Ibu Sungguh Menyebalkan

Ibu sungguh menyebalkan buat Attar. Ibu ingin tahu semuanya. Ibu cerewet. Ibu maunya rapi. Ibu tidak mau ada barang berantakan di rumah. Ibu tidak mau ada gelas yang tidak ditaruh di tempatnya.
“Hape…”
Attar cemberut.

Setiap malam Senin Ibu akan menyita telepon genggam milik Attar. Ibu akan menyimpannya sampai hari Jumat. Setelah itu baru diberikan pada Attar. Tapi tidak bisa sepuasnya. Ibu sebentar-sebentar akan masuk kamar lalu mengingatkan. Aapakah Attar sudah mandi. Atau Attar sudah makan? Atau Ibu akan melotot, lalu bilang akan menyita telepon genggam Attar lagi, jika melihat Attar tidak bergerak dari atas tempat tidurnya.
“Jangan buang-buang waktu…,” itu yang Ibu bilang.

Huh. Padahal di telepon genggam, Attar bisa ngobrol sepuasnya dengan teman-temannya. Bisa janjian untuk pergi berenang. Bisa juga melihat banyak film kartun yang dilarang terlalu lama menontonnnya di televisi oleh Ibu. Ibu bilang film yang banyak adegan berkelahinya akan membuat Attar jadi kasar.
Sekarang Attar memandangi mi goreng di mejanya. Mulutnya cemberut. Kenapa, sih, Ibu tidak seperti Ibu temannya yang lain? Kenapa, sih, Attar tidak bisa bebas main ha pe seperti yang lain?
“Ibu punya buku baru…”
Attar tambah cemberut. Buku baru itu artinya nanti Attar diminta membaca sama Ibu. Terus nanti masih ditanya isi buku itu.
Attar menggeleng cepat. “Aku mau main game,” kali ini tangannya cepat memasukkan mi ke dalam mulutnya.

**

Ibu memang menyebalkan. Ibu membuat Attar tidak bisa sama seperti teman yang lain. Ibu memberi Attar uang saku bulanan, dan Attar harus belajar mengaturnya. Ibu tidak mau memberi tambahan lain lagi. Padahal gara-gara uang saku tanpa tambahan itu, Attar pernah tidak bawa uang sama sekali ke sekolah. Gara-gara uang sakut Attar sudah habis semua untuk beli kaos klub bola yang Attar inginkan.
“Yah begitulah Ibu,” ujar Ayah sambil makan nasi goreng buatan Ibu. Ada irisan mentimun di nasi goreng itu. Biar Ayah tambah sehat, begitu yang selalu Ibu bilang.
“Buuu, nanti aku pulang sekolah dijemput siapa?” Bilqis bertanya sambil minum segelas susu coklat. Ada roti di dekat gelas itu.
Attar cemberut. Pagi ini Ibu melarang Attar beli nasi uduk. Ibu bilang Ibu sudah masak nasi goreng dan ada roti juga susu. Jadi Attar tidak boleh jajan.
“Jangan lupa, nanti langsung pulang, ya,” ujar Ibu.
Attar semakin cemberut.

**

Ibu sungguh menyebalkan. Kemarin, kemarin dulu, kemarinnya lagi juga begitu.
Sekarang Attar menatap ke luar jendela kamarnya. Matahari sudah bersinar terang. Attar bangun terlambat. Tirai jendela masih tertutup padahal matahari sudah tinggi.
Tidak ada kotak bekal makanan. Ayah juga bangun kesiangan. Ayah bilang nanti akan ditelepon catering dari sekolah, agar Attar dapat jatah makanan catering.
“Baju olah ragaku mana?” tanya Attar yang sekarang berdiri di depan lemari pakaian.
Baju olah raga di hari Sabtu kemarin sudah ia masukkan ke dalam mesin cuci. Biasanya di hari Minggu semua baju seragam akan selesai Ibu cuci dan setrika dan sudah berderet di dalam lemari.
“Ya ampuuun, Ayah lupa,” ujar Ayah menepuk keningnya.
Attar lihat Ayah lalu berlari ke atas. Mengaduk-aduk mesin cuci. Lalu membawanya. “Pakai lagi, ya. Sekalian kotor.”

Attar mengerutkan hidungnya. Bau keringat di baju itu belum hilang. Attar lihat Ayah menyemprotkan pewangi pakaian di baju olah raga itu. Hari ini terpaksa Attar memakainya.
Sampai di sekolah Attar lupa membawa PR Bahasa Inggris.
Tadi di sekolah Attar dihukum menulis di papan tulis. Attar juga hampir berkelahi dengan temannya yang mengatakan bajunya bau.
Sekarang Attar sudah sampai di rumah. Tadi ia mengayuh sepedanya dengan cepat. Hari ini Ibu akan pulang. Pekerjaan Ibu ke luar kota selama empat hari sudah selesai. Ibu akan bekerja dari rumah lagi, menemani Attar belajar, memasak untuk semua yang di rumah.
Dari depan pagar, Attar melihat sepatu biru milik Ibu.
“Buuu..,” kali ini Attar berteriak.
Attar sudah kangen Ibu. Meskipun Ibu terkadang menyebalkan.
**

Satu Lomba Saja

Satu lomba saja

Ibu kalah lagi. Sebulan belakangan ini, Ibu sering bilang seperti itu. Ibu ikut lomba dan “Ibu kalah lagi…”
Aime melihat ke arah Ibu yang berdiri di depan pintu. Wajah Ibu kelihatan sedih.
“Kue buatan Ibu padahal sudah enak, loh. Tapi ternyata ada yang bikin kue lebih enak
lagi.”
Aime dan Ayah kali ini saling berpandangan.
Ibu kalah lagi. Dari mulai lomba merangkai bunga, sampai lomba memasak.
Ibu berjalan menuju Aime. “Sudah dicatat?”
Aime mengangguk. Ibu memang menugaskan Aime untuk mencatat, sudah berapa kali Ibu ikut lomba, dan sudah berapa kali Ibu menang lomba. Tapi dari yang Aime catat, belum sekali pun Ibu memenangkan lomba.
Ibu tersenyum pada Aime. “Ibu akan belajar lagi,” ujar Ibu.
Ibu akan belajar lagi. Wah, Aime sudah membayangkan Ibu akan sibuk mengerjakan banyak hal.
“Pilih satu lomba saja,” ujar Ayah sambil mengisi majalah teka teki silang.
“Kenapa harus satu lomba, Yah?” Aime kali ini bertanya.
Ayah tersenyum. “Biar lebih konsentrasi.”
Ibu seperti berpikir. Lalu mengangguk. “Ayo….,” kali ini tangan Ibu menarik tangan Aime. “Ibu mau bikin kue bolu karamel,” ujar Ibu sambil tersenyum.
**

Poster lomba itu ada di depan sekolah Aime. Warnanya oranye. Ada orang sedang memegang mik di sana.
“Bunda aku mau ikut,” ujar Lola pada Aime.
Aime tahu, bundanya Lola itu memang suaranya bagus.
“Ibu kamu suka ikut lomba juga, kan?”
Aime mengangguk. Ibu suka ikut lomba. Lomba apa saja. Lomba masak soto, lomba menjahit juga lomba menyanyi.
“Ibu kamu mau ikut?”
Aime belum tahu, tapi nanti sampai di rumah Aime akan memberitahukan lomba itu pada Ibu.
“Ada lomba nyanyi,” ujar Aime ketika sampai di rumah.
“Bintang kecil…” Ayah mulai bergaya menyanyi.
Aime tertawa melihat gaya Ayah. Ayah memegang sisir dan menjadikannya sebagai mik. Suaranya dibesarkan.
“Lombanya buat Ibu,” ucap Aime. “Ibu kan yang suka ikutan lomba.”
Tapi ketika Aime melihat pada Ibu, Ibu menggelengkan kepalanya.
“Ibu hanya mau ikut satu lomba saja,” ujar Ibu. “Ibu cuma mau ikut lomba masak.”
“Benar?” tanya Ayah.
Ibu mengangguk. “Satu lomba saja sampai berhasil,” ujar Ibu bersungguh-sungguh.
Aime dan Ayah saling berpandangan. Tapi Aime lihat, dua jempol Ayah diangkat tinggi-tinggi.
**
Ibu hanya memilih satu lomba saja. Lomba memasak. Ibu hampir setiap hari berlatih memasak. Masakan Ibu sekarang jauh lebih enak dan lebih bagus tampilannya.
“Pilih salah satu saja. Biar konsentrasi,” ujar Ibu pada Aime sambil memakai celemek sebelum maju untuk lomba.
Aime mengangguk. Ia dan Ayah harus duduk di kursi penonton dan menyaksikan Ibu mulai berlomba.
Ibu memasak dengan tenang. Rasanya tiga masakan yang diminta oleh juri, semuanya sudah biasa Ibu masak di rumah. Aime lihat, Ibu tidak bingung seperti peserta yang lain.
“Kamu bisa menebak siapa pemenangnya?”
Aime mengangguk.
Setelah lomba selesai dan juri menilai, Aime tahu siapa yang akan disebutkan juri sebagai pemenang.
“Ibu menang,” bisik Ayah pada Aime.
Ibu tersenyum lalu melangkah ke panggung.
Aime bisa melihat Ibu kelihatan bahagia ketika menerima hadiah lomba.
“Pilih satu lomba saja,” bisik Ayah kembali pada Aime.
Aime paham sekarang apa yang dimaksud Ayah.

**

Masakan Ibu yang Membosankan

Masakan Ibu yang membosankan

Apa Ibu akan marah kalau Attar bilang, Attar bosan makanan yang dimasak Ibu? Apa Ibu juga akan sedih kalau Attar bilang, Attar ingin makan siangnya dari catering langganan sekolah saja?
Attar berdiri di depan kamarnya. Di dekat kamarnya ada dapur di mana Ibu kelihatan sedang sibuk meracik bahan makanan.
“Mau bawa apa hari ini?”
Attar diam saja. Ia tidak berani bilang tapi langsung menuju kamar mandi. Di depan kamar mandi Attar bertemu Bilqis yang tersenyum padanya.
**
“Ibu tahu? Kakak bosan masakan Ibu.”
Attar yang sekarang sudah ke luar dari kamar mandi, menghentikan langkahnya. Bilqis sudah terlanjur cerita pada Ibu. Semalam memang Attar bilang pada Bilqis, kalau ia sudah bosan dengan bekal makanan yang dibawa dari rumah.
Attar ingin yang beda.
“Kakak tidak boleh langganan katering, Ibu?”
“Boleh. Ibu malah tidak repot pagi-pagi harus masak di dapur, kan?”
Mendengar kalimat itu diucapkan, Attar langsung berjalan dari kamar mandi menuju kamrnya sambil tersenyum.
“Boleh, Kak..,” ujar Bilqis.
**

Attar melompat kegirangan. Hore…, hari ini ia tidak perlu bawa bekal dari rumah. Hari ini Ibu bilang Attar bisa makan dari makanan katering yang sudah Ibu telepon. Katering itu sudah disediakan pihak sekolah, bagi anak-anak yang tidak membawa bekal.
Makanan Ibu bukannya tidak enak, tapi Attar bosan. Setiap pagi tas sekolahnya jadi bertambah penuh dengan bekal makanan dari Ibu. Belum lagi makanan itu kadang-kadang bukan makanan yang Attar pesan.
Ibu selalu membawakan sayur yang Attar tidak suka. Ibu juga memberikan potongan buah yang potongannya agak besar, padahal Ibu tahu Attar tidak suka buah.
Attar tersenyum ketika berangkat sekolah naik sepedanya.
Makanan katering yang sering dimakan teman-temannya kelihatan enak. Ada telur pedas, ada ikan yang diberi tepung. Ada ayam goreng juga.
Air liur Attar rasanya menetes ketika membayangkan makanan itu.
**
Ada dua puluh lima anak di kelas. Dan kebanyakan teman Attar di kelas, langganan katering. Cuma Attar dan Koko yang bawa makanan dari rumah. Koko bilang, jatah makanan di katering sedikit, dan Koko selalu merasa kurang.
Attar sudah tahu menu katering hari ini, karena sudah tertulis di kertas yang dibagikan setiap bulan pada murid-murid.
Hari ini ada ikan bakar dikasih sambal terus ada susu coklat ditambah lagi sayur bayam. Sayur itu nanti juga tidak akan Attar makan, karena kalau tidak habis Ibu tidak akan marah.
Sekarang sudah jam dua belas. Sebentar lagi istirahat dan makanan dari katering akan datang. Attar tersenyum sendiri.
**
Makanan dari katering hari ini datang terlambat. Tadi ada yang bilang motor orang yang bawa makanan katering, jatuh terpeleset di jalan.
Perut Attar sudah lapar sekarang. Di sampingnya ada Adin yang hari ini bawa bekal makanan dari rumah.
“Kamu tidak bawa bekal?”
Attar menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Hari ini Ibu sudah telepon katering, kata Ibu aku boleh langganan katering selama sebulan.”
Wajah Adin kelihatan kecewa.
“Kenapa?”
“Aku suka terung balado buatan Ibu kamu. Hari ini, Mama aku bawa ayam goreng renyah kesukaan kamu. Aku mau tuker dengan terung balado kamu.”
Perut Attar sudah keroncongan karena lapar.
“Makan sama-sama aku, yuk..”
Attar mengangguk. Nanti pulang sekolah, ia akan bilang sama Ibu untuk membatalkan langganan katering untuknya. Attar mau bawa makanan lagi dari rumah seperti biasanya.
**

Ibu dan Baju Cinderella

Ibu dan Baju Cinderella

Pink warnanya dengan bunga-bunga ungu juga merah. Bentuknya seperti gaun. Renata tertawa melihat Ibu berputar sambil tersenyum.
“Sepatu kacanya, Bu,” ujar Renata terkikik. Baju itu pernah Renata lihat. Sepertinya baju lama Ibu yang sudah tidak ingin Ibu pakai. Ibu bilang, malu Ibu memakainya karena Ibu sudah tua.
“Baju Cinderella…,” ujar Ayah sambil makan singkong rebus.
Ibu kembali berputar. Renata lihat Ayah menggelengkan kepalanya.
“Ibu mau jadi anak muda lagi,” begitu yang Ayah katakan.
Ibu terus berputar sambil bertanya. “Masih cocok, kan?” tanyanya pada Ayah.
Ayah mengangguk, bahkan menyalakan musik di radio. Dan Ibu berputar seperti saat Cinderella berdansa.
“Ibu punya rahasia?” tanya Renata mendekat pada Ayah.
“Mungkin…., Ibu sedang bermimpi jadi Cinderella,” ujar Ayah kali ini mulai meminum kopinya.
**
Baju Cinderella Ibu itu Renata pikirkan. Dan karena Renata tidak menemukan jawabannya, akhirnya ia ceritakan pada teman-temannya. Renata hanya ingin tahu, apakah ibu teman-temannya sama seperti Ibu?
“Hi hi, Ibu aku kalau di rumah suka ngomel,” ujar Diana sambil tersenyum. “Aku mau, dong, lihat Ibu kamu muter-muter berdansa seperti Cinderella.”
“Mami aku tidak suka baju panjang,” Lili menggeleng.
“Mami kamu jangan-jangan punya mimpi jadi artis,” kali ini Agustin yang bicara.
Renata mendengarkan semua kalimat teman-temannya. Ibu yang mengeluarkan koleksi baju di masa mudanya lalu bergaya seperti Cinderella, menurutnya adalah Ibu yang aneh.
Tapi baju berwarna pink dengan bunga ungu dan merah itu dipakai Ibu kembali, ketika Renata pulang sekolah. Ibu bahkan memakai bedak dan lipstik. Lalu Ibu berdiri di atas anak tangga paling atas. Persis seperti poster film Cinderella yang Renata lihat, ketika Cinderella kehilangan sepatu kacanya.
“Ibu mau apa?” tanya Renata pada Ibu ketika Ibu menyodorkan kamera telepon genggamnya pada Renata.
“Foto saja…,” ujar Ibu.
Renata mengikuti sambil geleng-geleng kepala. Ibu masih aneh juga.
**
Sudah dua minggu baju Cinderella sudah tidak Ibu pakai. Renata melihat baju itu sudah masuk di lemari. Renata senang, Ibu sudah tidak aneh lagi.
Tapi tadi ada seorang mengantar barang baru di rumah. Sebuah mesin jahit berwarna biru yang diletakkan di ruang keluarga.
“Punya siapa?” tanya Renata pada Ibu dan Ayah.
Ayah dan Ibu saling melempar senyum.
“Punya siapa?” Renata penasaran.
Ayah lalu membuka sebuah koran di hadapan Renata. Lalu menunjukkan pengumuman di koran itu.
Tertulis di sana, pemenang lomba foto untuk ibu-ibu yang berani bergaya seperti putri Cinderella. Ayah menunjuk satu foto Ibu yang menjadi juara pertama.
“Sudah lama Ibu ingin membelikan mesin jahit untuk Nenek. Tapi mesin jahit yang Nenek minta mahal harganya,” Ibu tersenyum. “Jadi satu-satunya cara adalah dengan menjadi Cinderella.”
Renata memeluk ibunya kuat-kuat. “Ah…, Ibu keren,” bisiknya dengan bangga.
**

Gambar Mimpi Ibu

gambar mimpi ibu

Alia memandangi pintu kamar Ibu yang kosong. Kosong tanpa gambar. Tidak seperti pintu kamar ibunya Neta, yang kemarin Alia lihat.
“Ibuku masih punya cita-cita tinggi,” ujar Neta pada Alia kemarin.
Ada banyak gambar yang Alia lihat di pintu itu. Ada gambar pesawat terbang, Neta bilang ibunya masih ingin belajar mengendarai pesawat. Ada juga gambar air terjun besar Niagara. Neta bilang, ibunya suatu saat akan ke sana, kalau uang mereka sudah terkumpul banyak.
Di kamar Neta juga ada gambar. Alia memandanginya. Gambar-gambar piala. Gambar itu sepertinya Neta dapat dari koran lalu digunting dan ditempel di dinding kamarnya.
“Aku harus jadi juara biar sukses. Itu ibuku yang kasih tahu.”
Alia tahu, Neta memang selalu menjadi juara di sekolah. Bulan kemarin, Neta terpilih sebagai pelajar teladan.
“Awas…..” Ada suara yang mengejutkan Alia.
Alia kaget lalu mundur ke belakang. Rupanya Kak Dito yang baru ke luar dari dalam kamar Ibu.
“Kenapa kamu diam?” tanya Kak Dito keheranan.
Alia menggeleng. Pintu tanpa gambar itu membuat Alia jadi terus berpikir.
**
Di ruang tamu, Alia memandangi Ibu. Ibu mengambilkan sepiring nasi dan lauk pauk untuknya dan untuk Kak Dito.
“Apa mimpi Ibu?” tanya Alia.
Terdengar suara Kak Dito tertawa.
“Cita-cita Ibu?” tanya Alia lagi.
Alia melihat Ibu tersenyum. Mungkin pertanyaannya lucu.
“Ibunya Neta masih punya cita-cita. Mimpi katanya. Ibunya Neta mau belajar nyupir pesawat.”
Ibu menggeleng.
“Ah.., ibunya temanku juga ada,” ujar Kak Dito. “Ibunya temanku malah mau sekolah lagi ke luar negeri. Padahal sudah tua.”
Alia memandangi Ibu. “Ibu tahu apa mimpi Ibu?”
Di dapur sudah kedengaran suara ceret berbunyi. Ibu berlari menuju dapur.
Alia memandangi. Mungkin Ibu harus diberi tahu apa mimpinya.
**
Hari ini, Neta memberikan Alia banyak gambar. Neta bilang, semalam ia sudah bicara pada ibunya dan memilihkan gambar-gambar yang bagus, yang ia gunting dari majalah dan koran.
“Nanti Ibu kamu suruh pilih, ya?”
Sekarang Alia memandangi gambar itu. Ada gambar pesawat yang terbang mengelilingi dunia. Neta bilang, Alia bisa mengambil gambar itu, jika Ibu punya mimpi untuk keliling dunia. Ada gambar salju, Alia tahu artinya. Siapa tahu Ibu punya mimpi merasakan salju.
“Ibu aku bilang, gambar ini akan membuat kamu punya mimpi tinggi. Jadi kita berjuang keras untuk mewujudkannya.”
Gambar-gambar itu sekarang Alia keluarkan dari dalam tas. Banyak sekali gambar. Ada gambar rumah yang bagus dan ada kolam renangnya. Uh…, itu seperti mimpi Kak Dito, yang katanya mau punya rumah besar, ada kolam renangnya, biar setiap hari bisa berenang.
“Ibu…,” tanya Alia ketika ibu ada di dekatnya. “Apa mimpi Ibu?” kali ini tangan Alia menunjukkan gambar-gambar itu.
Ibu tersenyum pada Alia.
“Ibu tidak ingin merasakan salju? Keliling dunia?”
Ibu berdiri dari duduknya. Lalu mengambil kertas dan pensil. “Ibu gambar saja sendiri mimpi Ibu, ya?”
Lalu Alia melihat tangan Ibu bergerak untuk menggambari kertas itu. Gambar biasa. Tapi Alia tidak tahu artinya. Gambar dua orang besar dan dua anak kecil.
“Apa artinya?” tanya Alia.
“Ibu ingin tetap sehat, biar bisa menjaga kamu, Kak Dito juga Ayah. Menjaga terus sampai kalian besar dan jadi orang hebat.” Ibu kali ini tersenyum.
Alia langsung memeluk Ibu.
Mimpi Ibu itu rasanya membuat Alia ingin menangis. Alia akan menyimpan gambar itu dan menempelnya di depan pintu kamarnya, biar ia ingat terus.

Sekeranjang Telur Busuk

sekeranjang telur busuk

“Wah…, kamu membawa satu telur busuk lagi…”
Aline cepat menghentikan kalimat yang ke luar dari mulutnya. Bunda itu selalu begitu. Setiap kali Aline bicara pasti kalimat yang keluar dari mulut Bunda seperti itu.
“Coba hitung…, ada berapa telur busuk yang sudah kamu kumpulkan hari ini?”
Tas yang Aline bawa Aline letakkan di atas kursi ruang tamu. Padahal tadi Alien cuma bilang capek.Panas kalau sekolah jalan kaki. Aline maunya Bunda menjemput sama seperti teman lainnya.
“Bunda hitung dulu, ya..” Bunda mengambil kertas gambar yang ditempelkan di dinding kulkas.
Ada gambar bulatan seperti telur di kertas itu. Gambar telur itu kesepakatan Aline, Bunda dan Koko. Setiap keluhan akan mendapat hadiah gambar telur busuk. Kalau kata-kata yang baik akan mendapat bintang.
“Bunda,” Aline melotot. “Aku bilang capek betulan..,” Aline melangkah mendekati kulkas.
Bunda tersenyum saja. Sebentar lagi pasti…
“Kok tidak ada sirup sih, Bunda? Habis? Kenapa tidak beli kan kemarin aku bilang kalau musim panas begini harus ada sirup?”
Tuh kan, Aline mulai mengeluh lagi. Kebiasaan mengeluh Aline yang tidak pernah bisa hilang itu yang akhirnya membuat Bunda mengambil keputusan untuk menggambar telur busuk.
“Bunda tahu, tadi ada ulangan di sekolah. Semalam sih Bunda tidak mengajari aku? Bunda malah sibuk baca majalah.”
“Ko..,” Bunda justru memanggil Koko, kakak Aline.
Koko berlari mendekat Bunda.
“Besok-besok kalau sudah banyak telur busuk di rumah, kamu buang ke tempat sampah, ya?”
“Sip, Bunda.” ujar Koko sambil meleletkan lidahnya pada Aline.
**
Bagaimana mungkin soal telur busuk itu Linda bilang bagus? Linda bilang itu artinya Bunda sayang sama Aline.
Aline cemberut. Linda teman sekelasnya itu tidak tahu, kalau telur busuk yang Bunda bilang membuat Aline sebal. Apalagi hari ini sepulang sekolah, Koko menunjukkan satu buku cerita baru pada Aline.
Buku itu dipamerkan pada Aline dengan lidah yang keluar untuk meledek Aline. Bunda memang berjanji akan memberikan hadiah buku cerita kalau ada sepuluh bintang yang bisa dikumpulkan Koko dan Aline. Setiap Aline atau Koko berbuat baik atau berkata sopan dan tidak mengeluh, Bunda akan menggambar bintang untuk disimpan.
“Kalau mau masuk ke rumah, kamu bilang sama tempat sampah aku capek. Itu artinya keluahan kamu sudah dibuang ke tempat sampah. Bunda pernah bilang begitu smaa aku,” kata Koko mengajari.
Aline juga sudah pernah mencoba. Tapi Aline tidak suka.
“Bunda juga capek di rumah ngurus kita,” kata Koko sambil menunjukkan buku cerita barunya. Buku itu disodorkan pada Aline lalu ketika Aline akan mengambilnya, Koko langsung menariknya.
“Kalau kamu suah tidak mengeluh lagi, aku kasih pinjam..,” kali ini Koko langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
**
“Boleh mengeluh asal tidak setiap saat. Karena hidup kamu jauh lebih beruntung.” Aline masih ingat apa yang Bunda katakan itu.
Sekarang Aline ada di depan rumah Linda. Rumah kecil yang atapnya pendek seperti mau roboh. Di depan Aline ada emaknya Linda yang sedang membawa keranjang dan kedua matanya buta.
Aline kaget tentu saja. Linda selama ini tidak pernah bercerita. Linda juga tidak pernah mengeluh.
“Ayo masuk, aku mau bantu Emak buat kue untuk dijual,” ujar Linda sambil tersenyum.
Aline masuk ke dalam rumah berlantai tanah itu. Selama ia bermain, ia hanya melihat senyum Linda dan emaknya. Mereka tidak pernah bilang capek atau bosan seperti yang sering Alin katakan setiap saat.
**
“Wah…, kue buatan Bunda enak sekali.”
Kalimat Aline itu kali ini membuat Bunda dan Koko langsung menolehkan kepalanya pada Aline.
Aline jadi tersipu.
“Baju yang kakak pakai juga bagus,” ujar Aline. “Bajuku juga. Terima kasih, Bunda,” ujar Aline pada Bunda.
Bunda mengangguk sambil tersenyum. Selembar kertas sekarang Bunda ambil, lalu Bunda juga mengambil pensil. Bunda mencoret kertas itu dan….
“Aku dapat bintang, Bunda?” tanya Alline kegirangan.
Bunda mengangguk.
**

Keripik di Kota Roti

keripik di kota roti

Ada perlombaan besar dari Ratu di kota roti. Siapa kurcaci yang bisa membuat makanan lain selain roti, tapi dari adonan pembuat roti, akan mendapat hadiah sirup berwarna pelangi dari air terjun yang ada di istana Ratu di negeri kurcaci.
Semua kurcaci di kota roti saling berpandangan. Mereka pintar membuat roti berbagai macam rasa dan bentuk. Tapi membuat makanan lain dari adonan roti? Mereka belum bisa membayangkan.
“Aku hanya bisa membuat roti..,” keluh para kurcaci.
Kurcaci Sema juga ikut mengangguk. Ia juga sama dengan kurcaci yang lain. Hanya bisa membuat roti. Adonan untuk membuat roti ada lengkap di kota roti. Bahan pembuat roti selalu sama. Terigu dari gandum, mentega dari susu dan juga serbuk ragi untuk mengembangkan adonan roti.
Jika semua bahan itu dicampur ditambah sedikit garam juga sedikit madu lalu ditambah sedikit air maka adonan roti akan jadi besar tiga kali lipat dari ukuran semula.
Lalu adonan itu mulai dibentuk jadi roti dan dipanggang di dalam pohon panas bernama pohon oven. Di pohon itu semua roti akan menjadi matang.
Sekarang kurcaci Sema sudah ada di dapurnya. Ia sudah mengeluarkan semua bahan pembuat roti. Matanya mencari-cari. Oh tidak. Serbuk raginya sudah habis. Meminta ke kurcaci lain tidak mungkin. Kurcaci lain punya persediaan serbuk ragi yang terbatas.
Lomba sudah dimulai. Pasti semua kurcaci juga sedang berpikir seperti dirinya.
Kurcaci Sema mulai berpikir. Berpikir sambil mulai mencampur semua adonan dalam wadah. Begitu semua adonan tercampur, ia mulai membanting-bantingnya. Adonan roti harus dibanting dengan semangat agar menjadi empuk dan mengembang.
Adonan roti tanpa serbuk ragi biasanya tidak mengembang. Tapi mungkin saja bisa menjadi sesuatu yang baru, begitu yang ada di pikiran kurcaci Sema.
Lalu seperti biasanya setelah semua adonan tercampur, adonan itu harus ditutup dengan kain dan dibiarkan selama kurang lebih tiga puluh menit. Selama menunggu kurcaci Sema terus memikirkan. Ia beres-beres rumahnya, ia juga membersihkan meja, kursinya. Sampai akhirnya ia melihat toplesnya yang kosong.
Sekarang kurcaci Sema melihat ke adonannya. Ah tentu saja adonan itu tidak mengembang, karena ia tidak memberikan serbuk ragi pada adonan itu. Tapi tangan kurcaci Sema sudah bergerak. Ia mengambil alas untuk meratakan adonan, lalu mengambil juga kayu bulat panjang untuk menipiskan adonan setipis-tipisnya. Setelah itu adonan yang sudah tipis ia potong menjadi potongan kecil-kecil.
Kurcaci Sema juga mulai mengambil wajan dan mengisinya dengan minyak goreng. Adonan tipis yang sudah dipotong itu mulai ia masukkan satu persatu ke dalam wajan yang sudah mulai panas.
Potongan tipis-tipis adonan itu sudah berubah warna menjadi kekuningan. Kurcaci Sema mengangkatnya. Mendiamkan sampai dingin. Lalu mencobanya. Kres…
Kurcaci Sema tersenyum puas.
**
Banyak makanan yang bisa dibuat dari adonan roti. Kurcaci bola ternyata membuat donat. Kurcaci straw membuat pizza yang di atasnya diberi potongan buah stroberi dan irisan cabai. Kurcaci Sema?
Satu persatu adonan roti yang sudah berbentuk itu diperhatikan Ratu sambil tersenyum dan mengangkat jempolnya. Lalu Ratu berhenti tepat di depan toples yang ada di hadapan kurcaci Sema.
“Apa ini?” tanya ibu Ratu.
Kurcaci Sema menggelengkan kepalanya lalu membuka toplesnya. Membiarkan Ratu mengambil dan mencobanya.
Ibu Ratu mencobanya terdengar suara krik ketika makanan itu masuk ke mulutnya dan tergigit giginya.
“Keripik,” ujar Ibu Ratu. “Aku baru kali ini merasakannya.”
Kurcaci Sema merasa bangga. Ia terpilih menjadi pemenangnya. Adonan roti tanpa serbuk ragi, bisa diubah menjadi keripik enak.
Sirup pelangi dari air terjun di istana Ratu, akan ia bagikan pada teman-teman yang lain. Dan resep membuat keripik itu, tentu juga akan ia bagikan pada kurcaci lain.
**

Princess yang Sebenarnya

Princess yang sebenarnya

Gambar Princess itu ada di kamar Bilqis. Dari Princess Cinderella sampai Princess Jasmine. Ayah membelikan wall paper untuk ditempel di kamar Bilqis yang dindingnya berwarna merah muda.
“Aku mau beli baju seperti Princess Elsa…,” Bilqis melongok ke luar kamar. “Beliin ya, Bu?”
Ibu memotong sayuran sambil tersenyum. “Boleh asal…”
“Asal apa?” kali ini Bilqis mendekat.
“Asal mau jadi Princess yang sebenarnya.”
Bilqis tidak mengerti. Tapi matanya memandangi dinding kamarnya.
Princess sebenarnya? Bilqis masih juga tidak mengerti. Tapi Ibu tadi menyuruhnya mencuci sayuran yang sudah Ibu potong.
“Princess sebenarnya sama seperti ksatria sebenarnya,” Attar melompat dari atas tempat tidur. “Awas ada kecoak…,” Ia mengambil sapu dan menjauhkan kecoak yang akan naik ke kaki Bilqis dengan cepat. “Ibu bilang Ksatria sebenarnya, mau menjaga adiknya.”
Bilqis melihat dinding kamar kakaknya. Ada gambar Spiderman dan Naruto di sana.
“Kalau jadi Princess sebenarnya…”
Kali ini Attar garuk-garuk kepala. Lalu akhirnya ia menggeleng. “Aku cuma tanya sama Ibu waktu aku mau ngumpulin komik Naruto. Ibu bilang, boleh, asal aku jadi ksatria yang sebenarnya.”
Bilqis mendengarkan.
Malamnya sebelum tidur, Bilqis membuka semua buku koleksinya. Buku cerita tentang Princess.
Princess Cinderella waktu masih menjadi upik abu, dan sedang memegang sapu membersihkan sarang laba-laba di kamarnya. Putri Salju yang juga sedang menyapu rumah tujuh orang kerdil yang ia temui di hutan.
Semakin semangat Bilqis membuka buku ceritanya. Ada Rapunzel di menara yang juga rajin bersih-bersih.
Sapu, bersih-bersih dan…..
Sekarang Bilqis melihat kamarnya. Spreinya kotor. Kemarin Ibu bilang ganti sprei dan taruh sprei kotor di mesin cuci, tapi Bilqis malas melakukannya.
Lihat meja belajarnya. Aduh…., banyak debu. Sampai fotonya juga penuh debu.
Princess yang sebenarnya itu artinya…
“Cari apa?”
Bilqis tersenyum pada Ibu. Di tangannya ada sapu.
“Sudah malam. Mau bersih-bersih kamar?”
Wajah Bilqis memerah. “Tidak apa-apa, kan?”
Ibu mengangguk. “Habis itu tidur, ya.”
Bilqis mengangguk.
**
Gambar Princess di dalam kamar itu Bilqis pandangi. Sudah seminggu ini Bilqis rajin bersih-bersih rumahnya.
Kamarnya juga sudah bersih. Sprei sudah diganti dengan yang bersih dan meja juga sudah tidak ada debu.
Ada sepiring kue coklat dari Ibu dan kado di samping piring itu.
Bungkusan itu dibuka. Dan….mata Bilqis terbuka lebar. Baju seperti Princess Elsa yang ia inginkan. Baju warna biru.
Bilqis sekarang berlari ke arah dapur dan langsung memeluk Ibu yang sedang berjongkok mengiris sayuran. “Terima kasih, Bu.”
Ibu tersenyum. “Kamu suka?”
Bilqis mengangguk. “Aku sudah jadi seperti princess sekarang?”
Ibu mengangguk. “Princess sebenarnya. Rajin dan baik hati.”
Bilqis tersenyum lebar. Ia berjanji akan terus menjadi princess yang sebenarnya.
**

Brey dan Kali yang Hitam

Nusantara Bertutur

Rumah Hanif ada di sana. Brey beberapa kali ke rumah Hanif. Rumah di pinggir kali Bekasi. Tidak jauh dari rumah Hanif, ada rumah teman Brey juga.
“Wak Ijah enak sekali singkong gorengnya….,” ujar Laila pada Brey.
Laila memang suka sekali makan singkong goreng. Ibu bisa menggorengnya. Tapi Laila hanya mau singkong goreng buatan Wak Ijah. Singkong goreng Wak Ijah terasa empuk dan lumer di mulut.
Brey menggandeng tangan adiknya.
Sudah beberapa bulan ini mereka pindah ke Bekasi. Udara Bekasi lebih panas dari di Bogor. Brey senang melewati pinggir kali dekat rumah Hanif, karena di sana masih banyak pohon. Hanif juga memelihara bebek dan kambing.
Mereka sampai juga di rumah Wak Ijah. Singkong goreng itu sudah matang. Wak Ijah tersenyum menerima uang pemberian dari Laila.
“Aku mau bawa ini untuk bekal sekolah, Kak…,” ujar Laila.
Ibu memasukkan singkong goreng itu ke kotak bekal yang dibawa Laila.
**
Brey langsung ke sekolah. Sekarang Brey memandangi Hanif. Jari Hanif menggaruk tubuhnya lagi. Ada beberapa luka di sana yang Brey lihat.
“Kamu mau ikut?” tanya Hanif.
Brey diam. Ia memandangi beberapa teman yang lain, yang sekarang berada di dekat Hanif. Mereka pasti berencana berenang lagi. Bukan di kolam renang. Tapi berenang di kali. “Ayo ikut. Biar badan kita segar.”
Brey menggeleng lagi. Ia belum izin dengan Ibu.
“Aku menonton di pinggir saja, ya,” ujar Brey akhirnya.
Sekarang mereka sudah ada di pinggir kali. Hanif dan tiga temannya sudah membuka baju seragam sekolahnya. Lalu mereka masuk ke dalam kali.
Air kali itu hijau kecoklatan. Brey berdiri di jembatan. Tiga temannya berenang sambil mencipratkan air ke Brey.
Mungkin mereka merasa segar bermain di sana.
Ada banyak bebek berenang. Ada…
“Aku sakit perut,” tiba-tiba Hanif ke luar dari dalam air. Lalu berlari menuju satu tempat berbentuk kotak, tidak jauh dari sana. Brey sering melihatnya tapi tidak tahu tempat itu untuk apa.
“Hanif tadi terlalu banyak makan sambal,” ujar seorang temannya.
Brey memandangi tempat itu lagi. Tidak lama kemudian, Hanif sudah ke luar dari sana sambil mengelus-elus perutnya. Tidak jauh dari tempat Hanif berdiri, Brey melihat seorang Ibu sedang mencuci beras.
“Itu apa?” tanya Brey penasaran.
“Itu WC,” ujar Hanif. Lalu masuk ke dalam kali lagi, dan berenang lagi.
Brey memutuskan untuk pulang ke rumah.
Ketika Brey sampai rumah, Brey lihat Laila sedang menangis. Ada Ibu mengoles perut Laila dengan minyak kayu putih.
“Laila sakit perut,” ujar Ibu sambil “Laila jajan apa tadi di sekolah?”
Laila masih menangis. Lalu ia berdiri dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi lagi.
“Ibu bawa adikmu ke dokter, ya. Kamu tunggu di rumah.”
Laila tadi sarapan nasi goreng buatan Ibu. Brey sehat dan tidak sakit perut. Laila tadi juga membawa singkong.
Ya ampun…, jangan-jangan. Brey jadi ketakutan membayangkan apa yang dilihatnya siang tadi. Teman-teman yang berenang, dan Hanif yang buang air besar di kali, lalu di ujung sana ada seorang Ibu sedang mencuci beras di air kali yang sama.
**
Ketika Ayah pulang Brey bercerita. Ayah menganggukkan kepalanya. “Mereka sudah terbiasa tinggal di pinggir kali. Mencuci, mandi, buang air besar dan membuang sampah juga,” ujar Ayah. Harus pelan-pelan merubah kebiasaan itu.”
Brey mendengarkan. Ayah mengajak Brey membeli beberapa buah tong ukuran sedang. Ayah juga sudah mempersiapkan cat untuk melukis.
“Kita buat tempat sampah yang manis. Semoga mereka mau membuang sampah di tempat sampah. Ayah juga sudah lapor Pak Lurah agar membantu.”
“Ayah hebat,” ujar Brey. “Tapi soal WC?”
“Pelan-pelan…,” kali ini Ayah mengelus kepala Brey. “Nanti Ayah pikirkan tentang hal itu.”
Brey tahu Ayah pasti bisa. Teman Ayah banyak dan pasti mau membantu.
Sampai sekarang kali itu masih kotor. Brey masih suka melewatinya. Melihat tong sampah lukis buatan Ayah ada di dekat kali. Tiga hari sekali ada tukang sampah yang mengangkutnya.
“Ibuku mau buat sumur buat kita mandi,” ujar Hanif pada Brey. “Mandi di kali bikin batanku gatal terus.”
Brey tersenyum.
Brey yakin, besok-besok kali itu akan menjadi bersih. Besok-besok kalau sudah bersih, mungkin Brey bisa ikut berenang di sana bersama Hanif dan teman-teman yang lain.
**

Ibu Membeli Kenangan

BOBO

Buah kecil-kecil berwarna ungu, merah dan hijau itu, Ninis pandangi. Buah itu Ibu beli di pasar malam. Ibu minta Ayah menghentikan motornya, lalu Ibu turun menuju tukang dagang yang menggelar dagangannya dekat peminta-minta.
“Ibu beli apa?” tanya Ninis penasaran. Tangannya memegang es krim coklat yang Ninis beli tadi.
“Ibu beli kenangan,” ujar Ibu sambil tersenyum. Lalu meminta Ayah kembali menjalankan motornya.
Ibu membeli kenangan. Ninis cemberut. Begitu yang selalu Ibu bilang setiap kali Ibu menemukan buah yang tidak Ninis ketahui lagi.
Ibu pernah membeli kecapiu. Lalu Ibu menunjukkan pada Ninis buah seperti bola kasti, warnanya kuning. Ibu menunjukkan cara membuka kulit keras buah itu. Ninis harus membantingnya hingga pecah atau harus menjepitnya di pintu. Di dalamnya ada biji ukuran sejempol Ninis, berwarna putih yang asam rasanya.
“Itu namanya apa?” tanya Ninis lagi sampai di rumah, ketika plastik warna merah itu, Ibu buka.
“Buni. Ibu dulu bikin rujak dengan buah ini,” ujar Ibu sambil tersenyum. “Kamu coba. Yang ungu mulai manis rasanya.”
Ninis mencoba memasukkan ke mulut. Lalu membuangnya. “Asem, Ibu…”
Ibu tersenyum. “Bijinya jangan dibuang, ya, Nis.”
**
Biji buah yang Ibu beli, tidak boleh dibuang. Tapi kalau dikumpulkan untuk apa? Ninis memandangi biji yang ada di tangannya.
“Aku tidak suka rasanya,” ujar Mela pada Ninis, ketika Ninis memberikan buah buni pada Mela.
Ninis melihat Mela membuang biji itu.
Teman yang lain yang Ninis beri juga menggelengkan kepalanya. Mereka mencoba, lalu bilang tidak suka.
“Ibu kamu aneh, ya,” ujar Mela sambil tersenyum. “Harusnya beli buah yang enak.”
Ninis mengangguk. Ibu aneh. Ibu memang suka membeli buah yang lain, yang Ninis makan. Tapi Ibu juga membeli buah yang Ibu bilang sudah langka.
Ayah tersenyum pada Ninis. “Ibu kamu memang aneh. Tapi hebatnya justru di situ.”
Ninis tidak mengerti. Hebatnya Ibu karena membeli buah yang sudah langka dan mengumpulkan bijinya?
**
Mereka akan pergi ke pasar malam lagi. Ninis pasti sudah yakin, Ibu akan minta Ayah menghentikan motornya. Sudah agak lama Ibu tidak mengajak ke pasar malam. Ibu seringnya mengajak Ayah ke tukang pot lalu membeli pot yang cukup banyak.
“Ibu tidak beli apa-apa?” tanya Ninis.
Ibu menggeleng. “Semua kenangannya sudah Ibu tanam.”
Kening Ninis berkerut.
Ayah terus melajukan motornya sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah.
“Maksud Ibu?” tanya Ninis.
Ibu kali ini menarik tangan Ninis, lalu menunjuk deretan pot dekat kolam ikan.
“Itu benih pohon buni, kecapi, gandaria, jamblang…”
“Jadi…”
“Nanti kalau sudah agak besar, Ibu akan tanam di pinggir lapangan. Ibu sudah minta ijin Pak RT. Biar teman-teman kamu jadi tahu buah yang sudah langka.”
Ninis dan Ayah kali ini saling berpandangan. Mereka masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Ibu yang sedang memandangi tanamannya.
“Ibu hebat, kan?” tanya Ayah.
Ninis diam. Ibu memang hebat. Ibu melestarikan tumbuhan langka.