es krimnya. “Enakan beli makanan.”
Mareta berdiri di depan pintu kamar Kak Irfan. “Tapi semua teman aku punya, Kak…”
“Tapi kan tidak enak tidak bisa dimakan…,” Kak Irfan kembali menjilat es krimnya. “Ibu bilang kan enakan beli makanan. Makanan yang sehat seperti es krim ini…”
Mareta cemberut. Itu karena Kak Irfan tidak tahu rasanya punya pensil seperti itu. Semua teman kalau istirahat saling lihat gambar di pensil itu. Terus mereka bermain dengan pensil itu.
“Pensil kamu kan udah banyak. Buat apa ikut-ikutan teman. Aku dong, teman yang lain pilih mainan aku pilih es krim.”
“Kakak sedih?”
Kak Irfan menggelengkan kepalanya. “Buat apa sedih, robotku kan sudah banyak, nanti sebentar aku juga sudah bosan. Enakan es krim, tahu.”
Mareta masih cemberut.
Enakan pensil pastinya. Pensil di toko itu yang tinggal satu.
**
“Ibu pilih mana?” tanya Mareta penasaran pada Ibu yang sedang membuat bolu.
“Pensil lagi?”
Mareta tersenyum malu.
“Kamu kepingin sekali beli pensil itu?”
Mareta mengangguk. “Tapi di toko itu hanya tinggal satu. Padahal Dinda dan aku juga mau.”
“Terus?”
“Dinda bilang nanti dia bisa titip kakaknya di toko lain.”
“Kenapa kamu tidak beli?”
Mareta menggeleng. “Di dekat kantor Ayah pasti ada toko pensil kan, Bu? Nanti aku bisa titip Ayah.”
Ibu tersenyum.
**
Pensil itu sudah tidak ada. Kemarin Mareta dan Dinda datang lagi ke toko itu.
Mereka berjalan menjauhi toko itu.
“Aku tidak jadi beli. Di tempat kakakku tidak ada…,” kata Dinda pada Mareta.
“Aku juga, kata Ayah di tempat kerjanya tidak ada yang jual pensil.”
Mereka berdua sekarang berjalan memasuki kelas sambil bergandengan tangan.
“Tapi tadi Mami aku bawa buku tulis dua. Bagus. Buat kamu satu kata Mami.”
“Ibu juga bawa kue bolu yang baru dibuat. Kata Ibu kamu juga boleh ikut makan.”
Mereka berdua tertawa sambil masuk kelas.
Pensil itu sudah mereka lupakan. Persahabatan lebih utama.

**

Satu Kotak Teh Celup

majalah Girls

Mereka tidak pergi liburan seperti yang lain. Mereka hanya akan duduk menunggu. Tina dan Ibu yang akan menunggu. Menunggu semua saudaranya yang akan datang dari kota besar untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan Eyang Putri dan Eyang Kakung.
52 tahun, begitu yang Ibu bilang pada Tina soal usia pernikahan kedua eyangnya tersebut.
Mereka tidak pernah pergi pada saat liburan.
Mereka memang sejak dulu tinggal bersama Eyang di rumah kecil yang dibangun di samping rumah Eyang. Rumah kecil yang satu halaman dengan rumah milik Eyang. Rumah kecil yang tidak pernah bocor ketika Ayah masih ada. Tapi sekarang seringkali bocor tapi Ibu selalu bilang kalau rumah mereka tidak bocor pada Eyang.
Mereka akan datang.
Saudara-saudara Ibu dari kota. Dengan mobil bagus milik mereka. Mobil yang wangi parfumnya membuat Tina suka muntah dan Ibu jadi suka melotot diam-diam pada Tina karena sudah mengotori mobil itu.
“Semua akan bawa hadiah, Ibu?”
Ibu mengangguk.
Semua akan membawa hadiah. Saudara-saudara Ibu. Ada tiga orang semuanya. Tinggal di kota semuanya. Membawa mobil semuanya.
Tina suka bila mereka datang. Soalnya rumah Eyang jadi penuh makanan dan hadiah. Tina bisa makan apa saja tapi Ibu akan memarahi Tina kalau Tina sampai muntah karena kekenyangan.
Tidak ada lilin ulang tahun. Tapi selalu ada kue tart yang dipesan dari toko kue paling enak. Padahal Ibu bisa membuat kue itu tapi Ibu selalu bilang kue buatan Ibu tidak cocok untuk mulut orang kota.
“Ibu kasih hadiah apa?”
Ibu memandangi Tina.
Tina menunduk.
Sejak Ayah meninggal Ibu tidak punya apa-apa.
Ibu bekerja di toko kecil. Uang sekolah Tina dibantu oleh kakak dan adik Ibu.
“Ibu tidak bisa beli apa-apa?”
Ibu mengelus kepala Tina. Tina tidak tahu apa artinya.
**
Mereka sudah akan datang. Satu jam lagi. Sekarang sedang ada di toko kue. Begitu yang Eyang Putri bilang pada Tina dan meminta Ibu menyiapkan minuman sebanyak saudara yang akan datang.
Ruang tamu sudah bersih di sapu dan di pel oleh Ibu. Tirai jendela juga sudah Ibu ganti. Sarung bantal di rumah tamu juga begitu.
Semuanya Ibu yang mengerjakan.
Kalau mereka bawa hadiah, lalu Ibu memberi hadiah apa?
“Ibu….”
Ibu berdiri di hadapan Tina. Menyodorkan sesuatu.
“Ini apa?”
Ibu tersenyum. “Ibu seminggu yang lalu pesan pada teman Ibu yang kerja di kota. Ini teh kesukaan Eyang. Teh ini yang selalu Eyang minum ketika kita tinggal di kota. Teh seperti ini tidak ada di kota kita.”
Tina memerhatikan.
Iya, betul. Teh yang Tina pegang tidak ada di dapur Eyang. Eyang selalu bilang kalau Eyang ingin minum teh seperti yang dulu Eyang rasakan.
“Mahal, Ibu?”
Ibu tersenyum. “Mahal karena Ibu membelinya dengan kasih sayang…”
Tina memeluk Ibu.
**
Mereka sudah datang.
Dengan hadiah bertumpuk di sofa. Lalu ada bunga mawar di dalam vas yang biasanya Ibu isi dengan bunga melati.
Eyang Kakung dan Eyang Putri wajahnya berseri-seri.
Ada kue tart di atas meja. Tina suka coklat pada kue tart itu tapi tidak suka rasa bolunya karena lebih enak bolu buatan Ibu.
“Bunda aku kasih hadiah baju baru buat Eyang berdua…,” Audri yang bicara.
Tina diam. Baju Audri bagus. Pasti kalau Audri tidak suka baju itu akan diberikan pada Tina.
“Kalau Mami aku kasih selop…,” kali ini Tiara yang bicara.
Tina suka jepit rambut ungu di kepala Tiara.
“Aku kasih teh….,” ujar Tina.
Tina tahu, kedua saudaranya bingung mendengarnya.
Tina melihat Ibu tersenyum padanya. Pasti Ibu senang karena Tina tidak malu memberikan hadiah itu pada Eyang.
**
Mereka sudah pulang.
Mereka hanya menginap sehari. Lalu pergi lagi karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kota. Kalau hari libur, mereka akan memilih pergi ke luar negeri dan Tina bersama Ibu tetap tinggal bersama Eyang.
Hadiah yang banyak itu masih ada di ruang tamu.
Belum Eyang buka.
Yang ada di meja di hadapan Eyang Kakung dan Eyang Putri ketika mereka mengobrol di pagi hari adalah secangkir teh yang Eyang Putri buat sendiri.
Teh yang diambil dari kotak kecil teh yang Ibu hadiahkan untuk Eyang.
Tina tahu Ibu bahagia ketika melihat Eyang meminumnya sambil tersenyum.
Tina juga bahagia.

Bebas Seperti Oly

BOBO

Bebas seperti Oly. Bebas mau apa saja. Bebas mau berteriak. Bebas mau mandi hujan. Bebas mau jajan apa saja. Bebas seperti itu yang Winda mau. Kenapa Ibu tidak juga mau mengerti?
Winda mengkhayal sepanjang pelajaran sekolah.
Bebas seperti Oly itu bebas juga mau belajar apa tidak. Kenapa Ibu maunya Winda terus belajar?
“Jajan yang itu, Win…,” siang itu tangan Winda ditarik oleh Oly. Menuju Bang Jambrong. “Kamu mau apa?”
Winda menggeleng. Perutnya sudah lapar. Ibu maunya Winda pulang sekolah terus makan di rumah. Tidak pakai jajan.
“Permennya enak lho..”
Permen warna-warni. Diberi coklat yang lengket di permen kemudian dimasukkan ke dalam mesis warna-warni.
“Mau, ya?”
Sebenarnya Winda ingin mengangguk tapi sudah terdengar suara yang Winda kenal. Suara itu membuat Winda menggeleng cepat.
Ibu sudah datang menjemput. Suara klakson motornya sudah terdengar.
“Besok, ya…,” Oly berteriak.
Winda tidak berani mengangguk.
**
“Bebas seperti Oly? Wer….” Bagas tertawa. Lompat dari tempat tidurnya. Bruk. Suaranya keras karena kakinya menyentuh meja belajarnya. Ia tertawa dan menutupi mulutnya dengan tangannya.
“Kakak mau?”
Bagas mengangguk. “Mau…, bebas seperti Oly, kan? Tidak belajar, boleh main hujan sesuka hatinya, boleh jajan apa saja, boleh beli apa saja. Enak seperti Oly, ya?”
Winda mengangguk.
Semua teman di sekolah juga ingin seperti Oly. Rumah Oly besar. Oly punya semuanya. Papi dan Mami Oly juga baik. Buktinya Oly bebas mau apa saja. Itu artinya mereka baik, kan?
“Bebas seperti Oly itu…. Oi… Aku di sini…,” Bagas mulai berteriak. Tapi mulutnya cepat ditutup. Terdengar suara pintu kamar diketuk.
“Nak…, jangan berisik. Nanti Eyang bangun.”
Winda dan Bagas saling berpandangan. Lalu akhirnya tertawa.
“Bebas seperti Oly. Aku mau…,” bisik Bagas lagi sebelum Winda ke luar dari dalam kamarnya.
**
“Bebas seperti Oly?” kening Ayah berkerut-kerut. Koran yang ada di tangannya diturunkan. “Kalian mau seperti itu?”
Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Bebas tidak bikin PR, bebas mandi hujan, bebas jajan sembarangan, bebas mau mandi apa tidak, bebas main sampai sepuas hati?”
Winda dan Bagas mengangguk lagi bersamaan.
“Ayah punya lho teman seperti itu. Bebas. Sampai sekarang dia masih ada. Mau kenal?”
Lagi-lagi, Winda dan Bagas mengangguk bersamaan.
“Tukang minta-minta yang suka lewat di depan rumah kita yang sering Ayah ajak ngobrol…”
“Yang pakai topi hitam, Ayah?” tanya Winda penasaran.
Ayah mengangguk. “Dia dulu teman sekolah Ayah. Tapi inginnya bebas jadi hnya sampai kelas dua SD saja. Bebas terus sampai besar sampai-sampai…”
Winda dan Bagas kali ini menggeleng bersamaan.
“Bukan jadi seperti itu, Ayah..,” ujar Winda.
Tapi Ayah hanya tertawa.
**
Bebas seperti Oly. Sungguh meski Ayah bercerita tentang temannya di waktu SD tapi Winda masih ingin merasakan kesenangan seperti Oly.
“Di rumah tidak ada siapa-siapa. Cuma ada Bibik. Nanti pulang sekolah main ke rumahku, ya?”
Winda tertarik dengan kalimat Oly. Sepanjang jam pelajaran Winda memikirkan kata-kata Oly.
“Ayo…”
Ibu pergi siang ini. Kunci ada di tangan Kak Bagas. Tapi Kak Bagas ada latihan taekwondo siang ini.
“Ayo…, banyak mainan di rumah. Banyak makanan…”
Winda ikut berlari bersama Oly. Sudah mau hujan. Mendung tebal sekali.
“Bik…,” di depan rumah Oly berteriak. Pintu gerbangnya terkunci. “Kita naik ke atas pagar saja, ya?”
Winda belum menyahut ketika Oly sudah naik ke atas pagar rumahnya.
“Ayo…”
Winda mengikuti. Ujung pagar rumah Oly runcing. Terkena betis Winda. Tergores. Sakit.
“Aku punya obat merah kok..,” ujar Oly. Menarik tangan Winda menuju pintu.
Halaman rumah Oly kotor. Penuh daun-daun kering yang tidak disapu. Ada juga sampah yang dibuang begitu saja. Sampah plastik, sampah bekas bungkus roti, sampah kertas.
Kalau di rumah Ibu selalu menyapu bersih setiap sampah bergantian dengan Winda dan Kak Bagas.
“Sebentar. Kok…,” kening Oly berkerut.
Pintu rumah Oly sedikit terbuka. Sekelebat bayangan seseorang terlihat oleh Winda.
“Bik..,” Oly berteriak. Mendorong pintu rumahnya. Masuk ke dalam.
Winda sendiri tidak ikut masuk. Winda ragu-ragu.
Tiba-tiba.
“Tolong…”
Wajah Winda memucat. Suara Oly meminta tolong.
Winda cepat mencari tempat sembunyi dekat tempat sampah yang cukup besar.
**
Sepi.
Kenapa sepi? Jangan-jangan..
Sudah hujan. Winda tidak bisa berteduh. Air hujan itu turun dengan derasnya. Baju Winda basah semua. Tas Winda juga. Ah, prakarya yang baru setengah jadi pasti juga basah. Itu artinya Winda harus membuatnya lagi nanti.
Winda takut. Jangan-jangan Oly ditangkap penculik. Jangan-jangan…
Di dekat pintu pagar terlihat Bibik datang. Membuka gembok di pintu gerbang. Membawa payung di tangannya dan juga tas plastik. Mungkin Bibik habis berbelanja.
Winda tidak berani memanggil. Winda hanya melihat ketika Bibik berdiri di depan pintu lalu terlihat seseorang memakai topeng ke luar dan mendorong tubuh Bibik hingga jatuh. Bibik kaget. Orang itu cepat berlari ke luar.
“Non… Tolong…!”
Winda mendengar Bibik berteriak keras sekali.
**
“Ada pencuri yang masuk ke rumah Oly soalnya rumah Oly selalu sepi, Bu,” ujar Winda dengan tubuh mengigil pada Ibu.
Sesudah Bibik masuk ke dalam rumah dan berteriak minta tolong, barulah Winda berani ke luar dari tempat persembunyiannya. Ternyata di dalam rumah ada Oly yang diikat tangannya dan juga kakinya. Mulutnya diplester.
Bibik langsung menelepon orang tua Oly. Winda sendiri minta izin pulang karena sudah beberapa kali bersin-bersin. Tubuh Winda menggigil. Winda memang tidak bisa kena air hujan. Setiap kali kena air hujan, kepala Winda selalu menjadi pusing.
Segelas susu coklat hangat, air hangat yang Ibu masak untuk Winda mandi dan bolu kukus rasa coklat.
“Rumah Oly selalu sepi. Hi..,” Winda seperti orang yang ketakutan.
Kak Bagas memandangi. Memasang jurus taekwondonya. “Coba ada aku,” katanya. Lalu ciat…
Brak.
Sapu yang ada di dekat Kak Bagas jatuh. Winda tertawa melihat aksi Kak Bagas yang langsung diam karena melihat mata Ibu melirik pada Kak Bagas.
**
Bebas seperti Oly?
Sekarang Winda harus berpikir seribu kali untuk bebas seperti Oly. Apalagi waktu Oly datang ke rumahnya untuk berpamitan.
“Di rumah sepi. Papi dan Mami ke luar kota terus untuk kerja. Jadi aku akan pindah ke rumah Nenek saja di kampung,” kata Oly sambil menunduk.
Aih, Winda jadi sedih. Kehilangan satu teman itu tidak enak.
“Tidak enak seperti aku. Kesepian. Tidak ada yang melarang. Maunya punya Mami seperti Ibu kamu.”
Winda mendengarkan. Bahkan mengingat-ingat kata-kata Oly tadi sampai tubuh Oly menghilang dari pandangan Winda.
Bebas seperti Oly?
Tidak ah. Winda bersyukur masih punya Ibu yang perhatian dengannya.
**

Satu Gol Untuk Bunda

satu gol untuk bunda

“Satu gol saja untuk Bunda,” begitu yang Bunda katakan ketika Attar akan berangkat bermain bola. “Kamu bisa?”
Attar tidak menjawab.
Hari Minggu ini jadwalnya Attar berlatih bola. Seragamnya berwarna oranye dengan nomor punggung empat.
“Satu gol untuk Bunda. Setelah setahun kamu berlatih sepak bola, Bunda ingin kamu mencetak gol.”
Attar menunduk saja bahkan sampai Ayah mengantarnya ke tempat latihan sepak bola.
**
“Hi hi..,” Tinong tertawa waktu Attar bercerita soal keinginan Bunda. “Bunda kamu tidak pernah melihat kamu bertanding bola, kan?”
Attar mengangguk.
“Bilang saja kalau kamu sudah mencetak gol. Bukan cuma satu tapi dua.”
Attar memperhatikan Tinong. Betul juga apa yang disarankannya. Bunda kalau hari Minggu sibuk dengan pesanan kue, jadi jarang bisa melihat Attar bertanding. Kalau ia bilang sudah berhasil mencetak gol, pasti Bunda akan senang.
“Bilang saja begitu, ya..,” kata Tinong ketika mereka berpisah. Tadi tim mereka kalah tiga kosong oleh lawan yang datang ke lapangan mereka.
Attar tersenyum. Berterimakasih pada Tinong.
**
“Betul?”
Attar mengangguk.
Ketika ia pulang latihan, Ayah sedang pergi. Bunda masih ada di dapur. Harum kue buatan Bunda membuat perut Attar menjadi lapar.
“Betul kamu membuat satu gol?”
Attar mengangguk. Mengingat-ingat kata Tinong. Ia harus mengangguk dengan keras supaya bundanya bisa percaya. Tinong sering bohong pada mamanya dan mamanya tidak pernah tahu.
“Hebat,” kata Bunda. Menepuk pipi Attar. “Terimakasih ya.”
Attar mengangguk. Memandang wajah Bunda lalu berjalan masuk kamar.
**
Satu gol untuk Bunda itu terus teringat di benak Attar. Gol yang belum bisa ia buat meskipun sudah setahun berlatih sepak bola. Larinya tidak sekencang teman yang lain. Tendangannya juga tidak kuat seperti teman yang lain. Tapi ia suka bermain bola.
Satu gol itu yang membuat Attar terus memikirkan ketika malam. Bahkan kasihan pada Bunda yang masuk ke kamarnya dan memberikan kue bolu untuknya sebagai hadiah gol yang belum bisa ia ciptakan.
“Gol…..! Gol…!” suara itu ke luar dari mulut Attar. Ia mengigau dalam tidurnya.
Igauan itu begitu keras hingga Bunda masuk ke kamarnya dan membangunkannya.
“Kamu kenapa?”
Attar diam. Takut bicara pada bundanya. Tapi setelah bundanya ke luar dari dalam kamar, Attar merasa sangat bersalah.
**
“Gawang itu kecil, Nak. Jadi tidak semua pemain bisa mencetak gol.”
Pagi itu di dapur Bunda bicara. Mata Bunda memandang pada Attar.
“Maafkan Bunda, ya. Bunda tahu kamu berbohong karena takut mengecewakan Bunda.”
Attar belum mengerti.
“Kamu mengingau lagi setelah Bunda ke luar kamar. Dalam igauan itu kamu menangis dan mengatakan bahwa kamu bohong,” Bunda tersenyum menepuk pipi Attar. “Bunda yang salah. Kamu anak hebat karena tidak bisa berbohong.”
Attar menunduk. “Gol itu tidak ada, Bunda…”
“Tidak apa-apa. Gawang itu kan kecil. Kalau kamu berlatih terus menerus pasti bisa.” Bunda memeluk Attar.
Attar mengangguk. Gawang itu kecil tapi ia berjanji akan berlatih keras agar suatu saat Bunda bisa melihatnya mencetak gol.
**