Ayah, Aku dan Sekolah Kampung

IMG-20160226-WA0006

Tempatnya indah, jika aku berpikiran bahwa semua yang ada di depanku indah. Ruangannya besar, jika aku berpikir bahwa aku adalah seekor semut. Semua teman-temanku adalah orang hebat, jika aku tidak pernah menyombongan diri.
“Semuanya pasti akan menyenangkan,” ujar Ayah padaku.
Tiga minggu yang lalu kami pindah rumah. Ayah pindah tugas.
Rumah kami kecil berhalaman luas. Ayah memelihara kelinci juga ikan. Ibu memelihara banyak pohon bunga.
Aku sudah bersiap-siap. Sudah ada tas jahitan Ibu dan sepatu yang kemarin aku cuci. Ayah bilang, aku akan bertemu teman-teman baru.
Aku tidak suka ketika Ayah bilang akan pindah rumah. Teman-teman baikku memeluk dan menangis. Mereka memberiku banyak kado untuk kenangan. Semalam, aku menulis di buku harian tentang mereka.
“Sudah siap?”
Aku mengangguk.
Sekolah itu nanti pasti akan seperti sekolahku dulu. Banyak jendela besar dan setiap aku mulai bosan belajar, aku bisa menatap ke luar jendela. Lalu melihat kebun bunga milik sekolah, juga rumput-rumput yang tumbuh menghijau.
Biasanya aku juga bisa melihat tukang kebun yang rajin menyapu. Lalu sampah daun-daun kering itu dipisahkan untuk dijadikan pupuk.
Bila musim buah mangga dan pohon mangga di sekolahku berbuah banyak, setiap anak bisa membawa pulang satu mangga.
“Berdoa dan bahagia…,” ujar Ayah memintaku naik ke boncengan sepedanya.
Aku sudah mempersiapkan semuanya.
Aku nanti akan naik sepeda ke sekolah. Ayah sudah mempersiapkan sepeda untukku dengan boncengan yang empuk. Ayah bilang, biar aku bisa membonceng teman-teman yang membutuhkan. Tapi selama seminggu, Ayah akan mengantar dan menjemputku, sampai aku punya banyak teman.
Ayah berjalan lurus. Mengayuh sepedanya pelan-pelan.
Aku bisa melihat banyak rumah dengan pagar yang tinggi. Aku juga melihat jalan becek berbelok. Beberapa anak bermain di sana sampai bajunya kotor.
Aku bisa melihat sebuah rumah dengan buah mangga yang jatuh di halaman rumahnya. Tidak ada yang mengambil dan mangga itu sepertinya menjadi busuk.
Ayah berhenti. “Turunlah,” kata Ayah.
Aku turun. Mengikuti apa kata Ayah.
Sebuah gedung tua, plang nama sekolah yang tidak jelas. Halaman yang penuh tanah dan beberapa pohon di sudut halaman.
“Ini sekolahmu. Jadilah hebat…”
Aku memandangi Ayah. Sekolah itu tidak bagus.
“Kalau kamu bersyukur, maka segala yang tidak bagus akan menjadi bagus.”
Aku tidak tahu maksud Ayah. Ayah menggandeng tanganku dan masuk ke halaman sekolah.
Rasanya aku ingin kembali ke sekolahku dulu.
**
Mereka berlarian. Kelasnya kotor. Jendela tirainya tertutup debu. Jam di dinding mati.
Ayah sudah pulang. Aku masuk di kelas dengan 47 murid lainnya.
Aku melihat ada ember diletakkan di salah satu sudut kelas. Aku melihat ada air menetes dari atap. Mungkin untuk menampung air sisa hujan.
“Keluarkan buku kalian…”
Ibu Guru itu berdiri di depan kelas. Meminta kami membuka buku. Lalu menulis di papan tulis. Di belakangku ada anak yang sedang main tarik-tarikan buku. Lalu saling tertawa.
Di sebelahku ada anak yang sedang menghitung pakai jari. Aku melirik ke bukunya. Dia salah mengerjakan perkalian lima kali lima.
Di depanku ada anak yang sedang makan kuenya yang diletakkan di laci.
Ibu Guru itu bicara menerangkan. Tapi sepertinya hanya aku dan beberapa anak saja yang mendengarkan.
**
“Kalau melihat yang kotor, harus disapu biar bersih. Kalau melihat teman yang berbuat salah, tegurlah. Kalau…”
Huh, aku cemberut. Ayah tidak tahu seperti apa perasaanku. Aku sedih. Aku akan minta Ayah cari sekolah yang lain saja. Ibu hanya tersenyum seperti biasa, lalu memberi teh hangat di cangkir berwarna biru. Itu cangkir kesukaanku.
Tapi pagi ini Ayah mengantarku kembali. Pekerjaan Ayah bisa dikerjakan di rumah. Ada yang Ayah bawa di keranjang sepedanya. Koran bekas dan ember kecil. Ayah juga membawa baterai untuk mengganti jam yang mati di kelas.
Begitu sampai di sekolah, Ayah masuk ke kamar mandi untuk mengambil air. Lalu Ayah memasukkan koran itu ke dalam air. Dibuat bulatan agak besar.
Aku ikuti apa yang Ayah kerjakan.
Sekarang Ayah berdiri di dekat jendela kaca yang kotor. Koran basah itu Ayah gunakan untuk membersihkan debu di jendela. Tangan Ayah terus bergerak.
Sementara tukang kebun yang baru datang melihat apa yang Ayah lakukan, lalu ia akhirnya mengambil ember yang lain dan melakuan hal yang sama.
Aku juga. Tapi aku tidak membersihkan jendela. Aku ambil sapu di sudut kelas, Lalu menyapu.
Teman yang lain mulai membersihkan meja mereka. Ada yang mencari lap, ada yang memakai tisu yang ada di tas mereka.
Ayah tersenyum melihatku. Aku juga tersenyum.
Hari ini aku bisa melihat ke luar jendela. Ada burung yang bersarang di pohon. Mungkin besok perlu aku minta Ibu membawakan pohon, agar sekolahku menjadi lebih indah.
**

Tidak ada tempat yang buruk, tidak ada teman yang bodoh, kalau…., kalau aku mau berusaha untuk itu.
Siang ini, aku membonceng Rara. Tubuhnya gemuk. Ia suka jajan banyak. Dia juga tidak bisa naik sepeda. Aku mengajak Rara main ke rumah.
“Setiap Kamis, Ayah libur kerja,” kata Ayah. “Undang dua atau tiga teman kamu yang belum bisa baca dan berhitung, ya.”
Di sekolah kampung tempatku, ada tujuh orang teman yang ternyata tidak bisa membaca. Ada juga yang belum bisa perkalian padahal sudah duduk kelas lima.
Kemarin giliran Ibu mengajari Lila perkalian. Sekarang giliran Ayah mengajari Rara membaca.
“Ayah…”
Ayah ke luar rumah.
Aku menggandeng tangan Rara.
Dari arah dapur sudah tercium bau bakso buatan Ibu. Setelah belajar, pasti kami nanti akan makan dengan senangnya.
Tidak ada sekolah yang jelek, kalau kamu menjadikan sekolah itu bagus.
Aku tersenyum memandang Ayah, yang mulai mengajari Rara membaca.
Sekolah kampung tempatku menuntut ilmu, jendelanya sekarang sudah bersih. Dua hari sekali ada piket untuk membersihkan. Bukan hanya tugas anak-anak atau pak kebun. Bapak dan ibu guru juga bergantian melakukannya.
“Ayah kamu hebat,” begitu kata guru juga teman-temanku.
Yang aku tahu, aku bahagia punya Ayah yang hebat seperti ayahku.

**

Li yang ingin Serba Bisa

Bobo baru

Li selalu serba bisa. Li bisa menggambar dengan bagus dan mewarnainya dengan bagus juga. Li juga bisa olah raga dengan baik. Li bisa memanah dan berenang. Bahkan Li bisa juga bercocok tanam. Kemarin di sekolah, Li membawakan tomat-tomat hasil kebunnya yang ditanam olehnya.
“Li hebat,” ujar Rena pada ibunya.
Ibu mengangguk. “Kamu ingin seperti Li?”
Rena mengangguk. Rena belajar menggambar tapi Rena tidak bisa mewarnai sebagus Li. Rena bahkan juga tidak bisa matematika seperti Li yang selalu mendapat nilai seratus.
“Li punya rahasia?”
Rena kali ini seperti berpikir.
Ibu memberikan sepiring pisang goreng pada Rena. “Apakah Li bisa juga membuat pisang goreng seenak pisang goreng buatan kamu?”
Rena tersenyum. “Nanti aku tanya pada Li, Bu…”
**
Rahasia Li harus Rena selidiki. Rahasia kenapa Li selalu pintar semuanya. Rena hanya pintar membuat pisang goreng dan sedikit pintar main piano. Tapi Rena tidak berani untuk ikut lomba memasak di televisi meski Ibu menyarankannya. Rena juga tidak berani tampil di panggung tujuh belasan untuk main piano.
“Li…,” Sekarang Rena ada di samping Li.
Li menyodorkan kuenya.
“Kamu punya rahasia?”
Kue-kue yang ada di tempat makan Li berwarna-warni. Rena memilih mengambil yang merah, sesuai warna kesukaannya.
“Rahasia apa?” tanya Li tidak mengerti.
“Kamu selalu menang?”
Li tersipu lalu menggeleng. “Aku tidak bisa semuanya. Yang menang itu, yang aku bisa dan aku suka.”
Rena masih tidak mengerti.
“Aku suka menggambar dari kecil. Aku juga suka olah raga. Aku sering menang karena Mami sering ajak aku untuk ikut lomba. Aku tidak bisa yang lain.”
Sekarang Rena jadi berpikir.
“Aku tidak bisa masak pisang goreng, tapi kalau kamu mau mengajarkan, aku pasti mau belajar.”
Rena mengangguk. Ia mulai mengerti.
**
Li selalu serba bisa, itu kata teman-teman Rena setiap akan ikut perlombaan. Karena Li ikut, maka banyak yang tidak berani daftar lomba. Mereka sudah yakin kalah dari Li.
Minggu kemarin ada perlombaan masak. Li pernah ikut lomba juga. Tapi hanya jadi juara harapan. Rena baru kali ini akan ikut. Ibu di rumah sudah mengajarkan resep baru untuk Rena. Pisang campur keju dan diberi saus mayonase buatan sendiri.
“Kamu ikut juga?” tanya Li di sampingnya.
Rena mengangguk. Mereka sudah dapat nomor meja.
“Sudah berani untuk ikut lomba?”
Rena tersenyum, menganggukkan kepalanya. “Li pintar matematika, berenang dan menggambar. Tapi Li tidak pintar memasak, kan?”
Li mengangguk sambil tersenyum. “Tapi kalau aku mau berlatih terus, aku pasti bisa memasak juga.”
Rena mengangguk. Ibu juga bilang seperti itu. Semua yang kita bisa, agar bisa menjadi lebih baik lagi, harus dilatih terus-menerus.
Mereka sudah sampai di meja masing-masing. Juri sudah memberi aba-aba untuk memulai. Rena dan Li saling berpandangan dari mejanya masing-masing.
Lalu lomba dimulai. Pisang keju dengan mayonase di atasnya menjadi juara satu. Sedang pisang dengan tepung garing milik Li menjadi juara ke tiga.
“Aku tidak bisa semuanya, kan?” tanya Li setelah mengucapkan selamat pada Rena.
Rena mengangguk. Li tidak bisa semuanya. Tapi Li mau kerja keras dan belajar untuk semua yang Li tidak bisa.

**

Nasi Aking Buat Toto

Nasi aking- BOBO

Aldi cemberut. Nasi di piringnya masih tersisa. Lauk Ibu pagi ini tidak enak. Bukan ayam goreng seperti permintaan Aldi. Ibu hanya buat tempe goreng dikasih tepung. Aldi tidak suka makanan itu.
Susu di hadapan Aldi juga masih ada satu gelas utuh. Aldi tadi minum sedikit. Susunya bukan susu yang seperti Aldi pesan. Tapi susu kaleng yang rasanya terlalu manis dan tidak enak di mulut Aldi.
“Kamu buang nasi lagi?” tanya Ibu.
Aldi diam. Aldi melihat Ibu mengambil piring Aldi, lalu menaruh sisa nasi itu di atas loyang yang biasa dipakai untuk membuat kue.
Loyang itu nanti akan Ibu bawa ke lantai atas. Di lantai atas tempat biasa Ibu menjemur, tidak ada atapnya. Kalau matahari bersinar cerah, nasi sisa itu akan cepat menjadi kering.
“Masa setiap hari nasi kamu tidak habis?” Ibu menggelengkan kepalanya.
Aldi diam saja. Berdiri dari duduknya. Huh, sudah Aldi bilang kalau sarapan Aldi maunya makan ayam goreng, bukan tempe goreng.
“Aldi berangkat, Bu…,” Aldi mengeluarkan sepedanya.
**
“Aku juga kalau makan suka sisa, kok…”
Di sekolah Aldi bercerita pada teman yang lain soal lauk makannya di pagi hari.
“Mami aku buang aja sisa nasinya ke tempat sampah,” Rina bicara sambil mengunyah es krimnya.
“Iya Bunda aku juga. Buat apa dijemur?” tanya Rifka menggelengkan kepalanya.
Itu dia. Aldi juga tidak tahu. Kenapa Ibu suka sekali menjemur nasi yang sisa? Kenapa tidak dibuang saja. Nasi yang sudah kering itu namanya nasi aking. Ibu juga yang memberi tahu Aldi.
“Memangnya bisa dijual?” tanya Rina.
Aldi menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tahu.
**
Aldi memang tidak pernah tahu nasi itu untuk apa? Tapi ketika Aldi meletakkan sepedanya setelah pulang sekolah, Aldi melihat Ibu menyerahkan nasi itu untuk Toto. Toto dulu pernah jadi teman sekelas Aldi. Rumahnya di belakang sekolahan.
“Kemarin ada pemulung yang lewat, terus Ibu tawari nasi aking itu. Tapi karena bawaannya sudah banyak, anaknya yang disuruh mengambil. Katanya buat ayam peliharaannya.”
Aldi memandangi pungung Toto yang sudah pergi menjauh. Toto tadi tidak melihatnya. Ayam peliharaan Toto? Kening Aldi berkerut jadinya.
Dan kerutan di kening Aldi itu membuat Aldi tidak bisa tidur siang ini.
Aldi tahu di mana rumah Toto dan Aldi tahu kalau rumah Toto itu ada di pinggir kali. Di depan rumahnya hanya ada kali dan tidak ada kandang ayam.
Aldi bangun dari rebahannya.
“Mau ke mana?” tanya Ibu ketika melihat Aldi mengeluarkan sepedanya.
“Ke rumah teman, Bu. Sebentar saja. Boleh, ya?”
Ibu mengangguk.
Aldi penasaran dengan nasi aking itu. Aldi harus tahu.
**
Rumah Toto belum pindah. Masih di tempat yang sama. Aldi menaruh sepedanya agak jauh dari rumah itu. Aldi bisa pura-pura main ke rumah Toto atau pura-pura cari alamat rumah teman sekolahnya. Banyak teman sekolah Aldi, yang rumahnya dekat rumah Toto.
Aldi berjalan pelan. Hampir menuju rumah Toto. Lalu…
“Nasi kering yang tadi kamu dapat, dicuci dulu. Nanti Ibu masak buat makan kita.”
Aldi terus mendengarkan.
“Nasi itu bisa untuk makan kita sampai besok. Sampai Bapak punya uang buat beli beras.”
Aldi tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia melihat Toto ke luar membawa bungkusan nasi dalam plastik yang tadi Ibu beri. Lalu mata Aldi berkedip beberapa kali. Ia langsung berlari, mengambil sepedanya dan pulang.
**
“Berapa harga beras satu liternya, Bu?” tanya Aldi pada Ibu. Di piring depannya ada tempe dan tahu goreng juga sayur kangkung.
“Buat apa?”
Aldi menggeleng sambil tersenyum lalu makan dengan lahap tanpa tersisa.
Ibu mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
“Kalau beli beras di mana, Bu?” tanya Aldi lagi. “Di warung depan bisa, kan?”
Ibu mengangguk. “Kamu mau apa?”
Aldi hanya meringis.
Nanti Aldi akan buka celengannya, terus beli beras dua sampai tiga liter dan kasih ke rumah Toto.
Aldi juga janji tidak akan menyisakan nasi lagi sehingga Ibu jadi membuang nasinya.
Ini rahasianya. Aldi ingin hanya Aldi yang tahu dan Ibu tidak perlu tahu.
**

Kurcaci Ko dan Kabar Gembira

Bobo

Ko kurcaci bersepatu merah, selalu membuat seluruh kurcaci tersenyum bahagia. Ko bukan hanya datang untuk bersenang-senang, atau untuk bermain. Kurcaci Ko selalu membuat teman yang sedih menjadi gembira.
Hari ini Ko kurcaci mendatangi kurcaci Jeki yang sedang bersedih. Kue-kue buatannya yang biasanya berwarna merah, sekarang menjadi warna ungu.
“Kue ini pasti tidak akan ada yang suka,” keluh kurcaci Jeki.
“Boleh aku mencobanya?” tanya kurcaci Ko.
Kurcaci Jeki menganggukkan kepalanya. Memberikan satu kue untuk kurcaci Ko.
“Enak sekali. Rasa anggur…., ayo aku bantu menjualkan kue ini kepada kurcaci yang lain.”
Kurcaci Jeki membulatkan kedua bola matanya. “Benarkah itu? Tadi aku lupa memasukkan sari anggur ke dalamnya bukan sari strawberi.” Tangannya sekarang bergerak mengambil sedikit kue. Lalu ia melompat kegirangan. “Betul kurcaci Ko…,” kali ini ia memeluk kurcaci Ko.
“Sudah berani menjual kue ini?”
Kurcaci Jeki mengangguk lalu berlari cepat ke taman bunga, yang dipenuhi teman-temannya.
Masih terdengar suaranya yang keras. “Kue anggur. Rasanya enak sekali….”
Sekarang kurcaci Ko berjalan ke arah lain. Tugasnya di negeri kurcaci sebenarnya menjaga agar para kurcaci tidak saling bermusuhan. Tapi ternyata kurcaci Ko lebih dikenal sebagai kurcaci pembawa kabar gembira. Setiap kurcaci yang sedih, selalu dibuat tersenyum oleh kurcaci Ko.
“Kamu tahu, kurcaci lain mengatakan aku kurcaci yang tidak bisa tersenyum,” ucap kurcaci Sediha dengan mata memerah.
Kurcaci memelototkan matanya sambil menari. Tarian berputar-putar, naik turun dan hop…. , ia terjatuh. Kurcaci Sediha tertawa melihatnya.
“Oh maaf…, aku tidak bermaksud menertawaimu…,” ujar kurcaci Sediha.
“Tidak apa-apa. Itu artinya kamu bisa tersenyum dan juga tertawa,” kurcaci Ko memeluk kurcaci Sediha. “Lebarkan bibirmu dan sering-seringlah tersenyum,” nasihatnya sebelum pergi meninggalkan kurcaci Sediha.
Sekarang kurcaci Ko berdiam di atas dahan pohon. Kelopak matanya berkedip berkali-kali. Ah…, sebenarnya hari ini ia sedang bersedih karena satu pohon bunganya hilang semalam. Padahal bunga itu pemberian sahabatnya dari negeri jauh.
Di kejauhan ibu Ratu memandangi kurcaci Ko dengan tersenyum.
**
Tugas kali ini tidak sulit sebenarnya. Tugas dari ibu Ratu hanya membuat kurcaci Ko harus berjalan lebih jauh lagi.
Bukan, ibu Ratu bukan memintanya untuk menghibur kurcaci yang sedih, atau memberi mereka semangat. Ibu Ratu mengatakan tugas itu rahasia.
Kurcaci Ko tidak pernah mengecewakan ibu Ratu. Kurcaci selalu membuat semua tugas selesai dengan baik.
Untuk mencapai tempat yang dikatakan ibu Ratu, kurcaci Ko harus melewati hutan dan jalan berbatu. Tapi memikirkan ada kurcaci lain yang perlu ditolong, membuat kurcaci Ko terus bersemangat. Ia tidak mau memikirkan bunganya yang hilang lagi. Karena hanya akan membuatnya sedih dan membuatnya tidak bersemangat.
Di sebuah tanah lapang dipenuhi rumput, kurcaci Ko sekarang berdiri. Tempat itu sepi. Tapi…, tunggu. Ada yang bergerak dari berbagai arah. Kurcaci Ko mengamati.
Tiba-tiba segerombolan kurcaci mendekatinya. Di tangan salah satu kurcaci ada bunga seperti pohon bunga yang hilang dari rumah kurcaci Ko.
“Kejutan…,” ujar salah seorang kurcaci. “Ibu Ratu meminta kami ke sini untuk memberi kejutan. Di dekat sini, ada kebun bunga Rosa berwarna oranye seperti bunga milikmu yang hilang.”
“Benarkah?” kurcaci Ko bertanya seolah tidak percaya.
Sekarang, tangan kurcaci Ko ditarik para kurcaci lain. Mereka berlari sambil gembira menuju kebun bunga Rosa.
“Ibu Ratu bilang, kamu juga bisa sedih. Jadi kami semua ingin menghibur,” ucap kurcaci Jeki pada kurcaci Ko.
Kurcaci Ko tersenyum. “Terima kasih…”
Di kejauhan ibu Ratu tersenyum. Semua kurcaci sayang dengan kurcaci Ko. Ibu Ratu percaya, jika semua kurcaci sebaik kurcaci Ko, maka tanpa dipaksa semua teman akan rela membantu.
**

Kaina Bukan Nenek Sihir

Kaina

Majalah itu Kaina letakkan. Matanya mulai basah. Cerita di dalamnya Kaina tidak suka. Tapi kenapa teman-temannya bilang seperti itu? Mereka bilang Kaina tukang sihir. Mereka bilang Kaina tahu segalanya, padahal mereka belum cerita pada Kaina.
Waktu Woro mau menangis, karena digoda terus Irfan, Kaina marah pada Irfan. Kaina bilang kasihan Woro nangis. Tapi Woro bilang Kaina bohong. Padahal Kaina lihat mata Woro sudah merah.
Waktu Linda ditawari roti coklat dan Linda tidak mau, Kaina langsung memberikan roti keju-nya.
Kaina juga tahu dan memberikan Birin hadiah pensil warna pink.
Teman-teman di kelas bilang karena itu Kaina seperti nenek sihir. Kaina bisa tahu. Malah ada yang bilang, jangan-jangan Kaina bisa dapat juara satu karena Kaina selalu tahu soal ulangan yang akan Ibu Guru berikan.
Sekarang Kaina minum sirup di gelas yang tadi ia buat. Matanya memandang sirup itu. Tidak, tidak. Nenek sihir di cerita yang tadi Kaina baca kan bisa membuat sirup berwarna merah itu berubah menjadi warna hijau.
Di dekat Kaina ada cermin. Ia memegang hidungnya. Ih…, nenek sihir di cerita hidungnya panjang, terus suka pakai topi panjang juga. Bukan, Kaina bukan nenek sihir. Kali ini Kaina rasanya ingin benar-benar menangis
Malamnya buku itu Kaina pandangi.
“Nenek sihir?” tanya Ibu duduk di samping tempat tidur Kaina.
Kaina memeluk Ibu. “Mereka bilang begitu. Nenek sihir itu jahat, kan?”
Ibu tersenyum. Ada roti isi coklat yang Ibu bawa.
“Ibu beli di toko roti yang Kaina suka?”
Ibu mengangguk. “Tapi Ibu bukan nenek sihir…”
Kaina ingin bertanya tapi Ibu sudah ke luar dari kamarnya.
**
Bukan, Kaina bukan tukang sihir. Kaina sekarang berlari menuju Ardina yang sedang memegangi perutnya.
Sejak semalam Kaina memikirkan hal itu.
“Ada teh hangat buatan Ibu, kalau kamu masih sakit perut.”
Ardina menganggukkan kepalanya. Ia menerima teh yang Kaina tuangkan dari gelas termosnya. Lalu meminumnya.
“Kamu tahu?”
Kaina mengangguk. “Kamu suka cerita kalau pagi-pagi suka sakit perut, kan?”
Ardina mengangguk.
**
Sampai sekarang teman-teman masih bilang kalau Kaina itu seperti nenek sihir. Kaina bisa tahu segalanya. Kaina juga tidak tahu kenapa seperti itu. Kenapa ia bisa merasa kalau temannya ada yang sedang bersedih.
Ibu membuatkan coklat hangat kali ini.
“Ibu tahu jawabannya?” tanya Kaina penasaran.
Ibu mengangguk. “Karena Kaina ketika berteman selalu pakai hati.”
Kaina tidak mengerti.
“Kaina bukan sekedar berteman, tapi Kaina selalu memperhatikan kebiasaan teman-teman Kaina. Kaina ingat?”
Kaina mengangguk. Kaina tahu Linda memang sudah bosan dengan roti isi coklat, karena di rumahnya selalu sarapan dengan roti isi coklat. Karena itu Kaina berikan roti isi keju. Kaina juga pernah baca tulisan Woro di buku, kalau sebenarnya Woro tidak pernah suka digoda Irfan.
Kaina juga tahu kalau Birin sudah lama ingin pensil pink untuk hadiah adiknya. Birin beberapa kali Kaina lihat di toko pensil dan bertanya soal pensil itu, tapi tidak pernah jadi dibeli karena uangnya tidak cukup.
“Sekarang masih marah kalau dipanggil nenek sihir?”
Kania menggeleng lalu memeluk ibu. “Tidak apa-apa,” kata Kaina. “Nenek sihir yang baik hati…”

Kurcaci Timothi dan Nyonya Penyerobot

Kurcaci

Kurcaci Timothi cemberut. Kali ini ia kalah lagi. Padahal ia sudah berdiri nomor satu dekat gerobak bunga. Tapi kurcaci penjual bunga itu, justru memberikan bunga berwarna merah pada orang yang baru datang.
Satu, dua, tiga…. Kurcaci Timothi berusaha menghitung. Tadi, sebelum nyonya itu datang, sudah ada tiga kurcaci yang menunggu di depan gerobak bunga. Semua menunggu mendapatkan bunga yang mereka pilih. Tapi ternyata nyonya itu lebih dahulu yang diberi.
“Dia memang begitu…” Kurcaci di sampingnya berbisik.
Kurcaci Timothi melihat ke nyonya itu. Nyonya itu sudah memegang bunga sambil tersenyum. Tangannya siap masuk ke kantong dan mengulurkan lagi benih ke kurcaci penjual bunga. “Tambah lagi bunga yang warnanya kuning,” ujarnya.
Kurcaci Timothi memandang dua kurcaci lainnya. Ia bisa melihat kurcaci Jingga berubah wajahnya menjadi merah. Tadi kurcaci Jingga datang ke penjual bunga dengan wajah pucat. Katanya ia harus cepat sampai, karena karnaval bunga nanti, ia akan mempersembahkan rangkaian bunga berwarna kuning. Kalau terlambat ia hanya bisa mendapatkan bunga warna lainnya.
Kurcaci Lesu kelihatan sedih. Ia tidak berani bicara. Ia memang selalu begitu dan selalu mengalah.
“Lagi bunganya…,” ujar nyonya itu.
Kurcaci Timothi langsung melotot. Di negeri kurcaci, semua kurcaci selalu diajarkan untuk mengantari. Tapi nyonya itu….
“Aku duluan…,” ujar kurcaci Timothhi pada penjual bunga. “Ratu di negeri kurcaci pasti tidak suka dengan orang yang suka menyerobot….”
Benih untuk membayar bunga itu sudah dipegang penjual bunga. Nyonya itu memandangi kurcaci Timothi.
“Habis aku, kurcaci Jingga, lalu kurcaci Lesu.”
Kurcaci penjual bunga seperti ketakutan.
Nyonya itu melotot. Lalu dengan kasar mengambil benih bunga dari tangan kurcaci penjual bunga. Dan selanjutnya pergi.
“Terima kasih,” ujar kurcaci Jingga dan kurcaci Lesu bersamaan.
Kurcaci Timothi kesal melihatnya.
**
Nyonya penyerobot itu tubuhnya tinggi. Wajahnya selalu cemberut. Dan….., setiap kurcaci di negeri kurcaci tidak suka dengannya. Nyonya penyerobot selalu ingin menjadi nomor satu. Di pesta perayaan negeri kurcaci, ia akan mengusir kurcaci lainnya yang sudah mendapatkan kursi di depan untuk duduk di belakang, padahal dia datang belakangan.
“Dia punya ramuan yang bisa membuat mulut kita terkunci selamanya,” kata kurcaci Geli dengan sedih.
“Iya. Kami takut sekali.”
Kurcaci Timothi menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak takut. Ibu Ratu di negeri kurcaci selalu mengatakan, kalau kebenaran bisa mengalahkan keajaiban sebuah ramuan.
Nyonya Penyerobot sudah keterlaluan dan harus tahu kalau ia sudah salah.
“Aku berani…,” ujar kurcaci Timothi dengan suaranya yang lantang.
Ia memang berani melakukannya.
**
Di setiap tempat di mana ada kurcaci berjualan dan jualan itu laris manis, di situ pula Nyonya Penyerobot akan datang. Dia akan menyerobot antrian dan marah ketika diperingatkan.
Tapi kali ini kurcaci Timothi yang akan berdagang. Untuk perayaan pesta kembang api, Ratu negeri kurcaci menyerahkan satu gerobak berisi kembang api untuk kurcaci Timothi.
Pagi-pagi gerobak kurcaci Timothi sudah ada di taman. Beberapa kurcaci sudah datang mengantri di pagi hari. Ada sepuluh kurcaci yang mengantri. Kurcaci Timothi ingat kurcaci mana yang pertama kali datang.
Tiga kurcaci sudah dilayani. Dan… pada saat akan melayani kurcaci nomor empat tiba-tiba terdengar suara.
“Beli semua kembang apinya.”
Itu suara Nyonya Penyerobot. Tangannya menyodorkan benih bunga untuk membayar kembang api itu. Ditaruh di depan gerobak.
Kurcaci lainnya memandangi kurcaci Timothi. Ia hanya tersenyum saja. Sibuk membungkus kembang api. Ketika ia akan menyodorkan kembang api itu pada kurcaci yang sudah mengantri lebih dahulu, ada tangan lain yang mau mengambilnya. Tangan Nyonya Penyerobot.
Kurcaci Timothi menggeleng dan menepis tangan itu, lalu memberikan pada Kurcaci yang sudah menunggu.
Ketika kembang api lainnya sudah siap, lagi-lagi tangan Nyonya Penyerobot mulai beraksi, tapi kurcaci Timothi lagi-lagi tidak memberikan jatah kembang api itu. Kurcaci yang datang lebih dulu harus mendapatkan kembang api itu lebih dahulu.
Nyonya Penyerobot geram. Matanya mulai melotot. Tangannya sudah masuk kantong untuk menyebarkan ramuan yang bisa membuat mulut kurcaci terkunci.
Lalu ketika ramuan itu disebarkan ke atas kepala kurcaci Timothi, Nyonya Penyerobot menjadi terkejut sendiri. Mulutnya mau bicara tapi suaranya tidak ke luar.
Satu dua kurcaci yang membeli kembang api untuk pesta di negeri kurcaci sudah dilayani. Kembang api di gerobak Kurcaci Timothi juga sudah habis.
Sekarang kurcaci Timothi akan menutup gerobaknya. Nyonya Penyerobot masih ada di dekatnya. Mulutnya masih mencoba bicara tapi tidak bisa.
“Ayo kita pulang…,” kurcaci Timothi menggandeng kurcaci lainnya sambil tersenyum.
Ramuan itu memang mengenai Nyonya Penyerobot sendiri. Ratu di negeri kurcaci sudah mengatakan hal itu.
Ramuan itu hanya berguna untuk dua hari saja. Tapi kurcaci Timothi yakin, setelah itu Nyonya Penyerobot akan mulai belajar untuk mengantri.
**

Tante Pembenci Daun

Majalah Girls

Loli menamakannya Tante Pembenci Daun, sama seperti teman-teman yang lain. Julukan yang buruk, Ibu selalu bilang seperti itu. Tapi diam-diam Loli dan teman-teman yang lain, tetap memberikan julukan itu.
Tante Pembenci Daun, tidak memiliki satu batang pohon pun di halaman rumahnya. Rumahnya kecil berwarna merah jambu. Halamannya luas tidak dihiasi rumput juga tumbuhan. Halaman luas itu bersih dengan keramik berwarna biru.
Rumahnya ada di seberang sekolah. Setiap anak-anak berangkat sekolah, Tante Pembenci Daun akan berdiri di depan pintu rumahnya sambil memegang sapu. Kalau ada sedikit sampah daun yang diterbangkan angin, maka ia akan cepat-cepat membersihkannya.
Toto cerita, ia pernah kena marah, ketika tidak sengaja daun pisang yang dijadikan mainan bersama teman yang lain, terlempar ke rumah itu.
“Kenapa mesti ada Tante Pembenci Daun…,” Loli cepat menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala. Ibu tidak suka kalau Loli member julukan buruk pada orang lain. “Kenapa ada orang yang tidak suka daun?” tanya Loli akhirnya.
“Karena setiap orang punya pengalaman masing-masing dalam hidupnya,” Ibu berdiri dari duduknya.
“Maksud Ibu?”
“Tante yang membenci daun, siapa tahu seperti itu juga. Dia tidak suka daun, mungkin saja karena capek, dulu ketika kecil diberi tugas menyapu kebun.”
Loli berpikir lalu mengangguk. Loli juga ngeri dengan ulat bulu. Karena dulu pernah kejatuhan ulat bulu dan seluruh badannya jadi gatal.”
“Pasti ada sebabnya…,” ujar Ibu melangkah pergi.
**
Tante Pembenci Daun. Diam-diam Loli suka memandang ke arahnya. Ibu bilang, Loli harus tahu dengan menyelidiki langsung. Pintu rumah itu hanya terbuka di pagi hari.
Pintu gerbangnya memang hanya setinggi bahu Loli. Tapi pintu gerbang itu tertutup rapat. Pintu rumah dan jendelanya juga.
Ayah tertawa ketika Loli bercerita tentang Tante Pembenci Daun.
“Ayah pernah membenci sesuatu?” tanya Loli penasaran.
Ayah tertawa.
“Kenapa Ayah tertawa?”
“Karena Ayah pernah membenci palang kereta api, gara-gara dulu ketika main kepala Ayah pernah terkena palang sampai benjol. Palang itu sudah tua dan jatuh.”
Sekarang ganti Loli yang tertawa.
“Tapi teman Ayah sangat suka palang. Teman Ayah itu suka berdiri dekat perlintasan kereta api, untuk memandangi palang yang turun naik.”
Loli kembali tertawa.
“Bahkan teman Ayah itu, cita-citanya kalau sudah besar ingin menjadi palang kereta api.”
Kali ini Loli jadi tertawa terbahak-bahak mendengarkan kalimat Ayah.
“Kalau Ibu itu membenci daun, pasti ada hal lain yang membuat ia suka sesuatu.”
“Apa itu?”
Ayah menggeleng. “Anak Ayah yang baik hati, harus bisa menyelidikinya, ya.”
Loli mengangguk.
**
Hari ini Loli ada di depan rumah itu. Masih pagi. Biasanya ketika Loli berangkat pagi-pagi, pintu pagar itu terbuka, lalu Tante Pembenci Daun itu, akan menyapu rumahnya juga jalan di depan sekolah Loli, yang banyak sampah. Loli bisa melihat halaman rumahnya yang bersih.
“Tante…,” Loli mendekat. Menyodorkan bunga mawar. Loli sudah memikirkan dari semalam, dan Ibu menyetujui apa yang Loli inginkan. Memberi bunga mawar pada Tante itu. Tante itu memandangi Loli seperti tidak mengerti.
“Hari ini aku ulang tahun..,” ujar Loli. “Ibu bilang setiap aku ulang tahun, aku harus membuat orang lain bahagia.”
“Jadi…”
“Bunga ini untuk Tante. Kalau Tante mau menanamnya, di rumah banyak pohon bunga.”
Tante itu memandangi Loli. Lalu tersenyum. “Kamu mau masuk?”
Loli terkejut.
“Di rumah Tante di halaman belakang sebenarnya ada banyak pohon bunga.”
Loli ikut masuk ke dalamnya. Rumah yang bersih.
Mereka ke halaman belakang. Benar, di halaman belakang itu, ada banyak pohon bunga, di dalam pot.
“Jadi Tante tidak membenci daun?” tanya Loli penasaran.
Tante itu menggeleng. “Tante hanya tidak suka daun yang membuat orang lain jadi susah.”
Loli mendengarkan.
“Setiap rumah di sini punya pohon tinggi yang daunnya selalu mengotori jalanan. Sayangnya mereka hanya menyapu halaman rumah mereka saja, tidak ikut menyapu jalanan yang kotor karena sampah daun.”
Loli mengangguk, ia mengerti sekarang.
“Penjaga sekolah kamu jadi repot setiap hari harus menyapu jalan depan sekolah, kan?”
Tante itu benar. Loli jadi malu sendiri.
“Selamat ulang tahun…,” ujar Tante itu. “Kamu mau pilih pohon bunga yang mana? Tante kasih untuk hadiah kamu.”
Loli memandangi banyak pot bunga di dekatnya.
Ibu benar, tidak boleh memberi julukan buruk pada orang lain, sebelum tahu kebenarannya. Loli berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
Tante Pembenci Daun itu akan Loli ganti menjadi Tante Baik Hati.

**

Emak Tia yang Hebat

Kompas anak

Tia menggelengkan kepalanya pada Arumi. “Tidak main. Mau belajar sama Emak.”
Arumi yang main ke rumah Tia terlihat sedih. Ini sudah kesekian kalinya Tia menolak bermain dengan mereka.
Tia selalu bilang mau belajar pada Emak. Padahal Arumi tahu, setelah itu Tia pasti akan pergi. Mungkin pergi ke rumah saudaranya atau pergi ke tempat lain. Tia tidak duduk membaca buku atau menulis di buku tulis seperti yang suka dilakukan oleh Arumi dan teman yang lain.
Setelah itu Tia akan bercerita tentang perjalanannya bagaimana membeli karcis kereta atau karcis bus.
Atau Tia tidak kemana-mana tapi di rumah saja. Tapi Tia bilang ia baru belajar sesuatu hingga Arumi menjadi bingung.
“Besok besok saja, ya,” ujar Tia sambil tersenyum.
Arumi mengangguk. Ia berjalan pulang dengan wajah kecewa.
**
“Belajar dengan Emak?”
Arumi menganggukkan kepalanya. Ia melihat Ibu yang mengerutkan keningnya sambil mengoleskan roti ke atas mentega.
“Apa emaknya Tia seorang guru?”
Arumi menggeleng.
Emaknya Tia di rumah saja. Banyak buku di rumah. Arumi pernah lihat emaknya Tia sedang membaca buku. Tapi emaknya Tia bukan seorang guru.
“Mereka belajar apa?” tanya Ibu dengan kening berkerut.
Arumi menggeleng. “Tapi Tia selalu tahu banyak hal, meski dia tidak les seperti aku.”
Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau emaknya Tia bisa mengajari Ibu buat kue, Ibu juga mau belajar,” kali ini Ibu mencubit pipi Arumi.
Arumi menganggukkan kepalanya dengan senang.
**
Mata Tia memandangi Emak. Pelajaran dari Emak hari ini Tia sangat suka. Emak akan mengajarkan Tia membuka kue bolu kukus. Kue-kue itu nanti akan dikukus dan mekar. Warnanya sudah disiapkan. Tia ingin bolu kukusnya berwarna merah campur hijau.
“Siap?”
Tia menganggukkan kepalanya. Tia sudah cuci tangan. Semua bahan sudah dipersiapkan termasuk telur dan juga air soda.
“Tia ingin mencatat atau mengingatnya saja?”
Tia memilih mencatat. Karena Tia suka lupa takaran untuk kuenya. Emak selalu membolehkan Tia mencatat atau mengingat saaj. Emak juga bilang Tia harus melakukan percobaaan berulang-ulang.
Emak mengajarkan Tia cara memecahkan telur. Emak juga mengajarkan cara menyalakan mikser pengaduk adonan.
Emak sering bilang memulai sesuatu yang baru, namanya belajar juga. Tidak selalu di sekolah. Tidak juga selalu pegang pulpen atau buku.
“Aku nanti bisa punya toko kue, Mak?” tanya Tia.
Emak mengangguk.
“Aku mau bikin toko kue yang kuenya enak-enak.”
Emak tersenyum. Emak sekarang meminta Tia menekan tombol mikser pada angka tiga. Telur, gula dan pengembang kue tercampur jadi satu.
“Ini pelajaran membuat kue ya, Mak?” tanya Tia sambil tersenyum. “Nanti teman-temanku bisa belajar juga?”
Emak mengangguk. Mulai berdiri di depan kompor. “Kamu atau Emak yang menyalakan kompor?”
Tia sekarang berdiri dari duduknya. “Aku…,” ujarnya dengan semangat.
**
“Aku belajar buat kue tadi sama Emak…,” ujar Tia sore itu sambil menyodorkan kue bolu kukus yang mekar pada Arumi dan teman yang lain. “Besok aku mau diajarkan merajut sama Emak.”
Arumi mencicipi kue itu. Enak sekali kue buatan emaknya Tia.
“Besoknya lagi aku juga mau diajarkan cara membuat rak buku dari kertas Koran. Kamu mau ikut belajar juga di rumahku?”
Arumi menganggukkan kepalanya. “Aku mau..,” ujarnya dengan semangat.”Ibuku juga mau..,” kali ini Arumi tertawa senang membayangkan ia dan Ibu akan belajar dengan emaknya Tia.
**

Sepuluh Tusuk Sate

Cerita di Bobo baru

Untuk kesekian kalinya Ardi menggambar sepuluh tusuk sate. Gambar itu ia beri warna dan ia pandangi. Gambar sepuluh tusuk sate di atas piring, di sampingnya ada botol kecap bergambar burung kenari.
“Tabungan kamu belum cukup juga?”
Ardi menggelengkan kepalanya. Tabungannya baru sedikit.
Sepuluh tusuk sate itu sate ayam yang Ardi suka. Akan Ardi makan sendiri terus…
“Aku tidak suka sate,” Kak Bondan menggelengkan kepalanya. “Tapi kalau dikasih mau…,” ia meleletkan lidahnya.
Ardi melotot pada kakaknya.
**
Sepuluh tusuk sate bisa dibuat sendiri. Itu yang dikatakan Amran pada Ardi. Amran bilang, Ardi tinggal beli tusuk satenya terus beli ayamnya, terus nanti dipotong kecil-kecil. Tapi itu susah.
Ardi cuma ingin makan sate buatan Mang Udi. Sate buatan Mang Udi itu enak sekali rasanya. Enak juga bumbunya. Apalagi sambel kecapnya yang ada irisan bawang merah dan cabe rawit juga tomatnya.
Karena itu hari ini setelah membuka celengannya, Ardi menghadap pada Ibu.
“Uangnya sudah cukup, Ibu!” ujar Ardi bersorak kegirangan.
Ia sudah menghitung. Uangnya sudah cukup. Ardi bisa membeli sepuluh tusuk sate, terus nanti akan ia makan di bawah pohon jambu. Sendiri? Iya sendiri saja tidak boleh ada yang minta, soalnya Ardi beli pakai uang sendiri.
“Uangnya sudah cukup. Betulkan tigabelas ribu harga sepuluh tusuk sate?”
Ibu mengangguk. “Kalau kamu mau buat yang lebih banyak lagi, Ibu bisa belikan ayam separuh. Kamu bisa dapat dua puluh tusuk sate.”
“Ibu bisa buat bumbu seenak itu?’
“Ibu dulu pernah juga kok diajari Nenek.”
“Ibu sungguh bisa?”
Ibu mengangguk lagi.
“Aku mau…!” Ardi melompat girang. “Jadi dua puluh tusuk sate, ya.”
Ibu tersenyum.
**
Hari ini Ardi menyiapkan semua peralatan ke halaman belakang di bawah pohon jambu. Kak Bondan datang membawa arang. Kak Bondan bilang, dia mau sate juga dan mau diberi lima saja.
Uang tabungan Ardi sudah diberikan pada Ibu semua. Ibu menambah untuk membeli satu ekor ayam bukan setengah. Soal tusuk sate, Ibu punya persediaan banyak.
“Ini bisa jadi banyak, Bu?”
Ibu mengangguk. Menyiapkan tempat pembakaran sate yang sudah diisi arang. Kak Bondan sudah siap dengan kipasnya.
“Aku bisa makan banyak sate, Bu?”
Ibu tersenyum. “Apa enak makan sate sendiri?”
Ardi tersenyum sambil berpikir. Lalu ia mengangguk. “Perutku kuat kok, Bu.”
Ketika sedang asyiknya membakar sate bersama Kak Bondan, Ardi mendengar suara-suara muncul dari balik tembok. Mereka mulai kelihatan kepalanya dan sekarang sedang tertawa. Mereka itu teman bermain Ardi.
“He he…, satenya bau wangi sampai empang tempat kami main,” ujar Laila pada Ardi.
“Iya…,” Bimo meringis.
Ardi memandang Ibu.
“Ada tiga puluh tusuk sate,” ujar Ibu. “Ada nasi yang cukup banyak yang Ibu buat. Ada…”
Ardi memandang teman-temannya. Teman-teman itu teman baiknya. Suka bermain bersama. Suka nakal juga bersama-sama.
“Boleh makan satenya tapi jangan banyak-banyak, ya…,” ujar Ardi membuka pintu halaman belakangnya.
Teman-temannya bersorak.
Sore itu, Ardi makan sate bersama teman-teman. Bukan sepuluh tusuk sate tapi cuma tiga. Karena sate-sate itu harus disakan untuk Ayah juga diberikan untuk tetangga yang mencium wangi sate.
“Enak?” tanya Ibu pada Ardi.
Ardi mengangguk sambil tersenyum. “Kapan-kapan teman-teman mau patungan bikin sate ayam. Mereka minta ibu yang buat satenya. Ibu mau, kan?”
Ibu mengangguk.
Sepuluh tusuk sate dimakan sendiri pasti tidak enak. Tapi tiga tusuk sate yang dimakan bersama teman baik, pasti akan terasa lebih lezat. Ibu bersyukur Ardi mulai tahu akan hal itu.
**

Musim Batu Akik

DSCF3074

Batu itu berwarna biru. Biru muda seperti warna kesukaan Virna. Selain batu berwarna biru itu, ada batu lain yang juga berwarna hijau dan juga ungu.
Batu-batu itu berbentuk seperti batu genteng yang suka Virna pecahkan sedikit, untuk bermain batu lempar bersama teman-teman yang lain.
Virna memandangi batu itu. Virna menyentuhnya. Warna biru itu bercahaya ketika sinar matahari masuk dan mengenai batu itu.
Tangan Virna bergerak ingin mengambil batu itu, ketika sebuah suara kedengaran dari arah jendela.
“Aku kasih tahu Kakek, lho…”
Virna cemberut. Kak Vino selalu begitu.
“Itu batu untuk dijual Kakek…,” ujar Vino sekarang kepalanya ada di dekat jendela. “Kalau laku uangnya buat beli sepeda aku.”
Virna cemberut.
Batu itu bermacam-macam. Warnanya juga banyak. Tapi hanya warna biru yang Virna suka.
**
“Cuma batu?” tanya Aifa pada Virna ketika ia menceritakan tentang batu itu.
“Batu itu mahal. Kakekku dapat dari temannya…”
Aifa menggeleng. “Kalau Kakek aku suka dengan kambing dan sapi. Kakek bilang, kalau kambingnya beranak banyak, aku boleh pelihara satu. Nanti kalau sudah besar, terus kambingnya laku, uangnya bisa aku tabung.”
Virna menganggukkan kepalanya. Aifa suka mengajak Virna ke rumah kakeknya yang tidak jauh dari rumah Virna. Ada sapi juga kambing di sana.
“Batu tidak bisa dimakan…”
“Tapi bisa jadi cincin, bisa jadi kalung, bisa jadi…”
“Tidak bisa bikin kenyang, kan?” sambar Aifa lalu menarik tangan Virna. “Kemarin kambing Kakek aku ada yang laku. Yuk…, aku ajak makan bakso.”
Virna menganggukkan kepalanya. Perutnya memang sudah lapar.
**
Batu itu cantik sekali. Di majalah yang Kakek baca, Virna tahu batu-batu itu bisa dibentuk dijadikan bandul untuk kalung atau untuk cincin.
Batu akik, begitu yang ada di majalah. Harganya mahal.
Virna suka dengan yang warna biru. Kalau Kakek mau memberikan pada Virna, Virna pasti senang sekali.
Sekarang Virna sudah menghadap Kakek.
“Kakek tahu…,” jemari tangan Virna terulur. Lalu Virna mengambil tangan Kakek. Ada satu cincin dengan batu akik yang Kakek pakai.
“Aku mau cincin seperti ini. Batu yang warnanya biru terus…”
Kakek tertawa. Virna sampai bisa melihat gigi Kakek yang sudah ompong. Lalu Kakek menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Virna.
Kakek menggelengkan kepalanya lagi. “Rahasia….”
Virna cemberut. Kakek main rahasia.
**
Meja di kamar Kakek sudah tidak ada batu lagi. Biasanya Kakek menyimpan batu-batu itu di dalam toples yang Kakek isi air. Virna tidak tahu isi air itu. Yang Virna tahu batu warna biru itu juga sudah tidak ada lagi.
Mungkin Kakek menyimpannya di tempat lain. Mungkin..
“Mbek….”
Virna kaget. Dari luar terdengar suara mengembik bersahut-sahutan.
“Mbek…, mbek…..”
Virna berlari ke depan. Ada Kakek yang baru masuk pintu pagar dengan membawa dua kambing. Kakek tersenyum pada Virna.
“Batunya semua dibeli teman Kakek. Uangnya Kakek belikan kambing buat dipelihara. Kamu mau bantu, kan?”
Virna menganggukkan kepalanya.
Kambing itu terus mengembik.
“Nanti kambingnya bisa disate ya, Kek?” tanya Kak Vino yang langsung bergabung ikut memberikan daun pada kambing itu.
Kakek tertawa.
Dalam sekejap kambing-kambing itu sudah membuat Virna lupa akan batu berwarna biru.
**